Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN

PRAKTIKUM KIMIA FISIK I


PENENTUAN ENTALPI ADSORPSI

Oleh
Nama : Ardian Lubis
NIM : 121810301028
Kelompok / kelas : 2 / B
Asisten : Jamiyatul Fitria

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2014
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sekarang ini sebutan energi cukup populer bagi kita dan memiliki kaitan yang sangat
luas. Selama ini yang diketahui tentang energi adalah sesuatu yang melakukan kerja. Salah
satu yang berkaitan dengan energi ini adalah entalpi. Dimana entalpi ini berhubungan dengan
adanya tekanan, kalor dalam sifat termodinamika sistem.
Saat ini, sering kita dengar pula apa itu adsorpsi. Adsorpsi yang kita ketahui dalam
kehidupan sehari-hari itu biasa diartikan dengan penyerapan. Penyerapan ini yang sering kita
lihat dalam kehidupan sehari-hari yaitu penyerapan zat cair. Misalnya pula aplikasi yang
sering kita lihat yaitu peristiwa koagulasi-flokulasi atau menghilangkan zat warna pada air
limbah industri tekstil. Namun proses ini dianggap tidak efisien karena biaya yang digunakan
akan mahal. Untuk mengurangi biaya, maka dilakukanlah adsorpsi menggunakan karbon aktif
yang dimodifikasi. Oleh karena itu, dilakukanlah percobaan ini agar diketahui apa saja sifat-
sifat dari adsorpsi bahan adsorben tersebut jika dilakukan secara kuantitatif.

1.2 Tujuan percobaan


Untuk mempelajari secara kuantitatif sifat-sifat adsorpsi suatu bahan adsorben.

1.3 Tinjauan Pustaka


1.3.1 MSDS (Material Safety Data Sheet).
a. MSDS Asam Asetat
Asam asetat (CH3COOH) ini memiliki sifat fisik dan kimia antara lain berupa cairan
dengan bau dan rasa yang pedas seperti cuka dan bahan ini tidak berwarna. Asam asetat ini
memiliki berat molekul 60,05 g/mol dengan titik didih 118,1C dan titik leleh 16,6C. Bahan
ini mudah larut dalam air, baik air dingin maupun air panas, bahan ini juga larut dalam dietil
eter, aseton. Asam asetat ini larut dengan gliserol, alkohol, benzena, karbon tetraklorida, serta
bahan ini tidak larut dalam karbon disulfida. Bahan ini sangat berbahaya dalam kasus kontak
kulit (iritan), kontak mata (iritan), menelan dan inhalasi. Kontak kulit dapat menhasilkan luka
bakar. Untuk tindakan pencegahan terhadap bahaya dilakukan dengan menjauhkan bahan ini
dari panas, disimpan dalam tempat sejuk yang memiliki ventilasi yang baik. Pembuangan
bahan ini dapat dilakukan di wastafel (Anonim, 2014).
b. MSDS NaOH
NaOH ini memiliki sifat fisik dan kimia antara lain berupa padatan yang tidak berbau
dan tidak berasa dengan berat molekul 40 g/mol dan berwarna putih. Bahan ini memiliki titik
didih 1388C dan titik leleh 323C. Bahan ini mudah larut dalam air dingin. Bahan ini sangat
berbahaya jika terjadi kontak denagan kulit (korosif, iritan, permeator), kontak mata (iritan,
korosif), menelan dan inhalasi. Jika terkena mata akan mengakibatkan kerusakan kornea atau
kebutaan. Bahan ini harus disimpan dalam wadah tertutup rapat dan disimpan ditempat yang
sejuk dan berventilasi baik. Apabila berupa padatan maka harus dibuang ditempat sampah
yang memang digunakan untuk membuang sampah padatan bahan kimia, sedangkan apabila
bahan ini berupa cairan, maka dapat dibuang di wastafel (Anonim, 2014).
c. MSDS Karbon Aktif
Karbon aktif memiliki sifat fisik dan kimia antara lain penampilannya hitam pelet, tidak
berbau dengan titik didih 8721F, berupa padatan atau gas yang tidak mudah terbakar. Jika
terjadi kontak dengan bahan ini dapat menyebabkan iritasi ringan, sedangkan jika tertelan dan
konsumsi karbon aktif yang berlebihan dapat menyebabkan mual atau tidak nyaman. Apabila
terjadi kontak dengan mata, maka segera bilas mata dengan air mengalir selama 15 menit, jika
terjadi kontak dengan kulit, maka cuci bagian yang terkena dengan sabun dan air. Apabila
tertelan, bilas mulut dengan air dan minum banyak cairan agar ketidaknyamanan ringan dapat
terjadi (Anonim, 2014).
d. MSDS Indikator PP
Indikator pp atau Phenolphtalein memiliki sifat fisik dan kimia antara lain berupa cairan
yang tidak berbau dan tidak berasa serta tidak berwarna dengan memiliki titik didih terendah
yang diketahui 78,5C dan titik leleh -114,1C. Bahan ini mudah larut dalam air, baik air
dingin maupun air panas. Bahan ini juga larut dalam metanol, dietil eter, serta larut dalam
aseton. Bahan ini berbahaya jika terkena kulit (iritan), mata (iritan), dan tertelan. Bahan ini
tidak korosif untuk kulit, mata, dan paru-paru. Tindakan pencegahan yang dilakukan agar
tidak terjadi bahaya yaitu, bahan ini harus disimpan dalam wadah tertutup dan dijauhkan dari
sumber api (Anonim, 2014).
1.3.2 Dasar Teori
Adsorpsi atau penyerapan adalah pembentukan lapisan gas pada permukaan padatan
atau juga cairan. Dalam proses adsorpsi ada zat yang terserap pada suatu permukaan zat lain
yang disebut adsorbat, sedangkan zat yang permukaannya dapat menyerap zat lain disebut
adsorben. Adsorpsi atau penyerapan berbeda dengan absorpsi atau penyerapan, sebab pada
proses absorpsi zat yang terserap menembus ke dalam zat penyerap. Secara kimia absorpsi
adalah masuknya gas ke dalam padatan atau larutan,atau masuknya cairan ke dalam padatan.
Sedangkan secara fisika, absorpsi adalah perubahan energi radiasi elektromagnetik, bunyi,
berkas partikel,dan lain-lain ke dalam bentuk energi lain jika dilewatkan pada suatu medium.
Bila foton diserap akan terjadi suatu peralihan ke keadaan tereksitasi (Daintith, 1994).
Kinetika adsorpsi menyatakan adanya proses penyerapan suatu zat oleh adsorben dalam
fungsi waktu. Adsorpsi terjadi pada permukaan zat padat karena adanya gaya tarik atom atau
molekul pada permukaan zat padat. Molekul-molekul pada permukaan zat padat atau zat cair,
mempunyai gaya tarik ke arah dalam karena tidak ada gaya-gaya lain yang mengimbangi.
Adanya gaya-gaya ini menyebabkan zat padat dan zat cair mempunyai gaya adsorpsi.
Adsorpsi berberda dengan absorpsi. Pada absorpsi zat yang diserap masuk ke dalam adsorben,
sedangkan pada adsorpsi, zat yang diserap hanya terdapat pada permukaannya
(Sukardjo, 1989).
Molekul dan atom dapat menempel pada permukaan dengan dua cara. Dalam fisisorpsi
(kependekan dari adsorpsi fisika), terdapat interaksi Van der Waals antar adsorbat dan
substrat. Interaksi Van der Waals mempunyai jarak jauh, tetapi lemah dan energi yang
dilepaskan jika partikel terfisiorpsi mempunyai orde besaran yang sama dengan entalpi
kondensasi. Kuantitas energi sekecil ini dapat diadsorpsi sebagai vibrasi kisi dan dihilangkan
sebagai gerakan termal. Molekul yang melambung pada permukaan seperti batuan itu akan
kehilangan energinya perlahan-lahan dan akhirnya teradsorpsi pada permukaan itu, dalam
proses yang disebut akomodasi. Entalpi fisorpsi dapat diukur dengan mencatat kenaikan
temperatur sampel dengan kapasitas kalor yang diketahui,dan nilai khasnya berada di sekitar
20 kJ mol-1. Perubahan entalpi yang kecil ini tidak cukup untuk menghasilkan pemutusan
ikatan, sehingga molekul yang terfisisorpsi tetap mempertahankan identitasnya, walaupun
molekul itu dapat terdistorsi dengan adanya penukaran (Atkins, 1997).
Jenis-jenis adsorpsi ada dua macam, yaitu :
1. Adsorpsi fisik atau Van der Waals
- Panas adsorpsi rendah (~10.000 kal/mol)
- Kesetimbangan adsorpsi reversibel dan cepat
Misalnya : adsorpsi gas pada charcoal
2. Adsorpsi kimia atau adsorpsi aktivasi
- Panas adsorpsi tinggi (20.000 100.000 kal/mol)
- Adsorpsi disini terjadi dengan pembentukan senyawa kimia, hingga ikatannya lebih kuat
Misalnya : adsorpsi CO pada W, adsorpsi O2 pada Ag, Au, Pt, C, adsorpsi H2 pada Ni
(Sukardjo, 1989)
Bila pada permukaan antara dua fasa yang bersih (seperti antara gascairan dan cairan
cairan) ditambahkan komponen ketiga, maka komponen ketiga inilah yang akan teradsorpsi
pada permukan dan komponen ini akan sangat mempengaruhi sifat permukaan. Sebagai
contoh bila komponen ketiga tadi adalah n-pentanol (alkohol rantai pendek), yang dilarutkan
dalam air maka ketegangan permukaan airudara akan berkurang karena adanya adsorpsi n-
pentanol tadi. Contoh lain adalah penambahan sabun untuk menstabilkan emulsi airminyak.
Kestabilan akan meningkat karena dalam kasus ini molekul sabun akan teradsorpsi pada
permukaan antara kedua cairan dan menurunkan tegangan permukaan. Dalam kedua kasus
diatas, komponen ketiga yang ditambahkan adalah molekul yang teradsorpsi pada permukaan
(dan karenanya dinamakan sebagai surface active / surfaktan) (Bird, 1993).
Jenis-jenis bahan yang dapat digunakan sebagai absorben adalah air (untuk gas-gas
yang dapat larut atau untuk pemisahan partikel debu dan tetesan cairan), natrium hidroksida
(untuk gas-gas yang dapat bereaksi seperti asam) dan asam sulfat (untuk gas-gas yang dapat
bereaksi seperti basa). Dalam proses adsorpsi dikenal juga kolom adsorpsi dimana kolom
adsorpsi itu sendiri adalah suatu kolom atau tabung tempat terjadinya proses pengabsorbsi
(penyerapan/penggumpalan) dari zat yang dilewatkan di kolom/tabung tersebut. Proses ini
dilakukan dengan melewatkan zat yang terkontaminasi oleh komponen lain dan zat tersebut
dilewatkan ke kolom ini dimana terdapat fase cair dari komponen tersebut (Warnana, 2007).
Langmuir menganggap permukaan suatu zat padat terdiri dari ruang elementer yang
masing-masing dapat mengadsorpsi satu molekul gas. Ia mengandaikan bahwa semua ruang
elementer adalah identik dalam afinitasnya untuk molekul gas dan adanya molekul gas pada
satu ruang tak mempengaruhi sifat dari ruang yang ada di dekatnya. Bila adalah fraksi
permukaan yang ditempati oleh molekul gas, laju penguapan dari permukaan adalah r,
dengan r adalah sebagai laju penguapan dari permukaan yang tertutup sempurna pada suhu
tertentu. Pada kesetimbangan, laju penguapan gas yang teradsorpsi sama dengan laju
kondensasi (Alberty, 1992)
BAB 2. METODE PRAKTIKUM

2.1 Alat dan Bahan


2.1.1 Alat
- Erlenmeyer 50 mL
- Buret 50 mL
- Corong gelas
- Kertas saring
- Statif

2.1.2 Bahan
- Asam asetat 1M
- NaOH 0,5 M
- Karbon aktif
- Indikator PP

2.2 Cara Kerja

Larutan Asam Asetat


- distandarisasi dengan menggunakan larutan asam oksalat
- dibuat masing-masinglarutan asam asetat sebanyak 50 mL dengan konsentrasi 1,0;
0,8; 0,6; 0,4; 0,2; 0,1 N.
- diambil 10 mL tiap larutan asetat untuk dititrasi dengan 0,5 M NaOH dengan
menggunakan indikator PP. Hasil titrasi menunjukkan konsentrasi asam asetat
mula-mula.
- diambil setiap larutan sebanyak 25 mL dimasukkan kedalam erlenmeyer dan
ditambahkan kedalam masing-masing larutan 1 gram adsorben (karbon aktif),
- dikocok dan ditutup dengan kertas saring dan didiamkan selama 30 menit.
- diambil masing-masing 10 mL filtrat dan diberi indikator 2 tetes
- dititrasi dengan larutan NaOH, sehingga dapat diketahui asam asetat sisa yang ada
dalam larutan.
- ditentukan asam asetat yang diadsorpi.

Hasil
BAB 3. HASIL DAN PENGOLAHAN DATA

3. 1 Hasil dan Pengolahan Data


3.1.1 Hasil percobaan
Konsentrasi
No Percobaan
Asam Asetat Volume NaOH
1 Titrasi 10 mL asam asetat dengan 0,1 M 3,2 mL
NaOH 0,5 M 0,2 M 5,8 mL
0,4 M 7,9 mL
0,6 M 10,8 mL
0,8 M 16,5 mL
1,0 M 29,7 mL
2 Titrasi filtrate 10 mL asam asetat 0,1 M 2,2 mL
dengan NaOH 0,5 M 0,2 M 4,4 mL
0,4 M 6,9 mL
0,6 M 9,2 mL
0,8 M 14 mL
1,0 M 17,2 mL
3.1.2 Pengolahan data
Asam asetat
Setelah
yang
diadsorpsi x/m (Gram) Log x/m Log C
teradsorpsi
(M)
(x) (gram)
0,11 0,03 0,03 -1,52 0,035

0,22 0,042 0,042 -1,38 0,041

0,345 0,03 0,03 -1,52 0,043

0,46 0,048 0,048 -1,32 0,046

0,7 0,075 0,075 -1,12 0,036

0,86 0,375 0,375 -0,43 0,053


BAB 4. PEMBAHASAN

Praktikum kali ini dilakukan percobaan tentang penentuan entalpi adsorpsi. Adsorpsi
atau penyerapan itu sendiri adalah pembentukan lapisan gas pada permukaan padatan atau
kadang-kadang cairan. Percobaaan kali ini menggunakan asam asetat sebagai bahan bahan
yang diadsorpsi, NaOH 0,05 M sebagai bahan yang digunakan untuk standarisasi asam asetat,
serta digunakan karbon aktif yang berfungsi sebagai adsorben.
Perlakuan pertama yang dilakukan adalah membuat asam asetat dengan beberapa
konsentrasi. Konsentrasi yang dibuat antara lain 0,1; 0,2; 0,4; 0,6; 0,8; 1 N. Asam asetat ini
dibuat dengan cara pengenceran. Asam asetat untuk masing-masing konsentrasi diambil 10 ml
untuk dilakukan titrasi dengan menggunakan NaOH. Sebelum dititrasi dengan NaOH, asam
asetat yang akan dititrasi ditetesi dengan indikator pp. Tujuan penambahan indikator pp ini
untuk menunjukkan titik akhir titrasi yang ditandai dengan adanya perubahan warna.
Indikator pp ini dipilih karena indikator pp memiliki trayek pH pada rentang antara 8,3
sampai 10,0. Tujuan titrasi dengan NaOH ini untuk menstandarisasi asam asetat yang telah
dibuat. Titik akhir titrasi pada percobaan ini ditunjukkan dengan berubahnya warna dari tidak
berwarna menjadi merah muda. Penambahan NaOH untuk masing-masing konsentrasi pada
asam asetat antara lain 3,2 mL; 5,8 mL; 7,9 mL; 10,8 mL; 16,5 mL; 29,7 mL. Adapun
persamaan reaksi untuk perlakuan ini yaitu :
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O(l)
Perlakuan kedua yang dilakukan yaitu diambil 25 mL asam asetat untuk masing-masing
konsentrasi yang telah dibuat lalu ditambahkan dengan karbon aktif. Karbon aktif disini
berguna sebagai adsorben. Asam asetat yang diberi dengan karbon aktif didiamkan selama 30
menit. Didiamkan 30 menit ini bertujuan agar asam asetat yang teradsorpsi cukup banyak.
Filtrat dari campuran asam asetat dengan karbon aktif ini diambil 10 ml kemudian dititrasi
dengan NaOH. Hal ini bertujuan untuk menstandarisasi larutan asam asetat yang dicampur
dengan karbon aktif (adsorben). Sebelum titrasi dilakukan, asam asetat ini ditetesi dengan
indikator pp. Titik akhir titrasi menunjukkan perubahan warna dari tidak berwarna menjadi
merah muda. Penambahan NaOH untuk masing-masing konsentrasi pada asam asetat yang
telah diberi karbon aktif ini antara lain 2,2 mL; 4,4 mL; 6,9 mL; 9,2 mL; 14 mL; 17,2 mL.
Adapun reaksi dari perlakuan ini yaitu
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O(l)
Hasil perhitungan dari kedua perlakuan diatas didapat konsentrasi asam asetat yang
teradsorpsi antara lain 0,11; 0,22; 0,345; 0,46; 0,7; 0,86 M. Data konsentrasi ini dapat
digunakan untuk menentukan banyaknya asam asetat yang teradsorpsi. Hasil perhitungan
menujukkan banyaknya asam asetat yang teradsorpsi untuk masing-masing konsentrasi antara
lain 0,03; 0,042; 0,03; 0,048; 0,075; 0,375 g. Data ini dapat disimpulkan bahwa semakin besar
konsentrasi asam asetat maka semakin banyak pula asam asetat yang teradsorpsi. Hasil
perhitungan dapat diplotkan pada suatu grafik. Adapun grafik dari hasil perhitungan antara
x
log dan log C adalah sebagai berikut
m

kurva antara log C terhadap log x/m


0
-0.2 0 0.02 0.04 0.06 y = 43.164x - 3.0423
R = 0.4898
-0.4
-0.6
log x/m

-0.8
Series1
-1
Linear (Series1)
-1.2
-1.4
-1.6
-1.8
log C

Dari kurva ini akan didapat nilai slope (n) dan nilai intersep (k). Persamaan y = mx + c
inilah yang digunakan untuk menentukan nilai slope dan intersep. Huruf m pada persamaan
y = mx + c merupakan slope (n), sehingga slope dari percobaan ini yaitu 43,16. Sedangkan
intersepnya adalah fungsi logaritma dari huruf c yang terdapat pada persamaan y = mx + c,
sehingga nilai intersep dari percobaan ini didapat sebesar 0,48.
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan tentang penentuan entalpi adsorpsi ini
yaitu sifat-sifat adsorpsi suatu bahan adsorben dapat dipelajari secara kuantitatif dengan cara
menghitung konsentrasi asam asetat dan menghitung jumlah asam asetat yang dapat
teradsorpsi, serta dapat diketahui dengan ditambah dengan bahan adsorben seperti karbon
aktif. Asam asetat yang teradsorpsi untuk masing-masing konsentrasi yaitu sebesar 0,03;
0,042; 0,03; 0,048; 0,075; 0,375 g. Sehingga didapat nilai slope dan intersepnya masing-
masing sebesar 43,16 dan 0,48.

5.2 Saran
Saran yang dapat disampaikan dari percobaan ini yaitu saat melakukan titrasi, harus
dilakukan secara hati-hati dan benar agar hasil yang didapat maksimal.
DAFTAR PUSTAKA

Alberty, Robert. 1992. Kimia Fisika Jilid 1. Jakarta : Erlangga.


Atkins, P.W. 1997. Kimia Fisika. Jakarta : Erlangga.
Bird, Tony. 1993. Kimia Fisik untuk Universitas. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Dainith, J. 1994. Kamus Lengkap Kimia. Jakarta : Erlangga.
Material Safety Data Sheet. 2014. MSDS Asam Asetat [serial online]
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9922769 [8 Maret 2014].
Material Safety Data Sheet. 2014. MSDS Indikator Phenolphtalein [serial online]
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9926477 [8 Maret 2014].
Material Safety Data Sheet. 2014. MSDS Karbon Aktif [serial online]
http://www.esciencelabs.com/files/andrea.rex/Activated_Carbon.pdf [8 Maret 2014].
Material Safety Data Sheet. 2014. MSDS NaOH [serial online]
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9924997 [8 Maret 2014].
Sukardjo. 1989. Kimia Fisika. Jakarta : Bina Aksara.
Tim Kimia Fisika. 2014. Penuntun Praktikum Kimia Fisik I. Jember : Universitas Jember.
LAMPIRAN

Perhitungan
1. Konsentrasi Asam Asetat Setelah adsorbsi
a. Ketika Volume NaOH 2,2 ml
asam asetat NaOH
M 1V1 M 2V2
M 1 10ml 0,5M 2,2ml
M 1 0,11 M
b. Ketika Volume NaOH 4,4 ml
asam asetat NaOH
M 1V1 M 2V2
M 1 10ml 0,5M 4,4ml
M 1 0,22 M
c. Ketika Volume NaOH 6,9 ml
asam asetat NaOH
M 1V1 M 2V2
M 1 10ml 0,5M 6,9ml
M 1 0,345 M
d. Ketika Volume NaOH 9,2 ml
asam asetat NaOH
M 1V1 M 2V2
M 1 10ml 0,5M 9,2ml
M 1 0,46 M
e. Ketika Volume NaOH 14 ml
asam asetat NaOH
M 1V1 M 2V2
M 1 10ml 0,5M 14ml
M 1 0,7 M
f. Ketika Volume NaOH 17,2 ml
asam asetat NaOH
M 1V1 M 2V2
M 1 10ml 0,5M 17,2ml
M 1 0,86 M
2. Asam asetat yang teradsorbsi
= {( ) [] }
= {(3,20 2,20) 0,5 60 } 1000 = 0,03
= {(5,80 4,40) 0,5 60 } 1000 = 0,042
= {(7,90 6,90) 0,5 60 } 1000 = 0,03
= {(10,80 9,20) 0,5 60 } 1000 = 0,048
= {(16,50 14,00) 0,5 60 } 1000 = 0,075
= {(29,70 17,20) 0,5 60 } 1000 = 0,375

3. Log x/m
a. m = 0,03 gram
0,03
log = log = 1,52
1
b. m = 0,042 gram
0,042
log = log = 1,38
1
c. m = 0,03 gram
0,03
log = log = 1,52
1
d. m = 0,048 gram
0,048
log = log = 1,32
1
e. m = 0,075 gram
0,075
log = log = 1,12
1
f. m = 0,375 gram
0,375
log = log = 0,43
1

4.Log C
1. Log 1,085 = 0,035
2. Log 1,098 = 0,041
3. Log 1,104 = 0,043
4. Log 1,112 = 0,046
5. Log 1,113 = 0,036
6. Log 1,129 = 0,053