Anda di halaman 1dari 403

k

:4 ELEMEN
ru
FOTOGRAIVI ETRI -
ru
W

Uy GADJAH tvlADA uNtvERslli PRESS


_T

PAUL R. WOLF
(r

ELEMEN
FOTOGRAMETRI
Dengan Interpretasi Foto Udara
dan Penginderaan Jauh
Edisi kedua
t

Penerjemah:
Drs. Gunadi
Drs. Totok Gunawan, M.S.
Drs. Zuharnen
Penyunting:
Prof. Dr. Sutanto
Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada

BUKU INI DITERBITKAN DALAM RANGKA PENGADMN BUKU TEKS UNI'UK


PERGURUAN TINGGI, BEKERJASAMA DENGAN PROYEK PENGEM-
BANGAN PENDTDTKAN TtNGG| (WORLD BANK EDUCATTON tX PROJEC]),
$r';-)
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI, DEPARTEMEN PENDi.
DIIGN DAN KEBUDAYMN. IIIADA U.NTVERSITY PRESS
\r

h4 lLlK
oluoo*
PERPl :i::'1,:. Perptrstlrkaan Daerah
4, (r Jawa Timur

I e7bl tPrtt ( tl99e,.

PRAKATA

Original English edition : ELEMENTS OF PHOTOGRAMMETRY Sejak diterbitkannya edisi pertama buku ini, perkembangan teknologi
With Air Photo lnterpretation and Remote baru ternyata besar pengaruhnya terhadap pelaksanaan fotogrametri. Satu di
Sensing, Second edition. antara tujuan utama dilakukannya revisi ini ialah memperbaharui buku ini
By : PAUL R. WOLF, Ph.D.
dengan menghubungkannya terhadap perkembangan baru tersebut. Akan teta-
Prolessor of Civil and Environmental Engineering
pi, tujuan lain yang tak kalah pentingnya ialah untuk memasukkan banyak
The University of Wisconsin, Madison
Copyright @ 1983, 1974 by McGraw-Hill, lnc. All Rights reserved. e perbaikan bernilai yang telah disarankan kepada penulis oleh para guru besar
dan mahasiswa yang telah menggunakan edisi pertama untuk perkuliahan.
lndonesian edition: ELEMEN FOTOGRAMETRI Tingkat, luas lingkup, dan gaya penyajian edisi kedua ini diatur serupa
Dengan Interpretasi Foto Udara dan Peng- dengan edisi pertama. Maksud penulis ialah terus menghasilkan buku ini
inderaan Jauh, Edisi kedua. sebagai buku yang cocok bagi kursus pengantar fotogrametri pada tingkat
This edition is translated and published by arrangement with the McGraw-Hill Book perguruan tinggi. Ini meliputi kursus yang diberikan pada universitas,
Company, A Division of McGraw-Hill, lnc. akademi, perguruan tinggi seni dan teknologi, dan sekolah militer. Buku ini
Copyright @ 1993, by GADJAH MADA UNIVEHSTTY PRESS juga telah ditulis sedemikian sehingga cocok untuk belajar sendiri atau
P.O. Box 14, Bulaksumur, Yogyakarta, lndonesia.
sebagai rujukan. Oleh karena itu maka akan selalu bermanfaat sebagai
Cetakan pertama 1993 tambahan penting bagi perpustakaan untuk fotogrametriwan, kartografiwan,
pakar keteknikan, pakar kehutanan, geologiwan, geogra.fiwan, pakar bangunan
Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin teftulis dari penerbit, sebagian keindahan alam, dan pakar lain yang di dalam pekerjaannya menggunakan peta
atau seluruhnya dalam bentuk apa pun, baik cetak, photoprint, microfilm dan dan foto.
sebagainya. Di samping banyak perbaikan kecil yang telah dimasukkan pada edisi
kedua ini, banyak pula perubahan besar dan tambahan yang ditampilkan.
650.57.09.93 a Susunan beberapa bab telah diubah sedemikian sehingga perbincangan tentang
kontrol medan dan perencanaan proyek disajikan setelah plotter stereo,
Dicetak oleh:
pemotretan orto, dan rianggulasi udara. Karena tiga butir perbincangan ini
GADJAH MADA UNIVERSITY PBESS fror9l lsruuuraan FsrPur'sncad
harus dipertimbangkan bagi kontrol medan dan perencanaan proyek, dengan
Anggota ll(APl
8907115-C2E
trrrr Timur susunan ini maka urutanl penyajiannya menjadi lebih baik. Bab tentang
fci:, *r v,.t lwa perencana:i{r proyek tetah diperluas untuk meliput bagian baru yang terpisah
lsBN 979-420-278-9 tentang perkiraan bi.aya pap penjadwalan, dan disajikan sebuah soal contoh.
:,tlr
Y I
vi vll

Bab tentang trianggulasi udara diperluas dan disusun kembali menjadi tiga dicantumkan setelah tiap bab telah merupakan tambahan yang berarti, dan
bagian: Bagian I metode analog, Bagian II metode semianalitik, dan peiuniut penyelesaiannya tersedia bagi instruktur dari penerb-it. sebagai
Bagian III - -
metode analitik. Pada Bab III dimasukkan bagian baru tentang iamUat aniertradap penyediaan jawaban bagi seluruh soal numerik,
petunjuk

triang g
-
ulasi udara den gan mengg unakan
-peng
ukuran densitas gambar. Liputan penyelesaian ini mimiilt<i daftar program komputer dengan contoh-cohtoh
rektifikasi foto sendeng diperluas dan melipriti perbincangan tentang metode i"gun*nryu dalam menyelesaikan beberapa soal fotogrametri komputasional
grafik, analitik, optik mekanik, dan elektio optik. Bab tentang plotter yang memerlukan waktu lebih banyak.
stereo dan pemotretan - orto diperbaharui agar- meliput alat terbaru, dan Sekali lagi penulis menyampaikan penghargaar.l ,yang -mendalam
perbincangan tentang plotter analitik banyak diperluas sehubungan dengan kepada banyak in*aivioua yang telah mengamtil bagian di dul"t
pertama
edisi
perkembangan yang pesat dalam penggunaan instrumen ini. Bab tentang buku ini yang merupakan landasan bagi edisi sekarang. Untuk edisi_kedua,
penginderaan jauh diubah secam menyeluruh utuk menyajikan perkembangan ucapan t#*l kasih ditujukan terutama kepqfa Professor David Tyler dari
mutakhir di dalam bidang yang berkembang pesat ini. university of Maine dan Robert Turpin dari Texas A & M University yang
Seperti pada edisi pertama, materi pada edisi kedua ditulis dengan membacaseluruh manuskrip, kepada Professor James Schersz dari University
menggunakan istilah elementer sebanyak mungkin, dan banyak digunakan of wisconsin Madison yang merevisi Bab 3 tentang Asas Pemotretan dan
ilustrasi dan diagram. Soal-soal contoh sering disertakan untuk memperjelas
-
yang memberikan saran penting untuk seluruh buku, kepada Professor Alan
prosedur penghitungan. Satuan metrik dan satuan Inggris digunakan silih Von?erotre dari Universiiy of Wisconsin Madison yang mereview bagian-
-
bagian penting manuskrip ini, kepada Professor Alan vonderohe dari
berganti di dalam buku dengan imbangan sekitar 50V0. Agau. buku ini sesuai
bagi mahasiswa berbagai tingkat yang bersangkutan dengan matematik, tubuh University of *isconsin Madison yang mereview bagian-bagian-penting
teks disajikan sedemikian sehingga hanya memerlukan pengetahuan elementer
-
manuskrip ini, kepada hofessor Ralph Kiefer dari University of Wisconsin
tentang aljabar, ilmu ukur, dan ilmu ukur sudut. Pengembangan matematik Madison yang merevisi Bab 19 tentang Interpretasi Foto Udara, kepada
yang lebih sulit dicantumkan pada lampiran, dimana ketersediaannya
-Professor Ttromls Lillesand dari University of Minnesota yang merevisi
diperuntukan bagi rujukan maupun bagi mahasiswa yang memiliki latar seluruh Bab 20 tentang Penginderaan Jauh dan memperbaharuinya, kepada
I professor Donald Graff dari university of wisconsin Madison yang
belakang matematik yang diperlukan.
melakukan kontribusi penting pada seluruh buku ini, -
akan tetapi terutama
Susunan penyajiannya diatur sedemikian sehingga bab-bab awal
menyajikan asas fundamental, sedang bab-bab selanjutnya membincan gkan untuk Bab 14 tentang triangguiasi Udara, kepada Professor Joseph Ulliman
aspek yang lebih khusus tentang fotogrametri yang lebih menekankan pada dari University of Idaho, Steven Johnson dari Virginia Polytechnic and State
terapan praktis. Secara umum setiap bab disusun sedemikian sehingga hal University, dan Joseph Colcord dari University of Washington yang
yang lebih penting disajikan terlebih dahulu. Ini menyebabkan kenyamanan memberikan banyak saran penting, kepada hofessor Terrence Keating dari
untuk hanya meliput bagian-bagian awal bab tertentu apabila keterbatasan university of Maine yang menyajikan gambar-gambar dan mereview bagian
waktu tidak memungkinkan untuk meliput seluruh buku. Sementara materi baru tentang Triangulasi Analitik Dengan Menggunakan Densitas Citra
dibuat seelementer mungkin, kedalamanan liputan yang memadai Terangka, kepada Tuan Randal olson dari u.S. Geological Survey, Menlo
menyebabkan buku ini sesuai pula bagi kursus fotogrametri lanjut. Liputan Park, california yang mereview bagian baru tentang Rektifikasi, kepada Tuan
bab-bab akhir dan lampiran terucama bermanfaat bagi kursus lanjut. Lampiran David smith dari Divid and Associates, Portland oregon yang menyajikan
A membincangkan kesalahan acak dan penyesuaian kuadrat terkecil, Lampiran banyak saran bagi materi baru tentang Perencanaan Proyek dan Perbicaraan
B meliput perbincangan tentang alih ragam koordinat, dan Lampiran C Biaya, kepada Tuan Bon Dewitt, mahasiswa University of wisconsin -
menyajikan pengembangan persamaan kolinearitas. Materi ini merupakan Madison yang menyelesaikan banyak soal pada akhir bab untuk menjamin
landasan bagi fotogrametri komputasional modern. agar layak dan dapat dikerjakan, dan yang juga menyajikan program komputer
Sebuah daftar rujukan terpilih diberikan pada akhir tiap bab. Dari untuk Petunjuk Penyelesaian, dan kepada banyak lagi lainnya, termasuk
materi yang dirujuk, para mahasiswa dapat mengembangkan pengetahuannya mahasiswa tingkat sarjana dan sarjana muda yang telah melakukan berbagai
atas hal tertentu yang menarik perhatiannya. Untuk menghemat ruang, hanya kontribusi bagi edisi yag baru ini.
diberikan rujukan kunci yang terbatas jumlahnya, tetapi banyak dari padanya Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada pabrik
juga memiliki bibliografi yang baik sekali yang akan menuntun mahasiswa pembuat instrumen, badan pemetaan pemerinfah dari firma fotogrametri
ke artikel tambahan yang banyak. Jumlah soal pekerjaan rumah yang iwasta yang menyajikan banyak di antara gambar dan diagram yang digunakan
_Y

vlll

di dalam buku ini. Ucapan terima kasih juga dialamatkan kepada Robert
Holdridge dan lain-lain dari Bagian Pelayanan Keteknikan Wisconsin
Department of Transportation untuk peran serta mereka. Akhirnya, ucapan
terima kasih secara khusus dialamatkan kepada Louise Shafer yang bekerja
berjam-jam untuk mengubah konsep penulis menjadi sebuah manuskrip
ketikan yang bagus.

Paul R. Wolf

DAFTAR ISI

Prakata
Bab I Pendahuluan ............

Definis i Fotogrametri/S ejarah Fotogrametri0enis Foto/


Membuat Foto VertikaUFoto Udara yang Ady'Kegunaan
I Fotogrametri/Organisasi Fotogrametri Profesiona/lJnit
Ukuran Fotogrametri/Bilangan Penting/Rujukan/Soal

Bab 2 IImu Optik Untuk Fotogrametri ....................... 24

Pengantar/Pembiasan cahaya/Pemantulan cahaya/Cermin


Datar/Prisma/Lensa Sederhana/Formula Lensa/Persyarat-
an Scheimpfl u8/Gambar Nyata dan Semu/Pembesaran
Mendatar (Lateral)/Lensa TebaUl(ualitas Lensa/Jan g-
kauan Medan/Rujukary'Soal

Bab 3 Asas Fotografi .......... 51

Pengantar/Perbandingan Kamera Lubang dan Kamera


Lensa/PenyinaranAlubungan antara Bukaan dan Kece-
(, patan Menutup/Ikrakteristik Emulsi Fotografik/Pemro-
sesan Emulsi Hitam-Putihfl(epekaan Spektral Emul-
si/Filter/Pemrosesan Emulsi Berwarna/Pemrosesan Film
Udara Hitam Putih/Pemelaan Secara Kontak/Pence-
-
takan dengan hoyeksi/Proses Halftone/Rujukan/Soal
xl

Bab 4 Kamera Dirgantara 78 Bab E Paralaks Stereoskopik 202

Pengantarfienis Kamera Udara/Kamera Konver- I Pengantar/Sumbu'Jalur Terbang' Fotografik untuk


geny'Bagian Utama Kamera Kerangka Dirgantara/Bidang Pengukuran Paralaks/]vletode Stereoskopik untuk Pengu-
Fokal dan Tanda FidusiaUPenutup/Penyang ga Kame- kuran Paralaks/Asas Tanda ApungMetode Stereoskopik
ralPengatur KameralPerekaman Da[a secara Otoma- (t Untuk Pengakuan ParalakslPersamaan Paralaksfl(e-
tis/Kalibrasi Kameralvletode Laboratorium Kalibrasi ting gian Berdasarkan Beda Paralaks/Persam aan Kuran g
Kamera,/Kalibrasi Kamera Dengan Metode Medan dan Teliti Bagi Ketinggian Berdasarkan Beda Para-
Metode Bintang/Kalibrasi Resolusi Kamera/Rujuk- laks/Pengukuran Beda Paralaks/Grafik Untuk Koreksi
anlSoal Paralaks/Menghitung Tinggi Terbang dan Basis
Udara/Pemetaan dengan Stereoskop dan Batang
Bab 5 Pengukuran Fotografik dan Perbaikan .............. 110
Paralaks/Evaluasi Kesalahan/Rujukan/Soal
Pengantar/Sistem Koordinat FotografiVSkala Sederhana
Bagi Pengukuran Fotografikflt4engukur Koordinat Foto Bab 9 Metode Elementer Pemetaan Planimetrik de-
dengan Skala Sederhana/Metode Trilateratif untuk Peng- ngan Foto Tegak 243
ukuran Koordinat Fcto/Piranti Pengukuran Jarak Pen-
dek/Pengukuran Monokomparator atas Koordinat Pengantar/Pemetaan Planimetrik dengan Penyidikan
Foto/Perbaikan Koordinat Gambar Terukur8eduksi Langsung/Pemetaan Planimenik dengan Instrumen Pan-
Koordinat ke Aslinya pada Titik Utama/Pengkerutan dan tulan atau Proyeksi/Trianggulasi Garis Radial/Asas
Pemekaran Film dan Kertas Fotografik/Koreksi Fundamental Triang gulasi Garis-Radial/lvletode Grafik
Pen gkerutany'Koreksi Bagi Distorsi Radial Len safforek- r Trianggulasi Garis-Radial/Titik Penerus/Reseksi Tiga
si Pembiasan Atmosferilq(Koreksi lrngkung Permukaan Titi$lrianggulasi Garis Radial Bagi Blok Foto/Lokasi
Bumi/Pengukuran Densiti Gambar/Rujukar/Soal Titik KonEoftemplet Terkunci,Ilemplet Mekaniffiesa-
lahan dalam Trianggulasi Garis-Radial/lvletode Numerik
Bab 6 Foto Udara Tegak 151
Trian g gulasi Garis -Radial/Pemetaan Plani m etrik dengan
Penggambaran Garis Radial/Rujuka(Soal
Geometri Foto Udara Tegak/Skala-skala Foto Udara
Tegak di Atas Medan Yang Datar/Skala Foto Udara
Tegak di Atas Medan Yang Tidak Datar/Skala Foto Rata-
Bab 10 Peta Foto dan Mosaik 268
ratalBeberapa Cara Lain untuk Menentukan Skala Foto Pengantarfi(eunggulan dan Keterbatasan Peta Foto dan
Udara Tegakfl(oordinat Medan Dari Suatu Fotografi Mosaik/I(egunaan Pela Foto dan Mosaikflenis Mosa-
Vertikal/Perpindahan Letak Gambar oleh Relief Dalam ikffaterial Untuk Penyusunan Mosaik/Penyusunan
Foto Udara Tegak/Tinggi Terbang Foto Udara Mosaiklr4etode Garis AsimutMosaik Ortofoto/Repro-
Tegalr/Penilaian Kesalahan/R uj ukailS oal duksi8ujukan/Soal

Bab 7 Pengamatan Stereoskopik ......... 179


Bab 11 Foto Sendeng ..........-. 285
Persepsi Kedalamann\4ata N4anusia/?ersepsi Kedalaman
Pengantar/Orientasi Sudut Dalam Kesendengan, Pu-
Stereoskopiklt4engamati Foto Secara StereoskopilVSte-
taran, dan Asimut/Sistem Koordinat Bantu Foto
reoskop/Kegunaan Stereoskop/Penyebab Paralaks
Sendeng/Skala Foto Sendengl(oordinat Medan Foto
Y/Pembesaran Tegak Dalam Pengamatan Stereos-
Sendeng/Pergeseran Letak oleh Relief pada Foto
kopiffiujukan/Soal
Y
xu
xlll

S endeng/Pergeseran Letak oleh Kesenden gan/Orientasi


atan Garis Tinggi Otomatik Selama Pembuatan Foto
sudut dalam Omega, Phi, dan Kappa/Penentuan Unsur
Orto[nsrumen untuk Membuat Cira Foto Orto Secara
Elekronik/4Fotc Orto Dengan Pemrosesan Citra DigitaV
Orientasi LuarflVIetode Titik-Skala Anderson/]vletode
Perencanaan Penerbangan untuk Foto OrtoflRujuk-
Church/Reseksi Ruang dengan Kolinearitas/Posisi Titik-
anlSoal
titik Baru Berdasarkan Pengukuran Pasangan Stereofoto
Sendeng/Rektifikasi untuk Foto yang Mengalami Kemi-
ringan/Geometri Bagi Rektifikasiffeori Harmanik atau
Bab 14 Trianggulasi Udara 441
Rasio Silang/Rektifikasi Grafik/Rektifikasi Anali- Pengantar/Bagian I Trianggulasi Udara Analog: Tri-
tik/Rektifikasi Optik-Mekanik/ Rektifikasi Elektro- -
anggulasi Udara dengan Instrumen Proyektor Multi/titik
Optiffiujukan/Soal Penerus Tepi untuk Trianggulasi Udara secara Analog/-
Triang gulasi Udara dengan Instrumen Universal/Bagian
Bab 12 fnstrumen Plotter Stereoskopik ............... II Trianggulasi Udara Semianalitik Uraian Umum/-
-
Koordinat Titik Pusat Perspektif/Bagian III -_ Tri-
Pengantarfl(lasifikasi Plotter Stereoskopik/B ag ian I
Stereoplotter Proyeksi Optik Secara Langsung: Kompo- - anggulasi Udara Analitik: Pengantar/Kondisi Keber-
nen/Sistem Proyeksi/S istem Pengamatan/S istem Pen gu-
samaan GarisI(ondisi Kebersamaan Bidang/Titik Pe-
Analitffiengukuran
nerus Tepi bagi Trianggulasi Udara
kuran dan Penyidikan/Orientasi Bagian Dalam/Orientasi
Koordinat Foto/Pemurnian Koordinat Foto/Orientasi
Relatif/Orientasi Absolut/Kompilasi Peta/B agian II-
Relatif Pasangan Stereo dengan Kebersamaan Ga-
Stereoplotter dengan Proyeksi Mekanik atau Optik
Mekanik: InsEumen Proyeksi Mekanik/Paralelogram-
ris/Penyusunan Jalur/Penyesuaian Jalur/Blok Foto/Pe-
nyesuaian "Berkas" Secara Serentak/Persyaratan Kon-
Zeissflnstrumen yang Menggunakan Sistem Proyeksi
trol,/I(egunaan Komputer dan Analisis Data/Trianggulasi
Paralelogramflnstrumen dengan hoyeksi Optik
- Me-
kaniVSkala Model Peta dan Skala Peta Pada Instrumen
Udara Analitik dari Densiti Cira Terangfta/Rujukan/Soal
dengan Proyeksi MekaniklKoordinatograf Otomatik Ter- Bab 15 Kontrol Medan Bagi Fotogrametri Udara .,....... 493
digitlBagian III: Plotter Analitik: Penganlar/Komponen
Pengantar/lvlemilih Gambar untuk Kontrol Foto/Jumlah
Sistem dan Metode OperasilKeunggulan Plotter Anali-
dan Letak Kontrol Foto/Perencanaan Survei KontroVSis-
tik/Orientasi Plotter Analitikfenis Peng gunaan Plotter
Analitik/Bagian lV-Plotter dengan Korelator Gambar tem Koordinat Medan bagi Kontrol Mendatar/Bidang
Rujukan Tegakfr'Ietode Medan untuk Pengadaan Kontrol
Otomatik: Pen gantar/Korelator Gambar Otomatik/Ko-
Mendatar/Iv1etode Medan untuk Pengadaan Kontrol
relator Gambar Elektronik dan Stereomat B. 8
Tegak/Sistem Lain untuk Survei Kontrol Foto/Sasaran
Wildflnstrumen Lain yang Menggunakan Korelator
Gambar Otomatiffi uj ukan/S oal
BuatanMembuat Indeks Kontrol MedanAujukary'Soal

Bab 13 Fotografi Orto Bab 16 Perencanaan Proyek 515


Pertimbangan di Dalam Perencanaan Proyek/Bagian I
Pengantar/Keung gulan dan Kegunaan Foto Ortoffiasi- -
Perencanaan Penerbangan: Pengantarffampalan Depan
fikasi Instrumen untuk Membuat Foto Orto[nstrumen
Foto Orto Proyeksi Optik Serenlak (On-Line)lnstrumen dan Tampalan Samping Fotografik/Maksud Pernotretan/
Foto Orto Dengan Proyeksi Optik Terpisah (Off-Line)/ Skala Foto/tinggi Terbang/Pertimbangan Plotter Stere-
Keuntungan Produksi Foto Orto secara Terpisah/Pembu- oskopik/Liputan Medanfl(ondisi CuacaMusim/Peta
Jalur Terbang/Spesifikasi/Bagian II Perkiraan Biaya
-
dan Penyusunan Jadwat Perkiraan Biaya/Perkiraan Biaya
Cuplikenflr4enyusun Jadwal/RujukadSoal

.za
xv
xiv
'Pasif/Penginderaan Jauh dari Antadksafl(esimpulan/Ru-
555
Bab 17 Foto Condong dan Foto Panoramik jukan/Soal
Bagian I Foto Condong: Pengantar/Foto Agak Con-
-
Oofrg/F"to Sangat Condong/Sistem Koordinat Foto Sa-
Lampiran
ngat" Condon[Tst ata foto Sangat Condong/Sudut
Mendatar danludut Tegak pada Foto Sangat Condong/ A Kesalahan Acak dan Penyesuaian Kuadrat Terke' 701
Posisi Stasiun Pemotretan dan Asimut Sumbu Kame- cil
ra,tMenentukan Letak Titik dari Foto Sangat Condong
Klasifikasi Kesalahan/Definisi/HistogramlDistribusi Normal
yang Bertampalan/Grid Perspektif/Panjang Garis. pada
Kesalahan Acat'/Pengantar Bagi Kuadrat Terkecil/Pengamatan
Foti rurggil Sangut Condong/Cakrawala Asli dan
Terbobot/Menerapkan Kuadrat Terkecil/Formulasi Sisternatik
Sudut Dep'risi Aslidengan Metode Titik Lenyap dan
Persamaan Normalfir{etode Matriks Dalam Penyesuaian
Titik Nadirpagian II - Foto Panoramik: Pengan- Kuadrat Terkecil/Persama:m Matriks bagi Ketelitian Jumlah
tarfi(amera Pinomerik/Geometri Foto Panoramik Tersesuaikan/Contoh haktis/Rujukar/Soal
iegak/Skala Foto Panoramik TegakI(oordinat Medan
Seidasartan Pengukuran Foto Panoramik Tegaly'Dis- B Transformasi Koordinat 721
torsi Gambar pada Foto Panoramikfiujukan/Soal
Pengantarfiransformasi Koordinat Konform Dua-DimensionaV
Bab 18 Fotogrametri Terestrial dan Fotogrametri Ja- IrAet6Oe Bersemilih Transformasi Konform Dua-DimensionaV
Dekat 600
rak Transformasi Koordinat dengan Pengulangan/Tvletode Matriks
dalam Transformasi Koordinatlfransformasi Koordinat Afin
Pengantarfferapan Fotogrametri Terestrial dan Fotogra-
Dua-DimensionaVTransformasi Koordinat Konform Tiga-
meti J urak Dekat/Kamera Terestrial/Fototeodolitfifumera Dim ensionaflIransformasi Koordinat Proyeksi Dua-Dimensi-
Stereometrik/Sudut Mendatar dan Sudut Tegak dari Fgtg
onafifransformasi Koordinat Proyektif Dua-Dimensional8u-
Mendatarffenenhrkan Letak Titik dengan Interseksi dari jukary'Soal
Dua Foto Mendatar Atau Lebih/Persamaan Paralaks/Foto
Terestrial Condong/Letak Stasiun Pemotrelan dan Arah C Pengembangan Persamaan Kondisi Kolineari'
S umbu Kamera/Instrumen Plotting Stereoskopik/Kon- tas............. 752
trol B agi Foto grametri Terestrial/P-enyelesaian -Umum/
Pengantar/Rotasi Menumt Omega, Phi, dan Kappa/Pengem-
Fotogrametri Sinar-XAlologrametri/Rujukan/Soal
ban[an Persamaan Kondisi Kolinearitas/Pelurusan Persamaan
Bab 19 Interpretasi Fotografik .....""""' &5 Kolinearitasfierapan Kolinearitas/Rotasi Asimut, Kesendengan,
dan Swing/Persamaan Kolinearitas Menggunakan Rotasi
Pen gantarflfurakteri stik Dasar Citra Foto grafiMn-terpreta-
Asimut, Kesendengan, dan Swing/Penggunaan dari satu Sistem
si F6to untuk KehutananBlemen Dasar dalam Interpre- Rotasi ke Sistem Lain/Rujukan/Soal
tasi Fotografik untuk Analisis MedanfinterPretasi Bentuk
Lahanflnierpretasi Jenis Batuan IndukiRujukan/Soal Indeks 767

Bab 20 Penginderaan Jauh 665

Pengantarfiadiasi Elektromagnetililsistem Penginderaan


Jauti yang IdeaVS umber Tenaga,/Interaksi Tenaga {:lq3n
fenampitan di Permukaan Bumi/Pengaruh Atmosfir/Sis-
tem Penginderaan Jauh PraktislData Rujulanlsislem-Fo-
tografi Multisaluran/Radiometer/?enyiam/Radar tg9Snt
Simping dari Udara/Sistem Gelombang Mikro
BAB
1

PENDAHULUAN

1.1 DEFINISI FOTOGRAMETRI


P-erkumpulauuEolog;rarnetriwan,A,me. rika m,endgfinisikan.futogramptrr
rebagai-ffim_ilmu_dan"..tpfrnplqgi "untuk'rrlemp-eralah. infpr.ma*r_.[emp"rsaya
tentang-sUigh"fisikdan""linskungnn melalui proses. perekaman . penfilkumn,
dan"in-tpnrptasi.gamharan.fotografik danpola radiasi tenaga elektrbmagnptih
yang tprqkam. Sesuai dengan namanya maka ilmu ini mula-mula hanya
menganalisis foto. Meskipun akhir-akhir ini arti fotogrametri telah diperluas
hingga meliputi analisis rekaman lain selain foto. seperti misalnya pancaran
pola tenaga akustik dan gejala magnetik, namun foto masih merupakan sum-
ber informasi utama di dalam fotogrametri. Perbincangan dalam buku ini
ditekankan pada fotogrametri fotografik. Meskipun demikian, sumber infor-
masi lain juga diperbincangkan.
Arti fotogrametri yang tersirat pada definisi tersebut mencakup dua
bidang yang berbeda, yaitu: (l) fotogrametri metrik dan (2) fotogrametri
interpretatif. Fotogrametri metrik terdiri dari pengukuran cermat befdasarkan
foto dan sumber informasi lain yang pada umumnya digunakan untuk menen-
tukan lokasi relatif titik+itik. Dengan demikian dimungkinkan untuk mem-
pcroleh ukuran jarak, sudut, luas, volume, elevasi, ukurdn dan bentuk objek.
Tcrapan fotogrametri metrik yang paling banyak ialah untuk menyusun petra
planimctrik dan peta topografi berdasarkan foto. Pada umumnya digunakan
foto udara(dibuat dari wahana udara), akan tetapi juga digunakan foto
terestrial(dibuat dengan kamera di muka bumi).
Fotogrametri interpretatif terutama mempelajari pengenalan dan identi-
l'ikasi objck serta menilai arti pentingnya objek tersebut melalui suatu anali-
sis sistematik dan cermat. Fotogrametri interpretatif meliputi cabang ilmu
intarpretasifoto urlara dan p_eryt7fury-qn_jauh. Interpretasi foto udara meliputi
lrcngkajian citra foto. Penginderaan jauh yffig- merupakan cabang ilmu lebih
\

,, 3

daerah pegunungan Kanada Barat yang bertopografi kasnr. Dnas Survai Pantai
baru dari fotogrametri interpretatif, tidak hanya meliputi analisis folo letapi dan Geodesi Amerika Serikat menggunakan fotogrametri pada tahun 1894
jugu p.ngguni* Out" yang diperoleh dari berbagaijenis piranti penginderaan untuk memetakan daerah perbatasan antara Kanada dengan teritorial Alaska.
j.in y*-g-rneliputi dmera multispehtral, sensor inframerah, penyiam atau Sementara itu terjadilah perkembangan di dalam bidang piranti, terma-
;1gner (sianner) termal, dan radar udara dengan arah perekaman-ke samping suk perbaikan kamera dan film yang menyebabkan fotograntetri berkembang
tSiAnj. piranti penginderaan jauh yang sering dibarva oleh wahana berupa lebih jauh lagi. Pada tahun 1861 dikembangkan proses fotografi dengan
.at"rit yung ,"rrgor-bit bumi, mampu menyajikan informasi kualitatif dan menggunakan tiga warna. Film gulungan disempurnakan pada tahun 1891.
iri"rr".i fuantititif objek. Dengan kesadarart manusia untuk melestarikan Pada tahun 1909, Dr. Carl Pulfrich dari Jerman memulai percobaannya
ii^gtr"g"" dan sumbeidaya alamiah seperti sekarang ini, interpretasi foto dengan pasangan foto stereo. Hasil penelitiannya merupakan landasan bagi
,-Ai*-*?rprn penginderaan jauh digunakan secara luas sebagai suatu alat di pengembangan teknik pemetaan dengan pirantinya yang digunakan sekarang
dalam pengelolaan dan perencanaan' ini.
Penemuan pesawat udara oleh Wright Brothers pada tahun 1902 meru-
pakan awal bagi pengembangan fotogrametri udara. Hampir semua pekerjaan
1.2 SEJARAH FOTOGRAMETRI fotogrametri hingga tahun tersebut hrupa fotogrametri terestrial. Pesawat
udara digunakan untuk pertama kalinyapada tahun 1913, yaitu guna memper-
Ilmu fotogrameri telah dimulai jauh sebelum ditemukiunnya fotografi. oleh foto udara untuk maksud pemetaan. Foto udara digunakan secara luas
proses
Pada tahun 3SO Setelum Masehi, Aristoteles telah mengutarakan-
-*i*-p-yitii[an pada Perang Dunia Pertama, terutrma untuk pengamatan medan lawan. Antara
ke- 1 8,
,rt"t gamUaran objek secara optik. Pada.awal abad perang dunia pertama dan kedua, fotogrameEi udara untuk pemetaan berkem-
perspektif linier- Segera
-Lamberfpendapatnya tentang
Dr. Brook'iayior menyitakan bang pesat ke pembuatan peta secara besar-besaran. Pada periode ini banyak
setelah itu maka J. H. menyatakan bahwa asas perspektif dapat di- perusahaan swasta serta badan pemerintah di Amerika Serikat dan Eropa
manfaatkan untuk membuat Peta. terlibat di dalam kegiatan fotogrametri.
Penerapan fotogrametri yang sebenamya tentu saja tidak dapat dilaksa- Selama perang dunia kedua, teknik fotogrametri digunakan secara luas
nakan sebelum dikembangkannya proses fotografi. Proses fotografi dimulai untuk memenuhi permintaan peta-peta baru yang besar jumlahnya. Interpreta-
puou tut rn 1839, yaitu pada saat Louis Daguene dari Paris mengumumkan si foto udarajuga diterapkan secara lebih luas bila dibanding terhadap periode
irot.r fotografi secara iargsung. Pada proses iniyaitu
pemotretannya dilakukan
dengan jalan melapis-
sebelumnya, yaitu untuk maksud pengamatan dan penelitian medan lawan.
fada pelat l6gam yang dibuit pe[a terhadap sinar, Dari program pemetaan yang dipercepat selama perang tersebut dibuahkan
lin pe.at io[iO piOanya. Proies yang digunakan sekarang ini pada dasarnya perkembangan piranti maupun teknik.
merupakan proses Daguerre.
'Setairun setelah penemuan Daguene, seorang geodesiwan pada Akade-
Kontribusi di dalam bidang piranti dan teknik selama 35 tahun terakhir
terlalu banyak untuk dirinci. Akan tetapi bila perkembangan tersebut dipan-
mi Sains Perancis bernama Arago memperagakan penggunaan foto udara dang secara keseluruhan, hasilnya telah membuahkan fotogrametri yang aku-
untuk survai topOgrafi. Pengalaman pertama penggunaan fotogrametri untuk rat, efisien, dan menguntungkan sehingga pada saat ini sebagian besar peker-
p"*.tu- topogruli dilakukan pada tahun 1849. Pekerjaan ini dipimpin oleh jaan pemetaan topografi dilakukan dengan menggunakan fotogrametri. Hanya
kolonel Aime iaussedat dali Korps Ahli Teknik Angkatan Darat Perancis' Di pemetaan persil dan sebagian kecil pemetaan topografi saja yang tidak meng-
g gunaan layan g-
antara pen galaman-pen galaman Kolonel Laussedat ial ah pen gunakan fotogrametri. Meskipun pemetaan topografi merupakan bidang uta-
iuv-g'o*"taon untuk pemotretan dari udara. Karena kesulitan yang dihadapi ma penerapan fotogrametri, cara fotogrametri juga digunakan di dalam bidang
Ai aaiam membuat foto udara, ia meninggalkan bidang penelitian ini dan Iain. Pada Butir 1.6 dibincangkan banyak penerapan khususnya.
memusatkan upayanya untuk pemetaan dengan menggunakan foto terestrial.
pada tahun tgjg, Xoionel Laussedat mengutarakan keberhasilannya di dalam
p"nggun* foto untuk pemetaan. Pekerjaan rintisan serta dedikasinya di I.3 JENIS FOTO
ifauii UiOung ini menyebibkan ia dipandang sebagai bapak fotogrametri.
Pemetaan topografi dengarr menggunakan fotogrametri di Amerika Ada dua jenis foto yang digunakan di dalam ilmu fotogrametri, yaitu
Utara dimulai pada tahun 1886 oleh Kapten Deville, Pimpinan Surveyor Ka- foto udara dtnfoto terestiol. Foto terestrial dibuat dengan kamera di muka
nada Dia berpendapat bahwa asas Laussedat sangat bagus untuk memetakan
Gambar 1.1 Fototeodolit yang digunakan untuk membuat foto terestrial (Seizin Gambar 1.2 Foto terestrial. (Seizin Wild Heerbrugg Instruments, Inc.)
Wild Heerbrugg Instruments, Inc.)
bumi, dan posisi stasiun kamera secara akurat. Cara kerjanya dengan menggu-
bumi yang pada umumnya diketahui posisi dan orientasinya yang sering nakan kamera yang konstantanya diketahui secara pasti, bersama dengan posi-
diukur secara langsung pada saat pemotreian. Berbagai jenis kamera sering si bintang sebagai latar belakangnya yang diketahui pula. Pada akhir-akhir
digunakan untuk membuat foto terestrial, yaitu dari kamera sederhana yang ini, cara ini digunakan untuk menyusun jaringan titik kontrol lingkup dunia
dipegang tangan sekedar untuk hobi hingga kamera khusus yang dirancang dan untuk menentukan s@ara akurat posisi relatif benua, pulau-pulau di laut
dengan presisi tinggi dan dipasang pada penyangga berkaki tiga (tripod). Fato- yang jauh, dsb.
teodolit seperti yang disajikan pada Gambar 1.1. merupakan gabungan antara Foto udara pada umumnya dibedakan atasfoto vertikal dwtfoto con-
kamera dan teodolit yang dipasang pada penyangga hrkaki tiga. Ia digunakan dong.Fc/ro vertikal dibuat dengan sumbu kamera yang axahnya setegak mung-
untuk membuat foto terestrial. Teodolit tersebut memungkinkan pengarahan kin. Bila sumbu kamera pada saat pemotretan benar-benar vertikal, bidang
kamera menurut asimut tertentu. Salah satu contoh terestrial disajikan pada foto sejajar bidang datum dan foto yang dibuahkannya disebut foto vertikal.
Gambar 1.2. Pada kenyataannya, jaran g sekali sumbu kamera b e na r - b e n ar v e r ti kal. IIal ini
Karnera balistik merupakan kamera terestrial jenis lain yang contohnya disebabkan oleh terjadinya kemiringan pesawat terbang. Bila sumbu kamera
disajikan pada Gambar 1.3. Kamera yang besar ini dipasang pada stasiun secara tidak disengaja membentuk sudut kecil terhadap garis vertikal, fotonya
bumi tertentu dan digunakan untuk memotret satelit buatan yang sedang disebut/alo sendeng. Kesendengan tak tersengaja pada umumriya kurang dari
mengorbit, dengan bintang-bintang sebagai latar belakangnya. Foto tersebut lo dan jarang sekali melebihi 3o. Untuk maksud penggunaan praktis maka
dianalisis untuk menghitung lintasan satelit, ukuran, bentuk dan gravitasi foto yang mengalami kecondongan dapat dipandang sebagai foto tegak tanpa
t,

Gambar 1.4 Kamera udara model Zeiss RMK 1523. Dengan kontrol eleknik dan
pemasangan di pesawat terbang. (Seizin Carl Zeiss, Oberkochen')

Gambar 1.3 Kimera balistik wild BC-4. (Seizin wild Heerbrugg Instruments,
Inc.)

akibat yang serius. Piranti dan prosedur fotogrametri yang telah-dikembang-


t"" *6ru"ngkinkan untuk mengontrol kecondongan tanpa kehilangan kete-
puturny". Gimbar 1.4 mencerminkan kamera udara dengan mekanisme kon-
tot se|ara elektrik serta kerangka pemasangannya untuk menempatkannya
puAu p"tu*ut terbang. Foto udara yang disajikan pldq 9q'!t 1'5 dibuat
a;;g6n jenis kamera yang disajikanpada CamUar 1.4, dari ketinggian 1.500
kaki di atas medan.
Foto udara condong dibuat dengan sumbu kamera yang sengaja diarah-
kan menyudut terhadap sumbu vertikal. Foto udara sangat condongmexggam-
barkan c'akrawala, sedang foto udara agak condong tidak menggambarkannya.
Cu*U, 1.6 menyajikai orientasi kamera untuk foto udara vertikal, agak
condong, dan sangat condong. Di samping itu juga menggambarkan.wujud
p"t k-p"i^k garis ii medan yang tergambar pada foto udara. Gambar 1.7 dan
'Cr.Ui" 1.8 irasing-masing mencerminkan foto agak condong dan foto sangat
condong.
Gambar 1J Foto udara vertikal. (Seizin Carl Zeiss, Oberkochen')
Vertikal Agak condong Sangat condong

Orientasi kamera pada tiga jenis foto udara

Yertikal Agakcondong
ffi'
Sangatcondong
Petak garis bujur sangkar yang tergambar
pada tiga jenis foto udara

Gambar 1.6 Orientasi kamera pada tiga jenis foto udara.

Jenis foto yang baru ialahfoto ekstraterestriol yutg digunakan di dalam


penelitian antariksa. Foto tersebut dibuat dengan roket yang diluncurkan ting-
gi atau dengan wahana antariksa lainnya. Akhir-akhir ini telah banyak dibuat
foto ekstraterestrial yang berupa foto bulan dan foto satelit yang dekat bumi. Gambar 1.7 Foto udara agak condong. (perhatikan bahwa cakrawala tidak
Fotogrametri dengan foto terestrial merupakan harapan masa mendatang. tergambar pada foto) (SeizinState of Wisconsin, DePartment of Transportation).
Gambar 1.9 ialah foto ekstraterestrial sangat condong untuk memotret bulan
dengan bumi sebagai latar belakangnya. Foto tersebut dibuat oleh misi Apol-
lo akhir-akhir ini. tu jalur terbang, menggambarkan sebagian daerah yang tergambar pada foto
sebelumnya. Tampalan sepanjang jalur terbang tersebut dinamakan tampalan
depan. Daerah tampalan depan ini disebut daerah tampalan stereoskopik.
Pasangan fotonya disebutpasan ganfoto stereo. Berdasarkan alasan yang akan
1.4 MEMBUAT FOTO VERTIKAL dibincangkan pada bab berikutnya, besarnya tampalan depan pada umumnya
dibuat antara 557o hingga657o. Posisi kamera pada tiap pemo6etan, misalnya
Bila suatu daerah digambarkan oleh foto udara maka fotonya dibuat posisi l, 2, 3, dan seterusnya disebut stasiun pemotretan. Ketinggian kamera
sepanjang serangkaian garis sejajar yang disebutjalur terbang. Seperti terlihat disebut ting gi terbang.
pada Gambar 1.10, foto-foto tersebut pada umumnya dibuat sedemikian Jalur-jalur terbang yang berdampingan juga dibuat sedemikian sehing-
sehingga daerah yang digambarkan oleh foto udara yang berurutan di dalam sa- ga ada tampalanle arah samping. Tampalan ini disebut tampalan samping,
10 11

Gambar 1.9 Foto ekstraterestrial sangat condong yang menggambarkan bulan


dengan bumi sebagal latar belakangnya. (Seizin National Space Science Data
Center.)

Gembrr l.t Foto uden $ngat condong daerah mineapolir. (perhatikan cakrawala yang
tcqgamber pada foro) (Scizin statc of wiconsin, Dcpartment of Transporration).

seperti tercermin pada Gambarl.l l. Pada umumnya tampaPl samping dibuat


ieifmr 30%. Raligkaian foto udara yang terdiri dari dua jalur terbang atau
lebih disebut afi kelomPokfoto.

15 FOTO UDARA YANG ADA

Fotogramefiwan dan penafsir foto udara dapat memperoleh foto udara


dengan dua cara, yaitu dengan membeli foto udara yang telah tersedia atau
dengan memesan pemo6e1,; baru. Penggunaan foto udara yang telah tersedia Gambar 1.10 Tampalan depan foto dalam sebuah jalur terbang.
t2 13

fotogrametri. Pada saat ini Dinas Survei Geologi Amelk1 Serikat, suatu
Ialur ter- lembaga federal yang diserahi pemetaan wilayah Amerika serikat, mengguna-
bang No.l + kan fotogrametri untuk hampir seluruh peta yang dibuat secara kompilasi. Di
I
M Jalur ter-
samping kornpilasi peta, banyak titik konrol medan yang dibuat secara foto-
grametri, yaitu dengan menambahkan pada titik kontrol medan yang jarak an-
f, tar titifnya jauh. Kerja medan tidak dapat dihapuskan seluruhnya. Ia diperlu-
bang No.2
kan untuk pengukuran titik kontrol utama dan untuk menguji kecermatan
fotogrametrik 6agi peta kompilasi. Di samping untuk peme0aan topografi,
uanyat peta lain yang dibuat secara fotogramerik. Peta-petr tersebut skalanya
Gambar 1.11 Tampalan samping jalur terbang yang berdekatan. bervariasi dari skala besar hingga skala kecil. Penggunaannya untuk perenca-
naan jalan raya, jalan kereta api, jembatan, jaringan pipa, akuaduk, jaringan
sering tidak bersifat ekonomik karena jarang dapat memenuhi kehendak transmisi, bendungan hidro-elektrik, struktur pencegahan banjir, perbaikan
pengluna foto udara yang ada sering hanya cocok untuk pengenalan awal sungai dan pelabuhan, proyek pembaharuan kota, dsb.
itailuntut interpretasi foto udara. Bila foto yang tersedia kurang memuaskan
- Fotogrametri telah menjadi alat yang sangat bermanfaat di dalam sur-
sehubungan dengan ketuaan usia, skala, kamera, dan sebagainya, perlu dipe- vei lahan, Sebagai contoh, foto udara dapat digunakan sebagai peta dasar se-
san pemotretan baru. Sebelum diputuskan apakah akan menggunakan foto cara kasar untuk menggambarkan batas pemilikan lahan yang ada. Bila titik
udari yang tersedia atau memesan pemotretan baru, tentu saJa hqus dipelajari awal atau sembarang sudut dapat digambarkan sesuai dengan wujudnya di
terlebih dahulu secam teliti liputan foto udara yang ada bagi daerah tertentu. medan yang tampak pada foto, seluruh persil dapat digambarkan pada foto se-
Foto udara tersedia hampir di seluruh Amerika Serikat dan Kanada. suai dengan wujud medan yang dapat diidentifikasi. Bila penggambaran sudut
untuk beberapa daerah bahkan telah dilakukan pemotretan beberapa kali ini dilakukan di medan maka akan banyak membantu di dalam menemukan
sehingga keteisediaannya mencakup foto dengan be$agai skala dan jenis. Se- l) sudut pemilikan lahan yang sebenarnya. Foto udara dapat pula digunakan
bagian besar foto udara yang tersedia berupa foto udara vertikal yang dibuat untuk merencanakan survei medan. Dengan pengamalan stereoskopik maka
dengan, lensa tunggal. daerah survei dapat dikaji di dalam tientuk tiga dimensional. Jalur pencapaian
- Foto tersebut dibuat oleh atau untuk badan-badan pemerintah federal. ke daerah yang jauh dapat dikenali sehingga dapat ditemukan hambatan terke-
Ada peta indeks berjudul "status pemotretrn udara" yang dapat dipesan dari cil untuk melalui medan yang sukar atau daerah hutan. Fotogrametriwan da-
Dinas survei Geologi Amerika Serikat (uscs). Peta ini menyajikan pat membuat sebuah peta daerah tanpa menginjakkan kakinya di daerah itu.
keterangan tentang seluruh daerah Amerika Serikat yang telah dipotret oleh Ha ini merupakan keuntungan di dalam mengatasi masalah untuk mencapai
berbagai lembaga pemerintah federal. Petanya dirinci atas negafa-negara lahan pribadi bagi survei teresrial.
bagian. Peta tersebut juga menyajikan keterangan tentang liputan foto udara Bidang perencan&rn dan perancangan jalan raya merupakan contoh yang
yang tersedia pada beberapa lembaga pemerintah, lembaga kota, dan perusaha- baik sekali untuk menggambarkan betapa pentingnya fotogrametri bagi keper-
an swasta. Pada peta tersebut dicantumkan nama dan alamat lembaga yang luan rekayasa (engineering). Untuk maksud ini pada umumnya dibuat mosaik
memotret dan menyimpan foto udara serta keterangan tentang skala foto dan foto udara guna membantu mengkaji daerah dan koridor bagi pemilikan jalur
panjang fokus kamera. Permintaan keterangan lebih lanjut dan pemesanan terbaik. Peta topografi berskala kecil disiapkan untuk perencanaan awal,
ioto udara dapat dialamatkan langsung ke lembaga yang bersangkutan. Seba- sedang peta topografi berskala besar digunakan untuk perancangan akhir' Pe-
gian besar departemen jalan raya juga memiliki liputan foto udara yang cukup kerjaan medan untuk penampang lintang dilakukan guna memperoleh jumlah
banyak dan dapat dipesan oleh umum. kontrak. Di dalam beberapa hal maka sebagian perencanaan lembaran-lembar-
an peta profil rencana jalan raya dibuat berdasarkan foto udara. Biaya parsial
dan bahkan jumlah biaya akhir sering ditaksir berdasarkan pengukuran foto-
1.6 KEGUNAAN FOTOGRAMETRI grametrik. Penggunaan fotogrametri di dalam rekayasa jalan raya tidak hanya
mengurangi biaya, akan tetapi juga memungkinkan pembuaian rancang ba-
Penerapan paling awal bagi fotogrametri ialah untuk pemetaan topo- ngun (design) jalan raya secara menyeluruh yang lebih baik.
grafi. Sekarang pun pemetaan topografi masih merupakan kegunaan utama
15
t4
graphic Interpretation", "Manual of Color Aerial Photo8BPhy" "Manual of
mengurangi biaya, akan terapi juga memungkinkan pembuatan rancang ba-
ngun (design) jalan raya secara menyeluruh yang lebih baik. i.e,rote Seniing", dan "Handbook of Non-Topograpic Photogrammetry"'
Di samping bidang rekayasa juga banyak bidang yang memanfaatkan Dalam ,enyusu-n publikasi tersebut maka para fotogrametriwT daT instansi
pemerintah,-perusahaan swastia dan pribadi, dan lembaga pendidikan berperan-
fotogrametri, yaitu antara lain untuk pembuatan peta pajak bumi, pela [anah,
pela hutan, peta geologi, dan peta bagi perencanaan serta pewilayahan kota ierta sebagii penulis maupun pembantu penulis tiap bab sesuai dengan
dan daerah. Foto udara juga digunakan di dalam bidang astronomi, arsilektur,
(.) bidang tea-trtiannya. Perkumpulan Fotogrametriwan Amerika juga menerbit-
kepurbakalaan, ekologi, dan mineralogi. Foto stereoskopi memungkinkan kan majalah bulanan tentang perkembangan baru fotggrametli m?up.y,n
t'
keadaan medan dikaji di kantor atau di laboratorium untuk pengamatan dan terapannya, yaitu "Phologramelric Engineering and Remote Sensing"
pengkajiannya secara tiga dimensional. Perkumpulan tersebut membantu secara tetap bagi pertemuan-pertemuan
Fotogrametri telah digunakan secara berhasil di dalam pengelolaan lalu ilmiah di berbagai tempat di Amerika Serikat. Pertemuan semacam ini
menyebabkan beikumputnya sejum lah besar fotogrametriwan u tuk m enyaj i-
lintas dan penelitian kecelakaan lalu lintas. Manfaatnya untuk penyelidikan
kan kertas kerja, membincangkan gagasan dan masalah baru, dan pengamatan
kecelakaan lalu lintas ialah bahwa foto udara tidak menunjukkan sesuatu yang
secara langsung piranti fotogameri terbaru'
berlebihan yang mungkin diperlukan kemudian untuk merekonstruksi kecela-
kaan tersebut, dan dimungkinkan pula untuk memperbaiki secara cepat kearah
ni&ngldtogrametri dan handasah sangat erat kaitannya sehingga sulit
untuk membedakannya. Keduanya merupakan ilmu pengukuran untuk mem-
arus lalu lintas yang normal. Di dalam bidang kedokteran dan kedokteran gigi,
pengukuran berdasarkan sinar-X dan foto lainnya ternyata besar manfaatnya buahkan peta. Meskipun perhatian utamanya pada handasah, Konggres Ameri-
bagi diagnosa dan pengobalan. Salah satu kegunaan tertua dan masih merupa-
ka untukHandasah dan pemetaan (American Conggress on Surveying and
kan kegunaan utama hingga saat ini ialah untuk pengumpulan informasi Mapping/ACSM) juga besar perhatiannya pada fotogrametri. ACSM yang
kemiliteran. Eksplorasi antariksa merupakan salah satu bidang penggunaan didilkan pada tahun 1941 secara teratur ikut membantu ASP untuk pertemu-
an-pertemuan ilmiah. Majalah ACSM yang terbit tiap tiga bulan, yaitu
baru yang menakjubkan bagi fotogrameri.
" sirveying and Mappirtg", sering memuat artikel yang berkaitan dengan foto-
FotogrameEi merupakan alat penelitian yang penting karena keunggul- r.t o grametri.
annya yang unik, yaitu perekaman pada film pada saat peristiwa-peristiwa
yang dinamis terjadi. Pengukuran berdasarkan foto udara atas jumlah seperti
Bagian Handasah dan Pemetaan Perkumpulan Rekayasawan Sipil
pembengkokan balok penyangga atau jalan aspal di bawah pengaruh beban, Amerikan (the Surveying and Mapping Division of the American Society of
dapat dilakukan secara fotografis dengan mudah. Pengukuran semacam ini
Civil Engineers/AscE) juga diperuntukkan bagi handasah dan fot-ogrametri,
Artikel f6togrameri sering diterbitkan di dalam majalah ini, yaitu 'Journal of
sulit dilaksanakan dengan cara lain.
the Surveying and Mapping Division".
Agaknya sulit untuk membincangkan semua hal yang menyangkut
penggunaan asas dan metode fotogrametri di dalam mengatasi masalah peng-
tnititut Handasah Kanada (the Canadian Institute of Surveying/ClS)
merupakan organisasi profesional terkemuka di Kanada yang berkaitan dengan
ukuran. Meskipun merupakan ilmu yang relatif baru, fotogrametri besar pe-
ranannya bagi rekayasa maupun bidang lainnya. Terapan baru agaknya terba-
fotoglametri. CIS secara tetap membantu pertemuan ilmiah. Majalahnya ya-
ijnt';The Canadian Surveyor" juga memuat artikel fotogramef.i. "Auslralian
tas hanya oleh imaginasi manusia, sedang ilmu ini harus berkembang terus di
masa mendatang.
Surveyor" dan"Photogrammetric Record' merupakan majalah serupa yang
sirkulasinya meliput lingkup dunia. Dua majalah ini diterbitkan di dalam ba-
I.7 ORGANISASI FOTOGRAMETRI PROFESTONAL hasa Inggris, masing-masing oleh organisasi profesional Australia dan
Inggris.
Di Amerika Serikat terdapat beberapa organisasi yang berkepentingan
Perkumpulan Fotogrametri dan Penginderaan Jauh Intemasional (the
dengan fotogrametri. Organisasi tersebut pada umumnya bertujuan untuk me-
International Society for Photogrammetry and Remote SensinlSPRS) yang
majuka4 ilmu fotogrametri, menggalakkan komunikasi antar fotogrametri-
didirikan pada tahun 1910 merupakan arena bagi pertukaran pendapat dan
wan, dan meningkatkan standar dan etika di dalam penerapan fotogrametri.
informasi di antara pafa fotogrametriwan seluruh dunia. Anggotanya terdiri
' Perkumpulan Fotogrametriwan Amerika (American Society of Photo-
grammetry/ASP) yang didirikan pada tahun 1934 merupakan organisasi profe-
sional fotogrametriwan terkemuka di Amerika Serikat. Salah satu kontribusi l. jumal ini diubah dai Photogrammetric Engineering menjadi Photo-
Pada talrun 1975 judul
utamanya berupa publikasi "Manual of Photogrammetry", "Manual of Photo- grammetric Englheering and Remote Sensing'
Prdlck $drilblnlo Pcrpusakaen

dari organisasi profesi serup4, Pg5kumpulan Fotogramgtriwal Amerika yang inci=2,54 sentimeter'
rcrseb; pada himpir seratui'ne$gra lain. ISPRS membiayai konferensi-inter- kaki = 304,80 milimeter
nasional-sekali tiap empat tahun. Majalahnya ialah'?hotogrammetria" yang meter = 32808 kaki
terbit dua kali tiip tahun. ISPRS mempunyai tujuh komisi teknis yang meter = 39,370 inci
masing-masing mengurusi bidang khusus di dalam fotogrameEi dan penginde- I kilometer = 0,62137 mil
raan jiuh. Tiap komisi mengadakan simposium periodik dimana para fotogra- t) r ranai Gunter (Gunter's chain) = 66 kaki
*.t i*un berkumpul untukhendengarkan sajian kertas kerja tentang subjek rantai Gunter = 100 mata rantai
fotogrametri yang menyangkut kepentingan internasional. Majalah yang mata ranhi = 0,66 kaki
OiterUi*an oleh ISPRS ialah " P ho to gr amme t ria" yang berbahasa Ing gris.
2) Ekivalen sudut
pi (r) = 3,14159265
180 derajad = phi radian
1.8 UNIT UKURAN FOTOGRAMETRI I lingkaran = 360o
1 lingkaran = 2 (Phi) radian
Untuk memecahkan masalah fotogrametri pada umumnya diperlukan 10 = 60'
ukuran panjang, sudut, dan luas. Ukuran panjang dapat berupa sistem Inggris 1'= 60"
yaitu inii dan kaki atau sistem meter, sentimeter, milimeter, dan mikrometer 17'44,8"
radian = 180'/bhi = 57o
(mikron). Konversi dari sistem Inggris ke sistem metrik atau sebaliknya se-
radian= 57295778'
ring diperlukan. Fotogrametriwan di Amerika Serikat dengan cepat memilih
radian = 206.2&.8"
sistem mefik untuk ukuran panjang sesuai dengan anjuran Akademi Nasional
lo = 0,01745329 radian
Ilmu Pengetahuan (National Academy of Sciences). Buku teks juga hants se-
jalan dengan anjuran ini. oleh karena itu maka pada buku ini digunakan sis-
I lingkaran = 400 grad
1 grad= 100sentigrad
tem metrik. grad = 1.000 miligrad
lJkuran sudut di Amerika Serikat pada umumnya dinyatakan dengan grad = 0P' (tepat)
sistem rel6ig esimal yaitu derajad, menit, dan detik. Piranti fotogrametri buat- grad = 0,01570/!b radian
an Eropa banyak yang menggunakan sistem sudut grod. Oleh kar.ena itu
I sentigrad = 0,54'
sering diperlulan konversi antara dua sistem itu. Komputer elektronik pada
I miligrad =324"
umumnyi menggunakan ukuran sudut yang berupa radian sehingga konversi
dari derajad atau grad ke radian atau sebaliknyajuga sering dipgrlukan. 3) Ekivalen luas
Tabel berikut tentang unit panjang, sudut, dan luas diharapkan dapat 1 aker = 43.5@ kaki persegi
membantu para mahasiswa fotogrametri. 1 aker = 4.W.9 meter persegi

1) Ekivalen panjang
kaki = 12 inci
. Padr tahun 1959, Amcrika Serikat secara resmi mengambil I inci sama
dengan 254 cm'
atau I kaki rame dcngan 03048000 mctcr, yang sekarang disebut u.s.
standord Foot.
yard = 3 kaki I
kaki rame dcngrn
rod = 16,5 kaki
I
Pade mulanye mctir dirctujui rama dcngan 39,37 inci, atau
0,3u8006 m. Pcrtcdaan rntara kcdur ukuran buku ini hanya kira'kira I bagian
dehm
mil = 5.280 kaki 500.000. olch Larena semua survci yang dilahukan cebelum tahun 1959 mengguneken
milimeter = 1.000 milrrometer (mikron) uluran beku tcrdahulu, maka pcngubahannyr mcnyulitkan dan mcmbingungkan.
Jadi
sentimeter = 10 milimeter nkurrn baku tcrdahulu tcrscbut, yang kini disebut U'S' Survey Foot qpcara resmi
tidek
meter = 100 sentimeter dipcrtahmkan untuk remua pcngukuran survci. Umumnya operasi fotogrametri
kilometer = 1.000 meter dipcngeruhi olch kcdua ukurrn buku ini karcne pcrbcdaannya sangat kecil. Namun
dcorikim mahrsirwa yang mclalnrkan survei haru! beftati-hati terhadap kedua ukunn
baku

ini.Lareneukprrntersebutmcmprrnyaisignifikanridalampresisipengawasansurvei.
Prda huku ini di-p.kai U.S. Standard Food, kecueli disebut lain'
18 19

I aker= l0rantai Gunteipigig$ataua'; kalau ditandai dengan sebuah garis di atasnya atau dengan memindahkan
640 aker = I mil persbgl '
titik desimal ke arah kiri seraya menyatakan jumlahnya dengan bilangan
247,1 aker = I kilometer per segi sepuluh berpangkat.
t hektar =2471aker Contoh:
1 aker = 0.4M7 ha
f, tr 380 = 3,8 x 102 duabilanganpenting
380 = 3,80 x 102 tiga bilangan penting
1.9 BILANGAN PENTING 1.600 = 1,600 x 103 empatbilanganpenting
Di dalam penghitungan yang menggunakan nilai terukur, jawaban
Menurut definisi, nilai ukuran mengandung sejumlah bilangan penting harus diberikan dengan sejumlah bilangan penting sesuai dengan jumlah bi-
yang jumlahnya sama dengan jumlah digit yang pasti ditambah s$t digil tak- langan penting pada data yang digunakan untuk menghitungnya. Baik jumlah
iirin. SeAagai contoh, misalnya sebuah jarak sebesar 24,37 milimeter yang bilangan penting yang kurang maupun yang lebih dari seharusnya mengisya-
diukur denfan sebuah skala yang bagian terkecilnya 1/10 milimeter. Tiga ratkan hasil penghitungan yang tidak cermat.
digit pertama berupa nilai pasti, akan tetapi digit yang keempat (7) hanya di- Di dalam penjumlahan dan pengurangan, penghitungan dilakukan tian-
taksiiberdasarkan skala antara 0,3 milimeter dan 0,4 milimeter. oleh karena pa memperhatikan jumlah bilangan penting, akan tetapi bilangan penting
itu nilai 24,37 mengandung empat bilangan penting. Semua bilangan penting yang paling kanan pada pembulatan akhir jawabannya diletakkan pada lajur
perlu dicatat di dalam pengukuran. Pembulatan bilangan maupun kegagalan paling kanan.
mencatat bilangan taksiran yang terakhir tersebut merupakan pemborosan Contoh :
waktu tambahan yang digunakan untuk menambah kecermatan. Sebaliknya,
4,735
bila dicatat digit taksiran yang jumlahnya lebih dari satu digit, kecermatan
2,05
hasilnya akan berkurang.
24
Bilangan nol yang dicatat dapat bbrupa bilangan penting maupun bu-
kan bilangan penting. Pentingnya bilangan nol tersebut tergantung pada 30,785
letaknya, sesuai dengan aturan berikut: jawaban = 3l (dua bilangan penting ditentukan oleh24)
1) Bilangan nol yang terletak di sebelah kiri bilangan bukan nol hanya me- 1.130
nunjukan letak titik desimal dan bilangan nol tersebut bukan bilangan pen-
ting. -83.073
LO46,9n
jawaban= 1.050 (tiga bilangan penting yang ditentukan oleh 1.130)
Contoh:
0,003 satu bilangan Penting
Di dalam perkalian dan pembagian, jumlah bilangan penting pada
jawaban sama dengan jumlah terkecil bilangan penting sembarang data yang
0,057 dua bilangan Penting
digunakan di dalam penghitungan itu.
0,00281 tiga bilangan Penting
Contoh :
2) Bilangan nol yang terletak di sebelah kanan bilangan bukan nol merupakan
bilangan penting. 1.738 x 24 = 41.712 jawaban = 42.0N (dua bilangan penting yang
ditentukan oleh 24).
Contoh : 648,1 x 0,0523 = 33,89563 jawaban 33,9 (tiga bilangan penting
=
0,10 dua bilangan Penting yang ditentukan oleh 0,0523).
7,50 tiga bilangan Penting 23,985113 = 1,845 jawaban = 1,8 (dua bilangan penting ditentukan
483,000 enam bilangan penting oleh 13).
3) Bilangan nol yang terletak di sebelah kanan bilangan nol akan tetapi letak- Di dalanl perkalian dan pembagian dengan konstante pasti, konstante
nya di sebelah kiri titik desimal tidak merupakan bilangan penting, kecuali itu tidak meneniirkan jumlah bilangan penting pada jawaban.

\-
20 2t

Contoh: Gruner, H.: Photogrammetry 1776-1976, Photogrammetric Engineering and


Remote Sensing, vol. 43, no. 5, hlm. 569, L977.
Lrbatrlah 15,73 kaH menjadi inci Landen, D.: History of Photogrammetry in the United States, Piotogrammetric
Iawfun: Engineering, vo. 18, no.5, hlm. 854,1952.
Latham, J. P.: Perspective on Education in Photogramme[ry and Remote Sensing,
15,73 x 12 inci/kaki = 188,76 jawaban = 188,8 (empat bilangan
a} Photogrammetric Engineering and Remote Sensing, vol. 43, no. 3, hlm.
penting ditentukan oleh 15J3, bukan 12). 257, 19',t7.
Di dalam buku ini istilah "nominal" sering digunakan untuk menun- :
McCulloch, T.: The CIS and the International World of Surveying and Mapping,
jutkan kedekatan terfiadap suatu nilai tertentu, misalnya sebuah kamera de- Canadian Surveyor, vol. 31, no. 4, hlm. 293,1977.
ngan panjang fokus nominal 6 inci. Di dalam konteks ini maka nominal Nealey, L. D.: Remote Sensing/Photogrammetry Education in the United State and
dapat diasumsikan sebagai dua bilangan penting tambahan (oleh karena itu Canadg Photogrammetric Engineering and Remote Sensing, vol. 43, no.
sebuah kamera dengan panjang fokrs nominal dapat dianikan sebuah panjang 3, hlm. 259, 1977.
fotus sebesar 6,00 inci). Parker,L.: Highway Plans from Photogrammetrically Compiled Maps, ASCE
hda penghitungan antara biasanya dilakukan penambahan satu bilang- Journal of the Surveying and Mapping Division, vol. 90, no. SUl, hlm.
an penting terhadap jumlah bilangan penting yang diperlukan, dan kemudian l 3t, 1964.
membulatkan jawaban akhir untuk melakukan koreksi terhadap jumlah Radlinski, W. A.: Surveying, Mapping, Photogrammetry, and Remote Sensing in
bilangan penting. Support of National Energy hograms. Surveying and Mapping, vol. 37,
no. 4, hlm. 305, 1977.
i
Richter, D. M.: An Airphoto Index to Physical and Cultural Features in Western
RUJUKAN I
U.5., Photogrammetric Engineering, vol. 33, no. 12, hlm. 1402, 1967.
Urban Photo Index for Eastern U.5., Photogrammetric Engineering,
American Society of Photogrammetry: "Handbook of Non-Topographic Photo- vol.32, no. l, hlm. 54, l9'll.
grammeE5/," Falls Church, Vo., 1979, Southard, R. B.: The Changing Scene in Surveying and Mapping, Photo-
'Murual of Color Acrial Photography," Falls Church, Va., 1958. grammetric Engineering and - Remote Sensing, vol.46, no. ll, hlm.
"Manual of Photorammetry," ed. ke-4, Falls Church, Va., 1980. -: 1415, 1980.
'Manual of Phoographic Interpretation," Falls Church, Va., 1950. Stanton, B.T.: Education in Photogrammetry, Photogrammetric Engineering, vol.
"Manual of Remote Sensing," Falls Church, Va., 1975. 32, no.3, hlm. 293, 1971.
-:
Avery, T.E., dan D. M. Richrcr: An Airphoto Index to Physical and Cultural Stone, K.: World Air Photo Coverage, Photogrammetric Engineering, vol. 27,
-: Features in Eastern U.5., Photogrammetric Engineering, vol. 31, no. 5, no. 2, hlm. 214, 1961.
-: htm. 895, 1955. Thompson, M. M.: Surveying and Mapping Research 1978-1988: An Overview,
-:
Brandenberger, A.J."Srweying and Mapping in the Soviet Union," Surveying and ASCE Journal of the Surveying and Mapping Division, vol. 105, no. SU1,
hlm. 43, 1979.
Mapping, vol. 35, no. 2, hlm. 137,1975.
World-Wide Mapping Survey, Photogranmetric Engincering, vol. USGS Mapping: The Last Three Decades, Photogrammerric Engi-
36, no.4 hlm. 355, 1970. neering and Remote Sensing, vol. 45, no. 12, hlm. 1607, 1979.
Dix, W.S.: Surveying and Mapping-50 Years of Progress-1928-1978, Surve- Whitten, C. A.l Metrication for Surveying and Mapping, ASCE Journal of the
ying and Mapping, vol. 38, no. 4, hlm. 301, 197E. Surveying ond Mapping Division, vol. 104, no. SUl, hlm. 7, 1978.
-:
Doyle, F.J.: Photogrammctry: The Next Two Hundred Yeus, Photogrammetric -:
Williams, O. W.: Outlook on Future Mapping, Charting, and Geodesy Systems,
Enginecring and Remote Sensing, vol.43, no.5, hlm. 575,1977. Photogrammetric Engineering and Remote Sensing, vol. 46, no. 4, hlm.
Eldrige, rt.H.: Photogrammetry for Property Surveying, Surveying and Map- 487, 1980.
ping, vol.27, no. I, hlm. 63, 195'1. Wolf, P. R.: Surveying-Current Status and Future Challenges, Surveying and
Eliel, L. T.: One Hundred Yeare of Photogrammety, Photogranrmetric Engineer- Mapping, vol. 35, no. 2, hlm. 155, 1976.
izg, vol. 25. 3, hlm. 359, 1959.

\..
22 23

1 .16 Nyatakan bilangan berikut dalam derajad, menit, dan detik:


a) 65 grad
SOAL b) 921,48 grad
c) 1,023 radian
1.1 Jelaskan beda antara fotogrametri metrik dan fotogrametri interpretatif. d) 0,9M radian
1.2 Jelaskan berbagai klasifikasi foto udara. iln 1 .1 7 Llbahlah bilangan berikut ke grad sentigrad, dan miligrad:
1.3 Apakah beda pokok antaxa foto udara agak condong dan sangat condong. a) 42o08'
1.4 Apa yang dimaksud dengan foto ekstraterestrial. b) 39'53jO"
1.5 Apa yang dimaksud dengan fototeodolit. c) 1,301 radian
1.6 Berikan definisi istilah fotogeometri berikut: PertamPalan depan, per- d) 2,426 rudian
tampalan samping Pasangan stereo, stasiun Pemotretan, dan tinggi ter- I .1 8 Nyatakan sudut berikut dalam radian:
bang. a) l47o
1.7 Apa yang dimaksud dengan suatu kamera balistik dan apa pula keguna- b) 26"53iO"
annya. c)297,425 grad
l.t Jelaskan beberapa kegunaan utama fotogrametri. d) 39,48 grad
1.9 Jelaskan kegunaan utama fotogrametri terestrial. 1.1 9 Lakukanlah konversi luar berikut:
I .1 0 Jelaskan cara memperoleh foto udara bagi daerah yang sudah tersedia foto a) Nyatakan l'7,215 aker dalam kaki pangkat dua
udaranya. D) Nyatakan 497,5 aker dalam hektar
1.1 I Seberapa jauhkah foto udara digunakan untuk Perencanaan jalan raya di ne- c) Nyatakan 1,325 mil pangkat dua dalam aker
gara bagian anda? d) Nyatakan 1,000 kaki pangkat dua dalam sentimeter pangkat dua
1 .1 2 Ubahlah ukuran panjang berikut ke inci: | 1 .2 0 Berapakah jumlah bilangan penting pada angka berikut:
a) 75,28 mm 17,O5; 2l; 42O;2,O?5O3; 8,00; 19,300; 7,382,080
b) 152,44 mm 1 .2 1 Nyatakan angka berikut dengan menggunakan sepuluh pangkat dua dan
c) 0,93 mm pertahankan jumlah bilangan pentingnya:
d)37,21mm 28.074,2; 32.050; 26.000; 0.007130; 19.381.420; 12
1 .13 Ubahlah ukuran panjang berikut ke milimete.r: 1.22 Nyatakan jawaban soal berikut sesuai dengan jumlah bilangan penting
a) 5,73 inci yang benar:
D) 0,85 inci a) 38,121 + 170 + 0,O748 + 20,@l
c) 4,80 kaki b) 5,982 62,083
d) 31,29 yud c) 382,00
- 0.013 U
I .1 4 Lakukanlah konversi ukuran panjang berikut: d) 48 x29,075
- -
a) Nyatakan 626 meter dalam kaki e\ (42,5)2
D) Nyatakan 92 mil dalam kilometer
fl 17,593 : 39,40
c) Nyatakan 8,749 kaki dalam meter
d) Nyatakan 3,751 kilometer dalam yard
I .1 5 Ubahlah ukuran panjang berikut ke kaki: a
a) 1O,52 rantai Gunter
b) 325,0 m
c) 160 yard
d) 7846,2 mm

.;-3
25

sumber-cahaya disebut laju gerombang (verocity). r,aju gelombang


mempu-
BAB nyai hubungan dengan besarnya angka getaran O* pr"i*?grfrrUirg'.rru_
rutpersamaan.
2
v =fL (2.r)
ILMU OPTIK UNTUK FOTOGRAMBTRI fI Dalam Persamaan g..t), V adalah laju gelombang, biasanya
dalam saruan panjang kaki (arau merer) riapd;ik,f adarii,
dinyatakan
u,g[u?t*ir, puou
gelombang, biasanya dinyatakan dalam satuan panjang
i
umumnya diketahui dalam putaran (cycle) setiap detik; aan aa"atatr
porj*g
kaki toto, **t!rl. ca-
haya.m empunyai_ suatu, kcc epatan gerak yang sa, ga t t"in g g
i, krg".rk ;.n gun
nilai keceparan 186.282 A inii/Aeril.
Di dalam ilmu optika geometris, cahaya dianggap bergerak mulai
dari
satu titik sumber merar-ui sritu zat p.ngtrntu, aar["rr'urutJa,ir'iuru.
oan
disebut s i ns r. G ambar 2 2, mer uki skan ao'anya sej umlah,ir*
funl ,n"r*.u,
2.I PENGANTAR ke segala arah mulai dari satu titik sumber. Seturirtr trumputinffi'c-on
garis tersebut dinamakan satu berkas sinar.
ga.ir-
Konsep tentang pancaran sinar
tersebut berkembang secara logika dimurai dari ilmu
Agar dapat berfungsi dengan baik maka secara praktis semua piranti
orang hanya memperhatikan terhadap arah jaran yang
optik"a iiriti upruilu
fotogrametri dalam beberapa hal tergantung kepada bagian-bagian optiknya. dilarui or.r, p.frir'oatun
Jumlah serta jenis bagian-bagian optik yang dipergunakan tersebut sangat
beraneka ragam sesuai dengan tipe piranti. Sebagai contoh, stereoskop saku
kecil hanya menggunakan lensa-lensa sederhana yang tipis saja, kamera untuk
pemotretan udara mempunyai susunan lensa yang diatur sangat teliti serta ma-
t\ Celombang
hal harganya, dan piranti ploter stereoskopik yang canggih kebanyakan meng- cahaya
Caris
gunakan lensa, cermin dan prisma yang banyak jumlahnya.
sinar
Ilmu pengetahuan optik terdiri atas dua macam cabang utama, yaitu:
ilmu optika fisika dan ilmu optika geometris. Di dalam ilmu optika fisika
cahaya dianggap bergerak melalui suatu zat penghantar misalkan udara dalam
suatu rangkaian gelombang elektromagnetik yang memancar dari suatu titik
sumber cahaya. Secara konsepsual hal ini dapat dipandang sebagai suatu
kelompok lingkaran-lingkaran sepusat yang mengembang atar rumancar
keluarmenjauhi suatu sumber cahaya, seperti dilukiskan pada Gambar z.l.Di
alam bebas, suatu kejadian yang sangat mirip dengan cara gelombang cahaya
itu merambat dapat diciptakan dengan cara menjatuhkan sebutir kelereng ke
dalam kolam yang airnya tenang untuk menimbulkan gelombang-gelombang
yang merambat secara radial keluar menjauhi titik tempat kelereng tadi dija-
tuhkan. Seperti halnya air, maka setiap gelombang cahaya masing-masing
mempunyai angka getaran atau frekuensi (frequency),lebar getaran (amplitu-
do), dan panj an g ge lomb ang (wavelength). Angka getaran adalah banyaknya
panjang gelombang yang melalui suatu titik tertentu dalarn satu satuan wak-
tu; lebar getaran adalah ukuran tinggi puncak dan dalamnya lembah; dan pan- Gambar 2.1 Gelombang cahaya terpancar dari satu titik sumber
jang gelombang adalah jarak antara suatu gelombang dengan gelombang beri- menurut konsep
ilmu optika fisika.
kutnya yang berurutan. Kecepatan gerak suatu gelombang meninggalkan

\ 4
26 27

gelombang
titik tertentu yang terdapat pada suatu gelombang cahay-aselamacontoh' pada luinya. Cahaya memperoleh kecepatannya yang maksimum sewaktu bergerak
tersebut bergerak *enjauhi iumber cahava' Seba'gai
*.turlioi menembus ruang hampa udara, agak lebih lambat gerakannya dalam menem-
Gambar 2.1, titik , ,..un.ari.iitft b, c' d' e' dan seterusnya' pada saat bus udara, dan bergerak lebih lambat lagi dalam melalui air dan kaca.
sehingga tercipta
gelombang cahaya te.seUrt bergerali menjauhi sumber' Ukuran besarnya nilai kecepatan cahaya dalam menembus sesuatu zat
dikenal dengan istilah angka indeks bias zat tersebut. Untuk mudahnya angka
"*'-
suatu garis sinar.
5;I., menganalisis dan memecahkan persoalan-persoalan fotograme- Yr indeks bias merupakan perbandingan antara besarnya kecepatan cahaya dalam
yang diperkecil.
ri, seringtati aipeiruran oiag*r-aiugru* garis dalam bentuk
penggambaran garis-
ruang hampa udara dengan kecepatannya dalam menembus sesuatu Tat,atau;
il;tuk ;Hpeisiapkannya pada umumnya memerlukan
saris vans dilalui sinar menembus udara maupun bermacam-macam
bagian n=ic (2.2)
3i,ii.'s;itri.-b""*ii oi"eir', semacam ini serin gkali,g!11s.:T31 sebagai

siatu dasar untuk menghiilt - rumus-rumus dasar dalam fotogrametri. Ber- Dalam Persamaan (2.2), n adalah angka indeks bias sesuatu bahan, c
perilaku
;;k-;* uUrrr-u'tu*n inilah maka pengetahuan dasar tent'ang adalah kecepatan cahaya di dalam ruang hampa udara, dan V adalah kecepatan
geom.etrik' merupakan syarat utama
cahuyu, dan terutama tentang ilmu optika cahaya di dalam zat. Angka indeks bias untuk sesuatu bahan ditentukan mela-
ontut memattam i ilmu pengetahuan fotogrametri' lui percobaan pengukuran. Nilai-nilai yang telah banyak dikenal mengenai
angka indeks bias untuk bahan perantara yang umum adalah 1,000 bagi ruang
Garis Sinar hampa udara, 1,0003 bagi udara; I ,33 bagi air; dan I ,5 hingga I ,7 bagi kaca. "
Apabila sinar bergerak melalui dua bahan tembus cahaya yang homo-
gen dengan angka indeks bias yang berbeda, maka arah garis sinar tersebut
berbelok atau dibiaskan. Pembiasan tidak terjadi apabila ia memotong bahan
yang kedua tadi tegak lurus terhadap bidang batas antara kedua bahan tersebut,
jika perpotongan itu terjadi dalam arah miring, seperti ditunjukkan dalam
Gambar 2.3, maka sudut datang $ harus dihubungkan dengan sudut bias$'
melalui hukum pembiasan yang sering disebut hukum Snellius. Hukum ini
dituliskan sebagai berikut:
n Sin 0=n'sin 0' (2.3)

n adalah angka indeks bias bahan yang pertama dan a' adalah angka indeks
bias bahan yang kedua.
Dalam Gambar 2.3, IA adalah sinar datang, AR adalah sinar vang dibi-
askan, dan NN' adalah garis tegak lurus terhadap bidang batas antara kedua
macam bahan tersebut. Sudut 0 dnn 0'diukur mulai dari NN' berturut-turut
ke sinar datang dan ke sinar yang dibiaskan. Suatu sinar cahaya dibiaskan se-
demikian rupa sehingga sinar datang dan sinar bias terletak dalam satu bidang
yang sama. Sudut 0 disebut sudut deviasi yang sebenarnya.
Gambar2.2Berkassinaryangterpancardarisatutitiksumbermenurutkonsep ar 0=0-0' (2.4)
ilmu optika geometris' kaca yang mempunyai
Apabila sebuah sinar diarahkan kepada sebidang
dua buah sisi yang benar-benar sejajar, maka sinar tersebut akan keluar dari
2.2 PEMBIASAN CAHAYA kaca itu dengan arah sejajar terhadap arahnya sewaktu sinar itu memasuki
kaca. Apabila sinar menembus kaca tersebut dengan arah condong, maka sinar
Apabilacahayamenembusdarisuatubahankebahanlainnya,makaia itu akan bergerak letaknya ke samping sejauh ft seperti ditunjukkan pada
dengan sifat susunan bahan yang dila-
..nguruii p"-uahan kecepatan sesuai Gambar 2.4. Sinar yang bergeser tersebut akan keluar dari dalam kaca dan

L.
28 29

Gambar 2.4
Gambar 2.3 Pembiasan sinar.
2.3 PEMANTULAN CAHAYA
tetap terletak pada satu bidang dengan sinar datang, dan jarak pergeseran letak-
nyaakan semakin besar sesuai dengan pertambahan besarnya sudut datang dan
Apabila seberkas sinar mengenai suatu permukaan yang halus misal-
tebal kaca.
kan permukaan logam yang telah digosok halus sekali, maka sinar itu dipan-
Persamaan berikut ini dapat dipergunakan untuk menghitung besarnya
tulkan sedemikian rupa sehingga sudil pantulan Q" samabesarnya dengan
pergeseran ke samping tersebut, apabila tebal kaca sebesar t angka indeks
sudut datang Q, seperti tampak pada Gambar 2.5. Kedua buah sudut tadi terle-
Lias-, sebesar n dan n'sudut-sudutnya sebesar 0 dan 0'
tak pada satu bidang bersama dan diukur dari'NN' yaitu garis tegak lurus ter-
ncos0 hadap permukaan benda yang memantulkan sinar.
ft = rsin a(t
'\ ) (2.s)
- n'cos0) Dari seluruh permukaan itu sebagian membiaskan sinar dan sebagian
lagi memantulkannya, seperti tampak dalam Gambar 2.5. Semakin besar su-
Contoh 2.1 dut datang, semakin besar bagian sinar yang dipantulkan. Untuk suatu berkis
Sinar dipancarkan melalui udara menembus sekeping kaca pipih sete- sinar yang menembus mulai dari suatu zat dengan angka indeks bias yang
bal ll4 inci, yang kedua belah sisinya saling sejajar, dengan s_udut datang se- besar masuk ke zat lain dengan angka indeks bias lebih rendah (contohnya,
besar 60o. Birap-arkah besar pergeseran letrknya pada saat keluar-kembali ke dari kaca ke air), terdapat suatu sudut datang tertentu yang menghasilkan sudut
udara di sisi lain dari kaca tersebut (misalkan n untgk udara = 1 dan n'untuk bias tepat sebesar 90". Sudut datang yang menyebabkan terjadinya keadaan
jelas = 1,520). serupa itu disebut sudut kritis, Q". Apabila besarnya angka indeks bias dari
Dari Persamaan (2.3) dua macam zat diketahui, maka besarnya sudut kritis itu dapat dihitung
dengan menggunakan modifikasi hukum Snellius berikut ini di mana sinus
sudut bias yang sebenarnya 90o itu adalah 1,000:
t0,t*0) = 0,5698 diperoleh 0 = 34"44'
sin Q' =
ffi n'
sin Q. =- (2.6)
Dari Persamaan (2.5)
[ - t.ooo (o,sooo)'] = 0,,r.", Dalam Persamaan (2.6), Q" adalah sudut datang kritis dan n sertra n'
h = 0,25 (o,86do)
Ll
- l,s2o (0,8218)J adalah angka indeks bias seperti telah diterangkan sebelumnya.

,14
30
3l
Contoh 2.2 depan (fi'st-swface mtnor) yaitu cermin yang mempunyai lapisan perak di
Hitunglah besarnya sudut lnitis untuk berkas sinar yang melalui kaca bagian depan kaca, seperti ditunjukkan dalam Gambar 2.7. Meskipun cermin
(r = 1,520) dan masuk ke air (n'= 1,000). yang dibuat dengan cara ini secara optik dapat diterim4 tetapi benda tersebut
Den gan persam aan (2.6). mudah sekali menjadi kabur oleh bekas jari, asap, dan sebagainya, dan umum-
nya tidak digunakan apabila barang tersebut dapat diganti dengan prisma
1.000
sin Q" -ffi= 0'6579 diperoleh 0"'= 41o0'8' Pada piranti fotogrametri tertentu dimungkinkan untuk secara serentak
mengamati suatu gambaran hasil pantulan dan gambaran suatu objek yang
Bagi sudut datang yang lebih besar daripada sudut kritis, akan terjadi terletak di belakang cermin pemantul. Hal ini dapat ditempuh dengan meng-
pantulan penuh dan oleh karenanya tidak terdapat sinar yang hilang sebagai gunakan cermin setengah tembus sinw (half-silvered minor). Cermin ini ter-
akibat pembiasan. Seperti akan diterangkan lebih lanjut kemudian' faktor diri atas sekeping kaca dengan suatu lapisan perak tipis demikian rupa sehing-
yang penting ini merupakan dasar utama dalam penggunaan prisma dalam sis- ga seperdua intensitas sinar yang membawa gambaran objek nrenembus cer-
tem optik. min, sedang yang seperdua lagi dipantulkannya. Dalam Gambar 2.8, berkas
sinar dari A' dipantulkan oleh cermin dan berkas sinar dari A dapat menembus
cermin. Jadi suatu cermin setengah tembus cahaya memungkinkan dua buah
objek yang berlainan dapat diamati bersama-sama dalam keadaan saling ber-
I

I
tampalan. Seperti diuraikan dalam Bab 9, hal ini berguna untuk memindahkan
bagian gambar dari sebuah foto ke peta dengan secara langsung. Sebagai con-
Sinar datang Sinar yang terbias
tohnya yaitu untuk penggambaran detail peta planimetrik ke suatu peta di A'
dari suatu foto udara yang terletak di A. Asas ini disebut comero lusida.

Permukaan yang memantulkan sinar


Sinar datang Sinar utama

,// I // y'/ ,
yang terpantul

I .// rl Sinar datang Sinar yang


terpan!ul
Gangguan sinar
Bagian Sinar terbias
yang terpantul Lapisan perak
,rK*ar'./
tKaca / /
Gambar 2.5 Pantulan sinar Lapisan pcrak

2.4 CERMIN DATAR


Gambar Z.J C"..in dengan lapis- Gambar 2.7 Cermindengan lapis-
Cermin datar yan g diperg unakan untuk keperl uan -keperl uan non-ilmiah an pemantul di belakang an pemantul di depan
pada umumnya terbuat dari lembaran kaca datar dengan suatu lapisan peman-
tul dari perak tipis di belakangnya. Lapisan perak tersebut biasanya ditutup
dengan cat sebagai pelindung. Akan tetapi jenis cermin dengan lapisan pe- 2.5 PRISMA
mantul di belakang ini secara optik kurang menguntungkan, karena cermin
ini memantulkan banyak sinar yang berbaur dengan berkas sinar utama yang Untuk sudut datang yang lebih besar daripada sudut kritis tidak terjadi
dipantulkan, seperti ditunjukkan dalam Gambar 2.6. Pantulan-pantulan yang pcmbiasan, tetapi setiap berkas sinar mengalami pemantulan sempurna.
tidak dikehendaki ini dapat dihindari dengan menggunakan cermin berlapis Pcngertian dasar ini digambarkan dengan prisma bersudut siku-siku dalam

\-
33
32

Sinar yang terseraP


pada saat melalui
cermln

Mata

Sinar ynng terpantul Cermin


setengah
tembus sinar

Gambar 2.8 Kegunaan cermin setengah tembus sinar Gambar 2.9 Pantulan sempurna melalui prisma bersudut siku-siku (0lebih besar
daripada Q6).
Gambar 2.9. Berkas sinar /A masuk menembus prisma dengan arah tegak lu-
rus terhadap salah satu permukaannya. Berkas sinar itu mengalami pemantul-
Prisma Porro
an sernpurna di A (0 adalah 45o, yang lebih besar daripada 0".), dan teluar Prisma bersudut
menurut arah garis AR. Suatu keuntungan penggunaan prisma dibandingkan siku-siku
dengan cermin berlapis depan ialah bahwa pemantulan sinal secara sempuma
dapit dicapai tanpa menggunakan lapisan perak dan oleh karenanya permukaan
kaia tidak mudah menjadi suram. Oleh karena itu maka prisma banyak digu-
nakan sebagai bagian pemantul sinar dalam piranti fotogrametri.
Beberapa tipe-tipe prisma yang lazim digunakan digambarkan pada
Gambar 2.104 hingga d Tipe bersudut siku-siku pada Gambar 2.10a yang
diuraikan di atas, adalah prisma yang paling umum. Fungsinya ialah untuk
membelokkan sinar sebesar 90o. Gambar 2.10b menggambarkan pisma por-
ro, suatu prisma bersudut siku-siku yang diatur arah pemasangannya sehingga (a)
sinar yang dipantulkannya dibelokkan 180o dari arah darangnya. Perlu dicatat
Penta Prisma
bahwa baik prisma d maupun b kedua-duanya membuat kenampakan gambar- Prisma Dove
nya terbalik. Prisma dove pada Gambar 2.10c memutar gambaran sebesar
l80o mengitari sumbu memanjang prisma akan tetapi tidak mengubah arah
lalannya sinar. Prisma bersisi lima atau penta-prisma pada Gambar 2.10d
membelokkan berkas sinar sebesar 90o trnpa memandang arah orientasi pris-
ma. Semua prisma tersebut ini biasa digunakan dalam piranti fotogrametri
untuk merubah arah perjalanan sinar maupun orientasi gambaran objek.

2.6 LENSA SEDERHANA


Sebuah lensa sederhana biasanya terbuat dari sekeping kaca optik yang (ilmbar 2.10 Tipe'-tipe prisma umum.
telah diasah sehingga dua belah permukaannya melengkung atau sebelah

L. )
34' 35

Positif miniskus
Planokonkaf
Bikonveks
__fi=-_
-+-- (r)
Lensa konvergen
(r

(Positi0
Negatif Miniskus
Bikonkaf
n- _+=--
Planokonveks

lt t(
t\ Gambar 2.12 l*nsa lubang jarum dari kamera lubang jarum.
I\-- --{\--
kl U)

l,ensa divergen
(NegatiQ

Gambar 2.11 Berbagai tipe lensa tipis'

melengkungdanbelahanlainnyagatar.Menurutketentuan,suatulensatipis
tipis disajikan pada Bidang gambar
oauad. ieruagai macam.tipe lensa menembus lensa
ketebalannya oapat
a;;#iifiii"gg"7. s"'k"t-Gi[ot sinar daiang vang
"r;;;;;$;titO sama satu
i-ttii,ggu c dibiaskan, ke alah saling mendekati
d hingga/membiaskan
lain menurut hukum SnJf[i"' l*nsa cekung(negatifl)
tJ.* tim Ort rg drlr. .'h menyebar seperti tampak dalam Slmbar'
yang ber-
Fungg!-utama ruut, l.n* iaiah mengumpulkan berkas sinar
,iiru."i"t oun mengumpulkannya ke arah
asal dari seruruh titit vani
di. sisi lain di balik lensa. Lensa
"u.i;r.
;t,tk A y*g t"rf"t t paia jarak
tarinu
rerte.nru.
prinsip pembiasan sinar' Perkakas Gambar 2.13 Berkas sinar dan pembentukan gambar.
daoat berfungsi demkialr
'"'gifuti
sederhana guna memperagakan fungsi
su1!1 lensa
ffi;;ii;;"il;i;-din memungkinkan masuknya Keunggulan suatu lensa jika dibandingkan dengan lubang jarum ialah
ialah sebuah lubang l.ru. yung seiara teotetis
dari objek. Lubang kecil
suatu sinar runggal r;; u;;l dari seriap
ritik adanya peningkatan jumlah sinar yang dapat melaluinya. Sebuah lensa
u'"*
;;;;; ;;; teilan a p?,au suato lubang-jarum vang digambarkan dalam mengumpulkan seluruh berkas sinar yang berasal dari setiap titik pada objek
Gambar 2. 2 membuaf,'tun
I gambarin- objek- dalam keadaan terbalik' dan bukan hanya sebuah sinar tunggal saja. Sebagaimana telah dibicarakan
Gambaran rersebut r.rr#oi.iir tirt"At puOu titik apiunpa mempcrhatikan sebelumnya dan dilukiskan pada Gambar 2.2, apabila sesuatu objek disinari,
j;;;6;1;b-giutt* t"oiti-uio-g 8|[bar dalam kamera itu' Meskipun maka setiap titik pada objek tersebut memantulkan seberkas sinar. Keadaan
untuk dilalui sinar yang sa-
ii"riti*, tubanglirum h*yr "'ungtintan seperti ini juga dilukiskan pada Gambar 2.13. Sebuah lensa yang ditempatkan
,i"iilliri*trigiu,ir"*y'" *"!at teiratr dan tidak sesuai untuk pekerjaan di depan objek akan mengumpulkan berkas sinar yang berasal dari tiap titik
i
g"i&suta" "utu, praktis, maka lubang jarum
iu*n-alasan dan mengarahkan qinar-sinar ini ke titik api yang terletak pada suatu bidang
l[agr"*.t
ten*ut digantikan dengan lensa kaca'

\ ..j
il
37
36
Sebuah bidang datar tegak lurus sumbu optik dan melalui titik api di-
datar di bagian belakang lensa yang disebut bidang gambar.. Gambaran titik- sebut bidang fokus tak terhingga atau bidang fokas saja. Semua sinar sejajar
titik yang iiOat terbatas jumlahnya yang dipusatkan pada bidang gambar, yang memasuki lensa konvergen, berapa pun besarnya arah sudut terhadap
membentuk gambman objek secarakeselunrhan. Perlu diperhatikan dari Gam- sumbu optik, secara ideal akan mengumpul pada fokus tak terhingga (perhati-
bar2.l3 bahwa gambar tenebut terbalik oleh adanya lensa tipis. kan garis patah-patah pada Gambar 2.14). Titik bersatunya sinar-sinar tersebut
Swttbu oprir( suatu lensa tipis didefinisikan sebagai garis yang meng- terjadi pada tempat di mana sinar utama menembus bidang fokus tadi. Yang
hubungkan titik-titik pusat lengkungan permukaan bola lensa. Dalam Gam- dimaksud dengan sinar utama ialah garis sinar yang tidak mengalami penyim-
bw 2.14, O1 dan 02 adaleh titik-titik pusat dua buah permukaan bola lensa, pangan arah serta menembus bagian tengah lensa. Perlu dicatat bahwa pe-
dan R 1 serta R2 adalah jari-jari permukaan bola tersebut. Sumbu optik yang nyimpangan arah ke samping yang disebabkan oleh ketebalan lensa dapat
dimaksudkan tadi adalah guis OlO2.Untuk sebuah lensa yang mempunyai diabaikan.
satu permukaan datar, maka sumbu optiknya ditentukan sebagai garis tegak Jarak antara bidang fokus tak terhingga (bidang fokus) ke tengah-
lurus pada permukaan yang datar tersebut serla menembus titik pusat leng- tengah lensa yaitu sebesar/. Jarak ini disebut jaral< fokuslensa itu. Hal ini
kungan permukaan yang lain. dilukiskan pada Gambar 2.14. Jankfokus lensa merupakan fungsi dari indeks
Sinar yang sejajar sumbu optik pada waktu memasuki lensa akan bias bahan gelas pembuat lensa dan jari-jari lengkungan permukaan bola. Per-
mengumpul di titik F, yaitu titik fokus lensa tersebut. Hal ini disajikan pada sam:uul berikut menggambarkan hubungan antaxa parameter-parameter ini:
Gambar 2.14. Sebagai kesimpulan uraian tersebut ialah, titik fokus suatu len-
sa rnerupakan titik pada sumbu optik yang memenuhi syarat bahwa semua
sinar yang melalui titik ini pada saat memasuki lensa, akan diteruskan dalam
arah sejajar sumbu optik setelah dibiaskan oleh lensa tersebut. Pada kenyata-
j= u -,) (ol. ^|) (2.7)

annya setiap lensa pada jarak yang sama terhadapnya. Apabila berkas sinar Dalam Persamaan (2.7), f adalah panjang fokus lensa, n adalah in-
datang sejajar sumbu optik memasuki lensa dari sebelah kanan (Gambar 2.14) deks bias kaca atau bahan pembuat lensa, dan R1 serta R2 adalah jari-jari per-
maka sinar-sinar tersebut akan keluar mengumpul ke satu titik pada sumbu mukaan lensa yang diasah licin. Dalam menggunakan persamaan ini diumpa-
optik di sebelah kiri lensa pada jarak yang sama dengan letak titik F yang makan bahwa sinar berjalan dari axah kiri ke kanan: iR1 berlaku bagi permuka-
berada di sebelah kanan lensa. an pertama yang menghadap datangnya sinar dan dianggap positif apabila titik
pusat lengkungannya terletak di sebelah kanan lensa dan negatif apabila terle-
tah di sebelah kirinya, R2 berlaku bagi permukaan lensa sebelah lainnya dan
dianggap positif apabila terletak di sebelah kiri lensa dan negatif apabila di ka-
nan. Apabila panjang fokus lensa bertanda positif, maka lensa itu bersifat
mengumpulkan sinar (converging lens); apabila bertanda negatif, maka lensa
tersebut bersifat menyebarkan sinar (diverging lens). Pemukaan yang datar
pada lensa planokonfeks dan planokonkaf dianggap mempunyai jari-jari tak
terhingga panjangnya.

Contoh 2.3
Hitunglah besarnya panjang fokus suatu lensa bikonfeks terbuat dari
kaca yang mempunyai indeks bias sebesar 1,52 dan yang permukaan bagian
kirinya berjari-jari 50,0 mm sedang bagian kanan berjari-jari 75,0 mm.
Dengan Persamaan (2.7).

|= o.t -r.oo)
(#.71.)
Gambar 2.14 Sumbu optik, jarak fokus, dan bidang fokus tak terhingga sebuah
lensa tipis. f=57,7mm \

L.
38 39

.l
i=ffi=0,505m=50,5cm

2.T PERSYARATAN SCHEIMPFLUG


Apabila pada saat pembuatan gambar melalui suatu lensa, kedudukan
bidang gambar dalam keadaan miring teftadap bidang objek, maka, persyarann
Scheimpflug hanrs dipenuhi agar supaya diperoleh gambar yang tajam di selu-
ruh bagian. Persyaratan Scheimpflug seperti terlukis pada Gambar 2.16,
menegaskan bahwa untuVmemperoleh gambar yang sempurna, maka bidang
Gambsr 2.15 Jarak gambar bertambah besar apabila jarak objek semakin kecil. gambar, bidang objek dan bidang lensa (bidang yang melalui pus:lt optik len-
sa sertia tegak lurus terhadap sumbu optik) semuanya harus saling berpotongan
pada satu garis (Apabila bidang gambar dan bidang objek saling sajajar, maka
2.7 FORMULA LENSA bidang lensa juga harus sejajar bidang-bidang tersebut di atas, dalam hal ini
garis perpotongan ketiga bidang tersebut secara teoritis terjadi pada tempat tak
Seberkas sinar datang yang berasal dari suatu objek padajarak tak ter- terhingga).
hinggajauhnya dari lensa akan berjalan sejajar, seperti dilukiskan dalam Gam- Dalam Gambar 2.16 bidang gambar dalam keadaan condong terhadap
bar 2.14, dan gambar akan menjadi jelas pada bidang fokus tak terhingga. Ba- bidang objek dan kedua buah bidang tersebut saling berpotongan sepanjug
gi objek yang terletak padajarak tertentu sajajauhnya dari lensa, makajarak garis S. Sebagai akibat kecondongan tersebut maka jarak objek yang tergam-
gambar Camk dari tengah-tengah lensa ke bidang fokus) lebih besar daripada bar menjadi bermacam-macam, tergantung pada letaknya dalam bidang gam-
panjang fokus. Dari Gambar 2.15 jelas bahwa semakin dekat objek rersebut bar. Sebagai contoh, juakoa terhadap gambar D lebih besar daripada Oo ter-
kepada lensa, maka akan semakin jauh letak titik jelas gambamya di belakang hadap gambar c. Untuk mempertahankan fokus yang tajam, maka formula
lensa. Persamaan berikut yang disebut formula lensa, menggambarkan hu- lensa (Pers. 2.8), yar:.g mengkaitkan jarak gambar dengan jarak objek untuk
bungan antarajarak objek o danjarak gambar i dengan panjang fokus/suatu
lensa positif:
1ll (2.8)
o'i f
Apabila panjang fokus suatu lensa dan jaraknya ke objek diketahui,
maka jarak gambar yang terjadi di bidang gambar dapat dihitung dengan
menggunakan formula lensa" ,D-

Contoh 2.4
)
\
Hitunglah jarak gambar suatu objek yang berjarak 50,0 m dan panjang b"l
fokus lensa sebesar 50,0 cm.
Dengan Persamaan (2.8),

lt1
5oO*, =oJo
111
i 0,s s0,0 Gambar 2.16 Geomgtri persyaratan Scheimpflug.
40 4t

suatu lensa tertentu harus dapat bedaku bagi seluruh gambar. Apabila jarak
objek bertambah besar, maka jarak gambar sehilusnya bertambah kecil agar
seiuai dengan formula lensa- Hal ini dapat ditempuh dengan cara memiring-
kan lensaieperti ditunjukkan dalam Gambar 2.16 sehingga bidang-lensa
melalui guid S. (perlu dicatat bahwa jarak gambar dan jarak objek diukur
tegak lurus terhadap bidang lensa). ('.
Di datam fq-togrameri, keadaan di manapersyaratan scheimpflug-hams
dilaksanakan ialah pada rektifikasi foto udara condong (lihat Seksi 1 1.9) dan
dalam mengorientaiit<an foto udara condong dalam ploter stereoskopis (lihat
Bagian 17 .z\.Didalam kedua hal tersebut ini bidang gambgl berada dalam ke-
adin condong terhadap bidang objek dan jarak objek relatif pendek, sehingga
fokusnya merupakan fokus kritis. Dalam mengambil foto udara secara con-
dong, tidaklah perlu menerapkan persyaratan Scheimpflug karenajarak objek Gambar 2.17 Gambar semu yang terbentuk oleh lensa divergen.
(tinigi terbang) besar bila dibandingkan dengan jarak gambar, dan gambar
yang tajam dapat diusahakan dengan mengatur kedudukan lensa untuk jarak
tak terhingga
2.10 PERBESARAN MENDATAR (LATERAL)

Perbesaran mendatar suatu lensa adalah perbandingan antara besarnya


2.9 GAMBAR NYATA DAN SEMU ukuran bayangan dan ukuran objek. Untuk lensa pada Gambar 2.13, perbesar-
an mendatarnya merupakan perbandingan o b I AB . Dengan memperbandingkan
Gambar yang terbentuk oleh sebuah lensa dikatakan nyata apabila segitiga sebangun, maka diperoleh persamaan perbesaran berikut:
gambar tersebut dapat dibuat tampak mata dengan menempatkan sebuah layar
Oi UiOang gambar. Hal serupa itu sama halnya dengan gambar pada Gambar
2.13. Leisa konvergen pada Gambar 2.1 | a hngga c semuanya men ghasilkan M=* (2.e)
gambar nyata apabila objeknya diletakkan pada jarak objek yang lebih besar
daripada panjang fotus lensa. Gambar semu tidak dapat terbentuk di atas layar M adalah perbesaran mendatar dan o serta I berturut-turut merupakan jarak
karena garis-garis sinar kenyataannya tidak dapat terkumpul pada satu titik objek dan jarak gambar seperti disebutkan di depan. Dalam Gambar 2.17 dan
fokus. Sebaliknya, garis-garis sinar harus diproyeksikan ke arah belakang 2.18, perbesaran mendatamya merupakan perbandingan antara A'O'IOA.
sampai berpotongan, seperti ditunjukkan dengan garis patah-patah pada Gam-
au 2.fi oan z.ts. Semua lensa divergen membuahkan gambar semu; demiki-
an juga halnya lensa konvergen apabila jarak objek lebih kecil daripada pan-
jang fokus.
Dalam Gambar 2.18 jarak objek lebih kecil daripada panjang fokus
lensa konvergen. Dalam hal ini maka ukuran gambar semu lebih besar
daripada gambar nyata seped tercermin pada penggunaan sebuah lensa sebagai
kaca pembesar. Garis-garis sinar yang berasal dari A oleh lensa dibiaskan da-
lam keadaan mengumpul tetapi tidak cukup memungkinkan untuk bertemu
pada fokus. Bagi seorang pengamat yang ada di sebelah kanan, garis-garis.
;inar tersebut tampaknya berasal dari O' dan A'bukan dari O dan A seperti
kenyataannya. Oleh karenanya O'A'merupakan gambar semu OA yang diper- Gambar 2.18 Gambar semu pada lensa konvergen (lensa pembesar).
besar.

\- _-d
42 43

2.11 LENSA TEBAL


Analisis terhadap lensa tipis datam uraian sebelumnya telah disederha-
nakan dengan menganggap bahwa ketebalan lensa tersebut dapat diabaikan.
Pada lensa tebal maka anggapan ini tidak dapat dipertahankan terus. Lensa
tebal dapat terdiri atas satu elemen tunggal yang tebal atau sebuah gabungan
antara dua elemen atau lebih yang boleh juga direkatkan menjadi satu ikatan
atau secara teliti diletakkan pada tempat yang tetap dengan rongga udara di an-
tara elemen-elemen tersebui. Suatu "susunan" lensa tebal yang digunakan pa-
da kamera pesawat udara disajikan pada Gambar 2.19. Perlu diperhatikan bah-
wa susunan lensa tersebut terdiri atas 12 buah elemen tunggal'
Dua buah titik yang disebut liril< pusat (nodal poins) harus ditetapkan
untuk lensa tebal. Titii<+itik tersebut ini diberi istilah titik pusdt depan (inci'
dent nodal point) dan titik pusat belakong (emergent nodal-point), keduanya
terletak padh su4bu oBtik. Titik tersebut tadi memiliki sifat khusus bahwa Gambar 2.20 Titik-titik pusat (Nodal Points) sebuah lensa tebal.
setiap sinar yang\pnenlarah ke titik pusat depan menembus_ke titik pusat
belali,ang dari munbut di sisi lensa yang lain dalam suatu arah yang sejajar rut-turut merupakan titik pusat depan dan titik pusat belakang bagi lensa tebal
dengan iran OaAngnya sinar yang asli. Dalam Gambar 2.20, gwis sinar AN tersebut.
aan-ly'a keduanya sejajar, demikian juga BN dan N'b. Titik N dan N'bertu- Apabila garis sinar datang yang sejajar (sinar berasal dari objek pada
jarak takterhingga) menembus sebuah lensa tebal, maka sinar-sinar tersebut
-akan
mengumpul menjadi satu pada bidang fokus tak terhingga. Panjang fo-
kus suatu lensa rcua merupakan jarak dari titik pusat belakang N' ke bidang
fokus tak terhingga ini.

2.I2 KUALITAS LENSA

Tidaklah mungkin bagi suatu lensa tunggal untuk membuahkan gam-


bar yang sempurna; sebaliknya gambar tersebut akan selalu tampak kabur.
Ketidaksempumaan : yang mengurangi ketajaman gambar tersebut dinamakan
aberasi (abirrations). Keadaan teisebut menggalakkan penggun:um lensa-lensa
gabungan yang dibicarakan dalam bagian terdahulu. Melalui penggunaan bagi-
in-bafian lensa tambahan, perancang lensa dapat mengadakan pembetulan
terhadap aberasi ini dan mengusahakannya hingga batas-batas yang dapat dite-
rima.
Aberasi lensa yang terutama ialah (1) aberasi sferis, (2) 'coma', (3)
'astigmatisme' dan lengkungan medan, dan (4) aberasi kromatik. Aberosi
s/erri (spherical aberration), seperti yang terlukis pada Gambar 221, adalah
kemeroiotan mutu gambar di sekitar sumbu lensa. Keadaan ini disebabkan
super aviogon. (Seizin Wild Heerbrugg Instru- oleh kesalahan dalam mengarah ke permukaan lengkung lensa dan berakibat
Gambar 2.19 Irisan tegak lensa
terhadap sinar yaqg masuk di dekat terhadap lensa bila dibandingkan dengan
ments. Inc.)
sinar yang masulimelalui bagian dekat pusat lensa. Gambar suatu titik yang

\-
M 45

Bidang gambar
yang membuahkan
lingkaran tak jelas
paling kecil

Gambar 2.23 Aberasi kromatik.

suatu bidang yang agak melengkung. Keadaan demikian ini disebut lengkung'
an medan (curvature of field). Astigmatisme dan lengkungan medan dapat
Gambar 2.21 Abercsi sperik. diperkecil dengan menggunakan gabungan benda yang disusun dari elemen
yang mengumpulkan dan menyebarkatr sinar.
terbentuk merupakan suatu lingkaran yang disebut lingkaron tak jelas (circle Abirasi kromatik disebabkan oleh perbedaan sifat pembiasan berma-
of confusion).Jika terdapat aberasi sferis pada suatu lensa, maka besarnya cam-macam warna yang apabila tergabung membentuk cahaya putih. Seperti
lingkaran takjelas tersebut dapat diperkecil dengan jalan rnengatur kedudukan ditunjukkan dalam Gambar 2.23, sinu biru dibiaskan lebih banyak dibanding
bidang gambar sampai diperoleh lingkaran yang sekecil mungkin (lingkaran sinar merah, dan oleh karena itu kedua macam wama ini tidak berhasil menca-
kacau yang paling kecil).\*lakbidang gambff yang menghasilkan lingkaran pai fokus pada titik yang sama. Pengaruh aberasi kromatik juga dapat diper-
tak jelas paling kecil dilukiskan dalam Gambar 2.21.'Coma' serupa dengan bait<i Oengan jalan menggunakan gabungan lensa konvergen dan divergen.
aberasi sferis.Bedanya ialah bahwa coma disebabkan oleh kegagalan sinar mi- Aberosi seperti diuraikan ini mengurangi kualitas atau ketajaman garn-
ring yang seharusnya sejajar sumbu, untuk mencapai fokus pada satu titik. t) e bar. Sebaliknya distorsi lensa, tidak mengurangi kualitas gambar tetrpi meru-
Gambar yang seharusnya berbentuk suatu lingkaran berbentuk seperti sebuah sak nilai geometrinya (atau ketelitian letak). Distorsi lensa dibedakan menjadi
komet. distorsi ridial aan distorsi tangensial. Kedua-duanya terjadi apabila sinar terte-
'Astigmatisme' adalah keadaan di mana garis-garis yang saling tegak lok atau berubah arahnya, sehingga setelah sinar-sinar tersebut menembus
lurus yang terdapatpada objek tidak dapat tergambar secarajelas padajarak lensa akan keluar dengan arah yang tidak sejajar lagi dengan arahnya sewaktu
gambar yang sama jauhnya. Seperti terlukis pada Gambar 2.22, gais sinar I datang. Sesuai dengan namanya distorsi radial, menyebabkan semua bagian
dan2 dat', objek berupa garis vertikal terkumpul pada titik n, sedangkan garis gambar diubah letaknya menurut arah jari-jari, bermula dari sumbu optik. Ke-
sinar 3 dan 4 yang membentuk garis tegak lurus pada objek, terkumpul di jadian ini disebabkan oleh adanya kesalahan dalam pengasahan bagian-bagian
titik b. 'Astigmatisme' disebabkan oleh penggosokan permukaan lensa yang lensa. Distorsi radial ke arah luar dianggap positif dan distorsi radial ke arah
kurang sempurna. Hat ini banyak terjadi pada mata manusia. Dengan lensa dalam dianggap negatif. Distorsi tangensial terjadi pada arus tegak lurus terha-
astigmatisme, gambar yang menggambarkan titik-titik pada objek dengan dap garis jari-jari mulai dari sumbu optik. Keadaan ini disebabkan oleh kesa-
jarak yang sama panjang, tetapi yang garis-garis sinarnya membentuk sudut lahan dalam mengatur lemk pusat lensa dari bagian-bagian dalam suatu susun-
yang berbeda-beda terhadap sumbu optik, tidak akan memperoleh gambar an lensa gabungan. Distorsi tangensial pada umumnya sangat kecil pengaruh-
yang jelas pada satu bidang gambar yang sama. Mereka akan membentuk nya dibandingkan dengan distorsi radial dan seringkali dapat diabaikan. Dalam
I Gambar 2.24, guis-garis sinar datang yang seharusnya membentuk gambar
pada letak yang benar yaitu di a,padakenyataannya membentuk gambar di a.
Besarnya distorsi radial adalah Ar (dalam hal ini positif karena mengarah
4
keluar), dan besarnya distrosi tangensial adalah Ar.
Apabila betul-betul terjadi distorsi yang disebabkan oleh lensa kamera,
maka para ahli fotogrametri akan memperoleh kesalahan dalam pengukuran
bagi letak-letak gambar dalam potret yang dihasilkannya. Distorsi yang terda-
Gambar 2.22 Astigmatisme pat pada suatu lUnsa tertentu dapat ditetapkan dengan pengujian kalibrasi

L.
47
46

cim foto haruslah tajam dan tergambar dengan jelas guna penSuku:m secara
tepat dan untuk pekerjaan penafsiran secara teliti. Bagaimanapull juga daya
I rinci fotografit bukan merupakan fungsi lensa kamera saja tetapi tergantung
o,ryt
a a
juga kepada kualitas filrn dan prcses pencuciannya flihat Bab 3.5).

'///
2.31 JANGKAUAN MEDAN (DEPTH OF FIELD)
-v
ot
langkawnmedan(Depth of field) suatu lens:r adalah daerah jelajah (ra-
nge) bagi iarat ouiet yang dapat diterima oleh lensa tanpa menimbulkan ke-
,urOrran nilai ying berarti bagi kejelasan gambar' Dalam Gambar 2.25a
maka garis-garis sinar yang berasal dari titik B secara sempurna tergambar
sebagai titik b pada bidang gambar. sebaliknya, garisgarig sinar yang berasal
I
aari Oan C tergambar sebagai lingkaran-lingkaran takjelas dengan garis te-
ngahx. Semakin besar lingkaran tersebut, berarti semakin kacau gambar ter-
Gambar 2.24 Distorsi lensa radial dan tangensial. sebut. Dengan menentukan suatu batas tertentu atas lebar garis tengah yang
dapat diteriha untuk lingkaran yang tak jelas tadi, maka jangkauan medan
seperti diterangkan dalam Bab 4, dan pembetulan dapat dilaksanalian terhadap
menjadi terbatas. Dalam Gambar 2.25a, jangkauan medan terbatas hingga
pengukuran-pengukuran untuk meniadakan pengaruh distorsi tersebut. Prose-
selaun a C dengan lebar garis tengah sebesar r bagi daerah lingkaran takjelas.
dur pembetulan tersebut diuraikan dalam Bab 5.
Bidmg gmbr
Distorsi dan aberasi tidak dapat dihilangkan seluruhnya dalam pembu-
atan lensa, tetapi hal itu dapat diperkecil dengan penggunaan lensa gabungan. l) n ,lmgkaunnedn
Seringkali pengurangan satu jenis distorsi atau aberasi membuahkan perbe-
saran distorsi atau aberasijenis lain, dan oleh karenanya merancang lensa me- i i --=-==:4
l-,--==:-==:_\
--f mbu oPtik
s
rupakan suatu ilmu pengetahuan tentang pengambilan jalan tengah dalam n
- ==-_-_
mencoba untuk mendapatkan kemungkinan yang sekecil-kecilnya tentang ada-
nya gabungan semua distorsi dan aberasi. Perhitungan tentang perancangan
lensa besar sekali jumlahnya apabila ditelili dengan seksama mengenai ke-
mungkinan jalan tengahnya. Dengan adanya komputer maka pma perancang
lensa telah melakukan perhitungan-perhitungan ini dengan lebih mudah, dan
menghasilkan lensa-lensa yang semakin baik. Dewasa ini distorsi pada berba-
gai gabungan lensa telah begitu diperkecil hingga jumlah yang dapat diabai-
kan sehingga seringkali mereka dipandang sebagai lensa-lensa bebas distorsi.
Resolusi atau daya rizci (resolving power) sesuatu lensa adalah ke-
mampuan lensa tersebut untuk menampilkan bagian-bagian terkecil. Satu -a Sumbuoptit
metode yang umum dalam pengukuran resolusi lensa adalah dengan menghi-
tung banyaknya posangon-pasangan garis, (garis hitam dipisahkan oleh garis
putih dengan ketebalan sama) di dalam satuan lebar I mm yang dapat dibeda-
bedakan dengan jelas pada suatu gambar yang dihasilkan oleh lensa tersebut
'Modulation transfer function' (MTF) merupakan cara lain untuk merinci
sifat-sifat resolusi lensa. Kedua macam metode dalam menelaah daya rinci Gambar 2.25 (a) Jangkauan medan sebuah lensa, (b) Jangkauan medan bertam-
diuraikan dalam Bab 4.16, dan suatu pola uji pasangan garis ditunjukkan bah besar dengan lemakin kecilnya bukaan lensa.
dalam Gambar 4.16. Daya rinci yang baik penting dalam fotogrametri karena

l- t
48 49

Untuk sesuatu lensa tertentu,jangkauan medan dapat diperbesar dengan Wright, R. H.: An Advanced Optical Objective Lens, Photogrammetric
jalan mengurangi ukuran besarnya bukaan lensa (aperture) seperti ditunjukkan Engineering and Remote Sensing, vol. 42, no. 8, hlm' 1049' 1975'
dalam Gambu 2.25b.Ini membalasi luas daerah pada lensa yang dapat digu-
nakan hingga bagian tengah saja. Untuk pemotretan udara, jangkauan medan
jarang berpengaruh kardna variasi janak objek pada umumnya merupakan
SOAL
suatu persentase yang sangat kecil bila dipandang dari jarak objek keseluruh-
annya. Semakin pendek jarak fokus suatu lensa, maka semakin besar jangkau-
2.L Terangkan perbedaan antara ilmu optika fisika dan ilmu optika geometris'
anmedan dan demikian pula sebaliknya. Jadi, apabila jangkauan medan sangat
2.2 Berapakah kecepatan cahaya dalam kilometer setiap detik?
terbatas, maka hal tersebut sedikit dapat disesuaikan keadaannya melalui
2.3 Suatu tenaga elektromagnetik merambat di dalam ruang hampa udara de-
pemilihan suatu lensa yang cocok.
getaran 24.500.000 siklus/detik. Berapakah panjang gelombang (pembu-
Jangkauanfokas (depth of focus) yang serupajangkauan medan, adalah
Iatan sampai kaki) tenaga ini?
daerah jelajah bagi jarak gambar yang dapat diterima tanpa menimbulkan ke-
2.4 Apabila suatu jenis kaca tertentu mempunyai indeks bias sebesar 1,550,
munduran nilai yang berarti bagi kejelasan gambar.
berapakah kecepatan cahaya melalui kaca ini?
2.s Sebuah sinar dari udara menembus kaca (indeks 1,570)dengan arah sudut
datang sebesar 25o. Hitunglah besarnya sudut-sudut bias serta deviasinya'
RUJUKAN
2.6 Sama dengan S oal2.5, tetapi arah sudut datangnya sebesar 38o dan indeks
bias kaca sebesarl,550
American Society of Photogrammetry: "Manual of Photogrammetry," ed. ke-4,
2.7 Sebuah sinar yang dipancarkan dari dalam air (indeks 1,333) membentuk
Falls Church, Va., 1980, Bab 3.
sudut 40o terhadap garis normal permukaan air. Berapakah besarnya sudut
_: "Manual of Photogrammetry," ed. ke-3, Falls Church, Va., 1966,
yang terbentuk antara sinar bias dengan garis normal pada saat muncul ke
Bab 3. t, ,r udara (indeks 1,000)?
Brown, E. B.: "Modem Optics," Reinhold Publishing Corporation, New York.
2.8 Sama dengan Soal 2.7, tetapi garis sinar membentuk sudut 35o terhadap
1965.
garis normal.
Carlson, F. P.: "Introduction to Applied Optics for Engineers," Academic Press,
2.9 Suatu sinar melalui udara (indeks 1,000) diarahkan ke sebuah keping kaca
Inc., New York, 1976.
setebal 6,35 mm (indeks 1,570) yang kedua belah sisinya saling sejajar
Fritz, L. W., dan H. H. Schmid: Stellar Calibration of the Orbigon Lens, Photo-
dan arah datangnya sinar tersebut membentuk sudut sebesar 25o terhadap si-
grammetric Engineering, vol. 40, no. 2, hlm. l0l, 1974.
si-sisi kaca. Berapakah besarnya perpindahan mendatar sinar tersebut pada
Ghatak, A.: "An Introduction to Modern Optics," McGraw-Hill Book Company,
saat muncul kembali ke udara?
New York, 1972.
Greenleaf, A. R.: '?hotographic Optics," "The Macmillan Company," New York,
2.1 0 Sama dengan Soal 2.9, tetapi sudut datangnya sebesar 35o dan ketebalan
kaca sebesar 0,25 inci.
I 950.
Habell, K. J., dan A. Cox:"Engineering Optics," edisi revisi., Sir Isaac Pitman &
2.1 1 Hitunglah berapa besarnya sudut kritis apabila sebuah garis sinar berjalan
rnelalui kaca (indeks 1,600) tembus ke udara (indeks l'000).
Sons, Ltd., London, 1953.
Jensen, N.: "Optical and Photographic Reconnaissance Systemr,'l John Wiley &
2.12 Sama dengan soal 2.11, tetapi indeks bias kaca besarnyal,520.
2.1 3 Hitunglah besarnya sudut kritis apabila sebuah garis sinar berjalan melalui
Sons, Inc., New York, 1968.
| kaca (indeks 1,750)tembus ke air (indeks 1,333).
Kissam, P.: "Optical Tooling," McGraw-Hill Book Company, New York, 1962. l)
Levine, H., dan S. Rosin: "The Geocon IV Lens, Photogrammetric Engineeringl,
2. 1 4 Berapakah besarnya penyimpangan sudut bagi sebuah garis sinar yang ber-
gerak dari kaca bening (indeks 1,520) ke kaca kwarsa (indeks l'750)
vol. 36, no. 4, hlm. 335,1970.
apabila sudut datangnya sinar sebesar 35o?
Smith,. Warren J.: "Modern Optical Engineering," McGraw-Hill Book Company,
New York, 1965. )
2. I 5 Jabarkan Persamaan (2.5) bagi perpindahan ke samping dari sebuah garis
sinar yang menembus suatu lempengan yang mempunyai sisi-sisi saling
Washer, F. E.: Resolving Power Related to Aberration, Photogrammetric Engi-
sejajar..
neering, vol.32, no. 2, hlm. 213, 1966.

l-
50

2.1 6 Jelaskan perbedaan antara cermin dengan lapisan pemantul di depan dan
lapisan pemantul di belakang. Apakah keuntungan dan kerugian mempu- BAB
nyai cermin dengan lapisan pemantul di depan? 3
2.1 7 Dua permukaan lensa biconvex tipis yang berbentuk bola dari seperti pada
Gambar 2.lla dengan radius R1 dan^R2 masing-masing sebesar 10,0 cm
dan 15,0 cm. Jika indeks pembiasan kaca sebesar 1,550, berapa panjang l; ih ASAS FOTOGRAFI-)
titik api lensanya?
2.18 Seperti Pertanyaan 2.17, tetapi dengan indeks pembiasan 1,520?
2.19 SepertiPertanyaan 2.17, dengat Iensa planoconvex seperti pada Gambar
2.llb dengan satu permukaan berbentuk bola yang mempunyai radius 12,5
cm?
2.20 Seperti Pertanyaan 2.17, dengan lensa biconvex seperti pada Gambar
2.11, permukaan berbentuk bola dengan radius R1 danR2 masing-masing
100,0 mm dan indeks pembiasan 1,750? 3.I PENGANTAR
2.2 I Suatu radius kurva dua permukaan lensa equiconvex yang berbentuk bola
(lensa biconvex dengan radius permukaan sama) dengan panjang titik api Fotografi yang berarti penggambaran dengan sinar telah dikenal lama
85,0 mm dan indeks pembiasan I,570? sebelum digunakan kamera dan film fotografik yang peka terhadap cahaya.
2.22 Suatu objek terletak45,0inci di depan lensa tipis dengan panjang titik api Bangsa Arab kuno menemukan bahwa di dalam suatu tenda yang gelap dapat
l0,Oinci dari lensa pada sisi yang lain. Berapa panjang titik api lensa itu? terbentuk gambaran terbalik objek di luar tenda yang terkena sinar. Gambaran
2.23 Panjang titit api suatu lensa tipis sebesar 100,0 mm. Berapa jarak objek tersebut dibentuk oleh pancaran sinar yang melalui lubang-lubang kecil pada
untuk suatu gambar yang difokuskan pada juak citra 155 mm? tenda. Asas ilu digunakan dalam lubang kamera yang disajikan pada Gambar
2 .2 4 Siapkah suatu tabel jarak bayangan (dalam milimeter) dengan jarak objek 2.12. Dalam tahun 1700-an ahli-ahli seni Perancis menggunakan prinsip
l, 2, 5, 10, 100, 1.000 dan 10.000 kaki untuk suatu lensa yang mempu- lubang kecil tersebut untuk membantu dalam penggambaran bentuk pers-
nyai panjang titik api 210,00 mm. pektif objek yang terkena sinar. Selama berada di dalam suatu ruang gelap,
2.25 Suatu ob-iek dengan tinggi 10,0 cm terletak 13,8 inci di depan lensa mereka dapat melacak keseluruhan objek yang diproyeksikan pada suatu
dengan panjang titik api 64,00mm. Berapa jarak gambar pembesaran late- bidang yang berhadapan dengan lubang kecil tersebut.
ral dan ketinggian gambar yang dibesarkan? Dalam tahun 1839 Louis Daguerre dari Perancis mengembangkan film
fotogratik yang dapat merekam g:unbaran sebagai catatan permanen berdasar-
kan sinar yang mengenainya. Dengan meletakkan film di dalam suatu kotak
gelap yang berlubang kecil, dapat diperoleh gambar tanpa bantuan seorang
ahli seni.
Kotak tersebut digunakan dalam menggabungkan film fotografik, yang
kemudian dikenal sebagai kamera.

3.2 PERBANDINGAN ANTARA KAMERA LUBANG DAN


KAMERA LENSA
Film fotografi semakin lama semakin berkembang, tetap masih belum
cukup peka untuk merekam gambaran yang diproyeksikan melalui suatu

*) Oleh Dr.James P. Scherz, Guru Besar Teknik Sivil dan Lingkungan, Univenitas Wis-
consin, Madisorli Wis
53
52
pembukuan lensa. Satuan penyinaran adalah meter-lilin. Satu meter-lilin ialah
lubang kecil dalam waktu pendek. Oleh karena itu perlu meningkatkan ukuan pada jarak satu
pembukuannya agar lebih banyak sinar yang dapat masuk. Jika lubang diper- |enyinaran yang dihasilkan oleh satu meter-lilin (meter-candle)
meter.-
besar, maka hasil gambar yang diperoleh menjadi kabur. Dengan mengganti
Penyinaran sebanding denganjumlah sinar yang melalui lensa terbuka
lubang dengan suatu lensa, dimungkinkan memperbesar lubang dan memper-
dan juga sebanding dengan luas pembukaan lensa. Karena luas pembukaan
tahankan fokus yang tetap tajam.
a, tensa iUesar n&t{Wni"aran sebanding dengan peubah &,yutukuadrat dari
Geometri kamera lensa pada Gambar 3.1 identik dengan geometri
diameter pembukuaan lensa"
kamera lubang pada Gambar 2.12, i*a ketebalan lensa sebesar t diabaikan.
Jarak gambar merupakan faktor lain yang mempengaruhi penyinaran.
Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa pembukaan lensa telah ditingkatkan dari
Seperti yang disajikan pada Gambar 3.2 garis tengah luas bidang gambar yang
ukuran lubang sebesar d1 pada Gambar 2.12 meniadi diameter d2 pada Gambar
Oiiinari otetr sinar yang melewati sebuah lensa berbanding lurus dengan jarak
gambarnya. Dengan segitiga sebangun pada Gambar 3.2 misalnya, jika iz =
2i1,makar2=2rt dengan demikian maka luas bidang yang disinari sebanding
dengan truadrat garis iengatrnya, yaitu At=nrt? danA2=16122. Penyinaran

idang bayangan I

Bidang bayangan 2

Gambar 3.1 Geometri kamera lensa

3.1. Berbeda dengan jarak objek dan jarak gambar yang tidak tertentu pada
kamera lubang, pada kamera lensa maka jarak ini ditentukan oleh Persamaan
lensa 2.8. Untuk memenuhi persamaan ini maka kamera lensa hanrs difokus-
kan bagi tiap objek yang jaraknya be6eda, yaitu dengan mengatur jarak gam-
bar. Apabila jarak objek tidak terbatas, misalnya untuk objek-objek jarak
jauh, nilai llo pada Persamaan 2.8 mendekati nol, dan jarak gambar i padi
Irj,
sama panjang dengan titik api lensa/. Pada foto udara, jarak objek besar se- Gambar 3.2 Penyinaran sebagai fungsi jarak gambar.
kali bila dibanding dengan jarak gambar. Oleh karena itu kamera udara dibuat
dengan panjang titik api tidak terbatas. [Ial ini dapat dilakukan dengan mem- berbanding terbalik terhadap luas bidang yang disinari dan karena keseban-
buat jarak gambar sama besar dengan panjang titik api lensa kamera. dingan i din r, maka penyinaran sebanding dengan Uiz.Di dalam fotografi,
biasanya jarak objek cukup besar sehingga nilai Uo dalam Formula 2.8
mendekati nol, dalam hal ini , sama besar dengan/. Jadi penyinaran sebanding
3.3 PENYINARAN dengan peubah llfKuenapenyinaran itu sebanding dengan & maupun llf
Penyinaran pada tiap pemotretan merupakan kecerahan atau jumlah maka dua angka ini dapat digabungkan sehingga penyinaran sebanding dengan
sinar yang diterima pada tiap satuan luas permukaan bidang gambar selama &tf . e** pangst dua nilai tersebut dinamakan/attor kecerahan, ata,o

l-
54 55

diafragma, suatu lubang berbentuk lingkaran yang dapat membesar dan me-
= =faktor kecerahan
(3.1) ngecil dan mengakibatkan perubahan diameter pembukuaan lensa dan menga-
1 tur jumlah sinar yang diinginkan.
^[F Dengan suatu kamera lensa bila diameter pembukaan lensa mening'
kat, akan memungkinkan waktu pemotretan yang lebih cepat, kedalaman me-
Kebalikan Persamaan 3.1 juga merupakan suatu pernyataan kebalikan l) dan berkurang dan distorsi lensa lebih parah. Ada saat-saat di mana pembuka'
penyinaran dan secara umum disebut f-stop atau nilai/. Bila disajikan dalam an lensa sebaiknya kecil, tetapi ada pula saat-saat yang menghendaki pembu-
bentuk persamaan maka: kaan lensa besar. Untuk pemotretan suatu pemandangan dengan jarak objek
yang sangat bervariasi dan untuk membuat jarak titik api tajam bagi semua
gambar, dibutuhkan kedalaman medan yang besar. Dalam hal ini untuk me-
f - stop =t (3.2)
maksimumkan kedalaman lapangan, pemotretan harus dilakukan dengan kece-
patan tutupan yang lambat dan penyetelan/-stop yang besar untuk mengim-
bangi diameter pembukaan lensa yang kecil. Sebaliknya, untuk pemotretan
Menurut Persamaan 3.2,f-stop merupakan perbandingan antara pan- objek yang bergerak cepat atau untuk pemotretan dari wahana yang bergerak
jang titik api dan diameter pembukaan lensa atau 'aperture'. Dengan mening- misalnya pesawat terbang, diperlukan kecepatan tutupan yang cepat untuk
lutnya pembukaan lensa, nilai/-stop menurun dan penyinaran meningkat, menghindari kekaburan gambar yang dihasilkan. Dalam situasi demikian,
jadi hanya memerlukan waktu pemotretan yang pendek atau kecepatan penu- diperlukan penyetelan /-stop kecil sehubungan dengan diameter pembukaan
iup yang lebih cepat. Karena hubungan antara/-stop dan kecepatan penutup lensa yang besar, untuk pemoEetan yang tepat.
ini, maka/-stop digunakan untuk menyatakan kecepatan lensa atau daya Dari perbincangan ini tampak jelas adanya hubungan erat antara/-stop
sebuah lensa untuk mengumpulkan sinar. Penyinaran yang dihasilkan oleh dan kecepatan tutupan lensa. Jika waktu pemotretan diperkecil hingga seper-
suatu lensa tertentu secara tepat dinyatakan dengan Formula 3.2 baik bagi dua jumlah exposure juga meniadi seperdua. Sebaliknya, kalau luas bukaan
lensa yang diameternya sangat kecil dengan panjang titik api pendek maupun dilipatkan dua, jumlah exposure juga berlipat dua. Bila waktu pemotretan
yang diameternya sangat besar dengan panjang titik api yang panjang. Jika diperkecil seperdua dan luas bukaan dilipatkan dua maka jumlah exposure
dua lersa yang berbeda mempunyaifstop yang sama, maka penyinaran pada tetap, tidak berubah.
masing-masing gambarnya akan sama pula. Kecuali untuk model sederhana, kamera dilengkapi dengan kemampuan
untuk mengatur berbagai kecepatan tutupan lensa dan nilai /-stop. Nilai
nominal /-stop sebesar l, 1,4 2,0,2,8 4,0 5,6 8,0, I l, 16, 22 dan 32. Tidak
3.4 HUBUNGAN ANTARA BUKAAN LENSA DAN KECE. semua kamera mempunyai nilai nominal tersebut, tetapi kamera yang mahal
PATAN MENUTUP mempunyai sebagian besar angka-angka nominal tersebut. Kamera yang
disajikan pada Gambar 3.3 mempunyai/-stop dengan kisaran/= 1,4 hingga
Seorang yang mandi sinar matahari akan mengalami pemanasan olch F 16. Kamera ini juga dilengkapi dengan berbagai kecepatan tutupan lensa
sinar sehingga kulitnya berwarna coklat. Kegelapan warna coklat atau hingga l/1000 detik. F-stop yang bernilai I dinamakan/-I, dan sesuai dengan
keparahan pemanas:rnnya disebabkan oleh penyinaran matahari ftecerahan) dan formula 3.2 maka hal ini terjadi bila diameter bukaan lensa sama dengan
lamanya waktu terbuka terhadap sinar matahari . Jumlah penyinaran yang me- panjang titik api lensa. Penyetelan dengan nilai/-1,4 berarti setengah luas
ngenai film fotografi juga merupakan hasil penyinaran dan lamanya film daerah bukaan lensa padaf l. Didalam kenyataannya masing-masing urutan
tersebut terbuka terhadap sinar. Satuan penyinaran selama pemotretan tersebut f) angka yang terca[at pada/-stop nominal tersebut mengisyaratkan luas daerah
ialah me te r-lilin-detik. bukaan lensa seperdua luas daerah bukaan dengan penyetelan nilai sebelum-
Dalam melaksanakan pendekatan, jumlah penyinaran dan waktu yang nya. Pada urulan nilai tersebut maka nilai di depannya merupakan akar
tepat diatu dengan menggunakan sluafii ukuran slnar( light meter). Penyinaran pangkat dua nilai di belakangnya. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
diatur dengan berbagai nilai/-stop kamera, sedang waktu pemotretan diatur
dengan menyetel kecepatan yang berbeda-beda. Variasi nilaiy'-stop merupakan
Misalnya d1 = f , di mana dl merupakan diameter bukaan lensa.
variasi diame ter pembukaan lensa, (aperture), yang dapat diatur dengan suatu Kemudian/d1 1l=/-stop. Pada/-stop = l, maka:
57
56

Contoh i.l
Luas bukaan lensa = O, =Y Misalnya suatu film fotografik dipotretkur secara optimal dengan su-
Jika diameter bukaan lensa diubah menjadi d2, maka luas bukaan lensa sete- sunanfstop sebesar/-4 dan kecepatan tutupan 1/500 detik. Berapakah susun-
nsah Ar. kemudian: any'stop yang tepat jika kecepatan tutupan diubah menjadi l/1000 detik?

t) Jowab:

dt Jumlah exposure dibuahkan oleh luas daerah diafragma dan kecepatan


Dari runnus tersebut, dz= l'tTaru;. angkafstop adalah:
tutupan. Hasil ini akan tetap besarnya baik pada kecepatan tutupan U1000
1-rtop=ff= tfi= rA detik maupun pada 1/500 detik, atau
luasl x waktul - luas2 x waktu2
Hubungan antara/-stop dan kecepatan tutupan lensa membuahkan variasi atau.
yang menguntungkan di dalam pemoretan yang tepat. Waktu2
____L ___"r
Luas2=luas1 x waktu2
(a)

misal d1 dan d2 merupakan diameter diafragma untuk waktu tutupan l/500


detik dan l/100 detik, maka luas diafragma masing-masing adalah,
Susunan f'-stop yang
n(1'\Z n(dr\2
Luasl = -7- dan Luas2 = -;' (b)
berkisar dari
t'-1.4-t-1 6. Sesuai dengan Persamaan 3.2 maka:
ff
dt =Ff;p, dan karena/-stopl - 4. maka dr =f, (c)

Substitusi (D) dan (c) ke dalam (a)


n(dz)2 l/soo
4 -{fr- -
-t1+12-111000 (c)

dengan reduksi

500 x 16
Panjang
titik api
100
lensa 50 nrm
makaf-2,8 adalah/-stop yang diperoleh. Perhitungan tersebut secara sederhana
membuktikan pernyataan sebelumnya bahwa urutan angka /-stop nominal
yang terletak secara berturut-turut merupakan setengah luas bukaan lensa
dengan nilai yang terletak di depannya, atau dalam hal inif-2,8 dua kali luas
bukaan lensa paday'4, dengan mempertahankan hasil pemotreLan yang tetap
f-stop maksimum: 1,4 sama bila waktu tutupan diperkecil seperdua.
r)

3.5 KARAKTERISTIK EMULSI FOTOGRAFIK


Film-film fotografik terdiri dari dua bagian yaitu emulsi dan penyong-
Gambar 3.3 Kamera refleks lensa tunggal dengan susunan /-stoP dari /-
1'4
detik. ga atar penopang. Emulsi mengandung kristal perak halid yang peka terhadap
hingga/-16 dan kecepatan tutupan lensa yang dapat diubah hingga 1/100
(Seizin Paillard Inc.)

l-
58 59

sinar. Kristal ini diletakkan di atas penyangga dalam suatu lapisan tipis se- akan dibuahkan sebuah kurva yang disebut kurva karakteristik yang juga
perti tampak pada Gambar 3.4. Bahan penyangga biasanya berupa kertas, lem- disebut kurva D-Log E ata:u kurva H dan D. Sebuah kurva karakteristik yang
baran plastik atau kaca. menceritakan disajikan pada Gambar 3.5. Kurva karakteristik bagi emulsi
Bila kristal perak halid terkena sinar, ikatan antara perak dan halid yang berbeda juga akan berbeda, tetapi bentuk umumnya tetap serupa Bagian
menjadi lemah. Sebuah emulsi yang telah terkena sinar mengandung gambar bawah kurva yang cukup ke arah atas diwbut daerah ibu jai. Bagian atas yang
objek yang belum tampak yang disebut gambar laten. Apabila gambar laten i, cekung ke arah bawah disebut daerah pundak. Antara ibu jari dan pundak
itu dikembangkan, daerah emulsi yang terkena sinar kuat berubah menjadi tedapat bagian yang merupakan garis lurus.
bagian perak bebas dan menjadi hitam. Daerah-daerah emulsi yang tidak
terkena sinar akan menjadi putih apabila penyangganya berupa kertas putih
(daerah itu menjadi terang jika penyangganya berupa kaca atau lapisan plastik
tembus cahaya). Tingkat kegelapan gambar yang dikembangkan merupakan Prndet
fungsi dari hasil exposure total (produk dari penyinaran dan waktu) pada
emulsi untuk membentuk gambar laten. Dalam setiap exposure fotografik,
ada variasi cahaya yang diterima dari objek yang berbeda di dalam liputan
daerah yang terpotret. Oleh karena itu akan terjadi berbagai tingkat kehitaman
antara yang hitam dan putih yang disebabkan oleh perbedaan penyinaran. Se-
benarnya kristal-kristal akan menjadi hitam, bukan kelabu, apabila terkena
sinar yang cukup. Walaupun demikian, jika sinar yang diterima dalam suatu
daerah tertentu hanya cukup untuk bereaksi pada sebagian kristal, akan terben-
tuk rona kelabu yang merupakan campuran hitam dan putih. Semakin kuat
sinarnya, maka persentase hitam dalam campuran juga lebih besar dan akan
menghasilkan rona kelabu yang lebih gelap. Ibu j ari

Emulsi kristal perak


1.0 r.o o.o t.o
bgaritma penyinann

Material penyangga
Gambar 3.5 Kurva tipikal karakteristik emulsi fotografik
Gambar 3.4 Irisan melindungi film fotografik.
Kurva karakteristik bermanfaat untuk memberikan karalCeristik emulsi
Tingkat kegelapan emulsi yang telah dikembangkan, dinamakan densi- fotografik. Bagian lereng lurus kurva misalnya merupakan ukuran bagi kon-
ti. Densiti yang lebih besar menghasilkan emulsi lebih gelap. Densiti me- tras film. Semakin curam lerengnya, semakin besar kontrasnya (perubahan
rupakan ukuran jumlah sinar yang dapat menembus emulsi, misalnya emulsi densiti) bagi suatu kisaran exposure. Kontras sebuah film dinyatakan dengan
hitam berarti tidak tertembus sinar dan emulsi terang berarti penembusan atau gomma, sebuah iangen sudut antara lereng lurus kurva dan sumbu absisnya,
transmisi sinar hampir 1007o. Opasitas merupakan kebalikan sifat tembus seperti tampak pada Gambar 3.5. Dari Gambar 3.5 terbukti bahwa uniuk
cahaya. Ukuran densiti ialah logaritma opasitas. Sebagai contoh, jika ll%o suatu exposure yang nilainya nol, ada nilai densiti bagi film yang bersang-
cahaya dapat menembus, transrnisinya sebesar l/10, opasitasnya sebesar r) kutan. Densiti emulsi yang tidak terkena sinar disebut kabut. pida turva
l/0,10 auau 10, dan densitinya merupakan logaritma 10 atau 1,0. Jumlah maka densiti ini berada pada bagian bawah bagian ibu jari. Hal itu pada
sinar datang pada suatu emulsi dan jumlah yang ditransmisikan dapat diukur Gambar 3.5 tampak bahwa exposure harus melebihi batas minimum tertentu,
dengan suatu alat yang disebut densitometer (lihat Butir 5.5). sebelum terjadi densiti yang lebih besar dari kabut. Juga, exposure pada ba-
Jika penyinarannya berbeda bagi emulsi tertentu, maka akan diperoleh gian pundak hanya sedikit pengaruhnya terhadap densiti. oleh kareni itu ma-
nilai densiti yang berbeda. Bila nilai depersi diletakkan pada bidang ordinat ka foto yang dipotret dengan tepat berarti penyetelan yang tepat bagi kisaran
dan logaritma exposure pada bidang absis bagi sebuah emulsi tertentu, maka exposure sepaniang kurva bagian garis lurus.

L.
60 6l
Seperti halnya kulit manusia yang mempunyai kepekaan berbeda terha- 3.6 PEMROSESAN EMULSI HITAM.PUTIH
dap sinar matahari, demikian juga kepekaan emulsi. Kepekaan emulsi foto
terhadap sinar merupakan fungsi dari ukuran dan jumlah kristal perak halid Ada lima tahap prosedur ruang gelap untuk pernrosesan emulsi hitam-
atal butir-butir dalam emulsi. Apabila sejumlah sinar yang diperlukan me- putih yang telah dipotretkan, yaitu:
ngenai sebuah butir emulsi, maka seluruh butir itu terkena sinar tanpa meng-
hiraukan ukurannya. Jika satu emulsi butirnya lebih kecil daripada emulsi 7. Pengembang'an (developing).Pada tahap ini emulsi yang telah dipotretkan
l1
lain yang kira-kira jumlah luas butirnya dua kali sebanyak luas butir-butir dalam larutan kimia yang disebut pengembang (developer). Pengembangan
tadi, emulsi ini juga akan memerlukan sinar sebanyak dua kali untuk pemo- ini menyebabkan butir-butir perak halid yang mendapat sinar berubah
tretannya. Sebaliknya, bila ukuran butir semakin besar jumlah total butir menjadi hitam bebas per:rk. Perak yang bebas ini menghasilkan gambar
dalam emulsi menurun dan jumlah sinar yang diperlukan untuk pemotretan- dengan tingkat keabuan, tergantung bentukan gambarnya. Pengembang
nya juga menurun. Film dikatakan lebih peka dan lebih cepat apabila sinar bervariasi dalam hal kekuatan dan karakteristik lainnya, oleh karena itu
yang diperlukan untuk pemofietan lebih sedikit. Film yang lebih cepat sangat harus hati-hati untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Pada umumnya
menguntungkan untuk pemotretan objek yang bergerak cepat. waktu perendaman film dalam obat pencuci aniara satu hingga 15 menit,
Bila kepekaan dan ukuran butir semakin besar, gambar yang dibuahkan tergantung padajenis film dan obat pencuci yang digunalian. Kekontrasan
menjadi kasar dan resolusinya (ketajaman atau kecermatannya) menurun. Oleh gambar akhir dapat diubah dengan mengubah waktu pengembangan dan
karena itu untuk memperoleh gambar yang berkualitas tinggi di dalam pemo- suhu obat pengembang.
tretan, diperlukan emulsi dengan butir-butir halus yang kecepatannya rendah. 2. Penghentian pencelupan (stop bath). Apabila kegelapan yang tepat dan ke-
Resolusi film dapat diuji dengan memotret suatu pola uji yang baku. Pola itu kontrasan gambar telah cukup, maka kegiatan pengembangan harus dihen-
terdiri atas kelompokpasangan garis (garis-garis paralel yang bervariasi kete- tikan. Ini dikerjakan dengan suatu alat yaitu 'stop bath', suatu larutan
balannya dan dipisahkan oleh spasi yang lebarnya sama tlengan tebal garis). 'acetie' untuk menetralkan larutan pengenrbang yang bersifat basa. Emulsi
Resolusi dapat ditentukan dengan menghitung jumlah garis maksimum tiap dimasukkan ke dalam stop balh untuk beberapa detik.
ti 3. Pencelupar (fixing). Tidak semua butir perak halid diubah menjadi perak
milimeter dalam pola garis yang paling kecil yang dapat dilihat secara jelas
pada film yang telah dicuci, atau dengan modulation transfer funuian. Topik hitam bebas setelah pengembangan. Banyak butir-butir yang tidak terkem-
ini dijelaskan lebih lanjut pada Bab 4. 13. bangkan juga menjadi hitam bila terkena siniu jika butir-butir itu tidak di-
Ahli-ahli foto telah menyusun pedoman pemotretan bagi film dengan pindahkan. Untuk mencegah pengembangan lebih lanjut sehingga dapat
berbagai jenis kepekaan. Di Amerika Serikat digunakan sistem yang telah merusakkan gambar, butir-butir perak halid yang tidak terkembangkan,
dibakukan, yaitu ASA (American Standards Assosiation). Dalam sistem ini kemudian dilarutkan dalam larutan bahan pencelup. Bahan pencelup ter-
maka nilai ASA bagi film secara kasar sama dengan kebalikan kecepatan sebut dapat menguatkan emulsi. Waktu pencelupan normal kedalam bahan
tutupan (dalam detik) yang dibutuhkan bagi sinar matahari untuk pembukaan pencelup sebesar l0 hingga 20 menit.
lensa pada/-16. Berdasarkan aturan permainan ini, bila film digunakan untuk 4. Pencucian (washing) Pada tahap ini emulsi dicuci dalam air jernih yang
pemorehn tepat dengan sinar matahari murni pada/-16 dan U200 detik, di- mengalir untuk menghilangkan sisa-sia larutan kimia. Jika tidak dihi-
klasifikasikan kedalam ASA 200. Aturan permainan ini sekarang jarang digu- langkan, sisa-sisa larutan kimia ini dapat menyebabkan adanya noda atau
nakan karena telah tersedianya ukuran sinar yang secara otomatis membuah- kekaburan pada gambar. Waktu pencucian normal adalah l0 hingga 20
kan pemotretan tepat (/-stop dan kecepatan tutupan) pada kondisi penyinaran menit. Dalam pencucian dapat ditambahkan deterjen untuk mengurangi
tertentu, dengan memperbaiki nilai ASA film yang digunakan. Di Eropa, waktu pencucian.
ukuran baku pemotretan yang digunakan disebut DIN. Sebagian besar ukuran .) 5. Pengeringan (drying). Pada tahap akhir ini emulsi dikeringkan untuk
sinar sekarang menggunakan skala yang dapat digunalcan pada sistem ASA menghilangkan air pada emulsi dan pada bahan penyangganya. Pengering-
maupun DIN. Sekarang banyak kamera yang dibuat dengan sistem bukaan an dapat dikerjakan dengan berbagai cara, dari yang sederhana yaitu dike-
otomatis. Sistem ini teidiri dari sebuah sel peka sinar yang mengukur kondisi ringkan di udara hingga pengeringan dengan alat pengering.
ambang batas sinar yang diterima dan mengatur bukaan lensa secara otomatis
dan atau kecepatan tutupan untuk mencapai nilai optimum bagi kondisi ter- Peralatan modern dapat rnelakukan secara otomatis lima tahap di atas
tentu. dalam kamar gelpp secara terus-menerus. Hasil yang diperoleh dari pe-
62 63

mrosesan film hitam-putih adalah gambar negatif. Jika nama negatif ber-
pangkal dari kenyataan warna dan geometri yang berkebalikan terhadap
kenyataan yang dipotret, misalnya objek hitam tampak putih dan sebaliknya.
Sebuah gambar positif diperoleh dari negatif dengan mengulangi pro-
ses fotografi. Proses ini dapat mengubah wama dan geometri untuk mengha- Sinar Gamma Celombang radio
silkan rona dan geometri yang benar. Dalam mencetak positif dari negatif, itl
kertas cetak berlapiskan emulsi disinari dengan jalan melewatkan sinar mela-
lui negatif ke arah emulsi itu. Sinar menembus berbagai daerah negatif sesuai l,l, r, l, t, l,-[rl' lI I rl
l0ro l0 s tO 6 l0 I l0 2 I l0r 104 106 lo8 l0r0
dengan kecerahan negatif tersebut, misalnya daerah hitam tidak akan tertem-
Panjang gelombang, mikrometcr
bus sinar sehingga tidak akan berbentuk gambar pada kertas cetak. Sebagai
akibat penyinaran melalui negatif, akan terbentuk gambar laten pada kertas
cetak. Gambar laten tersebut diproses dengan melalui lima tahap tersebut dan Gambar 3.6 Klasifikasi spektrum elektromagnetik dengan panjang gelombangnya
dikerjakan dalam kamar gelap.
Di samping menggunakan kertas cetak, positif juga dapat dibuat pada Sinar tampak terdiri dari tenaga yang panjang gelombangnya sebesar
film plastik atau kaca lembaran. Dalam fotogrametri, positif yang dibuat pada (0,4-4,7) mikrometer (pm). Tenaga yang panjang gelombangnya lebih pen-
kaca lembaran atau pada bahan plastik tembus cahaya disebut diapositif. dek dari 0,4 pm disebut ultraviolet, sedang tenaga dengan panjang gelombang
lebih dari 0,7 pm disebut inframerah dekat. Ultraviolet dan inframerah dekat
tidak dapat dideteksi dengan mala manusia.
3.7 KEPEKAAN SPEKTRAL EMULSI Dalam panjang gelombang sinar tampak, mata manusia dapat membe-
dakan warna-warna yang berbeda. Warna-warna primer yaitu biru, hijau dan
Marahari dan bermacam-macam sumber sinar buatan seperti pancaran 11 merah terbentuk dari panjang gelombang yang sedikit berbeda. Warna biru ter-
cahaya lampu, memancarkan berbagai tenaga yang disebut tenaga elektromag- bentuk oleh tenaga dengan panjang gelombang dari 0,4 pm hingga 0,5 pm
neril<. Seluruh kisaran tenaga elektromagnetik ini disebut spektrum elektro- hingga 0,6 pm dan merah dari 0,6 pm hinggan 0,7pm. Warna-warna lain
magnetik. Sinar-X, sinar tampak, dan gelombang radio merupakan contoh merupakan kombinasi dari warna-warna primer, misalnya kunin! merupakan
bagi macam-macam tenaga dalam spektrum elektromagnetik. Tenaga elektro- kombinasi dari sinar merah dan hijau. Banyak warna yang dapat dibentuk de-
magnetik yang bergerak secala sinusoidal teratur disebut gelombang,. Variasi ngan berbagai kombinasi warna primer. Sinar putih merupakan campuran dari
dalam tenaga elektromagnetik diklasifikasikan menurut variasi panjang ge- seluruh warna pada spektrum tampak. Sinar putih dapat dirinci menjadi warna
lombangnya atau frekuensi gerak perambatannya. Kecepatan tenaga elektro- komponennya dengan melewatkannya melalui suatu prisma, seperti ditunjuk-
magnetik dalam ruang hampa bersifat tetap dan dapat dinyatakan dengan kan pada Gambar 3.7. Pemisahan warna terjadi karena perbedaan pembiasan
frekuensi dan panjang gelombang, yang dapat dinyatakan sebagai berikut sebagai akibat dari tenaga yang panjang gelombangnya berbeda.
(lihatjuga pada Sub-bab 2.1). Untuk mata manusia, suatu objek tampak dengan warna-warna terten-
tu karena pantulan tenaga dengan panjang gelombang yang dapat menghasil-
kan warna tersebut. Jika suatu objek memantulkan semua tenaga tampak,
c = f)' (3.3)
maka objek tersebut akan tampak putih. Sebaliknya, jika suatu objek me-
nyerap semua sinar dan tanpa memantulkannya, objek tersebut akan tampak
Dalam Formula 3.3, c adalah kecepatan tenaga elektromagnetik dalam ,) hitam. Jika suatu objek menyerap seluruh hijau dan merah tetapi memantul-
ruang hampa, / mewakili frekuensi dan X merupakan panjang gelombang. kan objek tersebut akan tampak biru.
Gambar 3.6 menggambarkan klasifikasi panjang gelombang spektrum elek- Seperti halnya retina mala manusia yang peka terhadap berbagai pan-
tromagnetik. Sinar tampak (tenaga elektromagnetik pada kepekaan mata kita) jang gelombang, emulsi fotografi juga dapat dibuat dengan kepekaan yang
hanya merupakan bagian yang sangat kecil dalam spektrum elektromagnetik berbeda-beda terhadap panjang gelombang. Emulsi hitam putih yang merupa-
(lihat Gambar 3.6) kan campuran perak halid tanpa perlakuan lebih jauh, hanya peka terhadap
tenaga biru dan ulthviolet. Suatu objek berwarna merah misalnya, tidak akan
Y
tr

65
&

L l,J --l-
I
Kertas cetak ,.Film pankromatikr-Film infra
I

(,
fo

e
0., u --r
,",tA
$"
---Biru
n.t,
uor-l
j I

I
0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0 I I
Panjang ielombang (mikrometer)
1.2

[glioler g.3,1-
I
i
Gambar 3.8 Kepekaan berbagai emulsi hitam putih.

3.8 FILTER

Gambar3.TWamaputihdipisahkanmenjadiwarna.walnaindividualdarispek. Warna aman seperti warna merah dan kuning yang telah dijelaskan da'
trum ta.mpak dan spekuum dekat tampak melalui prisma' lam bagian sebelumnya biasanya merupakan sinar putih yang dipasangi filter
merah atau kuning. Filter merah menghalangi panjang gelombang biru dan
menghasilkan gambar pada emulsi tersebut. Emulsi yang belum mengalami hijau sehingga hanya merah saja yang dilewatkan. Filter yang diletakkan di
*,dd; ini bi"asanya digunakan kertas cetak ini dapat digunakan sinar merah depan lensakamera juga hanya melewatkan panjang gelombang tertentu mela-
il;k;;il;b;t; siiar aman untuk membantu menyinari ruang_gelap lui lensa sehingga dapat mengenai film. Penggunaan filter pada kamera dapat
t,,.nu *rrn'u-*rrio ini yang hanya peka ter-
tidak mempengaruhi kertas celub menguntungkan untuk jenis fotografi tenentu.
hadap wama biru. Kabut atmosferik terutama disebabkan oleh hamburan panjang gelom-
Emulsi perak halid hitam-putih dapat dioperasikan dengan mengguna- bang ultraviolet dan gelombang biru pendek. Walaupun atmosfer berkabut,
,nuor"scent' agar emulsi-tersebut peka_terhadap panjang ge- dapit dibuat gambar jelas dengan menggunakan filter yang dapat menahan
kan lapis *u*i,
hi- kaLut. Filter ini dapat menahan lewatnya hamburan sinar gelombang pendek
ilb*g tain setain biru. Emulii yang pek3 terhadap k]qaral biru hingga
j;; ;tr;il; itokromatik, sedang'varigpeta terhadap biru, hij.1 dan merah yang tidak dikehendaki (yang menghasilkan kabut) dan menghalanginya me-
';;;;;;;rt romotik. Emulsi ju[aoap-ai dibuat peka terhadap kisaran.infra- masuki kamera untuk mengenai film. Karena keuntungan ini, filter kabut
rn"rat deUt. Emulsi ini diseLut infiamerahatau IR. Film inframerah me- hampir selalu digunakan pada setiap kamera udara.
mungkinkan untuk memperoleh fotb dengan tenaga yTg tidat tampak
oleh Filter uniuk kamera udara dilengkapi dengan kaca optik berkualitas
matamanusia.Penerapanpertamatipeemulsiiniialahuntukmendeteksi tinggi. Hal ini perlu karena sinar yang akan membentuk gambar harus lewat
bentuk samaran (camouflage) yang iernyata bahwa tetumbuhan mati
atau metitui filter sebelum masuk kamera. Selama melalui filter, sinar mengalami
warna hijau bukan tetumbriai, ,"i',Uuahkan wama lain bagi mala manusia gangguan yang disebabkan oleh filter. Karena itu kamera harus dikalibrasi
karena pantulannya yang berbeda terhadap inframerah' Perbedaan
ini dapat di- (.titriiSuU-Uab 4.10 hingga 4,13), filter harus betul-betul tetap di tempatnya.
Fitm inframerah sekarang banyak digunakan Setelah kalibrasi, filter tidak boleh diubah agar tidak mengubah katibrasi.
deteksi melalui f6toinfimerah.
t"p"tti untuk mendeteksi tanaman yangmengalami
untuf U"rUugai keperluan,
3'8
gangguan (il.t0, p"tn.tuun'tp"sies tumbuhan, dan sebagainya' Gambar
iiinl"goruita, [e'p"tuan yang berueda bagi berbagai emulsi'
6 67

3.9 PEMROSESAN EMULSI BERWARNA Dalam pemotretan berwarna cahaya yang masuk ke kamera bereaksi
dengan lapis emulsi sesuai dengan warna atau kombinasi warna objek di
Emulsi warna normltl dan warna inframerah merupalcan kemajuan baru alam. Berbagai film berwarna yang tersedia, masing-masing memerlukan
yang sekarang banyak digunakan dalam fotogrameti. Emulsi benvarna terdiri proses pengembangan yang berbeda. Pada tahap pertama pengembangan film
dari-tiga lapis perak halid, seperti ditunjukkan pada Gambar 3.9. Lapis atas berwarna membuahkan hasil sama dengan pengembangan film hitam putih.
peka terhadap cahaya biru, lapis kedua peka terhadap cahaya hijau dan biru, Halid yang terkena sinar pada masing-masing lapis kembali menjadi kristal
dan lapis dasar peka terhadap cahaya merah dan biru. Filter biru dipasang perak hitam. Proses selebihnya tergantung pada jenis film, apakahllm nega-
dalam emulsi di antara lapis atas dan lapis kedua, untuk mencegah cahaya biru tif ber*,arna atatJ color reversal film. Pada film negatif berworna, hasilnya
masuk dua lapis bawah. Hasilnyaberupa tiga lapis yang peka terhadap cahaya berupa negatif dan dari negatif dapat dibuat foto berwama. Color reversal film
biru, hijau dan merah (dari lapis atas ke lapis bawah). Kepekaan masing- secara langsung menghasilkan film transparansi benwama asli pada film. Cara
masing lapis ditunjukkan pada Gambar 3.10. ini digunakan untuk membuat film slide berwarna.
Dalam pengembangan film negatif berwarna, perak halid dalam ma-
Peka terhadap cahaya biru
sing-masing lapis yang berubah menjadi hitam pada tahap awal, kemudian
Filter penahan biru
diganti dengan larutan zat warna komplementer sesuai dengan kepekaannya;
Peka terhadap cahaya biru dan hijau
misalnya butir-butir perak hitam pada lapis teratas atau lapis yang peka biru
Peka terhadap catraya biru dan merah diganti dengan zat wdrna kuning (kuning merupakan wama komplementer
terhadap biru yang terbentuk dari kombinasi panjang gelombang hijau dan
merah). Kristal perak hitam pada lapis kedua atau lapis peka hijau diganti
Material penyangga
dengan zat warna ragenta (magenta merupakan wama komplementer terhadap
hijau yang terbentuk dari kombinasi panjang gelombang biru dan merah), dan
a tristai peiat pada lapis ketiga atau lapis peka merah diganti dengan zat wuna
Gambar 3.9 Irisan melintang film berwarna normal. cyan (cyan merupakan warna komplementer terhadap merah yang terbentuk
dari kombinasi panjang gelombang biru dan hijau).
(atas Lapis (tengah) Lapis (bawah)
Dalam pembuatan foto berwarna dan negatif, cahaya putih (kombinasi
peka biru peka hijau peka merah dari semua cahaya pada panjang gelombang dalam kisaran sinar tampak)
diarahkan melalui negatif hrwarna untuk menyinari tiga lapis emulsi berwar-
na. Negatif berwarna bertindak sebagai suatu filter di dalam penyinaran tiga
lapis itu menjadi tiga warna, yaitu kuning, magenta dan cyan. Di dalam pe-
ngembangan kertas cetak yang telah disinari, dari tiga warna komplementer,
dt yaitu kuning, megenta dan cyan masing-masing dihasilkan warna biru, hijau
.dl
JI dan merah. Hasil pembalikan warna yang kedua ini setelah dicetak membuah-
&l
rDl kan warna-wama asli objek yang terpotret.
v Dengan color reversal film, pertama-tama emulsi dikembangkan secara
parsial. Emulsi itu kemudian disinari lagi dan proses pengembangan diulang
untuk memperoleh pembalikan warna. Proses ini sama dengan pemrosesan
,l I tl film negatif berwarna, kecuali dua proses itu dikerjakan pada film asli. Hasil
0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0 akhir berupa transparansi berwama yang terbentuk dari wama-warna asli objek
Panjang gelombang yang terpotret.
(mikrometer) Selama Perang Dunia II ada minat yang besar untuk meningkatkan
efektifitas film pada @erah spektrum inframerah. Minat ini menyebabkan pe-
Gambar 3.10 Kepekaan tiga lapis film berwarna normal. ngembangan film berwarna semua atau inframerah berwarna. Pihak militer
menamakannyafilm pendeteksi benluk samaran karena film tersebut me-

)
!o
*

68 69

mungkinkan penafsirnya dengan mudah dapat membedakan antara daun{aunan 3.10 PEMROSESAN FILM UDARA HITAM.PUTIH
samaran dan asli. Seperti film berwarna normal, film inframerah berwarna
juga terdiri dari tiga lapis emulsi yang masing-masing peka terhadap bagian Film udara hitam-putih dikembangkan secara langsung dalam bentuk
spektrum yang berbeda. Gambar 3.ll menyajikan kurva kepekaan masing- gulungan. Metode yang paling sederhana dalam pengembangan film udara ada-
masing lapis film inframerah berwarna. Lapis atas peka terhadap tenaga ultra- lah proses memutar kembali (rewind). Peralatan untuk proses ini disajikan
:
violet, biru dan hijau. Lapis tengah mempunyai puncak kepekaan pada bagian t,: pada Gambar 3.l2yang terdiri dari tiga rangki, masing-masing satu untuk pe-
spektrum merah, tetapi juga peka terhadap cahaya ultraviolet. Lapis dasar ngembang, penghentian pencelupan, dan pencelup. Di samping itu ada sebuah
peka terhadap ultraviolet dan inframerah. Film inframerah berwama umumnya alat pemutar kembali yang terdiri dari dua penggulung dan terletak pada satu
digunakan bersama filter kuning yang dapat menahan panjang gelombang kerangka. Alat itu dihubungkan dengan tangki-tangki tersebut. Film dipasang
lebih pendek dari 0,5 mikrometer. Daerah yang diarsir pada Gambar 3.11 pada salah satu penggulung mula-mula dimasukkan ke dalam tangki pengem-
mencerminkan pengaruh penutupan oleh filter kuning. bang. Dengan menggunakan motor listrik atau putaran dengan tangan, film
bergerak dari satu rol ke rol yang lain selama pengembangan. Prosedur pe-
mutaran kembali film diulangi untuk "stop bath" dan pencelup. Film kemu-
dian dicuci dalam air jernih yang mengalir dan dikeringkan. Film untuk
pemotretan udara biasanya diproses di kamar yang benar-benar gelap, karena
film tenebut peka terhadap semua panjang gelombang sinar lampak.
Ada alat pemrosesan yang lebih canggih yang secara otomatis me-
ngembangkan, mencuci, dan mengeringkan gulungan film hitam-putih- Alat
tersebut juga dapat digunakan untuk pemrosesan secara terus-menerus bagi
st film-film untuk foto udara berwama.
$r

0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0

lT',T:i#*o-'
Gambar 3.ll Kepekaan film inframerah berwarna (berwarna semu).

Dengan film inframerah berwarna dan filter kuning, setiap objek yang
memantulkan tenaga inframerah akan tampak merah pada akhir pemrosesan
gambar. Objek-objek yang memancarkan merah akan tampak hijau dan objek
yang memancarkan hijau akan tampak biru. Wama yang berlainan dengan
warna asli inilah yang menyebabkan film itu dinamakan wama semu (false
color). Walaupun film inframerah berwarna dikembangkan oleh militer, telah ,tl lt
digunakan secara luas pula di katangan sipil. Beberapa pengguniumnya dijelas-
Gambar 3.12 Peralatan untuk pemrosesan fiIm foto udara hitam putih (seizin
kan dalam Bab 20. Carl Zeiss, Oberkochen).

3.11 PENCETAKAN SECARA KONTAK


Cetakan setara kontak merupakan proses pembuatan foto positif secara
{

70 7t

langsung dari negatif. Permukaan emulsi sebuah negatif diletakkan dengan bagian negatif sehingga diperoleh hasil optimum bagi seluruh cetakan foto
kontak langsung terhadap emulsi di atas kertas cetrk bahan plastik, atau kaca sesuai dengan perbedaan dentisi. Pada alat pencetak secara kontak pada
lembaran yang belum terkena sinar. Dua bahan itu secara bersama-sama dile- Gambar 3.12, seberkas sinar diatur menjadi sebuah bentuk empat persegi
takkan pada pencetak secara kontak dengan emulsi positif diletakkan ke arah panjang dari garis-garis pada tahap penyinaran. Dodging dikerjakan secara
sumber cahaya. Gambar 3.13 menggambarkan sebuah kerangka pencetak manual dengan mematikan lampu pada berbagai posisi hingga tercapai penyi-
secara kontak. Instrumen ini dilengkapi dengan alat pengatur waktu yang 1t naran keseluruhan secara optimum.
secara otomatis dapat bekerja sesuai dengan waktu yang diinginkan. Dua Alat pencetak 'T-og Etronic" dapat melakukan dodging secara otomatis.
penahan penggulung yang terletak pada tiap sisi memungkinkan untuk meng- Dengan alat ini maka sebuah sumber sinar dari tabung sinar katoda melaku-
gerakkan film udara dengan mudah. Selaput karet pada penutup alat cetak diisi kan pemotretan dengan cara menyiam secara sistematis menyilang seluruh
dengan udara, sehingga apabila penutup itu ditutup dan dilakukan penyinaran, negatif. Sebuah tabung foto memantau sinar yang menembus negatif dan
semua bagian positif dan negatif ditekan hingga rapat betul pada bidang kaca. secara otomatis menambah atau mengurangi kecepatan penyiaman untuk
Alat pencetak secara kontak yang dapat bekerja secara otomatis dan terus- mempemleh penyinaran optimum sesuai dengan densiti negatif yang berbeda-
menerus memproses seluruh rol film udara negatif sekarang telah tersedia. Di beda. Gambar 3.14 menunjukkan Log Etronic Mark IV dodging pencetak
dalam pencetak secara kontak, positif yang diperoleh berukuran sama dengan serara kontak.
negatifnya.

Gambar 3.13 Kerangka alat cetak tunggal KG-30 (Seizin Carl Zeiss, Ober- r) It
kochen.

Penyinaran sama kuat bagi seluruh negatif selama pemotretan akan


membuahkan kurang sinar pada bagian negatif yang densitinya tinggi dan ke-
lebihan sinar pada bagian yang densitinya rendah. Hal ini dapat diatasi dengan
Gambar 3.14 Alat pencetak Log elektronic variable contact printer (Seizin Lag
proses yang disebut dodging, yang berupa penyesuaian jumlah sinar bagi tiap
Etronics, Inc.).
\
73
72

sistem hampa ini menahan positif tetap rata untuk menghindari terjadinya
3.12 PENCETAKAN DENGAN PROYEKSI
distorsi oleti lipatan. Kuda-kuda dan lensa beberapa alat pembesar (enlarger)
Jika dikehendaki positif yang skatanya diperbesar atau diperkecil dari dapat dimiringkan untuk menghilangkan distorsi oleh kemiringan foto. Foto
ukuran negatifaslinya, maka digunakan proses pencetakan dengan proyeksi. ceiakan yang dibuat dari foto udara yang mengalami kemiringan c tetapi telah
Geometri pencetakan dengan proyeksi disajikan pada Cambar 3.15. Di dalam dikoreksi kemiringannya, geometrinya dapat disamakan dengan foto vertikal.
proses ini, negatif diletakkan pada proyektor alat pencetak dan disinari dari a) Fotonya disebutpto yang telah mengalami rekffikasi (rectified photograph).
atas. Misalnya sinar yang membawa gambaran c dan d dari negatif, melalui Rektifikasi dibincangkan lebih jauh pada Sub-bab 11.14 hingga 11.20. Alat
lensa proyektor dan akhimya mencapai lokasi C dan D pada positif yang terle- pencetak dengan proyeksi yang mampu memperbesar dan merektifikasi
tak pada bidang di bawah proyektor. Emulsi positif yang telah tersinari ditunjukkan pada Gambar I1.19.
kemudian diproses dengan cara seperti yang telah dijelaskan sebelumnya

3.13 PROSES HALFTONE


Sumber sinar
Apabila reproduksi tinta harus dibuat dari gambar asli yang untuk
Proyektor memperbanyak mengandung berbagai rona, misalnya foto udara, mosaik dan
Rol pengisi Tempat putaran sebagainya, maka perlu menggunakan proses 'halftone' . Kebutuhan untuk
film membuat'halftone' berpangkal dari kenyataan bahwa di dalam reproduksi,
baik tinta digunakan untuk mencetak ataupun tidak, tidak ada proses setengah
tinta (half-ink) yang dapat menghasilkan berbagai tingkat kehitaman (rona)'
Apabila tinta yang digunakan untuk mencetak, maka akan menghasilkan
warna hitam dan jika tidak untuk mencetak, akan dihasilkan warna putih jika
t# r'
di gunakan kertas putih.
t. Untuk mendapatkan tingkat kehitaman yang berbeda-beda, dibuat half-
tone dari foto aslinya dengan menggunakan suatu /ayar tembus cahaya ber-
1

sambung bersama alat pencetak dengan proyeksi. l,ayar tersebut merupakan


bahan tembus cahaya dengan garis-garis halus hitam yang telah digoreskan
padanya untuk memberikan pola berstigi empat. Di samping kepadatan spasi-
nya, layar itu akan tampak sepe(i pintu kaca. Layar tersebut diletakkan pada
kuda-kuda di atas emulsi film yang akan menjadi halftone. Layar itu memecah
sinar yang menuju emulsi film menjadi bujur-sangkar kecil-kecil sehingga
Kuda-hda Posilif -a gambar yang dihasilkan merupakan kombinasi himpunan titik-titik kecil
) hitam dan putih. Ukuran titik-titik hitam kecil pada bagian tertentu tergan-
tung pada intensitas cahaya yang menembus negatif. Intensitas cahaya yang
tinggi lebih mampu menembus bagian negatif yang cerah bila dibanding de-
ngan cahayaberintensitas rendah yang akan membuahkan titik-titik berukuran
Gembar 3.15 Geometri pembesaran dengan alat cetak proyeksi. lr lebih besar. Di dalam proses reproduksi, titik-titik itu akan mencetakkan tinta
1)
dan bagian antaranya tidak mencetakkan tinta. Karena itu bagian yang titik-
Jarak.A dan B pada Gambar 3.15 dapat dibuat berbeda sehingga positif
titiknya besar akan menghasilkan wujud mendekati hitam, sedangkan bagian
dapat dicetak pada berbagai skala dan formula lensa yaitu Formula 2.8 dapat
yang titik-titiknya sangat kecil akan tampak mendekati putih, titik-titik yang
terpenuhi. Perbandingan dalam pembesaran atau pengecilan terhadap ukuran
berukuran sedang akan menghasilkan wujud kelabu.
negatif ke positif sama dengan perbandingan B/A.
Titik-titik pada cetakan halftone pada umumnya kecil dan saling berde-
Kuda-kuda alat pencetak dengan proyeksi sering berlubang-lubang kecil
katan sehingga mala manusia tidak begitu jelas melihatnya dan wujud keselu-
dan banyak, yang dihubungkan dengan sistem hampa. Pada saat pemotretan,
il
:t4 75

Harman, W., Jr.: Recent Developments in Aerial F1lm, Photogrammetric


Engineering, vol. 27, no. l, hlm. 151, 1961.
James, T. H., dan G. C. Higgins: 'Fundamentals of Photographic Theory"' ed. ke-
..2,,Morgan and Morgan, Inc., New York, 1960-
Larmore, L.: "Introduction to Photographic Principles," ed. ke-2, Dover
It Publications, Inc., New York, 1965.
Malan, O. G.: Color Balance of Color-IR Frlm, Photogrammetric Engiieering,
vol. 40, no. 3, hlm.3ll, 1974.
Mees, C. E. K.: 'The Theory of the Photographic Process," rev. ed., The Macmil-
lan Company, New York, 1954'
Michener, B. C.: Drying of Processed Aerial Films' Photogrammetric Engi'
neering, vsl. 29, no. 2, hlm. 321, 1963.
RUJUKAN Norton, C. L., et al,: Optical and Modulation Transfer Function, Photogrammetric
Engineering and Remote Sensing, vol. 43, no' 5, hlm. 613, 1977.
Rosenbruck, K.: Considerations Regarding Image Geometry and Image Quality'
Photogrammetria, vol.33, no.5, hlm. 155, 1977.
Scarpace, F. L., dan G. Friedricks: A Method of Determining Spectral Analytical
Dye Densities, Phologrammetric Engineering and Remote Sensing, vol.
44, no. 10, hlm. 1293, 1978.
Schallock, G. W.: Metric Tests of Color Photography, Photogrammetric
Engineering, vol. 34, no. 10, hlm. 1063, 1968.
aj rr Sorem, A. L.: Principles of Color Photography, Photogrammetric Engineering,
vol.33, no.9, hlm. 1008, 1967.
Specht, M. R.: IR dan Pan Fllms, Photogrammetric Engineering, vol. 36, no. 4,
hlm. 360, 1970.
Stephens, P. R.: Comparison of Color, Color Infrared and Panchromatic Aerial
Photography, Photogrammetric Engineering and Remote Sensing, vol.
42, no. 10, hlm. 1273,1975'
Tarkington, R. G.: Kodak Panchromatic Negative Films for Aerial Photography,
Photogrammetric Engineering, vol.25, no.5, hlm. 695, 1959.
dan A. L., Sorem: Color and False Color Films for Aerial Photography'
Photogrammetric Engineering, vol. 29, no. I' hlm. 88' 1963..
Welch. R.: Photogrammetric Image Evaluation Techniques, Photogrammetria,
vol. 31, no. 5, hlm. 16l, 1975.
Progress in the Specification and Analysis of Image Quality' Photo'
r) tt grammetric Engineering and Remote Sensing, vol' 43, no. 6, hlm. 709'
1977.
-:
warsfold, R. D.: More on color compensating Filters with Infrared Film,
Photogrammetric Engineering and Remote Sensing, vol' 44, no. l, hlm'
i:;:rrrur'i:.i 97, 1978.
Color Compensating Filters with Infrared Frlm, Photogrammetric
ili{!rriJ3l| ili;itrtr'l Engineering,gnd Remote Sensing, rol. 42, no. I l, hlm. 1385' 1976

-:
il
76 7?

SOAL 3.22. Uraikan proses halftone, dan mengapa diperlukan proses tersebut?
3.23. Perhatikan Gambar 3.3 dengan menggunakan kaca pembesar, kemudian
3.1. Jelastan mengapa kamera lensa menggantikan kamera lubang uraikan jumlah baris per inci dari layar half. tone yang digunakan?
3.2. Definisikan istilah fotografi berikut: penyinaran, aperture, emulsi,
gambar laten, dan kabut.
3.3. . Sebuah kamera mempunyai jarak fokus 55,0 mm. Nilaiy'-stopnya diatur ,) fr
darif-1,4 sampaif-22. Berapa diameter maksimum dan diameter minimum
aperture?
3 .4 . Buatlah tabel diameter apertur lensa lawanfstop nominal yang diatur dari
/-l sampai/-30 untuk sebuah lensa dengan jarak fokus 80,0 mm.
3.5. Suatu penyinaran mencapai optimum pada kecepatan tutupan l/250 Aet*
dernf4. Jika diperlukan mengubah kecepatan tutupan menjadi l/t.OOO a"-
tik, apa yang harus dilakukan terhadap /-stop agar penyinaran tetap op-
timum.
3,5. Sama dengan Soal 3-5, jika diperlukan untuk penyinaran pada 17100
detik.
3.7 , Suatu penyinaran mencapai optimum pada kecepatan penutupan l75OO de-
tik padaf5,5. Untuk menaikkan jangkauan medan perlu penyinaran pada
f-22, Berapa kecepatan penutupan yang diperlukan untuk
mempertahankan penyinaran optimum?
3. E. Sebuah kamera mempunyii jarak fokus 64,0 mm. Berapa jarak gambar l) .\
yang diperlukan agar fokus sempurna jika jarak ke benda adalah 5 kaki?
l0 kaki? 20 kaki?
3.9. Seperti Soal 3.8, dengan jarak fokus kamera 28,0 mm?
3. 1 0. Apa hubungan antara kecepatan film dan ukuran butir emulsi?
3. I I . Apa hubungan antara resolusi dan ukuran butir emulsi?
3. .12 Apa sifat-sifat kurve I/ dan D, atau kurve D log E?
3.
3. I Diskusikan prosedur ruang gelap untuk pemrosesan emulsi hitam-putih?
3.14. Uraikan spektrum elektromagnetik dalam besaran panjang gelombang
berbagai jenis tenaga.
3.15. Berapa panjang gelombang tenaga yang membentuk warna-warna primer?
3. I 5 . Apa warna-warna komplementer untuk kuning, magenta, dan cyan?
3.17 . Jelaskan kapan dan mengaps "sinar aman" dapat digunakan di dalam ruang
gelap.
3.1t. Uraikan sifat-silat film warna inframerah. ;
3.I 9. Jelaskan mengapa filter penahan kabut digunakan pada kamera udara? t li ,,
3.2O. Misalkan pada Gambar 3.15 jarak negatif cd terukur 4,28 inci dan jarak
positif CD terukur 12,05 inci. Berapa faktor pembesaran untk pencetakan i
ini?
3.2i. Misalkan pada Gambar 3.15 jarak ,4 adalah 213 mm, dan jika positifnya
padi fokus sempurna, B sama dengan 382 mm. Berapa jarak fokus lensa
pembesarari? Berapa faktor pembesaran untuk pencetakan positif ini?

i
79

bergerak cepat, maka waktu pemotretan dan pemotretan ularigiftnlls singkat,


BAB
lensa bekerja cepat, dan penutup bekerja secara efisien. Kamera hams mampu
4 memenuhi fungsi tersebut di dalam kondisi cuaca ekstrim maupun dalam
keadaan pesawat yang bergetar.
Kamera udara pada umumnya dilengkapi dengan film gulungan dan
KAMERA DIRGANTARA ,) magasen berkapasitas 200 kaki hingga 400 kaki atau lebih. -Kamera telah
dikembangkan untuk secara otomatis memotret gambar paddThia lembaran.
Meskipun cara ini membuahkan ketelitian paling tinggi, tetapi tidak diguna-
kan secara luas karena pelaksanaan pemotretannya kurang menyenangkan dan
harganya lebih mahal.
Kamera misi penerbangan untuk pemotretan cukup mahal dan karena
kondisi cuaca serta kondisi lain sering menghalangi pemotretan dari udara
untuk periode waktu cukup panjang, maka di dalam pembuatan kamera udara
4.I PENGANTAR sangat penting untuk memperhatikan serta menjamin kualitas dan reabilitas
pada tiap misi pemotretan' .rr:t{rnri!i,,r:i1 i.).
Di dalam fotogrametri terdapat sedemikian banyak instrumen penting
sehingga tidak mudah untuk menyatakan mana yang paling penting. Aka;
tetapi kamera merupakan salah satu instrumen terpenring tareni kame-ra digu- 4.2 JENIS KAMERA UDARA
nakan untuk membuat foto yang merupakan alat utama ai aaa. fotogrametri.
Untuk memahami ilmu fotogrametri, terutama geometri foto harui dikuasi Ada empat jenis kamera udara, yaitu (l) kamerq:lkeiriaii:kiibertensa
pengerlian dasar tentang kamera dan cara kerjanya. I tt tunggal, (2) kamera kerangka multilensa, (3) komera fl,ffp,,$an,(*).1kamera
panoramik, Pemeriannya disajikan berikut: irr! itl:trili,r iil, , :, i: ;)
-. - _ Keberhasilan yang menonjol di dalam fotogrametri pada akhir-akhir ini
di dalam banyak hal disebabkan oleh perkembangan ketelitian kamera. per- :d;ir:l .,r,ici;
kembangan kamera yang paling penting agaknya berupa penyempurnaan dapat
4.2.1 Kamera Kerangka Berlensa Tunggal .;,',, , i_
Hal-ini sangat meningta*an tietetitian roiog'rameteri. Di samping
$alaitan.
ifu juga Kamera kerangka berlensa tunggal merupata6 t'*.rl'yun g lbkarang
terjadi banyak perbaikan penting pada konsuukii dan cara kerja kame-
ra secara umum. paling banyak digunakan. Kamera ini hampir selalu digun'akan untuk maksud
Dua klasifikasi foto secara mendasar telah diutarakan pada Bab l, yaitu perpetaan karena hasilnya berupa gambaran geometri yang kualitasnya paling
foto terestrial
dan foto udara,dan diperikan dengan masing-masing contoh. tinggi. Pada sebuah kamera kerangka berlensa tufiggall,lh3ad'lpdsrihg tetap
-secara
seirama dengan kategori lotograli ini, gans-besar mata rameri dibeda- terhadap bidang fokal. Pada waktu pemotretan rff&ltd,bBdsahyutfi'tndipasair!
kan atas kamera terestrial dan kamera udara. Meskipun pada akhir-akhir ini pada kedudukan yahg tetap, meskipun film itu Ofgeref<lta+t,srirjd,stdild,irr**t*
penggunaan dan kegunaan foto terestrial meningkat, penggunaan foto udara mengimbangi gerak relatif benda yang dipotrt.Sbt{rrutlrke'?.iridHa'Uipotfdt
masih mendominasi industri fotogrametri. oleh karena itulah maka kamera SeCaraberSamaandenganjalanmembukapenutirp.i !,r;i1 ..,:rrir ltlil;':iri i:l',.8
udara dibincangkan secara tersendiri pada bab ini, sedang berbagai aspek foto- Kam era f eran g ti
berlensa tu n g g al s.edrr[ di,k'l{b i rilcflilktifi in{bri Bln t
grametri udara dibincangkan pada beberapa bab berikutnya. Kameraierestrial sudut pandangnya (angulw tield of view)-. Sepefu,tercurtlirl,p&a$6&rrrdarE.tf
I )$. rr
dibincangkan pada Bab 18. 1 sudut pandang ialah sudut G yang pada tilik;m'daFbdl.il{fingp5eu,ua} ,leif$A
Persyaratan kamera udara sangat berbeda dari kamera amatir biasa t,,a
kamera dibatasi oleh diagonal format gambdfitlaitu'6*&-*U$t$j{rktiraii'fbirnat
seperti. disajikan pada Gambar 3.3. Persyaratan utama kamera fotogrametri kamera udara untuk pemetaan yang paling i$fi11filtr&vlsShtri9,iiitdl ffi&urE3
udara ialah sebuah lensa yang kualitas geometrinya tinggi. Kameia udara senrimeter persegi. Krasirikasi roto uoara y;oay,tf,Hqiil.*X*F,I:
harus dapat digunakan untuk pemotretan sejumlah besar foio dengan pergan- iilfli
tian secara cepat dan tepat. Karena fungsi ini harus dipenuhi dari pesawit yang a). Sudutnormal (hingga 75o)rr:ir:el ii;t[i i,t I.l' ,rilrri' ':1 i'ti;r'j
D). Sud.it lebar (75'-1CI) :!,ilii.iii,,t r:li.
j "ril:r::rirri?r,r :niifu{ti,'1 illiir,l

lt
;
.i
{
c
:]1

80 81

c). Sudut sangat lebar (melebihi 100') kamera dengan panjang fokus lebih kecil membuahkan liputan medan lebih
besar bagi tinggi teruang yang sama, bila dibanding dengan liputan medan
kamera yang p"nj-g fokusnya besar. Kamera dengan paniang fokus kecil dan
dengan iormatt&it-telah digunakan secara umum dalam program antariksa, di
rnana dimensi fisis kamera agak terbatas oleh nrang yang tersedia pada satelit.
,) Kamera udara untuk pemetaan merk RMK 15/23 disajikan pada Gam-
bar 4.1. Gambar 4.2 menyajikan kamera udara untuk pemetaan merk Fairchild
KC-GA, dan Gambar 4.3 menyajikan kamera. Wild RC-10. Tiga kamera ini,
bersama dengan sejumlah kecil kamera lainnya, sekarang digunakan dalam
pembuatan sejumlah besar foto udzira untuk maksud pemetaan. Tig.a-\amera
ini memiliki iensa tunggal dengan presisi tinggi dan format 9 inci (23 cm)
se(a kapasitas film sekitar 400 kaki (120 m). Kamera KC-GA dan RMK
1523 keduanya memiliki lensa dengan panjang fokus nominal 89 mm, 152
mm,210 mm, dan 305 mm.

Gambar 4.1 Sudut pandang sebuah kamera.

Sudut pandang kamera dapat diperhitungkan berdasarkan formula berikut:

a=ztal| q9 (4-r)
Untuk sebuah kamera dengan panjang fokus nominal sebesar 6 inci
, ,,
(152 mm) dengan format gambar 23 cm x 23 cm maka besarnya sudut pan-
dang ialah:

d= z tan-tlry)=
2(6)
e3" (sudut lebar) (4-2)
[ )
Kamera kerangka berlensa tunggal dibuat dengan berbagai panjang
fokus, dan pemilihannya sangat bergantung pada tujuan pemotretannya. Yang
paling banyak digunakan sekarang untuk maksud pemetaan ialah panjang fo-
kus 6 inci (152 mm) dan 9 inci (23 mm), meskipsn yang 3,5 inci (89 mm), Gambar 4.2 Kamera udara untuk Pemetaan, merk KG-GA. (Seizin Fairchild
8,25 inci (210 mm), dan 12 inci (305 mm) dengan format 23 cm x 23 cm Space and Defense SYstems).
juga digunakan. Format dengan panjang fokus sebesar 6 inci dan 9 inci
membuahkan kombinasi terbaik bagi keunggulan geometri dan skala foto Gambar 4.4 menyajikan kamera kerangka berlensa tunggal dan bgry:
untuk maksud pemetaan. Panjang fokus yang lebih besar misalnya 12 inci, {t /(, kuran besar (large format) merk ITBK I-FC. Panjang fokusnya sebesar 305
terutama digunakan dalam pemotrelan untuk membuat mosaik, maksud tin- mm. Formatnyig inci x 18 inci (23 cm x 46 cm) dan kapasitas filmnya
jau, dan penafsiran. Kamera ini memungkinkan perolehan foto berskala besar 4.000 kaki (o2n m). Kamera ini dirancang untuk program antariksa dan
meskipun dengan terbang lebih tigggi, dan mengurangi pergeseran letak gam- akan dioperasikan dengan menggunaftan pesawat utang-alik atau wahana lain,
baran oleh pe6edaan relief (lihat Bagian 6.8). meskipun kamera ini juga dapat digunakan dengan pesawat udara biasa. Di
Dari Formula 4.1 terlihat bahwa untuk suatu ukuran format tertentu, samping untuk maksud pemetaan, kegunaan utama kamera LFC ialah untuk
sudut pandang membesar bila panjang fokus mengecil. Oleh karena itu maka
I I

82 83

,)

Gambar 4.5 Kamera hassel blad MK-70. (Seizin Paillard' Inc')

memanlau lingkungan dan untuk eksplorasi gelogis.


Kamera Hasselblad yang disajikan pada Gambar 4'5 merupakan kamera
kerangka berlensa tunggal yang formatnya kecil dan telah digunakan secara
luas untuk pemotretan dari antariksa. Kamera ini menggunakan film 70 mm
lt dan panjang fokus lensanya beraneka. Sebagai salah satu contoh foto antarik-
Gsmbar 4.3 Kamera udara Pemetaan. merk RC-10'(Seizin lVild Heerbrugg sa yang dibuat dengan sebuah kamera Hasselblad disajikan pada Gambar 1.9.
Instruments, Inc.)

4.2.2. Kamera Kerangka Multilensa


Karakteristik dasar kamera kerangka multilensa sama dengan kamera
kerangka berlensa tunggal. Bedanya terletak pada lensa yang berjumlah dua
buah atau lebih yang membuahkan dua potret atau lebih. Gambar 4.6. menya-
jikan kamera multilensa berlensa enam. Jenis kamera ini semakin populer dan
sekarang digunakan untuk pantauan lingkungan, pemetaan surnber daya alam
dan sumber daya kultural, dan sebagainya. Semua kamera memotret daerah
yang sama secara bersamaan, akan tetapi kamera yang berbeda berisi emulsi
film yang kepekaannya tertentu bagi daerah spektrum elektromagnetik yang
berbeda. Oleh karena itu kamera ini juga disebut kamera multispektral. Per-
bedaan foto yang dihasilkan merupakan kunci penting yang berguna di dalam
() identifikasi dan penafsiran objek yang terpotret.
Pada tahun-tahun yang lampau, kamera multilensa digunakan untuk
memperoleh luas liputan yang lebih besar daripada luas liputan yang dapat
diperoleh dengan kamera berlensa tunggal. kamera Survei Geodetik Nasional
yang disebut kamera berlensa sembilan (nine lens camera) misalnya, mem-
buahkan satu foto vertikal di bagian tengah yang dikelilingi oleh delapan foto

Gambar 4.4 Kamera kerangka berlensa hrnggal format besar, LFG (Seizin ITEK
Optical System).
84 85

4.2.4. Kamera Panoramik

Kamera panoramik memotret sejalur medan yang dibatasi oleh dua


cakrawala dengan jalur menyilang arah terbang. Tentang foto panoramik akan
dipaparkan lebih lanjut pada Bagian 17.12 hingga 17 .17 .
1t

4.3. KAMERA KONVERGEN


Sebuah kamera konvergen seperti yang disajikan pada Gambar 4.7.
merupakan suatu gabungan khusus dua kamera kerangka berlensa tunggal
yang dipasang dan dioperasikan secara bersamaan. Sebuah kamera diarahkan
ke depan searahjalur terbang dan kamera lainnya diarahkan ke belakang. Ha-
silnya berupa dua foto agak condong yang diponet dari titik pemotretan yang
sama. Foto konvergen menyajikan ketelitian fotogrametri yang termasuk

Gambar 4.6 Kamera multilensa merk MpC. (Seizin ITEK Optical System).
Ir
dengan sebuah sistem tiga kamera. Dua kamera membuahkan foto sangat
condong di bagian tepi, sedang kamera yang ketiga secara bersarnaan membu-
at.foto.vel+ql di bagian tengah. Tiga kamera itu meliput sebuah daerah yang
dibatasi oleh dua cakrawala dengan arah menyilang jalur terbang.
. Komera konvergen dapat pula diklasifikasikan sebagaikamera multi-
lensa karena kamera itu memotret secara bersamaan dan ienghasilkan dua
foto. Kamera ini dibincangkan pada Butir 4.3.

4.2.3. Kamera Strip


. Kamera strip membuahkan sebuah foto panjang yang meliput daerah
sempit memanjang di bawah pesawat terbang. Fernoi.etinnya dilakukan
dengan menggerakkan film di atas celah sempit pada bidang fokal kamera,
dglq- kecepatan gerak film sesuai dengan kecepitan gerak rllatif gambaran
objek pada bidang fokal. Berkas cahayadari suatu tititfu medan yai'g *ema- {) tt
suki lensa kamera difokuskan pada satu titik pada film selama periotretan.
Kamera strip umumnya berlensa satu, tetapi dapat pula berlensa dua misalnya
saja satu kamera diarahkan dengan sudut 20o ke arah depan dan kamera lainnya
mengarah 20o ke belakang. Susunan kamera semacam ini membuahkan foto Gambar 4.7 Kamera konvergen merk zeiss 2-RMK 21118 (Seizin Carl Zeiss,
s_te-reo. Meskipun tidak digunakan secara luas, pemotretan strip bermanfaat Oberkochen).
dalam studi jalur untuk jalan raya, jalan kereta api, pipa, dan sebigainya. \
El

86 87

Pada tubuh kamera juga


tinggi yang memungkinkan pengaturan nilu rasio basis+inggi terbang alau .terdffi pada umumnya berasal dari motol eletrik'
penggerak
elekrik'
'base height ratio" (lihat Butir 7.8) yang besar, suatu kondisi geometri yang p{;gan ur,tuk membawa kamera dan hubungan
menguntungkan dalam pemotretan untuk maksud pemetaan. Pemotretan kon-
vergen memungkinkan perolehan tampalan samping hingga 100 persen, suatu
faktor yang dapat mengurangi jumlah titik kontrol medan yang diperlukan
4.4.3 KelomPok Kerucut Lensa
untuk proyek pemetaan. lt Kelompok kerucut lensa berisikan sejumlah bagian dan m.e]ay_ani bebe-
funssi. Pada kelompok kerucut lensa terdapat:
(l) lensa, (2) ftlter, dan
'O\iitire^a
raoa
(lihat Gambar 4.8). Pada sebagian besar kamera pemetaan ke-
4.4 BAGIAN UTAMA KAMERA KERANGKA DIRGANTARA
Meskipun konstruksi kamera kerangka udara agak berbeda-beda, kons- tr
truksi itu dapat dipandang serupa sehingga dapat disusun pemerian umum 0)
o
(!
yang mencirikannya. Seperti tercermin pada Gambar 4.8, kamera kerangka o0
Gt
udara terdiri dari tiga komponen dasar atau kelompok yang berupa: (l) a
mogasen, (2) tubuh kamera, dan (3) kelompok kerucut lensa. Perata film \<Z2Film
4.4.1. Magasen Kamera
Pada magasen kamera terdapat penggulung untuk tempat fim kosong
maupun film yang telah dipotrtkan. Di samping itu juga terdapat mekanisme
penggerak rtaju film dan perata film. Bagi kamera udara, perata film teramat optis-"1 ionl*g c
,) )\jumbu
penting karena kalau film tidak rata pada saat pemotretan posisi gambar pada ts
o
foto tidak akan benar. Perataan film dapat dilakukan dengan satu di antara a
o
empat c:ra, yaitu dengan: (l) merentang film pada saat pemotretan, (2) mene-
kan film dengan kuat terhadap sebuah kaca bidang fokal yang terletak di depan o
'!a
film, (3) menggunakan tekanan udara atas kerucut kamera yang tekanan J(
udaranya besar sehingga menekan film pada sebuah pelat datar yang terletak di &
belakang bidang fokal, atau (4) menarik film kuat-kuat pada sebuah pelat Lehsa o
q)
vakum yang permukaannya terletrk pada bidang fokal. Sistem vakum temyata Diirficgma, V
paling memuaskan dan merupakan metode yang paling banyak digunakan Titik,nodal
untuk meratakan film pada kamera udara. Kaca bidang fokal sebaiknya tidak i t iir'lir ..

dipasang di depan film karena posisi gambar dapat mengalami distorsi sehu-
bungan dengan pembiasan berkas cahaya yang melalui kaca itu (lihat Bagian i'P'T81?3::
2.2). Akan tetapi distorsi ini dapat ditentukan melalui kalibrasi dan efeknya
dapat dihapus di dalam operasi fotogrametrik brikutnya.
lt tt
4.4.2. Tubuh Kamera
Tubuh kamera ialah sebuah kotak untuk menempatkan mekanisme
pe4ggerqk.r mel<anisme penggerak mengoperasikan kamera melalui sebuah
siklus yang terdiri dari: (l) menggerakkan film maju, (2) meratakan film, (3)
membuka penutup, dan (4) menutup penutup. Tenaga untuk mekanisme
88 89

dalam, tubuh kamera dan kerucut lensa luar secara bersama memegang lensa penutup berkisar dari sekirar 38 mm padaf.4 hingga sekitar 7 mm padaf .22.
sesuai dengan bidang fokal. Kemcut dalam sebuah kamera udara disajikan pada Pada umumnya diafgrama terletak pada ruang udara antara unsur lensa kamera
Gambar 4.9. udara dan terdiri dari serangkaian daun yang dapat diputar untuk mengubah
ukuran lubangnya.

Tanda fidusiel( lt (r
iiierangkc 4.5 BIDANG FOKAL DAN TANDA FIDUSIAL
bidang
IoFt Bidangfokal kamera udara ialah suatu bidang di mana seluruh berkas
sinar datang difokuskan. Di dalam pemotretan dari udara, jarak objek relatif
besar bila dibanding dengan jarak gambar. Oleh karena itu maka fokusnya
ditetapkan untuk jarak objek tak terhingga. HaI ini dilakukan dengan meletak-
kan bidang fokal setepat mungkin pada jarak sebesar panjang fokus di bela-
kang titik nodal belakang lensa kamera. Bidang fokal ditetapkan berdasarkan
permukaan atas kerangka bidang fokal. Bidang ini merupakan bidang tempat
emulsi film berada pada saat pemotretan. Kerangka bidang fokal kerucut lensa
disajikan cukup jelas pada Gambar 4.9.
Kelompok Tanda fidusial kamera pada umumnya berjumlah empat atau delapan
Penutup buah, dan letaknya pada bagian tengah pinggiran pembukaan bidang fokal,
pada sudut-sudutnya, atau pada dua tempat itu. Tanda ini digambarkan pada
,t negatif pada saat pencetakan gambar. Foto udara pada Gambar 1.5 berisikan
Gambar 4.9 Kerucut bagian dalam kamera dirgantara (Seizin Fairchild Space dan a)
Defense Systems).
tanda tepi empat sisi, foto pada Gambar 1.4 dan 1.8 mempunyai tanda fidu-
sial pada empat sudut dan empat sisi.
Tanda fidusial mempunyai beberapa fungsi. Garis-garis yang menghu-
Lensa kamera merupakan bagian kamera udara yang paling penting
(dan paling mahal). Lensa mengumpulkan berkas cahaya dari ruang objek dan bungkan dua tanda fidusial yang berhadapan saling berpotongan pada sebuah
memfokuskannya pada bidang fokal di belakang lensa. Lensa yang digunakan titik yang disebut pasat kolimasi (point of collimation). Kamera udara dibuat
dalam kamera udara berupa lensa yang terdiri dari beberapa unsur dan menga- sedemikian cermat sehingga pusat kolimasi terletak sangat dekat dengan titik
lami koreksi sangat cerrnat. Lensa yang disajikan pada Gambar 2.19 mi- utama (principal point). Titik utama ialah titik pada bidang fokal di mana
salnya, berupa lensa Super Aviogon dengan panjang fokus 3,5 inci (89 mm) sebuah garis dari titik nodal belakang lensa kamera dan tegak lurus terhadap
yang digunakan pada kerucut lensa bersudut-sangat-lebar (super-wide-angle) bidang fokal, memotong bidang fokal. Seperti yang akan disajikan pada Bab
kamera udara untuk pemetaan, merk Wild RC-9 dan RC-10.
lima, titik utama merupakan titik rujukan paling penting di dalam pekerjaan
Filler digunakan untuk tiga tujuan, yaitu: (l) mengurangi efek kabut fotogrametri. Di samping letak yang sangat berdekatan terhadap titik utama,
garis yang menghubungkan tanda fidusial yang berhadapan juga merupakan
atmosferik, (2) membantu meralakan disnibusi sinar pada seluruh format, dan
(3) melindungi lensa terhadap kerusakan dan debu. sebuah sistem koordinat berbentuk empat segi panjang untuk mengukur
Penutup dan diafragnw secara bersama-sama mengatur lamanya waktu posisi gambar pada foto (diperikan pada Butir 5.2). Di samping manfaat ini,
bagi sinar yang dikehendaki masuk melalui lensa untuk maksud pemotretan. t\ tanda fidusial juga penting untuk melakukan koreksi bagi deformasi foto
Penutup mengatur lamanya waktu di mana sinar diperbolehkan masuk mela- sehubungan dengan pengkerutan atau pengembangan bahan fotografik (lihat
lui lensa. Tentang penutup dibincangkan lebihjauh pada Bagian 4.6. Seperti Butir 5.10 dan 5.11).
yang dibincangkan pada Butir 3.4, diafragma mengaturfstop kamera dengan
mengubah ukuran lubang untuk mengatur jumlah sinar yang melalui lensa. 4.6 PENUTUP
F-stop kamera udara berkisar dart f.4 hinggaf.Z2. Dengan demikian maka
bagi lensa dengan panjang fokus nominal 6 inci (152 mm), diameter lubang Karena pesawat terbang yang membawa kamera bergerak sangat cepat,
90 91

gambar akan bergerak pada bidang fokus selama pemotretan. Bila waktu pe- kecepatan dan umur penutup.
motretan lama atau ketinggian terbang rendah, akan dihasilkan foto yang Penutup jenis lembaran terdiri dari empat keping, dua untuk membuka
gambarnya kabur. Oleh karena itu penutup harus dibuka pada saat yang sangat dan dua untuk menutup. Cara kerjanya seperti guillotine. Bila penutup dibu-
pendek pada saat pemotretan. Waktu pemotretan yang singkat juga mengu- ka, dua keping tipis pembuka bergerak melintas diafragma untuk membuka
rangi efek merugikan oleh getaran pesawat terbang atas kualitas foto. penutup. Bila untuk pemotretan berakhir, dua keping penutup menutupnya.
Kecepatan penutup pada kamera udara berkisar dari 0,01 hingga 0,001 detik. r) Penutup jenis cakram berputar terdiri dari serangkaian cakram berputar
Penutup dirancang untuk bekerja secara efisien sehingga dapat membuka yang berkesinambungan. Tiap cakram mempunyai bagian jaket (curaway).
secara cepat, tetap membuka sesuai dengan waktu yang dikehendaki, dan me- Bila jaket terbuka, berarti kamera memotret. Kecepatan rotasi cakram dapat
nutup secara cepat pula sehinga memungkinkan sinar seragam bagi semua berbeda-beda sehingga waktu pemotretan yang dikehendaki dapat diatur. Pe-
bagian pada bidang fokal. nutup jenis ini sangat efisien karena tidak memerlukan bagian pemula atau
Ada sejumlah jenis penutup kamera yang berbeda-beda. Kamera udara penyetop, seperti pada jenis penutup lainnya.
pada umumnya menggunakan penutup yang dikategorikan terletak antora Penutup bidang fokal dinamakan demikian karena letaknya di depan
lensa-lensa ata:u penutup bidang fokaL Penutup yang terletak antara lensa bidang fokal. Jenis penutup bidang, fokal yang paling umum yaittjenis tabir
paling banyak digunakan pada kamera udara. Penutup ini diletakkan pada ru- atau tirai (curtain type), terdiri dari sebuah tabir dengan sebuah celah. Lebar
ang udara anlara unsur-unsur lensa kamera, seperti yang disajikan pada Gam- tabir sama dengan dengan lebar bidang fokal. Bila penutup dibuka, celah itu
bar 4.8. Jenis penutup antara lensa yang paling lazim ialah jenis daun (leaf bergerak melintas bidang fokal. Waktu pemotretan diatur dengan mengubah
lype), jenis lembaran (blade type), dan jenis cakram berputar (rotating disk kecepatan gerak tabir atau dengan mengubah lebar celah. Penutup ini membu-
type). Sebuah diagram bagan jenis daun disajikan pada Gambar 4.10. Penu- ka daerah bidang fokal dengan luas yang berbeda-beda pada saat yang sedikit
tup itu biasanya terdiri dari lima daun atau lebih yang dipasang pada sumbu di berbeda. Perbedaan ini menyebakan kesalahan posisi relatif gambar pada foto
sekitar pinggiran diafragrha. Bila penutup dibuka, daun-daun itu berputar di yang dihasilkan. Oleh karena itu penutup jenis ihi tidak sesuai bagi kamera
sekitar sumbu ke arah posisi terbuka, seperti tercermin pada Gambar 4.10b, a) untuk pemetaan, melainkan digunakan untuk kamera tinjau.
tetap teftuka sesuai dengan waktu yang dikehendaki, dan kemudian menggeser Jenis penutup bidang fokal lainnya ialah penutup kisi-kisi (louver).
kembali ke posisi tertutup seperti pada Gambar 4.10a. Ada beberapa penutup Penutup ini terdiri dari sejumlah kisi-kisi yang bekerja secara bersamaan
kamera yang menggunakan dua rangkaian daun, satu untuk membuka dan dengan cara serupa cara kerja kerai. Penutup jenis ini tidak seefisien jenis
yang lain untuk menutup. Cara ini menambah efisiensi kerja penutup, lain, dan bayangan yang dibentuk oleh kisi-kisi yang terbuka menyebabkan
penyinaran tak seragam pada bidang fokal.
Kamera telah disempurnakan untuk kompensasi gerak gambar yang
Titik sumbu Pembukaan diafragma terjadi selama pemotretan. Kompensasi gerak gombar (lmage motion compen-
sation, IMC) pada umumnya dilakukan dengan sedikit menggerakkan film
melintas bidang fokal selama pemotretan, dengan arah dan kecepatan sesuai
dengan gerakan gambar.

4.7 PENYANGGA KAMERA


.) la
Penyangga kamera merupakan mekanisme yang digunakan untuk
mengikatkan kamera pada pesawat terbang. Penyangga kamera dilengkapi de-
ngan alat peredam getar untuk mencegah getaran pesawat terbang terbawa ke
kamera. Penyangga pada umumnya dirancang sedemikian sehingga kamera
dapat diputar sesuai dengan arah asimut untuk mengoreksi terjadinya 'crab'.
Gambar 4.10 Diagram skematik penutup jenis daun, (a) penutup tertutup, (b) Crab merupakan perubahan orientasi kamera pada pesawat terbang sehubung-
penutup terbuka. an dengan arah lerak pesawat yang sebenarnya. Hal ini pada umumnya
93
92
4.t PENGATUR KAMERA
disebabkan oleh tiupan angin ke arah samping yang menyebabkan arah gerak
pesawat terbang menyimpang dari arah sebenarnya, seperti tercermin pada Peniatur kamera ialah alat yang diperlukan untuk mengoperasikan
Gambar 4.1la. Crab dapat merupakan penyimpangan yang besar. Besarnya kamera dan berbagai rangkaian atau kedudukan kamera yang berbeda-beda
sehubungan dengan kondisi pada $mt pemotretan. 'lntervalometer' ialah suatu
a) alat yang secara otomatis menggerakkan penutup dan mengatur siklus kamera
sesuai dengan waltu yang dikehendaki. Intervalometerjenis lama dapat disetel
secara otomatik untuk memotret dengan interval waktu tertentu. Interval wak-
tu dapat diperhitungkan berdasarkan atas panjang fokus kamera dan ukuran
formatnya, trmpalan samping yang diinginkan, tinggi terbang, dan kecepatan
terbang. Keterbatasan intervalometer jenis ini ialah bahwa dengan interval
Kamera waktu tertentu maka akan terjadi perbedaan tampalan samping sehubungan
Tanpa korekasi dengan perbedaan tinggi medan, tinggi terbang, dan kecepatan pesawat ter-
bang.
Jenis intervalometer yang baru seperti tercermin pada Gambar 4.12
dapat digunakan untuk memotret dengan persentase tampalan samping sesuai
dengan kehendak meskipun ada perbedaan medan, tinggi terbang, dan kecepat-

\\t\\\ t)
an pesawat terbang. Hal ini dapat dilakukan dengan sebuah rantai pemutar
yang terdapat pada penemu pandangan (view finder). Penemu pandangan me-
mungkinkan operator secara terus-menerus mengamati medan di bawah pesa-
wat terbang untuk mengetahui liputan medan tiap foto. Rantai itu bergerak
di dalam penemu pandangan searah dengan gambar yang bergerak. Operator

)
I 3
t
I
I
I
I

Gambar 4.ll (a) Kamera yang memotret dari udara dengan mengalami crab, (D)
Tampalan foto udara yang mengalami crab, (c) Tampalan foio udara tanpa crab.

crab sangat bergantung pada arah dan kecepatan angin. Akibatnya akan
mengurangi luas tampalan foto stereoskopik, seperti tercermin pada Gambar ,,)
4.llb. Gambar 4.1lc mengisyaratkan liputan tampalan di medan apabila
kedudukan kamera diputar pada penyangganya agar arah tepi format folo tetap
sejajar terhadap arah sebenarnya. Kamera udara pada umumnya dilengkapi
dengan 'level vial' untuk menjaga agar kamera terorientasikan secara tepat
bagi foto vertikal. Gambar 4.12 Intervalometer IRU. (Seizin Carl Zeiss, Oberkochen).
\
94 95

dapat mengubah kecepatan gerak rantai dengan menggunakan suatu alat peng- lapangan, dan (3) metde ' stellor' . Di antara ketiganya ini maka metode labo-
atur tenaga listrik (rheostat), sehingga kecepatan gerak rantai sama besar de- ratoium ternyata paling banyak digunakan dan pada umumnya dilakukan oleh
ngan kecepatan gerak gambar. Tampalan samping yang dikehendaki disetel pembuat kamera maupun oleh Badan-Badan Pemerintah Federal. Pada satu di
pada pelat nomer intervalometer. Bila rantai telah menggerakkan angka yang antara metode laboratorium yang menggunakan svatu' maltic ollinutor', dan
sesuai terhadap tampalan samping yang dikehendaki, intervalometer secara di lapangan serta cara kerja stellar, pendekatan yang umum terdiri dari pemo'
otomatis mengaktifkan siklus kamera. Operator dapat pula mengaktitkan l) Ir tretan serangkaian sasaran yang posisi relatifnya diketahui dengan tepat.
secara manual siklus kamera sesuai dengan waktu yang diinginkan. Ia juga Unsur orientasi bagian dalam kemudian ditentukan dengan melakukan peng'
dapat melakukan koreksi crab dengan jalan memutar penemu pandangan ukuran teliti atas sasaran dan dengan membanding terhadap lokasi gambar se-
sedemikian sehingga gambar yang bergerak searah dengan tepi format foto. benarnya apabila kamera benar-benar membuahkan pandangan perspektif
Kemudian kamera dipuur dengan angka putaran sedemikian sehingga crab ter- sempurna. Pada metode laboratorium lain yang menggunakan sebuah gonio-
hapus. meter, drlak*anpengukruan langsung atas titik-titik pada bidang fokal yang
Alat pengatur kamera udara lainnya berupa mekanisme pengatur pemo- dilakukan pengukuran langsung atas titik+itik pada bidang fokal yang loka-
tretan (exrySure control mechanism). Alat ini terdiri dari sebuah 'exposure sinya ditentukan berdasarkan grid dan diproyeksikan melalui lensa kamera.
meter' yang mengukur kecerahan medan dan menghubungkannya terhadap Kemudian dilakukan pembandingan tedradap proyeksi yang bnar.
kombinasi optimum antara pembukaan diafragma dan kecepatan penutup. Unsur orientasi bagian dalam yang dapat ditentukan melalui katibrasi
Unit pengatur pemotretan yang tersedia dapat bekerja secara otomatis serta kamera ialah:
secara terus-menerus mengubah penyetelan kamera untuk memperoleh hasil l. Panjang fokus ekivalen. Panjang fokus yang efektif di dekat pusat lensa
pemotretan optimum. kamera-
2. P anj an g fokus te rkalibrasi (sering disebut konstantr kamera). Panjang fo
kus yang menghasilkan distribusi distorsi radial lensa rata'rata sec:lra
4.9 PEREKAMAN DATA SECARA OTOMATIS t) menyeluruh.
3. Distorsi radial lensa rata-rata. Distorsi posisi gambar di sepanjang garis
Kamera udara untuk pemetaan yang paling modent dilengkapi dengan radial dari titik utama
sistem perekaman data yang secara otomatis menghasilkan data penting pada 4. Distprsi tangensial lensa. Distorsi posisi gambar dengan arah tegak lunts
foto. Data tersebut biasanya berupa tanggal, tinggi terbang, panjang fokus terlradap garis radial dari titik utama (pada umumnya sangat kecil dan dapat
kamera terkalibrasi, nomer foto, identifikasi pekerjaan, dan sebagainya. Infor- diterima pada kebanyakan pekerjaan teliti, biasanya kesalahan ini dapat
masi ini dimasukkan pada blok data yang dipotretkan pada film pada saat diabaikan).
pemotretan. Gambar hasil sistem perekaman data secara otomatis disajikan di 5. Lokasi titik utara. Koordinat titik utama yang dinyatakan terhadap r dan
sepanjang tepi atas foto udara pada Gambar 1.5. Perekaman data secara otoma- y sumbu fidusial (meskipun pembuat kamera bermaksud menempatkan
tis bersifat menghemat waktu dan menghindari kesalahan-kesalahan pada saat tanda fidusial sedemikian sehingga pasangan yang berhadapan berpotongan
penggunium foto udara. pada titik utama, hampir selalu ada penyimpangan kecil terhadap kondisi
ideal ini).
6. Jarak antara dua tandafidusial yang berhadapan (sering dinyaakan dengan
4.10 KALIBRASI KAMERA koordinat tanda fidusial itu).
7. Sndut perpotongan garis-garisfiduslal (sehanrsnyasebesar9ff + I menit)
Setelah selesai dibuat dan sebelum digunakan, kamera udara dikalibrasi () 8. Kerataan bidangfokal (seharirsnya tidak menyimpang lebih dari 10,0005
secara cermat untuk menentukan nilai yang tepat bagi sejunllah konstanta. inci atau 0Ol mm dari bidang datar).
Pada umumnya konstanta ini disebut unsur orientasi bagian dalam (elemenls Di samping penentuan unsur orientasi bagian dalam tersebtt, resolusi
of interior orientation). Unsur orientasi ini diperlukan untuk menentukan data
ftetajaman atau kerincian gambar yang dihasilkan oleh kamera) pada umum-
foto yang akurat. nyajuga diperoleh sebagai bagian kalibrasi kamera.
Metode kalibrasi kamera pada umumnya dibedakan menurut satu di Cara kerja untuk menentukan Butir I hingga 5 agak berbeda-beda,
antara tiga kategori dasar, yaitu: (1) metode laboratorium, (2) metode bergantung atas alakah metodenya berupa metode laboratorium, lapangan,
1
I

96

aiau metde bintang (steltar). Bagaimanapun juga, matematika pada tahap


kalibrasi kamera dapat menjadi rumit. Butir 6 dan Butir 7 diperoleh melalui
pengukuran cermatiecara langsung pada pelat gelas yang dipotret di mana
Bidang fokal
tanda fidusial tergambarkan. Pada Bab 5 dan Bab 6 diuUarakan jarak x dan y kamera diagonal
yang dikalibrasi dan penting untuk melakukan koreksi pengukuran fotografik
ata$pengkerutan dan pengembangan film. Butir 8 diukur langsung dengan (, lr
l,ensa kamera
cara khusus. Resolusi ditentukan berdasarkan pengamatan dan pengukuran Titik modal depan Titik modal belakang
gambar yang dihasilkan oleh lensa tertentu.

4.T1 METODE LABORATORIUM KALIBRASI KAMERA


,,1
\' .
Seperti dijelaskan pada butir sebelum ini, metode multikolimator dan

tz4r. , " it
metode goniomiter merupakan dua jenis cara kerja laboratorium untuk kali-
brasi kamera. Metode multikolimator berupa pemotretan gambar pada sebuah
pelat kaca yang diproyeksikan melalui sejumlah kolimator individual yang di- .ox.<.

Oh;';,!=,i,t$
pasang pada sebuah jajaran menyudut yang dikerahui secara tepat. Kolimator
iunggal-terdiri dari sebuah lensa dengan sebuah tanda silang pada bidangnya
dengan fokus ke jarak tak terhingga. oleh karena itulah maka berkas sinar
yan! membawa fambar silang diproyeksikan melalui lensa kolimator dan
iimUut sejajar. Bila berkas sinar ini diarahkan ke lensa sebuah kamera udara
silang itLain tergambar sempurna pada bidang fokal kamera karenl kamera
uaari difotuskan untuk berkas sinar sejajar (bagi objek yang jaraknya tak
A

,ry[ilil.\\
terhingga).
-Sout, '
multikolimator untuk kalibrasi kamera terdiri atas beberapa
'-Kolimator pusat
kolimator individual yang dipasan g pada dua bidang saling tegak lurus. Satu
bidang kolimator disajikan pada Gambar 4.13. Kolimator individual dipasang Gambar 4.13 Bank yang terdiri dari 13 kolimator untuk kalibrasi kamera.
secara kuat sehingga sumbu optik kolimator yang berdekatar memotong
secara tepat dengin sudut tertentu, seperti misalnya 0 pada Gambar 4.13. Jarak antara tanda silang pada pelat yang telah diprotret diukur secara
Kamera iang atan dikalibrasi diletakkan sedemikian sehingga bidang fokal cermat, Panjangfokus ekivalen (Equivalent focal length, EFL) ialah panjang
tegak lurus terhadap sumbu kolimator tengah dan titik nodal depan_lensanya fokus yang efektif pada bagian tengah lensa kamera yang bebas distorsi. Pada
piOu p"rpotongan iumbu seluruh kolimator. Pada orientasi ini, Gambar 9 bidang gambar, daerah ini berada di dalam lingkaran yang pusatnya terletak
paOa totimatoitengah yang disebut titik otokolinusi utama (principal point pada gambar kolimator pusat 8 yang garis menengahnya merupakan jarak
bf outocotlli.ation), teiOapat sangat dekat terhadap titik utama, dan jgga sa- rata-rata antara empat gambar kolimator yaitu/ t, h, dan s. Panjang fokus
ngat dekat terhadap perpotongan garis-garis fidusial (pusat kolimasi). Kamera ekivalen dihitung dengan empat jarak terukur rata-rata Cf, Sh, gs, dan gt
dlorientasikan teUitr tan;ut sehingga pada saat dilakukan pemotretan untuk dibagi tangen 0, atau:
kalibrasi, silang kolimasi atan tergambarkan di sepanjang diagonal format
kamera, seperti tercermin pada Gambar 4.14 (4.2)
Silang kolimasi A hingga |vLpada Gambar 4'13 misalnya' disambar' 4tan0
kan pada a hingga mpadaCambar 4.14. Silang-silang pada bidang kolimator Berdasarkan EFL, jarak teoretik dari kolimator sentral g ke arah semua
yanf sating tegak lurus digambarkan pada n hingga y pada Gambar 4' 14' silang kolimator lai-nnya dapat dihitung. Misalnya, iarak ge, 8i, 8u,dan gr
secara teoretik haru] sama dengan EFL x tan20. Empat jarak ini diukur,
I
98
99

sedang distorsi radial lensa padaZ|diperoleh dengan jalan mengurangkan bahwa panjang fokus yang berbeda akan membuahkan distorsi radial lensa
juakierhitung teoretikterhadap empat jarak terukur rata-rata tersebut. Dengan yang U6rUeaa. fanjan! fo[us terkalibrasi (calibrated focal length, CFL) se-
pendekatan ini maka distorsi radial lensa dapat diperhitungkan bagi tiap per- 6ru[ bnru ialah pinjang fokus yang membuahkan distribusi distorsi radial
tambahan sudut 0. lensa rata-rata keieluruhan, dan dipilih sedemikian sehingga distorsi radial
lensa yang maksimum sama besar dengan distorsi radial negatif maksimum.
(, Panjang fokus terkalibrasi merupakan nilai yang umumnya. digunakan untuk
Contoh 4.1 pertiitunlan fotogrametri, karena bila distoni radial lensa diabaikan, akan di-
Tabel berikut menyajikan empat jarak terukur rata-rata terhadap silang timbulkan efek perusakan minimum.
kolimator dan nilai sudut dari silang tengah. Hitunglah panjang fokus ekiva-
len (EFL) berdasarkan atas silang 7,5o, dan tentukan distrosi radial lensa rata-
rata berdasarkan atas EFL tersebul

Sudut Jarak terukur


0 ratra-ratra, mm
7,5 20,183
l5 4l,048 Silang
63,481
kolimasi
22,5 dan pada
30 88,574 resolusi
37,5 117,662
45 153,1 35

Jawaban:
berdasarkan Formula 4.2.
EFL-?+
tan /,) = 153,305 mm
Berdasarkan EFL, distoni radial lensa rata-rata Ar, silang l5o sebesar
Ar = 41,048 153,305 tan l5o = {),030
Perhitungan ini dan- perhitungan untuk silang lainnya ditabelkan sebagai
berikut:
Gambar 4.14 Gambar sasatan kolimator yang terPotret.
Sudut Jarak terukur EFL tan sudut Distorsi radial Oleh karena itu pada buku ini istilah panjang fokus yang digunakan dengan
f) rata-ratta, mm (mm) lensa, Ar, mm simbol /, merupakan panjan g fokus terkalibrasi.
15 41,048 41,078 - 0,030
22,5 63,481 63,501 - 0,020 ll
0,063 Contoh 4.2
30 88,574 E8,511
37,5 117.62 117,635 0.027 Untuk Contoh 4.1, hitunilah panjang fokus terkalibrasi (CFL) yang
45 153,135 153,505 - 0,170 menyfibabkan distorsi radial lensa maksimum positif sama besar dengan
negaiif. Kemudian hitunglah distorsi radial lensa berdasarkan CFL.
Berdasarkan perbincangan sebelumnya, jelas bahwa suatu panjang fo-
kus kecuali EFL dapat digunakan untuk menghitung distorsi radial lensa dan
100 l0t

Jovaban: di mana distorsi lensa secara praktis tidak terjadi, dan sedikit di daerah luar
format cii mana distorsi lensa secara praktis tidak terjadi, dan sedikit di daerah
Pada Contoh 4.1 maka distorsi radial lensa positif yang maksimum luar format di mana distorsi lensa maksimum. Masalah ini dapat diatasi baik
tedadi pada sudut 30o, sedang distoni negatif minimum terjadi pada sudut 45o. dengan metode lapangan maupun metode bintang.
Dengan perubahan kecil pada panjang fokus, nilai maksimum positif dan Kalibrasi kamera dengan cara laboratorium goniometer sangat mirip
negatifmasih akan tedadi pada sudut tersebut. Sebuah persamaan sehubungan metode multikolimator, akan tetapi terdiri dari pemusatan pelat grid dengan
fr
dengan CFL yang akan menyebabkan dua nilai itu sama besar ialah: tepat pada bidang fokal kamera. Grid ini disinari dari belakang dan diproyeksi-
Ar positif maksmum + Ar , negatif maksimum = 0 kan melalui lensa kamera pada arah yang berlawanan. Sudut di mana sinar
88,574 CFL tan 30o + 153,135 CFL tan 45=0 grid yang diproyeksikan timbul, diukur dengan sebuah goniometer. CFL dan
-
241,709 = 1,577350 CFL - distorsi radial kemudian ditentukan dengan membandingkan sudut terukur
CFL = 153,237 mm sebenamya terhadap sudut yang benar menurut teori.
Dengan menggunakan CFL ini maka distorsi radial lensa dapat dihi-
tung dengan cara tabel seperti pada perbincangan sebelumnya.
4.I2 KALIBRASI KAMERA DENGAN METODE MEDAN
Sudut Jarak terukur CFL tan sudut, Distorsi radial DAN METODE BINTANG.
(") rata-rata, mm mm lensa, &, mm
Baik metode multikolimator maupun metode goniometer yang kedua-
1,5 20.182 20,174 + 0,008 nya merupakan kalibrasi kamera dengan cara laboratorium, memerlukan alat
l5 4l,048 41,060 0,012
))\ 63.481 63.473 -+ 0,008 khusus yang tepat dan mahal. Salah satu keunggulan metode bintang ini ialah
bahwa tidak diperlukan alat khusus dan mahal itu. Pada saat ini telah dikem-
30 88,574 88,472 + 0,102 bangkan beberapa cara yang berbeda untuk melakukan kalibrasi kamera dc-
31,5 117.662 117.583 + 0,019
ngan metode bintang. Prosedur medan menghendaki diadaliannya serangkaian
45 I 51 11i t53.237 0.t02
- rirar- diletakhan cukupjauh dari letak kamera sehingga tidak ada degradasi
Apabila jark lcrukur terhadap kolimator sama sudut memotong sepan- Kurva distorsi radial
jang empat diagonal berukuran sama, distorsi lensa yang ditentukan dengan lensa kamera AC 98188
cara tersebut di atas bersifat simetris di sekitar silang kolimator pusat. Bila C)
Zeiss RMKA 15-23
distorsinya tidak simetris di seputar kolimator pusat, titik pusat simetrisnya o CFL = 152.44mm
yang disebut titik utama simetri (principal pt-rint of symmetry) dapat ditentu- o
kan. Akan tetapi, terkecuali bagi pekerjaarr fotogranretri analitik yang paling X+5
teliti, karena titik utama terletali demikian dekat terhadap silang kolimator
d
pusat dan distorsinya hampir simetri, maka titik utama dapat dipandang titik
simctri untuk melakukan koreksi terhadap distorsi. Cara untuk melakukan 6)

koreksi distorsi radial lensa diperikan pada Butir 5.12. d


'du
Suatu,tarva distorsi radial dapat digambarkan dengan meletakkan dis- d

torsi radial pada ordinat dan jarak radial dari gambar kolimator pusat sebagai
absis. Salah satu contoh kurva ini disajikan pada Gambar 4.15. Pada penga- o
matan sepintas maka kurva itu menunjukkan distorsi radial lensa tertentu.
Perhatikan bahwa kurva pada Gambar 4.15 didasarkan atas CFL, karena 5
0 20 40 60 80 100 120 140 160
distorsi positif maksimum dan distorsi negatif maksimum pada dasarnya sama Jarak radial, mm.
besar.
Suatu paradoks sehubungan dengan metode multikolimator untuk Gambar 4. 15 Kurva distorsi radial lensa bagi kamera udara merk Zeiss Pleogon
kalibrasi kamera ialah bahwa sasarannya banyak terdapat di dekat pusat format Pleogon. (Seizin {jsconsin Department of Transportation).
tuz 103

garnbar yang terjadi (ingat bahwa kamera udara disetel pada fokus dengan jarak pola uji lebih halus, ketajaman dan kejelasan antara garis dan ruang antara
tak terhingga). menurun, dan pola terhalus yang masih dapat diamati dengan jelas menjadi
Pada metode bintang, dilakukan pemotretan atas serangkaian sasaran agak subjektif. Pengukuran resolusi yang lebih disukai ialah dengan alih
yang terdiri dari binrang yang dapat diidentifikasi, dan saat pemotretannya modulasi.
dicatat. Penaikan (ascension) dan deklinasi bintang yang benar dapat diperoleh
dari satu saat pendek untuk waktu pemotreLrn yang tepat sehingga sudut per- t.t (r
panjangan bintang pada letak kamera dapat diketahui. Sudut ini kemudian
dibandingkan terhadap sudut yang diperoleh dari pengukuran tepat alas gamba,
bintang. r .
Pada tahun-tahun terakhir ini para peneliti telah meneliti kalibrasi ka-
mera pada saat penerbangan, di mana serangkaian sasaran kontrol medan yang
disurvai secara teliti dipotret. Keuntungan potensial metode ini berupa
konstanta kalibrasi baru pada tiap kali kamera digunakan yang agaknya mem-
buahkan ketelitian lebih besar sehubungan dengan dilakukannya kalibrasi pada
kondisi sedang beroperasi.

4.I3 KALIBRASI RESOLUSI KAMERA


Di samping untuk menentukan unsur orientasi bagian dalam, metode
laboratorium kalibrasi kamera juga memungkinkan evaluasi daya pisah (resol-
ving power) kamera. Seperti tercantum padaPutir 2.12, adadua metode yang
ill -rla EIU
IAo
r iiii,l
.b=lll
.b=lll
ill r .5
lazim bagi spesifikasi daya pisah lensa, satu di antaranya berupa perhitungan
langsung jumlah garis maksimum per milimeter yang dapat dihasilkan oleh
suatu lensa, sedang lainnya ialah fungsi alih modulosi (modulation transfer
function) lensa itu. Metode kalibrasi yang digunakan juga menentukan perhi- r .b=lll
rv
-
tungan gads yang terdiri dari pemotretan pola uji resolusi dengan mengguna-
kan emulsi yang resolusinya sangat tinggi. Pola uji yang salah satu contoh-
nya disajikan pada Gambar 4.16, dibuat dari berbagai rangkaian posangan
garis-garis hiram sejajar dengan beraneka ketebalan dengan jarak sama dengan
ltt=o .b=lll
fllE r
ketebalannya. Ukuran tebal garis bagi tiap rangkaian ialah jumlah garis tiap Gambar 4.15 Pola uji resolusi yang digunakan dalam kalibrasi (Seizin Wild
milimeter. Variasi tebal garis pada pola uji tertentu dapat berkisar antara 10 Heerbrugg Instruments, Inc.).
hingga 80 garis per milimeter atau lebih. Bila digunakan metode kolimator
untuk melakukan kalibrasi kamera, pola itu dapat diproyeksikan oleh kolima- Untuk menentukan alih modulasi, penyiaman densiti dengan menggu-
tor secara bersamaan dengan silang kolimator dan digambarkan pada diagonal nakan mikrodensitometer (lihat Butir 5.15) dilakukan menyilang pola uji se-
format kamera. Setelah foto dibuat, gambar yang dihasilkan diamati dengan perti yang digunakan pada cara kerja penghitungan garis. Untuk garis tebal
pembesaran untuk menentukan garis sejajar yang paling halus yang dapat
r) I I dengan jarak antara lebar, agihan kecerahan aktual (variasi densiti) menyilang
dipisahkan dengan jelas. Rata-rata empat resolusi pada tiap sudut pertambah- pola objek akan tampak seperti tersajikan pada Gambar 4.17a. Akan tet':pi,
an dari kolimator pusat dilaporkan pada sertifikat kalibrasi. agihan kecerahan yang diukur dengan densitometer menyilang gambar phda
Ivleskipun metode penghitungan garis malisimum seperti yang dijelas- pola ini akan tampak seperti pada Gambar 4.lTb.Perhatikan bahwa tepinya
kan ini merupakan cara yang relatif sederhana untuk kuantifikasi daya pisah, agak membulat pada Gambar 4.17b, akan tetapi amplitudo (atau modulosi\
cara ini bukan tanpa keterbatasan. Pada prosedur penghitungan garis dengan perbedaan kecerahan sama bagi pola gambar seperti objek aslinya. Oleh kare-
IM 105

na itu pada frekuensi spasial pola ini, alih modulasi dikatakan 1007o. Penyi-
mungkinkan untuk menaksir efek gabungan dari sistem perekaman tertentu.
aman densiti pada gambar yang jarak antara polanya semakin pendek akan
olehilasan ini maka MTF dengan cepat menjadi metode yang disukai untuk
menghasilkan pola resolusi yang semakin kecil, seperti tercermin pada menyatakan resolusi.
Gambar 4.1'lc.Dalam hal ini maka amplitudo sebesar seperdua objek asli,
dan pengubahan modulasi sebesar 50 persen. Dengan jalan mengukur densiti
atas berbagai pola dengan frekuensi spasial yang berbeda-beda, dan menggam-
l)
barkan hasil alih modulasi pada ordinat dengan frekuensi sebagai absisnya,
akan dibuahkan kurva seperti tercermin pada Gambar 4.18. Kurva ini merupa-
kan fungsi alih modulasi (MTF). MTF mempunyai sejumlah kelebihan.
MTF merupakan indikator yang sangat peka bagi efek tepi dan MTF juga me-
mungkinkan kemampuan menduga resolusi yang dapat diharapkan pada s
tingkat kerincian tertentu. Lebih jauh lagi, kurva MTF dapat dikombinasikan d
bagi lensa yang berbeda-beda, film, dan proses film. Dengan demikian me - )
'o

t-
o
tr
1 E
Kecerahan EC'
M odulasi

I
,.o
object oo
tr
I o
ct

t-
Kecerahan
r) tt
object
40 60 tlo 100

Frekuensi spasial (garis/mm)

object Gambar 4.18 Kurva fungsi pengalih modulasi (MTF)'

(c)

Gambar 4.17 (a) Objek uji modulasi, (D) Alih modulasi gambar objek uji yang
sama, (c)alih modulasi gambar yang frekuensi spasialnya lebih rapat. (Perhatikan RUJUKAN
pada (b) yang terjadi modulasi 100 persen, tetapi gambar itu menunjukkan Abdel-Aziz, Y.: Asymmetrical Lens Distortion, Photogrammetric Engineering and
pengurangan ketajaman tepi bila dibanding dengan objek pola uji. Pada (c) maka Remote Sensing, vol.4l, no.3, hIm.337,1975'
ketajamannya lebih menurun lagi, dan alih modulasi menurun hingga 50 persen American Society of Photogrammetry: ';Manual of Photogrammetry," ed. ke-3'
objek pola uji itu). Falls Church, Ya., 1965, Bab 4'
"Manual of Photogrammetry," ed' ke-4, Falls Church' Va" 1980'
Bab 4. r

-i
-f
,I

106 to7

Anderson, J. M., dan C. Lee: Analytical In-Flight Calibration, Phologrammetric Tayman, W.: Calibration of Lenses and Cameras at the USGS, Photogrammetric
Engineering and Remote Sensing, vol. 41, no. tr1, hlm. 1377, 1975. Engineering, vol. 40, no. ll, hlm. 1331, 1974.
Bormann, G. E.: The New Wild RC-10 Film Camera, Photogrammetric Washer, F. E.: The Precise Evaluation of Lens Distortion, Photogrammetric
Engineering, vol. 35, no. 10, hlm. 1033, 1969. Engineering, vol.29, no. 2, hlm. 327, 1963'
Brock, G. C.: The Possibilities for Higher Resolution in Air Survey Photo- Welch, R., dan J. Halliday: Imaging Characteristics of Photogrammetric Camera
graphy, Photogrammetric Record, vol. VIII, no. 47, hlm. 589, 1916. a) lr Systems, Photogram metria, vol. 29, no. l, hlm' l, 1973-
Carman, P. D.: Camera Calibration Laboratory at N. R. C., Photogrammetric
Engineering, vol. 35, no. 4, hlm. 3'12, 1969.
_: Camera Vibration Measurements, Canadian Surveyor, vol. 27, no. SOAL
3, hlm. 208, 1973.
Doyle, F. J.: A Large Format Camera for Shuttle, Phologrammetric Engineering 4,1 Sebutkan persyaratan bagi sebuah kamera udara untuk pemetaan teliti'
and Remote Sensing, vol. 45, no. l, hlm. 73, 1979. 4.2 Sebutkan dan uraikan secara ringkas beraneka jenis kamera udara.
Hakkarainen, J.: Image Evaluation of Reseau Cameras, Phologrammetria, vol.33, 4.3 Pemotretan dilakukan dengan sebuah kamera strip yang panjang fokusnya
no. 4, hlm. ll5, 1977. 6 inci dari ketinggian 5.000 kaki di atas permukaan bumi. Apabila kece-
Hallert, B.: The Method of Least Squares Applied to Multicollimator Camera patan pesawat terbang sebesar 200 mil/jam, berapakah kecepatan gerak
Calibration, Photogrammetric Engineering, vol. 29, no. 5, hlm. 836, film sepanjang bidang fokal karnera (dalam inci per menit) untuk meng-
t963. hindari kekaburan gambar?
Helava, U. V.: New Significance of Errors of Inner Orientation, Phologrammetric 4.4 Sama dengan Soal 4.3, kecuali tinggi terbang sebesar 10'000 kaki dan
Engineering, vol. 29, no. l, hlm. 126, 1963. kecepatan pesawat terbang sebesar 600 mil/jam.
Karren, R. J.: Camera Calibration by the Multicollimator Method, Photo- 4.5 Sebuah kamera udara memotret dengan kecepatan penutup sebesar l/500
grammetric Engineering, vol. 34, no. 7, hlm. 706, 1968.
l) rr detik, Bila kecepatan pesawat terbang sebesar 300 mil/jam, berapa
Livingston, R. G.: A History of Military Mapping Camera Development, Photo- jauhkah pesawat terbang bergerak selama pemotretan?
grammetric Engineering, vol. 30, no. I, hlm. 97, 1964. 4.6 Sama dengan Soal 4.5, kecuali kecepatan penutup sebesar 1/1.000 detik
Lockwood, H. E., dan L. Perry: Shutter/Aperture Settings for Aerial Photography, dan kecepatan pesawat terbang sebesar 550 miVjam.
Photogrammetric Engineering and Remole Sensing, vol.42, no. 2, hlm. 4.7 Sebuah kamera udara dengan panjang fokus 3.5 inci dipasang pada
239, 1976. psawat terbang dengan kecepatan 150 mil/jam. Apabila tinggi terbang
McNeil, G. T.: Normal Angle Camera Calibrator, Photogrammetric Engineering, sebesar 3.000 kaki dari permukaan bumi dan bila waktu pemotretan
vol. 28, no. 4, hlm. 633, 1962" sebesar l/200 detik, berapa jauhkah sebuah gambar bergerak sepanjang
Merchant, D. C.: Calibration of the Air Phr:to System, Photogrammetric Engine- bidang fokal selama pemotretan?
ering, vol.40, no. 5, hlm. 605, 1974. 4.8 Sama dengan Soal 4.7, kecuali bahwa panjang fokus sebesar 8,25 inci dan
Merritt, E. L.: Methods of Field Camera Calibration, Photogrammetric Engi- waktu pemotretan sebesat 1/500 detik.
neering, vol. 18, no. 4, 1952. 4.9 Berapa sudut pandang sebuah kamera dengan format 53 mm bujur sangkar
Nielsen, V.: More on Distortions by Focal Plane Shutters, Photogrammetic dan panjang fokus 100 mm?
Engineering and Remote Sensing, vol. 41, no. 2, hlrn. 199, 1975. 4.10 Sama dengan Soal 4.9. kecuali format kamera sebesar 70 mm bujur
Rampal, K. K.: System Calibrertion of Metric Cameras, ASCE Journal of the sangkar dan panjang fokus l0O mm?
Surveying and Mapping Division, vol. 104, no. SUl, hlm. 51, 1978. Bagi sebuah kamera dengan format 9 inci bujur sangkar, berapdkah
Ir 4,ll
Rhody, B.: A New Versatile Stereo-Camera System for Large-Scale Helicopter kisaran panjang fokusnya agar dapat dikategorikan kamera bersudut
Photography of Forest Resources, Photogrammetric , vol.32, no.5, hlm. lebar?
183,1977. 4.12 Sebutkan dan uraikan secara singkat bagian utama sebuah kamera
Scholer, H.: On Photogrammetric Distortion, Photogrammetric Engineering and
kerangka udara.
Remote Sensing, vol. 41, no. 6, hlm. 761, L9'75.
4.13 Uraikan secara singkat beraneka jenis penutup kamera.
4.14 Apakah funlti penyangga kamera? Juga intervalometer?
-,

109
108
4.23 Sama dengan Soal 4.21, kecuali datanya yang menggunakan data pada
4.15 Apakah crab itu dan apa pula sebabnya? soal 4.22.
4.16 Mengapa kalibrasi kamera PentinS? 4.24 Sebutkan dan uraikan secara ringkas dua metode spesifftasi resolusi.
4.17 Apa saja unsur orientasi bagian dalam kamera yang dapat ditentukan di
dalam kalibrasi kamera.
4.19 Untuk menentukan secara kasar panjang fokus suatu kamera, rod sepan-
l)
jang kaki dipegang tepat pada jarak 20 kaki dari lensa kamera, dan kemu-
dian dilakukan pemotretan. Rod itu dipegang tegak lurus terhadap sumbu
kamera, dan pemotretan dilakukan sedemikian sehingga penanda pada
rod 6 kaki tersebut digambarkan pada pusat foto. Jarak negatif terukur pa-
da rod datar dari ujung satu ke ujung lainnya, sebesar 29,95 mm. Berapa-
kah panjang fokus lensa kamera itu?
4.20 Tabel berikut menyajikan daftar empat jarak terukur lata-rata ke silang
kolimator dengan nilai sudut dari silang pusat. Hitunglah panjang fokus
ekivalen berdasarkan 7,5o dan gambarkan kurva distorsi radial berdasar-
kan EFL.

Sudut Jarak terukur


(')
7,5 20,081
l5 40,87 6 () tt
)', < 63.201
30 88.097
37,5 t t-l ,06'l
45 153,482

4.2L Hitunglah panjang fokus terkalibrasi bagi data pada Soal 4.20 (Buatlah
distorsi radial positif maksimum sama besar dengan distorsi radial
negatif maksimum). Gambarkan kurva distorsi radial berdasarkan CFL'
4.22 Sama dengan Soal 4.20, kecuali data berikut:

Sudut Jarak terukur


f) rata-rata, mm
18,345
5
l0
15
36,970
56,191
.)t ,t

i
(.

20 7 6,331 F

25 97 ,7 87
30 tzt,o54
35 146,839

i
rll
BAB dapan melalui satu garis lurus, seperti disajikan pada Gamlg 5.la' S-umbu x
biasanya merupakan garis fidusial yang paling mendekati sejajar terhadap
jalur
5 terbang, positii padaarah jalur terbang. Sumbu y posilif bersudut 90o terha-
dap jaluf terbani dan mengarah berlawanan denga11arym.j1m. Asal sistem
tobrAinat itu ialah perpotongan garis-garis fidusial. Titik ini sering disebut
PENGUKURAN FOTOGRAFIK DAN a) (, pusat kolimasi (center of collimation). Bagi kamera pemetaan yang teliti,
PERBAIKAN titik ini terletak sangat dekat dengan titik utama.

t
C
D
*x,--i

2T F.
,l '..
,,- Jd
\.ai

5.1 PENGANTAR
Gris
fidusial
)
/l

/ \0 I
,/ ll
,;fr
+x
.J' tt...
Untuk memecahkan masalah fotogrametri pada umumnya diperlukan
pengukuran fotografik. Pengukurah ini dapat mencakup panjang garis antara
o
-.
T

ln
Arah terbang I i,,o 'i Arah
l"rb-t-
tcr

".I
dua titik gambar, sudut anlara titik, atau posisi titik pada foto yang dinyata-
V;_ _-'1x
ro b

kan dengan koordinat rektangguler. Koordinat rektangguler merupakan jenis --1


yang paling banyak dilakukan di dalam pengukuran fotografik, dan digunakan
A B
secara lansung dalam banyali pers:rma:rn fotogrametri. Pengukuran fotografik (b)
pada umumnya dilakukan pada kertas cetak positif, film, dan kaca.
Pcngukurannya juga dapat dilakukan atas negatif. Akan tetapi hal ini jarang
dilakukan karena dapat merusak foto dan upaya melindungi negatif guna
membuat cetakan lagi merupakan hal penting. Di samping pengukuran jarak Gambar 5.1. Sistem koordinat fotografik. (a) Tanda fidusial tepi, (b) Tanda
fidusial sudut
dan kmrdinat, densiti cira juga merupakan cara pengukuran fotografik yang
lazim dan hal ini dibincangkan pada Butir 5.15.
Piranti untuk melakukan pengukuran fotografik berbeda-beda dari jenis Posisi suatu gambar pada foto, seperti misalnya titik a pada Gambar
yang murah, skala sederhana hingga mesin yang rumit dan canggih yang 5.1a, ditentukan berdasarkan koordinat rektangguler x, dan yr, di mana xo
membuahkan keluaran digital otomatis. Piranti yang beraneka dan cara peng- merupakan jarak tegak lurus dari sumbu y ke a dan yo ialah jarak tegak lurus
gunaannya diperikan pada bab ini. Sehubungan dengan beberapa efek, ada ke-
dari sumbu xke a. Dengan cara yang sama maka posisi gambar D juga diten-
salahan sistematik yang secara praktis terjadi pada pengukuran fotogrametrik.
tukan dengan koordinat rektangguler.r6 &n,a.
Sumber kesalahan dan cara menghapuskannyajuga dibincangkan pada bab ini.
Bila kamera dilengkapi dengan tanda fidusial sudut, seperti pada kamera
r/ (a Wild, sumbu acuan bagi pengukuran fotografik dapat ditentukan secara bebas
seperti misalnya sistem x'y'yang disajikan pada Gambar 5.10. Pada sistem
5.2 SISTEM KOORDINAT FOTOGRAFIK
ini maka positif .r' diambil pada arah terbang. Perpotongan garis diagonal
yang menghubungkan tanda fidusial sudut terletak sangat dekat dengan titik
Bagi kamera dengan tanda fidusial samping, sistem rujukan yang pa-
utama. Koordinat yang diukur pada sistem r'y'diubah menjadi sistem xy
ling banyak digunakan untuk koordinat fotografik ialah sistem sumbu rek-
yang lebih enak dan berasal pada titik utama, dengan menggunakan persamaan
tangguler yang dibentuk dengan menghubungkan tanda fidusial yang berha-
berikuf \
tt2 113

xa=xa'-xo (s.t1
rendah dapat diterima, skala keteknikan (engineer's scale) biasanya telah
mernadai. Dengan skala ketelnikan, ketelitiur dapat ditingkatkan &ngan jalan
!o = !o'- !o menggunakan skala 50 atau 60. Bila dikehendaki ketelitian lebih tinggi, dapat
dimana digunalan alat seperti penggaris mikro logarn pada Gambar 5.2 atau skala
kaca pada Gambar 5.3. Dengan salah satu skala itu maka nilai terukur dapat
xC'
- _xB'+4
*o- t, ditingkatkan ketelitiannya dengan jalan mengambil rata-rata hasil beberapa
pengukuran.
dan

.. -!o' + !c'
!o- 4

Pada saat ini banyak kamera yang dilengkapi dengan delapan tanda
fidusial yang terleak pada tepi dan pada sudut. Gambar 1.7 dan 1.8 menyaji-
kan koniigurasi tanda fidusial ini. Sistem koordinat fotografik di dalam hal
ini disaji[an pada Gambar 5.14. Delapan tanda fidusial memungkinkan
koreksi yang agak lebih teliti yang dilakukan atas kesalahan sistematik di
dalam koordinat gambar terukur. Gambar 5.2 Penggaris miko untuk pengukuran fotografik. (Seizin Theo.
Koordinat rektangguler merupakan pengukuran fotografik yang paling teneder and Sons.)
dasar dan paling umum, karena dari padanyalah jarak dan sudut antara titik-
titik dapat dihitung berdasarkan geometri analitik sederhana. Jarak fotografik
ab padi Gambar 5.1a misalnya, dapat dihitung berdasarkan koordinat rek- t' I

tangguler berikut:

ab=ffi (s.2)

Sudut 0 dan Q pada Gambar 5.la juga dapat dihitung berdasarkan


kmrdinat a danb berikut:

e= r"r-' (f)
(s.3)

0= tan-r (u)
Sudut aob merupakan jumlah sudut 0 dan 0.
Gambar 5.3 Skala kaca untuk pengukuran fotografik (Seizin Teledyne-
Gurley Co.).
(/ (r Skala kaca seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5.3 dapat diperoleh
5.3 SKALA SEDERHANA BAGI PENGUKURAN FOTOGRA. dengan panjang 6 inci maupun 12 inci dengan pembagian skala milimeter
FIK atau inci (pembagian terkecil ialah sebesar 0,005 inci). Untuk pembrcaannya
dapat ditopang dengan menggunakan alat pengamat dengan pembesaran yang
Ada berbagai skala sederhana yang tersedia untuk pengukuran fotogra- dapat digerall<an sepanjang skala itu. Dengan suatu skala kaca maka pembrca-
sangat bergantung pada keteliti-
fik. Pilihan tertennr bagi piranti pengukuran annya dapat ditaksir dengan mudah hingga sepersepuluh bagian tertecil. Skala
an yang diharapkan bagi masalah fotogrametri yang dihadapi. Bila ketelitian kaca tidak dapat dig{makan untuk 'lay ofF jarak.
tt4 ll5
5.4 MENGUKUR KOORDINAT FOTO DENGAN SKALA SE. 189,89 mm dan 100,47 mm.
DERHANA Jawafun

Cara konvensional untuk mengukur koordinat foto bila digunakan dengan Persamaan 5.2,
skala keteknikan, penggaris mikro, atau skala kaca, biasanya terdiri atas /B
pertama-tama sistem sumbu koordinat foto. Sistem sumbu ini dapat dilaku- 0) = t(I13,00)2 + (113,00)2112 = 159,81 mm
kan dengan meletakkan secara hati-hati suatu tepi lurus sepanjang landa Berdasarkan hukum kosinus,
fidusial dan membuat garis dengan sebuah silet (razor blade), jarum, atau pen-
S + (AB)2 Sr2
sil 4h atau 5h yang sangat runcing. Koordinat rektangguler kemudian dipe- cosO = o2
2(5")(AB)
-
roleh melalui pengukuran langsung jarak tegak lurus dari sumbu-sumbu ini.
Bila titik-titik koordinat yang akan diukur berupa titik jelas dan mudah _ (l89.89)2 + (159,81)2 (100.47)2
dikenali, tidak perlu identifikasi lebih jauh. Bila tidak, titik itu dapat dii- -
2(lEg,ggx15g,g1) = 0,M8591
dentifikasi dengan tusukan sebuah jarum. Penusukan ini harus dilakukan de-
ngan hati-hati di bawah alat pembesar, karena titik-titik yang tandanya tidak
0 = 31o5628"
luga
benar akan menyebabkan kesalahan sistematik pada koordinat foto yang
diukur. 6= ran-r (i+r = 45ooo'oo"
Bagi koordinat rektangguler yang terukur perlu diberi tanda aljabar ,,*)
yang tepat. Kesalahan dalam hal ini menyebabkan kesalahan dalam
memecahkan masalah fotogrametri. Titik-titik yang terletak di sebelah kanan
sumbu y mempunyai koordinat x bernilai positif, sedang x di sebelah kirinya
bernilai negatif. Titik-titik di atas sumbu x berupa koordinat y bernilai l,l
positif, sedang yang di bawahnya bemilai negatif.

5.5 METODE TRILATERATIF UNTUK PENGUKURAN KO.


ORDINAT FOTO
Koordinat foto memang dapat diperoleh dengan menggunakan skala
sederhana seperti dibincangkan pada Butir 5.3, tetapi tanpa memotong atau
menggoreskan garis fidusial. Di dalam cara kerja ini, yang disebut metode
trilateratif (trlaterative method), jarak seperti So, 56, S", dan S7 dapat diukur
dari tanda fidusial ke titik gambar seperti tercermin pada Gambar 5.4. Dari ko-
ordinat foto bagi tanda fidusial yang diperoleh dalam kalibrasi kamera,
koordinat titik-titik gambar kemudian dapat dihitung dengan menggunakan
trigonometri. Prosedur ini dapat diterapkan pada tanda fidusial tepi maupun
tanda fidusial suduL < ) la

Contoh 5.1
Misalnya koordinat fidusial terkalibrasi A dan B pada Gambar 5.4a
ialah -rr1 = mm, )A = 0,00 trl. Jg = 0,00 mm, dan yB = 113,00
-133,00 Gambar 5.4 Metode trilateratif pengukuran koordinat foto.
mm. Hitunglah x, dan y, apabila Sa dan 56 terukur masing-masing sebesar
116
tt7
Kemudian

0 =6
- 0 - (45" 00'00')
-
(31"
56' 28") = 13" 03' 32"
ra = So(cos 0) + xa = 189,89(0,974138)
- 113,00 = 71,98 mm
lc = -So(sin Q) - 189,89(0,225952) = - 42,9O mm
Jawaban trilateratif menjadi lemah bila sudut E pada Gambar 5.4 men-
dekati l80o atau 0o. Jawaban terkuat diperoleh bila sudut ( mendekati 90".
Karena dua di antara empat jarak terukur S menghasilkan jawaban unik bagi
koordinat foto suatu titik gambar, pilihan harus berupa dua jarak yang mem-
buahkan sebuah sudut ( yang hsiunya mendekati 90o. Di samping itu,
ketepatan dapat ditingkatkan dengan menghitung koordinat foto lebih dari
hanya satu jawaban tersendiri, dan kemudian mengambil rata-ratanya- Sebagai
,}
contoh, salah satu pemecahan kmrdinat gambar titik e pada Gambar 5.4 dapat 4
dibuat berdasarkan So dan 56, sedang yang lain dapat dibuat dengan S, dan S7,
dan sebagainya. Di dalam perhitungan ini harus dibuat gambar/bagan untuk
menguran gi kesalahan yang mungkin.
Bila tersedia komputer, metde rilateratif dapat diprogramkan sebagai
jawaban. Seperti diperikan pada satu rujukan yang dicantumkan pada bagian
akhir bab ini, prosedu trilateratif juga dapat diperluas hingga meliputi semua Gambar 5,5 Macroscop zoom untuk pengukuran teliti jarak pendek pada foto
jarak S terukur di dalam sebuah pemecahan 'least squares' secara serentak. (Seizin Bausch and Lumb).
Keunggulan metode trilateratif terhadap pengukuran langsung atas garis
fidusial yang ditandai ialah:(l) ketelitiannya lebih besar, (2) kesalahan dang besarnya penyimpangan sumbu y diukur dengan x6 dan xa. Jarak fidu-
sistematik untuk menandai garis fidusial terhapus, dan (3) tidak diperlukan sial terukur .r dan y ialah x,, dan y^. Pernyataan umum untuk menghitung
garis fidusial yang merusak wujud citra.
koordinat x' dan )' terkoreksi bagi titik e adalah:

5.6 PIRANTI PENGUKURAN JARAK PENDEK x"' = x, + x4 + (x6-*n('^''r: ") (5.4)

Piranti seperti 'Zoom Macroscope' yang disajikan pada Gambar 5.5


memungkinkan untuk mengukur jarak pendek secara tepat pada foto. Piranti !e' = Je + Jo + (!r-yr)( r?) (5.s)
khusus ini mempunyai lensa Zoom yang dapat memperbesar gambar dari l0
x hingga 30 x. Pada medan pandang dipasang lembar tembus cahaya dengan Pada Persam aan 5.4 dan 5.5 perlu digunakan tanda aljabar yang benar
petak-petrk bujur sangkar kecil berukuran 0,0001 kaki. Piranti ini penting bagi yr, x6, x7. Dalam contoh yang disajikan pada Gambar 5.6, semua nilai
bagi interpretasi foto udara untuk pengukuran jarak pendek yang sering yang digambarkan berupa nilai positif.
diperlukan (misalnya untuk menentukan ukuran objek). Pimnti tersebut juga
bermanfaat di dalam fotogrametri metrik untuk melakukan koreksi kesalahan
Contoh 5.2
sistematik yang terjadi pada tusukan titik atau di dalam membuat garis fidu-
sial yang tidak melalui tanda fidusial dengan tpat. Misalnya koordinat terukur pada Gambar 5.6 yaitu x" dan y, masing-
Penandaan garis fidusial yang salah disajikan pada Gambar 5.6. Ko- masing sebesar 38,27 mm dan 49,40 mm. Jarak fidusial terukur x^ dan y^
ordinat foto ke arah titik e dapat diukur berdasarkan kesalahan sistem sumbu. sebesar 232,68 mm dan 232,43 mm, sedang la = 0,54 mm, .rD = 0,82 mm,
Besarnya penyimpangan fidusial dari sumbu x diukur dengan y, dan y. se-
)c = 0,69 mm, dan xd = 0,48 mm. Berapakah koordinat foto xr' dan y"'
terkoreksi bagi sistem sumbu Iidusial?
I
119
u8
Berdasarkan Fersarnaan 5.4 maka:
232, 4312 49,40
= 38,27 +0,48 + (0,28 0,48)(
xc
- 232,43
= 38,85 mm
Berdasarftan krsamaan 5.5 maka:
t,
232, 6812 +38,27
= 49,40 + 0,54 + (0,69 0,54)(
!c - 232, 68

= 50,04 mm

5.7 PENGUKURAN MONOKOMPARATOR ATAS KOORDI.


NAT FOTO
Bila dikehendaki ketelitian tinggi di dalam pengukuran koordinat foto, Roda penggerek Roda Penggerek
hanrs digunakan piranti teliti yang disebut komparator.Piranti ini dinamakan iekrup timah Y' sekruP dmah'X'

-l l'-', Gambar 5.7 Komparator mono tipe mann 422-F (Seizin David W. Mann Co')

demikian karena kerjanya membandingkan posisi fotografik titik gambar

I r_::+ terhadap skala pengukuran alat itu. Ada dua jenis utama komparator, yaitu
ko mp a r a t o r mo n o (monocomparator) dan k o mp ar a t o r s I e r e o (stereocompara-
tor). Komparator mono yang dibincangkan pada bab ini melakukan
pengukuran atas satu foto pada satu saat. Dengan komparator stereo dapat
I Oiuliur posisi gambar secara bersamaan dengan mengamati pertampalan
ym
pasangan foto stereo. Komparator stereo dibincangkan pada Bab 14. Kompa-
iator terutama digunakan untuk memperoleh koordinat foto yang teliti dan
-t_
Ir diperlukan untuk kalibrasi kamera dan untuk fotogrametri analitik
T Jenis umum sebuah komparator mono disajikan pada Gambar 5.7.
Tyo
[*-- xa yc
Piranti ini diklasifikaskan sebagai komparator mono sekrup tinah (lead'screw
monocomparator). Piranti ini dapat digunakan untuk mengukur sudut dan
koordinat pada foto dengan format sebesar l0 inci bujur sangkar. Film atau
diapositif yang diukur mula-mula diletakkan pada arena (stage) komparator.
Arena ini dapat diputar pada sebuah sumbu vertikal dan dilengkapi dengan
<) aa sebuah sekrup yang bergerak lambat untuk penyetelan halus ke arah busur
yang paling mendekati 20 detik. Arena itu dapat digerakkan secara
longitudinal sepanjang sumbu X piranti itu dengan melalui mekanisme
panggerak sekrup timah yang digerakkan melalui roda tangan yang terletak
*-l F-,, pada bagian kanan. Penggerak setxup timah yang sama dan roda tangan pada
bagian kirimenggerakkan karena secara transversal sepanjang sumbu I
Gambar 5.6 Koreksi kesalahan sistematik bagi kesalahan sistem sumbu
piranti itu, di mana sumbu Y tegak lurus terhadap sumbu X. Piranti ini
fidusial.
t2r
120
r piranti itu. Pekerjaan ini dilakukan dengan jalan dicoba dan dicoba" dengan
dilengkapi dengan sebuah motm unhrk menggerakkan arcna sepanjang sekrup menggunakan sekrup perputaran gerak lambat hingga koordinat fpada dua
timafr'. Lubani reloup timah itu sebesar I mm. Sebuah mikrometer
yang
sisi tanda fidusial A dan C padaGambar 5.8 sama besar. Setelah arena disetel,
,"n.utut putaizm sekrup timah hingga sebesar 0,001 putaran memungkinkan kemudian dilakukan pembacaan X dan Y bagi empat tanda fidusial seperti
pemUacaan koordinat X dan I
hingga paling- dekat terhadap 0,001 mm halnya atas semua titik lain yang diinginkan posisi fotografiknya. Se-
tterdekat dengan pm). Sepanjang pencatat pada umumnya dipasang pada hubungan dengan kesalahan penyetelan, kesalahan pembacaan, dan sifat foto
sumbu X d2rrt-Y seiringga foorOinat Oapat dicatat secara otomatis pada karru t, yang tidak ortogonal serta sumbu komparator, pembacaan X bagi fidusial B
terfuUang (punched ci[), pitu kertas terlubang, atau pita magnetik. Ini berarti dan D, dan pembacaan Y bagi fidusial A dan C pada Gambar 5.8 jarang sekali
fngt "r,ia[n walru yang tiOaf seaifitaan menghapus kesalahan pa$l Aahm dapat sama besar. Oleh karena itu maka koordinat foto r" dan y, bagi titik e
i"niU**n Oan peniatatan. Piranti ini dilengkapi dengan t.b-"* mi$oskop dicatat dari sumbu komputer ke sumbu koordinat fotografik dengan jalan
iinokuler dengan perbesaran antara 10 x hingga 40 x. Mikro-sk9R ini mengurangi koordinat rata-rata fidusial A dan C dari pembacaan I, dan dengan
memungkinkan pemUerian titik-titik tanda pada rujukan yang- hanrs diukur. mengurangi koordinat X fidusial B dan D rata-ra[a dari seluruh pembacaan X
Ada dua'pendekatan utama untuk mengukur koordinat- foto dengan atau
menggunakan piranti ini. Pada pendekatan pertama maka foto diletakkan erat-
erat fiida arena dan arena diputir sehingga sumbu x foto sejajar dengan sumbu XB+Xp
xe=Ae- 2
(s.6)
,, Y6+Ys
le = r " - 2

Bila tersedia komputer, orang lebih suka menggunakan metode peng-


ukuran dasar kedua dengan komparatorjenis sekrup timah. Pada metode ini
tidak diupayakan untuk melakukan orientasi pelat, agar koordinat I fidusial A
dan C sama besar. Sebagai gantinya, pelat itu diletakkan di atas arena dengan
orientasi kurang lebih seperti pada Gambar 5.8. Kemudian dilakukan
pengukuran terhadap semua titik fidusial dan titik gambar yang diinginkan
koordinatnya. Koordinat itu kemudian secara numerik diubah terhadap sistem
1"" sumbu XI pengukuran komparator, menjadi sistem sumbu fotografik
le konvensional pada Gambar 5.1. Salah satu metode perigubahan disebut'ffine
c oordinote transformation' .
I

___1__
ol Komparator mono lain yang jenisnya serupa yaitu Kern MK2, yang
I

I disajikan pada Gambar 5.9. Piranti ini dilengkapi dengan dua skala kaca yang
dipasang tetap dan saling tegak lurus untuk memperoleh koordinat sumbu X
I

st,
dan Y. Foto diletakkan pada arena yang tidak dapat diputar terapi dapat
ditedemahkan ke arah X dan L Gerakan arena dapat dilakukan dengan tangan
untuk memperoleh posisi titik gambar paling mendekati lokasi rujukan pada
lembaran kaca pengukur. Kemudian arena dicepit, dan kedudukan yang tepat
1t ra
dapat diperoleh dengan mengamatinya melalui bagian pengamat (eyepiece)
dengan pembesaran. Dengan menggunkan sel fotoelektrik yang memantrau
posisi berkas sinar yang bergerak melalui skala kaca pada saat arena diter-
jemahkan, dapat dilakukan pengukuran hingga mendekati milaometer dan
Asal sumbu komparator
dikfuimkan secara otomatis ke sebuah alat keluaran digital elektronik. Cara
yang lazim untuk mengubah koordinat komparator XY menjadi sistem
Gambar 5.E Pengukuran koordinat foto dengan komparator mono'
t22 1

123

koordinat folo.ry juga dilakukan dengan transformasi koordinat gabungan,


seperti dibirrcangkan pada BagianB{ I-ampiran B. Batang pengukuran
Komparator mono yang berbeda jenisnya disebut komparator nulti- skala kaca
Tabung mikrometer

bterartf (multilaterative comparator) yang disajikan pada Gambar 5.10. Cara


kerjanya pada dasamya sama dengan asas trilateratif yang dibincangkan pada
Butir 5.5. Bagian pengukuran pada komparator ini terdiri dari sebuah batang a,
pengukur skala kaca yang disinari secara tepat dengan interval rincian I mm.
Batang pengukur ini dapa berputar bebas di seputar sumbu pada bagian da-
sarnya. Piranti ini dilengkapi dengan sebuah bagian pengamat mikroskopik
yang pembesarannya berkisar dari l0 x hingga 30 x. Jarak diukur dari titik
sumbu ke gambar yang koordinat fotonya dikehendaki. Pengukuran dilakukan
dengan memutar batang pengukur pada sumbunya dan secara bersamaan
menggerakkan bagian pengamat sehingga titik yang akan diukur terletak pada

'
ilt

Bagian Pivot
Pengamat
mikrokoPik

Gamtlar 5.10 Komparator multilateratif.(Seizin D.B.A. Systems, Inc.)

sebuah lingkaran pelat kaca bila dilihat melalui bagian pengamat. Putaran
tabung mikrometer pada puncak batang pengukur menyebabkan skala kaca
mentedemahkan secara longitudinal, dan bila titik itu berada di dalam retikel
berbentuk lingkaran, tabung itu diputar hingga sebuah rincian sama yang
besarnya I mm membelah titik itu. Piranti ini pada umumnya dilengkapi
untuk membuahkan keluaran otomatis digital, tetapi dapat dibaca secara
manual. Pada pembacaan secara manual, seluruh milimeter diperoleh lang-
sung dari skala kaca dan bagian fraksional diambil dari tabung mikrometer
hingga terdekat terhadap tengahan milimeter.
Gambar 5.1I menyajikan suatu generalisasi dasar teoretik komparator
mu)tilateral, jara& rt1, Rz,Rt, dan Ra diukur dari sumbu ke titik e. Dalam
proses pengukuran sebenarnyd, sumbu itu tetap pada tempatnya sedang arcna
pengukuran tempat meletakkan foto diputar empat kali, tiap putaran besarnya
sekitar 90o. Jarak diukur pada tiap titik pada empat posisi tersebut, sehingga
Gambar 5.9 Komparator mono merk Kern MK2 (Seizin Kern Instrumens, Inc.) terbentuk ekivaleqgeometrik seperti pada Gambar 5.1l.
l24 125

terhadap koordinat yang diketahui nilainya pada pelat grid Pola umum beda-
Y nya (kesalahan) dapat dibuat model polinomial dengan cara serupa dengan
yang diperkirakan pada Bagian A-ll Lampiran A. Koordinat foto terukur
kemudian dapat diproses melalui polinomial untuk menghapus kesalahan
3 sistematik komparator secara efektif.
\^, lt
5.8 PERBAIKAN KOORDINAT GAMBAR TERUKUR
Pada bagian-bagian sebelum ini telah dibincangkan piranti dan teknik
pengukuran koordinat foto, prosedur untuk menghapus kesalahan sistematik
R4
R2 dalam pengukuran, dan penghitungan untuk mengubah koordinat ke sistem
sumbu fidusial. Akan tetapi koordinat foto ini masih tetap mengandung
4
kesalahan sistematik dari berbagai sumber lain. Sumber utama kesalahan ini
) ialah:
I. Kegagalan sumbu fidusial untuk berpotongan pada titik utama
Rr 2. Pengkerutan atau pengembangan bahan fotografik
3. Distorsi lensa
4. Distorsi pembiasan atmosferik
5. Distrosi oleh lengkung bumi.
Untuk menghapus efek kesalahan sistematik dapat dilakukan koreksi.
Akan tetapi tidak semua masalah fotogrametri memerlukan koreksi. Pada
pekerjaan kasar maka kesalahan ini dapat diabaikan. Misalnya bila digunakan
skala keteknikan untuk pengukuran, maka ketidakpastian koordinat foto
cukup besar sehingga kesalahan sistematik yang kecil dapat diabaikan. Se-
baliknya bila digunakan sebuah komputer untuk pengukuran cerrnat masalah
Gambar 5.ll Ekivalen geometrlk yang tergeneralisasi sistern pengukuran fotogrametri analitik, maka semua koreksi dipandang penting. Keputusan
komparator multilateratif. tentang koreksi mana yang penting bagi suatu masalah fotogrametri dapat
diambil setelah mempertimbangkan ketelitian yang dikehendaki dan besarnya
Dari jarak terukur R, koordinat empat titik sumbu, tanda fidusial, dan kesalahan yang disebabkan oleh pengabaian kesalahan itu.
semua titik gambar dihitung dengan sistem XI seperti icrcantum pada Gam-
bar 5.11. Perhitungannya dilakukan dengan komputer. Setelah pcrhitungan
selesai maka koordinat tanda fidusial diketahui, baik pada sistem kompamtor
5.9 REDUKSI KOORDINAT KE ASLINYA PADA TITIK
UTAMA
XY sembarang maupun pada sistem.ly fotografik terkalibrasi. Dengan mcng-
gunakan dua rangkaian koordinat bagi tanda fidusial, semua titik dapat diubah Telah dinyatakan sebelumnya bahwa titik utama foto jarang terletak
ke sistem koordinat fidusial (fotografik) dengan menggunakan suatu transfor- pada perpotongan garis fidusial. Koordinat sebenarnya tilik utama dalam hu-
masi koordinat seperti transformasi gabungan dua-dimensional yang dibin- bungannya dengan sumbu fidusial ialahxodanyo seperti yang disajikan pada
cangkan pada Bagian 8-6 Lampiran B. Gambar 5.12. Koordinat ini diperoleh melalui kalibrasi kamera.
Meskipun komparator mono pada umumnya sangat teliti, terjadi juga Persamaan fotogrametri yang menggunakan koordinat foto didasarkan
kesalahan sistematik kecil yang disebabkan oleh kekurangsempurnaan dalam aias geometri proyektif dengan asumsi bahwa koordinat foto terletak pada
sistem pengukuran. Besamya kesalahan ini dapat ditentukan dengan mengukur titik ulama. Oleh karena itu secara teoretik benar untuk mereduksi koordinat
koordinat pada pelat grid yang teliti dan kemudian membandingkan hasilnya foto dari pengukuran atau dari sistem sumbu fidusial ke sistem yang aslinya
t26 127

pada titik utama. Sumbu titik utama disajikan pada Gambar 5.12 sebagai x' 5.10 PENGKERUTAN DAN PEMEKARAN FILM DAN KER.
dan y'. Untuk sembarang titik gambar a, reduksi dari sumbu fidusial ke TAS FOTOGRAI'IK
sumbu titik utrama adalah sederhana, yaitu sebagai berikut:
Posisi gambar yang benar pada foto merupakan persyaratan bagi
xo'= xo xo
-
!o'=Jo-!o
(5.7) t) (r
pekerjaan fotogrametri. Koordinat foto yang diukur dengan salah satu cara
yang telah dibincangkan akan menyebabkan kesalahan kecil dalam
Pembuat kamera untuk pemetaan cermat berupaya memasang tanda hubungannya dengan pengkerutan dan pemekaran bahan fotografik yang
fidusial dan lensa kamera sehingga titik utama dan perpotongan garis fidusial menyangga emulsi negatif dan positif. Koordinat foto harus dikoreksi bagi
bertemu pada satu titik. Penyimpangan yang terjadi pada umumnya hanya kesalahan-kesalahan ini sebelum digunakan untuk perhitungan fotogrametrik.
beberapa mikrometer. Oleh karena itu untuk pekerjaan fotogrametri biasa, kalau tidak, maka hasil penghitungannya akan mengandung kesalahan ini.
terutama bila digunakan kertas cetak positif, reduksi ini umumnya dapat Besarnya kesalahan hasil penghitungan bergantung atas keparahan kesalahan
diabaikan. pengkerutan dan pemekaran, yang bergantung atas jenis bahan yang diguna-
kan sebagai penyangga emulsi.
Y), Sebagian besar film foografik yang digunakan untuk membuat negatif
bagi pekerjaan fotogrametri mempunyai stabilitas dimensional baik sekali,
akan tetapi terjadi perubahan kecil selama pemrosesan dan penyimpanan.
7 Perubahalt dimensional selama penyimpanan dapat dibuat minimum dengan
menyimpannya pada ruang simpan dengan suhu dan kelembaban konstan.
Jumlah distorsi yang sebenarnya terjadi pada film merupakan fungsi beberapa
variabel, termasuk jenis film dan ketebalannya" Nilai yang mencirikan dapat
-xd--l beraneka, dari hampir dapat diabaikan hingga sekitar 0,20 persen.
"T-l Sejumlah bahan yang berbeda-beda tersedia bagi pencetakan foto
positif. Stabilitas dimensional kaca tak terlampaui oleh bahan lain. Bila
t,o yi I

Irva digunakan kaca maka pengkerutan dan pemekaran dianggap tidak ada. Bila
o
ttr digunakan bahan poliester, stabilitas dimensionalnya sama tinggi bagi positif
L I dan negatifnya. Akan tetapi kalau digunakan kertas, stabilitls dimensionalnya
jauh lebih rcndah. Oleh karena itu maka cetak ketas tidak digunakan untuk
r--1 pekerjaan fotogrametri teliti. Jumlah pengkerutan dan pemekaran merupakan
fungsi suhu, kelembaban, dan jenis kertas serta tebalnya. Akan tetapi yang
paling berpengaruh ialah cara pengeringan cetakannya. Bila digunakan
pengering berbentuk tabung panas atau bila cetakan digantung untuk
pengeringan, akan terjadi distorsi lebih besar daripada bila cetakan dikeringkan
dengan meletakkannya datar pada suhu kamar biasa. Pengkerutan dan
pemekaran kertas hingga I persen merupakan hal yang lazim. Bagi kertas
tipis (single-weight paper) maka pengkerutan dan pemekaran dapat mencapai
\ dua persen atau tiga persen bila pengeringannya dilakukan dengan menggan-
tung kertas cetakan itu. Distorsi sepanjang sumbu x sering berbeda jauh
dengan distorsi sepanjang sumbu y. Distorsi diferensial ini dapat berakibat
parah apabila pengkerutan dan pemekaran kertas diabaikan.
Gambar 5.12 Reduksi koordinat foto terukur ke asal pada titik prinsipal.
t29
128
Koordinat terukur Koordinat terkoreksi
5.11 KOREKSI PENGKERUTAN
(a) (D) (c) @ {e\
Jumlah pengkerutan atau pemekaran pada foto dapat ditentukan dengan y"
membandingt<an jaraf foto terukur antara fidusial yang berhadapan dengan Nomer titik l'. mm )" mm .r', mm mm

nilainya yan'g ditentukan di dalam kalibrasi kamera. Koordinat foto dapat I 95,18 -102,02 94,84
-1O2,57
altor.t riuiti terjadi kesalahan. Bila x, dan y, merupakan ukuran fidusial
,,
-98,43
t6,28 -87,77 -97,90
16,19 -87,45
pada positif, sedang x. dan y" merupakan jarak fidusial terkalibrasi, maka 3
-36,06 65,37 -35,93
4 65.72 61,84 61,62
ioordinat foto terkoreksi bagi sembarang titik a dapat diperhitungkan sebagai 04,8 8 104,32
berikut:
5 1
-73,49 -73,23

xa '=(f) Xa
(s.8)

!a '= (f) (s.e)

Pada Persamaan 5.8 dan 5.9 xo' danyr'adalah koordinat foto terkoreksi
dan x, serta yo merupakan koordinat terukur. Perbandingan x, lx^ dan
yrly^
secara sederhana merupakan faktor skala pada arah x dan y'

Contoh 5.3
Untuk foto tertentu, jarak fidusial terukur x dan y masing-masing
sebesar 233,85 mm dan 2i3,46 mm. Jarak fidusial terkalibrasi masing-
masing sebesar 232,60 mm dan 232,62 mm. Hitunglah nilai terkoreksi
koordinat foto terukur yang terdaftar pada lajur (b) dan (c) tabel berikut.
Jowaban:

Berdasarkan Penamaan 5.8,


Gambar5.l3Gridpelatkacatumpangtindihdenganfotobulan(Serzrn
,'=(?1?'6-0=) ,r) = o.ee465(x) National Space Science Data Center).
(233.8si
Di samping tanda fidusial atau sebagai gantinya'.teberapa l<amera
Berdasarftan Penamaan 5.9, pada.Gambar
OilengtapiOei,gai prlat grid kaca (reseau)' Seperti tersajikan
i.r:,"r..i.ngt<ipan ini derupa pelat kaca dengan grid.silang la]Ys vang
',,=(ryr)
\233.46 )
' = o.ee6ao(y)
,r, ;i;;;*d;.4;nya. Grid peiat kaca inidipasang pada bidang fokal kamera
dan tentu
r."nirgg, Uii, dilalukan pe,rotretun, S]r0 !1r tercetak pada negatif'
Tiap nilai terukur dikalikan dengan konstanta yang sesuai dan koordi- terukur tanda grid pada positif
,":" fJr"rOi"n tampat f,ada positif.-Posisi
nat terkoreksi dimasukkan ke lajur (d) dan (e) tabel berikut. ffitOiUanAngkanierhidap lokasi
pada.kqgT y-C diketahui dengan tepat'
Koreksi pengkerutan alau pemekaran dapat pula dilakukan melalui ffi d"ili dilak"ukan koreksi kalau terjadi ketidaksesuaian karena pengkerutan
faktor x Oan _V pa& transformasi koordinat gabungan dua-dimensional. Metode utu"6r"t.-. Car: yang lazim unt,k koreksinya Bagian-B-6
ialah dengan-transformasi
Lampiran B'
ini terutama cocok bagi perhitungan fotogrametri analitik dan memerlukan kooriinat gabungan s"p"ii yang dijelaskanpada
komputer. cara kerjanya dijelaskan pada Bagian 8.6 Lampiran B, bersama k.;r6;; dalair qenggun'atai giiA petat kaca ialah bahwa pola grid ter-
contoh numeriknya.
130 131

mengisyaratkan distrsi ke arah luar). Jarak radid terkoreksi ke titik nomer 4


sebar merata ke seluruh format foto sehingga dapat dilakukan koreksi
bagi
p"ngr"*mn amu pemekaran tak seragam yang dapat terjadi. Koreksi semacam diperoleh dengan mengurangkan distorsi positif dari jarak radial, atau:
ini fiOat dapat diiafukan hanya berdasarkan ketersediaan tanda fidusial tepi 7'=7-[1 (s.10)
atau tanda fidusial sudut. Oleh karena itu maka untuk pekerjaan fotog-rametri
unurirft yang teliti lebih baik menggunakan grid pelat kaca. sebagai Untuk conoh ini, / adalah:
p.rgeurtl grIA petat kaca, pada bebeiapa kamera dilengkapi lubang halus rl'= 89,83 0,004 = 89,826 mm
if.nEln poii gria pada pelai penekan film pada bidang fokal selama pemo- -
tretir. Sita Oilat,tian p"rnor.lan maka lubang grid ini tercetak pada negatif. Sekarang, koordinat .r' dan y' terkoreksi diperhitun gkan sesuai dengan
rasio r7r, atau:

5.12 KOREKSI BAGI DISTORSI RADIAL LENSA *' =(), (5.1 l)


Seperti yang telah dijelaskan pada Bab 2 dan Bab 4, distorsi radial
lensa menyehabt<an posisi gimUar mengalami distorsi sepanjang
garis radial v' =() v (s.12)
dad titik itura. giia karikteristik diitorsi radial lensa kamera diketahui
melalui kalibrasi kamera, posisi gambar dapat dikoreksi' Dengan Persamaan 5.1I dan 5.12,
Metode yang beftOa-beda untuk melakukan koreksi distorsi radial
lensa, (2)
ialah: (l) pemuacaa-n koreksi yang diminta pada kurva distorsi radial
(3) metode numerik di mana kurva (ftff) ur,r, = 65,367 atau 65,37mm (dibulatkan)
irt..p"f"ri koreksi dari sebuah tabel, dan
metode
"'=
distoisi radial lensa didekati oleh sebuah polinomial. Masing-masing
ini mendasarkan pada asumsi bahwa distorsi bersifat simetris di seputar titik y4,= (!1!26) ur,* = 61,617 atan 6t,6zmm (dibulatkan)
utoru. Koreksi bagi distorsi radial lensa secala teoretik harus dilakukan
setelah dilakukan reduksi gambar ke titik utama dan terkoreksi
dari kesalahan
Meskipun disorsi radial lensa pada dasamya dapat diabaikan bagi lensa
oleh pengkerutan dan Pemekaran. Zeiss Pleogon seperti contoh di atas, distorsi itu sangat signifikan bagi
'
C'onto5 berikui mencerminkan metode pembacaan koreksi dari
suatu
beberapa lensa kamera lain. Lensa Metrogon misalnya, distorsi radial
kurva: lensanya mencapai 10,100 mm. Oleh karena itu para fotogrametriwan harus
faham benar ukuran distorsi radial lensa kamera yang digunakan dan
Contoh 5.4 melakukan koreksi bagi distorsi yang melebihi batas diterima pada tiap
Misalnya koordinat foto pada contoh 5'3 diukur pada foto yang dibuat masalah.
dengan kameia yang kurva rtisiorsi radial lensanya disajikan- pada Gambar Metode pendekatan distorsi radial lensa dengan polinomial bersifat
"tooiOinat
+.f iiitrngtatr titik nomer 4 patla Contoh 5.3 setelah melakukan paling rumit. Akan tetapi apabila tersedia komputer, metde ini paling
koreksi distorsi radial lensa. disukai. Metode polinomial terutama cocok bagi perhitungan fotogrametri
analitik. Metode ini terdiri dari pendekatan kuva distorsi radial lensa dengan
Jaw'aban; sebuah polinom ial berbentuk:
(perhitungan didasarkan atas koordinat pen gkerutan terkoreksi). Jarak
radial r Oari dtif prinsipal ke titik nomer 4 ialah: Lr-ki'+k2F+fuf+kar1 (s.13)

(653T2 + {61,62)2 = 89,83 mm Pada Formula 5.13 maka & merupakan distorsi radial lensa pada jarak
radial r dari titik utama. Koefisien t menentukan bentuk kurva itu. Koefisien
SetelahmemasukiabsispadaGambar4.l5dengannilairsebesar ini diperoleh melalui sebuah penghitungan kurva petak-petak bujur sangkar
89,83 ;;, bergerak ke atas untrk me'otong kurva distorsi'.kemudian yang sesuai bagi kurva distorsi radial yang diketahui, pada berbagai jarak
;;;;;rrk mendaiar ke kiri ke skala ordinar (lihar garis putus pada cambar
(nilai positif radial yang ditentu&an melalui kalibrasi kamera pada Bagian A-ll Lampiran
;.i3t; ;..b;.a distorsi radial lensa Ar sebesar +0,004 mm
132 133

A. Setelah nilai t ditentukan, distorsi radial lensa untuk sembarang nilai r perjalanan berls cahayadi atrnosfer tidak membenhrk garis lurus, tetapi agak
dapat langsung dihitung dan dilakukan substitusi kembali ke Formula 5.13. melengkung sesuai dengan hukum Snell seperti yang disajikan pada Gambar
' ca; tirja tersebut di atas dilandasi oleh asumsi bahwa distorsi radial 5.14. Berkas cahaya yang datang dari titik pada gambar itu membentuk sudut
lensa bersifat simeris di sekitar titik utama. Disorsi radial lensa yang tidak o terhadap garis vertikal. Bila pembiasan di'abaikan, berkas cahaya akan lebih
simetris dapat pula diperhitungkan. Akan tetapi, asumsi-simeri. ilu telah tampak berasal dari titik I
daripada dari titik A. Formula fotogrametri
memuaskan Uagi semui distorii radial lensa kecuali bagi pekerjaan foto- memberikan asumsi bahwa perjalanan berkas cahaya membentuk garis lurus.
grameri yang t;iid. Distorsi tangensial lensa pada umumnya sangat kecil dan Untuk melakukan kompensasi terhadap jalur pembiasan itu harus dilakukan
jarang dikoreksi. koreksi terhadap koordinat gambar.
Pada Gambar 5.14, bila berkas cahaya dari titik A membentuk jalur
lurus maka gambarnya akan terletak pada a'. Distorsi sudut oleh pembiasan
5.13 KOREKSI PEMBIASAN ATMOSFERIK sebesar 0, dan distorsi liniearnya pada foto sebesar 6r. Pembiasan menye-
babkan semua titik gambar mengalami pergesaran tempat ke arah luar dari
Telah lama dikenal bahwa kepadatan (dan oleh karenanyajuga indeks posisi sebenarnya. Besarnya distorsi oleh pembiasan membesar dengan
pembiasan) atmosfer menyusut sesuai dengan ketinggian. Oleh karena itu meningkatnya tinggi terbang dan juga oleh meningkatnya sudut a. Distorsi
oleh pembiasan terjadi secara radial dari titik nadir foto (titik utama foto
vertikal) dan sebesar nol pada titik nadir.
Dari Persamaan 5.14 dapat dikembangkan pers:rmaan untuk koreksi
pembiasan sebagai berikut:

, -Lao
U,- (a)
' cos 0,
di mana 0 dalam radian, dan
f
cos(l=E (b)

Juga,

Perjalanan cahaya aktual U =''['2 * f (c)

Substitusi (b) dan (c) ke (a) dan reduksi,

u,=#), (5.14)

Di dalam Persamaan 5.14, r ialah jarak radial titik gambar dari titik
nadir foto (titik utama bagi foto vertikal), dan / merupakan panjang fokus.
.) Unit 5, akan sama dengan r danf.
Bagi atmosfer normal maka sudut 0 dapat dihitung untuk tinggi
terbang tertentu, ketinggian permukaan lahan rata-rata, dan sudut c (lihat
rujukan yang dicantumkan pada bagian akhir bab ini untuk pesamaan
tersebut). Gambar 5.15 merupakan gambar sudut 0 (dalam detik) pada ordinat
dan sudut o (dalam derajad) pada absis. Nilai 0 untuk menggambar diagram
Gambar 5.14 Pembiasan atmosferik pada pemotretan udara. ini dihitung berdaslrkan ketinggian permukaan lahan hingga sekitar 1.000
ty 135

kaki di atas permukaan laut rata-rata, dengan menggunakan nilai 0 yang tu"
88,e2 ])zo6,265" lr:,d = o.ol4
+ (aa,sz)2
berbeda-bedfdan juga dengan beraneka tinggi terbang di atas permukaan laut
6, - [(sg,sr)2 mm

rata-ruta. Untuk permukaan lahan lebih tinggi dari 1.000 kaki, akan dihasil- L
kan kurva yang sedikit berbeda yang mencelminkan sudut pembiasan lebih = 7 = 89,83 = 89,816 mm
kecil.
-$, -0,014
(r
Untuk melakukan koreksi distorsi oleh pembiasan bagi titik gambar x - ( as, s ro ) 6s.37 =65.360 mm
tertentu, sudut o mula-mula dihitung berdasarkan koordinat foto dan panjang \ 89.83 /
fokus kamera sebagai berikut:

o= lor-r (s.1s)
v' =(ffi) 6t'62=6r'6ro mm
$)
di manar =^FTV
Setelah menghitung 0 atau memperolehnya dari Gambar 5.15, Per- o/
a/
sama:m 15.14 dapaiditerapkan untuk memperoleh 6r. Koreksi ini Cilakukan
secara radial dali- titik nadir (titik utama foto vertikal). Oleh karena itu maka !'l ,
jarak radial terkoreksi r' ke titik gambar diperoleh dengan menggunakan
-Per*rnaan JI
5.10, kecuali 6ryang disubstraksikan dari r. Koordinat x'dany' o
'o
terkoreksi kemudian diperoleh dengan menggunakan Persamaan 5.11 dan ;
E
5.12. 6
lrE
Contoh 5.5 A
a
.(,
Misalnya kamera yang digunakan untuk membuat foto pada Contoh a
5.3 dan 5.4 panjang fokusnya 88,92 mm, dan pemotretan dilakukan dari I

ketinggian Z0.OOO kaki di atas permukaan laut rata-rata. Hitung koordinat


titik nomer 4 setelah dilakukan koreksi pembiasan atmosferiknya.

Jawaban:
20 lo 4u )t/ (il'
@enghitungan dilakukan berdasarkan koordinat dari Contoh 5.4 yang telah o - Suttut datang berkas sinar tcrhadap vcrtikal, dcrajat
Oitorltsi pengkeruAn maupun pemekarannya, dan distorsi radial lensanya.)

f= (653T2 +61,62)2 = 89,83 mm Gambar 5.15 Sudut pembiasan 0 dan sudut sinar datang dengan garis vertikal cr,
untuk elevasi permukaan lahan hingga sekitar 1.000 kaki dan beraneka tinggi
Dengan Persamaan 5.15, terbang di atas permukaan laut rata-rata.
at
n, = tan .Ir"rr7
_,/se.sr.)=45.3o
5.I4 I(OREKSI LENGKUNG PERMUKAAN BUMI
Dari Gambar 5.15, pada o = 45,3o dan H = 20.000 kaki, nilai 0
Bila posisi titik pada ruang objek harus dihitung dengan sistem
sebesar 16 detik (ditunjukkandengan garis-garis putus pada gambar)' koordinat bidang datar, harus diperhitungkan distorsi gambar yang disebabkan
Dengan Persamaan 5.14 maka: oleh lengkung pennukaan bumi. Pada Gambar 5.16, A adalah titik objek di
136 r37

Unit H'dan R harus sama, sedang unit dr sama dengan unit r dan/. Jarak
medan dan A,merupakan posisinya pada sebuah Pgta dryar yang menyrngSung
radial terkoreksi r'ke titik gambar diperoleh dengan menambah drker.
pfirk
'nita
* bumi pida titik nadir (tiiik vertikal di bawah stasiun pemotretan).
Dengan distorsi radial lensa dan distorsi oleh pembiasan, koordinat foto
posisi Wt^ A' dikehendaki dalam penghitungan, perlu digunakan
koordinat foto posisi gambar teoretik a'sebagai penSganti posisi gambar
terkoreksi kemudian dapat diperoleh melalui Persamaan 5.l l dan 5.12.
Distorsi oleh lengkung bumi inenjadi semakin parah dengan bertam-
sebenarnya a. Jifak aa-'sebesar dr, yaitu distorsi oleh lengkung permukaan (r bah besarnya jarak datri titik nadir medan ke titik objek. Jarak ini bertambah
bumi. Diitorsi ini bersifat radial dari titik nadir fotografik (itik prinsipal foto
bila panjang fokus semakin kecil. Gambar 5.17 menyajikan distoni radial
vertikal).
persamaan 5.16 terlihat bahwa koreksi lengkung permukaan oleh lengkung bumi bagi foto vertikal yang dibuat dengan kamera yang
iari panjang fokus nominalnya 6 inci (150 mm) dengan berbagai tinggi terbang di
bumi harus dilakukan ke arah luar. Penamaan untuk menghitung dr
ialah
atas tanah. Sebagai contoh penggunaan nomogram ini, bagi tinggi terbang
. H'rj 6.000 kaki di atas tanah maka sebuah gambar yang jarak radialnya 100 mm
dr=W (5.16)
dari titik utama akan mengalami distorsi oleh lengkung bumi sebesar 6 pm.
Contoh ini disajikan dengan garis putus pada Gambar 5.17. Perhatikan pada
r ialah
Pada Formula 5.16, H'merupakan tinggi terbang di atas tanah, gambar itu bahwa nilai dr dapat menjadi sangat besar.
jarak dari titik utama ke titik gambar, R ialah garis menergah bumi
!ZO.9OO.O66 kaki atau 6.372.200 m), dan/merupakan panjang fokus kamera.

ll
Distorsi radial oleh lengkung bunri
bagi lbto vcrtikal yflng dibuat dengan
panjang lbkus kamem 6 irci (152 mm)
pada bcrbagai tinggi telbang di atas taoah

40 60 80
z - jrnk ndirl drri titik prinsipel, mm

Gambar 5.16 Distorsi dalam pemorehn dari udara oleh lengkung permukaan Gambar 5.17 Distdrsi radial oleh lengkung bumi.
bumi.
139
138

5.15 PENGUKURAN DENSITI GAMBAR


Seperti dijelaskan pada Butir 3.5, densiti ialah tingkat kegelapan atau
kecerahan suatu film. Pada umumnya foto mengandung gambar dengan ber'
bagai densiti. Dalam contoh foto udara pada Gambar 1.8 misalnya, sungai
tampak dengan rona gelap dan beberapa gedung tampak putih. Objek lainnya {; (r
tampak dengan tingkat keabuan antara dua ekstrem gelap dan terang ini,
seperti misalnya jalan, pohon-pohonan, dan daerah rumput. Variasi densiti
gambar inilah yang menyebabkan objek dapat dikenali pada foto. Pada ke-
nyataannya, suatu foto sangat dicirikan oleh susunan keruangan yang unik
sejumlah besar variasi rona yang terjadi padanya yang dibatasi oleh garis
tepinya.
Variasi densiti gambar dapat diukur dengan menggunakan piranti yang
disebut mi k r o d e n s i t o me t e r (micr odensitometer). Pen gukurannya dilakukan
atas diapositif (lembaran tembus pandang yang diceok pada kaca atau film).
Ada dua jenis mikrodensitometer, yaitu model tillt (spot) dan model pe-
nyiaman (scanning). Dengan mikrodensitometer titik, pengukuran densiti
pada titik tertentu pada foto dapat dilakukan dengan menterjemahkan optik
pengukuran secara manual ke lokasi-lokasi tersebut. Dengan demikian maka
piranti jenis ini hanya cocok bila titik yang harus diukur sedikit jumlahnya.

Gambar 5.19 Mikrodensitometer jenis alas datar model PDS-1010A (Seizin


Perkin-Elmer, Applied Optics Division).

Bila dikehendaki pengukuran densiti seluruh foto, digunakan mikroden-


sitometer jen is p e nyi aman.
Milaodensitometer penyiaman secara sistematik menyiam seluruh
foto, mengukur nilai densiti, dan merekamnya pada pita magnetik. Isi suatu
foto yang direkam dengan cara ini, siap digunakan untuk berbagai pemrosesan
data secara otomatis yang dapat ditampilkan dengan menggunakan komputer
berkecepaan tinggi atau dengan alat lainnya-
Mikrodensitometer penyiaman terdiri dari dua jenis, yaitu: (l) model
drum di mana film diapositif dipasang pada sebuah tabung yang berputar
Gambar 5.18 Mikrodensitometer penyiaman jenis tabung yang berputar model untuk pengukuran, dan (2) model alas datar (flatbed) yang memungkinkan
C4500. Pada suatu pixel berukuran 50 pm, piranti ini dapat menyiam seluruh isi diapositif kaca atau film diletakkan datar untuk pengukuran. Komponen
foto berukuran 9 inci bujur sangkar dalam waktu kurang dui 20 menit'(Seizin elekro-optik dan cara pengukuran duajenis piranti ini pada dasarnya sama,
Optronics International, Inc.)'
140
14t
perbdaannya hanya terletak pada rancangan mekaniknya. Gambar 5.19
menyajikan jenis alas datar.
Cara kerja mikrodensitometer jenis tabung disajikan pada Gambar
5.20. Densitometer terdiri dari sistem penyiaman elektro-optik.ry dengan
kecepatan tinggi. Film yang disiam diletakkan pada pembukaan tabung dan
membentuk bagian dari ketiling lingkarannya. Pada kerja aktifnya maka l1 (r
tabung berputar sementara optik secar:l serentak menterjemahkan densiti
dengan menggunakan suatu sekrup timah.
Selama penyiaman, foto disinari dari dalam tabung dan sebuah titik
sinar diproyeksikan ke lubang berbentuk bujur sangkar melalui film. Ukuran
lubang yang pada umumnya disebut ukuran "titik" atau ukuran pixel, dapal
beraneka. Pada umumnya dipilih pixel berukuran antara 25 pm hingga 100
pm bujur sangkal, meskipun sebagian besar mikrodensitometer mampu
menyiam pixel yang ukurannya lebih kecil. Pada saat sistem ini melakukan
penyiaman, densiti film tiap pixel diperoleh dengan membanding intensitas
sinyal masukan cahaya dengan sinyal cahaya yang ditransmisikan melalui
film yang telah diukur dengan sebuah ' photomultipller'. Sinyal analog yang
mengisyaratkan rasio antara intensitas masukan dan intensitas transmisi
diproses dengan amplifier logaritrnik, diransmisikan ke pengubah analog ke
digital (analog-to-digital atau A-D convertor), dan diberikan nilai densitinya
rfn

at (a)

Gambar 5.21 (a) Reproduksi hitam putih sebuah foto inframerah berwarn4 (D)
Huruf-huruf keluaran cetak komputer yang mengisyaratkan variasi densiti daerah
yang digambarkan pada 5.21a. Data densiti diperoleh dengan milcrodensitometer
Gambar 5.20 Cara kerja operasional mikrodensitometer penyiaman jenis penyiamaq dan mencerminkan pantulan pada spektrum bagian merah. Keluaran
tabung. cetak densiti itu berypa sebuah negatif, misalnya danau yang hampir tanpa
memantulkan merah tampak dengan rona cerah, sedang tempat duduk berwarna
merah pada stadion sepakbola taripak dengan rona gelap
143
t42
(ingat Butir 3.5 bahwa densiti merupakan logaritma normal rasio antara
intensitas masukan dan intensitas transmisi). Nilai integral diberikan bagi
rILc-z
rs scowN rllPloFlEERY
96o{Ec.ratsorllEloi{El- seluruh pixel sebanding dengan densitinya. Operator dapat memilih kisaran
"6F89!e
BIIEEoRBN tsHRocoluil{
to0+
gradasi densiti yang direkam, misalnya 256 tingkar
_tb5r-\-!9!-t-12:-!?l:_t^?2:-\29:-11::-11h-1lI:-1:2:-I::-l!!:-::::-L-1!i-112:-L-91!-t121
Tiap penyiaman di sekitar keliling lingkaran film mengandung densiti
75 l) sebanyak titik sampelnyayang dipengaruhi oleh ukuran pixelnya. Pada proses
penyiaman, suatu nuter hasil penyiaman terbentuk dengan melangkoh satu
interval (lebarnya sama besar dengan ukuran pixel) tegak lurus terhadap
penyiaman sebelumnya dan kemudian melakukan sampel terhadap garis nilai
densiti berikutnya di sepanjang keliling lingkaran. Bila penyiaman bergerak
9g
maju, nilai densiti maupun posisi tiap pixel direkam pada pita magnetik.
95 Lokasi pixel di sepanjang salah satu lingkaran penyiaman mengisyaratkan
koordinat x sistem penyiam, dan hitungan jumlah langkah tegak lurus yang
100 lAq
mendahului pencatatan pixel itu mengisyaratkan sistem koordinat y. Sebuah
105 145 mikrodensitometer jenis ahs datar pada dasarnya bekeda dengan cara serupa,
t14
kecuali bahwa sinyal cahaya masakan menyiam secara sistematik secara
ulang-alik menyilang diapositif yang diletakkan datar di atas arena. Jelas
115 bahwa pada densitometer jenis tabung harus digunakan film diapositif, sedang
bagi model alas datar dapat digunalian film maupun kaca.
l)q
Gambar 5.21a menyajikan sebuah reproduksi hitam putih sebagian
12< foto inframerah berwarna, dan Gambar 5.2|b menunjukkan sebuah keluaran
f) (r
cetali komputer yang mengisyaratkan variasi densiti daerah yang sama yang
lt4
diperoleh dengan mikrodensitometer penyiaman. Hasil penyiaman densiti itu
1?5 mencerminkan pantulan mcrah dari medan, dan keluaran cetak komputer itu
144
berupa sebuah negatif, misalnya daerah yang memantulkan banyak sinar
merah tampali dengan rona gclap pada Gambar 5.2Ib, dan yang memantulkan
r45
sinar merah sedikit tampali cerah. Sebagai contoh, danau di bagian atas foto
l5q yang memantulkan tenaga merah sangat sedikit tampak cerah prda keluaran
cetak, scdang tempat duduk berwarna merah stadion sepa.libola tampak gelap
pada keluaran cetak. Gambilr 5.21b diperoleh dengan mencetali berbagai huruf
sesuai dengan letak baris dan lajur serta densitinya, untuk membentuk ber-
bagai tingkat kehitaman. Legenda di bagian kiri bawah gambar itu menam-
l((
pilkan suatu contoh beberapa huruf yang membuahkan berbagai tingkat rona.
774 Kegunaan utama piranti yang diperikan di atas ini ialah sebagai sistem
otomatis untuk pengukuran dan perekaman secara digital isi foto. Dengan
175
l, ketersediaan informasi semacam ini maka berbagai tugas fotogrametri dapat
19q dilakukan secara otomatis dengan komputer digital, dan dapat diperoleh
185
banyak keluaran fotogrametri yang pada dasarnya lanpa campur langan
manusia. Di antara tugas yang dapat dilakukan ialah klasifikasi data secara
otomatis dan interpretasi, yang dapat mengumpulkan informasi seperti
iq ffi t$ 6q B{,8!i it0 i4? rE0 misalnya bentangan daerah kota; kesehatan, jumlah dan lokasi berbagai
:,: iii iii Bgg gBE EEE llf lll H (b) spesies pohon; lu4s berbagai tanarnan pertanian; dan ukuran, bentuk, dan
t4 145

lokasi danau dan sungai yang tampak pada daerah liputan foo. Keluaran png Washington, D. C., 1955.
dapat dikembangkan secara otomatis an6ra lain meliputi peta planimetli dan Krauc, K.: Film Deformation Correction with [-east Sguares, Photogrammetric
peta topografi, model digital medan, ortofoto, dan sebagainya. Metode untuk Engineering, vol. 38, no.5, hlm. 487,1972.
melakukan pekerjaan ini dan untuk mengembangkan keluarannya dibin- Kreckel, K H.: Roll Film Mensuration, Plotogrammetric Engineering,vol. no.6
cangkan pada bagian-bagian berikut buku ini. Penggunaan umum otomasi di hlm. 1CI3, 1965.
dalam foiogrametri, yang memadukan komputer digital berkecepaan tinggi l) Lampton. B. F., dan M. J. Umbach: Film Distortion Compensation Effectiveness,
dengan mikrodensitometer penyiaman dan piranti lainnya, merupakan hal Photograrnmetric Engineering, vol. 32, 6, hlm. 1035, 1965.
yang relatif baru. Pada saat akhir-akhir ini banyak dilakukan penelitian yang Marks, G. W.: Image Error and Photogrammetric Requirements, ASCE lournal of
sangat efektif dalam bidang ini, dan pengembangan baru ternrju ke calaawala the Surveying and mapping Division, vol. 102, no. SUl, hlm.39, 1976.
yang memiliki potensi untuk melakukan revolusi terhadap banyak cara kerja Scarpace, F. L.: Densitometry on lr4ulti-Emulsion Imagery, Photogrammetric
fotogrametri tradisional. Engineering and Remote Sensing, vol.44, no. 10, hlm. 1279, 1978.
dan P. R. Wolf: Atmospheric Refraction, Photogrammetric
Engineering, vol. 39, no. 5. hlm. 52L,1973.
RUJUKAN Scholer, H.: On Photograrnmetric Distortion, Photogrammetric Engineering and
Remote Sensing, vol.4l, no.5, hlm.76l, L975.
Abel-Aziz, Y. I.: AsymmetricalLens Distortion, Photogrammetric Engineering Schut, G. H.: Photogrammetric Refractioa, Photogrammetric Engineering, vol.
and Remote Sensing, vol. 41, no. 3, hlm. 337' 1975. 35, no. l, hlm. 79, 1969.
American Society of Photogrammetry: "Manual of Photogrammetry," ed. ke-4' Van Roessel, J.: Estimating Lens Distortion with Orthogonal Polynomials,
. Falls Church, Va., 1980, Bab 9. Photogrammetric Engineenng, vol. 35, no. 5, hlm. 584, 1970.
Bertram, S.: Atmospheric Refraction, Phologrammetric Engineering, vol- 32, no. Vlcek, J.: Systematic Errors of Image Coordinates, Photogrammetric Engineer-
l, hlm. 76, 1966. l\ 'r
rzg, vol. 35, no. 6, hlm. 585, 1959.
Broch R. H.: Methods for Studying Film Deformation, Photogrammetric Wolf, P. R.: Trilaterated Photo Coordinates, Photogrammetric Engineering, vol.
Engineering, vol. 38, no.4, hlm. 399,1966. 35, no. 6, hlm. 543, 1969.
Brown, D. C.: Computational Trade-offs in The Design of a Comparator, "Adjustment Computations: Practical Least Squares for Surveyors,"
Photogrammetric Engineering, vol.35, no. 2, hlm' 185' 1969. PBL Publishers, Madison, Wis.. 1980. Bab 18.
Bujakiewicz, A.: The Correction of Lens Distortion with Polynomials, Canadian dan R. A. Pearsall: The Kern PG-2 as a Monocomparator,
Surveyor, vol. 30, no. 2, hlm. 67, 1976. Photogranmelric Engineering and Remote Sensing,vol.42, no. 10, hlm.
Forrest, R. B.: Refraction Compensalion, Photogrammetric Engineering, vol.40, -: 1253, 1976.
no. 5, hlm. 577, 1974. Ziemann, H.: Image Deformation and Methods for Its Correction, Canadian
Friu, L. W.: A Complete Comparator Calibration Program, Photogramnrelria, Surveyor. vol. 25, no. 4, hlm. 367, 1971.
vol. 29, no. 4, hlm. 133, 1973.
Gugel, R. A.: Comparator Calibration, Photogrammetric Engineering, vol.3l, Photogrammetric Engineering and Remote Sensing, vol.44, no. 5, hlm.
no.5, hlm. 853, 1965. 597, 1978.
Jacksic, Z.: Deformations of Estar-base Aerial Films' Photogrammetric
Engineering, vol. 38, no. 3, hlm. 285,1972. -:ACoordinateSystemforAerialFramePhotography,
Jeyapalan, K.: Calibration of a Comparatf,r, Photogranmetric Engineering, vol' t) (l SOAL
38, no. 5, hlm. 472,1972.
Keating, T. J., dan P. R. Wolf: An Improved Method of Digital Image Correlation, 5.1 Misalnya koordinat foto bagi titik a dan b pada Gambar 5.1 sebesar r, =
Photogrammetric Engineering and Remote Sensing, vol. 41, no. 8' hlm' 49,87 mm, !a= 39,71 mm, rb = 79,2O mm, dan lt= mm. Hitung-
993, 1975. lah jarak foto ab, jarak radial oa dan ob, dan sudut -62,81
aob (lebih kecil dari
Keller, M., dan G. C. Tewinkel: "Aerotriangulation: Image Coordinate 180").
Refinement." Technical Bulletin no. 25. U.S. Coast and Geodetic Survey, \
146
147
5.2 Sama dengan Soal 5.1 kecuali koordinat foto sebesar xa=-2,435 inci, y,
= inci, .16 = inci, dan )r = 0,946 inci. 5.1 I Seperti Soal 5.10 kecuali datanya yang sama dengan data Soal 5.9.
5.3 -3,013
Dalam -3,985
Gambar 5.4, misalnys rd = mm, )a = 0,000 rlrl,.r5= 5.1 2 Pada kertas cetak positif, jarak r c
terukur antara fidusial .a dan sebesar
0,000 mm, dan y6 = lll,94 mm.-111,94
Hitunglah xrdany, bilaSrdan 56 226,38 mm dan ) antara frdusial B dan D sebesar 225,95 mm. Jarak r dan y
-
terukur maing-masing sebesar 65,23 mm dan 143,91 mm. yang diperoleh dalam kalibrasi kamera masing-masing sebesar 225,43 mm
5 .4 Sama dengan Soal 5.3, kecuali xo = mm, y, = 0,000 rrtnt, x4 = t) dan 226,7O mm. Hitunglah koordinat pengkerutan terkoreksi l, 2, dan 3
0,000 mm, dan y7 = 113,325 mm. So dan -113,235
.S7 masing-masing terukur sebesar
yang koordinatnya terukur pada kertas sebagai berikut:
165,415 mm dan 56,725 mm.
5 .5 Pada Gambar 5.6, misalnya terdapat kesalahan sistem sumbu .r dan y yang Titik X, mm I/, mm
terbentuk seperti y, = -4,29 mm, ,D 0,05 mm, )c = 0,15 1nI1, dan x6 = 1 20,29
0,40 mm. Hitunglah koordinat terkoreksi = sebuah titik e yang koor- I 48,52 -92,1t
85,75
dinatnya terukur terhadap sistem sumbu yang salah tersebut setresar r. = 3
95,72 mm dan y. = 28,19 nnm. Jarsk fidusial terkalibrasi xd dan yn -l11,08 -102.51
masing-masing sebesar 229,0O mm, 5 .l 3 seperti r terukur pada kertas cetak positif antara
Soal 5.12, kecuali jarak
5 .6 Sama dengan Soal 5.5, kecuali !a= O,?5 fift, 16 = 0,19 mm, )c =
-O,03
fidusial A dan c sebesar 8,691 inci dan y antara fidusial B dn D sebesar
flm, .r4 = --O,43 rlrl .tr, = J5,28 rrrrh, ). = 102,09 mm, dan jarak fidusial 8,978 inci; jarak terkalibrasi antara fidusial yang sama masing-masing
terkalibrasi x^dan y^sebesar 227,42O mm. sebesar 8,830 inci dan 8,825 inci; dan koordinat foto terukur ririk l, 2,
5.7 Sebutkan dan jelaskan dengan singkat berbagai kesalahan sistematik yang dan 3 ialah:
dapat terjadi pada koordinat foto.
5.8 Hitunglah sudut lancip perpotongan garis fidusial suatu jenis kamera yang Titik X, inci Y, inci
disajikan pada Gambar 5.la bila pengukuran komparator pada tanda fidu- (,t rl I 0,575
sial pada pelat sinar (flash plate) sebagai berikut: ,, --2,980
1,546
3
-3,074
Tanda X, mm I, mm
-4,125
-2,300
A 87,294 2r0,223
5.14 Koordinat x'y' berikut (lihat Gambar 5.lD) ditentukan berdasarkan
pengukuran sebuah diapositif dengan fidusial sudut. Hitunglah koordinat
B t99,826 95,996
C 313,054 209,555
titik l, 2, dan 3 pada sistem koordinat foto ry konvensional. Soal ini
D didasarkan pada asumsi bahwa titik utama tepat berada pada perpotongen
200,512 322,768
dua garis yang menghubungkan tanda fidusial sudut yang berhadapan.

5 .9 Sepefi 5.8, kecuali pengukuran pelat sinar berikut: Titik x" mm I', mm
Fidusial A 0.00 0,00
Tanda X, mm f, mm Fidusial B 2l I,88 0,00
A 65.190 215,334 Fidusial C 211,88 2tr,96
B 178,222 t02,to7 FidrsialD 0,00 2tr,96
C 291,950 214,67 | )) I 203,28 81,38
D 178,908 327,879 7 125,9t 107,03
3 57,40 195.82
5. I 0 Apabila perpotongan garis fidusial kamera pada Soal 5.8 tepat pada titik
utama, yang manakah koordinat foto r dan y empat tanda fidusial pada 5.15 Hitunglah koordinat pengkerutan terkoreksi titik l, 2, dan3 pada Soal
sistem foto itu? 5.14 apabila koordinat f,rdusial yang diperoleh melalui kalibrasi kamera
seperti bellkut:
149
148
Hitunglah koordinat foto (hingga terdekat dengan milrometer) terkoreksi
terhadap lengkung bumi (gunakan Persamaan 5.16 dan dicek dengan
Fidusial Kalibrasi r, mm kalibrasi Y, mm
Percunean 5.17). Panjang fokus lensa kamera yang digunrkan untuk
A
-106,19 mcmbuat foto diasumsikan sebesar 6 inci dan tinggi terbang di atas tanah
-106,24
B 105,24
-106,19 sebcsar 15.0m hki.
c to6,24 I 06, l9
D 106,19 r)
-106,24 Titit r. mm )' mm
a 39,820
5 .1 6 Koordinat foto titik a, D, dan c setelah dilakukan koreksi oleh peng-
b
-64,208
79,413 E7,994
kerutan, terdaftar seperti di bawah ini. Hitunglah koordinat foto (ke yang
c
terdekat dengan mikrometer) distorsi radial lensa terkoreksi, dengan -105,3E7 -94,005
asumsi bahwa foto ini dibuat dengan sebuah kamera yang kurva distorsi
radial lensanya seperti tercermin pada Gambar 4'15.
5.20 Scperti Soal 5.19, tetapi tinggi terbang di atas tanah sebesar 10.000 kaki
dan koordinat foto sebesar:

Titik .r, mm y' mm


Titik tr, mm ), mm
a t2,723 21,537
a
b 55,23r -8E,270 -52,781
82, l 89
-64,781
59.260
b 90,047
c
-t15.207 c
-80,725
106.23E

5.1 7 Koordinat foto yang terdaftar di bawah ini telah terkoreksi terhadap
5.21 Sebuah diapositif diletakken pada arena sebuah komparator mono dan
pengkerutan dan distorsi radial lensa. Hitunglah koordinat foto (hingga
diorientasikan sedemikian sehingga pembacaan I bagi titik frdusial A dan
terdekat dengan mikrometer) yang terkoreksi terhadap pembiasan at-
C pada Gambar 5,8 sama besar. Pengukuran yang dilakukan sebagai ber-
mosferik (gunakanlah Gambar 5.15). Lensa kamera yang digunakan untuk
ikut:
memotret diasumsikan mempunyai Panjang fokus sebesar 152,54 mm dan
tinggi terbang di atas permukaan laut rata-rata sebesar 30'000 kaki'
Titik X. mm Y, mm

Titik r, mm )' mm Fidusial A 43,275 165,319


Fidusial B 156, 793 5 1,807
I 28,738 49,2tt
,, Fidusial C 270,313 165,319
57,820
-93,705 Fidusial D 156,799 27E,831
3
-rr7,232 -to2,794 I 260,64t E2,703
2 tgt,24t 228,240
5.1r Sama dengan Soal 5.17, tetapi lensa kameranya dengan panjang fokus 3 t7,59E 77,461
sebesar 88,79 mm, tinggi terbang di atas permukaan laut rata-rata sebesar
40.m0 kaki, dm koordinat foto sebesar (a) Lakukan redutsi koordinat foto bagi titik l, 2, dan 3 terhadap sumbu
koordinat fidueid.
Titik ,, mm Y, mm t) (b) Bila koordinat trkdibrasi titik utame karnera sebesar ro = J),015
I 59,238 7 4,28t mm dan lo = O,U22 mm, yang manakah koordinat titik l, 2, dan 3
, -113,444 tortoreksi tcrhadap rslinyr pada titik utrms?
3
-63,970
ro3,296 (c) Misalnya jarak fidusial terkalitrasi r dan y bagi kamera masing-
-98,730
maring sebesar 226,705 mm dan 226,786 mm. Dengan menggunalcan
5. I 9 Koordinat foto yang terdaftar di bawah ini telah terkoreksi terhadap metodq yang dijolaskan pada Butir 5.11, lakukanlah koreksi
pengkerutan, distorsi radial lensa, dan distorsi pembiasan atmosferik.
150

pengkerutrn terhadap koordinat titik l' 2' dan 3 yang telah ditemukan
pada (D).
BAB
(d) Misalnya kurva disorsi radial lensa kamera seperti digambarkan pada 6
Gambar 15. Lakulanlah koreksi distorsi radial lensa terhadap koordi-
nat titik l, 2, dan 3 yang ditentukan pada (c).
5.22 Jelaskan dengan singkat cara kerja operasional mikrodensitometer a)
FOTO UDARA TEGAK
penyiaman jenis tabung.
5 .2 3 Hitunglah jumlah pixel yang diperlukan untuk merekam densiti informasi
bagi seluruh foto dengan menggunakan mikrodensitometer penyiaman
bagi situasi berikut:
(a) Ukuran pixel = 50 pm bujur sangkar, ukuran foto = 9 inci bujur
sangkar.
(b) Ukuran pixel = 100 pm bujur sangkar, ukuran foto = 35 mm bujur
sangkar.
(c) Ukuran pixel = 12,5 pm bujur sangkar, ukuran foto -- 71 mm bujur 6.I. GEOMETRI FOTO UDARA TEGAK
sangkar.
Seperti telah diterangkan di dalam Bab I, semua foto udara yang dibuat
dari pesawat terbang dengan arah sumbu optik kamera tegak lurus atau sangat
mendekati tegak hrms disebut/oto udara tegak. Apabila sumbu optik tadi
benar-benar tEgak lurus, maka foto yang dihasilkannya diistilahkan sebagai
benor-be.nar tigak turus. Di dalam bab ini, semua rumus dikembangkan
dengan pengertian bagi foto udara benar-benar tegali lurus. Meskipun telah
diusahakan dengan hati-hati agar sumbu kamera tersebut tetap tegak lurus'
juga,
tetapi adanya keiendengan (tilt) kecil masih dapat terjadi. Bagaimanapun
foO udara-yang dianggap tegak lurus tersebut, biasanya mempunyai kesen-
dengan tuiang aadpada 1" dan jarang yang melebihi 3o. Foto udara yang
merigandung liesendangan kecil tak tersengaja semacam ini disebutpto udara
hamf,ir rcgik atatfoto udara sendeng (tilted photograph), dan guna berbagai
tujuan praktis maka foto ini dapat dianalisis dengan meJtqgunakal persamaan-
p"rsurn-n untuk foto udara benar-benar tegak, yang di dalam bab ini bersifat
ielatif sederhana, tanpa adanya kesalahan yang hrarti.
Di samping mengasumsikan foto udara benar-benar tegak, di dalam
bab ini ada asumsi lainnya ialah bahwa sistem sumbu koordinat mempunyai
titik asal pada titik utama foto udara dan bahwa semua koordinat telah
dikoreksi ierhadap penyusuian, distorsi lensa, distorsi pembiasan atmosfer,
t) dan distorsi lengkungan permukaan bumi.
Gambar 6.t melukiskan geometri sebuah foto udara yang dibuat dali
suatu titik pemotretan L. Negatif foto udara yang merupakan kebalikan baik
rona maupun geometri objek yang dipotret, tqrlgtak-p{a jarak.yang sama
dengan p;njan; fokus (arak o'L pida Gambar 6.1) di belakang titik pusat ba-
gia;bef'ak;g iurunan lensa kamera Foto positifnya dapat.diperoleh dengan
iara cetak lingsqpg (contact printing) emulsi-ke-emulsi melalui lembar
152 153

6.2 SKALA
-Skala peta' biasanya diartikan sebagai perlandingan antara iarak di
dalam peta om jorut yang bersangkutan di medan. Dengan cam yang serulxl'
skala fbto uOari menipatan perUanOingan anAra jarak di atas foto 9n
j.rt
a) yang bersangkutan dihe<hn. Di atas pea, q mana pun tttu${lmaka skala
6"olr.t serala. karena peta mempakan hasil proyeksi perspektif, dan.seperti
yarg akan dltunjukkan di sini, skalanya beraneka sesuai dengan perbedaan
ketinggian bentang lahan.
--Staa
dapaldinyatakan dalam unit selara, dalam angka pecahan tanpa
besaran, atau dalam perbandingan tanpa besaron. Sebagai conlgh, apabila I
inci pada peta atau ioto mewakiti 1.000 kaki (12.000 inci) di atas tanah.
Berdasartan uraian tersebut maka skala dapat dinyatakan dengan tiga cara
berikut:
l. Unit setare I inci = 1.000 kaki
2. Angka pecatran tanpa besaran: 1/12.000
3. Perbandingan tanpa besaran: I : 12.000
Hal yang sangat membantu untuk mengingat-inglt ialah bahwa suatu
angka yang Ueiar O aaUm pernyataan skala menunjukkan skala kecil, dan
Uelituluga sebaliknya. Sebagai contoh, 1 inci = 100 kaki lebih besar
daripada I inci= 1000loki.

5.3 SKALA FOTO UDARA TEGAK DI ATAS MEDAN YANG


DATAR
Gambar 6.2 menunjukkan pandangan samping suatu foto udara tegak
yang dibuat di atas medan yang datar. Karena pengukuran--pengukuran lazim'
Gambar 6.1 Geometri sebuah foto udara tegak. irya oiartit dari foto udara positif bukandari negatifnya, maka negatif
tersebut telah dikesampingkan dari tulisan ini dan gambar-gambar yang
negatif foto. hoses ini menghasilkan rona dan geometi yang berkebalikan menyertainya. Skala foto uAara tegak di atas medan yang datar tidak lain
dengan negatif dan oleh karenanya rona dan geomeri foto udara positif benar' menipa.an'p"ruandingan antara jarak dalam foo ab dengan jarak itu juga di
benar sama seperti rona dan geometri objek di lapangan. Secara geometrik, atas tanahAB. Skala iersebut dapat dinyatakan dengan perbandingan antara
bidang cetak positif tersebut terletak pada jarak sejauh panjang fokus kamera panjang jarak fokus kamera dan tinggi t-erpang d] atls tanah H' dengan
/
tsank oL pada Gambar 6.1) di bawah titik pusat susunan lensa bagian depan. ineri,pertitungkan dua segitiga sebangun l^ab dNrL43 sebagai berikut:
Keadaan yang berlawanan dalam hal geometri dari objek di lapangan ke
negatif foto mudah dilihat pada Gambar 6.1 dengan memperbandingkan letak o-d -L (6.1)
titikA, B, C, daurtD, dengan letak titik-titik yang bersangkutan yaitu a', D', "-AB-H
c', d' dinegatif foto. Hubungan geometrik objek di lapangan dan foto positif-
Dari Persamaan 6.1 dapat dimengerti bahwa skala foto udara tegak
nya juga telah menjadi jelas. Sumbu koordinat r dan y yang diuraikan dalam
berbanding langsung dengan jarak fokus kamera (arak gambar) dan berban-
Bab 5, ditunjuk*an pada foto positif dalam Gambar 6.1.
ding terbatik dengln tinggi di atas trnah (iarak objek).
154 155

Misalkan sebuah foto udra tegak dibuat dari titik pemotrretan z di atas
medan yang kasar pada Gambar 6.3. Titik di permukaan tanah A dan g
lergambar dalam foto udara berturut-turut di titik a dan b. skala foto pada
ketinggian ft, yainr ketinggian titik A dan B, menrpakan perbandingan antara
iaakab $ {as foto dengan jarakA^B di atas tanah. Dari dua segitigisebangun
Lab dan L B didapat kenyataan bahwa skala Sas adalah:

^dLa
>AB=TE=lA (a)

Juga dari segitiga sebangun InaA dan laa,


ortik
ir-sumbu
La_ f
tl=n--n (b)

Dengan substitusi Persarnaan (b) ke dalam persamaan (a),

ndf
t*=A:B = fr
- n k')
Dengan mengambil jarak AB yurg sangat pendek maka persamaan (c)
Gambar 6.2 Kenampakan dua dimensional foto udara/tegak yang dibuat di atas tersebut
!*gTv3 ikur mengecil hinggamenggambarkan skala foto udarapada
medan datar. suatu titik saja. Pada garis besarny4 dengan menghilangkan tanda trurur oi
b-awah,-maka skala pada sembarang titik dengan ketinggian lr di aas bidang
datum dapat dinyatakan sebagai:
Contoh 6.1
Suatu foto udara tegak hasil pemotretan di atas medan datar yang oo_ =i=if (6.2)
menggunakan kamera dengan panjang fokus sebesar 6 inci (1524 mm) pada
ketinggian terbang 6.000 kaki dari aras hnah. Berapakah besarnya skala foto Dalam Persamaan 6.2, penyebur (H }) merupakan jarak antara
tersebut?. -
kamera dengan objek. seperti halnya dengan persamaan 6.1 maka di dalam
Berdasarkan Persamaan 6. I : persamaan ini skala foto udara tegak dipandang sebagai perbandingan antara
jarak gambar dan jarak objek. semakin pendek jarat ouiet (semakin dekat
s =i,=#ti!ih=miik =uD.o,,= 1: r2.ooo jarak antara medan ke kamera), maka semakin besar stcatd oan demikian pula
sebaliknya. Untuk foto udara tegak yang dibuat di atas medan yang kasar
terdapat berbagai perbedaan skala yang tak terhitung jumlihnya. Ini
merupakan salah satu perbedaan yang mendasar antara foto dan peta
6.4 SKALA FOTO UDARA TEGAK DI ATAS MEDAN YANG
TIDAK DATAR
6.5 SKALA FOTO RATA.RATA
Apabila medan yang dipotret mempunyai ketinggian yang beraneka,
maka jarak objek yang merupakan penyebut skala di dalam Persamaan 6.1 Seringkali lebih mudah dan lebih dikehendaki untuk mempergunakan
akan berbeda-beda pula, sebagai akibatnya maka skala di dalam foto tersebut suatu stalc rata-ratd guna menyatakan secara umum skala suatu foio udara
menjadi berbeda-beda pula. Skala foto semakin besar dengan bertambah tegak yang diambil di atas daerah png kasar. skala rata-rata merupakan skala
besarnya ketinggian medan dan menjadi semakin kecil dengan seniakin pada ketinggian rata-rata medan yang terliput oleh suatu foto udara teflentu
rendahnyamedan. dan dinptakan sebegai:

/',
/
156 157

c- (6.3)
orata-rata -H_ hr^tr-r"r^

Apabila digunakan suatu skala rata-rala, harus dimengerti bahwa hal


itu hanya tepat bagi titik-titik yang terletak pada ketinggian rala-ratr saja, dan
merupakan suatu skala semu bagi seluruh daenh dalam foto tersebut. ,)

Contoh 6.2
Misalkan titik tertinggi di medan hr, rata-rata ketinggian medan
hrob-ro,o dan titik terendah h2 dalam Gambar 6.3, di atas permukaan air laut
rata-rata secara berturut-turut sebesar 2.000 kaki, 1.500 kaki, dan 1.000 kaki.
Hitunglah besarnya skala terbesar, skala terkecil dan skala rata-rala apabila
tinggi terbang di atas pemukaan air laut ruta-rata adalah 10.000 kaki dan
panjang jarak fokus kamera adalah 6 inci (152,4 mm).
Dengan menggunakan Persamaan 6.2, (skala terbesar terdapat pada
ketinggian tertinggi). I

-1- --1--
I
I
_I
- f 6inci 6inci ata-rala -,' hl
umaks -fl h1- (10.000 2.000) kaki - 8.000 kaki medan
h

- - h'ur'

=*ffi= l:
I

l/16.000= 16.ooo

S-i, _ f _ 6irncr 6 inci


-H-i2-(10.000-
H-hz 1J00) k?kt = 9.000 koki
=*ith= r/r8.ooo= r: l8.ooo Gambar 6.3 Skala suatu foto udara tegak di atas daerah yang kasar dan (skala
terkecil terdapat pada ketinggian terendah).

Berdasarkan Penamaan 6.3, -6.4b, c dan d berturut-turut diambil dari ketinggian terbang rata-rata di atas
permukaan tanah sebesar 3.000 kaki, 6.000 kaki dan 12.000 kaki yang
6 inci
c_f_ -
urata-rata
H hrar,_rata (10.000 =- 6 inci
1.500) kaki 8.500 kaki
menghasilkan skala foto rata-rata berturut-turut sebesar 500 kaki/inci, 1.000
- - kakVinci dan 2.000 kakVinci.
=#ffi =un.ooo= l: r7.ooo

Di dalam setiap Persamaan 6.1, 6.2, dut 6.3 perlu diperhatikan bahwa 6.6 BEBERAPA CARA LAIN UNTUK MENENTUKAN SKA.
ketinggian terbang selalu muncul sebagai penyebut pecahan. Jadi, untuk LA FOTO UDARA TEGAK
suatu kamera dengan panjang fokus tertentu, apabila tinggi terbang (H
bertambah besar, maka skala akan mengecil. Gambar 6.4a hingga d melu-
-h) Dalam bab yang terdahulu, beberapa pers:rmaan telah dikembangkan
kiskan dengan jelas tentang pengertian tersebut. Masing-masing foto udara dengan memperhitungkan panjang fokus kamera, tinggi terbang dan keting-
tegak tersebut itu dipotret dengan menggunakan kamera dalam format 9 inci gian medan. Akan tetapi ada cara-cara lain dalam penentuan skala yang tidak
(28 cm) dan jamk fokus sebesar 6 inci (152,4 mm). Foto udara pada Gambar memerlukan pengetahuan tentang nilai-nilai tersebut tadi.
6.4a diporet dari ketinggian terbang 1.500 kaki di atas permulcaan tanah rata- Suatujarak di permukaan tanah dapat diukur anara dua buah titik yang
rata, menghasilkan skala foto rata-rata 250 kaWinci. Foto dalam Gambar gambarnya tampakdi atas foto udara. Sesudah jarak di atas foto untuk titik-
158 159

titik tersebutjuga diukur, maka secara sederhana dapat dinyatakanbahrra skala


tersebut merup-akan perbandingan antara jalak di atas foto dan jarak di atas
tanah. Skala yang diperoleh tersebut hanya tepat pada ketinggian tanah tempat
garis itu ueraaa, oai apabila garis tersebut berada di sepanjang lereng, maka
IUa yarg diperoleh berlaku bagi ketinggian rata-rata dari kedua ujung garis
tersebut tadi.

Contoh 6.3
Jarak mendatar AB antffia dua buah pusat perpotongan jalan diukur di
atas tanah adalah 1.320 kaki. Garis tersebut tampak di atas foto udara tegak
iebagai ab dengan ukuran 3,77 inci. Berapakah besarnya skala foto pada
ketinggian rata-rata garis ini?
Jawaban

tu inci I inci
s^ =ffi=
3,11
i32ffi= 3sofr,ki =m=
1
t:4'200
Skala foto udara tegak dapat juga ditentukan apabila dapat diperoleh
peta yang meliput daerah yang sama dengan liputan foto tersebut. Di dalam
metode ini perlu diukur, di atas foto dan di atas peta, jarak antala dua buah
titik yang dlah ditentukan dengan pasti dan dapat dikenali baik di atas foto
maupun di atas peta. Selanjutnya skala di atas foto dapat dihitung dengan
pers:rmaan berikut:

s = P954!9*P x skara peta (6.4)


ol atas peta
laral(

Contoh 6.4
Dalam suatu foto udara tegak, ukuran panjang suatu landasan terbang
sebesar 6,30 inci. Di atas suatu peta yang berskala I: 24.000, panjang
landasan terbang tersebut sebesar 4,06 inci. Berapakah skala foto tersebut pada
ketin g gian landasan terban g?
Berdasarkan Persamaan 6.4:

, = ffiffi, ,k = ufi.4,Oatau I inci = 1.290 karki

Skala suatu foto udara tegak dapat juga ditentukan tanpa bantuan jarak Gambar 6.4 Empat buah foto udara dibuat dari atas Madison, Wisconsin, menun-
yang diukur di atas tanah atau di atas peta, apabila terdapat garis di atas foto juk'kan pcrbds8n skrla rebagai akibat perubahan tinggi terbang. Masing-masing
yang secara umum telah diketahui panjangnya. Sebagai contoh, "potongan- foto dibuat dengan ccbush kurera dengan format 9 x 9 inci (23 x ?3) dan panjang
potongan garis" yang diketahuipanjangnya 1 mil, atau suatu lapangan sepak-
fohrg lcnsr rebeur 6 inci. Gb. a, tinggi terbang ;ebesar 1500 kaki di atas
bola atau lapangan baseball, dapat diukur pada foto, dan selanjutnya skala foto ketinggiur ratr-ntr troth dEn skalr rata foto sbesar 250 kaki per inci. Gb. b, c,
r60 l6l
dapat dihitung sebagai angka perbandingan antara jamk di atas foto dan jarak
yang telah diketahui panjangnya di atas tanah.
Contoh 6.5
Berapakah besarnya skala suatu foto udara tegak yang memuat suatu
rl bagian garis dengan ukuran 5,93 inci.
Jawolnn
Bagian garis tersebut dinyatakan sebesar 5.280 kaki (Pada kenya-
taannyajarak tersebut dapat berbedajauh dari harga tersebut). Secara mudah
skala foto merupakan angka perbandingan antara jarak yang diukur di atas foto
dan jarak di atas tanah, aiau

r=#ffi=#ffiatauI:lo.7oo
Di dalam setiap cara penentuan skala yang dibicarakan pada bagian ini,
perlu diingat bahwa skala yang didapat berdasarkan perhitungan tersebut hanya
berlaku pada ketinggian letak garis di atas tanah yang digunakan untuk
menentukan skala tersebut.

6.7 KOORDINAT MEDAN DARI SUATU FOTOGRAFI VER.


TIKAL
Koordinat berbagai titik di medan yang gambarnya tampak pada suatu
foto udara tegak dapat ditentukan berdasarkan atas suatu sistem koordinat
medan yang ditentukan secara sembarang. Salib sumbu X dutY yang dibuat
di atas medan berturut-turut terletak dalam bidang yang sama dengan salib-
sumbu x dan y pada foto, dan titik pangkal sistem tersebut terletak pada titik
utama datum (yaitu titik pada bidang datum yang terletak tepat tegak lurus di
bawah titik pemotretan dari udara).
Gambar 6.5 menunjukkan suatu foto udara tegak yang dibuat dari ke-
tinggian terbang H di atas bidang datum. Titik o dan b merupakan lambaran
pada foto bagi titik A dan titik B yang ada di medan, dan koordinat kedua titik
tersebut yang diukur pada foto adalah xa, ya, xb, dan y6. Sistem salib-sumbu
koordinat yang sesuai dengan itu di atas tanah adalah X danY, dan koordinat
titik A dan B di dalam sistem tersebut ialah Xa, Ye, Xa, dan I'3. Dari
(j segitiga-sebangun La'o dan LA'Aodapat dituliskan persamiun berikut ini:
N'_ f _xa
dand,tinggiterbangdiatasketinggia.ntanahrata-rat&,berturut-turutsebesars00 AA'.- H--:Ti- n
tdn, ;iIt6, aan tzlooo iru, a*?"ta rata-retanvs *t!:rytiTlt 1!1lan daripadanya diperoleh
i;kt p", il: iOm 1,1i p"ilnti, a* 2.0m kaki pei inci. (Seizin Negara Bagian
Wisconsin, Departemen Perhubungan), xA=xo+) (6.s)
163
162

YB=yt(ry) (6.8)

Dengan mempelajari Persamaan 6.5 hingga 6.8, dapat dimengerti bah-


wa toaOinat medan X Oan f Oari titif mana pun dapat diperoleh secara mudah
hanya dengan mengalikan koordinat foto x dan y dengan penyebut skala foto
-Dengan
paOi titif iersebut mengetahui koordinat medan kedua buah titik A
ilan B tersebut, maka panjang garis horisonf^l AB dapat dihitung, dengan
menggunakan teorcma pitagoras, sebagai berikut

AB=W (6.e)

I
")\ APB sudut horisontal juga dapat dihitung sebagai berikut
__t 8,,

-\-
+)'
MB =90o + tan-r (X) -*-' (r? (6.10)
\
Untuk dapat menggunakan Persamaan 6.5 hingga 6'8, perlu mengeta'
hui panjang fokus kamera, tinggi terbang di atas bidang dotll,ketinggian
titikdi itas UiOang datum, dan koordinat foto tilik tersebut. Koordinat foto
dapat diukur dengan mudah, panjang fokus kamera biasanya dapat diketahui,
dan tinggi terbang di atas bidang datum dihitung dengan carayang telah dibi-
carakan pada Suiir 6.9. Ketinggian semua titik dapat diperoleh secara lang-
sung dengan pengukuran di lapangan, atau dapat diambil dari pela topografi
yang ada

Contoh 6.6
Suatu foto udara tegak dibuat dengan sebuah kamera yang panjang fo-
Gambar 6'5 Koordinat medan ditentukan dari foto udara tegak' kusnya sebesar 6 incl(1521mm), dari ketinggian terbang 4.530 kaki di atas
I
bidarig datum. Gambar titik A dan di atas tanah nampak sebagai titik a dan
b pa6 foto udara, dan koordinat foto kedua titik tersebut (setelah dikoreksi
Demikian juga, dari segitiga-sebangun La"o dan LA"A, pengkerutan ke(as dan distorsi) sebesarxo = mm,./o = -482'1 mm,
-52'35
panjang garis mendatar AB
_N':__ f _ Js- h
xt = 40,& mm, dan = 43,88 mm. Hitunglah
apabila ketinggian titik A dan B berturut-turut di atas datum adalah 670 dan
AA"- H - hy- Y6 485 kaki.
daripadanya diPeroleh tl I I Perhitungan. Berdasarkan Persamaan 6.5 hingga 6.8'
/H
yA=!o\- -f-)4A\ (6.O
-ffi ?s (4.530 -
x n = -{, 67 0) =
-1.326
L'aki

Dengan caxa yang sama' makakoordinat medan untuk titikB adalah


yA=B.,?
-48i'?7 yakt
_|.LLJ Ea,il
(4.530 670) = -t.z23
tH _ LL\ (6.7) -
XB = xb\_ y_l
165
r&
lurus, dan olehkarenanyaA'AaLoP juga sebuah bidang tegak. BidangA'a'
-#(4.530 485) = 1.079 kaki LoP }uga merupakan sebuah bidang tegak yang berimpitan dengan bidang
xB =
- A'AaLoP. Oleh karena bidang-bidang ini berpotongan dengan bidang foto
berturut-turut di sepanjang gais oa dan oa', maka garis aa' (perpindahan leak
,, =ffi(4.530 - 48s) = 1.165 kaki titikA karena relief, disebabkan ketinggiannya sebesar ftJ radial terhadap
titik utama foto.
Berdasarkan Persamaan 6.9,

aa = fi .Ozg * 1.326)2 + (1.165 + 1.223)2

= {(z.aos)2 + (2.388)2 = 3.389 kaki.


Seperti telah dibicarakan di depan, koordinat medan yang diperhitung-
kan melal-ui Persamaan 6.5 hingga 6.6 dibuat dalam sistem koordinat tegak-
lurus secara bebas. Apabila rooroinat yang bebas ini diperhitungkan untuk
juga
dua buah titik "rujukan" atau lebih (yaitu titik-titik yang koordinatnya
absolut seperti halnya pada sistem
Oitetatrul dalam sistem koordinat medan
koordinat suatu negara), maka semua koordinat titik-titik yang dibuat secara
bebas untuk foto udara tersebut dapat diubah sama sekali ke dalam
sistem
dibicarakan dalam
koordinat medan tersebut. Metode pengubahan tersebut
B, dan diberikan sebuah contoh soal. Dengan
suiir S.z hingga 8.5 Lampiran
menggunakai-persa*aan 6.5 hingga 6.8 dapat dikerjakan seluruh penelitian
plani-rietrik untuk daerah yang terliput oleh suatu foto udara'
/,t ,,
6.8 PERPINDAHAN LETAK GAMBAR OLEH RELIEF DA'
LAM FOTO UDARA TEGAK
,/,4
Perpindahan letak gambar oleh relief merupakan penggeseran atau
perpindahan letak suatu kedudut<an gambar objek yang disebabkan karena
ietief, yaitu karena letak ketinggiannya di atas atau di bawah bidang datum
yang dipakai. Dalam kaitannya dengan suatu bidang datum' latra perpindahan
i.m[ knr"nu relief ini mengarah keluar bagi titik-titik yang ketileCiannya ada
di atas bidang datum, da, *engarah ke dalam bagi titik-titik yang
ketinggiannya berada di bawah bidang datum.
--Pengertian
tentang perpindahin letak gambar oleh relief ini dilukiskan Gambar 6.6 Perpindahan letak oleh relief pada foto udara tegak.
di dalam dambar 6.6, yang menggambarkan suatu foto udara tegak yang (r
dibuat dari ketinggian teiUang H di atas bidang datum. Panjang fokus kamera Suatu persamaan untuk menilai perpindahan letak oleh relief dapat
iuf.onf, Oan o m-efupakan titik pusat foto. Gambar titik A yang ketinggian diperoleh dengan cara melihat hubungan segitiga sebangun Lao dan LM,
medannya sebesar la a atas bidang datum, tergambar pada titik a dalam foto dalam Gambar 6.6 sebagai berikut
u4ara. Suatu titik A'kita bayangkan terletak tegak lurus di bawah A
pada
uio-g datum dan kedudukan gambarnya dibayangkan juga terletak di a'. Pada rf
gamblr rcrsebut, baik A A maupun PL keduanya merupakan garis-garis tegak ;{=f tA atau: r(H-h1) =fR @
t6 t67

Jugq dari segitiga sebangwr La'o dan IA'P,

r'H =fR
i=* arrrt: (e)

Dengan mempenamakan (d) dan (e),

r(H-t'.r) = v'tt
Dengan mengganti simbul d dengan (r r) maka
-
.rh
,l= (6.1 l)
H
di mana d - perpindahan letak lcarena relief
i = tinggi objek di atas datum, yang gambarnya mengalami
perpindahan
r - jarak radial antara titik pusat foto udara ke gambaran
objek yang mengalami perpindahan letak (satuan ukuran
d dan r han:s sama).
H= tinggi terbang di atas bidang datum yang dipilih unruk
pengukuran l.
Persarnaan 6.1I merupakan persamaan dasar bagi perpindahan letak
oleh relief untuk foto udara tegak. Penelaahan terhadap persamaan ini
menunjukkan bahwa perpindahan lerak oleh relief itu menjadi bertambah
besar sesuai dengan pertambahan jarak radial ke gambar suatu objek, dan juga
bertambah besar sejalan dengan bertambah tingginya titik pada objek di atas
datum. Sebaliknya, perpindahan semakin berkurang sesuai dengan pertam-
bahan tinggi terbang di aras datum. Ditunjukkan pula bahwa perpindahan
letak oleh relief tersebut terjadi secara radial mulai dari titik utama foto.
Gambar 6.7 mencerminkan suatu foto udara tegak yang menggambar-
kan secara jelas mengenai perpindahan letak gambar oleh relief. Perlu diper-
hatikan benar-benar tentang pengaruh yang nyata perpindahan letak oleh relief Gambar 6.7 Foto udara tegak dengan pepindahan letak oleh relief. (Seizin sta;r
ini pada dua cerobong kembar di bagian kiri atas foto tersebut. Perhatikan ofWisco.nsin, Department of Transportation).
juga bahwa perpindahan letak oletr relief itu terjadi secara radial mulai dari
titik utama foto udara. Pola radial ini juga sangat jelas bagi perpindahan letak terhalang dari pandangan. Beberapa contoh tentang hal ini terlihat dalar,
oleh relief dari semua gedung yang menjulang tegak dan untuk tangki penam- Gambar 6.7 misalnya jalur jalan kereta api di bagian kiri bawah foto tersebut
pung pada bagian kiri bawah foto ini. t) lt tertutup oleh perpindahan letak gambar tangki-tangki penampung yang besar
Perpindahan letak oleh relief seringkali menyebabkan jalan yang lurus, karena relief.
jalur pagar dan sebagainya, di daerah bergelombang nampak melengkung pada Ketinggian objek secara tegak seperti bangunan gedung, tiang pancang
foto udara. Hal ini benar-benar terjadi terucama apabila jalan dan pagar dan sebagainya yang tampak tergambar pada foto udara, dapat diperhitungkan
semacam itu tergambar di dekat pinggiran foto. Parah atau tidaknya lengkung- melalui perpindahan letak gambar oleh relief. Untuk keperluan ini, Persamaan
an tersebut tergantung kepada besar kecilnya keanekaragaman medan. 6.11 dapat ditulis kembali sebagai berikut:
Perpindahan lerak oleh relief menyebabkan beberapa kenampakan gambar .dH\
h=- (6.t2)
f
I

168 r69

Dalam menggunakan Persamaan 6.12 untuk penentuan ketinggian,


diperlukan baik gambar puncak maupun dasar objek tegak tersebut. Persa-
maan 6.12 sangat berharga bagi para penafsir foto yang seringkali mem-
perhatikan tinggi objek secara nisbi daripada ketinggian absolut.

Contoh 6.7 at
Foto tegak pada Gambar 6.7 diambil dari ketinggian 1.750 kaki di atas
muka air laut rata-rata. Ketinggian tempat tepat pada dasar cerobong dalam
foto di sebelah kiri atas adalah 850 kaki di atas permukaan air laut ratra-rata.
Perpindahan letak cerobong oleh relief, d, terukur sebesar 2,13 inci' dan jarak
radial ke puncak cerobong yang diukur dari pusat foto sebesar 4,79 inci. Bera- ,/
pakah tinggi cerobong tersebut?

Jawafun
Dipilih datum pada dasar cerobong. Jadi tinggi terbang di atas datum adalah
H = 1.750 kaki
- 850 = 900
Berdasarkan Persamaan 6. 12,

, _ 2, l3(900) 4oo kaki I


r, - 4,79 =

Persamaan 6.I I dapat digunakan untuk menghitung perpindahan letak Gambar 6.E Koreksi perpindahan letak karena relief sepanjang garis radial ke
gambar dalam kaitannya dengan datum, dan selanjutnya kedudukan gambar arah titik pusat foto udara.
dikoreksi terhadap kedudukan datum dapat ditentukan dengan jalan mengukur-
kan jarak perpindahan letak gambar pada garis-garis radial mengarah ke titik laut rata-rata. Hitunglah besamya perpindahan letak oleh rclief aa', bb' dan cc'
utama foto seperti ditunjukkan dalam Gambar 6.8. Gambar yang telah yang diperlukan untuk menetapkan letak c', b'dan c' berdasar kedudukan
dikoreksi berdasarkan datum ini mempunyai letak relatif yang secara datum, dan hitunglah skala di atrs bidang datum.
planimetrik benar, tepat seperti yang seharusnya tergambar di atas peta pada
skala datum fotografik. Skala datum dapat dihitung dengan Persamaan 6.1 l, Jawahn
menggunakan H di atas bidang datum dalam penyebut skala. Dari letak-letak Dengan Persamaan 6.11,
gambar yang telah dikoreksi terhadap datum ini maka sudut, jarak, dan luas
dapat diukur tepat sama seperti pada peta.
*,Jtu_{]ffi= n,73 mm
Contoh 6.8
Gambar 6.8 menggambarkan sebuah foto tegak yang dibuat dari ke- 6Jila=t*ffi =7,7tmm
tinggian terbang 6.500 kaki di atas bidang datum dengan kamera yang mem-
punyai panjang fokus 6 inci (152,4 mm). Dalam foto tersebut, titlk a, b, dan
c adalah gambar titik-titik sudut berbentuk segitiga pada sebidang tanah hak
.",J.Jc.-*#,
H 6.51
= 4,85 mm
milik. Jarak radialnya dari titik utama foto berturut-turut sebesar 91,42 mm,
Berdasad<an Persamaan 6. 1,
83,50 mm, dan 70,06 mm. Ketinggian titik-titik A, B, dan C di medan
berturut-turut sebesar 835 kaki, 600 kaki, dan 450 kaki di atas permukaan air r 6inci linc!_=l:l3.ooo
g
Skala datum
fr = affi,ra = t-bTJiux,
170 t7t

Perhatikan:kedudukan a', b'dan c'berdasar datum dalam Gambar 6'8 Tinggi terbang dapat ditentukan secara teliti sungguh pun titik-titik
diperoleh dengan mengukur jarak aa' , bb', dan cc' sepanjang garis-garis radial ujung garis tersebut terletak pada ketinggian yang berbeda. Cap ini memer-
ke titik pusat foto. lukan pengetahuan mengenai ketinggian titik-titik ujung serta panjang gans
tersebut. Misalkan sebuah garis AB di permukaan tanah tergambar pada foto

6.9 TINGGI TERBANG FOTO UDARA TEGAK 'to i udara tegak dengan titik-titik ujung a dan b. Panjang garis AB di atas tanah
dapat dikemukakan dalam pengertian satuan koordinat medan dengan teorema
Pitagoras sebagai berikut:
Dari pembicaraan di depan jelas bahwa tinggi terbang di atas datum (AB)2 = 6B X,iz + (Yn
merupakan suatu kuantitas penting yang seringkali diperlukan untuk - -Yiz
pe*eiahun persamaim dasar dalam fotogrametri. Sebagi contoh perlu dicatat Dengan substitusi Persamaan 6.5 hingga 6.8 ke dalam persamaan di
Lahwa parameter ini muncul di dalam skala, koordinat medan dan dalam atas menghasilkan
p"rro*ion perpindahan letak oleh relief. Untuk perhitungan secara kasar,
iinggi terUang Oapat diambil dari pembacaan altimeter. Tinggi ter.bang dapat
juglaliperolen dengan menggunakan Persamaan 6.1 atau 6.2 apabila terdapat
(AB)2 = 17 *- ur)
-7 @ - hi)z
giir Oi atas tanah yang telah diketahui panjangnya dan rampak pada foto .Ww-hil-'f<,*rn>)' (6.r3)
idara. Cara ini menghasilkan ketinggian terbang secara tepat bagi foto udara
benar-benar tegak apabila kedua ujung garis tersebut terletak pada ketinggian Satu-satunya yang tidak diketahui di dalam Persamaan 6.13 hanyalah
yang sama. Seiara umum maka semakin besar perl-.edaan ketinggian kedua tinggi terbang H. Apabila semua nilai yang diketahui dimasukkan ke dalam
uiurig garis tersebut, semakin besar kesalahan dalam memperhitungkan tinggi peisamaan tersebut, maka bentuk kuadrat itu, menjadi sederhana, al* + bH +
terba"n[. Oleh karena itu garis di atas tanah tersebut sebaiknya terletak di atas c=0.
medariyang cukup datar. Walaupun kedua ujung garis di atas. tanah-tersebut
tertetat'paa''a ketinggian yang berbeda tetapi hasil yang teliti dapat diperoleh (6.14)
dengan iara ini apaUita gambar ujung-ujung garis tersebut kurang lebih
meripunyai jarak yang sama dari titik utama foto dan terletak pada garis yang
melaiui titik utama tersebut. Contoh 6.10

Contoh 6.9 Sebuah foto udara tegak dibuat dengan kamera yang mempunyai
panjang fokus sebesar 5,998 inci (152,3 mm). TitikA dan titik B di medan
Sepotonggaristerletakdiatasmedancukup.datar^'Hitunglahperkiraan berturut-turut mempunyai ketinggian 1.435 kaki dan 1.461 kaki di atas muka
tinggi ter6ang Ii"utus medan tersebut apabila panjang fokus kamera sebesar air laut, serta jarak mendatar AB sebesar 1.919 kaki. Gambar titik A dan B
l,iin"i (88,f mm) dan panjang potongan garis tersebut pada foto sebesar nampak di foto sebagai a danb dan koordinat foto yang diukur ialah xo=
3,70 inci. 0,717 inci, Ja = inci, x6= 4,31'l inci, dan )a = --O,835 inci. Hi-
-2,414
tunglah tinggi terbang foto tersebut di atas muka air laut.
lawahn
(Dimisaikan panjang garis tersebut sebesar 5.280 l<aki)' Jawaban
Dengan Persamaan 6.1, It Dengan Persamaan 6.13,
3.70 inci 3,5 inci
5.280 kaki - H' (t.errz = lffira - L46t)
-ffiw- r.43r]2
jadi, . t#|t @-t.461)-ffirr- r.435)12

lr' - 5'2$0(1'5)
rt = 5.000 kaki di atas medan. Disederlranakan, -
3.70
r72 173

(1.919)2 - (0,ffi02H 88012 + (A,2633H tertinggi, maka sebaiknya digunakan persamaan-persamaal untuk foto
- -375\2 sendeng @a Bab 11. Bagi metode yang dibicarakan dalam bab ini, kesalahan-
Menghitung nilai kuadrat dan menyusun dalam bentuk persamiurn kuadrat, kesalahan yang disebabkan oleh distorsi lensa, pembiasan oleh udara, dan
1.235H 2.767.536 = 0 lengkungan permukaan bumi, secara relatif kecil dan umumnya dapat
0,4295H2
- - diabaikan.
Mencari nilai H dengan Persamaan 6.14, li Suahr pendekatan yang sederhana dan langsung dalam memperhitung-
kan pengaruh gabungan dari beberapa kesalahan acak terhadap jawaban-
n=ffi
t, t.zsl * jawaban yang diperoleh dari perhitungan, harus dipertimbangkan secara
terpisah mengenai pengaruh masing-masing sumber kesalahan tadi terhadap
jawaban-jawaban tersebut. Pendekatan ini meliputi perhitungan tingkat'
r.2$ r' 2.51! 4.382 kaki.
=@1 = tingkat perubahan dalam kaitannya dengan masing-masing variabel yang
mengandung kesalahan dan hanya memerlukan ilmu hitung diferensial
Catatan: Dipilih nilai akar positif, karena nilai akar negatif yang sederhana. Sebagai contoh pendekatan dengan cara ini, dimisalkan bahwa
diperoleh tidak masuk akal. suatu foto tegak dibuat dengan kamera yang panjang fokusnya 6,000 inci.
Dimisalkan juga bahwa jarak AB di permukaan tanah yang datar sebesar
5.000 kaki dan bahwa jarak gambar di atas foto ab, diukur sebeqn 5,00 inci.
6.10 PENILAIAN KESALAHAN Tinggi terbang di atas tanah dapat dihitung dengan menggunakarl Persamaan
6.1 sebagaiberikut:
Jawaban-jawaban yang diperoleh dalam memecahkan berbagai persa-
maan yang disajikan di dalam bab ini akan mengandung kesalahan'kesalahan a' =f# =u,* a% = 6'ooo kaki'
yang tidak dapat dihindarkan. Perlu disadari tentang adanya kesalahan'ke-
salahan yang tidak dapat dihindarkan. Perlu disadari tentang adanya kesalahan- Sekarang, diminta untuk menghitung kemungkinan kesalahan dH'
kesalahan ini dan agar dapat diperoleh harga-harga yang mendekati benar. yang disebabkan oleh kesalahan-kesalahan dalam pengukuran jarali AB dan ab.
Kesalahan-kesalahan di dalam jawaban perhitungan tersebut sebagian disebab- Ini dikerjakan dengan mengambil turunan-turunan dalam kaitannya dengan
kan oleh kesalahan acak di dalam angka hasil pengukuran yang digunakan di masing-masing harga yang di dalamnya mengandung kesalahan. Umpamakan
dalam perhitungan dan sebagian lagi karena kegagalan asumsi'asumsi tertentu bahwa kesalahan jarak di lapangan dAB adalah +1,0 kaki dan kesalahan jarak
yang dipakai. Beberapa di antara sumber kesalatran yang lebih penting dalam yang diukur di foto, daD, sebesar t0,01 inci. Kesalahan pada dH' yang dise-
memperhitungkan nilai sewaktu menggunakan persamarm-persamaan dalam babkan oleh kesalahan jarak dAB dt medan dapat dinilai dengan mengambil
bab ini ialah: turunan dH'ldAB sebagai berikut:
1. Kesalahan-kesalahan dalam pengukuran pada foto, misalnya panjang garis dH,
atau koordinat foto. dAB- d
-L
2. Kesalahan-kesalatnn dalam kontrol medan. Nilai dH' sekarang dapat diperoleh dengan mensubstitusikan nilai
3. Pengkerutan serta pengembangan filrn dan kertas. pecahan ke dalam persamaan diferensial tersebut di atas, sebagai berikut:
4. Foto sendeng (titled photo) yang dianggap sebagai foto tegak
Sumber I derrt? dapat diperkecil apabila digunakan alat yang teliti dan .) *'=i*=ffi l,o = tl,2 kaki
hati-hati dalam menjalankan pengukuran. Sumber 3 secara praktis dapat dihi-
langkan dengan mengadakan koreksi seperti yang telah diterangkan dalam Dengan cara yang sama, kesalahan dH yang disebabkan oleh kesalahan
y'a$gd,qletr
Butir 5.11. Besarnya kesalahan yang disajikan dalam sumber 4 tergantung
kepada besar kecilnp kesendengan. Secara umum apabila foto di atas kertas,
rnaka kesalatran ini tetap sama dengan sumber-sumber kesalahan yang lain.
Apabila foto tersebut sangat sendeng, atau kalau diinginkan ketelitian yang
dH' = (ffir,, =
ffiP o,ol = +12,0 kaki
174 175

Dalam contoh ini, besarnya kesalahan total pada H'disebabkan oleh (c\ ab = 5,83 mm; z{3 = 875 mil
efek gabungan dua buah sumber kesalahan )ang dapat mencapai angka sebesar (d) ab - 4,65 mm; AB = 9.305 rod.
13,2 kaki. Kesalahan itu semua umumnya bukan merupakan hasil 6.2 Sama dengan Soal 6.1, menggunakan nilai-nilai ab danAB di bawah ini
penjumlahan dari masing-mashg penyebab kesalahan secara sendiri-sendiri, (Berikan jawaban dalam angka perbandingan tanpa besaran).
melainkan disebabkan karena sifat saling menghapus oleh kesalahan acak (a)ab = 189,5 mm; AB = 429,5 m
tersebut. Memang, efek gabungan itu semua sebaiknya diperkirakan sebagai t) (b)ab = 148,3 mm; AB = 3.7M kaki
akar pangkat dua dari penjumlahan masing-masing kesalahan pangkat dua, (c)ab = 195,7 mm; AB = 0,798 mil
atau (d)ab = l2O0 mm; z{8 = 80,00 rod.
6 .3 Pada sebuah foto udara tegak, dua buah bagian sudut tampak terpisatr sejauh
dH'rct^t=.n 2*(12^0)2 =Jlz,l kaki 2,95 inci. Berapa skala foto pada ketinggian tempat potongan garis
trsebut berada?
Perlu diingat bahwa kesalahan pada H'yang disebabkan karena kesa-
Iahan dalam pengukuran jarak foto ab adalah yang paling berat di antara dua
5.4 Pada foto tegak terdapat sebuah lapangan sepakbola kepunyaan Perguruan
tinggi, benrkuran 0,73 inci jarak dari gawang ke gawang (100 yd). Berapa
buah sumber penyebab kesalahan tersebut. Oleh karenanya untuk meningkat- skala foto tersebut pada ketinggian tempat lapangan itu berada?
kan ketelitian nilai perhitungan H', kiranya perlu memperbaiki jarak terukur
dalam foto menjadi nilai yang lebih teliti. Kesalahan dalam menghitung
6 .5 Suatu gabungan antars semi-traktor dan trailer yang diketahui panjangnya
55 kaki, ukuran panjangnya pada foto udara tegak sebesar 0,39 inci. Bera-
jawaban dengan menggunakan persamiuur yang disajikan datam bab ini, dapat
pa skala foto tersebut pada ketinggian tempat lapangan itu berada?
dianalisis dengan car:l seperti diuraikan di atas, dan metode ini dapat dipakai
sepanjang kesalahan yang ikut berpengaruh itu sedikit.
5.5 Sama dengan Soal 6.5 tetapi suatu kendaraan angkut berbentuk kotak yang
panjangnya diketahui sebesar 55 kaki, pada foto udara tegak berukuran
ll,2 mm.
RUJUKAN
5.7 Suatu alas jalan raya antar negara diketahui lebarnya 24,0 kaki, pada foto
udara tegak berukuran lebar 3,40 mm. Berapa tinggi terbang di atas alas
jalan tersebu! apabila panjang fokus kamera sebesar 152,4 mm.
American Society of Photogrammetry: 'Manual of Photogrammetry," ed. ke-3,
Falls Church, Va., 1966, Bab 2.
6. E Dalam foto pada Soal 5.7, di dekatjalan raya tercebut terdapat suatu gedung
berbentuk segi empat siku-siku dengan ukuran 0,21 inci dan 0,34 inci.
"Manual of Photogrammetry," ed. ke-4, Palls Church, Va., 1980,
Berapakah ukuran bangunan itu yang sebenarnya.
Bab 2.
Hallert, B.: '?hotogrammetry," McGraw-Hill Book Company, New York, 1960.
6.9 Sama dengan Soal 6.8, tetapi dalam foto pada Soal 6'7 tampak sebuah
jembatan. Apabila dalam foto tersebut panjangnya 26,5 mm, berapa
Landis, G. H., dan H. A. Meyer: The Accuracy of Scale Determinations on Aerial
panjang jembatan tersebut yang sebenarnya.
-: Photographs, lournal of Forestry, vol. 52, hlm. 863, 1954. 6,1 0 Sebuah foto tegak dibuat dengan kamera yang panjang fokusnya sebesar 6
Scherz, J. P.: Errors in Photogrammetry, Photogrammetric Engineering, vol. 40,
inci, dari ketinggian terbang 7.500 kaki di atas permukaan air laut. Berapa
no. 4, hlm. 493, 1974.
skala foto tersebut pada ketinggian temPat 1.420 kaki di atas permukaan
air laut. Berapa skala datumnYa?
6.1 1 Foto udara harus dibuat ungrk Perencsoaan dan penggambaran jalan raya.
SOAL Apabila harus digunakan kamera dengan Penjang fokus sebesar 6 inci dan
skala rata-rata yang diminta sebesar 1 : 3.000, berapakah seharusnya ting-
6. I Jarak foto antara gamb&r dua buah titik a dan D dalam foto udara tegak gi terburg di ata6 rata-rata medan'
adalah aD dan jarak tersebut di atas tanah adalah A8. Berapa skala foto pada 6. I 2 Sebuah foto udara tegak dibuat dari ketinggian 10.500 kaki di atas datum
ketinggian garis di tanah? (Berikan jawaban-jawaban baik dalarn unit dengan sebuah kamera yang memPunyai panjang fokus 209'45 mm. Medan
ekivalen maupun perbandingan tanpa besaran) tertinggi, terendah dan rata-rata tampak dalam foto berturut-turut pada
(a) ab = 3,78 inci; AB = 4.72O katr ketinggian 6.550 kaki, 3.085 kaki, dan 4'800 kaki' Hitunglah skala foto
(b) ab = 1,24 inci; AB = 925 YrYi terkecil, terQsar, dan rata-rata.
176 177

.13 Sebuah foto tegak dibuat di atrs permukaan bulan dari ketinggian 50,0 mil' adalah ro = 68,27 mrR, )o = -42,37 mm, rb = mm dan y6 =
5 -87,M
dengan menggunakan kamera yang panjang fokusnya 80'20 mm. Berapa- 25,81 mm. Berapakah panjang garis AB secara mendatar apabila foto
kah panjang garis tengah suatu kawah yang sebenarnya kalau ukurannya tersebut dibuat dari ketinggian 14.000 kaki di atas bidang datum dengan
menurut skala foto sebesar 10,63 mm? menggunakan kamera yang panjang fokusnya 152,35 mm?
6.14 Diperlukan foto tegak untuk keperluan peninjauan militer. Apabila ke- 5 .2 4 Kenampakan gambar a, b dan c dari titik di lapangan A, .B, dan C terdapat
tinggian terbang terendah dan aman di atas pertahanan lawan sebesar ,) dalam suatu foto tegak yang dibuat dari ketinggian terbang 8.350 kaki di
15.000 kski, berapa panjang fokus kamera yang diperlukan untuk atas datum. Pemotretannya menggunakan sebuah kamera dengan panjang
memperoleh foto berskala I : Vl.@O? fokus 6 inci. Titik A, B dan C mempunyai ketinggian tempat berturut-turut
6.I 5 Jarak aD dalam foto tegak sebesar l,9E inci dan juak tersebut di permukaan 1.725 kaki, 1.540 kaki, dan 2.095 kaki di atas datum. Koordinat foto yang
tanah, A8, sebesar 4.185 kaki. Apabila panjang fokus kamera sebesar diperoleh dari pengukuran terhadap gambar titik-titik tersebut ialah .ra =
88,95 mm, maha berapakatr tinggi teftang di atas medan tempat garis AB 2,371 inci, ya = 1,864 inci, rD = 2,M2 inci, yD = 3,183 inci, rc = 3,7M -
tersebut berada? inci, dan yc = inci. Hitunglah panjang garis A.B, 8C danAC serta
I: 5.000 harus didapat untuk -3,138
5.15 Foto tegak &ngan skala rata-rata sebesat luas segitiga ABC.
teperluan penyusunan mosaik. Berapakah tinggi terbang yang diperlukan 5.25 Kenampakan gambu suatu titik pada ketinggian tempat 1.475 kaki di atas
di atas tinggi medan roto-rata apabila panjang fokus kamera sebesar 8,5 datum tampak pada jarak 53,87 mm dari titik utama foto tegak yang
inci? diambil dari ketinggian terbeng 6.000 kaki di atas datum. Berapakah jarak
6.1 7 Jarak pada peta antara dua buah persilangan jalan di atas medsn yang datar tersebut dari titik utama foto seandainya titik itu terletak di bidang datum?
adalah 1,95 inci. Pada foto, jarak antara dua titik tersebut sebessr 3,48 6.26 Kenampakan gambar suatu puncak dan dasar tiang telepon berturut-turut
inci. Apabila skala peta itu 1 : 50.0fi), berapakah besarnya skela foto berjarak 5,ll inci dan 4,93 inci dari pusat sebuah foto tegak. Berapakah
tersebut? tinggi tiang tersebut apabila tinggi terbang di atas dasar tiang tersebut
5.1t Untuk Soal 5.17, PerPotongan-perPotongan jalan tersebut tadi terdapat t, ,, sebesar 2.850 kaki?
pada ketinggian reta-rsta 1.250 kaki di atas permukaan air laut. Apabila 6.27 Ketinggian rata-rata suatu medan sebesar l.200kaki di atas datum. Titik
panjang fokus kamera sebesar 8,25 inci, berapakah tinggi terbang di atas tertinggi di daerah tersebut sebesar 1.850 kaki di atas datum. Apabila luas
permukaan air laut bagi foto ini. bidang gambar dalam kamera sebesar 9 inci persegi, berapakah.tinggi
5 .1 9 Sepotong garis (panjang sesungguhnya = 5.280 kaki) panjangnya 96,4 terbang di atas datum yang diperlukan untuk membatasi agar pergeseran
mm, pada sebuah foto udara tegak. Berapakah skala foto tersebut? letak oleh relief sehubungan dengan tinggi medan rata-rata hanya 0,20 inci
6.20 Untuk Soal 6.19, ketinggian rata-r8t8 bagian garis terletak pada 1.590 saja. Apabila panjang fokus kambra sebesar 8,5 inci, berapakah skala rata-
kaki di atas permukaan air laut dan panjang fokus kamera sebesar 152,4 rata foto yang dihasilkan.
mm. Berapakah seharusnya panjang sebuah garis yang terletak pada ke- 5.28 Skala datum suatu foto tegak yang dibuat dari ketinggian 3.0O0 kaki di atas
tinggian 950 kaki di atas permukaan air laut dan berukuran panjang 57'9 datum sebesar I : 6.000. Garis tengah suatu tangki minyak berbentuk
mm pada foto? silinder berukuran 5,87 mm pada dasar dan 7,01 mm pada bagian atasnya.
5 .2 1 Foto udara tegak dipotret dari ketinggian 5.400 kaki di atas permukaan air Berapakah tinggi tangki tersebut apabila dasar tangki terletak 590 kaki di
lEut rsts-rsta, dengan menggunakan kamera yang panjang fokusnya atas datum?
sebesar 3,5 inci. Di atas foto ini tampak sebidang tanah berbentuk 6 .2 9 Misalkan bahwa perpindahan letak oleh relief paling kecil yang dapat
segitiga yang berada pada ketinggian 850 kaki di atas permukaan air laut dikenali dan dapat diukur di atas foto tegak yang dibuat dari ketinggi-
dan memiliki sisi-sisi berturut-turut sebesar 1,43 inci, 1,28 inci' dan 095 r) an terbang 3.000 kaki di atas tanah sebesar 0,5 mm. Mungkinkah
inci. Berapakah kira-kira luas tanah tersebut dalarn acre? kiranya untuk menentukan tinggi suatu gardu telepon yang tergambar pada
5.22 Pedia folo udara tegak terdapat sebuah garis sepanjang 29,4 mm yang sudut suatu foto berukuran 9 inci kuadrat yang berdiri setinggi 4 kaki di
panjangnya di permukaan tanah sebesar 1.758 kaki. Berapa besarnya skala atas tanah?
foto pada ketinggian rEta-rats garis ini? 6.30 Apabila jawaban terhadap Soal-soal 6.29 adalah ya, berapakah tinggi
6.23 TitikA dsn, berturut-turut pada ketinggian tempat 1.288 kaki dan 1.560 terbang maksimum yang memungkinkan untuk menentukan perpindahan
kaki di atas datum. Koordinat fotogralik mereka pada foto udara tegak letak oleh rCief gardu telepon tersebut? Apabila jawabannya tidak, pada
178

oleh relief dan gardu BAB


ketinggian berapakah kiranya perpindahan letak
tersebut daPat ditentukan.
di atas tanah 7
6.31
-'- - tunbu a danb gad titikA dan 7o'A
Pada suatu foto tegak,
;;Punyai tooraiiaiiJtograr* xo= iln' )a= ' mm' x6=
-12'6E antara A dan .B sebesar
S9,0i mm dur yD =
-g2,4J
mm' Jarak merdatar
1'283 1)
PENGAMATAN STEREOSKOPIK
3,94E kald dan ketinggian tempat A dan B
berturut-turut sebesar
kaki dan 1.371 kaki al-"t"t a"to.. Hinrnglah tinggi terbang di atas datum
panjms fokus kamera sebesar
apabila kamera yang digunakan mempunyai
6 inci.
6.32MasihdalamSoal5.3ltetapijarakmendatarl{!sebesar5.258katidan
panjang fokue kunera sobesar EE'92 mm'
yang diketahui untuk pan-
6.33 bdam-Soal 6.13 dimisalkan bahwa nilai-nilai
jang fokus, jarak ai atas foto, dan tinggi terbang mengandungtesalahan
acak berturut-turuis"Ue'ar fO,t mm' tO'05 dan t0'2 mil' Berapakatt
'tn' garis tengeh lubang 7.1 PERSEPSI KEDALAMAN
kemungkinan besarnya kesalahan yang terjadi dalam
kepundan hasil perhinrngan? ---.--r- -
untuk.panjang Di dalam kegiatan sehari-hari, secara tidak sadar kita mengukur keda-
5.3a balam Soal 6.15, dimisalkan bahwa nilai yang diketahui
kcsalahan acak laman atau menilai jarak sejumlah besar objek di sekitar kita melalui proses
fokus' jarah padr foto, dan jarsk di "ry-tg"h mengandung
tl'o Lski' Berapakah pengamatan normal. Metode pendugaan kedalaman dapat dibedakan atas
brturut-turut ,"t i.t'l0,Ci6 mm' i0'O2 inci dan
terjadi bagi tinggi terbang hasil per- met6de stereoskopik atau monoskopik. Orang dengan pandangan normal
fumongldn"n t"t"f"f'"n-yang (yang mampu melihat dengan dua mata secara serentak) dikatakan memiliki
hitungan? ----t-^.
pada masing-masing
t,1
penglihatanbinokuler,dan persepsi kedalaman melalui Pefgli,halarn binokuler
6.35 Dalari soal 5.25 dimisalkan bahwa kesalahan acak pada OiseUut pengamatan dengan satu mata. Metode pendugaan jarak dengan meng-
jarak foto y"ng-arfot sebesar t0'005 inci' dan bahwa kesalahan
ke- gunakan saiu mata disebut monoskopik. Seseorang yang memiliki penglihat-
tinggi terbang J;;* t5 kaki' Berapakah besarnya kemungkinan
in binokuler dapat melakukan penglihatan monokuler dengan menutup satu
satitan pada tinggi tiang telepon hasil perhitungan?
mata.
Jarak ke objek, atau kedalaman, dapat dilihat secara monoskopik berda-
sarkan atas: (1) ukuran relatif objek, (2) objek tersembunyi, (3) bayangan' dan
(4) perbedaan dalam memfokuskan mata yang diperlukan untuk melihat objek
yang jaraknya beraneka. Dua contoh di antaranya disajikan pada Gambar 7. I .
keOaiaman ujung jauh lapangan sepakbola misalnya, dapat dilihat berdasarkan
ukuran relatii giwangnya. Dua gawang berukuran silma, akan tetali satu di
antaranya trmpak lebih kecil karena letaknya lebih jauh. Bangunan iuga dapat
diduga dengan cepat bahwa jaraknya jauh karena sebagian daripadanya
tersembunyi di belakang stadion sepakbola.
,,1 ,o tr,teiode monoskopik penglihatan kedalaman hanya memungkinkan
kesan kasar yang diperoleh tentang jarak ke objek. Sebaliknya, dengan penga-
matan stereoskopikakan diperoleh ketelitian yang jauh lebih tinggi di.dalam
penglihatan kedataman yang diperoleh. Persepsi kedalaman stereoskopik pen-
I tini sekali di dalam fotogrametri, karena dimungkinkannya pembentukan
suatu model stereo tiga-dimensional dengan jalan mengamati sepasang foto
yang bertampalarb Model stereo dapat dikaji, diukur, dan dipetakan'
180

Penjelasan tentang fei{omena tersebut diperoleh dalam bab


ini' sedang
p"rj"frt* t"ntang"kegunaannya dalam pengukuran dan pemetaan diberikan
pada bab-bab berikutnYa.

Berkas sinar

Sumbu optik

Gambar 7.2. Penampang lintang mata manusia,

Gambar 7.1 Persepsi kedalaman dengan ukuran relatif dan objek tersembunyi.
jauh maka otot lensa kendor dan menyebabkan permukaan bola lensa menjadi
lebih datar. Ini menyebabkan bertambah besarnya panjang fokus untuk
7.2 MATA MANUSIA memenuhi formula lensa dan menyesuaikan jarak objek yang jauh. Untuk
jelas dimenger- pengamatan objek beparak dekat, cara kerja sebaliknyalah yang terjadi. Ke'
Fenomena persepsi kedalaman stereoskopik dapat letih
ti dengan bantuan-suatu pemerian singkat t9lt ng anatomi dan fisiologi mata mampuan mata untuk memfokus pada objek yang berbeda jaraknya disebut
ffi;ir. N,I"ta manusia & dalam banyak hal berfungsi seperti kamera' S-eperti
bola
akomo dasi (accomodation).
;;;;i, puO" C.rU, T.Z,matapdadasamyl berupa organ berbentuk Seperti pada kamera, mata mempunyai diaftagma yang disebut 'iris'.
;;&;;fi.h Uut-, berupa finlkaran yang disebut pupil.Prpil dilindungi Iris (bagian mata yang berwarna) mengkerut atau mekar secara otomatis untuk
yang melalui mengatur jumlah sinar yang masuk ke mata. Bila mata mengamati sinar kuat
oietr-tapisan tembus pandan! yanf disebut kornea. Sinar datang
kil;;: ;il"suki irata
'niiutoi
pupil dan mengenai- l.enya varlz terletak
sinar sesuai
maka iris mengkemt untuk memperkecil bukaan pupil. Bila intensitas sinar
f*grrrg di belakang pupil. Kornei dan lensa membiaskan berkurang maka iris mekar untuk memasukkan sinar lebih banyak.
dengan hukum Snell. Kornea secara parsial membiaskan sinar datang sebelum memasuki
pandang lensa. Lensa membiaskannya lebih jauh dan memfokuskannya pada retina
Lensa mata berbentuk bikonveks dan terdiri dari bahan tembus
yang bersifat membias. Bagian ini dipegang.-oleh otot yang berjumlah. besar sehingga terbentuk gambaran objek yang diamati. Retina tersusun dari
sehingga sumbu optik mata jaringan yang halus sekali. Daerah paling penting di retina ialahfovea sentral
it"n"r.r*gkinkan tensa dlgerakkanbdemikian
dd;tdfih]A hngsung kisugtu objek yang harus diamati. Seperti lalnya (cenEal fovea), sebuah lubang kecil di dekat perpotongan sumbu optik dengan
ku*"*, mata harus ireminuhi formuli lensa, yaitu Persamaan 2.8' bagi jarak retina. Fovea sentral menrpakan daerah penglihatan yang paling tajam. Retina
G;k iltb"rb.d"-beda. Akan tetapijarakgambar mata bersifat tetap. oleh mempunyai fungsi serupa dengan yang ditampilkan oleh emulsi film
iuiini itrl maka untuk memenuhi formula bagi jarak objek jarak yang
berjarak
fotografik. Bila terkena sinar, indera penglihaan dirangsang yang kemudian
GUeO. puniang fokus lensa berubah-ubah. Untuk mengamati objek menenrskannya otak melalui syaraf optik.
182 183
n, ,
7.3 PERSEPSi KEdALAMAN STEREOSKOPIK perubahan sudut paralaktik sekitar 3" busur, tetapi beberapa orang mampu
ri.r : "t*.; .ri ,3 membedakan perubahan sebesar 1". Ini berarti bahwa cara kerja fotogrametri
": -fiinganlpenglihatan binokuler. bila mata difokuskan ke titik tertentu untuk meneniukan tinggi objek dan variasi medan berdasarkan persepsi
maka sumbu optik dua mata memusat pada titik yang memotong sebuah kedalaman dengan membandingkan sudut paralaktik dapat mencapai ketelitian
sudut yang disebut sudut paralakrlk (parallactic angle). Semakin dekat objek, tinggi.
semakin besar sudut paralaktiknya dan sebaliknya. Pada Gambar 7.3, sumbu
optik dua mata L dan R terpisah oleh jarak b" yang disebut basis mata (eye
7.4 MENGAMATI FOTO SECARA STEREOSKOPIK
base). Untuk tiap orang dewasa maka jaraknya berkisar antara 65 mm hingga
69 mm, atau sekitar 2,6 inci. Bila mata difokuskan pada titik A maka sumbu Misalnya pada saat memandang objek A pada Gambar 7.4, suatu bahan
optik memusat dan membentuk sudut paraliktik $o Sejalan dengan itu maka tembus pandang yang mengandung tanda gambar a1 dan a_2 diletakkan di
jika memandang obiek pada B, sumbu optik memusat dan membentuk sudut depan mata. Misalkan lebih lanjut bahwa tanda gambal itu bentuknya identik
paralaktik 0a. Otak secara otomatis dan tidak sadar menghubungkan jarak Da dengan objek A, dan tanda itu diletakkan pada sumbu optik sehingga mata
dan Ds dengan sudut paralaktik yang bersangkutan Qo dan Q6. Kedalaman tidak dapat mendeteksi apakah mata melihat objek atau tanda itu. Oleh karena
antara objek A dan ^B sebesar (DB dan tampak sebagai perbedaan antara itu objek A dapat dipindahkan tanpa perubahan yang tampak pada gambar
dua sudut paxalaktik ini.
-De ) yang diterima oleh retina mata. Seperti ditunjukkan pada Gambar 7.4,

Bahan

(DB - DA)

Gambar 7.3 Persepsi kedalaman stereoskopik sebagai fungsi sudut paralaktik.

Kemampuan maia manusia untuk mendeteksi perubahan sudut pa- A"


ralaktik sehingga dapat membedakan kedalaman, temyata hebat sekali. Meski- Gambar 7.4 Tampak kedalaman ke objek.A, dapat diubah dengan mengubah
pun agak berbeda-beda bagi tiap orang, kebanyakan orang mampu mengenali jarak gambar. \
tu 185

seandainya tanda gambar digerakkan saling mendekat, misalnya a1' dan a2'
sudut paralatiknya bertambah besar dan objek itu terlihat lebih dekat terhadap
mata pada.4'. Bila tanda itu digerakkan saling menjauh ke 41" dan c2", sudut
paralatiknya mengecil dan otak mendapatkan kesan bahwa objek itu terletak
lebih jauh pada A".
Fenornena untuk menciptakan kesan tiga-dimensional atau kesan
stereoskopik objek dengan mengamati gambar identik terhadap objek, dapat
diperoleh secara fotografik. Misalnya sepasang foto udara dibuat dari stasiun
pemotretan L1 dan L2 sehingga gedung tampak pada dua foto, seperti
tampak pada Gambar 7.5. Tinggi terbang di atas tanah sebesar H'dan jarak
antara dua stasiun pemotretzn atau basis udara (ait base) sebesar 8. Titik
objek A dan B pada puncak dan dasar gedung digambarkan pada a1 dan b1 di
foto kiri dan pada a2 sarla b2 di foto kanan. Jika dua foto itu diletakkan di
atas meja dan diamati sehingga mata kiri hanya melihat foto kiri dan mata
kanan hanya melihat foto kanan seperti ditunjukkan pada Gamb,ar 7.6, alian
diperoleh kesan tiga-dimensional atas gambar gedung itu' Kesan.tiga-
dimensional itu tampar terletak di bawah puncak meja dengan jarak ft dari
mata. Otak menilai tinggi gedung itu dengan mengasosiasikan kedalaman ke
titik A dan B dengan sudut pamlaktik masing-masing Qo dan 04. Jika mata
memandang ke seluruh daerah tampalan, otak menerima kesan tiga-
dimensional atas medan secara berkesinambungan. Hal ini diperoleh dengan
persepsi berkesinambungan atas sudut paralaktik yang berubah-ubah bagi titik
ga*Uar yang jumlahnya tak terhingga yang membentuk medan itu. Dengan
iemikiah mat<a modet tiga-dimensional disebut model stereoskopik
(stereoscopic model) atau secara singkat model stereo (stereomodel), sedang
pasangan fbto yang bertampalan disebutpasan gan stereo (stereopair).

7.5 STEREOSKOP
Gambar 75 Foto dari dua stasiun pemotretan dengan gedung di'daerah tampalan.
Teramat sulit untuk mengamati foto secara stereoskopik tanpa bantuan
alat optik, meskipun beberapa orang dapat melaksanakannya. Di samping
merupakan cara kerja yang tidak lazim, salah satu masalah utama yang berhu- Stereoskop lensa alau stereoskop saku yang ditunjukkan pada Gambar 7.7
bungan dengan pengamatan stereoskopik tanpa alat optik ialah bahwa mat'a merupakan steroskop yang paling murah dan paling biasa digunakan.
terfokuskan-ke foto, sementara pada saat yang sama otak mendapat kesan r) Stereoskop ini terdiri dari dua lensa cembung yang sederhana yang dipasang
sudut paralaktik yang cenderung membentuk model stereo pada kedalaman di pada sebuah kerangka. Jarak antara lensa dapat bervariasi untuk akomodasi
luar foto, suatu situasi yang paling tidak, dapat dikatakan mengacaukan. basis mata. Kakinya terlipat atau dapat dipindah sehingga instrumen ini
Kesulitan dalam pengamatan stereoskopik dapat diatasi dengan menggunakan mudah disimpan dan dibawa, suatu hal yang menyebabkan stereoskop saku
instrumen yang disebut s t e r e o s ko p (sterescope). ideal untuk kerja medan. Sebuah diagram skematik steroskop saku disajikan
Adi sejumlah besar pilihan stereoskop yang sesuai dengan berbagai pada Gambar 7.8. Kaki stereoskop saku sedikit lebih pendek dari panjaurg
tujuan. Semua stereoskop pada dasarnya bekerja dengan cara yang sama. fokus lensa/. Bilastereoskop diletakkan di atas foto, berkas sinar dari titik-
186 187

n Meja

\\\
\\\
iii
lt
'\\
lll
\\ il;
\\ i/
\li
Gambar 7.6 Mengamati gedung secara stereoskopik'
Gambar 7.8 Diagram skematik stereoskop saku.

titik sepertia1 dan a2pada foto dibiaskan sedikit pada saat melalui tiap lensa
(ingat Bab 2 bahwa sbberkas sinar dari titik yang jaraknya tepat sebesar/dari
lensa akan dibiaskan dan timbul melalui paralel lensa). Mata menerima sinar
terbias (ditunjukkan dengan garis putus pada Gambar 7.8), dan berdasarkan
atas pemfokusan mata sehubungan dengan sinar datang, otak menerima kesan
bahwa sinar itu berasal dari jarak yang lebih jauh dari jarak mata ke puncak
meja tempat foto itu. Inilah yang mengatasi kesulitan tersebut di atas. Lensa
juga bersifat memperbesar gambar sehingga memungkinkan gambar dilihat
dengan lebih jelas.
Di dalam menggunakan stereoskop saku, foto diletakkan sedemikian
sehingga gambar yang bersangkutan terpisah sedikit lebih pendek dari basis
atau stereoskop saku' (Seizin Carl Zeiss' mata, pada umumnya sekitar 2 inci. Untuk format foto normal sebesar 9 inci
Gambar 7.7 StereoskoP lensa
bujur sang;kar dengrir @?o tanpalan samping. Daerah tampalan pasangan foto
Oberkochen)
188 189

biasanya benrpa sebuah daerah berbentuk empat segi panjang sebesar 5,4 inci, Stereoskop cermin yang disajikan pada Gambar 7.10 memungkinkan
seperti ditunjukkan pada Gambar 7.9a. Jika foto terpisahkan sejauh 2 inci dua foto terpisah sama sekali pada saat diamati secara slereoskopik. lni h,t:mrtr
untuk pengamatan stereoskopik dengan menggunakan stereoskop saku, menghapus masalah satu foto yang menutup foto lain pada sebagran tlacrah
seperti tersajikan pada Gambar 7.9b,ada sebuah daerah berbentuk empat segi tampalan. Di samping itu juga memungkinkan untuk mengarnati scluruh
purjang yang digambarkan dengan arsir silang, di mana foto atas menutup daerah stereomodel secara serentak. Asas kerja stereoskop cermin dilukiskan
foto bawah dan menghalangi pandangan stereoskopik. Untuk mengatasi t, ,{l
pada Gambar 7.11. Stereoskop cermin memiliki dua cermin samprng yang
masalah ini, foto atas dapat digulung sedikit ke atas sehingga tidak meng- luas dan dua cermin pengamat (eyepiece) yang ukurannya lcbih kecil.
halangi pengamatan pasangan titik yang bersangkutan bagi daerah yang semuanya dipasang menyudut 45o terhadap bidang horisontal. Berkas sinar
tertutup itu. yang memancar dari titik gambar pada foto seperti a1 dan a2 diputtulkan dan
permukaan cermin sesuai dengan asas pantulan yang dijelaskan pada Butir
Daerah tersembunyi 2.3, dan diterima pada matd yang membentuk sudut paralaktik Qr. Otak secara
1
Fto"--l e1 otomatis menghubungkan kedalaman ke titik A dengan sudut paralaktik ilu.
Dengan cara ini terbentuk model stereo di bawah cermin pengamat sepcrli
dilukiskan pada Gambar 7. I l.
I Lensa sederhana biasanya ditempatkan langsung di atas cermin penga-
i
mat seperti disajikan pada Gambar 7.10. Pemisahannya dapat diubah untuk
i
!

I
I
cermin tepi cermin teoi
,l
Gamtrar 7.9 (a) Daerah tampalan biasa pasangan foto dengan format 9 inci yang I
dibuat dengan tampalan samping 60 persen (pasangan gambar tumpang tindih
menjadi satu). (b) Daerah tersembunyi bila foto diorientasikan untuk pengamatan
dengan stereoskop saku.

I
J I
I
n
\
i
Q6
l-t,1I
),l
i I I
I I
I I
I I
l
I ,A

Gambar 7.10 Stereoskop cermin ST-4 (Seizin Wild Heerbrugg Instruments.


Inc.). Gambar 7.11 Asas terja stereoskop cermin.
190 19l

akomodasi berbagai basis mata. Panjang fokus lensa ini juga sedikit lebih
panjang dari panjang jalur pantulan dari foto ke mata, sehingga pada dasarnya
menyajikan fungsi yang sama dengan fungsi lensa pada stereoskop saku.
Stereoskop cermin dapat dilengkapi dengan binokuler yang dipasang pada
cermin penganat. Binokuler itu dapat difokuskan secara tersendiri bagi tiap
mata dan memungkinkan pengamatan gambar dengan perbesaran tinggi, suatu
faktor yang sangat penting dan bermanfaat di dalam interpretasi foto atau
untuk identifikasi titik gambar. Perbesaran tinggi tentu saja mempersempit
medan pandang sehingga seluruh model stereo tidak dapat diamati secara
sereniak. Oleh karena itu stereoskop harus digerak-gerakkan bila dikehendaki
pengamatan atas seluruh model stereo.
Menghindari sentuhan terhadap permukaan cermin merupakan hal yang
sangat penting. Hal ini disebabkan karena tangan mengandung minyak atau
asam yang dapat merusak lapisan pada cermin itu sehingga cermin tak dapat
digunakan lagi. Bila secara tidak sengaja cermin tersentuh jari cermin itu
harus segera dibersihkan dengan menggunakan bahan lunak dan cairan
pembersih lensa.
Suatu jenis stercoskop cermin yang disebut stereoskop penyiaman Old
Delft (Old Delft Scanning Stereoscope) memiliki banyak keunggulan. Foto
diamati melalui okuler via suatu jalur optik prisma atau lensa. Okuler dapat
difokuskan secara individual dan dapat dipilih perbesaran l,5x atau 4,5x. Pada
salah satu perbesaran ini medan pandang hanya meliput sebagian kecil model Gambar 7.12 Stereoskop zoom 95 (Seizin Bausch and Lomb Co.)
stereoskop atau foto. Pengamatan seluruh model stereo dilakukan dengan
memutar tombol untuk memutar prisma pada kedua jalur optik, sehingga
memungkinkan penyiaman model stereo baik pada arah X maupun I. Dengan
memutar satu prisma maka dapat dihapuskan sedikit sisa paralaks y (lihat 7.6 KEGUNAAN STEREOSKOP
Butir 7.7).
Ada satu jenis stereoskop lain yang disebut stereoskop Zoom (Zoom Sebelum mencoba menggunakan stereoskop, sebaiknya dipelajari dulu
stereoscope) seperti disajikan pada Gambar 7.12. Jenis stereoskop ini dibuat
petunjuk pemakaiannya bila ada. Hal ini terutama penting bagi stereoskop
dengan menyajikan hal khusus seperti perbesaran zoom berkesinambungan
yang memiliki sistem pengamaran lebih rumir. Di samping itu juga lensi
hingga 120x, kemampuan untuk memutar foto secara optik (yang dan cermin harus diteliti dan dibersihkan bila perlu.
memungkinkan koreksi secara enak atas crab atau kelurusan foto), akomodasi Di dalam pengamatan stereoskopik, perlu dilakukan orientasi foto
berbagai ukuran format, dan fokus individual serta perbesaran sehingga dua sehingga mata kiri dan kanan masing-masing melihat foto kiri dan kanan.
foto yang skalanya berbeda dapat diamati secara stereoskopik. Untuk Bila foto diamati secara terbalik, akan diperbleh pandangan psedoskopik
pengamatan stereoskopik secara langsung atas negatif, stereoskop ini dapat (pseldoscopic view) di mana timbulan dan iekukan tampat ieruaiit, misalnya
dipasang pada sebuah meja sinar dan dilengkapi dengan sebuah mekanisme lembah tampak
leperti igir dan bukit tampak sepeili depresi. Hal ini dapat
penyiaman khusus. Pada dua ujung meja sinar dipasang sebuah gulungan film menguntungkan bagi beberapa pekerjaan seperti melacak pola aliran, akan
dan sebuah gulungan penarik. Dengan memutar engkol (crank), kerangka film p-{a.umumnya dikehendaki pandangan stereoskopik yang benar. Foto
letapi -tarpat
dapat disetel posisinya untuk pengamatan. harus diorientasikan pula sedemikian sehingga bayangan jatuh ke
FnT uqy kearah pengamat. Kegagalan melatsanatannya dapat membuah-
kan kesulitan dalam pengamatan stereoskopik.
Pengamata4 stereoskopik yang tepat dan menyenangkan memerlukan
bahwa basis mata, garis yang menghubungkan pusit lensi stereoskop, dan
192 193

diamrti dan besar dari 2 inci bagi stereoskop saku dan sekitar 10 inci bagi stereoskop
ialur terbang saling sejajar. Oleh karetra itu, setel:rlt foto jalur cerrnin.
tlitcrakkan s;Oemitian Lntuf menghintlari pandarrgan psedoskopik,
yang jalur terbangnya Jalur terbang tidak mutlak harus ditandai dan tidak harus mengorienta-
terbang ditandai pada kedua foto. Bagi foto tegak,
sikan foto untuk pengamaian stereoskopik dengan cara seperti di atas. Untuk
berupa"garis aariiitit pusat foto kiri kc titik pusat kanan. Dalam monandai
pengamatan stereoskopik secara cepat, pada kenyataannya hanya dilakukan
latui t&bang, titik uiama (titik prinsipal) f6to mula-mula ditentukan
dengan metode coba-coba di mana foto dengan sederhana digerak-gerakkan
iokasinya deigan jalan menghubungkan dua tanda fisudial yalg berhadapan'
hingga mencapai posisi yang jelas untuk pengamatan stereoskopik. Akan
Titik utama dltunluttan pada o1 dan o2 pada Gambar 7.13. Titik utama tetapi, kalau diperlukan ketelitian dan kenyamanan mata, dianjurkan untuk
sambungannya (conjugate principal point) yaitu lokasi titik utama foto melakukan orientasi jalur terbang itu.
berikutlang'Uertampitan, Oi-ranOai pada langXah berikutnya. Pekerjaan ini
Seperti dinyatakan sebelumnya, untuk pengamatan stereoskopik yang
Orpat Oiianifan dengan baik dengan jalan mengamati foto seclra ccrmat di
nyaman diperlukan agar garis yang menghubungkan pusat lensa stereoskopik
s.titar titik utama, menemukan gambar yang bersangkutan pada daerah sejajar denganjalur te6ang. Setelah foto diorientasikan dengan tepat, operator
tampalan foto yang berdekatan, dan kemudian menandai titik utama
dapat dengan mudah menyesuaikan stereoskop dengan secara sederhana
,arbungun dengan hemperkirakan posisinya sehubungan dengan gambar memutarnya sedikit sehingga diperoleh posisi pengamatan yang paling
yang mJngitarinya. Titik utama sambungan ditunjukkan dengan o1' dan o2' nyaman. Operator harus melihat langsung ke pusat lensa dan mempertahan-
pada Gambar 7.13. kan basis mata sejajar dengan jalur terbang.

7.7 PENYEBAB PARALAKS Y

Kondisi utama yang harus terpenuhi untuk pengamatan stereoskopik


dengan jelas dan nyaman ialah bahwa garis-garis yang menghubungkan pa-
sangan gambar arahnya sejajar jalur terbang. Kondisi ini terpenuhi seperti
arah terbang pasangan gambar a1 dan az yang ditunjukkan pada Gambar 7.13. Bila
pasangan gambar tidak terletak pada sebuah garis yang sejajar jalur terbang,
akan terjadi paralaks y (p-r). Paralaks ) yang kecil pun akan menyebabkan
tegangan mata, sedang paralaks y yang berlebihan tidak memungkinkan
Jarak antarl gambar yang, sanra pengamatan stereoskopik.
Bila sepasang foto yang bertampalan benar-benar tegak, dan dibuat dari
tinggi terbang yang sama benar, diorientasikan seqra sempurna, di seluruh
daerah tampalan tidak akan terjadi paralaks y. Kegagalan salah satu di antara
Gambar 7.13 Pasangan foto yang diorientasikan secara tepat untuk pclrSa-
persyaratan ini akan menyebabkan terjadinya paralaks y. Pada Gambar 7.14
rnatan stereoskopik.
misalnya, foto diorientasikan kurang tepat dan titik utama serta titik utama
berikutnya tidak terletak pada satu garis lurus. Sebagai akibatnya maka akan
Langkah berikutnya di dalam melakukan orientasi foto unluk pcnga- terjadi paralaks y pada titik a maupun titik b. Kondisi ini dapat dihindari
matan stereoskopik ialah melekatkan foto kiri pada meja. Kemudian lbttl
tl dengan melakukan orientasi secara cermat.
kanan diorientasikan sedcrnikian sehingga empat titik yang menentukan jalur Pada Gambar 7.15, foto kiri dipotret dari tinggi terbang yang lebih
terbang (o1, o2', 01', dan o2) semuanya tedetak pada sebuah garis lurus, kecil daripada foto kanan. Sebagai akibatnya maka skalanya lebih besar dari-
pada skala foto kanan. Meskipun foto itu benar-benar tegak dan diorientasikan
seperti disajikan pada Gambar 7.13. FoO kanan dipertahankan dala_m orientasi
ini, Oan pada saai dramati melalui stereoskop, foto itu digcrakkan ke samping dengan benar akan terjadi paralaks y padakedua titik a maupun b yang dise-
hingga jarak antara pasangan gambar membuahkan pantlangan stcreoskopik babkan oleh perbedaan tinggi terbang. Untuk memperoleh pandangan
pasangiln gambar sedikit lebih stereoskopik. paralaks-y dapat dihapus dengan mensgeser foto kanan ke.atas
:,er1S niaman. IlatJa umumnya iarlk ltrtttra
194 195

':L- 3I o

-+---@

Gambar 7.14 Paralaks I yang disebabkan oleh orientasi foto yang kurang Gambar 7.15 Paralaks Y yang disebabkan oleh kesendengan foto.
tepat.

Oleh karena itu paralaks y yang kecil dan bersumber dari kesendengan ini
terjadi dengan keparahan yang berbeda-beda di seluruh model stereo. Akan
tetapi bila dikehendaki foto tegak dengan tinggi terbang tetap, kondisi ini
al
;...-_-. I pada umumnya dikontrol dengan baik hingga paralaks y yang bersumber pada
,TT kesendengan jarang tdadi. Sebagian besar paralaks y yang parah biasanya
terjadi oleh orientasi foto yang kurang tepat, suatu kondisi yang mudah
---@F -@_-+
b. r
dikoreksi.
:L
\bl
t\
-T
\ /,,, 7.t PERBESARAN TEGAK DALAM PENGAMATAN
STEREOSKOPIK

Di dalam kondisi normal maka skala tegak pada model stereo akan
tampak lebih besar dari skala mendatar, misalnya suatu objek pada model
Gambar 7.15 Paralaks I yang disebabkan oleh perbedaan tinggi' stereo akan tampak terlalu tinggi. Kelainan skala yang tampak ini disebut
perbesaran tegak (vertical exaggeration). Hal ini biasanya lebih diperhatikan
oleh penafsir foto, karena kondisi ini harus diperhitungkan di dalam menaksir
tinggi objek, tingkat kelerengan, dan sebagainya.
tegaklurusterhadapjalurte6anSpadasaatmengamatititikadanmengSeser.
nfa ke bawah padasaat mengamati titik D'
tl a, Meskipun faktor lain jugaberpenganrh perbesaran tegak terutama dise-
Efek fo'to senaeng aijikan pada Gambar 7.16. Foo
kiri benar-benar babkan oleh kekurangseimbangan rasio fotografik antara basis'tinggi terbang
g-iuo. a melalui d atas sebuah persil bujur (photographic base-heightratio,BlH) danrasio basis-tinggi pada pengamatan
teSak da; ;;;unjukk;'posiJi
ilt, ilak milii--p..i" *.9"1 datar. Foto kanan mengalami stereoskopis (Bai.BlH' merupakan rasio antara basis udara (air base)
;;?,gil dengan jarak ant?,ra dua stasiun pemotretan, dan 0371 merupakan rasio antara
kesendengan sefringgapeisif itu tampat gtng9 bentuk trapesium' Paralaks Y
-;;;.6
;;rffiil;d" r"rrr-u-r, ;"d"i sebag'ai akibat kesbndengan, seperti basis mata (eye base) atau jarak antara dua mata, dengan jarak dari mata ke
pada prakteknya bersifat acak' model stereo yang'terlihat oleh mata. Gambar 7.17a dan7.l7b masing'
;;;-p"d" titit o Oan.. Arah sendengnya
196 t97

masing menggambarkan pemoEetan sepasang foto tegak yang bertampalan juga,


dan pandangan stereoskopik foto itu. Pada Gambar 17.1a,f ialah panjang
fokus kamera, B merupakan basis udara dan H'ialah tinggi terbang di atas
hnah, f iahh tinggi objek medan AC, merupakan jarak medan KC.
dan D
Pada Gambar 7.17a dimisalkan Y sama besar dengan D. Pada Gur}lu 7.17b,
T = i, sehingga ,, = # (b)

i merupakan jarat gambar dari mata ke foto, ,. ialah basis mata, ft Dengan subsraksi (b) dari (a) dan dengan mengurangi,
merupakan jarak dari mata ke model stereo yang terlihat, y ialah tinggi model
stereo objek A'C' , dan d ialah jarak horisonlal model sterco KC'.
xo-xc=rf <r**, (c)

Juga dari segitiga sebangun pada Gambar 7.17(b)

xo- i sehingga *.=* (d)


l.--a" ---*{ E-h-v
=T
^t =i sehingga ,, (e)

Dengan substraksi (e) dari (d) dan mengurangi,

xo
-xc=b"iW!hy a
Dengan menyamakan (c) dan (fl

sffi-yy=b"i*\Y

Pada persamaan di atas biasanya nilai Y dan y masing-masing lebih


Gembar 7.17 Diagram sederhana untuk analisis perbesaran tegak. (a) Geometri kecil dari nilai I/'dan ft. Oleh karena itu
foto udara tegak yang bertampalan. (D) Geomeni pandangan stereoskopik foto
pada gambar (a). BfY boiv y _fi_ Bh (s)
@ f, = sehinssa
Y -H'iHE
Juga dari segitiga sebangun pada Gambar 7 .17 a dan b,
Sebuah formula untuk menghitung perbesaran vertikal dapat disusun
dengan merujuk gambar tersebut. Berdasarkan segitiga sebangun pada Gambar
7.17a.
T=# sehingga D = (xc-rr)f (h)

X=#sehinggao=# (a)
^ #=i
sehingga d=(xc-tn! (,)
198 t99

Dengan membagi (i) dengan (rr) dan mengurangi, Rasio basis-tinggi pengamatan stereo brlh mertpakan variabel yang
agak sulit diukur, dan sedikit berbeda bagi tiap orang. Uji yang dilakukan
d _th berulang-ulang menunjukkan bahwa nilainya sekitar 0,15.
(/)
D_ H'i

Dengan substitusi 0) ke (g) dan mengurangi,

y _d
_D_ H'b"
Bh (r)
Y
Di rlalam pers:rmaan (t), bila istilah BhlH'br'.sebesar i' tidak ada perbe-
saran tegak model stereo (ingat bahwa Y sama besar dengan D). Oleh karena
itu maka pernyataan tentang ukuran perbesaran tegak V, diberikan oleh:

,r-B
,-H'Bh fturang lebih) (7.1)

Dari Persamaan 7.1 terlihat bahwa besarnya perbesaran tegak di dalam


pengamatan stereoskopik dapat ditaksir dengan mengalikan rasio B/H'dengan
kebalikan rwio b/h. Suatu pernyataan untuk rasio BIH' dapat disusun dengan
merujuk Gambar 7.18. Pada gambar ini, G mengisyaratkan liputan medan
totaliuatu foto tegak yang dipotret dari ketingg.ian H' dr atas tanah. Basis Gambar ?.lt Rasio basis-tinggi (8/l/')
udaraB ialah jarak antara pemotretan. Dari angka

Contoh
= G-Gffi=o (,
7.1
B
-ffi) 0)
Hitunglah kira-kira (approximatQ perbesaran tegak foto udara vertikal
yang dibuat dengan kamera yang panjan& fokusnya 6 nci (152A mm) dengan
Di dalam Persamaan (t), PE merupakan persen tampalan samping yang format 9 inci (23 cm) bujur sangkar jika foto itu dibuat dengan 60 persen
memberikan angka di mana foto kedua tumpang tindih dengan foto pertama. tampalan samping.
Juga dengan segitiga sebangun pada gambar itu.

(n) la*,afun
# =+ sehinggaH'=$
Berdasa*an Pcrsam aan 7 2
(m),f mertpakan panjang fokus kamera dan d
Dalam Persamaan
merupakan ukuran format. Dengan membagi (t) dengan (m) dan mengurangi,
c/ at
ft = r- (#3)+= o,6o
Berdasa*an formula 7.1, misalnya D./lt sebesar 0,15,
fi=t-(ffi)+ (7.2)
I
V = 0,60
Ofu = 4,0 (kurang lebih)
2N 201

Cantan:
Raju, A. V., dan E. Parthasarathi: Stereoscopic Viewing of landsat Imagery,
Jika digunakan kamera dengan panjang fokus 12 inci, rasio B/H' Photogrammetric Engineering and Remote Sensing, vol. 43, no. 10, hlm.
sebesar 0,30 dan perbesaran tegatnya menyusut menjadi 2. t243, t977.
Scheaffer, C. E.: Stereoscope for Strips. Photogrammetric Engineering, vol. 34,
no. 10. hlm. lM4, 1968.
RUJUKAN {, o Singleton, R.: Vertical Exaggeration and Perceptual Models, Phologrammetric
Engineering, vol.22, no. 9, hlm. 175, 1956.
Ambrose, W. R.: Stereoscopes with High Performance, Phologrammelric Thayer, T. P.: The Magnifying Single Prism Stereoscope: A New Field Instrument,
Engineering, vol. 31, no. 5, hlm. 822,1965. Journal of Forestrl, vol. 61, hlm. 381, 1963.
American Society of Photogrammetry: "Manual of Photogrammetry," ed. ke-4' Thurrell, R. F., Jr.: Vertical Exaggeration in Stereoscopic Models,
Falls Church, Va., 1980, Bab 10. Photogrammetric Engineering, vol. 19, no. 4, hlm. 579, 1953.
Anson, A.: Significant Findings of a Steroscopic Acuity Stttdy, Photogrammetric Treece, W. A.: Estimation of Vertical Exaggeration in Stereoscopic Viewing of
Engineering, vol. 25, no. 4, hlm. 607,1959. Aerial Photographs, Photogrammelric Engineering, vol. 21, no. 4, hlm.
Collins, S. H.: Stereoscopic Depth Perception, Photogrammetric Engineering and 518,1955.
Remote Sensing, vol. 47, no. l, hlm. 45, 1981. Yacoumelos, N.: The Geometry of the Stereomodel, Photograntmetric Engineer'
Dalsgaard, J.: Stereoscopic Vision-A Problem in Terrestrial Photogrammetry, ing, vol. 38, no. 8, hlm. 791, 1972,
Photogrammetria, vol.34, no. I, hlm. 3, 1978.
Goodale, E, R.: An Equation for Approximating the Vertical Exaggeration Ratio
of a Stereoscopic View, Phologrammetric Engineering, vol. 19, no. 4, SOAL
hlm. 607, 1953.
Gumbel, E. J.: The Effect of the Pocket Stereoscope on Refractive Anomalies of 7 .1 Sebutkan beberapa metode monokuler untuk melihat kedalaman.
the Eyes, Photogrammetric Engineenng, vol. 30, no. 5, hlm. 795, 1964. 7 .2 Apa yang dimaksud dengan sudut paralaks?
Howard, A. D.: The Fichter Equation for Correcting Stereoscopie Slopes, 7 .3 Bandingkan keunggulan dan keterbatasan stereoskop saku dan stereoskop
Photogrammetric Engineering, ,tot.34, no. 4, hlm. 386, 1968. cermin.
Jackson, K. B.: Some Factors Affecting the Interpretability of Air Photos, 7 .4 Berikan cara kerja setapak demi setapak untuk orientasi foto guna penga-
Canadian Surveyor, vol. 14, no. 10, hlm. 454, 1959. matan stereoskopik.
LaPrade, G. L.: Stereoscopy-A More General Theory, Photogrammetric 7 .5 Apakah paralaks y? Apakah penyebab paralaks y di dalam suatu model
Engineering, vol. 38, no. 12, hlm. 1177, 1972. stereo?
Stereoscopy-Will Dogma or Data Prevail?, Photogrammetric
Engineering, vol. 39, no. 12, hlm. 1271, 1973.
7.5 Susunlah tabel rasio BIH' bagi panjang fokus kamera sebesar 3,5, 5, 8,25,
dan 12 inci, format kamera 9 inci bujur sangkar, dan tampalan samping
Miller, C. Il Vertical Exaggeration in the Stereo Space Image and its Use,
sebdsar 55, 60, dan 65.
Photogrammetric Engineering, vol.26, no.5, hlm. 815, 1960.
Myers, B. J., dan F. P. Van der Duys: A Stereoscopic Field Yiewer,
7.7 Hitunglah perbesaran tegak kira-kira dalam sebuah model stereo bagi foto
-: yang dibuat dengan panjang fokus 6 inci, dengan format 9 inci bujw sang-
Photogrammetric Enginering and Remote Sensing, vol. 41, no. 12, hlm.
kar, jika foto itu dibuat dengan tampalan depan 55 persen.
1477,1975.
Nicholas, G., dan J. T. McCrickerd: Holography and Stereoscopy: The t) . r 7. t Seperti Soal 7.7, tetapi panjang fokus kamera yang besarnya 8,25 inci dan
tampalan depan 65 persen.
Holographic Stereogram, Photographic Science and Engineenng, vol. 13,
no. 6, hlm. 342, 1969.
Palmer, D. A.: Stereoscopy and Photogrammety, Photogrammetric Record, vol.
4, hlm. 391,1964.
Raasveldt, H. C.: The Stereomodel, How It Is Formed and Deformed,
Photogramrmetric Engineerr'ng, vol. 22, no.4, hlm. 708, 1956.
203

BAB
I
PARALAKS STEREOSKOPIK

8.I PENGANTAR

Paralaks ialah kenampakan perubahan (displacement) posisi suatu


objek terhadap suatu kerangka rujukan, yang disebabkan oleh perpindahan
posisi pengamat. Suatu eksperimen sederhana dapat menggambarkan paralaks.
Bila sebuah jari diletakkan di depan mata seseorang, dan semenlara
memandang jari itu, kepala digeser dengan cepat dari satu sisi ke sisi lainnya
tanpa menggerakkan jari tersebut, maka jari akan tampak berpindah dari satu at

sisi ke sisi lain dalam hubungannya dengan benda-benda di luar jari, seperti
misalnya terhadap gambar di tembok. Di samping menggerakkan kepala, efek l
Gambar 8.1 Paralaks stereoskopik foto udara tegak.
serupa dapat diciptakan dengan memejamkan satu mata berganti-ganti. i
Semakin dekat letak jari terhadap mata, semakin besar perubahan letak yang pada a dan b pada foto kiri. Akan tetapi, crab maju pesawat terbang antara tiap
tampak. Gerakan jari yang fampak ini disebut paralaks, dan paralaks terjadi pemotretan menyebabkan gambar bergerak ke samping menyilang bidang
oleh perubahan kedudukan pengamat. fokal kamera sejajar terhadapjalur terbang, sehingga pada foto kanan dua titik
Bila seseorang melihat melalui penemu pandang sebuah kamera udara itu tampak pada a' dan b'. Karena titik A lebih tinggi (lebih dekat ke kamera)
pada saat pesawat terbang bergerak maju, gambaran objek akan tampak daripada titik B gerakan gambar a melalui bidang fokal lebih besar daripada
bergerak menyilang medan pandang. Gerakan-gerakan lni merupakan contoh gerakan gambff b. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa paralaks titik A
lain bagi paralaks yang disebabkan oleh perpindahan posisi titik pengamatan lebih besar dari paralaks titik B. Ini menarik perhatian bagi dua aspek penting
juga. Semakin dekat suatu objek terhadap kamera, semakin besar pula objek paralaks stereoskopik, yaitu: (l) paralaks sembarang titik berbanding lurus
itu tampak bergerak. terhadap ketinggian titik itu, dan (2) paralaks lebih besar bagi titik tinggi
Suatu kamera udara yang melakukan pemotretan foto bertampalan pada daripada titik rendah. Perubahan paralaks sesuai dengan ketinggian tempat
interval waktu yang teratur akan membuahkan rekaman posisi gambar pada menyajikan dasar fundamental untuk menentukan ketinggian titik-titik
saat pemotretan. Perubahan posisi suatu gambar pada satu foto ke foto
t) tt berdasarkan pengukuran fotografik. Pada kenyataannya, koordinat X , Y, dan Z
berikutnya oleh gerakan pesarvat terbang disebut paralaks stereoskopik, bagi titik-titik dapat dihitung berdasarkan paralaksnya. Formula untuk
paralaks x, atau secara sederhanapcralaks. Paralaks terjadi bagi semua gambar melakukan ini disajikan pada Butir 8.6.
yang tampak pada tampalan foto yang berurutan. Pada Gambar 8.1 misalnya, Gambar 8.2 menyajikan dua foto pada Gambar 8.1 yang diletakkan
gambar objek A dan B tampak pada pasangan foto udara yang bertampalan tumpang tindih. Paralaks titik A dan B masing-masing ialah Po dan P6.
yang dipotret dari stasiun pemoretan L1 dan L2.TitikA dan B tergambar Paralaks stereoskop\bagi suatu titik seperti A yang gambamya tampak pada
2M

Gambar 8.2 Dua foto pada Gambar 8.1 yang disajikan secara tumpang tindih.
i
,,
dua foto sebuah pasangan stereo, dinyatakan dengan koordinatjalur terbang, i,
ialah:

Pa= Xo-1o' (8.1)

Po ialah paralaks stereoskopik titik objek A, -r"


Pada Persamaan 8.1,
ialah koordinat terukur gambar c pada foto kiri pasangan stereo, dan xo'
merupakan koordinat foto gambar a' pada foto kanan. Koordinat foto ini tidak
diukir dalam hubungannya dengan sistem sumbu fisudial. Titik-titik tersebut
diukur dalam hubungannya dengan sistem sumbu jalur terbang seperti yang
diperikan pada Butir S.Z.PadaPersamaan 8.1, bagi tiap koordinat foto terukur
harus diberi tanda aljabar yang tepat untuk memperoleh nilai paralaks
stereoskopik yang benar.
Gambar 8.3 ialah sebagian pasangan stereo foto tegak Daerah
Washington, D.C., dipotret dengan panjang fokus karnera 6 inci pada ke- t) at
tinggian terbang 6.000 kaki di atas tanah. Perhatikan bahwa pada foto ini
semua gambar bergerak secara lateral dalam hubungannya dengan sumbu y'
Oari poiisinya pada foto kiri ke posisinya pada foto kanan. Perhatikan
juga
betapa jehs Monumen washington menggambarkan bertambah besarnya
parataks dengan titiknya yang lebih tinggi; misalnya puncak monumen Gambar E.3 Foto vertikal bertampalan yang dibuat di atas washington, D.C.,
Lergerak lebili jauh melalui bidang fokal bila dibanding dengan gerak bagian menggambarkan paralaks stereoskopik. (Seizin Owen Ayres and Associates, Inc.)
bawah monumen itu.
il
2M 207

Pada Gambar 8.3, Monumen Washington merupakan contoh baik


Semua foto kecuali pada ujung sebuah jalur terbang, mempunyai dua
sekali untuk menunjukkan kegunaan Persamaan 8.1 untuk menemukan
rangkaian sumbu terbang untuk pengukuran paralaks, satu untuk dipakai bila
paralaks. Puncak monumen mempunyai koordinat x(xs 4,32 inci) dan
= foto berupa foto kiri dan satunya bila fotonya foto kanan. Pada Gambar 8.4
koordinat x' (xi = 0,72 inci\. Dengan Persamaan 8.1, paralaks h = 4 j2- disajikan sebuah contoh di mana foto I hingga foto 3 dipotret semacam itu.
0,72 = 3,60 inci. Juga, dasar monumen mempunyai koordinat x (x6 jg6 Pengukuran paralaks pada daerah tampalan foto I dan foto 2 dilakukan dalam
=
inci) dan koordinat x' (xb' = 0,67 inci). Dengan persamaan 8.1 maka p5 = .l hubungannnya dengan sistem sumbu x! yang utuh pada foto I dan sistem
3,9G4,67 = 329 inci. Pada Butir 8.8 akan ditunjukkan bagaimana paralaks x'y' yang utuh pada foto 2. Akan tetapi, karena jalur perjalanan pesawat
ini dapat digunakan untuk menghitung tinggi Monumen Washington. teibang foto I dan 2. Oleh karena itu maka pengukuran paralaks pada daerah
pertampalan foto 2 dan 3 harus dilakukan sehubungan dengan sistem sumb ry
garis-garis putus pada foto 2 dan sistem x'y'garis putus foto 3. Akan tetapi'
8.2 SUMBU ''JALUR TERBANG" FOTOGRAFIK UNTUK bagi dua sistem sumbu ini dimungkinkan untuk berimpit, meskipun pada
PENGUKURAN PARALAKS praktetnya hal ini tidak biasa terjadi. Oleh karena itu pada bab ini harus
Oipatrami bahwa koordinat foto untuk penentuan paralaks diukur sehubungan
Karena paralaks terjadi sejajar terhadap jalur terbang, sumbu fotografrk dengan sistem sumbu jalur terbang.
x dan x'untuk pengukuran paralaks harus sejajar terhadap jalur terbang bagi
masing-masing foto suatu pilsangan stereo (nilai gasal menunjukkan foto
kanan suatu pasangan stereo). Bagi suatu foto tegak pasangan stereo, jalur 8.3 METODE MONOSKOPIK UNTUK PENGUKURAN
. terbang merupakan garis yang menghubungkan titik utamfoan titik utrma PARALAKS
berikutnya. Titik utama diletakkan dengan cara yang lazim yaitu dengan
perpotongan garis fisudial x dan y. Metode monoskopik untuk menemukan Paralaks titik pada pasangan stereo dapat diukur secara monoskopik
titik utama pindahan foto berikutnya telah diperikan pada Butir 7.6. Metode maupun stereoskopik. Dengan cara mana pun, sumbu jalur terbang fotografik
stereoskopik dibincangkan pada Butir 8.4. sumbu y dan y' untuk pengukuran pertarna-tama harus ditentukan letaknya dan memberi tanda titik utama dan
paralaks melalui titik utama yang bersangkutan dan tegak lurus teihaoap jaur titik utama foto berikutnya.
terbang. Cara yang paling sederhana untuk mengukur paralaks ialah dengan
pendekatan monoskopik di mana digunakan Persamaan 8.1 setelah
pengukuran langsung atas x dan x' masing-masing pada foto kiri dan foto
Jalur terbang unruk Jalur terbang akrual i.anin. Keterbatasan metode ini ialah diperlukannya dua pengukuran bagi tiap
foto I dan 2 pesawat terbang titik.
Pendekatan monoskopik lain terhadap pengukuran paralaks ialah
dengan meletakkan foto pada meja atau material datar seperti disajikan pada
Gambar 8.5 Pada cara ini , jalur terbang fotografik opz dan o1'o2' dilandai
seperti biasanya. Sebuah garis lurus panjang, AA'digambar- kan pada material
da'sar dan dua-foto dipasang secara cermot seperti ditunjukkan, sehingga
jalur
terbang fotografik berimpitdengan garis ini. Setelah melekatkan foto, jarak D
antara titik utama merupakan suatu konstanta yang dapat diukur. Paralaks
r/ t. titik B ialah Pb = xb- (-xfi. Akan tetapi dengan mengkaji gambar itu,
i terlihat juga bahwa paralaks:
Jalur terbang untuk
foto I dan 2 i
i Pt=D-dt (8.2)

Dengan D yang diketahui pada Persamaan 8.2, untuk memperoleh


Gambar E.4 sumbu jalur terbang untuk pengukuran paralaks stereoskopik. paralaks suatu titikhanya diperlukan j arak d antan gambar pada foto kiri dan
n8 2W

a)

+-+
ot 02

Gambar tJ Pengukuran paralaks dengan menggunakan skala sederhana

foto kanan. Keuntungannya ialah bahwa untuk tiap titik tambahan yang
diinginkan paralaksnya" hanya ditentukan satu pengukuran. Dengan salah satu
metde monoskopik pengukuran paralaks ini, salah satu skala sederhana yang f,
dijelaskan pada Butir 5.3 dapat digunakan, dan pilihannya tergantung pada
ketelitian yang diinginkan.

t.4 ASAS- TANDA APUNG


Paralaks titik dapat diukur pada $mt mengamati secara stereoskopik
dengan keuntungan yang berupa kecepatan dan ketepatan. Pengukuran
stereoskopik paralaks menggunakan asas tanda apung. Bila model stereo
diamati dengan stereoskop, dua tanda identik yang digoreskan pada kaca
bening yang disebut tanda tengahan (half marks) dapat diletakkan di atas foto, Gambar t.6 Asas tanda apung.
satu di atas foto kiri dan lainnya di atas foto kanan, seperti disajikan pada
Gambar 8.6. Tanda kiri diamati dengar mata kiri dan tanda kanan dengan mata
kanan. Tanda tengahan dapat digeser posisinya hingga keduanya menyatu beda-beda menrpakan dasar hagi istilah 'tanda apung' (floating mark).
t) at
Jarak tanda tengahan (p4ralaks tanda tengahan) dapat diubah-ubah se-
menjadi satu tanda yang tampak berada pada model stereo dan terletak pada
ketinggian tertentu. Bila dua tanda tengahan digerakkan saling mendekat, hingga tanda apung tampak menempel tepat pada medan. Ini membuahkan
paralaks tanda tengahan bertambah besar dan tanda yang menyatu tampak efek seperti adanya sebuah objek be6entuk tanda tengahan di medan pada saat
lebih tinggi. Sebaliknya, kalau dua tanda digeser saling menjauh maka dilakukan pemotnetan. Tanda apung dapat digerakkan pada model stereo dan
paralaksnya menjadi lebih kecil, dua tanda yang menyatu tampak turun. Per- titik yang satu ke titik lainnya, dan karena ketinggian medan berbeda-beda
bedaan tampak ketinggian tanda sesuai dengan jarak tanda tengahan yang ber-
maka jarak dua tanda tengahan dapat diubah-ubah agar tanda apung tepat
210 2tt
Alat pemindah titik yang dibuat secara sederhana di rumah yang
mendarat di medan. Gambar 8.6 menunjukkan asas tanda apung dan
diplaskan di atas terdiri dari dua potong plastik tembus pandang di mana titik
menggambarkan bagaimana anda dapat disetel dengan tepat pada titik tertentu
silang yang identik ditinta Apabila satu tanda tengahan diletal&an secara
seperti A, 8, dan C, dengan jalan meletakkan tanda tengahan masing-masing
stereoskopik atas titik utama berikutny4 posisi fotografiknya ditandai dengan
pada a dan a', b dan b', dmt c dan c'.
menusuk melalui pusat silang itu.
Asas tanda apung dapat digunakan untuk memindah titik utama ke
letak identiknya sehingga terbentuk jalur terbang. Pada cara kerja ini, mula- t) (r
mula titik utama diletakkan seperti biasa pada perpotongan garis fidusial.
Kemudian dengan menggunakan alat pemindah titik seperti disajikan pada
8.5 METODE STEREOSKOPIK UNTUK PENGUKURAN
PARALAKS
Gambar 8.7, titit utama ini dipindah ke lokasi identiknya. Alat pemindah
titik terdiri dari dua bagian terpisah yang mengandung tanda tengahan yang
identik dan digoreskan pada kaca Tanda tengahan bagian kiri pada Gambar 8.7
Melalui asas tanda apung, paralaks titik dapat diukur secara
stereoskopik. Metode ini menggunakan stereoskop bersama dengan instrumen
ditempatkan di atas salah satu titik utama, misalnya titik kiri o1. Dengan
yang disebut batang paralaks (parallax bar), yang juga sering disebut
menggunakan stereoskop cermin untuk pengamatan, tanda tengah bagian stereometer. Batang par. laks trdiri dari batang logam yang padanya difasang
kanan ditempatkan dr atas foto kanan dan digerak-gerakkan hingga diperoleh dua tanda tengahan. Tanda tengahan kanan dapat digerakkan dalam
pandangan stereoskopik yang jelas atas tanda apung dan dua tanda yang lebur hubungannya dengan tanda tengahan kiri dengan jalan memutar sebuah sekrup
menjadi satu tampk mendarat tepat di atas tanah. milcrometer. Pembrcaan mikrometer dilalcukan dengan Enda apung diletakkan
dengan tepat pada titik+itik yang paralaksnya dikehendaki. Dari pembacaan
mikrorneter, diperoleh paralaks atau beda paralaks. hda Gambar 8.8 disajilon
sebuah batang paralaks yang terletak di atas foto, di bawah sebuah stereoskop
cermin.

Grmbar E.7 Alat pemindah titik buatan Simpson. (Seizin Alan Gordon
Enterprises, Inc.)

Tanda tengahan bagian kanan, yang diberi sendi, kemudian diangkat


agar memberi jalan untuk merendahkan batang benendi yang mengandung
sebuah janrm. Jarum itu turun tepat pada posisi yang ditempati oleh tanda
tengahan yang kanan. Jarum itu ditekan ke folo sehingga membuahkan tanda r) (l
Gambar 8.E Stereoskop cermin Wild ST-4 dengan binokuler dan batang
titik utama pindahannya. Cara kerja sterfuskopik ini sangat tepat bila paralaks. (Seizin Wild Heerbrugg Instruments, Inc.)
dilakukan dengan cermat dan keuntunganya ialah tidak diperlukannya gambar
tersendiri di sekitar titik utama, seperti halnya pada metode monoskopik.
Bayangkan saja misalnya, kesulitan pemindahan titik utama dengan cara
Pada waktu menggunakan batrng paralaks, mula-mula dua foto yang
monoskopik yang letaknya di tengah ladang gandum. Akan tetapi pemindahan
berupa pasangan stereo dengan cerrur diorientasikan untuk pengamatan
titik ini dapat dilakukan dengan mudah bila digunakan metode stereoskopik.
2t2
213
stereoskopik yang nyaman, sedemikian hingga jalur terbang pada tiap foto
t-eletak pada sebuah garis lurus seperti biasa, seperti disajikan-pada camuar
8.5. Kemudian foto dilekarkan dengan pasti dan batang paiaars-oitetakkan di
ltas foto. Tanda tengahan kiri yang disebut tanda tetip (fixed mark), tidak
dimatikan dan digerak-gerakkan hingga kalau tanda apung menyatu pada titik
medan yang ketinggiannya rata-rata pembacaan batang paralaks kurang lebih Tanda
a tengahan
di tengah kisaran pembahan angkanya Tanda tetap itu kemudian oimatitan. o tetap
mana tempatnya tetap bagi pengukuran paralaks bagi pasangan stereo
tertentu. Setelah tanda tetap ditentukan dengan cara ini, tanda tengahan kanan
Ttau
tand.a
1ak
tetap dapat digerakkan ke kiri atau ke kanan terhaflap anda tetap
(menambah aiau mengurangi paralaks) bila dikehendaki untuk melakukan
akomodasi titik tinggi atau titik rendah tanpa melebihi kisaran gerak batang
paralals.
Gambar 8.9 merupakan diagram skematik tentang asas cara kerja
baang paralaks. setelah foto diorientasikan dan tanda tengahan tetap diteaft-
kan pada tempat yang baru saja dibincangkan, konstanta-batang paralaks c
untuk penyetelan itu berarti selesai ditentukan. untuk penyetelan,jarak antara Gambar 8.9 Diagram skematik batang paralaks.
titik- utama berupa sebuah konstanta, D. Bila tanoa tetap dimatitan,larat oari
F*da_tetap ke tanda indeks pada batang paralaks juga berupa konlhnta, (. Konstanta batang paralaks harus ditentukan berdasarkan pembacaan
Dari Gambar 8.9, paralaks titikA adalah: mikrometer dan pengukuran paralaks bagi dua titik. Kemudian dapat diambil
raLa-rata dua nilai itu. Satu di antara dua titik itu dapat dipilih untuk maksud
xa-
- r)
Pa = xa' = P (K = (D K) + ro ini, akan tetapi, dua titik utama lebih disukai dan banyak diSunakan. Gambar
- - 8,10 merupakan bagian pasangan foto tegak yang bertampalan. Berdasarkan
Istilah D idah c, konstanta batang pararaks bagi penyetelan itu. Persamaan 8.1, paralaks titik utama Or di medan tergambar pada foto kiri
hg4 -K
ro ialah pembacaan mikrometer. Dengan substitusi c pada persamaan di dengan Po1= xo1- (xo'r) = 0 (4) = b' (koordinat xbagi o1 pada foto
atas maka pemyataan tersebut menjadi:
-
kiri sebesar nol). Paralaks titik utama O2 di medan, di foto kanan juga
tergambar dengan Po2=xor-xo'2=[-0= b. Dari pefbincang8n
po =C+ro (8.3) sebelumnya, terlihat jelas bahwa paralaks titik utama medan sebelah tiri
sebesar basis foto b' yurg diukur pada foto kanan, sedang paralaks medan
Persamaan 8.3 menyatakan mikrometer batang paralaks sebagai
sebelah kanan sebesar basis foto D yang diukur pada foto kiri.
"pe.mbacaan ke depan", yaitu pembacaan bertambah uesar uagi paralaks yang
Untuk lnenentukan konstanta batang paralaks dengan menggunakan
lebih besar. Bila pembacaan menjadi kecil bagi paralaks yan! teuit uesarl
paralals itu disebut "pembacaan te uetatang" oan tarioa ilabar r harus
titik utama, mula-mula diukur jarak D dn b'. Kemudian tanda apung ditam-
llrrg
dibdik.
paksatukan sefara stereoskopik pada titik utama al, dan nilai mikrometer r,
Untuk menghitung konstanta batang paralaks, dilakukan pembacaan dibaca, sehingga diperoleh Ct= b'- ror. Tanda apung itu kemudian
.-
miluometer dengan tanda apung diletakkan pada titik itu. paralaks titik diletakkan secara stereoskopik pada titik utama foto kanan, o2, dan nilai
lt) rf
tertentu dapatjuga diukur langsung seqra monoskopik dan dihitung dengan mikrometer rordibaca, sehingga diperoleh Cz= b r,2. Kesalahan oleh
menggunakan Persamaan 8.1. Kemudian, dengan p dan r bagi titik yang -
kesendengan foto, tinggi terbang yang berbeda pengkerutan kertas, dan
diketahui, nilai c dihitung dengan menggunakan irersamaani.3 seuaga'i
pengukuran pada umumnya menyebabkan diperolehnya dua nilai C yang agak
berikut:
berbeda. Oleh karena itu padaumumnya diambil nilai rata-ratanya.
C=p-r (8.4) Pada praktgknya kariang-kadang titik utama terhapus sehingga
pengukuran sterebskopik ro, dan r* sulit dilakukan. Pada keadaan
I
215
214
nilai yang benar.
Ada instrumen yang memadukan stereoskop dan batang paralaks
menjadi satu unit. Gambar 8.11 dan 8.12 masing-masing menunjukkan
sebuah stereoskop cermin dan stereoskop saku dengan batang yang diikatkan
padanya. Perhatikan ikatan binokuler pada unit Gambar 8.1l, untuk memper-
besar ketelitian. Unit stereoskop saku terulama siap untuk penentuan tinggi
pohon, tinggi bangunan dan sebagainya. Meskipun memiliki keuntungan
oleh kesederhanaan dan ukuran yang kecil, tentu saja terbentur pada ketidak-
nyamanan yang lazim terjadi pada stercoskop saku, yaitu bahwa foto atas
menutup sebagian dasratt tampalan pada pasilngan stereo.

Gambar 8.10 Paralaks titik utama.

demikian, karena paralaks titik hanya bergantung pada ketinggian titik dan
tidak bergantung pada lokasinya pada foto, tanda apung dapat diletakkan secara Gambar E.11 Stereoskop cermin N2 dengan binokuler dan batang paralaks
stereoskopik justru sedikit di luamya pada saat dilakukan pembacaan mikro- yang diikatkan padanya. (Seizin Carl Zeiss. Oberkochen)
meter. Ini tidak akan mempengaruhi pembacaan mikrometer apabila permuka-
an medan di dekat titik utama cutup datar, dan terhindarkan ketidaktelitian
peletakan landa apung pada gambar yang rusak. Dua foto terpisah dapat
digunakan saling bergantian. Akan tetapi, harus dipilih sedemikian sehingga
titik itu terletak sebelah-menyebelah jalur terbang dan berjarak sama terhadap
jalur terbang. Dengan demikian akan meminimalkan kesalahan paralaks
sehubungan dengan kesendengan dan kesalahan orientasi foto.
Salah satu keuntungan pengukuran paralaks stereoskopik ialah lebih
cepat, karena setelah ditetapkan konstanta batang paralaks, paralaks titik-titik
lain diperoleh secara cepat dengan sekali pembacaan mikrometer bagi tiap .) rl
titik. Keuntungan lainnya ialah ketelitian yang lebih besar, bukan hanya oleh
pengamatan binbkuler, tetapi juga karena pembacaan terkecil pada sebagian
besar mikrometer batang paralaks berskala hingga 0,01 mm. Kemampuan
seseorang untuk menyetel tanda apung semakin baik bila latihannya semakin
banyak, seperti halnya orang belajar berenang. Seorang yang berpengalaman Gambar E.12 Stereoskop satu TM untuk pengukuran. (Seizin Carl Zeiss'
dalam menggunakan alat berkualitas baik dan foto yang baik pada umumnya Oberkochen). \ '
mampu memperoleh paralaks dengan perbedaan sebesar + 0,03 mm terhadap 't
216 2t7

8"5 PERSAMAAN PARALAKS Dengan menyamakan segitiga sebangun pada Gambar 8.13, dapat
disusun formula untuk menghitung ir, X6, dan Yo. Pertama-tama, dari
Seperti yang dikemukakan terdahulu, bagi tiap titik dapat dihitung segitiga sebangun Lpa, dan LiAy
koordinal medannya, X, Y, dan Z, berdasarkan pengukuran paralaksnya.
9*-Uq 8.13 menyajikan sepasang foto tegak yang bertampAandan Opoi.et Ye
dari ketinggian terbang sama besar di atas bidang rujukan. Gambar suatu titik
objek A tampak masing-masing Fda a dan a' difoto kiri dan kanan. Keduduk-
H-he- -!of
an planimetrik titik A di atas tanah dinyatakan dengan koordinat medan Xn
sehingga
dan Yn . Ketinggiannya di atas bidang rujukan ialah ha. Sistem sumbu
rnedan X r berasal pada titik utama datum p pada foto kiri: sumbu X terletak
pada bidang
_vertikal yang sama dengan sumbu jalur fotografik x dan x,; dan
yo=*@-
NJ hA)
sumbu Y melalui titik utama datum pada foto kiri serta tegak lurus terhadap
sumbu X. Menurut definisi ini, tiap pasangan foto mempunyai sistem
koudinat medan yang unik. Dengan menyamakan segitiga sebangun Lpa, dan L1AA*

z,l*---.--B XA
H-he- -xof
T--
IL,

I sehingga:

Lo xo=*
,, J w - hA)

Juga dari segitiga sebangun L2o'a', dan LyAo'A, ,

\\\ B
\\ -Xl _-x.
H-he- f
\\
\\ sehingga:
\\ x-'
nrL: t- Xo'=B++(H-he)
^ l\
,'' i,/ /rl
I lt (l Dengan menyamakan

h^=H-J-
"A Xo_
(r) dan (c) serta mereduksi,

Xo,
x.<*R_xn
Dengan substitusi p, untuk xo- xo'ke persamaan di atas:
Gambor 8.13 Geometri pasangan foto tegak yang bertampalan.
218 219

10,96 mm dfi ls,n mm. Juga, koordinat foto.r dan ) titikA dan B diukur
h^ =
"Pa
H-il (8.s)
terhadap sumbu jalur terbang pada foto kiri ialah xo= 53Al pm, )o = 50,84
rrrr, 16 = 88,92 mm, dan lb = 46,69 mm. Hitunglah ketinggian titik A
Sekarang dengan substitusi Persamaan 8.5 ke Persamaan (b) dan (a) dan dan I -
dan panjang horisontal garis.A8.
mereduksi:

lovafun
X,=BL
o (8.6)
Dengan formula E.4,
Po
C1 = b'-
yor
= 93,30
- 12,57 = 80J3 mm

- r-= 13,04 = 80,69 mm


C2 = b' 93,73
Y^=BL
n pa
(8.7) -
v-- 8o'73 2+ 8o'69 = go.7l mm
Di dalam Persamaan 8.5,8.6, dan 8.7, hlialah ketinggian titikA di "
atas bidang rujukan (datum), H ialah tinggi terbang di atas datum, B ialah Berdasa*an Persamaan 8.3,
basis udar4/ ialah panjang fokus kamera, po ialah paralaks titik A, X6 dan po= C + ra=80,71+ 10,96 = 91,67 mm
fA iatah koordinat medan titik A di dalam sistem koordinat yang didefinisi- po= C + 16= $Q1l + 15,27 = 95,98 mm
kan sebelumnya secila unik, dan l, serta ya ialah koordinat foto titik a yang
Berdasarkan Persamaan 8.5,
diukur terhadap sumbu jalur terbang pada foto kiri.
Persamaan 8.5, 8,6, dan 8.7, biasanya disebut persamoan paralaks,
yang tergolong persamaan paling penting di dalam fotogrametri. Persamaan
h^ =n H-Bl
po= 4.045 9r;6-r = 1.917 kaki di atas permukaan

ini memungkinkan untuk survei seluruh daerah tampalan pasangan stereo, hut
apabila diketahui panjang fokus dan tersedia titik kontrol medan yang cukup
sehingga basis udara B dan tinggi terbang Il dapat dihitung. hB= H-B{b 4'M5
Persamaan 8.6 dan 8.7 membuahkan koordinat medan X dan Y di
= = 2'0l2kaki di atas permukaan
dalam sistem koordinat unik pasangan, stereo, yang tidak berkaitan dengan laut
sistem kmrdinat medan. Akan tetapi, apabila sembarang koordinat ditentukan
dengan menggunakan persamaan ini bagi dua titik yang koordinat medannya Berdasadran Persamaan 8.6 dan 8.7,
diketahui, maka sembarang koordinat bagi semua titik dapat diubah ke sistem
medan sebenarnya melalui transformasi koordinat bersesuaian dua- X.=BL=W=746kaki
dimensional, seperti yang diperikan pada I-ampiran B.

Contoh 8.1 xs=BL=W= l'l85kaki


Sepasang foto vertikal yang bertampalan dibuat dari ketinggian4.A4S 0) (l
kaki di atas permukaan laut, dengan panjang fokus kamera 152,4 mm. Basis
re = B
udaranya sebesar 1.280 kaki. Dengan foto yang diorientasikan secara tepat,
pembacaan batang paralaks sebesar 12,57 mm dan l3,M mm diperoleh
*=W=Tlokaki
dengan tanda apung masing-masing disetel pada titik utama o1 dan oVPada
foto kiri, D temkur sebesar 93,73 mm dan pada foto kanan b'terukur sebesar YD=B*=W=-6z3traki
93,30 mm. Pembacaan batang paralaks pada titik A dari titik B sebesar
220 221

Panjang horisontal garis AB ialah:

AB= I ,r-,-----1,,
= l.404 kaki

8.7 KETINGGIAN BERDASARKAN BEDA PARALAKS


Beda paralaks antara satu titik dan titik lainnya disebabkan oleh
perbedaan ketinggian dua titik itu. Sementara Persamaan paralaks 8.5
menegaskan hubungan antara paralaks stereoskopik dan tinggi terbang,
ketinggian, basis udara, dan panjang fokus kamera, beda paralaks lebih
menguntungkan untuk menentukan ketinggian. Pada Gambar 8.14, titik
objek C merupakan titik konrol di mana tinggi n. di atas datum dik'etahui.
Ketinggian titik objek A dikehendaki. Dengan menyusun kembali Persamaan
8.5, paralaks dua titik dapat dinyatakan sebagai:

n =1 fB
rc ld)
H_h"
fB
n =1
ra (e)
H-hl

Beda paralaks, pa-


pc diperol-eh dengan substraksi Persamaan (A M
Persamaan (c) dan penyusunan kembali, ialah:

_ lB(hA_ hc)
Pa-Pc=m_hii a Gambar E.l4 Ketinggian berdasarkan beda paralaks

Misalkan pa- pc sama dengan 4p, beda paralaks. Dengan substitusi


(H h) dari Persamaan (e) dan Ap ke Persam aan (f) dan mengurangi, di-
-
peroleh persamaan ketinggian 11:
t) Contoh 8.2

Dalam Contoh 8.1, tambahan pembacaan batang paralaks sebesar


hc)
ht = hc +Ae(H-- (8.8) 11.89 diperoleh atas titik konrol C, yang tingginya 1.938 kaki di atas
permukaan laut. Hitunglah ketinggian titik A dan B pada contoh itu dengan
rnenggunakan Persa4aan beda paralaks 8.8.
223

Jawahn Pada Persamaan 8.9, Art ialah beda tinggi antara dua titik yang beda
paralaksnya sebesar Ap. Untuk pemotretan dengan format 9 inci bujur
Dengan formula 8.3,
sangkar dan dibuat dengan 60 penen tampalan depan, basis foto D mendekati
pc=c + rc=80,71+ 11,89 = 92,60 mm. 90 mm. Untuk relief sedang, paralaks bagi semua titik sama dengan D,
sehingga substitusi b untuk po dapat diterima. Lebih jauh lagi, bila tinggi
Untuk titik A, (t
terbang tidak sangat rendah dan reliefnya sedang, substitusi tinggi ter-bang
Ap= mm. rata-rata di atas lanah, H'untuk II- l" dapat diterima. Untuk tinggi terbang
Pa-Pc=91,67 -92,ffi = -{,93 yang sangat rendah atau di daerah berelief kasar, atau keduanya, asumsi
Dengan persamaan 8.8, Persamaan 8.9 tidak terpenuhi. Dalam hal ini harus dipakai Persamaan 8.8'
/-0;93X4'045 Persamaan 8.9 terutama menguntungkan bagi interpretasi foto di mana sering
Ire=1.938+L 9l;61
- l'93il = 1.917 kaki di atas permu- diperlukan untut ketinggian yang kasar, ketinggian bangunan dan pohon, dan
kaan laut) sebagainya.

Untuk titik B, Contoh 8.3


Lp -- Pb Pc = 95,98 92,60 = 3,38 mm' Beda paralaks antara puncak dan dasar sebuah pohon diukur pada
- - pasangan foto stereo yang dibuat pada ketinggian 3.000 kaki di atas tanah,
Dengan persamaan 8.8,
iebesar 1,32 mm. Basis foto rah-rata sebesar 88 mm. Berapakah tinggi
?. . pohon itu?
hs = l'938 +*2-0$_.04I_1.e3-0) _
- 2'012 kaki di atas permukaan
95;9g
lau0
Jartofun
Perhatikan bahwa jawaban ini mengecek nilai yang dihitung pada Dengan formula 8.9
Contoh 8.1
Jika sejumlah titik kontrol diletakkan di seluruh daerah tampalan, on =lft}@=45kalii
penggunaan Persamaan 8.8 memungkinkan ketinggian yang tak diketahui
ditentukan paling tepat berdasarkan beda paralaks terhadap titik kontrol
terdekat. Ini meminimumkan efek banyak kesalahan termasuk titik fotografik, Contoh 8.4
ketidaksempurnaan pelurusan foto untuk pengukuran paralaks, pemekaran dan Dengan menggunakan beda paralaks Persamaan 8.9, ditentukan tinggi
pengkerutan kertas foto' dan distorsi lensa kamera. Monument Washington berdasarkrn pengukuran paralaks pada Gambar 8.3.
Tinggi terbang 6.000 kaki di atas tanah dan basis foto D terukur sebesar 3,25
inci.
t.t PERSAMAAN KURANG TELITI BAGI KETINGGIAN
BERDASARKAN BEDA PARALAKS
J6wfun
Formula kurang teliti untuk beda tinggi berikut ini diperoleh dari
t; 'l Pada Gambar 8.3, paralaks purrcak monumen terukur sebesar 3,60 inci
Persamaan 8.8 dengan: (1) substitusi basis foto D pasangan stereo untuk po, dan paralaks dasarnya sebesar 329 nci. Beda paralaks ialah:
(2) substitusi tinggi terban g ratac;ata di atas tanah, H' , untuk (I/ hr); dan Ap = 3,ffi 3,29 = 0,31 inci
(3) menetapkan Lh= he-hc: - -
Dengan Persamaan 8.9 maka tinggi monumen sebesar
x o3.1
6p -6@o =sl2kah
(8.e)
fini bqbeda 3 persen dari tinggi sebemrnya yaitu 555 kaki).
^h=Mf
'2U 225

t.9 PENGUKURAN BEDA PARALAKS dari sekitar 2,5 inci pada bagian dasar hingga 1,75 inci pada puncaknya. Jarak
ini mengakomodasikan kelaziman jarak antara dua gambar yang identik bila
Beda paralaks dapat ditentukan dengan salah satu car:a bedkut diorientasikan untuk pengamatan dengan stereoskop saku, dan memberikan
kemungkinan kisaran sekitar 0,75 inci dalam beda paralals yang dapat diukur.
1. Dengan pengukuran monoskopik atas paralaks diikuti dengan subsfalai. Misalnya pemisahan jarak garis pada tangga paralaks tepat sebesar
2. Dengan mengambil beda pembacaan paralaks batang. Validias pendekatan (l
2,50 inci pada bagian dasar dan 1,70 inci pada puncak seperti yang disajikan
ini terpenuhi bila yang ditentukan berdasarkan pembacaan batang paralaks
pada Gambar 8.15. Bila tinggi total y pembagian skala tepat sebesar 8 inci,
disubstr*si sebagai berikut:
dan untuk pembagian skala sepanjang garis itu interval jaraknya sebesar UlO
inci, 80 angka itu masing-masing bertambah dengan 0,01 inci ke arah atas
Ap=p-pr=(C+ r)-(C *r")= t-rc dan semakin dekat garis rujukan. Skala diberi angka dari 70 hingga 00 hingga
50 pada tangga paralaks sehingga mencerminkan beda paralaks sebe.sar l/100
3. Dargan tangga paraloks.
unit. Dengan tangga paral*s khusus ini suatu kisaran dengan beda paralaks
Tangga paralaks seperti yang disajikan pada Gambar 8.15, terdiri dari sebesar 0,80 inci dapat diakomodasikan.
selernbar film tembus pandang yang padanya tergambar dua baris konvergen. Bila digunakan tangga paralaks, mulia-mula foto diorientasikan secara
Garis yang kiri menrpakan garis rujukan, sedang garis sebelah kanan dirinci cermat seperti biasa dan diamankan. Tangga paralaks diletakkan di atas daerah
atas bagian-bagian untuk maksud pembacaan. Jarak antara dua.garis itu tampalan dan diamati secara stereoskopik. Dua garis pada trngga paralaks
tergantung pada tangga paralaks yang akan digunakan dengan stereoskop akan lebnr menyatu dan tampak sebagai satu garis apung pada daerah di mana
cermin atau stereoskop salcu. Untuk stereoskop saku maka jaraknya berkisar jarak antara garis itu sedikit lebih kecil dan jarak antara dua gambar yang
bersangkutan. Garis apung akan tampak memisah bila paralaks garis itu sama
besar dengan paralaks gambar foto. Posisi tangga paralaks dapat disesuaikan
inN sedemikian sehingga garis apung memisah dan membentuk sebuah tangga
f+1.7
tepat pada titik yang paralaksnya diinginkan. Pada titik itu dilakukan
pembacaan pada skala. Pembacaan tangga paralaks pada titik a Gambar 8.15
misalnya, sebesar 193 inci. Beda paralaks diperoleh secara sederhana dengan
mengambil beda pembacaan paralaks untuk titik yang berbeda.
Cara yang murah untuk membuat sebuah tangga paralaks ialah dengan
membuat gambaran dengan tinta pada kertas putih, memotretnya, dan
membuat film positif dari negatifnya. Ukuran positif harus dibuat dengan
cermat untuk memperoleh ukuran yang tepal Untuk meningkatkan ketelitian
selama pembuatan tangga paralaks, gambaran tinta dapat dibuat pada
perbesaran dua atau empat kali, kemudian diperkecil secara fotografik ke
ukunan yang benar.

u/
t.l0 GRAFIK UNTUK KOREKSI PARALAKS
Kesalahan paralala terukur oleh kesendengan fotografik, ketidaklurusan
foto dalam pengukuran paralaks" pengkerutan dan pemekaran kertas foto, dan
distorsi lensa kamera dapat dikompensasi secara efektif dengan membentuk
grafik koreksi paralaks. Untuk membuat grafik semacam ini perlu sejumlah
titik konrol tegak yaqg tersebar merata di seluruh daerah tampalan stereo.
Gember E.15 Tangga paralals Misalnya, enam titik Rontrol A hingga F pada daerah tampalan pasangan
226 227

stereo yang dipotret dari ketinggian terbang 6.900lraki di atas datum, tersebar
merata sekali. Ketinggian enam titik itu disajikan pada lajur 2 Tabel 8.1, dan
or=ffi)r, (8.10)
pembacaan batang paralaks pada tiap titik ini didaftar pada lajur 3.
Berdasarkan satu titik kontrol ruiukan tertentu, misalnya titik C, beda Pada Persamaan 8.10, hc dan p" masing-masing ketinggian dan
pamlaks Ap'yang dihasilkan dari pembacaan ukuran batang paralaks dihitung paralaks titik konrol rujukan terpisah, dan i ialah ketinggian suatu titik
dengan mengurangkan pembacaan atas titik C dari tiap pembacaan lainnya. 'i .)
kontrol lain. Tinggi terbang di atas datum ialah H. Titik kontrol rujukan
Nilai ini didaftar pada jalur4 Tabel 8.1. Karena ketinggian enam titik itu dapat dipilih sesuka hati, akan tetapi lebih enak untuk memilih titik yang
semua diketahui, beda paralaks teoretik 4p yang harus ada di antara titik-titik paling rendah, karena beda paralaks yang dihitung berdasarkan Persamaan
ini dapat juga dihitung. Oleh karena itu maka perbedaan antara Lp' dan Lp 8.10. semuanya positif. Dari persamaan beda'paralaks {p anrara titik kontrol
mencerminkan koreksi yang harus dilakukan atas kesalahan yang diutarakan di rujukan dan titik kontrol lainnya dihitung berdasarkan Persamaan 8.10.
atas. Hasilnya disajikan pada lajur 5 Tabel 8.1. Perhatikan bahwa untuk
Guna mengembangkan persam:uln untuk menghitung Ap , misalkan perhitungan ini maka konstanta batang paralaks C seharusnya telah dihitung
sebagai titik kontrol rujukan. Kemudian dengan
titik C telah dipilih sesuai dengan Persamaan 8.4 sehingga paralaks p, dapat dihitung dengan
Persamaan 8.5, menggunakan Persamaan 8.3. Untuk contoh ini, C sebesar 62,40 mm, dan
nilai hasilnya,pc sob$ir 81,62 mm.
H-hc =U (s) Setelah Lp'dan {p ditentukan, koreksi cpyang harus diterapkan bagi
Pc
beda paralaks yang diperoleh dengan pengukuran tiap titik kontrol dapat
Tabel E.l Koreksi paralaks dihitung secara sederhana dengan mengurangi Ap dari Ap'. Nilai ini, yang
memungkinkan pembuatan grafik koreksi paralaks, dicantumkan pada lajur 6
(l) (2) (3) (4) (s) (5) Tabel 8.1.
Titik Ketinggian Pembacaan Beds Beda Koreksi Untuk membuat grafik koreksi paralaks, sebuah tumpangan (overlay)
kontrol (kaki) batang pa- paralaks paralaks paralaks
tembus pandang diletakkan di atas salah satu foto pasangan stereo dan posisi
ralaks terukur terhitung*) sennua titik kontrol tegak dirandai. Contoh tumpangan ini disajikan pada
h-h^
LP'=r-r, Lo =Vio, cp = ap'- Ap Gambar 8.16. Koreksi paralaks bagi semua titik kontrol tegak dicatat di
samping tiap titik, dan dengan jalan interpolasi titik-titik itu, digambarkan
(mm) (mm) (mm) (mm)
garis ke'samaan (isolines) yang menghubungkan titik-titik dengan koreksi
A 1.071 19,86 0,64 0,55 0,09 paralaks sama besar dengan cara seperti menggambarkan garis tinggi.
B 1.135 20,81 l,59 1,46 0,31 Lokasi titik-titik yang ketinggiannya ditentukan juga digambarkan
c r.032 19,22 pada tumpangan tembus pandang, misalnya titik I hingga 8 pada Gambar
D l.100 20,27 1.05 0,96 0,09
8.16. Koreksi yang harus diterapkan bagi paralaks terukur tiap titik dibaca
E 1.184 2t,65 2,43 2,17 0,26
pada grafik koreksi paralaks berdasarkan atas lokasi titik-titik pada daerah
F l.l l6 20,5',1 I,35 1,19 0,t6
tampalan. Kemudian ketinggian tiap titik dihitung dengan Persamaan 8.8
*) Perrlakr p6 untuk titik kontrol C rebcsar 81,62 mm. berdasartan paralaks terkoreksi. Pembacaan batang paralaks, paralaks
terkoreksi, dan ketinggian terhitung bagi titik I hingga 8 disajikan pada Tabel
Juga dengan Persamaan 8.5, paralaks sembarang titik lain misalnya A, ,l) 1t
8.2.
ialah

PrffiBf (h) E.Il MENGHITUNG TINGGI TERBANG DAN BASIS UDARA

Untuk menggunakan persamaan pralaks, pada umumnya perlu meng-


Dengan substitusi (g) dan (lr) pada Persamaan 8.8 dan mengurangi hitung tinggi terbarg dan basis udara. Tinggi terbang dapat dihitung dengan
serta menghilangkan 'huruf ,
228 229

Tabel 8.2 Ketinggian berdasarkan paralaks terkoreksi


(1) (2) (3) (4) (s) (5)
Beda Koreksi Beda Ketinggian*) \\
Ap(H hc)
Pembaca- paralaks paralaks peralaks n=hC+- -
an batang
paralaks
terukur
LP'=r+" grafik)
(dari terkoreksi
LP * Lp'-<p
P t)
)'"'"fu
\
Titik (mm) (mm) (mm) (mm) (kaki) o'oo
Qoo.
I t9,82 0,60 0,07 0,53 1.070 \
2 19,32 0,l0 0,03 0,07 1.o37 3
3 18,63 0,05 986
o
4 19,01 -0,59
-0,21
0,1I -0,64 1.009
/6

5 2t.67 2,45 0,l3 -o,32


2,32 l.l94 6)\
o
6 20,60 I,38 0,l7 r,2t l.ll8 vo. 13 m-
7 2t,0t 1,79 o,zt I,58 1.143
8 2t.7 5 2.53 0,18 2,35 1.196
r) Paralal'r titik kontrol acuan C rebesar 81,62 mm

menggunakan metode seperti yang dijelaskan pada Butir 6.9. Untuk hasil
terbaik, harus digunakan tinggi terbang'rata-rata dru foto pasangan stereo.
Bila basis udara diketahui dan bila tersedia satu titik kontrol tegak di
daerah tampalan, tinggi terbang pasangan stereo dapat dihitung dengan
men ggunakan Persamaan 8.5.

Contoh 8.5
Pasangan foto tegak yang bertampalan dibuat dengan panjang fokus
kamera 152,4 mm dan basis udaru 2.125 kaki. Ketinggian titik kotrol A
sebsar 927 kaki di atas permukaan laut dan paralaks titik A sebesar g9,40 O Titik kontrol tegak.
mm. Berapakah tinggi terbang di atas permukaan laut bagi pasangan stereio
e Titik yang tidak diketahui ketinggiannya"
ini?
Gambar t.16 Grafft koreksi paralaks
lawahn
Dengan Persamaan 8.5
{)
H = h +Bl = gz7 .'ff= 4.550 kaki di atas permukaan laut. Contoh 8.6

Jika tinggi terbang di atas datum diketahui dan jika tersedia satu titik Pasangan foto tegak yang bertampalan dibuat dengan panjang fokus
_kontrol tegd( di daerah tampalan, basis udara pasangan stereo dapat dihitung kamera l52A mm dari tinggi terbang 5.320 kaki di atas datum. Ketinggian
dengan menggunakan Persamaan 8.5.
230 23r
titik kontrol c sebesar 86i kaki di atas datum dan paralaks gambarnya pada xa-xa' =3329 (- 52,32) = 85,61 mm
Po =
pasangan stereo sebesar 86,27 mm. Hitunglah basis udaranyal
pb = xb- xb' = 41,76
- (- M,96) = 86,72 mm
-
lawafun
Dengan Persamaan 8.1I
Dengan penpsunan kembali persamaan g.5

(5'320 865X86.27)'=
B = (H
-n)zI = - 152'4 2'522 kz*ri'
(2.t34,D2
. {ftu diketahui panjang sebuah garis mendatar di daerah tamparan, basis P= = 1.687,2 kaki
udara dapat dihitung. panjang
_langsung garis horisontar dapat iirvrrrtun (tt.zs 41,76 )2 ( n,+A 9s,76 )2
-
dengan koordinat rektangguler, sesuaiOengin teori pitagoras,
tiuiir,' [ 8s"61 86.72 ) (85,61 86.72 )
-tTt-T-l
Jika diketahui sekurang-kurangnya dua titik kontrol di daerah
tampalan, basis udara dapat juga ditentukan dengan rianggulasi radial. Asas
Dengan substitusi persamaan g.6 dan g.7 bagi persamaan di atas ini dibincangkan @a Bab 9.
untuk
kmrdinat rektangguler,

*=l(;-Tf .(*-?")\" 8.12 PEMETAAN DENGAN STEREOSKOP DAN BATANG


PARALAKS
Untuk menyelesaikan penamaan di atas baei B,
Bila tidak dipersyaratkan ketelitian tinggi, peta topografi yang
memadai dapat dibuat berdasarkan sebuah stereoskop dan batang paralaks.
Salah satu metode untuk melakukannya ialah dengan Persamaan 8.6 dan 8.7
untuk menghitung posisi planimetrik semua detail peta dan "titik garis
tx2 (8. r l) tinggi" yang diperlukan untuk menggambar garis tinggi. Ketinggian garis

)' -tr-i)
lva yol tinggi lebih baik ditentukan berdasarkan beda paralaks menurut Persamaan
8.8. Semua titik ini dapat digambarkan dengan cara planimetrik yang benar
sesuai dengan koordinatnya. Kemudian garis tinggi dapat diinterpolasikan
antara titik-titik garis tinggi.
Cara kerja pemetaan seperti diperikan di atas memerlukan waktu dan
Contoh 8.7 pekedaan banyak. Metode yang jauh lebih cepat dapat dilakukan secara
sederhana dengan melacak posisi planimerik titik+itik secara langsung pada
titik ujung garis medan AB, yangjarak mendatarnya sebesar
^ . ^ . -G_rTb*terdapat pada foro
2.13.4,1kaki,- foto kiri pasangan stereo pada tumpangan tembus pandang. Ketinggian semua
tegak yang *i[arpatan. ioo.iirat roto
terukur terhadap sumbu jalur pada foto kiri iilah xo titik yang diperlukan kemudian dapat ditentukan dengan mengukur beda
=-33,29 Dh, )o = 13,46 paralaks. Garis tinggi dapat diinterpolasikan dan digambar langsung pada
mm .rD = 41,76 mm, dan yb = 95,76 mm. Koordinat foto teiutur pada
- tumpangan sambil mengamati model stereo melalui stereoskop. Ini
foto kanan ialah xo' - 52,32 mm dan x6,= 44,96 mm. Hitunglah basis
udara pasangan -
stereo ini. - memberikan keuntungan bagi operator karena dapat mengamati medan seperti
sebenarnya dalam tiga dimensi pada saat menggambar garis tinggi. Akan
tetapi, karena posisi planimetrik titik-titik dilrcak langsung pada foto, metode
lawahn ini kelemahannya terletak pada peta yang dihasilkan yang berupa proyeksi
Dengan persamaan 8.1.
232
233
{
perspektif. Skalanya bervariasi menurut ketinggian medan dan mengandung i
Contoh 8.8
semua kesalahan posisional gambar pada foto kiri. x
Cara lain untuk kompilasi peta dengan stereoskop dan batang paralaks
Sepasang foto vertikal yang bertampalan dibuat dengan panjang fokus
ialah menggunakan instrumen yang khusus dirancang unttk piiyidikan
kamera 152,00 mm dari ketinggian terbang 6.885 kaki di atas permukaan
langsung (direct racing) perwujudan topografik dan garis tinggi. Instrumen
jenis ini ialah stereokomparagraf seperti tersajikan pada Gambar g.17. laut. Basis udaranya sebesar 3.20 kaki. Pasangan stereo itu diorientasikan
() untuk pengukuran paralaks dan konstanta batang paralaks ditentukan sebesar
Instrumen ini terdiri dari sebuah stereoskop cermin dan batang paralaks yang
dipasang tetap sebagai satu unit. Foto diorientasikan untuk pengamatan
C = 67,45 mm. Hitunglah penyetelan milaometer batang paralaks yang
diperoleh untuk menggambarkan garis tinggi 750, 800, 850, 900, 950, dan
stereoskopik yang jelas, dengan menggunakan metode 'Jalur terbang" yang
1.000 kaki.
dijelaskan pada Butir 7.6, dmt kemudian diplester untuk pengamanan. stereo-
komparagraf dapat dipasang pada batang penggambar sejajar sedemikian
Jawafun
sehingga garis yang melalui tanda tengahan pada batang paralaks sejajarjalur
terbang. Stereokomparagraf dapat digerakkan di seluruh model stereo Persamaan 8.5 terpecahkan dalam bentuk tabel berikut:
perwujudan fotografik seperti jalan, pagar, sungai, dan
-menyidik
sebagainya-dengan mempertahankan tanda apung tetap mendar.at pada Bf
Garis tinggi, H-h, P-H-h r =p-C,
perwujudan yang disidik. suaru batang metal (tidak disajikan pada Gambar
8.17) yang diikatkan pada stereokomparagraf memegang pensil yang (kaki) (mm) (mm)
memungkinkan penyidikan langsung atas perwujudan pada lembaran peta. 750 5.135 80,27 12,82
rangkaian pembacaan mikrometer batang paralaks yang tepat, garis 800 6.085 80,93 13,48
!eng3n- 850 6.035 8l,60 14,1 5
tinggi dapat disidik langsung dengan ryempertahankan tanda ipung setatu
mendarat pada tanah pada saat tanda apung ini digerakkan pada modei stereo.
900 5.985 82,29 14,84
p."nyg!..1- batang paralaks yang dipprlukan untuk menyidik 950 5.935 82,98 15,53
tiap garis tinggi 1.000 5.885 83,68 r6,23
siap dihitung.

Dengan instrumen batang paralaks seperti stereokomparagraf, substi-


tusi peta yang dihasilkan berupa proyeksi perspektif yang mengandung
kesalahan letak oleh kesendengan dan relief pada foto kiri pasangan stereo itu.
Pada daerah yang reliefnya halus maka hasil ini dapat digunakan sebagai peta,
akan tetapi bagi daerah relief kasar, diperlukan banyak koreksi untuk
mengubah peta substitusi menjadi peta
Ada instrumen pemetaan jenis batang paralaks yang melakukan
koreksi kesalahan letak oleh kesendengan dan relief sehingga membuahkan
proyeksi orto$afis. Metode yang digunakan untuk melakukan koreksi bersifat
teliti pada Gambar 8.18 merupakan salah satu contoh instrumen ini.
lnstrumen ini mudah dibawa dan pada dasarnya terdiri dad sebuatr stereoskop
cermin, trnda tengahan untuk pengukuan, dan sepasang penyangga foto. Tiap
r) II
penyangga foto dapat diputar dan dimiringkan sehingga kesendengan foto
dapat diperhitungkan. Akomodasi bagi variasi skala dilakukan dengan
mengatur jarak tanda-tanda tengahan. Ini menambah tinggi bidang datum
tegak, dan sesuai dengan itu maka model stereo dapat disesuaikan terhadap
datum dengan meninggikan dan merendahkan penyangga foto. Bila foto telah
diorientasikan dengaq tepat terhadap titik kontrol medan, garis planimetrik
Gambar 8.1.7 Stereokomparagraf Fairchild..(Seizin AIan Gordon Enterprises, dan garis tinggi dapat iligambarkan dengan tanda apung selalu mendarat pada
Inc.)
t
2y 23s
perwujudan yang disidik. Pensil gambar yang diikatkan pada tanda acuan
Pendekatan umum untuk menentukan efek gabungan beberapa
mencatat gerakan itu. Pantograf memungkinkan beberapa pembesaran atau
kesalahan acak dalam jawaban terhitung disajikan pada Butir 6.10. Metode
pengecilan dari skala foto ke skala peta.
sederhana dan langsung yang sama disajiton pada contoh berikut"

() Contoh 8.9
Di dalam menghitung ketinggian titik A pada contoh 8.1, misalnya
t t
kesalahan acak sebesar 5 kaki bagi H, 5 kaki bagi B, dan 0,03 mm t
bagi po. Hitung kesalahan hasil oleh tiap sumber kesalahan ini dan hitung
efek gabungan total tiga kesalahan ini.

Jawafun
Persamaan dasar yang digunakan ialah Persamaan 8.5, dan turunan i4
di dalam persam:un itu sehubungan dengan tiga sumber kesalahan ialah:

l' ilt =1 sehingga dhs= /11

Oleh karena itu dfu, kesalahan dalam fu yang disebabkan oleh kesa-
lahan dH dalam tinggi terbang, i^lah dU,atau t 5 kaki.

Gambar 8.18 Plotter K.E.K. (Seizin Philip B Kail Assoc., Inc.)


,. B=Isehingga ane, =
fiae,
Dengan substitusi nilai numerik ke persamaan di atas,
8.13 EVALUASI KESALAHAN
Jawaban yang diperoleh dengan menggunakan berbagai persamaan dh^=P{t5=tE,3kaki
91,67'"
yang disajikan pada bab ini tentu saja akan mengandung kesalahan yang tak
dapat dihindarkan. Penting untuk djsadari adanya kesalahan dan menilai
besarnya kesalahan ini. Beberapa sumber kesalahan dalam perhitungan dengan 3.H=
persamaan paralaks ialah: ffi s*,insza dh; = ffi oo,
I . Meletakkan dan menandai jalur terbang @a foto. Dengan substitusi nilai numerik ke persamaan di atas,
2. Mengorientasikan pasangan stereo untuk pengukuran paxalals. r) al
3. Pengukuran paralaks dan koordinat foto.
4. Pengkerutan atau pemekaran foto.
5. Tinggi terbang yang tak sama bagi dua foto pasangan stereo.
o^n=ffi(t o,o3) = t 0,7 kaki

6. Foto sendeng. Efek gabungan ketinggian terhitung titik t{ bagi tiga kesalahan acak
7. Kesalahan dalam titik kontrol medan. merupakan akarpangkatdua jumlah bujur sangkar konribusi individual, atau
8. Kesalahan lain dengan akibat kecil seperti distoni lensa kamera, distorsi
pembiasan arnosferik" dan sebagainya
?
236 237

SOAL
dlre (,o,"r) ='{ 54 sfr oV = 19,7 kaki
E.l Hitung paralaks stereoskopik titik a hingga d, bila diketahui koordinat
Kesalahan dalam menghitung jawaban dengan menggunakan satu di terukur berikut:
antara persamaan pada bab iniOapat Aianalisis dengan cara yang-dijelaskan di
atas. Tintu saja perlu diperkirakan besarnya kesalahan acak. Untuk meng- t) Titik r (foto kiri) x'(foto kanan)
analisis kesalahan oleh kesendengan pada foto lebih sulit. Tentang fgto yang a 2,36 inci inci
mengalami kesendengan dibincangkan pada Bab ll.
Akan tetapi, untuk b 68,05 mm -1,07 mm
seta;ng ini dipandanfcukup bahwa bagi fotografi normal yang dimaksudkan c 3,92 inci -21,61
0,39 inci
sebagai foto tegak, kesalahan jawaban persamaan paralaks oleh kesendengan d 100,37 mm 8,52 mm
Oapat Aisesuaitan dengan sumber liain yang telah dibincangkan.
Titik manakah yang paling tinggi? Mana yang paling rendah?

8.2 Hitunglah tinggi titik a hingga d pada Soal 8.1, bila panjang fokus kamera
RUJUKAN sebesar 6 inci, tinggi terbang di atas datum 8.100 kaki, dan basis udara
4.450 kaki.
Aldre4 A. H.: Wind-sway Error in Parallax Measurements of Tree Lleight, 8.3 Sepasang foto tegak yang bertampalan dipasang untuk pengukuran
Photogrammetric Engineerirg, vol. 30, no' 5, hlm' 732' 1964' D terukur sebesar 10,37
paralaks, seperti disajikan pada Gambar 8.5. Jarak
American Society of Photogrammetry: "Manual of Photogrammetry", ed. ke-3' inci. Hitunglah paralaks stereoskopik titik-titik berikut yang nilai d
Falls Church, Va., 1955, Bab 2' terukurnya sebesan
"Manual of Photogrammetry", ed. ke-4, Falls Church, Va" 1980'
Titik d (inci)
Bab 2.
Avery, T. E.: Two Cameras for Parallax Height Measurements, Photogrammetric a 6,97
b 7,O7
Engineering, vol. 32, no. 6, hlm- 576,1971.
c 6,35
-:
Bender, L. U.: Derivation of Parallax Equation, Photogrammetric Engineering,
d 6,60
vol. 33. no. 10, hlm. 1175, 1957.
Hackman, R. J.: The Isopachometer-A New Type Parallax Bat, Photograrnmetric Titik mana yang tertinggi? Mana yang terendah?
Engineering, vol.26, no.3, hlm' 457' 1960.
Hadjitheodorou, C.: Elevation from Parallax Measurements, P hol ogr amme t r i c 8 .4 Sama dengan Soal 8.3, kecuali nilai D terukur sebesar 266,55 mm dan nilai d
Engineering, vol.29, no. 5, hlm' 840' 1963. sebagai berikut:
Johnson, E. W.: The Limit of Parallax Perception, Phologrammetric Engineering,
vol. 23, no. 5, hlm. 933, 1957. Titik d(mm)
Moessner, K. E.: Comparative usefulness of Three Parallax Measuring a 170,18
InstrumentE in the Measurement and Interpretation of Forest Stand, b 164,29
c L7 6,03
Photogrammetric Engirueriag, vol. 27, no.5' hlm.705' 1951.
d 166,46
Nash, A. J.: Use a Mirror Stereoscope Correctly, Photogrammeffic Engineering,
vol. 38, no. 12, hlm. 1L92, 19'12. t) (,
Porter, Goff R.: Errors in Parallax Measurernents and Their Assessment in Student E.5 Misalkan titik A pada Soal 8.3 tingginya 1.190 kaki di atas datum dan foto
dibuat dengan panjang fokus kamera 3,5 inci. Bila basis udara sebesar 3.690
Exercises, Photogranmetric Record, vol. VlI, no. 45, hlm. 528' 1975'
kaki, berapakah tinggi titik B,C dan D?
Schul G. H.: The Determination of Tree Heights From Parallax Measurements, t.5 Misalkan titit A pada Soal E.4 tingginya 375 di atas datum dan foto dibuat
Canadian Surveyor, vol. 19, trlm. 415' 1965. dengan kamera yang panjang fokusnya 152,40 mm. Bila basis udara 1.830
m, berapakah tinggi titik B, C, daa D?
t

238 239

t.7 Sepasang foto tegak yang bertampalan diorientasikan untuk pengukuran berlaku bagi titik A dan B. Hitung basis udara pasangan stereo tersebut
paralaks dengan stereoskop dan batang paralaks yang pembacaannya ke dengan menggunakan Persamaan 8.11.
arah depan. Pada foto kiri, ukuran b sebesar 82,61 mm dan pada foto kanan
D'sebesar 83,06 mm. Pembacaan paralaks batang pada o1 dan o2 masing- Koordinat Koordinat Koordinat
masing sebesar 20,82 mm dan 20,33 mm. (o) Hitunglah konstanta batang foto kiri foto kanan medan
paralaks C berdasarkan rata-rata nilai dua titik prinsipal. (r) Tilik Titik
prinsipal mana yang letaknya lebih tinggi. (c) Hitunglah paralaks titik a
t) y', inci I.
x. inci y, inci ,r', inci X, kaki kaki
hingga d, bila diketahui pembacaan mikrometer berikut:
A 1,040 -3,827 *2,562 -3,831 256.445,4 91.851,6
Pembacaan B -O,765 1,346 -3,655 1,344 256.726,4 89.736,1
Titik mikrometer
(mm) E.15 Sama dengan Soal 8.14, kecuali koordinat foto dan koordinat medan bagi
a 19,91 titik, dan ^B yang nilainya seperti berikut:
b 2t,08 Koordinat Koordinat Koordinat
c 20,84
foto kiri foto kanan medan
d 18,67
Titik
E.8 Misalkan foto pada Soal 8.7, dibuat dari ketinggian 8.950 kaki di atas
r. ), mm x" mrn )" mm
mm X,M Y,M
titik kontrol A yang tingginya 721 kakl dari datum. Hitunglah tinggi titik A 65,78 82,71 -33,87 82,70 ro2.055,75 35.781,09
B, C, dan D dengan menggunakan Petsamaan 8.8 dan Persamaan 8.9 dan B 41,82 100.989,84 34.196,60
bandingkan hasil oleh dua persamaan tersebut (misalnya tinggi rata-rata di -:16,29 -50,24 -76,31
atas tanah sebesar 8.950 kaki). 8 .1 6 Jarak b pada foto kiri dan D' pada foto kanan sepasang foto tegak yang
8.9 Dari informasi yang diberikan pada Soal 8.1 dan 8.2, hitunglah jarak J,' bertampalan masing-masing sebesar 90,26 mm dan 89,85 mm. Bila basis
mendatar garis AC. Koordinat y terukur