Anda di halaman 1dari 10

Corporate Governance

Teori yang Mendasari Good Corporate Governance, Alasan Diperlukannya


Good Corporate Governance, dan Manfaat Good Corporate Governance

Oleh :

Kelompok 2

I Gusti Ayu Agung Dhyani Dewi (1415351216)

Ni Kadek Ari Adnyani (1515351045)

I Gusti Ayu Dwi Cahya Dewanti (1515351046)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI EKSTENSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2017
1.1 Teori yang mendasari Good Corporate Governance

Perusahaan terdiri dari serangkaian kontrak (the nexus of contract) antara berbagai
pihak seperti konsumen, pekerja, manajer, dan pemasok, pemerintah, regulator, investor,
pemilik, analisis, akuntan, auditor, dewan komisaris.Hal ini menunjukkan adanya hubungan
yang sangat komplek dalam suatu perusahaan. Hak para pihak yang berkepentingan
dituangkan dalam undang-undang, kebijakan perusahaan, dan juga kontrak antara para
individu baik secara eksplisit maupun implisit.

Penerapan Corporate Governance membantu menyelaraskan dan menyatukan


berbagai pihak yang memiliki kepentingan berbeda terhadap perusahaan, agar bersama-sama
berkolaborasi untuk mencapai tujuan perusahaan.

1.1.1 Teori Entitas (Entity Theory)

Teori entitas ini memandang pemegang saham (baik pemegang saham biasa dan
istimewa) sebagai pemilik (proprietor) dan menjadi pusat perhatian akuntansi. Teori entitas
mengamsumsikan terjadinya pemisahan antara kepentingan pribadi pemilik ekuitas
(pemegang saham) dengan entitas bisnisnya (perusahaan). Kreditor dianggap sebagai pihak
luar. Pemegang saham tetap menjadi mitra manajemen.

Aset menjadi milik pribadi pemegang saham dan pemegang saham menanggung
segala risiko yang berkaitan dengan utang. Dengan sudut padang ini, aset bersih menjadi
perhatian utama bagi pemegang saham.sesuai dengan sifat tersebut, persamaan akuntansi dari
teori entitas akan berbentuk sebagai berikut:

Aset Kewajiban = Ekuitas

Entitas Theory meelahirkan agency theory dan stewardship theory, dimana kedua teori ini
sangat berperan dan paling banyak dirujuk untuk pembentukkan struktur Corporate
Governance.

1.1.2 Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori keagenan menekankan pentingnya pemilik perusahaan (pemegang saham)


menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada tenaga-tenaga profesional yang lebih
memahami menjalankan bisnis sehari-hari. Semakin besar perusahaan maka akan terjadi
pemisahan antara pemilik dan pengendali perusahaan. Pemegang saham bertindak sebagai
pemilik dan manajer merupakan pengendali perusahaan. Pemisahan peran ini terjadi karena
pemegang saham tidak dapat lagi mengikuti kegiatan perusahaan setiap hari. Banyak
pemegang saham yang bertindak pasif artinya tidak ikut serta dalam kegiatan operasional
perusahaan, oleh karena itu manajer diharapkan dapat bertindak demi kepentingan pemegang
saham. Namun, dalam kenyataannya manajer juga memiliki keinginan sendiri dan bertindak
untuk memenuhi keinginan pribadinya. Perbedaan kepentingan ini dikenal dengan nama
konflik keagenan.

Implikasi teori keagenan terhadap konsep Corporate Governance adanya pemberian


insentif dan melakukan monitoring (pengawasan). Mekanisme insentif mendorong para
manajer bertindak untuk mendorong manajer dalam memaksimalkan kesejahteraan pemegang
saham berupa insentif seperti gaji, dan insentif berbasis kinerja, seperti pemberian saham
perusahaan dan kebijakan kompensasi lainnya.

Monitoring yang dilakukan oleh pihak independen memerlukan biaya pengawasan


(monitoring cost) berupa biaya audit, yang merupakan salah satu dari agency cost (jensen dan
meckling, 1976). Biaya pengawasan (monitoring cost) biaya untuk mengawasi agen apakah
agen telah bertindak sesuai kepentingan prinsipal dengan melaporkan secara akurat semua
aktivitas yang telah ditugaskan kepada manajer. Uraian tersebut diatas memberi makna
bahwa auditor merupakan pihak yang dianggap dapat menjembati kepentingan pihak
pemegang saham (principal) dengan pihak manajer (agent) dalam mengelola keuangan
perusahaan.

1.1.3 Teori Penatalayanan (Stewardship Theory)

Teori penatalayanan mengasumsikan bahwa manajer adalah pelayan yang baik bagi
perusahaan. Teori ini dibangun di atas asumsi filosofis mengenai sifat manusia yakni manusia
pada hakekatnya dapat dipercaya, mampu bertindak dengan penuh tanggung jawab, memiliki
integritas dan kejujuran terhadap pihak lain.

Manajer dapat dipercaya dan bekerja dengan baik dan rajin untuk mencapai tingkat
laba perusahaan dan tingkat pengembalian yang tinggi buat pemegang saham. Manajer
sebagai pihak yang melayani perusahaan akan bekerja sama dan sangat dekat hubungannya
dengan pemegang saham untuk mencapai tujuan bersama.

Implikasi stewardship theory terhadap Corporate Governance yaitu salah satunya


adalah terbitnya Undang-Undang Perseroan Terbatas di Indonesia yang didalamnya
menetapkan kewajiban bagi setiap anggota direksi dan komisaris untuk denga itikad baik dan
penuh tanggung jawab menjalankan tugas untuk kepentingan dab usaha perseroan (pasal 97
dan 114 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas).

1.1.4 Teori Ekuitas Residual (Residual equity theory)

Tujuan dari pendekatan ekuitas residual adalah memberikan informasi yang lebih baik
kepada pemegang saham biasa untuk pengambilan keputusan investasi. Konsep entitas ini
memandang pemegang saham biasa (residual equity) sebagai pusat perhatian akuntansi.
Pendekatan ini sebenarnya tidak berbeda dengan sudut pandang pemilik (poprietary concept)
dalam teori entitas yang telah dijelaskan di atas. Hanya dalam pendekatan ini, yang dimaksud
pemilik adalah pemegang saham biasa. Pemegang saham istimewa dianggap sebagai pihak
luar sehingga dividen yang dibagikan untuk mereka dipandang sebagai biaya.

Persamaan akuntansi untuk merefleksi konsep ini adalah sebagai berikut:

Aset Ekuitas spesifik = Ekuitas residual

Dalam persamaan tersebut, ekuitas spesifik adalah untung, kewajiban-kewajiban


kepada para kreditur dan ekuitas pemegang saham istimewa. Istilah residual dalam residual
equity berarti sisa, dimana hal ini mengindikasikan bahwa pemegang saham biasa (common
stockholders) memiliki hak atas pendapatan maupun aktiva setelah pemegang saham yang
lain dipenuhi haknya. Pemegang saham biasa memiliki hak terhadap pendapatan setelah
kreditur (bondholders) memperoleh bunga dan pemegang saham istimewa (preferred
stockholders) meneriman pembayaran dividen. Pada saat likuidasi, pemegang saham biasa
baru dapat ikut serta dalam pembagian aktiva apabila equity holders lainnya telah
memperoleh hak mereka.

Teori ini dilandasi oleh pemikiran bahwa pemegang saham biasa adalah pihak yang
akhirnya menanggung risiko ketidakpastian masa datang tetapi juga menikmati segala
kembalian setelah pihak lain terpenuhi haknya. Berdasarkan asumsi going concern, nilai
sekarang dari saham biasa terutama sangat bergantung pada pengharapan akan dividen di
kemudian hari. Dividen di masa depan ini akan bergantung pula pada pengharapan akan
penerimaan-penerimaan dikurangi pembayaran-pembayaran kewajiban yang didasarkan pada
kontrak-kontrak pembayaran kepada pemegang saham tertentu dan pengeluaran untuk
melakukan reinvestasi.
1.1.5 Teori Dana (Fund Theory)

Teori dana berkaitan dengan badan-badan pemerintah dan organisasi nirlaba. Dana
(fund) mempunyai dua pengertian; (1) dana dapat diartikan sebagai kas (uang), aset likuid,
atau sumber keuangan yang dapat digunakan untuk mendanai suatu kegiatan, program, atau
projek dalam rangka mencapai tujuan tertentu; (2) dana juga dapt berarti kesatuan, wadah,
atau pusat yang dapat berupa kegiatan, program, atau projek yang didanai dengan aset likuid
tersebut. Jadi, dana dapat berarti sebagai kesatuan akuntansi (accounting entity). Konsep ini
memandang bahwa kegiatan, program, projek, atau unit kegiatan lainnya sebagai kesatuan
atau entitas yang berdiri sendiri.

Sumber keuangan untuk pelaksanaan kegiatan yang dilaporkan sebagai dana yang
berdiri sendiri terpisah dengan dana yang lain. Untuk itu, diperlukan seperangkat sistem
akuntansi yang dapat menghasilkan data akuntansi dan laporan keuangan untuk pelaporan
kesatuan dana tersebut. Teori ekuitas dana dapat dinyatakan dalam persamaan akuntansi
berikut :

Aset = pembatasan penggunaan aset

1.1.6 Teori Pemangku Kepentingan (Stakeholder Theory)

Teori ini mengartikan suatu organisasi sebagai kesepakatan multilateral antara


perusahaan dan berbagai stakeholdernya. Ada hubungan perusahaan dengan pihak internal
(pegawai, manajer, pemilik) ada juga hubungan perusahaan dengan pihak di luar perusahaan
(pelanggan, pemasok, pesaing, masyarakat).

Artinya, stakeholder theory menjelaskan bahwa direktur dan manajer perusahaan


harus dapat memenuhi harapan semua stakeholder bukan hanya pemilik perusahaan saja.
Perusahaan yang menciptakan hubungan positif dengan seluruh stakeholder disebut
perusahaan yang dapat menciptakan keberlanjutan (sustainable) kesejahteraan ekonomi.
Semakin besar suatu perusahaan semakin besar tanggung jawannya bagi masyarakat, bukan
hanya sekedar memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham. Implikasi teori ini untuk
kegiatan Corporate Governance adalah perusahaan mendirikan unit yang khusus menangani
komunikasi dengan stakeholder yang dikenal dengan nama departemen komunikasi
perusahaan atau public affairs departement.

1.1.7 Teori kontrak ( Contracting Theory )


Teori ini menjelaskan hubungan kontraktual yang terjadi di masyarakat termasuk
hubungan antara karyawan dengan manajer, perusahaan dengan pemasok, bank dengan
nasabah, pemegang polis dengan perusahaan asuransi, dan pemilik saham dengan
manajemen.

Hubungan tersebut berpotensi memicu konflik kepentingan sehingga kontrak harus


dirancang secara tepat dan sesuai untuk memastikan semua pihak memperoleh manfaat.
Semua pihak yang terlibat dalam kontrak harus memiliki kontrak tertulis atau lisan yang
memberikan manfaat saling mengguntungkan satu sama lain.

Ekonomi modern disatukan oleh kontrak yang tidak terhitung banyakny, dan teori
kontrak yang diciptakan oleh Hart dan Holmstrom pemenang hadiah nobel di bidang
ekonomi tahun 2016, membuat kita memahami manfaat kontrak dalam kehidupan nyata dan
juga mengerti apa potensi kerugian saat kontrak disusun.

Bagus tidaknya kinerja perekonomian sebuah negara sangat bergantung pada kinerja
di sektor mikro yang dipengaruhi oleh bagaimana komitmen para pelaku ekonomi sebagai
karyawan, majikan, pimpinan, konsumen, pemasok, dan lainnya melakukan yang terbaik.
Setiap pelaku ekonomi secara lahirlah memiliki sifat homo economius (kerakusan ekonomi).
Setiap pelaku memiliki prinsip ekonomi, yaitu meraih untung sebesar-besarnya dengan biaya
(pengorbanan) sekecil-kecilnya. Akan tetapi, hasrat para pelaku ini harus diatur agar tidak
untung sendiri dan merugikan yang lain. Kesepakatan yang terutang dalam kontrak itu
diasumsikan memiliki ikatan hukum atau kewajiban moral untuk dipenuhi, karena d ibaik
kesepakatan itu, ada manfaat yang akan diraih alias ada insentif untuk mendorong orang
bersepakat agar saling menguntungkan. Kondisi itu yang melatarbelakangi pentingnya teori
kontrak dan insentif yang ditawarkan Hart dan Holmstrom.

Menggunakan model dasar prinsipal-agen, kontrak harus menghubungkan bayaran


agen dengan informasi yang terkait performa, misalnya gaji CEO berdasarkan kinerja.
Menurut Hart dan Holmstrom dalam Simon (2016), seorang karyawan bisa memiliki
komitmen tinggi dengan adanya kepastian karier dan promosi jabatan. Jika hal ini tidak jelas,
maka akan ada kinerja yang buruk. Oleh karena itu, Hart dan Holmstrom menyatakan, sistem
kerja, lewat kontrak, harus juga mengutamakan kenyamanan, kepastian kerja dengan segala
imbalan dan kariernya. Hart dan Holmstrom mengingatkan, dalam perancangan kontrak kerja
ini, juga harus diperhatikan bahwa uang bukan segalanya. Kontrak yang memperhatikan
aspirasi karyawan amanat menentukan sukses tidaknya sebuah perusahaan. Implikasi teori di
bagi corporate governance adanya kebijakan remunerasi bagi eksekutif (OJK, 2014).

1.1.8 Teori Biaya Transaksi (Cost Transaction)

Ada dua asumsi utama dalam teori biaya transaksi, yaitu rasionalitas idividu bersifat terbatas
(bounded rationality), dan individu memiliki sifat oportunisme (Wiliamson, 1979).

Rasionalitas individu dikatakan terbatas oleh Herbert A. Simon pemenang hadiah


nobel Ekonomi tahun 1978, karena pada dasarnya seorang individu tidak akan pernah mampu
memiliki informasi yang lengkap tentang kejadian di masa yang akan datang. Dengan kata
lain, seseorang secara alamiah tidak akan mampu memprediksi dengan sempurna kejadian di
masa depan. Akibat keterbatasan rasionalitas, menyebabkan individu tidak akan pernah bisa
melaksanakan negosiasi dan kontrak secara sempurna terhadap kejadian-kejadian di masa
depan. Dengan demikian seluruh kontrak yang dilakukan individu dalam kegiatanya sehari-
hari selalu bersifat tidak sempurna (incomplete contract). Agar kontrak dilaksanakan dengan
baik maka diperlukan biaya atau pengawasan.

Sifat oportunisme individu juga mempengaruhi kontrak terutama sebelum terjadi


kontrak dan sesudah terjadi kontrak. Sifat oportunisme yang muncul sebelum kontrak disebut
perilaku menghindar risiko (adverse selection) dan sifat oportunisme yang muncul setelah
kontrak disebut perilaku menyimpang secara etis (moral hazard). Keduanya muncul karena
adanya asimetri informasi.

Implikasi teori ini untuk mengatasi keterbatasan rasionalitas dan asimetri informasi
yang dapat menimbulkan perilaku adverse selection dan moral hazard adalah mengadakan
biaya transaksi.

1.2 Alasan diperlukan Good Corporate Governance


1. Mendorong tercapainya kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan yang didasarkan
pada asas transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta kesetaraan dan
kewajaran.
2. Mendorong pemberdayaan fungsi dan kemandirian masing-masing organ perusahaan,
yaitu Dewan Komisaris, Direksi dan Rapat Umum Pemegang Saham.
3. Mendorong pemegang saham, anggota Dewan Komisaris dan anggota Direksi agar dalam
membuat keputusan dan menjalankan tindakannya dilandasi oleh nilai moral yang tinggi
dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
4. Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap
masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar perusahaan.
5. Mengoptimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham dengan tetap memperhatikan
pemangku kepentingan lainnya.
6. Meningkatkan daya saing perusahaan secara nasional maupun internasional, sehingga
meningkatkan kepercayaan pasar yang dapat mendorong arus investasi dan pertumbuhan
ekonomi nasional yang berkesinambungan.

1.3 Tujuan dan Manfaat Good Corporate Governance

1.3.1 Tujuan Pelaksanaan Good Corporate Governance

Menurut Siswanto Sutojo dalam E. John Aldridge (2005:5-6), Good Corporate Governance
mempunyai lima macam tujuan utama, yaitu :

a. Melindungi hak dan kepentingan pemegang saham.


b. Melindungi hak dan kepentingan para anggota stakeholders non-pemegang saham.
c. Meningkatkan nilai perusahaan dan para pemegang saham.
d. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja Dewan Pengurus atau Board of
Directors dan manajemen perusahaan, dan
e. Meningkatkan mutu hubungan Board of Directors dengan manajemen senior
perusahaan.

1.3.2 Manfaat Pelaksanaan Good Corporate Governance

Hon Justice Owen dalam laporan hasil analisis HIH Insurance Company Ltd menyatakan:
Manfaat optimal good corporate governance tidak sama dari satu perusahaan ke perusahaan
yang lain, bahkan pada perusahaan-perusahaan publik sekalipun. Karena perbedaan faktor-
faktor intern perusahaan, termasuk riwayat hidup perusahaan, jenis usaha bisnis, jenis risiko
bisnis, struktur permodalan dan manajemennya. Manfaat yang dapat diperoleh secara optimal
oleh satu perusahaan belum tentu dapat diperoleh secara penuh oleh perusahaan lain.
Dengan melaksanakan Good Corporate Governance, menurut Forum of Corporate
Governance in Indonesia (FCGI) (2001;4) ada beberapa manfaat yang diperoleh, antara lain :

1. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan


yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan, serta lebih
meningkatkan pelayanan kepada stakeholder.
2. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah dan tidak rigid
(karena faktor kepercayaan) yang pada akhirnya akan meningkatkan corporate value.
3. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
4. Pemegang saham akan puas dengan kinerja perusahaan sekaligus akan meningkatkan
shareholder value dan deviden.

Menurut (Hery dalam Tadikapury, 2010) ada lima manfaat yang dapat diperoleh perusahaan
yang menerapkan Good Corporate Governance yaitu :

1. GCG secara tidak langsung akan dapat mendorong pemanfaatan sumber daya
perusahaan ke arah yang lebih efektif dan efisien, yang pada gilirannya akan turut
membantu terciptanya pertumbuhan atau perkembangan ekonomi nasional.
2. GCG dapat membantu perusahaan dan perekonomian nasional, dalam hal ini menarik
modal investor dengan biaya yang lebih rendah melalui perbaikan kepercayaan
investor dan kreditur domestik maupun internasional.
3. Membantu pengelolaan perusahaan dalam memastikan/menjamin bahwa perusahaan
telah taat pada ketentuan, hukum, dan peraturan.
4. Membangun manajemen dan Corporate Board dalam pemantauan penggunaan aset
perusahaan.
5. Mengurangi korupsi.
DAFTAR PUSTAKA

I Gusti Ayu Made Asri Dwija Putri, dan I Gusti Ketut Agung Ulupui.2017.Pengantar
Corporate Governance.Denpasar: CV.Sastra Utama.

http://fekool.blogspot.co.id/2016/05/gcg-good-corporate-governace.html (diakses pada


tanggal 24 September 2017)