Anda di halaman 1dari 34

ISLAM NORMATIF ISLAM

HISTORIS
Islam telah berkembang dan
tersebar di seluruh dunia atas
usaha Ulama dalam
menyebarkannya. Dakwah yang
dilakukan oleh ulama melalui
proses panjang untuk bisa diterima
masyarakat baru. Dilihat dari sudut
pandang studi agama, maka ada
dua pandangan dalam kajian Islam
itu sendiri. Keduanya pandangan
tersebut adalah Islam dilihat dari
segi normatif dan Islam dilihat dari
segi historis.
Islam normatif sendiri adalah studi
Islam yang kajiannya berkutat pada
masalah kewahyuan, teks al-quran
dan al-Hadith, melalui pendekatan
doktrinal-teologis, sedangkan Islam
historis sendiri adalah kajian Islam
dari sudut pandang keberagamaan
manusia ditelaah lewat berbagai
sudut pendekatan keilmuan sosial-
keberagamaan yang bersifat multi
dan inter disipliner, baik lewat
pendekatan historis, filosofis,
psikologis, sosiologis, kultural
maupun antropologis.1
Pendekatan normatif juga
memandang masalah dari sudut
legal formal dan atau normatifnya.
Maksud legal formal adalah
hubungannya dengan halal-haram,
boleh atau tidak, dan sejenisnya.
Sementara normatifnya adalah
seluruh ajaran yang terkandung
dalam nash. Dengan demikian
pendekatan normatif mempunyai
cakupan yang sangat luas. Sebab
seluruh pendekatan yang
1
Amin Abdullah, Studi Agama Normativitas atau Historisitas, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), v
digunakan oleh ahli usul fiqih
(Usuliyah), ahli hukum Islam
(Fuqaha), ahli tafsir (mufassirin)
yang berusaha menggali aspek
legal formal dan ajaran Islam dari
sumbernya adalah termasuk
pendekatan normatif.2
Menurut Abuddin Nata,
pendekatan teologis normatif dalam
memahami agama secara harfiah
dapat diartikan sebagai upaya
memahami agama dengan
menggunakan kerangka Ilmu
Ketuhanan yang bertolak dari suatu
keyakinan bahwa wujud empirik dari
suatu keagamaan dianggap
sebagai yang paling benar
dibandingkan dengan yang lainnya.3
Lebih lanjut, Islam normatif di sini
adalah suatu pendekatan untuk
2
Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam, (Jogjakarta: academia, 2010) 190.
3
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012), 28.
memahami Islam dengan melalui
ajaran atau doktrin-doktrin Islam.
Dapat juga dijelaskan dengan
pengertian lain yaitu Islam pada
dimensi sakral, yang diakui adanya
realitas transendental, yang bersifat
mutlak dan universal, melampaui
ruang dan waktu atau sering
disebut sebagai realitas ke-Tuhan-
an. Yang tentunya sudah tercakup
dalam kitab suci al-Quran dan al-
Hadits.
Pendekatan teologi dalam
pemahaman keagamaan adalah
pendekatan yang menekankan
pada bentuk forma atau simbol-
simbol keagamaan yang masing-
masing bentuk forma atau simbol-
simbol keagamaan tersebut
mengklaim dirinya sebagai yang
paling benar sedangkan yang
lainnya salah. Aliran teologi yang
satu begitu yakin dan fanatik bahwa
pahamnyalah yang benar
sedangkan paham lainnya salah,
sehingga memandang paham orang
lain itu keliru, sesat, kafir, murtad
dan seterusnya. Demikian pula
paham yang dituduh keliru, sesat,
dan kafir itu pun menuduh kepada
lawannya sebagai yang sesat dan
kafir. Dalam keadaan demikian,
maka terjadilah proses saling
mengkafirkan, salah menyalahkan
dan seterusnya. Dengan demikian,
antara satu aliran dan aliran lainnya
tidak terbuka dialog atau saling
menghargai. Yang ada hanyalah
ketertutupan (eksklusifisme),
sehingga yang terjadi adalah
pemisahan dan terkotak-kotak.4
4
Ibid., 29.
Berdasarkan uraian diatas dapat
dikatakan bahwa pendekatan
teologi semata-mata tidak dapat
memecahkan masalah esensial
pluralitas agama saat sekarang ini.
Terlebih-lebih lagi kenya-taan
demikian harus ditambahkan bahwa
doktrin teologi, pada dasarnya
memang tidak pernah berdiri
sendiri, terlepas dari jaringan
institusi atau kelembagaan sosial
kemasyarakatan yang mendukung
keberadaannya. Kepentingan
ekonomi, sosial, politik, pertahanan
selalu menyertai pemikiran teologis
yang sudah mengelompok dan
mengkristal dalam satu komunitas
masyarakat tertentu. Bercampur
aduknya doktrin teologi dengan
historisitas institusi sosial
kemasyarakatan yang menyertai
dan mendukungnya menam-bah
peliknya persoalan yang dihadapi
umat beragama.5
Dengan mempelajari Islam yang
terkandung dalam al-Quran dan
hadits kita akan memperoleh
pelajaran-pelajaran yang orisinil.
Dalam tingkat normatif Islam
meliputi berbagai hal, diantaranya
adalah tauhid dan aqidah sebagai
inti dari ajaran Islam itu sendiri.
Selanjutnya akan normatifitas
mencakup hal-hal seperti fiqih,
tasawuf dan sebagai hasil
pemahaman dari teks al-Quran
tersebut. Kaitannya dengan konteks
ini, Islam dipahami menjadi sebuah
agama yang diyakini masyarakat.
Dari sisi normatif, Islam dipahami
sebagai sebuah keyakinan.
5
Ibid., 30.
Pertanyaan-pertanyaan atau pun
jawaban-jawaban dari sebuah
agama pun dipahami dengan dasar
keyakinan, bukan suatu proses
pemikiran yang logis. Seperti
pertanyaan siapakah yang
menciptakan alam ini? jawabannya
adalah Tuhan. Jawaban tersebut
termasuk jawaban agamis atau
teologis bukan rasional. Karena
sudah ada konsep bahwa Tuhan itu
kebenaran absolut.
Berdasarkan pengertian studi
Islam dalam bingkai normatif di atas
yang mengatakan bahwa
pemahaman agama pada teks,
maka dapat diperinci ruang lingkup
dalam memahami Islam sebagai
berikut.
1. Tafsir
Tafsir adalah ilmu yang fungsinya
untuk mengetahui kandungan
kitabullah (al-Quran) yang
diturunkan kepada Nabi
Muhammad saw, dengan cara
mengambil penjelasan maknanya,
hukum serta hikmah yang
terkandung di dalamnya.
Al-quran menjadi objek
pembahasan tafsir merupakan
sumber agama Islam. Kitab suci ini
menduduki posisi sentral, bukan
hanya dalam perkembangan dan
pengembangan ilmu-ilmu
keislaman, tetapi merupakan
inspirator, pemandu gerakan-
gerakan umat Islam sepanjang lima
belas abad sejarah pergerakan
umat ini.
2. Hadits
Menurut jumhur ulama hadits
adalah segala sesuatu yang dinukil
dari Rasulullah saw., sahabat atau
tabiin baik dalam bentuk ucapan,
perbuatan maupun ketetapan, baik
semuanya itu dilakukan sewaktu-
waktu saja, maupun lebih sering
dan banyak diikuti oleh para
sahabat.6
Seiring dengan waktu, ilmu hadits
tumbuh menjadi salah satu disiplin
ilmu keislaman. Penelitian hadits
nampaknya masih terbuka luas
terutama kaitannya dengan
permasalahan dewasa ini.
Penelitian terhadap kualitas hadits
yang dipakai dalam berbagai kitab
misalnya belum banyak dilakukan.
Demikian pula penelitian hadits-
hadits yang ada hubungannya
6
Abuddin Nata, Metodologi, 237.
dengan berbagai masalah aktual
tampak masih terbuka luas.
Berbagai pendekatan dalam
memahami hadis juga belum
banyak digunakan. Misalnya
pendekatan sosiologis, paedagogis,
antropologis, ekonomi, politik,
filosofis, tampaknya belum banyak
digunakan oleh para peneliti hadits
sebelumnya. Akibat dari keadaan
demikian, maka tampak bahwa
pemahaman masyarakat terhadap
hadits pada umumnya masih
bersifat parsial.
3. Teologi
Secara etomologis, kata teologi
diartikan ilmu agama, ilmu tentang
Tuhan berkaitan dengan sifat-
sifatnya, khususnya berkaitan
dengan kitab suci. Sedangkan
dalam arti istilah teologi adalah ilmu
yang membicarakan tentang
masalah ketuhanan, sifat-sifat
wajibNya, sifat-sifat mustahilNya
dan hal-hal lain yang berhubungan
dengan perbuatanya. Dengan
demikian teologi adalah istilah ilmu
agama yang membahas ajaran
dasar dari suatu agama atau suatu
keyakinan yang tertanam dihati
sanubari. Setiap orang yang ingin
memahami seluk beluk agamanya,
maka perlu mempelajari teologi
yang terdapat dalam agama yang
diyakininya.
Teologi, sebagaimanaa kita
ketahui, tidak bisa tidak pasti
mengacu pada agama tertentu.
Loyalitas terhadap kelompok
sendiri, komitmen dan dedikasi
yang tinggi serta penggunaan
bahasa yang bersifat subjektif,
yakni bahasa sebagai pelaku
bukan sebagai pengamat- adalah
merupakan ciri yang melekat pada
bentuk pemikiran teologis.7 Dalam
Islam terdapat teologi Mutazilah,
Asyariyah, dan Maturidiyah. Dan
sebelumnya muncul teologi yang
bernama Khawarij dan Murjiah.
Menurut Abuddin Nata, bahwa
pendekatan teologi dalam
pemahaman keagamaan adalah
pendekatan yang menekankan
pada bentuk forma atau simbol-
simbol keagamaan yang masing-
masing bentuk forma atau simbol-
simbol keagamaan tersebut
mengklaim dirinya sebagai yang
paling benar sedangkan yang
lainnya salah. Aliran teologi yang
satu begitu yakin dan fanatik bahwa
7
Amin Abdullah, Studi Agama, 29
pahamannyalah yang benar
sedangkan paham lainnya salah,
sehingga memandang paham orang
lain itu keliru, sesat, kafir, murtad
dan seterusnya. Demikian pula
paham yang dituduh keliru, sesat,
dan kafir itu pun menuduh kepada
lawannya sebagai yang sesat dan
kafir. Dalam keadaan demikian,
maka terjadilah proses saling
mengkafirkan, salah menyalahkan
dan seterusnya. Dengan demikian,
antara satu aliran dan aliran lainnya
tidak terbuka dialog atau saling
menghargai. Yang ada hanyalah
ketertutupan (eksklusifisme),
sehingga yang terjadi adalah
pemisahan dan terkotak-kotak.
Berdasarkan uraian di atas, Amin
Abdullah berpendapat bahwa
pendekatan teologi semata-mata
tidak dapat memecahkan masalah
esensial pluralitas agama saat
sekarang ini. Terlebih-lebih lagi
kenyataan demikian harus
ditambahkan bahwa doktrin teologi,
pada dasarnya memang tidak
pernah berdiri sendiri, terlepas dari
jaringan institusi atau kelembagaan
sosial kemasyarakatan yang
mendukung keberadaannya.
Kepentingan ekonomi, sosial,
politik, pertahanan selalu menyertai
pemikiran teologis yang sudah
mengelompok dan mengkristal
dalam satu komunitas masyarakat
tertentu. Bercampur aduknya
doktrin teologi dengan historisitas
institusi sosial kemasyarakatan
yang menyertai dan mendukungnya
menambah peliknya persoalan yang
dihadapi umat beragama.
Islam dilihat dari sudut
historisitasnya juga mencakup
berbagai aspek yang ditimbulkan
dari praktek sejarah. Sebagaimana
dalam buku Islam di tinjau dari
berbagai aspeknya, harun nasution
menjelaskan berbagai aspek dalam
Islam. Antara lain aspek ibadah,
spiritual, moral, aspek sejarah,
aspek politik, mistik, filsafat dan lain
sebagainya. Begitu juga Fazlur
rahman mengemukakan bahwa
Islam memiliki aspek hukum,
teologi, syariah, filsafat, tasawuf
dan pendidikan.
Sejarah atau historis adalah suatu
ilmu yang di dalamnya di bahas
berbagai peristiwa dengan peratian
unsur tempat,waktu,objek,latar
belakang,dan pelaku dari peristiwa
tersebut.menurut ilmu ini,segala
peristiwa dapat dilacak
dengan,melihat kapan peristiwaitu
terjadi,dimana,apa sebabnya,siapa
yang terlibat dalam peristiwa
tersebut.8
Pendekatan kesejarahan ini amat
dibutuhkan dalam memahami
agama, karena agama itu sendiri
turun dalam situasi yang konkret
bahkan berkaitan dengan kondisi
sosial kemasyarakatan.9 Tujuan
pendekatan historis adalah untuk
membuat rekonstruksi masa lampau
secara sistematis dan obyektif,
dengan cara mengumpulkan,
mengevaluasi, memverifikasikan,
serta mensistesiskan bukti-bukti
untuk menegakkan fakta dan
memperoleh kesimpulan yang kuat.
Seringkali penelitian yang demikian
8
Ibid., 46.
9
Ibid., 47.
itu berkaitan dengan hipotesis-
hipotesis tertentu.
Melalui pendekatan historis
seseorang diajak menukik dari alam
idealis yang bersifat empiris dan
mendunia. Dari keadaan ini
seseorang akan melihat adanya
kesenjangan atau keselarasan
antara yang terdapat dalam idealis
dengan yang ada di alam empiris
dan historis. Maka lapangan sejarah
adalah meliputi segala pengalaman
manusia. Menurut Ibnu Khaldun
sejarah tidak hanya dipahami
sebagai suatu rekaman perisriwa
masa lampau, tetapi juga penalaran
kritis untuk menemukan kebenaran
suatu peristiwa, adanya batasan
waktu (yaitu masa lampau), adanya
pelaku (yaitu manusia) dan daya
kritis dari peneliti sejarah.
Dengan kata lain di dalam sejarah
terdapat objek peristiwanya (what),
orang yang melakukannya (who),
waktunya (when), tempatnya
(where) dan latar belakangnya
(why). Seluruh aspek tersebut
selanjutnya disusun secara
sistematik dan menggambarkan
hubungan yang erat antara satu
bagian dengan bagian lainnya.
Pendekatan historis ini juga
dimaksudkan diamana islam dikaji
dari persefektif yang dikenal dalam
ilmu-ilmu sejarah. Misalnya dalam
hal ini sebuah sejarah dipengaruhi
oleh banyak faktor seperti sejarah
dipengaruhioleh masa dan cara
berpikir masa itu dan seterusnya.10
Dengan demikian pendekatan
historis dalam kajian islam adalah
10
Kamaruzzaman, Bustaman Ahmad, ISLAM HISTORIS: Dinamika Studi Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Galang
press, 2002), 7.
usaha sadar dan sistematis untuk
mengetahui dan memhami serta
membahas secara mendalam
tentang seluk-beluk atau hal-hal
yang berhubungan dengan agama
Islam, baik berhubungan dengan
ajaran, sejarah maupun praktik-
praktik pelaksanaannya secara
nyata dalam kehidupan sehari-hari,
sepanjang sejarahnya.
Dengan menggunakan
pendekatan sejarah ada minimal
dua teori yang bisa digunakan yaitu
Idealist Approach dan
Reductionalitst Approach. Maksud
idealist approach adalah seorang
peneliti yang berusaha memahami
dan menafsirkan fakta sejarah
dengan mempercayai secara penuh
fakta yang ada tanpa keraguan.
Sedangkan reductionalitst approach
adalah seorang peneliti yang
berusaha memahami dan
menafsirkan fakta sejarah dengan
penuh keraguan. Seperti dijelaskan
sebelumnya ada 3 teori lain yang
penting di pahami dengan
pendekatan sejarah, yakni:
diakronik, sinkronik dan sistem nilai.
a. Diakronik
Diakronik dalah penelusuran
sejarah dan perkembangan satu
fenomena yang sedang diteliti.
Misalnya kalau sedang meneliti
konsep riba, menurut Muhammad
Abduh diakroninya adalah harus
lebih dahulu membahas kajian-
kajian orang sebelumnya yang
pernah membahas tentang riba.11
b. Sinkronik
11
Taufik Abdullah dan M Rusli Karim (ed.), Metodologi Penelitian Agama Sebuah Pengantar, (Yogyakarta:Tiara
Wacana Yogyakarta, 1990), 92.
Sinkronik adalah kontekstualisasi
atau sosiologis kehidupan yang
mengitari fenomena yang sedang
diteliti. Kembali pada contoh konsep
riba Muhammad Abduh, maka
sosial kehidupan Muhammad
Abduh dan sosial kehidupan tokoh-
tokoh yang pernah membahas
fenomena yang sama juga harus
dibahas.
c. Sistem nilai
Sistem nilai adalah sistem nilai
atau budaya sang tokoh dan
budaya dimana dia hidup. Maka
penelitian dengan teori diakroni,
sinkroni dan sistem budaya adalah
penelitian yang menelusuri latar
belakang dan perkembangan
fenomena yang diteliti lengkap
dengan sejarah sosio-historis dan
nilai budaya yang mengitarinya.
Maka wajar kalau alat analisis ini
lebih dikenal sebagai alat analisis
sejarah dan atau sosial (sosiologi).
Oleh karena itu, jika kita dapat
mengkaji Islam dengan melihat
semua sisi dalam sejarah baik itu
sebagai disiplin Ilmu atau fenomena
keagamaan masyarakat, maka
akan didapatkan pengetahuan
tentang Islam secara komprehensif.
Sebaliknya jika kita mengkaji Islam
dari satu atau dua sudut pandang
saja, akan dapat menimbulkan
pemahaman Islam yang pincang.
Sebagai contoh, memahami Islam
hanya dari sejarah perkembangan,
akan didapati sebuah praktek
kepemimpinan pada masa kahlifah
tersebut. Dan hanya menjadi
sebuah pemahaman Islam bahwa
Islam adalah agama yang
disebarkan oleh pedang kekejaman
dan kekuasaan yang sewenang-
wenang.12
Jadi, Islam normatif dan historis
masih ada kaitannya antara satu
dengan yang lain, dimana dari
pemahaman teologis, kemudian
diperkuat dengan bukti-bukti
sejarah.
Sejalan dengan pengelompokkan
Islam normatif dan Islam historis,
ada pula ilmuan yang membuat
pengelompokkan lain. Nasr Hamid
Abu Zaid mengelomokkan menjadi
tiga wilayah (domain).
Pertama, wilayah teks asli Islam
(the original text of Islam), yaitu Al-
Quran dan Sunnah Nabi
Muhammad SAW yang otentik.

12
http://Islamalternatif.com/Islam-normatif-historis/ diakses pada 19 April 2016 pukul 06.48 WIB
Kedua, pemikiran Islam yang
merupakan ragam penafsiran
terhadap teks asli Islam (Al-Quran
dan Sunnah Nabi Muhammad
SAW). Dapat pula disebut hasil
ijtihad terhadap teks asli Islam,
seperti tafsir dan fiqh. Dan dalam
kelompok ini dapat ditemukan
dalam empat pokok cabang:
1. Hukum / Fiqh
2. Teologi
3. Filsafat
4. Tasawuf / Mistik
Hasil ijtihad dalam bidang
hukum/fiqh muncul dalam bentuk:
fiqh, fatwa dan yurispundensi
(kumpulan putusan hakim),
kodifikasi/unifikasi, yang muncul
dalam bentuk UU (undang-undang)
dan kompilasi.
Ketiga, praktek yang dilakukan
kaum muslim. Praktek ini muncul
dalam berbagai macam dan bentuk
sesuai dengan latar belakang sosial
(konteks). Contohnya adalah
praktek sholat muslim di Pakistan
yang tidak meletakkan tangan di
dada, sementara muslim Indonesia
meletakkan tangan di dada-nya.
Kedua pendekatan ini bagaikan
dua sisi mata uang yang berbeda,
namun keduanya tidak dapat
dipisahkan. Hubungan keduanya
tidak berdiri sendiri-sendiri dan
berhadap-hadapan, tetapi keduanya
teranyam, terjalin dan terajut
sedemikian rupa sehingga
keduanya menyatu dalam satu
keutuhan yang kokoh dan kompak.
Makna terdalam dan moralitas
keagamaan tetap ada, tetap
dikedepankan dan digaris bawahi
dalam memahami liku-liku
fenomena keberagaman manusia,
maka ia secara otomatis tidak bisa
terhindar dari belenggu dan jebakan
ruang dan waktu.
Pendekatan dan pemahaman
terhadap fenomena keberagamaan
yang bercorak normatif dan historis
tidak selamanya akur dan sinergi.
Hubungan antara keduanya
seringkali diwarnai dengan
ketegangan (tension) baik yang
bersifat kreatif maupun destruktif
(merusak). Pendekatan normatif di
satu sisi merupakan pendekan yang
selalu berpijak pada teks yang
tertulis dalam kitab suci masing-
masing agama sehingga
pendekatan ini cenderung bercorak
literalis, tekstualis, atau skriptualis.
Sementara di sisi lain, pendekatan
kedua, historitas, melihat kitab suci
dan fenomena keagamaan tidak
melalui cara tekstualitas, namun
dengan sudut pandang keilmuan
sosial keagamaan yang bersifat
multi demensional, baik secara
sosiologis, filosofis, psikologis,
historis, kultur, maupun
antropologis.13
Jenis pendekatan apa pun masih
terdapat kekurangan, kelemahan
masing-masing, dan jauh dari
memuaskan, karena fenomena
agama bersifat komplek. Masing-
masing tidak dapat berdiri sendiri
terlepas dari yang lain. Religiositas
atau keberagamaan manusia pada
umumnya adalah bersifat universal,
infinite (tidak terbatas, tidak
13
Syarif Hidayatullah, Studi Agama: Suatu Pengantar, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2011), 62
tersekat-sekat), transhistoris
(melewati batas-batas pagar
historis-kesejarahan manusia),
namun religiositas yang begitu
mendalam-abstrak, pada
hakikatnya tidak dapat dipahami
dan tidak dapat dinikmati oleh
manusia tanpa sepenuhnya terlibat
dalam bentuk religiositas yang
konkret, terbatas, tersekat, historis,
terkurung oleh ruang dan waktu
tertentu secara subjektif. Kedua
dimensi religiositas tersebut,
menurut M. Amin Abdullah bersifat
dialektis, dalam artian saling
mengisi, melengkapi memperkokoh,
memanfaatkan bahkan juga saling
mengkritik dan mengontrol.
Untuk meredakan ketegangan
antara dua faksi pendekatan
normativitas dan historisitas, Amin
Abdullah menawarkan paradigma
interkoneksitas dan integrasi
yang lebih modest (mampu
mengukur kemampuan diri sendiri),
humiliy (rendah hati), dan human
(manusiawi).14
Berangkat dari paradigma
interkoneksitas yang berasumsi
memahami kompleksitas fenomena
kehidupan yang dihadapi manusia,
maka setiap bangunan keilmuan
apa pun, baik keilmuan agama,
keilmuan sosial, humaniora,
maupun kaealaman tidak dapat
berdiri sendiri dalam menyatukan,
saling menyapa antara satu
bangunan ilmu dengan lainnya,
terutama sains dan agama.15
Interkoneksitas atas sains dan
agama dapat didekati melalui tiga
14
Ibid., 64
15
Ibid., 65
persepektif: ontologis, epistimologi,
dan aksiologi. Dari setiap
pendekatan ini mampu
menawarkan padangan dunia
manusia beragama dan ilmuan
yang baru, terbuka dan dialogis
serta mencairkan hubungan
berbagai disiplin keilmuan agar
menjadi terbuka. Walaupun begitu,
tidak bisa dihindari masih adanya
persinggungan antara wilayah
tekstual, kebudayaan atau
keilmuan, serta filsafat. Diharapkan
pradigma ini mampu memberikan
perubahan cara berpikir dan sikap
ilmuan.
Dengan pendekatan integrasi
keilmuan ini seolah-olah diharapkan
tidak ada ketegangan, karena ada
peleburan dan pelumatan yang satu
kedalam yang lainnya. Baik dengan
cara melebur sisi normatif-sakralis
keberagamaan secara menyeluruh
masuk ke wilayah historisitas-
propanitis, atau justru sebaliknya,
dengan membenamkan dan
meniadakan seluruh sisi historitas
keberagamaan Islam ke wilayah
normatifitas-sakralitas tanpa
reserve. Ini sebanarnya yang
menjadi alasan M. Amin Abdullah
menawarkan paradigma
interkoneksitas16
Keberagamaan dapat diibaratkan
sinar. Sinar tidak dapat dinikmati
secara konkret oleh manusia
melainkan jika sinar tersebut telah
termanifestasikan dalam warna-
warna tertentu (merah, jingga,
kuning, biru, hijau, dsb). Walaupun
begitu, warna-warna sinar yang
16
Ibid., 66
beraneka ragam tersebut hanya
bisa dinikmati secara partikulistik.
Salah satu warn yang bersifat
partikulistik tidak dapat mengklaim
bahwa warna merah sajalah yang
paling unggul, apalagi jika klaim
tersebut diikuti dengan keinginan
dan tindakan ingin memerahkan
seluruh yang ada.
Berarti kedua pemahaman atas
keberagamaan bisa bersanding dan
beriringan, jika pemahaman agama
yang bersifat normativitas mau
membuka diri atas pemahaman
yang berkembang sesuai kondisi
keadaan yang sebenarnya. Begitu
juga pemahaman agama yang
bersifat historisitas diharapankan
mampu menahan diri dan tidak
memaksakan untuk memberikan
pemahaman akan keberagamaan
berdasarkan riil kehidupan
bermasyarakat dan
mengenyampingkan dasar agama.

Ahmad Nadhif Faishal


D71213073