Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Penetapan upah minimum kabupaten/kota (UMK) maupun upah minimum provinsi (UMP)

menjadi ritual tahunan. Tidak mengherankan jika terjadi tarik ulur antarpihak yang

berkepentingan, baik buruh maupun asosiasi pengusaha. Di satu pihak, para pengusaha berupaya

mempertahankan hak penguasaan atas wilayah otoritas bisnis, yaitu kelayakan biaya dan

keuntungan produksi. Di pihak lain, para buruh berusaha mendapatkan hak atas kelayakan hidup

sebagai manusia, yaitu upah yang secara normatif layak bagi diri dan keluarganya.

Bagi kalangan buruh, kenaikan upah minimum tiap tahun amat dinantikan. Meskipun

kenaikan yang diterima jauh dari harapan, setidaknya sedikit meringankan kesulitan hidup buruh

di tengah tekanan hidup yang tinggi; sekalipun upah riil yang diterima buruh justru turun dan

makin jauh dari standar hidup layak.

Rendahnya upah buruh di Indonesia memang bukan isapan jempol belaka. Penelitian TURC

menyebutkan pada 1997 upah minimum buruh mampu membeli 350 kg beras (dengan harga

beras Rp700 rupiah per kilogram pada tahun itu), sedangkan upah minimum buruh 2008 hanya

mampu untuk membeli beras sebanyak 160 kilogram beras (dengan asumsi harga berasRp 5.000

per kg di tahun 2008). Ini bermakna upah riil buruh berkurang hampir 50 persen. Penelitian

INDOC juga menyatakan upah buruh Indonesia kini sangat rendah, hanya berkisar 5% sampai

6% dari biaya produksi. Data yang diperoleh dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi

menyatakan upah buruh hanya menghabiskan 25 persen dari total komponen pengeluaran

perusahaan. Yang 60 persen adalah biaya produksi, 15 persen lain uang siluman yang terus-

menerus dilakukan oknum aparat pemerintah (Ihsan Prasodjo: 2006).

1|Page
Kebijakan peningkatan upah minimum yang cukup besar ini dilaksanakan ketika Indonesia

sedang berjuang keras untuk memulihkan perekonomiannya dari krisis ekonomi yang parah.

Setelah terjadi kontraksi ekonomi besar-besaran sekitar 13,7% pada tahun 1998 dan laju

pertumbuhan ekonomi kurang dari satu persen pada tahun 1999, perekonomian Indonesia

mengalami pertumbuhan sekitar 5% pada tahun 2000. Berbagai pihak memperkirakan bahwa

pertumbuhan ekonomi pada tahun 2001 akan mencapai sekitar 3% hingga 3,5%. Dalam iklim

pertumbuhan ekonomi yang rendah seperti ini, kenaikan upah minimum lebih lanjut memicu

keprihatinan bahwa hal tersebut mungkin akan menghambat upaya pemulihan ekonomi,

memperlambat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang, dan mengurangi pertumbuhan

penyerapan tenaga kerja di sektor industri modern.

Disamping itu, mulai bulan Januari 2001 Indonesia telah menerapkankan kebijakan

desentralisasi dan otonomi daerah. Dengan adanya kebijakan ini, wewenang untuk menetapkan

tingkat upah minimum dialihkan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah di tingkat propinsi,

kabupaten, dan kota. Terdapat tanda-tanda awal bahwa pengalihan wewenang ini mungkin akan

semakin meningkatkan kenaikan upah minimum di beberapa daerah. Selain kenaikan upah

minimum yang cukup besar pada tahun 2001, frekuensi perubahan upah minimum juga telah

meningkat selama setahun terakhir ini. Hal ini menimbulkan keprihatinan bahwa pemerintah

daerah mungkin lebih mudah menyerah terhadap tekanan-tekanan agar memberlakukan

pendekatan yang lebih populis dalam kebijakan sosial. Akibatnya, ada bahaya bahwa

pertumbuhan ekonomi jangka panjang mungkin akan dikorbankan demi kepentingan-

kepentingan jangka pendek yang tidak berkesinambungan.

Jika dinalar lewat aturan baru, yakni SKB empat menteri, kenaikan upah minimum yang

dinantikan buruh sesungguhnya tidak signifikan. Bagaimana mungkin kenaikan upah minimum

2|Page
tidak boleh melebihi angka pertumbuhan ekonomi, sedangkan angka pertumbuhan ekonomi

nasional kini jauh di bawah angka inflasi apalagi angka KHL. Bandingkan dengan pertumbuhan

ekonomi nasional 2008 yang diprediksikan hanya sekitar enam persen sementara angka inflasi

berkisar 12 persen. Bisa dibayangkan betapa menderitanya kehidupan buruh ketika upah riil

makin lama makin berkurang.

2. Perumusan Masalah

Apakah penetapan upah minimum telah mencukupi standar kehidupan minimum pekerja?

3|Page
BAB II

PEMBAHASAN

1. Konsepsi Upah Minimum

Dalam hubungan industrial, kedudukan upah minimum merupakan persoalan prinsipil. Upah

minimum harus dilihat sebagai bagian sistem pengupahan secara menyeluruh. ILO dalam Report

of the Meeting of Experts of 1967 menyatakan hal serupa. Upah minimum didefinisikan sebagai

upah yang memperhitungkan kecukupan pemenuhan kebutuhan makan, pakaian, tempat tinggal,

pendidikan, dan hiburan bagi pekerja serta keluarganya sesuai dengan perkembangan ekonomi

dan budaya tiap negara.

Pada prinsipnya, sistem penetapan upah minimum dilakukan untuk mengurangi eksploitasi

atas buruh. Ini sesungguhnya berisi kewajiban pemerintah memproteksi buruh. Intervensi dan

peran pemerintah dalam hubungan industrial adalah bentuk penguatan terhadap posisi tawar

yang memang tidak seimbang antara buruh ketika berhadapan dengan pengusaha.

Setiap pekerja berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan diri secara

utuh sebagai manusia yang bermartabat. Upah minimum dipandang sebagai sumber penghasilan

bersih (take home pay) sebagai jaring pengaman (safety net) KHL. Sebab itu, upah minimum

diharapkan dapat memenuhi kebutuhan seorang buruh terhadap pendidikan, kesehatan,

transportasi, dan rekreasi. Bahkan, bila dimungkinkan dapat disisihkan untuk menabung. Dalam

tataran normatif, KHL merupakan standar kebutuhan yang harus dipenuhi seorang buruh lajang

untuk dapat hidup layak, baik secara fisik maupun nonfisik dalam kurun waktu satu bulan.

Terbitnya UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Permenaker No. 1/1999 jo

Kepmenakertrans No. 226/2000 tentang Upah Minimum, Peraturan Menteri Tenaga Kerja

Nomor 17 2005 tentang tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan

4|Page
Hidup Layak dan Keppres 107/2004 tentang Dewan Pengupahan tentunya diharapkan menjadi

payung hukum bagi buruh agar mendapatkan keadilan dan menghindari eksploitasi terhadap

buruh yang seringkali tidak berdaya karena berbagai keterbatasan.

2. Standar Kebutuhan Minimum Pekerja

Kebutuhan Hidup Minimum (KHM) merupakan faktor utama sebagai bahan kajian serta

pertimbangan dalam menetapkan upah minimum. Survey KHM yang dilakukan di tiap

kabupaten / kota akan memberi gambaran dengan jelas berapa kebutuhan minimum utuk buruh

baik yang masih lajang, menikah, maupun yang telah berkeluarga dengan satu anak dan dua

anak. Survey KHM dihitung untuk kebutuhan buruh denga 3000 kalori / hari untuk jenis

makanan / minuman yang dikonsumsi buruh. Kebutuhan lainnya mencakup perumahan dan

fasilitasnya, sandang, serta aneka kebutuhan seperti transport, sarana kesehatan, pendidikan,

rekreasi, dan lain sebagainya.

3. Implikasi Upah Minimum terhadap Pemenuhan Kebutuhan

Upaya pemerintah melindungi buruh dari suatu situasi yang kurang kondusif dalam

hubungan kerja dilakukan dengan menerbitkan berbagai kebijaksanaan yang mencakup

perbaikan syarat kerja antara lain melalui penerapan upah minimum. Pertimbangan yang paling

mendasar dengan menetapkan upah minimum adalah agar pendapatan buruh tidak terus merosot,

karena faktor faktor yang tidak dapat diperbuat oleh buruh, misalnya karena posisi tawar buruh

yang lemah.

Faktor dominan yang menetapkan upah minimum sebagai bahan pertimbangan adalah

standar Kebutuhan Hidup Minimum (KHM) buruh yang sebelumnya telah dilakukan survey

serta penelitian di masing masing daerah. Kebutuhan hidup minimum merupakan sebuah

5|Page
kalkulasi yang menstandarkan pada kebutuhan hidup minimum seseorang maupun telah

berkeluarga dengan asumsi dapat dipenuhi oleh setiap orang.

Perhitungan kebutuhan hidup minimum setiap tahun terus berkembang sesuai dengan

kebutuhan dan keadaan yang dimulai tahun 1956 1966 dengan nama Kebutuhan Fisik

Minimum (KFM) dan sejak tahun 1997 lebih meningkat dengan perhitungan yang lebih

representatif dengan istilah kebutuhan hidup minimum (KHM).

Sesuai Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor 81 / 1995 tentang Penetapan

Komponen Kebutuhan Hidup Minimum telah distandarkan 4 komponen pokok dalam

perhitungan KHM meliputi komponen makanan dan minuman, komponen perumahan dan

fasilitasnya, komponen sandang dan komponen aneka kebutuhan untuk kurun waktu satu bulan

dengan 3.000 kalori per hari.

Melalui survey yang dilakukan oleh serikat serikat buruh, organisasi pengusaha, serta

pemerintah di tiap daerah maka hasil survey KHM tersebut di atas ditabulasi serta diolah sebagai

bahan pertimbangan penetapan upah minimum. Hasil penetapan upah minimum sampai saat ini

belum pernah mencapai KHM karena dalam proses penetapan upah minimum tidak mendasarkan

perhitungan ekonomis semata atau hanya mendasarkan data data atau angka angka yang telah

diperoleh di lapangan, tetapi pengambilan keputusan lebih cenderung menggunakan pendekatan

kompromis agar kepentingan buruh dan kepentingan pengusaha tidak benturan, sehingga hasil

akhir penetapan upah minimum apapun hasilnya harus diterima semua pihak.

Data KHM yang ada di Kabupaten / Kotamadya tetap diperlukan serta tetap menjadi salah

satu bahan dalam pembahasan penetapan upah minimum, namun data tersebut sering tidak dapat

dipergunakan sebagai patokan baku karena adanya penafsiran antara satu daerah dengan daerah

lainnya. Khususnya perbedaan penafsiran materi komponen khususnya yang berstandar kualitas

6|Page
sedang. Di lapangan banyak barang yang justru tidak ada di pasaran atau tidak banyak digunakan

oleh pekerja dalam keseharian, demikian halnya terhadap produk produk tertentu sudah agak

sulit ditemukan.

4. SOLUSI

Penetapan upah minimum merupakan langkah pemerintah dalam upaya meningkatkan

pendapatan upah buruh yang secara realistis dapat meningkatkan pendapatan buruh. Namun

karena upah minimum tersebut hanya satu dari sekian banyak produk kebijaksanaan pemerintah

maka ada kecenderungan kurang efektif untuk mencapai sasaran. Agar produk kebijaksanaan

pemerintah bisa dapat lebih efektif hendaknya perlu dilakukan :

Sinkronisasi

Kebijaksanaan yang terkait satu dengan lainnya, tidak sebagaimana saat ini walaupun

upah buruh telah dinaikkan namun pada saat yang tidak berbeda atau bersamaan pemerintah

menaikkan harga- harga kebutuhan barang yang masih menjadi tanggung jawab pemerintah,

seperti BBM, listrik, biaya transportasi, dan lain sebagainya, sehingga kenaikan upah tenaga

kerja secara riil tidak dapat dinikmati.

Jamsostek

Merubah sistem jaminan sosial ketenagakerjaan, sehingga buruh korban PHK dan buruh

pensiunan akan mendapat tunjangan layak dari Jamsostek. Pemerintah dilarang mengambil

keuntungan apapun dari Jamsostek, bahkan sebaliknya.

7|Page
BAB III

PENUTUP

1. KESIMPULAN

Pada prinsipnya, sistem penetapan upah minimum dilakukan untuk mengurangi

eksploitasi atas buruh. Ini sesungguhnya berisi kewajiban pemerintah memproteksi

buruh. Intervensi dan peran pemerintah dalam hubungan industrial adalah bentuk

penguatan terhadap posisi tawar yang memang tidak seimbang antara buruh ketika

berhadapan dengan pengusaha.

Kebutuhan Hidup Minimum (KHM) merupakan faktor utama sebagai bahan kajian

serta pertimbangan dalam menetapkan upah minimum.

Upaya pemerintah melindungi buruh dari suatu situasi yang kurang kondusif dalam

hubungan kerja dilakukan dengan menerbitkan berbagai kebijaksanaan yang

mencakup perbaikan syarat kerja antara lain melalui penerapan upah minimum.

Pertimbangan yang paling mendasar dengan menetapkan upah minimum adalah agar

pendapatan buruh tidak terus merosot, karena faktor faktor yang tidak dapat

diperbuat oleh buruh, misalnya karena posisi tawar buruh yang lemah.

Kebijaksanaan pemerintah bisa dapat lebih efektif hendaknya perlu dilakukan :

o Sinkronisasi

o Jamsostek

8|Page
DAFTAR PUSTAKA

9|Page