Anda di halaman 1dari 3

Ini Kritik KPPU Terhadap Permenhub 26/2017

Bahkan penerapan jumlah kuota kendaraan taksi online berpotensi terjadinya monopoli.
FNH
Dibaca: 1557 Tanggapan: 0

Ilustrasi transportasi online. Ilustrator: BAS


BERITA TERKAIT
11 Poin Revisi Peraturan Menteri Perhubungan Transportasi Online
Menhub Budi Diskusi Pemberlakuan Peraturan Transportasi Online
Didasari 2 Peraturan Menkeu, Kenaikan Santunan Korban Kecelakaan Berlaku Awal Juni
Atur Ojek Motor, DPR Ingin Revisi UU Lalu Lintas
Untuk meminimalisir konflik yang terjadi di lapangan antara transportasi, khususnya taksi online dan konvensional, pemerintah melalui
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengeluarkan Permenhub No. 26 Tahun 2017 tentang Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor
Tidak Dalam Trayek. Permenhub ini dinyatakan berlaku sejak 1 April 2017 lalu.

Sebenarnya, Permenhub 26/2017 merupakan pembaharuan dari Permenhub yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah sebelumnya. Apa yang
sebenarnya poin yang diatur di dalam Permenhub 26/2017? Satu hal yang paling mendapatkan perhatian adalah penerapan tarif atas dan tarif
bawah untuk transportasi online yang masuk ke dalam nomenklatur baru, yaitu angkutan sewa khusus.

Menurut Direktur Pengkajian, Kebijakan, dan Advokasi Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Taufik Ahmad, penerapan ketentuan biaya
tarif bawah angkutan taksi konvensional dan online akan memberikan dua efek, terutama untuk konsumen. Pertama, akan berimbas pada makin
mahalnya biaya transportasi. Batas bawah merugikan konsumen karena tidak lagi dapat menikmati harga yang terjangkau dan hal ini sama saja
dengan membiarkan konsumen menanggung inefisiensi operator jasa transportasi. Kedua, menyangkut persoalan kuota jumlah kendaraan untuk
taksi online.

Permen 26/2017, lanjut Taufik, pada dasarnya berusaha menyamakan perlakuan terhadap taksi konvensional dan taksi online. Pendekatan ini
justru menimbulkan perdebatan karena selama ini jumlah kendaraan taksi online yang beroperasi mengikuti prinsip demand dan supply.
Menetapkan batasan kuota dapat berujung pada ketidakmampuan perusahaan transportasi online menyediakan armada yang sesuai dengan
demand pasar. Konsumen menjadi semakin kesulitan mengakses layanan alternatif ini.

Tidak jelas siapa yang mau di-protect (soal tarif atas dan tarif bawah). Apakah masyarakat, pengguna aplikasi, atau kepada siapa masih belum
jelas. Implementasinya bisa kompleks di lapangan," kata Taufik dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu (24/5).

Apalagi, lanjutnya, penerapan jumlah kuota untuk taksi online harus dibarengi dengan pengawasan yang ketat dari pemerintah. Pasalnya, pasal
pembatasan kuota dalam Permenhub ini rentan dimonopoli oleh operator tertentu. Jangan sampai operator transportasi online tidak dapat
menurunkan armada angkutannya karena kuota telah habis diambil oleh operator lain.
Selain itu, KPPU juga menilai perlunya regulasi mengenai standar pelayanan minimum yang harus diterapkan oleh seluruh operator jasa
transportasi termasuk taksi online. Penerapan standar minimum ini penting untuk menjaga kenyamanan dan keamanan penumpang yang
menggunakan jasa transportasi konvensional dan online.

Walaupun secara resmi PM26/2017 telah berlaku sejak 1 April 2017, Kementerian Perhubungan memberikan masa tenggat untuk beberapa poin.
Untuk pengujian berkala (KIR), stiker untuk taksi online dan akses dashboard digital diberi transisi sampai 1 Juni 2017. Sementara untuk
pemberlakuan tariff batas atas dan batas bawah, kuota kendaraan, pengenaan pajak dan balik nama surat tanda nomor kendaraan (STNK),
masa transisi diberikan sampai 1 Juli 2017.

Perlu pembahasan lebih mendalam demi membantu Kementerian Perhubungan untuk dapat secara efektif mengimplementasikan Permenhub
26/2017 sehingga tidak ada gangguan-gangguan yang tidak perlu di lapangan, jelasnya.

Revisi UU Lalu Lintas dan Transportasi


Direktur Angkutan dan Multimoda Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Cucu Mulyana menyampaikan bahwa pihaknya
menyadari Permenhub 26/2017 tak mungkin bisa menyenangkan kedua belah pihak. Namun untuk saat ini, ia meminta seluruh pihak
menghormati aturan yang sudah dinyatakan berlaku demi mencari keseimbangan yang harmonis.

Kami menyadari terbitnya Peraturan Menteri No 26/2017 pasti mustahil menyenangkan semua pihak, tetapi ini penting dan atas dasar
keselamatan dan keamanan publik mudah-mudahan hadirnya peraturan itu bisa menimbulkan harmonisasi, kata Cucu.

Persoalan transportasi online saat ini tidak hanya berkutat pada taksi online saja. Beberapa kali bentrok terjadi antara sopir angkot dan driver
ojek online, atau antara ojek konvensional dan ojek online. Persoalan ini, lanjut Cucu, cukup sensitif di Indonesia. Mengingat, UU No 22 Tahun
2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan tidak mengakomodir kendaraan roda dua termasuk ke dalam transportasi umum.

Salah satu upaya yang saat ini tengah dilakukan oleh pihaknya, lanjut Cucu, adalah membahas revisi UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Proses revisi saat ini masih dalam proses kajian untuk menyelesaikan naskah akademik. Apalagi, menjadikan angkutan roda dua untuk masuk
ke dalam kategori transportasi umum tidaklah mudah.

Harus ada naskah akademis, karena ini roda dua factor keselamatan harus diperhatikan, pengujian kendaraan bagaimana, SIM-nya bagaimana
untuk roda dua apakah masih C umum atau seperti apa. Untuk membahas ini, harus duduk bersama dengan Kepolisian, pengaturan seperti itu
memerlukan kajian yang lebih mendetail, ungkapnya.

Untuk mengatasi persoalan fenomena ojek online yang saat ini menjamur namun tak memiliki payung hukum, Cucu menilai hal tersebut bisa
diatasi dengan menerbitkan peraturan di daerah yang mengatur mengenai ojek online.

Economis Institute for Development of Ecomonics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menambahkan bahwa kelemahan ojek online adalah
tidak memiliki payung hukum yang jelas. Kemenhub, lanjutnya, memang memberikan tanggungjawab kepada Pemda untuk mengelola ojek
online yang ada di setiap daerah, namun hal ini justru akan menimbulkan konflik baru, misalnya ada oknum yang bermain di daerah.

Jalan keluar yang paling ideal adalah dengan mempercepat proses revisi UU Lalu Lintas. Defenisi kendaraan roda dua harus diperjelas dan
mengakomodir kendaraan roda dua sebagai transportasi umum. Sehingga nantinya aturan yang ada di daerah akan merujuk kepada UU Lalu
Lintas yang sudah direvisi dan tidak menimbulkan perbedaan aturan tiap daerah yang dapat memicu konflik baru.

Harus kritik transportasi online juga, karena menurut saya mereka (transportasi online) mempunyai tanggung jawab juga untuk merangkul ojek-
ojek yang sudah ada. Harusnya mereka dulu diserap daripada merekrut baru, bentrok di daerah itu diakibatkan oleh rekruitmen baru,
komunikasinya kurang bagus. Kompetisi harus dibiarkan dan didukung tapi di satu sisi harus melihat msyarakat dan pemain yang lama tetap bisa
hidup, jadi tidak saling memangsa, pungkasnya.

Transportasi Online, Menhub Ungkap Masalah Krusial

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah terus memperbaiki aturan atau sistem


pendukung yang ada seperti Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26
Tahun 2017 yang mengatur tata kelola transportasi online di Indonesia. Hal
itu mencakup sistem perizinan transportasi berbasis online hingga
hubungan kerja.

"Tadi ada beberapa catatan (soal aturan transportasi) yang perlu


ditindaklanjuti," kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi seusai
rapat terbatas transportasi online di kompleks Istana Kepresidenan,
Selasa, 18 Juli 2017.

Terkait sistem perizinan online, misalnya, Budi menyampaikan bahwa


sistem itu sudah hampir siap. Rencananya, dalam waktu dekat akan
dilakukan uji coba. Adapun uji coba dilakukan di Jakarta terlebih dahulu.

Uji coba, kata Budi, diperlukan untuk memastikan sistem berjalan lancar
nantinya. Apalagi sistem ini akan bersifat multi device sehingga tidak
tertutup pada bentuk web based saja, namun juga bisa diakses dari
aplikasi gawai.

Jika uji coba di Jakarta berjalan lancar, maka selanjutnya akan


diadaptasikan di luar wilayah Jakarta. Beberapa daerah yang akan
menjadi lokasi penerapan selanjutnya adalah Surabay dan Medan.
"Tinggal adaptasi saja, ujar Budi. Kami akan lakukan di daerah-daerah
sehingga pendaftaran khusus untuk taksi online juga bisa online.

Sementara itu, soal hubungan kerja, Budi mengatakan bahwa Presiden


Joko Widodo meminta aturan itu dielaborasi lebih lanjut. Lebih jelasnya,
pemerintah ingin agar unsur hak tenaga kerja, kewajiban terhadap pajak,
hingga Badan Penyelenggara Jaminan Sosial juga diatur dalam
aturan transportasi online.

Sebenarnya, beberapa hal tersebut, sudah dilakukan oleh sejumlah


penyedia layanan jasa transportasi online. Namun, sifatnya informal
sehingga tidak diketahui pemerintah ataupun mengacu pada payung
hukum yang spesifik. Budi menyampaikan bahwa pemerintah ingin hal itu
lebih konkrit sehingga pemantauan pun bisa lebih mendalam. "Kita lebih
formalkan lagi, lah.

Budi menambahkan bahwa konsep koperasi dan legalitas turut menjadi


perhatian pemerintah dalam memperbaiki tata kelola transportasi online.
Koperasi, kata ia, menjadi perhatian untuk memastikan setiap pengemudi
transportasi online tidak lepas hubungan dari pemilik bisnis transportasi
online, baik dalam bentuk aturan perusahaan atau aplikasi.

"Berkaitan dengan legalitas, STNK harus ditegakkan untuk keamanan.


Pengemudi juga harus punya SIM umum dan kendaraannya memiliki KIR
ataupun diasuransikan. Dalam konsep Peraturan Menteri Perhubungan
Nomor 6, itu sudah ada, tapi masih harus disosialisasikan," ujar Menteri
Budi.

ISTMAN MP