Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

1. KONSEP KEBUTUHAN OKSIGENASI


1.1 DEFINISI
Oksigenasi adalah proses penambahan oksigen dengan
konsentrasi yang lebih besar daripada udara ruang untuk mencegah
hipoksemia. Oksigen merupakan gas tidak berwarna dan tidak
berbau yang sangat dibutuhkan dalam proses metabolisme sel(Rita,
2009).
Oksigen adalah satu komponen gas dan unsur vital dalam
proses metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup
seluruh sel-sel tubuh. Secara normal elemen ini diperoleh dengan
cara menghirup oksigen setiap kali bernafas (wartonah, 2006).
Oksigen merupakan kebutuhan dasar paling vital dalam
kehidupan manusia, dalam tubuh, oksigen berperan penting dalam
proses metabolisme sel tubuh. Kekurangan oksigen bisa
menyebabkan hal yang berarti bagi tubuh, apabila lebih dari 4 menit
orang tidak mendapatkan oksigen maka akan berakibat pada
kerusakan otak jika tidak cepat diperbaiki akan berakibat pada
kematian. Oleh karena itu, berbagai upaya perlu dilakukan untuk
menjamin pemenuhan kebutuhan oksigen tersebut, agar terpenuhi
dengan baik. Dalam pelaksanaannya pemenuhan kebutuhan oksigen
merupakan garapan perawat tersendiri, oleh karena itu setiap
perawat harus paham dengan manifestasi tingkat peenuhan oksigen
pada kliennya serta mampu mengatasi berbagai masalah yang terkait
dengan pemenuhan kebutuhan tersebut.
Dalam melakukan pemberian terapi oksigen, terdapat dua
teknik yang digunakan yaitu
a. Sistem aliran rendah :
Kateter nasal : aliran 1 6 L/mnt, konsentrasi O2
24 44%. Keuntungan kateter nasal adalah
Pemberian O2 stabil, klien bebas bergerak, makan
dan berbicara, murah dan nyaman serta dapat
juga dipakai sebagai kateter penghisap. Kerugian
pada kateter nasal adalah tidak dapat memberikan
konsentrasi O2 yang lebih dari 45%, tehnik
memasuk kateter nasal lebih sulit dari pada
kanula nasal, dapat terjadi distensi lambung,
dapat terjadi iritasi selaput lendir nasofaring,
aliran dengan lebih dari 6 L/mnt dapat
menyebabkan nyeri sinus dan mengeringkan
mukosa hidung, kateter mudah tersumbat.
Nasal kanul : aliran 1 - 6 L/mnt, konsentrasi O2
24 44%. Keuntungan Pemberian O2 stabil
dengan volume tidal dan laju pernafasan teratur,
mudah memasukkan kanul disbanding kateter,
klien bebas makan, bergerak, berbicara, lebih
mudah ditolerir klien dan nyaman. Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi O2 lebih
dari 44%, suplai O2 berkurang bila klien bernafas
lewat mulut, mudah lepas karena kedalam kanul
hanya 1 cm, mengiritasi selaput lendir.
Masker sederhana : aliran 5 8 L/mnt,
konsentrasi O2 40 - 60%. Keuntungan
Konsentrasi O2 yang diberikan lebih tinggi dari
kateter atau kanula nasal, system humidifikasi
dapat ditingkatkan melalui pemilihan sungkup
berlobang besar, dapat digunakan dalam
pemberian terapi aerosol. Kerugian Tidak dapat
memberikan konsentrasi O2 kurang dari 40%,
dapat menyebabkan penumpukan CO2 jika aliran
rendah.
Masker rebreathing : aliran 8 12 L/mnt,
konsentrasi O2 60 80%. Keuntungan
Konsentrasi O2 lebih tinggi dari sungkup muka
sederhana, tidak mengeringkan selaput lendir
Kerugian Tidak dapat memberikan O2
konsentrasi rendah, jika aliran lebih rendah dapat
menyebabkan penumpukan CO2, kantong O2 bisa
terlipat.
Masker non-rebreathing : aliran 8 12 L/mnt,
konsentrasi O2 s/d 99%. Keuntungan Konsentrasi
O2 yang diperoleh dapat mencapi 100%, tidak
mengeringkan selaput lendir. Kerugian Kantong
O2 bisa terlipat.
b. Sistem aliran tinggi
Suatu teknik pemberian O2 diaman Fi O2 lebih stabil dan
tidak dipengaruhi oleh tipe pernafasan, sehingga dengan
teknik ini dapat menambahkan konsentrasi O2 yang lebih
tepat dan teratur. Contoh dari teknik ini adalah masker
dengan ventury. Prinsip pemberian O2 dengan alat ini
yaitu gas yang dialirkan dari tabung akan menuju
sungkup yang kemudia akan dihimpit untuk mengatur
suplai O2 sehingga tercipta tekanan negatif, akibatnya
udara luar dapat dihisap dan aliran udara yang dihasilkan
lebih banyak. Aliran udara pada alat ini sekitar 4 14
L/mnt dengan konsentrasi 30 50%. Keuntungan
konsentrasi O2 yang diberikan konstan sesuai dengan
petunjuk pada alat dan tidak dipengaruhi perubahan pola
nafas terhadap FiO2 , suhu dan kelembaban gas dapat
dikontrol serta tidak terjadi penumpukan CO2. Kerugian
sistem ini pada umumnya hampir sama dengan masker
muka yang lain pada aliran rendah.

1.2 ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PERNAFASAN


Stuktur pernafasan terdiri dari
1.2.1 Sistem pernafasan atas
Sistem pernafasan atas terdiri dari mulut, hidung,
faring dan laring. Udara yang melewati hidung akan
mengalami penyaringan humidifikasi dan penghangatan.
Pada faring, faring merupakan saluran yang terbagi dua,
yaitu untuk udara yang masuk dan untuk makanan. Faring
terdiri atas nasofaring dan orofaring yang kaya akan jaringan
limfoid yang berfungsi menangkap dan menghancurkan
kuman patogen yang masuk bersama udara. Laring
merupakan struktur yang merupakan tulang rawan yang
biasa disebut jakun. Selain berperan sebagai penghasil suara,
laring juga berfungsi mempertahankan kepatenan dan
melindungi jalan nafas bawah dari air dan makanan yang
masuk.
1.2.2 Sistem Pernafasan Bawah
Sistem pernafasan bawah terdiri atas trakhea dan
paru-paru yang dilengkapi bronkus, bronkiolus, alveolus,
jaringan kapiler paru dan pleura. Trakea merupakan pipa
membran yang dikosongkan oleh cincin kartilago yang
menghubungkan laring dan bronkus utama kanan dan kiri.
Paru-paru ada dua buah terletak disebelah kanan dan kiri.
Masing-masing paru terdiri atas beberapa lobus (paru kanan
3 lobus dan paru kiri 2 lobus) dan udara yang dipasok
kesetiap lobus oleh satu bronkus. Jaringan-jaringan paru
sendiri terdiri atas serangkaian jalan nafas yang bercabang-
cabang, yaitu alveolus, pembuluh darah paru, dan jaringan
ikat elastik. Permukaan paru-paru dilapisi oleh dua lapis
pleura. Pleura parietal membatasi torak dan permukaan
diafragma, sedangkan pleura viseral membatasi permukaan
luar paru. Diantara kedua lapisan tersebut terdapat cairan
pleura yang berfungsi sebagai pelumas guna mencegah friksi
selama bernafas.
Peristiwa bernafas terdiri dari 2 bagian yaitu :
a. Menghirup udara (inspirasi)
Inspirasi adalah terjadinya aliran udara dari
sekeliling masuk melalui saluran pernafasan sampai
keparu-paru. Proses inspirasi : volume rongga dada
membesar dan tekanan rongga dada menurun.
b. Menghembuskan udara (ekspirasi)
Pada proses ini tidak banyak menggunakan tenaga,
karena ekspirasi adalah suatu gerakan pasif yaitu terjadi
relaksasi ott-otot pernafasan. Proses ekspirasi : volume
rongga dada menurun, tekanan rongga dada membesar.
Berdasarkan tempatnya proses pernafasan terbagi menjadi
dua, yaitu :
a. Pernafasan eksternal
Pernafasan eksternal (pernafasan pulmoner)
mengacu pada keseluruhan proses pertukaran O2 dan
CO2 antara lingkungan dan eksternal dan sel tubuh.
Secara umum proses ini berlangsung dalam tiga langkah
yaitu :
1. Ventilasi pulmoner
Saat bernafas, udara bergantian keluar masuk
paru melalui proses ventilasi sehingga terjadi
pertukaran gas antara lingkungan eksternal dan
elveolus. Proses ventilasi ini dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu jalan nafas bersih, sistem
saraf pusat dan sistem pernafasan yang utuh,
rongga toraks yang mampu mengembang dan
berkontraksi secara baik, serta komplians paru
yang adekuat.
2. Pertukaran gas alveolar
Setelah oksigen masuk ke alveolar, proses-
proses pernafasan berikutnya adalah difusi
oksigen dari alveolus ke pembuluh darah
pulmoner. Difusi adalah pergerakan molekul dari
area berkonsentrasi atau bertekanan tinggi kearea
berkonsentrasi atau bertekanan rendah. Proses ini
berlangsung di alveolus dan membran kapiler,
dan dipengaruhi oleh ketebalan membran serta
perbedaan tekanan gas.
3. Transpor oksigen dan karbon dioksida
Tahap ketiga pada proses pernafasan adalah
transpor gas-gas pernafasan. Pada proses ini,
oksigen diangkut dari paru menuju jaringan dan
karbon dioksida diangkut dari jaringan kembali
menuju paru.
b. Pernafasan internal
Pernafasan internal (pernafasan jaringan) mengacu
pada proses metabolisme intra sel yang berlangsung
dalam mitokondria, yang menggunakan oksigen dan
menghasilkan karbon dioksida selama proses
penyerapan energi molekul protein. Pada proses ini darah
yang banyak mengandung oksigen dibwa keseluruh
tubuh hingga mencapai kapiler sistemik. Selanjutnya
terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida antara
kapiler sistemik dan sel jaringan. Seperti dikapiler paru,
pertukaran ini juga melalui proses difusi pasif mengikuti
penurunan gradien tekanan parsial.

1.3 ETIOLOGI
1.3.1 Faktor Fisiologi
a. Menurunnya kemampuan mengikat oksigen seperti pada
anemia.
b. Menurunnya konsentrasi oksigen yang diinspirasi seperti pada
obstruksi saluran pernafasan bagian atas.
c. Hipovolemia sehingga tekanan darah menurun yang
berdampak pada terganggunya suplai oksigen.
d. Meningkatnya metabolisme seperti adanya infeksi, demam,
luka, dll.
e. Kondisi yang mempengaruhi pergerakan dinding dada pada
kehamilan, obesitas, muskulus skeletal yang abnormal,
penyakit kronis seperti TB paru.
1.3.2 Faktor perilaku
a. Nutrisi, misalnya gizi yang buruk menjadi anemia sehingga
daya ikat oksigen berkurang
b. Exercise, exercise akan meningkatkan kebutuhan oksigen
c. Merokok, dalam rokok memiliki kandungan nikotin yang
dapat menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah perifer dan
koroner
d. Alkohol, alkohol dapat menyebabkan depresi pusat pernafasan
e. Kecemasan dapat menyebabkan metabolisme meningat

1.4 FISIOLOGI PERUBAHAN FUNGSI PERNAFASAN


1.4.1 Hiperventilasi
Merupakan upaya tubuh dalam meningkatkan jumlah
oksigen paru-paru agar pernafasan lebih cepat dan dalam.
Hiperventilasi dapat disebabkan oleh kecemasan, infeksi,
keracunan, obat-obatan, keseimbangan asam-basa seperti asidosis
metabolik. Tanda-tanda hiperventilasi adalah takikardi, nafas
pendek, nyeri dada, menurunnya konsentrasi, disorientasi, dan
tinnitus.
1.4.2 Hipoventilasi
Terjadi ketika ventilasi alveolar tidak adekuat untuk memenuhi
kebutuhan oksigen tubuh atau untuk mengeluarkan karbondioksida
dengan baik. Biasa terjadi pada pasien dengan atelektasis (kolaps
paru). Tanda dan gejala dari hipoventilasi adalah nyeri kepala,
penurunan kesadaran, disorientasi, ketidak seimbangan elektrolit.
1.4.3 Hipoksia
Tidak adekutanya pemenuhan oksigen seluler akibat dari defisiensi
oksigen yang diinspirasi atau meningkatnya penggunaan oksigen
pada tingkat seluler. Hipoksia dapat disebabkan oleh menurunnya
hemoglobin, kerusakan gangguan ventilasi, menurunnya perfusi
jaringan seperti pada syok, berkurangnya konsentrasi oksigen jika
berada dipuncak gunung. Tanda dari hipoksia adalah kelelahan,
kecemasan menurunnya kemampuan konsentrasi, nadi meningkat,
pernafasan cepat dan dalam, sianosis, serta sesak nafas.
1.5 FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN
1.5.1 Patologi
a. Penyakit pernafasan menahun
b. Infeksi, fibrosis kritik, influenza
c. Penyakit sistem saraf (sindrom guillain barre, sklerosis, mutipel
miastania gravis)
d. Depresi SSP / trauma kepala
e. Cedera serebrovaskular
1.5.2 Maturasional
a. Bayi prematur yang disebabkan kurangnya pembentukan
surfaktan
b. Anak usia sekolah dan remaja memiliki resiko infeksi saluran
pernafasan dan merokok
c. Dewasa muda dan pertengahan kemungkinan mengalami diet
yang kurang sehat, kurang aktifitas, stress yang mengakibatkan
penyakit jantung dan paru-paru.
d. Dewasa tua, pada fase ini terjadi proses penuaan yang
mengakibatkan kemungkinan arterios klerosis, elastisitas
menurun, ekspansi paru menurun
1.5.3 Situasional (personal, lingkungan)
a. Berhubungan dengan mobilitas sekunder akibat : pembedahan
atau trauma, nyeri, ansietas, keletihan.
b. Berhubungan dengan kelembaban lingkungan yang sangat tinggi
atau kelembaban rendah
c. Berhubungan dengan menghilangnya mekanisme pembersihan
siliar, respon inflamasi, dan peningkatan pembentukan lendir
sekunder akibat rokok, pernafasan mulut.
2. Rencana Asuhan Klien dengan gangguan kebutuhan oksigenasi
2.1 Riwayat Keperawatan
a. Masalah keperawatan yang pernah dialami
Pernah mengalami perubahan pola pernafasan
Pernah mengalami batuk dengan sputum
Pernah mengalami nyeri dada
Aktivitas apa saja yang menyebabkan terjadinya gejala-
gejala diatas.
b. Riwayat penyakit pernafasan
Apakah sering mengalami ISPA , alergi, batuk, asma, TBC,
dan lain-lain ?
Bagaimana frekuensi setiap kejadian
c. Riwayat kardiovaskular
Pernah mengalami penyakit jantung (gagal jantung, gagal
ventrikel kanan, dll) atau peredaran darah.

d. Gaya hidup
Merokok, keluarga perokok, lingkungan kerja dengan
perokok.

2.2 Pemeriksaan Fisik : Data Fokus


a. Mata
Konjungtiva pucat (karena anemia)
Konjungtiva sianosis (karena hipoksemia)
Konjungtiva terdapat pethechia (karena emboli lemak atau
endokarditis)
b. Kulit
Sianosis perifer (vasokontriksi dan menurunnya aliran darah
perifer)
Penurunan turgor (dehidrasi)
Edema
Edema periorbital
c. Jari dan kuku
Sianosis
Clubbing finger
d. Mulut dan bibir
Membran mukosa sianosis
Bernafas dengan mengerutkan mulut
e. Hidung
Bernafas dengan cuping hidung
f. Vena leher
Adanya distensi / bendungan
g. Dada
Retraksi otot bantu pernafasan (karena peningkatan aktivitas
pernafasan, dispnea, obstruksi jalan nafas)
Pergerakan dada tidak simetris antara dada kiri dan dada
kanan.
Tactil fremitus, thrills (getaran pada dada karena udara/suara
melewati saluran/rongga pernafasan.
Suara nafas normal (vesikuler, bronkovesikuler, bronkial)
Suara nafas tidak normal (crekler/rales, ronkhi, whezzing,
friction rub/pleural friction)
Bunyi perkusi ( resonan, hipersonan, dullness)
h. Pola pernafasan
Pernafasan normal (eupnea)
Pernafasan cepat (tacypnea)
Pernafasan lambat (bradypnea)
2.3 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan untuk
mengetahui adanya gangguan oksigenasi yaitu:
a. Pemeriksaan fungsi paru
Untuk mengetahui kemampuan paru dalam melakukan
pertukaran gas secara efisien
b. Pemeriksaan gas darah arteri
Untuk memberikan gambaran informasi tentang difusi gas
melalui membran kapiler alveolar dan keadekuatan oksigenasi
c. Oksimetri
Untuk mengukur saturasi oksigen kapiler
d. Pemeriksaan sinar X dada
Untuk pemeriksaan adanya cairan, massa, fraktur, dan proses-
proses abnormal
e. Bronkoskopi
Untuk memperoleh sampel biopsy dan cairan atau sampel
sputum/benda asing yang menghambat jalan nafas
f. Endoskopi
Untuk melihat lokasi kerusakan dan adanya lesi
g. Fluoroskopi
Untuk mengetahui mekanisme radiopulmonal, misal: kerja
jantung dan kontraksi paru.
h. CT-SCAN
Untuk mengetahui adanya massa abnormal

2.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL


Diagnosa 1 : ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d peningkatan
sputum ditandai dengan batuk produktif
2.2.1 Definisi
Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi
saluran nafas guna mempertahankan jalan nafas yang bersih
2.2.2 Batasan Karakteristik
Subjektif : dispnea
Objektif : suara nafas tambahan, perubahan pada irama dan
frekuensi pernafasan, batuk tidak adanatau tidak efektif, sianosis,
kesulitan untuk berbicara, penurunan suara nafas, ortopnea,
gelisah, sputum berlebihan, mata terbelalak.
2.2.3 Faktor Yang Berhubungan
Lingkungan: merokok, menghisap asap rokok, dan perokok pasif
Obstruksi jalan nafas: spasme jalan nafas, retensi sekret, mukus
berlebih, adanya jalan nafas buatan, terdapat benda asing dijalan
nafas, sekret di bronki, dan eksudat di alveoli.
Fisiologis: difusi neuromuskular, hiperplasia dinding bronkial,
PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), infeksi, asma, jalan
nafas alergik(trauma).
Diagnosa 2 : ketidakefektifan pola nafas b/d posisi tubuh ditandai
dengan bradipnea
2.2.1 Definisi
Inspirasi dan/ekspansi yang tidak memberi ventilasi yang
adekuat
2.2.2 Batasan Karakteristik
Subjektif: dispnea, nafas pendek.
Objektif: perubahan ekskursi dada, mengambil posisi tiga titik
tumpu (tripod), bradipnea, penurunan tekanan inspirasi-ekspirasi,
penurunan ventilasi semenit, penurunan kapasitas vital, nafas
dalam (dewasa VT 500ml pada saat istirahat, bayi 6 8 ml/kg),
peningkatan diameter anterior-posterior, nafas cuping hidung,
ortopnea, fase ekspirasi memanjang, pernafasan bibir mencucu,
kecepatan respirasi usia dewasa 14 tahun atau lebih: 11 atau >
24 kpm, untuk usia 5 14 tahun: < 15 atau > 25 kpm, usia 1 4
tahun: < 20 atau > 30 kpm, bayi: < 25 atau > 60 kpm.
2.2.3 Faktor Yang Berhubungan
Ansietas, posisi tubuh, deformitas tulang, deformitas dinding
dada, penurunan energi dan kelelahan, hiperventilasi, sindrom
hipoventilasi, kerusakan muskuloskeletal, imaturitas neurologis,
disfungsi neuromuskular, obesitas, nyeri, kerusakan persepsi atau
kognitif, kelelahan otot-otot pernafasan, cedera medula spinalis.
2.3 Perencanaan
Diagnosa 1 : ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d peningkatan
sputum ditandai dengan batuk produktif
2.3.1 Tujuan dan Kriteria Hasil
Menunjukkan adanya kemampuan dalam jalan nafas paten,
tidak ada suara nafas tambahan, tidak ada penggunaan otot
bantu nafas, mampu melakukan perbaikan bersihan jalan
nafas.
2.3.2 Intervensi Keperawatan dan Rasional
Auskultasi dada untuk karakter bunyi nafas dan
adanya sekret. Rasionalnya: pernafasan ronki,
whezzing menunjukkan tertahannya secret obstruksi
jalan nafas
Berikan air minum hangat. Rasionalnya: membantu
mengencerkan sekret.
Beri posisi yang nyaman seperti posisi semi fowler.
Rasionalnya: memudahkan pasien untuk bernafas.
Sarankan keluarga agar tidak memakaikan pakaian
ketat kepada pasien. Rasionalnya: pakaian yang ketat
akan menyulitkan pasien untuk bernafas
Kolaborasi penggunaan nebulizer. Rasionalnya:
kelembapan mempermudah pengeluaran dan
mencegah pembentukan mucus tebal pada bronkus
dan membantu pernafasan.

Diagnosa 2: ketidakefektifan pola nafas b/d posisi tubuh ditandai


dengan bradipnea
2.3.3 Tujuan dan kriteria hasil
Menunjukkan pola nafas efektif dengan frekuensi nafas 16 -
20 x/mnt dan teratur, mampu menunjukkan perilaku
peningkatan fungsi paru.
2.3.4 Intervensi keperawatan dan rasional
Kaji frekuensi pernafasan pasien. Rasionalnya:
mengetahui frekuensi pernafasan pasien
Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi.
Rasionalnya: duduk tinggi memungkinkan ekspansi
paru dan mempermudah pernafasan.
Ajarkan teknik bernafas dan relaksasi yang benar.
Rasionalnya: memberikan pengetahuan pada pasien
tentang teknik bernafas.
Kolaborasikan dalam pemberian obat. Rasionalnya:
pengobatan mempercepat penyembuhan dan
memperbaiki pola nafas.
DAFTAR PUSTAKA

Rogayah, Rita. 2009. The Principle of Oxygen Therapy. Dept.


Pulmonology and Respiratory Medicine Medical Faculty of Indonesia
University.
Mubarak, Wahit Iqbal & Cahyani, Nurul. 2007. Kebutuhan Dasar. Jakarta
: EGC
Nanda Internasional. 2013. Diagnosis keperawatan: definisi & klasifikasi.
Jakarta:EGC
Potter & Perry. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC
Tarwonto dan Warkonah. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Asuhan
keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.