Anda di halaman 1dari 33

Universitas Sriwijaya

Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

BAB IV
TUGAS KHUSUS

ANALISA PERHITUNGAN NERACA MASSA PADA


AMMONIA CONVERTER (105-D) DI PT.PUPUK SRIWIDJAJA III
DENGAN MENGGUNAKAN SIMULASI ASPEN HYSYS 3.2

4.1. PENDAHULUAN
4.1.1. Latar Belakang
Ammonia converter (105-D) merupakan salah satu unit penting dalam
proses produksi amoniak khususnya di Unit Amoniak PT. Pusri III. Unit ini
merupakan reaktor berkatalis yang berfungsi sebagai tempat reaksi pembentukan
NH3 (amoniak) dari hidrogen (H2) dan nitrogen (N2). Reaktor ammonia converter
ini sangant berpengaruh terhadap produktifitas dan efisiensi di pabrik amoniak
dilihat dari peningkatan produksi NH3 yang di dapat dari hasil keluaran ammonia
converter. Sehingga kontrol dan evaluasi terhadap unit ini sangat diperlukan
untuk mendapatkan proses yang lebih optimal. Beberapa parameter yang menjadi
pertimbangan pada reaktor ammonia converter, antara lain temperature, tekanan,
pressure drop dan ratio H2/N2.

4.1.2. Tujuan
Tujuan dari tugas khusus ini untuk mengetahui kinerja ammonia converter
(105-D) dalam memproduksi amoniak pada Pabrik PT. Pusri III dan mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhinya.

4.1.3. Permasalahan
Terjadi pernurunan produksi NH3 pada reaktor Ammonia Converter (105-
D) pada PT. PUSRI III yang telah beroperasi selama 14 tahun atau lebih dari life
time katalis yang seharusnya sekitar 12 tahun.

4.1.4. Metode Permasalahan


Untuk meninjau reaktor ammonia converter maka akan dilakukan
beberapa metode yaitu:

87
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

1) Metode perhitungan neraca massa pada reaktor ammonia converter


(105-D) dengan menggunakan simulasi aspen hysys 3.2.
2) Mengumpulkan data desain dan data aktual untuk mengetahui parameter
kinerja reaktor ammonia converter.

88
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

4.2. TINJAUAN PUSTAKA


4.2.1. Ammonia Converter
Proses sintesa amonia terjadi pada unit ammonia converter (105-D).
Dalam unit ini, gas sintesa (N2 dan H2) dari unit pemurnian gas sintesa akan
direaksikan menjadi produk ammonia. Ammonia converter berisikan 75 m3
promoted iron catalyst. Katalis diletakkan di dalam internal basket yang
terdiridari beberapa catalyst bed yang terpisah di dalam reaktor. Volume bed
semakin bawah akan semakin besar, hal ini dilakukan untuk membatasi panas
reaksi yang eksotermis pada bed paling atas (dimana terjadi reaksi tercepat),
sehingga converter dapat dijaga pada temperatur yang diinginkan. Penggunaan
aliran gas quench yang masuk katalis bed bertujuan untuk mengontrol temperatur
converter untuk memungkinkan terbentuknya nilai panas reaksi yang mantap.
Salah satu bagian dari Ammonia Optimisation Project (AOP), yaitu
melakukan modifikasi internal ammonia converter sesuai dengan desain Ammonia
Casale. Dalam perkembangannya, ammonia converter telah mengalami
modifikasi untuk meningkatkan kapasitas produksi. Sebagai ilustrasi modifikasi
tersebut, dapat dilihat di Gambar 4.1. Hal ini bertujuan untuk mengurangi
pressure drop, memperbesar konversi, dan memungkinkan digunakannya katalis
yang lebih kecil dan aktif. Oleh karena konversi reaksi yang rendah, maka sistem
dibuat dalam bentuk loop untuk memanfaatkan H2 dan N2 yang belum bereaksi.
Adanya gas inert akan memungkinkan terjadinya akumulasi sehingga perlu
adanya purging. Gas yang di-purging, di-recovery di unit PGRU untuk
memisahkan NH3, H2, dan CH4. NH3 diambil sebagai produk, H2 dikembalikan
lagi ke syn-loop dan CH4 sebagai tail gas dimanfaatkan untuk fuel. Pada ammonia
converter terjadi reaksi sebagai berikut :
N2 + 3H2 2 NH3 (eksotermis) ...(39)

Pada bed pertama, NH3 yang dihasilkan mengalami peningkatan yang


sangat tinggi dengan temperatur yang terus meningkat. Jika temperatur terus
meningkat dan mencapai kesetimbangan, maka reaksi akan bergeser ke kiri yang
menyebabkan NH3 terurai kembali menjadi reaktan. Oleh karena itu, perlu
dilakukan quenching, sehingga temperatur sebelum masuk bed kedua menjadi

89
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

menurun dan jika temperatur diturunkan, maka yang akan terjadi reaksi yang
menghasilkan kalor (eksoterm), untuk mengimbangi kalor yang berkurang tadi.
Artinya, reaksi diatas bergeser ke kanan, sehingga jumlah NH3 akan bertambah
meskipun hanya mengalami sedikit peningkatan. Begitu pula seterusnya sampai
bed terakhir, sehingga akan didapatkan produk dengan hasil yang diharapkan.

Gambar 4.1. Sejarah Ammonia Converter di PT. Pupuk Sriwidjaja

Dalam peninjauan performance ammonia converter, salah satunya perlu


dilakukan perbandingan komposisi antara data desain dan data aktual untuk
mengetahui optimal atau tidaknya performa dari suatu ammonia converter.
Konsentrasi tiap komposisi pada gas keluaran secara desain dapat diamati pada
tabel 4.1. Reaksi yang terjadi pada ammonia converter bersifat eksotermis,
kenaikan temperatur mengakibatkan kesetimbangan reaksi bergeser ke kiri
(reaktan), sehingga hal tersebut menyebabkan produk yang dihasilkan akan
berkurang karena akan kembali terurai menjadi reaktan. Untuk mengatasi hal
tersebut, maka reaksi tersebut dilakukan pendinginan secara mendadak (quench)
oleh feed ammonia converter. Hal itu juga dilakukan agar tidak mengurangi laju
reaksi berlebih dan menghindari temperatur mencapai titik konversi
kesetimbangan.

90
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

Tabel 4.1. Komposisi Gas Keluar pada 105-D (Desain)


Komponen % Vol
Ar 4.29
N2 17.31
CH4 8.85
H2 52.35
NH3 17.20
(Sumber : Manual Operation Ammonia Plant, Pusri)

4.2.2. Kondisi yang Mempengaruhi Reaksi di Ammonia Converter


Titik keseimbangan dari reaksi sintesa amoniak tergantung pada kondisi
operasi yang diusulkan. Kadar ammonia dalam gas keluaran reaktor kira-kira 16%
mol. Gas yang tidak terkonversi dikembalikan ke reaktor untuk mendapatkan
produksi yang maksimal. Dalam reaksi pembentukan amoniak terdapat beberapa
hal yang perlu dikendalikan agar reaksi berjalan optimal. Berikut ini adalah
kondisi yang berpengaruh terhadap reaksi di dalam ammonia converter yaitu:
a) Temperatur
Temperatur mempengaruhi laju reaksi sintesa dan kesetimbangan
amoniak. Karena reaksi sintesa eksotermis, kenaikan temperatur akan
menurunkan derajat kesetimbangan dari amoniak dan pada waktu yang sama akan
mempercepat reaksi. Ketika temperatur meningkat, maka laju reaksi akan
mengalami peningkatan, namun konsentrasi kesetimbangan amoniak akan
mengurangi konversi hidrogen dan nitrogen terhadap amoniak. Pengaruh
temperatur di dalam kesetimbangan pada variasi tekanan untuk sintesa gas dengan
rasio hidrogen dan nitrogen 3:1 dan terdiri dari 15% mol inert dapat dilihat pada
gambar grafik 4.1.

91
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

Gambar 4.2. Grafik Hubungan Konsentrasi Ammonia (mol%) dengan Temperatur pada
Variasi Tekanan (15% Mol Inert)

Kurva rasio H2 dan N2 dengan tingkatan inert lainnya dapat dilihat pada
gambar 4.3, 4.4, dan 4.5. Dapat disimpulkan bahwa ketika temperatur operasi
meningkat, maka konsentrasi kesetimbangan amoniak akan berkurang.
Kebanyakan sistem sintesa beroperasi pada temperatur 900F sampai 1000F
(482C - 538C). Akan tetapi, secara prakteknya katalis diharapkan untuk
beroperasi dengan temperatur yang rendah, yaitu minimal 380C), dimana pada
temperatur tersebut dapat dicapai konversi yang diinginkan. Hal ini menunjukkan
bahwa, pada kondisi jauh dari kesetimbangan, kenaikan temperatur akan menuju
pada konversi yang lebih tinggi, sedangkan untuk sistem sintesa yang dekat pada
derajat kesetimbangan, kenaikan temperatur akan menuju pada konversi yang
lebih rendah.
Temperatur yang rendah akan memaksimalkan umur katalis. Secara
umum, kinerja katalis stabil pada temperatur 1050F (566C), namun katalis akan
mengalami penurunan kestabilan apabila berada di atas temperatur tersebut.
Reaksi sintesa amoniak adalah reaksi eksotermis, oleh karena itu perubahan
temperatur akan mengakibatkan bergesernya kesetimbangan reaksi. Kebanyakan

92
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

converter didesain untuk memberikan konversi yang optimal dengan terlokasinya


temperatur maksimum atau hot spot pada bagian bed atas dan semakin
mengalami penurunan menuju keluarannya. Faktor-faktor utama yang dapat
meningkatkan temperatur katalis adalah sebagai berikut:
1) Peningkatan pada laju alir fresh make up gas,
2) Penurunan laju alir recycle,
3) Pendekatan pada rasio H2/N2 optimal,
4) Penurunan kadar ammonia pada gas recycle,
5) Peningkatan tekanan converter,
6) Pengurangan laju alir quenching yang melalui converter atau bed
katalis,
7) Penurunan kandungan inert pada gas recycle,
8) Peningkatan aktivitas katalis, diikuti dengan adanya pengotor dari syn
gas yang tidak murni.
b) Tekanan
Tekanan mempengaruhi kesetimbangan dan laju reaksi. Peningkatan
tekanan dapat meningkatkan konsentrasi kesetimbangan amoniak dan kecepatan
laju reaksi. Hal ini akan mempengaruhi terhadap meningkatnya konversi pada
tekanan tinggi. Pengaruh tekanan pada konsentrasi kesetimbangan amoniak dapat
dilihat pada gambar grafik 4.2. Dengan adanya kompresor sentrifugal, tekanan
desain pada ammonia loop berkisar 2000-3000 psig. (142-212 kg/cm2). Beberapa
faktor yang dapat meningkatkan tekanan converter pada purge rate yang konstan
adalah:
1) Peningkatan pada laju alir fresh make up gas,
2) Perubahan komposisi gas dari rasio H2 dan N2 yang optimal,
3) Peningkatan kandungan amoniak pada gas recycle,
4) Peningkatan kandungan inert pada gas recycle,
5) Penurunan laju alir gas recycle,

6) Deaktivasi katalis.
c) Rasio H2 / N2
Feed syn-gas (make up, tidak termasuk recycle) yang menuju ke seksi

93
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

sintesa harus mempunyai perbandingan H2 terhadap N2 berkisar 3:1. Hal ini


dikarenakan pembentukan amoniak berasal dari H2 dan N2 dengan perbandingan
3:1. Perbandingan dalam feed syn-gas boleh diubah sedikit dari 3:1 untuk
mendapatkan perbandingan optimum H2:N2 dalam campuran gas yang masuk
converter. Berdasarkan desain pada pabrik, rasio H2/N2 yang baik berkisar
diantara 2,83,2. Perubahan jumlah rasio H2/N2 akan berdampak pada kenaikan
atau menurunnya konversi di dalam ammonia converter. Variabel operasi utama
yang digunakan untuk mengontrol rasio hidrogen dan nitrogen adalah komposisi
dari make up atau fresh feed gas. Volume relatif fresh feed dan purge gas juga
mempengaruhi rasio H2/N2.

d) Gas Inert
Metana dan argon adalah komponen inert yang terdapat pada aliran syn
gas. Komponen ini tidak berbahaya terhadap katalis sintesa dan tidak mengalami
reaksi sintesa, namun dapat membawa dampak negatif terhadap laju reaksi dan
kesetimbangan. Pengaruh konsentrasi kesetimbangan amoniak pada 5%, 10%, dan
15% digambarkan pada gambar grafik 4.3, 4.4, dan 4.5. Konsentrasi inert
bervariasi pada setiap indusri dari 1% sampai 20%. Konsentrasi inert secara
umum dapat diatur secara minimum dengan melakukan purging syn gas pada
loop. Gas inert ini dialirkan keluar dari recycle compressor secara terus menerus
agar jumlahnya tidak naik, dimana akan berakibat pada menurunnya konversi dan
kapasitas produksi. Pengeluaran gas-gas inert secara kontinyu harus dijaga
melalui pipa header yang masuk kompresor recyle dikirim ke sistem purge gas.
Aliran purge gas diperlukan untuk mengontrol konsentrasi CH4 dan gas-gas inert
lainya agar dapat dijaga serendah mungkin di daerah sintesa, karena akan
mengakibatkan penurunan konversi, kenaikan tekanan dan mengurangi kapasitas
produksi.

94
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

Gambar 4.3. Grafik Hubungan Konsentrasi Ammonia (mol%) dengan Temperatur pada
Variasi Tekanan (5% Mol Inert)

Gambar 4.4. Grafik Hubungan Konsentrasi Ammonia (Mol%) dengan Temperatur pada
Variasi Tekanan (10% Mol Inert)

95
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

Gambar 4.5. Grafik Hubungan Konsentrasi Ammonia (Mol%) dengan Temperatur pada
Variasi Tekanan (14,92% Mol Inert)

e) Konsentrasi NH3 Inlet

Gambar 4.6. Grafik Hubungan %NH3 Inlet dengan Produk NH3 Ton/Hari/CF Katalis dan
Laju dalam SCFH x106 yang dibutuhkan untuk Produk 1000 Ton/Hari (Tekanan = 2500
psig, Rasio H2/N2 = 3:1, Cat. Type = C73-1,6x12 mm, System = 4 Bed Quench Type
Converter)

96
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

Konsentrasi NH3 inlet akan mempengaruhi konversi dengan mengurangi


jumlah keluaran amoniak dari converter. Adanya penurunan tersebut akan
meningkatkan konsentrasi amoniak inlet. Hubungan ini dinyatakan pada gambar
4.6. Konversi optimal akan diperoleh pada konsentrasi inlet amoniak yang rendah.

4.2.3. Katalis Ammonia Converter


Katalis sintesa terbuat dari oksida besi yang mengandung potasium,
kalsium dan oksida aluminium sebagai stabilizer dan motor, dan diisikan ke dalam
ammonia converter dalam keadaan teroksidasi. Katalis diletakkan di dalam
internal basket yang terdiri dari empat catalyst bed yang terpisah di dalam reaktor.
Katalis harus diaktifkan terlebih dahulu sebelum melakukan proses sintesa dengan
cara reduksi. Reduksi berlangsung ketika gas hidrogen dilewatkan melalui katalis
yang teroksidasi dengan tekanan dan temperatur tinggi. Hidrogen bereaksi dengan
oksigen dari oksida besi dan membentuk air. Air ini dibuang sebanyak mungkin
sebelum gas dikembalikan melalui katalis. Jumlah air yang dihasilkan selama
waktu pengaktifan menunjukkan bahwa reduksi katalis berjalan dengan baik.
Mula-mula, jumlah air yang terbentuk sedikit dan semakin banyak seiring dengan
bertambahnya reduksi. Pembentukan air akan mencapai puncaknya dan kemudian
berangsur-angsur menurun pada saat mendekati akhir dari reduksi.
Temperatur reduksi harus selalu dijaga di bawah temperatur dimana
katalis akan bekerja untuk menghindari kehilangan daya aktifnya yang dapat
disebabkan oleh tingginya konsentrasi uap air dalam peredaran gas dan
pemanasan yang berlebihan. Temperatur yang terlalu rendah juga dapat
menyebabkan reduksi katalis berjalan lambat. Apabila temperatur menjadi sangat
rendah, maka dapat mengakibatkan reduksi akan terhenti. Pengaruh dari adanya
perubahan tekanan selama reduksi dapat berdampak berbahaya.
Jika tiap lapisan katalis tidak diaktifkan secara sama rata, maka dapat
terjadi kenaikan tekanan yang menyebabkan channeling (aliran tidak merata),
sehingga daerah katalis yang telah banyak direduksi akan mendorong reaksi
antara hidrogen dan nitrogen menjadi amoniak pada tempat tertentu dalam lapisan
katalis. Reaksi ini akan menyebarkan panas dan menyebabkan temperatur menjadi
lebih tinggi dan sukar diatur pada daerah tersebut. Tekanan selama waktu reduksi
harus dijaga pada titik dimana reduksi berjalan simetris dan temperatur di dalam

97
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

daerah mendatar dari lapisan katalis. Kenaikan tekanan akan memperlambat


pembentukan amoniak. Katalis dapat direduksi pada kecepatan gas yang cukup
rendah, akan tetapi lebih tingginya kecepatan melalui katalis akan memperpendek
waktu reduksi, dan channeling lewat lapisan katalis bisa diperkecil pada
kecepatan yang lebih tinggi.
Gas sintesa di-recycle malui converter selama reduksi katalis. Bila reaksi
telah dimulai, sangat penting agar peredaran gas didinginkan sebanyak mungkin
(tanpa kemungkinan bahaya pembekuan air dalam peralatan), untuk
mengembunkan dan memisahkan uap air dari dalam gas sebelum masuk kembali
ke converter. Apabila tidak, gas dengan konsentrasi uap air yang tinggi akan
memasuki lapisan katalis yang telah direduksi. Uap air akan menyebabkan
rusaknya katalis yang telah tereduksi, sehingga setelah sintesa dijalankan, hasil
ammonia akan menurunkan titik beku dan terjadi pemisahan air dari aliran gas
pada temperatur yang rendah. Pengaturan kondisi yang hati-hati selama
pengaktifan katalis akan menghasilkan reduksi yang merata yang mana akan
memperpanjang umur katalis. Reduksi katalis dilakukan pada saat start up pabrik
tersebut.

4.2.4. Racun-Racun Katalis


Senyawa yang dapat mengakibatkan penurunan aktivitas katalis atau
biasa disebut dengan racun katalis sering ditemukan pada gas sintesa. Racun-
racun tersebut dapat membentuk permukaan yang stabil ataupun tidak stabil pada
katalis. Golongan racun pada katalis sintesa amoniak adalah persenyawaan
oksigen. Biasanya persenyawaan oksigen yang menjadi racun katalis adalah uap
air, karbon dioksida, dan molekul-molekul oksigen. Racun lainnya adalah
hidrogen sulfida dan endapan minyak-minyak, namun tidak memberikan cacat
permanen, melainkan hanya menutupi permukaan katalis. Apabila karbon
monoksida yang terdapat dalam jumlah sedikit pada gas sintesa, beberapa sisi
aktif katalis akan bereaksi dengan oksigen sehingga mengurangi keaktifan katalis.
Bila persenyawaan tersebut dihilangkan, katalis akan kembali tereduksi, namun
daerah yang diregenerasi tersebut tidak dapat kembali sepenuhnya memperoleh
aktivitasnya yang semula.

98
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

4.3. METODOLOGI
4.3.1. Diagram Alir Evaluasi

Gambar 4.7. Diagram Alir Evaluasi


4.3.2. Data
Dalam melakukan analisa reaktor Ammonia Converter (105-D),
diperlukan data-data khusus yang akan diolah dalam perhitungan. Data yang
diperoleh dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1) Data Desain
Data desain merupakan data rancangan pada saat unit tersebut didesain.
Ammonia Converter (105-D) pada unit PT. Pusri III yang di dapat di Departemen
Teknik Proses. Adapun sata desain Ammonia Converter (105-D) terdiri dari:
a) Data temperatur ammonia converter
b) Flow rate dan komposisi % mol input dan output
c) Tekanan dan temperatur aliran pada ammonia converter.
2) Data Operasi/Data Aktual
Data ini merupakan data yang diperoleh pada saat berlangsungnya
operasi. Data operasi didapat dari Control Room unit PT. Pusri III dan terdata
dalam logsheet. Data komposisi inlet dan outlet diperoleh dari hasil analisa sampel
oleh Laboratorium PT. Pupuk Sriwidjaja. Data operasi yang digunakan adalah:
a) Pressure Drop
b) Komposisi % Mol Inlet & Outlet 105-D

99
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

c) Temperatur & Tekanan Feed 105-D


c) Temperatur antar Bed
d) Flow Rate Inlet & Outlet 105-D.
Data-data yang digunakan untuk menganalisa ammonia converter diambil
sebanyak 31 data harian dari bulan Januari-Juli 2017

4.3.3. Skema Aliran Ammonia Converter PT. Pusri III

Gambar 4.8. Diagram Alir Ammonia Converter PT. Pusri III


(Sumber : PT. PUSRI)

Gambar 4.9. Diagram Alir Ammonia Converter PT. Pusri III pada Simulasi Hysys 3.2

100
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

4.3.4. Skema Alat

Gambar 4.9. Ammonia Converter (105-D) PT. Pusri III pada Control Room

Gambar 4.10. Aliran dalam Ammonia Converter (105-D) PT. Pusri III
(Sumber : Ammonia Optimisation Project, Pusri)

101
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

4.4. HASIL PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN


4.4.1. Data Desain

Tabel 4.2. Material Balance pada 105-D


Stream Name 16 17
Database Name CONV FEED EX CONV
Phase
Vapour Mole Fraction molefr 1 1
o
Temperatur C 149.64 343.64
Pressure bar 134.37 131.77
Av. mol weight kg/kmol 10.22 11.55
Density kg/m3 36.84 28.46
Spesific Heat J/kg.K 3823.94 2971.36
Molar Flow kmol/h 25464.51 22524.89
Mass Flow kg/h 260155.36 260156.84
Comp. Flows kmol/hr
CH4 1059.64 1839.64
H2 16746.5 12337.07
N2 5576.26 4106.45
Ar 807.92 807.92
NH3 474.2 3413.82
(Sumber : Ammonia Optimisation Project, Pusri)

Tabel 4.2. Flowrate dan Komposisi % mol tiap bed


Flow
Bed NH3 H2 N2 CH4 Ar
rate
# kmol/h mol % mol % mol % mol % mol %
1 in 13706.1 2.13 64.76 21.58 8.41 3.12
1 out 12677.1 10.42 57.84 19.27 9.09 3.37
2 in 17301.9 8.2 59.69 19.89 8.91 3.31
2 out 16650.1 12.44 56.16 18.71 9.26 3.43
3 in 21754 10.02 58.17 19.38 9.06 3.36
3 out 21122.6 13.31 55.43 18.47 9.33 3.46
4 in 23615.6 12.13 56.41 18.8 9.23 3.43
4 out 22992.2 15.17 53.88 17.95 9.48 3.52
(Sumber : Manual Operation Ammonia Plant, Pusri)

102
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

4.4.2. Hasil Perhitungan Data Desain dengan Simulasi Hysys 3.2

Tabel 4.3. Input Data Desain Komponen Inlet 105-D pada Simulasi Hysis 3.2
Komponen Fraksi mol Input
CH4 0.073
H2 0.6576
N2 0.219
Ar 0.0317
NH3 0.0186

Tabel 4.4. Input Data Desain Kondisi Operasi Inlet 105-D pada Simulasi Hysis 3.2
Parameter
Flow Rate (kgmol/h) 25464.51
Tekanan (bar) 134.37
Temperatur (oC) 149.64

1) Neraca Massa pada BED-1

Inlet Outlet

103
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

2) Neraca Massa pada BED-2

Inlet Outlet

3) Neraca Massa pada BED-3

Inlet Outlet

104
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

4) Neraca Massa pada BED-4

Inlet Outlet

5) Neraca Massa Overall Ammonia Converter 105-D Desain

Inlet Outlet

105
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

4.4.3. Hasil Perhitungan Data Aktual dengan Simulasi Hysys 3.2


Tabel 4.5. Input Data Aktual Komponen Inlet 105-D pada Simulasi Hysys 3.2
Komponen Fraksi mol Input
CH4 0.1505
H2 0.5922
N2 0.2052
Ar 0.0353
NH3 0.0168

Tabel 4.6. Input Data Aktual Kondisi Operasi Inlet 105-D pada Simulasi Hysys 3.2
Parameter
Flow Rate (Nm3/h) 646714.3
Tekanan (kg/cm2) 124.7
Temperatur (oC) 150

1) Neraca Massa pada BED-1

Inlet Outlet

106
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

2) Neraca Massa pada BED-2

Inlet Outlet

3) Neraca Massa pada BED-3

Inlet Outlet

107
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

4) Neraca Massa pada BED-4

Inlet Outlet

5) Neraca Massa Overall Ammonia Converter 105-D Aktual


Inlet Outlet

108
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

4.4.4. Analisa Data

Tabel 4.7. Data Parameter pada 105-D yang didapat


Inlet Outlet

Parameter Design Design Aktual Design Design Aktual


Data Hysys Hysys Data Hysys Hysys

Tekanan
134.37 134.37 122.3 131.77 134.4 122.3
(bar)
Temperatur
149.64 149.64 150 343.64 368.5 345.9
(oC)
Flowrate 25464.5 25464.5 22524.8
25364 22160 22270
(kmol/h) 1 1 9
Molar
473.673 426.115 3779.0 3516.192
Flow NH3 474.2 3413.82
7 2 8 8
(kmol/h)

Perhitungan neraca massa pada ammonia converter (105-D) dilakukan


dengan menggunakan metode perhitungan pada simulasi hysys, yang akan di lihat
dengan membandingkan hasil perhitungan data desain dan aktual yang telah di
input pada simulasi tersebut. Dari perhitungan data desain dan aktual, dapat
diketahui bahwa data desain dengan molar flow inlet sebesar 25464.51 Kgmole/H
dan molar flow outlet sebesar 22160 Kgmole/H. Sedangkan data aktual dari hasil
simulasi hysys di dapat dengan molar flow inlet sebesar 25364 Kgmole/H dan
molar flow outlet sebesar 22270 Kgmole/H. Dilihat dari hasil tersebut maka
perbandingan desain dengan aktual (secara hysys) mengalami penurunan dalam
produksi NH3 dimana pada desain produksi NH3 menghasilkan 3779.08 Kmol/h
sedangkan pada aktual produksi NH3 hanya menghasilkan 3516.1928 Kmol/h.
Namun hal tersebut masih mendekati molar flow design dari data yang didapat
yakni 3413.82 Kmol/h. Berikut parameter yang menjadi pertimbangan bahwa hal
tersebut dapat terjadi pada reaktor ammonia converter 105-D unit operasi PUSRI
III.

109
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

1) Flow Rate Inlet

Gambar 4.11. Perbandingan Flowrate Inlet Secara Aktual dan Design

Dilihat dari grafik diatas terlihat bahwa *flowrate inlet aktual melebihi
flowrate design 25464.51 Kmol/h . Hal tersebut dapat mengurangi konversi reaksi
karena memiliki waktu residence time yang sedikit. Namun jika dengan kondisi
rendahnya molar flowrate yang melalui ammonia converter dapat mempengaruhi
peningkatan konversi per pass karena dapat memperbesar residence time reaksi
yang melalui bed pada ammonia converter. Sehingga waktu reaksi dapat berjalan
dengan baik dalam waktu peningkatan residence time pada reaktor ammonia
converter.

*
Diasumsikan tidak ada pengurangan flowrate sebanyak 15% dari feed stream sebelum
memasuki converter 105-D

110
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

2) Temperatur Inlet

Gambar 4.12. Perbandingan Temperatur Inlet Secara Aktual dan Design

Temperatur inlet pada ammonia converter masih mendekati temperatur


desainnya yaitu sebesar 149.64 oC. Hal ini harus baik diperhatikan dalam
pengontrolannya karena perubahan temperatur inlet dapat mempengaruhi konversi
dan kesetimbangan laju reaksi sintesis ammonia. Karena reaksi sintesa eksotermis,
kenaikan temperatur akan menurunkan derajat kesetimbangan dari amoniak dan
pada waktu yang sama akan mempercepat reaksi. Ketika temperatur meningkat,
maka laju reaksi akan mengalami peningkatan, namun konsentrasi kesetimbangan
amoniak akan mengurangi konversi hidrogen dan nitrogen terhadap amoniak

111
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

3) Tekanan Inlet

Gambar 4.13. Perbandingan Tekanan Inlet Secara Aktual dan Design

Dapat dilihat bahwa tekanan inlet aktual pada 105-D lebih rendah
dibandingkan tekanan desainnya 134.37 bar/137 kg/cm2. Secara teori peningkatan
tekanan akan mempengaruhi konversi reaktannya, dimana kenaikan tekanan akan
cenderung menggeser reaksi ke kanan sehingga dicapai konversi yang lebih
tinggi. Namun, secara aktualnya tekanan inlet tidak mencapai tekanan design yang
ingin dicapai (137 kg/cm2). Hal ini dapat disebabkan oleh kinerja compressor
(103-J) telah menurun sehingga tekanan inlet tidak mencapai tekanan standar.

112
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

4) Pressure Drop

Gambar 4.14. Perbandingan Pressure Drop Inlet Secara Aktual dan Design

Dikarenakan tekanan operasi pada ammonia converter tidak mendekati


tekanan standar maka pressure drop juga mengalami penurunan secara signifikan
dan tidak mencapai pressure drop standar yang telah ditentukan. Berdasarkan
grafik diatas pressure drop secara design sebesar 2.6 kg/cm2. Data yang didapat
secara aktual jauh dari data standar (2.6 kg/cm2). Hal tersebut disebabkan oleh
menurunnya flowrate pada ammonia converter dan juga diakibatkan telah
jenuhnya katalis pada ammonia converter.

113
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

5) Ratio H2/N2

Gambar 4.15. Grafik Rasio H2/N2 pada Bulan Januari 2017

Gambar 4.16. Grafik Rasio H2/N2 pada Bulan Februari 2017

114
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

Gambar 4.17. Grafik Rasio H2/N2 pada Bulan April 2017

Gambar 4.15. Grafik Rasio H2/N2 pada Bulan Juli 2017

Ratio H2/N2 yang teranalisa pada laboratorium unit PUSRI III tertanggal
dari 2 Januari-8 July 2017, komposisi ratio %mol H2/N2 masih berada pada
rentang 2,83,2 (design pabrik). Ratio H2/N2 menunjukkan pembentukan amoniak
berasal dari H2 dan N2 dengan perbandingan 3:1.
N2 + 3H2 2NH3
Perbandingan dalam feed syn-gas boleh diubah sedikit dari 3:1 untuk

115
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

mendapatkan perbandingan optimum H2/N2 dalam campuran gas yang masuk


converter. Sedangkan untuk mencari persen konversi N2, H2 dan persen yield NH3
adalah sebagai berikut.
Tabel 4.8. Data Desain PT PUSRI III
Inlet Outlet
Senyawa Flowrate (Kmol/h) Flowrate (Kmol/h)
Ar 807.2826 807.2826
N2 5577.1255 3924.4181
CH4 1859.7719 1859.7719
H2 16746.6563 11788.5333
NH3 473.6737 3779.0886
Total 25464.51 22159.0945

Flow inlet H2 Flow Outlet H2


1) % Konversi H2 = 100%
Flow inlet H2
16746.6563- 11788.5333
= x 100%
16746.6563
= 29.6 %
Flow inlet N2 - Flow outlet N2
2) % Konversi N2 = 100%
Flow inlet N2
5577.1255- 3924.4181
=
5577.1255
100%
= 29.6 %
Flow Outlet NH3 Flow Inlet NH3
3) % Konversi NH3 = 100%
Total Flow input
3779.0886- 473.6737
= x 100%
25464.51

= 13 %

Tabel 4.9. Data Aktual PT PUSRI III


Inlet Outlet
Senyawa Flowrate (Kmol/h) Flowrate (Kmol/h)
Ar 895.3492 895.3492

116
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

N2 5204.6928 3659.6557
CH4 3817.282 3817.282
H2 15020.5608 10385.4506
NH3 426.1152 3516.1928
Total 25364 22273.9303
Flow inlet H2 - Flow Outlet H2
1) % Konversi H2 = 100%
Flow inlet H2
15020.5608 - 10385.4506
= 100%
15020.5608

= 30.86 %
Flow inlet N2 Flow outlet N2
2) % Konversi N2 = 100%
Flow inlet N2
5204.6928 - 3659.6557
= 100%
5204.6928

= 29.6 %

Flow outlet NH3 - Flow inlet NH3


3) % Konversi NH3 = 100%
Total Flow inlet

= (3516.1928 - 426.1152) / (25364)

= 12 %

Dari perhitungan diatas konversi reaktan dan yield pada ammonia


converter memiliki persen konversi yang hampir sama dengan design begitupun
pula pada persen konversi NH3. Persen konversi tersebut dipengaruhi oleh
perubahan jumlah rasio H2/N2 yang akan berdampak pada kenaikan atau
penurunan konversi di dalam ammonia converter. Variabel operasi utama yang
digunakan untuk mengontrol rasio hidrogen dan nitrogen adalah komposisi dari
make up atau fresh feed gas. Volum relatif fresh feed dan purge gas juga
mempengaruhi rasio H2/N2.
Dari perbandingan data desain konversi dan data aktual konversi, dapat
diketahui bahwa konversi secara aktual sedikit menurun dibandingkan dengan
konversi desain. Hal ini dapat dipengaruhi dari adanya penurunan tekanan pada
ammonia converter. Sesuai dengan prinsip kesetimbangan, bahwa semakin
menurunnya tekanan reaksi, maka reaksi akan cenderung bergeser ke kiri,

117
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

sehingga menyebabkan menurunnya konversi reaksi, begitupun sebaliknya.

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Dari hasil analisa yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa:
1) Produksi amoniak pada ammonia converter di Pabrik PT. PUSRI III
mengalami penurunan dari standar desainnya. Pada desain produksi
dihasilkan ammonia 3779.09 Kmol/h sedangkan pada aktual produksi
NH3 hanya menghasilkan 3516.1928 Kmol/h.
2) Flowrate inlet aktual melebihi flowrate design 25464.51 Kmol/h yang
mempengaruhi penurunan konversi reaksi karena memiliki waktu
residence time yang sedikit.
3) Temperatur inlet pada ammonia converter masih mendekati temperatur
desain (149.64 oC). Jika melebihi/berkurang dari temperatur desain
maka akan mempengaruhi kesetimbangan laju reaksi sintesis ammonia.
4) Tekanan inlet aktual pada 105-D lebih rendah dibandingkan tekanan
desain (134.37 bar atau 137 kg/cm2) yang mempengaruhi konversi
reaktannya, dimana penurunan tekanan akan cenderung menggeser
reaksi ke kiri sehingga konversi reaksi menurun.
5) Ratio perbandingan H2/N2 masih berada pada rentang 2,83,2 (design
pabrik). Konversi reaktan dan konversi NH3 pada ammonia converter
memiliki persen konversi yang hampir sama dengan design. Sehingga
ammonia converter masih baik digunakan.

118
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PT. PUSRI - III

5.2. Saran
Diperlukan evaluasi lebih lanjut mengenai kinerja ammonia converter
105-D tidak hanya pada ammonia converter tetapi juga di tinjau dari kinerja
peralatan yang lainnya seperti kompresor 103-J. Mengingat peran dari kompresor
tersebut sangat penting agar tetap mencapai kondisi yang optimal. Hendaknya
dilakukan penggantian pada katalis ammonia converter mengingat life time katalis
yang telah melewati batasnya.

119

Anda mungkin juga menyukai