Anda di halaman 1dari 13

CHONDRICHTHYES DAN OSTEICHTYES

Oleh :
Nama : Mohamad Rizya Sanjaya
NIM : B1J014022
Rombongan : VII
Kelompok :2
Asisten : Adreanne Poppy

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016
BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berdasarkan ada tidaknya tulang belakang, hewan dibedakan menjadi dua


yaitu hewan Avertebrata dan hewan Vertebrata. Semua hewan yang tidak bertulang
belakang dikelompokkan ke dalam Invertebrata. Vertebrata merupakan sub-filum
yang diklasifikasikan kedalam 5 kelas, yaitu ikan (Pisces), amfibi (Amphibi), Reptil,
burung (Aves) dan hewan menyusui (Mamalia). Vertebrata disebut juga Craniata
karena semua hewan vertebrata sudah memiliki otak, yang terlindung dalam
Kranium (tulang-tulang tengkorak) (Djuhanda, 1973). Hewan vertebrata memiliki
tali tempat berkumpulnya syaraf-syaraf sepanjang tulang belakangnya. Sistem
pencernaan yang dimiliki oleh vertebrata sudah sempurna. Sistem syaraf yang
dimiliki berupa sepasang otak dengan dendrit yang memiliki banyak percabangan
(Permana, 2008).
Pisces merupakan salah satu super kelas yang termasuk dalam sub-filum
vertebrata. Pisces dibagi menjadi tiga kelas utama, yaitu Agnatha, Osteichtyes,
Chondrichtyes. Ikan mendominasi kehidupan perairan diseluruh permukaan bumi.
Jumlah spesies ikan yang telah berhasil dicatat adalah sekitar 21.000 spesies dan
diperkirakan berkembang mencapai 28.000 spesies. Jumlah spesies ikan yang hidup
dipermukaan bumi adalah 21.000 spesies sementara jumlah spesies vertebrata yang
ada diperkirakan sekitar 43.173 spsies (Katili, 2011).
Agnatha merupakan kelompok ikan yang tidak memiliki rahang, mulut
seperti mangkon, dan dikelilingi tentacle. Chondrichtyes merupakan kelompok ikan
yang rangka tubuhnya tersusun dari tulang rawan. Chondrichthyes memiliki columna
vertebralis sempurna yang terpisah satu sama lain sehingga mudah membengkokkan
tubuhnya. Ikan bertulang rawan mempunyai tiga tulang saluran setengah lingkaran
pada alat pendengaran pada sisi kepala bagian dalam. Osteichthyes merupakan ikan
yang mempunyai rangka yang tersusun dari tulang sejati. Mulut terletak di ujung dan
bergigi rahang tumbuh dengan baik dan bersendi pada tulang tempurung kepala.
Bentuk vertebrae bermacam-macam, pinna caudalis biasanya homocercal, sisa-sisa
notochord masing-masing nampak seperti rantai manik kecil. Ikan osteichthyes
memiliki mulut berahang, skeleton sebagian atau seluruhnya bertulang menulang.
Biasanya ada gelembung renang yang berhubungan atau tidak berhubungan dengan
faring. Notokorda ditempati oleh vertebrae yang menulang. Otak terdiri dari 5
bagian dengan 10 pasang kranial. Pada ikan dewasa terdapat mesonefros. Ada sistem
portal renal. Bentuk ikan lebih primitid dan dalam ususnya terdapat spiral (Mukayat,
1989).

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum Chondrichtyes dan Osteichtyes adalah:


1. Mengenal beberapa anggota kelas Chondrichtyes dan Osteichtyes.
2. Mengetahui beberapa karakter penting untuk identifikasi dan klasifikasi anggota
kelas Chondrichtyes dan Osteichtyes.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


Ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin) yang hidup di
air dan bernapas dengan insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling
beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27.000 di seluruh dunia. Kelas
Chondrichthyes mempunyai anggota dengan jumlah 850 spesies. Karakter yang
dimiliki ikan bertulang rawan adalah tulangnya tidak mengalami osifikasi. Mulutnya
memiliki rahang. Mempunyai 5-7 pasang celah insang. Jantung ikan tulang rawan
mempunyai dua ruang, sehingga sistem peredaran darahnya belum sempurna.
Memiliki endoskeleton yang seluruhnya terdiri atas cartilago. Endoskeleton terdiri
atas suatu lamina basalis yang berbentuk belah ketupat dan sisi atasnya terdapat
suatu gigi yang berbentuk kerucut. Eksoskeleton yang terdiri atas sisik placoid
tractus digestivus, apparatus respiratorium, sistem radio vaskulator dan banyak
lainnya. (Radiopoetra, 1993).
Ada dua pasang sirip, dan sirip caudal kebanyakan heterocercal (lobus dorsal
lebih besar) yang membantu dalam proses lokomosi. Ruang hidup berpasangan.
Sebagian notokorda diganti dengan vertebrata yang lengkap. Otak terbagi menjadi
lima bagian, dengan 10 saraf kranial. Ikan dewasa terdapat mesonefros, sedangkan
ginjal terdapat sistem porta. Usus bagian dalam terdapat katup-katup spiral. Kelamin
terpisah, fertilisai eksternal atau internal (Brotowijoyo, 1989). Kepala dan bagian
pektoral ditutupi dengan tulang dermal yang besar. Bola mata disokong oleh cincin
sklerotik dari 4 tulang kecil, namun karakteristik ini telah hilang atau termodifikasi
pada beberapa spesies. Labirin pada telingan bagian dalam memiliki otolith yang
besar. Tempurung kepala atau neurokranium dibagi menjadi anterior dan posterior
oleh fisura. Kelenjar lendir menutupi seluruh bagian tubuhnya. Sebagian besar
memiliki sisik ganoid, cycloid atau ctenoid (Romer et al., 1977).
Kelas Chondrichthyes memiliki dua subkelas yaitu Holochephali dan
Elasmobranchii. Holochephali memiliki satu ordo besar yaitu Chimaeriformes.
Anggota dari Chimaeriformes mempunyai beberapa karakter yaitu kulit insang lebih
dari empat rongga, lapisan gigi yang kokoh, rahang atas bersatu dengan
chondrocranium, dan bentuk tubuh sangat primitif (Radiopoetro, 1991).
Elasmobranchii adalah kelompok ikan bertulang rawan yang penting dan
memiliki nilai komersial tinggi. Jumlah spesies elasmobranchii di dunia mencapai
1000 spesies. Ikan ini memiliki ciri yang unik dan berbeda dengan ikan lainnya.
Ukuran tubuh yang besar, struktur tubuh yang terdiri atas tulang rawan dan sifatnya
sebagai predator, sangat menarik untuk diamati. Anggota elasmobranchii meliputi
pari dan hiu yang dipisahkan dari Holochephali (Chimaera atau hiu hantu)
berdasarkan letak insang pada lengkung ke 5-7. Lengkung insang tulang rawan pada
elasmobranchii dibentuk oleh celah insang eksternal. Ikan ini unik karena termasuk
dalam kelompok ikan purba yang masih hidup dengan karakter yang berbeda dengan
ikan bertulang sejati lainnya. Sifat-sifat biologi elasmobranchii antara lain fekunditas
rendah,pertumbuhan lambat, umur yang panjang dan resiko kematian tinggi pada
semua tingkat umur. Keunikan sifat elasmobranchii ini menyebabkan populasinya
sangat dipengaruhi oleh aktifitas manusia (Candramila dan Junardi, 2006).
Osteichthyes berasal dari bahasa Yunani yaitu Osteon yang berarti tulang dan
ichtyes yang berarti ikan, jadi Osteichthyes adalah ikan bertulang sejati.
Osteichthyes (Ikan Bertulang Sejati) memiliki ciri-ciri seperti kulit ditutupi dengan
sisik dermal yang pipih atau plat tulang, rangka terdiri atas tulang sejati, tapi tulang
rawan terdapat pada beberapa golongan (Coelacanthiformes dan Acipenseridae),
ruang insang ditutupi dengan tiga tulang dermal yang besar
disebut Operculum (Djamhur, 1988).
Sifat dan cara hidupnya bermacam-macam, antara lain sebagai penyaring
makanan ataupun predator. Permukaan tubuh tertutup oleh sisik bertipe cycloid dan
ctenoid. Ciri-ciri sisik tipe sikloid antara lain adalah bebentuk sirkuler, jika diamati
dibawah mikroskop akan tamnpak garis-garis konsentris berjumlah sesuai dengan
umurnya, tampak mengilap kebiruan mengandung kristal guanine, dan sel-sel
pigmen yang berbentuk bintang, mengandung zat warna hitam (melatonin). Bentuk
sirip stenoid mirip dengan siri sikloid, tetapi bagian belakang memiliki gerigi (Fried,
2005). Menurut Ridho et al., (2012) kelas Osteichthyes memiliki ciri-ciri yaitu
rangka tersusun atas tulang sejati dan sudah mempunyai gigi. Tubuhnya terdiri atas
kepala, badan, dan ekor. Kepalanya terdapat fovea nasalis yang tidak berhubungan
dengan rongga hidung sehingga tidak dapat digunakan untuk bernafas, melainkan
hanya untuk membau. Celah insang terdapat di sisi kiri kanan faring, dan terlindung
oleh tutup insang. Tubuh terlindungi oleh kulit yang transparan dan berlendir.
Osteichthyes terdiri dari kelas Sarcopterygii dan kelas Actinopterygii. Anggota
kelas Sarcopterygii memiliki karakteristik adanya lobus otot pasa pangkal sirip, dan
umumnya menggunakan paru-paru dalam pertukaran udara. Terdapat kelas
Coelacanth yang terdiri dari ordo Coelacanthiformes, Dipnoi Lungfishes,
Ceratodontiformes, dan Lepidosireniformes (Jasin, 1989).
Anggota kelas Actinopterygii memiliki karakeristik sirip dengan jari-jari sirip,
tanpa adanya lobus otot pada pangkalnya, dan memiliki gelembung renang untuk
membantu mengapung di air, contohnya ikan sapu-sapu (Liposarcus padalis) dan
belut (Monopterus albus). Kelas Actinopterygii terdiri dari subkelas Chondrostei dan
subkelas Neopterygii. Subkelas Chondrostei memiliki dua ordo yaitu
Acipenseriformes dan Polypteriformes. Subkelas Neopterygii terdiri dari infra kelas
Holostei (ordo Lepisosteiformes dan ordo Amiiformes) dan Teleostei. (Jasin, 1989).
Menurut Paderson (2012) Monopterus albus merupakan spesies air tawar, namun
dapat ditemukan diperairan lumpur. Belut dapat hidup dilingkungan dengan oksigen
yang rendah menggunakan labirin.

BAB III. MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah bak preparat, pinset,
kaca pembesar, mikroskop cahaya, mikroskop stereo, sarung tangan karet (gloves),
masker, dan alat tulis.
Bahan yang digunakan yaitu beberapa spesimen hewan kelas Chondrichtyes
dan kelas Osteichtyes.

B. Metode

Metode yang dilakukan dalam praktikum antara lain:


1. Diamati, digambar dan dideskripsikan karakter pada spesimen yang diamati
berdasarkan ciri-ciri morfologi.
2. Diidentifikasi spesimen dengan kunci identifikasi.
3. Dibuat kunci identifikasi sederhana berdasarkan karakter spesimen yang diamati.
4. Dibuat membuat laporan sementara dari hasil praktikum.
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil

4.1.1 Tabel gambar, deskripsi dan klasifikasi Amphibia


4.1.2 Kunci Identifikasi

1. a. Memiliki tulang rawan ........................................ (2)


b. Memiliki tulang sejati ......................................... (3)
2. a. Bentuk tubuh depressed ...................................... Himantura walga
b. Bentuk tubuh kombinasi ..................................... Ikan hiu
3. a. Sirip menyatu ...................................................... Anguilla bicolor
b. Sirip terpisah ....................................................... (4)
4. a. Memiliki berble .................................................. Ikan sapu-sapu
b. Tidak memiliki berble ........................................ (5)
5. a. Rahang bawah bisa digerakkan .......................... Cromileptes altivelis
b. Rahang bawah tidak bisa digerakkan ................. (6)
6. a. Sirip dorsal termodifikasi ................................... Ikan napoleon
b. Sirip dorsal tidak termodifikasi .......................... Hippocampus comes
B. Pembahasan

Pisces atau ikan merupakan angggota dari phylum Chordata, subphylum


Craniata dan infraphylum Vertebrata. Awal penemuan ikan terdapat dua kelas yaitu
Chondrichthyes dan Osteichthyes. Perkembangan selanjutnya kedua kelas ini
ternyata memiliki kedudukan yang tidak sama. Pisces dibagi dua superkelas yaitu
Gnathostomata dan Osteichthyes. Superkelas Gnathostomata terdiri dari kelas
Holosepali dan kelas Chondrichthyes, sedangkan superkelas Osteichthyes teridri dari
kelas Actinopterygii dan kelas Sarcopterygii.
Anggota kelas Chondrichthyes memiliki beberapa karakter yaitu memilki
rangka dari tuang rawan, beberapa anggotanya dapat terosufikasi sebagian, tidak
memiliki sisik dan jika ada sisiknya tergolong sisik placoid, beberapa anggota
memiliki ekor dengan lobus atas yang lebih besar (ekor heterocercal), tidak memiliki
operculum dan gelembung renang.
Superkelas Osteichthyes merupakan kelompok ikan yang telah memiliki tulang
sejati, skeleton sebagan besar tersusun atas tulang keras, memiliki operculm yang
menutupi insang serta memiliki gelembung renang. Osteichthyes terdiri dari kelas
kelas Sarcopterygii dan kelas Actinopterygii. Anggota kelas Sarcopterygii memiliki
ciri-ciri adanya lobus otot pada pangkal sirip, dan umumnya menggunakan paru-paru
dalam pertukaran udara, contohnya adalah Coelacanth. Anggota kelas Actinopterygii
memiliki karakteristik sirip dengan jari-jari sirip, tanpa adanya lobus otot pada
pangkalnya, dan memiliki gelembung renang untuk membantu mengapung di air.
Karakter penting untuk identifikasi antara lain adalah sirip, ukuran tubuh, linea
lateralis dan sisik. Sirip ikan terdiri dari sirip dorsal, caudal, anal, ventral dan sirip
pectoral. Terdapat rumus sirip yang mengambarkan nama sirip dan jumlah jari-jari
sirip.
Praktikum kali ini menggunakan beberapa preparat awetan ikan yaitu ikan hiu,
ikan pari, ikan sapu-sapu, ikan kerapu, ikan napoleon dan kuda laut. Ikan hiu dan
ikan pari mewakili kelas Chondrichthyes, sedangkan preparat lainnya mewakili
superkelas Osteichthyes.
Ikan pari (Himantura walga) termasuk ikan tulang rawan, memiliki bentuk
tubuh dorsoventral/depressed, tidak memiliki gelembung renang, posisi mulut
inferior dan memiliki ekor cambuk serta spirakel sebagai alat bantu respirasi.
Terdapat clasper pada ikan pari jantan sebagai alat reproduksi.
Ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) termasuk dalam superkelas
Osteichthyes tergolong kelas Actinopterygii. Bentuk tubuh compressed, posisi mulut
superior, tipe mulut grouper karena rahang bawhnya dapat digerakkan, memiliki
operculum dn gelembung renang, sirip ekor membulat. Mempunyai rumus sirip
D.IX.16 dan C.15.
Ikan sidat (Anguilla bicolor) termasuk dalam superkelas Osteichthyes
tergolong kelas Actinopterygii. Bentuk tubuh anguiliforme, sirip dorsal, sirip caudal
dan sirip analnya menyatu. Tempat hidup ikan sidat di perairan estuari dekat laut
karena jika pemijahan ikan ini pindah ke air laut. Integumen berupa lendir dan kulit.
Kuda laut (Hippocampus comes) termasuk dalam superkelas Osteichthyes
tergolong kelas Actinopterygii. Ciri khasnya rahang atas dan rahang bawahnya
menyatu membentuk pipa, sehingga termasuk dalam ordo Syngnathiformes. Karakter
lainnya hanya memiliki sirip dorsal, sirip pectoral dan sirip anal, pembuahan dan
perkembangan zigot di pouch jantan.
BAB V. KESIMPULAN
A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai


berikut :
1. Contoh anggota Kelas Chondrichthyes adalah ikan hiu dan ikan pari (Himantura
walga), sedangkan anggota superkelas Osteichthyes adalah ikan kerapu tikus
(Cromileptes altivelis), Ikan sidat (Anguilla bicolor), ikan sapu-sapu, ikan
napoleon dan Kuda laut (Hippocampus comes).
2. Karakter penting yang digunakan untuk identifikasi dan klasifikasi anggota
Kelas Chondrichthyes dan anggota superkelas Osteichthyes adalah tulang
penyusun rangka tubuh, bentuk tubuh, jumlah sirip dan bentuk mulut.
DAFTAR REFERENSI

Brotowijoyo, 1989. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga


Candramila, W. dan Junardi. 2006. Komposisi, Keanekaragaman Dan Rasio Kelamin
Ikan Elasmobranchii Asal Sungai Kakap Kalimantan Barat. Biospecies, 1(2):
41-46.
Fried, Ph.D. George H. 2005. Biologi. Jakarta : Erlangga.
Jasin, M. 1989. Sistematik Hewan (Invertebrata dan Vertebrata). Surabaya : Sinar
Wijaya.
Katili D. Y. 2011. Deskripsi Ikan Famili Mugilidae Di Lima Muara Sungai Di
Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah Sains, 11(1): 1-7.
Mukayat, Djarubito. 1989. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Pedersen, P.B.M., Hansen, K., Huong, D.T.T, Bayley, M., dan Tobias Wang. 2012.
Effect of Salinity on Osmoregulation, Growth, and Survical in Asian Swamp
Eel (Monopterus albus) (Zuiew 1793). Aquaculture Research, 1(3): 1-12.
Permana, Agus. 2008. Buku Olimpiade Biologi. Bandung : Tim Olimpiade Biologi.
Radiopoetro. 1991. Zoologi. Erlangga, Jakarta.
Ridho M. R., Sagala E. P., Nurliana, R.Yasinta & R. Haryani (2012). Penuntun
Praktikum Ikthiologi. Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi Fakultas
Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam: Universitas Sriwijaya.