Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak langsung atau tak
langsung dengan suhu tinggi seperti api, air panas, listrik, bahan kimia dan
radiasi. Penderita luka bakar dapat digolongkan berdasarkan dalamnya jaringan
yang terbakar. Klasifikasi ini selalu dikaitkan dengan luas permukaan tubuh
yang terbakar dan dikenal sebagai derajat luka bakar. Derajat luka bakar
ditentukan oleh kedalaman jaringan tubuh yang rusak oleh trauma panas,
lamanya panas mengenai tubuh dan rambatan panas pada jaringan. Jaringan
yang tidak mampu merambatkan panas akan menderita nekrosis, sebaliknya
jaringan yang dapat meneruskan panas ke jaringan sekitarnya yang cukup
mengandung air akan cepat menurunkan suhu sehingga kerusakan bisa lebih
ringan. Pada luka bakar terjadi dua perubahan yaitu perubahan anatomi
patologik pada kulit sehingga terjadi perubahan mikrosirkulasi kulit dan
terbentuk edema dan perubahan fisiologi menyebabkan gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit yang menimbulkan asidosis, nekrosis tubular akut dan
disfungsi serebral (Nugroho, 2012).
Penyebab luka bakar selain karena api ( secara langsung ataupun tidak
langsung, juga karena pajanan suhu tinggi dari matahari, listrik maupun bahan
kimia. Luka bakar karena api atau akibat tidak langsung dari api ( misalnya
tersiram panas ) banyak terjadi pada kecelakaan rumah tangga.(Sjamsuhidajat,
2005
Cedera luka bakar lebih sering melibatkan kelompok sosio ekonomi yang
kurang beruntung. Di Amerika Serikat, 500.000 orang dirawat di unit gawat
darurat, sementara 74.000 pasien perlu perawatan inap di rumah sakit akibat luka
bakar. Lebih dari 20.000 pasien mengalami luka bakar yang sangat hebat
sehingga memerlukan perawatan pada suatu pusat perawatan khusus luka bakar.
Dua belas ribu korban luka bakar akan meninggal akibat luka-lukanya
(Seymour, 2014)

1
Sekitar 12 ribu orang meninggal setiap tahunnya akibat luka bakar dan
cedera inhalasi yang berhubungan dengan luka bakar lebih separuh dari kasus
luka bakar dirumah sakit seharusnya dapat dicegah. Perawat/ bidan dapat
memainkan peranan yang aktif dalam pencegahan kebakaran dan luka bakar
dengan mengajarkan konsep pencegahan dan mempromosikan undang undang
tentang pengamanan kebakaran. Pertolongan pertama pada luka bakar yang
diberikan adalah penting untuk pencegahan kematian dan kecacatan.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat ditarik sebuah permasalahan yaitu bagaimana
pertolongan pertama pada luka bakar?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami asuhan kegawatdaruratan di komunitas
dalam memberikan pertolongan pertama pada luka bakar.

2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu mengkaji terhadap derajad luka bakar
b. Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa dari pengkajian terhadap
luka bakar
c. Mahasiswa mampu menyusun rencana dalam pelaksanaan perawatan
luka bakar
d. Mahasiswa mampu melakukan tindakan sesuai rencana yang telah
disusun.
e. Mahasiswa mampu mengevaluasi dari rencana tindakan yang telah
disusun dan dilakukan.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Luka Bakar


Luka bakar adalah rusak atau hilangnya jaringan yang disebabkan kontak
dengan sumber panas seperti kobaran api di tubuh (flame), jilatan api ke tubuh
(flash), terkena air panas (scald), tersentuh benda panas (kontak panas), akibat
sengatan listrik, akibat bahan-bahan kimia, serta sengatan matahari (sunburn)
(Moenadjat, 2001).
Luka bakar adalah kondisi atau terjadinya luka akibat terbakar, yang hanya
disebabbkan oleh panas yang tinggi, tetapi oleh senyawa kimia, llistrik, dan
pemanjanan (exposure) berlebihan terhadap sinar matahari. (Aziz Alimul
Hidayat, A, 2008)
Luka bakar adalah luka yang di sebakan oleh kontak dengan suhu tinggi
seperti api,air panas,listrik,bahan kimia dan radiasi; juga oleh sebab kontak
dengan suhu rendah,luka bakar ini bisa menyebabkan kematian ,atau akibat lain
yang berkaitan dengan problem fungsi maupun estetika. (Kapita Selekta
kedokteran edisi 3 jilid 2).

B. Etiologi Luka Bakar


Luka bakar pada kulit bisa disebabkan karena panas, dingin ataupun zat
kimia. Ketika kulit terkena panas, maka kedalaman luka akan dipengaruhi oleh
derajat panas, durasi kontak panas pada kulit dan ketebalan kulit (Schwarts et al,
1999).
Tipe luka bakar:
1. Luka Bakar Termal (Thermal Burns)
Luka bakar termal biasanya disebabkan oleh air panas (scald) , jilatan api ke
tubuh (flash), kobaran apai di tubuh (flame) dan akibat terpapar atau kontak
dengan objek-objek panas lainnya (misalnya plastik logam panas, dll.)
(Schwarts et al, 1999).
2. Luka Bakar Kimia (Chemical Burns)

3
Luka bakar kimia biasanya disebabkan oleh asam kuat atau alkali yang biasa
digunakan dalam bidang industri, militer, ataupun bahan pembersih yang
sering dipergunakan untuk keperluan rumah tangga (Schwarts et al, 1999).

3. Luka Bakar Listrik (Electrical Burns)


Listrik menyebabkan kerusakan yang dibedakan karena arus, api dan ledakan.
Aliran listrik menjalar disepanjang bagian tubuh yang memiliki resistensi
paling rendah; dalam hal ini cairan. Kerusakan terutama pada pembuluh
darah, khususnya tunika intima, sehingga menyebabkan gangguan sirkulasi
ke distal. Seringkali kerusakan berada jauh dari lokasi kontak, baik kontak
dengan sumber arus maupun ground (Moenadjat, 2001).
4. Luka Bakar Radiasi (Radiation Exposure)
Luka bakar radiasi disebabkan karena terpapar dengan sumber radioaktif.
Tipe injuri ini sering disebabkan oleh penggunaan radioaktif untuk keperluan
terapeutik dalam dunia kedokteran dan industri. Akibat terpapar sinar
matahari yang terlalu lama juga dapat menyebabkan luka bakar radiasi
(Gillespie, 2009).

C. Manifestasi Klinis
Untuk mengetahui gambaran klinik tentang luka bakar (Combustio) maka
perlu mempelajari :
1. Luas Luka Bakar
Luas luka bakar dapat ditentukan dengan cara Role of nine yaitu
dengan tubuh dianggap 9 % yang terjadi antara :
a. Kepala dan leher : 9%
b. Dada dan perut : 18 %
c. Punggung hingga pantat : 18 %
d. Anggota gerak atas masing-masing : 9%
e. Anggota gerak bawah masing-masing : 18 %
f. Perineum : 9%

4
2. Derajat Luka Bakar
a. Grade I
1) Jaringan yang rusak hanya epidermis.
2) Klinis ada nyeri, warna kemerahan, kulit kering.
3) Tes jarum ada hiperalgesia.
4) Lama sembuh + 7 hari.
5) Hasil kulit menjadi normal.
b. Grade II
1) Grade II a
a) Jaringan yang rusak sebagian dermis, folikel, rambut, dan
kelenjar keringat utuh.
b) Rasa nyeri warna merah pada lesi.
c) Adanya cairan pada bula.
d) Waktu sembuh + 7 - 14 hari.
2) Grade II b
a) Jaringan yang rusak sampai dermis, hanya kelenjar keringan yang
utuh.
b) Eritema, kadang ada sikatrik.
c) Waktu sembuh + 14 21 hari.
c. Grade III
1) Jaringan yang rusak seluruh epidermis dan dermis.
2) Kulit kering, kaku, terlihat gosong.
3) Terasa nyeri karena ujung saraf rusak.
4) Waktu sembuh lebih dari 21 hari.
d. Grade IV
Luka bakar yang mengenai otot bahkan tulang.

3. Pengelolaan Luka Bakar


a. Luka bakar ringan
1) Luka bakar grade I dan II luasnya kurang 15 % pada orang dewasa.
2) Luka bakar grade I dan II luasnya kurang 10 % pada anak

5
3) Luka bakar grade III luasnya kurang 2 %
b. Luka bakar sedang
1) Luka bakar grade II luasnya 15 25 % pada orang dewasa
2) Luka bakar grade II luasnya 10 20 % pada anak
3) Luka bakar grade II luasnya kurang 10 %

c. Luka bakar berat


1) Luka bakar grade II luasnya lebih dari 25 % pada orang dewasa
2) Luka bakar grade II luasnya lebih dari 20 % pada anak
3) Luka bakar grade III luasnya lebih dari 10 %
4) Luka bakar grade IV mengenai tangan, wajah, mata, telinga, kulit,
genetalia serta persendian ketiak, semua penderita dengan inhalasi
luka bakar dengan konplikasi berat dan menderita DM.

D. Klasifikasi Luka Bakar


Luka bakar dapat diklasifikasikan berdasarkan luas luka bakar dan derajat

luka bakarnya, dan harus objektif.5 Patokan yang masih dipakai dan diterima

luas adalah mengikuti Rules of Nines dari Wallace. Luka bakar yang terjadi pada
daerah muka dan leher jauh lebih berbahaya daripada luka bakar di tungkai
bawah, kita mesti sangat waspada terhadap timbulnya obstruksi jalan napas. (Di
Maio & Riasa, 2014)

Gambar 1. Penentuan Luas Luka Bakar (Total Body Surface Area/TBSA)17

6
Berdasarkan dalamnya jaringan yang rusak akibat luka bakar tersebut, luka

bakar dapat diklasifikasikan menjadi derajat I, II, III dan IV.7 Pada luka bakar

derajat 1 (superficial burn), kerusakan hanya terjadi di permukaan kulit. Kulit


akan tampak kemerahan, tidak ada bulla, sedikit oedem dan nyeri, dan tidak akan
menimbulkan jaringan parut setelah sembuh.
Luka bakar derajat 2 (partial thickness burn) mengenai sebagian dari
ketebalan kulit yang melibatkan semua epidermis dan sebagian dermis. Pada
kulit akan ada bulla, sedikit oedem, dan nyeri berat.
Pada luka bakar derajat 3 (full thickness burn), kerusakan terjadi pada
semua lapisan kulit dan ada nekrosis. Lesi tampak putih dan kulit kehilangan
sensasi rasa, dan akan menimbulkan jaringan parut setelah luka sembuh.
Luka bakar derajat 4 disebut charring injury. Pada luka bakar ini kulit
tampak hitam seperti arang karena terbakarnya jaringan. Terjadi kerusakan
seluruh kulit dan jaringan subkutan begitu juga pada tulang akan gosong.
Beratnya luka bakar berdasarkan derajat dan luasnya kulit yang terkena dan
dapat dikategorikan menjadi 3 yaitu ringan, sedang dan berat. (James AB, 2015)
Disebut ringan jika terdapat luka bakar derajat I seluas <15% atau derajat
II seluas <2%. Luka bakar sedang adalah luka bakar derajat I seluas 10-15% atau
derajat II seluas 5-10%. Luka bakar berat merupakan luka bakar derajat II seluas
>20% atau derajat III seluas >10% atau mengenai wajah, tangan-kaki, alat
kelamin/persendian sekitar ketiak atau akibat listrik tegangan tinggi (>1000V)
atau dengan komplikasi patah tulang/kerusakan jaringan lunak/gangguan jalan
nafas.

E. Pertolongan pertama luka bakar


Prinsip utama pertolongan luka bakar adalah mengakhiri dengan segera
dan cepat kontak dengan sumber panas untuk mengurangi luas dan dalamnya
luka bakar yang terjadi. Mematikan api dengan menyelimuti dan menutup
bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen bagi api yang
menyala merupakan upaya pertama saat,terbakar.

7
1. Luka bakar ringan
a. Penanganan pertama adalah mendinginkan daerah yang terbakar
dengan air dengan segera, rendam kulit yang terbakar ke dalam air
dingin sekurang kurangnya 15 menit.
b. Untuk luka yang tidak dapat direndam, kompres dengan es yang
dibungkus dalam kain atau pergunakan kain peresap yang dicelupkan
ke dalam air es.
c. Ganti kompres tersebut beberapa kali agar tetap dingin, lakukan sampai
rasa sakitnya hilang.
d. Hindarkan penggunaan salep luka, lemak dan soda masak, terutama
pada luka yang cukup parah yang memerlukan perawatan medis segera.
Penggunaan antiseptik topikal dianjurkan pada luka bakar.
e. Cegah timbulnya infeksi. Bila kulit menggelembung, tutup gelembung
dengan kain yang steril, jangan memecahkan gelembung tersebut.
f. Luka dapat dirawat terbuka atau tertutup. Awas , luka bakar yang
dangkal dapat menjadi berbahaya, bila daerah yang terbakar cukup luas
mintalah bantuan dokter/ RS terdekat

2. Terbakar Bahan Kimia


a. Prinsip, siramlah daerah yang terbakar dengan air sebanyak
banyaknya untuk mengencerkan atau membuang sebagian bahan kimia
itu, selanjutnya rawat seperti luka bakar lainnya.
b. Bila mengenai mata, terutama oleh zat asam atau bahan dasar seperti
soda, bilaslah secara berhati-hati dengan air bersih, tutp dengan kain
kasa atau kain bersih dan segera periksakan.

3. Luka bakar berat


a. Jika pakaian dalam keadaan terbakar, padamkan nyala api itu dengan
jas, selimut, atau permadani kecil.
b. Biarkan korban berbaring untuk mengurangi syok.

8
c. Potong dan buang pakaian dari daerah yang terbakar. Bila pakaian yang
terbakar menempel pada luka, jangan menariknya, biarkan dan
potonglah sekitarnya saja.
d. Cuci tangan anda dengan bersih untuk mencegah kontaminasi.
e. Tutup luka dengan kain kasa yang tebal, sehingga dapat memisahkan
dari udara, kontaminasi oleh debu dan mengurangi rasa sakit. Bila tidak
ada kain kasa dapat digunakan sprei atau handuk yang bersih.
f. Jangan pergunakan salep, minyak, tapi penggunaan anti septik topikal
dianjurkan, jangan berusaha mengganti kain penutup tersebut.
g. Panggil ambulans atau bawa korban ke RS terdekat.
h. Bila luka bakar cukup luas mengenai sebagian besar tubuh, berikanlah
pertolongan pertama untuk syok. Kalau perlu lakukan resusitasi bila
korban menunjukkan gejala syok seperti gelisah, dingin, pucat,
berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun.
i. Bila korban sadar, larutkan sendok the soda masak dan 1 sendok the
garam dapur dalam dalam liter air. Minumkanlah larutan ini pada
korban sebanyak gelas tiap 15 menit untuk mengganti cairan
tubuhnya yang hilang, hentikan pemberian cairan ini bila korban
muntah.

9
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Penderita luka bakar memerlukan penanganan secara holistik dari berbagai
aspek dan disiplin ilmu. Perawatan luka bakar didasarkan pada luas luka bakar,
kedalaman luka bakar, faktor penyebab timbulnya luka dan lain-lain. Pada luka
bakar yang luas dan dalam akan memerlukan perawatan yang lama dan mahal.
Dampak luka bakar yang dialami penderita dapat menimbulkan berbagai
masalah fisik, psikis dan sosial bagi pasien dan juga keluarga. Dengan makin
berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka makin berkembang pula
teknik/cara penanganan luka bakar sehingga makin meningkatkan kesempatan
untuk sembuh bagi penderita luka bakar.

B. Saran
Dalam menangani korban luka bakar harus tetap memegang prinsip steril
dan sesuai medis, karena bisa mempengaruhi waktu kesembuhan luka bakar.
Setiap individu baik tua, muda, maupun anak-anak diharapkan selalu waspada
dan berhati-hati setiap kali melakukan kegiatan/aktivitas terutama pada hal-hal
yang dapat memicu luka bakar.

10
DAFTAR PUSTAKA

Bhullar DS, Aggarwal KK. Medicolegal Diagnosis And Pattern Of Injuries With
Sharp Weapons. JIAFM. 2007; 29(4): 112-114
Saraf S, Parihar S. Burns Management: A Compendium. Journal of Clinical and
Diagnostic Research 2007; 5: 426-436.
Idris, A.M. Luka Bakar dalam Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik Edisi pertama,
Jakarta : PT Binarupa Aksara;1997.
Sjamsuhidajat, R., de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC; 2004.
Deirdre, C., Elsayed, S., Reid, O., Winston, B., Lindsay, R. Burn Wound Infection.
Clin Microbiol Rev. 2006; 19(2): 403434.
Di Maio, V.J.M. & Dana, S.E. Fire and Thermal Injuries, in: Di Maio, V.J.M. &
Dana, S.E.(eds) Hand Book of Forensic Pathology. USA: Landes
Bioscience; 1998.
Brunner & Suddarth. Keperawatan Medikal Bedah Vol. 2. Jakarta: EGC; 2002.
Gonzales TA, Vance M, Helpern M, Umberger CJ. Stab Wounds: Incised Wounds:
Chop Wounds: Wounds Produced By Foreign Bodies: Biting, Scratching
And Gouging, Legal Medicine Pathology And Toxicology. Appleton
Century Crofts, New York: Humana Press Inc; 2007. pp: 335-379.
R Sjamsuhidajat, Wim De Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran, EGC; 2007.
Singh VP, Sharma B.R., Harish D, Vij K, A Critical Analysis of Stab Wound On
The Chest, A Case Report. JIAFM. 2007; 29 (4).

11