Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KEGIATAN

F.1 Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

HIPERTENSI

Disusun Oleh:
dr. Anindita Ratna Gayatri

Puskesmas Ambarawa
Periode Maret 2017 Juli 2017
Internsip Dokter Indonesia Kabupaten Semarang
Periode November 2016 - November 2017
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM)


Laporan F.1 Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

Topik:
HIPERTENSI

Diajukan dan dipresentasikan dalam rangka praktik klinis dokter internsip sekaligus sebagai
bagian dari persyaratan menyelesaikan program internsip dokter Indonesia di Puskesmas
Ambarawa Kabupaten Semarang

Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal

Mengetahui,
Dokter Internship, Dokter Pendamping

dr. Anindita Ratna Gayatri dr. Dwi Retno Sestiningtyas


NIP. 19740313 200604 2 017

1
A. LATAR BELAKANG
Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi masalah pada hampir semua
golongan masyarakat baik di Indonesia maupun diseluruh dunia. Di seluruh dunia ,
peningkatan tekanan darah diperkirakan menyebabkan 7,5 juta kematian, sekitar 12,8% dari
total kematian di seluruh dunia. Di Indonesia, prevalensi masyarakat yang terkena hipertensi
berkisar antara 6-15% dari total penduduk. Di Puskesmas Ambarawa sendiri jumlah kasus
baru hipertensi pada tahun 2016 tercatat sebanyak 1118 orang.
Hipertensi merupakan suatu penyakit sistemik yang dapat mempengaruhi kinerja berbagai
organ. Hipertensi juga menjadi suatu faktor resiko penting terhadap terjadinya penyakit
seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung dan stroke. Apabila tidak ditanggulangi
secara tepat, akan terjadi banyak kerusakan organ tubuh. Hipertensi disebut sebagai silent
killer karena dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ tanpa gejala yang khas.
Penderita hipertensi yang tidak terkontrol sewaktu-waktu bisa jatuh ke dalam keadaan
gawat darurat. Diperkirakan sekitar 1-8% penderita hipertensi berlanjut menjadi krisis
hipertensi dan banyak terjadi pada usia sekitar 30-70 tahun. Namun, krisis hipertensi jarang
ditemukan pada penderita dengan tekanan darah normal tanpa penyebab sebelumnya.
Pengobatan yang baik dan teratur dapat mencegah insiden krisis hipertensi maupun
komplikasi lainnya menjadi kurang dari 1%.

B. PERMASALAHAN
Dari sekian banyak pasien yang datang di balai pengobatan puskesmas Cebongan,
masih banyak pasien dengan penyakit hipertensi. Keadaan ini tentunya sudah tidak asing
dijumpai, mengingat pola hidup masyarakat yang masih jauh dari pola hidup sehat seperti
mengkonsumsi makanan berkolesterol, kurangnya olahraga dan merokok.
Hipertensi dapat membahayakan apabila tidak diobati. Lama-kelamaan dapat
mennyebabkan komplikasi lintas organ penyakit kardiovaskuler, renal bahkan
cerebrovaskuler ( stroke).
Kurangnya pengetahuan masyarakat akan hipertensi menyebabkan masyarakat rajin
untuk memeriksakan tekanan darahnya tanpa mengetahui hal-hal apa saja yang perlu
dilakukan untuk mempertahankan dan menurunkan tekanan darahnya. Masih banyak pasien
yang merasa malu untuk bertanya ataupun tidak waspada terhadap komplikasi yang dapat
disebabkan oleh hipertensi ini.

2
C. PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI
1. Kegiatan
Strategi atau pendekatan yang ditempuh yaitu pemberdayaan (empowerment).
Pemberdayaan ini dilakukan dengan memberikan kemampuan kepada individu (sasaran)
melalui penyuluhan yang dibarengi dengan kegiatan Posyandu Lansia. Pesan-pesan
pokok materi penyuluhan Hipertensi antara lain : definisi dari hipertensi, penyebab,
tanda dan gejala, kriteria hipertensi, pencegahan, penatalaksanaan dan komplikasi dari
hipertensi.
2. Menentukan Sasaran
Sasaran yang dipilih pada kegiatan penyuluhan Hipertensi ini adalah sasaran primer
orang dengan lanjut usia yang sangat berisiko terhadap hipertensi, yakni anggota
Posbindu Tambak Boyo.
3. Menetapkan Tujuan
Tujuan umum adalah mengurangi angka kejadian penyakit hipertensi dan segala
penyakit yang berkaitan dengan hipertensi. Tujuan khusus adalah memberikan
penjelasan yang lebih rinci tentang penyakit hipertensi untuk memberikan bekal ilmu
pengetahuan sehingga dapat diamalkan untuk diri sendiri maupun kerabatnya.
4. Menetapkan Metode dan Saluran Komunikasi KIE
Metode komunikasi yang digunakan berupa penyuluhan pada kelompok posyandu
lansia yang dilakukan secara lisan dan dilanjutkan dengan tanya jawab.
5. Penanggung Jawab
Penanggung jawab dari kegiatan ini terdiri dari dokter internsip dan petugas
Puskesmas Ambarawa pemegang program posbindu ( Lia).

D. PELAKSANAAN KEGIATAN
Kegiatan : Penyuluhan tentang Hipertensi
Tujuan : Meningkatkan pengetahuan anggota Posyandu Lansia tentang
Hipertensi
Peserta : Anggota Posbindu Tambak Boyo berjumlah 20 orang.
Waktu dan Tempat : Rabu, 26 April 2017 pukul 09.00-11.00 WIB

3
Metode : Pemberian materi secara lisan yang berisi materi definisi dari
hipertensi, penyebab, tanda dan gejala, kriteria hipertensi,
pencegahan, penatalaksanaan dan komplikasi dari hipertensi.
Dilanjutkan dengan sesi tanya jawab
Penanggung Jawab : Dokter internsip dan petugas PKM Ambarawa
Alur Kegiatan : Meliputi 5 meja kegiatan yaitu MEJA 1 untuk pendaftaran, MEJA
2 untuk wawancara, MEJA 3 untuk pengukuran tinggi badan, berat
badan, IMT, dan lemak perut, MEJA 4 untuk pemeriksaan tekanan
darah, glukosa darah, kolesterol, MEJA 5 untuk edukasi/ konseling.

E. MONITORING DAN EVALUASI


Saat pemberian penyuluhan, peserta menyimak dengan tenang dan terlihat antusias
walaupun peserta terlihat sudah tidak asing lagi dengan penyakit darah tinggi atau
hipertensi ini karena kebanyakan dari peserta pun mempunyai penyakit hipertensi sejak
cukup lama. Setelah penyuluhan peserta antusias menanyakan berbagai macam hal
seputar hipertensi. Pada umumnya para peserta ingin mendapat kejelasan yang benar
seputar pencegahan dan cara mempertahankan tekanan darah di posisi aman mulai dari
sisi farmakologis dan non farmakologis. Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan
melihat seberapa banyak para peserta memahami dan mampu menjawab pertanyaan-
pertanyaan sederhana seputar materi yang telah disampaikan.
Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan pengecekan pemahaman peserta
penyuluhan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar materi yang telah
disampaikan. Pada kali ini penyuluhan memberikan pertanyaan kasus tentang hipertensi,
contoh Ny. K berusia 55th mempunyai tekanan darah 130/90 dan tidak punya penyakit
ginjal maupun DM. Apakah tensi Ny.K tinggi? Para peserta pun menjawab bahwa tensi
130/90 pada usia dibawah 60 tahun merupakan tensi yang normal. Pertanyaan yang
dijawab dengan benar oleh peserta penyuluhan merupakan bukti keberhasilan bahwa
penyuluhan yang telah dilakukan mampu diterima dan dipahami oleh peserta sehingga
cukup membantu untuk mengontrol tekanan darah masing-masing peserta.. Dengan
adanya pemahaman tersebut diharapkan mampu untuk memberikan informasi yang telah
diberikan kepada anggota keluarga, tetangga, dan warga lainnya. Selain itu, monitoring
dan evaluasi selanjutnya perlu kerjasama dari pihak kader posyandu lansia dan petugas
Puskesmas Ambarawa.

4
Selain pertanyaan kasus dari tim penyuluh, ada beberapa pertanyaan juga yang
diajukan oleh para peserta, antara lain :
Makanan apa yang harus dihindari untuk menjaga tensi?
= makanan yang berlemak (otak, jeroan, gorengan), makanan dan minuman
kaleng, makanan yang diawetkan, bumbu-bumbu penyedap termasuk garam
dan makanan yang mengandung alkohol.
Makanan apa yang bagus dikonsumsi untuk pengidap tensi?
= Seledri, mentimun, pare dan bawang lanang.
Apakah benar makanan asin harus dihindari?
= Iya benar, karena asin didapatkan dari garam dimana garam (natrium)
didalam tubuh cenderung mengikat air yang dapat menambah beban jantung.
Cara mensiasatinya, rasa tawar dapat ditambahkan gula merah atau bawang ,
bubuhkan garam saat diatas meja makan dan tidak lebih dari setengah sendok
teh, dapat menggunakan garam yang rendah natrium.
Apakah obat hipertensi harus diminum terus menerus?
= Sesuai dengan pengukuran tekanan darah yang wajib dilakukan minimal
satu bulan sekali, jika tekanan darah terkontrol obatnya tetap dipertahankan
dengan dosis minimal selama satu bulan jika sudah stabil boleh lepas obat
namun pada bulan berikutnya tetap harus dikontrol dan pola hidup tetap
dijaga.
Apakah hipertensi dapat sembuh?
= Hipertensi tidak dapat disembuhkan namun dapat dikontrol sampai ke
ukuran tekanan darah stabil, tidak menutup kemungkinan tekanan darah dapat
tinggi kembali.
Kesimpulan dari penyuluhan ini, semua peserta paham akan penyakit Hipertensi.
Diharapkan setelah penyuluhan ini, peserta mulai sadar diri untuk menjaga pola hidup agar
tehindar dari penyakit Hipertensi dan segala macam penyakit yang dapat disebabkannya.
Penyuluhan rutin ulangan perlu dilakukan agar pemahaman yang ada dapat selalu diingat.

F. TINJAUAN PUSTAKA HIPERTENSI


Definisi
Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 140
mmHg atau tekanan diastolik sedikitnya 90 mmHg untuk usia dibawah 60 tahun dan

5
tekanan darah sistolik sedikitnya 150 mmHg dan tekanan diastolik sedikitnya 90 mmHg
menurut JNC VIII.

Fisiologi Regulasi Tekanan Darah


Tekanan darah ditentukan oleh 2 faktor utama, yaitu curah jantung (cardiac
output) dan resistensi vascular perifer (peripheral vascular resistance). Curah jantung
merupakan hasil kali antara frekuensi denyut jantung dengan isi sekuncup (stroke
volume), sedangkan isi sekuncup ditentukan oleh aliran balik vena (venous return) dan
kekuatan kontraksi miokard. Resistensi perifer ditentukan oleh tonus otot polos pembuluh
darah, elastisitas pembuluh darah dan viskositas darah. Semua parameter tersebut dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: system saraf simpatis dan parasimpatis,
system rennin-angiotensin- aldosteron (SRAA) dan faktor local berupa bahan-bahan
vasoaktif yang diproduksi oleh sel endotel pembuluh darah.
Sistem saraf simpatis bersifat presif yaitu meningkatkan tekanan darah dengan
meningkatkan frekuensi denyut jantung, memperkuat kontraktilitas miokard, dan
meningkatkan resistensi pembuluh darah. Sistem parasimpatis justru kebalikannya yaitu
bersifat defresif. Apabila terangsang, maka akan menurunkan tekanan darah karena
menurunkan frekuensi denyut jantung. SRAA juga bersifat presif karena dapat memicu
pengeluaran angiotensin II yang memiliki efek vasokonstriksi pembuluh darah dan
aldosteron yang menyebabkan retensi air dan natrum di ginjal sehingga meningkatkan
volume darah.
Sel endotel pembuluh darah juga memegang peranan penting dalam terjadinya
hipertensi. Sel endotel pembuluh darah memproduksi berbagai bahan vasoaktif yang
sebagiannya bersifat vasokonstriktor seperti endotelin, tromboksan A2 dan angiotensin II
local. Sebagian lagi bersifat vasodilator seperti endothelium-derived relaxing factor
(EDRF), yang dikenal juga sebagai nitrit oxide (NO) dan prostasiklin (PGI2). Selain itu
jantung terutama atrium kanan memproduksi hormone yang disebut atriopeptin (atrial
natriuretic peptide, ANP) yang cenderung bersifat diuretic, natriuretik dan vasodilator
yang cenderung menurunkan tekanan darah. 2

6
Epidemiologi
Data epidemiologi menunjukkan bahwa dengan meningkatnya populasi usia lanjut
maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar juga bertambah, di mana baik
hipertensi sistolik maupun kombinasi hipertensi sistolik dan diastolik sering timbul pada
lebih dari separuh orang yang berusia > 65 tahun. Selain itu, laju pengendalian tekanan
darah yang dahulu terus meningkat dalam dekade terakhir tidak menunjukkan kemajuan
lagi (pola kurva mendatar) dan pengendalian tekanan darah ini hanya mencapai 34% dari
seluruh pasien hipertensi.
Sampai saat ini, data hipertensi yang lengkap sebagian besar berasal dari negara
maju. Data dari The National Health and Nutrition Examination Survey (NHNES)
menunjukkan bahwa dari tahun ke 1999-2000, insiden hipertensi pada orang dewasa
adalah sekitar 29-31% yang berarti terdapat 58-65 juta orang hipertensi di Amerika dan
terjadi peningkatan 15 juta dari data NHNES III tahun 1988-1991. Hipertensi esensial
sendiri merupakan 95% dari seluruh kasus hipertensi.3

7
Kriteria
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dapat diklasifikasikan menjadi hipertensi
esensial/ primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi esensial/primer adalah hipertensi
yang tidak diketahui penyebabnya disebut sebagai hipertensi esensial. Sedangkan
hipertensi sekunder adalah hipertensi yang terjadi karena ada suatu penyakit yang
melatarbelakanginya.
Menurut The Seventh of The Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7) klasifikasi tekanan
darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal, prehipertensi, hipertensi
derajat 1, dan hipertensi derajat 2.4
Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC 7
Klasifikasi Tekanan TDS (mmHg) TDD (mmHg)
Darah
Normal < 120 Dan < 80
Prehipertensi 120-139 Atau 80-90
Hipertensi derajat 1 140-159 Atau 90-99
Hipertensi derajat 2 160 Atau 100

Pasien dengan prehipertensi berisiko mengalami peningkatan tekanan darah


menjadi hipertensi, yang tekanan darahnya 130-139/80-89 mmHg sepanjang hidupnya
memiliki 2 kali risiko menjadi hipertensi dan mengalami penyakit kardiovaskuler
daripada yang tekanan darahnya lebih rendah.
Pada orang yang berumur lebih dari 50 tahun, tekanan darah sistolik > 140 mmHg
merupakan faktor risiko yang lebih penting untuk terjadinya penyakit kardiovaskuler
daripada tekanan darah diastolik.3,5
Risiko penyakit kardiovaskuler dimulai pada tekanan darah 115/75 mmHg, meningkat
2 kali dengan tiap kenaikan 20/10 mmHg.
Risiko penyakit kardiovaskuler bersifat kontinyu, konsisten, dan independen dari
faktor risiko lainnya.

Klasifikasi
Hipertensi berdasarkan etiologi / penyebabnya dibagi menjadi 2 :
Hipertensi Primer atau Esensial

8
Hipertensi primer atau yang disebut juga hipertensi esensial atau
idiopatik adalah hipertensi yang tidak diketahui etiologinya/penyebabnya.
90% dari semua penyakit hipertensi merupakan penyakit hipertensi
esensial.
Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang terjadi sebagai akibat
suatu penyakit, kondisi dan kebiasaan. Karena itu umumnya hipertensi ini
sudah diketahui penyebabnya. Terdapat 10% orang menderita apa yang
dinamakan hipertensi sekunder. Skitar 5-10% penderita hipertensi
penyebabnya adalah penyakit ginjal (stenoisarteri renalis, pielonefritis,
glomerulonefritis, tumor ginjal), sekitar 1-2% adalah penyakit kelaian
hormonal (hiperaldosteronisme, sindroma cushing) dan sisanya akibat
pemakaian obat tertentu (steroid, pil KB).6
Faktor Risiko
Faktor Genetika (Riwayat keluarga)
Hipertensi merupakan suatu kondisi yang bersifat menurun dalam suatu keluarga.
Anak dengan orang tua hipertensi memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk
menderita hipertensi daripada anak dengan orang tua yang tekanan darahnya normal.6

Ras
Orang orang yang hidup di masyarakat barat mengalami hipertensi secara merata
yang lebih tinggi dari pada orang berkulit putih. Hal ini kemungkinan disebabkan
karena tubuh mereka mengolah garam secara berbeda.

Usia
Hipertensi lebih umum terjadi berkaitan dengan usia, Khususnya pada masyarakat
yang banyak mengkonsumsi garam. Wanita pre menopause cenderung memiliki
tekanan darah yang lebih tinggi daripada pria pada usia yang sama, meskipun
perbedaan diantara jenis kelamin kurang tampak setelah usia 50 tahun. Penyebabnya,
sebelum menopause, wanita relatif terlindungi dari penyakit jantung oleh hormon
estrogen. Kadar estrogen menurun setelah menopause dan wanita mulai menyamai
pria dalam hal penyakit jantung

9
Jenis kelamin
Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi dari pada wanita.
Hipertensi berdasarkan jenis kelamin ini dapat pula dipengaruhi oleh faktor
psikologis. Pada pria seringkali dipicu oleh perilaku tidak sehat (merokok, kelebihan
berat badan), depresi dan rendahnya status pekerjaan. Sedangkan pada wanita lebih
berhubungan dengan pekerjaan yang mempengaruhi faktor psikiskuat

Stress psikis
Stress meningkatkan aktivitas saraf simpatis, peningkatan ini mempengaruhi
meningkatnya tekanan darah secara bertahap. Apabila stress berkepanjangan dapat
berakibat tekanan darah menjadi tetap tinggi. Secara fisiologis apabila seseorang
stress maka kelenjer pituitary otak akan menstimulus kelenjer endokrin untuk
mengahasilkan hormon adrenalin dan hidrokortison kedalam darah sebagai bagian
homeostasis tubuh. Penelitian di AS menemukan enam penyebab utama kematian
karena stress adalah PJK, kanker, paru-paru, kecelakan, pengerasan hati dan bunuh
diri.

Obesitas
Pada orang yang obesitas terjadi peningkatan kerja pada jantung untuk memompa
darah agar dapat menggerakan beban berlebih dari tubuh tersebut. Berat badan yang
berlebihan menyebabkan bertambahnya volume darah dan perluasan sistem sirkulasi.
Bila bobot ekstra dihilangkan, TD dapat turun lebih kurang 0,7/1,5 mmHg setiap kg
penurunan berat badan. Mereduksi berat badan hingga 5-10% dari bobot total tubuh
dapat menurunkan resiko kardiovaskular secara signifikan.

Asupan garam Na
Ion natrium mengakibatkan retensi air, sehingga volume darah bertambahdan
menyebabkan daya tahan pembuluh meningkat. Juga memperkuat efek vasokonstriksi
noradrenalin. Secara statistika, ternyata bahwa pada kelompok penduduk yang
mengkonsumsi terlalu banyak garam terdapat lebih banyak hipertensi daripada orang-
orang yang memakan hanya sedikit garam.7

Rokok

10
Nikotin dalam tembakau adalah penyebab tekanan darah meningkat. Hal ini karena
nikotin terserap oleh pembuluh darah yang kecil dalam paru paru dan disebarkan
keseluruh aliran darah. Hanya dibutuhkan waktu 10 detik bagi nikotin untuk sampai
ke otak. Otak bereaksi terhadap nikotin dengan memberikan sinyal kepada kelenjer
adrenal untuk melepaskan efinephrine (adrenalin). Hormon yang sangat kuat ini
menyempitkan pembuluh darah, sehingga memaksa jantung untuk memompa lebih
keras dibawah tekanan yang lebih tinggi.

Konsumsi alcohol
Alkohol memiliki pengaruh terhadap tekanan darah, dan secara keseluruhan semakin
banyak alkohol yang di minum semakin tinggi tekanan darah. Tapi pada orang yang
tidak meminum minuman keras memiliki tekanan darah yang agak lebih tinggi dari
pada yang meminum dengan jumlah yang sedikit.

Patofisiologi
Hipertensi primer
Beberapa teori patognesis hipertensi primer meliputi :
Aktivitas yang berlebihan dari sistem saraf simpatik
Aktivitas yang berlebihan dari sistem RAA
Retensi Na dan air oleh ginjal
Inhibisi hormonal pada transport Na dan K melewati dinding sel pada ginjal dan
pembuluh darah
Interaksi kompleks yang melibatkan resistensi insulin dan fungsi endotel
Sebab sebab yang mendasari hipertensi esensial masih belum diketahui. Namun
sebagian besar disebabkan oleh resistensi yang semakin tinggi (kekakuan atau
kekurangan elastisitas) pada arteri arteri yang kecil yang paling jauh dari jantung
(arteri periferal atau arterioles), hal ini seringkali berkaitan dengan faktor-faktor genetik,
obesitas, kurang olahraga, asupan garam berlebih, bertambahnya usia, dll.8

Hipertensi Sekunder
Patofisiologi hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder disebabkan oleh suatu proses penyakit sistemik yang
meningkatkan tahanan pembuluh darah perifer atau cardiac output, contohnya adalah

11
renal vaskular atau parenchymal disease, adrenocortical tumor,feokromositoma dan
obat-obatan. Bila penyebabnya diketahui dan dapat disembuhkan sebelum terjadi
perubahan struktural yang menetap, tekanan darah dapat kembali normal.

Manifestasi Klinis
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala walaupun
secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan
dengan tekanan darah tinggi. Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari
hidung, pusing, wajah kemerahan, dan kelelahan yang bisa saja terjadi baik pada
penderita hipertensi maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal.
Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala
berikut:
Sakit kepala
Kelelahan
Mual-muntah
Sesak napas
Gelisah
Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata,
jantung, dan ginjal
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma
karena terjadi pembengkakan otak disebut ensefalopati hipertensif yang memerlukan
penanganan segera

Diagnosis
1. Anamnesis
Anamnesis yang perlu ditanyakan kepada seorang penderita hipertensi meliputi:
a. Lama menderita hipertensi dan derajat tekanan darah
b. Indikasi adanya hipertensi sekunder
Keluarga dengan riwayat penyakit ginjal (ginjal polikistik)
Adanya penyakit ginjal, infeksi saluran kemih hematuri, pemakaian oba-
obatan analgesic dan obat/ bahan lain.
Episode berkeringat, sakit kepala, kecemasan palpitasi (feokromositoma).

12
c. Faktor-faktor resiko (riwayat hipertensi/ kardiovaskular pada pasien atau
keluarga pasien, riwayat hiperlipidemia, riwayat diabetes mellitus, kebiasaan
merokok, pola makan, kegemukan, insentitas olahraga)
d. Gejala kerusakan organ
Otak dan mata: sakit kepala, vertigo, gangguan penglihatan, transient
ischemic attacks, defisit neurologis
Jantung: Palpitasi,nyeri dada, sesak, bengkak di kaki
Ginjal: Poliuria, nokturia, hematuria
e. Riwayat pengobatan antihipertensi sebelumnya

2. Pemeriksaan Fisik
a. Memeriksa tekanan darah
Pengukuran rutin di kamar periksa
- Pasien diminta duduk dikursi setelah beristirahat selam 5 menit, kaki di
lantai dan lengan setinggi jantung
- Pemilihan manset sesuai ukuran lengan pasien (dewasa: panjang 12-
13, lebar 35 cm)
- Stetoskop diletakkan di tempat yang tepat (fossa cubiti tepat diatas
arteri brachialis)
- Lakukan penngukuran sistolik dan diastolic dengan menggunakan
suara Korotkoff fase I dan V
- Pengukuran dilakukan 2x dengan jarak 1-5 menit, boleh diulang kalau
pemeriksaan pertama dan kedua bedanya terlalu jauh.
Pengukuran 24 jam (Ambulatory Blood Pressure Monitoring-ABPM)
- Hipertensi borderline atau yang bersifat episodic
- Hipertensi office atau white coat
- Hipertensi sekunder
- Sebagai pedoman dalam pemilihan jenis obat antihipertensi
- Gejala hipotensi yang berhubungan dengan pengobatan antihipertensi
Pengukuran sendiri oleh pasien
b. Evaluasi penyakit penyerta kerusakan organ target serta kemungkinan
hipertensi sekunder

13
Umumnya untuk penegakkan diagnosis hipertensi diperlukan pengukuran
tekanan darah minimal 2 kali dengan jarak 1 minggu bila tekanan darah < 160/100
mmHg.9

3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang pasien hipertensi terdiri dari:
Tes darah rutin (hemoglobin, hematokrit, leukosit, trombosit)
Urinalisis terutama untuk deteksi adanya darah, protein, gula
Profil lipid (total kolesterol (kolesterol total serum, HDL serum, LDL serum,
trigliserida serum)
Elektrolit (kalium)
Fungsi ginjal (Ureum dan kreatinin)
Asam urat (serum)
Gula darah (sewaktu/ puasa dengan 2 jam PP)
Elektrokardiografi (EKG)
Beberapa anjurantest lainnya seperti:
Ekokardiografi jika diduga adanya kerusakan organ sasaran seperti adanya LVH
Plasma rennin activity (PRA), aldosteron, katekolamin urin
Ultrasonografi pembuluh darah besar (karotis dan femoral)
Ultrasonografi ginjal jika diduga adanya kelainan ginjal
Pemeriksaaan neurologis untuk mengetahui kerusakan pada otak
Funduskopi untuk mengetahui kerusakan pada mata
Mikroalbuminuria atau perbandingan albumin/kreatinin urin
Foto thorax.10

2.7 Tatalaksana
Tujuan pengobatan pasien hipertensi adalah:
1. Target tekanan darah usia <60th : < 140/90 mmHg dan usia >60th : <150/90 mmHg,
untuk individu berisiko tinggi (diabetes, gagal ginjal proteinuria) < 130/80 mmHg
2. Penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler
3. Menghambat laju penyakit ginjal proteinuria

14
DAFTAR PUSTAKA
1. Gunawan, Hipertensi, Jakarta: PT Gramedia, 2001; 10.
2. World Health Organization. The World Health Report 2002: Risk to Health 2002.
Geneva: World Health Organization.
3. Thomas M. Habermann, , Amit K. Ghosh. Mayo Clinic Internal Medicine Concise
Textbook. 1st edition. Canada: Mayo Foundation for Medical Education and
Research:2008.
4. Staessen A Jan, Jiguang Wang, Giuseppe Bianchi, W.H. Birkenhager, Essential
Hypertension, The Lancet,2003; 1629-1635.
5. Soenarta Ann Arieska, Konsensus Pengobatan Hipertensi. Jakarta: Perhimpunan
Hipertensi Indonesia (Perhi), 2005; 5-7.
6. Cowley AW Jr. The genetic dissection of essential hypertension. Nat Rev Genet. 2006
Nov;7(11):82940. [PMID: 17033627]
7. Chobanian AV et al. The Seventh Report of the Joint National Committee on
Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure: the JNC 7
report. JAMA. 2003 May 21;289(19):256072.
8. Kasper, Braunwald, Fauci, et al. Harrisons principles of internal medicine 17th
edition. New York: McGrawHill:2008
9. McPhee, Stephen J, et al. Current Medical Diagnosis and Treatment 2009. New York:
McGrawHill: 2009
10. Norman M. Kaplan. Kaplan's Clinical Hypertension 9th edition. Philadelphia, USA:
Lippincott Williams & Wilkins:2006

15
DOKUMENTASI KEGIATAN

16