Anda di halaman 1dari 10

LEMBARAN KERJA MAHASISWA

MATA KULIAH PROMOSI KESEHATAN

PROGRAM STUDI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UIVERSITAS ANDALAS

Dosen : Syofyan, S.Si, M. Farm Apt


Pokok Bahasan: Konsep Promosi Kesehatan II
Topik 2

IDENTITAS MAHASISWA DAN TUGAS


Nama Debby Irma Suryani
No Bp 1741013201
Kelompok/ Kelas A/A
Pertemuan ke 1
Hari/Tanggal 8 September 2017
Sub Pokok Bahasan a. Determinan Kesehatan
b. Perilaku Kesehatan
c. Masalah Kesehatan Di Indonesia (Penyakit
Menular)

A. URAIAN KASUS

Penyakit tuberkolosis merupakan penyakit menular dengan kasus terbanyak di Indonesia.


Masalah penyakit ini sudah menjadi masalah global
Instruksi:
a. Carilah data terkait penyakit ini (prevalensi, insidens, dan lain-lain)
b. Identifikasilah kasus di atas dengan menggunakan diagram tulang ikan atau pohon
masalah
c. Jelaskan determinan kesehatan untuk kasus ini
d. Jelaskan perilaku penderita dalam kepatuhan minum obat untuk penyakit ini menurut
teori Green.
B. KEY WORDS/TERMINOLOGI FARMASI

1. Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium


tuberculosis, yang sebagian besar (80%) menyerang paru-paru. Mycobacterium
tuberculosis termasuk basil gram positif, berbentuk batang, dinding selnya mengandung
komplek lipida-glikolipida serta lilin (wax) yang sulit ditembus zat kimia (Anonim, 2005)
2. Prevalensi adalah gambaran tentang frekuensi penderita lama dan baru yang ditemukan
pada waktu jangka tertentu di sekelompok masyarakat tertentu (Effendy, 1998).
3. Insidensi adalah mengacu pada jumlah kasus baru yang berkembang dalam periode
waktu tertentu (Effendy, 1998).
4. Determinan Kesehatan merupakan faktor penentu kesehatan atau faktor yang
memperngaruhi pembentukan perilaku yang sering diguakan sebagai acuan program-
program kesehatan masyarakat (Maulana, 2007).
C. RUMUSAN KASUS

Adapun beberapa rumusan kasus yang akan dibahas adalah:


1. Tingkat prevalensi penyakit TB
2. Tingkat Insidensi penyakit TB
3. Penyebab peningkatan prevalensi
4. Promosi kesehatan dilakukan sebagai solusi dalam penyakit TB
D. PENYELESAIAN KASUS

1). Tingkat prevalensi penyakit TB


Indonesia berpeluang mencapai penurunan angka kesakitan dan kematian akibat
TB menjadi setengahnya ditahun 2015 jika dibandingkan data pada tahun 1990.
Angka prevalensi TB pada tahun 1990 sebesar 443 per 100.000 penduduk, pada tahun
2015 ditargetkan menjadi 280 per 100.000 penduduk. Berdasarkan hasil survei
prevalensi TB pada tahun 2013 paru smear positif per 100.000 penduduk umur 15
tahun keatas sebesar 257.
Prevalensi TB paru dikelompokkan dalam tiga wilayah, yaitu wilayah Sumatera
(33%), wilayah Jawa dan Bali (23%), serta wilayah Indonesia Bagian Timur (44%)
(Depkes, 2008). Penyakit TB paru merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah
penyakit jantung dan saluran pernafasan pada semua kelompok usia serta nomor satu
untuk golongan penyakit infeksi. Korban meninggal akibat TB paru di Indonesia
diperkirakan sebanyak 61.000 kematian tiap tahunnya (Anonim, 2011).

2). Tingkat insidensi penyakit TB


Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang angka kejadian
TB parunya cukup tinggi. Berdasarkan data yang diperoleh dari Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) pada tahun 2013, angka kejadian TB paru di Sumatera Barat adalah 0,2 %.
Angka kejadian TB paru di Sumatera Barat terus mengalami peningkatan setiap
tahunnya yaitu pada tahun 2007 sebanyak 3660 kasus, tahun 2008 sebanyak 3896 kasus,
tahun 2009 sebanyak 3914 kasus, dan pada tahun 2010 ditemukan sebanyak 3926 kasus
yang tersebar dalam 19 kabupaten/kota dalam Propinsi Sumatera Barat termasuk Kota
Padang.

3). Faktor Resiko Penyakit TB


Faktor Umur.
Penyakit TB paru paling sering terjadi di usia produktif (15-50) tahun. Dewasa
ini dengan terjadinya transisi demografi menyebabkan usia harpan hidup lansia
menjadi lebih tinggi. Pada usia lanjut lebih dari 55 tahun sistem imunologis
seorang menurun, sehungga sangat rentan terhadap berbagai penyakit termasuk
TB. Di Indonesia diperkirakan 75% penderita TB Paru adalah kelompok usia
produktif yaitu 15-50 tahun.
Faktor Jenis Kelamin.
Prevalensi penyakit TB paru meningkat seriring peningkatan usia. Angka pada
pria cukup tinggi dibandingkan wanita. Tetapi wanita menurun tajam ketika
melewati masa suburnya. Wanita seringkali terkena TB sesudah bersalin. TB
paru Iebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita karena
laki-laki sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga memudahkan
terjangkitnya TB paru.
Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap pengetahuan
seseorang diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan
pengetahuan penyakit TB Paru, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka
seseorang akan mencoba untuk mempunyai perilaku hidup bersin dan sehat.
Selain itu tingkat pedidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap jenis
pekerjaannya.
Pekerjaan
Jenis pekerjaan menentukan faktor risiko apa yang harus dihadapi setiap
individu. Bila pekerja bekerja di lingkungan yang berdebu paparan partikel debu
di daerah terpapar akan mempengaruhi terjadinya gangguan pada saluran
pernafasan. Paparan kronis udara yang tercemar dapat meningkatkan morbiditas,
terutama terjadinya gejala penyakit saluran pernafasan dan umumnya TB Paru.

4). Determinan Kesehatan Pada Kasus Ini

a. Faktor lingkungan
Beberapa faktor lingkungan yang menjadi deteminan penyakit TB adalah:
Kepadatan hunian
Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya
artinya luas lantai bangunan rumah tersebut harus disesuaikan dengan jumlah
penghuninya agar tidak menyebabkan overload. Hal ini tidak sehat, sebab
disamping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen juga bila salah satu
anggota keluarga terkena penyakit infeksi akan mudah menular ke anggota
keluarnya (Notoadmojo, 2003).
Pencahayaan
Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan tidak
terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk kedalam rumah, terutama cahaya
matahari disamping kurang nyaman, juga merupakan media atau tempat yang
baik untuk hidup dan berkembangnya bibit-bibit penyakit. Sebaliknya terlalu
banyak cahaya didalam rumah akan menyebabkan silau dan akhirnya merusak
mata. Sinar matahari langsung dapat mematikan bakteri TB dalam 5 menit
(Crofton, 2002).
Ventilasi
Untuk sirkulasi yang baik diperlukan paling sedikit luas lubang ventilasi sebesar
10% dari luas lantai. Untuk luas ventilasi permanen minimal 5% dari luas lantai
dan luas ventilasi insidentil (dapat dibuka tutup) 5% dari luas lantai. Udara segar
juga diperlukan untuk menjaga temperatur dan kelembaban udara dalam
ruangan. Umumnya temperatur kamar 22 30C dari kelembaban udara
optimum kurang lebih 60% (Notoadmojo, 2003)..
Kelembaban udara
Kelembaban udara dalam ruangan untuk memperoleh kenyamanan, dimana
kelembaban yang optimum berkisar 60% dengan temperatur kamar 22 30C.
Kuman TB Paru akan cepat mati bila terkena sinar matahari langsung, tetapi
dapat bertahan hidup selama beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab.
Kondisi rumah
dapat menjadi salah satu faktor resiko penularan penyakit TBC. Atap, dinding
dan lantai dapat menjadi tempat perkembang biakan kuman.Lantai dan dinding
yag sulit dibersihkan akan menyebabkan penumpukan debu, sehingga akan
dijadikan sebagai media yang baik bagi berkembangbiaknya
kuman Mycrobacterium tuberculosis (Achmadi, 2005).

b. Faktor Prilaku
Perilaku seseorang yang berkaitan dengan penyakit Tb adalah perilaku yang
mempengaruhi atau menjadikan seseorang untuk mudah terinfeksi/tertular kuman
TB misalnya kebiasaan membuka jendela setiap hari, menutup mulut bila batuk
atau bersin, meludah sembarangan, merokok dan kebiasaan menjemur kasur ataupun
bantal (Edwan, 2008).
Perilaku dapat terdiri dari pengetahuan, sikap dan tindakan. Pengetahuan penderita
TB Paru yang kurang tentang cara penularan, bahaya dan cara pengobatan akan
berpengaruh terhadap sikap dan prilaku sebagai orang sakit dan akhinya berakibat
menjadi sumber penular bagi orang disekelilingnya.
c. Faktor pelayanan
Pelayanan tuberkulosis sesuai standar adalah pelayanan kesehatan diberikan kepada
seluruh orang dengan TB yang dilakukan oleh tenaga kesehatan sesuai
kewarganegaraannya di puskesmas dan di fasilitas kesehatan pemerintah maupun
swasta. Puskesmas dan jaringannya merupakan fasilitas kesehatan tingkat pertama
yang mampu memberikan layanan TB secara menyeluruh muali dari promotif,
kuratif dan rehabilitatif.

5). Perilaku Penderita Dalam Pencegahan & Kekambuhan Penyakit Ini Menurut Teori
Green
Menurut teori Lawrence Green dalam Notoadmojo (2010) menganalisa faktor pelaku
sendiri ditentukan oleh tiga faktor utama yaitu:
a. Faktor-faktor predisposisi (predisposing factor) yaitu faktor-faktor yang
mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang antara lain
pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, dan tradisi.
Pengetahuan
Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang
lain. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam
membentuk tindakan seseorang. Pada umumnya klien yang
hipertensi atau tidak hipertensi menganggap bahwa perilaku
pencegahan stroke selama tidak dilakukan atau tidak boleh
dilakukan.
Sikap
Mempengaruhi perilaku karena sikap merupakan kesiapan
berespon atau bertindak. Bila klien bersikap kurang baik
sehubungan dengan perilaku pencegahan stroke, maka hal tersebut
dapat berpengaruh terhadap perilaku yang muncul, untuk itu klien
sehubungan dengan perilaku pencegahan TB harus diperhatikan
oleh petugas kesehatan.

b. Faktor pendukung (enabling factor ) adalah Faktor pendukung disini adalah


ketersediaan sumber-sumber dan fasilitas yang memadai. Sumber-sumber dan
fasilitas tersebut sebagian harus digali dan dikembangkan dari masyarakat itu
sendiri. Faktor pendukung ada dua macam, yaitu : fasilitas fisik dan fasilitas umum.
Fasilitas fisik yaitu fasilitas-fasilitas atau sarana kesehatan,
misalnya puskesmas, obat-obatan, alat kontrasepsi, jamban dan
sebagainya. Sedangkan fasilitas umum yaitu media informasi,
misalnya TV, koran, majalah.
c. Faktor-faktor penguat (reinforcing factor) adalah faktor yang mendorong atau
memperkuat terjadi perilaku. Meskipun seseorang tahu mampu untuk berperilaku
sehat, tetapi tidak melakukanya misalnya seorang ibu hamil tahu manfaat
pemeriksaan ke polindes tetapi tidak mau melakukanya. Meliputi sikap dan
perilaku petugas. Semua petugas kesehatan,
baik dilihat dari jenis dan tingkatnya pada dasarnya adalah pendidikan.
6). Promosi Kesehatan Untuk Penderita Stroke
Lakukan penyuluhan dengan 2 cara yaitu, langsung dan tidak langsung.
Secara langsung
Melakukan penyuluhan di puskesmas, pustu, atau pusling tentang
pecegahan dan pengobatan penyakit TB.
Secara tidak langsung
Melakukan pemberian bahan bacaan seperti; brosur, leaflet, pamflet dll.
Media tersebut berisikan penggunaan obat TB, penanganan dini untuk
penderita TB.
Pencegahan TB dapat dilakukan dengan menjaga kebiasaan hidup sehat.
Kebiasaan hidup sehat itu disebut juga paradigma hidup sehat, yang berisi
anjuran sebagai berikut :
1) Hentikan merokok,
2) Hentikan kebiasaan minum alkohol,
3) Periksa kondisi kamar dan rumah
5) Berolahraga secara teratur,
6) Kontrol konsumsi garam,
7) Hindari stres dan depresi,
8) Hindari obesitas
D PETA KONSEP/MIND MAP
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. Pharmaceutical care untuk penyakit tuberkulosis. Departemen Kesehatan. Jakarta

Achmadi. 2005. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Jakarta

Anonim.2011. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta

Effendy, N. 1998. Dasar- dasar keperawatan kesehatan masyarakat edisi kedua. Jakarta: EGC

Lionel, G. 2008. Lecture notes: Neurologi edisi kedelapan. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Maulana,H, D,J. 2007. Promosi kesehatan. Jakarta: EGC

Notoatmodjo, S. 2003. Kesehatan Masyarakat Ilmu Dan Seni. Rineka Cipta. Jakarta.

Priyanto, 2008. Farmakologi Dasar Untuk Mahasiswa Farmasi & Keperawatan, Edisi ; II.
Leskonfi. Jakarta.