Anda di halaman 1dari 53

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1

Fakultas Keperawatan UNAND 2016

LAPORAN PENDAHULUAN CHRONIC KIDNEY DISEASE

A. Pengertian
Chronic Kidney Disease (CKD) adalah salah satu penyakit renal tahap akhir.
CKD merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible. Dimana
kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan
elektrolit yang menyebabkan uremia atau retensi urea dan sampah nitrogenlain dalam
darah (Smeltzer dan Bare, 2001).
CKD adalah kerusakan faal ginjal yang hampir selalu tidak dapat pulih, dan dapat
disebabkan berbagai hal. Istilah uremia sendiri telah dipakai sebagai nama keadaan ini
selama lebih dari satu abad. Walaupun sekarang kita sadari bahwa gejala CKD tidak
selalu disebabkan oleh retensi urea dalam darah (Sibuea, Panggabean, dan Gultom,
2005).
Gagal ginjal kronik atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan
fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk
mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan
uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) (Brunner & Suddarth, 2001).
Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat
persisten dan irreversible. Sedangkan gangguan fungsi ginjal yaitu penurunan laju
filtrasi glomerulus yang dapat digolongkan dalam kategori ringan, sedang dan
berat (Mansjoer, 2007).
Chronic Kidney Disease (CKD) atau penyakit renal tahap akhir (ESRD)
merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan
tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan
elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah).
(Smeltzer dan Bare, 2001).
Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan
lambat,biasanya berlangsung beberapa tahun. (Price, 1992).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa CKD adalah penyakit
ginjal yang tidak dapat lagi pulih atau kembali sembuh secara total seperti sediakala.
CKD adalah penyakit ginjal tahap ahir yang dapat disebabakan oleh berbagai hal. Dimana

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan


elektrolit, yang menyebabkan uremia.

B. Klasifikasi
1. Gagal ginjal kronik / Cronoic Renal Failure (CRF) dibagi 3 stadium :
a. Stadium I : Penurunan cadangan ginjal
1) Kreatinin serum dan kadar BUN normal
2) Asimptomatik
3) Tes beban kerja pada ginjal: pemekatan kemih, tes GFR
b. Stadium II : Insufisiensi ginjal
1) Kadar BUN meningkat (tergantung pada kadar protein dalam diet)
2) Kadar kreatinin serum meningkat
3) Nokturia dan poliuri (karena kegagalan pemekatan)
Ada 3 derajat insufisiensi ginjal :
a) Ringan, 40% - 80% fungsi ginjal dalam keadaan normal
b) Sedang, 15% - 40% fungsi ginjal normal
c) Kondisi Berat, 2% - 20% fungsi ginjal normal
c. Stadium III: gagal ginjal stadium akhir atau uremia
1) kadar ureum dan kreatinin sangat meningkat
2) ginjal sudah tidak dapat menjaga homeostasis cairan dan elektrolit
3) air kemih/ urin isoosmotis dengan plasma, dengan BJ 1,010

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

2. KDOQI (Kidney Disease Outcome Quality Initiative) merekomendasikan pembagian


CKD berdasarkan stadium dari tingkat penurunan LFG (Laju Filtrasi Glomerolus) :
a. Stadium 1 : kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dan LFG
yang masih normal ( > 90 ml / menit / 1,73 m2)
b. Stadium 2 : Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG antara 60 -
89 mL/menit/1,73 m2)
c. Stadium 3 : kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 mL/menit/1,73m2)
d. Stadium 4 : kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29mL/menit/1,73m2)
e. Stadium 5 : kelainan ginjal dengan LFG < 15 mL/menit/1,73m2 atau gagal
ginjal terminal.

C. Anatomi & Fisiologi


1. Anatomi
Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen terutama didaerah lumbal,
disebelah kanan dan kiri tulang belakang, dibungkus lapisan lemak yang tebal
dibelakang pritonium. Kedudukan gijal dapat diperkirakan dari belakang, mulai dari
ketinggian vertebra torakalis terakhir sampai vertebra lumbalis ketiga. Dan ginjal
kanan sedikit lebih rendah dari ginjal kiri karena tertekan oleh hati.

Gambar 2.1
Anatomi ginjal tampak dari depan.
Sumber : digiboxnet.wordpress.com

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

Setiap ginjal panjangnya antara 12 cm sampai 13 cm, lebarnya 6 cm dan


tebalnya antara 1,5 sampai 2,5 cm, pada orang dewasa berat ginjal antara 140 sampai
150 gram. Bentuk ginjal seperti kacang dan sisi dalamnya atau hilus menghadap
ketulang belakang, serta sisi luarnya berbentuk cembung. Pembuluh darah ginjal
semuanya masuk dan keluar melalui hilus. Diatas setiap ginjal menjulang kelenjar
suprarenal.
Setiap ginjal dilingkupi kapsul tipis dan jaringan fibrus yang membungkusnya,
dan membentuk pembungkus yang halus serta didalamnya terdapat setruktur-
setruktur ginjal. Setruktur ginjal warnanya ungu tua dan terdiri dari bagian kapiler
disebelah luar, dan medulla disebelah dalam. Bagian medulla tersusun atas 15 sampai
16 bagian yang berbentuk piramid, yang disebut sebagai piramid ginjal. Puncaknya
mengarah ke hilus dan berakhir di kalies, kalies akan menghubungkan dengan pelvis
ginjal.

Gambar 2.2
Potongan vertikal ginjal.
Sumber : adamimage.com

Struktur mikroskopik ginjal tersusun atas banyak nefron yang merupakan


satuan fungsional ginjal, dan diperkirakan ada 1.000.000 nefron dalam setiap ginjal.
Setiap nefron mulai membentuk sebagai berkas kapiler (Badan Malpighi /
Glomerulus) yang erat tertanam dalam ujung atas yang lebar pada unineferus.
Tubulus ada yang berkelok dan ada yang lurus. Bagian pertama tubulus berkelok-

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

kelok dan kelokan pertama disebut tubulus proksimal, dan sesudah itu terdapat
sebuah simpai yang disebut simpai henle. Kemudian tubulus tersebut berkelok lagi
yaitu kelokan kedua yang disebut tubulus distal, yang bergabung dengan tubulus
penampung yang berjalan melintasi kortek dan medulla, dan berakhir dipuncak salah
satu piramid ginjal.

Gambar 2.3.
Bagian microscopic ginjal
Sumber : adamimage.com

Selain tubulus urineferus, setruktur ginjal juga berisi pembuluh darah yaitu
arteri renalis yang membawa darah murni dari aorta abdominalis ke ginjal dan
bercabang-cabang di ginjal dan membentuk arteriola aferen (arteriola aferentes),
serta masing-masing membentuk simpul didalam salah satu glomerulus. Pembuluh
eferen kemudian tampil sebagai arteriola eferen (arteriola eferentes), yang bercabang-
cabang membentuk jaring kapiler disekeliling tubulus uriniferus. Kapiler-kapiler ini
kemudian bergabung lagi untuk membentuk vena renalis, yang membawa darah
kevena kava inferior. Maka darah yang beredar dalam ginjal mempunyai dua
kelompok kapiler, yang bertujuan agar darah lebih lama disekeliling tubulus
urineferus, karena fungsi ginjal tergantung pada hal tersebut.

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

Ginjal diperfusi oleh sekitar 1.200 ml darah / menit. suatu volume yang sama
dengan 20% sampai 25% curah jantung (5.000 ml/m). Ginjal mendapat persarafan
dari fleksus renalis, saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke
dalam Ginjal, saraf ini berjalan bersama dengan pembuluh darah. Diatas ginjal
terdapat kelenjar suprenalis kelenjar ini merupakan suatu kelenjar buntu yang
menghasilkan 2 macam hormon yaitu hormon adrenalin dan hormon kortisol.

2. Fisiologi
a. Fungsi Ginjal
Ginjal adalah organ tubuh yang mempunyai peranan penting dalam
sistem organ tubuh. Kerusakan ginjal akan mempengaruhi kerja organ lain dan
sistem lain dalam tubuh. Ginjal punya dua peranan penting yaitu sebagi organ
ekresi dan non ekresi. Sebagai sistem ekresi ginjal bekerja sebagai filtran
senyawa yang sudah tidak dibutuhkan lagi oleh tubuh seperti urea, natrium dan
lain-lain dalam bentuk urin, maka ginjal juga berfungsi sebagai pembentuk urin.
Selain sebagai sistem ekresi ginjal juga sebagai sistem non ekresi dan
bekerja sebagai penyeimbang asam basa, cairan dan elektrolit tubuh serta fungsi
hormonal. Ginjal mengekresi hormon renin yang mempunyai peran dalam
mengatur tekanan darah (sistem renin angiotensin aldosteron), pengatur hormon
eritropoesis sebagai hormon pengaktif sumsum tulang untuk menghasilkan
eritrosit. Disamping itu ginjal juga menyalurkan hormon dihidroksi kolekalsi
feron (vitamin D aktif), yang dibutuhkan dalam absorsi ion kalsium dalam usus.
Fungsi ginjal yaitu :
1) Mengatur volume cairan dalam tubuh. Kelebihan air dalam tubuh akan di
keluarkan sebagai urine. Kekurangan air (kelebihan keringat) menyebabkan
urine yang dieksresikan menjadi sedikit.
2) Mengatur keseimbangan osmotic yang mempertahankan keseimbangan ion
yang optimal dalam plasma.
3) Mangatur keseimbangan asam basah dalam cairan tubuh bergantung pada
apa yang dimakan, campuran makanan.
4) Menghasilkan urine yang bersifat asam, ph kurang dari 6 disebabkan
metabolisme protein

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

5) Eksresi sisa hasil metabolisme (ureum, asam urat , kreatinin) zat-zat toksik,
obat-obatan dan bahan kimia yang lain
6) Fungsi hormonal dan metabolisme. Ginjal memproduksi rennin dan
eritropoitin.
b. Proses Pembentukan Urine
Urin berasal dari darah yang dibawa arteri renalis masuk kedalam ginjal.
Darah ini terdiri dari bagian yang padat yaitu sel darah dan bagian plasma darah,
kemudian akan disaring dalam tiga tahap yaitu filtrasi, reabsorsi dan ekresi
(Syaefudin, 2006) :
1) Proses filtrasi
Pada proses ini terjadi di glomerulus, proses ini terjadi karena proses aferen
lebih besar dari permukaan eferen maka terjadi penyerapan darah.
Sedangkan sebagian yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali
protein. Cairan yang disaring disimpan dalam simpay bowman yang terdiri
dari glukosa, air, natrium, klorida sulfat, bikarbonat dll, yang diteruskan ke
tubulus ginjal.
2) Proses reabsorbsi
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa,
natrium, klorida, fosfat, dan ion bikarbonat. Prosesnya terjadi secara pasif
yang dikenal dengan proses obligator. Reabsorsi terjadi pada tubulus
proksimal. Sedangkan pada tubulus distal terjadi penyerapan kembali
natrium dan ion bikarbonat bila diperlukan. Penyerapannya terjadi secara
aktif, dikenal dengan reabsorsi fakultatif dan sisanya dialirkan pada papila
renalis.
3) Proses ekresi
Sisa dari penyerapan urin kembali yang terjadi pada tubulus dan diteruskan
pada piala ginjal selanjutnya diteruskan ke ureter dan masuk ke fesika
urinaria.

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

D. Etiologi
Dibawah ini ada beberapa penyebab CKD menurut Price, dan Wilson (2006)
diantaranya adalah tubula intestinal, penyakit peradangan, penyakit vaskuler hipertensif,
gangguan jaringan ikat, gangguan kongenital dan herediter, penyakit metabolik, nefropati
toksik, nefropati obsruktif. Beberapa contoh dari golongan penyakit tersebut adalah :
1. Penyakit infeksi tubulointerstinal seperti pielo nefritis kronik dan refluks nefropati.
2. Penyakit peradangan seperti glomerulonefritis.
3. Penyakit vaskular seperti hipertensi, nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna,
dan stenosis arteria renalis.
4. Gangguan jaringan ikat seperti Lupus eritematosus sistemik, poliarteritis nodosa, dan
seklerosis sistemik progresif.
5. Gangguan kongenital dan herediter seperti penyakit ginjal polikistik, dan asidosis
tubulus ginjal.
6. Penyakit metabolik seperti diabetes militus, gout, dan hiperparatiroidisme, serta
amiloidosis.
7. Nefropati toksik seperti penyalah gunaan analgetik, dan nefropati timah.
8. Nefropati obstruktif seperti traktus urinarius bagian atas yang terdiri dari batu,
neoplasma, fibrosis retroperitoneal. Traktus urinarius bagian bawah yang terdiri dari
hipertropi prostat, setriktur uretra, anomali kongenital leher vesika urinaria dan uretra.

E. Patofisiologi
Menurut Smeltzer, dan Bare (2001) proses terjadinya CKD adalah akibat dari
penurunan fungsi renal, produk akhir metabolisme protein yang normalnya diekresikan
kedalam urin tertimbun dalam darah sehingga terjadi uremia yang mempengarui sistem
tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah, maka setiap gejala semakin
meningkat. Sehingga menyebabkan gangguan kliren renal. Banyak masalah pada ginjal
sebagai akibat dari penurunan jumlah glomerulus yang berfungsi, sehingga menyebabkan
penurunan klirens subtsansi darah yang seharusnya dibersihkan oleh ginjal.
Penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG), dapat dideteksi dengan mendapatkan
urin 24 jam untuk pemeriksaaan kliren kreatinin. Menurunya filtrasi glomelurus atau
akibat tidak berfungsinya glomeluri klirens kreatinin. Sehingga kadar kreatinin serum
akan meningkat selain itu, kadar nitrogen urea darah (NUD) biasanya meningkat.

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

Kreatinin serum merupakan indikator paling sensitif dari fungsi renal karena substansi ini
diproduksi secara konstan oleh tubuh. NUD tidak hanya dipengarui oleh penyakit renal
tahap akhir, tetapi juga oleh masukan protein dalam diet, katabolisme dan medikasi
seperti steroid.
Penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) juga berpengaruh pada retensi cairan
dan natrium. Retensi cairan dan natrium tidak terkontol dikarenakan ginjal tidak mampu
untuk mengonsentrasikan atau mengencerkan urin secara normal pada penyakit ginjal
tahap akhir, respon ginjal yang sesuai terhadap perubahan masukan cairan dan elektrolit
sehari-hari tidak terjadi. Natrium dan cairan sering tertahan dalam tubuh yang
meningkatkan resiko terjadinya oedema, gagal jantung kongesti, dan hipertensi.
Hipertensi juga dapat terjadi akibat aktivasi aksis renin angiotensin dan kerjasama
keduanya meningkatkan sekresi aldosteron. Pasien lain mempunyai kecenderungan untuk
kehilangan garam, mencetuskan resiko hipotensi dan hipovolemia. Episode muntah dan
diare menyebabkan penipisan air dan natrium, yang semakin memperburuk status uremik.
Asidosis metabolik terjadi akibat ketidakmampuan ginjal mensekresikan muatan
asam (H+) yang berlebihan. Sekresi asam terutama akibat ketidakmampuan tubulus ginjal
untuk mensekresi amonia (NH3) dan mengabsorpsi natrium bikarbonat (HCO3).
Penurunan sekresi fosfat dan asam organik lain juga terjadi.
Kerusakan ginjal pada CKD juga menyebabkan produksi eritropoetin menurun
dan anemia terjadi disertai sesak napas, angina dan keletian. Eritropoetin yang tidak
adekuat dapat memendekkan usia sel darah merah, defisiensi nutrisi dan kecenderungan
untuk mengalami perdarahan karena setatus pasien, terutama dari saluran gastrointestinal
sehingga terjadi anemia berat atau sedang. Eritropoitin sendiri adalah subtansi normal
yang diproduksi oleh ginjal untuk menstimulasi sum-sum tulang untuk menghasilkan sel
darah merah.
Abnormalitas utama yang lain pada CKD menurut Smeltzer, dan Bare (2001)
adalah gangguan metabolisme kalsium dan fosfat tubuh yang memiliki hubungan saling
timbal balik, jika salah satunya meningkat yang lain menurun. Penurunan LFG
menyebabkan peningkatan kadar fosfat serum dan sebaliknya penurunan kadar serum
menyebabkan penurunan sekresi parathormon dari kelenjar paratiroid. Namun pada CKD,
tubuh tidak berespon secara normal terhadap peningkatan sekresi parathormon, dan
akibatnya kalsium di tulang menurun, menyebabkan perubahan pada tulang dan

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

menyebabkan penyakit tulang, selain itu metabolik aktif vitamin D (1,25


dihidrokolekalsiferol) yang secara normal dibuat didalam ginjal menurun, seiring dengan
berkembangnya CKD terjadi penyakit tulang uremik dan sering disebut
Osteodistrofienal. Osteodistrofienal terjadi dari perubahan komplek kalsium, fosfat dan
keseimbangan parathormon. Laju penurunan fungsi ginjal juga berkaitan dengan
gangguan yang mendasari ekresi protein dan urin, dan adanya hipertensi. Pasien yang
mengekresikan secara signifikan sejumlah protein atau mengalami peningkatan tekanan
darah cenderung akan cepat memburuk dari pada mereka yang tidak mengalimi kondisi
ini.

F. Manifestasi Klinis
Manifestasi yang terjadi pada CKD antara lain terjadi pada sistem kardio
vaskuler, dermatologi, gastro intestinal, neurologis, pulmoner, muskuloskletal dan psiko-
sosial menurut Smeltzer, dan Bare (2001) diantaranya adalah :
1. Kardiovaskuler :
a. Hipertensi, yang diakibatkan oleh retensi cairan dan natrium dari aktivasi sistem
renin angiotensin aldosteron.
b. Gagal jantung kongestif.
c. Edema pulmoner, akibat dari cairan yang berlebih.
2. Dermatologi seperti Pruritis, yaitu penumpukan urea pada lapisan kulit.
3. Gastrointestinal seperti anoreksia atau kehilangan nafsu makan, mual sampai dengan
terjadinya muntah.
4. Neuromuskuler seperti terjadinya perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu
berkonsentrasi, kedutan otot sampai kejang.
5. Pulmoner seperti adanya seputum kental dan liat, pernapasan dangkal, kusmaul,
sampai terjadinya edema pulmonal.
6. Muskuloskletal seperti terjadinya fraktur karena kekurangan kalsium dan
pengeroposan tulang akibat terganggunya hormon dihidroksi kolekalsi feron.
7. Psikososial seperti terjadinya penurunan tingkat kepercayaan diri sampai pada harga
diri rendah (HDR), ansietas pada penyakit dan kematian.

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

Manifestasi Sindrom Uremik


Sistem Tubuh Manifestasi
Biokimia Asidosis Metabolik (HCO3 serum 18-20 mEq/L)
Azotemia (penurunan GFR, peningkatan BUN,
kreatinin)
Hiperkalemia
Retensi atau pembuangan Natrium
Hipermagnesia
Hiperurisemia
Perkemihan& Kelamin Poliuria, menuju oliguri lalu anuria
Nokturia, pembalikan irama diurnal
Berat jenis kemih tetap sebesar 1,010
Protein silinder
Hilangnya libido, amenore, impotensi dan
sterilitas
Kardiovaskular Hipertensi
Retinopati dan enselopati hipertensif
Beban sirkulasi berlebihan
Edema
Gagal jantung kongestif
Perikarditis (friction rub)
Disritmia
Pernafasan Pernafasan Kusmaul, dispnea
Edema paru
Pneumonitis
Hematologik Anemia menyebabkan kelelahan
Hemolisis
Kecenderungan perdarahan
Menurunnya resistensi terhadap infeksi (ISK,
pneumonia,septikemia)

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

Kulit Pucat, pigmentasi


Perubahan rambut dan kuku (kuku mudah patah,
tipis, bergerigi, ada garis merah biru yang
berkaitan dengan kehilangan protein)
Pruritus
kristal uremik
kulit kering
memar
Saluran cerna Anoreksia, mual muntah menyebabkan
penurunan BB
Nafas berbau amoniak
Rasa kecap logam, mulut kering
Stomatitis, parotitid
Gastritis, enteritis
Perdarahan saluran cerna
Diare
Metabolisme Protein-intoleransi, sintesisi abnormal
intermedier Karbohidrat-hiperglikemia, kebutuhan insulin
menurun
Lemak-peninggian kadar trigliserida
Neuromuskular Mudah lelah
Otot mengecil dan lemah
Susunan saraf pusat :
Penurunan ketajaman mental
Konsentrasi buruk
Apati
Letargi/gelisah, insomnia
Kekacauan mental
Koma
Otot berkedut, asteriksis, kejang
Neuropati perifer :

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

Konduksi saraf lambat, sindrom restless leg


Perubahan sensorik pada ekstremitas parestesi
Perubahan motorik foot drop yang berlanjut
menjadi paraplegi
Gangguan kalsium dan Hiperfosfatemia, hipokalsemia
rangka Hiperparatiroidisme sekunder
Osteodistropi ginjal
Fraktur patologik (demineralisasi tulang)
Deposit garam kalsium pada jaringan lunak
(sekitar sendi, pembuluh darah, jantung, paru-
paru)
Konjungtivitis (uremik mata merah)

G. Komplikasi
Komplikasi dari CKD menurut Smeltzer dan Bare (2001) serta Suwitra (2006)
antara lain adalah :
1. Hiperkalemi akibat penurunan sekresi asidosis metabolik, kata bolisme, dan
masukan diit berlebih.
2. Prikarditis, efusi perikardial, dan tamponad jantung akibat retensi produk sampah
uremik dan dialisis yang tidak adekuat.
3. Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi sistem renin angiotensin
aldosteron.
4. Anemia akibat penurunan eritropoitin.
5. Penyakit tulang serta klasifikasi metabolik akibat retensi fosfat, kadar kalsium
serum yang rendah, metabolisme vitamin D yang abnormal dan peningkatan kadar
alumunium akibat peningkatan nitrogen dan ion anorganik.
6. Uremia akibat peningkatan kadar uream dalam tubuh.
7. Gagal jantung akibat peningkatan kerja jantung yang berlebian.
8. Malnutrisi karena anoreksia, mual, dan muntah.
9. Hiperparatiroid, Hiperkalemia, dan Hiperfosfatemia.

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

H. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
a. Pemeriksaan penurunan fungsi ginjal
1) Ureum kreatinin.
2) Asam urat serum.
b. Identifikasi etiologi gagal ginjal
1) Analisis urin rutin
2) Mikrobiologi urin
3) Kimia darah
4) Elektrolit
5) Imunodiagnosis
c. Identifikasi perjalanan penyakit
1) Progresifitas penurunan fungsi ginjal
2) Ureum kreatinin, Clearens Creatinin Test (CCT)
GFR / LFG dapat dihitung dengan formula Cockcroft-Gault :

Nilai normal :
Laki-laki : 97 - 137 mL/menit/1,73 m3 atau
0,93 - 1,32 mL/detik/m2
Wanita : 88-128 mL/menit/1,73 m3 atau
0,85 - 1,23 mL/detik/m2

3) Hemopoesis : Hb, trobosit, fibrinogen, factor pembekuan


4) Elektrolit : Na+, K+, HCO3-, Ca2+, PO42-, Mg+

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

5) Endokrin : PTH dan T3,T4


6) Pemeriksaan lain: berdasarkan indikasi terutama faktor pemburuk ginjal,
misalnya: infark miokard.
2. Diagnostik
a. Etiologi CKD dan terminal
1) Foto polos abdomen.
2) USG
3) Nefrotogram
4) Pielografi retrograde.
5) Pielografi antegrade.
6) Mictuating Cysto Urography (MCU).
b. Diagnosis pemburuk fungsi ginjal
1) RetRogram
2) USG

I. Penatalaksanaan
Penderita CKD perlu mendapatkan penatalaksanaan secara khusus sesuai dengan
derajat penyakit CKD, bukan hanya penatalaksanaan secara umum. Menurut Suwitra
(2006), sesuai dengan derajat penyakit CKD dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 2.1
Derajat CKD
Sumber : Suwitra 2006.

Derajat LFG Perencanaan penatalaksanaan terapi


(ml/mnt/1,873 m2)
Dilakukan terapi pada penyakit dasarnya,
1 > 90 kondisi komorbid, evaluasi pemburukan
(progresion) fungsi ginjal, memperkecil resiko
kardiovaskuler.
2 60-89 Menghambat pemburukan (progresion) fungsi
ginjal.

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

3 0-59 Mengevaluasi dan melakukan terapi pada


komplikasi.
4 15-29 Persiapan untuk pengganti ginjal (dialisis).
5 < 15 Dialysis dan mempersiapkan terapi
penggantian ginjal (transplantasi ginjal).

Menurut Suwitra (2006) penatalaksanaan untuk CKD secara umum antara lain
adalah sebagai berikut :
1. Waktu yang tepat dalam penatalaksanaan penyakit dasar CKD adalah sebelum
terjadinya penurunan LFG, sehingga peningkatan fungsi ginjal tidak terjadi. Pada
ukuran ginjal yang masih normal secara ultrasono grafi, biopsi serta pemeriksaan
histopatologi ginjal dapat menentukan indikasi yang tepat terhadap terapi spesifik.
Sebaliknya bila LFG sudah menurun sampai 2030 % dari normal terapi dari
penyakit dasar sudah tidak bermanfaat.
2. Penting sekali untuk mengikuti dan mencatat kecepatan penurunan LFG pada pasien
penyakit CKD, hal tersebut untuk mengetahui kondisi komorbid yang dapat
memperburuk keadaan pasien. Faktor-faktor komorbid ini antara lain, gangguan
keseimbangan cairan, hipertensi yang tak terkontrol, infeksi traktus urinarius,
obstruksi traktus urinarius, obat-obat nefrotoksik, bahan radio kontras, atau
peningkatan aktifitas penyakit dasarnya. Pembatasan cairan dan elektrolit pada
penyakit CKD sangat diperlukan. Hal tersebut diperlukan untuk mencegah terjadinya
edema dan komplikasi kardiovaskuler. Asupan cairan diatur seimbang antara
masukan dan pengeluaran urin serta Insesible Water Loss (IWL). Dengan asumsi
antara 500-800 ml/hari yang sesuai dengan luas tubuh. Elektrolit yang harus diawasi
dalam asupannya adalah natrium dan kalium. Pembatasan kalium dilakukan karena
hiperkalemi dapat mengakibatkan aritmia jantung yang fatal. Oleh karena itu
pembatasan obat dan makanan yang mengandung kalium (sayuran dan buah) harus
dibatasi dalam jumlah 3,5-5,5 mEg/lt. sedangkan pada natrium dibatasi untuk
menghindari terjadinya hipertensi dan edema. Jumlah garam disetarakan dengan
tekanan darah dan adanya edema.
3. Menghambat perburukan fungsi ginjal. Penyebab turunnya fungsi ginjal adalah
hiperventilasi glomerulus yaitu :

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

a. Batasan asupan protein, mulai dilakukan pada LFG < 60 ml/mnt, sedangkan
diatas batasan tersebut tidak dianjurkan pembatasan protein. Protein yang
dibatasi antara 0,6-0,8/kg BB/hr, yang 0,35-0,50 gr diantaranya protein nilai
biologis tinggi. Kalori yang diberikan sebesar 30-35 kkal/ kg BB/hr dalam
pemberian diit. Protein perlu dilakukan pembatasan dengan ketat, karena protein
akan dipecah dan diencerkan melalui ginjal, tidak seperti karbohidrat. Namun
saat terjadi malnutrisi masukan protein dapat ditingkatkan sedikit, selain itu
makanan tinggi protein yang mengandung ion hydrogen, fosfor, sulfur, dan ion
anorganik lain yang diekresikan melalui ginjal. Selain itu pembatasan protein
bertujuan untuk membatasi asupan fosfat karena fosfat dan protein berasal dari
sumber yang sama, agar tidak terjadi hiperfosfatemia.
b. Terapi farmakologi untuk mengurangi hipertensi intraglomerulus. Pemakaian
obat anti hipertensi disamping bermanfaat untuk memperkecil resiko komplikasi
pada kardiovaskuler juga penting untuk memperlambat perburukan kerusakan
nefron dengan cara mengurangi hipertensi intraglomerulus dan hipertrofi
glomerulus. Selain itu pemakaian obat hipertensi seperti penghambat enzim
konverting angiotensin (Angiotensin Converting Enzim / ACE inhibitor) dapat
memperlambat perburukan fungsi ginjal. Hal ini terjadi akibat mekanisme
kerjanya sebagai anti hipertensi dan anti proteinuri.
4. Pencegahan dan terapi penyakit kardio faskuler merupakan hal yang penting, karena
40-45 % kematian pada penderita CKD disebabkan oleh penyakit komplikasinya pada
kardiovaskuler. Hal-hal yang termasuk pencegahan dan terapi penyakit vaskuler
adalah pengendalian hipertensi, DM, dislipidemia, anemia, hiperfosvatemia, dan
terapi pada kelebian cairan dan elektrolit. Semua ini terkait dengan pencegahan dan
terapi terhadap komplikasi CKD secara keseluruhan.
5. CKD mengakibatkan berbagai komplikasi yang manifestasinya sesuai dengan derajat
penurunan LFG. Seperti anemia dilakukan penambahan / tranfusi eritropoitin.
Pemberian kalsitrol untuk mengatasi osteodistrasi renal. Namun dalam pemakaiannya
harus dipertimbangkan karena dapat meningkatkan absorsi fosfat.
6. Terapi dialisis dan transplantasi dapat dilakukan pada tahap CKD derajat 4-5. Terapi
ini biasanya disebut dengan terapi pengganti ginjal.

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

Macam-macam terapi gagal ginjal :


1. Terapi Konservatif
Perubahan fungsi ginjal bersifat individu untuk setiap klien Cronic renal
Desease (CKD) dan lama terapi konservatif bervariasi dari bulan sampai tahun.
Tujuan terapi konservatif :
a. Mencegah memburuknya fungsi ginjal secara profresi.
b. Meringankan keluhan-keluhan akibat akumulasi toksi asotemia.
c. Mempertahankan dan memperbaiki metabolisme secara optimal.
d. Memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit.

Prinsip terapi konservatif :


a. Mencegah memburuknya fungsi ginjal.
1) Hati-hati dalam pemberian obat yang bersifat nefrotoksik.
2) Hindari keadaan yang menyebabkan diplesi volume cairan
ekstraseluler dan hipotensi.
3) Hindari gangguan keseimbangan elektrolit.
4) Hindari pembatasan ketat konsumsi protein hewani.
5) Hindari proses kehamilan dan pemberian obat kontrasepsi.
6) Hindari instrumentasi dan sistoskopi tanpa indikasi medis yang kuat.
7) Hindari pemeriksaan radiologis dengan kontras yang kuat tanpa
indikasi medis yang kuat.
b. Pendekatan terhadap penurunan fungsi ginjal progresif lambat
1) Kendalikan hipertensi sistemik dan intraglomerular.
2) Kendalikan terapi ISK.
3) Diet protein yang proporsional.
4) Kendalikan hiperfosfatemia.
5) Terapi hiperurekemia bila asam urat serum > 10mg%.
6) Terapi hiperfosfatemia.
7) Terapi keadaan asidosis metabolik.
8) Kendalikan keadaan hiperglikemia.

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

c. Terapi alleviative gejala asotemia


1) Pembatasan konsumsi protein hewani.
2) Terapi keluhan gatal-gatal.
3) Terapi keluhan gastrointestinal.
4) Terapi keluhan neuromuskuler.
5) Terapi keluhan tulang dan sendi.
6) Terapi anemia.
7) Terapi setiap infeksi.

2. Terapi Simtomatik
a. Asidosis metabolik
Jika terjadi harus segera dikoreksi, sebab dapat meningkatkan serum
K+ (hiperkalemia ) :
1) Suplemen alkali dengan pemberian kalsium karbonat 5 mg/hari.
2) Terapi alkali dengan sodium bikarbonat IV, bila PH < atau sama dengan 7,35
atau serum bikarbonat < atau sama dengan 20 mEq/L.
b. Anemia
1) Anemia Normokrom normositer
Berhubungan dengan retensi toksin polyamine dan defisiensi hormon
eritropoetin (ESF: Eritroportic Stimulating Faktor). Anemia ini diterapi
dengan pemberian Recombinant Human Erythropoetin ( r-HuEPO ) dengan
pemberian 30-530 U per kg BB.
2) Anemia hemolisis
Berhubungan dengan toksin asotemia. Terapi yang dibutuhkan adalah
membuang toksin asotemia dengan hemodialisis atau peritoneal dialisis.
3) Anemia Defisiensi Besi
Defisiensi Fe pada CKD berhubungan dengan perdarahan saluran cerna dan
kehilangan besi pada dialiser ( terapi pengganti hemodialisis ). Klien yang
mengalami anemia, tranfusi darah merupakan salah satu pilihan terapi
alternatif ,murah dan efektif, namun harus diberikan secara hati-hati.

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

Indikasi tranfusi PRC pada klien gagal ginjal :


1) HCT < atau sama dengan 20 %
2) Hb < atau sama dengan 7 mg5
3) Klien dengan keluhan : angina pektoris, gejala umum anemia dan high
output heart failure.

Komplikasi tranfusi darah :


1) Hemosiderosis
2) Supresi sumsum tulang
3) Bahaya overhidrasi, asidosis dan hiperkalemia
4) Bahaya infeksi hepatitis virus dan CMV
5) Pada Human Leukosite antigen (HLA) berubah, penting untuk rencana
transplantasi ginjal.

c. Kelainan Kulit
1) Pruritus (uremic itching)
Keluhan gatal ditemukan pada 25% kasus CKD dan terminal, insiden
meningkat pada klien yang mengalami HD.
Keluhan :
Bersifat subyektif
Bersifat obyektif : kulit kering, prurigo nodularis, keratotic papula dan
lichen symply
Beberapa pilihan terapi :
Mengendalikan hiperfosfatemia dan hiperparatiroidisme
Terapi lokal : topikal emmolient ( tripel lanolin )
Fototerapi dengan sinar UV-B 2x perminggu selama 2-6 mg, terapi ini
bisa diulang apabila diperlukan
Pemberian obat :
Diphenhidramine 25-50 P.O
Hidroxyzine 10 mg P.O

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

2) Easy Bruishing
Kecenderungan perdarahan pada kulit dan selaput serosa berhubungan denga
retensi toksin asotemia dan gangguan fungsi trombosit. Terapi yang
diperlukan adalah tindakan dialisis.
d. Kelainan Neuromuskular
Terapi pilihannya :
1) HD reguler.
2) Obat-obatan : Diasepam, sedatif.
3) Operasi sub total paratiroidektomi.
e. Hipertensi
Bentuk hipertensi pada klien dengan GG berupa : volum dependen hipertensi,
tipe vasokonstriksi atau kombinasi keduanya. Program terapinya meliputi :
1) Restriksi garam dapur.
2) Diuresis dan Ultrafiltrasi.
3) Obat-obat antihipertensi.
3. Terapi Pengganti
Terapi pengganti ginjal dilakukan pada penyakit ginjal kronik stadium 5, yaitu pada
LFG kurang dari 15 ml/menit. Terapi tersebut dapat berupa hemodialisis, dialisis
peritoneal, dan transplantasi ginjal (Suwitra, 2006).
a. Dialisis yang meliputi :
1) Hemodialisa
Tindakan terapi dialisis tidak boleh terlambat untuk mencegah gejala toksik
azotemia, dan malnutrisi. Tetapi terapi dialisis tidak boleh terlalu cepat pada
pasien GGK yang belum tahap akhir akan memperburuk faal ginjal
(LFG). Secara khusus, indikasi HD adalah
a) Pasien yang memerlukan hemodialisa adalah pasien GGK dan GGA
untuk sementara sampai fungsi ginjalnya pulih.
b) Pasien-pasien tersebut dinyatakan memerlukan hemodialisa apabila
terdapat indikasi:
Hiperkalemia > 17 mg/lt
Asidosis metabolik dengan pH darah < 7.2
Kegagalan terapi konservatif

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

Kadar ureum > 200 mg % dan keadaan gawat pasien uremia,


asidosis metabolik berat, hiperkalemia, perikarditis, efusi, edema
paru ringan atau berat atau kreatinin tinggi dalam darah dengan nilai
kreatinin > 100 mg %
Kelebihan cairan
Mual dan muntah hebat
BUN > 100 mg/ dl (BUN = 2,14 x nilai ureum )
Preparat (gagal ginjal dengan kasus bedah )
Sindrom kelebihan air
Intoksidasi obat jenis barbiturat

Indikasi tindakan terapi dialisis, yaitu indikasi absolut dan indikasi elektif.
Beberapa yang termasuk dalam indikasi absolut, yaitu
perikarditis, ensefalopati/ neuropati azotemik, bendungan paru dan
kelebihan cairan yang tidak responsif dengan diuretik, hipertensi berat,
muntah persisten, dan Blood Uremic Nitrogen (BUN) > 120 mg% atau >
40 mmol per liter dan kreatinin > 10 mg% atau > 90 mmol perliter. Indikasi
elektif, yaitu LFG antara 5 dan 8 mL/menit/1,73m, mual, anoreksia,
muntah, dan astenia berat (Sukandar, 2006).
Menurut konsensus Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) (2003)
secara ideal semua pasien dengan Laju Filtrasi Goal (LFG) kurang dari 15
mL/menit, LFG kurang dari 10 mL/menit dengan gejala uremia/malnutrisi
dan LFG kurang dari 5 mL/menit walaupun tanpa gejala dapat menjalani
dialisis. Selain indikasi tersebut juga disebutkan adanya indikasi khusus
yaitu apabila terdapat komplikasi akut seperti oedem paru, hiperkalemia,
asidosis metabolik berulang, dan nefropatik diabetik.
2) Dialisis Peritoneal (DP)
Akhir-akhir ini sudah populer Continuous Ambulatory Peritoneal
Dialysis (CAPD) di pusat ginjal di luar negeri dan di Indonesia. Indikasi
medik CAPD, yaitu pasien anak-anak dan orang tua (umur lebih dari 65
tahun), pasien-pasien yang telah menderita penyakit sistem kardiovaskular,
pasien-pasien yang cenderung akan mengalami perdarahan bila dilakukan

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

hemodialisis, kesulitan pembuatan AV shunting, pasien dengan stroke,


pasien GGT (gagal ginjal terminal) dengan residual urin masih cukup, dan
pasien nefropati diabetik disertai co-morbidity dan co-mortality. Indikasi
non-medik, yaitu keinginan pasien sendiri, tingkat intelektual tinggi untuk
melakukan sendiri (mandiri), dan di daerah yang jauh dari pusat ginjal
(Sukandar, 2006).
b. Transplantasi ginjal atau cangkok ginjal.
Transplantasi ginjal merupakan terapi pengganti ginjal (anatomi dan faal).
Pertimbangan program transplantasi ginjal, yaitu:
1) Cangkok ginjal (kidney transplant) dapat mengambil alih seluruh (100%)
faal ginjal, sedangkan hemodialisis hanya mengambil alih 70-80% faal ginjal
alamiah
2) Kualitas hidup normal kembali
3) Masa hidup (survival rate) lebih lama
4) Komplikasi (biasanya dapat diantisipasi) terutama berhubungan dengan obat
imunosupresif untuk mencegah reaksi penolakan
5) Biaya lebih murah dan dapat dibatasi
J. Asuhan Keperawatan Teoritis
1. Pengkajian
a. Demografi
Penderita CKD kebanyakan berusia diantara 30 tahun, namun ada juga yang
mengalami CKD dibawah umur tersebut yang diakibatkan oleh berbagai hal
seperti proses pengobatan, penggunaan obat-obatan dan sebagainya. CKD dapat
terjadi pada siapapun, pekerjaan dan lingkungan juga mempunyai peranan
penting sebagai pemicu kejadian CKD. Karena kebiasaan kerja dengan duduk /
berdiri yang terlalu lama dan lingkungan yang tidak menyediakan cukup air
minum / mengandung banyak senyawa / zat logam dan pola makan yang tidak
sehat.
b. Keluhan utama : Badan lemah, cepat lelah, nampak sakit, pucat keabu-
abuan, kadang-kadang disertai udema ekstremitas, napas terengah-engah.

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

c. Riwayat penyakit yang diderita pasien sebelum CKD seperti DM, glomerulo
nefritis, hipertensi, rematik, hiperparatiroidisme, obstruksi saluran kemih, dan
traktus urinarius bagian bawah juga dapat memicu kemungkinan terjadinya CKD.
d. Pengkajian Pola Fungsional Gordon
1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan pasien
Gejalanya adalah pasien mengungkapkan kalau dirinya saat ini sedang sakit
parah. Pasien juga mengungkapkan telah menghindari larangan dari dokter.
Tandanya adalah pasien terlihat lesu dan khawatir, pasien terlihat bingung
kenapa kondisinya seprti ini meski segala hal yang telah dilarang telah
dihindari.
2) Pola nutrisi dan metabolik
Gejalanya adalah pasien tampak lemah, terdapat penurunan BB dalam kurun
waktu 6 bulan. Tandanya adalah anoreksia, mual, muntah, asupan nutrisi dan
air naik atau turun.
3) Pola eliminasi
Gejalanya adalah terjadi ketidak seimbangan antara output dan input.
Tandanya adalah penurunan BAK, pasien terjadi konstipasi, terjadi
peningkatan suhu dan tekanan darah atau tidak singkronnya antara tekanan
darah dan suhu.
4) Aktifitas dan latian
Gejalanya adalah pasien mengatakan lemas dan tampak lemah, serta pasien
tidak dapat menolong diri sendiri. Tandanya adalah aktifitas dibantu.
5) Pola istirahat dan tidur
Gejalanya adalah pasien terlihat mengantuk, letih dan terdapat kantung mata.
Tandanya adalah pasien terliat sering menguap.
6) Pola persepsi dan kognitif
Gejalanya penurunan sensori dan rangsang. Tandanya adalah penurunan
kesadaran seperti ngomong nglantur dan tidak dapat berkomunikasi dengan
jelas.

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

7) Pola hubungan dengan orang lain


Gejalanya pasien sering menghindari pergaulan, penurunan harga diri sampai
terjadinya HDR (Harga Diri Rendah). Tandanya lebih menyendiri, tertutup,
komunikasi tidak jelas.
8) Pola reproduksi
Gejalanya penurunan keharmonisan pasien, dan adanya penurunan kepuasan
dalam hubungan. Tandanya terjadi penurunan libido, keletihan saat
berhubungan, penurunan kualitas hubungan.
9) Pola persepsi diri
Gejalanya konsep diri pasien tidak terpenuhi. Tandanya kaki menjadi edema,
citra diri jauh dari keinginan, terjadinya perubahan fisik, perubahan peran,
dan percaya diri.
10) Pola mekanisme koping.
Gejalanya emosi pasien labil. Tandanya tidak dapat mengambil keputusan
dengan tepat, mudah terpancing emosi.
11) Pola kepercayaan
Gejalanya pasien tampak gelisah, pasien mengatakan merasa bersalah
meninggalkan perintah agama. Tandanya pasien tidak dapat melakukan
kegiatan agama seperti biasanya.

e. Pengkajian Fisik
1) Penampilan / keadaan umum.
Lemah, aktifitas dibantu, terjadi penurunan sensifitas nyeri. Kesadaran
pasien dari compos mentis sampai coma.
2) Tanda-tanda vital
Tekanan darah naik, respirasi riet naik, dan terjadi dispnea, nadi meningkat
dan reguler.
3) Antropometri
Penurunan berat badan selama 6 bulan terahir karena kekurangan nutrisi,
atau terjadi peningkatan berat badan karena kelebian cairan.

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

4) Kepala
Rambut kotor, mata kuning / kotor, telinga kotor dan terdapat kotoran
telinga, hidung kotor dan terdapat kotoran hidung, mulut bau ureum, bibir
kering dan pecah-pecah, mukosa mulut pucat dan lidah kotor.
5) Leher dan tenggorok
Peningkatan kelenjar tiroid, terdapat pembesaran tiroid pada leher
6) Dada
Dispnea sampai pada edema pulmonal, dada berdebar-debar. Terdapat otot
bantu napas, pergerakan dada tidak simetris, terdengar suara tambahan pada
paru (rongkhi basah), terdapat pembesaran jantung, terdapat suara tambahan
pada jantung.
7) Abdomen
Terjadi peningkatan nyeri, penurunan peristaltik, turgor jelek, perut buncit.
8) Genital
Kelemahan dalam libido, genetalia kotor, ejakulasi dini, impotensi, terdapat
ulkus.
9) Ekstremitas
Kelemahan fisik, aktifitas pasien dibantu, terjadi edema, pengeroposan
tulang, dan Capillary Refil lebih dari 1 detik.
10) Kulit
Turgor jelek, terjadi edema, kulit jadi hitam, kulit bersisik dan mengkilat /
uremia, dan terjadi perikarditis.
f. Pemeriksaan Penunjang.
1. Pemeriksaan Laboratorium
a) Urin
Volume : Biasanya kurang dari 400 ml/jam (oliguria), atau urine
tidak ada (anuria).
Warna : Secara normal perubahan urine mungkin disebabkan oleh
pus / nanah, bakteri, lemak, partikel koloid, fosfat, sedimen kotor,
warna kecoklatan menunjukkan adanya darah, miglobin, dan
porfirin.

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

Berat Jenis : Kurang dari 1,015 (menetap pada 1,010 menunjukkan


kerusakan ginjal berat).
Osmolalitas : Kurang dari 350 mOsm/kg menunjukkan kerusakan
tubular, amrasio urine / ureum sering 1:1.
b) Kliren kreatinin mungkin agak menurun.
c) Natrium : Lebih besar dari 40 Emq/L karena ginjal tidak mampu
mereabsorbsi natrium.
d) Protein : Derajat tinggi proteinuria ( 3-4+ ), secara kuat menunjukkan
kerusakan glomerulus bila sel darah merah (SDM) dan fregmen juga
ada.
e) Darah
Kreatinin : Biasanya meningkat dalam proporsi. Kadar kreatinin 10
mg/dL diduga tahap akhir (mungkin rendah yaitu 5).
Hitung darah lengkap : Hematokrit menurun pada adanya anemia.
Hb biasanya kurang dari 7-8 g/dL.
SDM (Sel Darah Merah) : Waktu hidup menurun pada defisiensi
eritropoetin seperti pada azotemia.
GDA (Gas Darah Analisa) : pH, penurunan asidosis metabolik
(kurang dari 7,2) terjadi karena kehilangan kemampuan ginjal untuk
mengeksekresi hidrogen dan amonia atau hasil akhir katabolisme
protein. Bikarbonat menurun PCO2 menurun.
Natrium serum : Mungkin rendah, bila ginjal kehabisan natrium
atau normal (menunjukkan status dilusi hipernatremia).
Kalium : Peningkatan sehubungan dengan retensi sesuai dengan
perpindahan selular (asidosis), atau pengeluaran jaringan (hemolisis
SDM). Pada tahap akhir , perubahan EKG mungkin tidak terjadi
sampai kalium 6,5 mEq atau lebih besar. Magnesium terjadi
peningkatan fosfat, kalsium menurun. Protein (khususnya albumin),
kadar serum menurun dapat menunjukkan kehilangan protein
melalui urine, perpindahan cairan, penurunan pemasukan, atau
penurunan sintesis karena kurang asam amino esensial. Osmolalitas
serum lebih besar dari 285 mosm/kg, sering sama dengan urine.

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

2. Pemeriksaan Radiologi
a) Ultrasono grafi ginjal digunakan untuk menentukan ukuran ginjal dan
adanya masa , kista, obtruksi pada saluran perkemihan bagian atas.
b) Biopsi Ginjal dilakukan secara endoskopik untuk menentukan sel
jaringan untuk diagnosis histologis.
c) Endoskopi ginjal dilakukan untuk menentukan pelvis ginjal
d) EKG mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit dan
asam basa.
e) KUB foto digunakan untuk menunjukkan ukuran ginjal / ureter /
kandung kemih dan adanya obtruksi (batu).
f) Arteriogram ginjal adalah mengkaji sirkulasi ginjal dan megidentifikasi
ekstravaskuler, massa.
g) Pielogram retrograd untuk menunjukkan abormalitas pelvis ginjal.
h) Sistouretrogram adalah berkemih untuk menunjukkan ukuran kandung
kemih, refluk kedalam ureter, dan retensi.
i) Pada pasien CKD pasien mendapat batasan diit yang sangat ketat
dengan diit tinggi kalori dan rendah karbohidrat. Serta dilakukan
pembatasan yang sangat ketat pula pada asupan cairan yaitu antara 500-
800 ml/hari.
j) Pada terapi medis untuk tingkat awal dapat diberikan terapi obat anti
hipertensi, obat diuretik, dan atrapit yang berguna sebagai pengontol
pada penyakit DM, sampai selanjutnya nanti akan dilakukan dialisis dan
transplantasi.

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membran kapiler-alveolar
b. Penurunan cardiac output b.d perubahan preload, afterload dan sepsis
c. Pola nafas tidak efektif b.d edema paru, asidosis metabolic, pneumonitis,
perikarditis
d. Kelebihan volume cairan b.d mekanisme pengaturan melemah
e. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake makanan
yang inadekuat (mual, muntah, anoreksia dll).
f. Intoleransi aktivitas b.d keletihan/kelemahan, anemia, retensi produk sampah
dan prosedur dialysis.
g. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan suplai O2 ke jaringan menurun.
h. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran,
perubahan pada citra diri dan disfungsi seksual.
i. Kurang pengetahuan tentang kondisi, dan program penanganan berhubungan
dengan kurangnya paparan informasi

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

3. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi
1 Gangguan pertukaran gas NOC : NIC :
Definisi : Kelebihan atau Respiratory Status : Gas exchange Airway Management
kekurangan dalam oksigenasi Respiratory Status : ventilation Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw
dan atau pengeluaran Vital Sign Status thrust bila perlu
karbondioksida di dalam Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
membran kapiler alveoli Kriteria Hasil : Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan
Mendemonstrasikan peningkatan nafas buatan
Batasan karakteristik : ventilasi dan oksigenasi yang adekuat Pasang mayo bila perlu
- Gangguan penglihatan Memelihara kebersihan paru paru dan Lakukan fisioterapi dada jika perlu
- Penurunan CO2 bebas dari tanda tanda distress Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
- Takikardi pernafasan Auskultasi suara nafas, catat adanya suara
- Hiperkapnia Mendemonstrasikan batuk efektif dan tambahan
- Keletihan suara nafas yang bersih, tidak ada Lakukan suction pada mayo
- somnolen sianosis dan dyspneu (mampu Berikan bronkodilator bila perlu
- Iritabilitas mengeluarkan sputum, mampu bernafas Berikan pelembab udara
- Hypoxia dengan mudah, tidak ada pursed lips) Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
- kebingungan Tanda tanda vital dalam rentang normal keseimbangan.

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

- Dyspnoe Monitor respirasi dan status O2


- nasal faring Respiratory Monitoring
- AGD Normal Monitor rata rata, kedalaman, irama dan usaha
- sianosis respirasi
- warna kulit abnormal (pucat, Catat pergerakan dada,amati kesimetrisan,
kehitaman) penggunaan otot tambahan, retraksi otot
- Hipoksemia supraclavicular dan intercostal
- hiperkarbia Monitor suara nafas, seperti dengkur
- sakit kepala ketika bangun Monitor pola nafas : bradipena, takipenia,
- frekuensi dan kedalaman kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes, biot
nafas abnormal Catat lokasi trakea
Monitor kelelahan otot diagfragma ( gerakan
Faktor faktor yang berhubungan paradoksis )
: Auskultasi suara nafas, catat area penurunan / tidak
- ketidakseimbangan perfusi adanya ventilasi dan suara tambahan
- ventilasi Tentukan kebutuhan suction dengan
- perubahan membran kapiler- mengauskultasi crakles dan ronkhi pada jalan napas
alveolar utama
Auskultasi suara paru setelah tindakan untuk

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

mengetahui hasilnya

Acid Base Managemen


Monitor IV line
Pertahankan jalan nafas paten
Monitor AGD, tingkat elektrolit
Monitor status hemodinamik(CVP, MAP, PAP)
Monitor adanya tanda tanda gagal nafas
Monitor pola respirasi
Lakukan terapi oksigen
Monitor status neurologi
Tingkatkan oral hygiene
2 Penurunan curah jantung NOC : NIC :
Cardiac Pump effectiveness Cardiac Care
Defenisi : ketidakadekuatan Circulation Status Evaluasi adanya nyeri dada ( intensitas,lokasi,
darah yang dipompa oleh Vital Sign Status durasi)
jantung untuk memenuhi Catat adanya disritmia jantung
kebutuhan metabolik tubuh Kriteria Hasil: Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac
Tanda Vital dalam rentang normal putput

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

Batasan karakteristik : (Tekanan darah, Nadi, respirasi) Monitor status kardiovaskuler


Perubahan frekuensi / irama Dapat mentoleransi aktivitas, tidak ada Monitor status pernafasan yang menandakan gagal
jantung kelelahan jantung
Aritmia Tidak ada edema paru, perifer, dan tidak Monitor abdomen sebagai indicator penurunan
Bardikardi, takikardi ada asites perfusi
Perubahan EKG Tidak ada penurunan kesadaran Monitor balance cairan
Palpitasi Monitor adanya perubahan tekanan darah
Perubahan preload Monitor respon pasien terhadap efek pengobatan
Penurunan tekanan vena antiaritmia
central (CVP) Atur periode latihan dan istirahat untuk
Penurunan tekanan arteri menghindari kelelahan
paru (PAWP) Monitor toleransi aktivitas pasien
Edema, keletihan Monitor adanya dyspneu, fatigue, tekipneu dan
Peningkatan CVP ortopneu
Peningkatan PAWP Anjurkan untuk menurunkan stress
Distensi vena jugular
Murmur Vital Sign Monitoring
Peningkatan berat badan Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
Perubahan afterload Catat adanya fluktuasi tekanan darah

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

Kulit lembab Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau


Penurunan nadi perifer berdiri
Penurunan resistansi vascular Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
paru (PVR) Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan
Penurunan resitansi vaskular setelah aktivitas
sistemik (SVR) Monitor kualitas dari nadi
Dispnea Monitor adanya pulsus paradoksus
Peningkatan PVR Monitor adanya pulsus alterans
Peningkatan SVR Monitor jumlah dan irama jantung
Oliguria Monitor bunyi jantung
Pengisisan kapiler Monitor frekuensi dan irama pernapasan
memanjang Monitor suara paru
Perubahan warna kulit Monitor pola pernapasan abnormal
Variasi pada pembacaan Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
tekanan darah Monitor sianosis perifer
Perubahan kontraktilitas Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang
Batuk,crackle melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
Penurunan indeks jantung Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign
Penurunan fraksi ejeksi

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

Ortopnea
Dispnea paroksismal
nokturnal
Penurunan LVSWI (left
ventricular stroke work
index)
Penurunan stroke volume
index(SVI)
Bunyi S3, bunyi S4
Perilaku/emosi
Ansietas, gelisah

Faktor yang berhubungan :


Perubahan afterload
Perubahan kontraktilitas
Perubahan frekuensi jantung
Perubahan preload
Perubahan irama
Perubahan volume sekuncup

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

3 Pola Nafas tidak efektif NOC : NIC :


Respiratory status : Ventilation Airway Management
Definisi : Pertukaran udara Respiratory status : Airway patency Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw
inspirasi dan/atau ekspirasi tidak Vital sign Status thrust bila perlu
adekuat Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
Kriteria Hasil : Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan
Batasan karakteristik : Mendemonstrasikan batuk efektif dan nafas buatan
- Penurunan tekanan suara nafas yang bersih, tidak ada Pasang mayo bila perlu
inspirasi/ekspirasi sianosis dan dyspneu (mampu Lakukan fisioterapi dada jika perlu
- Penurunan pertukaran udara mengeluarkan sputum, mampu bernafas Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
per menit dengan mudah, tidak ada pursed lips) Auskultasi suara nafas, catat adanya suara
- Menggunakan otot Menunjukkan jalan nafas yang paten tambahan
pernafasan tambahan (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, Lakukan suction pada mayo
- Nasal flaring frekuensi pernafasan dalam rentang Berikan bronkodilator bila perlu
- Dyspnea normal, tidak ada suara nafas abnormal) Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl
- Orthopnea Tanda-Tanda vital dalam rentang normal Lembab
- Perubahan penyimpangan (tekanan darah, nadi, pernafasan) Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
dada keseimbangan.
- Nafas pendek Monitor respirasi dan status O2

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

- Assumption of 3-point
position Terapi Oksigen
- Pernafasan pursed-lip v Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
- Tahap ekspirasi berlangsung v Pertahankan jalan nafas yang paten
sangat lama v Atur peralatan oksigenasi
- Peningkatan diameter v Monitor aliran oksigen
anterior-posterior v Pertahankan posisi pasien
- Pernafasan rata-rata/minimal v Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi
Bayi : < 25 atau > 60 v Monitor adanya kecemasan pasien terhadap
Usia 1-4 : < 20 atau > 30 oksigenasi
Usia 5-14 : < 14 atau > 25
Usia > 14 : < 11 atau > 24 Vital sign Monitoring
- Kedalaman pernafasan Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
Dewasa volume tidalnya Catat adanya fluktuasi tekanan darah
500 ml saat istirahat Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau
Bayi volume tidalnya 6-8 berdiri
ml/Kg Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
- Timing rasio Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan
- Penurunan kapasitas vital setelah aktivitas

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

Monitor kualitas dari nadi


Faktor yang berhubungan : Monitor frekuensi dan irama pernapasan
- Hiperventilasi Monitor suara paru
- Deformitas tulang Monitor pola pernapasan abnormal
- Kelainan bentuk dinding Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
dada Monitor sianosis perifer
- Penurunan energi/kelelahan Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang
- Perusakan/pelemahan melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
muskulo-skeletal Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign
- Obesitas
- Posisi tubuh
- Kelelahan otot pernafasan
- Hipoventilasi sindrom
- Nyeri
- Kecemasan
- Disfungsi Neuromuskuler
- Kerusakan persepsi/kognitif
- Perlukaan pada jaringan
syaraf tulang belakang

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

- Imaturitas Neurologis
4 Kelebihan volume cairan NOC : NIC :
Electrolit and acid base balance Fluid management
Definisi : Retensi cairan Fluid balance Timbang popok/pembalut jika diperlukan
isotomik meningkat Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
Kriteria Hasil: Pasang urin kateter jika diperlukan
Batasan karakteristik : Terbebas dari edema, efusi, anaskara Monitor hasil lAb yang sesuai dengan retensi cairan
- Berat badan meningkat pada Bunyi nafas bersih, tidak ada (BUN , Hmt , osmolalitas urin )
waktu yang singkat dyspneu/ortopneu Monitor status hemodinamik termasuk CVP, MAP,
- Asupan berlebihan Terbebas dari distensi vena jugularis, PAP, dan PCWP
dibanding output reflek hepatojugular (+) Monitor vital sign
- Tekanan darah berubah, Memelihara tekanan vena sentral, Monitor indikasi retensi / kelebihan cairan (cracles,
tekanan arteri pulmonalis tekanan kapiler paru, output jantung dan CVP , edema, distensi vena leher, asites)
berubah, peningkatan CVP vital sign dalam batas normal Kaji lokasi dan luas edema
- Distensi vena jugularis Terbebas dari kelelahan, kecemasan atau Monitor masukan makanan / cairan dan hitung
- Perubahan pada pola nafas, kebingungan intake kalori harian
dyspnoe/sesak nafas, Menjelaskan indikator kelebihan cairan Monitor status nutrisi
orthopnoe, suara nafas Berikan diuretik sesuai interuksi
abnormal (Rales atau Batasi masukan cairan pada keadaan hiponatrermi

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

crakles), kongestikemacetan dilusi dengan serum Na < 130 mEq/l


paru, pleural effusion Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul
- Hb dan hematokrit menurun, memburuk
perubahan elektrolit,
khususnya perubahan berat Fluid Monitoring
jenis Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan
- Suara jantung SIII eliminasi
- Reflek hepatojugular positif Tentukan kemungkinan faktor resiko dari ketidak
- Oliguria, azotemia seimbangan cairan (Hipertermia, terapi diuretik,
- Perubahan status mental, kelainan renal, gagal jantung, diaporesis, disfungsi
kegelisahan, kecemasan hati, dll )
Monitor berat badan
Faktor-faktor yang berhubungan Monitor serum dan elektrolit urine
: Monitor serum dan osmolalitas urine
- Mekanisme pengaturan Monitor BP, HR, dan RR
melemah Monitor tekanan darah orthostatik dan perubahan
- Asupan cairan berlebihan irama jantung
- Asupan natrium berlebihan Monitor parameter hemodinamik infasif
Catat secara akutar intake dan output

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

Monitor adanya distensi leher, rinchi, eodem perifer


dan penambahan BB
Monitor tanda dan gejala dari odema
5 Ketidakseimbangan nutrisi NOC : NIC :
kurang dari kebutuhan tubuh Nutritional Status : Food and Fluid Intake Nutrition Management
Kaji adanya alergi makanan
Definisi : Intake nutrisi tidak Kriteria Hasil : Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan
cukup untuk keperluan Adanya peningkatan berat badan sesuai jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
metabolisme tubuh. dengan tujuan Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
Berat badan ideal sesuai dengan tinggi Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan
Batasan karakteristik : badan vitamin C
- Berat badan 20 % atau lebih Mampu mengidentifikasi kebutuhan Berikan substansi gula
di bawah ideal nutrisi Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi
- Dilaporkan adanya intake Tidak ada tanda tanda malnutrisi serat untuk mencegah konstipasi
makanan yang kurang dari Tidak terjadi penurunan berat badan yang Berikan makanan yang terpilih (sudah
RDA (Recomended Daily berarti dikonsultasikan dengan ahli gizi)
Allowance) Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan
- Membran mukosa dan makanan harian.
konjungtiva pucat Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

- Kelemahan otot yang Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi


digunakan untuk Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi
menelan/mengunyah yang dibutuhkan
- Luka, inflamasi pada rongga
mulut Nutrition Monitoring
- Mudah merasa kenyang, BB pasien dalam batas normal
sesaat setelah mengunyah Monitor adanya penurunan berat badan
makanan Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa
- Dilaporkan atau fakta adanya dilakukan
kekurangan makanan Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan
- Dilaporkan adanya perubahan Monitor lingkungan selama makan
sensasi rasa Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama
- Perasaan ketidakmampuan jam makan
untuk mengunyah makanan Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
- Miskonsepsi Monitor turgor kulit
- Kehilangan BB dengan Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah
makanan cukup patah
- Keengganan untuk makan Monitor mual dan muntah
- Kram pada abdomen Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

- Tonus otot jelek kadar Ht


- Nyeri abdominal dengan atau Monitor makanan kesukaan
tanpa patologi Monitor pertumbuhan dan perkembangan
- Kurang berminat terhadap Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan
makanan jaringan konjungtiva
- Pembuluh darah kapiler Monitor kalori dan intake nuntrisi
mulai rapuh Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila
- Diare dan atau steatorrhea lidah dan cavitas oral.
- Kehilangan rambut yang Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet
cukup banyak (rontok)
- Suara usus hiperaktif
- Kurangnya informasi,
misinformasi
Faktor- yang berhubungan :
Ketidakmampuan pemasukan
atau mencerna makanan atau
mengabsorpsi zat-zat gizi
berhubungan dengan faktor
biologis, psikologis atau

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

ekonomi.
6 Intoleransi aktivitas NOC : NIC :
Definisi : Ketidakcukupan energi Energy conservation Energy Management
secara fisiologis maupun Self Care : ADLs Observasi adanya pembatasan klien dalam
psikologis untuk meneruskan melakukan aktivitas
atau menyelesaikan aktifitas Kriteria Hasil : Dorong anal untuk mengungkapkan perasaan
yang diminta atau aktifitas sehari Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa terhadap keterbatasan
hari. disertai peningkatan tekanan darah, nadi Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan
dan RR Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat
Batasan karakteristik : Mampu melakukan aktivitas sehari hari Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan
a. melaporkan secara verbal (ADLs) secara mandiri emosi secara berlebihan
adanya kelelahan atau Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas
kelemahan. Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat
b. Respon abnormal dari pasien
tekanan darah atau nadi Activity Therapy
terhadap aktifitas Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik
c. Perubahan EKG yang dalam merencanakan program terapi yang tepat.
menunjukkan aritmia atau Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang
iskemia mampu dilakukan

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

d. Adanya dyspneu atau Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang


ketidaknyamanan saat sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan
beraktivitas. social
Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan
Faktor-faktor yang berhubungan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang
: diinginkan
Tirah Baring atau imobilisasi Bantu untuk mendapatkan alat bantuan aktivitas
Kelemahan menyeluruh seperti kursi roda, krek
Ketidakseimbangan antara Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang disukai
suplei oksigen dengan Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu
kebutuhan luang
Gaya hidup yang Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi
dipertahankan. kekurangan dalam beraktivitas
Sediakan penguatan positif bagi yang aktif
beraktivitas
Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri
dan penguatan
Monitor respon fisik, emoi, social dan spiritual

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

6 Perfusi jaringan tidak efektif NOC : NIC :


v Circulation status Peripheral Sensation Management (Manajemen
Definisi : Penurunan pemberian v Tissue Prefusion : cerebral sensasi perifer)
oksigen dalam kegagalan v Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka
memberi makan jaringan pada terhadap panas/dingin/tajam/tumpul
tingkat kapiler Kriteria Hasil : v Monitor adanya paretese
a. mendemonstrasikan status sirkulasi yang v Instruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit
Batasan karakteristik : ditandai dengan : jika ada lsi atau laserasi
Renal v Tekanan systole dandiastole dalam v Gunakan sarung tangan untuk proteksi
- Perubahan tekanan darah di rentang yang diharapkan v Batasi gerakan pada kepala, leher dan punggung
luar batas parameter v Tidak ada ortostatikhipertensi v Monitor kemampuan BAB
- Hematuria v Tidak ada tanda tanda peningkatan v Kolaborasi pemberian analgetik
- Oliguri/anuria tekanan intrakranial (tidak lebih dari v Monitor adanya tromboplebitis
- Elevasi/penurunan 15 mmHg) v Diskusikan menganai penyebab perubahan sensasi
BUN/rasio kreatinin b. mendemonstrasikan kemampuan
Gastro Intestinal kognitif yang ditandai dengan:
- Secara usus hipoaktif atau v berkomunikasi dengan jelas dan
tidak ada sesuai dengan kemampuan
- Nausea v menunjukkan perhatian, konsentrasi

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

- Distensi abdomen dan orientasi


- Nyeri abdomen atau tidak v memproses informasi
terasa lunak (tenderness) v membuat keputusan dengan benar
Peripheral c. menunjukkan fungsi sensori motori
- Edema cranial yang utuh : tingkat kesadaran
- Tanda Homan positif membaik, tidak ada gerakan gerakan
- Perubahan karakteristik kulit involunte
(rambut, kuku, kelembaban)
- Denyut nadi lemah atau
tidak ada
- Perubahan suhu kulit
- Perubahan sensasi
- Kebiru-biruan
- Perubahan tekanan darah di
ekstremitas
- Terlambat sembuh
- Pulsasi arterial berkurang
- Warna kulit pucat pada
elevasi, warna tidak kembali

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

pada penurunan kaki


Cerebral
- Abnormalitas bicara
- Kelemahan ekstremitas atau
paralis
- Perubahan status mental
- Perubahan pada respon
motorik
- Perubahan reaksi pupil
- Kesulitan untuk menelan
- Perubahan kebiasaan
Kardiopulmonar
- Perubahan frekuensi
respirasi di luar batas
parameter
- Penggunaan otot pernafasan
tambahan
- Capillary refill > 3 detik
- Abnormal gas darah arteri

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

- Perasaan Impending
Doom (Takdir terancam)
- Bronkospasme
- Dyspnea
- Aritmia
- Hidung kemerahan
- Retraksi dada
- Nyeri dada

Faktor yang berhubungan :


- Hipovolemia
- Hipervolemia
- Aliran arteri terputus
- Exchange problems
- Aliran vena terputus
- Hipoventilasi
- Reduksi mekanik pada vena
dan atau aliran darah arteri
- Kerusakan transport oksigen

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

melalui alveolar dan atau


membran kapiler
- Tidak sebanding antara
ventilasi dengan aliran darah
- Keracunan enzim
- Perubahan afinitas/ikatan O2
dengan Hb
- Penurunan konsentrasi Hb
dalam darah

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

Yuheldi Cendra
1641314011
Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1
Fakultas Keperawatan UNAND 2016

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Vol 3. Jakarta:
EGC

Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River

Long, C. Barbara. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Ikatan Alumni Pendidikan


Padjajaran Bandung

Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 Edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius

Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second


Edition. New Jersey: Upper Saddle River

Nanda. 2005. Nursing Diagnoses Definition dan Classification. Philadelpia

Price, A. Sylvia dan Lorraine M. Wilson. 1995. Patofisiologi, Edisi IV, Jakarta : EGC

Rab, T. 2008. Agenda Gawat Darurat (Critical Care). Bandung: Penerbit PT Alumni

Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika

Tjokronegoro, Arjatmo, Prof. dr. Ph.D, Hendra Utama. 1999. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam, Edisi III. Jakarta : EGC

Udjianti, WJ. 2010. Keperawatan Kardiovaskuler. Jakarta: Salemba Medika

Yuheldi Cendra
1641314011