Anda di halaman 1dari 10

Topik : ILEUS OBSTRUKTIF

Tanggal (kasus) : 7 Mei 2017 Presenter : dr. Rizky MasAh


Tanggal Presentasi : Pendamping : dr. Kadek Sulyastuty
Tempat Presentasi : Ruang Komite Medik RSUD Patut Patuh Patju
Objektif Presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi : Laki-laki, usia 60 tahun, tidak bisa BAB dan kentut selama seminggu
Tujuan : Penegakan diagnosis dan pengobatan awal sesuai etologi
Bahan
Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Bahasan :
Cara
Diskusi Presentasi dan Diskusi E-mail Pos
Membahas :
Nama : Tn. SS
Data Pasien : No. Registrasi :-
Laki-laki, 60 Th
Nama Klinik : RSUD Patut Patuh Patju Telp : Terdaftar sejak :
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
Diagnosis / Gambaran Klinis : Pasien datang dengan tidak bisa BAB dan kentut, keluhan sudah
dirasakan sejak 1 minggu yang lalu. Pasien mengatakan sering muntah jika makan,tapi tidak jika
minum. Pasien merasa mual (-), demam (-), batuk lama (-). Riwayat penyakit dahulu, pasien belum
pernah merasakan keluhan yang sama sebelumnya. Riwayat penyakit keluarga, tidak ada anggota
keluarga yang mengalami keluhan serupa dengan pasien. BAK juga dirasakan tidak lancar, nyeri saat
BAK (-).

1. Riwayat Pengobatan : Pasien tidak pernah berobat sebelumnya.


2. Riwayat Kesehatan/Penyakit: Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya.
3. Riwayat Keluarga : Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan seperti pasien.
4. Riwayat Pekerjaan : Pedagang
5. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik : Kondisi rumah dan lingkungan sosial sekitar tidak
diketahui
6. Lain-lain :

Daftar Pustaka :
1. Sudoyo A W dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam ed.IV, Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Jakarta

2. De jong. Sjamsuhidajat, R.2009.BUKU AJAR ILMU BEDAH. Edisi 3. Jakarta: EGC

Hasil Pembelajaran :
1. Penegakan diagnosis ileus obstruktif
2. Pengobatan awal ileus obstruktif
3. Mengenali gejala awal ileus obstruktif

1
Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio

1. Subjektif :

KeluhanUtama: tidak bisa BAB dan kentut

Keluhan dirasakan sejak 1 minggu

Muntah jika makan

Nyeri tekan seluruh perut

kembung

2. Objektif :

PemeriksaanFisik

Keadaan umum : tampak sakit sedang

Kesadaran : CM

Tekanan Darah : 90/60 mmHg

Nadi : 102 x/menit

Frekuensi Nafas : 20 x/ menit

Suhu : 36.9 0 C

Status Internus

Kepala : Normochepali

Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-)

Thoraks
o Paru

Inspeksi : Gerakan nafas normal, simetris kiri/kanan


Palpasi : Fremitus kiri = kanan
Perkusi : meredup di kedua lapang paru
Auskultasi : Rhonki -/-, wheezing -/-

2
o Jantung

Inspeksi : Iktus jantung tidak terlihat


Palpasi : Iktus jantung teraba dilinea midclavicula sinistra ICS V
Perkusi : Batas jantung normal
Auskultasi : Murmur (-), Gallop (-)

Abdomen
Inspeksi : distensi (+)
Auskultasi : Bising usus (+) menurun

Perkusi : Hipertimpani
Palpasi : Hepar Lien tidak teraba membesar, Nyeri tekan seluruh
lapang abdomen (+)
Ekstremitas : CRT < 2 detik, oedem (-), akral hangat +/+,

Laboratorium :
Hb : 14.4 gr/dl
Leukosit : 21.66 /mm3
Trombosit : 274.000/mm3
Hematokrit : 40.8%
GDS : 163 mg/dl
SGOT/SGPT : 45/40
Ur/Cr : 358/3.59

GFR : 23.5

Assesment (penalaran klinis) :

DEFINISI

Ileus Obstruktif disebut juga Ileus Mekanis (Ileus Dinamik) (WHO, 2007). Suatu penyebab
fisik menyumbat usus dan tidak dapat diatasi oleh peristaltik baik sebahagian maupun total.
Ileus obstruktif ini dapat akut seperti pada hernia stragulata atau kronis akibat karsinoma
yang melingkari (Suratun dan Lusianah, 2010), (Pierce dan Neil, 2006).
PATOFISIOLOGI

3
MANIFESTASI KLINIS
Pada anamnesis obstruksi tinggi sering dapat ditemukan penyebab misalnya berupa adhesi
dalam perut karena pernah dioperasi atau terdapat hernia. Gejala umum berupa syok,oliguri
dan gangguan elektrolit. Selanjutnya ditemukan meteorismus dan kelebihan cairan diusus,
hiperperistaltis berkala berupa kolik yang disertai mual dan muntah. Kolik tersebut terlihat
pada inspeksi perut sebagai gerakan usus atau kejang usus dan pada auskultasi sewaktu
serangan kolik, hiperperistaltis kedengaran jelas sebagai bunyi nada tinggi. Penderita tampak
gelisah dan menggeliat sewaktu kolik dan setelah satu dua kali defekasi tidak ada lagi flatus
atau defekasi. Pemeriksaan dengan meraba dinding perut bertujuan untuk mencari adanya
nyeri tumpul dan pembengkakan atau massa yang abnormal. Gejala permulaan pada obstruksi
kolon adalah perubahan kebiasaan buang air besar terutama berupa obstipasi dan kembung
yang kadang disertai kolik pada perut bagian bawah. Pada inspeksi diperhatikan pembesaran

4
perut yang tidak pada tempatnya misalnya pembesaran setempat karena peristaltis yang hebat
sehingga terlihat gelombang usus ataupun kontur usus pada dinding perut. Biasanya distensi
terjadi pada sekum dan kolon bagian proksimal karena bagian ini mudah membesar (WHO,
2OO2) (Dinkes Sumatera Utara, 2007).
Dengan stetoskop, diperiksa suara normal dari usus yang berfungsi (bising usus).
Pada penyakit ini, bising usus mungkin terdengar sangat keras dan bernada tinggi,
atau tidak terdengar sama sekali (WHO, 2OO2) (Dinkes Sumatera Utara, 2007).
Nilai laboratorium pada awalnya normal, kemudian akan terjadi
hemokonsentrasi,leukositosis, dan gangguan elektrolit. Pada pemeriksaan
radiologis, dengan posisi tegak,terlentang dan lateral dekubitus menunjukkan gambaran anak
tangga dari usus kecil yang mengalami dilatasi dengan air fluid
level. Pemberian kontras akan menunjukkan adanya obstruksi mekanis dan
letaknya. Pada ileus obstruktif letak rendah jangan lupa untuk melakukan
pemeriksaan rektosigmoidoskopi dan kolon (dengan colok dubur dan barium
inloop) untuk mencari penyebabnya. Periksa pula kemungkinan terjadi hernia.
Pada saat sekarang ini radiologi memainkan peranan penting dalam
mendiagnosis secara awal ileus obstruktifus secara dini (WHO, 2OO2)

KLASIFIKASI
Menurut sifat sumbatannya
Menurut sifat sumbatannya, ileus obstruktif dibagi atas 2 tingkatan :
a) Obstruksi biasa (simple obstruction) yaitu penyumbatan mekanis di dalam lumen usus
tanpa gangguan pembuluh darah, antara lain karena atresia usus dan neoplasma
b) Obstruksi strangulasi yaitu penyumbatan di dalam lumen usus disertai oklusi pembuluh
darah seperti hernia strangulasi, intususepsi, adhesi, dan volvulus.
Menurut letak sumbatannya
Menurut letak sumbatannya, maka ileus obstruktif dibagi menjadi 2 (Jacob AH, 2010) :
a) Obstruksi tinggi, bila mengenai usus halus
b) Obstruksi rendah, bila mengenai usus besar

Menurut etiologinya
Menurut etiologinya, maka ileus obstruktif dibagi menjadi 3 :

a) Lesi ekstrinsik (ekstraluminal) yaitu yang disebabkan oleh adhesi (postoperative), hernia
5
(inguinal, femoral, umbilical), neoplasma (karsinoma), dan abses intraabdominal.
b) Lesi intrinsik yaitu di dalam dinding usus, biasanya terjadi karena kelainan kongenital
(malrotasi), inflamasi (Chrons disease, diverticulitis), neoplasma, traumatik, dan intususepsi.
c) Obstruksi menutup (intaluminal) yaitu penyebabnya dapat berada di dalam usus, misalnya
benda asing, batu empedu.

KOMPLIKASI
Pada obstruksi kolon dapat terjadi dilatasi progresif pada sekum yang berakhir
dengan perforasi sekum sehingga terjadi pencemaran rongga perut dengan akibat peritonitis
umum (WHO, 2008) (WHO, 2007).

PEMERIKSAANPENUNJANG

Pemeriksaan laboratorium tidak mempunyai ciri-ciri khusus. Pada urinalisa, berat jenis bias
meningkat dan ketonuria yang menunjukkan adanya dehidrasi dan asidosis metabolik.
Leukosit normal atau sedikit meningkat , jika sudah tinggi kemungkinan sudah ter jadi
peritonitis. Kimia darah sering adanya gangguan elektrolit (WHO, 2OO2).

Foto polos abdomen (BNO 2 posisi) sangat bernilai dalam menegakkan diagnose ileus
obstruksi.Sedapat mungkin dibuat pada posisi tegak dengan sinar mendatar. Posisi datar perlu
untuk melihat distribusi gas, sedangkan sikap tegak untuk melihat batas udara dan air serta
letak obstruksi. Secara normal lambung dan kolon terisi sejumlah kecil gas tetapi pada usus
halus biasanya tidak tampak (WHO, 2OO2) (Dinkes Sumatera Utara, 2007).
Gambaran radiologi dari ileus berupa distensi usus dengan multiple air fluid level,distensi
usus bagian proksimal, absen dari udara kolon pada obstruksi usus halus. Obstruksi kolon
biasanya terlihat sebagai distensi usus yang terbatas dengan gambaran haustra, kadang-
kadang gambaran massa dapat terlihat. Pada gambaran radiologi, kolon yang mengalami
distensi menunjukkan gambaran seperti pigura dari dinding abdomen (WHO, 2OO2).

Kemampuan diagnostik kolonoskopi lebih baik dibandingkan pemeriksaan barium kontras


ganda. Kolonoskopi lebih sensitif dan spesifik untuk mendiagnosis neoplasma dan bahkan
bisa langsung dilakukan biopsy (WHO, 2OO2).

GAMBARAN RADIOLOGI
Untuk menegakkan diagnosa secara radiologis pada ileus obstruktif dilakukan foto
abdomen 3 posisi. Yang dapat ditemukan pada pemeriksaan foto abdomen ini

6
antara lain :
1. Ileus obstruksi letak tinggi :
- Dilatasi di proximal sumbatan (sumbatan paling distal di ileocecal
junction) dankolaps usus di bagian distal sumbatan.
- Coil spring appearance
- Herring bone appearance
- Air fluid level yang pendek-pendek dan banyak (step ladder sign)
2. Ileus obstruksi letak rendah :
- Gambaran sama seperti ileus obstruksi letak tinggi
- Gambaran penebalan usus besar yang juga distensi tampak pada tepi
abdomen
- Air fluid level yang panjang-panjang di kolon. Sedangkan pada ileus
paralitik gambaran radiologi ditemukan dilatasi usus yang
menyeluruhdari gaster sampai rectum.

Gambaran radiologis ileus obstruktif dibandingkan dengan ileus paralitik :

Gambar 1. Ileus Obstruktif . Tampak coil spring dan herring bone appearance

7
Gambar 2. Ileus Paralitik. Tampak dilatasi usus keseluruhan

PENATALAKSANAAN
Tujuan utama penatalaksanaan adalah dekompresi bagian yang mengalami obstruksi untuk
mencegah perforasi. Tindakan operasi biasanya selalu diperlukan. Menghilangkan penyebab
obstruksi adalah tujuan kedua. Kadang-kadang suatu penyumbatan sembuh dengansendirinya
tanpa pengobatan, terutama jika disebabkan oleh perlengketan. Penderita penyumbatan usus
harus di rawat di rumah sakit (WHO, 2008) (WHO, 2007).
1. Persiapan
Pipa lambung harus dipasang untuk mengurangi muntah, mencegah aspirasi dan mengurangi
distensi abdomen (dekompresi). Pasien dipuasakan, kemudian dilakukan juga resusitasi
cairan dan elektrolit untuk perbaikan keadaan umum. Setelah keadaanoptimum tercapai
barulah dilakukan laparatomi. Pada obstruksi parsial atau karsinomatosis abdomen dengan
pemantauan dan konservatif (WHO, 2008) (WHO, 2007).
2. Operasi
Operasi dapat dilakukan bila sudah tercapai rehidrasi dan organ-organ vital berfungsi secara
memuaskan. Tetapi yang paling sering dilakukan adalah pembedahan sesegera mungkin.
Tindakan bedah dilakukan bila : -Strangulasi -Obstruksi lengkap -Hernia inkarserata -Tidak
ada perbaikan dengan pengobatan konservatif (dengan pemasangan NGT, infus,oksigen dan
kateter) (WHO, 2008) (WHO, 2007).
3. Pasca Bedah
Pengobatan pasca bedah sangat penting terutama dalam hal cairan dan elektrolit. Kita harus
mencegah terjadinya gagal ginjal dan harus memberikan kalori yang cukup.Perlu diingat

8
bahwa pasca bedah usus pasien masih dalam keadaan paralitik (WHO, 2008) (WHO, 2007).

Prognosis: Dubia et bonam

3. Plan :

DIAGNOSIS KERJA
ILEUS OBSTRUKTIF
BNO 2 POSISI

Kesimpulan : gambaran ileus obstruktif letak tinggi

TERAPI
Infus Ringer Laktat loading 1000 cc dalam 30 menit -- lanjut 500 cc/ 8 jam

O2 nasal 2 lpm

Pasang DC dan NGT (dekompresi)

Inj. Cefoperazone 1 g/ 12 jam

Inj. Omeprazole 40 mg/8 jam

Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam

Inj. Ondansentron 4 mg/12 jam

Paracetamol infus 1 gr/8 jam (jika T > 38.5)

9
Puasa selama NGT terpasang

Konsul dokter spesialis bedah : rencana operasi laparatomi.

Pendidikan :

Kepada pasien dan keluarganya dijelaskan penyebab timbulnya penyakit yang


dideritanya dan menjelaskan perjalanan penyakit, rencana pengobatan nantinya serta
komplikasi yang akan timbul kemudian harinya

Konsultasi :
Dijelaskan perlunya konsultasi dengan dokter spesialis bedah. Hal ini bertujuan agar
pasien dan keluarga dapat memahami kondisi penyakit pasien lebih lengkap dan jelas
serta mendapat penanganan lebih lanjut.

Kontrol :

Kegiatan Periode Hasil yang Diharapkan

Pasien mendapatkan informasi yang lebih


Segera setelah detail terkait penyakitnya.
1. Rawat ke
perbaikan Selain itu, agar penyakit dapat segera diterapi
bagian Bedah
keadaan umum oleh dokter spesialis bedah jika terjadi
komplikasi yang memberat.
2. Edukasi Selama rawat Menjelaskan kemungkinan memburuknya
inap dan setelah kondisi pasien sehingga sewaktu-waktu
pulang dari membutuhkan penanganan intensif di RS.
Rumah Sakit Sarankan pada pasien dan keluarga agar
kontrol ulang ke Poliklinik bedah sesuai waktu
yang ditentukan dan meminum obat pulang
dengan teratur.

10