Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH SEROLOGI DAN IMUNOLOGI

KOMPONEN DARAH DAN FUNGSINYA

Oleh :

Kelompok 1B

Risti Indah Safitri 08061181419002

Desi Romsiah 08061181419028

Muhammad Ridwan 08061281419044

Indah Sesaria Kirana 08061381419068

Duha Inda Misdwima 08061381419088

Dosen Pembimbing :

Rennie Puspa Novita, S.Farm, M.Farm, Klin., Apt

Yosua Maranatha Sihotang, M.Si., Apt

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Di dalam tubuh manusia, ada alat transportasi yang berguna sebagai pengedar
oksigen dan zat makanan ke seluruh sel-sel tubuh serta mengangkut karbon dioksida
dan zat sisa ke organ pengeluaran, yang disebut sistem peredaran darah. Darah adalah
cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang
berfungsi untuk mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh,
mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh
terhadap virus atau bakteri.
Istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan
kata hemo atau hemato yang berasal dari kata Yunani yang berarti haima yang berarti
darah. Darah manusia berwarna merah. Warna merah terang menandakan bahwa darah
tersebut mengandung banyak oksigen, sedangkan warna merah tua menandakan bahwa
darah tersebut mengandung sedikit oksigen (mengandung banyak karbondioksida).
Warna merah pada darah disebabkan oleh adanya hemoglobin. Hemoglobin adalah
protein pernafasan (respiratory protein) yang mengandung besi (Fe).
Darah memiliki beberapa komponen seperti plasma dan sel-sel darah yang
memiliki fungsi tersendiri yang diperlukan oleh tubuh. Makalah ini akan membahas
komponen darah beserta fungsinya, serta proses pembentukannya didalam tubuh
manusia.

B. TUJUAN
1. Mampu mendeskripsikan komponen darah dan fungsinya dalam tubuh.
2. Mampu mengetahui mekanisme kerja komponen darah dalam tubuh.
3. Mampu menjelaskan mekanisme pembentukan sel-sel darah.

C. MANFAAT
1. Mengetahui komponen pada darah dan fungsinya di dalam tubuh.
2. Mengetahui mekanisme kerja komponen darah dalam tubuh, sesuai dengan
peranannya masing-masing..
3. Memahami mekanisme pembentukan sel-sel darah.

2
BAB II
ISI

A. DEFINISI DARAH
Darah adalah cairan kompleks dengan total volume kurang lebih 8% dari berat
tubuh manusia. Umumnya dalam tubuh seorang pria dewasa terdapat sekitar 5 6 liter
darah dan wanita dewasa sekitar 4 5 liter. Kekentalan darah biasanya sekitar 4,4 4,7
relatif terhadap viskositas air = 1. Hal ini yang mengakibatkan darah lebih sulit
mengalir dibandingkan air ( Depkes RI ,1989 ).

Gambar 1.1 Ilustrasi komponen darah

Pemisahan Komponen Darah

Darah yang dikumpulkan dan dicegah dari pembekuan dengan menambahkan


antikoagulan (heparin, sitrat dan sebagainya), bila disentrifugasi akan terpisah, menjadi
lapisan-lapisan yang menggambarkan heterogenitasnya. Hasil yang diperoleh dengan
sedimentasi ini, yang dilakukan dalam tabung gelas standar adalah hematokrit. Cairan
translusen, kekuningan dan sedikit kental yang terletak di atas bila hematokrit diukur
adalah plasma darah. Lapisan tepat di atasnya (1% volume darah) yang berwarna putih
atau kelabu dinamakan buffy coat dan terdiri atas leukosit. Plasma darah merupakan
bagian cair darah. Cairan ini didapat dengan membuat darah tidak beku dan sel darah
tersentrifugasi (Junqueira dan Carneiro, 1982).

3
B. KOMPONEN DARAH
Susunan darah, serum darah atau plasma darah terdiri atas 91,0 % air dan 8%
protein yang terdiri albumin, globulin, protrombin dan fibrinogen. 0,9 % mineral yaitu
natrium, klorida, natrium bikarbonat, garam kalsium, fosfor, magnesium, besi dan
seterusnya. Dan sisanya diisi sejumlah bahan organik yaitu glukosa, lemak, urin, asam
urat, kreatin, kolesterol, dan asam amino pembeku.
Kandungan anorganik dalam darah berupa natrium, kalium,kalsium, magnesium,
zat besi, yodium.Sedangkan kandungan organik : urae, asam urat kreatin, glukosa,
lipid,asam amino, enzim, hormon (John gibson, 2003).

Gambar 2.1 komponen darah

4
C. FUNGSI DARAH
Fungsi darah di dalam tubuh dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Fungsi yang menyangkut pernapasaan.
Dalam hubungan ini, darah membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan-
jaringan dan membawa karbondioksida dari jaringan ke paru-paru untuk
dikeluarkan.
b. Fungsi yang menyangkut nutrisi.
Darah mengangkut zat-zat makanan yang di absorbsi dari usus halus atau dibuat
dalam tubuh ke sel-sel yang menggunakannya atau menyimpannya.
c. Fungsi yang menyangkut ekskresi.
Darah mengangkut sisa-sisa metabolisme ke alat-alat ekskresi, dimana zat-zat
tersebut dikeluarkan.
d. Fungsi yang menyangkut kekebalan (Imunity).
Darah menstransport leukosit, antibodi dan substansi protektif lainnya.
e. Fungsi yang menyangkut korelasi hormonal.
Disini darah mengangkut ekskresi hormonal dari satu organ ke organ yang lain.
f. Fungsi yang berhubungan dengan keseimbangan air dalam tubuh.
Dalam hubungan ini darah mengatur keseimbangan air dalam tubuh, yaitu dari
satu organ ke organ lainnya dan ke alat-alat pembuangan, misalnya paru-paru
dan ginjal.
g. Fungsi yang berhubungan dengan suhu.
1) Darah mengandung sejumlah panas.
Darah mengalir dengan cepat dan mendistribusikan panas tersebut dengan
konsekuensi meratanya panas pada seluruh tubuh.
2) Mengatur panas ke permukaan tubuh, dimana panas itu dieleminir dengan
penguapan atau radiasi.
h. Fungsi yang berhubungan dengan pengaturan tekanan osmotik
i. Fungsi yang berhubungan dengan pengaturan keseimbangan asam.
j. Fungsi yang berhubungan dengan pengaturan keseimbangan ion-ion, yaitu
keseimbangan antara kationkation dan anion-anion antara kation monovalen dan
kation-kation bivalen antara elektrolit-elektrolit dan protein-protein.
k. Fungsi yang berhubungan dengan pengaturan tekanan darah.

5
D. PLASMA DARAH
Plasma darah berisi gas oksigen dan karbon doksida, hormon, enzim,dan
antigen. Sel darah terdiri atas tiga jenis , eritrosit atau sel darah merah, leukosit atau sel
darah putih, dan trombosit atau butir pembeku (Evelyn,2004).
Komposisi plasma yaitu 91-92 % air. Terdapat empat protein yaitu;
1) Albumin : membentuk bagian terbesar kandungan protein plasma dihasilkan
dalm hati.
2) Globulin : alfa, beta , gama dihasilkan di salam hati. Limfosit dan sel retikula
endoteli. Imunoglobulin adalah globulin yang dibentuk sebagai bagian dari
reaksi imunita tubuh.
3) Fibrinogen : dihasilkan didalam hati.
4) Protombin: prekursor trombin.
Secara umum, serum atau plasma digunakan untuk pengukuran obat. Perbedaan
serum dan plasma yaitu: Untuk memperoleh serum, darah dibiarkan menggumpal
kemudian disentrifugasi. Supernatan yang diperoleh setelah disentrifugasi itulah yang
disebut serum. Serum tidak mengandung fibrinogen. Sedangkan plasma diperoleh dari
darah yang telah ditambahkan antikoagulan seperti heparin, kemudian disentrifugasi,
supernatannya inilah yang disebut plasma (Shargel, 1941).

E. SEL-SEL DARAH
1. Eritrosit
Sel darah merah merupakan cakram bikonkaf
dengan diameter sekitar 7.5 mikron, tebal
bagian tepi 2 mikron dan bagian tengahnya 1
mikron atau kurang, tersusun atas membran
yang sangat tipis sehingga sangat mudah diffusi
oksigen, karbon dioksida dan sitoplasma, tetapi
tidak mempunyai inti sel. Eritrosit dapat
mencapai umur 120 hari. Setiap harinya ada
1/120 x 5x5.1012 Eritrosit yang mati.
Sel darah merah dibentuk dalam sumsum tulang
merah yang terletak di tulang spons. Sel darah

6
merah dapat hidup 120 hari, yang sudah tua/rusak akan dirombak dalam limfa.
Hemoglobin yang terlepas akan dibawa ke hati untuk dirombak menjadi zat warna
empedu (bilirubin). Adapun zat besi yang terlepas akan digunakan dalam membentuk
sel darah merah baru.
Sel darah merah yang matang mengandung 200-300 juta hemoglobin, terdiri
Hem merupakan gabungan dari protoporfirin dengan besi dan globin adalah bagian dari
protein yang tersusun oleh 2 rantai alfa dan 2 rantai beta dan enzim-enzim seperti
Glucose 6-phosphate dehydrogenase(G6PD). Mengandung hemoglobin (zat warna
merah pada darah) yang berfungsi mengikat O2, mengandung zat besi (Fe), berwarna
merah. Hemoglobin mengandung kira-kira 95% besi dan berfungsi membawa oksigen
dengan cara mengikat oksigen ( menjadi oksihemoglobin ) dan diedarkan keseluruh
tubuh untuk kebutuhan metabolisme.

Eritropoiesis
Pembentukan eritrosit (eritropoiesis) merupakan suatu mekanisme umpan balik.
Ia dihambat oleh peningkatan kadar eritrosir bersirkulasi dan dirangsang oleh anemia. Ia
juga dirangsang oleh hipoksia dan peningkan aklimatisasi ke tempat tinggi.
Eritropoiesis dikendalikan oleh suatu hormon glikoprotein bersirkulasi yang dinamai
eritropoietin yang terutama disekresikan oleh ginjal.
Setiap orang memproduksi sekitar 1012 eritrosit baru tiap hari melalui proses
eritropoiesis yang kompleks dan teratur dengan baik. Eritropoiesis berjalan dari sel

7
induk menjadi prekursor eritrosit yang dapat dikenali pertama kali di sumsum tulang,
yaitu pronormoblas. Pronormoblas adalah sel besar dengan sitoplasma biru tua, dengan
inti ditengah dan nucleoli, serta kromatin yang sedikit menggumpal. Pronormoblas
menyebabkan terbentuknya suatu rangkaian normoblas yang makin kecil melalui
sejumlah pembelahan sel. Normoblas ini juga mengandung sejunlah hemoglobin yang
makin banyak (yang berwarna merah muda) dalam sitoplasma, warna sitoplasma makin
biru pucat sejalan dengan hilangnya RNA dan apparatus yang mensintesis protein,
sedangkan kromatin inti menjadi makin padat. Inti akhirnya dikeluarkan dari normoblas
lanjut didalam sumsum tulang dan menghasilkan stadium retikulosit yang masih
mengandung sedikit RNA ribosom dan masih mampu mensintesis hemoglobin.

Gambar sel-sel darah dalam hematopoiesis


Sel ini sedikit lebih besar daripada eritrosit matur, berada selama 1-2 hari dalam
sumsum tulang dan juga beredar di darah tepi selama 1-2 hari sebelum menjadi matur,
terutama berada di limpa, saat RNA hilang seluruhnya. Eritrosit matur berwarna merah
muda seluruhnya, adlah cakram bikonkaf tak berinti. Satu pronormoblas biasanya
menghasilkan 16 eritrosit matur. Sel darah merah berinti (normoblas) tampak dalam
darah apabila eritropoiesis terjadi diluar sumsum tulang (eritropoiesis ekstramedular)
dan juga terdapat pada beberapa penyakit sumsum tulang. Normoblas tidak ditemukan
dalam darah tepi manusia yang normal.
Retikulosit, pada proses maturasi eritrosit, setelah pembentukan hemoglobin dan
penglepasan inti sel, masih diperlukanbeberapa hari lagi untuk melepaskan sisa-sisa
RNA. Sebagian proses ini berlangsung di dalam sumsum tulang dan sebagian lagi
dalam darah tepi. Setelah dilepaskan dari sumsum tulang sel normal akan beredar

8
sebagai retikulositselama 1-2 hari. Dalam darah normal terdapat 0,5 2,5% retikulosit.
Eritrosit normal merupakan sel berbentuk cakram bikonkaf dengan ukuran diameter 7-8
mikron dan tebal 1,5- 2,5mikron. Bagian tengah sel ini lebih tipis daripada bagian tepi.
Dengan pewarnaan Wright, eritrosit akan berwarnakemerah-merahan karena
mengandung hemoglobin. Umur eritrosit adalah sekitar 120 hari dan akan
dihancurkanbila mencapai umurnya oleh limpa.
Membran eritrosit terdiri atas lipid dua lapis (lipid bilayer), protein membran
integral, dan suatu rangka membrane. Sekitar 50% membran adalah protein, 40%
lemak, dan 10 % karbohidrat. Karbohidrat hanya terdapat pada permukaan luar
sedangkan protein dapat diperifer atau integral, menembus lipid dua lapis.

2. Leukosit
Leukosit (leuko = putih), atau sel darah putih (sel darah putih), adalah satu-
satunya elemen sel darah yang terbentuk lengkap dengan inti dan organel sel.
Jumlahnya kurang dari 1% dari total volume darah, leukosit jauh lebih sedikit daripada
sel darah merah. Rata-rata, ada 4.800-10,800 sel darah putih/ml darah. Leukosit sangat
penting untuk pertahanan kita terhadap penyakit. Mereka membentuk pertahanan yang
membantu melindungi tubuh dari kerusakan oleh bakteri, virus, parasit, racun, dan sel-
sel tumor. Dengan demikian, mereka memiliki beberapa karakteristik khusus
fungsional.
Sel-sel darah merah memiliki pergerakan yang terbatas aliran darah, dan mereka
melaksanakan fungsi mereka dalam darah. Tapi sel darah putih mampu menyelinap
keluar dari pembuluh-darah kapiler (proses yang disebut diapedesis), ditandai dengan
adanya respon inflamasi yang ditimbulkan pada bagian tubuh. Sinyal yang mendorong
sel darah putih meninggalkan aliran darah di lokasi tertentu merupakan molekul adhesi,
ditampilkan oleh sel endotel yang kemudian membentuk dinding kapiler pada lokasi
inflamasi. Setelah keluar dari aliran darah, leukosit bergerak melalui ruang jaringan
dengan gerak amoeboid. Dengan mengikuti jejak kimia molekul yang dilepaskan oleh
sel-sel yang rusak atau leukosit lainnya, fenomena yang disebut kemotaksis positif,
mereka dapat menentukan daerah kerusakan jaringan dan infeksi dan berkumpul di sana
dalam jumlah besar untuk menghancurkan zat-zat asing atau sel-sel mati.

9
Setiap kali sel darah putih diaktifkan sebagai respon imun, tubuh mempercepat
produksi mereka dua kali jumlah yang normal mungkin muncul dalam darah dalam
beberapa jam. Sebuah jumlah sel darah putih lebih dari 11.000 sel/ml disebut
leukositosis. Kondisi ini merupakan respons homeostasis normal dari infeksi dalam
tubuh. Leukosit dikelompokkan menjadi dua kategori utama berdasarkan karakteristik
struktural dan kimia. Granulosit memiliki membran-terikat butiran sitoplasma yang
jelas, dan agranulocytes kurang jelas. Granulosit terdiri dari neutrofil, basofil, dan
eusinofil. Agranulosit terdiri dari monosit dan limfosit.

Granulosit
Granulosit, yang meliputi neutrofil, basofil, dan eosinofil, permukaan kasar berbentuk
bulat. Mereka lebih besar dan berumur auh lebih pendek (dalam banyak kasus) dari
eritrosit. Memiliki inti lobus dan membran-terikat butiran sitoplasma. Secara umum,
semua granulosit adalah fagosit ke tingkat yang lebih besar atau lebih kecil.

10
- Neutrofil
Neutrofil adalah yang paling banyak dari sel-sel darah putih, dengan total 50-
70% dari populasi sel darah putih. Neutrofil sekitar dua kali lebih besar eritrosit.
Disebut neutrofil karena butirannya menyerap baik pewarna basa (biru) dan asam
(merah). Intinya terdiri dari 3-6 lobus. Karena variabilitas inti ini, mereka sering disebut
leukosit polymorphonuclear (PMN).
Neutrofil adalah pembunuh bakteri jahat pada tubuh kita. Jumlahnya meningkat
eksplosif selama infeksi bakteri akut seperti meningitis dan radang usus buntu. Neutrofil
secara kimiawi tertarik ke tempat peradangan dan fagosit aktif. Neutrofil parsial
terutama untuk bakteri dan beberapa jamur, dan pembunuhan bakteri diaktivasi melalui
proses yang disebut respiration burst, dimana oksigen aktif dimetabolisme untuk
menghasilkan zat-zat seperti pemutih dan hidrogen peroksida yang ampuh dalam
membunuh kuman, menyebabkan lisis terjadi.
- Eusinofil
Eosinofil, totalnya 2-4% dari semua leukosit dan memiliki ukuran serupa
neutrofil, serta emiliki dua lobus. Peran paling penting dari eosinofil adalah untuk
memimpin serangan terhadap cacing parasit, seperti cacing pipih (cacing pita dan fluke)
dan cacing gelang (cacing kremi dan cacing tambang) yang terlalu besar untuk di
fagositosis. Cacing ini tertelan dalam makanan (ikan, terutama mentah) atau menyerang
tubuh melalui kulit dan kemudian biasanya itu masuk ke dalam mukosa usus atau
pernafasan. Eosinofil berada di jaringan ikat longgar di bagian tubuh yang sama, dan
ketika mereka menghadapi cacing parasit, eusinophil berkumpul di sekeliling dan
melepaskan enzim dari granul sitoplasma mereka ke permukaan parasit. Eosinofil
memiliki peran yang kompleks dalam banyak penyakit lainnya termasuk alergi dan
asma. Sementara eusinofil berkontribusi pada kerusakan jaringan yang terjadi pada
banyak proses kekebalan tubuh, kita juga mulai mengenali mereka sebagai modulator
penting dari respon imun.
- Basofil
Basofil adalah yang paling langka dari sel darah putih, rata-rata hanya 0,5-1%
dari populasi leukosit. Sitoplasmanya mengandung histamin yang mengandung butiran
besar, kasar yang memiliki afinitas untuk pewarna basa menyebabkan warna hitam-
keunguan. Histamin adalah sebuah bahan kimia penginflamasi yang bertindak sebagai

11
vasodilator (membuat pembuluh darah melebar) dan menarik sel darah putih lainnya ke
tempat terjadinya peradangan. Inti secara umum berbentuk U atau S.
Sel granul mirip dengan basofil, yang disebut sel mast, ditemukan dalam
jaringan ikat. Meskipun inti sel mast cenderung lebih oval dibanding lobus, sel-sel ini
mirip dengan pengamatan mikroskop, dan kedua jenis sel mengikat antibodi tertentu
(immunoglobulin E) yang menyebabkan sel-sel untuk melepaskan histamine. Namun,
mereka muncul dari garis sel yang berbeda.

Agranulosit
Agranulosit meliputi limfosit dan
monosit, leukosit yang tidak
memiliki granula sitoplasma yang
jelas. Meskipun keduanya mirip
secara struktural, secara fungsional
keduanya merupakan jenis sel yang
berbeda dan tidak berhubungan. Inti
selnya biasanya bulat atau berbentuk
ginjal.

- Limfosit
Limfosit merupakan sel utama pada sistem getah bening yang berbentuk sferis,
berukuran yang relatif lebih kecil daripada makrofag dan neutrofil. Selain itu, limfosit
bergaris tengah 6-8 m, 20-30% dari leukosit darah, memiliki inti yang relatif besar,
bulat sedikit cekung pada satu sisi. Sitoplasmanya sedikit dan kandungan basofilik dan
azurofiliknya sedikit. Limfosit-limfosit dapat digolongkan berdasarkan asal, struktur
halus, surface markers yang berkaitan dengan sifat imunologisnya, siklus hidup dan
fungsi.
Limfosit dibagi ke dalam 2 kelompok utama yakni Limfosit B dan Limfosit T.
Limfosit B berasal dari sel stem di dalam sumsum tulang dan tumbuh menjadi
sel plasma, yang menghasilkan antibody sedangkan Limfosit T terbentuk jika sel stem

12
dari sumsum tulang pindah ke kelenjar thymus, dimana mereka mengalami pembelahan
dan pematangan.
Di dalam kelenjar thymus, limfosit T belajar membedakan mana benda asing
dan mana bukan benda asing. Limfosit T dewasa meninggalkan kelenjar thymus dan
masuk ke dalam pembuluh getah bening dan berfungsi sebagai bagian dari sistem
pengawasan kekebalan. Secara umum, Fungsi limfosit meningkatkan respon imun
dengan penyerangan langsung atau melalui antibod.i

- Monosit
Monosit merupakan sel leukosit yang besar 3-8% dari jumlah leukosit normal,
diameter 9-10 um tapi pada sediaan darah kering diameter mencapai 20 m atau lebih.
Inti biasanya eksentris, adanya lekukan yang dalam berbentuk tapal kuda. Sitoplasma
relatif banyak dengan pulasan wrigh berupa bim abu-abu pada sajian kering. Granula
azurofil, merupakan lisosom primer, lebih banyak tapi lebih kecil. Ditemui retikulim
endoplasma sedikit. Juga ribosom, pliribosom sedikit, banyak mitokondria. Aparatus
Golgi berkembang dengan baik, ditemukan mikrofilamen dan mikrotubulus pada daerah
identasi inti. Monosit terdapat dalam darah, jaringan ikat dan rongga tubuh. Monosit
tergolong fagositik mononuclear (system retikuloendotel) dan mempunyai tempat-
tempat reseptor pada permukaan membrannya. Untuk imunoglobulin dan komplemen.

Pembentukan Leukosit(Leukopoiesis)
Seperti eritropoiesis, leukopoiesis, atau produksi sel darah putih, dirangsang
oleh pesan kimia. Pesan kimia tersebut, yang dapat bertindak baik sebagai paracrines
atau hormon, adalah glikoprotein yang masuk dalam dua faktor hematopoietik,
interleukin dan colony-stimulating factor, atau CSF. Interleukin (misalnya, IL-3, IL-5),
dan kebanyakan CSF diberi nama untuk leukosit yang dirangsang produksinya,
misalnya, granulosit-CSF (G-CSF) merangsang granulosit.
Jalur diferensiasi leukosit, dimulai dengan hematopoietik stem sel, atau
hemocytoblast, yang melahirkan semua elemen yang terbentuk dalam darah.
Percabangan awal jalur membagi sel induk limfoid, yang menghasilkan limfosit, dari sel
induk myeloid, yang menghasilkan semua elemen leukosit lainnya. Pada granulosit, sel-
sel disebut myeloblast, mengakumulasikan lisosom, menjadi promyelocytes. Khas dari

13
masing-masing jenis granulosit muncul berikutnya dalam tahap mielosit dan kemudian
pembelahan sel berhenti. Pada tahap berikutnya, terbentuk lengkungan inti,
memproduksi pita sel. Tepat sebelum granulosit meninggalkan sumsum dan masuk
sirkulasi, inti mereka mengerut, memulai proses segmentasi inti. Granulosit dewasa
disimpan di sumsum tulang dan biasanya berisi sekitar sepuluh kali lebih banyak
granulosit daripada yang ditemukan dalam darah. Rasio normal granulosit ke eritrosit
yang diproduksi adalah sekitar 3: 1, yang mencerminkan masa hidup lebih pendek
(0,25-9,0 hari) dari granulosit. Kebanyakan granulosit mati memerangi serangan
mikroorganisme.
Meskipun mirip, dua jenis agranulocytes memiliki garis pembentukan yang
sangat berbeda. Monosit yang berasal dari sel induk myeloid, dan berbagi prekursor
umum dengan neutrofil yang tidak dibagi dengan granulosit lainnya. Sel mengikuti
garis monosit membentuk monoblast dan promonocyte tahap sebelum meninggalkan
sumsum tulang dan menjadi monosit, yang beberapa diantaranya berkembang menjadi
makrofag. Limfosit berasal dari sel induk limfoid, melalui tahap lymphoblast dan
prolymphocyte. Prolymphocytes meninggalkan sumsum tulang dan menuju ke jaringan
limfoid, di mana diferensiasi lebih lanjut terjadi. Monosit dapat hidup selama beberapa
bulan, sedangkan masa hidup limfosit bervariasi dari beberapa jam hingga beberapa
dekade. Bagan pembentukan sel limfosit ditunjukkan dibawah ini.

14
3. Trombosit
Trombosit atau platelet merupakan salah satu komponen darah yang mempunyai
fungsi utama dalam pembekuan darah. Jumlah trombosit normal manusia adalah
150.000-400.00 trombosit/L darah. Masa hidup trombosi sekitar 5-9 hari di dalam
darah. Trombosit yang sudah tua dan rusak akan dihilangkan dari aliran darah oleh

15
organ limfa. Saat tubuh mengalami luka maka trombosit akan berkumpul dan saling
melekatkan diri sehingga akan menutup luka tersebut, trombosit juga akan
mengeluarkan zat yang merangsang untuk terjadinya pengerutan luka sehingga ukuran
luka menyempit dan dapat menghentikan perdarahan.

Struktur Trombosit
Trombosit memiliki ukuran 1-4 mikro berbentuk seperti piringan dengan
diameter rata rata 2-3. Trombosit tidak memiliki inti sel, namun trombosit tetap dapat
melakukan sintesis protein karena memiliki komponen RNA di dalam sitoplasmanya.
Membran trombosit terdiri atas sistem membran 3 lapis atau trilaminar dan sistem
membran yang memili ruang atau kanalikuli. Membran ini berfungsi sebagai pelindung
trombosit dari lingkungan luar sel yang kaya akan fospolipid serta untuk membantu
proses pembekuan darah, Pada bagian sub membraan trombosit terdapat komponen
mikrofilamen yang disebut tromboplastin, dimana tromboplastin ini memiliki aktivitas
seperti aktin-miosin pada otot. Pada permukaan trombosit ditemukan antigen penting
yang merupakan penyebab penyakit autoimun terhadap trombosit yang disebut human
platelet antigen (HPA).

Pembentukan Trombosit
Pembentukan trombosit diatur oleh hormon yang disebut dengan thrombopoietin
yang diproduksi oleh hati. Peristiwa pembentukan trombosit disebut dengan
megakariopoiesis karena dihasilkan dari sumsum tulang belakang dengan fragmentasi
sitoplasma megakariost. Prekusor awal megakariosit disebut dengan megakarioblast.

16
Trombosit dibentuk oleh pembentukan membran membran batas (demarkasi) di dalam
sitoplasma, dan masing masing trombosit dikeluarkan melalui sel endotel sinusoid
sumsum tulang belakang ke dalam sinus vena.
Hemacytoblast yang menimbulkan sel sel mengalami pembelahan mitosis tanpa
disetai oleh pembelahan sitoplasma untuk menghasilkan megakaryosit. Sitoplasma dari
megakariyosit menjadi berkompartemen oleh membran, dan membran plasma terpecah
sehingga platelet akan terbebas.

Proses Kerja Trombosit


Pada saat terjadi luka pada tubuh manusia, maka tubuh akan melakukan 3 mekanisme
utama untuk menghentikan perdarahan yang berlangsung, yaitu :
Melakukan pengkerutan (kontriksi) pada bagian pembuluh darah yang terluka
Aktivitas trombosit, dan
Aktivitas komponen pembekuan darah lainnya di dalam plasma darah.
Mekanisme yang akan dibahas sekarang adalah aktivitas trombosit pada proses
menghentikan pendarahan. Proses kerja trombosit pada proses pembekuan darah dibagi
menjadi 4 garis besar, yaitu adhesi trombosit, agregasi trombosit, pembebasan
trombosit, dan fusi trombosit.
1. Adhesi Trombosit
Adhesi trombosit adalah perlekatan antara trombosit dengan jaringan endotel
serta jaringan yang cedera sehingga mengakibatkan tertutupnya luka pada
pembuluh darah. Proses perlekatan ini akan membuat terjadinya interaksi antara
peermukaan trombosit dengan jaringan cedera sehingga meningkatkan daya
lekat trombosit dan memanggil faktor koagulasi lainnya.

17
2. Agregasi Trombosit
Agregasi trombosit adalah kemampuan trombosit untuk melekat satu sama lain
untuk membentuk sumbatan. Namn bila penyumbatan ini berlebihan maka akan
berbahaya dan menyebabkan tersumbatnnya seluruh pembuluh darah.
3. Pembebasan Trombosit
Pembebasan trombosit adalah reaksi untuk membentuk sumbatan (koagulasi)
trombosit yang stabil. Dipicu oleh pelepasan isi granula trombosit (ADP,
Kolagen, Epinefrin, dll). Pelepaasan ini akan menyebabkan trombosit berubah
dari bentuk piringan menjadi bulat.
4. Fusi Trombosit
Fusi trombosit adalah reaksi gabungan trombosit yang bersifat irreversible.
Reaksi ini dipicu oleh peningkatan kadar ADP dan komponen lain yang keluar
akibat reaksi pelepasan komposisi fibrin sehingga akan memperkuat jaringan
baru yang terbentuk pada daerah luka.

18
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
1. Darah merupakan suatu cairan yang sangat penting bagi manusia karena
berfungsi sebagai alat transportasi serta memiliki banyak kegunaan lainnya
untuk menunjang kehidupan.
2. Darah terdiri dari plasma dan sel-sel darah seperti eritrosit, leukosit dan
trombosit.
3. Eritrosit memiliki peranan penting dalam pengedaran oksigen keseluruh organ
tubuh, melalui pengikatan dengan hemoglobin yang terdapat pada eritrosit
4. Leukosit merupakan satu-satunya sel darah berinti, memiliki peranan penting
dalam mekanisme pertahanan tubuh meanusia.
5. Trombosit berperan dalam proses pembekuan darah.

19
DAFTAR PUSTAKA

Barbara J Bain. 2004, A Beginners Guide to Blood Cells, 2nd Edition, Blackwell
Publishing Ltd
Depkes RI. 1989, Hematologi, Jakarta, Depkes hal 79
Gilson, Johan. 2002, Fisiologi dan Anatomi Moderen untuk Perawat edisi 2, EGC,
Jakarta
Harald Theml, M.D. 2004, Colour Atlas of Hematology, Practical Microscopic and
Clinical Diagnosis, Newyork.
Junqueira, L.C., dan Carneiro, J. 1982, Histologi Dasar (Basic Histology), Edisi III,
Alih Bahasa Adji Dharm, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Pearce, Evelyn. 2004, Anatomi dan Fisiologi Para Medis, Gramedia Pustaka, Jakarta
Shargel, Leon. 1941, Applied Biopharmaceutics and Pharmacokinetics, Third edition,
Appleton & Lange: 33-110.
Victor Hoffbrand. 2005, Haematology at a Glance, edisi ke-2, London.

20