Anda di halaman 1dari 12

REVISI

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL 2

Topik : Amalgam

Kelompok : A10

Tgl. Praktikum : 11 September 2017

Pembimbing : Helal Soekartono, drg., M.Kes

Penyusun:

1. Salsalia Siska Azizah ( 021611133045 )

2. Intan Savina Noer A ( 021611133046 )

3. Anisa Nur Afifah ( 021611133047 )

4. Tata Prasantat M ( 021611133048 )

DEPARTEMEN MATERIAL KEDOKTERAN GIGI

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2017
1. TUJUAN

a. Mahasiswa mampu melakukan manipulasi bahan restorasi amalgam dengan benar


menggunakan perbandingan antara bubuk amalgam dengan merkuri tepat.

b. Mahasiswa mampu membedakan antara hasil triturasi bahan restorasi amalgam


secara manual dengan mekanik.

c. Mahasiswa mampu melakukan aplikasi bahan restorasi amalgam dalam kavitas


(cetakan model) dengan tepat.

2. Manipulasi Amalgam

2.1 Bahan

a. Bubuk amalgam

b. Cairan merkuri

2.2 Alat

a. Mortar dan pestle amalgam

b. Kondenser amalgam

c. Kain kasa

d. Pistol amalgam

e. Cetakan model

f. Dispenser bubuk amalgam

g. Dispenser cairan merkuri

h. Stopwatch

i. Sonde

j. Spatula semen
k. Brander

l. Burnisher

m. Pinset

n. Pisau model

o. Timbangan

p. Amalgamator

2.3 Cara Kerja

2.3.1 Triturasi Secara Manual

a. Cairan merkuri dikeluarkan dari dispenser sebanyak 1 kali tekanan


(arah tegak lurus) dimasukkan dalam mortar sampai 0,48-0,56 gram.

b. Bubuk amalgam dikeluarkan dari dispenser sebanyak 1 kali tekanan


(arah tegak lurus) dimasukkan dalam mortar yang telah berisi cairan
merkuri sebanyak cairan merkuri.

c. Bubuk amalgam dan cairan diaduk dengan cara menekan pestle pada
dinding mortar (pen-type grip) dengan gerakan memutar sampai
homogen. Pada saat mulai pengadukan waktu dicatat.

d. Adonan yang telah diaduk dimasukkan ke dalam kain kasa. Kelebihan


merkuri dikeluarkan dengan cara memeras kain kasa. Kain kasa dijepit
kuat dengan pinset kemudian kain kasa diputar dan digerakkan ke atas,
maka sisa merkuri akan keluar dari kasa. Pekerjaan ini dilakukan
beberapa kali sampai tidak ada sisa merkuri yang keluar dari kasa.
e. Adonan di dalam kain kasa diambil dengan amalgam pistol ke dalam
cetakan model. Penempatan adonan amalgam dalam cetakan model
sedikit demi sedikit sambil dilakukan kondensasi menggunakan
kondenser sampai adonan padat. Pekerjaan ini dilakukan berulang-
ulang sampai cetakan model penuh, kemudian dihaluskan dengan
burnisher. Kekerasan permukaan diamati dengan menggurat permukaan
amalgam menggunakan sonde hingga tidak ada guratan.

f. Waktu yang diperlukan sampai amalgam mengeras dicatat.

2.3.2 Triturasi Secara Mekanik

a. Sambungkan listrik amalgamator ke sumber listrik.

b. Kapsul diletakkan di tempat pengaduk pada amalgamator dengan tepat.

c. Tentukan waktu pengadukan selama 8 detik. Tentukan kecepatan


pengadukan dengan menekan tombol High atau Low. Kemudian tombol
ON dinyalakan.

d. Selanjutnya kapsul dikeluarkan dari amalgamator. Kapsul dibuka dan


amalgam diletakkan di atas kain kasa, kemudian diperas.

e. Adonan pada kain kasa diambil dengan amalgam pistol, dimasukkan ke


cetakan model. Penempatan adonan amalgam dalam cetakan model,
sedikit demi sedikit sambil dilakukan kondensasi menggunakan
kondensor sampai adonan padat. Pekerjaan ini dilakukan berulang-
ulang sampai cetakan model penuh, kemudian dihaluskan dengan
burnisher.

f. Kekerasan permukaan diamati dengan menggurat permukaan amalgam


menggunakan sonde hingga tidak ada guratan.
3. HASIL PRAKTIKUM

Tabel 3.1 Tabel hasil praktikum amalgam

Percobaan
Cara triturasi Bubuk amalgam Cairan merkuri Setting time
ke
1 0,46 0,46 19 : 40
Manual
2 0,56 0,56 19 : 40
Low - - 18 : 06
Mekanik
High - - 16 : 40

Pada percobaan triturasi secara manual yang pertama, bubuk amalgam dan cairan
merkuri sebanyak 0,46 gram dan amalgam memerlukan waktu 19 menit 40 detik untuk
mengeras. Selanjutnya pada percobaan triturasi secara manual yang kedua, bubuk
amalgam dan cairan merkuri sebanyak 0,56 gram dan amalgam memerlukan waktu 19
menit 40 detik menit untuk mengeras.

Dalam percobaan triturasi secara mekanik yang pertama, kapsul yang berisi bubuk
amalgam dan cairan merkuri, diletakkan pada tempat pengaduk pada amalgamator.
Waktu yang diperlukan dalam triturasi mekanik sesuai percobaan adalah 8 detik dengan
kecepatan low. Waktu yang diperlukan sampai amalgam mengeras adalah 18 menit 6
detik. Selanjutnya pada percobaam triturasi secara mekanik yang kedua waktu yang
diperlukan untuk triturasi mekanik sama seperti percobaan triturasi mekanik yang
pertama yaitu 8 detik, tetapi menggunakan kecepatan high.

4. TINJAUAN PUSTAKA

Amalgam terdiri dari campuran antara dua logam atau lebih , yang salah satunya
merupakan merkuri. Sebenarnya amalgam terdiri dari merkuri yang dipadukan
dengan bubuk alloy dari perak dan timah. Merkuri berupa liquid pada suhu ruang dan
mampu membentuk sebuah massa yang efektif digunakan bila tercampur dengan
alloy. Sifat inilah yang membuat amalgam menjadi material yang sesuai digunakan
dalam bidang kedokteran gigi (Mc Cabe and Walls, 2008, p.181).
Reaksi antara merkuri dan alloy yang merupakan reaksi pencampuran keduanya
disebut dengan reaksi amalgamasi. Reaksi ini menghasilkan bentuk material restorasi
yang keras dengan tampilan berwarna perak keabu-abuan. Warna amalgam seperti ini
menjadikannya terbatas dalam pengaplikasian karena memang material ini bukan
untuk faktor estetik (Mc Cabe and Walls, 2008, p.181).

Amalgam telah digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama dengan ukuran
kesuksesan yang cukup besar karena penggunaanya telah digunakan secara meluas.
Namun, karena alasan tingkat keamanan yang relatif rendah, kepopuleran amalgam
menjadi turun bila dibandingkan dengan material restorasi lainnya. (Mc Cabe and
Walls, 2008, p.181)

4.1 Komposisi Amalgam

Komposisi bubuk alloy diatur sesuai dengan Standar ISO untuk amalgam
alloy. Komponen utama dari alloy adalah perak, timah, dan tembaga. Beberapa
komponen lain dengan jumlah sedikit yang terkandung dalam alloy antara lain
besi, indium, atau palladium.

Secara spesifik, kadar perak dan timah lebih berpengaruh terhadap


campuran intermetallic-nya, yaitu Ag3Sn. Campuran ini dikenal dengan system
(gamma) perak dan timah yang terbentuk dalam skala komposisi kecil dan
secara khusus menguntungkan proses reaksi amalgamasi dengn merkuri.
Sebagian besar alloy umumnya mengandung 5% alloy , yang memiliki dampak
untuk memperkuat amalgam. Peran besi adalah sebagai pembersih selama
proses produksi alloy. Besi bereaksi cepat, terlebih bila tersedia oksigen, yang
kemudian akan membentuk zinc oxide. Terdapat juga alloy yang tidak
mengandung besi. Alloy semacam ini disebut dengan zinc-free alloy. Bentuk dan
ukuran partikel-partikel bubuk alloy bervariasi dari satu produk ke produk
lainnya.

Ada dua metode yang secara umum digunakan untuk membuat partikel
bubuk alloy. Pertama, bahan pengisi alloy yang didapat dari proses
homogenisasi alloy, yaitu lathe-cut alloy powders yang memiliki bentuk tak
beraturan. Kedua, partikel-partikel yang dihasilkan dari proses atomisasi, dimana
alloy yang telah melebur disemburkan dalam sebuah kolom berisi gas inert.
Partikel semacam ini disebut dengan spherical. (Mc Cabe and Walls, 2008,
p.181-182)

Berat (%)

Metal Batas sebelum th. 1986 (alloy


Batas saat ini
konvensional)

Perak 65 (min) 40(maks)

Timah 29 (maks) 32 (maks)

Tembaga 6 (maks) 30 (maks)

Seng 2 (maks) 2 (maks)

Merkuri 3 (maks) 3 (maks)

4.2 Reaksi setting amalgam

Reaksi yang terjadi saat bubuk alloy dan merkuri dicampur merupakan
reaksi yang komplek. Merkuri berdifusi ke dalam partikel-partikel alloy, hanya
ada sedikit partikel alloy yang terlarutkan secara sempurna di dalam merkuri.
Hal ini menyebabkan struktur lapisan dari alloy rusak dan unsur utama metal
mengalami amalgamasi dengan merkuri. Produk dari reaksi ini akan mengkristal
dan membentuk fasa-fasa baru dalam amalgam yang mengeras. Sejumlah
tertentu dari alloy ini tetap tidak bereaksi pada saat penyempurnaan pengerasan.
Struktur material yang mengeras ini terlibat sabagai halnya inti inti dari
partikel alloy yang tidak bereaksi dan tetap tertanam dalam suatu matriks dari
produk produk yang bereaksi ini (McCabe, 2008, p: 183).
Gambar 1. Reaksi amlagam (Annusavice, 2012, p: 344)

4.3 Manipulasi

1. Rasio Merkuri atau Alloy

Perbandingan rasio alloy dan merkuri dapat menunjukkan jumlah berat


merkuri dibagi jumlah alloy. Merkuri yang terkandung harus cukup untuk
mendukung massa yang koheren dan plastis setelah triturasi, namun merkuri
juga harus ada dalam jumlah yang tepat dan dapat diterima sehingga tidak
perlu mengurangi merkuri dalam jumlah yang besar selama proses kondensasi
(Anusavice, 2012, p: 346).

Perbandingan rasio mempengaruhi setting time karena campuran


dengan rasio yang mengandung lebih banyak merkuri akan lebih basah. Hal
ini biasanya terjadi pada proses amalgamasi secara handmixing. Sebaliknya,
lebih sedikit kandungan merkuri maka campuran akan lebih kering. Proses
amalgamasi secara mekanik biasanya akan menghasilkan campuran dengan
dengan sifat tersebut. Jika terlalu banyak merkuri yang ada pada final set
amalgam hal ini dapat terjadi karena terlalu banyak gamma yang relatif keras
akan dirubah menjadi gamma dua yang cenderung lemah dan halus dan akan
banyak merkuri yang tidak bereaksi (McCabe, 2008: 191).

2. Triturasi

Triturasi dapat dilakukan dengan tangan atau juga dapat menggunakan


mesin elektrik yang dapat menggetarkan kapsul berisi merkuri dan alloy
(amalgamator). Untuk triturasi manual menggunakan tangan, alat yang umum
digunakan adalah mortar dari kaca dan pestle . Rasio alloy dan merkuri yang
rendah sangat dianjurkan untuk menghasilkan hasil campuran yang efektif
dan harus diperhatikan bahwa tekanan yang diberikan tidak boleh terlalu
besar untuk menghindari terbentuknya pecahan partikel alloy yang dapat
mengubah sifat dari hasil pencampuran. Beberapa produk disarankan
setidaknya selama 40 detik dilakukan triturasi untuk mencapai partikel alloy
basah secara menyeluruh. (Mc Cabe and Walls, 2008, p.191-192).

Pada teknik triturasi secara mekanik, merkuri dan alloy dimasukkan


dalam sebuah kapsul yang akan digetarkan pada mesin yang disebut
amalgamator. Waktu triturasi yang normal adalah sekitar 5-20 detik,
tergantung kecepatan yang dimiliki amalgamator. (Mc Cabe and Walls, 2008,
p.191-192).

Proses triturasi juga berguna untuk mengurangi sisa merkuri sebelum


dilakukan proses kondensasi. (Mc Cabe and Walls, 2008, p. 192).

Pada teknik triturasi secara mekanik, merkuri dan alloy dimasukkan


dalam sebuah kapsul yang akan digetarkan pada mesin yang disebut
amalgamator. Keuntungan triturasi secara mekanik adalah (McCabe 2008, hal
191-192):

a) Hasil pencampuran yang homogen

b) waktu untuk proses triturasi lebih pendek daripada triturasi secara


manual

c) dan rasio alloy dan merkuri yang lebih besar dapat digunakan

d) mengurangi adanya kontaminasi terhadap atmosfer

Dalam percobaan triturasi manual, cairan merkuri dituang pada bubuk


amalgam yang ada di mortar, kemudian diaduk dengan cara menekan pestle
pada dinding mortar hingga homogen. Posisi pestle yang dipakai untuk
mengaduk, bagian permukaanya yang tidak rata berada di bawah (berhadapan
langsung dengan mortar).
Dalam percobaan triturasi mekanik, kapsul berisi bubuk amalgam dan
cairan merkuri yang telah ditakar diletakkan pada tempat pengaduk pada
amalgamator. Amalgamator dapat diatur lama triturasi dan kecepatannya
sesuai dengan yang dibutuhkan. Dalam percobaan yang kami lakukan,
digunakan kecepatan low dan high selama 8 detik dengan perkiran getaran
amalgamatornya 80x/detik.

3. Kondensasi

Tujuan dari kondensasi yaitu memadatkan alloy ke dalam kavitas


sehingga didapat massa jenis sebesar mungkin, dengan jumlah merkuri yang
cukup untuk kelangsungan fase matriks (Ag2Hg3) di antara partikel alloy
yang tersisa. Hal ini terjadi sebagai hasil dari reduksi kelebihan merkuri dan
porositas dalam amalgam. Luas permukaan dari ujung kondenser dan
kekuatan tekanan yang diberikan oleh operator dapat mempengaruhi tekanan
kondensasi. Semakin kecil ujung kondenser, maka semakin besar tekanan
yang yang diberikan pada amalgam. Jika ujung kondenser terlalu besar,
operator tidak dapat menghasilkan tekanan yang sesuai untuk
mengkondensasi amalgam secara cukup dan menyebabkannya menjadi area
retentif (Anusavice, 2012, p: 348-349).

Pada teknik kondensasi hal terpenting adalah banyaknya merkuri yang


bisa dihilangkan, sehingga hasil restorasi akhir tidak akan porus dan adaptasi
marginal yang optimum dapat dicapai sehingga mencegah sensitivitas setelah
pengerjaan

5. PEMBAHASAN HASIL PRAKTIKUM


5.1 Manual dibanding Mekanik

Hasil setting time antara teknik pengadukan manual dan mekanak didapatkan
lebih cepat teknik pengadukan mekanik., karena pada teknik mekani k semua
adonan tercampur secara homogen dan tidak ada sisa merkuri (McCabe 2008, hal
191-192). Pada triturasi manual, banyak sisa merkuri yang tidak berikatan. Pada
saat pemerasan, ada sisa merkuri yang masih belum ikut keluar saat diperas.
Pengadukan mekanik juga lebih cepat dan juga banyak dibandingngkan manual .
Hal-hal diatas menyebabkan setting time teknik pengadukan mekanik lebih cepat
dibanding manual.

5.2 Low speed dibanding Manual

Pada percobaan amalgam menggunakan teknik mekanik dengan menggunakan


amalgamator kecepatan low selama 8 detik yang memakai perbandingan bubuk dan
merkuri 1 : 1 memperoleh hasil pengadukan yang lebih homogen daripada
mengunakan teknik manual. Juga tidak ada sisa bubuk yang terdapat dalam kapsul,
tidak terdapat pula sisa merkurinya karena rasio antara bubuk dan cairan merkuri
sudah tepat dan semua merkuri sudah berikatan dengan bubuk amalgam berkat
pengadukan dengan cara mekanik.

Sedangkan pada teknik manual memakai perbandingan bubuk dan cairan


merkuri 1:1 dengan cara ditimbang terlebih dahulu dijumpai kendala selama prose
pengadukan amalgam. Sulit untuk memeperoleh hasil adonan yang homogen dan
diperlukan waktu yang lebih lama untuk mengaduk adonan jika dibandingkan
dengan cara menggunakan teknik mekanik. Selain itu saat proses pemerasan
dengan menggunakan kain kassa, diperoleh sisa cairan merkuri.

Waktu setting time yang diperoleh menggunakan teknik mekanik yaitu 18:06
detik, sedangkan teknik manual diperoleh waktu 19:40 detik. Sesuai dengan teori
bahwa waktu setting time amalgam yang menggunakan teknik mekanik lebih cepat
daripada setting time amalgam yang menggunakan teknik manual karena tidak ada
sisa merkuri, sedangkan pada teknik manual masih terdapat sisa merkuri sehingga
konsistensi adonan akan lebih basah sehingga setting time akan lebih lama daripada
konsistensi kering pada teknik mekanik. Selain itu waktu triturasi jauh lebih pendek
pada teknik mekanik jika dibandingkan dengan teknik manual sehingga setting
time teknik mekanik akan lebih cepat daripada menggunakan teknik manual.
5.3 Low Speed dibanding High Speed

Dalam percobaan triturasi mekanik, kapsul yang berisi bubuk amalgam dan
cairan merkuri, diletakkan pada tempat pengaduk pada amalgamator. Amalgamator
dapat diatur lama triturasi dan kecepatannya sesuai dengan yang dibutuhkan.
Dilakukan 2 kali percobaan triturasi amalgam menggunakan teknik mekanik yaitu
dengan kecepatan low dan high selama 8 detik yang memakai perbandingan bubuk
dan merkuri 1 : 1. Pada percobaan dengan kecepatan high hasil pengadukan lebih
homogen daripada kecepatan low.

Kedua percobaan yang dilakukan tidak ada sisa bubuk yang terdapat dalam
kapsul, dan tidak terdapat sisa merkurikarena semua merkuri sudah berikatan
dengan bubuk amalgam. Proses triturasi disebabkan oleh faktor kecepatan
pengadukan, semakin cepat proses pengadukannya maka semakin homogen hasil
pencampurannya. Maka berpengaruh juga pada waktu setting time yang diperoleh.
Pada percobaan dengan kecepatan high diperoleh waktu yaitu 16:40 detik dan pada
percobaan dengan kecepatan low diperoleh waktu 18:06. Hal ini membuktikan
bahwa menggunakan kecepatan high, setting time lebih cepat daripada
menggunakan kecepatan low.

6. KESIMPULAN

Hasil amalgam tergantung dari perbandingan merkuri dengan bubuk amalgam,


kondensasi, dan kecepatan triturasi baik secara mekanik dan manual untuk
menghasilkan hasil campuran amalgam yang tepat.

7. DAFTAR PUSTAKA

McCabe, JF., Walls, AWG. 2008. Applied Dental Materials. 9th ed. Blackwell;
Munksgaard. pp 181-183, 191-192.

Anusavice, Kenneth J. 2012. Phillips Science of Dental Materials 11th ed. Elsevier.
pp. 344, 346, 348-349.