Anda di halaman 1dari 9

HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA DENGAN STRES KERJA PERAWAT

DI INSTALASI GAWAT DARURAT


RSUD KABUPATEN SEMARANG

Haryanti*, Faridah Aini**, Puji Purwaningsih***


*Mahasiswa STIKES Ngudi Waluyo, Ungaran, Indonesia
**Dosen STIKES Ngudi Waluyo, Ungaran, Indonesia
***Dosen STIKES Ngudi Waluyo, Ungaran, Indonesia

ABSTRAK
Kondisi dan beban kerja di instalasi gawat darurat (IGD) perlu diketahui agar dapat ditentukan
kebutuhan kuantitas dan kualitas tenaga perawat yang diperlukan dalam ruang IGD sehingga tidak terjadi
beban kerja yang tidak sesuai yang akhirnya menyebabkan stres kerja. Bila banyaknya tugas tidak sebanding
dengan kemampuan baik fisik maupun keahlian dan waktu yang tersedia maka akan menjadi sumber stres.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara beban kerja dengan stress kerja pada
perawat di IGD RSUD Kabupaten Semarang.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi. Populasi pada penelitian ini adalah
perawat di IGD RSUD Kabupaten Semarang. Sampel digunakan tehnik total populasi sebanyak 29
responden. Alat ukur menggunakan daily log study untuk beban kerja dan alat ukur stres kerja. Analisis data
dilakukan dengan uji Kendall Tau.
Hasil penelitian didapatkan beban kerja perawat sebagian besar adalah tinggi yaitu sebanyak 27
responden (93,1%). Stres kerja perawat sebagian besar adalah stres sedang sebanyak 24 responden (82,8%).
Terdapat hubungan antara beban kerja dengan stres kerja perawat di RSUD Kabupaten Semarang, p value
0,000 (: 0,05).
Saran bagi perawat perlunya manajemen diri yang efektif dan konstruktif sehinga adanya beban kerja
yang tinggi dan stres kerja perawat dapat di kendalikan secara efektif sehingga tidak mengganggu kinerja dan
tidak memunculkan masalah kesehatan bagi perawat di IGD.

Kata kunci: beban kerja, stres kerja perawat, instalasi gawat darurat

48 Jurnal Managemen Keperawatan . Volume 1, No. 1, Mei 2013; 48-56


PENDAHULUAN perawat yang ada tidak sebanding dengan
Kualitas pelayanan keperawatan jumlah pekerjaan yang harus diselesaikan.
tidak terlepas dari peran klasifikasi pasien Kondisi ini dapat memicu munculnya stres
diruang rawat inap, karena dengan kerja, karena semua pasien yang
klasifikasi tersebut pasien merasa lebih berkunjung secara tidak langsung menuntut
dihargai sesuai haknya dan dapat diketahui mendapatkan pelayanan yang efektif dan
bagaimana kondisi dan beban kerja perawat efisien sehingga permasalahan yang
di masing-masing ruang rawatan. Kondisi dihadapi pasien segera terselesaikan
dan beban kerja di instalasi gawat darurat (Munandar, 2008).
(IGD) perlu diketahui agar dapat ditentukan Hasil penelitian Syabana (2011) di
kebutuhan kuantitas dan kualitas tenaga RSUD Ambarawa didapatkan terdapat
perawat yang diperlukan dalam ruang IGD hubungan antara beban kerja pada perawat
sehingga tidak terjadi beban kerja yang terhadap pemenuhan kebutuhan spiritual
tidak sesuai yang akhirnya menyebabkan pada pasien preoperasi dimana hasil beban
stres kerja. Kondisi kerja berupa situasi kerja ringan sebanyak 33,3% dan beban
kerja yang mencakup fasilitas, peraturan kerja berat sebanyak 66,7%. Hasil
yang diterapkan, hubungan sosial kerjasama penelitian tersebut menunjukkan bahwa
antar petugas yang dapat mengakibatkan beban kerja perawat di RSUD Ambarawa
ketidak nyamanan bagi pekerja. Demikian termasuk tinggi.
juga dengan beban kerja baik secara Hasil pendataan yang di lakukan
kuantitas dimana tugas-tugas yang harus bagian catatan medik RSUD Ambarawa
dikerjakan terlalu banyak/sedikit maupun selama bulan Agustus tahun 2012
secara kualitas dimana tugas yang harus didapatkan hasil jumlah pasien masuk 950
dikerjakan membutuhkan keahliahan. Bila pasien. Dan di RSUD Ungaran, selama
banyaknya tugas tidak sebanding dengan bulan Agustus terdapat 865 pasien. Perawat
kemampuan baik fisik maupun keahlian dan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD
waktu yang tersedia maka akan menjadi Ambarawa dalam sehari rata-rata
sumber stres (Ilyas, 2000). menangani 45 pasien dengan jumlah tenaga
perawat yang bertugas pada shift pagi
Faktor yang mempengaruhi beban sebanyak 4 perawat yang menangani pasien
kerja perawat adalah kondisi pasien yang rata-rata 20 pasien, dan 3 perawat pada
selalu berubah, jumlah rata-rata jam shift siang dan malam rata-rata menangani
perawatan yang di butuhkan untuk 12-15 pasien pada shift sore dan malam.
memberikan pelayanan langsung pada Jumlah kunjungan tersebut tidak sebanding
pasien melebihi dari kemampuan seseorang, dengan jumlah perawat yang bertugas,
keinginan untuk berprestasi kerja, tuntutan dimana perawat di IGD RSUD Ambarawa
pekerjaan tinggi serta sejumlah 19 tenaga kesehatan yaitu 14
dokumentasi asuhan keperawatan perawat dan 5 bidan. Hal yang sama juga
(Munandar, 2008). Hasil penelitian yang didapatkan di IGD RSUD Ungaran rata
dilakukan oleh Supardi (2007) didapatkan rata kunjungan perhari 40 pasien, dimana
bahwa kondisi kerja memperlihatkan terdapat 15 perawat yang memiliki tugas
kontribusi paling besar terhadap terjadinya yang sama dengan perawat di IGD RSUD
stres kerja kemudian tipe kepribadian dan Ambarawa (Data Rekam Medis RSUD
beban kerja. Ambarawa dan RSUD Ungaran, Agustus,
Akibat negatif dari meningkatnya 2012).
beban kerja adalah kemungkinan timbul Stres merupakan respon tubuh yang
emosi perawat yang tidak sesuai yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap
diharapkan pasien. Beban kerja yang tuntutan atau beban atasnya. Stres dapat
berlebihan ini sangat berpengaruh terhadap muncul apabila seseorang mengalami
produktifitas tenaga kesehatan dan tentu beban atau tugas berat dan orang tersbut
saja berpengaruh terhadap produktifitas tida dapat mengatasi tugas yang dibebankan
perawat. Perawat merasakan bahwa jumlah itu, maka tubuh akan berespon

Hubungan Antara Beban Kerja Dengan Stres Kerja Perawat Di Instalasi Gawat Darurat 49
RSUD Kabupaten Semarang
Haryanti, Faridah Aini, Puji Purwaningsih
dengan tidak mampu terhadap tugas
tersebut, sehingga orang tersebut dapat HASIL
mengalami stres (Selye, 1950 dalam 1. Gambaran beban kerja perawat di
Hidayat, 2011). Stres kerja perawat dapat RSUD Kabupaten Semarang Diagram1:
terjadi apabila perawat dalam bertugas Distribusi frekuensi beban kerja
mendapatkan beban kerja yang lemebihi perawat di RSUD Kabupaten Semarang
kemampuannya sehingga perawat tersebut
tidak mampu memenuhi atau
Beban Kerja
menyelesaikan tugasnya, maka perawat 2
tersebut dikatakan mengalami stres kerja.
Manifestasi dari stres kerja perawat antara
27
lain akibat karakterisasi pasien, pengkajian
terhadap pasien, dan aspek lingkungan kerja
yang mengganggu merupakan langkah awal Rendah Tinggi
dalam menangani masalah-masalah yang
datang mengenai tingkat kepadatan ruangan
emergency, efisiensi pelaksanaan tugas,
serta adanya tuntutan untuk menyelamatkan Berdasarkan diagram 1 diketahui
pasien (Levin et al, 2004). bahwa beban kerja perawat
sebagian besar adalah tinggi yaitu
Apabila stres mencapai titik puncak sebanyak 27 responden (93,1%),
yang kira-kira sesuai dengan kemampuan dan yang rendah pada 2 responden
maksimum kinerja karyawan maka pada (6,0%).
titik ini stres tambahan cenderung tidak 2. Gambaran stres kerja perawat di
menghasilkan perbaikan kinerja selanjutnya RSUD Kabupaten Semarang
bila stres yang dialami karyawan terlalu Diagram 2: Distribusi frekuensi
besar, maka kinerja akan mulai menurun, stres kerja perawat di RSUD
karena stres tersebut mengganggu Kabupaten Semarang
pelaksanaan kerja karyawan dan akan
kehilangan kemampuan untuk Stres Kerja
mengendalikannya atau menjadi tidak
mampu untuk mengambil keputusan dan
Ringan
perilakunya menjadi tidak menentu. Akibat
yang paling ekstrim adalah kinerja menjadi Sedang
nol, karyawan mengalami gangguan,
menjadi sakit, dan tidak kuat lagi untuk
bekerja, menjadi putus asa, keluar atau
menolak bekerja (Munandar, 2008). Berdasarkan diagram 2 diketahui
bahwa sebagian besar stres kerja
METODE
perawat adalah stres sedang
Penelitian ini menggunakan desain
sebanyak 24 responden (82,8%),
deskriptif korelasi. Populasi penelitian
stres ringan pada 5 responden
adalah perawat di UGD RSUD Kabupaten
(17,2%).
Semarang sejumlah 29 perawat.
Pengukuran beban kerja menggunakan 3. Analisis hubungan antara beban
instrumen daily log study dan pengukuran kerja dengan stres kerja perawat di
stres kerja menggunakan kuesioner stres RSUD Kabupaten Semarang.
kerja berdasarkan teori Robbins (1990) Tabel 3: Analisis hubungan antara
dalam Nursalam (2008) yang terdiri dari 35 beban kerja dengan stres kerja perawat
pertanyaan. Analisis data menggunakan uji
di RSUD Kabupaten Semarang.
Kendall Tau.

50 Jurnal Managemen Keperawatan . Volume 1, No. 1, Mei 2013; 48-56


Stres kerja Total
Beban kerja Ringan Sedang r P

f % f % f %
Rendah 1 50,0 1 50,0 2 100,0 0,751 0,000
Tinggi 4 14,8 23 85,2 27 100,0
Jumlah 5 17,2 24 82,8 29 100,0
Beban kerja tinggi pada perawat
Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa di RSUD Kabupaten Semarang terjadi
responden yang mengalami beban kerja karena belum ada tenaga khusus yang
rendah, masing-masing mengalami stres melakukan tindakan non keperawatan
kerja ringan dan sedang sebanyak 1 seperti membersihkan ruangan seperti
responden (50%). Responden yang membereskan sampah habis pakai,
mengalami beban kerja tinggi yang membersihkan instrumen medis,
mengalami stres sedang sebanyak 23 jumlah tenaga non medis yang bertugas
responden (85,2%) dan yang mengalami mengantarkan pasien ke ruangan juga
stres ringan sebanyak 4 responden masih terbatas jumlahnya. Selain itu
(14,8%). Hasil analisis statistik dengan jumlah tenaga perawat di IGD masih
menggunakan uji Kendall Taus belum seimbang dengan jumlah
didapatkan nilai p 0,000, artinya terdapat kunjungan pasien yang ada.
hubungan antara beban kerja dengan stres Penelitian ini sejalan dengan
kerja perawat di RSUD Kabupaten penelitian Martini (2007) bahwa beban
Semarang. Nilai r sebesar 0,751 pada hasil kerja perawat di rumah sakit rata-rata
uji memiliki arti 1) hubungan antara beban sebanyak 66,89% dengan beban kerja
kerja dengan stres kerja memiliki maksimal 91,66% dan beban kerja
hubungan dalam kategori kuat, 2) Arah minimal 21,33%. Beban kerja perawat
hubungan adalah positif, artinya semakin IGD adalah keadaan dimana perawat
meningkat beban kerja akan semakin dihadapkan pada tugas atau pekerjaan
menyebabkan stres. yang harus diselesaikan selama
bertugas. Hal ini sesuai dengan
PEMBAHASAN pernyataan Wijono (2003) bahwa
1. Gambaran beban kerja perawat di beban kerja perawat adalah
RSUD Kabupaten Semarang menyelamatkan kehidupan dan
Hasil analisis univariat mencegah kecacatan sehingga pasien
menunjukkan bahwa berdasarkan dapat hidup. Sesuai penelitian Hal ini
presentasi beban kerja didapatkan didukung oleh penelitian Jauhari
beban kerja perawat di ruang IGD (2005) bahwa standar beban kerja
sebagian besar adalah tinggi yaitu perawat senantiasa harus sesuai dengan
sebanyak 27 responden (93,1%), dan asuhan keperawatan yang berorientasi
beban kerja perawat yang rendah pada kebutuhan pasien. Untuk
didapatkan pada 2 responden (6,0%). menghasilkan pelayanan yang efektif
Beban kerja tinggi pada perawat di dan efisien harus diupayakan
RSUD Kabupaten Semarang pada kesesuaian antara ketersediaan tenaga
beberapa kegiatan antara lain perawat dengan beban kerja yang ada.
mengantar pasien ke ruangan, Hasil penelitian ini sama dengan
pemasangan kateter intravena, yang disampaikan oleh Hay dan Oken
melakukan heating pada luka, (1972) dalam Lloyd (2007) yang
melakukan ganti balut serta melakukan menyampaikan bahwa beban kerja
dokumentasi asuhan keperawatan perawat di ruang IGD tergolong berat.
gawat darurat. Beban kerja yang tergolong berat
karena parawat di IGD dalam

Hubungan Antara Beban Kerja Dengan Stres Kerja Perawat Di Instalasi Gawat Darurat 51
RSUD Kabupaten Semarang
Haryanti, Faridah Aini, Puji Purwaningsih
melakukan kegiatannya harus secara harinya indikator tersebut dirasakan
cermat, cepat dan tepat melakukan kurang dari 3 kali.
identifikasi setiap pasien yang datang Menurut Highley dalam Cox
karena dituntut dengan keberhasilan (1996) perawat, secara alamiah
penyelamatan jiwa tergantung dari merupakan profesi yang penuh dengan
pelayanan yang diberikan di IGD. stres, berdasarkan hasil observasinya
Dalam waktu yang bersamaan perawat didapatkan bahwa setiap hari perawat
harus selalu waspada terhadap berhadapan dengan penderita yang
kedatangan pasien gawat maupun kaku, duka cita dan kematian, banyak
darurat yang harus diselamatkan tugas-tugas perawat tidak diberi
jiwanya. penghargaan, tidak menyenangkan dan
Hasil penelitian juga didapatkan penuh tekanan, sering diremehkan,
terdapat sebagian kecil perawat yang menakutkan. Stres kerja perawat dapat
memiliki beban kerja rendah. Hal ini terjadi karena jumlah tindakan yang
dapat terjadi karena pada saat dinas harus diselesaikan tidak sebanding
selama 6 hari tidak banyak terdapat dengan jumlah tenaga perawat yang
kunjungan pasien ke IGD, penanganan ada. Belum adanya kegiatan untuk
pasien juga dilakukan secara bersama- mengurangi stres kerja pada perawat
sama sehingga secara singkat waktu dan sistem mutasi perawat di RSUD
penyelesaian tindakan yang dibutuhkan. Kabupaten Semarang terlalu lama yaitu
antara 2-3 tahun.
2. Gambaran stres kerja perawat di RSUD Sesuai dengan definisinya
Kabupaten Semarang memang ruang IGD merupakan ruang
Analisis univariat menunjukkan yang penuh dengan stres karena pasien
hasil bahwa stres kerja perawat pada yang datang dalam kondisi yang
perawat IGD di RSUD Kabupaten bervariasi. Karakteristik pasien yang
Semarang mayoritas adalah stres tingkat datang ke IGD antara lain pasien gawat,
sedang sebanyak 82,8%. Hasil pasien darurat, maupun pasien yang
penelitian menunjukkan stres kerja sebenarnya tidak memenuhi kriteria
perawat pada tingkat sedang gawat dan darurat tetapi karena tidak
berdasarkan hasil terbanyak pada ada pelayanan kesehatan lain yang
kuesioner yaitu perawat menghindari dapat mengatasi, maka tetap datang ke
masalah, berpikir terhadap hal-hal kecil, IGD, contohnya adalah padawaktu sore
merasa kehilangan konsentrasi, merasa atau malam hari.
tidak cocok dengan pekerjaan dan Pengambilan keputusan pada
merasa tidak cukup waktu untuk perawat d IGD harus secara cepat dan
menyelesaikan pekerjaan. Stres kerja tepat dalam memberikan tindakan
perawat tergolong dalam stres kerja kepada pasien. Setiap perawat berharap
sedang karena pada instrumen penilaian agar selalu bisa melakukan sesuatu
stres didapatkan skala 36-70 dari untuk menyelamatkan pasien yang
rentang skor 35-140. Stres yang dirawatnya. Hal tersebut menjadikan
didapatkan pada penelitian ini adalah stresor tersendiri bagi perawat yang
stres ringan dan stres tingkat sedang. bertugas. Hal ini juga didukung oleh
Stres ringan diatrikan sebagai stres yang penelitian yang dilakukan oleh Izzati
tidak muncul setiap saat dan tanda- (2011) bahwa semua perawat IGD di
tanda yang muncul tidak selalu RSI Jemur Sari Surabaya juga
ditemukan pada setiap hari. stres sedang mengalami stres.
secara umum diartikan bahwa pada Stres dapat terjadi pada hampir
masing-masing kuesioner penilaian semua pekerja, baik tingkat pimpinan
stres kerja, dalam setiap maupun pelaksana. Kondisi kerja yang
lingkungannya tidak baik sangat

52 Jurnal Managemen Keperawatan . Volume 1, No. 1, Mei 2013; 48-56


potensial untuk menimbulkan stres bagi dari tubuh baik fisik maupun mental
pekerjanya. Stres dilingkungan kerja terhadap setiap tuntutan ataupun
memang tidak dapat dihindarkan, yang perubahan yang mengganggu,
dapat dilakukan adalah bagaimana mengancam rasa aman dan harga diri
mengelola, mengatasi atau mencegah individu. Pengalaman stres adalah
terjadinya stres tersebut, sehingga tidak pengalaman pribadi dan bersifat
menganggu pekerjaan (Notoatmodjo, subjektif. Stres terjadi apabila individu
2002). menilai situasi yang ada pada dirinya
adalah situasi yang mengancam
3. Analisis hubungan antara beban kerja Hasil analisis statistik dengan
dengan stres kerja perawat di RSUD menggunakan uji Kendall Taus
Kabupaten Semarang. didapatkan nilai p 0,000, artinya
Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan antara beban kerja
didapatkan bahwa responden yang dengan stres kerja perawat di RSUD
mengalami beban kerja rendah, masing- Kabupaten Semarang. Nilai r sebesar
masing mengalami stres kerja ringan 0,751 pada hasil uji memiliki arti 1)
dan sedang sebanyak 1 responden hubungan antara beban kerja dengan
(50%). Responden yang mengalami stres kerja memiliki hubungan dalam
beban kerja tinggi yang mengalami kategori kuat, 2) Arah hubungan adalah
stres sedang sebanyak 23 responden positif, artinya semakin meningkat
(85,2%) dan yang mengalami stres beban kerja akan semakin menyebabkan
ringan sebanyak 4 stres. Hasil penelitian ini sesuai dengan
responden (14,8%). Presentasi hasil penelitian yang dilakukan oleh
terbanyak perawat yang stres berjenis Mahwidhi (2010) tentang pengaruh
kelamin perempuan. Besarnya beban kerja terhadap stres kerja pada
presentasi perempuan yang menjadi perawat di RSU Dr. Soeroto Ngawi
responden dikarenakan jumlah perawat didapatkan hasil bahwa terdapat
IGD di RSUD Kabupaten Semarang pengaruh beban kerja fisik (subyektif)
memang mayoritas berjenis kelamin dan beban kerja mental
perempuan. (subyektif) terhadap stres kerja dengan
Setiap orang memiliki nilai probabilitas masing-masing
kemampuan yang berbeda-beda dalam sebesar 0,000 dan 0,043. Penelitian ini
nenghadapi stres yang dihadapi. sejalan juga dengan penelitian Hay dan
Menurut Siagian (2002) secara sosial Oken (1972) dalam Lloyd (2007) juga
budaya, pegawai wanita yang bermoral menyampaikan bahwa beban kerja
tinggi akan memiliki tugas tambahan. perawat di ruang IGD tergolong berat
Berdasarkan pemikiran bahwa perawat karena harus melakukan penanganan
perempuan akan lebih teliti, lebih sabar, pada pasien yang datang dengan cepat
lebih menghargai, lebih dan tepat.
bertanggung jawab dalam Bekerja di ruang IGD dalam
menyelesaikan tugas, sehingga tidak setiap kesempatan akan menemui
jarang pimpinan akan memberikan pasien yang memiliki karakteristik yang
tugas tambahan karena merasa yakin bervariasi yang berdampak pada kondisi
pasti akan diselesaikan dengan baik. dan beban kerja yang berbeda. Untuk
Setiap orang pernah stres dan itu perawat harus peran sebagai tenaga
akan mengalaminya, akan tetapi serba bisa, memiliki inisiatif,
kadarnya berbeda-beda serta dalam berperilaku kreatif serta memiliki
jangka waktu yang tidak sama wawasan yang luas dengan motivasi
(Hardjana, 2004). Selye (1956 dalam kerja keras, cerdas, iklas dan kerja
Suliswati, 2005) menyatakan bahwa berkualitas. Jenis pasien yang dirawat di
stres merupakan tanggapan menyeluruh ruangan rawat inap rumah sakit

Hubungan Antara Beban Kerja Dengan Stres Kerja Perawat Di Instalasi Gawat Darurat 53
RSUD Kabupaten Semarang
Haryanti, Faridah Aini, Puji Purwaningsih
dapat dipandang sebagai tuntutan dengan kelelahan kerja yang merupakan
terhadap pelayanan kesehatan jika tidak gejala fisik stress kerja, artinya semakin
dikelola dengan baik maka akan berat beban kerja di tempat kerja maka
berakibat terjadinya stress kerja semakin tinggi tingkat stress kerja.
(Boenisch dkk, 2004). Lebih lanjut dijelaskan bahwa variabel
Menurut Roy (1991) bahwa yang berhubungan dengan beban kerja
faktor beban kerja termasuk di dalam adalah tempat bekerja, jenis pekerjaan,
stimulus fokal dimana secara langsung serta beban mental.
berhadapan dengan seseorang dan
responnya segera. Perawat IGD yang Banyaknya pekerjaan yang
merasa beban kerjanya tinggi akan melebihi kapasitas menyebabkan
langsung berespon untuk beradaptasi kondisi fisik perawat di IGD mudah
dengan kondisi yang ada. Berbagai lelah dan mudah tegang. Pelayanan
keluhan fisik yang dirasakan merupakan keperawatan di ruang IGD juga sangat
respon kelelahan dari beratnya beban kompleks, dimana membutuhkan
kerja di ruang IGD. Berdasarkan kemampuan secara teknis dan
penelitian dari Rodrigues (2010) bahwa pengetahuan yang lebih. Beban
ada hubungan antara beban kerja dan pekerjaan yang begitu banyak
tingkat stres perawat IGD, semakin pemenuhan kebutuhan, penanganan
tinggi beban kerja maka semakin tinggi masalah dan pada akhirnya sangat
juga tingkat stres perawat. menguras energi baik fisik ataupun
kemampuan kognitif. Kondisi perawat
Menurut Manuaba (2000), akibat IGD yang stres dengan adanya beban
beban kerja yang terlalu berat dapat pekerjaan yang sudah berat hendaknya
mengakibatkan seorang pekerja tidak ditambah lagi dengan beban-
menderita gangguan atau penyakit beban lain di luar tugas sebagai perawat
akibat kerja. Beban kerja yang terlalu IGD. Sebagai contoh adalah beban
berlebihan akan menimbulkan bimbingan mahasiswa praktek, beban
kelelahan baik fisik atau mental dan pengurus organisasi, atau beban lain
reaksireaksi emosional seperti sakit yang pada akhirnya semakin
kepala, gangguan pencernaan dan memperberat, sehingga tingkat stres
mudah marah. Sedangkan pada beban perawat semakin meningkat.
kerja yang terlalu sedikit dimana Beban kerja berlebih dapat
pekerjaan yang terjadi karena menyebabkan stres. Penelitian tentang
pengulangan gerak akan menimbulkan stres perawat IGD yang dilakukan di
kebosanan, rasa monoton. Kebosanan Malaysia oleh Lexshimi (2007), yang
dalam kerja rutin sehari-hari karena hasilnya menunjukkan bahwa 100%
tugas atau pekerjaan yang terlalu sedikit perawat yang menjadi responden
mengakibatkan kurangnya perhatian mengatakan pernah mengalami stres
pada pekerjaan sehingga secara selama bertugas di ruang IGD. Mereka
potensial membahayakan pekerja. mengalami keluhan sakit kepala, nyeri
Beban kerja yang berlebihan atau dada, nyeri perut, bahkan ada yang
rendah dapat menimbulkan stress kerja. menyampaikan kehilangan libido. Dari
responden didapatkan bahwa yang
Secara umum stres kerja menyebabkan mereka stres diantaranya
dipengaruhi oleh banyak faktor selain adalah: beban bekerja dengan alat
beban kerja, seperti yang disebutkan canggih yang sangat menegangkan,
dalam penelitian Restiaty, et al (2006) adanya ketidaknyamanan bekerjasama
tentang beban kerja dan perasaan dengan staf lain dan kurangnya
kelelahan menyimpulkan adanya pengalaman bekerja di ruang IGD.
hubungan beban kerja di tempat kerja

54 Jurnal Managemen Keperawatan . Volume 1, No. 1, Mei 2013; 48-56


Hasil penelitian ini sesuai Keadaan stres menimbulkan
dengan penelitian Iswanto (2001) respon fisiologis, reaksi fisiologis stres
tentang hubungan stress kerja, dimulai dengan persepsi stres yang
kepribadian dan kinerja yang menghasilkan aktivasi simpatetik pada
menyimpulkan bahwa adanya sistem saraf otonom, yang mengarahkan
hubungan yang kuat antara stress kerja tubuh untuk bereaksi terhadap emosi,
dengan kinerja. Analisis lebih lanjut stressfull, dan keadaan darurat.
menunjukkan bahwa kepribadian Pengarahan ini terjadi dalam dua jalur,
memberikan kontribusi terhadap yang pertama melalui aktivasi
hubungan stress kerja dengan kinerja. simpatetik terhadap ANS (autonomic
Tingkat stress paling tinggi akan nervus system) dari sistem medula
mempengaruhi kondisi fisik dan adrenal, mengaktifkan medula adrenal
psikologis seseorang dan pada untuk menyekresi epinefrin dan
gilirannya akan mempengaruhi kinerja norepinefrin yang mempengaruhi
yang semakin menurun. sistem kardiovaskular, pencernaan dan
Beban kerja yang ditanggung respirasi. Rute kedua yaitu
oleh perawat IGD berbeda dengan di hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA)
ruang rawat yang lain. Perawat sangat aksis, yang meliputi semua struktur ini.
merasa terbeban karena harus Tindakan ini mulai dengan persepsi
memberikan pelayanan keperawatan terhadap situasi yang mengnacam, aksi
ekstra ketat dan cepat untuk yang cepat pada hipotalamus.
menyelamatkan nyawa pasien. Selain Hipotalamus merespon pelepasan
itu dengan pemantauan dan pencatatan corticotrophin releasing hormone
kondisi pasien secara rutin dan kontinyu (CRH), yang akan merangsang hipofisis
juga merupakan beban tersendiri. anterior untuk menyekresikan
Secara psikologis ada beban untuk adrenocorticotropic hormone (ACTH).
dapat mempertahankan kondisi pasien Hormon ini merangsang korteks
supaya tidak tambah memburuk. adrenal untuk menyekresi
Terhadap keluarga pasien perawat juga glukokortikoid, termasuk kortisol.
merasa terbeban untuk selalu Sekresi kortisol mengarahkan sumber
menyampaikan segala kondisi pasien energi tubuh, meningkatkan kadar gula
secara jujur. Beban yang dirasakan darah yang berguna untuk energi sel.
perawat IGD akhirnya menyebabkan Kortisol juga sebagai antiinflamasi yang
adanya suatu tekanan secara terus- memberikan perlawanan alami selama
menerus yang memicu terjadinya stres respon fight or flight (Alloy dkk, 2005;
kerja. Carlson, 2005; Pinel, 2009).
Seyle (1976) menjelaskan
konsep mengenai reaksi tubuh terhadap KESIMPULAN
stress yang disebut dengan respon Terdapat hubungan antara beban kerja
adaptasi umum terhadap stress. Konsep dengan stres kerja perawat di RSUD
ini menggambarkan respon tubuh Kabupaten Semarang (p value 0,000
terhadap stress menjadi tiga tahapan dengan = 0,05).
dasar yaitu tanggapan terhadap bahaya DAFTAR PUSTAKA
(alarm reaction), tanggapan fisik atau
tahap perlawanan (stage of resistance) Alloy, Lauren B., Acocella, Joan, &
dan tahap kelelahan (stage of Bootzin, Richard. (1996). Abnormal
exhaustion). Ketiga tahapan ini tidak psychology: Current perspectives (7th
selalu terjadi pada setiap manusia yang ed.). International Edition: McGraw-
mengalami stress karena tergantung Hill Inc.
pada daya tahan mental setiap individu Boenisch, dkk (2004), The stres owners
(Suyono, 2002). manual, meaning, balance & health

Hubungan Antara Beban Kerja Dengan Stres Kerja Perawat Di Instalasi Gawat Darurat 55
RSUD Kabupaten Semarang
Haryanti, Faridah Aini, Puji Purwaningsih
in your life, menggapai Martini, (2007), Hubungan karakteristik
keseimbangan hidup, Gramedia, perawat, sikap, beban kerja,
Jakarta ketersediaan fasilitas dengan
pendokumentasian asuhan
Carlson, (2005), Foundation of keperawatan di rawat inap BPRSUD
psychological psycolog, Ed 6 Kota Salatiga, Tesis Magister Ilmu
Permision Department, MA. Kesehatan Masyarakat Konsentrasi
Cox, Tom, (1996), Stress. London: The Administrasi Kebijakan Kesehatan
Macmillan Press Ltd Munandar, AS. (2001). Psikologi industri
Hardjana, (2004), Mekanisme koping dan organisasi, edisi 1, UI Press,
terhadap stres, PT Andi Offset, Jakarta.
Yogyakarta. Notoadmodjo,S. (2002). Ilmu kesehatan
masyarakat, Jakarta: Rineka Cipta.
Hidayat, AAA., (2011), Pengantar konsep Nursalam, (2008). Konsep & Penerapan
dasar keperawatan, Salemba Medika, Metodologi Penelitian Ilmu
Jakarta. Keperawatan: pedoman Skripsi, Tesis
Ilyas,Yaslis. (2002), Perencanaan Sumber dan Instrumen Penelitian
Daya manusia Rumah Sakit. UGM Keperawatan, Jakarta: Salemba
Iswanto, S., (2001), Hubungan stress kerja medika.
dengan perilaku medikasi di ruang Restiaty, et al (2006), Hubungan tentang
al-qomar dan asy-syam Rumah Sakit beban kerja dengan kelelahan kerja
Islam Surakarta. di RS Surabaya. Skripsi. Tidak
Izzati, Z., ( 2011). Gambaran tingkat stres dipublikasikan
perawat ditinjau dari jenis kelamin, Rodrigues, (2010), Association between
usia, dan kerja di ruang ICU/ICCU serum ferritin and measures of
RSI Jemursari Surabaya. Skripsi. inflammation. Am J Crit Care 2005 ;
Tidak dipublikasikan 14: 513-521.
Levin, S., (2004), Tracking Workload in the Siagian, S. P, (2002). Kiat meningkatkan
Emergency Department, Human produktivitas kerja. Jakarta: Rineka
Factors; Fall 2006; 48, 3; ProQuest, Cipta.
diunduh dari: Suliswati, dkk.(2005).Konsep dasar
http://search.proquest.com/docview/2 keperawatan Kesehatan jiwa.
16465972/fulltextPDF/13BEDECEC Jakarta: EGC.
CB2DDE256A/11?accountid=17242 Supardi (2007), Analisa Stres Kerja Pada
tanggal 29 Januari 2013. Kondisi Dan Beban Kerja Perawat
Lexshimi, R., Tahir. S., Santhna, L.P., Dalam Klasifikasi Pasien Di Ruang
Nizam, M. D., (2007). Prevalence of Rawat Inap Rumkit TK II Putri Hijau
Stress and Coping Mechanism Kesdam I/BB Medan,
among Staff Nurses in the Intensive Suyono B. (2002), Stress sebagai Salah
Care Unit., 2 (2): 146-153 satu Sebab. Bag/SMF Syaraf-FK
Lloyd L., & Rue, Leslie W. (2007). Human UNDIP/RSUP Dr. Kariadi
resource management. (9th ed.). Syabana, LA. (2011). Hubungan beban
New York: McGraw-Hill Irwin kerja perawat dengan pemenuhan
Mahwidhi (2010), Hubungan antara stres kebutuhan spiritual pada pasien pre
kerja dengan gangguan kesehatan operasi di RSUD Ambarawa,
perawat di IRD RSVP DR. Soeradji http://www.perpustakaan.web.id/kar
Tirtonegoro Klaten. di akses 1 ya ilmiah/shared/
Februari 2013;
http://skripsistikes.wordpress.com/20
09/04/27/hubungan-antara-stres-
kerjadengan-ganggLian-kesehatan-
perawat-di-ird-rsup-drsoeradji-
tirtonegoroklaten/.

56 Jurnal Managemen Keperawatan . Volume 1, No. 1, Mei 2013; 48-56