Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Orang dianggap sehat jika mereka mampu memainkan peran dalam
masyarakat dan perilaku pantas dan adaptif.Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
mendefeniskan kesehatan sebagai sehat fisik, mental dan sosial bukan sematamata
keadaan tanpa penyakit atau kelemahan (Videbeck, 2008, hlm 3).Menurut
Jhonson (1997, dalam Videbeck, 2008, hlm 3) gangguan jiwa merupakan suatu
kondisi sehat emosional, psikologis dan sosial yang terlihat dari hubungan
interpersonal yang memuaskan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri
yang positif dan kestabilan emosional.
Di Indonesia berdasarkan (Rikesda tahun 2007) bahwa prevelansi gangguan
jiwa berat sebesar 4,6 permil, artinya ada empat sampai lima penduduk dari 1000
penduduk Indonesia menderita gangguan jiwa berat. Angka gangguan jiwa di
Indonesia telah mencapai 10% dari populasi penduduknya.Menururut WHO
(2001) jika 10% dari populasi penduduk mengalami masalah kesehatan jiwa maka
harus mendapat perhatian karena sudah termasuk kategori rawan kesehatan jiwa
yang perlu disikapi secara serius oleh semua pihak.
Penatalaksaan yang diberikan antara lain meliputi farmakoligis dan
nonfarmakologis. Penatalaksaan farmakologis antara lain dengan memberikan
obat-obatan antipsikotik. Adapun penatalaksanaan nonfarmakologis dari
halusinasi dapat meliputi pemberian terapi-terapi antara lain terapi modalitas.
Terapi Modalitas adalah terapi dalam keperawatan jiwa, dimana perawat
mendasarkan potensi yang dimiliki pasien sebagai titik tolak terapi atau
penyembuhan. Ada terapi yang dapat dilakukan oleh perawat yaitu terapi
modalitas, dimana terapi modalitas ini terbagi menjadi terapi individual, terapi
lingkungan (milliu therapi), terapi biologis atau terapi somatik, terapi kognitif,
terapi keluarga, terapi prilaku, terapi bermain (Johnson, 1988, dalam Susana,
2011, hlm 3).
Dukungan keluarga menurut (Nursalam, 2007, hlm 30) merupakan bantuan
yang di terima salah satu anggota keluarga dari anggota keluarga lainnya dalam

1
rangka menjalankan fungsi-fungsi yang terdapat dalam sebuah keluarga.
Dukungan bisa rasa berupa kasih sayang, cara merawatnya, menanggung biaya
perawatan dan menghargai klien.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa yang dimaksud dengan Terapi Somatik?
1.2.2 Apa saja jenis-jenis Terapi Somatik?
1.2.3 Apa yang dimaksud dengan Psikofarmaka?
1.2.4 Bagaimana prinsip dasar pelaksanaan Terapi Somatik
1.2.5 Bagaimana peran perawat?

1.3 Tujuan Masalah


Adapun tujuan dari penyusunan makalah pada materi ini yaitu,
1.3.1 Tujuan umum
Makalah ini penulis susun untuk menambah ilmu tentang Terapi Somatik.
1.3.2 Tujuan Khusus
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk melengkapi tugas kelompok pada mata
kuliah Keperawatan Jiwa

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Penerapan terapi biologis atau terapi somatic didasarkan pada model medical
di mana gangguan jiwa dipandang sebagai penyakit. Ini berbeda dengan model
konsep yang lain yang memandang bahwa gangguan jiwa murni adalah gangguan
pada jiwa semata, tidak mempertimbangkan adanya kelaianan patofisiologis.
Tekanan model medical adalah pengkajian spesifik dan pengelompokkasn gejala
dalam sindroma spesifik. Perilaku abnormal dipercaya akibat adanya perubahan
biokimiawi tertentu. Terapi ini memfokuskan penyembuhan klien dengan bantuan
obat-obatan yang berfungsi sebagai anti depresi.

2.2 Tujuan
Terapi biologi atau somatic diberikan dengan tujuan mengubah perilaku mal
adaptif menjadi perilaku yang adaptif dengan melakukan tindakan dalma bentuk
perlakuan fisik.

2.3 Jenis-Jenis dan Karakteristik


a. Restrain
Restrain adalah terapi dengan menggunakan alat-alat mekanik atau
muncul untuk membatasi mobilitas fisik pasien, dilakukan pada kondisi
khusus, merupakan intervensi yang terakhir jika perilaku klien sudah
tidak dapat diatasi atau dikontrol dengan strategi perilaku maupun
modifikasi lingkungan (Widyodiningrat. R, 2009).
Jenis-jenis restrain :
Camisole (jaket pengekang)
Manset/ tali untuk pergelangan tangan dan kaki
Kursi geriatric
Sprei/ selimut basah
Tujuan dan Prinsip-prinsip Restraint
Melindungi pasien dari cedera fisik

3
Memberikan lingkungan yang aman
Strategi untuk menurunkan agresifitas
Indikasi
Perilaku yang membahayakan diri sendiri dan lingkungannya
Perilaku agitasi yang tidak dapat diatasi obat obatan
Klien yang mengalami gangguan kesadaran
Klien yang membutuhkan bantunan untuk mendapatkan rasa
aman dan pengendalian diri.
Ancaman terhadap integritas tubuh berhubungan dengan
penolakan klien untuk istirahat, makan dan minum.
b. Seklusi
Seklusi adalah bentuk terapi yang mengurung klien dalam ruangan
khusus. Klien tidak dapat meninggalkan ruangan tersebut secara bebas.
Bentuk siklus dapat berupa pengurungan diruangan tidak terkunci sampai
pengurungan dalam ruangan yang terkunci dengan Kasur tanpa sprei,
tergantung dari tingkat kegawatan klien.
Indikasi
yaitu dengan perilaku kekerasan yang membahayakan diri sendiri,
orang lain dan lingkungann.
Kontraindikasi
Resiko tinggi bunuh diri
Klien dengan gangguan social
Kebutuhan untuk observasi masalah medis
Hukuman
c. Fototerapi
Fototerapi atau sinar adalah terapi somatic pilihan. Terapi ini
diberikan dengan memaparkan pada klien terang. Terapi ini dapat
menurunkan 75% gejala depresi yang dialami klien depresi musim dingin
atau gangguan efektif musiman.
Efek samping yang terjadi setelah dilakukan dapat berupa nyeri
kepala, insomnia, kelelahan, mual, mata kuning, keluar sekresi dari
hidung atau sinus.

4
d. ECT (Electro Convulsif Therapy)
ECT adalah suatu tindakan terapi dengan menggunakan aliran
listrik dan menimbulkan kejang pada penderita baik tonik maupun klonik.
Tindakan ini adalah bentuk terapi pada klien dengan mengalirkan arus
listrik melalui elektroda yang ditempelkan pada pelipis klien untuk
membangkitkan kejang grandmall.
Indikasi
ECT merupakan prosedur yang hanya digunakan pada keadaan yang
dirokemendasikan.
Kontraindikasi
Peningkatan tekanan intra kranial
Keguguran pada kehamilan.
Gangguan system muskuloskaletal, osteoartisis berat, osteoporosis,
fraktur Karena kejang grandmall.
Gangguan kardiovaskuler, infrak miokardium, agina, hipertensi,
aritmia dan aneu risma
Gangguan system pernafasan, asma bronkial
Keadaan lemah
e. Terapi Deprivate Tidur
Terapi deprivasi tidur adalah terapi yg diberikan kepada klien
dengan cara mengurangi jumlah jam tidur klien. Hasil penelitian
ditemukan bahwa 60% klien depresi mengalami perbaikan yg bermakna
setelah jam tidurnya dikurangi selama 1 malam. Umumnya lama
pengurangan jam tidur efektif sebanyak 3,5 jam.
Indikasi
Terapi deprivasi tidur dianjurkan untuk klien depresi.
Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja terapi deprivasi tidur ini adalah mengubah
neuroendokrin yang berdampak anti depresan. Dampaknya adalah
menurunnya gejala-gejala depresi.

5
Efek Samping
Klien yg didiagnosa mengalami gang. efektif tipe bipolar bila
diberikan terapi ini dpt mengalami gejala mania.
f. Intervensi Nutrisi
Pada umumnya terapis menganjurkan klien untuk mengkonsumsi
makanan yang mengandung penilethylamine dan buah-buahan yang kaya
akan antioksidan. Karena zat-zat tersebut dapat membantu mengurangi
stress.

2.4 Pemberian Obat (Medikasi Psikofarmaka)


Psikofarmaka adalah obat-obatan yang digunakan untuk klien dengan
gangguan mental. Psikofarmaka termasuk obat-obatan psikotropik yang bersifat
Neuroleptik (bekerja pada sistem saraf). Pengobatan pada gangguan mental
bersifat komprehensif, yang meliputi :
a. Teori biologis (somatik). Mencakup pemberian obat psikotik dan Elektro
Convulsi Therapi (ECT).
b. Psikoterapeutik
c. Terapi Modalitas
Psikofarmakologi adalah komponen kedua dari management psikoterapi.
Perawat perlu memahami konsep umum psikofarmaka. Beberapa hal yang
termasuk Neurotransmitter adalah Dopamin, Neuroepineprin, Serotonin, dan
GABA (Gama Amino Buteric Acid), dll. Meningkatnya dan menurunnya
kadar/konsentrasi neurotransmitter akan menimbulkan kekacauan atau gangguan
mental. Obat-obatan psikofarmaka efektif untuk mengatur keseimbangan
Neurotransmitter.

2.5 Prinsip Dasar Pelaksanaan Terapi


Penerapan terapi biologis atau terapi somatic didasarkan pada model medical
dimana gangguan jiwa dipandang sebagai penyakit. Ini berbeda dengan model
konsep yang lain yang memandang bahwa gangguan jiwa murni adalah gangguan
pada jiwa semata, tidak mempertimbangkan adanya kelainan patofisiologi.

6
Tekanan model medical adalah pengkajian spesifik dan pengelompokkan gejala
dalam sindroma spesifik. Perilaku abnormal dipercaya akibat adanya perubahan
biokimiawi tertentu.

2.6 Peran Perawat dalam pemberian Terapi Psikofarmaka


Perawat harus mempunyai cukup pengetahuan tentang strategi psikofarmaka
yang tersedia, tetapi informasi ini harus digunakan sebagai salah satu bagian dari
pendekatan holistik pada asuhan pasien. Peran perawat meliputi hal-hal sebagai
berikut :
a. Pengkajian pasien. Pengkajian pasien memberi landasan pandangan
tentang masing-masing pasien.
b. Koordinasi modalitas terapi. Koordinasi ini mengintegrasikan berbagai
terapi pengobatan dan sering kali membingungkan bagi pasien
c. Pemberian agen psikofarmakologis. Program pemberian obat dirancang
secara professional dan bersifat individual
d. Pemantauan efek obat. Termasuk efek yang diinginkan maupun efek
samping yang dapat dialami pasien.
e. Penyuluhan pasien. Memungkinkan pasien untuk meminum obat dengan
aman dan efektif
f. Program Rumatan obat. Dirancang untuk mendukung pasien di suatu
tatanan perawatan tindak lanjut dalam jangka panjang.
g. Partisipasi dalam penelitian klinis antar disiplin tentang uji coba obat.
h. Perawat merupakan anggota tim yang penting dalam penelitian obat yang
digunakan untuk mengobati pasien gangguan jiwa
i. Kewenangan untuk memberi resep

7
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Terapi somatic adalah model konsep yang lain yang memandang bahwa
gangguan jiwa murni adalah gangguan pada jiwa semata, tidak
mempertimbangkan adanya kelaianan patofisiologis. Tekanan model medical
adalah pengkajian spesifik dan pengelompokkasn gejala dalam sindroma spesifik.
Perilaku abnormal dipercaya akibat adanya perubahan biokimiawi tertentu. Terapi
ini memfokuskan penyembuhan klien dengan bantuan obat-obatan yang berfungsi
sebagai anti depresi.
Terapi biologi atau somatic diberikan dengan tujuan mengubah perilaku mal
adaptif menjadi perilaku yang adaptif dengan melakukan tindakan dalma bentuk
perlakuan fisik. Jenis-Jenis dan Karakteristik terapi biologi antara lain:
a. Restrain
b. Seklusi
c. Fototerapi
d. ECT (Electro Convulsif Therapy)
e. Terapi Deprivate Tidur
f. Intervensi Nutrisi
Pengobatan yang sering digunakan pada gangguan mental bersifat
komprehensif, yaitu meliputi :
a. Teori biologis (somatik). Mencakup pemberian obat psikotik dan Elektro
Convulsi Therapi (ECT).
b. Psikoterapeutik
c. Terapi Modalitas

3.2 Saran
Semoga makalah ini berguna bagi pembaca sehingga bisa menerapkan .

8
DAFTAR PUSTAKA

Dereja, Ade HS.2001.Buku Ajar Asuhan Keperawatan


Jiwa.Yogyakarta:Nuha_Medika
http://digilib.esaunggul.ac.id/public/UEU-Undergraduate-2451-bab1.pdf
https://martauy.wordpress.com/tag/terapi-somatik/