Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN
KOMA HIPOGLIKEMI DAN KOMA HIPERGLIKEMI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Gawat Darurat

Disusun Oleh :

Kelompok : 3
Kelas II.B

1. Ambar Nursita NIM. 34403515006


2. Muhammad Eka Nugraha NIM. 34403515077
3. Muthia Septyani Dinita NIM. 34403515087
4. Nisa Siti Nuraisah NIM. 34403515094
5. Nur Hasanah NIM. 34403515099
6. Riana Septiani NIM. 34403515106
7. Rima Permatasari Sudrajat NIM. 34403515111
8. Rismayana NIM. 34403515116

AKADEMI KEPERAWATAN
PEMERINTAH KABUPATEN CIANJUR
BADAN LAYANAN UMUM DAERAH (BLUD)
Jln. Pasir Gede Raya No. 19 Telp. (0263) 267206 Fax. 270953 Cianjur 4321
2017
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT. Hanya karena ijin-Nya


kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Tak lupa kami
panjatkan sholawat serta salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW
beserta keluarganya dan seluruh insan manusia yang dikehendaki-Nya.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Keperawatan Gawat Darurat dengan judul Asuhan Keperawatan Pada
Gangguan Sistem Endokrin: Koma Hipoglikemi Dan Koma Hiperglikemi.
Dalam penyelesaian makalah ini, kami banyak mendapatkan bimbingan yang
sangat membangun. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika kami mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini
yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Karena itu
kami mengharapkan adanya saran dan kritikan yang bersifat membangun demi
perbaikan makalah mendatang. Harapan kami, makalah ini dapat berguna dan
bermanfaat bagi pembaca serta memenuhi harapan dari berbagai pihak. Amin.

Cianjur, Maret 2017

Tim Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................ i


DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................. 1
C. Tujuan .................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................... 3
A. KOMA HIPOGLIKEMI ........................................................................ 3
1. Pengertian .......................................................................................... 3
2. Etiologi .............................................................................................. 4
3. Manifestasi Klinis ............................................................................. 6
4. Penatalaksanaan ................................................................................ 8
5. Konsep Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien
dengan Koma Hipoglikemi ............................................................... 8
B. KOMA HIPERGLIKEMI ..................................................................... 13
1. Pengertian ......................................................................................... 13
2. Etiologi ............................................................................................. 14
3. Manifestasi Klinis ............................................................................ 14
4. Penatalaksanaan ............................................................................... 15
5. Konsep Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien
dengan Koma Hiperglikemia ........................................................... 15
BAB III PENUTUP ........................................................................................... 18
A. Simpulan ............................................................................................... 18
B. Saran ..................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 19

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pertolongan penderita gawat darurat dapat terjadi dimana saja baik di
dalam rumah sakit maupun di luar rumah sakit, dalam penanganannya
melibatkan tenaga medis maupun non medis termasuk masyarakat awam. Pada
pertolongan pertama yang cepat dan tepat akan menyebabkan pasien/korban
dapat tetap bertahan hidup untuk mendapatkan pertolongan yang lebih lanjut.
Adapun yang disebut sebagai penderita gawat darurat adalah penderita
yang memerlukan pertolongan segera karena berada dalam keadaan yang
mengancam nyawa, sehingga memerlukan suatu pertolongan yang cepat, tepat,
cermat untuk mencegah kematian maupun kecacatan. Untuk memudahkan
dalam pemberian pertolongan korban harus diklasifikasikan termasuk dalam
kasus gawat darurat, darurat tidak gawat, tidak gawat tidak darurat dan
meninggal.
Salah satu kasus gawat darurat yang memerlukan tindakan segera dimana
pasien berada dalam ancaman kematian karena adanya gangguan endokrin
seperti hiperglikemia dan hipoglikemia hal ini dibiarkan tentu akan berakibat
fatal bagi korban atau pasien bahkan bisa menimbulkan kematian. Oleh karena
itu kita perlu memahami penanganan kegawatdaruratan pada sistem endokrin
secara cepat,cermat dan tepat sehingga hal-hal tersebut dapat kita hindari.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan koma hipoglikemi dan koma hiperglikemi?
2. Apa saja etiologi terjadinya koma hipoglikemi dan koma hiperglikemi?
3. Apa saja manifestasi klinis dari koma hipoglikemi dan koma hiperglikemi?
4. Bagaimana penatalaksanaan dari koma hipoglikemi dan koma hiperglikemi?
5. Bagaimana konsep asuhan keperawatan gawat darurat pada pasien dengan
koma hipoglikemi?
6. Bagaimana konsep asuhan keperawatan gawat darurat pada pasien dengan
koma hiperglikemi?

1
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengetahui konsep medis dan asuhan keperawatan
koma hiperglikemi koma hipoglikemi.

2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu mengetahui pengertian dari koma hipoglikemi dan
koma hiperglikemi
b. Mahasiswa mampu mengetahui etiologi dari koma hipoglikemi dan koma
hiperglikemi
c. Mahasiwa mampu mengetahui manifestasi klinis dari koma hipoglikemi
dan koma hiperglikemi
d. Mahasiwa mampu mengetahui penatalaksanaan dari koma hipoglikemi
dan koma hiperglikemi
e. Mahasiwa mampu mengetahui konsep asuhan keperawatan gawat darurat
pada pasien dengan koma hipoglikemi
f. Mahasiwa mampu mengetahui konsep asuhan keperawatan gawat darurat
pada pasien dengan koma hiperglikemi

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. KOMA HIPOGLIKEMI
1. Pengertian
Hipoglikemia merupakan salah satu kegawatan diabetic yang
mengancam, sebagai akibat dari menurunnya kadar glukosa darah < 60 mg/dl.
Hipoglikemia atau penurunan kadar gula darah merupakan keadaan dimana
kadar glukosa darah berada di bawah normal, yang dapat terjadi karena
ketidakseimbangan antara makanan yang dimakan, aktivitas fisik dan obat-
obatan yang digunakan. Sindrom hipoglikemia ditandai dengan gejala klinis
antara lain penderita merasa pusing, lemas, gemetar, pandangan menjadi kabur
dan gelap, berkeringat dingin, detak jantung meningkat dan terkadang sampai
hilang kesadaran (syok hipoglikemia). (Nabyl, 2009)
Adapun batasan hipoglikemia adalah:
a. Hipoglikemi murni : ada gejala hipoglikemi, glukosa darah < 60 mg/dl
b. Reaksi hipoglikemi : gejala hipoglikemi bila gula darah turun
mendadak, misalnya dari 400 mg/dl menjadi 150
mg/dl
c. Koma hipoglikemi : koma akibat gula darah < 30 mg/dl
d. Hipoglikemi reaktif : gejala hipoglikemi yang terjadi 3 5 jam sesudah
makan.
Hipoglikemia (kadar glukosa darah yang abnormal rendah) terjadi kalau
kadar glukosa darah turun di bawah 50 hingga 60 mg/dl (2,7 hingga 3,3
mmol/L). Keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian insulin atau preparat oral
yang berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu sedikit atau karena aktivitas
fisik yang berat. Hipoglikemi dapat terjadi setiap saat pada siang atau malam
hari. Kejadian ini dapat dijumpai sebelum makan, khususnya jika waktu makan
tertunda atau jika pasien lupa makan camilan.

3
2. Etiologi
a. Pelepasan insulin yang berlebihan oleh pankreas
b. Dosis insulin atau obat lainnya yang terlalu tinggi, yang diberikan kepada
penderita diabetes untuk menurunkan kadar gula darahnya
c. Kelainan pada kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal
d. Kelainan pada penyimpanan karbohidrat atau pembentukan glukosa di hati.
Secara umum, hipogklikemia dapat dikategorikan sebagai yang
berhubungan dengan obat dan yang tidak berhubungan dengan obat.
Sebagian besar kasus hipoglikemia terjadi pada penderita diabetes dan
berhubungan dengan obat. Hipoglikemia yang tidak berhubungan dengan
obat lebih jauh dapat dibagi lagi menjadi:
a) Hipoglikemia karena puasa, dimana hipoglikemia terjadi setelah
berpuasa
b) Hipoglikemia reaktif, dimana hipoglikemia terjadi sebagai reaksi
terhadap makan, biasanya karbohidrat.
e. Hipoglikemia paling sering disebabkan oleh insulin atau obat lain
(sulfonilurea) yang diberikan kepada penderita diabetes untuk menurunkan
kadar gula darahnya. Jika dosisnya lebih tinggi dari makanan yang dimakan
maka obat ini bisa terlalu banyak menurunkan kadar gula darah. Penderita
diabetes berat menahun sangat peka terhadap hipoglikemia berat. Hal ini
terjadi karenasel-sel pulau pankreasnya tidak membentuk glukagon secara
normal dan kelanjar adrenalnya tidak menghasilkan epinefrin secara normal.
Padahal kedua hal tersebut merupakan mekanisme utama tubuh untuk
mengatasi kadar gula darah yang rendah.
f. Pentamidin yang digunakan untuk mengobati pneumonia akibat AIDS juga
bisa menyebabkan hipoglikemia. Hipoglikemia kadang terjadi pada
penderita kelainan psikis yang secara diam-diam menggunakan insulin atau
obat hipoglikemik untuk dirinya.
g. Pemakaian alkohol dalam jumlah banyak tanpa makan dalam waktu yang
lama bisa menyebabkan hipoglikemia yang cukup berat sehingga
menyebabkan stupor. Olah raga berat dalam waktu yang lama pada orang
yang sehat jarang menyebabkan hipoglikemia.

4
h. Puasa yang lama bisa menyebabkan hipoglikemia hanya jika terdapat
penyakit lain (terutama penyakit kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal)
atau mengkonsumsi sejumlah besar alkohol. Cadangan karbohidrat di hati
bisa menurun secara perlahan sehingga tubuh tidak dapat mempertahankan
kadar gula darah yang adekuat.
i. Pada orang-orang yang memiliki kelainan hati, beberapa jam berpuasa bisa
menyebabkan hipoglikemia.
j. Bayi dan anak-anak yang memiliki kelainan sistem enzim hati yang
memetabolisir gula bisa mengalami hipoglikemia diantara jam-jam
makannya.
k. Seseorang yang telah menjalani pembedahan lambung bisa mengalami
hipoglikemia diantara jam-jam makannya (hipoglikemia alimenter, salah
satu jenis hipoglikemia reaktif). Hipoglikemia terjadi karena gula sangat
cepat diserap sehingga merangsang pembentukan insulin yang berlebihan.
Kadar insulin yang tinggi menyebabkan penurunan kadar gula darah yang
cepat. Hipoglikemia alimentari kadang terjadi pada seseorang yang tidak
menjalani pembedahan. Keadaan ini disebuthipoglikemia alimentari
idiopatik.
l. Jenis hipoglikemia reaktif lainnya terjadi pada bayi dan anak-anak karena
memakan makanan yang mengandung gula fruktosadan galaktosa atau asam
amino leusin. Fruktosa dan galaktosa menghalangi pelepasan glukosa dari
hati, leusin merangsang pembentukan insulin yang berlebihan oleh
pankreas. Akibatnya terjadi kadar gula darah yang rendah beberapa saat
setelah memakan makanan yang mengandung zat-zat tersebut.
m. Hipoglikemia reaktif pada dewasa bisa terjadi setelah mengkonsumsi
alkohol yang dicampur dengan gula (misalnya gin dan tonik). Pembentukan
insulin yang berlebihan juga bisa menyebakan hipoglikemia. Hal ini bisa
terjadi pada tumor sel penghasil insulin di pankreas (insulinoma). Kadang
tumor diluar pankreas yang menghasilkan hormon yang menyerupai insulin
bisa menyebabkan hipoglikemia.
n. Penyebab lainnya adalah penyakti autoimun, dimana tubuh membentuk
antibodi yang menyerang insulin. Kadar insulin dalam darah naik-turun

5
secara abnormal karena pankreas menghasilkan sejumlah insulin untuk
melawan antibodi tersebut. Hal ini bisa terjadi pada penderita atau bukan
penderita diabetes.
o. Hipoglikemia juga bisa terjadi akibat gagal ginjal atau gagal jantung,
kanker, kekurangan gizi, kelainan fungsi hipofisa atau adrenal, syok dan
infeksi yang berat.
p. Penyakit hati yang berat (misalnya hepatitis virus, sirosis atau kanker) juga
bisa menyebabkan hipoglikemia.

3. Manifestasi Klinis
Pada hipoglikemia ringan, ketika kadar glukosa darah menurun, system
saraf simpatik akan terangsang. Pelimpahan adrenalin ke dalam darah
menyebabkan gejala seperti :
a. Tremor
b. Takikardi
c. Palpitasi
d. Kegelisahan
e. Rasa lapar.
Pada hipoglikemia sedang, penurunan kadar glukosa darah menyebabkan
sel-sel otak tidak memperoleh cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik.
Tanda-tanda gangguan fungsi pada system saraf pusat mencakup :
a. Ketidakmampuan konsentrasi
b. Sakit kepala
c. Vertigo
d. Konfusi
e. Penurunan daya ingat
f. Pati rasa di daerah bibir dan lidah
g. Bicara pelo
h. Gerakan tidak terkoordinasi
i. Perubahan emosional
j. Perilaku yang tidak rasional
k. Penglihatan ganda

6
l. Perasaan ingin pingsan.
Pada hipoglikemia berat, fungsi system saraf pusat mengalami gangguan
sangat berat sehingga pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk
mengatasi hipoglikemia yang dideritanya. Gejala dapat mencakup :
a. Perilaku yang mengalami disorientasi
b. Serangan kejang
c. Sulit dibangunkan dari tidur atau bahkan kehilangan kesadaran.
Gejala hipoglikemia dapat terjadi mendadak dan tanpa terduga
sebelumnya. Kombinasi semua gejala tersebut dapat bervariasi antara pasien
yang satu dan lainnya. Sampai derajat tertentu, gejala ini dapat berhubungan
dengan tingkat penurunan kadar glukosa darah yang sebenarnya atau dengan
kecepatan penurunan kadar tersebut. Sebagai contoh, pasien yang biasanya
memiliki glukosa darah dalam kisaran hiperglikemia (misalnya, sekitar 200-an
atau lebih ) dapat merasakan gejala hipoglikemi (adrenergik) kalau kadar
glukosa darahnya secara tiba-tiba turun hingga 120 mg/dl (6,6 mmol/L) atau
kurang. Sebaliknya, pasien yang biasanya memiliki kadar glukosa drah yang
rendah namun masih berada dalam rentang yang normal dapat tetap
asimtomatik meskipun kadar glukosa tersebut turun secara perlahan-lahan
sampai dibawah 50 mg/dl (2,7 mmol/L).
Faktor lain yang berperan dalam menimbulkan perubahan gejala
hipoglikemi adalah penurunan respon hormonal (adrenergik) terhadap
hipoglikemi. Keadaan ini terjadi pada sebagian pasien yang telah menderita
diabetes selama bertahun-tahun. Penurunan respon adrenergic tersebut dapat
berhubungan dengan salah satu komplikasi kronis diabetes yaitu neuropati
otonom. Dengan penurunan kadar glukosa darah, limpahan adrenalin yang
normal tidak terjadi. Pasien tidak merasakan gejala adrenergic yang lazim
seperti perasaan lemah. Keadaan hipoglikemi ini mungkin baru terdeteksi
setelah timbul gangguan system saraf pusat yang sedang atau berat.

7
4. Penatalaksanaan
Gejala hipoglikemia akan menghilang dalam beberapa menit setelah
penderita mengkonsumsi gula (dalam bentuk permen atau tablet glukosa)
maupun minum jus buah, air gula atau segelas susu. Seseorang yang sering
mengalami hipoglikemia (terutama penderita diabetes), hendaknya selalu
membawa tablet glukosa karena efeknya cepat timbul dan memberikan
sejumlah gula yang konsisten. Baik penderita diabetes maupun bukan,
sebaiknya sesudah makan gula diikuti dengan makanan yang mengandung
karbohidrat yang bertahan lama (misalnya roti atau biskuit).
Jika hipoglikemianya berat dan berlangsung lama serta tidak mungkin
untuk memasukkan gula melalui mulut penderita, maka diberikan glukosa
intravena untuk mencegah kerusakan otak yang serius. Seseorang yang
memiliki resiko mengalami episode hipoglikemia berat sebaiknya selalu
membawa glukagon. Glukagon adalah hormon yang dihasilkan oleh sel pulau
pankreas, yang merangsang pembentukan sejumlah besar glukosa dari
cadangan karbohidrat di dalam hati. Glukagon tersedia dalam bentuk suntikan
dan biasanya mengembalikan gula darah dalam waktu 5-15 menit. Tumor
penghasil insulin harus diangkat melalui pembedahan.
Sebelum pembedahan, diberikan obat untuk menghambat pelepasan
insulin oleh tumor (misalnya diazoksid). Bukan penderita diabetes yang sering
mengalami hipoglikemia dapat menghindari serangan hipoglikemia dengan
sering makan dalam porsi kecil.

5. Konsep Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien Dengan Koma


Hipoglikemi

a. Pengkajian Primer
1) Airway
Menilai jalan nafas bebas. Apakah pasien dapat bernafas dengan
bebas,ataukah ada secret yang menghalangi jalan nafas. Jika ada
obstruksi, lakukan :
a) Chin lift/ Jaw thrust
b) Suction

8
c) Guedel Airway
d) Instubasi Trakea
Terjadi karena adanya penurunan kesadaran/koma sebagai akibat dari
gangguan transport oksigen ke otak.
2) Breathing
Merasa kekurangan oksigen dan napas tersengal sengal , sianosis.
Bila jalan nafas tidak memadai, lakukan :
a) Beri oksigen
b) Posisikan semi Flower
3) Circulation
Menilai sirkulasi / peredaran darah :
a) Cek capillary refill
b) Auskultasi adanya suara nafas tambahan
c) Segera Berikan Bronkodilator, mukolitik.
d) Cek Frekuensi Pernafasan
e) Cek adanya tanda-tanda Sianosis, kegelisahan
f) Cek tekanan darah
Kebas , kesemutan dibagian ekstremitas, keringat dingin, hipotermi, nadi
lemah, tekanan darah menurun. Penilaian ulang ABC diperlukan bila
kondisi pasien tidak stabil
4) Disability
Terjadi penurunan kesadaran, karena kekurangan suplai nutrisi ke otak.
Menilai kesadaran pasien dengan cepat, apakah pasien sadar, hanya
respon terhadap nyeri atau sama sekali tidak sadar. Kaji pula tingkat
mobilisasi pasien. Posisikan pasien posisi semi fowler, esktensikan
kepala, untuk memaksimalkan ventilasi. Segera berikan Oksigen sesuai
dengan kebutuhan, atau instruksi dokter.
5) Exposure
Pada exposure kita melakukan pengkajian secara menyeluruh. Karena
hipoglikemi adalah komplikasi dari penyakit DM kemungkinan kita
menemukan adanya luka/infeksi pada bagian tubuh klien / pasien.

9
b. Pengkajian Sekunder
Data dasar yang perlu dikaji adalah :
1) Keluhan utama
Sering tidak jelas tetapi bisanya simptomatis, dan lebih sering
hipoglikemi merupakan diagnose sekunder yang menyertai keluhan lain
sebelumnya seperti asfiksia, kejang, sepsis.
2) Riwayat :
a) ANC
b) Perinatal
c) Post natal
d) Imunisasi
e) Diabetes melitus pada orang tua/ keluarga
f) Pemakaian parenteral nutrition
g) Sepsis
h) Enteral feeding
i) Pemakaian Corticosteroid therapy
j) Ibu yang memakai atau ketergantungan narkotika
k) Kanker
3) Data fokus
a) Data Subyektif:
- Sering masuk dengan keluhan yang tidak jelas
- Keluarga mengeluh bayinya keluar banyaj keringat dingin
- Rasa lapar (bayi sering nangis)
- Nyeri kepala
- Sering menguap
- Irritabel
b) Data obyektif:
- Parestisia pada bibir dan jari, gelisah, gugup, tremor, kejang, kaku,
- Hightpitched cry, lemas, apatis, bingung, cyanosis, apnea, nafas
cepat irreguler, keringat dingin, mata berputar-putar, menolak
makan dan koma
- Plasma glukosa < 50 gr/

10
4) Pengkajian head to toe
a) Data subyektif :
a. Riwayat penyakit dahulu
b. Riwayat penyakit sekarang
c. Status metabolik : intake makanan yang melebihi kebutuhan
kalori,infeksi atau penyakit-penyakit akut lain, stress yang
berhubungandengan faktor-faktor psikologis dan social, obat-
obatan atau terapi lainyang mempengaruhi glikosa darah,
penghentian insulin atau obat antihiperglikemik oral.
b) Data Obyektif
a. Aktivitas / Istirahat
Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak/berjalan, kram otot, tonus
ototmenurun, gangguan istrahat/tidur Tanda : Takikardia dan
takipnea pada keadaan istrahat atau aktifitasLetargi/disorientasi,
koma
b. Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat hipertensi, IM akut, klaudikasi, kebas
dankesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki, penyembuhan
yanglama, takikardia.Tanda : Perubahan tekanan darah postural,
hipertensi, nadi yangmenurun/tidak ada, disritmia, krekels, distensi
vena jugularis, kulit panas, kering, dan kemerahan, bola mata
cekung
c. Integritas/ Ego
Gejala : Stress, tergantung pada orang lain, masalah finansial yang
berhubungan dengan kondisi
Tanda : Ansietas, peka rangsang
d. Eliminasi
Gejala : Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia,
rasanyeri/terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), ISK baru/berulang,
nyeritekan abdomen, diare.Tanda : Urine encer, pucat, kuning,
poliuri ( dapat berkembangmenjadi oliguria/anuria, jika terjadi
hipovolemia berat), urin berkabut, bau busuk (infeksi), abdomen

11
keras, adanya asites, bising usus lemahdan menurun, hiperaktif
(diare)
e. Nutrisi/Cairan
Gejala : Hilang nafsu makan, mual/muntah, tidak mematuhi diet,
peningkatan masukan glukosa/karbohidrat, penurunan berat
badanlebih dari beberapa hari/minggu, haus, penggunaan diuretik
(Thiazid)
Tanda : Kulit kering/bersisik, turgor jelek,kekakuan/distensi
abdomen, muntah, pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhan
metabolik dengan peningkatan gula darah), bau halisitosis/manis,
bau buah (napas aseton).
f. Neurosensori
Gejala : Pusing/pening, sakit kepala, kesemutan, kebas, kelemahan
pada otot, parestesi, gangguan penglihatanTanda : Disorientasi,
mengantuk, alergi, stupor/koma (tahap lanjut),gangguan memori
(baru, masa lalu), kacau mental, refleks tendondalam menurun
(koma), aktifitas kejang (tahap lanjut dari DKA).
g. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Abdomen yang tegang/nyeri (sedang/berat)Tanda : Wajah
meringis dengan palpitasi, tampak sangat berhati-hati.
h. Pernapasan
Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan/tanpa sputum
purulen (tergantung adanya infeksi/tidak)Tanda : Lapar udara,
batuk dengan/tanpa sputum purulen, frekuensi pernapasan
meningkat
i. Keamanan
Gejala : Kulit kering, gatal, ulkus kulit
Tanda : Demam, diaphoresis, kulit rusak, lesi/ulserasi, menurunnya
kekuatan umum/rentang gerak, parestesia/paralisis otot termasuk
otot-otot pernapasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup
tajam).

12
j. Seksualitas
Gejala : Rabas vagina (cenderung infeksi). Masalah impoten pada
pria, kesulitan orgasme pada wanita.
k. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Faktor resiko keluarga DM, jantung, stroke, hipertensi.
Penyembuhan yang lambat, penggunaan obat sepertii steroid,
diuretik (thiazid), dilantin dan fenobarbital (dapat meningkatkan
kadar glukosa darah). Mungkin atau tidak memerlukan obat
diabetik sesuai pesanan. Rencana pemulangan : Mungkin
memerlukan bantuan dalam pengaturan diit, pengobatan, perawatan
diri, pemantauan terhadapglukosa darah.

c. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko komplikasi b/d kadar glukosa plasma yang rendah seperti,
gangguan mental, gangguan perkembangan otak, gangguan fungsi saraf
otonom, koma hipoglikemi
2. Perubahan sensori perseptual b/d ketidakseimbangan glukosa
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d penurunan masukan oral
4. Kelelahan b/d penurunan energi metabolic.

B. KOMA HIPERGLIKEMI
1. Pengertian
Koma hiperglikemi adalah komplikasi yang paling sering, terutama
diabetes, yang disebabkan oleh kekurangan insulin dalam tubuh.
Hiperglikemi yang dapat dikaitkan dengan tahap akhir dari metabolisme
terganggu.
Hiperglikemia atau gula darah tinggi adalah suatu kondisi di mana
jumlah yang berlebihan glukosa beredar dalam plasma darah. Hiperglikemia
merupakan keadaan peningkatan glukosa darah dari pada rentang kadar
puasa normal 80 90 mg / dl darah, atau rentang non puasa sekitar 140
160 mg /100 ml darah.

13
2. Etiologi
Penyebab tidak diketahui dengan pasti tapi umumnya diketahui
kekurangan insulin adalah penyebab utama dan faktor herediter yang
memegang peranan penting.
Yang lain akibat pengangkatan pankreas, pengrusakan secara kimiawi
sel beta pulau langerhans, faktor predisposisi herediter, obesitas, faktor
imunologi; pada penderita hiperglikemia khususnya DM terdapat bukti
adanya suatu respon autoimun. Respon ini mereupakan repon abnormal
dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi
terhadap jaringan tersebut yang dianggap sebagai jaringan asing.

3. Manifestasi Klinis
Gejala awal umumnya yaitu ( akibat tingginya kadar glukosa darah):
a. Poliuri (banyak kencing)
Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai
melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic
diuresis yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga
klien mengeluh banyak kencing.
b. Polidipsi (banyak minum)
Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan
banyak karena poliuri, sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak
minum.
c. Polipagi (banyak makan)
Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami
starvasi (lapar). Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan.
Tetapi walaupun klien banyak makan, tetap saja makanan tersebut
hanyaakan berada sampai pada pembuluh darah.
d. Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang.
Hal ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa,
maka tubuh berusama mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang
lain yaitu lemak dan protein, karena tubuh terus merasakan lapar, maka
tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh

14
termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan
DM walaupun banyak makan akan tetap kurus
e. Mata kabur
Hal ini disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa sarbitol
fruktasi) yang disebabkan karena insufisiensi insulin. Akibat terdapat
penimbunan sarbitol dari lensa, sehingga menyebabkan pembentukan
katarak.

4. Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi Hiperglikemia adalah mencoba menormalkan
aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dan upaya mengurangi terjadinya
komplikasi vaskuler serta neuropati. Ada 4 komponen dalam
penatalaksanaan hiperglikemia, yaitu:
a. Diet
b. Latihan Jasmani
c. Penyuluhan
d. Obat berkaitan hiperglikemia

5. Konsep Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien Koma


Hiperglikemi

1) Pengkajian Primer
a) Airway : kaji kepatenan jalan nafas pasien, ada tidaknya sputum atau
benda asing yang menghalangi jalan nafas
b) Breathing : kaji frekuensi nafas, bunyi nafas, ada tidaknya
penggunaan otot bantu pernafasan
c) Circulation : kaji nadi, biasanya nadi menurun.
d) Disability : lemah, letih, sulit bergerak, gangguan istirahat tidur.

2) Pengkajian Sekunder
a) Aktivitas / istirahat
Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak/berjalan, kram otot, tonus otot
menurun, gangguan istrahat/tidur

15
Tanda : Takikardia dan takipnea pada keadaan istrahat atau aktifitas,
letargi /disorientasi, koma
b) Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat hipertensi, IM akut, klaudikasi, kebas dan
kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki, penyembuhan yang
lama, takikardia.
Tanda : Perubahan tekanan darah postural, hipertensi, nadi yang
menurun/tidak ada, disritmia, krekels, distensi vena jugularis, kulit
panas, kering, dan kemerahan, bola mata cekung.
c) Integritas/ Ego
Gejala : Stress, tergantung pada orang lain, masalah finansial yang
berhubungan dengan kondisi
Tanda : Ansietas, peka rangsang
d) Eliminasi
Gejala : Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia, rasa
nyeri/terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), ISK baru/berulang, nyeri
tekan abdomen, diare.
Tanda : Urine encer, pucat, kuning, poliuri ( dapat berkembang
menjadi oliguria/anuria, jika terjadi hipovolemia berat), urin berkabut,
bau busuk (infeksi), abdomen keras, adanya asites, bising usus lemah
dan menurun, hiperaktif (diare)
e) Nutrisi/Cairan
Gejala : Hilang nafsu makan, mual/muntah, tidak mematuhi diet,
peningkatan masukan glukosa/karbohidrat, penurunan berat badan
lebih dari beberapa hari/minggu, haus, penggunaan diuretik (Thiazid)
Tanda : Kulit kering/bersisik, turgor jelek, kekakuan/distensi
abdomen, muntah, pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhan
metabolik dengan peningkatan gula darah), bau halisitosis/manis, bau
buah (napas aseton)
f) Neurosensori
Gejala : Pusing/pening, sakit kepala, kesemutan, kebas, kelemahan
pada otot, parestesi, gangguan penglihatan

16
Tanda : Disorientasi, mengantuk, alergi, stupor/koma (tahap lanjut),
gangguan memori (baru, masa lalu), kacau mental, refleks tendon
dalam menurun (koma), aktifitas kejang (tahap lanjut dari DKA).
g) Nyeri/kenyamanan
Gejala : Abdomen yang tegang/nyeri (sedang/berat)
Tanda : Wajah meringis dengan palpitasi, tampak sangat berhati-hati
h) Pernapasan
Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan/tanpa sputum
purulen (tergantung adanya infeksi/tidak)
Tanda : Lapar udara, batuk dengan/tanpa sputum purulen, frekuensi
pernapasan meningkat

3) Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Timbul


1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penurunan
kemampuan bernapas.
2. Defisit volume cairan berhubungan dengan pengeluaran cairan
berlebihan (diuresis osmotic) akibat hiperglikemia
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidak
cukupan insulin, penurunan masukan oral, status hipermetabolisme.

17
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Hipoglikemia merupakan salah satu kegawatan diabetic yang mengancam,
sebagai akibat dari menurunnya kadar glukosa darah < 60 mg/dl. Adapun batasan
hipoglikemia adalah:
a. Hipoglikemi murni : ada gejala hipoglikemi, glukosa darah < 60 mg/dl
b. Reaksi hipoglikemi : gejala hipoglikemi bila gula darah turun
mendadak, misalnya dari 400 mg/dl menjadi 150
mg/dl
c. Koma hipoglikemi : koma akibat gula darah < 30 mg/dl
d. Hipoglikemi reaktif : gejala hipoglikemi yang terjadi 3 5 jam sesudah
makan.
Koma hiperglikemi adalah komplikasi yang paling sering, terutama diabetes,
yang disebabkan oleh kekurangan insulin dalam tubuh. Hiperglikemi yang dapat
dikaitkan dengan tahap akhir dari metabolisme terganggu.
Hiperglikemia merupakan keadaan peningkatan glukosa darah dari pada
rentang kadar puasa normal 80 90 mg / dl darah, atau rentang non puasa sekitar
140 160 mg /100 ml darah. Gejala dari hiperglikemi antara lain: Poliuri,
Polidipsi, Polipagi (banyak makan), Berat badan menurun, lemas, lekas lelah,
tenaga kurang, Mata kabur

B. Saran
1. Untuk Mahasiswa
Sebaiknya dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan kegawat
daruratan sistem endokrin, diharapkan mampu memahami konsep dasar
hipoglekemia dan hiperglikemi serta konsep asuhan keperawatannya.

2. Untuk Institusi Pendidikan


Hendaknya lebih melengkapi literatur yang berkaitan dengan penyakit ini.

18
DAFTAR PUSTAKA

Nining. 2009. Koma Hipoglikemia. (Dimuat dalam http://ns-


nining.blogspot.com/2009/07/koma-hipoglikemi.html). Diakses pada
tanggal 9 Maret 2010 pukul 10 : 00 WIB.

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius


FKUI.

Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006.


Jakarta: Prima Medika.

Joanne C. McCloskey. 1996. Nursing Intervention Classification (NIC). Mosby-


Year Book.

Judith M. Wilkinson. 2005. Prentice Hall Nursing Diagnosis Handbook with NIC
Intervention and NOC Outcomes. Upper Saddle River: New Jersey.

19