Anda di halaman 1dari 3

GEMBALA YANG BAIK

Maka kata Yesus sekali lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke
domba-domba itu”. Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan
masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. (Yohanes 10:7, 9).

Di dalam Alkitab, Allah menyebut kita sebagai domba. Hal ini kelihatannya seakan-akan
merendahkan kita. Mengapa Allah tidak menyebut kita sebagai serigala yang kuat, Singa yang
perkasa, Kancil yang cerdik atau elang yang dapat melayang tinggi dengan gagahnya. Saudara,
sangat memalukan disebut sebagai domba, kelihatan seperti betina, tidak dapat berkelahi, tidak
dapat lari, lamban berfikir. Ya... Tuhan Allah tidak menyebut kita sebagai serigala sebab
memang pekerjaan kita bukan untuk memangsa saudara-saudara kita, Dia tidak menyebut kita
harimau, sebab kita dipanggil tidak untuk menyakiti saudara-saudara kita, kita tidak disebutnya
sebagai kancil sebab kita bukanlah untuk menipu saudara-saudara kita dengan kelicikan bahkan
kita tidak disebut elang yang memiliki kecepatan terbang yang hebat sebab kita dipanggil bukan
untuk menggunakan kehebatan kita. Tapi kita dipanggil sebagai seekor domba yang tidak dapat
berfikir, sebab kita tidak perlu mengandalkan pikiran kita, kita juga disebutNya domba yang
tidak pandai berkelahi sebab kita
memang bukan untuk berkelahi, mengkritik atau melukai saudara-saudara kita.

Tapi kita dipanggilnya sebagai seekor domba yang kelihatan dungu. Yesus berkata,
Sekalipun begitu; “Aku mengutus engkau seperti domba”. DombaKu mengenal suaraKu!
Mengapa? Satu pelajaran yang kita dapati dari domba adalah ketergantungannya, kepada
gembalanya. Allah ingin agar kita senantiasa bergantung padaNya, itulah sebabnya kita
disebutNya domba.

Pada saat ini kita akan mempelajari suatu pandangan yang baru dari Mazmur yang sudah
sangat tua itu yaitu dalam Mazmur 23.

1. GEMBALA YANG BAIK MELENYAPKAN RASA TAKUT

Mazmur 23:2 “Ia membimbing aku ke air yang tenang”.

Domba sangat takut kepada air, dia dikenal sebagai seorang perenang pemula yang
menggunakan jas wol. Domba sangat takut pada air apalagi saat bulunya mekar/lebat.

Gembala yang baik itu membuangkan rasa takut dengan cara menciptakan suatu kolam
yang tenang, damai dari aliran air pegunungan.

Saudara-saudara, sering kali kita dihantui rasa takut, takut terhadap keadaan dunia,
masalah ekonomi, merasa tidak dicintai, takut terhadap usia yang semakin menua, takut terhadap
penyakit, kematian.

Saudara, Gembala yang baik itu mengetahui hal-hal ini, dan Ia selalu siap untuk
membuang rasa takut yang kita hadapi.
2. GEMBALA YANG BAIK MENUNTUN JALAN YANG BENAR.

Mazmur 23:3 “Ia menuntun aku di jalan yang benar”. Seorang gembala meninggalkan
kandang dombanya, bukanlah untuk membawa dombanya ke dalam air yang terjun dari atas
pegunungan yang berakhir ke dalam jurang (ngarai). Tetapi Gembala adalah membawa domba-
dombanya ke jalan-jalan di pegunungan, memang jalan-jalan di pegunungan itu curam dan terjal,
tapi ingat! Jalan itu penuh dengan rumput-rumput yang segar.

3. GEMBALA YANG BAIK BERSAMA-SAMA DENGAN KITA DALAM


PENCOBAAN.

Mazmur 23:4 “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya,
sebab Engkau besertaku”.

4. MALAM, TAPI TIDAK SENDIRIAN.

Bersama dengan gembala yang baik itu bukanlah berarti tidak akan ada lembah-lembah,
bayang-bayang atau kematian. Itu semua tetap ada, tetapi kita tidak sendirian menghadapinya.

Para istri biasanya sangat memperhatikan pintu-pintu, jendela-jendela, apakah sudah


tertutup bila malam tiba, apalagi bilamana suaminya tidak di rumah. Janganlah takut kepada
malam, tetapi takutlah bila sendiri di malam hari.

5. KEKRISTENAN BUKANLAH SEKEDAR PENAHAN ANGIN TAPI


ADALAH DASAR (FONDASI) YANG KUAT
Matius 7:24 “Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini akan melakukannya, ia sama
dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
Meskipun hujan lebat, banjir meluap, angin ribut menimpa setiap rumah, rumah yang
didirikan di atas batu tetap berdiri kokoh dan tergar.

6. GEMBALA YANG BAIK MEMPERHATIKAN YANG SAKIT DAN YANG


TERLUKA.

Mazmur 23:5 “Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak.”


Pada saat-saat matahari terbenam, gembala yang baik itu menghalau domba-dombanya
dengan tongkatnya, agar domba-domba itu masuk ke kandangnya. Gembala yang baik itu akan
meminyaki kepala domba-domba yang terluka.

Setiap orang ditempati ini mungkin pernah terluka atau disakiti oleh seseorang, di mana
saja, kapan saja. Gembala yang baik itu ada di sini untuk menyembuhkan penyakit saudara.

7. GEMBALA YANG BAIK ITU MEMBAWA SUKACITA


Mazmur 23:5 “Pialaku penuh melimpah”. Beberapa ekor dari domba-domba itu mungkin
ada yang merasa lelah, mungkin saja mereka telah jatuh bergulir-gulir di pegunungan itu,
mungkin juga ada yang lelah dan kehabisan
tenaga.

Kini, gembala itu siap dengan cangkir yang berisi air ditanganNya, mungkin saja domba-
domba itu mendorongkan moncongnya ke dalam cangkir atau cawan itu sehingga dia menjadi
segar.

Boleh jadi kita terlalu sibuk atau merasa lelah, gembala yang baik itu siap menyediakan
air hidup, minumlah sepuas-puasnya. Biarlah saudara disegarkan.

Mazmur 23:6 “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku”.

Saudaraku, sungguh amat bahagia! Hidup ini akan selalu bersuka cita bila mengikuti
gembala yang baik.

Dari 98 kata dalam Alkitab bahasa Indonesia dalam Mazmur 23 ini 97 kali menyebutkan
tentang adanya kepastian tentang: Adanya gembala yang baik yang baik yang menghilangkan
rasa takut; Yang menuntun kita ke jalan yang benar, Yang selalu bersama kita meskipun dalam
kesusahan, membawa kebahagiaan. Hanya ada satu kata yang belum pasti yakni: “Tuhan adalah
gembalaku”. Apakah memang Tuhan itu gembalaku, gembala saudara-saudara secara pribadi?

Saudara, menentang saudara-saudara untuk siap mempraktekkan ketergantungan yang


sepenuhnya kepada gembala yang baik itu pada Minggu ini dalam setiap keputusanmu,
masalahmu, kesedihanmu, kesenanganmu. Tetapkan hatimu untuk bergantung kepadaNya,
sebelum tulisan ini diakhiri. “Tuhan adalah Gembalaku”.