Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

DIABETES MELITUS

A. Landasan Teoritis Penyakit


1. DEFENISI
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh
kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).
Diabetes Mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang
yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat
kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).
Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan
herediter,dengan tanda tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau
tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat dari kuranganya insulin
efektif di dalam tubuh, gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang
biasanya disertai juga gangguan metabolisme lemak dan protein (Askandar, 2000).
Ulkus Diabetikum merupakan Suatu komplikasi kronik dari penyakit diabetes
mellitus tipe 2 yang ditandai dengan luka yang terbuka pada jaringan kulit atau selaput
lendir yang ditandai juga dengan adanya kematian jaringan dan invasi kuman saprofit.
(iizmccandless, 2011).

2. ETIOLOGI
A) Diabetes tipe I:
a. Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi
suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I.
Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen
HLA.
b. Faktor-faktor imunologi
Adanya respons autoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi
terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan
tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu
autoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
c. Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang menimbulkan
destruksi selbeta.

B) Diabetes Tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi
insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang
peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
Faktor-faktor resiko :
a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)
b. Obesitas
c. Riwayat keluarga

3. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Sujono & Sukarmin (2008) manifestasi klinis pada penderita DM, yaitu:
A) Gejala awal pada penderita DM adalah
a. Poliuria (peningkatan volume urine)
b. Polidipsia (peningkatan rasa haus) akibat volume urine yang sangat besar dan
keluarnya air yang menyebabkan dehidrasi ekstrasel. Dehisrasi intrasel
mengikuti dehidrasi ekstrasel karena air intrasel akan berdifusi keluar sel
mengikuti penurunan gradien konsentrasi ke plasma yang hipertonik (sangat
pekat). Dehidrasi intrasel merangsang pengeluaran ADH (antidiuretic
hormone) dan menimbulkan rasa haus.
c. Polifagia (peningkatan rasa lapar). Sejumlah kalori hilang kedalam air kemih,
penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasi hal ini
penderita seringkali merasa lapar yang luar biasa.
d. Rasa lelah dan kelemahan otot akibat gangguan aliran darah pada pasien
diabetes lama, katabolisme protein diotot dan ketidakmampuan sebagian besar
sel untuk menggunakan glukosa sebagai energi.
B) Gejala lain yang muncul:
a. Peningkatan angka infeksi akibat penurunan protein sebagai bahan
pembentukan antibody, peningkatan konsentrasi glukosa disekresi mukus,
gangguan fungsi imun dan penurunan aliran darah pada penderita diabetes
kronik.
b. Kelainan kulit gatal-gatal, bisul. Gatal biasanya terjadi di daerah ginjal,
lipatan kulit seperti di ketiak dan dibawah payudara, biasanya akibat
tumbuhnya jamur.
c. Kelainan ginekologis, keputihan dengan penyebab tersering yaitu jamur
terutama candida.
d. Kesemutan rasa baal akibat neuropati. Regenerasi sel mengalami gangguan
akibat kekurangan bahan dasar utama yang berasal dari unsur protein.
Akibatnya banyak sel saraf rusak terutama bagian perifer.
e. Kelemahan tubuh
f. Penurunan energi metabolik yang dilakukan oleh sel melalui proses glikolisis
tidak dapat berlangsung secara optimal.
g. Luka yang lama sembuh, proses penyembuhan luka membutuhkan bahan
dasar utama dari protein dan unsur makanan yang lain. Bahan protein banyak
diformulasikan untuk kebutuhan energi sel sehingga bahan yang diperlukan
untuk penggantian jaringan yang rusak mengalami gangguan.
h. Laki-laki dapat terjadi impotensi, ejakulasi dan dorongan seksualitas
menurun karena kerusakan hormon testosteron.
i. Mata kabur karena katarak atau gangguan refraksi akibat perubahan pada
lensa oleh hiperglikemia.
4) PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Aseton plasma ( keton ) : positif
b. Asam lemak bebas : peningkatan lipid dan kolesterol
c. Osmolalitas serum : peningkatan kurang dari 330 mOsm / L
d. Elektrolit :
Natrium : normal, meningkat ataupun turun
Kalium : normal, peningkatan semu, kemudian menurun
Fosfor : menurun
Hemoglobin glikosilat : meningkat 2 4 kali lipat
a. Gas darah arteri : pH rendah dan penurunan HCO3 ( asidosis metabolik ) dengan
kompensasi alkalosis respiratorik.
b. Trombosit darah : peningkatan Ht, leukositosis, hemokonsentrasi.
c. Ureum / kreatinin : dapat normal ataupun meningkat
d. Amilase darah : meningkat.
e. Insulin darah : menurun sampai tidak ada (pada tipe I) dan meninggi pada tipe II
f. Pemeriksaan fungsi tiroid : peningkatan aktivitas hormon tiroid
g. Urine : gula dan aseton positif, peningkatan berat jenis dan osmoallitas.
h. Kultur dan sensitifitas : ISK, infeksi pada sistem nafas dan infeksi pada luka.
i. Glukosa darah : meningkat 100 200 mg/dL
Diagnosis diabetes mellitus umumnya dipikirkan dengan adanya gejala khas
diabetes mellitus berupa poliuria, polidipsi, poliphagia, lemas dan berat badan
menurun. Jika keluhan dan gejala khas ditemukan dan pemeriksaan glukosa darah
sewaktu yang lebih 216 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnose . Kadar
darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl)
Bukan DM Belum pasti DM DM
Kadar glukosa darah sewaktu
- Plasma vena
- Darah kapiler < 100 100-200 >200
Kadar glukosa darah puasa <80 80-200 >200
- Plasma vena
- Darah kapiler
<110 110-120 >126
<90 90-110 >110
5. PENATALAKSANAAN DIABETES MELLITUS
Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas
insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler
serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar
glukosa darah normal.
Komponen dalam penatalaksanaan diabetes :
1. Diet
Syarat diet DM hendaknya dapat:
a. Memperbaiki kesehatan umum penderita
b. Mengarahkan pada berat badan normal
c. Menormalkan pertumbuhan DM anak dan DM dewasa muda
d. Mempertahankan kadar KGD normal
e. Menekan dan menunda timbulnya penyakit angiopati diabetik
f. Memberikan modifikasi diit sesuai dengan keadaan penderita.
g. Menarik dan mudah diberikan

Prinsip diet DM, adalah:


1) Jumlah sesuai kebutuhan
2) Jadwal diet ketat
3) Jenis: boleh dimakan/tidak
Diit DM sesuai dengan paket-paket yang telah disesuaikan dengan kandungan
kalorinya.
1) Diit DM I : 1100 kalori
2) Diit DM II : 1300 kalori
3) Diit DM III : 1500 kalori
4) Diit DM IV : 1700 kalori
5) Diit DM V : 1900 kalori
6) Diit DM VI : 2100 kalori
7) Diit DM VII : 2300 kalori
8) Diit DM VIII: 2500 kalor
Keterangan :
Diit I s/d III : diberikan kepada penderita yang terlalu gemuk
Diit IV s/d V : diberikan kepada penderita dengan berat badan normal
Diit VI s/d VIII : diberikan kepada penderita kurus. Diabetes remaja, atau diabetes
komplikasi.
Penentuan jumlah kalori Diit Diabetes Mellitus harus disesuaikan oleh status gizi
penderita, penentuan gizi dilaksanakan dengan menghitung Percentage of relative body
weight (BBR= berat badan normal) dengan rumus:
BBR = < BB (Kg) / TB (cm) 100>X 100 %
Sebagai pedoman jumlah kalori yang diperlukan sehari-hari untuk penderita DM yang
bekerja biasa adalah:
Kurus : BB X 40 60 kalori sehari
Normal : BB X 30 kalori sehari
Gemuk : BB X 20 kalori sehari
Obesitas : BB X 10-15 kalori sehari
2. Latihan
Beberapa kegunaan latihan teratur setiap hari bagi penderita DM, adalah:
a. Meningkatkan kepekaan insulin (glukosa uptake), apabila dikerjakan setiap 1
jam sesudah makan, berarti pula mengurangi insulin resisten pada penderita
dengan kegemukan atau menambah jumlah reseptor insulin dan meningkatkan
sensitivitas insulin dengan reseptornya.
b. Mencegah kegemukan apabila ditambah latihan pagi dan sore
c. Memperbaiki aliran perifer dan menambah supply oksigen
d. Meningkatkan kadar kolesterol-high density lipoprotein
e. Kadar glukosa otot dan hati menjadi berkurang, maka latihan akan dirangsang
pembentukan glikogen baru
f. Menurunkan kolesterol (total) dan trigliserida dalam darah karena pembakaran
asam lemak menjadi lebih baik.
3. Penyuluhan
Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS) merupakan
salah satu bentuk penyuluhan kesehatan kepada penderita DM, melalui bermacam-
macam cara atau media misalnya: leaflet, poster, TV, kaset video, diskusi
kelompok, dan sebagainya.
4. Obat
a. Tablet OAD (Oral Antidiabetes)
1) Mekanisme kerja sulfanilurea
a) kerja OAD tingkat prereseptor : pankreatik, ekstra pancreas
b) kerja OAD tingkat reseptor
2) Mekanisme kerja Biguanida
1. Biguanida tidak mempunyai efek pankreatik, tetapi mempunyai efek
lain yang dapat meningkatkan efektivitas insulin, yaitu:
a. Menghambat absorpsi karbohidrat
b. Menghambat glukoneogenesis di hati
c. Meningkatkan afinitas pada reseptor insulin
2. Biguanida pada tingkat reseptor : meningkatkan jumlah reseptor insulin
3. Biguanida pada tingkat pascareseptor : mempunyai efek intraseluler
5 Insulin
Beberapa cara pemberian insulin
2. Suntikan insulin subkutan
Insulin reguler mencapai puncak kerjanya pada 1-4 jam, sesudah suntikan
subcutan, kecepatan absorpsi di tempat suntikan tergantung pada beberapa
factor antara lain:
a. lokasi suntikan
ada 3 tempat suntikan yang sering dipakai yitu dinding perut, lengan,
dan paha. Dalam memindahkan suntikan (lokasi) janganlah dilakukan
setiap hari tetapi lakukan rotasi tempat suntikan setiap 14 hari, agar
tidak memberi perubahan kecepatan absorpsi setiap hari.
b. Pengaruh latihan pada absorpsi insulin
Latihan akan mempercepat absorbsi apabila dilaksanakan dalam waktu
30 menit setelah suntikan insulin karena itu pergerakan otot yang
berarti, hendaklah dilaksanakan 30 menit setelah suntikan.
c. Pemijatan (Masage)
Pemijatan juga akan mempercepat absorpsi insulin.
d. Suhu
Suhu kulit tempat suntikan (termasuk mandi uap) akan mempercepat
absorpsi insulin.
j. Dalamnya suntikan
Makin dalam suntikan makin cepat puncak kerja insulin dicapai. Ini
berarti suntikan intramuskuler akan lebih cepat efeknya daripada
subcutan.
k. Konsentrasi insulin
Apabila konsentrasi insulin berkisar 40 100 U/ml, tidak terdapat
perbedaan absorpsi.Tetapi apabila terdapat penurunan dari u 100 ke u
10 maka efek insulin dipercepat.
6. Suntikan intramuskular dan intravena
Suntikan intramuskular dapat digunakan pada koma diabetik atau pada kasus-
kasus dengan degradasi tempat suntikan subkutan.Sedangkan suntikan
intravena dosis rendah digunakan untuk terapi koma diabetik.

5 KOMPLIKASI DIABETES MILITUS


Komplikasi yang sering terjadi dan mematikan adalah serangan jantung dan
stroke.Selain itu keruskan pembuluh darah mata bisa menyebabkan gangguan
penglihatan akibat retina mata (retinopati diabetikum) yang rusak. Dan kelainan fungsi
ginjal bisa menyebab kan gagal ginjal sehingga penderita harus menjalani cuci darah
(dialysis).
Kerusakan pembuluh darah akibat penyakit diabetes militus bisa menyebabkan
gangguan saraf. Gangguan ini dapat berwujud dalam beberapa bentuk .Jika satu syaraf
mengalami kelainan fungsi(mononeuropati),maka lengan dan tungkai bisa menjadi
lemah secara tiba-tiba. Apabila saraf menuju tangan, tungkai, dan kaki, mengalami
kerusakan (polineuropati diabetikum),maka lengan dan tungkai akan mengalami
kesemutan atau nyeri sepeti terbakar dan kelemahan
Bagi penderita diabetes militus , kerusakan saraf dapat menyebabkan kulit
lebih sering mengalami cidera. Biasanya, penderita tidak dapat merasakan perubahan
tekanan maupun suhu.Selain itu berkurang nya aliran darah ke kulit juga bisa
menyebabkan ulkus (borok).Sebab semua penyembuahan luka berjalan
lambat.Misalnya, ulkus yang terdapat di kaki bisa sangat dalam dan mengalami
infeksi. Akibat nya masa penyembuhan memerlukan waktu yang lama sehingga
sebagian tungkai harus di amputasi
Komplikasi vaskular jangka panjang
a. Retinopai diabetic
Berupa mikroaneurisma ( pelebaran sakular yang kecil ) dari arteriola retina
sehingga terjadi perdarahan, neovaskularisasi dan jaringan parut retina yang
menyebabkan kebutaan.
b. Nefropati
Manifestasi klinis berupa proteinuria dan hipertensi. Pasien juga
dapatmenderita insufisiensi ginjal dan uremia jika kehilangan fungsi nefron
terus menerus.
c. Neuropati dan katarak
Timbul akibat gangguan jalur poliol ( glukosa sorbitol fruktosa ) akibat
kekurangan insulin. Kemudain timbul nyeri, parestesia, berkurangnya sensasi
getar dan proprioseptik, kelemahan otot dan atrofi.
d. Arterosklerosis
Merupakan gabungan dari gangguan biokimia brupa penimbunan sorbitol
dalam intima vaskular, hiperlipoproteinemia dan kelainan pembekuan darah.
Beberapa penyakit yang disebabkan oleh arterosklerosis adalah arteri koroner,
serebrovaskuler, penyakit vaskuler perifer.
b. Gangguan kehamilan
Berupa terjadinya abortus spontan, kematian janin intrauterin, ukuran janin
besar, bayi prematur dengan sindrom distres pernafasan yang tinggi serta
malformasi janin.
LANDASAN TEORI ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DIABETES MILETUS

B. PENGKAJIAN
1. Pengkajian umum
Identitas Pasien, Nama, Umur, Alamat, Pekerjaan, Nomer Register, Tanggal
Masuk, Tgl Pengkajian, Dx. Medis
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Pasien biasanya mengatakan badan terasa lemas, polipagi, polidipsi dan
poliuri
b. Riwayat penyakit sekarang
Pasien biasanya mengatakan badannya sering lemas, badan terasa dingin,
mengantuk, dan pasien terasa haus terus, ingin minum, buang air kecil sering,
lapar terus menerus.
c. Riwayat kesehatan dahulu
Pasien biasanya mengatakan mempunyai penyakit diabetes mellitus sejak
dulu dan pasien juga pernah sakit seperti yang diderita pasien saat ini kadang
disertai riwayat hipertensi, dan penyakit lain-lain.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Didalam kelurga pasien biasanya ada keluarga pasein yang memiliki riwayat
diabetes
3. Pemeriksaan fisik
c. Aktivitas/ Istirahat :
Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun.
d. Sirkulasi
Adakah riwayat hipertensi,AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada
ekstremitas, ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama, takikardi,
perubahan tekanan darah
e. Integritas Ego
Stress, ansietas
f. Eliminasi
Perubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare
g. Makanan / Cairan
Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus,
penggunaan diuretik.
h. Neurosensori
Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot,
parestesia,gangguan penglihatan.
e. Nyeri / Kenyamanan
Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat)
i. Pernapasan
Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak)
j. Keamanan
Kulit kering, gatal, ulkus kulit.
i. Pola kesehatan fungsional menurut Gordon
a. Pola persepsi dan manajemen terhadap kesehatan
Biasanya klien tidak menyadari penyakit yang dideritanya, jika gejala yang
diderita semakin parah klien baru akan membawa ke rumah sakit
b. Pola nutrisi dan metabolic
Sebelum masuk rumah sakit biasanya pasien makan 3x sehari dengan menu
nasi, sayur, lauk pauk tetapi setelah masuk rumah sakit pasien nafsu makan
menurun, porsi makan habis tidak ada porsi karena bila makan terasa
mual.
c. Pola cairan dan metabolic
Pasien biasanya mengalami banyak minum dan sering buang air kecil
d. Pola istirahat dan tidur
Pola tidur klien akan terganggu karena sering terbangun pada malam hari
yang disebabkan oleh keinginan buang air kecil terus menerus
e. Pola aktivitas dan latihan
Biasanya pasien tidak sering beraktivitas karena pasien badannya terasa
lemas dan mudah lelah dan apabila melakukan aktivitas membutuhkan
bantuan keluarga
f. Pola eliminasi
Klien biasanya BAK 5-7 tiap hari
g. Pola persepsi dan kognitif
Pasien biasanya menggalami nyeri pada ulkus, pengurangan indra
penglihatan, penurunan dalam sensasi rasa sehingga klien mengalami
cedera yang tidak disadari.
h. Pola persepsi dan konsep diri
Pasien biasanya mengalami cemas terhadap penyakitnya dan kehilangan
harga diri karena adanya luka yang sukar sembuh
i. Pola reproduksi dan seksual
Biasanya klien akan mengalami gangguan dalam aktivitas seksual akibat
penyakit yang dideritanya.
j. Mekanisme koping
Biasanya aklien mengalami kecemasan terhadap penyakitnya dan selalu
bertanya kepada tenaga kesehatan.
k. Pola nilai kepercayaan dan keyakinan
Biasanya adanya keyakinan budaya yang mempengaruhi seperti pantangan
terhadap makanan

1. DIAGNOSA KEPERAWATAN
NO DIAGNOSA NOC NIC
1 Perubahan Nutrisi Status Gizi : Asupan Monitor gizi
Kurang dari Makanan Dan Cairan Aktivitas yang dilakukan :
Kebutuhan Tubuh Klien diharapkan mampu 1. Amati kecenderungan
b.d Penurunan untuk : pengurangandan dan
Insulin a. Mempertahankan berat penambahan BB
badan 2. Monitor jenis dan jumlah
b. Mempertahankan masa latihan yang dilaksanakan
tubuh dan berat badan 3. Monitor respon emosional
dalam batas normal klien ketika ditempatka
c. Memiliki nilai pada suatu keadaan yang
laboratorium dalam ada makanan
batas normal 4. Monitor lingkungan
d. Melaporkan tingkat tempat makanan
energi yang adekuat 5. Monitor mual dan muntah
6. Monitor tingkat energi,
rasa tidak enak
badan,kelatihan dan
kelemahan
7. Monitor masukan kalori
dari bahan makanan
Manajemen Nutrisi
Aktivitas yang dilakukan :
1. Kaji apa klien ada alergi
makanan
2. Kerja sama dengan ahli
gizi dalam menentukan
jumlah kalori, protein dan
lemak secara tepat sesuai
dengan kebutuhan klien.
3. Ajari klien tentang diet
yang bener sesuai
kebutuhan tubuh
4. Monitor catatan makanan
yang masuk atas
kandungan gizi dan
jumlah kalori
5. Timbang BB secara teratur
6. Pasyikan bahwa diet
mengandung makanan
yang berserat tinggi untuk
mencegah sembelit
7. Pastikan kemampuan klien
untuk memenuhi
kebutuhan
Manajemen Hiperglikemi
Aktivitas yang dilakukan :
1. Monitor guladarah
sesuaiindikasi
2. Monitor tanda dan gejala
poliuri, polidipsi,
polifagia. Keletihan,
pandangankabur atausakit
kepala
3. Monitor TTV sesuai
indikasi
4. Batasi latihan ketika gula
darah besar dari 250mg/dl
khusus nya adanya keton
dalam urin
5. Monitor status cairan
intake output sesuai
kebutuhan

2 Kelebihan Keseimbangan Elektrolit Manajemen Asam-Basa


Volume Cairan dan asam-Basa Aktivitas yang dilakukan :
b.d Diuresis Klien diharapkan mampu 1. Monitor status
Osmotik untuk menormalkan : hemodinamik termasuk
a. Albumin serum CVP (tekanan vena
b. pH serum sentral), MAP (tekanan
c. Kreatinin serum arteri rata-rata), PAP
d. Bikarbonat serum (tekanan arteri paru)
e. pH Urine 2. Dapatkan hasil labor untuk
menganalisa
Keseimbangan Cairan keseimbangna asam basa
Klien diharapkan mampu seperti ABG, urin dan
untuk menormalkan : level serum
a. Tanda-tanda 3. Pantau ketidakseimbangan
dehidrasi tidak ada elektrolit yang semakin
b. Mukosa mulut dan buruk dengan mengoreksi
bibir lembab ketidakseimbangan asam
c. Balan cairan basa
seimbang 4. Dorong pasien dan
keluarga untuk aktif dalam
Hidrasi pengobatan
Klien diharapkan mampu ketidakseimbangan asam
menormalkan : basa
a. Hidrasi kulit Manajemen Cairan
b. Kelembaban Aktivitas yang dilakukan :
membran mukosa\ 1. Timbang BB tiap hari
c. Haus yang abormal 2. Pertahankan intake yang
d. Pengeluaran urin akurat
e. Tekanan darah 3. Monitor status hidrasi
(seperti :kelembapan
mukosa membrane, nadi)
4. Monitor status
hemodinamik termasuk
CVP,MAP, PAP
5. Monitor hasil lab. terkait
retensi cairan
(peningkatan BUN, Ht )
6. Monitor TTV
7. Monitor adanya indikasi
retensi/overload cairan
(seperti :edem, asites,
distensi vena leher)
8. Monitor perubahan BB
klien sebelum dan sesudah
dialisa
9. Monitor status nutrisi
10. Monitor respon pasien
untuk meresepkan terapi
elektrolit

Pemantauan Cairan
Aktivitas yang dilakukan :
1. Kaji tentang riwayat jumlah
dan tipe intake cairan dan
pola eliminasi
2. Kaji kemungkinan factor
resiko terjadinya imbalan
cairan (seperti :
hipertermia, gagal jantung,
diaforesis, diare, muntah,
infeksi, disfungsi hati)
3. Monitor BB, intake dan
output
4. Monitor nilai elektrolit urin
dan serum
5. Monitor osmolalitas urin
dan serum
6. Monitor membrane
mukosa, turgor dan rasa
haus
7. Monitor warna dan
kuantitas urin

3 Intoleransi Toleransi Aktivitas Terapi Aktivitas


Aktivitas b.d Klien diharapkan mampu Aktivitas yang dilakukan :
Kelemahan untuk menyeimbangkan : 1. Monitor program aktivitas
a. Denyut nadi saat klien.
beraktivitas. 2. Bantu klien untuk
b. Jumlah pernafasan saat melalukan aktivitas yang
beraktivitas. biasanya ia lakukan.
c. Tekanan darah sistolik 3. Jadwalkan klien untuk
saat beraktivitas. latihan-latihan fisik secara
d. Tekanan darah rutin.
diastolic saat 4. Bantu klien dengan
beraktivitas. aktivitas-aktivitas fisik.
e. Warna kulit. 5. Monitor respon fisik, sosial,
f. Kekuatan tubuh bagian dan spiritual dari klien
atas. terhadap aktivitasnya.
g. Kekuatan tubuh bagian 6. Bantu klien untuk
bawah. memonitor kemajuan dari
Daya Tahan Tubuh pencapaian tujuan.
Klien diharapkan mampu Pengajaran : Penentuan
untuk menyeimbangkan : Aktivitas dan Latihan
a. Aktivitas Aktivitas yang dilakukan :
b. Daya tahan otot Ajarkan klien tentang :
c. Hemoglobin 1. Tujuan dan kegunaan
d. Hematocrit aktivitas dan latihan.
e. Glukosa darah 2. Bagaimana cara melakukan
f. Serum elektrolit suatu aktivitas.
g. Rasa lelah 3. Bagaimana cara memonitor
toleransi aktivitas.
Perawatan Diri : 4. Bagaimana menjaga latihan.
Aktivitas-aktivitas sehari- 5. Berikan informasi kepada
hari klien bagaiamana teknik-
Klien diharapkan mampu teknik untuk menyimpan
untuk menyeimbangkan : energi.
a. Pola makan. 6. Berikan informasi-
b. Berjalan. informasi seputar kesehatan
c. Aktivitas fisik klien.
Mengontrol berat badan
Aktivitas yang dilakukan :
1. Diskusikan dengan klien
hubungan antara intake
maknan, latihan,
peningkatan berat badan
dan kehilangan berat badan
2. Diskusikan dengan klien
kondisi pengobatan yang
mempengaruhi berat badan
3. Diskusikan hubungan
resiko berat badan normal
dan tidak normal
4. Beri informasi kepada klien
tentang berat badan yang
ideal
5. Diskusikan bersama klien
metode tentang intake
makanan sehari-hari
6. Minta informasi dari klien,
apakah ada dukungan luar
yang mempengaruhi berat
badannya
7. Kaji peningkatan
keseimbangan makanan
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M., Howard K. Butcher, Joanne McCloskey Dochterman. 2008. Nursing
Interventions Classification (NIC) : Fifth Edition. Missouri : Mosby Elsevier.
http://dokteryudabedah.com/ulkus-kaki-diabetes/
http://iizmccandless.com/2011/03/01/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-ulkus-
diabetikum/
Ignatavicius, Donna D., M.Linda Workman. 2010. Medical Surgical Nursing (Patient
Centered Collaborative Care) : Sixth Edition. Missouri : Saunders Elsevier.
Lewis, Sharon L., dkk. 2007. Medical Surgical Nursing (Assesment and Management of
Clinical Problems) : Seventh Edition. Philadelphia : Mosby Elsevier.
Moorhead, Sue., Marion Johnson, Meridean L. Maas, Elizabeth Swanson. 2008. Nursing
Outcomes Classification (NOC) : Fourth Edition. Missouri : Mosby Elsevier.
Porth Mattson, Carol dan Glenn Matfin. 2009. Pathophysiology (Concept of Altered
Health States) : Eighth Edition. Philadelphia : J.B. Lippincott Company.
Wiley, John dan Sons Ltd. 2009. NANDA International : 2009-2011. United Kingdom :
Markono Print Media.