Anda di halaman 1dari 6

BAB I

DEFINISI

1. Mutu atau kualitas adalah tingkat baik buruknya sesuatu; kadar, derajat atau
taraf (kepandaian, kecakapan).
2. Pelayanan menurut Kottler (2000, dalam Supranto, 2006) menjelaskan mengenai
definisi pelayanan adalah suatu perbuatan di mana seseorang atau suatu
kelompok menawarkan pada kelompok/orang lain sesuatu yang pada dasarnya
tidak berwujud dan produksinya berkaitan atau tidak berkaitan dengan fisik produk.
Sedangkan Tjiptono ( 2004) menjelaskan bahwa pelayanan merupakan aktivitas,
manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual, sehingga dapat dikatakan
bahwa pelayanan itu merupakan suatu aktivitas yang ditawarkan dan
menghasilkan sesuatu yang tidak berwujud namun dapat dinikmati atau dirasakan.
3. Keperawatan menurut Kelompok Kerja Keperawatan (1992) menyatakan bahwa
keperawatan adalah suatu bentuk layanan profesional yang merupakan bagian
integral dari layanan kesehatan, berbentuk layanan bio-psiko-sosio-spiritual yang
komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat baik sakit
maupun sehat, yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.
4. Pelayanan keperawatan adalah merupakan sebuah bantuan, dan pelayanan
keperawatan ini diberikan karena adanya kelemahan fisik dan mental, adanya
keterbatasan pengetahuan serta kurangnya kemampuan menuju kepada
kemampuan melaksanakan kegiatan hidup sehari hari secara mandiri.
5. Mutu Pelayanan Keperawatan dapat merupakan suatu pelayanan keperawatan
yang komprehensif meliputi bio-psiko-sosio-spiritual yang diberikan oleh perawat
profesional kepada pasien baik sakit maupun sehat, dimana perawatan yang
diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien dan standar pelayanan
6. Standar Asuhan Keperawatan (SAK) adalah uraian pernyataan tingkat kinerja
yang diinginkan, sehingga kualitas struktur, proses dan hasil dapat dinilai.
7. Standar Prosedure Operasional (SPO) yaitu suatu perangkat instruksi /langkah-
langkah yang dibakukan untuk menyelesaikan proses kerja rutin tertentu. Istilah ini
digunakan di Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Paktik Kedokteran
dan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit.
8. Audit Keperawatan adalah upaya evaluasi secara profesional terhadap mutu
pelayanan keperawatan yang diberikan kepada klien
9. Tenaga Medis : Perawat dan Bidan

1
BAB II

RUANG LINGKUP

A. KONSEP

Kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan oleh perawat/bidan sangat


ditentukan oleh semua aspek kompetensi perawat/bidan dalam melakukan
penatalaksaaan asuhan keperawatan/kebidanan tergantung pada upaya
perawat/bidan memelihara kompetensi seoptimal mungkin. Untuk
mempertahanakan mutu dilakukan upaya pemantauan dan pengendalian mutu
profesi melalui :

1. Memantau kualitas, misalnya morning report, kasus sulit, ronde ruangan,


kasus kematian (death case), audit keperawatan.
2. Tindak lanjut terhadap temuan kualitas, misalnya pelatihan singkat (short
course),In House Training, aktivitas pendidikan berkelanjutan.

B. KEANGGOTAAN

Subkomite mutu profesi di rumah sakit terdiri dari atas sekurang kurangnya
3 (tiga) orang perawat/bidan yang memiliki surat penugasan klinis (clinical
appointment) dirumah sakit tersebut dan berasal dari disiplin ilmu yang berbeda.
Pengorganisasian subkomite mutu profesi sekurangkurangnya terdiri dari
ketua, sekretaris, dan anggota, yang ditetapkan oleh dan bertanggung jawab
kepada Ketua Komite Keperawatan.

C. MEKANISME KERJA

Direktur rumah sakit menetapkan kebijakan dan prosedur seluruh mekanisme


kerja subkomite mutu profesi berdasarkan masukan komite keperawatan. Selain
itu Direktur rumah sakit bertanggung jawab atas tersedianya berbagai
sumberdaya yang dibutuhkan agar kegiatan ini dapat terselenggara.

Untuk melaksanakan tugas Subkomite Mutu Profesi, maka ditetapkan mekanisme


sebagai berikut:

1. Koordinasi dengan bidang keperawatan untuk memperoleh data dasar tentang


profil tenaga keperawatan di RS sesuai area praktiknya berdasarkan jenjang
karir
2. Mengidentifikasi kesenjangan kompetensi yang berasal dari data Subkomite
Kredensial sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan
perubahan standar profesi
3. Merekomendasikan perencanaan kepada unit yang berwenang
4. Koordinasi dengan praktisi tenaga keperawatan dalam melakukan
pendampingan sesuai kebutuhan
5. Melakukan audit keperawatan dan kebidanan

2
BAB III

TATA LAKSANA

A. AUDIT KEPERAWATAN

Audit Keperawatan menurut Gillies (1994) adalah suatu proses analisa data yang
menilai tentang proses keperawatan/ hasil asuhan pada pasien untuk
mengevaluasi kelayakan dan keefektifan tindakan keperawatan akan bertanggung
jawab hal ini akan meningkatkan akuntabilitas dari perawat.

1. Tujuan Audit Keperawatan


a. Mengevaluasi keefektifan asuhan keperawatan
b. Menetapkan kelengkapan dan keakuratan pencatatan asuhan
keperawatan.

2. Manfaat Audit Keperawatan untuk tingkat Manajemen


a. Administrator
1) Memberikan evaluasi program tertentu
2) Mendukung permintaan untuk akreditasi
3) Melandasi perencanaan program baru oleh perubahan
4) Memungkinkan identifikasi kekuatan dan kelemahan
5) Menentukan pengaruh pola ketenagaan
6) Sebagai data pengkajian efisiensi
b. Supervisor
1) Mengidentifikasi area asuhan keperawatan yang diperlukan
2) Memberikan landasan rencana Diklat
3) Mengidentifikasi kebutuhan pengawasan bagi perawat pelaksana.
c. Kepala Ruangan dan Perawat Pelaksana
1) Introspeksi dan evaluasi diri
2) Identifikasi jenis asuhan keperawatan
3) Identifikasi kebutuhan tambahan pengetahuan

3. Lingkup Audit Keperawatan


1) Audit Struktur
Berfokus pada tempat dimana pemberian askep dilaksanakan
1) Fasilitas
2) Peralatan
3) Petugas
4) Organisasi, prosedur dan pencatatan pelaporan
2) Audit Proses
Merupakan penilaian terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan apakah
dilaksanakan sesuai standar.
Proses audit menggunakan pendekatan retrospektif yaitu dengan
mengukur kualitas asuhan keperawatan setelah pasien pulang atau setelah
beberapa pasien dirawat (Swansbrug, 1990)
3) Audit Hasil
Dapat dilakukan secara Concurrent atau Retrospective yang berdasarkan
konsep HENDERSON sehingga asuhan keperawatan yang diberikan akan
menghasilkan :
1) Kebutuhan pasien terpenuhi

3
2) Pasien memiliki pengetahuan untuk memenuhi kebutuhannya
3) Pasien memiliki keterampilan dan kemampuan
4) Pasien memiliki motivasi

4. Proses Audit Keperawatan


a. Tentukan aspek yang akan dievaluasi dan pendekatan yang akan
digunakan
b. Identifikasi kekurangan dan tentukan langkah perbaikan
c. Tentukan standar dan kriteria
d. Susun instrumen evaluasi
e. Tentukan jumlah sampel dan lamanya waktu penilaian
f. Kumpulkan data dan susun data serta penilaiannya
g. Analisa data
h. Buat kesimpulan tingkat mutu aspek yang dinilai
i. Identifikasi kekurangan dan tentukan langkah perbaikan

B. Rekomendasi Pendidikan berkelanjutan Bagi Perawat/Bidan

1. Subkomite mutu profesi menentukan pertemuanpertemuan ilmial yang


harus dilaksanakan oleh masingmasing kelompok perawat/bidan dengan
pengaturan pengaturan waktu yang disesuaikan.
2. Pertemuan tersebut dapat pula berupa pembahasan kasus tersebut
antara lain meliputi kasus sulit, maupun kasus langka.
3. Setiap kali pertemuan ilmiah harus disertai notulen, kesimpulan dan daftar
hadir peserta yang akan dijadikan pertimbangan dalam penilaian disiplin
profesi.
4. Notulen beserta daftar hadir menjadi dokumen/arsip dari subkomite mutu
profesi.
5. Subkomite mutu profesi bersamasama dengan perawat/bidan menentukan
kegiatankegiatan ilmiah yang akan dibuat oleh subkomite mutu profesi
yang melibatkan perawat/bidan rumah sakit sebagai nara sumber dan peserta
aktif.
6. Setiap ruang keperawatan/kebidanan wajib menentukan minimal satu
kegiatan ilmiah yang akan dilaksanakan dengan subkomite mutu profesi
pertahun.
7. Subkomite mutu profesi bersama dengan bagian SDM dan Diklat rumah sakit
memfasilitasi kegiatan tersebut.
8. Subkomite mutu profesi menentukan kegiatankegiatan ilmiah yang dapat
diikuti oleh masingmasing perawat/bidan setiap tahun.
9. Subkomite mutu profesi mengajukan permohonan kepada Ketua Komite
Keperawatan terhadap permintaan perawat/bidan sebagai asupan kepada
Direktur.

4
C. Memfasilitasi Proses Pendamingan (Proctoring) bagi Perawat/Bidan yang
Membutuhkan

1. Subkomite mutu profesi menentukan nama perawat/bidan yang akan


mendampingi perawat/bidan yang sedang mengalami sanksi
disiplin/mendapatkan pengurangan clinical privilege.
2. Komite Keperawatan berkoordinasi dengan Direktur rumah sakit untuk
memfasilitasi semua sumber daya yang dibutuhkan untuk proses
pendampingan (proctoring) tersebut.

5
BAB IV

DOKUMENTASI

A. Semua SPO Penilaian Kinerja Perawat/Bidan

B. Cheklist Penilaian Kinerja Perawat/Bidan