Anda di halaman 1dari 6

Laporan Praktikum Taksonomi Hewan Vertebrata Subfilum Vertebrata

Superclass Reptilia
Dosen Pengampu : Rouland Ibnu Darda, M.Si
Kelompok 3 :

Afrizal Malna (061115028), Ifan Sunandy (061115010), Noor Fitri Fadillah (061115030), Rima Aulia Rachmawaty
(061115034)
Kamis, 6 April 2017

Gambar Klasifikasi Deskripsi

Kingdom : Animalia Satwa reptil terdiri dari 48 famili,


sekitar 905 genus dengan 6,547 spesies
Filum : Chordata
(Halliday dan Adler, 2000). Jumlah ini terus
Subfilum : Vertebrata berubah seiring dengan berkembangan ilmu
pengetahuan dan penemuan jenis-jenis baru.
Class : Reptilia
Indonesia memiliki tiga dari keempat ordo,
Ordo : Squamata yaitu Ordo Testudinata, Squamata dan
Crocodylia.Tuatara(Ordo Rhynchocephalia)
Famili : Colubridae
merupakan reptil primitif yang terdiri dari 1
Rhacophorus margaritifer Genus : Elaphe jenis dan hanya terdapat di Selandia Baru
(OShea dan Halliday, 2001).
Spesies : Elaphe radiata
Ordo Squamata dibagi lebih lanjut
menjadi tiga sub-ordo, yaitu: Sauria
(Sumber : animaldiversity.org)
(Lacertilia) yang mencakup kadal;
Amphisbaenia; dan Serpentes (Ophidia)
yang mencakup ular. Kadal merupakan
kelompok terbesar dalam reptil. Kadal
terdiri dari 3.751 jenis dalam 383 genus dan
16 famili, atau 51% dari seluruh jenis reptil
(OShea dan Halliday, 2001; Halliday dan
Adler, 2000). Amphisbaenia terdiri dari 4
famili yang kemudian dibagi menjadi 21
genus dan 140 jenis, atau sekitar 2% dari
seluruh reptil. Ular, atau Serpentes, terdiri
dari 2,389 jenis dalam 471 genus dan 11
famili, atau sekitar 42% dari seluruh jenis
reptil (Halliday dan Adler, 2000).
Morfologi
Ular adalah reptil yang tidak
memiliki kaki, kelopak mata, atau telinga
eksternal. Seluruh tubuhnya tertutup oleh
sisik (OShea dan Halliday, 2001). Jumlah,
bentuk dan penataan sisik ular dapat
digunakan untuk mengidenifikasi jenis ular
(Mattison, 1992). Ukuran tubuh ular
berkisar dari 10 mm sampai 10 m. Ular
terpanjang berasal dari famili Pythonidae.
1
Sebagian besar ular berukuran antara 45-
200 cm, dan 10-20% dari panjang tersebut
adalah panjang ekor (Mattison, 1992).
Ular tidak memiliki kaki, lubang
telinga, dan kandung kemih (urinary
bladder). Kelopak mata pada ular tidak
dapat digerakkan. Seluruh tubuhnya tertutup
oleh sisik transparan yang dapat berganti
pada jangka waktu tertentu. Ular
mendeteksi mangsa dengan menggunakan
sensor kimia, disebut Jacobson organ, yang
terletak pada bagian dalam rahang atas
dengan memanfaatkan lidahnya yang
bercabang untuk menangkap partikel-
partikel kimia di udara dan getaran yang
ditimbulkan oleh mangsa, kemudian
dimasukkan ke dalam organ tersebut secara
cepat dan berulang (Goin et al.,1978).
Ular Trawang merupakan genus
Coleognathus yang masih satu genus
dengan Elaphe dan termasuk kedalam
famili Colubridae yang diketahui tersebar di
13 negara di Asia (Uetz 2009).
Dalam dua puluh tahun terakhir,
takson dari ular trawang telah mengalami
banyak perubahan. Secara keseluruhan dari
tahun 1827 - 2007 tercatat terdapat 28 kali
perubahan takson dari ular trawang (Uetz,
2009). Perubahan terbaru taksa ular trawang
dipublikasikan oleh Ziegler et al., (2007)
dengan dimasukkan kembali ular terawang
kedalam genus Coleognathus berdasarkan
morfologi, anatomi, osteologi, perilaku, dan
biokimia. Hal tersebut didukung dari
publikasi Utiger et al., (2002; 2005) yang
memperlihatkan hubungan kekerabatan
antar ular anggota Elaphe secara molekuler
dimana ular trawang tergolong kedalam
Oriental Coleognathus Genus.

Kulit R. margaritifer memiliki


tekstur halus pada permukaan atas tubuh,
kulit perut dan bagian bawah kaki berbintil
kecil kasar. Kulit berwarna coklat tua,
coklat kemerahan, coklat muda sampai
kuning dengan bercak - bercak tidak
beraturan pada bagian atas tubuh sedangkan
kulit bagian perut berwarna putih (Kurniati
2003). (Muliya, 2010).
Tubuh relatif gembung dan pada
bagian antara jari tangan berselaput kira-
2
kira setengah atau dua pertiga dari panjang
jari. Tumit mempunyai sebuah lapisan kulit
(flap). R. margaritifer juga memiliki
tonjolan kulit yang terdapat di sepanjang
pinggir lengan dan dasar kaki sampai jari
luar (Iskandar 1998). (Muliya, 2010).
Rhacophorus margaritifer adalah
jenis katak pohon yang hidup pada habitat
arboreal dan biasanya datang mengunjungi
air untuk beberapa periode, paling sedikit
pada saat musim berbiak dan selama masa
perkembangbiakan (metamorfosis)
(Iskandar 1998) . (Lubis, 2008).
Rata-rata suhu harian habitat yang
ditempati oleh jenis R. margaritifer berkisar
antara 160 C - 170 C (Lubis 2008). R.
margaritifer dapat ditemukan di hutan hujan
tropis dan di area yang terbuka (Kurniati,
2003) serta hutan primer pada ketinggian di
atas 1000 meter di atas permukaan laut
(Frost 2009). (Luthfia, 2009).
Tekstur kulit dengan permukaan
dorsum halus, perut termasuk bagian bawah
kaki berbintil kecil kasar. Kulit berwarna
coklat mahagoni atau kemerahan, sampai
ungu dengan bercak - bercak tidak
beraturan (Lubis, 2008).
R. margaritifer merupakan satwa yang
nokturnal. Dalam melakukan aktivitasnya
R. margaritifer tidak pernah berada dilantai
hutan, sehingga jenis ini memanfaatkan
jenis serangga yang aktif dimalam hari dan
beraktivitas secara arboreal (Rahman,
2009). Lebih lanjut Duellman dan Trueb
(1986), menyatakan bahwa katak pohon
mencari mangsa dengan cara duduk dan
menunggu hingga mangsa yang cocok
datang dan mendekat hingga jarak yang
dapat dicapai oleh lidahnya (Akmal, 2011).
Katak pohon berukuran kecil sampai
sedang, tubuh relatif gemuk dan memiliki
mata yang besar. Ukuran jantan dewasa 50
mm, sedangkan betina dewasa 60 mm.
Warna tubuh coklat atau kemerahan, sampai
ungu dengan bercak tidak beraturan (Ario,
2010).
Tekstur kulit permukaan punggung
halus, pada bagian perut termasuk bagian
bawah kaki berbintil kecil kasar. Jari tangan
kira-kira setengah berselaput, semua jari
kaki kecuali jari keempat berselaput hingga
3
kepiringannya. (Ario, 2010).
Umum hidup di hutan dataran
rendah hingga pegunungan dengan
ketinggian mencapai 1500 m diatas
permukaan laut. Aktif pada malam hari
(nokturnal) dan biasa hidup di pepohonan
(arboreal). Penyebaran di Indonesia:
endemik pulau Jawa. (Ario, 2010).
Morfometri
Karakter yang diukur antara lain SVL
(panjang dari moncong sampai anus), MSL
(jarak dari moncong ke ujung mulut), HW
(lebar kepala), HAL (panjang manus sampai
digiti), FAL (panjang antebranchium), LAL
(panjang branchium), THIGHL (panjang
femur), HLL (panjang kaki belakang), TL
(panjang tibia), dan TFOL (panjang dari
tarsus sampai jari ke-4 kaki belakang).
(Kurniawan et al., 2011).

Pembahasan
Dari pengamatan yang praktikan
lakukan, di dapatkan hasil sebagai berikut :
Pada bagian dorsal, terdapat tulang
punggung yang sedikit naik atau
melengkung, memiliki warna kulit dasar
coklat muda dengan corak berwarna coklat
tua. Pada bagian ventral, permukaannya
sedikit kasar dan berwarna crem.
Untuk mengetahui karakteristik dari
katak dapat dilihat dengan karakter yang
ada pada bagian tungkainya, dari
pengamatan yang praktikan lakukan di
dapatkan hasil :

Tungkai Depan :
Finger 1 lebih pendek dari finger
2,3 dan 4.
Finger 2 lebih pendek dari finger 3
tetapi sama dengan finger 4.
Pada bagian ventral terdapat granul.
Selaput terdapat pada ruas ke 2 toe
3.

Tungkai Belakang :
Toe 1 lebih pendek dari toe 2.
Toe 2 lebih pendek dari toe 3,4 dan
5.
Toe 3 lebih pendek dari toe 4 tetapi
sama dengan toe 5.
4
Selaput terdapat pada ruas ke dua
toe 3.

5
DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Muhammad Irfansyah. 2008. Pemodelan Spasial Habitat Katak Pohon Jawa (Rhacophorus
javanus Boettger 1893) Dengan Menggunakan Sstem Informasi Geografis Dan
Penginderaan Jarak Jauh Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Jawa Barat.
Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Ario, Anton. 2010. Mengenal Satwa Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Jakarta:
Conservation International Indonesia. Hal: 137.

Kurniawan, N., T.H. Djong, M.M. Islam, T. Nishizawa, D.M. Belabut, Y.H. Sen, R. Wanichanon,
I. Yasir, dan M. Sumida. 2011. Taxonomic Status of Three Types of Fejervarya cancrivora
from Indonesia and Other Asian Countries Based on Morphological Observations and
Crossing Experiments. Zoological Science. Hal: 12 - 24.

Firdaus, Akmal. 2011. Dampak Penambahan Beban Terhadap Pergerakan Katak Pohon Jawa.
Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Muliya, Neneng. 2010. Pola Pergerakan Harian Dan Penggunaan Habitat Mikro Katak Pohon
Jawa (Rhacophorus Margaritifer) Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Jawa Barat.
Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Luthfia Nuraini Rahman. 2009. Preferensi Pakan Katak Pohon Jawa (Rhacophorus margaritifer).
Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.