Anda di halaman 1dari 14

Akuntansi Perbankan dan LPD

Akuntansi Modal Bank


SAP 5

Oleh:

Kelompok 1
Ni Putu Widiantari (1506305022)
Desak Made Dwi Januari (1506305026)
Luh Putu Gita Cahyani (1506305038)

Fakultas Ekonomi Dan Bisnis


Universitas Udayana
2017
Bank didirikan untuk jangka waktu tak terbatas, artinya manajemen bank akan
berusaha untuk menjaga keberlangsungan operasi bank. Untuk mempertahankan dan
mengembangkannya diperlukan daya saing yang memadai. Untuk dapat bersaing sebuah
bank harus bekerja pada tingkat efisiensi yang tinggi dan mampu mengelola risiko, mampu
menciptakan dan mengembangkan sistem dan prosedur pelayanan, serta sistem informasi
yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan operasional bank serta memiliki modal yang
cukup dan sehat sebagai penggerak aktivitas.
Modal bank adalah dana yang diinvestasikan oleh pemilik dalam rangka pendirian
badan usaha yang dimaksudkan untuk membiayai kegiatan usaha bank di samping untuk
memenuhi regulasi yang ditetapkan oleh otoritas moneter. Ketentuan jumlah modal inti di
bank umum maupun modal disetor di BPR bisa berbeda, namun untuk rasio kecukupan
modal adalah 8% dari Aktiva Tertimbang Menurut Risiko baik di BPR maupun Bank Umum.
Rasio kecukupan modal di bank harus memperhitungkan risiko pasar, karena itu akan dibahas
mengenai jenis modal dan akuntansinya serta teknis perhitungan rasio kecukupan modal di
BPR dan Bank Umum.

1. Klasifikasi Modal Bank


Pembagian jenis modal bank di Indonesia dapat diklasifikasikan sesuai Standar Bank For
International Settlements, yaitu:
1.1 Modal Inti (Tier 1)
Modal inti terdiri dari modal disetor, modal sumbangan, cadangan-cadangan yang
dibentuk dari laba setelah pajak dan laba diperoleh setelah perhitungan pajak.
a. Modal inti yaitu modal yang telah disetor secara efektif oleh pemiliknya.
b. Modal sumbangan, yaitu modal yang dieroleh kembali dari sumbangan saham,
termasuk selisih antara nilai yang tercatat dengan harga jual apabila saham
tersebut dijual. Modal ini sering disebut modal donasi.
c. Cadangan umum, yaitu cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba yang ditahan
atau dari laba bersih setelah dikurangi pajak, dan mendapat persetujuan dari rapat
umum pemegang saham.
d. Cadangan tujuan, yaitu bagian laba yang dikurangi pajak yang disisihkan untuk
tujuan tertentu dan telah mendapat persetujuan rapat umum pemegang saham.
e. Laba ditahan dimaksudkan adalah saldo laba bersih setelah dikurangi pajak yang
oleh rapat umum pemegang saham diputuskan untuk tidak dibagikan.
f. Laba tahun lalu adalah laba tahun-tahun lalu setelah dikurangi pajak yang belum
ditetapkan penggunaannya oleh rapat umum pemegang saham.
g. Laba tahun berjalan setelah dikurangi dengan taksiran hutang pajak. Laba tahun
lalu berjalan ini hanya diperhitungkan sebagai modal inti sebesar 50%.
Modal inti merupakan modal yang disetor para pemilik bank dan modal yang
berasal dari cadangan yang dibentuk ditambah dengan laba yang ditahan. Porsi terbesar
modal inti terletak pada modal saham yang disetor. Sedangkan selebihnya sangat
tergantung laba yang diperoleh dan kebijakan Rapat Umum Pemegang Saham.
Untuk modal disetor berupa saham biasa. Pemegang saham basa memliki hak
suara, sehingga dapat mengendalikan manajemen bank. Pada saham preferen,
pemegangnya tidak mempunyai hak suara namun pembagian dividennya akan
didahulukan sebelum membayar dividen saham biasa.
Pencatatan modal saham dilakukan sebesar harga nominal. Selisih harga saham
diatas nilai nominal dicatat sebagai agio saham. Selisih harga saham dibawah nilai
nominal dicatat sebagai disagio saham. Agio saham akan diamortisasi setiap akhir
periode dan disagio saham akan diakumulasi setiap akhir periode.
Harga saham atau nilai modal disetor (paid in capital) merupakan total yang
dibayar oleh pemegang saham kepada bank emiten untuk ditukarkan dengan saham
preferen atau saham biasa. Nilai modal disetor merupakan penjumlahan nilai nominal
ditambah dengan disagio saham atau nilai nominal dikurangi disagio saham. Sedangkan
nilai nominal merupakan nilai kewajiban yang ditetapkan untuk tiap-tiap lembar saham.
Nilai nominal ditentukan berkaitan dengan kepentingan hukum, misalnya untuk
proteksi terhadap kreditur. Dalam hal bank emiten menerbitkan saham biasa dan saham
preferen, maka penyajian dalam neraca saham preferen harus didahulukan.
Contoh:
a. Tanggal 2 januari 2012 telah diterima setoran awal dana dari Bapak Surya Darma
untuk modal bank berupa uang tunai Rp 500.000.000, aktiva tetap berupa tanah
senilai Rp 600.000.000, kendaraan baru dan belum disusut senilai Rp
200.000.000, inventaris kantor senilai Rp 200.000.000. setoran ini dicatat dalam
bentuk saham biasa untuk 150.000 lembar dengan nilai nominal Rp 10.000 per
lembar, kurs 103%.
b. Tanggal 10 januari 2012 dijual saham biasa 10.000 lembar dengan nominal Rp
5000, kurs 97%. Pembayaran diterima tunai.
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
2/1/2012 Dr. Kas 545.000.000
Dr. AT. Tanah 600.000.000
Dr. AT. Kendaraan 200.000.000
Dr. AT. inventaris kantor 200.000.000
Cr. Modal disetor saham biasa 1.500.000.000
Cr. Agio saham 45.000.000

Dr. Kas 48.500.000


Dr. Disagio saham 1.500.000
Cr. Modal disetor saham biasa 50.000.000

Bank yang mengeluarkan saham sering menerima pesanan saham dari calon
investor. Saham yang dijual secara pesanan harus diserahkan setelah dilunasi
seluruhnya. Perlakuan akuntansi untuk pemesanan saham adalah emiten akan mendebit
piutang pemesan saham dan mengkredit modal saham yang dipesan. Bila dikemudian
hari pemesanan saham tidak mampu melunasi kekurangannya dan bank selaku emiten
harus mencatatnya sesuai dengan perjanjian yang disepakati awal.
Contoh transaksi pemesanan saham :
1. Tanggal 15 juni 2012 Bank Mitra Buana menerima pesanan saham 100.000
lembar saham biasa dari PT Mirana dengan kurs 102. Harga nominal per lembar
Rp 10.000. uang muka pesanan saham diterima 60% tunai.
2. Tanggal 30 juni 2012 pesanan saham tersebut dilunasi secara tunai.
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
15/6-2012 Dr. Kas 612.000.000
Dr. Piutang- PT Mirana 408.000.000
Cr. Modal saham dipesan 1.000.000.000
Cr. Agio saham 20.000.000

30/6-2012 Dr. Kas 408.000.000


Dr. Modal saham dipesan 1.000.000.000
Cr. Piutang PT Mirana 408.000.000
Cr. Modal disetor-saham biasa 1.000.000.000

1.1.1 Pembelian Kembali Saham


Pembelian kembali saham yang telah beredar dapat dilakukan dengan kerangka
untuk mempertahankan struktur kepemilikan, menghindari hostile takeover, memenuhi
tuntutan regulasi atau untuk mengimbangi penurunan skala operasi bank yang semakin
menurun sehingga tidak perlu modal besar. Saham yang dibeli kembali disebut saham
treasuri.
Perlakuan akuntansi untuk saham treasuri terdiri dari dua macam. Yang pertama
dicatat berdasarkan harga perolehan dan cara lain saham dicatat sebesar harga nominal.
Saham yang diperoleh kembali dicatat sebesar harga perolehan, maka pada saat dijual
kembali juga dicatat atau dikreditkan sebesar harga perolehannya. Bila pembelian
saham treasuri dilakukan lebih dari satu kali, maka dapat digunakan Metode Masuk
Terakhir Keluar Pertama (MTKP). Dan disajikan sebagai pengurang modal saham.
Pada pencatatan didasarkan pada harga nominal, saham yang diperoleh kembali dicatat
sebesar harga nominal dan disajikan sebagai pengurang terhadap modal saham.
Contoh :
a. Tanggal 1 juni 2012 Bank ABC melakukan emisi saham biasa 100.000 lembar
dengan nominal Rp 5000 per lembar. Kurs 106.
b. Tanggal 30 juni 2012 Bank ABC membeli kembali 10.000 lembar sahamnya
dengan kurs 103.
c. Tanggal 30 juli 2012 Bank ABC menjual kembali saham treasuri sebanyak 10.000
lembar dengan kurs 104.
d. Tanggal 1 agustus 2012 Bank ABC menjual kembali 10.000 lembar saham treasuri
dengan kurs 96.
Jurnal untuk transaksi ini adalah :
Metode harga perolehan
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
1/6-2012 Dr. Kas 530.000.000
Cr. Modal saham 500.000.000
Cr. Agio saham 30.000.000

30/6-2012 Dr. saham treasuri 51.500.000


Cr. kas 51.500.000

30/7-2012 Dr. kas 52.000.000


Cr. Saham treasuri 51.500.000
Cr. Tambahan modal- ST 500.000

1/8-2012 Dr. kas 48.000.000


Dr. tambahan modal - ST 3.500.000
Cr. Saham treasuri 51.500.000

Metode harga nominal


Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
1/6-2012 Dr. Kas 530.000.000
Cr. Modal saham 500.000.000
Cr. Agio saham 30.000.000

30/6-2012 Dr. saham treasuri 50.000.000


Dr. agio saham 1.500.000
Cr. kas 51.500.000

30/7-2012 Dr. kas 52.000.000


Cr. Saham treasuri 50.000.000
Cr. Agio modal saham 2.000.000

1/8-2012 Dr. kas 48.000.000


Dr. agio modal saham 2.000.000
Cr. Saham treasuri 50.000.000

1.1.2 Penarikan Kembali Saham Treasuri


Saham treasuri yang ditarik kembali, berarti saham tersebut tidak diedarkan
kembali. Perlakuan akuntansi untuk saham treasuri yang ditari tergantung metode
pencatatannya. Bila berdasarkan harga perolehan, sebagaimana kita perhatikan
sebelumnya bahwa bank tidak mengakui kenaikan ataupun penurunan modal dari
saham treasuri yang diperoleh, maka kenaikan atau penurunan saham treasuri harus
diakui pada saat saham tersebut ditarik kembali. Bila pencatatannya didasarkan pada
harga nominal, maka bank telah mengakui kenaikan atau penurunannya, sehingga pada
saat penarikan tidak perlu mengakui selisih atau kenaikan/penurunan tersebut.
Contoh :
Misalkan setelah terjadi transaksi pembelian kembali saham treasuri di Bank ABC
pada tanggal 30 juni 2012, Bank ABC menyatakan menarik 10.000 lembar saham
treasuri tersebut pada tanggal 15 juli 2012. Maka pencatatannya adalah :
Berdasarkan metode harga perolehan
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
15/6-2012 Dr. modal saham 50.000.000
Dr. agio saham 3.000.000
Cr. Tambahan modal Sh.
1.500.000
treasuri
Cr. Saham treasuri 51.500.000
Berdasarkan metode harga nominal
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
15/7-2012 Dr. modal saham 50.000.000
Cr. Saham treasuri 50.000.000

2. Modal Pelengkap (Tier 2)


Modal pelengkap terdiri atas cadangan-cadangan yang dibentuk tidak berasal dari
laba, modal pinjaman, serta pinjaman subordinasi.
a. Cadangan revaluasi aktiva tetap, yaitu cadangan yang dibentuk dari selisih
penilainan kembali aktiva tetap yang telah mendapat persetujuan dari Direktorat
Jendral Pajak.
b. Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang dibentuk dengan cara membebani
laba rugi tahun berjalan, dengan maksud untuk menampung kerugian
yangmungkin timbul sebagai akibat dari tidak diterimanya kembali sebagian atau
seluruh aktiva produktifnya.
c. Modal pinjaman, yaitu utang yang didukung oleh instrument atau warkat yang
memiliki sifat-sifat seperti modal dan mempunya cirri-ciri tidak dijamin oleh bank
yang bersangkutan, tidak dapat ditarik atau dilunasi atas inisiatif pemilik tanpa
persetujuan BI, mempunyai kedudukan yang sama dengan modal dalam hal
jumlah kerugian bank melebihi laba ditahan dan cadangan-cadangan yang
termasuk modal inti, meskipun bank belum likuidasi, dan pembayaran bunga
dapat ditangguhkan apabila bank dalam keadaan rugi atau labanya tidak
mendukung untuk membayar bunga tersebut. Pencatatan modal pinjaman dimulai
saat penerbitan atau penjualan warkat modal pinjaman. Modal pinjaman dicatat
sebesar nilai nominal. Biaya-biaya penerbitan warkat modal pinjaman dapat
ditangguhkan dan diamortisasi secara sistematis selama taksiran jangka waktunya,
yang selama-lamanya 5 tahun.
Kredit
Tgl/keterangan Rekening Debit (Rp)
(Rp)
Saat penerbitan Dr. giro bank-bank lain Rp
(penjualan warkat) Dr. biaya penerbitan modal pinjaman Rp
dibayar dimuka
Cr. Modal pinjaman Rp

Saat amortisasi Dr. biaya penerbitan modal pinjaman Rp


Biaya penerbitan Cr. Biaya penerbitan modal Rp
pinjaman dibayar dimuka

Saat penyesuaian bunga Dr. biaya bunga Rp


Cr. Bunga MP masih harus dibayar Rp

Saat pembayaran bunga Dr. bunga MP masih harus dibayar Rp


Cr. Kas/giro bank-bank lain Rp
Saat pelunasan pokok Dr. modal pinjaman Rp
pinjaman Cr. Giro BI/kas/giro bank-bank lain Rp

d. Pinjaman subordinasi, yaitu pinjaman yang memenuhi syarat-syarat ada perjanjian


tertulis, mendapat persetujuan BI dan tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan
dan telah disetor penuh dengan minimal jangka waktu 5 tahun, pelunasan sebelum
jatuh tempo harus mendapatkan persetujuan BI serta hak tagih berada pada urutan
paling akhir dalam hal bank likuidasi.

2.1 Akuntansi Pinjaman Subordinasi


Akuntansi untuk pos ini prinsipnya sama dengan akuntansi pinjaman diterima.
Pencatatan dimulai dari komitmen disepakati, kemudian pada saat realisasi, dan
pencatatan selama periode pinjaman subordinasi berupa angsuran pokok dan bunga.
Tanggal/keterangan Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
Komitmen ditanda Dr. fasilitas pinjaman subordinasi
tangani Disetujui dan belum direalisasi

Saat pinjaman Cr. Fasilitas pinjaman


direalisasi Subordinasi disetujui dan
belum direalisasi

Dr. giro BI
Cr. Pinjaman subordinasi

Penyesuaian bunga Dr. biaya bunga


Akhir setiap akhir Cr. Bunga yang masih harus
periode dibayar

Pembayaran bunga Dr. bunga yang masih harus


setelah penyesuaian dibayar
Cr. Giro BI /bank-bank -lain

Saat pelunasan Dr. pinjaman subordinasi


Cr. Giro BI/Bank-bank lain

3. Modal Pelengkap Tambahan


1. Bank dapat memperhitungkan modal pelengkap tambahan untuk tujuan perhitungan
Kebutuhan Penyediaan Modal Minimum (KPMM) atau Capital Adequacy Ratio
(CAR) secara individu dan/atau secara konsolidasi dengan perusahaan anak.
2. Modal pelengkap tambahan dalam perhitungan KPMM hanya dapat digunakan untuk
memperhitungkan risiko pasar.
3. Pos yang dapat diperhitungkan sebagai modal pelengkap tambahan adalah pinjaman
subordinasi jangka pendek yang memenuhi criteria sebagai berikut:
a. Tidak dijamin oleh bank atau perusahaan anak yang bersangkutan dan telah
disetor penuh
b. Memiliki jangka waktu perjanjian sekurang-kurangnya 2 tahun
c. Yidak dapat dibayar sebelum jadwal waktu yang ditetapkan dalam perjanjian
pinjaman kecuali dengan persetujuan BI
d. Terdapat klausula yang mengikat (lock-in-clause) yang menyatakan bahwa tidak
dapat dilakukan pembayaran pokok atau bunga, termasuk pembayaran pada saat
jatuh tempo, apabila pembayaran dimaksud dapat menyebabkan KPMM secara
individual atau secara konsolidasi dengan perusahaan anak tidak memenuhi
ketentuan yang berlaku.
e. Terdapat perjanjian pinjaman yang jelas termasuk jadwal pelunasannya, dan
f. Memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari BI.
4. Modal pelengkap tambahan untuk memperhitungkan risiko pasar hanya dapat
digunakan dengan memenuhi criteria :
a. Tidak melebihi 25% dari bagian modal inti yang dialokasikan untuk
memperhitungkan risiko pasar
b. Jumlah modal pelengkap dan modal pelengkap tambahan paling tinggi sebesar
100% dari modal inti
5. Modal pelengkap yang tidak digunakan dapat ditambahkan untuk modal pelengkap
tambahan dengan memenuhi persyaratan pada poin 4 ini.
6. Pinjaman subordinasi sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku dan melebihi
50% modal ini, dapat digunakan sebagai komponen modal pelengkap tambahan
dengan tetap memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada poin 4 ini.

3.1 Rasio Kecukupan Modal Bank Perkreditan Rakyat


Tata cara perhitungan kecukupan modal bank perkreditan rakyat dapat
dilakukan dengan cara:
1. Dalam menghitung ATMR, pos pos aktiva diberikan bobot risiko yang
besarnya didasarkan pada risiko yang terkandung pada aktiva itu sendiri atau
risiko yang didasarkan pada jenis aktiva, golongan debitur, penjamin atau sifat
barang jaminan.
2. Dengan memperhatikan prinsip pada angka 1 maka rincian bobot risiko adalah:

0% a. Kas
b. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
c. Kredit dengan agunan berupa SBI, tabungan dan deposito yang diblokir
pada BPR yang bersangkutan disertai dengan surat kuasa pencairan emas
dan logam mulia, sebesar nilai terendah antara agunan dan baki debet.
d. Kredit kepada Pemerintah Pusat.
20% a. Giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan serta tagihan
lainnya kepada bank lain.
b. Kredit kepada atau yang dijamin oleh bank lain atau Pemerintah Daerah.
40% Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang dijamin oleh hak tanggungan pertama
dengan tujuan untuk dihuni.
50% a. Kredit kepada atau yang dijamin oleh BUMN atau BUMD. Yang
dimaksud dengan BUMN sebagai penjamin adalah lembaga penjamin
kredit milik Pemerintah Pusat. Yang dimaksud dengan BUMD sebagai
penjamin adalah BUMD yang melakukan usaha sebagai perusahaan
penjamin dan melakukan perjanjian kerjasama penjaminan kredit dengan
lembaga penjamin kredit milik Pemerintah Pusat.
b. Kredit kepada pegawai/pensiunan, yang memenuhi persyaratan sbb:
1. Pegawai/pensiunan yang menerima kredit adalah:
a. Pegawai negeri sipil (PNS), anggota TNI/POLRI, pegawai
lembaga negara atau pegawai BUMN/BUMD;
b. Pensiunan PNS, pensiunan anggota TNI/POLRI, pensiunan
pegawai lembaga negara atau pensiunan pegawai BUMN/BUMD;
2. Pegawai/pensiunan dijamin dengan asuransi jiwa dari perusahaan
asuransi yang memiliki kriteria:
a. Memiliki izin usaha dari instansi yang berwenang;
b. Laporan keuangan terakhir telah diaudit oleh akuntan publik dan
memenuhi ketentuan tingkat solvabilitas minimun sesuai dengan
ketentuan perundang undangan yang berlaku; dan
c. Tidak merupakan pihak terkait dengan BPR.
3. Pembayaran angsuran/pelunasan kredit bersumber daru gaji/pensiun
berdasarkan Surat Kuasa Memotong Gaji/Pensiun kepada BPR. Dalam
hal pembayaran gaji/pensiun dilakukan melalui bank lain atau BUMN
lain, maka BPR harus memiliki perjanjian kerjasama dengan bank lain
atau BUMN lain pembayar gaji/pensiun untuk melakukan pemotongan
gaj/pensiun dalam rangka pembayaran angsuran/pelunasan kredit; dan
4. BPR manyimpan asli surat pengangkatan pegawai atau surat
keputusan pensiun atau Kartu Registrasi Induk Pensiun (KARIP) dan
polis pertanggungan asuransi jiwa debitur.
85% Kredit kepada usaha mikro dan kecil. Kredit kepada usaha mikro adalah
kredit dengan plafon sampai dengan Rp. 50.000.000,00 (Lima puluh juta
rupiah) sampai dengan Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah)
100% a. Kredit kepada atau yang dijamin oleh perorangan, koperasi atau kelompok
dengan perusahaan lainnya.
b. Aktiva tetap dan inventaris (nilai buku).
c. Aktiva lainnya selain tersebut diatas.
3. Aktiva produktif dengan kualitas Kurang Lancar, Diragukan atau Macet dalam
perhitungan. ATMR dinilai sebesar nilai buku yaitu setelah dikurangi dengan
Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) khusus dari aktiva produktif
dengan kualitas Kurang Lancar, Diragukan dan Macet. Penilaian kualitas aktiva
produktif (KAP) dan PPAP mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku
mengenai KAP dan PPAP BPR.

3.2 Tata Cara Perhitungan Kebutuhan Modal Minimum


Perhitungan kebutuhan modal minimum Bank Perkreditan Rakyat dilakukan
dengan cara sebagai berikut:
1. Perhitungan kebutuhan modal didasarkan pada ATMR yang dihitung dengan cara
mengalikan nilai nominal pos-pos aktiva produktif dengan kualitas Kurang
Lancar, Diragukan atau Macet dilakukan dengan cara mengalikan nilai buku
dengan bobot risiko masing-masing. Dalam hal ini ATMR mengacu pada SE no.
8/28/DPBI/2006 dan untuk Kualitas Aktiva Produktif mengacu pada PBI no.
8/19/PBI/2006.
2. Menjumlahkan ATMR dari masing-masing pos aktiva.
3. Menjumlahkan modal inti dan modal pelengkap untuk mengetahui jumlah modal
BPR.
4. Menghitung modal minimum dengan cara mengalikan jumlah ATMR dengan8%
(delapan perseratus).
5. Menghitung kekurangan modal dengan cara membandingkan jumlah modal
minimum pada angka 4 dengan jumlah modal pada angka 3.
6. Menghitung KPMM dengan cara membandingkan jumlah modal BPR pada angka
3 dengan ATMR pada angka 2.

3.3 Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio) Bank Umum


Perhitungan rasio kecukupan modal pada bank umum memiliki perbedaan dengan
tata cara perhitungan rasio kecukupan modal pada BPR. Pada bank umum, untuk
menentukan kecukupan modal perlu memasukkan risiko pasar. Untuk menentukan
besaran risiko pasar dalam perhitungan kecukupan modal dapat menggunakan metode
standar dan metode internal (tidak dibahas).
Metode standar menggunakan pendekatan pengukuran risiko pasar dan
perhitungan kecukupan modal yang terstandardisir untuk seluruh bank sejak tahun
2003. Namun berdasarkan perkembangan dan tuntutan yang ada termasuk sejalan
dengan perkembangan instrumen keuangan dan semakin komleksnya usaha bank,
maka telah dilakukan penyempurnaan kembali terhadap penggunaan metode standar
dalam perhitungan kewajiban penyediaan modal minimum dengan memperhitungkan
risiko pasar.
Penggunaan metode standar dalam perhitungan kewajiban penyediaan modal
minimum bank umum dengan memperhitungkan risiko pasar dituangkan dalam surat
edaran BI no.9/33/DPNP tanggal 18 desember 2007. Pada intinya pendekatan ini
adalah:
1. Pendekatan KPMM dengan memperhitungkan risiko kredit dan risiko pasar
dilakukan dengan formula sebagai berikut:

KPMM = (Tier 1 + Tier 2 + Tier 3) Pernyertaan = 8% (minimum)


ATMR (risiko kredit) + 12.5 x Beban modal untuk risiko pasar

2. Sebelum mengalokasikan beban modal untuk risiko pasar sebagaimana dimaksud


pada angka 1, bank wajib memenuhi KPMM untuk risiko kredit yaitu minimal
sebesar 8% sesuai ketentuan yang berlaku dengan formula:

KPMM = (Tier 1 + Tier 2) Pernyertaan = 8% (minimum)


AMTR (risiko kredit)

3. Dalam perhitungan KPMM secara konsolidasi, perhitungan modal, risiko kredit


dan risiko pasar dilakukan terhadap data/posisi secara konsolidasi.
4. Dalam melakukan perhitungan sebagaimana dimaksud dalam angka 1, bank harus
melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menghitung aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) untuk risiko kredit
sesuai ketentuan yang berlaku.
b. Menghitung jumlah beban modal untuk seluruh jenis risiko pasar.
c. Untuk menghindari duplikasi perhitungan risiko terhadap surat berharga,
eksposur yang termasuk dalam trading book yang telah diperhitungkan risiko
spesifik untuk risiko suku bunga, seperti obligasi yang diterbitkan oleh
BUMN/Swasta dikeluarkan dari perhitungan ATMR berdasarkan risiko kredit.
d. Menghitung eksposur tertimbang menurut risiko pasar (market risk weighted
exposures), dengan cara mengkonversikan jumlah beban modal untuk seluruh
jenis pasar sebagaimana dimaksud pada huruf b menjadi ekuivalen dengan
ATMR (dikalikan dengan angka 12,5, yaitu 100/8).
e. Menjumlahkan ATMR untuk risiko kredit dengan eksposur tertimbang
menurut risiko pasar.
f. Menghitung modal bank yang terdiri atas modal inti (tier 1), modal pelengkap
(tier 2), dan modal pelengkap tambahan (tier 3) yang dialokasikan untuk
menutup risiko pasar setelah dikurangi penyertaan. Dalam perhitungan
KPMM secara konsolidasi, penyertaan yang menjadi pengurang modal adalah
penyertaan bank kepada perusahaan anak yang tidak wajib dikonsolidasikan
sesuai ketentuan yang berlaku.
g. Membagi total modal sebagaimana dimaksud pada huruf f dengan jumlah
ATMR dan eksposur tertimbang sebagaimana dimaksud pada huruf e, yang
hasilnya dinyatakan dalam persentase.
5. Modal pelengkap tambahan (tier 3) yang digunakan dalam perhitungan rasio
KPMM adalah sebesar modal yang dibutuhkan untuk menutup risiko pasar.
6. Modal pelengkap tambahan (tier 3) yang memenuhi persyaratan namun tidak
digunakan dalam perhitungan rasio KPMM sebagaimana dimaksud pada angka 4,
dihitung sebagai rasio kelebihan modal pelengkap tambahan (excess tier 3 capital
ratio), dengan formula:

Rasio kelebihan modal pelengkap tambahan = Kelebihan modal pelengkap tambahan


ATMR (risiko kredit) + ATMR (risiko pasar)
Daftar Pustaka

https://www.scribd.com/doc/142657536/Akuntansi-Modal-Bank (diakses pada 7 Oktober 2017 pukul


8:31pm)

https://www.scribd.com/document/235739465/221504602-Akuntansi-Modal-Bank-doc (diakses
pada 7 Oktober 2017 pukul 8:32pm)