Anda di halaman 1dari 12

LEMBAR KERJA MAHASISWA

SISTEM SARAF 1 DAN 2

Untuk memenuhi Tugas Matakuliah Fisiologi Hewan dan Manusia


Yang dibina Oleh Bpk. Dr. Abdul Gofur,M.Si

Disusun Oleh:
Kelompok 2/Off B 2016
Amalia Nurul A. 160341606078
Firda Widianti 160341606030
Lailatul Maghfiroh 160341606105
Lingga Mofa 160341606034
Rike Dwi W. 160341606067
Rosi Cahyaning 160341606081

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
September 2017
SISTEM SARAF 1

1 a. Apa yang dimaksud dengan Jala saraf?


Jawaban :
Jala Saraf ialah susunan organisasi saraf yang menyerupai jala. Jala saraf dapat
ditemukan pada hewan karang dan ubur-ubur. Susunan saraf yang terdapat pada bagian
atas tubuh ubur-ubur berfungsi untuk mengkoordinasikan gerakan, sedangkan jala saraf
yang terdapat pada tentakel berfungsi sebagai reseptor sensoris.
b. Apa hubungan jala saraf dengan saraf difus?
Jawaban:
Sistem saraf difus merupakan sel-sel yang masih tersebar dan saling berhubungan satu
sama lain dan menyerupai jala. Sistem saraf difus juga disebut dengan saraf jala.
Hubungan keduanya adalah untuk organisasi sel saraf yang saling berhubungan satu
sama lain, dan berfungsi sebagai reseptorsensori dan dimiliki oleh hewan-hewan tingkat
rendah.
c. Bagaimana respons hewan yang memiliki jala saraf ketika menanggapi stimulus?
Jawaban:
Pada Coelenterata akuatik seperti Hydra, ubur-ubur dan Anemon laut pada Mesoglea
yang terletak diantara epidermis (ektoderm) dan gastrodermis (endoderm) terdapat
sistem saraf diffus karena sel-sel saraf masih tersebar saling berhubungan satu sama lain
dan menyerupai jala yang disebut saraf jala. Sistem saraf ini terdiri atas sel-sel saraf
berkutub satu, berkutub dua, dan berkutub banyak yang membentuk sistem yang saling
berhubungan seperti jala. Meskipun demikian impuls dari satu sel ke sel yang lainnya
lewat melalui sinaps. Saraf jala sudah merupakan sistem sinaps tapi tidak mempunyai
ciri-ciri sinaps. Sinaps adalah sambungan antara neuron yang satu dangan neuron yang
lain. Arti dari sinaps adalah hubungan. Pada saat impuls melintasi sinaps, impuls dapat
terus dijalarkan atau dihambat. Cara kerja sinaps yaitu:
1. Ujung-ujung dendrite mempunyai bentuk tertentu menyerupai bongkol dan
disebut bongkol sinaptik. Pada bongkol sinaps dengan mikroskop electron dapat
dilihat adanya mitokondria dan gelembung.
2. Gelembung-gelembung yang disebut gelembung sinaptik tersebut diduga berisi
zat kimia transmitter yang memegang peranan penting dalam merambatkan
impuls ke sel saraf lain. Diantara ujung bongkol sinaps dengan membrane sel
saraf yang berhubungan terdapat celah sinaps yang dibatasi oleh membrane
presinaptik dan membrane possinaptik. Lebar celah tersebut kira-kira 20 nm.
3. Jika impuls sampai pada bongkol sinaptik menyebabkan gelembung-gelembung
sinaptik yang mendekati membrane presinaptik, kemudian menempel pada
membran presinaptik dan melepaskan isinya yaitu zat transmitter.
4. Zat kimia transmitter ini berdifusi menyebrangi celah sinaps menuju membrane
prosinaptik dan menyebabkan terjadinya depolarisasi pada membrane prosinaptik
dan terjadilah potensial kerja. Dengan demikian impuls menyeberangi celah
sinaps dengan transmisi kimia kemudian dilanjutkan pada sel saraf dengan cara
rambatan potensial kerja.
d. Jelaskan perkembangan sistem saraf dari hewan radial simetri,bilateral simetri
sampai bilateral simetri lebih maju
Jawaban:
Pada radial seimetri sel sel resptor konduktor tidak membentuk jalur tunggal, dan sling
terjalin membentuk suatu jala saraf yang menyebar keseluruh tubuh, juga belum
ditemukannya pusat pengontrol.sel sel efektornya juga hanya bisa menghasilkan reaksi
yang sangat terbatas. Pada Bilateral simetri sederhana, sistem sarafnya lebih terpusat
oleh terbentuknya korda saraf yang longitudinal.

2. a Gambarkan sel saraf dalam lingkungan internal

Jawaban:

c. Apa yang dimaksud dengan potensial membran? Mengapa terjadi potensial


membran?
Jawaban:
Potensial membran (bahasa Inggris: membrane potential, ) adalah beda potensial
elektrik antara dinding sebelah luar dan sebelah dalam dari suatu membran sel yang
berkisar dari sekitar -50 hingga -200 milivolt (tanda minus menunjukkan bahwa di dalam
sel bersifat negatif dibandingkan dengan di luarnya). Potensial membran merupakan
hasil dari perbedaan konsentrasi potasium dan sodium antar membran sel yang dipelihara
dengan asupan ion. Sebagian besar pengeluaran energi tubuh saat beristirahat
dikhususkan untuk mempertahankan potensial membran, yang sangat penting untuk
transmisi impuls saraf, kontraksi otot, fungsi jantung, dan transportasi nutrisi dan
metabolit ke dalam dan keluar sel. Perubahan lingkungan dapat memengaruhi potensial
membran dan sel itu sendiri, sebagai contohnya, depolarisasi dari membran plasma
diduga memicu apoptosis (kematian sel yang terprogram).

d.
Ion Dalam CES Dalam CIS
Na 440 mM 50mM

CI 560 mM 40-50 mM

Tabel di atas adalah sebaran ion dalam cairan tubuh cumi-cumi, analisislah dan
bualah kesimpulan dari tabel tersebut
Jawaban:
Berdasarkan tabel yang telah ditayangkan dapat diketahui bahwa ion K+ selalu berada
didalam cairan tubuh.ion K+ mengalami kebocoran melalui pori K+ ketika sel saraf
dalam keadaan istirahat dan untuk memelihara agar konsentrasi ion K+tetap tinggi dalam
sel, maka ion K+secara aktif harus dipompa kedalam sel saat sel beristirahat sehingga
hasilnya adalah potensial istirahat pada neuron hampir dalam keadaan equilibrium untuk
ion K+.Sedangkan ion Na+ secara aktif dipompa keluar dan dijaga agar tetap berada
diluar sel

3 a. Apa yang dimaksud dengan 1) stimulus bawah ambang (subminimal/subliminal),


2)Stimulus Ambang, 3) stimulus atas ambang (supraminimal/supraliminal),4)
stimulus maksimal.
Jawaban:
(1) Rangsangan subliminal adalah rangsangan yang diberikan tetapi belum ada satu
motor unit yang bereaksi terhadap rangsangan tersebut dalam bentuk potensial aksi.
Dalam praktikum kami, besar rangsangan subliminalnya adalah < 10 volt. Dimana besar
kontraksinya 0. Ini menunjukkan bahwa katak yang kami uji cobakan belum mengalami
potensial aksi sehingga belum ada rangsangan yang mengalir. Rangsangan subliminal
adalah rangsangan yang diberikan tetapi belum ada satu motor unit yang bereaksi
terhadap rangsangan tersebut dalam bentuk potensial aksi. Dalam praktikum kami, besar
rangsangan subliminalnya adalah < 10 volt. Dimana besar kontraksinya 0. Ini
menunjukkan bahwa katak yang kami uji cobakan belum mengalami potensial aksi
sehingga belum ada rangsangan yang mengalir.

(2) Rangsangan liminal adalah rangsangan yang diberikan dan mulai terjadi reaksi dari
satu motor unit yang paling peka atau dalam kata lain terjadi kontraksi pertama kali.
Dalam praktikum kami besar rangsangan liminalnya adalah 10 volt dengan besar
kontraksi 0,8 cm. Ini adalah saat pertama kali katak memberikan respon kepada
rangsangan yang kami berikan, yang menandakan bahwa satu saraf motorik unit pada
katak itu telah berkontraksi.

(3) Rangsangan supraliminal adalah rangsangan yang menyebabkan terjadinya kontraksi


yang lebih besar daripada liminal. Dalam praktikum kami besar rangsangan
supraliminalnya adalah 13 volt dengan kontraksi 1 cm. pada katak yang kami uji
cobakan, setelah satu unit saraf motorik katak tersebut berkontraksi, kemudian kami
memberikan rangsangan berikutnya saraf-saraf motorik yang lain juga berkontraksi
sehingga hasil kontraksinya pada kertas kimograf mengalami kenaikan.

(4) Rangsangan submaksimal adalah rangsangan yang diberikan sehingga terjadi


kontraksi yang besarnya mendekati nilai maksimalnya. Dari hasil pratikum kami,
didapatkan rangsangan sebesar 20 volt dengan kontraksi 2,2 cm.

b. Apa yang disebut depolarisasi, repolarisasi dan hiperpolarisasi?


Jawaban:
Depolarisasi adalah peristiwa berkurangnya perbedaan polaritas pada membran sel
antara daerah intrasel dan ekstrasel. perbedaan muatan listrik normalnya kan -60 sampai
-80. yang dimaksud depolarisasi yaitu kenegatifannya berkurang. misal dai -60 jadi -20
atau bahkan positif. Depolarisasi terjadi saat ada ion positif yg masuk ke sel (misal Na+).
Repolarisasi adalah peristiwa yang terjadi setelah perambatan impuls selesai.

Hiperpolarisasi : peristiwa meningkatnya perbedaan polaritas pada membran sel antara


daerah intrasel dan ekstrasel. Ini kebalikan yg depolarisasi. perbedaan muatan listrik
menjadi semakin besar (negatif). terjadi saat kanal ion K+ terbuka dan ion K keluar. atau
dapat juga terjadi saat ion Cl- masuk ke dalam sel.

c.Gambar diagram yang menunjukkan hubungan antara intensitas stimulus


dengan potensial bertingkat, potensial ambang, potensial aksi, dan potensial
istirahat !
Jawaban:
Semakin kuat stimulusnya, maka potensial aksinya semakin besar. Semakin jauh
rambatan stimulus dari titik pusat, maka semakin lemah potensial bertingkatnya.
Potensial ambang: -55mV Potensial istirahat: -70mV polarisasi

Potensial Aksi Saraf


Sinyal saraf dihantarkan melalui potensial aksi yang merupakan perubahan cepat pada
potensial membran. Tiap potensial aksi dimulai dengan perubahan mendadak dari
potensial negatif istirahat normal menjadi potensial membran positif (depolarisasi) dan
kemudian dengan kecepatan yang hampir sama kembali ke potensial negatif
(repolarisasi). Untuk menghantarkan sinyal saraf, potensial aksi bergerak di sepanjang
serat saraf sampai tiba di ujung saraf.
Potensial aksi merupakan manifestasi elektris antara dalam dan luar membran sel.
Perubahan potensial elektris tersebut disebabkan perubahan konsentrasi elektrolit di
dalam maupun di luar sel. Transmembran potensial pada akson antara di dalam dan luar
sel pada keadaan istirahat adalah -70 mV sampai -90 mV, yang menunjukkan potensial
elektris di dalam sel lebih negatif dibandingkan di luar sel. Elektrolit utama yang
berperan terhadap perbedaan potensial antara dalam dan luar sel membran eksitabel
adalah natrium, kalium, dan chlor.
Pada keadaan istirahat, ion natrium (sodium) jauh lebih banyak di luar daripada di dalam
sel. Sebaliknya ion kalium (potassium) jauh lebih banyak di dalam daripada di luar sel.
Rangsangan adekuat pada sel eksitabel akan memberi jawaban berupa suatu potensial
aksi. Potensial aksi yang terjadi akan mengikuti hukum all or none dan akan
dirambatkan ke semua arah (propagation), yang dapat direkam dengan osiloskop.
Rangsangan yang tidak mencapai nilai ambang/treshold hanya menimbulkan suatu
potensial lokal yang tidak akan disebarkan dan mengikuti hukum sumasi.
Rangsangan adekuat atau rangsangan yang mencapai nilai ambang, baik yang besar
maupun yang kecil, akan menimbulkan potensial aksi sama besar. Artinya, potensial aksi
tidak dapat bertambah besar walaupun rangsangan diperbesar.
Potensial aksi atau disebut impuls dirambatkan sepanjang membran sel. Oleh karena
rangsangan yang adekuat maka permeabilitas membran terhadap ion natrium meningkat
sehingga masuk ke dalam (influx), oleh karena natrium membawa muatan positif maka
di dalam sel menjadi lebih positif dibanding di luar sel. Fase ini disebut depolarisasi.
Selanjutnya ion kalium keluar sehingga di luar sel kembali lebih positif dan keadaan ini
disebut fase repolarisasi. Membran sel yang sedang mengalami potensial aksi berarti
dalam keadaan refrakter, apabila dirangsang tidak akan menghasilkan aksi.
Urutan tahap potensial aksi terdiri dari :
Tahap istirahat. Tahap ini adalah tahap potensial membran istirahat sebelum
terjadinya potensial aksi. Membran dikatakan menjadi terpolarisasi selama tahap ini
karena adanya potensial membran negatif yang besar.
Tahap depolarisasi. Pada tahap ini membran tiba-tiba menjadi permeabel terhadap
ion natrium, sehingga banyak ion natrium bermuatan positif mengalir ke dalam akson.
Keadaan polarisasi normal sebesar -90 mV akan hilang dan potensial meningkat dengan
cepat dalam arah positif (keadaan di dalam sel menjadi lebih positif). Pada serat saraf
besar, potensial membran mempengaruhi nilai nol dan menjadi sedikit lebih positif,
namun pada serat yang lebih kecil juga banyak neuron sistem saraf pusat, potensial
hanya mendekati nilai nol dan tidak melampaui sampai keadaan positif.
Tahap repolarisasi. Dalam waktu yang sangat singkat sekali (sekitar satu per
beberapa puluh ribu detik) sesudah membran menjadi sangat permeabel terhadap ion
natrium, saluran natrium mulai menutup dan saluran kalium mulai terbuka lebih daripada
normal. Selanjutnya difusi ion kalium yang berlangsung cepat ke bagian luar akan
membentuk kembali potensial membran istirahat negatif yang normal.
Potensial Istirahat

Bila sebuah serabut sel saraf tidak menghantarkan impuls dikatakan bahwa serabut-
serabut tersebut pada keadaan istirahat. Potensial istirahat atau yang di sebut juga resting
potential suatu membran ialah perbedaan potensial listrik antara muatan negatif di dalam
membran dekat dengan akso plasma (protoplasma saraf), dengan muatan positif di luar
membran di dekat cairan ekstra seluler yang menyelimuti saraf dan prosesus saraf.
Potensial istirahat yang di hasilkan dari perbedaan ion-ion dan muatannya di dalam dan
di luar membran plasma. Terdapat kelebihan sedikit ion positif (kation) di luar membran
plasma suatu sel saraf yang sedang istirahat (terpolarisasi), dan kelebihan sedikit ion
negatif (anion) didalam membran plasma tersebut. Penyebaran muatan yang tidak
seimbang itu, mengakibatkan timbulnya tegangan (voltase) yang disebut potensial
membran. Peristiwa ini terjadi juga pada membran semua sel. Misalnya potensial
bervariasi antara suatu sel dengan sel yang lain, yaitu dari -10 mV sampai -100mV.
Khusus pada kebanyakan sel saraf dan sel otot, besarnya potensial itu sekitar -85mV.
Angka tersebut menunjukkan bahwa dalam membran, 85mV lebih negatif di banding
dengan luarnya. Membran plasma dalam keadaan istrahat (terpolarisasi) hampir selalu
impermeabel bagi ion Na+ (dan juga untuk protein, yang cenderung bermuatan negatif).
Sebaliknya, membran tersebut sangat permiabel untuk ion K+ dan Cl+. Ion Na+ secara
aktif ditransportasikan keluar sehingga di bagian luar sel menumpuklah muatan positif,
sedangkan di bagian dalam menjadi negatif. Meski sebagian ion Na+ itu cenderung
mengalami kebocoran, dan gradien konsentrasi arahnya ke dalam membran, mekanisme
transport aktif pompa natrium terus menerus bekerja memompa ion Na+ keluar lagi
sehingga membran yang istirahat itu tetap terpolarisasi. Ion Cl- bergerak bebas
menembus membran plasma menyertai ion Na+ yang di angkut keluar membran oleh
pompa natrium. Ion K+ juga melintasi membran dengan mudah, tetapi masuk ke dalam
sitoplasma guna membantu menyeimbangkan protein di dalam membran plasma sel saraf
itu. Sejumlah ion K+ juga di angkut secara aktif meintasi membran plasma ke dalam sel
melalui mekanisme pomompaan kalium. Kelebihan muatan negatif dan positif cenderung
untuk menimbulkan tarik menarik satu sama lain, sehingga muatan tersebut ekan berjajar
pada masing-masing sisi membran. Akibatnya terbentuk suatu potensial listrik lintas
membran, persis sepert suatu kapasitor listrik yang bermuatan. Pemompaan Na+
tergantung pada adanya adenosin triphosfat (ATP) untuk mensuplai energi ditambah
dengan suatu pengangkutan di dalam membran guna mengangkut ion Na+. Dalam proses
ini suatu konsentrasi ion K+ yang relatif besar timbul di dalam sel. Suatu enzim
membran yaitu adenosin trifosfatase (ATP-ase), menghidrolisa ATP menjadi ADP
dengan menghasilkan energi yang dihasilkan untuk transport itu. Kemudian kompleks
transport aktif ini dikenal dengan nama sistem Na-K-ATPase. Ketidakseimbangan ion
pada potensial istirahat membran ini dikenalkan oleh sistem Na-K-ATPase; tidak terjadi
penambahan ataupun pengurangan, atau tidak ada arus neto ion pada masing-masing sisi
membran tersebut. Pada sisi yang sama konsentrasi anion sama dengan konsentrasi
kation. Atau secara sederhana impuls saraf merupakan berita yang merambat dan pada
saat itu disebelah dalam serabut saraf bermuatan negatif kira-kira -60 mVolt, sedangkan
di sebuah luar bermuatan positif. Keadaan muatan listrik tersebut diberi nama potensial
istirahat. Dalam keadaan tersebut membran serabut saraf dalam keadaan polarisasi. Jika
sebuah impuls merambat melalui sebuah akson, dalam waktu singkat muatan di sebalah
dalam menjadi positif kira-kira 60 mVolt dan muatan di sebuah luar menjadi negative.
Perubahan tiba-tiba pada potensial istirahat bersamaan dengan impuls disebut potensial
kerja (active potential).

4 . Jelaskan bahwa terjadinya potensial aksi merupakan peristiwa all or none !


Jawaban:
Potensial aksi merupakan fenomena all or none (seluruhnya atau tidak sama
sekali). Maksudnya apabila ada salah satu bagian saja yang dirangsang, maka bagian yang
disebelahnya akan ikut terangsang juga secara terus menerus sampai rangsang itu sampai
di tempat tujuannya, begitu juga sebaliknya apabila tidak ada satu bagian saja yang tidak
dirangsang maka bagain-bagian yang disebelahnya tdak akan terangsang juga, sehingga
disebur dengan fenomena all or none. Tetapi hal ini tidak terjadi pada polarisasi
bertingkat, karena polarisasi ini ditentukan oleh besarnya impuls yang mengenainya.
Apabila impuls yang mengenai tidak memiliki energi yang cukup besar untuk melewati
semua bagian saraf, maka bagian saraf yang lainnya tidak akan ikut terangsang juga,
sehingga tidak berlaku fenomena all or none
SISTEM SARAF 2
1. a. Jelaskan hubungan antara stimulus, aktivitas chanel Na+ dan ion Na+,
peristiwa depolarisasi dan potensial aksi!
Jawaban :
Interaksi antar zat penghantar dengan reseptor dapat bersifat mengeksitasi atau
menghambat. Bila bersifat mengeksitasi, pada awalnya potensial membran di
pascasinaps menurun, terjadi depolarisasi yang selanjutnya menimbulkan impuls di
neuron pascasinaps. Perubahan dari tingkat potensial membrane kearah mendekati
tingkat ambang disebut potensial eksitasi pascasinaps disingkat PEP. PEP selalu kurang
negatif bila dibandingkan dengan tingkat potensial membran, tetapi lebih negatif
dibandingkan dengan tingkat ambang. Meskipun jumlah zat penghantar yang dilepaskan
dari bongkol prasinaps hanya sedikit dan tidak menimbulkan potensial aksi dineuron
pascasinaps, neuron pascasinaps tetap menjadi lebih mudah tereksitasi terhadap impuls
yang datang dari neuron presinaps, sehingga kemungkian untuk menimbulkan impuls
tetap lebih besar. Efek ini disebut fasilitasi. PEP hanya berlangsung selama beberapa
milidetik. Waktu yang dibutuhkan untuk menjalarkan impuls melintasi sinaps adalah 0,5
milidetik. Dan ini disebut kelambatan sinaptik. Kelambatan ini disebabkab karena
diperlukan waktu untuk melepaskan zat penghantar, difusi zat penghantar melintasi
sinaps dan stimulasi neuron pascasinaps sehingga menjadi lebih permeable terhadap ion
Na+ dan pergerakan ion Na+ masuk kedlam neuron sehingga memulai impuls di neuron
pascasinaps. Interaksi antara zat penghantar dengan reseptor yang bersifat mengeksitasi
terjadi karena adanya dua macam mekanisme yang berbeda. Mekanisme yang pertama
memperlihatkan adanya pengikatan zat penghantar oleh protein tertentu di membrane
pascasinaps. Protein tersebut bertindak sebagai reseptor. Gabungan antara zat penhantar
dengan reseptor menyebabkan saluran sodium menjadi permeable terhadap ion Na+,
sehingga mengakibatkan adanya pergerakan ion Na+ masuk kedalam sel saraf. Hal ini
menyebabkan depolarisasi yang mengarah kepada timbulnya impuls.
Pada mekanisme yang kedua zat penghantar bergabung dengan reseptor, interaksi
ini mengaktifksn enzim adenil siklase yang banyak terdapat di membrane pascasinaps.
Adenil siklase ini mempunyai kemampuan untuk mengubah ATP (adenin trifosfat)
menjadi cAMP (adenin monofosfat siklik). cAMP kemudian akan mengaktifkan suatu
enzim yang berpengaruh terhadap penigkatan permeabilitas membrane dari neuron
pascasinaps terhadap ion Na+. Akibatnya ion Na+ akan masuk kedalam sel saraf terjadi
depolarisasi yang mengarah pada timbulnya impuls.

b. Jelaskan hubungan antara chanel K+, ion K+ dan peristiwa repolarisasi!


Jawab :
Potensial aksi merupakan suatu perubahan cepat pada potensial membran yang
menyebar sepanjang serabut saraf. Setiap potensial aksi dimulai dengan perubahan
mendadak dari potensial membran negatif istirahat normal menjadi potensial positif dan
kemudian berakhir dengan kecepatan yang hampir sama dan kembali ke potensial
negatif. Untuk menghantarkan sinyal saraf, potensial aksi bergerak di sepanjang serabut
saraf sampai tiba di ujung serabut.
Salah satu tahapan potensial aksi ini adalah tahapan repolarisasi. Tahapan ini
berlangsung setelah tahap depolarisasi berakhir, dan membran menjadi lebih permeabel
terhadap ion kalium. Berakhirnya tahap depolarisasi adalah ketika kanal ion natrium
tertutup dengan cepat yang diikuti oleh pembukaan kanal ion kalium secara lambat. Saat
kanal ion kalium telah terbuka secara sempurna, sejumlah besar ion kalium akan
berdifusi keluar akson secara cepat. Hal ini menyebabkan potensial membran yang
tadinya menjadi positif karena depolarisasi kembali bersifat negatif, dan ketika sifat
negatif itu telah dicapai, kanal ion kalium akan kembali menutup secara lambat.

2. a. Mengapa potensial bertingkat merambat dalam jarak dekat, sedangkan potensial


aksi merambat jauh tanpa berubah?
Jawaban:
Bagian jaringan yang mudah terangsang yang menghasilkan potensial bertingkat tidak
dibungkus dengan bahan isolasi, sehingga akan terjadi kebocoran ion keluar membran
yang mengakibatkan kekuatan potensial bertingkat menurun. Aliran arus lokal tersebut
akan mati dalam beberapa mm dari tempat asal terjadinya. Hal ini membuat potensial
bertingkat berfungsi hanya sebagai sinyal jarak pendek saja. Pada potensial bertingkat,
besarnya tergantung pada besarnya rangsangan yang memicu timbulnya perubahan
potensial membran. Dalam artian, bawa impuls yang dibawa tidak akan dapat menempuh
jarak sejauh yang dapat ditempuh oleh potensial aksi. Apabila rangsang yang mengenai
semakin kecil, maka jarak yang ditempuh akan semakin pendek pula. Sedangkan pada
potensial aksi apabila ada satu bagian yang dirangsang maka akan terjadi perubahan
muatan (dalam : +, luar : -), hal ini akan menyebabkan perbedaan muatan pada bagian
yang dirangsang dan yang tidak. Perbedaan ini akan menimbulkan arus listrik yang
menimbulkan depolarisasi pada bagian di sebelahnya dan ini akan berlanjut sampai
impus selesai secara keseluruhan, itulah mengapa pada potensial aksi dapat mencapai
jarak yang jauh
b. Apa yang dimaksud dengan konduksi arus lokal?
Jawaban:
Adalah rambatan impuls saraf yang terjadi dari satu titik aktif ke titik inaktif
berikutnya, baik disebelah luar maupun disebelah dalam membran, terjadi pada serabut
saraf yang tidak bermielin, aliran impulsnya terjadi secara lambat.
c. Apa yang dimaksud dengan kondisi loncatan?
Konduksi loncatan merupakan loncatan impuls dari satu nudus ke nodus lainnya,hal
ini yang menyebabkan transmisi impuls pada saraf bermielin lebih cepat dari pada yang
tidak bermiellin
3. a. Jelaskan perambatan infus pada saraf tidak bermielin dan saraf bermielin!
Jawaban:
Perambatan impuls melalui akson tak bermielin
Perambatan impuls berlangsung dengan proses polarisasi dan depolarisasi, merambat
melalui membran. Jika kursor disentuhkan pada salah satu sisi maka akan terjadi proses
pertukaran ion positif ke dalam dan negative ke luar (lalu kembali lagi ke posisi semula
dan disusul oleh ion disebelahnya samai di ujung).

Perambatan impuls melalui akson bermielin


Perambatan impuls melalui akson bermielin disebut perambatan saltatorik
berlangsung lebih cepat sebab pada serat bermielin impuls merambat dengan cara
melompati bagian saraf yang diselubungi mielin.

b. Jelaskan apa yang dimaksud periode absolute dan relative?


Jawaban:
Periode refrakter absolut ialah jangka waktu tertentu saat sel saraf benar-benar
tidak dapat menanggapi rangsang yang diberikan untuk kedua kalinya, apapun
jenis rangsangnya dan berapa pun kekuatan rangsang yang diberikan. Periode ini
biasanya berlangsung pada awal repolarisasi.
Periode refrakter relatif ialah jangka waktu pada akhir repolarisasi, yang mana sel
saraf kemungkinan sudah dapat kembali menanggapi rangsang, asalkan rangsang
yang diberikan lebih kuat daripada rangsang sebelumnya atau jenis rangsangnya
berbeda
4. a . Jelaskan apa yang dimaksud dengan sinaps dan bagaimanakah mekanisme kerja
sinaps kimia !
Jawaban:

Dalam sistem saraf, sinapsis adalah struktur yang memungkinkan neuron (atau sel
saraf) untuk melewatkan sinyal listrik atau kimia ke sel lain (atau sebaliknya).
Mekanisme Kerja Sinapsis :
Apabila impuls sampai pada tombol sinapsis, segera neuron mengirimkan
neurotransmiter. Selanjutnya, neurotransmiter dibawa oleh vesikula sinapsis menuju
membran prasinapsis. Kedatangan impuls tersebut membuat permeabilitas
membran prasinapsis terhadap ion Ca2+ meningkat (terjadi depolarisasi). Sehingga, ion
Ca2+ masuk dan merangsang vesikula sinapsis untuk menyatu dengan membran
prasinapsis. Bersama kejadian tersebut, neurotransmiter dilepaskan ke dalam celah
sinapsis melalui eksositosis. Dari celah sinapsis, neurotransmiter ini berdifusi
menuju membran pascasinapsis.

Setelah impuls dikirim, membran pascasinapsis akan mengeluarkan enzim untuk


menghidrolisis neurotransmiter. Enzim tersebut misalnya senzim asetilkolineterase
yang menghidrolisis asetilkolin menjadi kolin dan asam etanoat. Oleh vesikula
sinapsis, hasil hidrolisis (kolin dan asam etanoat) akan disimpan sehingga sewaktu-
waktu bisa digunakan kembali.

b. Apa yang dimaksud dengan inhibitory Postsinaptic Potential (IPSP) dan Exitatory
Postsinaptic Potential (EPSP)
Jawaban:
Eksitasi : potensial eksitasi pasca sinap (Excitatory Postsynaptic Potential =
EPSP). Sinap dimana respon postsynaptic terhadap neurotransmitter berbentuk
polarisasi, walaupun depolarisasinya tidak mencapai batas ambang, sehingga tidak
terjadi potensial aksi.

Inhibisi : potensial inhibisi postsinap (Inhibitory Postsynaptic Potential = IPSP).


Berlawanan dengan eksitasi, yang terjadi pada inhibisi adalah hiperpolarisasi karena
K+ menjadi permeabel dan keluar dari sel sehingga potensial membrane berubah dan
lebih sulit dirangsang neurotransmitter yang menimbulkan inhibisi antara lain GABA
(Gamma Amno Butiric Acid).