Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN


ALAM PERASAAN (DEPRESI/BUNUH DIRI DAN MANIAK)

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa

Disusun Oleh :
Kelompok 11
Kelas II.B
Nisa Siti Nuraisah 344035150..
Nur Hasanah 34403515099

AKADEMI KEPERAWATAN
PEMERINTAH KABUPATEN CIANJUR
BADAN LAYANAN UMUM DAERAH (BLUD)
Jln. Pasir Gede Raya No. 19 Telp. (0263) 267206 Fax. 270953 Cianjur 4321
2017
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah swt. hanya karena ijin-Nya
kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Sholawat serta salam
semoga tercurah kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw. beserta
keluarganya dan seluruh insan manusia yang dikehendaki-Nya.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Pendidikan Membangun Karakter dengan judul Asuhan Keperawatan Klien
Dengan Gangguan Alam Perasaan (Depresi/Bunuh Diri Dan Maniak)
Dalam penyelesaian makalah ini, kami banyak mendapatkan bimbingan
yang sangat membangun. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini yang tidak
dapat disebutkan satu-persatu.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Karena
itu, kami mengharapkan adanya saran dan kritikan yang bersifat membangun demi
perbaikan makalah mendatang. Kami berharap, makalah ini dapat berguna dan
bermanfaat bagi pembaca serta memenuhi harapan dari berbagai pihak. Amin.

Cianjur, Maret 2017

Kelompok 11
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................................
B. Rumusan Masalah...........................................................................................
C. Tujuan Penulisan ............................................................................................
D. Sistematika Penulisan .....................................................................................
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Pengertian Gangguan Alam Perasaan (Depresi/Bunuh Diri dan Maniak)......
B. Faktor Predisposisi (Depresi/Bunuh Diri dan Maniak) .................................
C. Faktor Presifitasi (Depresi/Bunuh Diri dan Maniak) ......................................
D. Manisfetasi (Depresi/Bunuh Diri dan Maniak) ..............................................
E. Rentang Respon (Depresi/Bunuh Diri dan Maniak) .......................................
F. Psikodinamika (Depresi/Bunuh Diri dan Maniak) .........................................
G. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Alam
Perasaan (Depresi/Bunuh Diri dan Maniak) ...................................................
BAB III PENUTUP
A. Simpulan .........................................................................................................
B. Saran ...............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Alam perasaan adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang
mempengaruhi seluruh kepribadian dan fungsi kehidupan seseorang. Menurut
stuart (2006). Alam perasaan adalah perpanjangan keadaan emosional yang
mempengaruhi seluruh kepribadian dan fungsi kehidupan seseorang.
Gangguan alam perasaan ditandai oleh sindroma depresif sebagian atau total
dan ditandai dengan kehilangan minat terdapat aktivitas sehari-hari.
Pengalaman yang kurang menyenangkan menyebabkan seseorang
mengalami rasa tidak aman, kehampaan, kesedihan, dan kemarahan. Hal
tersebut menimbulkan kemarahan yang tidak terkendali dan terintroyeksikan
ke dalam alam bawah sadar. Introyeksi sendiri merupakan mekanisme
pertahanan ego yang tidak disadari ketika individu menginternalisasi sudut
pandang dan nilai-nilai objek yang dicintai ke dalam identitas dan system
keyakinan sendiri. Apa yang dialami sebagai suatu pengalaman yang kurang
menyenangkan berakibat duka cita yang mendalam, kepahitan jiwa, yang
semuanya merupakan bentuk gejala depresi. Selain itu, menifestasi dari gejala
depresi menurut DSM IV-TR, 2000 dalam Videbeck, S.l., 2008, antara lain
adalah perubahan tidur, gangguan konsentrasi, iritabilitas, cemas, kurang
bersemangat, dan mengantisipasi kegagalan.
Dari penjelasan diatas, penting untuk kita ketahui mengenai terjadinya
mania oleh karena mania memiliki psikopatologi yang tidak jauh berbeda
dengan depresi. Sehingga berdasarkan uraian-uraian di atas, dalam makalah
ini akan dibahas mengenai konsep dasar asuhan keperawatan dengan
gangguan alam perasaan (bunuh diri, depresi/mania) untuk menunjang
pembelajaran yang akan berguna dalam melakukan asuhan keperawatan
melalui pendekatan proses keperawatan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian gangguan alam perasaan (depresi/bunuh diri dan maniak)?
2. Apa saja faktor predisposisi gangguan alam perasaan (depresi/bunuh diri
dan maniak) ?
3. Apa saja faktor presifitasi gangguan alam perasaan (depresi/bunuh diri dan
maniak)?
4. Apa saja manisfetasi gangguan alam perasaan (depresi/bunuh diri dan
maniak)?
5. Bagaimana rentang respon gangguan alam perasaan (depresi/bunuh diri
dan maniak)?
6. Bagaimana psikodinamika gangguan alam perasaan (depresi/bunuh diri
dan maniak)?
7. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan alam
perasaan (depresi/bunuh diri dan maniak)?

C. Tujuan Penulisan
Adapun beberapa tujuan dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan alam
perasaan (depresi/bunuh diri dan maniak).
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengertian gangguan alam perasaan (depresi/bunuh
diri dan maniak)
b. Untuk mengetahui faktor predisposisi gangguan alam perasaan
(depresi/bunuh diri dan maniak)
c. Untuk mengetahui faktor presifitasi gangguan alam perasaan
(depresi/bunuh diri dan maniak)
d. Untuk mengetahui manisfetasi gangguan alam perasaan (depresi/bunuh
diri dan maniak)
e. Untuk mengetahui rentang respon gangguan alam perasaan
(depresi/bunuh diri dan maniak)
f. Untuk mengetahui psikodinamika gangguan alam perasaan
(depresi/bunuh diri dan maniak)
g. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
alam perasaan (depresi/bunuh diri dan maniak)

D. Sistematika Penulisan
Makalah ini tersusun dengan sistematika dari tiga bab, yaitu :
Bab I : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah,
tujuan, dan sistematika penulisan.
Bab II : Pembahasan yang terdiri dari pengertian gangguan alam perasaan
(depresi/bunuh diri dan maniak), faktor predisposisi, faktor
presifitasi, manifestasi, rentang respon, psikodinamika, dan asuhan
keperawatan pada pasien dengan gangguan alam perasaan
(depresi/bunuh diri dan maniak)
Bab III : Penutup yang terdiri dari simpulan dan saran.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Gangguan Alam Perasaan (Depresi/Bunuh Diri dan Maniak)


Alam perasaan adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang
mempengaruhi seluruh kepribadiaan dan fungsi kehidupan seseorang.
Gangguan alam perasaan ditandai oleh syndrom depresif sebagian atau penuh,
selain itu juga ditandai oleh kehilangan minat atau kesenangan dalam aktifitas
sehari-hari dan rekreasi (Gibbson Towsend , M C, 1995).
Gangguan alam perasaan adalah gangguan afek (suasana hati) dengan
manifestasi gejala-gejala mania dan depresi. seseorang dengan gangguan alam
perasaan biasanya akan didapat suatu keadaan sedih, ketakutan, putus asa,
gembira berlebihan dan khawatir (Keliat B.A. 1999).
Depresi merupakan suatu gangguan alam perasaan yang ditandai
dengan perasaan sedih dan berduka yang berlebihan dan berkepanjangan.
Depresi dapat juga digunakan untuk menunjukkan berbagai fenomena: tanda,
gejala, keadaan emosi, reaksi penyakit atau kondisi klinis secara menyeluruh.
Maniak adalah suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan
alam perasaan yang meningkat, bersemangat atau mudah terganggu. Respon
mania dapat ditunjukkan dengan kegembiraan yang berlebih/euforia, perilaku
hiperaktif, banyak bicara, ide-ide meloncat, terlalu optimistik, kebutuhan tidur
berkurang, agresif, serta mudah tersinggung (Stuart, 2007).
Bunuh diri merupakan tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan
dapat mengakhiri kehidupan (Wilson dan Kneils, 1998). Bunuh diri
merupakan kedaruratan psikiatri Karena pasien berada dalam keadaan stress
yang tinggi dan menggunakan koping yang maladaptive. Situasi gawat pada
bunuh diri adalah saat ide bunuh diri timbul secara berulang-ulang tanpa
rencana yang spesifik atau percobaan bunuh diri atau rencana yang spesifik
untuk bunuh diri. Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan dan keterampilan
perawat yang tinggi dalam merawat pasien dengan tingkah laku bunuh diri,
agar pasien tidak melakukan tindakan bunuh diri.
(Yusuf, Ah, dkk. 2015. Buku ajar Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika)
B. Faktor Predisposisi Gangguan Alam Perasaan (Depresi/Bunuh Diri dan
Maniak)
Banyak pendapat tentang penyebab dari gangguan alam perasaan diantaranya:
1. Kegagalan atau adaptasi sehingga tidak dapat menghadapi stress
2. Perasaan terisolasi dapat terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal
atau gagal melakukan hubungan yang berarti.
3. Perasaan marah atau bermusuhan. Bunuh diri dapat merupakan hukuman
pada diri sendiri.
4. Cara untuk mengakhiri keputusasaan.
5. Tangisan minta tolong.
Terdapat 5 domain faktor resiko menunjang pada pemahaman perilaku
destruktif diri sepanjang siklus kehidupan, yaitu sebagai berikut:
1. Diagnosis psikiatri
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh
diri mempunyai hubungan dengan penyakit jiwa. Tiga gangguan jiwa yang
dapat membuat individu beresiko untuk bunuh diri yaitu dengan afektif,
skizofrenia, dan penyalahgunaan zat.
2. Sifat kepribadian
Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan besarnya resiko bunuh
diri adalah rasa bermusuhan, impulsive, dan depresi.
3. Lingkungan psikososial
Baru mengalami kehilangan, perpisahan atau perceraian, kehilangan yang
dini, dan berkurangnya dukungan social.
4. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor
resiko penting untuk perilaku destruktif.
5. Faktor biokimia
Data menunjukkan bahwa secara serotonegik, opiatergik, dan
dopaminergic menjadi media proses yang dapat menimbulkan perilaku
merusak diri.
C. Faktor Presifitasi Gangguan Alam Perasaan (Depresi/Bunuh Diri dan
Maniak)
1. Psikososial dan Klinik
a. Keputusasaan
b. Ras kulit putih
c. Jenis kelamin laki-laki
d. Usia lebih tua
e. Hidup sendiri
2. Riwayat
a. Pernah mencoba bunuh diri
b. Riwayat keluarga tentang percobaan bunuh diri
c. Riwayat keluarga tentang penyalahgunaan zat.
3. Diagnostis
a. Penyakit medis umum
b. Psikosis
c. Penyalahgunaan zat
(Yusuf, Ah, dkk. 2015. Buku ajar Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika)

D. Manisfetasi Gangguan Alam Perasaan (Depresi/Bunuh Diri dan Maniak)


1. Gejala Fisik yaitu:
a. Gangguan tidur
b. Kelesuan fisik
c. Hilangnya nafsu makan, dan
d. Penyakit fisik yang ringan
2. Gejala emosional yaitu:
a. Kehilangan kasih saying
b. Kesedihan
c. Hilangnya kekuatan
d. Hilangnya konsentrasi
e. Rasa bersalah
f. Permusuhan, dan
g. Hilangnya harapan.
3. Perilaku
Gambaran utama dari mania adalah perbedaan intensitas psikologikal yang
tinggi. Tingkah mania merupakan mekanisme pertahanan terhadap dapresi
yang diakibatkan dari kurang efektifnya koping dalam menghadapi
kehilangan.
(http://www.academia.edu/20183775/LAPORAN_PENDAHULUAN_GA
NGGUAN_ALAM_PERASAAN_fiix_yow diakses pada 15 Maret 2017
pukul 14.20)

E. Rentang Respon Gangguan Perasaan (Depresi/Bunuh Diri dan Maniak)


Rentang respon emosi individu dapat berfluktuasi dari respon emosi
adaftif sampai respon maladaftif,
1. Reaksi Emosi Adaptif
Merupakan reaksi emosi yang umum dari seseorang terhadap
rangsangan yang diterima dan berlangsung singkat. Ada 2 macam reaksi
adaptif :
a. Respon emosi yang responsif
Keadaan individu yang terbuka mau mempengaruhi dan
menyadari perasaannya sendiri dapat beradaptasi dengan dunia internal
dan eksternal
b. Reaksi kehilangan yang wajar
Reaksi yang dialami setiap orang mempengaruhi keadaannya
seperti :
a) Bersedih
b) Berhenti kegiatan seharihari
c) Takut pada diri sendiri
d) Berlangsung tidak lama.
2. Reaksi Emosi Maladaptif
Merupakan reaksi emosi yang sudah merupakan gangguan respon ini
dapat dibagi 2 tingkatan yaitu :
a. Supresi
Tahap awal respon maladaptive, individu menyangkal
perasaannya dan menekan atau menginternalisasi aspek perasaan
terhadap lingkungan
b. Reaksi kehilangan yang memanjang
Supresi memanjang mengganggu fungsi kehidupan individu
Gejala : bermusuhan, sedih terlebih, rendah diri.
c. Mania/ Depresi
Gangguan alam perasaan kesal dan dimanifestasikan dengan gangguan
fungsi sosial dan fungsi fisik yang hebat dan menetap pada individu yang
bersangkutan

F. Psikodinamika Gangguan Perasaan (Depresi/Bunuh Diri dan Maniak)


Gangguan alam perasaan depresi dapat terjadi karena ketidakseimbangan
elektrolit, yaitu perubahan natriun dan kalium didalam neuron. Perubahan
biokimia (noreefinefrin, dopamine dan serotonin) juga mempengaruhi keadaan
emosional individu. Rendahnya kadar noreefinefrin dan dopamine
mengakibatkan individu berada dalam episode depresi dan sebaliknya
meningkatkan kadar norefinefrin dan dopamine didalam otak mengakibatkan
perilaku maniak. (Gibbson Towsend , M C, 1995).
(https://widyantibhayangkari.wordpress.com/2013/01/20/asuhan-keperawatan-
pada-klien-gangguan-alam-perasaan-depresi-dan-mania/ diakses pada 15
Maret 2017 pukul 11.43)

G. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Alam Perasaan


(Depresi/Bunuh Diri dan Maniak)
A. Pengkajian.
1. Faktor predisposisi
a. Faktor genetik, mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan
diteruskan melalui garis keturunan.
b. Teori agresi berbalik pada diri sendiri, mengemukakan bahwa
depresi diakibatkan oleh perasaan marah yang yang dialihkan pada
diri sendiri. Freud mengatakan bahwa kehilangan obyek/orang,
ambivalen antara perasaan benci dan cinta dapat berbalik menjadi
perasaan menyalahkan diri sendiri.
c. Teori kehilangan, berhubungan dengan factor perkembangan
misalnya kehilangan orang tua pada masa anak, perpisahan yang
bersifat traumatis denagn orang yang sangat dicintai, individu tidak
berdaya mengatasi kehilangan.
d. Teori kognitif, mengemukakan bahwa depresi terjadi sebagai
akibat gangguan perkembangan terhadap penilaian diri, yaitu
penilaian negatif terhadap diri, sehingga terjadi gangguan proses
pikir. Individu menjadi pesimis dan memandang dirinya tidak
adekuat dan tidak berharga serta hidup sebagai tidak harapan.
e. Model belajar ketidakberdayaan, mengemukakan bahwa depresi
terjadi karena individu mempunyai pengalaman kegagalan-
kegagalan, lalu menjadi pasif dan tidak mampu menghadapi
masalah. Akhirnya timbul keyakinan individu akan
ketidakmampuannya mengendalikan kehidupannya sehingga ia
tidak berupaya mengembangkan respons yang adaptif.
f. Model perilaku, mengemukakan bahwa depresi terjadi karena
kurangnya penguatan positif selama bereaksi dengan lingkungan.
g. Model biologis, mengemukakan bahwa pada keadaan depresi
terjadi perubahan kimiawi, yaitu defisiensi katekolamin, tidak
berfungsinya endokrin dan hipersekresi kortisol.

2. Faktor presipitasi
Ada lima stressor yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan:
a. Kehilangan kasih sayang secara nyata atau bayangan, termasuk
kehilangan cinta seseorang, fungsi tubuh, status atau harga diri.
b. Kejadian penting dalam kehidupan seseorang sebagai keadaan
yang mendahului episode depresi dan mempunyai dampak pada
masalah saat ini dan kemampuan individu untuk menyelesaikan
masalah
c. Banyaknya peran dan komplik peran, dilaporkan mempengaruhi
berkembangnya depresi, terutama pada wanita.
d. Sumber koping termasuk status social ekonomi, keluarga,
hubungan inter personal dan organisasi kemasyarakatan.
Kurangnya sumber pendukung social, menambah stress individu.
e. Ketidak seimbangan metabolisme dapat menimbulkan gangguan
alam perasaan. Khususnya obat-obatan anti hipertensi dan
gangguan zat adiktif. Kebanyakan penyakit kronis yang
melemahkan sering disertai depresi. Depresi pada usia lanjut akan
menjadi komplek jika disertai kerusakan organic dan gejala depresi
secara klinik.

3. Mekanisme koping
Mekanisme koping yang digunakan pada reaksi kehilangan yang
memanjang adalah denial dan supresi, hal ini dilakukan untuk
menghindari tekanan yang hebat. Pada depresi mekanisme koping
yang digunakan adalah represi, supresi, mengingkari dan disosiasi.
Tingkah laku mania merupakan mekanisme pertahanan terhadap
depresi yang diakibatkan karena kurang efektifnya koping dalam
menghadapi kehilangan.

4. Perilaku
Perilaku yang berhubungan dengan mania dan depresi bervariasi.
Gambaran utama dari mania adalah perbedaan intensitas psikologikal
yang tinggi. Pada keadaan depresi kesedihan dan kelambanan dapat
menonjol atau dapat terjadi agitasi.

5. Data subyektif depresi


a. Tidak mampu mengutarakan pendapat dan malas berbicara.
b. Sering mengemukakan keluhan somatik.
c. Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi, tidak berarti, tidak ada
tujuan hidup.
d. Merasa putus asa dan cenderung bunuh diri.
6. Data obyektif depresi
a. Gerakan tubuh yang terhambat
b. Tubuh yang melengkung dan bila duduk dengan sikap yang
merosot
c. Ekspresi wajah murung,
d. Gaya jalan yang lambat dengan langkah yang diseret.Kadang-
kadang dapat terjadi stupor.
e. Pasien tampak malas, lelah, tidak ada nafsu makan, sukar tidur dan
sering menangis.
Proses berpikir terlambat, seolah-olah pikirannya kosong,
f. Konsentrasi terganggu,
g. Tidak mempunyai minat, tidak dapat berpikir, tidak mempunyai
daya khayal Pada pasien psikosa depresif terdapat perasaan
bersalah yang mendalam, tidak masuk akal (irasional), waham,
depersonalisasi dan halusinasi. Kadang-kadang pasien suka
menunjukkan sikap bermusuhan (hostility)
h. Mudah tersinggung (irritable) dan tidak suka diganggu.

B. Masalah Keperawatan
Masalah keperawatan yang berhubungan dengan respon emosional adalah
1. Ketidakberdayaan
2. Berduka disfungsional
3. Keputusasaan
4. Resiko tinggi terhadap cedera
5. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
6. Defisit perawatan diri
7. Gangguan pola tidur
8. Resiko mencedrai diri

C. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi mencederai diri berhubungan dengan harga diri rendah.
Koping individu tidak efektif
2. Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
gangguan selera makan.
Diagnosis keperawatan untuk depresi : Resiko perilaku kekerasan
terhadap diri sendiri
Kemungkinan penyebab
a) Nyeri emosional
b) Depresi atau tidak mampu mengekspresikan kemarahan atau rasa
gusar
c) Perubahan biokimia
d) Riwayat penganiayaan
Ratasan karakteristik
a) Ekspresi rasa bersalah atau malu
b) Ekspresi rasa tidak berdaya atau putus asa
c) Perilaku mengalahkan diri
d) Mengungkapkan secara verbal adanya penyimpangan pikiran
D. Rencana Keperawatan
Tujuan umum:
setelah tindakan keperawatan dilakukan, klien dapat berespon emosional yang adaptif dan meningkatkan rasa puas serta senang
dan dapat diterima oleh lingkungan.
No Tujuan Khusus Intervensi Rasional
Klien terlindungi dari upaya a. Rawat klien di rumah sakit bila ada resiko Klien dengan gangguan alam
mencederai diri sendiri atau bunuh diri yang tinggi perasaan berat berada dalam resiko
bunuh diri. tinggi untuk melakukan bunuh diri.
Klien mampu mengembangkan a. Secara terus menerus evaluasi klien terhadap Perubahan lingkungan dapat
diri kemungkinan melakukan bunuh diri. melindungi klien, mengurangi stress
b. Bantu klien untuk dapat beradaptasi dengan dan memberikan sumber
lingkungan barunya. pengembangan baru
Klien mampu membina a. Lakukan pendekatan yang hangat menerima Klien depresi biasanya enggan
hubungan terapeutik dengan klien apa adanya dan bersifat empati. terlibat dalam hubungan terapeutik.
perawat. b. Mawas diri dan dapat mengendalikan perasaan Diperlukan cara agar klien dapat
dan reaksi diri perawat sendiri (misalnya rasa menerima dan bertahan dalam
marah, frustasi, dan empati) hubungan terapeutik.
Klien mampu mengenali dan a. Tunjukkan respon emosinal dan menerima Klien depresi mempunyai kesul;itan
mengekspresikan emosinya. klien. dalam mengidentifikasi dan
b. Gunakan kemampuan berkomunikasi. mengekspresikan perasaannya.
c. Berikan respon empati dengan berfokus pada
perasaan bukan pada kenyataan yang terjadi.
d. Mengakui kesedihan klien dan berikan
harapan.
e. Bantu klien untuk mengekspresikan
perasaannya.
f. Bantu klien untuk mengekspresikan perasaan
marahnya dengan tepat.
g. Bantu klien untuk menurunkan tingkat
kecemasannya :
a) Sediakan waktu untuk berdiskusi dan bina
hubungan yang sifatnya supportif.
b) Beri waktu untuk klien berespon.
c) Beri perawatan individu sebagai manusia
layaknya.
Klien mampu memodifikasi a. Diskusikan tentang masalah yang dihadapi Memodifi memodifikasi pola
pola kognitif yang negatif klien tanpa memintanya untuk kognitif yang negatif akan
menyimpulkannya. membantu meningkatkan
b. Identifikasi pemikiran yang negatif dan Bantu pengendalian diri, tingkah laku dan
untuk menurunkannya melalui interupsi atau perubahan harga diri
substitusi.
c. Bantu klien untuk meningkatkan pemikiran
yang positif.
d. Evaluasi ketepatan persepsi klien, logika dan
kesimpulan yang dibuat klien.
e. Identifikasi persepsi klien yang tidak tepat,
penyimpangan dan pendapatnya yang tidak
rasional.
f. Bantu klien untuk dapat merubah tujuan yang
tidak realistis ketujuan yang realistis.
g. Kurangi tujuan-tujuan yang tidak mungkin
dicapai.
h. Kurangi penilaian klien yang negatif terhadap
dirinya.
i. Bantu klien untuk menyadari nilai yang
dimilikinya atau perilakunya dan perubahan
yang terjadi.
Klien mampu untuk aktif a. Beri tanggung jawab untuk melakukan terapi Penampilan prilaku yang baik akan
mencapai tujuan yang realistik tindakan yang terorientasi. mengurangi/menghilangkan
b. Beri dorongan kepada klien untuk melakukan perasaan tak berdaya dan putus asa.
kegiatan secara teratur atau beri kebebasan
melakukan kegiatan sehingga energi klien
dapat disalurkan.
c. Persiapkan program yang dapat dilakukan
dengan baik.
d. Tetapkan tujuan yang realistis, relevan dengan
kebutuhan klien dan minatnya serta
difokuskan pada kegiatan yang positif.
e. Fokuskan kegiatan pada saat ini, bukan
kegiatan pada masa lalu atau masa dating
f. Beri pujian jika klien berhasil melakukan
kegiatan atau penampilannya bagus.
g. Pertahankan penampilan atau kegiatan jika
mungkin.
h. Buat jadwal exercise fisik dalam rencana
keperawatan.
Klien mampu untuk melakukan a. Kaji kemampuan klien untuk bersosialisasi Sosialisasi akan mengurangi
hubungan interpersonal dan dukungan yang diperlukan serta minat kesempatan untuk menarik diri dan
klien. akan meningkatkan harga diri,
b. Diskusikan sumber social yang ada dan dapat melalui pemanfaatan dari dukungan
digunakan. lingkunagn yang tepat dan
c. Tunjukkan kemampuan bersosialisi yang menerima.
efektif.
d. Gunakan role play dalam melakukan interaksi
social.
e. Beri umpan balik dan pujian terhadap
kemampuan klien dalam melakukan hubungan
interpersonal yang efektif.
f. Beri dorongan kepada klien untuk
meningkatkan hubungan sosialnya dalam
lingkungan yang lebih luas.
g. Beri dorongan dengan penuh kekeluargaan
terhadap respon emosional klien yang adaptif.
h. Beri dukungan dan libatkan dalam terapi
keluarga dan terapi kelompok jika diperlukan.
Klien mampu meningkatkan a. Lengkapi pengkajian tentang kesehatan Perawatan fisik dan terapi somatic
kesehatan fisik dan fisiologi klien. diperlukan untuk mengatasi
kesejahteraannya. b. Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan perubahan fisik yang terjadi karena
perawatan diri terutam kebutuhan nutrisi, dan gangguan alam perasaan.
kebersihan diri.
c. Anjurkan klien untuk dapat melakukan
pemenuhan kebutuhan perawatan diri secara
mandiri jika memungkinkan
d. Berikan terapi pengobatan.
(https://widyantibhayangkari.wordpress.com/2013/01/20/asuhan-keperawatan-pada-klien-gangguan-alam-perasaan-depresi-dan-mania/
(diakses pada 15 Maret 2017 pukul 11.43)
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Alam perasaan adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang
mempengaruhi seluruh kepribadiaan dan fungsi kehidupan seseorang.
Gangguan alam perasaan ini ditandai dengan munculnya keinginan untuk
bunuh diri, depresi, dan maniak.
Depresi merupakan suatu gangguan alam perasaan yang ditandai
dengan perasaan sedih dan berduka yang berlebihan dan berkepanjangan.
Maniak adalah suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan alam
perasaan yang meningkat, bersemangat atau mudah terganggu. Bunuh diri
merupakan tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri
kehidupan.
Terdapat 5 domain faktor resiko menunjang pada pemahaman perilaku
destruktif diri sepanjang siklus kehidupan, yaitu: Diagnosis psikiatri, sifat
kepribadian, Lingkungan psikososial, Riwayat keluarga, Faktor biokimia.
Gangguan alam perasaan depresi dapat terjadi karena ketidakseimbangan
elektrolit, yaitu perubahan natriun dan kalium didalam neuron. Perubahan
biokimia (noreefinefrin, dopamine dan serotonin) juga mempengaruhi keadaan
emosional individu.

B. Saran
1. Bagi mahasiswa diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan
tentang asuhan keperawatan gangguan alam perasaan (depresi/bunuh diri
dan maniak)
2. Bagi penulis diharapkan makalah ini dapat dijadikan acuan untuk
perbaikan penulisan selanjutnya
3. Bagi masyarakat diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan
tentang gangguan alam perasaan (depresi/bunuh diri dan maniak)
DAFTAR PUSTAKA
https://www.scribd.com/doc/157131468/Askep-Gangguan-Alam-Perasaan-docx
(diakses pada 7 Maret 2017 pukul 13.50)
https://widayantibhayangkari.wordpress.com/2013/01/20/asuhan-keperawatan-
pada-klien-gangguan-alam-perasaan-depresi-dan-mania/ (diakses pada 7 Maret
2017 pukul 13.55)
http://www.academia.edu/20183775/LAPORAN_PENDAHULUAN_GANGGU
AN_ALAM_PERASAAN_fiix_yow