Anda di halaman 1dari 5

makalah kosmetologi " SHAMPOO"

SHAMPOO

I. PENGERTIAN SHAMPOO
Shampoo adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud
keramas rambut, sehingga setelah itu kulit kepala dan rambut menjadi bersih, dan
sedapat mungkin menjadi lembut, mudah diatur dan berkilau. Dan merupakan
produk perawatan rambut yang digunakan untuk menghilangkan minyak, debu,
serpihan kulit, dan kotoran lain dari rambut..
Kata shampoo berasal dari bahasa Hindi champo, bentuk imperatif
dari champna, "memijat". Di Indonesia dulu shampoo dibuat dari merang yang
dibakar menjadi abu dan dicampur dengan air.
Shampoo adalah suatu zat yang terdiri dari surfaktan, pelembut,
pembentuk busa, pengental dan sebagainya yang berguna untuk membersihkan
kotoran yang melekat pada rambut seperti sebum, keringat, sehingga rambut akan
kelihatan lebih bersih, indah dan mudah ditata.

I. SYARAT SHAMPOO
Sebuah formulasi shampoo yang baik mempunyai kemampuan khusus
yang dapat meminimalisasi iritasi mata, mengontrol ketombe (dandruff) serta
dapat memperbaiki struktur rambut secara keseluruhan.
Preparat shampoo harus meninggalkan kesan harum pada rambut, lembut
dan mudah diatur, memiliki performance yang baik (warna dan viskositas yang
baik) harga yang murah dan terjangkau. Secara spesifik suatu shampoo harus:
1. Mudah larut dalam air, walapun air sadah tanpa mengalami pengendapan
2. Memiliki daya bersih yang baik tanpa terlalu banyak menghilangkan minyak dari
kulit kepala
3. Menjadikan rambut halus, lembut serta mudah disisir
4. Cepat bebusa dan mudah dibilas serta tidak menimbulkan iritasi jika
kontak dengan mata
5. Memiliki pH yang baik netral maupun sedikit basa
6. Tidak iritasi pada tangan dan kulit kepala
7. Memiliki performa yang baik
Antidandruff shampoo merupakan shampooyang ditujukan untuk
mengontrol sel kulit mati dikulit kepala, formulasinya hamper sama seperti
shampoo lain tetapi ditambahkan bahan aktif seperti senium sulfide, zinc
pirythion, sulfur.
Shampoo, bila dicampur dengan air, dapat melarutkan minyak alami yang
dikeluarkan oleh tubuh untuk melindungi rambut. Setelah mencuci rambut dengan
shampoo, biasanya digunakan produk conditioner agar rambut mudah ditata
kembali.
Shampoo untuk bayi dibuat sedemikian rupa sehingga tidak perih di mata.
Shampoo untuk binatang juga dapat mengandung insektisida untuk membunuh
kutu. Beberapa shampoo manusia tidak dapat digunakan untuk binatang karena
mengandung seng (misalnya shampoo anti ketombe). Logam ini tidak beracun
bagi manusia, namun berbahaya bagi binatang.
Pada awalnya shampoo dibuat dari berbagai jenis bahan yang diperoleh
dari sumber alam, seperti sari biji rerak, sari daging kelapa, sari abu merang (
sekam padi). Shampoo yang menggunakan bahan alam sudah banyak
ditinggalkan, dan diganti dengan shampo yang dibuat dari detergen.
Agar shampo berfungsi sebagaimana disebutkan diatas, shampoo harus memiliki
sifat sebagai berikut :
1. Shampoo harus dapat membentuk busa yang berlebih, yang terbentuk dengan
cepat, lembut dan mudah dihilangkan dengan membilas dengan air.
2. Shampoo harus mempunyai sifat detergensi yang baik tetapi tidak berlebihan,
karena jika tidak kulit kepala menjadi kering.
3. Shampoo harus dapat menghilangkan segala kotoran pada rambut, tetapi dapat
mengganti lemak natural yang ikut tercuci dengan zat lipid yang ada didalam
komposisi shampo. Kotoran rambut yang dimaksud tentunya sangat kompleks
yaitu : sekret dari kulit, sel kulit yang rusak, kotoran yang disebabkan oleh
lingkungan dan sisa sediaan kosmetik.
4. Tidak mengiritasi kulit kepala dan juga mata.
5. Shampoo harus tetap stabil. Shampo yang dibuat transparan tidak boleh menjadi
keruh dalam penyimpanan. Viskositas dan pHnya juga harus tetap konstan,
shampo harus tidak terpengaruh oleh wadahnya ataupun jasadrenik dan dapat
mempertahankan bau parfum yang ditambahkan kedalamnya.
Detergen yang digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan shampo
memiliki sifat fisikokimia tersendiri yang umumnya tidak sepenuhnya searah
dengan ciri sifat yang dikehendaki untuk shampo. Umumnya, detergen dapat
melarutkan lemak dan daya pembersihnya kuat, sehingga jika digunakan untuk
keramas rambut, lemak rambut dapat hilang, rambut menjadi kering, kusam dan
mudah menjadi kusut, menyebabkan sukar diatur.
Sifat detergen yang terutama dikehendaki untuk shampo adalah
kemampuan membangkitkan busa. Jenis detergen yang paling lazim diedarkan
tergolong alkil sulfat, terutama laurilsulfat, juga alkohol monohidrat dengan rantai
C10 18. Sifat detergen ini tergantung pada panjang rantai alkohol lemak yang
digunakan. Homolog rendah seperti C12 ( lauril ) dan C14 ( miristil ) memiliki
sifat yang lebih baik dibandingkan dengan homolog yang lebih tinggi seperti C16
( palmitil ) dan C18 ( stearil ) dalam hal memberikan busa dan basah dengan sifat
pembersih yang baik, meskipun suhu rendah. Detergen alkilsulfat yang dibuat
dari alkohol lemak, kelarutannya menurun dengan meningkatnya homolog rantai
karbonnya, sehingga shampo yang dibuat dari detergen alkilsulfat dengan atom
C16-18 tidak dapat disimpan pada suhu rendah. Kelarutan detergen alkilsulfat
dalam air berkurang, sehingga tidak begitu berbusa, lagipula detergen ini
dipengaruhi oleh efek air sadah.
Detergen alkilsulfat dengan alkohol lemak dengan rantai karbon kurang
dari 10 seperti C8 ( kaprilil ) dan C10 ( kapril ) lebih condong menunjukkan sifat
iritasi.
Detergen alkilsulfat dengan rantai karbon 12 14 adalah noniritan,
memberikan cukup busa pada suhu kamar, dan tidak mudah rusak dalam
penyimpanan.
Trietanolamina ( TEA ) laurilsulfat dianggap paling luas dapat diterima
untuk digunakan dalam pembuatan shampo, disamping itu dalam penyimpanan
tetap stabil. Amonium alkilsulfat, meskipun memiliki keaktifan pembersih yang
sedang, tetapi jarang digunakan untuk pembuatan shampo, karena suhu padatnya
tinggi. Biasanya senyawa ini digunakan sebagai campuran detergen seperti
nampak pada amonium monoetanolamina atau amonium trietanolamina
alkilsulfat. Shampo dengan formulasi tersebut memiliki pembersih dan pembusa
yang baik, rambut yang dikeramas dengan shampo ini masih mudah diatur.
Di samping itu detergen yang digunakan untuk pembuatan shampo, harus
memiliki sifat berikut :
1. Harus bebas reaksi iritasi dan toksik, terutama pada kulit dan mata atau mukosa
tertentu.
2. Tidak boleh memberikan bau tidak enak, atau bau yang tidak mungkin ditutupi
dengan baik.
3. Warnanya tidak boleh menyolok.

III. JENIS-JENIS SHAMPO


1. Shampo bubuk (Dry Shampoo)
Sebagai dasar shampo digunakan sabun bubuk, sedangkan zat pengencer
biasanya digunakan natrium karbonat, natrium bikarbonat, natrium
seskuikarbonat, dinatrium fosfat, atau boraks.
2. Shampo emulsi
Shampo ini mudah dituang, karena konsistensinya tidak begitu kental.
Tergantung dari jenis zat tambahan yang digunakan, shampo ini diedarkan dengan
berbagai nama seperti shampo lanolin, shampo telur, shampo protein, shampo
brendi, shampo lemon, shampo susu atau bahkan shampo strawberry.
3. Shampo krim atau pasta (Creme paste Shampoo)
Sebagai bahan dasar digunakan natrium alkilsulfat dari jenis alkohol rantai
sedang yang dapat memberikan konsistensi kuat. Untuk membuat shampo pasta
dapat digunakan malam seperti setilalkohol sebagai pengental. Dan sebagai
pemantap busa dapat digunakan dietanolamida minyak kelapa atau
isopropanolamida laurat.
4. Shampo larutan (Liquid Shampoo)
Merupakan larutan jernih. Faktor yang harus diperhatikan dalam
formulasi shampo ini meliputi viskosita, warna keharuman, pembentukan dan
stabilitas busa, dan pemgawetan.
Zat pengawet yang lazim digunakan meliputi 0,2 % larutan formaldehid
40 %, garam fenilraksa; kedua zat ini sangat racun, sehingga perlu memperhatikan
batas kadar yang ditetapkan pemerintah. Parfum yang digunakan berkisar antara
0,3 1,0 %, tetapi umumnya berkadar 0,5 %.

IV. Formulasi
Formula sampo setidaknya harus mengandung bahan-bahan diantaranya
surfaktan, thickeners dan foaming agent, dan conditioning agent. Berikut adalah
contoh formula sampo.

Sodium lauril sulfat merupakan detergent yang berfungsi untuk


membersihkan kotoran dikulit kepala. Mekanisme kerjanya dengan menurunkan
tegangan muka antara lemak dan air yang ada di kulit kepala.
Cocamidopropyl Betaine berperan sebagai surfaktan anionik.
Cocamidopropyl betaine merupakan surfaktan sintetsis turunan dari minyak kelapa
dan dimethylaminopropylamine yang bersifat switer ion.
Tetrasodium EDTA berfungsi sebagai khelating agent atau antioksidan.
Penambahan bahan ini agar senyawa-senyawa yang mudah teroksidasi tetap stabil.
Preservative digunakan sebagai pengawet. Parfume berfungsi untuk memeperbaiki
bau agar harum dan menyenagkan saat dipakai. Colour berfungsi agar tampilan
sampo menjadi lebih bagus dan memberikan warna pada sampo. Asam sitat berfungsi
sebagai pengatur pH. pH perlu diatur agar pH sampo dan pH kulit kepala sama.
Sodium kloride berfungsi sebagai pengatur viskositas. Pengaturan viskositas
sangat penting karena berpengaruh pada saat pengisian sampo pada kemasan dan juga
saat pemakaian. Water adalah bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam sediaan
sampo. Fungsi utama air adalah sebagai bahan pelarut. Air juga berfungsi untuk
mengatur viskositas sampo.