Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

Manajemen Farmasi Industri

ASPEK DAN RUANG LINGKUP PRODUKSI

DOSEN PENGAMPU :
Anita , M.Si., Apt.

KELOMPOK : 6 (Enam)

ANGGOTA : Evyta Dwi Yuliana (20144234A)

Hadi Surya (20144244A)

Desi Ratna Permatasari (20144258A)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Obat adalah suatu zat yang dimaksudkan untuk dipakai dalam diagnosis,
mengurangi rasa sakit, serta mengobati atau mencegah penyakit. Salah satu upaya
yang dilakukan pemerintah untuk menjamin tersedianya obat yang bermutu, aman dan
berkhasiat yaitu dengan mengharuskan setiap industri untuk menerapkan Cara
Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB).
Industri farmasi saat ini sudah berkembang pesat dalam rangka memenuhi obat-
obatan secara nasional. Perusahaan farmasi sebagai perusahaan pada umumnya
melakukan kegiatan usaha yang meliputi proses menghasilkan barang yaitu obat-
obatan. CPOB merupakan suatu konsep dalam industri farmasi mengenai prosedur
atau langkah-langkah yang dilakukan dalam suatu industri farmasi untuk menjamin
mutu obat jadi, yang diproduksi dengan menerapkan Good Manufacturing Practices
dalam seluruh aspek dan rangkaian kegiatan produksi sehingga obat yang dihasilkan
senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang ditentukan sesuai dengan tujuan
penggunaannya.
CPOB bertujuan untuk menjamin obat dibuat secara konsisten memenuhi
persyaratan yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. CPOB
mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu.
Perkembangan yang sangat pesat dalam teknologi farmasi menyebabkan
perubahan-perubahan yang sangat cepat pula dalam konsep serta persyaratan CPOB.
Konsep CPOB bersifat dinamis dan mengikuti perkembangan teknologi di bidang
farmasi. Ruang lingkup CPOB 2012 meliputi 12 aspek yaitu:
1. Manajemen Mutu
2. Personalia
3. Bangunan dan Fasilitas
4. Peralatan
5. Sanitasi dan Higiene
6. Produksi
7. Pengawasan Mutu
8. Inspeksi Diri, Audit Mutu dan Audit & Persetujuan Pemasok
9. Penanganan Keluhan terhadap Produk dan Penarikan Kembali Produk
10. Dokumentasi
11. Pembuatan dan Analisis Berdasarkan Kontrak
12. Kualifikasi dan Validasi

B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui penerapan produksi pada industri farmasi di Indonesia.
2. Untuk menganalisa faktor penting dalam pelaksanaan penerapan produksi di
industri farmasi Indonesia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Produksi dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan dan sesuai
CPOB sehingga menghasilkan obat jadi yang memenuhi persyaratan mutu serta ketentuan
izin pembuatan dan izin edar (registrasi).

A. Aspek Produksi Secara Umum


1) Produksi dilakukan dan diawasi oleh personil yang kompeten.
2) Penanganan bahan dan produk jadi dilakukan sesuai prosedur atau instruksi tertulis.
3) Seluruh bahan yang diterima diperiksa untuk memastikan kesesuaiannya dengan
pemesanannya.
4) Kerusakan wadah dan masalah lain yang merugikan mutu bahan harus diselidiki,
dicatat dan dilaporkan kepada bagian pengawasan mutu.
5) Bahan yang diterima dan produk jadi hendaklah dikarantina secara fisik atau
administratif.
6) Produk antara dan produk rumahan yang diterima hendaklah ditangani seperti
penerimaan bahan awal.
7) Semua bahan dan produk jadi hendaklah disimpan secara teratur pada kondisi yang
disarankan dan diatur agar ada pemisahan antar bets dan memudahkan rotasi stok.
8) Pemeriksaan jumlah hasil nyata dan rekonsiliasinya dilakukan sedemikian untuk
memastikan tidak ada penyimpangan dari batas yang telah ditetapkan.
9) Pengolahan produk yang berbeda hendaklah tidak dilakukan bersamaan atau
bergantian dalam ruang kerja yang sama kecuali tidak ada resiko terjadinya campur
baur ataupun kontaminasi silang.
10) Tiap tahap pengolahan, produk dan bahan hendaklah dilindungi terhadap pencemaran
mikroba dan pencemaran lain.
11) Bila bekerja dengan bahan atau produk kering hendaklah dilakukan tindakan khusus
untuk mencegah debu timbul serta penyebarannya.
12) Selama pengolahan semua bahan, wadah produk rumahan, peralatan atau mesin
produksi dan ruang kerja hendaklah diberi label atau penandaan dari produk atau
bahan yang sedang diolah.
13) Label pada wadah, alat atau ruangan hendaklah jelas, tidak berarti ganda dan dengan
format yang telah ditetapkan.
14) pemeriksaan perlu dilakukan untuk memestikan pipa penyalur dan alat lain.
15) penyimpangan terhadap instruksi atau prosedur sedapat mungkin dihindarkan.
16) Akses kebangunan dan fasilitas produksi hendaklah dibatasi hanya untuk personil
yang berwenang.
17) Pada umumnya pembuatan produk non-obat hendaklah dihindarkan dibuat di area dan
dengan peralatan yang khusus untuk produk obat.

B. Bahan Awal
Pengadaan bahan awal hanya diperoleh dari pemasok yang telah disetujui dan
memenuhi spesifikasi yang relevan. Pemeriksaan bahan awal dilakukan oleh bagian
Pemastian Mutu berdasarkan spesifikasi yang ditentukan dan dikarantina sampai
diluluskan untuk dipakai. Bahan awal yang tidak memenuhi syarat disimpan terpisah
untuk dikembalikan kepada pemasok atau dimusnahkan.
1) Pengadaan bahan awal hendaklah dari pemasok yang telah disetujui dan memenuhi
spesifikasi yang relevan.
2) Semua penerimaan pengeluaran dan jumlah bahan tersisa hendaklah dicatat.
3) Sebelum diluluskan untuk digunakan, tiap bahan awal hendaklah memenuhi
spesifikasi dan diberi label dengan nama yang dinyatakan dalam spesifikasi.
4) Tiap pengiriman atau bets bahan awal hendaklah diberi nomor rujukan yang akan
menunjukkan identitas pengiriman atau bets selama penyimpanan dan pengolahan.
5) Apabila dalam satu pengiriman terdapat lebih dari satu bets maka untuk tujuan
pengambilan sampel, pengujian dan pelulusan, hendaklah dianggap sebagai bets yang
terpisah.
6) Pada tiap penerimaan hendaklah dilakukan pemeriksaan visual tentang kondisi umum,
keutuhan wadah dan segelnya, ceceran dan kemungkinan adanya kerusakan bahan,
dan tentang kesesuaian catatan pengiriman dengan label dari pemasok.
7) Wadah dari masa sampel bahan awal diambil hendaklah diberi identifikasi.
8) Sampel bahan awal hendaknya diuji pemenuhannya terhadap spesifikasi.
9) Hendaklah diambil langkah yang menjamin bahwa semua wadah pada suatu
pengiriman berisi bahan awal yang benar, dan melakukan pengamanan terhadap
kemungkinan salah penandaan wadah oleh pemasok.
10) Bahan awal yang diterima hendaklah dikarantina sampai disetujui dan diluluskan
untuk pemakaian oleh kepala bagian Pengawasan Mutu.
11) Bahan awal di awal di area penyimpanan hendaklah diberi label yang tepat.
Nama bahan dan bila perlu nomor kode bahan
Nomor bets/control yang diberikan pada saat penerimaan bahan
Status bahan
Tanggal daluwarsa atau tanggal uji ulang bila perlu
Jika digunakan sistem penyimpangan dengan komputerisasi yang divalidasi
lengkap.
12) Label yang menunjukkan status bahan awal hendaklah ditempelkan oleh personil
yang ditunjuk oleh kepala bagian Pengawasan Mutu.
13) Persediaan bahan awal hendaklah diperiksa secara berkata untuk meyakinkan bahwa
wadah tertutup rapat dan diberi label dengan benar, dan dalam kondisi yang baik.
14) Bahan awal, terutama yang dapat mengalami kerusakan karena terpapar
15) Hendaklah secara rutin dilakukan validasi dan/atau peninjauan ulang secara kritis
terhadap proses dan prosedur produksi untuk memastikan bahwa proses dan prosedur
tersebut tetap mampu memberikan hasil yang dinginkan
16) Pencemaran bahan awal atau produk oleh bahan atau produk lain harus dihindarkan.
17) Tiap tahap proses, produk dan bahan hendaklah dilindungi terhadap pencemaran
mikroba dan pencemaran lain
18) Pencemaran silang hendaklah dihindari dengan tindakan teknis atau pengaturan yang
tepat.
19) Tindakan pencegahan terhadap pencemaran silang dan efektifitasnya hendaklah
diperiksa secara berkala sesuai prosedur yang ditetapkan.

C. Validasi Proses
Semua proses produksi divalidasi dengan tepat dan dilaksanakan menurut prosedur
yang telah ditentukan. Perubahan yang berarti dalam proses, peralatan atau bahan
sebaiknya disertai dengan tindakan validasi ulang untuk menjamin bahwa perubahan
tersebut akan tetap menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu. Semua
proses dan prosedur yang ada dievaluasi ulang secara rutin untuk memastikan bahwa
proses dan prosedur tetap mampu memberikan hasil yang diinginkan.
1) Pencemaran
Pencemaran kimiawi atau mikroba terhadap produk obat yang dapat merugikan
kesehatan atau mempengaruhi daya terapetik serta mempengaruhi kualitas harus
dihindari. Kemungkinan terjadinya pencemaran silang sebaiknya diperhatikan.
Pencemaran silang dihindari dengan tindakan teknis atau pengaturan yang tepat
seperti produksi dalam gedung terpisah (diperlukan untuk penicillin, hormone seks,
sitotoksik tertentu dan lain-lain), tersedia ruang penyangga udara dan penghisap
udara, memakai pakaian pelindung yang sesuai, melaksanakan prosedur pembersihan,
dekontaminasi dan lain-lain.
2) Sistem Penomoran Bets atau Lot
Sistem yang menjabarkan cara penomoran bets atau lot dibuat secara rinci untuk
mempermudah identifikasi dan penelusuran produk antara, produk ruahan atau obat
dengan nomor batch atau lot tertentu. Sistem penomoran ini ini sebaiknya spesifik dan
tidak dapat digunakan secara berulang untuk periode tertentu, yaitu paling sedikit
dalam jangka waktu 10 tahun. Sistem ponomaranbets/lots yang digunakan pada tahap
pengolahan dan tahap pengemasan hendaklah saling berkaitan. Sistem penomoran
bets/lot hendaklah menjamin bahwa nomor bets/lot yang sama tidak dipakai secara
berulang. Alokasi nomor bets/lot hendaklah segera dicatat dalam suatu buku log.
3) Penimbangan dan Penyerahan
Perhitungan, penimbangan, penyerahan dan penanganan bahan baku, bahan
pengemas, produk antara, dan produk ruahan dianggap suatu bagian dari siklus
produksi yang harus tercakup dalam prosedur tertulis dan memerlukan dokumentasi
yang lengkap. Penimbangan atau penghitungan dan penyerahan bahan awal, bahan
pengemas, produk antara dan produk ruahan dianggap sebagai bagian dari siklus
produksi dan memerlukan dokumentasi serta rekonsilisasi yang lengkap.
a) Cara penanganan, penimbangan, penghitungan dan penyerahan bahan awal, bahan
pengemas, produk antara, dan produk ruahan hendaklah tercakup dalam prosedur
tertulis.
b) Semua pengeluaran bahan awal, bahan pengemas, produk antara dan produk
ruahan termasuk bahan tambahan yang telah diserahkan sebelumnya ke produksi,
hendaklah didokumentasikan dengan benar.
c) Hanya bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan yang telah
diluluskan oleh Pengawasan Mutu dan masih belum daluarsa yang boleh
diserahkan.
d) Untuk menghindar terjadinya campur baur, pencemaran silang, hilangnya identitas
dan keragu-raguan.
e) Sebelum penimbangan dan penyerahan, tiap wadah bahan awal hendaklah
diperiksa kebenaran penandaan,termasuk label pelulusan dari bagian Pengawasan
Mutu.
f) Kapasitas, ketelitian dan ketepatan alat timbang dan alat ukur yang dipakai
hendaklah sesuai dengan jumlah bahan yang ditimbang atau ditakar.
g) Untuk penimbangan atau pengukuran hendaklah dilakukan pembuktian kebenaran
Identitas dan jumlah bahan yang ditimbang atau ditakar.
h) Ruang timbang dan penyerahan hendaklah dijaga kebersihannya. Kegiatan
penimbangan dan penyerahan hendaklah dilakukan dengan memakai peralatan
yang sesuai dan bersih.
i) Bahan awal, produk antara dan produk ruahan yang diserahkan hendaklah
diperiksa ulang kebenarannya dan ditandatangani oleh supervisor produksi
sebelum dikirim ke bagian produksi. Sesudah ditimbang atau dihitung, bahan untuk
tiap bets hendaklah disimpan dalam satu kelompok dan diberi penandaan yang
jelas.
4) Pengembalian
Semua bahan baku, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan yang
dikembalikan ke tempat penyimpanan didokumentasikan dan dicek kembali dengan
baik. Bahan tersebut tidak boleh dikembalikan ke gudang kecuali jika telah memenuhi
spesifikasi yang ditetapkan.
5) Pengolahan
Pemeriksaan awal pada pengolahan, baik bahan, kondisi daerah pengolahan,
peralatan, wadah dan penutup mengikuti prosedur tertulis yang telah ditetapkan.
Pencegahan pencemaran silang harus dilakukan pada seluruh tahap pengolahan.
a) Semua bahan yang dipakai di dalam pengolahan hendaklah diperiksa sebelum
dipakai.
b) Kegiatan pembuatan produk yang berbeda tidak boleh dilakukan bersamaan atau
berurutan di dalam ruang yang sama kecuali tidak ada risiko terjadinya campur
baur atau pencemaran silang.
c) Kondisi lingkungan di area pengolahan hendaklah dipantau dan dikendalikan agar
selalu berada pada tingkat yang dipersyaratkan untuk kegiatan pengolahan.
d) Semua peralatan yang dipakai dalam pengolahan hendaklah diperiksa sebelum
digunakan.
e) Semua kegiatan pengolahan hendaklah dilaksanakan mengikuti prosedur yang
tertulis.
f) Wadah dan tutup yang dipakai untuk bahan yang akan diolah, produk antara dan
produk ruahan hendaklah bersih dan dibuat dari bahan yang tepat sifat dan jenisnya
untuk melindungi produk atau bahan terhadap pencemaran atau kerusakan.
g) Semua wadah dan peralatan yang berisi produk antara hendaklah diberi label
dengan benar yang menunjukkan tahap pengolahan.
h) Semua produk antara dan ruahan hendaklah diberi label dengan benar dan
dikarantina sampai diluluskan oleh bagian pengawasan mutu.
i) Semua pengawasan selama proses yang dipersyaratkan hendaklah dicatat dengan
akurat pada saat pelaksanaannya.
j) Hasil nyata tiap tahap pengolahan bets hendaklah dicatat dan diperiksa serta
dibandingkan dengan hasil teoritis.
k) Dalam semua tahap pengolahan perhatian utama hendaklah diberikan kepada
masalah pencemaran silang.
l) Batas waktu dan kondisi penyimpanan produk dalam proses hendaklah ditetapkan.
m)Untuk sistem komputerisasi yang kritis hendaklah disiapkan sistem pengganti
manakala terjadi kegagalan.
6) Bahan dan Produk Kering
a) Untuk mengatasi masalah pengendalian debu dan pencemaran silang yang terjadi
pada saat penanganan bahan dan produk kering.
b) Sistem penghisap udara yang efektif hendaklah dipasang dengan letak lubang
pembuangan sedemikian rupa untuk menghindari pencemaran dari produk atau
proses lain.
c) Perhatian khusus hendaklah diberikan untuk melindungi produk terhadap
pencemaran serpihan logam atau gelas.
d) Hendaklah dijaga agar tablet atau kapsul tidak ada yang terselip atau tertinggal
tanpa terdeteksi dimesin, alat penghitung atau wadah produk ruahan.
7) Pencampuran dan Granulasi
a) Mesin pencampur,pengayak dan pengaduk hendaklah dilengkapi dengan system
pengendali debu, kecuali digunakan system tertutup.
b) Parameter operasional yang kritis untuk tiap proses pencampuran, pengadukan dan
pengeringan hendaklah tercantum dalam dokumen produksi induk, dan dipantau
selama proses berlangsung serta dicatat dalam catatan bets.
c) Kantong filter yang dipasang pada mesin pengering fluidbed tidak boleh dipakai
untuk produk yang berbeda tanpa pencucian terlebih dahulu
d) Pembuatan dan penggunaan larutan atau suspense hendaklah dilaksanakan
sedemikian rupa sehingga resiko pencemaran atau pertumbuhan mikroba dapat
diperkecil.
e) Mesin pencetak tablet hendaklah dilengkapi dengan fasilitas pengendali debu yang
efektif dan ditempatkan sedemikian rupa untuk menghindari campur baur antar
produk.
f) Untuk mencegah campur baur perlu dilakukan pengendalian yang memadai baik
secara fisik, procedural maupun penandaan
g) Hendaklah selalu tersedia alat timbang yang akurat dan telah dikalibrasi untuk
pemantauan bobot tablet selama proses.
h) Tablet yang diambil dari ruang pencetak tablet untuk keperluan pengujian atau
keperluan lain tidak boleh dikembalikan lagi kedalam bets yang bersangkutan
i) Tablet yang ditolak atau yang disingkirkan hendaklah ditempatkan dalam wadah
yang ditandai dengan jelas mengenai status dan jumlahnya dicatat pada catatan
pengolahan bets
j) Tiap kali sebelum dipakai, punch dan die hendaklah diperiksa keausan dan
kesesuaiannya terhadap spesifikasi. Catatan pemakaian hendaklah disimpan.
8) Penyalutan
a) Udara yang dialirkan ke dalam panic penyalut untuk pengeringan hendaklah
disaring dan mempunyai mutu yang tepat
b) Larutan penyalut hendaklah dibuat dan digunakan dengan cara sedemikian rupa
untuk mengurangi resiko pertumbuhan mikroba.
9) Pengisian Kapsul Keras
a) Cangkang kapsul hendaklah diperlakukan sebagai bahan awal. Cangkang kapsul
hendaklah disimpan dalam kondisi yang dapat mencegah kekeringan dan
kerapuhan atau efek lain yang disebabkan oleh kelembaban.
b) Persyaratan-persyaratan yang tertulis pada 6.82 6.87 pada Pencetak Tablet juga
berlaku untuk pengisian tablet keras.
10) Penanda Tablet Salut Dan Kapsul
a) Hendaklah diberikan perhatian khusus untuk menghindari campur baur selama
proses penandaan tablet solute dan kapsul.
b) Tinta yang digunakan untuk penandaan hendaklah yang memenuhi persyaratan
untuk bahan makanan.
c) Hendaklah diberikan perhatian khusus untuk menghindari campur baur selama
proses pemeriksaan, penyortiran dan pemolesan kapsul dan tablet salut.
11) Cairan, Krim, dan Salep (non-steril)
a) Produk cairan, krim dan salep hendaklah diproduksi sedemikian rupa agar
terlindungi dari pencemaran mikroba dan pencemaran lain.
b) Tangki, wadah, pipa dan pompa yang digunakan hendaklah didesain dan dipasang
sedemikian rupa sehingga memudahkan pembersihan dan bila perlu di sanitasi.
c) Penggunaan peralatan dari kaca sedapat mungki dihindarkan.
d) Kualitas kimia dan mikrobiologi air yang dapat digunakan hendaklah ditetapkan
dan selalu dipantau.
e) Perhatian hendaklah diberikan pada transfer bahan melalui pipa untuk memastikan
bahan tersebut ditransfer ke tujuan yang benar.
f) Apabila jaringan pipa digunakan untuk mengalirkan bahan awal atau produk
ruahan, hendaklah diperhatikan agar system tersebut mudah dibersihkan.
g) Ketelitian system pengukur hendaklah diverifikasi.
h) Perhatian hendaklah diberikan untuk mempertahankan homogenitas campuran,
suspensi dan produk lain selama pengisian.
i) Apabila produk ruahan tidak langsung dikemas hendaklah dibuat ketetapan
mengenai waktu paling lama produk ruahan boleh disimpan serta kondisi
penyimpanannya dan ketetapan ini hendaklah dipatuhi
12) Produk Steril
Produk steril hendaklah dibuat dengan pengawasan khusus untuk
menghilangkan pencemaran mikroba dan partikel lain. Produksi steril dapat
digolongkan dalam dua kategori utama, yaitu yang harus diproses secara aseptik pada
semua tahap dan yang disterilkan dalam wadah akhir atau disebut juga sterilisasi
akhir. Pembuatan produk steril memerlukan ruangan terpisah yang selalu bebas debu
dan dialiri udara yang melewati saringan bakteri. Tekanan udara dalam ruangan harus
lebih tinggi dari ruang lain di luarnya.
13) Pengemasan
Kegiatan pengemasan berfungsi membagi dan mengemas produk ruahan
menjadi obat jadi yang dilaksanakan dibawah pengawasan yang ketat untuk menjaga
identitas, keutuhan dan kualitas produk jadi yang telah dikemas. Kegiatan
pengemasan dilaksanakan berdasarkan instruksi yang diberikan dan menggunakan
bahan pengemas yang tercantum dalam prosedur pengemasan induk.
14) Bahan dan Produk yang Ditolak, Dipulihkan dan Dikembalikan
Bahan dan produk yang ditolak diberi penandaan yang jelas dan disimpan
terpisah di restricted area. Bahan atau produk tersebut dapat dikembalikan kepada
pemasoknya, diolah ulang atau dimusnahkan. Bahan atau produk dapat diolah ulang
dan dipulihkan asalkan layak untuk diolah ulang melalui prosedur tertentu yang
disahkan serta hasilnya masih memenuhi persyaratan spesifikasi yang ditentukan dan
tidak terjadi perubahan yang berarti terhadap mutunya. Sisa produk yang tidak layak
untuk diolah ulang atau bahan pulihan yang tidak memenuhi spesifikasi, mutu,
kemanjuran atau keamanan tidak boleh ditambahkan ke dalam bets berikutnya.
Langkah apapun yang dilakukan terhadap bahan dan produk yang ditolak, dipulihkan
dan dikembalikan harus mendapat persetujuan kepala bagian Manajemen Mutu
(Pemastian Mutu) terlebih dahulu dan terdokumentasi baik.
15) Karantina Obat Jadi dan Penyerahan Gudang Obat Jadi
Karantina obat jadi merupakan titik akhir pengawasan sebelum obat jadi
diserahkan ke gudang dan siap didistribusikan. Sebelum diluluskan untuk diserahkan
ke gudang, pengawasan ketat dilakukan untuk memastikan produk dan catatan
pengemasan bets memenuhi semua spesifikasi yang ditentukan.
16) Pengawasan Distribusi Obat Jadi
Sistem distribusi hendaknya dirancang dengan tepat sehingga menjamin obat
jadi yang pertama masuk (first-in-first-out (FIFO)) dan obat jadi yang waktu
kadaluarsanya (first-expired-first-out (FEFO)) paling mendekati didistribusikan
terlebih dahulu.
17) Penyimpanan Bahan Awal, Produk Antara, Produk Ruahan dan Obat Jadi
Bahan disimpan rapi dan teratur untuk mencegah risiko pencampuran atau
pencemaran serta memudahkan pemeriksaan dan pemeliharaan. Kondisi penyimpanan
obat dan bahan hendaklah sesuai dengan yang tertera pada penandaan berdasarkan
hasil uji stabilitas.
18) Pengiriman dan Pengangkutan
Bahan dan produk jadi diangkut sedemikian rupa sehingga tidak merusak
keutuhannya dan kondisi penyimpanannya terjaga. Pengiriman dan pengangkutan
bahan obat dilaksanakan setelah terdapat pesanan pengiriman. Tanda terima pesanan
pengiriman dan pengangkutan didokumentasikan.
19) Pembuatan Obat Berdasarkan Kontrak
Pembuatan obat berdasarkan kontrak didefinisikan sebagai proses pembuatan
sebagian atau keseluruhan suatu obat oleh satu atau lebih industri pembuat untuk
kepentingan pihak lain. Produksi obat-obatan hendaklah dilaksanakan sesuai dengan
prosedur yang telah ditetapkan agar senantiasa diperoleh obat jadi yang memenuhi
spesifikasi yang ditentukan. Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam kegiatan
produk meliputi:
Bahan awal
Pemeriksaan bahan awal dilakukan oleh bagian pemastian mutu berdasarkan
spesifikasi yang ditentukan dan dikarantina, sampai diluluskan untuk dipakai.
Bahan awal yang tidak memenuhi syarat disimpan terpisah untuk
dikembalikan kepada pemasok atau dimusnahkan.
Validasi proses
Semua prosedur produksi hendaklah divalidasi dengan tetap dan dilaksanakan
menurut prosedur yang telah ditentukan. Proses dan prosedur tersebut
hendaknya secara rutin dievaluasi ulang untuk memastikan bahwa proses dan
prosedur tetap mampu memberikan hasil yang diinginkan.
Pencemaran
Pencemaran kimiawi atau mikroba terhadap suatu obat yang dapat merugikan
kesehatan atau mempengaruhi daya terapeutik serta mempengaruhi kualitas
produk tidak dapat diterima. Perhatian khusus hendaklah diberikan pada
masalah pencemaran silang, karena sekalipun sifat dan tingkatanya tidak
berpengaruh langsung pada kesehatan, hal ini menunjukan pelaksanaan obat
yang tidak sesuai CPOB.
Sistem penomoran batch atau lot
Suatu system yang menjabarkan cara penomoran batch dan lot secara rinci
diperlukan untuk memastikan bahwa produk antara, produk ruahan atau obat
jadi suatu batch dan lot dapat dikenali dengan nomor batch dan lot tertentu
tidak digunakan secara berulang.
Penimbangan dan penyerahan
Penimbangan atau perhitungan dan penyerhan bahan baku, bahan pengemas,
produk antara dan produk ruahan dianggap suatu bagian dari siklus produksi
dan memerlukan dokumentasi yang lengkap.

Pengembalian
Semua bahan baku, bahan pengemas, produk antara dan produk ruahan yang
dikembalikan ketempat penyimpanan hendaklah didokumentasikan dan dicek
dengan baik. Bahan-bahan tersebut tidak boleh dikembalikan kecuali
memenuhi spesifikasi yang ditetapkan.
Pengelolaan
Pemeriksaan awal pada pengolahan baik bahan, kondisi daerah pengolahan,
wadah dan peralatan harus mengikuti prosedur tertulis yang telah ditetapkan.
Pencegahan pencemaran silang dalam seluruh tahap pengolahan.
Produk steril
Produk steril hendaklah dibuat dengan pengawasan khusus untuk
menghilangkan pencemaran mikroba dan partikel lain. Produksi steril dapat
digolongkan dalam dua kategori utama, yaitu yang harus diperoses dengan
cara aseptic pada semua tahap, dan yang disterilkan dalam wadah akhir yang
disebut juga sterilisasi akhir. Untuk membuat produk steril diperlukan suatu
ruangan terpisah yang selalu bebas debu dan dialiri udara yang melewati
saringan bakteri. Tekanan udara dalam ruangan hendaklah lebih tinggi dari
ruangan disebelahnya.
Pengemasan
Produk ruahan menjadi obat jadi, yang dilaksanakan dengan pengawasan yang
tepat untuk menjaga identitas, keutuhan dan kualitas barang yang sudah
dikemas. Semua kegiatan pengemasan hendaklah dilaksanakan dengan
instruksi yang diberikan dan menggunakan bahan pengemas yang tercantum
dalam prosedur pengemasan induk.
Bahan atau produk pulihan
Bahan atau produk dapat diolah ulang atau dipulihkan asalkan bahan tersebut
layak untuk diolah ulang melalui prosedur tertentu yang telah disahkan, serta
hasilnya masih memenuhi persyaratan spesifikasi yang ditentukan dan tidak
terjadi perubahan yang berarti terhadap mutunya Sisa produk yang tidak layak
untuk diolah ulang atau bahan pulihan yang tidak memiliki spesifikasi, mutu
kemanjuran atau keamanan tidak boleh ditambahkan kedalambatch berikutnya
Obat kembalian
Obat jadi yang dikembalikan dari gudang pabrik jika, ditemukan adanya
kerusakan kualitas teknis obat atau adanya reaksi merugikan dari obat missal
karena label atau kemasan luar kotor atau rusak, dapat diberi label kembali
atau diolah ulang kebatch berikut asalkan tidak ada resiko terhadap mutu
produk dan pengerjaan pengolahan ulang hendaklah disahkan dan
didokumentasikan secara khusus. Obat kembalian dari peredaran dapat dijual
kembali, diberi label kembali atau diolah kembali jika telah dilakukan evaluasi
secara cermat dan hasil pemeriksaan ulang olah Bagian Pemastian Mutu
dinyatakan memenuhi syarat.
Karantina obat jadi dan penyerahan kegudang obat jadi
Karantina obat jadi merupakan titik akhir pengawasan sebelum obat jadi
diserahkan ke gudang dan siap didistribusikan.
Pengawasan distribusi obat jadi
Sistem distribusi hendaknya dirancang dengan tepat sehingga menjadi obat
jadi yang pertama masuk didistribusikan terlebih dahulu (First In First Out).
Penyimpanan bahan awal, Produk antara, produk ruahan dan obat jadi.
Bahan tersebut disimpan rapi dan teratur untuk mencegah resiko tercampur
baur atau pencemaran serta memudahkan pemeriksaan dan pemeliharaan.
20) Praktik Pengemasan
a) Risiko kesalahan terjadi dalam pengemasan dapat diperkecil dengan cara berikut
Menggunakan label dalam gulungan
Pemberian penandaan bets pada jalu pemasangan label
Dengan menggunaan alat pemindah dan penghitung label elektronik
Label dan bahan cetak lain didesain sedemilkian rupa sehingga masing-
masing mempunyai tanda kusus untuk tiap produk yang berbeda, dan
Disamping pemeriksaan secara visual selama pengemasan berlangsung,
hendaklah dilkakukan pemeriksaan secara independen
b) Produk yang penampilannya mirip hendaklah tdak di kemas pada jalur yang
berdampingan kecuali ada pemisahan secara fisik
c) Pada tiap jalur pengemasan nama dan nobets produk yang sedang dikemas
hendaklah dapat terlihat dengan jelas
d) Wadah yang dipakai untuk menyimpan produk ruahan, produk yang baru
sebagian dikemas atau sub bets hendaklah diberi label atau penandaan yang
menunjukan identitas, jumlah, nobets dan status produk tersebut
e) Wadah yang akan diisi hendaklah diserahkan ke jalur atau tempat pengemasan
dalam keadaan bersih
f) Semua personil bagian pengemasan hendaklah memperoleh pelatihan.
g) Area pengemasan hendaklah dibersihkan secara teratur
h) Bila ditemukan bahan pengemas cetak pada saat pembersihan hendaklah
diberikan kepada supervisor
i) Kemasan akhir dan kemasan setengah jadi yang ditemukan diluar jalur
pengemasan hendaklah di serahkan hepada supervisor dan tidak boleh langsung
dikembalikan ke jalur pengemasan
j) Produk yang telah diisikan kedalam wadah akhir tetapi belm diberi label
hendaklah dipisahkan dan diberi penandaan untuk menghindari campur baur
k) Bagian peralatan pengemas yang basanya tidak bersentihan dengan produk
ruahan tapi dapat menjadi tempat penumukan debu hendaklah dibersihkan
dengan cermat
l) Hendaklah di ambil tindakan untuk mengendalikan penyebaran debu selama
proses pengemasan khususnya produk kering
m) Pemakaian sikat hendaklah dibatasi karna dapat menimbulkan bahaya
pencemaran
n) Personil hendaklah diingatkan untuk tidak menaruh bahan pengemas didalam
saku mereka
o) Bahan yang diperlukan dalam proses pengemas hendaklah disimpan didalam
wadah yang jelas tampak berbeda dengan wadah yang dipakai untuk
pengemasan produk
p) Penyelesaian Kegiatan Pengemasan
q) Pada penyelesaian kegiatan pengemasan hendaklah kemasan terakhir diperiksa
dengan cermat
r) Hanya produk yang berasal dari satu bets dari satu kegiatan pengemasan saja
yang boleh ditempatkan pada satu palet
s) Setelah proses rekonsiliasi pengemasan kelebihan bahan pengemas dan produk
ruahan yang akan disingkirkan hendaklah diawasi dengan ketat
t) Supervisor hendaklah mengawasi perhitungan dan pemusnahan bahan pengemas
yang tidak dapat lagi dikembalikan kegudang
u) Supervisor hendaklah menghitung dan mencatat jumlah pemakaian meto semua
bahan
v) Tiap penyimpangan hasil yang tidak dapat dijelaskan untuk memenuhi
spesifikasi hendaklah diselidiki secara teliti
w) Setelah rekonsiliasi disetujui produk jadi hendaklah ditempatkan di area
karantina produk jadi.
21) Pengawasan Selama Proses
a) Untuk memastikan keseragaman bets dan keutuhan obat, prosedur tertulis yang
menjelaskan pengambilan sampel hendaklah dilaksanakan sesuai dengan metode
yang telah di setujui. Prosedur tertulis untuk pengawasan selama proses
hendaklah dipatuhi.
b) Pengawasan selama proses hendaklah mencakup tapi idak terbatas pada
prosedur umum, sebagai berikut;
Semua parameter produk, volume isi produk hendaklah diperiksa pada awal
sampai akhir pengolahan.
Kemasan akhir hendaklah diperiksa selama proses pengemasan untuk
memastikan kesesuaiannya dengan spesifikasi dan semua komponen sesuai
dengan yang prosedur pengemasan induk
c) Selama proses pengolahan dan pengemasan bets hendaklah di ambil sempel
pada saat awal, tengah dan akhir prosesoleh personil yang ditunjuk.
d) Hasil pengujian atau inspeksi selama proses hendaklah dicatat dan dokumen
tersebut hendaklah menjadi bagian dari catatan bets.
e) Spesifikasi pengawasan selama proses hendaklah konsisten dengan spesifikasi
produk.
22) Bahan Dan Produk Yang Ditolak Dipulihkan Dan Dikembalikan
a) Bahan dan produk yang ditolak hendaklah diberi penandaan yang jelas dan
disimpan terpisah di area terlarang
b) Pengolahan ulang produk yang ditolak hendaklah merupakan suatu kekecualian.
c) Pemulihan semua atau sebagian dari bets sebelumnya yang memenuhi
persyaratn mutu dengan cara penggabungan ke dalam bets lain dari produk yang
sama pada suatu tahap pembuatan obat hendaklah di otorisasi sebelumnya.
d) Kepala bagian Manajemen Mutu hendaklah mempertimbangkan perlunya
pengujian tambahan untuk produk hasil pengolahan ulang atau bets yang
mendapat produk yang dipulihkan.
e) Bets yang mengandung produk pulihan hanya boleh diluluskan setelah semua
bets asal produk pulihan yang bersangkutan telah dinilai dan dinyatakan
memenuhi spesifikas yang ditetapkan
f) Produk yang dikembalikan dari peredaran dan telah lepas dari pengawasan
industri pembuat hendaklah dimusnahkan
23) Karantina Dan Penyerahan Produk Jadi
a) Karantina produk jadi merupakan tahap akhir pengendalian sebelum penyerahan
kegudang dan siap didistribusikan
b) Prosedur tertulis hendaklah mencantumkan cara penyerahan produk jadi ke area
karantina
c) Selama menunggu kelulusan dari bagian manajemen mutu, seuruhbets atau lot
yang sudah dikemas hendaklah ditahan dalam status karantina
d) Kecuali sampel untuk pengawasan mutu tidak boleh ada produk yang diambil
dari suatu bets atau lot selama produk tersebut masih ditahan dalam area
karantina.
e) Area karantina merupakan area terbatas hanya bagi personil yang benar-benar
diperlukan untuk bekerja
f) Produk jadi yang memerlukan kondisi penyimpana khusus hendaklah diberi
penandaan jelasdan disimpan di area yang sesuai
g) Pelulusan akhir produk hendaklah didahului dengan penyelesaian yang
memuaskan seperti:
produk memenuhi persyaratan mutu
sampel mencukupi
pengemasan dan penandaan memenuhi semua persyaratan
rekonsiliasi bahan pengemas cetak dan bahan cetak dapat diterima
produk jadi yang diterima sesuai dengan jumlah yang tertera
h) Setelah pelulusan suatu bets produk hendaklah dipindahkan kegudang produk
jadi.
i) Sewaktu menerima produk jadi, personil gudang hendaklah mencatat
pemasukan bets tersebut kedalam kartu stok yang bersangkutan
24) Catatan Pengendalian Pengiriman Obat
a) System bistribusi hendaklah didesain untuk memestikan produk yang pertama
masuk didistribusikan terledih dahulu
b) System distribusi hendaklah menghasilkan catatan sehingga distribusi tiap bets
obat dapat segera diketahui
c) Prosedur tertulis mengenai distribusi obat hendaklah dibuat dan dipatuhi
d) Penyimpangan terhadap FIFO dan FEFO hendaklah hanya diperbolehkan untuk
jangka waktu pendek dan atas persetujuan pimpinan yang bertanggung jawab
25) Penyimpanan Bahan Awal, Bahan Pengemas, Produk Antara, Produk Ruahan, dan
Produk Jadi
Semua bahan dan produk hendaklah disimpan secara rapi dan teratur
a) Bahan dan produk hendaklah tidak diletakkan langsung dilantai dan dengan
jarak yang cukup terhadap sekelilinganya
b) Bahan dalam produk hendaklah disimpan dengan kondisi lingkungan yang
sesuai
c) Kodisi penyimpanan obat dan bahan hendaklah sesuai dengan yang tetera pada
penanadan berdasarkan hasil uji stabilitas
d) Data pemantauan suhu hendaklahtersedia untuk dievaluasi
i. Penyimpan diluar gedung diperbolehkan untuk bahan yang dikemas
dalam wadah yang kedap dan mutunya tidak terpengaryh oleh suhu atau
kondisi lain
ii. Kegiatan pergudangan hendaklah terpisah dari kegiatan lain
Semua penyerahan ke area penyimpan termasuk bahan kembalian,
hendaklah didokumentasikan
Tiap bets bahan awal, bahan pengemas, produk anatara, produk
ruahan, dan produk jadi yang disimpan diarea gudang hendaklah
mempunyai kartu stok
26) Penyimpanan bahan awal dan bahan pengemas
a) Pemisahan secara fisik atau cara lain yang tervalidasi hendaklah disediaka untuk
penyimpanan bahan atau produk yang ditolak, kadaluarsa, ditarik dari peredaran
atau obat atau bahan kembalian
b) Semua bahan awal dan bahan pengemas yang diserahkan ke area penyimpanan
hendaklah diperikasa kebenaran identitas, kondisi wadah dan tanda pelulusan
c) Bila identitas atau kondisi wadah bahan awal atau bahan pengemas tidak sesuai
dengan persyaratan handaklah dikirim kearea karantina untuk menentukan status
bahan tersebut
d) Bahan awal dan bahan pengemas yang ditolak hendaklah disimpan dalam area
khusus yang diperuntukan bagi bahan yang ditolak
e) Bahan cetak hendaklah disimpan di area penyimpanan terlarang dan
penyerahan dibawah pengawasan yang ketat
f) Stok tertua bahan awal dan bahan pengemas dan yang mempunyai tanggal
kadaluarsa paling dekat hendaklah digunakan terlebih dahulu
g) Bahan awal dan bahan pengemas hendaklah diuji ulang
27) Penyimpanan Produk Antara, Produk Ruahan Dan Produk Jadi
a) Produk antara, produk ruahan dan produk jadi hendaklah dikarantina selama
menunggu hasil uji mutu dan penentuan status
b) Tiap penerimaan hendaklah diperiksa untuk memastikan bahwa bahan yang
diterima sesuai dengan dokumen pengiriman
c) Tiap produk anatara, produk ruahan, produk jadi yang diserahkan kearea
penyimpanan hendaklah diperiksa kesesuaian identitas dan kodisi wadah
d) Bila identitas atau kondisi wadah produk antara, produk ruahan, produk jadi
tidak sesuai dengan persyaratan identitas wadh tersebut hendaklah dikirim
kearea karantina
28) Pengiriman Dan Pengangkutan
Bahan dan obat diangkut dengan cara sedemikian rupa
a) Perhatian khusus hendaklah diberikan bila menggunakan es kering dalam
rangkaian system pendinginan
b) Dianjurkan penggunan alat untuk memantau kondisi selam pengangkutan
i. Pengiriman dan pengangkutan bahan atau obat hendaklah dilaksanakan
hanya setelah ada order pengiriman
ii. Prosedur pengiriman hendaklah dibuat didokumentasikan
iii. Wadah luar yang akan dikirim hendaklah memberiakn perlindungan yang
cukup
iv. Catatan pengiriman hendaklah disimapan yang menyatakan menimal:
Tanggal pengiriman
Nama dan alamat pelanggan
Uraian dalam produk
Kondisi pengangkutan dan penyimpanan semua catatan hendaklah
mudah diakses dan tersedia bla diminta
BAB III
PENUTUP

Produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan


dan memenuhi ketentuan CPOB yang menjamin senantiasa menghasilkan produk yang
memenuhi persyaratan mutu serta memenuhi ketentuan izin pembuatan dan izin edar.
a. Produksi sebaiknya dilakukan dan diawasi oleh personel yang kompeten.
b. Penanganan bahan dan produk jadi, seperti penerimaan dan karantina, pengambilan
sampel, penyimpanan, penandaan, penimbangan, pengolahan, pengemasan dan distribusi
hendaklah dilakukan sesuai dengan prosedur atau instruksi tertulis dan bila perlu dicatat.
c. Kerusakan wadah dan masalah lain yang dapat berdampak merugikan terhadap mutu
bahan hendaklah diselidiki, dicatat dan dilaporkan kepada Bagian Pengawasan Mutu.
d. Semua bahan dan produk jadi hendaklah disimpan pada kondisi seperti yang ditetapkan
pabrik pembuat dan disimpan secara teratur untuk memudahkan segragasi antar bets dan
rotasi stok.
e. Produk dan bahan hendaklah dilindungi terhadap pencemaran mikroba atau pencemaran
lain pada tiap tahap pengolahan.
f. Selama pengolahan, semua bahan, wadah produk ruahan, peralatan atau mesin produksi
dan bila perlu ruang kerja yang dipakai hendaklah diberi label atau penandaan dari
produk atau bahan yang sedang diolah, kekuatan (bila ada) dan nomor bets. Bila perlu,
penandaan ini hendaklah juga menyebutkan tahapan proses produksi.
g. Penyimpangan terhadap instruksi atau prosedur sedapat mungkin dihindarkan. Bila
terjadi penyimpangan maka hendaklah ada persetujuan tertulis dari kepala bagian
Pemastian Mutu dan bila perlu melibatkan bagian Pengawasan Mutu.
h. Sistem penomoran bets/lot
Untuk memastikan bahwa tiap bets/lot produk antara, produk ruahan atau produk jadi
dapat diidentifikasi. Sistem penomoran bets/lot yang digunakan pada tahap pengolahan
dan tahap pengemasan hendaklah saling berkaitan. Sistem penomoran bets/lot hendaklah
menjamin bahwa nomor bets/lot yang sama tidak dipakai secara berulang. Alokasi nomor
bets/lot hendaklah segera dicatat dalam suatu buku log. Catatan tersebut hendaklah
mencakup tanggal pemberian nomor, identitas produk dan ukuran bets/lot yang
bersangkutan.