Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOTERAPI INFEKSI

PENENTUAN KERENTANAN SUATU BAKTERI TERHADAP


BERBAGAI SEDIAAN ANTIBIOTIKA

Rabu, 9 November 2016

Kelompok 6

Selasa, 07.00 10.00 WIB

Nama Anggota NPM


Shifa Hudzaifah 260110150002
Luthfi Utami S. 260110150013
Chairunnisa 260110150014
Alif Virisy B. 260110150023
Kiara Puspa D. 260110150026
Rahma Alya N. 260110150037

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2016
I. TUJUAN
Menentukan kerentanan suatu bakteri terhadap berbagai sediaan
antibiotika, melalui tes resistensi dengan metode cakram kertas (Paper
Disk Plate).

II. PRINSIP
2.1. Resistensi Bakteri
Penggunaan obat-obatan antibakteri (antibiotika) yang tidak tepat
dapat menyebabkan berkembangnya resistensi bakteri (Billater,
2006).
2.2. Antibiotika
Zat-zat kimia oleh yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, yang
memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan
kuman, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil (Tjay,
2007).
2.3. Metode Cakram Kertas
Metode yang biasa digunakan untuk menguji aktivitas antimikroba
suatu antibiotik terhadap mikroorganisme patogen penyebab
penyakit (Lay, 1994).

III. TEORI DASAR


Penemuan antibiotik diinisiasi oleh Paul Ehrlich yang pertama kali
menemukan apa yang disebut magic bullet, yang dirancang untuk
menangani infeksi mikroba. Pada tahun 1910, Ehrlich menemukan
antibiotika pertama, Salvarsan, yang digunakan untuk melawan syphilis
(Utami, 2012).
Antibiotika dapat ditemukan dalam berbagai sediaan, dan
penggunaanya dapat melalui jalur topical, oral, maupun intravena.
Banyaknya jenis pembagian, klasifikasi, pola kepekaan kuman, dan
penemuan antibiotika baru seringkali menyulitkan klinisi dalam
menentukan pilihan antibiotika yang tepat ketika menangani suatu kasus
penyakit. Hal ini juga merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya
resistensi (Utami,2012).
Antimikroba adalah obat yang digunakan untuk memberantas
infeksi mikroba pada manusia. Sedang antibiotika adalah senyawa
kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme (khususnya dihasilkan oleh
fungi) atau dihasilkan secara sintetik yang dapat membunuh atau
menghambat perkembangan bakteri dan organisme lain (Munaf, 1994).
Secara garis besar antimikroba dibagi menjadi dua jenis yaitu yang
membunuh kuman (bakterisid) dan yang hanya menghambat
pertumbuhan kuman (bakteriostatik). Antibiotik yang termasuk
golongan bakterisid antara lain penisilin, sefalosporin, aminoglikosida
(dosis besar), kotrimoksazol, rifampisin, isoniazid dan lain-lain.
Sedangkan antibiotik yang memiliki sifat bakteriostatik, dimana
penggunaanya tergantung status imunologi pasien, antara lain
sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, trimetropim,
linkomisin, klindamisin, asam paraaminosalisilat, dan lain-lain
(Laurence & Bennet,1987).
Mekanisme salah satu antibiotika seperti amoksisilin dari golongan
penisilin yaitu bekerja menghambat pembentukan mukopeptida yang
diperlukan untuk sintesis dinding mikroba. Golongan ini terhadap
bakteri yang sensitif penisilin akan menghasilkan efek bakterisid
(membunuh kuman) pada mikroba yang sedang aktif membelah
sedangkan pada mikroba dalam keadaan metabolik tidak lengkap tidak
aktif (tidak membelah) praktis tidak dipengaruhi oleh penisilin kalau
pun ada pengaruhnya hanyak bersifat bakteriostatik (menghambat
pertumbuhan bakteri) (Lisni dkk,2015).
Resistensi didefinisikan sebagai tidak terhambatnya pertumbuhan
bakteri dengan pemberian antibiotik secara sistemik dengan dosis
normal yang seharusnya atau kadar hambat minimalnya. Sedangkan
multiple drugs resistance didefinisikan sebagai resistensi terhadap daua
atau lebih obat maupun klasifikasi obat. Sedangkan cross resistance
adalah resistensi suatu obat yang diikuti dengan obat lain yang belum
pernah dipaparkan (Tripathi, 2003).
Resistensi terjadi ketika bakteri berubah dalam satu atau lain hal
yang menyebabkan turun atau hilangnya efektivitas obat, senyawa
kimia atau bahan lainnya yang digunakan untuk mencegah atau
mengobati infeksi. Bakteri yang mampu bertahan hidup dan
berkembang biak, menimbulkan lebih banyak bahaya. Kepekaan bakteri
terhadap kuman ditentukan oleh kadar hambat minimal yang
dapatmenghentikan perkembangan bakteri (Bari, 2008).
Resistensi pasti diawali adanya paparan antibiotika, dan meskipun
hanya ada satu atau dua bakteri yang mampu bertahan hidup, mereka
punya peluang untuk menciptakan satu galur baru yang resisten.
Sayangnya, satu galur baru yang resisten ini bisa menyebar dari satu
orang ke orang lain, memperbesar potensinya dalam proporsi epidemik.
Penyebaran ini dipermudah oleh lemahnya control infeksi dan
penggunaan antibiotika yang luas (Peterson, 2005).
Sensitivitas menyatakan bahwa uji sentivitas bakteri merupakan
suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat
antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki
aktivitas antibakteri. Metode uji sensitivitas bakteri adalah metode cara
bagaimana mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi
sebagai bahan anti bakteri serta mempunyai kemampuan untuk
menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi
yang rendah. Uji sentivitas bakteri merupakan suatu metode untuk
menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan
untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri.
Seorang ilmuan dari perancis menyatakan bahwa metode difusi agar dari
prosedur Kirby-Bauer, sering digunakan untuk mengetahui sensitivitas
bakteri. Prinsip dari metode ini adalah penghambatan terhadap
pertumbuhan mikroorganisme, yaitu zona hambatan akan terlihat
sebagai daerah jernih di sekitar cakram kertas yang mengandung zat
antibakteri. Diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri
menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap zat antibakteri. Selanjutnya
dikatakan bahwa semakin lebar diameter zona hambatan yang terbentuk
bakteri tersebut semakin sensitif (Gaman, et al, 1992).
Sensitivitas bakteri terhadap antibiotik tergantung kapada
kemampuan antibiotik tersebut untuk menembus dinding sel bakteri.
Antibiotik lebih banyak yang efektif bekerja terhadap bakteri Gram
positif karena permeabilitas dinding selnya lebih tinggi dibandingkan
bakteri Gram negatif. Jadi suatu antibiotik dikatakan mempunyai
spektrum sempit apabila mampu menghambat pertumbuhan bakteri
Gram positif, sedangkan antibiotik berspektrum luas jika pertumbuhan
bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif dapat dihambat oleh
antibiotik tersebut (Sumadio, et al, 1994).
Pada umumnya metode yang dipergunakan dalam uji sensitivitas
bakteri adalah metode Difusi Agar yaitu dengan cara mengamati daya
hambat pertumbuhan mikroorganisme oleh ekstrak yang diketahui dari
daerah di sekitar kertas cakram (paper disk) yang tidak ditumbuhi oleh
mikroorganisme. Zona hambatan pertumbuhan inilah yang
menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap bahan anti bakteri (Jawelz,
1995).
Tujuan dari proses uji sensisitivitas ini adalah untuk mengetahui
obat-obat yang paling cocok (atau paling poten) untuk kuman penyebab
penyakit terutama pada kasus-kasus penyakit yang kronis dan untuk
mengetahui adanya resistensi terhadap berbagai macam antibiotik.
Penyebab kuman resisten terhadap antibiotik yakni memang kuman
tersebut resisten terhadap antibiotik yang diberikan, akibat pemberian
dosis dibawah dosis pengobatan dan akibat penghentian obat sebelum
kuman tersebut betul-betul terbunuh oleh antibiotic (Dwidjoseputro,
1998).
IV. ALAT DAN BAHAN
4.1. Alat
4.1.1. Cawan petri
4.1.2. Inkubator
4.1.3. Pembakar spiritus
4.1.4. Penggaris
4.1.5. Pinset
4.1.6. Spreader
4.2. Bahan
4.2.1. Cakram-cakram kertas berbagai antibiotik
4.2.2. Nutrient Agar (NA)
4.2.3. Suspensi bakteri

V. PROSEDUR DAN DATA PENGAMATAN

No. Prosedur Hasil Gambar


1. Dituangkan 20 ml NA Media agar telah
cair bersuhu 40-50oC membeku
ke dalam cawan petri,
dan diamkan sampai
beku
2. Dioleskan suspensi Suspensi bakteri
bakteri ke seluruh terdapat didalam
permukaan. Biarkan media agar
selama kurang lebih
30 menit
3. Diletakkan cakram- Cakram antiibiotik di
cakram antibiotika atas permukaan agar
pada permukaan agar

4. Inkubasi cawan Didapati diameter:


dengan suhu 37oC Amoksisiliin : 2,1 cm
selama 18-24 jam. Ciprofolxasin : 3 cm
Ukur zona inhibisi Cloramphenikol : 2,7
cm
Tetrasiklin : 3,25 cm

VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan uji resistensi bakteri. Uji resistensi
bakteri ini bertujuan untuk menentukan kerentanan suatu bakteri
terhadap berbagai sediaan antibiotika. Metode yang digunakan yaitu
metode cakram kertas (paper disk plate). Antibiotik yang digunakan
yaitu amoksisilin, siprofloksasin, kloramfenikol dan tetrasiklin.
Metode cakram kertas merupakan uji untuk menentukan aktifitas
agen antimikroka dengan cara meletakkan piringan berisi agen anti
mikroba di atas medium yang telah diberi biakan mikroba. Area jernih
mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh
agen anti mikroba. Jika di sekeliling cakram kertas tidak menunjukkan
adanya zona bening, hal tersebut mengindikasikan bahwa mikroba yang
ada pada medium tumbuh telah resisten terhadap antibiotik yang ada
dalam cakram kertas.
Antibiotik merupakan senyawa kimia yang dihasilkan oleh
mikroorganisme atau dihasilkan secara sintetik yang dapat membunuh
atau menghambat perkembangan bakteri dan organisme lain.
Amoksisilin merupakan antibiotik spektrum luas golongan penisilin
dengan mekanisme kerja mencegah sintesis dinding sel bakteri dengan
menghambat enzin DD-transpeptidase bakteri sehingga bakteri tidak
dapat berkembang biak. Amoksisilin digunakan untuk mengobati
infeksi pada telinga, hidung, tenggorokan, gigi, saluran genitourinaria,
kulit dan struktur kulit, dan saluran pernapasan bawah oleh
Streptococcus sp, S. pneumoniae, Staphylococcus sp, H. influenzae, E.
coli, P. mirabilis, atau E. faecalis.
Siprofloksasin merupakan antibiotik spektrum luas golongan
fluorokuinolon generasi kedua dengan mekanisme kerja menghambat
dua tipe enzim II topoisomerase yaitu DNA Gyrase dan topoisomerase
IV. Topoisomerase IV memerlukan DNA terpisah yang telah direplikasi
sebelum pembelahan sel bakteri. Dengan DNA yang tidak dipisahkan,
proses terhenti dan bakteri tidak bisa membagi. Sedangkan DNA gyrase
bertanggungjawab untuk supercoil DNA sehingga akan cocok di dalam
sel yang baru terbentuk. Siprofloksasin digunakan untuk pengobatan
infeksi saluran pernafasan, saluran kemih, pencernaan, dan infeksi
perut, termasuk infeksi oleh baketri gram negatif seperti Escherichia
coli, Haemophilus influenzae, Klebsiella pneumoniae, Legionella
pneumophila, Moraxella catarrhalis, Proteus mirabilis, dan
Pseudomonas aeruginosa, serta bakteri gram positif seperti
Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus
epidermidis, Enterococcus faecalis, dan Streptococcus pyogenes.
Kloramfenikol merupakan antibiotik spektrum luas dengan
mekanisme kerja menghambat aktivitas peptidil transferase dari
ribosom bakteri, secara spesifik mengikat residu A2451 dan A2452 dari
23s rRNA subunit ribosom 50s untuk mencegah terjadinya ikatan
peptida.. Kloramfenikol digunakan untuk untuk pengobatan demam
tifus, paratifus, infeksi Salmonella sp sp, H.influenzae, terutama infeksi
meningeal, Rickettsia, Lympogranulloma psitatacosis, bakteri gram
negatif penyebab bakteria meningitis, infeksi kuman yang resisten
terhadap antibiotik lain, tidak untuk hepatobilier dan gonorrhoea.
Tetrasiklin merupakan antibiotik spektrum luas dengan mekanisme
kerja menghambat sintesis protein dengan mekanisme mengikat sub
unit 30s ribosom bakteri sehingga introduksi asam amino pada rantai
peptida yang baru terbentuk tidak terjadi.
Ketika melakukan uji resistensi bakteri, konsentrasi bakteri dan
kekuatan antibiotik yang digunakan harus mengikuti atau sesuasi
dengan standar yang telah ditentukan dalam uji resistensi bakteri. Untuk
tetrasiklin dengan kekuatan 30g, dikatakan resisten (R) jika diameter

zona beningnya 14 mm. Dikatakan intermediet (I) jika diameter zona


beningnya 15-18mm, dan dikatakan selektif (S) jika diameter zona
beningnya 19mm. Untuk siprofloksasin dengan kekuatan 5g,

diameter zona bening untuk dikatakan R = 15mm, I = 16-20mm, S =


21mm. Untuk kloramfenikol dengan kekuatan 30g, diameter zona

bening untuk dikatakan R = 12mm, I = 13-17mm, S = 18mm. Untuk


amoksisilin dengan kekuatan 20g, diameter zona bening untuk

dikatakan R = 13mm, I = 14-17mm, S = 18mm.


Prosedur kerja pada praktikum kali ini yaitu dengan meletakkan
empat jenis antibiotika dalam bentuk piringan di atas media yang telah
dicampur dengan biakan bakteri. Sebelumnya bagian dasar cawan
tempat medium dibagi menjadi empat bagian karena akan digunakan
empat jenis antibiotik pada praktikum ini. Peletakkan piringan kertas
dibantu dengan menggunakan pinset. Setelah itu bakteri diinkubasi pada
suhu 370C selama 24 jam lalu diamati dan diukur diameter zona bening
yang terbentuk.
Sebelum pinset digunakan untuk meletakkan piringan kertas, harus
difiksasi terlebih dahulu untuk mematikan mikroorganisme yang
menempel pada pinset. Sebelumnya pinset yang telah difiksasi jangan
langsung digunakan untuk menaruh piringan kertas, tetapi dibiarkan
dahulu sebentar hingga dingin, baru dapat digunakan. Jika pinset masih
panas dan langsung digunakan, dikhatirkan bakeri yang ada pada media
tumbuh akan mati karena tidak tahan pada panas pinset, sehingga akan
megganggu proses pengamatan yang dilakukan dan tidak dapat
ditentukan kerentanan bakeri tersebut.
Setelah piringan diletakkan, piringan tersebut sedikit ditekan agar
piringan kertas antibiotik menempel pada medium dan tidak jatuh atau
bergeser tempat. Peletakan piringan juga harus sedemikian rupa, jangan
sampai berdekatan antar piringan atau terlalu dekat dengan ujung
cawan. Karena jika letak antar piringan atau piringan terlalu dekat
dengan ujung atau sisi cawan, dikhawatirkan zona bening yang
terbentuk akan sulit diukur sehingga kerentanan suatu bakteri terhadap
antibiotik tersebut sulit untuk ditentukan. Dalam meletakkan piringan
harus hati-hati, jangan sampai saat sedang diangkat jatuh di area
medium yang tidak sesuai. Karena jika piringan tersebut diangkat lalu
dipindahkan ke tempat yang sesuai, bekas area jatuh piringan tersebut
dapat menghasilkan zona bening karena ada antibiotik yang tertempel
pada area tersebut. Jika letak antara bekas jatuhan piringan kertas
dengan letak piringan kertas yang terbaru terlalu dekat, maka ada
kemungkinan zona bening yang dihasilkan saling menempal sehingga
pengukuran diameter sulit untuk dilakukan.
Setelah semua piringan telah diletakakan di atas medium.,
selanjutnya cawan dibungkus dengan koran tanpa dibalikdahulu. Jika
posisi cawan saat diinkubasi dibalik, dikhawatirkan piringan kertas
antibiotik terjatuh sehingga pengamatan menjadi terganggu.
0
Inkubasi dilakukan pada suhu 37-40 C, selama 18-24 jam.
Diinkubasi pada suhu tersebut karena pada suhu tersebut merupakan
suhu yang ideal bagi bakteri untuk tumbuh dengan optimal. Dan
dilakukan selama 18-24 jam dilakukan karena bakteri sudah dapat
memperbanyak diri dalam kurun waktu tersebut.
Semua proses yang dilakukan pada praktikum ini dilakukan secara
aseptis. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir adanya cemaran dari
lingkungan yang dapat memengaruhi atau menghambat proses
pengamatan yang dilakukan. Berdasarkan hasil pengamatan dan
pengukuran yang dilakukan, semua bakteri menunjukkan adanya zona
bening disekitar antibiotik yang diberikan. Untuk amoksisilin, diameter
zona bening yang didapat yaitu 2,1 cm. Sedangkan untuk siprofloksasin
diameter zona beningnya yaitu 3 cm, untuk kloramfenikol diameter zona
beningnya 2,7 cm, dan untuk tetrasiklin diameter zona beningnya adalah
3,25 cm. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa bakteri yang
terdapat dalam media masih bersifat selektif terhadap keempat jenis
antibiotik yang diberikan.

VII. KESIMPULAN
Metode cakram kertas dapat digunakan untuk menentukan
kerentanan suatu bakteri terhadap sediaan antibiotik. Antibiotik yang
digunakan adalah AML, CIP, C, dan TE. Terdapat zona bening yang
memiliki diameter yang berbeda-beda tiap antibiotik, menunjukkan
daya hambat tiap antibiotik terhadap bakteri berbeda pula. Daya hambat
Tetrasiklin paling besar dengan hasil diameter 3,25 cm dan daya hambat
AML paling kecil dengan hasil diameter 2,1 cm.
DAFTAR PUSTAKA

Bari, S. B., Mahajan, B. M., Surana, S. J. 2008. Resistance to antibiotic : A


challenge in chemotherapy. Indian journal of pharmaceutical education and
research.

Billater, M. 2006. Bacterial Resistance. Pharmacotherapy Self-Assessment


Program; 4 : 169-189. Available online at
http://www.accp.com/p4b4m2samples.pdf (accessed 12th November 2016,
11.38).
Dwidjoseputro, D. 1998. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan.

Gaman, P. M., dan Sherrington, K. B. 1992. Ilmu Pangan : Pengantar Ilmu Pangan,
Nutrisi, dan Mikrobiologi. Edisi Kedua. Yogyakarta. UGM Press.

Ganiswarna, S.G, 1995. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Jakarta : Universitas


Indonesia.

Jawetz, G., Melnick, J. L., dan Adelberg, E. A. 1995. Mikrobiologi untuk Profesi
Kesehatan. Jakarta : EGC.

Laurence, D. R., Bennet, P. N. 1987. Clinical Pharmacology Sixth edition.


Churchill livingstone, Edinburgh.

Lisni, Ida, dkk.2015. Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Faringitis Di


Suatu Rumah Sakit Di Kota Bandung. Jurnal Farmasi Galenika:
Vol.02,No.01.

Munaf, S., Chaidir, J. 1994. Obat antimikroba. Farmakologi. Jakarta: UNSRI.


EGC.

Peterson, L. R. 2005. Squeezing the antibiotic balloon : The impact of antimicrobial


classes on ermerging resistance. European society of clinical microbiology
and infectious deseases. The Feinberg school of medicine, North Western
University, USA.
Sumadio, H., dan Harahap. 1994. Biokimia dan Farmakologi Antibiotika. Medan :
USU Press.

Tripathi, K. D. 2003. Antimicrobial drugs : general consideration. Essential of


medical pharmacology. Fifth edition. Jaypee brothers medical publishers.

Utami,Eka.R.2012. Antibiotika,Resistensi, dan Rasionalisasi Terapi. Sainstis :


Vol.1,No.1.