Anda di halaman 1dari 42

ABSTRAK

Motor DC adalah motor listrik yang memerlukan suplai tegangan arus searah pada kumparan
medan untuk diubah menjadi energi gerak mekanik. Kumparan medan pada motor dc disebut stator
(bagian yang tidak berputar) dan kumparan jangkar disebut rotor (bagian yang berputar). Prinsip kerja
motor DC adalah bila arus listrik dialirkan melalui satu konduktor yang ditempatkan pada suatu medan
magnet, maka akan timbul gaya mekanis yang arahnya ditentukan oleh aturan tangan kiri. Pada
praktikum ini dilakukan 2 percobaan yaitu percobaan motor DC beban nol dan percobaan motor DC
shunt berbeban. Untuk percobaan motor DC beban nol, data yang diberikan adalah besar tegangan
sumber yang nilainya 50, 60, 70, 80, dan 90 sedangkan yang dicari adalah arus IL dan Rpm. Kemudian
untuk percobaan motor DC Shunt berbeban, data yang diberikan adalah tegangan sumber nilainya 100
dan besar eksitasi yaitu 1, 2, 3, 4 dan 5 sedangkan yang dicari adalah arus IL dan Rpm. Setelah itu maka
dihitung daya input, rugi besi dan mekanis, pada beban nol naik dan turun. Hasil praktikum ketika
beban nol naik, Vt 50 volt didapatkan putaran sebanyak 995 rpm, IL sebesar 1,5 ohm, nilai If
0,045 A, ia sebesar 1,4583 A, Pin sebesar 75 Watt, nilai w tembaga (cu) sebesar 810,24 W dan
W(b+m) sebesar 15 W Peralatan yang dipakai adalah motor DC compound, regulator,
rectifier,voltmeter, multitester, amperemeter, kabel penghubung, tachometer. Aplikasi didunia marine
adalah motor DC sebagai penggerak penggerak crane pada saat dipelabuhan.

1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Di era yang modern ini hampir semua kegiatan yang dilakukan manual tergantikan oleh mesin
dengan peggerak yang bervariasi, salah satunya motor listrik. Faktor yang menyebabkan motor listrik
banyak digunakan antara lain, lebih praktis, bentuknya yang cendrung lebih kecil, dan bisa untuk
bekerja dengan skala yang beragam serta emisi yang sedikit. Salah satu motor listrik tersebut adalah
Motor DC atau arus searah. Motor DC adalah mesin yang bekerja mengubah tenaga listrik menjadi
tenaga gerak.
Prinsip kerja motor DC yaitu arus listrik yang masuk berupa arus AC menjadi keluaran motor
DC. Arus akan mengenai medan magnet dan menimbulkan gaya, akibatnya medan magnet akan
berputar. Motor DC tersusun dari 2 bagian saja, yaitu stator dan rotor. Stator merupakan bagian yang
diam yang terdiri dari rangka motor, sikat- sikat, dan slip ring. Rotor adalah bagian yang bergerak dan
terdiri dari komutator, jangkar, dan lilitan jangkar.
Keuntungan penggunaan motor DC adalah motor DC mempunyai karakteristik kopel kecepatan
yang menguntungkan dibandingkan motor lainnya, motor DC dapat diubah menjadi generator DC
dimana perbedaannya terletak pada arah arus dan kecepatan mudah diatur. Aplikasi motor DC di dunia
marine adalah crane pada pelabuhan untuk memindahkan kontainer- kontainer yang diperlukan atau
tidak (bongkar-muat), baterai pada kapal selam, penggerak alat navigasi.

1.2. Tujuan Praktikum


Tujuan praktikum Motor DC antara lain :
1. Percobaan Motor DC Shunt Beban Nol
a. Mengetahui besarnya rugi besi dan mekanis pada saat motor dijalankan dengan beban
nol.
b. Menghitung besar efisiensi motor dari daya output saat beban penuh.
2. Percobaan Motor DC Shunt Berbeban
a. Menghitung besarnya torsi motor pada beban tertentu
b. Menentukan putaran motor dalam keadaan beban tertentu
c. Menghitung daya motor dalam keadaan beban tertentu
d. Menghitung efisiensi motor dan membuat kurva efisiensi fungsi beban

1.3. Rumusan Permasalahan


Adapun rumusan masalah dalam praktikum motor dc ini antara lain :
1. Buatlah grafik dari torsi fungsi putaran, arus eksitasi fungsi putaran !
2. Buatlah perhitungan daya motor serta kerugiannya !
3. Jelaskan tentang gambar diagram rectifier !

2
4. Jelaskan pengertian tahanan shunt, tahanan seri, dan tahanan jangkar
5. Jelaskan perbedaan motor DC dan motor AC?
6. Jelaskan pengertian arus eksitasi?
7. Mengapa pengukuran Rpm berbeda dengan nilai tegangan dan arus eksistasi yang sama ?
8. Apakah aplikasi motor DC di dunia marine?
9. Buatlah grafik losses besi mekanis fungsi putaran dan buat kesimpulannya !
10. Buatlah grafik efisiensi fungsi beban !

1.4. Manfaat Praktikum


Adapun manfaat dari praktikum motor dc ini antara lain :
1. Mahasiswa dapat mengetahui hubungan dari torsi fungsi putaran, arus eksitasi fungsi putaran
2. Mahasiswa dapat menghitung daya motor serta kerugiannya
3. Mahasiswa dapat memahami gambar diagram rectifier
4. Mahasiswa dapat memahami pengertian tahanan shunt, tahanan seri, dan tahanan jangkar
5. Mahasiswa dapat memahami perbedaan motor Dc dan motor Ac.
6. Mahasiswa dapat memahami arus eksitasi
7. Mahasiswa mengetahui alasan mengapa pengukuran Rpm berbeda dengan nilai tegangan dan
arus eksistasi yang sama
8. Mahasiswa mengetahui aplikasi motor DC di dunia marine
9. Mahasiswa dapat membuat grafik losses besi mekanis fungsi putaran
10. Mahasiswa dapat membuat grafik efisiensi fungsi beban

3
BAB II
DASAR TEORI
2.1. Pengertian Motor Dc
Motor arus searah (motor DC) telah ada selama lebih dari seabad. Keberadaan motor
DC telah membawa perubahan besar sejak dikenalkan motor induksi, atau terkadang disebut
AC Shunt Motor. Motor DC adalah jenis motor listrik yang bekerja menggunakan sumber
tegangan DC. Motor DC atau motor arus searah sebagaimana namanya, menggunakan arus
langsung dan tidak langsung/direct-unidirectional. Motor DC digunakan pada penggunaan
khusus dimana diperlukan penyalaan torque yang tinggi atau percepatan yang tetap untuk
kisaran kecepatan yang luas. Motor DC memerlukan suplai tegangan yang searah pada
kumparan medan untuk diubah menjadi energi mekanik. Kumparan medan pada motor dc
disebut stator (bagian yang tidak berputar) dan kumparan jangkar disebut rotor (bagian yang
berputar).

Gambar 2.1 Motor D.C Sederhana


Sumber : learningengineering.org

2.2. Prinsip Kerja Motor Dc


Jika arus lewat pada suatu konduktor, akan timbul medan magnet di sekitar konduktor.
Arah medan magnet ditentukan oleh arah aliran arus pada konduktor. Aturan genggaman
tangan kanan bisa digunakan untuk menentukan arah garis fluks di sekitar konduktor. Genggam
konduktor dengan tangan kanan dengan jempol mengarah pada arah aliran arus, maka jari-jari
akan menunjukkan arah garis fluks. Medan magnet hanya terjadi di sekitar sebuah konduktor
jika ada arus mengalir pada konduktor tersebut. Jika konduktor berbentuk U (rotor) diletakkan
di antara kutub utara dan selatan, maka kuat medan magnet konduktor akan berinteraksi dengan
medan magnet
kutub.

4
Gambar 2.2 reaksi garis fluks
http://staff.ui.ac.id
Lingkaran bertanda A dan B merupakan ujung konduktor yang dilengkungkan
(looped conductor). Arus mengalir masuk melalui ujung A dan keluar melalui
ujung B. Medan konduktor A yang searah jarum jam akan menambah medan pada kutub dan
menimbulkan medan yang kuat di bawah konduktor. Konduktor akan berusaha bergerak ke atas
untuk keluar dari medan magnet . Medan konduktor B yang berlawanan arah jarum jam akan
menambah medan pada kutub dan menimbulkan medan yang kuat di atas konduktor.
Konduktor akan berusaha untuk bergerak turun agar keluar dari medan yang kuat tersebut.
Gaya-gaya tersebut akan membuat rotor berputar searah jarum jam. Pada motor dc, daerah
kumparan medan yang dialiri arus listrik akan menghasilkan medan magnet yang melingkupi
kumparan jangkar dengan arah tertentu. Konversi dari energi listrik menjadi energi mekanik
(motor) maupun sebaliknya berlangsung melalui medan magnet, dengan demikian medan
magnet disini selain berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan energi, medan magnet juga
berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses perubahan energi, daerah tersebut dapat dilihat
pada gambar di bawah ini :

Gambar 2.3 Prinsip kerja motor dc


https://staff.ui.ac.id

Agar proses perubahan energi mekanik dapat berlangsung secara sempurna, maka

5
tegangan sumber harus lebih besar daripada tegangan gerak yang disebabkan
reaksi. Dengan memberi arus pada kumparan jangkar yang dilindungi oleh medan
maka menimbulkan perputaran pada motor.

2.2.1 Momen Kopel


Adanya gaya yang berlawanan arah menunjukkan adanya momen kopel, dimana Kopel adalah
pasangan dua buah gaya yang sama besar, sejajar dan berlawanan arah. Kopel itu sendiri penyebab
sebuah benda berotasi.

Gambar 2.5 (a) Sebuah momen kopel, (b)menunjukan bahwa momen kopel adalah besaran vector
http://fisikazone.com/momen-gaya-dan-momen-kopel/
Untuk persamaan momen kopel adalah sebagai berikut :
M = L . F sin ................................................................................................................... (1)
(http://fisikazone.com)
Dengan :
M = Momen Kopel (Nm)
L = Panjang lengan gaya (m)
F = Gaya (N)
= besar sudut antara gaya dengan lengan gaya
Berdasarkan teori elektromagnetik dapat diturunkan 3 rumus dasar untuk Motor DC yaitu :
1. Tegangan induksi (Zuhal, Dasar Tenaga Listrik, ITB Bandung, 1991.hal 141)
Ea = C n (Volt) ......................................................................................................... (2)
Dimana = fluks (weber / N.m2)
N = Putaran mesin (Rpm)
C = P/a x Z/60 = Konstanta
p = Jumlah kutub
a = Jalur Paralel konduktor jangkar.
Z = Jumlah konduktor jangkar

6
2. Kecepatan (Zuhal, Dasar Tenaga Listrik, ITB Bandung, 1991.hal 141)
Dasar pemikiran dari pengaturan kecepatan pada motor DC adalah:
Ea = C n ....................................................................................................................... (3)
Ea= Vt Ia Ra..................................................................................................................(4)
C n = Vt Ia Ra...........................................................................................................(5)
Maka puataran motor DC ini dapat diatur dengan
n = Vt Ia Ra ............................................................................................................(6)
Dimana :
n = putaran (rpm)
= Flux yang timbul (weber / N.m2)
Vt = tegngan terminal (Volt)
Ia = Arus jangkar (Ampere)
Ra = Tahanan Jangkar (ohm)
Ea = Tegngan balik yang bangkit dikumparan jangkar (Volt)
Dari persamaan diatas pengaturan kecepatan pada motor dapat dilakukan dengan mengatur :
, Vt, Ia dan Ra
3. Kopel elektromagnetik (Zuhal, Dasar Tenaga Listrik, ITB Bandung, 1991.hal 141)
T = C.Ia.................................................................................................................... (7)
Dimana:
Ia = arus jangkar (Ampere)
= Flux yang timbul (weber / N.m2)
C = P/a x Z/60 = Konstanta
Kopel elektromagnetik ini tidak sama dengan kopel yang terdapat pada sumbu. Dengan mengurangi
kopel geser barulah dapat didapat harga kopel pada sumbu. Hubungan lain antara kopel
elektromagnetik dengan daya mekanik yaitu
Ea. Ia = T.Wm ................................................................................................................(8)
Dimana :
Ia = Arus jangkar (Ampere)
Wm = 2 n / 60 ;
n = putaran per sekon ( rps )
T = Momen kopel / Torsi (N.m)

4. Karakteristik kecepatan kopel (Zuhal, Dasar Tenaga Listrik, ITB Bandung, 1991. hal 152)
Untuk motor arus searah berlaku hubungan
Vt = Ea + Ia .Ra.............................................................................................................. (9)
Ea = C n Volt N =( Vt Ia Ra)/C ......................................................................... (10)

7
Dimana :
Vt = tegangan terminal (volt)
Ea = tegangan pada kumparan jangkar (volt)
Ia = arus jangkar (Ampere)
Ra = tahanan jangkar (ohm)
C = konstanta
n = putaran per sekon ( rps )
= Flux yang timbul (weber / N.m2)
(sumber,marine electrical:sardono sarwito hal 31)
2.2.2 Gaya Lorenzt
Pada dasarnya fungsi dari Motor DC adalah mengubah energy listrik menjadi energy mekanis,
dalam hal ini adalah arus DC yang mengalir diubah menjadi gerak rotasi. untuk prinsip kerjanya sendiri
Motor DC berdasarkan dari Perumusan Gaya Lorentz, untuk perhitungan besar gaya Lorentz sendiri
sebgai berikut :
F = B . I . L............................................................................................................. (11)
(www.rumus-fisika.com)
Dimana:
F : gaya lorenz yang dialami penghantar(N)
B : gaya magnet antar kutub(Wb/m2)
I : besar arus pada penghantar(A)
Berdasarkan dsar tersebut, bisa diketahui arus mengalir melalui suatu kumparan akan
menghasilkan medan magnet di sekitarnya dan saat arus mengalir di dalam medan magnet maka akan
dihasilkan gaya. Untuk arah gaya , medan magnet , dan gaya Lorentz bisa menggunakan kaidah tangan
kiri

Gambar 2.6 kaidah tangan kiri


www.emaze.com
Ibu jari : menunjukkan arah gaya lorentz.
Jari tengah : menunjukkan arah arus

8
Jari telunjuk : menunjukkan arah medan magnet.

2.3. Komponen Motor DC dan Rectifier


Pada motor DC komponen dimbagi menjadi dua jenis, yaitu Rotor, atau bagian yang bergerak,
serta stator atau komponen yang diam. untuk komponen stator sendiri terdiri dari Rangka, lilitan
penguat magnet, dan brush, untuk komponen rotornya sendiri terdiri dari jangkar dynamo dan
komutator. Dari beberap komponen tersebut , ada tiga yang menjadi komponen utama, antara lain lilitan
penguat magnet (stator), kumparan motor dan komutator (rotor).

Gambar 2.5 Komponen Motor Dc


https://kaptenivan.files.wordpress.com
2.3.1. Lilitan Penguat Magnet
Berfungsi untuk mengalirkan arus listrik agar terjadi proses elektro magnet sehingga terjadi
suatu magnet buatan sedangkan inti kutub magnet merupakan tempat dihasilkannya fluks magnet.

Gambar 2.6.Lilitan Penguat Magnet


https://kaptenivan.files.wordpress.com
2.3.2. Kumparan motor DC

9
Bila arus masuk menuju kumparan motor DC, maka arus ini akan menjadi elektromagnet. kumparan
motor DC yang berbentuk silinder, dihubungkan ke as penggerak untuk menggerakan beban. Untuk
kasus motor DC yang kecil, kumparan motor DC berputar dalam medan magnet yang dibentuk oleh
kutub-kutub, sampai kutub utara dan selatan magnet berganti lokasi. Jika hal ini terjadi, arusnya
berbalik untuk merubah kutub-kutub utara dan selatan kumparan motor DC.
2.3.3. Komutator
Komponen ini terutama ditemukan dalam motor DC. Kegunaannya adalah untuk membalikan
arah arus listrik dalam kumparan motor DC. Commutator juga membantu dalam transmisi arus
antara kumparan motor DC dan sumber daya.
2.3.4 Rectifier
Seperti yang diketahui bahwa motor DC beroperasi dengan arus DC maka kita perlu
menggunakan sebuah alat untuk mengubah arus AC menjadi DC, alat tersebut adalah rectifier.

Gambar 2.8. Rectifier


Sumber : indiamart.com
Rangkaian Rectifier atau Penyearah Gelombang ini pada umumnya menggunakan Dioda sebagai
Komponen Utamanya. Hal ini dikarenakan Dioda memiliki karakteristik yang hanya melewatkan
arus listrik ke satu arah dan menghambat arus listrik dari arah sebaliknya. Jika sebuah Dioda
dialiri arus Bolak-balik (AC), maka Dioda tersebut hanya akan melewatkan setengah gelombang,
sedangkan setengah gelombangnya lagi diblokir.

2.4. Jenis Jenis Motor DC


2.4.1 Berdasarkan Arus Medan
1. Motor DC penguat terpisah , yaitu motor DC yang menggunakan arus penguat magnet yang
diperoleh dari sumber arus searah di luar motor.

10
Gambar 2.4.1 Penguat terpisah

Sumber : electronical-tutorial.net

2. Motor DC penguat sendiri, yaitu motor DC yang menggunakan arus penguat magnet berasal
dari motor Dc itu sendiri.

2.4.2 Berdasarkan Rangkaian

1. Motor DC Shunt : motor DC yang menggunakan kumparan penguat yang disambungkan


pararel ( shunt ) dengan lilitan jangkar. Pada motor shunt, gulungan medan (medan shunt)
disambungkan secara paralel dengan gulungan dinamo (A). Oleh karena itu total arus dalam
jalur merupakan penjumlahan arus medan dan arus dinamo.

Gambar 11. Rangkaian motor shunt

Sumber : electriciantraining.tpub.com

2. Motor DC seri : motor DC yang menggunakan lilitan penguat magnet yang dihubungkan
seri dengan lilitan jangkar.

11
Gambar 12. Rangkaian motor seri

Sumber : zonaelektro.net

3. Motor DC kompon : Motor DC yang menggunakan lilitan penguat magnet yang


disambungkan seri dan pararel.
a. Motor DC kompon Panjang adalah motor seri diberi penguat shunt tambahan seperti
gambar dibawah disebut motor kompon shunt panjang

Gambar 13. Rangkaian motor kompon panjang

Sumber : electrical4u.com

b. Motor DC kompon Pendek adalah motor shunt diberi tambahan penguat seri seperti
gambar dibawah disebut motor kompon shunt pendek

12
Gambar 14. Rangkaian motor kompon pendek

Sumber : zonaelektro.net

2.4.2.1 Kekurangan dan Kelebihan DC Seri, Shunt dan Kompon

1. Kelebihan dari Motor DC Shunt, yaitu tidak terlalu membutuhkan banyak ruangan
karena diameter kawat kecil. Sedangkan kelemahannya yaitu daya keluaran yang dihasilkan
kecil karena arus penguatnya kecil

2. Kecepatan dibatasi pada 5000 RPM dan Harus dihindarkan menjalankan motor seri
tanpa ada beban sebab motor akan mempercepat tanpa terkendali.

3. Kelebihan motor kompon yaitu motor kompon memiliki torque penyalaan awal
yang bagus dan kecepatan yang stabil. Makin tinggi persentase penggabungan (yakni
persentase gulungan medan yang dihubungkan secara seri), makin tinggi pula torque
penyalaan awal yang dapat ditangani oleh motor ini

2.4.3 Berdasarkan Adanya Sikat (Brush)

1. Motor DC brushed

Gambar 15. Motor DC dengan sikat

13
Sumber : robotics.stackexchanges.con

Motor DC yang menggunakan sikat sebagais pengalir arus ke komutator, rotornya sendiri teriri
atas kumparan yang terhubung ke komutator. Biasa disebut dengan motor DC klasik
/konvesional.

2. Motor DC Brushless

Gambar 16. Brushless motor DC


Sumber : progressiveautomations.com

Pada motor jenis ini, rotating switch mekanis atau susunan comutator/brushgear diganti
dengan sebuah switch elektronik yang disinkronkan dengan posisi dari rotor. Motor tanpa sikat
ini memiliki efisiensi 85-90%, sedangkan motor DC dengan brushgear memiliki efisiensi 75-
80%. Untuk rotornya sendiri menggunakan magnet permanen

2.5 Sistem Kontrol Kecepatan


2.5.1 Pengaturan Kecepatan Dengan Mengatur Medan Shunt (f)
Pengaturan kecepatan dengan cara ini mempunyai karakteristik sebagai berikut :
a. Kecepatan terendah didapat dengan membuat tahanan variabel sama dengan nol. Sedangkan
kecepatan tertinggi akan dibatasi oleh perencanaan mesin dimana gaya sentrifugal maksimum
tidak sampai merusak motor.
b. Rugi panas yang timbul sangat rendah
c. Sederhana dan mudah dalam perangkaiannya
d. Pengaturan kecepatan seperti ini hanya bisa dilakukan pada motor DC shunt dan kompon.
2.5.2 Pengaturan Kecepatan Dengan Mengatur Tahanan (Ra)/arus Ia
Dengan menyisipkan tahanan variabel secara seri terhadap tahanan jangkar, maka nilai Ia Ra
akan dapat dikontrol sehingga nantinya harga n dapat dikontrol. Cara ini jarang digunakan
karena rugi panas yang timbul cukup besar
2.5.3 Pengaturan Kecepatan Dengan Mengatur Tegangan (Vt)
Pada pengaturan kecepatan ini orang sering memakai sistem Ward-Leonard dengan motor yang
berpenguatan bebas.

14
2.6 Pengereman pada Motor DC
Pengereman pada motor DC bisa dibedakan menjadi dua jenis, berdasarkan metodenya, yaitu
mekanis dan elektrik. Untuk pengereman mekanis menggunakan shoe brake, sedangkan untuk
pengereman elektrik dibagi lagi menjadi 4 jenis yaitu :
1.) Pengereman dinamis
Pengereman yang dilakukan dengan melepaskan jangkar yang berputar dari sumber tegangan dan
memasangkan tahanan pada terminal jangkar.
2.) Pengereman secara regeneratif dapat dilaksanakan dengan cara mengembalikan energi kinetik
motor dan beban kembali ke sumber.
3.) Pengereman pluging
Pada prinsipnya melaukukan pembalikan arah putaran dari mesin penggerak dan ini dapat
dilakukan dengan membalik polaritas sumber pada salah satu kumparannya
4.) Pengereman Mekanis (Selenoid)
Pengereman ini bisa juga dikatakan sebagai rem magnet dengan kawat pengantar (selemoid). Rem
magnet cara penggunaanya dipasang dengan poros motor sehingga pada saat motor bekerja, rem
magnet juga bekerja karena dihubungkan pararel dengan rangkaian kontrolnya. Apabila diberi arus
maka kumparan solenoid juga akan mendapat arus dan timbul penguatan
2.7 Rugi Rugi pada Motor DC
Pada mesin DC terdapat pula beberapa inefisensi yang pada dasarnya dibagi menjadi 4 yaitu :
2.7.1 Rugi Listrik
Rugi ini diakibatkan oleh pemakaian konduktor tembaga. Rugi mekanis dapat dihitung dengan
rumusan :
Rugi = I2.R ..................................................................................................................(15)
Diaman :
R = tahanan konduktor (ohm)
I = Arus listrik (Ampere)
2.7.2 Rugi Besi / Magnet
Diakibatkan oleh pemakaian besi ferromagnetik. Terdiri dari rugi histeris dan rugi arus eddy.
Rugi ini bersifat konstan, sehingga kita tidak dapat mengetahui berapa besarnya.
a. Rugi Histerisys
Pe=Ke . B2max . f2 . t2. V ........................................................................................... (16)
Dimana : ke: konstanta
Bmax: maksimum flux (wb/m2)
T : Thickness of lamination in m
V : Volume in core (m3)
b. Rugi Edy current
Pi = Ph + Pa................................................................................................................ (17)

15
Rugi W (B+M)............................................................................................................. (18)
W(B+M)= R jangkar + Rtembaga............................................................................... (19)
c. Rugi besi
Atau dapat digunakan rumus :
Wfe= 20% . W (B+M)................................................................................................ (20)

2.7.3 Rugi Mekanik


Rugi mekanis terdiri dari rugi geser pada sikat, rugi geser pada sumbu, dan rugi angin. Seperti
pada rugi besi, rugi mekanis juga bersifat konstan sehingga besarnya rugi mekanis tidak dapat
diketahui.

2.7.4 Rugi Tembaga


Rugi-rugi lilitan primer dan sekunder yang terdiri dari kawat tembaga yang memiliki panjang dan
penampang.
Rugi tembaga primer = Ip2 . Rp............................................................................................ (21)
Rugi tembaga Sekunder = Is2 . Rs......................................................................................... (22)
Pada saat tidak berbeban (beban = 0) maka tidak ada faktor daya luar yang menghambat daya input.
P input = P luar + Losses
= 0 + Losses
Vt. Im = Rugi tembaga + Rugi ( besi + mekanis )
Dan Rugi terbagi atas rugi besi + rugi mekanis. Karena P input dan rugi tembaga dapat
dihitung, maka besarnya rugi tetap dapat diketahui.

2.8 Perbedaan Motor DC dan AC


FAKTOR PEMBEDA MOTOR DC MOTOR AC

Suplai motor Arus DC Arus AC


komutator Ada Tidak ada
Daya Tetap bila kecepatan turun Turun bila kecepatan turun
Torsi Tinggi Rendah
Kecepatan Mudah dikendalikan Sulit dikendalikan

16
Arus yang mengalir

2.9 Keuntungan dan Kerugian


No Keuntungan Kerugian
1. Momen Kopel yang besar Ukuran Motor yang jauh lebih besar
2. Motor Dc dapat diubah menjadi Biaya yang cukup mahal untuk harga setiap
Generator DC motor
3. Kecepatannya mudah untuk Butuh beban tambahan karena bila tidak
diatur gerakan motor akan tidak terkendali
4. Mampu bekerja menahan beban Tidak dianjurkan pada tempat yang kotor dan
yang berat berbahaya karena sikat motor dapat
menimbulkan percikan api
5. Kualitas pasokan daya tidak Hanya bisa digunakan dengan putaran motor
bergantung pada kecepatan yang tidak terlalu tinggi
putaran motor

2.10 Aplikasi di Dunia Marine dan Darat

Aplikasi di darat Aplikasi di dunia marine

Gambar crane pada kapal


Electrik Forklift
(Sumber: www.Truenortmark.com)
www.performancepeople.com

17
Mesin Bubut System propulsi elektrik
https://encrypted-tbn3.gstatic.com

Motor Penggerak Lift


Radar yang fungsinya untuk navigasi pada kapal
otis-lift.blogspot.com
id.wikipedia.org

Contoh pada gokart listrik Alat komunikasi di kapal


http://www.electricisart-bogipower.com/ www.maritimeworld.web.id

18
Pompa
Sentrifugal
dikapal

tekimku.blogspot.com

Drills
http://www.bunnings.com.au

19
BAB III
DATA PERCOBAAN
3.1 PERALATAN
No. Nama Alat Gambar Fungsi
1 Motor DC Untuk mengubah energi listrik
Compound menjadi energy mekanik.

2 Regulator Mengatur tegangan beban dan


berperan sebagai beban

3 Penyearah arus Mengubah arus AC menjadi arus


(rectifier) DC yang dapat dipakai untuk
mengoperasikan motor DC shunt

20
4 Voltmeter Mengukur besar tegangan pada
rangkaian

5 Multitester Mengukur besarnya hambatan/


tahanan pada rangkaian

6 Tangmeter Mengukur besar arus yang


mengalir pada rangkaian

7. Kabel-kabel Menghubugkan komponen listrik


penghubung yang satu dengan yang lain

21
8. Tachometer Mengukur putaran motor DC shunt

9. Motor DC Shunt Untuk mengubah energi listrik


menjadi energy mekanik sebagai
beban

3.2 LANGKAH PERCOBAAN


1. Percobaan Motor Dc Shunt Beban Nol
a. Mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk praktikum dan memeriksa apakah
alat-alat tersebut masih berfungsi dengan baik atau tidak
b. Merangkai rangkaian pada motor dc compound seperti pada gambar dibawah ini :

22
Gambar 3.1 Rangkaian pada motor DC compound
c. Mengukur besar tahanan pada kumparan motor DC Compound dan selanjutnya
menentukan kumparan seri, kumparan shunt dan kumparan jangkar
d. Merangkai alat alat sebagai berikut

Ampermete
r

Gambar 3.2 Rangkaian Motor DC Shunt Beban Nol

Gambar 3.3 Rangkaian Percobaan Motor Dc Shunt Beban Nol

e. Motor DC dicatu daya dari sumber DC (dari sumber AC yang telah melewati penyearah
arus) melalui voltage regulator.

23
f. Pada saat motor diberi tegangan yang bervariasi 50,60,70,80 dan 90 volt atau sesuai dengan
ketentuan Grader) mengamati besarnya arus yang mengalir dengan menggunakan tang
meter
g. Besarnya putaran motor diamati dengan menggunakan tachometer

2. Percobaan Motor DC Shunt Berbeban

Ampermete Ampermete
r r
AC
AC

Rectifier Rectifier
DC
DC

Motor DC Motor DC
Compound shunt

Gambar 3.4 Rangkaian Motor DC Shunt Berbeban

Gambar 3.5 Rangkaian percobaan Motor DC Shunt Berbeban

24
a. Motor DC dicatu daya dari sumber DC (dari sumber AC yang telah melewati penyearah
arus) melalui voltase regulator. Gambar rangkaian seperti pada gambar.
b. Pembebanan dilakukan dengan pemberian arus eksitasi pada generator dengan nilai
tertentu (1,2,3,4,5) Ampere atau sesuai dengan ketentuan Grader) yang dilakukan
dengan menggunakan pengatur tegangan (Regulator B)
c. Kemudian regulator A diatur sedemikian rupa sehingga tegangannya tetap sebesar 100
volt atau sesuai dengan ketentuan Grader.
d. Amati dan catatlah besarnya rpm dan arus yang mengalir ke motor
3.3 DATA PRAKTIKUM
Rsh = 1200 merupakan tahanan shunt
Rs = 200 merupakan tahanan seri
Ra = 380 merupakan tahanan jangkar

PERCOBAAN 1
A. BEBAN NOL NAIK

No. Tegangan Sumber (V) Arus IL (A) RPM


50 1,5 995
1
60 1,3 1150
2
70 1,2 1275
3
80 1,2 1375
4
90 1,1 1450
5

B. BEBAN NOL TURUN


No. Tegangan Sumber (V) Arus IL (A) RPM
90 1,1 1440
1
80 1,1 1360
2
70 1,2 1245
3

25
60 1,2 1115
4
50 1,3 950
5

PERCOBAAN 2
A. BERBEBAN NAIK
No Tegangan Sumber Arus Eksitasi Arus IL RPM
1 100 1 1,1 1550

2 100 2 1.2 1530

3 100 3 1,3 1500

4 100 4 1,4 1460

5 100 5 1,6 1400

B. BERBEBAN TURUN
No Tegangan Sumber Arus Eksitasi Arus IL RPM
1 100 5 1,6 1415

2 100 4 1,4 1450

3 100 3 1,3 1480

4 100 2 1,2 1520

5 100 1 1,1 1540

BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Perhitungan
Dari hasil pengukuran, didapatkan nilai tahanan jangkar dan tahanan medan. Dimana nilai
tahanan medan lebih besar daripada nilai tahanan jangkar. Dimana tahanan masing masing
adalah sebagai berikut.
Tahanan Medan (Rsh) = 1100
Tahanan Jangkar (Ra) = 7,2
TAHANAN SERI
Data hasil praaktikum diolah untuk memperoleh nilai Ia, If, Pin, Wcu, W(b+m),

26
W tot.
1. Beban nol (Naik)
Vt = 50 V
IL = 1.5 A
Perhitungan
1 Arus Medan If = Vt / Rsh

= 50/1100

= 0,045 A

2 Arus Jangkar Ia = IL If

= 1.5 0.045

= 1.4545 A

3 Daya Masuk Pin= Vt x IL

= 50 x 1.5

= 75 W

4 Rugi Tembaga Wtem= (Ia2 Ra) + (If2 Rf)

= [(1.4545)2 x 7,2 ] + [ (0.045)2 x (1100)]

= 17,51 W

5 Rugi besi dan mekanik W(b+m)= 20% x Pin

= 20% x 75 w

= 15 W

6 Rugi total Wtot= Wtem + W(b+m)

= 17,51 + 15

= 32,51 W

7 Ea Ea=Vt-(Ra x Ia)

=50 -(7,2 x 1.4545)

= 39,527

8 Torsi Torsi = (Ea . Ia) / ( 2. 3,14 . (Rpm/60) )

=(39,527x 1.4545) / ( 2 . 3,14 . (995/60)

27
=0,552

Dengan cara yang sama untuk percoabaan kedua sampai kelima maka didapatkan tabel
sebagai berikut.
W
No RPM Vt iL if Ia P.in tembaga
1 995 50 1.5 0.045 1.4545 75 17.51
2 1150 60 1.3 0.055 1.25 78 14.44
3 1275 70 1.2 0.064 1.14 84 13.75
4 1375 80 1.20 0.073 1.13 96 14.97
5 1450 90 1.1 0.082 1.02 99 14.83
W (b+m) W tot Torsi Ea
15.00 32.51 0.552 39.527
15.60 30.04 0.528 51.033
16.80 30.55206612 0.526 61.818
19.20 34.16753719 0.563 71.884
19.80 34.62783471 0.555 82.669

2. Beban Nol (turun)


Vt = 50 V
IL = 1.1 A
Perhitungan
1 Arus Medan If = Vt/Rsh

= 90/1100

= 0.082 A

2 Arus Jangkar Ia = IL If

= 1.1 0.082

= 1.02 A

3 Daya Masuk Pin= Vt x IL

= 90 x 1.1

= 99 W

4 Rugi Tembaga Wtem= (Ia2 Ra) + (If2 Rf)

= [ (1.022 x 7,2] + [ (0.082)2 x (1100)]

= 14,83 W

28
5 Rugi besi dan mekanik W(b+m)= 20% x Pin

= 20 % x 99

= 19,8 W

6 Rugi total Wtot= Wtem + W(b+m)

= 14,83+ 19,8

= 34,62 W

7 Ea Ea=Vt-(Ra . Ia)

=90 -(7,2 x 1.02)

= 82,669

8 Torsi Torsi = (Ea . Ia) / ( 2. 3,14 . (Rpm/60) )

=(82,669 x 1.02) / ( 2 . 3,14 . (1440/60)

= 0,558 (SATUAN)

Dengan cara yang sama untuk percoabaan kedua sampai kelima maka didapatkan tabel sebagai
berikut.
W
No RPM Vt Il if Ia Pin tembaga
1 1440 90 1.1 0.082 1.02 99.00 14.83
2 1360 80 1.1 0.073 1.03 88.00 13.42
3 1245 70 1.2 0.064 1.14 84.00 13.75
4 1115 60 1.2 0.055 1.15 72.00 12.72
5 950 50 1.3 0.045 1.25 65.00 13.60
W (b+m) W tot Torsi Ea
19.80 34.62783471 0.558 82.669
17.60 31.01626446 0.524 72.604
16.80 30.55206612 0.539 61.818
14.40 27.11960331 0.508 51.753
13.00 26.60469421 0.517 40.967

3. Berbeban (Naik)
Vt= 100 V
IL = 1.1 A
Arus eksitasi = 1 A
Perhitungan
1 Arus Medan If = Vt/Rsh

29
= 100/1100

= 0.0909 A

2 Arus Jangkar Ia = IL If

= 1.1 0.0909

= 1.009 A

3 Daya Masuk Pin= Vt x IL

= 100 x 1.1

= 110 W

4 Rugi Tembaga Wtem= (Ia2 Ra) + (If2 Rf)

= [ (1.009)2 x 7,2] + [ (0.0909)2 x (1100)]

= 16,24 W

6 Rugi besi dan mekanik W(b+m)= 20% x Pin

= 20% x 110

= 22 W

8 Rugi total Wtot= Wtem + W(b+m)

=16,24 + 22

= 38,4224 W

9 Ea Ea=Vt-(Ra . Ia)

=100-(7,2 . 1.02)

= 92,735

9 Torsi Torsi = (Ea . Ia) / ( 2. 3,14 . (Rpm/60) )

=(92,735. 1.009) / ( 2 . 3,14 . (1550/60)

=0,577

10 Daya Keluar Pout = Pin W tot

= 110 38,4224

= 71,5776

30
11 Efisiensi = Pout/Pin x 100%

= (71,5776/110) x 100%

=0,651

No Exitasi Vt IL Ia If Pin W(tem)


1 1 100 1.1 1.009 0.090909 110 16.4224
2 2 100 1.2 1.109 0.090909 120 17.9475
3 3 100 1.3 1.209 0.090909 130 19.6166
4 4 100 1.40 1.309 0.090909 140 21.4297
5 5 100 1.6 1.509 0.090909 160 25.4879
W(b+m) W tot P out Eff torsi
22.000 38.4224 71.5776 0.651 0.577
24.000 41.9475 78.0525 0.650 0.637
26.000 45.6166 84.3834 0.649 0.703
28.000 49.4297 90.5703 0.647 0.776
32.000 57.4879 102.5121 0.641 0.918

Ea rpm
92.735 1550
92.015 1530
91.295 1500
90.575 1460
89.135 1400

4. Beban Turun
Vt= 100 V
IL = 1.6A
Arus eksitasi = 5 A
Perhitungan
1 Arus Medan If = Vt/Rsh

= 100/1100

31
= 0,0909

2 Arus Jangkar Ia = IL If

= 1.6 0.0909

= 1.509A

3 Daya Masuk Pin= Vt x IL

= 100 x 1.6

= 160 W

4 Rugi Tembaga Wtem= (Ia2 Ra) + (If2 Rf)

= [ (1.509)2 x 7,2] + [ (0.0909)2 x (1100)]

= 25,488 W

5 Rugi besi dan mekanik W(b+m)= 20% x Pin

= 1/5 x 160

= 32 W

7 Rugi total Wtot= Wtem+ W(b+m)

= 25,488 + 32

= 57,488 W

8 Ea Ea=Vt-(Ra . Ia)

=100-(7,2. 1.509)

= 89,135

9 Torsi Torsi = (Ea . Ia) / ( 2. 3,14 . (Rpm/60) )

=(89,135 x 1,509) / ( 2 . 3,14 . (1415/60)

= 0,91

10 Daya Keluar Pout = Pin W tot

=160 57,488

= 102,512 W

11 Efisiensi = Pout/Pin x 100%

=102,512 /160 x 100%

= 0,641

32
Dengan rumus yang sama untuk perhitungan percobaan kedua sampai kelima maka
didapatkan tabel berikut.
No exitasi Vt IL Ia If Pin W(tem)
1 5 100 1.6 1.509 0.090909 160 25.488
2 4 100 1.4 1.309 0.090909 140 21.430
3 3 100 1.30 1.209 0.090909 130 19.617
4 2 100 1.2 1.109 0.090909 120 17.948
5 1 100 1.1 1.009 0.090909 110 16.422
W(b+m) W tot P out Eff torsi
32.000 57.488 102.512 0.641 0.91
28.000 49.430 90.570 0.647 0.78
26.000 45.617 84.383 0.649 0.71
24.000 41.948 78.052 0.650 0.64
22.000 38.422 71.578 0.651 0.58

ea rpm
89.135 1415
90.575 1450
91.295 1480
92.015 1520
92.735 1540

4.2 Grafik
1. Grafik Vt - RPM
Grafik Vt vs RPM untuk beban nol/naik

Vt vs RPM (beban nol naik)


1500

1400

1300
RPM

1200

1100

1000

900
50 60 70 80 90 100
Vt

Dari grafik ditunjukan bahwa tegangan berbanding lurus terhadap RPM.


Semakin tinggi tegangan, semakin tinggi juga putarannya. Maka, hasil praktikum telah
sesuai dengan rumus yang ada, ditunjukkan penjabaran rumus sebagai berikut :

T = Ea .Ia / (2.n/60)

33
Ea = Vt (Ia . Ra)

Maka,

T = [ {Vt (Ia . Ra)}. Ia ] / (2.n/60)

Vt = n (T . 2 / 60 . Ia) + Ia . Ra

Sehingga terbukti bahwa Vt berbanding lurus dengan putaran (n).

Grafik Vt vs RPM untuk beban nol/turun

Vt vs RPM (beban nol turun)


1500

1400

1300
RPM

1200

1100

1000

900
50 60 70 80 90 100
Vt

Sama seperti beban nol naik, dari grafik ditunjukan bahwa Vt (tegangan)
berbanding lurus terhadap RPM. Semakin tinggi tegangan, semakin tinggi juga
putarannya.

2. Grafik Torsi - RPM


Grafik Torsi vs RPM untuk beban nol/naik

1500
Torsi vs RPM ( Beban nol naik)
1400

1300

1200
RPM

1100

1000

900
0.50 0.52 0.54 0.56 0.58 0.60

Vt

Pada rumus Torsi diketahui bahwa tegangan dengan torsi berbanding terbalik. Dilihat
bahwa semakin tingginya RPM maka akan semakin kecil dari torsi yang dihasilkan. Sesuai
.
dengan rumus Torsi adalah T = 2/60 . Pada grafik diatas terlihat nilai torsi berbanding lurus

34
dengan nilai RPM, hal tersebut dikarenakan pada masing masing RPM motor diberi tegangan
sumber yang berbeda- beda sehingga tampak seperti berbanding lurus.

Grafik Torsi vs RPM untuk beban nol/turun

Torsi vs RPM ( Beban nol turun)


1500

1400

1300
RPM

1200

1100

1000

900
0.50 0.52 0.54 0.56 0.58 0.60
TORSI

Pada grafik tersebut diketahui bahwa tegangan dengan torsi berbanding terbalik. Sesuai
.
dengan rumus Torsi adalah T = 2/60. Pada grafik diatas terlihat nilai torsi berbanding lurus

dengan nilai RPM, hal tersebut dikarenakan pada masing masing RPM motor diberi tegangan
sumber yang berbeda- beda sehingga tampak seperti berbanding lurus.

Grafik Torsi vs RPM untuk berbeban naik

torsi vs RPM (berbeban naik)


1.00
0.95
0.90
0.85
0.80
TORSI

0.75
0.70
0.65
0.60
0.55
0.50
1400 1420 1440 1460 1480 1500 1520 1540 1560
RPM

Pada rumus torsi diketahui bahwa tegangan dengan torsi berbanding terbalik. Dilihat
bahwa semakin tingginya RPM maka akan semakin kecil dari torsi yang dihasilkan. Sesuai

35
.
dengan rumus Torsi adalah T = 2/60 . Pada grafik diatas terlihat nilai torsi berbanding lurus

dengan nilai RPM, hal tersebut dikarenakan pada masing masing RPM motor diberi tegangan
sumber yang berbeda- beda sehingga tampak seperti berbanding lurus.

Grafik Torsi vs RPM untuk berbeban turun

torsi vs RPM (berbeban turun)


1.00
0.95
0.90
0.85
0.80
TORSI

0.75
0.70
0.65
0.60
0.55
0.50
1400 1420 1440 1460 1480 1500 1520 1540 1560
RPM

Diketahui bahwa tegangan dengan torsi berbanding terbalik. Pada grafik diatas terlihat nilai
torsi berbanding lurus dengan nilai RPM, hal tersebut dikarenakan pada masing masing
RPM motor diberi tegangan sumber yang berbeda- beda sehingga tampak seperti
berbanding lurus.

3. Grafik Efisiensi Beban


1. Grafik efisiensi vs arus eksitasi untuk berbeban naik

36
EFISIENSI VS ARUS EKSITASI (BERBEBAN NAIK)
69%
68%
EFISIENSI 67%
66%
65%
64%
63%
62%
61%
60%
1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5
ARUS EKSITASI

Grafik diatas menunjukkan bahwa hubungan antara arus eksitasi terhadap efisiensi
berbeban pada dasarnya adalah konstan atau adapun penurunan atau kenaikan hanyalah sedikit.
Dari hasil praktikum yang dilakukan dapat dilihat adanya penurunan efisiensi. Hal ini
dikarenakan banyak faktor seperti: umur motor, material, losses dan lain sebagainya Sesuai
dengan rumus :
=Pout/Pin x 100%

Grafik Efisiensi vs Beban eksitasi untuk berbeban turun

37
66%
65%
64%

EFISIENSI
63%
62%
61%
60%
1.00 2.00 3.00 4.00 5.00
Arus Eksitasi

Grafik diatas menunjukkan bahwa hubungan antara arus eksitasi terhadap efisiensi
berbeban turun adalah konstan. Sesuai dengan rumus :
=Pout/Pin x 100%,

4. Grafik Rugi Total RPM


a. Rugi total Vs RPM(beban Nol Naik)

RUGI TOTAL VS RPM(Beban Nol


Naik)
1500
1400
RPM

1300
1200
1100
1000
900
29.00 30.00 31.00 32.00 33.00 34.00 35.00
W.total

Pada Grafik tersebut dapat diketahui bahwa RPM berbanding lurus dengan Wtot rugi
total. Hal tersebut dipengaruhi oleh rugi daya total yang ada pada motor DC baik yang
bekerja pada jangkar, medan magnet, dan rangkaian seri. Rumus kerugian W(b+m) adalah
20% dari Pin., dimana rugi total motor dc adalah Wcu ditambah dengan W(b+m).
b. Rugi total Vs RPM (Beban nol Turun)

38
RUGI TOTAL VS RPM (Beban nol turun)
1600
1500
1400

RPM
1300
1200
1100
1000
900
26 28 30 32 34 36
W.Total

Pada Grafik tersebut dapat diketahui bahwa RPM berbanding lurus dengan Wtot rugi total.
Hal tersebut dipengaruhi oleh rugi daya total yang ada pada motor DC baik yang bekerja
pada jangkar, medan magnet, dan rangkaian seri. Rumus kerugian W(b+m) adalah 20%
dari nilai Pin., dimana rugi total motor dc adalah Wcu ditambah dengan W(b+m).
c. Rugi total Vs RPM(berbeban naik)

rugi total vs rpm( berbeban naik)


1600
1500
1400
1300
RPM

1200
1100
1000
900
35 40 45 50 55 60

W.Total

Pada Grafik tersebut dapat diketahui bahwa RPM berbanding terbalik dengan Wtot rugi
total. Hal tersebut dipengaruhi oleh rugi daya total yang ada pada motor DC baik yang bekerja
pada jangkar, medan magnet, dan rangkaian seri. Rumus kerugian W(b+m) adalah 20% dari
nilai Pin dimana rugi total motor dc adalah Wcu ditambah dengan W(b+m).

d. Rugi Total Vs RPM (Berbeban Turun)

39
1600 rugi total vs rpm( berbeban turun)

1550

RPM
1500

1450

1400
37 42 W.Total
47 52 57 62

Pada Grafik tersebut dapat diketahui bahwa RPM berbanding terbalik dengan Wtot rugi
total. Hal tersebut dipengaruhi oleh rugi daya total yang ada pada motor DC baik yang bekerja
pada jangkar, medan magnet, dan rangkaian seri. Rumus kerugian W(b+m) adalah 20% dari
nilai total daya losses yaitu daya losses akibat copper., dimana rugi total motor dc adalah Wcu
ditambah dengan W(b+m).
4.3 Pembahasan
1. Beban Nol
Dari grafik putaran (rpm) terhadap voltase atau tegangan , menunjukkan bahwa RPM
berbanding lurus dengan Tegangan. Semakin besar tegangan yang diberikan, semakin besar
pula jumlah putaran yang dihasilkan. Hal ini terjadi karena apabila putarannya semakin
besar, maka arus yang masuk menjadi semakin besar sehingga rugi tembaga menjadi
semakin besar.

2. Berbeban
Dari grafik hubungan eksitasi dengan efisiensi pada beban naik terlihat bahwa jika eksitasi
semakin diperbesar, nilai efisiensi semakin berkurang. Sama halnya pada beban turun,
apabila eksitasi bertambah, nilai efisiensi akan berkurang. Sedangkan untuk grafik
hubungan torsi dengan RPM terlihat bahwa jika RPM semakin besar, maka torsi akan
semakin bertambah hal tersebut dikarenakan pada masing masing RPM motor diberi
tegangan sumber yang berbeda- beda sehingga tampak seperti berbanding lurus.

40
BAB V
KESIMPULAN

1. Berdasarkan teorinya hubungan torsi dengan putaran pada motor DC baik pada berbeban turun
maupun berbeban naik, memiliki perbandingan yang terbalik. Ini juga berlaku untuk
.
sebaliknya. Hal ini sesuai dengan rumus : T = 2/60

Sedangkan untuk eksitasi dengan fungsi putaran berbanding terbalik. Semakin besar eksitasi
maka semakin kecil putaran
2. Untuk menghitung daya motor maka rumus yang digunakan
Daya Masuk Pin= Vt x IL

Sedangkan untuk menghitung kerugiannya menggunakan rumus


Rugi Tembaga Wtem= (Ia2 Ra) + (If2 Rf)

Rugi besi dan mekanik W(b+m)= 20% x Pin

Rugi total Wtot= Wtem + W(b+m)

3. Rectifier merupakan peralatan elektronika yang digunakan untuk mengubah tegangan listrik
AC menjadi DC. Ada 3 bagian utama dalam penyearah gelombang pada suatu power supply
yaitu, penurun tegangan (transformer), penyearah gelombang / rectifier (diode) dan filter
(kapasitor). (DIAGRAM RECTIFIERNYA)
AC input ----- transformer ----- rectifier ----- filter ----- dc output
4. Yang dimaksud tahanan jangkar adalah tahanan yang berguna sebagai pengendali kecepatan
motor. Tahanan kumparan adalah listrik pada kumparan yang akan menimbulkan panas bila
kumparan tersebut dialiri arus.(PENGERTIAN MASING2 TAHANAN)

5. Perbedaan motor AC dan DC

MOTOR AC MOTOR DC
Tidak mempunyai Komutator Mempunyai Komutator
Arah arus searah Arah arus bolak-balik

41
Untuk alat-alat yang membutuhkan torsi Untuk alat-alat yang membutuhkan torsi
rendah tinggi
Kecepatan motor lebih sulit dikendalikan Lebih mudah dikendalikan
6. Arus eksitasi adalah arus yang mengalir pada kutub magnet beban generator yang berasal dari
sumber yang berbeda dengan arus yang mengalir ke dalam motor.
7. Karena terdapat beberapa tahanan yaitu tahanan jangkar, seri dan tahanan shunt

8. Aplikasi motor DC khususnya di bidang marine adalah dapat diaplikasikan di steering gear,
boiler, crane, dan lain-lain.

9. Berdasarkan teorinya hubungan putaran dengan rugi besi mekanis pada motor DC baik pada
berbeban turun maupun berbeban naik , bahwa RPM berbanding terbalik dengan Wb+m ( Rugi
besi mekanis) berdasarkan rumus daya losses dasar (I x R). Apabila RPM yang digunakan
semakin tinggi, maka Wb+m ( Rugi besi mekanis ) yang dihasilkan pun akan semakin rendah

10. Berdasarkan teorinya, hubungan antara arus eksitasi dengan efisiensi, baik pada berbeban turun
maupun berbeban naik memiliki perbandingan yang terbalik. Ini sesuai dengan prakteknya,
berdasarkan grafiknya (sebagai contoh : berbeban turun) arus eksitasi semakin kecil maka
effisiensinya semakin tinggi, begitu juga sebaliknya. Hal ini juga sama dengan hubungan antara
putaran dengan torsinya, berbanding terbalik

42