Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS KASUS

KONSEP BIOETIK DALAM KEPERAWATAN


Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Etika Keperawatan

Kelas : I.C

Kelompok : 6

Disusun Oleh:

1. Muhamad Malik : 34403515080


2. Nur Hasanah : 34403515094
3. Nyimas Kwartianti S.N : 34403515095
4. Putri Mulyasari : 34403515098
5. Riri Amrila : 34403515107

PEMERINTAH KABUPATEN CIANJUR

AKADEMI KEPERAWATAN

Jln. Pasir Gede Raya No. 19 Telp. (0263) 267206 Fax. 270953 Cianjur 43216

2015 2016
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
nikmat dan kasih sayangNya kepada kami karena hanya dengan izinNya lah
kami dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Etika
Keperawatan.
Shalawat dan salam semoga tetap tecurah limpahkan kepada nabi kita Nabi
Muhammad SAW. Dan juga tercurah pula kepada keluarganya, sahabatnya dan
kepada kita sebagai umatnya.
Alhamdulillah, tugas ini bisa selesai sesuai dengan apa yang di harapkan.
Kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun, guna sebagai
pembenahan dalam penyusunan tugas yang lebih baik. Semoga tugas ini bisa
bermanfaat bagi kita semua.

Cianjur, April 2016

Penyusun
A. Prinsip Etik dalam Keperawatan
Prinsip Moral yang sering di gunakan dalam keperawatan (Johnstone, 1989,
Baird et,all 1991)
1. Autonomi (Otonomi)
Autonomi berarti kemampuan untuk menentukan sendiri atau
mengatur diri sendiri, berarti menghargai manusia sehingga
memperlakukan mereka sebagai seseorang yang mempunyai harga diri dan
martabat serta mampu menentukan sesuatu bagi dirinya. Melibatkan
pasien dalam membuat keputusan yang berhubungan dengan Asuhan
Keperawatan
Beberapa tindakan yang tidak mempertahankan otonomi
Melakukan tindakan tanpa informasi sebelumnya.
Melakukan sesuatu tanpa informasi yang relevan yang penting di
ketahui pasien dalam membuat suatu pilihan.
Tidak memmberikan referensi yang lengkap walaupun pasien
menghendaki informasi tersebut.
Memaksa pasien memberi informasi.

Tugas perawat berkaitan dengan upaya menghargai otonomi adalah :

1. Membantu dan membangkitkan kemampuan pasien dalam mengambil


keputusan
2. Mengsupport hak pasien Informed Concend
3. Arahan yang sifatnya Advance
4. Dukungan keputusan pasien yang baik

Hambatan Pelaksanaan Otonomi Pasien

Perawat/tim bukan profesional


Perawat/tim dominan dalam mengambil keputusan
Pasien tidak tahu haknya.
2. Beneficience (berbuat baik)
Prinsip untuk melakukan yang baik dan tidak merugikan orang lain
(kemurahan hati). Prinsip kemurahan hati adalah :
Menghilangkan kondisi-kondisi yang sangat merugikan
Mencegah kerugian/kerusakan/kesalahan.
Berbuat baik.

3. Justice (keadilan)
Prinsip moral untuk berlaku adil bagi semua individu. Setiap individu
mendapat tindakan yang sama/konstribusi yang sama
Agar Justice tetap dilaksanakan, perlu :
1. Kontrak dengan klien
2. Kebutuhan individu
3. Upaya/usaha individu
4. Kemapuan membayar pasien
5. Konstribusi sosial.

4. Confidentiality (kerahasiaan)
Upaya merahasiakan informasi yang sifatnya rahasia bagi pasien untuk
menjaga privasi pasien. Misal : Data Pasien . Menghindarkan diri
mendiskusikan kondisi pasien dengan orang yang tidak terkait.

5. Veracity (kejujuran)
Merupakan suatu kewajiban untuk mengatakan yang sebenarnya atau
untuk tidak membohongi orang lain/pasien :
Kebenaran adalah hal yang sangat fundamental dalam membangun
hubungan dengan orang lain. Informasi tidak menyenangkan membuat
depresi & ketakutan. oleh karena itu seorang Perawat mempersiapkan
dengan baik untuk mengantisipasi reaksi pasien. Pasien yang mengalami
kanker pun ingin diberitahukan yang sebenarnya tentang kondisinya.
( Yeatch Dalam Baird 1991 )
6. Nonmalefisience (tidak merugikan)
Menekankan kewajiban perawat untuk menghargai kehidupan manusia,
tidak membunuh atau mengakhiri kehidupan.
- Bila Kewajiban perawat melakukan hal-hal yang menguntungkan bagi
pasien (Beneficience) haruslah perawat membantu pasien mengatasi
penderitaannya atau mempercepat kematian.
- Perawat menghargai eksistensi kemanusiaan, mempunyai konsekwensi
untuk melindungi dan mempertahankan kehidupan dengan berbagai
cara.

7. Fidelity (menepati janji)


Menjelaskan kewajiban perawat untuk tetap setia pada komitmennya.
Kewajiban mempertahankan hubungan saling percaya antara perawat dan
pasien yaitu, menepati janji, menyimpan rahasia, dan caring.
Caring sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan diri.

8. Akuntabilitas
Akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa tindakan seorang
profesional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa
terkecuali.

B. Kasus Keenam

Ny. D seorang ibu rumah tangga, umur 35 tahun , mempunyai 2 orang anak
yang berumur 6 tahun dan 4 tahun. Ny. D berpendidikan SMA, dan suami Ny.
D bekerja sebagai sopir angkutan umum. Saat ini Ny. D dirawat di ruang
kandungan RS, sejak 2 hari yang lalu.sesuai hasil pemeriksaan, Ny. D positif
menderita kanker Rahim Grade III , dan dokter merencanakan klien harus di
operasi , untuk dilakukan operasi pengangkatan kangker Rahim, karena tidak
ada tindakan lain yang dapat dilakukan. Semua pemeriksaan telah dilakukan
untuk persiapan operasi Ny. D klien tampak hanya diam, cemas dan bingung
dengan rencana operasi yang akan dijalaninya. Pada saat ingin
meninggalkan ruangan dokter memberitahu perawat kalau Ny. D atau
keluarganya bertanya, sampaikan operasi adalah jalan terakhir..

Dan jangan dijelaskan tentang apapun, tunggu saya yang akan


menjelaskannya. Menjelang hari operasinya klien berusaha bertanya
kepada perawat ruangan yang merawatnya,yaitu : apakah saya masih bisa
pnya anak setelah ooperasi nanti. Karena kami masih ingin punya anak.
apakah masih ada pengobatan yang lain selain operasi dan apakah
operasi saya bisa diundur dulu suster.

Dari beberapa pertanyaan tersebut perawat ruangan hanya menjawab


secara singkat, ibu, kan sudah diberitahu dokter bawa ibu harus perasi,
penyakit ibu hanya bisa dengan operasi, tidak ada jalan lain, yang jelas ibu
tidak akan bisa punya anak lagi.., bila ibu tidak puas dengan jawaban
saya, ibu tanyakan langsung dengan dokternya..ya.

Sehari sebelum operasi klien berunding dengan suaminya dan


memutuskan menolak operasi dengan alas an, klien dan suami masih ingin
punya anak lagi.

C. Pembahasan Kasus

Levine Ariff dan Gron


1. Mengidentifikasi dilema:
Pasien menderita penyakit kanker rahim grade III. Pasien sudah
memeriksakannya ke dokter kandungan kemudian dokter membarikan
keputusan untuk dioperasi, tidak ada jalan lain lagi selain dioperasi.
Tetapi, dokter tidak menjelaskan akibat yang ditimbulkan dari operasi
tersebut. Dokter juga meminta perawat untuk tidak menjelaskan akibat
yang ditimbulkan dari operasi kepada pasien.
Pasien bingung untuk mengambil keputusan sehingga menjelang hari
operasi pasien menanyakan akibat yang ditimbulkan dari operasi dan
apakah tidak ada jalan lain selain operasi. Kemudian perawat menjawab
secara singkat dan membuat klien menjadi semakin ragu, bingung, dilema,
dan takut. Kemudian, klien berunding dengan suaminya dan memutuskan
untuk menolak tindakan operasi dengan alasan masih ingin mempunyai
anak.
2. Mengidentifikasi faktor-faktor pemberi layanan
Dokter:
Dokter tidak secara langsung menjelaskan akibat yang ditimbulkan dari
operasi tersebut dan alternatif yang bisa dilakukan selain operasi. Hal itu
menyebabkan ketidaktahuan klien tentang informasi akibat dari operasi
dan tindakan lainnya selain operasi. Dalam hal ini dokter melanggar
prinsip etik nonmalefisiensi (tidak merugikan)
Perawat:
Dalam pelaksanaan tugasnya perawat kurang memperhatikan perasaan
pasien walaupun, perawat melaksanakan prinsip untuk menyampaikan
informasi yang sejujur-jujurnya tetapi, membuat pasien berubah pikiran
untuk tidak melaksanakan operasi karena pasien takut tidak memiliki anak
lagi. Jika perawat tetap tetap memaksakan pasien untuk operasi maka,
perawat telah melanggar prinsip etik autonomi untuk menghargai hak-hak
pasien dan melakukan sesuatu tanpa memberi informasi relevan yang
penting diketahui pasien dalam membuat suatu pilihan.
3. Mengidentifikasi faktor-faktor bukan pemberi layanan
- Pasien dan keluarga
Suami pasien tidak mendukung isterinya untuk menyembuhkan
penyakitnya melalui operasi tetapi malah mempertahankan
keinginannya untuk mempunyai anak.
- Faktor-faktor eksternal
Status ekonomi pasien sebagai ibu rumah tangga dan suaminya sebagai
supir angkot tidak memungkinkan untuk dapat membayar operasi dan
dapat memberatkan pasien.
4. Pikirkan faktor-faktor tersebut satu per satu
Dari faktor diatas dapat disimpulkan bahwa pasien dan keluarga
mengalami dilema etik untuk menjalani operasi atau tidak karena faktor
biaya dan faktor ingin mempunyi anak.
5. Identifikasi item-item kebutuhan sesuai klarifikasi
Item yang dibutuhkan pasien yaitu kebutuhan finansial, pengobatan, dan
pengetahuan selain dari kebutuhan pokok menurut hirarki Abraham
Maslow.
6. Identifikasi pengambilan keputusan
Menurut kami, keputusan yang diambil pasien kurang tepat karena jika
tidak dilaksanakan operasi akan berdampak buruk pada kesehatan pasien.
Seharusnya perawat dapat membujuk dan meminta kepada dokter untuk
menjelskan kepada pasien bahwa jalan terbaik yang harus diambil adalah
operasi.
7. Kaji ulang pokok-pokok dari prinsip-prinsip etik
Pasien telah mengambil keputusan untuk tidak melaksanakan operasi
dalam hal ini perawat melanggar prinsip autonomi keperawatan yaitu
melakukan sesuatu tanpa memberi informasi yang relevan yang penting
diketahui pasien dalam membuat suatu pilihan tapi, perawat pun telah
menghargai hak klien untuk menolak tindakan medis dan melaksanakan
prinsip untuk memberikan informasi yang sejujur-jujurnya kepada pasien.
8. Tentukan alternatif-alternatif
Konsultasikan kepada dokter untuk memberikan arahan atau penjelasan
tentang penyakit pasien dan memberikan alternatif lain selain operasi.
9. Menindaklanjuti
Menunggu keputusan dari dokter akankah dilaksanakan operasi atau tidak,
kembali kepada prinsip etika tentang autonomi yaitu menghargai hak
pasien.
DAFTAR PUSTAKA