Anda di halaman 1dari 25

PRAKTIKUM FARMASI RUMAH SAKIT

MALARIA

DISUSUN OLEH
KELAS A1-4

1. Ani Wijayanti (1720343724)


2. Apridinata (1720343725)
3. Ari Sumarmini Chakti (1720343726)

PROFESI APOTEKER XXXIV


UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2017/2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit malaria merupakan salah satu penyakit parasit yang tersebar luas di
seluruh dunia meskipun umumnya terdapat di daerah berlokasi antara 60 Lintang
Utara dan 40 Lintang Selatan (Yatim, 2007). Malaria hampir ditemukan di seluruh
bagian dunia, terutama di negara-negara yang beriklim tropis dan sub tropis dan
penduduk yang beresiko terkena malaria berjumlah sekitar 2,5 milyar orang atau 41%
dari jumlah penduduk dunia. Setiap tahun kasusnya berjumlah 300-500 juta kasus
dan mengakibatkan 1,5-2,7 juta kematian, terutama di negara-negara benua Afrika
(Prabowo, 2007). Tinjauan situasi di Indonesia tahun 1997 s/d 2001 penyakit malaria
ditemukan tersebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia dengan jumlah kesakitan
sekitar 70 juta orang atau 35 % penduduk Indonesia yang tinggal di daerah resiko
malaria (Depkes RI, 2008).
Malaria masih merupakan penyakit infeksi yang menjadi perhatian WHO.
Sebagian besar daerah di Indonesia masih merupakan daerah endemik infeksi
malaria, yaitu Indonesia bagian Timur seperti Papua, Maluku, Nusa Tenggara,
Sulawesi, Kalimantan dan bahkan beberapa daerah seperti Lampung, Bengkulu, Riau,
daerah di Jawa dan Bali, walaupun endemitas sudah sangat rendah, masih sering
dijumpai kasus malaria (Harijanto, 2011). Malaria merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat karena mempengaruhi tingginya angka kesakitan dan
kematian. Sampai saat ini malaria ditemukan tertular luas di Indonesia dan bahkan
dapat timbul secara tiba tiba di suatu daerah yang telah dinyatakan bebas malaria.
Lebih dari 15 juta penderita malaria klinis di Indonesia dengan 30.000 kematian
dilaporkan melalui unit pelayanan kesehatan di Indonesia setiap tahun (SKRT, 1995)
Kelompok resiko tinggi yang rawan terinfeksi malaria adalah balita, anak, ibu
hamil dan ibu menyusui. Malaria selain mempengaruhi angka kematian dan
kesakitan balita, anak, wanita hamil dan ibu menyusui juga menurunkan
produktifitas penduduk. Kelompok resiko tinggi yang lain adalah penduduk yang
mengunjungi daerah endemik malaria seperti para pengungsi, transmigrasi dan
wisatawan (Harijanto, 2011).
Malaria dapat menyebabkan kekurangan darah karena sel-sel darah banyak yang
hancur dirusak atau dimakan oleh plasmodium. Malaria juga menyebabkan
splenomegali yaitu pembesaran limpa yang merupakan gejala khas malaria klinik.
Limpa merupakan organ penting dalam pertahanan tubuh terhadap infeksi malaria.
Limpa akan teraba setelah 3 hari dari serangan infeksi akut dimana akan terjadi
bengkak, nyeri, hiperemis. Pembesaran terjadi akibat timbunan pigmen eritrosit
parasit dan jaringan ikat bertambah, yang bisa menyebabkan perdarahan berat akibat
pecahnya kelenjar limpa (Depkes, 2007 ). Anemia terjadi terutama karena pecahnya
sel darah merah yang terinfeksi, plasmodium falsifarum menginfeksi seluruh stadium
sel darah merah hingga anemia dapat terjadi pada infeksi akut dan kronis (Depkes,
2010).
Anemia merupakan keadaan menurunnya kadar hemoglobin, hemotokrit dan
pecahnya sel darah merah di bawah nilai normal yang dijumlah untuk perorangan.
Secara umum ada 3 penyebab anemia yaitu; (1) kehilangan darah secara kronis
sebagai dampak pendarahan kronis seperti pada penyakit ulcus peptikum; (2) asupan
zat gizi tidak cukup dan penyerapan tidak adekuat: dan (3) peningkatan kebutuhan
akan zat gizi untuk pertumbuhan sel darah merah yang lazim berlangsung pada masa
pertumbuhn bayi, masa purbertas, masa kehamilan, dan masa menyusui (Arisman,
2007).
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Penyakit

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit protozoa genus
plasmodium (P) yang menyerang sel darah merah. Penyakit ini ditularkan melalui
gigitan nyamuk anopheles betina. Spesies nyamuk anopheles yang terbukti
menjadi penular malaria di Indonesia sebanyak 24 spesies.

Spesies plasmodium yang dapat menginfeksi manusia adalah


P. falciparum yang menyebabkan malaria falciparum
P. vivax yang menyebabkan malaria vivaks/ tersiana
P. ovale yang menyebabkan malaria ovale
P. malariae yang menyebabkan malaria malariae/ kuartana

P. knowlesi yang menyebabkan malaria pada kera juga dilaporkan


menginfeksi manusia di daerah hutan Asia Tenggara. P. falciparum, P. malariae,
P. vivax umumnya terdapat diseluruh negara dengan malaria. P. Ovale umumnya
hanya terdapat di Afrika. P. falciparum paling banyak menyebabkan kematian.
Seorang penderiata dapat terinfeksi lebih dari satu jenis plasmodium. Penularan
dapat terjadi pada janin yang dikandung ibu penderita malaria atau melalui
transfusi darah.

B. Patofisiologi

Infeksi didapat dari nyamuk Anopheles betina ketika air liur yang
mengandung sporozoit disuntikkan selama makan darah. Sporozoit menyebar
secara hematogen ke hati, sehingga pengembangan bentuk exoerythrocytic
(skizon jaringan, hipnozoit) dalam hepatosit. Merozoit dilepaskan dari skizon
jaringan ke dalam sirkulasi sekitar 1 sampai 2 minggu kemudian, yang mengarah
ke invasi eritrosit. P. falciparum merozoit berkembang biak dalam eritrosit dari
segala usia, sedangkan spesies malaria lainnya dibatasi untuk sub-populasi
tertentu. Dalam eritrosit, merozoit mengkonsumsi hemoglobin dan matang untuk
cincin, trofozoit, dan parasit tahap skizon oleh replikasi aseksual atau seksual
laki-laki dan bentuk gametocyte perempuan. Pecahnya sel darah merah skizon
terinfeksi terjadi setelah 48 jam (72 jam dengan P. malariae), melepaskan
merozoit yang mengabadikan invasi erythrocytic. Sel darah merah gametocyte
terinfeksi oleh nyamuk Anopheles menyebabkan pembuahan bentuk jantan dan
betina dalam usus nyamuk dan pengembangan sporozoit yang bermigrasi ke
kelenjar ludah nyamuk, menyelesaikan siklus menular. Kekambuhan penyakit
tidak terjadi dengan P. falciparum atau infeksi P. malariae; Namun, P. ovale dan P.
vivax hipnozoit dapat menjadi aktif beberapa minggu dan beberapa bulan setelah
resolusi infeksi awal.

C. Epidemiologi

Malaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat


menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi yaitu bayi, anak
balita, ibu hamil, selain itu malaria secara langsung menyebabkan anemia dan
dapat menurunkan produktivitas kerja. Spesies Plasmodium yang bertanggung
jawab untuk malaria manusia termasuk P. falciparum, P. vivax, P. malariae, dan P.
ovale. Malaria menimpa sekitar 500 juta orang di dunia setiap tahun dan
menyebabkan hingga 2,7 juta kematian setiap 5 tahun spesies Plasmodium yang
disebarkan oleh nyamuk Anopheles, yang endemik di daerah tropis seperti sub-
Sahara Afrika, Asia, Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan bagian dari Turki,
Yunani, dan Timur Tengah. Mekanisme lain penularan termasuk transfusi darah,
berbagi jarum, dan nifas. Pada awal abad kedua puluh, lebih dari 500.000 kasus
malaria terjadi setiap tahunnya di Amerika Serikat; sekitar 1.300 kasus sekarang
dilaporkan setiap 6,7,8 tahun.
Penyakit malaria masih ditemukan di seluruh provinsi di Indonesia.
Berdasarkan API, dilakukan stratifikasi wilayah dimana Indonesia bagian Timur
masuk dalam stratifikasi malaria tinggi, stratifikasi sedang di beberapa wilayah di
Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera sedangkan di Jawa-Bali masuk dalam
stratifikasi rendah, meskipun masih terdapat desa/fokus malaria tinggi. Dalam
Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014 pengendalian
malaria merupakan salah satu penyakit yang ditargetkan untuk menurunkan angka
kesakitannya dari 2 menjadi 1 per 1.000 penduduk. Dari gambar diatas angka
kesakitan malaria (Annual Parasite Incidence) tahun 2009 adalah 1,85 per 1000
penduduk, sehingga masih harus dilakukan upaya efektif untuk menurunkan
angka kesakitan 0,85 per 1000 penduduk dalam waktu 4 tahun, agar target
Rencana Strategis Kesehatan Tahun 2014 tercapai.

D. Etiologi
Malaria disebabkan oleh protozoa dari genus plasmodium. Pada manusia
plasmodium terdiri dari 4 spesies, yaitu plasmodium falciparum, plasmodium vivax,
plasmodium malariae, dan plasmodium ovale. Akan tetapi jenis spesies plasmodium
falciparum merupakan penyebab infeksi berat bahkan dapat menimbulkan kematian
(Harijanto, dkk 2010).

Siklus hidup plasmodium

Siklus hidup plasmodium sangat komplek yang dimulai dari masuknya


sporozoit kedalam aliran darah manusia akibat gigitan nyamuk pembawa
plasmodium tersebut. Sporozoit dalam waktu kurang dari 30 menit berpindah ke
liver dan masuk ke sel liver hepatosit. Sporozoit berkembang di liver menjadi
puluhan ribu merozoit dalam waktu 6-16 hari. Merozoit berpindah kealiran darah
dan menginvasi eritrosit dan berkembang serta masak dalam waktu 24-72 jam.
Sel darah merah yang terinfeksi akan lisis melepaskan merozoit yang akan
menginfeksi sel darah merah lainnya dan memulai siklus. Tanda klasik dari
malaria, episode febril dan menggigil akut yang terjadi setiap 48-72 jam adalah
bersamaan dengan lisisnya sel darah merah yang terinfeksi dan melepas merozoit.
Beberapa merozoit berkembang ke tahap seksual gametosit yang dapat secara
seksual berkembang menjadi sporozoit baru. Sporozoit baru akan dihisap oleh
nyamuk anopheles yangdapat menulari orang lain.
a. Fase aseksual
Dimulai ketika anopheles betina menggigit manusia dan memasukkan
sporozoit yang terdapat dalam air liurnya ke dalam sirkulasi darah manusia.
Dalam waktu 30 menit 1 jam, sporozoit masuk kedalam sel parenkhim hati
dan berkembang biak membentuk skizon hati yang mengandung ribuan
merozoit. Proses ini disebut intrahepatic schizogony atau pre-erythrocyte
schizogony atau skizogoni eksoeritrosit, karena parasit belum masuk kedalm
eritrosit (sel darah merah). Lamanya fase ini berbeda-beda untuk tiap spesies
plasmodium; butuh waktu 5,5 hari untuk P.falciparum dan 15 hari untuk
P.malariae. Pada akhir fase terjadi sporulasi, dimana skizon hati pecah dan
banyak mengeluarkan merozoit ke dalam sirkulasi darah. Pada P.vivax dan
P.ovale, sebagian sporozoit membentuk hipnozoit dalam hati yang dapat
bertahan sampai bertahun-tahun, atau dikenal sebagai sporozoit tidur yang
dapat mengakibatkan relaps pada malaria, yaitu kambuhnya penyakit setelah
tampak mereda selama periode tertentu. Fase eritrosit dimulai saat merozoit
dalam sirkulasi menyerang sel darah merah melalui reseptor permukaan
eritrosit dan membentuk trofozoit. Proses menjadi trofozoit skizon
merozoit. Setelah dua sampai tiga generasi merozoit terbentuk, sebagian
berubah menjadi bentuk seksual, gamet jantan dan gamet betina.
b. Fase seksual Jika nyamuk anopheles betina mengisap darah manusia yang
mengandung parasit malaria, parasit bentuk seksual masuk ke dalam perut
nyamuk. Bentuk ini mengalami pematangan menjadi mikrogametosit dan
makrogametosit, yang kemudian terjadi pembuahan membentuk zygote
(ookinet). Selanjutnya, ookinet menembus dinding lambung nyamuk dan
menjadi ookista. Jika ookista pecah, ribuan sporozoit dilepaskan dan
bermigrasi mencapai kelenjar air liur nyamuk. Pada saat itu sporozoit siap
menginfeksi jika nyamuk menggigit manusia.

E. Manifestasi Klinis
Gejala dan tanda
Gejala penyakit malaria dipengaruhi oleh daya tahan tubuh penderita, jenis
plasmodium dan jumlah parasit yang menginfeksi. Waktu antara terjadinya
infeksi sampai ditemukannya parasit dalam darah disebut sebagai periode
prapaten. Masa inkubasi dan masa prapaten berbeda bergantung pada jenis
plamodium.

Gejala awal malaria tidak spesifik, mirip dengan gejala penyakit infeksi virus
sistemik ringan. Gejala awalnya adalah seperti sakit kepala, lelah, lemah,

Jenis plasmodium Periode prapaten Masa inkubasi


(hari) (hari)

P. Vivax 12 12-17

P. Falcifarum 11 9-14

P. Malariae 33 18-40

P. Ovale 12 16-18

perasaan tidak nyaman disaluran cerna, nyeri otot dan sendi yang kemudian
diikuti dengan demam, menggigil, berkeringat, anoreksia, muntah dan
memburuknya kondisiumum pasien. Karena gejala awal yang tidak spesifik
sering kali tidak terdiagnosa bila hanya berdasarkan gejala saja.
Pada tahap awal, tidak terdapat kerusakan organ, terapi yang tepat akan dapat
mengatasi masalah. Tetapi apabila tidak tepat atau tertunda maka dapat terjadi
infeksi parah dalam beberapa jam, terutama pada malaria falcifarum.
Keparahan yang terjadi meliputi: koma (malaria serebral), asidosis metabolik,
anemia berat hipoglikemia, gagal ginjal akut atau edema pulmonal akut. Pada
stadium ini dapat terjadi kefatalan. Kasus kefatalan berkisar antara 10%-20%.
Gejala yang ditimbulkan oleh P. malariae dan P. Ovale umumnya ringan.
Sedangkan P. falcifarum lebih berat dan akut dibandingkan dengan yang lain.
Gejala yang khas adalah demam periodik, pembesaran limpa dan anemia.
Serangan demam yang khas pada malaria sering dimulai pada siang hari terdiri
dari periode menggigil, periode puncak demam, dan periode berkeringat.
Lamanya serangan demam tiap spesies plasmodium berbeda.

Periode menggigil yang daopat disertai kejang pada anak. Periode berlangsu ng
15-60 menit.
Periode puncak demam. Demam mencapai 410Cdan berlangsung sekitar 2 jam.
Periode berkeringat seluruh tubuh berkeringat, suhu tubuh menurun dengan
cepat, tubuh lelah dan mengantuk. Penderita akan merasa sehat. Periode ini
berlangsung 2-4 jam.
Pembesaran limpa dan terasa nyeri merupakan gejala khas pada malaria kronis.

F. Gejala

Gambaran khas dari penyakit malaria ialah adanya demam yang periodik,
pembesaran limpa (splenomegali), dan anemia (turunnya kadar hemoglobin dalam
darah).
1. Demam
Demam pada malaria bersifat periodik dan berbeda waktunya, tergantung dari
plasmodium penyebabnya. P.vivax menyebabkan malaria tertiana yang timbul
teratur tiap tiga hari. P.malariae
menyebabkan malaria quartana yang timbul teratur tiap empat hari dan
P.falciparum menyebabkan malaria tropika dengan demam yang timbul secara
tidak teratur tiap 24 48 jam.
a. Stadium menggigil
Dimulai dengan perasaan kedinginan hingga menggigil. Penderita sering
membungkus badannya dengan selimut atau sarung. Pada saat menggigil
seluruh tubuhnya bergetar, denyut nadi cepat tetapi lemah, bibir dan jari-jari
tangan biru, serta kulit pucat. Pada anakanak sering disertai kejang-kejang.
Stadium ini berlangsung 15 menit 1 jam dan dengan meningkatnya suhu
badan.
b. Stadium puncak demam
Penderita berubah menjadi panas tinggi. Wajah memerah, kulit kering dan
terasa panas seperti terbakar, frekuensi napas meningkat, nadi penuh dan
berdenyut keras, sakit kepala semakin hebat, muntah-muntah, kesadaran
menurun, sampai timbul kejang (pada anak-anak). Suhu badan bisa mencapai
41oC. Stadium ini berlangsung selama 2 jam atau lebih diikuti dengan keadaan
berkeringat.
c. Stadium berkeringat
Seluruh tubuhnya berkeringat banyak, sehingga tempat tidurnya basah. Suhu
badan turun dengan cepat, penderita merasa sangat lelah, dan sering tertidur.
Setelah bangun dari tidur, penderita akan merasa sehat dan dapat melakukan
tugas seperti biasa. Padahal, sebenarnya penyakit ini masih bersarang dalam
tubuhnya. Stadium ini berlangsung 2-4 jam.
2. Pembesaran limpa
Pembesaran limpa merupakan gejala khas pada malaria kronis. Limpa menjadi
bengkak dan terasa nyeri. Pembengkakan tersebut diakibatkan oleh adanya
penyumbatan sel-sel darah merah yang mengandung parasit malaria. Lama-lama
konsistensi limpa menjadi keras karena bertambahnya jaringan ikat. Dengan
pengobatan yang baik, limpa dapat berangsur normal kembali.
3. Anemia
Anemia atau penurunan kadar hemoglobin darah sampai di bawah normal
disebabkan penghancuran sel darah merah yang berlebihan oleh parasit malaria.
Selain itu, anemia timbul akibat gangguan pembentukan sel darah merah di
sumsum tulang. Gejala anemia berupa badan lemas, pusing, pucat, penglihatan
kabur, jantung berdebar-debar, dan kurang nafsu makan.
1. Malaria berat
Penyakit malaria akibat infeksi P.falciparum yang disertai gangguan berbagai
sistem/organ tubuh. Kriteria diagnosis malaria berat yang ditetapkan WHO, yaitu
adanya satu atau lebih komplikasi, seperti malaria serebral, anemia berat, gagal
ginjal akut, edema paru, hipoglikemia (kadar gula <40 mg%), syok, pendarahan
spontan dari hidung, gusi, dan saluran cerna, kejang berulang, asidemia dan
asidosis (penurunan pH darah karena gangguan asam-basa di dalam tubuh), serta
hemoglobinuria makroskopik (adanya darah dalam urine).

G. Diagnosis
Malaria harus dikenali dengan tepat agar penderita mendapat perawatan yang
tepat dan mencegah penyebaran infeksi di masyarakat. Malaria dapat dicurigai
berdasarkan gejala-gejala dan tanda-tanda fisik yang ditemukan pada saat
pemeriksaan. Diagnosis pada penyakit malaria dapat dilakukan seperti
mendiagnosis penyakit lain yaitu berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan laboratorium. Diagnosis malaria harus ditegakkan dengan
pemeriksaan sediaan darah secara mikroskopik atau dengan Rapid Diagnostic
Test (RDT) disebut juga tes diagnostik cepat.
Diagnosis malaria dapat sulit dilakukan, bila :
Malaria bukan merupakan penyakit endemik (seperti di AS). Petugas
kesehatan tidak familiar dengan penyakit ini. Petugas kesehatan yang
memeriksa dapat lupa untuk mempertimbangkan adanya penyakit tersebut
dan tidak meminta dilakukan tes diagnostik. Petugas laboratorium dapat
kurang berpengalaman terhadap malaria dan gagal mendeteksi parasit saat
meneliti sampel darah dalam mikroskop.
Di beberapa area penyebaran malaria cukup besar, sehingga sebagian besar
populasi terinfeksi tetapi penderita tidak sampai sakit. Beberapa pembawa
(carier) mempunyai cukup imunitas untuk melindungi dari sakit malaria,
tetapi tidak dari infeksi malaria.
Pada banyak daerah endemik malaria, kurangnya sumber daya merupakan
hambatan besar untuk menentukan diagnosis. Petugas kesehatan kurang
terlatih, kurang cukup perlengkapan dan kurang mendapat imbalan. Mereka
juga harus membagi perhatian untuk malaria dan penyakit lain seperti
pneumonia, diare, TB dan HIV/AIDS.
Diagnosis Klinik
Diagnosis klinik didasarkan dari gejala pasien dan pemeriksaan fisik. Gejala awal
malaria seperti demam, menggigil, berkeringat, sakit kepala, sakit otot, mual dan
muntah tidak spesifik dan ditemukan juga pada penyakit lain seperti flu dan
inveksi virus lain. Pemeriksaan fisik juga sering tidak spesifik misalnya
peningkatan suhu tubuh, berkeringat, dan merasa lelah. Pemeriksaan fisik, ini
dapat dilakukan untuk:
a. Malaria tanpa Komplikasi
Demam dengan pengukuran dengan thermometer suhu
menunjukkan > 37,5 O C
Konjunctiva atau telapak tangan pucat
Pembesaran limpha (Splenomegali)
Pembesaran hati (Hepatomegali)
b. Malaria dengan Komplikasi
Gangguan kesadaran
Keadaan umum yang lemah (tidak bisa duduk maupun berdiri)
Kejang-kejang
Panas sangat tinggi
Mata atau tubuh kuning
H. Terapi
BAB III
STUDI KASUS
KASUS 4 : MALARIA
Nama : Ny A
Umur : 28 tahun
Pekerjaan : IRT
Alamat : Purworejo

Datang berobat tanggal 19 Desember 2016, pukul 14.05


Keluhan utama : demam tinggi disertai menggigil dan muntah-muntah.
RPS: lebih kurang sejak 2 minggu yang lalu pasien demam, kadang menggigil dan
berkeringat, sakit kepala. Nafsu makan menurun, sejak 4 hari yang lalu pasien tidak
dapat makan dan minum lagi.Perut terasa sakit. Apapun yang dimakan dan yang
diminum keluar lagi/dimuntahkan. BAB 1 kali sehari konsistensi lembek, warna dbn.
BAK dbn, warna seperti teh.Pasien sudah berobat ke bidan, diberikan obat (os lupa
nama obatnya) tetapi tidak ada perubahan.
RPD: Pasien tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya.
Riwayat Sosial : Pasien menikah dan sedang hamil 3 bulan
Pemeriksaan umum :
Pasien sadar,Keadaan Umum lemah.
TD:100/60 mmHg, respirasi 32 kali/menit. Nadi : 98 kali/menit, lemah,teratur.
Suhu : 38,5 derajat celsius.
Fisik Diagnostik :
- Konjungtiva pucat
- Splenomegali 2 jari di bawah arcus costa
- Lever tdk ada pembesaran
- Kaku kuduk (-)
- Peristaltik usus dbn
Pemeriksaan Laboratorium :
- Hb: 10,2
- RDT Malaria : positif 2 (Malaria mix)
Diagnosa Kerja : Malaria dengan komplikasi.
Diagnosa Banding :
1. Demam tifoid
2. Demam dengue
3. ISPA
Pengobatan :
1. Infus RL 40 tetes/menit (selang seling dgn dekstrose 5%)
2. Ranitidin intravena/12 jam
3. Artesunat intravena 2,4 mg/kgBB . Diulangi 12 jam kemudian. Selanjutnya
Artesunat dgn dosis yang sama diberikan per 24 jam, sampai penderita mampu
makan/minum. Selanjutnya kalau sudah makan-minum diberikan regimen
artesunat + amodiakuin +primakuin (sesuai dosis).
4. Parasetamol 4 x 500 mg secara oral.
5. B compleks 3x1.
Pertanyaan :
1. Analisislah kasus diatas dengan metode SOAP/PAM/FARM!
2. Bagaimana monitoring dan evaluasinya?
IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny A No Rek Medik :-


Tempt/tgl lahir :-
Usia : 28 tahun Dokter yg merawat :-
Alamat : Purworejo
Ras :-
Pekerjaan : IRT
Sosial :-

Riwayat masuk RS : Datang berobat tanggal 19 Desember 2016, pukul


14.05
Riwayat penyakit terdahulu : -
Riwayat Sosial : Pasien menikah dan sedang hamil 3 bulan

Kegiatan

Pola makan/diet Tidak

- Vegetarian

Merokok Tidak

Minum Alkohol Tidak

Minum Obat Herbal Tidak

Riwayat Alergi :-
Keluhan / Tanda Umum :
Tanggal Subyektif Obyektif
2 minggu sebelum MRS Demam -
kadang menggigil dan berkeringat
sakit kepala
nafsu makan menurun
4 hari sebelum MRS Tidak dapat makan dan minum lagi -
perut sakit
muntah
BAB 1 kali sehari konsistensi lembek,
warna dbn
BAK dbn, warna seperti teh
19 Desember 2010 pukul Demam tinggi disertai menggigil TD 100/60
14.05 (MRS) muntah-muntah mmHg
keadaan umum lemah RR 32
nadi lemah teratur kali/menit
HR 98
kali/menit
suhu 38,5oC
Konjungtiva
pucat
Splenomegali
2 jari di bawah
arcus costa
Liver tidak ada
pembesaran
Kaku kuduk (-)
Peristaltik usus
dbn
Hb: 10,2
RDT Malaria
positif 2
(Malaria mix)

Data Pemeriksaan Pasien

Pemeriksaan Data Pasien Nilai Normal Keterangan


Pemeriksaan umum
TD (mmHg) 100/60 <120/<80 mmHg Normal
normal
90/60 Hipotensi
HR (x/menit) 98 60-100x/menit normal Normal
RR (x/menit) 32 14-20x/menit normal Tinggi
Suhu (oC) 38,5 36,5-37,5oC normal Tinggi
Pemeriksaan fisik
Konjungtiva Pucat Tidak pucat Tidak
normal
Splenomegali 2 jari di bawah arcus
costa
Liver Tidak membesar Tidak membesar Normal
Kaku kuduk - Negatif Normal
Peristaltik usus dbn dbn Normal
Pemeriksaan Laboratorium
Hb (gram/dL) 10,2 11-12 gram/dL Rendah
(hamil)
RDT malaria ++
Hemoglobin rendah Terjadi pada kehamilan trimester pertama

RDT malaria ++ Terdapat 2 tanda pada pemeriksaan RDT (malaria mix)

Riwayat penyakit dan pengobatan:


Tanggal Penyakit Pengobatan

4 hari sebelum MRS Demam tinggi dan menggigil, Diberikan obat (pasien lupa
muntah-muntah nama obat) oleh Bidan
OBAT YANG DIGUNAKAN SAAT INI

Rute
No Nama obat Indikasi Dosis Interaksi ESO Outcome terapi
pemberian

Keseimbangan Edema jaringan,


Ringer Laktat 40 Menjaga
1 elektrolit pada Parenteral - infeksi tempat
infusa tetes/menit keseimbangan tubuh
dehidrasi penyuntikan

Selang seling - Edema, demam, Menjaga


2 Dekstrosa 5% Hipoglikemia Parenteral
dengan RL hiperglikemia keseimbangan tubuh

Ulkus stress, - Sakit kepala,


3 Ranitidin 12 jam sekali Parenteral Mencegah stres ulkus
ulkus gastrik nyeri perut, diare

2,4 kgBB Parenteral, -


diulang 12 Oral Menyembuhkan
jam Kardiotoksisitas, demam dan
4 Artesunat Malaria kemudian ruam berkurangnya jumlah
Dosis sama parasit plasmodium
per 24 jam

Sesuai dosis Oral -


Menyembuhkan
diberikan
Nyeri perut, mual, demam dan
5 Amodiakuin Malaria setelah sudah
muntah berkurangnya jumlah
bisa makan
parasit plasmodium
minum

6 Primakuin Malaria Sesuai dosis Oral - Mual, muntah, Menyembuhkan


diberikan anoreksia, sakit demam dan
setelah sudah perut berkurangnya jumlah
bisa makan parasit plasmodium
minum

Analgetik, - Menurunkan suhu


7 Parasetamol 4x500 mg Oral Hepatotoksik
antipiretik tubuh/demam

Pemenuhan -
Jumlah eritrosit dan
kebutuhan
8 B kompleks 3x1 Oral Edema, mual kadar Hb kembali
vitamin B
normal
kompleks

ASSESMENT
Problem Subyektif Obyektif Terapi Analisis DRP
Medik

Malaria Demam, RR 32x/menit Artesunat IV 2,4 Pasien mengalami Pemilihan


menggigil mg/kgBB, diulangi 12 malaria amodiakuin dan obat tidak
Suhu 38,5oC jam. kemudian per 24 primakuin tidak tepat
Muntah-muntah jam, sampai penderita Dihentikan
Konjungtiva pucat dianjurkan untuk ibu
mampu makan/minum.
Kalau sudah makan- hamil dan artesunat
Splenomegali 2 jari minum diberinakan pada
di bawah arcus costa artesunat+amodiakuin+ trisemester kedua dan
primakuin ketiga kehamilan
RDT malaria ++

Tidak bisa Mengeluhkan - Infus RL Pasien harus diberikan Pemberian


Dekstrosa 5% obat sudah
makan dan tidak bisa makan terapi suportif untuk tepat
minum minum, keseimbangan elektrolit
memuntahkan
makan minum

Penurunan Keadaan umum Hb: 10 gram/dL Vitamin B Kompleks Pasien mengalami Pemberian
Hb lemah penurunan Hb karena obat sudah
merupakan manifestasi tepat
malaria dan efek
kehamilan, merasakan
lemas

Sakit perut Perut terasa sakit - Ranitidin IV/12 jam Perut terasa sakit karena Pemilihan
pasien tidak dapat makan obat tepat
minum, atau
memuntahkan makan
minum. Pasien berisiko
stress ulcer karena MRS.

Demam, sakit Demam, Suhu 38,5oC Paracetamol 500 mg 4x1 Pasien mengalami Pemberian
kepala menggigil demam menggigil obat sudah
merupakan manifestasi tepat
Sakit kepala malaria, juga mengalami
sakit kepala

Paracetamol pilihan
utama untuk terapi
penunjang malaria
CARE PLAN
1. Mengganti amiodiakuin dan primakuin dengan sulfadoksin primetamin untuk propilaksis
intermiten pada kehamilan.
2. Penggunaan IV artesunat dan sulfadoksin primetamin harus dihindari dari penggunaan
suplemen asam folat. Dosis (0.4-0.5 mgBB/hari)dapat diberikan untuk penggunaan IV
artesunat dan sulfadoksin primetamin.
3. Menghentikan penggunaan Artesunat IV, Amodiakuin dan Primakuin. Kemudian diganti
dengan kina 3x10 mg/kgBB + klindamicin 2x10mg/kgBB selama 7 hari untuk terapi
pengobatan malaria pada kehamilan trisemester pertama.
4. Melakukan monitoring lebih lanjut tentang malaria komplikasi pada diagnosa banding
dengan demam tifoid. Pemeriksaan klinis seperti ALP, ALT, AST, dan total bilirubin
untuk mengetahui komplikasi malaria dengan demam tifoid.
5. Pemeriksaan laboratorim lebih lanjut untuk menentukan spesies.
6. Melanjutkan penggunaan infus RL 40 tetes/menit untuk mengembalikan keseimbangan
elektrolit karena pasien tidak dapat makan minum atau memuntahkan makan minum.
Penggunaan diselang-seling dengan Dekstrosa 5% untuk mencegah hipoglikemia yang
dapat terjadi pada pasien tersebut karena asupan makanan dan minuman yang kurang.
7. Melanjutkan penggunaan B Kompleks 3 kali sehari 1 tablet sebagai multivitamin untuk
stamina pasien tersebut karena pasien mengeluhkan keadaan umum yang lemah.
8. Penggunaan Ranitidin IV dilanjutkan untuk pengobatan stress ulcer yang mungkin terjadi
karena pasien masuk rumah sakit dan tidak pernah makan.
9. Melanjutkan penggunaan Parasetamol 500 setiap 6 jam atau 4x sehari (bila perlu) sebagai
pengobatan simtomatik pasien malaria dengan demam dan menggigil serta sakit kepala
(ISO Farmakoterapi) (Edukia.org 2017).
10. Menambahkan asam folat untuk gejala anemia yang dialami pasien serta mencegah
kecacatan srius pada bayi dengan dosis 0,4 mg/hari.
11. Melakukan terapi non farmakologi untuk mencegah terjadinya malaria:
Tidur menggunakan kelambu atau menggunakan lotion antinyamuk
Menjaga kebersihan lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya,
membersihkan genangan air, dan menutup penampungan air
Menjaga kesehatan seperti banyak minum air putih, makan dan minum bersih dan
sehat, olahraga untuk ibu hamil, dan menghindari stress.
KOMUNIKASI, INFORMASI, EDUKASI
1. Memberitahukan tentang penyakit malaria, faktor risiko, tanda dan gejala, sehingga
pasien mengetahui penyakitnya dan dapat melaksanakan pengobatan dengan baik.
2. Memberitahukan kepada pasien tentang penggunaan obat peroral:
Kina 3x sehari 10mg/kgBB
klindamicin 2x sehari 10mg/kgBB
ranitidin IV digunakan 12 jam sekali (2x sehari)
Parasetamol 4 kali sehari 1 tablet, 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan
B Kompleks 3 kali sehari 1 tablet, 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan
Asam folat 1 kali sehari
3. Memberitahukan kepada pasien tentang efek samping terhadap penggunaan obat yang
telah disebutkan pada Monitoring.
4. Memberitahukan kepada pasien bahwa obat harus dikonsumsi secara rutin dan sesuai
aturan pakai untuk mencegah kekambuhan/relaps atau kemungkinan terjadi ancaman
keganasan seperti malaria dengan komplikasi yang lebih parah.
5. Memberitahukan kepada pasien tentang terapi non farmakologi yang telah disebutkan
pada Care Plan guna peningkatan keberhasilan terapi.
6. Memberitahukan kepada pasien apabila sudah pulang rumah sakit harus kontrol pada hari
ke-14 dan ke-28 sejak hari pertama mendapatkan obat anti malaria.
7. Memberitahukan kepada pasien untuk melakukan pemeriksaan sediaan darah untuk
mengecek apakah parasit dalam tubuh sudah hilang.

MONITORING
1. Monitoring pemeriksaan tanda vital seperti tekanan darah pada range normal 90-120/60-
80 mmHg, suhu 36-37,5 C, HR 60-100, RR 14-20.
2. Monitoring pemeriksaan fisik seperti demam, konjungtiva, splenomegaly, manifestasi
malaria berat.
3. Monitoring pengobatan dilakukan pada hari ke-3, ke-7, ke-14, sampai hari ke-28.
Evaluasi pengobatan dilakukan setiap hari dengan memonitor gejala klinis dan
pemeriksaan mikroskopis. Evaluasi dilakukan sampai bebas demam dan tidak ditemukan
parasite aseksual dalam darah selama 3 hari berturut-turut.
4. Monitoring keberhasilan terapi dilihat berdasarkan berkurangnya gejala-gejala yang
dialami pasien seperti demam, muntah, perut sakit, batuk, sesak nafas, dan pemeriksaan
laboratorium menunjukkan nilai normal atau mendekati normal, menunjukkan bahwa
penggunaan obat-obatan yang dipilih adekuat.
5. Monitoring efek samping obat
DAFTAR PUSTAKA

- Departemen kesehatan RI. 2005. Pedoman Tatalaksana Kasus Malaria di Indonesia


Jakarta.
- Departemen Kesehatan RI. 2008. Pedoman Penatalaksanaan Kasus Malaria di
Indonesia. Jakarta
- DIPIRO 2008
- DIPIRO 2009
- ISO FARMAKOTERAPI II
- Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Permenkes Nomor 5 Tahun 2013
tentang Pedoman Tata Laksana Malaria. Jakarta: Menkes Indonesia.
- Putra, Teuku Romi Imansyah. 2011. Malaria dan permasalahannya. Jurnal
Kedokteran syiah Kuala 11(2).