Anda di halaman 1dari 13

PENGUKURAN LAJU ABSORPSI GLUKOSA PADA MENCIT

Oleh :
Nama : Shinta Prabawati
NIM : B1J014049
Rombongan : II
Kelompok :2
Asisten : Ristiandani Riana P.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI NUTRISI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karbohidrat adalah salah satu bahan makanan utama yang diperlukan oleh
tubuh. Sebagian besar karbohidrat yang kita konsumsi terdapat dalam bentuk
polisakarida yang tidak dapat diserap secara langsung. Karena itu, karbohidrat
harus dipecah menjadi bentuk yang lebih sederhana untuk dapat diserap melalui
mukosa saluran pencernaan (Sherwood, 2012). Karbohidrat yang dikonsumsi
hewan pada umumnya cukup beragam dan keragaman konsumsi karbohidrat ini
berkonsekuensi pada kecepatan dan kemampuan pencernaan hewan terhadap
karbohidrat yang dikonsumsi. Perbedaan kemampuan dan kecepatan proses
pencernaan karbohidrat ini akan berefek pada kecepatan absorpsi karbohidrat.
Umumnya, karbohidrat yang dikonsumsi hewan akan dicerna menjadi komponen
yang mudah diserap yaitu dalam bentuk monosakarida, biasanya glukosa.
Glukosa adalah karbohidrat terpenting bagi tubuh karena glukosa bertindak
sebagai bahan bakar metabolik utama. Glukosa juga berfungsi sebagai prekursor
untuk sintesis karbohidrat lain, misalnya glikogen, galaktosa, ribosa, dan
deoksiribosa. Glukosa merupakan produk akhir terbanyak dari metabolisme
karbohidrat. Sebagian besar karbohidrat diabsorpsi ke dalam darah dalam bentuk
glukosa, sedangkan monosakarida lain seperti fruktosa dan galaktosa akan diubah
menjadi glukosa di dalam hati. Karena itu, glukosa merupakan monosakarida
terbanyak di dalam darah (Murray, Granner, dan Rodwell, 2009).
Selain berasal dari makanan, glukosa dalam darah juga berasal dari proses
glukoneogenesis dan glikogenolisis (Kronenberg et al., 2008). Kadar glukosa
darah diatur sedemikian rupa agar dapat memenuhi kebutuhan tubuh. Absorpsi
glukosa oleh epitel intestine akan dengan segera ditransport memasuki peredaran
darah. Oleh karena itu, perubahan kadar glukosa darah pada hewan setelah
mengkonsumsi karbohidrat dapat digunakan sebagai parameter kecepatan
absorpsi karbohidrat.

1.2 Tujuan

Tujuan praktikum ini adalah mengevaluasi kecepatan absorpsi gula pada


mencit setelah mengkonsumsi karbohidrat.
II. MATERI DAN CARA KERJA

2.1 Materi

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah mencit,


larutan karbohidrat berupa pati, CMC, sukrosa, maltosa, dan glukosa, serta
alkohol.
Alat-alat yang digunakan yaitu glukoDR dan kitnya, dan spuit berkanula.

2.2 Cara Kerja

1. Mencit yang akan digunakan untuk percobaan disiapkan, dengan cara


dipuasakan selama beberapa jam sebelum percobaan.
2. Larutan glukosa, maltosa, sukrosa, pati dan CMC dibuat.
3. Lakukan pemberian larutan karbohidrat pada mencit menggunakan spuit
berkanula sebanyak 1 ml melalui mulutnya.
4. Kadar gula darah diukur setelah 5,15,45 menit pemberian larutan karbohidrat.
5. Hasil dicatat.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Tabel 3.1.1 Perbandingan Pemberian Larutan Karbohidrat

Larutan Kadar Gula Darah (mg/dl)


Kel
karbohidrat 5 menit 15 menit 45 menit
1 Pati 110 140 410
CMC 221 224 301
2 Sukrosa 191 76 125
Maltosa 195 119 154
3 Pati 300 429 216
Glukosa 112 144 52
3.2 Pembahasan

Hasil pemberian larutan karbohidrat berupa pati, CMC, sukrosa, maltosa


dan glukosa pada mencit memberikan konsentrasi kadar gula darah yang berbeda
setelah 5 menit, 15 menit dan 45 menit pemberian larutan karbohidrat. Kadar gula
darah pada mencit untuk semua larutan karbohidrat diukur setelah 5 menit, 15
menit dan 45 menit pemberian larutan. Larutan pati pada kelompok 1 memiliki
kadar gula darah masing-masing yaitu 110 mg/dl, 140 mg/dl dan 410 mg/dl,
sedangkan pada kelompok 3 yaitu 300 mg/dl, 429 mg/dl, dan 216 mg/dl; pada
larutan CMC dengan selisih waktu yang sama, kadar gula darah yang dihasilkan
yaitu 221 mg/dl, 224 mg/dl, 301 mg/dl; kadar gula darah pada larutan sukrosa
yaitu 191 mg/dl, 76 mg/dl, dan 125 mg/dl; kadar gula darah pada larutan maltosa
yaitu 195 mg/dl, 119 mg/dl, dan 154 mg/dl; kadar gula darah pada larutan glukosa
yaitu 112 mg/dl, 144 mg/dl, dan 52 mg/dl.
Laju penyerapan glukosa yang terkandung dalam pati dan CMC
menghasilkan kadar gula darah yang semakin meningkat, hal ini dikarenakan pati
merupakan jenis karbohidrat yang paling lambat diabsorbsi untuk menjadi glukosa
karena pati merupakan jenis polisakarida. Kadar gula darah yang terukur pada
mencit yang mengkonsumsi larutan sukrosa dan maltosa memiliki kadar gula yang
tinggi pada awal pemberian, kemudian menurun, setelah itu meningkat kembali.
Kadar gula darah yang terukur pada mencit yang mengkonsumsi larutan glukosa
memiliki kadar yang tinggi pada awal pemberian, kemudian semakin meningkat,
setelah itu kadar gula turun. Menurut Sediaoetama (1989), bahwa berdasarkan
urutan, yang paling cepat di absorpsi adalah galaktosa, glukosa dan terakhir
fruktosa. Semua jenis karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida, proses
penyerapan ini terjadi di usus halus. Glukosa dan galaktosa memasuki aliran darah
dengan jalan transfer aktif, sedangkan fruktosa dengan jalan difusi. Para ahli
sepakat bahwa karbohidrat hanya dapat diserap dalam bentuk disakarida. Hal ini
dibuktikan dengan dijumpainya maltosa, sukrosa dan laktosa dalam urine apabila
mengkonsumsi gula dalam jumlah banyak. Akhimya berbagai jenis karbohidrat
diubah menjadi glukosa sebelum diikut sertakan dalam proses metabolisme.
Laju penyerapan glukosa berdasarkan jumlah kompleksitas molekulnya,
dari yang paling cepat diserap, hingga yang lambat diserap antara lain :
a. Monosakarida
Glukosa, glukosa dijumpai di dalam aliran darah (disebut kadar gula darah)
dan berfungsi sebagai penyedia energi bagi seluruh sel-sel dan jaringan
tubuh. Pada keadaan fisiologis kadar gula darah sekitar 80-120 mg %. Kadar
gula darah dapat meningkat melebihi normal disebut hiperglikemia, keadaan
ini dijumpai pada penderita Diabetes Mellitus.
Fruktosa, disebut juga gula buah ataupun levulosa. Merupakan jenis sakarida
yang paling manis, banyak dijumpai pada mahkota bunga, madu dan hasil
hidrolisa dari gula tebu. Di dalam tubuh fruktosa didapat dari hasil
pemecahan sukrosa.
Galaktosa, tidak dijumpai dalam bentuk bebas di alam, galaktosa yang ada di
dalam tubuh merupakan hasil hidrolisa dari laktosa (Sediaoetama, 1989).
b. Disakarida, merupakan gabungan antara 2 (dua) monosakarida, pada bahan
makanan, disakarida terdapat 3 jenis yaitu sukrosa, maltosa dan laktosa.
Sukrosa, mempunyai 2 (dua) molekul monosakarida yang terdiri dari satu
molekul glukosa dan satu molekul fruktosa. Sumber dari tebu (100%
mengandung sukrosa), bit, gula nira (50%), jam, jelly.
Maltosa, mempunyai 2 (dua) molekul monosakarida yang terdiri dari dua
molekul glukosa. Di dalam tubuh maltosa didapat dari hasil pemecahan
amilum. Amilum terdiri dari 2 fraksi (dapat dipisahkan dengan air panas)
yaitu Amilosa yang larut dengan air panas dan mempunyai struktur rantai
lurus, Amilopektin yang tidak larut dengan air panas dan mempunyai sruktur
rantai bercabang.
Laktosa, mempunyai 2 (dua) molekul monosakarida yang terdiri dari satu
molekul glukosa dan satu molekul galaktosa. Laktosa kurang larut di dalam
air. Laktosa hanya terdapat pada susu (Sediaoetama, 1989).
c. Polisakarida
Merupakan senyawa karbohidrat kompleks, dapat mengandung lebih dari
60.000 molekul monosakarida yang tersusun membentuk rantai lurus ataupun
bercabang. Polisakarida rasanya tawar (tidak manis), tidak seperti monosakarida
dan disakarida. Jenis polisakarida yaitu amilum, dekstrin, glikogen dan selulosa.
Amilum (zat pati), Beberapa sifat pati adalah mempunyai rasa yang tidak
manis, tidak larut dalam air dingin tetapi di dalam air panas dapat membentuk
sol atau jel yang bersifat kental. Sifat kekentalannya ini dapat digunakan
untuk mengatur tekstur makanan, dan sifat jel nya dapat diubah oleh gula atau
asam. Pati di dalam tanaman dapat merupakan energi cadangan; di dalam
biji-bijian pati terdapat dalam bentuk granula. Penguraian tidak sempurna
dari pati dapat menghasilkan dekstrin yaitu suatu bentuk oligosakarida.
Molekulnya lebih sederhana jika dibandingkan dengan tepung dan bersifat
mudah larut dalam air, mudah dicerna, sehingga baik untuk makanan bayi.
Pati dapat dihidrolisis dengan enzim amylase. Pati terdiri dari amilosa dan
amilopektin. Beras ketan amilosa (1- 2%), beras biasa amilosa > 2 %.
Dekstrin, merupakan zat antara dalam pemecahan amilum. Molekulnya lebih
sederhana, lebih mudah larut di dalam air, denganjodium akan berubah
menjadi wama merah.
Glikogen, terbentuk dari ikatan 1000 molekul, larut di dalam air (pati nabati
tidak larut dalam air) dan bila bereaksi dengan iodium akan menghasilkan
warna merah. Glikogen disimpan di dalam hati dan otot sebagai cadangan
energi, yang sewaktu-waktu dapat diubah kembali menjadi glukosa bila
dibutuhkan (Sediaoetama, 1989).
Selulosa dan hemiselulosa, merupakan serat-serat panjang yang bersama-
sama hemiselulosa, pektin, dan protein membentuk struktur jaringan yang
memperkuat dinding sel tanaman. Selulosa dengan amilosa berbeda pada
ikatan glukosidanya. CMC (carboxymethil cellulose) merupakan salah satu
contoh turunan selulosa yang digunakan pada pembuatan es krim untuk
memperbaiki tekstur dan kristal laktosa sehingga lebih halus. Selain itu CMC
digunakan pada Industri makanan untuk memperbaiki tekstur (Sediaoetama,
1989).
Polisakarida ini lebih sukar diuraikan dan mempunyai sifat-sifat yaitu
memberi bentuk atau struktur pada tanaman, tidak larut dalam air dingin maupun
air panas, tidak dapat dicerna oleh cairan pencernaan manusia sehingga tidak
menghasilkan energi, tetapi dapat membantu melancarkan pencernaan makanan,
dapat dipecah menjadi satuan-satuan glukosa oleh enzim dan mikroba tertentu.
Ikatan-ikatan selulosa yang panjang dapat membentuk kapas atau serat rami.
Selulosa dan hemiselulosa terdapat pada bagian-bagian yang keras dari biji kopi,
kulit kacang, buah-buahan dan sayuran (Sediaoetama, 1989).
Pektin dan Gum, pektin dibentuk oleh satuan-satuan gula dan asam
galakturonat dalam jumlah asam galakturonat yang lebih banyak. Pektin
biasanya terdapat di dalam buah-buahan dan sayur-sayuran terdapat di dalam
dinding sel primer tanaman, di antara dinding sel dan sel tanaman, disela-sela
selulosa dan hemiselulosa. Pektin sebagai perekat antara dinding sel yang satu
dengan yang lainnya. Pektin larut dalam air terutama air panas, sedangkan dalam
bentuk larutan pekat akan berbentuk pasta. Jika pektin di dalam larutan
ditambahkan gula dan asam maka akan terbentuk jel, dan prinsip ini digunakan
sebagai dasar pembuatan jeli dan selai. Pektin dan gum dapat ditambahkan ke
dalam makanan sebagai pengikat atau penstabil (Sediaoetama, 1989).
Kecepatan pengangkutan glukosa ke dalam sel otot dan lemak sangat
dipengaruhi oleh hormone insulin dan glucagon yang sebagian besar bertanggung
jawab untuk pengaturan gula darah. Hormon insulin disintesis dan disekresikan
oleh sel-sel pulau Langerhans pankreas. Kadar insulin akan rendah selama
periode puasa, dan meningkat dalam menanggapi kadar glukosa darah tinggi
seperti setelah makan (Wallymahmed et al., 2013). Sekresi insulin ini
berlangsung dalam dua rase, pada rase pertama kadar insulin melonjak tinggi
seketika. Hal ini terjadi 10 menit sesudah kenaikan kadar gula darah, dan
dimungkinkan karena ada simpanan insulin dalam granula. Kemudian terjadi rase
ke dua yang bersifat lambat, berlangsung selama lebih dari 10 menit sampai 2
jam. Dalam jam pertama sesudah makan, gula darah meningkat sampai 160
mg%, dan kemudian menurun kembali, sehingga 2 jam sesudah makan kadar
gula darah normal kembali, yakni 120 mg% (Fergus, 1995).
Insulin akan merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan dan kemudian
memecahnya menjadi energi, menyimpannya dalam bentuk glikogen dan
mengubahnya menjadi lemak. Dengan proses tersebut diatas, kadar gula darah
akan menurun dan kembali normal 2 sampai 2,5 jam sesudah makan. (Fergus,
1995). Hormon glukagon yang dihasilkan sel-sel pankreas untuk merespon
apabila kadar gula darah rendah, dan dihambat oleh level gula darah tinggi
(Wallymahmed et al., 2013). Glukagon akan rnenstimulasi sintesis glukosa dari
asam amino, rnenyebabkan terlepasnya glikogen dari hepar, yang akan
rneninggikan kadar gula darah. Jadi, aktifitas hormon insulin dan glukagon
berlawanan satu sama lain (Fergus, 1995).
Adanya insulin, kecepatan pengangkutan glukosa dapat meningkat sekitar
sepuluh kali lipat. Ketika kadar glukosa dalam darah tinggi, maka insulin akan
disekresikan oleh pankreas. Insulin akan merangsang sel otot dan lemak untuk
lebih permeabel terhadap glukosa. Insulin juga meningkatkan aktivitas enzim-
enzim yang berperan dalam proses glikogenesis di otot dan hati (Guyton dan
Hall, 2008).
Glukagon mempunyai efek yang berlawanan dengan insulin. Glukagon
mempunyai dua fungsi utama, yaitu berperan dalam proses glikogenolisis dan
gluconeogenesis. Glukagon mempunyai efek meningkatkan kadar glukosa dalam
darah (Guyton dan Hall, 2008). Ada juga hormon lain yang dapat rnernbantu
rneninggikan kadar gula darah, salah satu yang paling penting adalah epinefrin
(adrenalin) yang merangsang pernbebasan glukosa dari glikogen. Hormon
epinefrin ini akan disekresikan pada situasi dimana tubuh dalam keadaan stress
ataupun dalarn keadaan bahaya. Peningkatannya akan menaikkan kadar gula
darah (Sediaoetama, 1989).
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju penyerapan gula di dalam tubuh
antara lain:
a. Kompleksitas zat
Karbohidrat adalah salah satu bahan makanan utama yang diperlukan oleh
tubuh. Sebagian besar karbohidrat yang dikonsumsi terdapat dalam bentuk
polisakarida yang tidak dapat diserap secara langsung. Sehingga, karbohidrat
harus dipecah menjadi bentuk yang lebih sederhana untuk dapat diserap melalui
mukosa saluran pencernaan. Monosakarida akan lebih cepat diserap tubuh
dibandingkan disakarida dan polisakarida (Sherwood, 2012).
b. Stres dan hormon
Stres fisik maupun neurogenik, akan merangsang pelepasan ACTH
(adrenocorticotropic hormone) dari kelenjar hipofisis anterior. Selanjutnya,
ACTH akan merangsang kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon
adrenokortikoid, yaitu kortisol. Hormon kortisol ini kemudian akan
menyebabkan peningkatan kadar glukosa dalam darah (Guyton dan Hall, 2008).
Hormon ini meningkatkan katabolisme asam amino di hati dan merangsang
enzim-enzim kunci pada proses glukoneogenesis. Akibatnya, proses
glukoneogenesis meningkat (Murray, Granner, dan Rodwell, 2009). Selain itu,
stres juga merangsang kelenjar adrenal untuk menyekresikan epinefrin. Epinefrin
menyebabkan glikogenolisis di hati dan otot dengan menstimulasi enzim
fosforilase (Murray, Granner, dan Rodwell, 2009)
c. Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik mempengaruhi kadar glukosa dalam darah. Ketika aktivitas tubuh
tinggi, penggunaan glukosa oleh otot akan ikut meningkat. Sintesis glukosa
endogen akan ditingkatkan untuk menjaga agar kadar glukosa dalam darah tetap
seimbang. Pada keadaan normal, keadaan homeostasis ini dapat dicapai oleh
berbagai mekanisme dari sistem hormonal, saraf, dan regulasi glukosa
(Kronenberg et al., 2008).
Ketika tubuh tidak dapat mengkompensasi kebutuhan glukosa yang tinggi
akibat aktivitas fisik yang berlebihan, maka kadar glukosa tubuh akan menjadi
terlalu rendah (hipoglikemia). Sebaliknya, jika kadar glukosa darah melebihi
kemampuan tubuh untuk menyimpannya disertai dengan aktivitas fisik yang
kurang, maka kadar glukosa darah menjadi lebih tinggi dari normal
(hiperglikemia) (Kronenberg et al., 2008).
Mekanisme penyerapan gula terjadi ketika karbohidrat yang masuk ke
saluran cerna akan dihidrolisis oleh enzim pencernaan. Ketika makanan dikunyah
di dalam mulut, makanan tersebut bercampur dengan saliva yang mengandung
enzim ptialin (-amilase). Tepung (starch) akan dihidrolisis oleh enzim tersebut
menjadi disakarida maltosa dan polimer glukosa kecil lainnya (Guyton dan Hall,
2008). Sesampainya di lambung, enzim ptialin menjadi tidak aktif akibat suasana
lambung yang asam. Proses pencernaan ini akan dilanjutkan di usus halus yang
merupakan muara dari sekresi pankreas. Sekresi pankreas mengandung -amilase
yang lebih poten daripada -amilase saliva. Hampir semua karbohidrat telah
diubah menjadi maltosa dan polimer glukosa kecil lainnya sebelum melewati
duodenum atau jejunum bagian atas (Guyton dan Hall, 2008). Disakarida dan
polimer glukosa kecil ini kemudian dihidrolisis oleh enzim monosakaridase yang
terdapat pada vili enterosit usus halus. Proses ini terjadi ketika disakarida
berkontak dengan enterosit usus halus dan menghasilkan monosakarida yang
dapat diserap ke aliran darah (Guyton dan Hall, 2008). Kebanyakan karbohidrat
dalam makanan akan diserap ke dalam aliran darah dalam bentuk monosakarida
glukosa. Jenis gula lain akan diubah oleh hati menjadi glukosa (Murray, Granner,
dan Rodwell, 2009).
Kadar glukosa darah yang meningkat selama periode perioperatif sebagai
akibat dari respon neuroendokrin terhadap stres operasi. Glukosa yang tinggi
dalam periode perioperatif pada pasien nondiabetes dipengaruhi oleh beberapa
faktor. Faktor-faktor tersebut yaitu kadar glukosa pra operasi, riwayat keluarga
diabetes, dan jumlah kehilangan darah, administrasi darah, durasi bedah, jumlah
cairan, serta jenis kelamin (Tilak et al., 2013).
III. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa


kecepatan absorpsi gula pada hewan setelah mengkonsumsi karbohidrat berbeda-
beda. Hal ini tergantung pada larutan karbohidrat yang dikonsumsi. Karbohidrat
yang paling cepat diabsorpsi yaitu glukosa, maltosa, sukrosa, CMC kemudian pati.
DAFTAR REFERENSI

Sediaoetama, A.D., 1989. Ilmu Gizi, Jakarta: Dian Rakyat.


Fergus M. Clydesdale. 1995. Food Nutrition and Health, The A VI Publishing
Company Inc. WeStport, Connecticut
Guyton, A. C., & Hall, J. E. 2008. Buku Ajar Fisiologi kedokteran Edisi 11 (Irawati,
Dian Ramadhani, Fara Indriyani, Frans Dany, Imam Nuryanto, Srie Sisca
Prima Rianti, Titiek Resmisari & Y. Joko Suyono, Penerjemah). Jakarta:
EGC.
Murray, R. K., Granner, D. K., & Rodwell, V. W. 2009. Biokimia Harper. 27 ed.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Sherwood, Lauralee. 2012. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 6. Jakarta.
EGC.
Tilak, V., Catherine S., Alejandro F. C., & Manasee S. 2013. Factors Associated with
Increases in Glucose Levels in the Perioperative Period in Non-Diabetic
Patients. Open Journal of Anesthesiology, 3: 176-185.

Wallymahmed, M. 2013. Encouraging People With Diabetes To Get The Most From
Blood Glucose Monitoring: Observing and Acting Upon Blood Glucose
Patterns. Journal of Diabetes Nursing. 17(1), pp. 6-13.