Anda di halaman 1dari 13

Konsep dan Prinsip Pemberian Obat

Melalui Oral, Sublingual, Bukal, dan Parenteral


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Farmakologi

Disusun oleh:
Nur Hasanah
(34403515094)
Kelas: 1C

AKADEMI KEPERAWATAN
PEMERINTAH KABUPATEN CIANJUR
Jalan Pasir Gede Raya No.19 Telp.(0263)267206 Fax. 270953 Cianjur 43216
2015/2016

1
A. Pengertian Obat Oral, Bukal, Sublingual, dan Parenteral
1. Obat Oral
Pemberian obat per oral merupakan cara yang paling banyak dipakai karena
merupakan cara yang paling mudah, murah, aman, dan nyaman bagi pasien.
Berbagai bentuk obat dapat diberikan secara oral baik dalam bentuk tablet,
sirup, kapsul atau puyer. Untuk membantu absorbsi, maka pemberian obat
per oral dapat disertai dengan pemberian setengah gelas air atau cairan yang
lain.
Kelemahan dari pemberian obat per oral adalah pada aksinya yang
lambat sehingga cara ini tidak dapat dipakai pada keadaan gawat. Obat yang
diberikan per oral biasanya membutuhkan waktu 30 sampai dengan 45

menit sebelum diabsorbsi dan efek puncaknya dicapai setelah sampai 1


jam. Rasa dan bau obat yang tidak enak sering menganggu pasien. Cara per
oral tidak dapat dipakai pada pasien yang mengalami mual- mual, muntah,
semi koma, pasien yang akan menjalani pengisapan cairan lambung serta
pada pasien yang mempunyai gangguan menelan.
Beberapa jenis obat dapat mengakibatkan iritasi lambung dan
menyebabkan muntah (missal garam besi dan salisilat). Untuk mencegah hal
ini, obat dipersiapkan dalam bentuk kapsul yang diharapkan tetap utuh
dalam suasana asam di lambung, tetapi menjadi hancur pada suasana netral
atau basa di usus. Dalam memberikan obat jenis ini, bungkus kapsul tidak
boleh dibuka, obat tidak boleh dikunyah dan pasien diberi tahu untuk tidak
minum antacid atau susu sekurang- kurangnya satu jam setelah minum obat.
Apabila obat dikemas dalam bentuk sirup, maka pemberian harus
dilakukan dengan cara yang paling nyaman khususnya untuk obat yang
pahit atau rasanya tidak enak. Pasien dapat diberi minuman sirup pasien (es)
sebelum minum sirup tersebut. Sesudah minum sirup pasien dapat diberi
minum, pencuci mulut atau kembang gula.

1
2. Obat Bukal
Pemberian obat secara bukal adalah memberika obat dengan cara
meletakkan obat diantara gusi dengan membran mukosa diantara pipi.
Tujuannya yaitu mencegah efek lokal dan sistemik, untuk memperoleh aksi
kerja obat yang lebih cepat dibandingkan secara oral, dan untuk
menghindari kerusakan obat oleh hepar.

3. Obat Sublingual
Obat dapat diberikan pada pasien secara sublingual yaitu dengan
cara meletakkan obat di bawah lidah. Meskipun cara ini jarang dilakukan,
namun perawat harus mampu melakukannya. Dengan cara ini, aksi kerja
obat lebih cepat yaitu setelah hancur di bawah lidah maka obat segera
mengalami absorbsi ke dalam pembuluh darah. Cara ini juga mudah
dilakukan dan pasien tidak mengalami kesakitan. Pasien diberitahu untuk
tidak menelan obat karena bila ditelan, obat menjadi tidak aktif oleh adanya
proses kimiawi dengan cairan lambung. Untuk mencegah obat tidak di
telan, maka pasien diberitahu untuk membiarkan obat tetap di bawah lidah
sampai obat menjadi hancur dan terserap. Obat yang sering diberikan
dengan cara ini adalah nitrogliserin yaitu obat vasodilator yang mempunyai
efek vasodilatasi pembuluh darah. Obat ini banyak diberikan pada pada
pasien yang mengalami nyeri dada akibat angina pectoris. Dengan cara
sublingual, obat bereaksi dalam satu menit dan pasien dapat merasakan
efeknya dalam waktu tiga menit.

4. Obat Parenteral
Pemberian obat secara parenteral merupakan pemberian obat melalui
injeksi atau infuse. Sediaan parenteral merupakan sediaan steril. Sediaan ini
diberikan melalui beberapa rute pemberian, yaitu Intra Vena (IV), Intra
Spinal (IS), Intra Muskular (IM), Subcutaneus (SC), dan Intra Cutaneus
(IC). Obat yang diberikan secara parenteral akan di absorbs lebih banyak
dan bereaksi lebih cepat dibandingkan dengan obat yang diberikan secara

2
topical atau oral. Perlu juga diketahui bahwa pemberian obat parenteral
dapat menyebabkan resiko infeksi.
Resiko infeksi dapat terjadi bila perawat tidak memperhatikan dan
melakukan tekhnik aseptic dan antiseptic pada saat pemberian obat. Karena
pada pemberian obat parenteral, obat diinjeksikan melalui kulit menembus
system pertahanan kulit. Komplikasi yang seringv terjadi adalah bila pH
osmolalitas dan kepekatan cairan obat yang diinjeksikan tidak sesuai
dengan tempat penusukan sehingga dapat mengakibatkan kerusakan
jaringan sekitar tempat injeksi.

B. Prinsip dan Konsep Pemberian Obat


a. Prinsip Pemberian Obat
Sebelum memberikan obat,perawat harus benar-benar yakin,bahwa obat
yang akan diberikan tersebut benar-benar diorderkan oleh dokter.Perawat
juga harus yakin tentang jenis order yang diterima,yaitu:
a. Staal Order (perintah segera) untuk obat yang diberikan
mendadak,misalnya keadaan gawat darurat.Perintah ini hanya berlaku
satu kali dan bila diinginkan,harus dibuat perintah baru.
b. Singgle Order (perintah satu kali) merupakan pesanan pengobatan satu
kali pemberian pada saat tertentu,namun tidak harus segera diberikan
c. Standing Order (perintah tetap)merupakan pesanan pengobatan yang
diberikan pada jangka waktu tertentu,misalnya 7 hari
d. PRN Order (perintah kalau perlu) merupakan pesanan pemberian obat
yang dilakukan kalau perlu saja.
Ada 6 persyaratan sebelum pemberian obat yaitu dengan prinsip 6 benar :
a. Tepat Obat
Sebelum mempersipakan obat ketempatnya bidan harus
memperhatikan kebenaran obat sebanyak 3 kali yaitu ketika
memindahkan obat dari tempat penyimpanan obat, saat obat
diprogramkan, dan saat mengembalikan ketempat penyimpanan.
Obat memiliki nama dagang dan nama generik. Setiap obat
dengan nama dagang yang kita asing (baru kita dengar namanya) harus

3
diperiksa nama generiknya, bila perlu hubungi apoteker untuk
menanyakan nama generiknya atau kandungan obat. Sebelum memberi
obat kepada pasien, label pada botol atau kemasannya harus diperiksa
tiga kali. Pertama saat membaca permintaan obat dan botolnya diambil
dari rak obat, kedua label botol dibandingkan dengan obat yang
diminta, ketiga saat dikembalikan ke rak obat. Jika labelnya tidak
terbaca, isinya tidak boleh dipakai dan harus dikembalikan ke bagian
farmasi.
Jika pasien meragukan obatnya, perawat harus memeriksanya
lagi. Saat memberi obat perawat harus ingat untuk apa obat itu
diberikan. Ini membantu mengingat nama obat dan kerjanya.
b. Tepat Dosis
Untuk menghindari kesalahan pemberian obat, maka penentuan
dosis harus diperhatikan dengan menggunakan alat standar seperti obat
cair harus dilengkapi alat tetes, gelas ukur, spuit atau sendok khusus,
alat untuk membelah tablet dan lain-lain sehingga perhitungan obat
benar untuk diberikan kepada pasien.
c. Tepat pasien
Obat yang akan diberikan hendaknya benar pada pasien yang
diprogramkan dengan cara mengidentifikasi kebenaran obat dengan
mencocokkan nama, nomor register, alamat dan program pengobatan
pada pasien.
Sebelum obat diberikan, identitas pasien harus diperiksa (papan
identitas di tempat tidur, gelang identitas) atau ditanyakan langsung
kepada pasien atau keluarganya. Jika pasien tidak sanggup berespon
secara verbal, respon non verbal dapat dipakai, misalnya pasien
mengangguk. Jika pasien tidak sanggup mengidentifikasi diri akibat
gangguan mental atau kesadaran, harus dicari cara identifikasi yang lain
seperti menanyakan langsung kepada keluarganya. Bayi harus selalu
diidentifikasi dari gelang identitasnya.
d. Tepat cara pemberian obat/ rute

4
Obat dapat diberikan melalui sejumlah rute yang berbeda. Faktor
yang menentukan pemberian rute terbaik ditentukan oleh keadaan
umum pasien, kecepatan respon yang diinginkan, sifat kimiawi dan
fisik obat, serta tempat kerja yang diinginkan. Obat dapat diberikan
peroral, sublingual, parenteral, topikal, rektal, inhalasi.
a) Oral, adalah rute pemberian yang paling umum dan paling banyak
dipakai, karena ekonomis, paling nyaman dan aman. Obat dapat juga
diabsorpsi melalui rongga mulut (sublingual atau bukal) seperti
tablet ISDN.
b) Parenteral, kata ini berasal dari bahasa Yunani, para berarti
disamping, enteron berarti usus, jadi parenteral berarti diluar usus,
atau tidak melalui saluran cerna, yaitu melalui vena (perset /
perinfus).
c) Topikal, yaitu pemberian obat melalui kulit atau membran mukosa.
Misalnya salep, losion, krim, spray, tetes mata.
d) Rektal, obat dapat diberi melalui rute rektal berupa enema atau
supositoria yang akan mencair pada suhu badan. Pemberian rektal
dilakukan untuk memperoleh efek lokal seperti konstipasi (dulkolax
supp), hemoroid (anusol), pasien yang tidak sadar/kejang (stesolid
supp). Pemberian obat perektal memiliki efek yang lebih cepat
dibandingkan pemberian obat dalam bentuk oral, namun sayangnya
tidak semua obat disediakan dalam bentuk supositoria.
e) Inhalasi, yaitu pemberian obat melalui saluran pernafasan. Saluran
nafas memiliki epitel untuk absorpsi yang sangat luas, dengan
demikian berguna untuk pemberian obat secara lokal pada
salurannya, misalnya salbotamol (ventolin), combivent, berotek
untuk asma, atau dalam keadaan darurat misalnya terapi oksigen.
e. Tepat waktu
Pemberian obat harus benar-benar sesuai dengna waktu yang
diprogramkan , karena berhubungan dengan kerja obat yang dapat
menimbulkan efek terapi dari obat. Ini sangat penting, khususnya bagi
obat yang efektivitasnya tergantung untuk mencapai atau

5
mempertahankan kadar darah yang memadai. Jika obat harus diminum
sebelum makan, untuk memperoleh kadar yang diperlukan, harus diberi
satu jam sebelum makan. Ingat dalam pemberian antibiotik yang tidak
boleh diberikan bersama susu karena susu dapat mengikat sebagian
besar obat itu sebelum dapat diserap. Ada obat yang harus diminum
setelah makan, untuk menghindari iritasi yang berlebihan pada lambung
misalnya asam mefenamat.
f. Tepat pendokumentasian
Setelah obat itu diberikan, harus didokumentasikan, dosis, rute,
waktu dan oleh siapa obat itu diberikan. Bila pasien menolak meminum
obatnya, atau obat itu tidak dapat diminum, harus dicatat alasannya dan
dilaporkan.

2. Konsep Pemberian Obat


Perawat harus memahami tehnik pemberian obat melalui rute-rute
yang telah disebutkan di atas. Teknik pemberian obat yang dimaksud adalah
sebagai berikut:
a. Pemberian Obat Per Oral
Pemberian obat per oral merupakan cara paling banyak
dipakai,karea ini meurpakan cara yang paling mudah,murah,aman dan
nyaman bagi pasien.Berbagai bentuk obat dapat diberikan secara
oral,baik dalam bentuk tablet,sirup,kapsul atau puyer,untuk membantu
absorbsi,maka pemberian obat per oral dapat disertai dengan pemberian
setengah gelas air atau cairan yang lain. Kelemahan dari pemberian obat
per oral adalah pada aksinya yang lambat,sehingga cara ini tidak dapat
dipakai pada keadaan gawat. Obat yang diberikan peroral biasanya
membetuhkan waktu 30 sampai 45 menit sebelum diabsorbsi dan efek
puncaknya dicapai setelah 1 samapai 1.5 jam. Rasa dan bau obat yang
tidak enak sering mengganggu pasien.Cara per oral tidak dapat dipakai
pada pasien yang mual-mual,muntah,semi koma,pasien yang mengalami
pengisapan cairan lambung serta pada pasien yang mempunyai gangguan
menelan.

6
Beberapa jenis obat dapat menyebabkan iritasi lambung dan
muntah.Untuk mencegah hal ini,obat dipersiapkan dalam bentuk kapsul
yang diharapkan tetap utuh dalam suasana asam lambung,tetapi menjadi
hancur ada suasana netral atau basa di usus.Dalam memberikan obat jenis
ini,bungkus kapsul tidak boleh dibuka,obat ini tidak boleh dikunyah dan
pasien diberitahu untuk tidak minum antasida atau susu sekurang-
kurangnya satu jam setelah makan.Apabila obat dikemas dalam bentuk
sirup,maka pemberian harus dilaksanakan dengan cara yang paling
nyaman,khususnya untuk obat yang pahit atau rasa rasanya tidak
enak.Pasien dapat diberi minuman dingin (es) sebelum minum sirup
tersebut.Sesudah minum sirup pasien dapat minuman atau kembang gula.
Perlu diperhatikan:
1) Pengobatan oral tidak diberikan kepada pasien yang muntah,tidak
mempunyai reflek muntah atau dalam keadaan koma.Pasien muntah
mungkin memerlukan istirahat beberapa saat sebelum pemberian obat
diteruskan.
2) Kapsul Enteric-coated dan Timed-released harus ditelan seutuhnya
supaya efektif (tidak boleh ditumbuk)
3) Berikan obat-obatan yang kemungkinan menyebabkan saluran
pencernaan bersama-sama makan untuk mengurangi rasa tidak enak
pada saluran pencernaan.
Persiapan Alat dan Bahan :
1) Daftar buku obat / catatan, jadwal pemberian obat.
2) Obat dan tempatnya.
3) Air minum dalam tempatnya.
Prosedur Kerja :
1) Cuci tangan.
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan.
3) Baca obat, dengan berprinsip tepat obat, tepat pasien, tepat dosis,
tepat waktu, dan tepat tempat.
4) Bantu untuk meminumkannya dengan cara:

7
1) Apabila memberikan obat berbentuk tablet atau kapsul dari botol,
maka tuangkan jumlah yang dibutuhkan ke dalam tutup botol dan
pindahkan ke tempat obat. Jangan sentuh obat dengan tangan.
Untuk obat berupa kapsul jangan dilepaskan pembungkusnya.
2) Kaji kesulitan menelan. Bila ada, jadian tablet dalam bentuk
bubuk dan campur dengan minuman.
3) Kaji denyut nadi dan tekanan darah sebelum pemberian obat
yang membutuhkan pengkajian.
4) Catat perubahan dan reaksi terhadap pemberian. Evaluasi
respons terhadap obat dengan mencatat hasil pemberian obat.
5) Cuci tangan.

b. Pemberian Obat Secara Sublingual


Obat dapat diberikan pada pasien secara sublingualyaitu dengan
cara meletakkan obat dibawah lidah.Meskipun cara ini jarang dilakukan
namun perawat harus mampu melakukannya.Dengan cara ini aksi kerja
obat lebih cepat,yaitu setelah hancur dibawah lidah,maka obat segera
diabsorbsi kedalam pembuluh darah.Cara ini juga mudah dilakukan dan
pasien tidak mengalamin kesakitan.Pasien harus diberitahu untuk tidak
menelan obat,karena bila ditelan obat menjadi tidak aktif oleh adanya
proses kimiawi dengan cairan lambung. Pasien harus diberitahu untuk tidak
menalan obat,karena bila ditelan obat menjadi tidak aktif oleh adanya
proses kimiawi dengan cairan lambung dibawah lidah.Obat yang sering
diberikan dengan cara ini adalah nitrogliserin,yaitu oabta vasodilatator
yang digunakan untuk mengatasi nyeri pada angina pectoris.Cara kerja
pemberian obat sublingual tidak berbeda dengan cara oral,hanya
bedanya,kalau per oral obat ditelan,sedang secara sublingual obat ditaruh
dibawah lidah sampai hancur dan terserap.
Persiapan Alat dan Bahan :
1) Daftar buku obat / catatan, jadwal pemberian obat.
2) Obat yang sudah ditentukan dalam tempatnya.
Prosedur Kerja :

8
1) Cuci tangan.
2) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3) Memberikan obat kepada pasien.
4) Memberitahu pasien agar meletakkan obat pada bagian bawah lidah,
hingga terlarut seluruhnya.
5) Menganjurkan pasien agar tetap menutup mulut, tidak minum dan
berbicara selama obat belum terlarut seluruhnya.
6) Catat perubahan dan reaksi terhadap pemberian. Evaluasi respons
terhadap obat dengan mencatat hasil pemberian obat.
7) Cuci tangan.

c. Pemberian Obat Secara Bukal


Dalam pemberian obat secara bukal,obat diletakkan antara gigi
dengan selaput lender pada pipi bagian dalam. Seperti pada pemberian
sublingual,pasien dianjurkan membiarkan obat sampai hancur pada selaput
lender pipi bagian dalam dan habis diabsorsi.Cara kerja pemberian obat
secara bukal juga berbeda dengan secara oral dan sublingual.Perbedaannya
terletak pada penempatan obat,yaitu antara gigi dengan selaput lender pipi
bagian dalam.Obat dibiarkan sampai hancur dan habis terserap.
Persiapan Alat dan Bahan :
1) Daftar buku obat / catatan, jadwal pemberian obat.
2) Obat yang sudah ditentukan dalam tempatnya.
Prosedur Kerja :
1) Cuci tangan.
2) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3) Memberikan obat kepada pasien.
4) Memberitahu pasien agar meletakkan obat diantara gusi dan selaput
mukosa pipi sampai habis diabsorbsi seluruhnya.
5) Menganjurkan pasien agar tetap menutup mulut, tidak minum dan
berbicara selama obat belum terlarut seluruhnya.
6) Catat perubahan dan reaksi terhadap pemberian. Evaluasi respons
terhadap obat dengan mencatat hasil pemberian obat.

9
7) Cuci tangan.

d. Pemberian Obat Secara Parenteral


Istilah parenteral mempunyai arti setiap jalur pemberian obat selain
melalui enteral atau saluran pencernaan. Lazimnya istilah parenteral
dikaitkan dengan pemberian obat secara injeksi, baik intradermal,
intramuscular, intravena atau subkutan. Pemberian obat secara perenteral
mempunyai aksi kerja lebih cepat dibanding dengan secara oral. Namun
pemberian secara perenteral memiliki berbagai resiko, antara lain merusak
kulit, nyeri dan lebih mahal. Demi keamanan pasien, perawat harus
mempunyai pengetahuan yang memadai tentang cara pemberian obat
secara parenteral termasuk cara menyiapkan, memberikan dan
menggunakan teknik steril. Dalam memberikan obat secara perenteral,
perawat harus mengetahui dan dapat menyiapkan peralatan yang benar,
yaitu: spuit dan jarum serta vial/ampul. Menurut bentuknya spuit memiliki
tiga bagian yaitu bagian ujung yang berkaitan dengan jarum,bagian tabung
dan bagian pendorong. Dilihat dari jenis bahannya, spuit terbentuk dari
kaca dan plastic. Ditinjau dari penggunaannya spuit dibedakan menjadi
tiga,yaitu spuit standart hipodermik, spuit insulin dan spuit tuberculin.
Jarum mempunyai ukuran panjang 1,27 sampai 12,7 cm, besar jarum
dinyatakan dalam satuan gauge antar nomor 14 sampai 28 gauge. Semakin
besar ukuran gaugenya semakin kecil diameternya. Penggunaan ukuran
jarum disesuaikan dengan keadaan pasien yang meliputi umur,
gemuk/kurus, jalur yang akan dipakai dan obat yang akan dimasukkan.
Cairan obat untuk pemberian secara perenteral, biasanya dikemas dalam
vial atau ampul. Ampul terbuat dari bahan gelas dan lehernya dapat
dipatahkan.

10
3. Perhitungan Obat Oral, Bukal, Sublingual, dan Parenteral
Secara umum cara perhitungan obat mengacu mada rumus berikut:


= /

Penghitungan dengan rumus ketika menentukan dosis tidak semuanya


tepat dalam menentukan kerja dan efek dari obat tersebut. Cara yang lebih
tepat adalah dengan menentukan berdasarkan ukuran fisik atau waktu paruh
dari jenis obat yang diberikan. Misalnya kalkulasi dosis berdasarkan berat
badan, kadang-kadang dosis diucapkan sebagai :
Beri 1 mg/kg berat badan. Jadi berat badan pasien harus diketahui
dulu,misalnya 60 kg,maka dosisnya adalah 60 mg. bila permintaannya adalah :
berikan 1 mg/kg berat badan /hari,maka dosis tadi harus dibagi dalam beberapa
kali dosis,misalnya dibagi 3,maka menjadi 3 kali minum 20 mg.
Pembagian dosis obat pada bayi dan anak balita dibedakan berdasarkan 2
standar, yaitu berdasarkan luas permukaan tubuh dan berat badan.
a. DM tercantum berlaku untuk orang dewasa, bila resep mengandung obat
yang ber-DM, tanyakan umurnya.
b. Bila ada zat yang bekerja searah, harus dihitung DM searah (dosis ganda).
a. Urutan melihat daftar DM berdasarkan Farmakope Indonesia edisi terakhir
(FI. Ed.III, Ekstra Farmakope, FI. Ed.I, Pharm. Internasional, Ph. Ned.
Ed. V, CMN dan lain-lain).
b. Setelah diketahui umur pasien, kalau dewasa langsung dihitung, yaitu
untuk sekali minum : jumlah dalam satu takaran dibagi dosis sekali dikali
100%.
c. Begitu juga untuk sehari minum : jumlah sehari dibagi dosis sehari dikali
100%.
d. Dosis Maksimum (DM) searah : dihitung untuk sekali dan sehari.
e. Cara menghitung Dosis Maksimum (DM) untuk oral berdasarkan :
a) Young
Untuk umur 1-8 tahun dengan rumus :
Da = n/ n +12 x Dd (mg) tidak untuk anak > 12 tahun

11
n = umur dalam tahun
b) Dilling
Untuk umur di atas 8 tahun dengan rumus :
Da = n / 20 + Dd ( mg )
n = umur dalam tahun
c) Gaubius
Da = 1/12 + Dd ( mg ) ( untuk anak sampai umur 1 tahun )
Da = 1/8 + Dd ( mg ) ( untuk anak 1-2 tahun )
Da = 1/6 + Dd ( mg ) ( untuk anak 2-3 tahun )
Da = 1/ 4 + Dd ( mg ) ( untuk anak 3-4 tahun )
Da = 1/3 + Dd ( mg ) ( untuk anak 4 7 tahun )
d) Fried
Da = m/150 x Dd ( mg )
e) Sagel
Da = (13 w + 15)/100 + Dd ( mg ) ( umur 0 20 minggu )
Da = ( 8w + 7)/100 + Dd ( mg ) ( umur 20 52 minggu )
Da = ( 3w+ 12)/100 + Dd ( mg ) ( umur 1-9 minggu )
f) Clark
Untuk umur <1tahun
Da = w anak/ w dewasa x Dd
g) Berdasarkan area permukaan tubuh :
Dosis anak = area permukaan tubuh anak/ 1,7 mm x dosis dewasa
normal

12