Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

MEMAKSIMALKAN LABA

Disusun guna memenuhi tugas

Mata Kuliah : Mikroekonomi

Dosen Pengampu : Mohammad Rosyada, MM.

Oleh

Asi Liyana (341116004)

Romadi (341116015)

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM KI AGENG PEKALONGAN

2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat TUHAN YANG MAHA ESA yang
telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil
menyelesaikan Makalah ini.
Makalah ini berisikan tentang Memaksimalkan Laba..Diharapkan Makalah
ini dapat memberikan informasi kepada kita semua.Kami menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua
pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah
ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Tuhan senantiasa memberikan hidayah Amin.

Pekalongan, 2 April 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Laba
B. Pendekatan Totalitas (Totality Approach)
C. Pendekatan Rata-rata (Average Approch)
D. Pendekatan Marjinal (Marginal Approach)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam teori ekonomi mikro tujuan perusahaan adalah mencari laba
(profit). Secara teoritis laba adalah kompensasi atas yang ditanggung oleh
perusahaan. Makin besar resiko, Laba yang diperoleh harus semakin besar.
Laba atau keuntungan adalah nilai penerimaan total perusahaan dikurangi
biaya total yang dikeluarkan perusahaan.
Ada tiga pendekatan perhitumgan laba maksimum yang akan
dibahas dalam bab ini.
Pendekatan totalitas ( totality approach)
Pendekatan rata-rata ( average approach)
Pendekatan marjinal (marginal approach)
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu pengertian Laba?
2. Apa itu pendekatan totalitas?
3. Apa itu pendekatan rata-rata?
4. Apa itu pendekatan marjinal?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian laba
2. Untuk mengetahui pendekatan totalitas
3. Untuk mengetahui pendekatan rata-rata
4. Untuk mengetahui pendekatan marjinal

iv
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Laba
Secara teoritis laba adalah kompensasi atas resiko yang ditanggung oleh
perusahaan. Laba adalah selisih pendapatan diatas biaya-biayanya dalam
jangka waktu(periode) tertentu.laba sering digunakan untuk pengenaan
pajak, pedoman investasi serta pengambilan keputusan dan unsur prediksi.1
Makin besar resiko, laba yang diperoleh harus semakin besar. Laba atau
keuntungan adalah nilai penerimaan total perusahaan dikurangi biaya total
yang dikeluarkan perusahaan. Jika laba dinotasikan , pendapatan total
sebagai TR, dan biaya total adalah TC, maka :
= TR-TC
Perusahaan dikatakan memperoleh laba kalau nilai positif ( > 0)
dimana TR > TC. Laba maksimum ( maximum profit ) tercapai bila nilai
mencapai maksimum.
Ada tiga pendekatan perhitungan laba maksimum yang akan dibahas
dalam bab ini.
Pendekatan totalitas (totality approach)
Pendekatan rata-rata (average approach)
Pendekatan marjinal (marginal approach)
B. Pendekatan Totalitas (totality approach)
Pendekatan totalitas membandingkan pendekatan total (TR) dan biaya
total (TC). Pendapatan total adalah sama dengan jumlah urut output yang
terjual (Q) dikalikan harga output per unit. Jika harga jual per unit output
adalah P, maka TR= P Q. pada saat membahas teori biaya, kita telah
mengetahui bahwa total biaya (TC) adalah sama dengan biaya tetap (FC)
10totalitas, biaya variabel per unit output dianggap konstan, sehingga biaya
variabel adalah jumlah unit output (Q) dikalikan biaya variabel per unit. Jika
biaya variabel per unit adalah v, maka VC= v.Q.

1
http://salamkuminfo.blogspot.com/2017/01/memaksimalisasi-laba/html diakses tanggal 11 April
2017 10:00 wib

v
Persamaan (7.2) dapat dipresentasikan dalam bentuk Diagram 7.1.
dalam diagram tersebut kita melihat bahwa pada awalnya perusahaan
mengalami kerugian, terlihat dari kurva TR yang masih dibawah kurva
TC. Jika output ditambah, kerugian makin kecil, terlihat makin
mengecilkan jarak, terlihat dari makin mengecilnya jarak kurva TR dengan
kurva TC. Pada saat jumlah output mencapai Q*, kurva TR dengan kurva
TC yang artinya pendapatan total sama dengan biaya total. Titik
perpotongan ini disebut titik impas (break event point, disingkat BEP ).
Setelah titik BEP, perusahaan terus mrngalami laba yang makin membesar
dilihat dari kiurva TR yang diatas kurva TC.
Implikasi dari pendekatan totalitas adalah perusahaan menemopuh
strategi penjualan maksimum (maximum selling). Sebab makin besar
penjualan makin besar laba yang diperoleh. Hanya saja sebelum
mengambil keputusan, perusahaan harus menghitung beberapa unit output
harus diproduksi (Q*) untuk mencapai titik impas. Kemudian besarnya Q*
dibandingkan dengan potensi permintaan efektif. Jika presentasenya 80%,
maka untuk mencapai BEP perusahaan harus menjangkau 80% potensi
permintaan efektif maklin kecil Q* dana atau makin kecil presentase Q*
terhadap potensi permintaan efektif dianggap makin baik, sebab resiko
yang ditanggung perusahaan makin kecil.
Cara menghitung Q* dapat diturunkan dari persamaan (7.2).
=P.Q*-(FC+v.Q)
Titik impas tercapai pada saat sama dengan
0 =P.Q*-F.C-v.Q*
=P.Q*-v.Q*-FC
=(P-v).Q*-FC
Q*=/( )
Contoh kasus:
Emilia adalah seorang dosen di kota Jambi. Sebagai seorang ibu rumah
tangga yang kreatif, ia merencanakan menambah penghasilan keluarga
dengan menjual jajanan anak anak berupa permen coklat hasil olahannya
sendiri. Produknya dipasarkan pada bebrapa sekolah dasar yang ada di

vi
sekitar tempat tinggalnya. Jumlah permintaan potensial (dilihat dari
jumlah murid yang diberi uang jajan) adalah 1000 orang/hari. Untuk
mewujudkan rencananya, dia harus membeli alat alat produksi dan mesin
cetak sederhana seharga Rp.5.000.000. biaya produksi permenn coklat
Rp.250. harga jual per biji Rp.500.
Apakah rencana diatas layak direncanakan ? untuk menjawabnya, kita
dapat menggunakan rumus dalam persamaan (7.4).
Biaya pembelian alat produksi dan mesin cetak adalah biaya tetap (FC),
karena besarnya tidak tergantung jumlah produksi. Biaya fariabel per unit
(v) adalah Rp.250 sedangkan harga jual per unit (P) adalah Rp.500. untuk
mencapai titik impas, jumlah output (permen coklat) yang terjual (Q*)
adalah :
Q*= 5.000.000/(500-250) = 20.000 biji permen.
Untuk mencapai titik impas, permen coklat yang harus terjual 20.000
biji. Apakah target ini terlalu berat ? sangat tergantung dari optimism ibu
Emilia. Jika dia bersikap psimis, misalnya dengan mengatakan hanya
sekitar 10% dari permintaan potensial yang terjangkau, berarti setiap hari
hanya dapat menjual 100 permen. Sehingga 20.000 biji permen akan
terjual dalam waktu 200 hari. Tetapi bila dia yakin minimal 50% potensi
pasar terjangkau atau 500 biji permen coklat per hari, 20.000 biji permen,
akaan terjual dalam waktu 40 hari. Setelah 20 biji permen, penjualan
selanjutmya memberi keuntungan Rp.250/biji. Karena itu makin banyak
permen yang dapat dijual, makin besar laba yang diperoleh.
Pendekatan totalitas sering di pakai dalam sehari hari, karwena memang
mudaha dan sederhana. Namun cara ini memiliki beberapa kelemahan:
a. Dalam praktek sulit membedakan antara biaya tetap dengan
biaya variabel. Misalnya listrik yang digunakan perusahaan ada
yang untuk pabrik (dapat menjadi biaya variabel) ada yang
untuk kabntor (dapat menjadi biaya tetap). Atau seorang
pegawai dalam perusahaan, terutama perusahaan keluarga
sering berkerja rangkap untuk kegiatan administrati (biaya
tetap) dan produksi (biaya variabel)

vii
b. Pendekatan ini mengabaikan segala penuntutan pertambahan
hasil (LDR), yang menyebabkan baik kurva biaya maupun
kurva pendapatan tidak berbentuk garis lurus. Karena itu
pendekatan totalitas hanya dapat dipakai bila usaha yang
dianalisis relative sederhana, dengan skala produksi tidak besar
(massal).
C. Pendekatan Rata rata (Avarage Approach)
Dalam pendekatan ini, perhitungan laba per unit dilakukan dengan
membandingkan anntara biaya produksi rata rata (AC) dengan harga jual
output (P). Laba total adalah laba per unit di kalikan dengan jumlah output
yang terjual.
= ( ).
Dari persamaan ini perusahaan akan mencapai laba bila harga jual per
unit output (P) lebih tinggi dari biaya rata rata(AC). Perusahaan hanya
mencapai angka impas bila P=AC.
Keputusan untuk memproduksi atau tidak berdasarkan perbandingan
besarnya P dengan AC. Bila P lebih kecil atau sama dengan AC, perusahaan
tidak mau memproduksi. Implikasi pendekatan rata rata adalah perusahaan
atau unit usaha harus menjual sebanyak banyaknya (maximum selling)
output(P) agar laba () makin besar.
Contoh kasus :
PT Tani Makmur ingin menanam singkong di Lampung. Produk
singkong akan dibeli di lahan oleh produsen tapioca seharga Rp.150,00
per kilogram. Setiap hektar diperkirakannya menghasilkan singkong
minimal 25 ton. Berdasarkan studi pendahuluan, biaya produksi seperti
di bawah ini :
a. Biaya Persiapan lahan Rp.500.000 per hektar.
b. Biaya penanaman dan perawatan (termasuk pupuk dan obat
obatan) serta tenaga kerja Rp.1.000.000 per hektar.
c. Biaya panen (pencabutan, pemotongan): Rp.10 per kg

Jika perusahaan menargetkan keuntungan sebesar Rp. 1.000.000 pada


musim tanam mendatang, berapa hektar singkong yang harus ditanam ?

viii
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghitung biaya rata-rata
per kilogram singkong, sampai siap dijual dilahan. Karena yang sudah
diketahui hanya panen per-Kg, kita harus menghitung biaya rata-rata
perkilogram persiapan lahan dan penanaman. Dari data-data diatas diketahui
bahwa biaya persiapan lahan, penanaman, dan perawatan adalah Rp1.500.000
per hektar. Jika per hektar lahan menghasilkan 25 ton singkong, maka biaya
rata-rata persiapan, penanaman, dan perawatan adalah Rp60 per kilogram.
Sehingga biaya rata-rata per kilogram (AC) adalah Rp60+Rp10 sama dengan
Rp70.

Karena harga jual singkong (P) adalah Rp150 per kilogram, maka

=(P-AC).Q

1.000.000.000= (150-70)Q

Q = (1.000.000.000 : 80)kg

= 12.500.000 kg

=12.500 ton

Jumlah singkong yang harus dihasilkan untuk mencapai laba Rp 1 miliar


adalah 12.500 ton. Karena per hektar menghasilkan 25 ton, maka jumlah yang
harus ditanam adalah 500 hektar.

Sama halnya dengan pendekatan totalitas, pendekatan rata-rata juga banyak


dipakai karena sederhana. Namun pendekatan ini pun mengabaikan gejala
penurunan per-tambahan hasil (LDR). Contoh diatas, menunjukan bahwa
perhitungan AC berdasrkan skala produksi satu hektar. Padahal banyak
perbedaan mendasar antara memproduksi satu hektar dengan 500 hektar. Pada
skala produksi satu hektar atau barangkali sepuluh hektar, perusahaan tidak
mengalami masalah-masalah berarti dikaitkan dengan kebutuhan SDM,
teknologi produksi maupun manajemen. Dalam arti kualitas SDM yang
dibutuhkan tidak perlu tinggi, lahan bisa dikelola dengan teknologi sederhana
dan pengelolaan usaha cukup dengan manajemen keluarga.

ix
Tetapi jika skala produksi ditingkatkan sampai 500 hektar, pengelolaan
tanah harus menggunakan peralatan modern, perusahaan membutuhkan
insinyur dan tenga keuangan yang mampu mengelola usaha bernilai ratusan
juta atau miliaran rupiah. Jika perusahaan harus menggunakan kredit sebagai
sumber pendanaan, maka organisasi perusahaan harus bersifat formal. Dengan
kata lain jenis dan kompleksitas kegiatan maupun pembiayaan makin banyak
dan meningkat, jika skala produksi ditambah. Karena itu perhitungan AC yang
akurat seharusnya dalam skala produksi 500 hektar. Angka biaya rata-rata
(AC) pada skala produksi 500 hektar bisa lebih besar atau lebih kecil dari AC
pada skala produksi satu hektar. Jika perusahaan menikmati skala produksi
ekonomis ( economies of scale ), maka biaya rata-rata (AC) akan lebih kecil
dari Rp70 per kg (AC pada skala produksi satu hektar). Begitu juga sebaliknya.

D. Pendekatan Marjinal (Marginal Approach)


Dalam pendekatan marjinal, perhitungan laba dilakukan dengan
membandingkan biaya marjinal (MC) dan pendapatan marjinal (MR). Laba
maksimum akan tercapai pada saat MR = MC. Kondisi tersebut bisa
dijelaskan secara matematis, dan verbal.
1) Penjelasan secara matematis
= TR-TC
Laba maksimum tercapai bila turunan pertama fungsi (/ ) sama
dengan nol dan nilainya sama dengan nilai turunan pertama TR ( /
atau MR) dikurangi nilai turunan pertama TC ( / atau MC).

= =0

= MR-MC =0

MR=MC
maksimum atau kerugian miminum
Dengan demikian, perusahaan akan memperoleh laba maximum (kerugian
minimum) bila dia berproduksi pada tingkat output dimama MR=MC.
Penjelasan secara otomatis
Di pembahasan teori biaya produksi, kita telah mengkonstruksi kurva biaya
total (TC) yang bentuk kurvanya seperti huruf S terbalik. Kurva pendapatan

x
total (TR) diperoleh dengan cara mengalikan kurva produksi total (TP)
dengan harga jual output per unit (P). pada pembahasan teori produksi, dan
diketahui bahwa kurva TP berbentuk huruf S. karena kurva TR diperoleh
dengan cara mengalikan kurva TP dengan sebuah bilangan sebesar nilai P,
maka kurva TR juga berbentuk S. kurva TR dikurangi kurva TC
menghasilkan kurva laba ().
2) Penjelasan secara verbal
Apakah benar perusahaan akan mencapai laba maximum bila memproduksi
Q3 ?
Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita mengonsentrasikan diri pada
pergerakan kurva laba () sepanjang interval Q1-Q5 . pergerakan tersebut
kita bagi menjadi 3 sub-interval : Q1-Q3 , Q3 , dan Q3-Q5. .
1. Penambahan output sepanjang sub-interval Q1-Q3
Ketika output ditambah dari Q1 ke Q2 kurva Q bergerak naik yang
artinya laba bertambah besar bila memperhatikan kurva TN dan TC,
terlihat bahwa kecuraman garis singgung a1 (MR) lebih bezsar dari
sudut kecuraman garis singgung a2 (MC). Ternyata jika output
ditambah satu unit, tambahan pendapatan (MR) yang dihasilkan
lebih besar dari tambahan biaya (MC) yang harus dikeluarkan.
Karena itu akan menguntungkan bila perusahaan terus menambah
output. Dengan cara penjelasan yang sama dapat dipahami mengapa
kurva bergerak naik sampai jumlah output Q3 . kalau kita melihat
sudut kemiringan kurva Q makin datar, hal itu menunjukan
terjadinya hukum pertambahan hasil yang makin menurun (LDR).
2. Pada saat jumlah output Q3
Seperti telah dijelaskan, garis singgung b1 (MR) sejajar garis
singgung b2 (MC). Jika output ditambah satu unit, maka
pertambahan pendapatan (MR) yang diperoleh sama persis dengan
tambahan biaya (MC) yang dikeluarkan.
3. Interval Q3-Q5.
Jika output ditambah dari Q3 ke Q4 , terlihat bahwa sudut kemiringan
garis singgung c1 (MR) sudah lebih kecil dari sudur kemiringan garis

xi
singgung c2 (MC) artinya jika output ditambah satu unit, tambahan
perndapaatn (MR) yang diperoleh lebih kecil dibanding tambahan
biaya (RC). Dalam kondisi seperti itu perusahaan akan merugi bila
terus menambah output. Terlihat dari gerak menurun kurva Q.
Dengan demikian, tingkat output yang membuat perusahaan
mencapai laba maximum adalah Q3 .
Penjelasan diatas dapat diringkas dengan menyatakan :
a) Pada interval Q1-Q3 , MR>MC. Karenanya penambahan
output akan meningkatkan laba.
b) Pada interval Q3-Q5 MR<MC. Karenanya penambahan
output akan menurunkan laba.
c) Pada saat otput adalah Q3 MR=MC. Perusahaan mencapai
laba maksimum.2

2
Prathama Rahardja,Mandala Manurung,Pengantar Ilmu Ekonomi,Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia,Jakarta,2008,hal. 133

xii
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
laba adalah kompensasi atas resiko yang ditanggung oleh perusahaan.
Laba adalah selisih pendapatan diatas biaya-biayanya dalam jangka
waktu(periode) tertentu.laba sering digunakan untuk pengenaan pajak,
pedoman investasi serta pengambilan keputusan dan unsur prediksi
Ada tiga pendekatan perhitungan laba maksimum yang akan dibahas
dalam bab ini.
Pendekatan totalitas (totality approach)
Pendekatan rata-rata (average approach)
Pendekatan marjinal (marginal approach)
B. Saran
Demikian makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi
pembaca.Apabila ada saran dan kritik yang ingin di sampaikan,
silahkan sampaikankepada kami.Apabila ada terdapat kesalahan
mohon dapat mema'afkan dan memakluminya,

xiii
DAFTAR PUSTAKA
Rahardja Prathama,Manurung Mandala,2008,Pengantar Ilmu
Ekonomi,Jakarta:Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia

http://salamkuminfo.blogspot.com/2017/01/memaksimalisasi-laba/html diakses
tanggal 11 April 2017 10:00 wib

xiv