Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kesehatan merupakan hal yang sangat penting
khususnya bagi ibu yang sedang hamil. Karena dalam kondisi yang seperti ini
kesehatan seorang ibu akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan janinnya.
Satu hal yang paling sering ditemui di dalam dunia kesehatan dimana seorang bayi
yang baru lahir akan tetapi bayi itu akan mengalami kesulitan dalam bernafas.
(Hidayat, Aziz Alimul.2005)
Penyakit saluran pernapasan merupakan salah satu penyebab kesakitan dan
kematian yang paling penting pada anak, terutama bayi, karena saluran napasnya
masih sempit dan daya tahan tubuhnya masih rendah. Salah satu parameter gangguan
saluran pernapasan adalah frekuensi dan pola pernapasan. Pada bayi baru lahir sering
kali terlihat pernapasan yang dangkal, cepat, dan tidak teratur iramanya akibat pusat
pengatur pernapasannya belum berkembang secara sempurna. Pada bayi prematur
gangguan pernapasan dapat disebabkan oleh kurang matangnya paru. Disamping
faktor organ pernapasan, keadaan pernapasan bayi dan anak juga di pengaruhi oleh
beberapa hal lain, seperti suhu tubuh yang tinggi, terdapatnya sakit perut, atau
lambung yang penuh. (Sibuea, 2007).
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas
secara spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir. (Hidayat, Aziz Alimul.2005)
Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis, bila
proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau
kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya.Asfiksia lahir
ditandai dengan hipoksemia (penurunan PaO2), hiperkarbia (peningkatan PaCO2),
dan asidosis (penurunan PH). (Saiffudin.2001).
Di Amerika Serikat pada tahun 1979 sampai 1990 terdapat 155 kematian ibu
akibat penyulit pada anestesi atau 3,8% dari 4097 kematian terkait kehamilan
(Curningham, 2006).
Di negara berkembang, sectio caesarea merupakan pilihan terakhir untuk
menyelamatkan ibu dan janin pada saat kehamilan dan atau persalinan kritis. Angka
kematian ibu karena sectio caesarea yang terjadi sebesar 15,6% dari 1.000 ibu dan
kejadian asfiksia sedang dan berat pada sectio caesarea sebesar 8,7% dari 1.000
kelahiran hidup sedangkan kematian neonatal dini sebesar 26,8% per 1.000 kelahiran
hidup.(Sibuea, 2007).
Angka kematian bayi secara keseluruhan di Indonesia mencapai 334 per
100.000 kelahiran hidup dan penyebab kematian terbesar adalah asfiksia (Mieke,
2006). Angka kematian bayi di Indonesia menurut survei demografi dan kesehatan
Indonesia mengalami penurunan dari 46 per 1000 kelahiran hidup (SKDI 1997)
menjadi 35 per 1000 kelahiran hidup (SKDI 2003). Sedangkan angka kematian ibu
mengalami penurunan dari 421 per 100.000 kelahiran hidup (SKDI 1992) menjadi 307
per 100.000 kelahiran hidup (SKDI 2003). Kematian pada masa perinatal yang
disebabkan karena asfiksia sebesar 28%.

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 1


Insiden asfiksia neonatorum di negara berkembang lebih tinggi daripada di
negara maju. Di negara berkembang, lebih kurang 4 juta bayi baru lahir menderita
asfiksia sedang atau berat, dari jumlah tersebut 20% diantaranya meninggal. Di
Indonesia angka kejadian asfiksia kurang lebih 40 per 1000 kelahiran hidup, secara
keseluruhan 110.000 neonatus meninggal setiap tahun karena asfiksia (Dewi dkk,
2005).
Dalm kasus asfiksia ini, peran perawat adalah bagaimana untuk memacu napas
klien untuk kembali normal. Memberikan terapi oksigen yang baik, memberikan
semangat kepada keluarga klien untuk berfikir positif dan mengurangi rasa cemas.
Pengawasan ini bertujuan menemukan sedini mungkin adanya kelainan yang dapat
mempengaruhi proses persalinan sehingga penanganannya dapat dilakukan dengan
baik. Pemilihan cara persalinan dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan demi
keselamatan ibu dan bayi, untuk ibu hamil preeklamsia cara persalinan yang sering
dilakukan adalah Sectio Caesarea. Sectio Caesarea dilakukan bila terjadi gawat janin
atau fetal distress pada kala I, terjadi ketuban pecah dini, kala II yang lama dan ibu
yang mengalami kejang (Wiknjosastro, 1999).
Pada sekarang ini, perkembangan ilmu kesehatan terutama dalam pengobatan
dan peralatan, sangatlah menunjang dalam pemulihan penyakit. Terutama penyakit
yang ada dalam pembahasan makalah ini. Begitu juga dengan petugas kesehatan, baik
dokter, perawat, ahli gizi dan lain-lain telah banyak membantu dalam pencapaian
kesehatan masyarakat yang optimal, baik dalam segi perawatan maupun dalam segi
pengobatannya. Pada asfiksia neonatorum yang paling baik dan tepat, terutama dalam
segi keperawatannya sangatlah membantu dalam penyembuhan klien. (Wiknjosastro,
1999).
Oleh karena itu dalam makalah ini dijelaskan mengenai penyakit asfiksia
neonatorum. Penyakit ini merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh berbagai
faktor seperti faktor ibu, faktor placenta, faktor featus dan faktor neonatus, sehingga
menyebabkan bayi sulit untuk bernafas secara spontan. Setiap penyakit mempunyai
gambaran klinik tersendiri terutama pada tanda dan gejala, pengobatan serta
perawatannya.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu mendapatkan gambaran secara umum tentang asuhan
keperawatan klien dengan asfiksia neonatorum.
2. Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu melakukan Pengkajian perawatan pada By. Ny p
dengan kasus Asfiksia.
Mahasiswa mampu melakukan pengelompokan data pada By. Ny p
dengan kasus Asfiksia.
Mahasiswa mampu melakukan Diagnosa keperawatan pada By. Ny p
dengan kasus Asfiksia.
Mahasiswa mampu melakukan Perencanaan keperawatan pada By. Ny p
dengan kasus Asfiksia.

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 2


Mahasiswa mampu melakukan Pelaksanaan tindakan keperawatan pada
By. Ny p dengan kasus Asfiksa.
Mahasiswa mampu melakukan Evaluasi keperawatan pada By. Ny p
dengan kasus Asfiksia.
C. Manfaat Penulisan
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui gambaran secara umum tentang asfiksia.
2. Agar mahasiswa dapat mengetahui rencana asuhan keperawatan asfiksia.

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 3


BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi Asfiksia
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernapas
secara spontan dan teratur setelah melahirkan. (Rahman.2000)
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan
dan teratur, sehingga dapat meurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang
menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut. (Manuaba, 1998)
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas
secara spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir. (Hidayat, Aziz Alimul.2005)
Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis, bila
proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau
kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya.Asfiksia lahir
ditandai dengan hipoksemia (penurunan PaO2), hiperkarbia (peningkatan PaCO2),
dan asidosis (penurunan PH). (FKUI.2007)

B. Etiologi Asfiksia
Asfiksia janin atau neonatus akan terjadi jika terdapat gangguan pertukaran
gas atau pengangkutan O2 dari ibu ke janin. Gangguan ini dapat timbul pada masa
kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir. karena itu penilaian janin selama
kehamilan dan persalinan. memegang peran penting untuk keselamatan bayi atau
kelangsungan hidup yang sempurna tanpa gejala sisa.
Menurut M. Rachman (2000), pengolongan penyebab kegagalan pernafasan
pada bayi terdiri dari:
1. Faktor Ibu
Hipoksia ibu. Terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetika
atau anestesia dalam. Hal ini akan menimbulkan hipoksia janin.
Gangguan aliran darah uterus. Mengurangnya aliran darah pada uterus akan
menyebabkan berkurangnya pengaliran oksigen ke plasenta dan kejanin. Hal
ini sering ditemukan pada :Ganguan kontraksi uterus, misalnya hipertoni,
hipotoni atau tetani uterus akibat penyakit atau obat.
Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan.
Hipertensi pada penyakit akiomsia dan lain-lain.
2. Faktor plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi
plasenta.asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada
plasenta, misalnya solusio plasenta, perdarahan plasenta, plasenta previa dan lain-
lain.
3. Faktor featus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam
pcmbuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin.
Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan : tali pusat menumbung,
tali pusat melilit leher kompresi tali pusat antar janin dan jalan lahir dan lain-lain.
4. Faktor Neonatus
Depresi pusat pernapasan pada bayi baru lahir dapat terjadi karena:

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 4


Pemakaian obat anestesia/analgetika yang berlebihan pada ibu secara
langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernafasan janin.
Trauma yang terjadi pada persalinan, misalnya pendarahan intrakranial.
Kelainan konginental pada bayi, misalnya hernia diafrakmatika
atresia/stenosis saluran pernafasan, hipoplasia paru dan lain-lain.
C. Klasifikasi Asfiksia
Menurut M. Rahman (2000), Asfiksia dapat di klasifikasikan berdasarkan skor
APGAR, yaitu:
Klinis 0 1 2
Detak jantung Tidak ada < 100 x/menit >100x/menit
Pernafasan Tidak ada Tak teratur Tangis kuat
Refleks saat jalan Tidak ada Menyeringai Batuk/bersin
nafas dibersihkan
Tonus otot Lunglai Fleksi ekstrimitas Fleksi kuat
(lemah) gerak aktif
Warna kulit Biru pucat Tubuh merah Merah seluruh
ekstrimitas biru tubuh

Nilai 0-3 : Asfiksia berat


Nilai 4-6 : Asfiksia sedang
Nilai 7-10 : Normal
A=Appearance (penampakan) perhatikan warna tubuh bayi.
P=Pulse(denyut) Dengarkan denyut jantung bayi dengan stetoskop atau
palpasi denyut jantung dengan jari.
G=Grimace(seringai) gosok berulang-ulang dasar tumit kedua tumit kaki
bayi dengan jari. perhatikan reaksi pada mukanya. Atau perhatikan reaksi
ketika lender pada mukanya. Atau perhatikan reaksi ketika lender dari mulut
dan tenggorokan di hisap.
A=Activity. Perhatikan cara bayi baru lahir menggerakan kaki dan tanganya
atau tarik salah satu tangan/kakinya.Perhatikan bagaimana kedua tangan dan
kakinya bergerak sebagai reaksi terhadap rangsangan tersebut.
R=Respiratori.(Pernapasan). Perhatikan dada dan abdomen bayi. Perhatikan
pernapasannya.
Dilakukan pemantauan pada nilai apgar pada menit ke-1 dan menit ke-5, bila
nilai apgar 5 menit masih kurang dari 7 penilaian dilanjutkan tiap 5 menit sampai skor
mencapai 7. Nilai apgar berguna untuk menilai keberhasilan resusitasi bayi baru lahir
dan menentukan prognosis, bukan untuk memulai resusitasi karena resusitasinya di
mulai 30 detik setelah lahir bila bayi tidak menangis. ( bukan 1 menit seperti penilaian
skor apgar). ( FKUI, 2007)
Atas dasar pengalaman klinis, Asfikia Neonaiorum dapat dibagi dalam :
1. Asfiksia Ringan (Vigorous baby') skor apgar 7-10, dalam hal ini bayi dianggap
sehat dan tidak memerkikan istimewa.
2. Asfiksia Sedang (Mild-moderate asphyxia) skor apgar 4-6 pada pemeriksaan fisis
akan terlihat frekuensi jantung lebih dari lOOx/menit, tonus otot kurang baik atau
baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 5


3. Asfiksia berat: skor apgar 0-3. Pada pemeriksaan fisis ditemukan frekuensi
jantung kurang dari l00x/menit, tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang-
kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada Asfiksia berat dengan henti jantung yaitu
keadaan :
Bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir
lengkap.
Bunyi jantung bayi menghilang post partum
D. Patofisiologi Asfiksia
Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbullah rangsangan
terhadap nervus vagus sehingga denyut jantung janin (DJJ) menjadi lambat. Jika
kekurangan O2 terus berlangsung maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi,
timbullah kini rangsangan dari nervus simpatikus, sehingga DJJ menjadi lebih cepat
dan akhirnya ireguler dan menghilang. Janin akan mengadakan pernapasan intra uterin
dan bila kita periksa kemudian terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru.
Bronkus tersumbat dan terjadi atelektasis. Bila janin lahir, alveoli tidak berkembang.
Apabila asfiksia berlajut, gerakan pernapasan akan ganti, denyut jantung akan
menurun sedangkan tonus neuromuskuler berkurang secara berangsur-angsur, dan
bayi memasuki periode apnea primer. Jika berlanjut, bayi akan menunjukkan
pernapasan yang dalam denyut jantung terus menurun. Tekanan darah bayi juga
menurun dan bayi akan terlihat lemas. Pernapasan makin lama makin lemah sampai
bayi memasuki periode apnea skunder.
E. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis pada bayi setelah lahir menurut Nelson (1997) adalah
sebagai berikut :
1. Bayi pucat dan kebiru-biruan
2. Usaha bernafas minimal atau tidak ada
3. Hipoksia
4. Asidosis metabolik atau respiratori
5. Perubahan fungsi jantung
6. Kegagalan sistem multiorgan
7. Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologik : kejang,
nistagmus, dan menangis kurang baik/ tidak menangis.
F. Penatalaksanaan Medis
Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut dengan Resusitasi
Bayi Baru Lahir. Tindakan Resusitasi mengikuti tahapan yang dikenal dengan ABC-
resusitasi :
1. Memastikan saluran napas terbuka :
Meletakan bayi dalam posisi yang benar
Menghisap mulut, hidung, kalu perlu trakea
Bila perlu masukan Et untuk memastikan napas terbuka
2. Memulai pernapasan :
Lakukan rangsangan taktil
Bila perlu lakukan ventilasi tekanan positif
Mempertahankann sirkulasi darah
Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada
atau bila perlu menggunakan obat-obatan.

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 6


G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Analisa gas darah (PH kurang dari 7.20)
2. Penilaian APGAR score meliputi warna kulit, frekuensi jantung, usaha nafas,
tonus otot dan reflek
3. Pemeriksaan EEG dan CT-Scan jika sudah tumbuh komplikasi
4. Pengkajian spesifik
5. Elektrolit garam
6. USG
7. gula darah.
8. PH tali pusat : tingkat 7,20 sampai 7,24 menunjukkan status parasidosis, tingkat
rendah menunjukkan asfiksia bermakna.
9. Hemoglobin/ hematokrit (HB/ Ht) : kadar Hb 15-20 gr dan Ht 43%-61%.
10. Tes combs langsung pada daerah tali pusat. Menentukan adanya kompleks
antigen-antibodi pada membran sel darah merah.

H. Pencegahan
Pencegahan asfiksia pada bayi baru lahir dilakukan melalui upaya
pengenalan/penanganan sedini mungkin, misalnya dengan memantau secara baik
dan teratur denyut jantung bayi selama proses persalinan, mengatur posisi tubuh
untuk memberi rasa nyaman bagi ibu dan mencegah gangguan sirkulasi utero-
plasenter terhadap bayi, teknik meneran dan bernapas yang menguntungkan bagi ibu
dan bayi. Bila terjadi asfiksia, dilakukan upaya untuk menjaga agar tubuh bayi tetap
hangat, menempatkan bayi dalam posisi yang tepat, penghisapan lendir secara benar,
memberikan rangsangan taktil dan melakukan pernapasan buatan (bila perlu).
Berbagai upaya tersebut dilakukan untuk mencegah asfiksia, memberikan
pertolongan secara tepat dan adekuat bila terjadi asfiksia dan mencegah hipotermia.
(Hidayat, Aziz Alimul.(2005)
Paradigma baru (aktif) yang disebutkan sebelumnya, terbukti dapat mencegah
atau mengurangi komplikasi yang sering terjadi. Hal ini memberi manfaat yang nyata
dan mampu membantu upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir.
Karena sebagian besar persalinan di Indonesia terjadi di desa atau di fasilitas
pelayanan kesehatan dasar dimana tingkat keterampilan petugas dan sarana
kesehatan sangat terbatas maka paradigma aktif menjadi sangat strategis bila dapat
diterapkan pada tingkat tersebut. Jika semua penolong persalinan dilatih agar
kompeten untuk melakukan upaya pencegahan atau deteksi dini secara aktif terhadap
berbagai komplikasi yang mungkin terjadi, memberikan pertolongan secara adekuat
dan tepat waktu, dan melakukan upaya rujukan segera dimana ibu masih dalam
kondisi yang optimal maka semua upaya tersebut dapat secara bermakna
menurunkan jumlah kesakitan atau kematian ibu dan bayi baru lahir.
I. Komplikasi
Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatus antara lain:
1. Edema otak dan perdarahan otak
Pada penderita asfiksia dengan gangguan fungsi jantung yang telah
berlarut sehingga terjadi renjatan neonatus, sehingga aliran darah ke otak pun
akan menurun, keadaan ini akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang
berakibat terjadinya edema otak, hal ini juga dapat menimbulkan pendarahan
otak. (Hidayat, Aziz Alimul.(2005)

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 7


2. Anuria dan Oliguria
Disfungsi jaringan jantung dapat pula terjadi pada penderita asfiksia,
keadaan ini dikenal dengan istilah disfungsi miokardium pada saat terjadinya,
yang disertai dengan perubahan sirkulasi. Pada keadaan ini curah jantung akan
lebih banyak mengalir keorgan seperti mesentrium dan ginjal. Hal inilah yang
menyebabkan pengeluaran urine sedikit.
3. Kejang
Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan pertukaran
gas dan transport O2 hal ini dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena
perfusi jaringan tak efektif.
4. Koma
Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan
menyebabkan koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan
pada otak.

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 8


BAB III
ASUHAN KEPEAWATAN TEORITIS

A. Pengkajian
Pengkajian yang dilakukan terhadap klien adalah sebagai berikut:
1. Identitas klien/bayi dan keluarga.
2. Diagnosa medik yang ditegakkan saat klien masuk rumah sakit.
3. Alasan klien/bayi masuk ruang perinatologi.
4. Riwayat kesehatan klien/bayi saat ini.
5. Riwayat kehamilan ibu dan persalinan ibu.
6. Riwayat kelahiran klien/bayi.
7. Pengukuran nilai apgar score, Bila nilainya 0-3 asfiksia berat, bila nilainya 4-6
asfiksia sedang.
8. Pengkajian dasar data neonatus:
a. Sirkulasi
Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/mnt. Tekanan darah 60
sampai 80 mmHg (sistolik), 40 sampai 45 mmHg (diastolik).
Bunyi jantung, lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat
di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/ IV.
Murmur biasa terjadi di selama beberapa jam pertama kehidupan.
Tali pusat putih dan bergelatin, mengandung 2 arteri dan 1 vena.
b. Eliminasi
Dapat berkemih saat lahir.
c. Makanan/ cairan
Berat badan : 2500-4000 gram
Panjang badan : 44-45 cm
Turgor kulit elastis (bervariasi sesuai gestasi)
d. Neurosensori
Tonus otot : fleksi hipertonik dari semua ekstremitas.
Sadar dan aktif mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit
pertama setelah kelahiran (periode pertama reaktivitas). Penampilan
asimetris (molding, edema, hematoma).
Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi menunjukkan
abnormalitas genetik, hipoglikemi atau efek narkotik yang memanjang).
e. Pernafasan
Skor APGAR : 1 menit......5 menit....... skor optimal harus antara 7-10.
Rentang dari 30-60 permenit, pola periodik dapat terlihat.
Bunyi nafas bilateral, kadang-kadang krekels umum pada awalnya silindrik
thorak : kartilago xifoid menonjol, umum terjadi.
f. Keamanan
Suhu rentang dari 36,5 C sampai 37,5 C. Ada verniks (jumlah dan distribusi
tergantung pada usia gestasi).
Kulit : lembut, fleksibel, pengelupasan tangan/ kaki dapat terlihat, warna
merah muda atau kemerahan, mungkin belang-belang menunjukkan memar
minor (misal : kelahiran dengan forseps), atau perubahan warna herlequin,
petekie pada kepala/ wajah (dapat menunjukkan peningkatan tekanan
berkenaan dengan kelahiran atau tanda nukhal), bercak portwine, nevi

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 9


telengiektasis (kelopak mata, antara alis mata, atau pada nukhal) atau bercak
mongolia (terutama punggung bawah dan bokong) dapat terlihat. Abrasi kulit
kepala mungkin ada (penempatan elektroda internal).

B. Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan napas tidak efektif
2. Gangguan pemenuhan O2
3. Kerusakan pertukaran gas
4. Hipotermi
5. Resiko tinggi infeksi
6. Ansietas

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 10


TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK


PADA By. Ny P DENGAN ASFIKSIA BERAT
DI RUANG PERISTI RSUD KEBUMEN

Tanggal pengkajian : 7 Februari 2013


Nama pengkaji : Windra, Umiati, Heni, Rian
Ruang : Peristi
Waktu pengkajian : Jam 07.30 WIB
A. IDENTITAS
1. Identitas Klien
Nama : By Ny. Partiyah
Tanggal lahir : 6 Februari 2013, jam 23.45 WIB
Umur : 0 hari 7 3/4 jam
Jenis kelamin : Laki-laki
BB : 2750 gram
PB/TB : 48 cm
Alamat : Kalirancang 3/2 Alian
Agama : Islam
Pendidikan :--
Suku bangsa : Jawa
Tanggal masuk : 6 Februari 2013
No. RM : 851755
Diagnosa Medik : Asfiksia berat
2. Identitas penanggung jawab :
Nama : Ny. T
Umur : 60 thn
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Kalirancang RT/RW 3/2 Alian
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Petani
Hubungan dengan klien : Nenek bayi

B. RIWAYAT KEPERAWATAN
1. Keluhan utama
Bayi lahir post SC dengan sesak nafas
2. Riwayat penyakit sekarang
Bayi baru lahir post SC dengan indikasi gagal vakum 1x, bayi di vakum 1x15 menit
kemudian gagal. 1 jam sebelum lahir direncanakan SC, bayi lahir secara SC, jenis kelamin
laki-laki, bayi tidak langsung nangis, nafas tidak spontan, BB 2750 gram, PB: 48cm, Apgar
skor : 3-4-5, tonus otot lemah, bayi pucat, air ketuban hijau. Hasil TTV : Nadi : 105 x/m, RR
: 46 x/m, S : 350C. Pada jam 23.46 bayi dapat bernafas spontan, jam 00.00 bayi dibawa ke
peristi, jam 00.05 di cek TTV( Nadi : 140x/m, RR : 80x/m), bayi mengalami sianosis, tonus
otot sangat lemah, bayi agak pucat.

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 11


Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 7 februari 2013 jam 07.30 WIB keadaan bayi masih
lemah, tonus otot lemah, agak sianosis, bayi menangis. Hasil TTV( N : 148x/m, S : 35,50C,
RR : 55x/m).
3. Riwayat penyakit dahulu
Tidak terkaji
4. Riwayat penyakit keluarga
Di dalam keluarga tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit menurun dan menular seperti
HIV, hepatitis, TBC, DM, HT.
5. Riwayat kehamilan
G1 P0 A0, umur kehamilan 38 minggu lebih 4 hari, ANC: 9x, presentasi kepala
6. Riwayat persalinan
Bayi baru lahir post SC a/i gagal vakum 1x, bayi di vakum 1x15 menit kemudian gagal. 1
jam sebelum lahir direncanakan SC, bayi lahir secara SC, bayi tidak langsung nangis, nafas
tidak spontan, air ketuban hijau, APGAR Score: 1-2-3.

APGAR score 1 Menit 5 Menit 10 Menit


1. Appearance/ 0 0 1
warna kulit
2. Pulse / Nadi 1 1 1
3. Grimace 0 0 0
4. Respiratory 0 1 1
5. Activity/ tonus 0 0 0
otot
TOTAL 1 2 3

7. Riwayat imunisasi
Belum mendapat imunisasi Hbo dan lainnya
8. Genogram
Tidak terkaji
9. Kebutuhan cairan
Bayi usia 0 hari, rumus: 100ml/BB(kg) /hari atau 120-140ml/kg BB/hari
Jadi kebutuhannya 100ml/2,75kg/hari=275ml/hari atau 120/2,75kg/hari=330ml/hari.
140ml/2,75kg/hari=385ml/hari, jadi kebutuhannya 330-385ml/hari.
10. Kebutuhan kalori
Bayi usia 0 hari, rumus: 80-90kkal/kgBB/hari
= 80x2.75kg =220kkal/hari
= 90x2,75kg =247,5kkal/hari
Jadi kebutuhan kalorinya 220-247,5kkal/hari

C. PENGKAJIAN FUNGSIONAL (GORDON)


1. Pola persepsi Manajemen Kesehatan
Jika ada keluarga yang sakit maka langsung di bawa ke mantri/ bidan terdekat.
2. Pola Nutrisi/Metabolik
Diit ditunda
3. Pola Eliminasi
bayi sudah BAK 3x bau khas, warna kuning jernih dan BAB 1x mekoniumwarna hijau
kehitaman

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 12


4. Pola Aktivitas dan Latihan
bayi belum bergerak aktif disebabkan tonus otot masih lemah , gerakannya masih lemah
5. Pola Tidur/Istirahat
bayi tidur selama 5jam dan terbangun menangis jika BAB/BAK atau sebab lain yang
mengganggu kenyamanan bayi
6. Pola Persepsi Kognitif
tidak terkaji
7. Pola Konsep Diri
tidak terkaji
8. Pola Peran dan Hubungan
Bayi adalah anak pertama yang kelahirannya sangat diharapkan oleh kedua orang tuanya dan
keluarga lain, hubungan dengan ibunya kurang karena harus terpisah dengan ibunya
sementara waktu untuk menjalani perawatan di ruang peristi.
9. Pola Seksualitas/Reproduksi
Alat reproduksi lengkap yaitu antara testis dan penis ada dan sudah terbentuk alat kelamin
yang sempurna, tidak ada kelainan pada lubang saluran urinnya, dapat BAK tanpa kesulitan
dan kesakitan.
10. Pola Koping dan Toleransi Stress
bayi selalu menangis jika merasa tidak nyaman
11. Pola Nilai dan Kepercayaan
Setelah bayi lahir di adzani, bayi beragama islam sama dengan orang tuanya.

D. PEMERIKSAAN FISIK
1. TTV : S: 35,50C, N: 148x/menit, RR: 55x/menit
2. Keadaan umum : lemah
3. Antropometri : BB: 2750 gram, PB: 48cm, LILA: 11cm, LK: 32cm,LD:31cm
4. Kepala :Mesocepal, tampak bekas luka di kaput ektrasi, ubun-ubun/fontanel
anterior dan pesterior belum menutup
5. Mata :simetris, sklera tak ikterik, konjungtiva tak anemis, tidak ada kotoran
yang melekat di mata
6. Telinga : simetris, tidak ada serumen, tidak ada kelainan bentuk telinga
7. Mulut : mukosa bibir agak kering, tidak ada labio palatoschizis, agak sianosis
8. Hidung : simetris, tidak ada polip, tidak ada sekret
9. Leher :tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan tidak ada peningkatan vena
jugulasis
10. Dada
Jantung
a. Inspeksi : tampak retraksi dinding dada interkostalis dan suprasternalis
b. Perkusi : bunyi pekak
c. Palpasi : tidak teraba ictus cordis, tidak ada nyeri tekan
d. Auskultasi : S1-S2 Reguler, tidak ada bunyi tambahan

Paru
a. Inspeksi : expansi dada tidak optimal
b. Perkusi : terdengar bunyi sonor
c. Palpasi : fokal fremitus seimbang antara kanan dan kiri

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 13


d. Auskultasi : bunyi vesikuler, ada bunyi nafas tambahan ronkhi.
11. Abdomen
a. Inspeksi : tali pusat masih basah, perut cembung, agak sianosis
b. Auskultasi : peristaltik 12 x/mnt
a. Atas : lengkap kedua tangan, untuk bergerak masih lemah, tidak ada kelainan
bentuk tangan
b. Bawah :lengkap kedua kaki, untuk bergerak masih lemah, masih pucat, akral
dingin
c. Perkusi : tympani
d. Palpasi : tidak teraba pembesaran hepar
12. Punggung : simetris
13. Kulit : elastis, akral dingin, terlihat sianosis
14. Ekstermitas

15. Genetalia : alat kelamin yaitu antara kedua testis dan penis sudah terbentuk
sempurna, tidak ada kelainan pada anatomi fisiologinya.
16. Anus : Berlubang, tidak ada kecacatan, sudah dilakukan colok dubur

E. REFLEK
1. Moro : (+) masih lemah
2. Roothing : (+) masih lemah
3. Walking : (+) masih lemah
4. Grosping : (+) masih lemah
5. Sucking : (+) masih lemah
6. Tonick neck : (+) masih lemah
7. Swallowing : (+) masih lemah

F. ELIMINASI
1. Miksi : (+) kuning jernih
2. Mekonium : (+) hijau kehitaman

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 14


G. HASIL KOLABORASI
1. IVFD RL 10 tpm mikro
2. Inj. Vit K 1mg
3. Inj. Hepatitis B0
4. inj. ampicilin 2x140 mg
5. Erlamicetin salep mata
6. O2 headbox 10 L/mnt

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan darah lengkap pada tanggal 7 Februari 2013, jam 00:59:09 WIB.

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal


Parameters
WBC 26,19 (10^3/uL) M: 4,8-10,8 F: 4,8-10,8
RBC 4,19 (10^6/uL) M: 4,7-6,1 F: 4,2-5,4
HGB 14,8 (g/dl) M: 14-18 F: 12-16
HCT 44,6 (%) M: 42-52 F: 37-47
MCV 106,4 (fl) 79,0-99,0
MCH 35,3 (pg) 27,0-31,0
MCHC 33,2 (g/dl) 33,0-37,0
PLT 287 (10^3/uL) 150-450
RDW-CV 16,1 + (%) 11,5-14,5
RDW-SD 61,9 + (fl) 35-47
PDW 8,7 - (fl) 9,0-13,0
MPV 8,6 (fl) 7,2-11,1
P-LCR 14,2 (%) 15,0-25,0
DIFFERENTIAL
NEUT# 10,54 (10^3/uL) 1,8-8
LYMPH# 13,64 (10^3/uL) 0,9-5,2
MONO# 1,73 (10^3/uL) 0,16-1
EO# 0,19 (10^3/uL) 0,045-0,44
BASO# 0,09 (10^3/uL) 0-0,2
NEUT% 40,3 (%) 50-70
LYMPH% 52,1 (%) 25-40
MONO% 6,6 (%) 2-8
EO% 0,7 (%) 2-4
BASO% 0,3 (%) 0-1

Pemeriksaan kimia darah pada tanggal 7 Februari 2013


Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
GDS 188 Mgr% 70-120

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 15


I. ANALISA DATA
tgl/jam DATA ETIOLOGI PROBLEM
7/2/2013 DS : - Penumpukan sekret Bersihan jalan nafas
Jam DO: tidak efektif
07.40 - Terlihat sianosis
- Ada bunyi ronkhi pada auskultasi
paru
- RR : 55x/mnt
7/2/2013 DS : - Terpajan hipotermia
Jam DO : lingkungan dingin
07.40 - S : 35,5OC
- Terlihat pucat, agak sianosis
- Akral teraba dingin
7/2/2013 DS : - Prosedur invasif Resiko infeksi
Jam DO:
07.40 - WBC : 26.19 10^3/uL
- tampak bekas luka di kaput ektrasi
- tali pusat masih basah
- terpasang infus umbilikal

J. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Bersihan jalan nafas tidak efektif
2. Hipotermi
3. Resiko infeksi

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 16


K. RENCANA KEPERAWATAN
Tgl/jam No.DP Tujuan dan KH ( NOC) Intervensi ( NIC ) TTD
7/2/2013 1 Setelah di lakukan tindakan- Cek dan observasi KU
Jam keperawatan danTTV
07.45 selama 1x15 menit di- Atur posisi untuk
harapkan bersihan jalan memaksimalkan
nafas efektif dengan KH : ventilasi
- Tidak ada secret - Lakukan pengisapan
- Tidak sianosis menggunakan suction
- Tidak ada bunyi tambahan - Beri oksigen sesuai
- RR dapat dipertahankan 30 program
60 x/mnt
- Dapat menangis keras
- Tak tampak retraksi dinding
dada
7/2/2013 2 Setelah di lakukan tindakan- Cek dan observasi KU
Jam keperawatan selama 3x24 danTTV
07.45 jam di harapkan hipotermi- Selimuti bayi dan
teratasi dengan KH : gunakan tutup kepala
- Suhu tubuh bayi normal 36-- Gunakan pakaian
37OC hangat dan kering
- Akral hangat - Tempatkan bayi dalam
- Tidak sianosis incubator
- Tidak pucat - Pelihara suhu
lingkungan stabil
- cek dan pantau suhu
7/2/2013 3 Setelah di lakukan tindakan- Cek dan observasi KU
Jam keperawatan selama 3x24 danTTV
07.45 jam di harapkan resiko- Pantau tanda dan
infeksi tidak terjadi dengan gejala infeksi
KH : - Cuci tangan sesudah
- Tidak di temukan tanda- dan sebelum
tanda infeksi melakukan tindakan
- Suhu tubuh normal - Gunakan teknik
- Leukosit turun atau aseptic dan antiseptic
normal(4,8-10,8) - Kolaborasi pemberian
antibiotik
- Pantau hasil
lab(WBC)

L. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Tgl/jam No.DX Implementasi Respon TTD

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 17


7/2/2013
08.00 1,2,3 - Mengobservasi KU dan
- KU lemah, TTV : S: 35,70C
mengecek TTV N: 125x/m, RR:47x/m.
- Lendir dihisap sampai
1 - Melakukan suction bersih dantidak ada suara
tambahan
- Terapi headbox 10L x/mnt
08.30 1 - Melanjutkankan terapi lancar
headbox - Bayi dibedong, dikepala
2 - Mengganti popok, tertutup kain, tersorot lampu
membedong dengan kain yang untuk kehangatan tubuhnya
kering, menutupi kepala didalam inkubatotor
dengan kain kering, tetap
menempatkan bayi didalam
inkubator dan memberikan
lampu penghangat untuk
kehangatan bayi
- Memelihara suhu ruangan - Suhu ruangan inkubator
dan lingkugan tetap stabil 29,8 0C
09.00 2 - Memantau tanda dan gejala - Tidak ada tanda-tanda
infeksi infeksi yang muncul
3 - Memberikan terapi injeksi - Injeksi ampicillin 140mg
amicillin 140mg dengan masuk dan bayi tidak
3 mencuci tangan sebelum dan menangis saat disuntik
sesudah melakukan tindakan
- Memberikan imunisasi Hbo - Imunisasi Hbo masuk
diawali dengan cuci tangan
dan diakhiri dengan cuci
10.00 3 tangan

- Mengukur TTV -
N : 128 x/m, S : 35,80C, RR
: 45 x/m
- Mengukur dan memantau KU - KU: lemah
11.00 2,3 - Mengukur TTV
- S : 36,20C, N: 114x/m, RR
14.00 2,3 - Mengganti popok dan bedong : 45 x/m
- Bayi dibedong dan diganti
16.00 2,3 - Mengobservasi KU bayi popok dengan kain yang
diganti
2,3 - Mengganti popok dan bedong
- KU : lemah

- Memberikan terapi injeksi


- Popok dan bedong bayi
21.00 1,2,3 ampicillin 140 mg sudah diganti dengan kain
yag kering
2,3 - Injeksi ampicillin 140 mg
masuk dan bayi menangis
- Mengukur TTV saat disuntik

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 18


22.00 3
- Menyeka bayi dan merawat
tali pusat - S : 35,50C, RR : 37 x/m, N :
86 x/m
8/2/2013 - Bayi menangis saat
04.00 2,3 - Mengobservasi KU disekah, tali pusat bersih
- Mengganti popok dan bedong tetapi masih basah
05.00 3 - KU : Lemah
- Memberikan inj. Ampicilin- Bayi terpakai popok dan
140 mg bedong dengan kain kering
- Mengukur TTV - Injeksi ampicillin 140 mg
07.00 1,2,3 - S: 35,80C, N: 100 x/mnt,
2,3 - Mengobservasi KU RR: 40 x/mnt
- Memberikan minum- KU lemah
pengganti asi - Minum 5 cc gumoh 2x
10.00 3

11.00 2,3 - Mengukur TTV


-S: 36,2 0C, N: 125 x/mnt.
13.30 2,3 - Memberikan minum RR: 36 x/mnt
14.30 - Memasang NGT - 5 cc gumoh lagi
- NGT terpsang, residu 1cc
- Memberi minum lendir
- Mengobservasi KU - 5cc masuk lewat NGT
16.00 2,3 - Memberikan inj. Ampicilin
- KU lemah
140 mg - Inj. Ampicilin 140 mg
17.30 - Memberikan minum dan masuk
19.00 mengecek residu - Minum 15 cc, residu 1cc

20.30
21.00 2,3 - Memberikan minum dan
- Minum 5cc, residu 1cc
22.00 3 mengecek residu
- Mengukur TTV - S : 36,40c, N : 140 x/m, RR
: 48 x/m
23.30 - Menyeka bayi, dressing - Bayi bersih
infus, dan merawat tali pusat
9/2/2013 - Memberi minum dan
02.30 mengecek residu - 5c masuk lewat NGT,
residu 0,8cc
04.00 2,3
04.30
05.30 2

07.00 2,3 - Mengobservasi KU - KU lemah, menangis


10.00 2,3 - Mengganti popok - BAK
10.30 2,3 - Mengukur TTV

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 19


- S: 37OC, N: 139 x/mnt, RR:
14.00 2,3 - Mengobservasi KU 36 x/mnt
15.00 2,3 - Mengganti popok - KU lemah
16.00 2,3 - Mengukur TTV - BAB dan BAK
- S:36,9OC, N:140 x/mnt.
21.00 2,3 - Mengobservasi KU RR: 45 x/mnt
- KU lemah, kembung,
gumoh

M. EVALUASI KEPERAWATAN
Tgl/jam No.DP SOAP TTD
7/2/2013 1,2,3 S:-
Jam 14.00 O:
- Masih agak terlihat sianosis, pucat, akral agak teraba
dingin
- KU : Lemah, bayi menangis keras
- N : 128 x/m, S : 35,8 0C, RR : 45 x/m
A: masalah bersihan jalan nafas teratasi sebagian,
hipotermi, resiko infeksi teratasi sementara ditandai
dengan suhu meningkat menjadi 35,8 0 C, masih sianosis
P : pertahankan intervensi sampai tercapai kriteria hasil
- Pantau KU dan TTV
- Berikan terapi injeksi dan lanjutkan terapi oksigen sesuai
program
- Pantau tanda-tanda infeksi

7/2/2013 2,3 S:-


Jam 21.00 O:
- KU : Lemah
- S : 36,2 0 c, N : 114 x/m, RR : 45 x/m.
- Tidak sianosis, pucat berkurang, akral masih hangat
- Tidak ada tanda-tanda infeksi
A : hipotermi teratasi sementara, resiko infeksi teratasi
sementara
P : pertahankan intervensi memberikan kehangatan
8/2/2013 2,3 S:-
Jam 07.00 O:
- Masih pucat, sianosis
- Akral teraba dingin, S : 35,10C, N : 86 x/m, RR : 37 x/m
- KU : Lemah

A : hipotermi, resiko infeksi teratasi sementara


P : pertahankan intervensi
- Monitor KU dan TTV
- Selimuti bayi dan gunakan tutup kepala

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 20


- Gunakan pakaian hangat dan kering
- Tempatkan bayi dalam incubator
- Pelihara suhu lingkungan/Inkubator stabil
- Cuci tangan sesudah dan sebelum melakukan tindakan

S:-
O:
Jam 14.00 2,3 - Tidak terlihat pucat, tidak sianosis, akral dingin
- S : 35,70C, N : 139 x/m, RR : 36x/m
- KU : Lemah
- Minum ditunda
- Tidak ada tanda-tanda klinis infeksi
A : hipotermi, resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh,
resiko infeksi
P : pertahankan dan lanjutkan intervensi
- Monitor KU dan TTV
- Selimuti bayi dan gunakan tutup kepala
- Gunakan pakaian hangat dan kering
- Pelihara suhu lingkungan/Inkubator stabil
- Pantau tanda-tanda infeksi
- Cuci tangan sesudah dan sebelum melakukan tindakan

S:-
O:
- Tidak terlihat pucat, tidak sianosis, akral hangat
Jam 21.00 2,3 - Akral teraba dingin, S : 36,90C, N : 140 x/m, RR : 45x/m,
terpasang NGT karena selalu gumoh jika diberi minum
- KU : Lemah
- Tidak ada tanda-tanda klinis infeksi
A : hipotermi, resiko infeksi, resiko nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
P : pertahankan intervensi
- Monitor KU dan TTV
- Pantau tanda-tanda dan gejala infeksi
- Cuci tangan sesudah dan sebelum melakukan tindakan

9/2/2013 2,3 S :-
Jam 07.00 O:
- Tidak terlihat adanya tanda dan gejala infeksi
- Tidak tampak sianosis, akral hangat, tidak pucat
- S : 36,40c, N : 140 x/m, RR : 48 x/m
- Terpasang NGT
- Injeksi mpicillin 140mg masuk
- KU : masih lemah, bayi menangis
- Tali pusat mulai kering

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 21


A : hipotermi, resiko infeksi teratasi, resiko nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh
P : pertahankan intervensi
- Monitor TTV
- Pantau tanda dan gejala infeksi
- Cuci tangan sesudah dan sebelum melakukan tindakan
- Lanjutkan terapi program injeksi

S :-
Jam 14.00 2,3 O:
- Tidak terlihat adanya tanda dan gejala infeksi
- Tidak tampak sianosis, akral hangat, tidak pucat
- S : 36,10c, N : 125 x/m, RR : 50x/m
- KU : masih lemah, bayi menangis
- Residu 2 cc
- Minum 15cc
- Tali pusat mulai kering
A : hipotermi, resiko infeksi,masalah baru : resiko nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh belum teratasi
P : pertahankan intervensi
- Monitor TTV dan KU
- Pantau tanda dan gejala infeksi
- Cuci tangan sesudah dan sebelum melakukan tindakan
- Lanjutkan terapi program injeksi
- Pantau minum dan residunya
- Jaga kehangatan

S :-
O:
Jam 21.00 1,2,3 - Tidak terlihat adanya tanda dan gejala infeksi
- Tidak tampak sianosis, akral hangat, tidak pucat
- S : 36,70c, N : 136 x/m, RR : 42x/m
- KU : masih lemah
- Terpasang NGT
- Residu 0,4 cc
- Minum 30 cc
- Tali pusat kering
A : hipotermi, resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
belum teratasi, resiko infeksi teratasi
P : pertahankan intervensi
- Monitor TTV dan KU
- Pantau tanda dan gejala infeksi
- Cuci tangan sesudah dan sebelum melakukan tindakan
- Lanjutkan terapi program injeksi
- Pantau minum dan residunya
- Jaga kehangatan

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 22


BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN
Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis, bila
proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau
kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya.Asfiksia lahir
ditandai dengan hipoksemia (penurunan PaO2), hiperkarbia (peningkatan PaCO2),
dan asidosis (penurunan PH).
Asfiksia di bagi menjadi 3 jenis, yaitu Nilai 0-3 : Asfiksia berat Nilai 4-6 :
Asfiksia sedang Nilai 7-10 : Normal
Asfiksia janin atau neonatus akan terjadi jika terdapat gangguan pertukaran
gas atau pengangkutan O2 dari ibu ke janin. Gangguan ini dapat timbul pada masa
kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir. karena itu penilaian janin selama
kehamilan dan persalinan. memegang peran penting untuk keselamatan bayi atau
kelangsungan hidup yang sempurna tanpa gejala sisa.
Pencegahan asfiksia pada bayi baru lahir dilakukan melalui upaya
pengenalan/penanganan sedini mungkin, misalnya dengan memantau secara baik dan
teratur denyut jantung bayi selama proses persalinan, mengatur posisi tubuh untuk
memberi rasa nyaman bagi ibu dan mencegah gangguan sirkulasi utero-plasenter
terhadap bayi, teknik meneran dan bernapas yang menguntungkan bagi ibu dan bayi.
Bila terjadi asfiksia, dilakukan upaya untuk menjaga agar tubuh bayi tetap hangat,
menempatkan bayi dalam posisi yang tepat, penghisapan lendir secara benar,
memberikan rangsangan taktil dan melakukan pernapasan buatan (bila perlu).
B. SARAN
Mahasiswa keperawatan hendaknya dapat menerapkan asuhan keperawatan
yang telah didapatkan secara teoritis yang telah disajikan dalam penulisan kasus ini
dan mampu memberikan informasi kepada masyarakat mengenai penyakit asfiksia
dengan mengadakan suatu penyuluhan atau pendidikan kesehatan.

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 23


Daftar pustaka
Nanda, NIC dan NOC. 2002 Buku saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9
Jakarta :EGC
Rahman.2000. Buku pintar kesehatan anak. Jakarta : EGC
Manuaba, 1998. Ilmu Kebidanan, penyakit Kandungan dan KB. EGC. Jakarta.
Hidayat, Aziz Alimul.2005. keterampilan dasar praktik klinik kebidanan.
Jakarta : Salemba Medaika.
FKUI.2007. pelatihan asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Jaringan Nasional
Pelatihan Klinik.

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia | 24