Anda di halaman 1dari 4

RESUSITASI BAYI BARU LAHIR

No. Dokumen Revisi Halaman


../PRO/DIR/III.6.AU/PKUS
KH/2017 0 1/3
RS PKU
MUHAMMADIYAH
SUKOHARJO

Tanggal Terbit Ditetapkan: Sukoharjo


Direktur RS PKU
STANDAR 01 Januari 2017 Muhammadiyah Sukoharjo
PROSEDUR
OPERASIONAL

Machmud Surjanto
NBM : 10947636
PENGERTIAN Resusitasi bayi baru lahir adalah suatu intervensi yang
dilangsungkan saat lahir untuk menyokong penetapan
pernafasan dan sirkulasi bayi baru lahir.
TUJUAN Sebagai dasar agar petugas medis mampu memberikan
pertolongan pertama pada bayi baru lahir yang
membutuhkan tindakan resusitasi.
KEBIJAKAN SK Direktur Nomor : /KEP/DIR/III.6.AU/PKUSKH/
2017 tentang Kebijakan Penyelenggaraan PONEK 24 jam.
1. Dokter/Perawat menerima informasi mengenai adanya
persalinan risiko tinggi yang sedang terjadi.
P 2. Perawat menyiapkan peralatan yang diperlukan :
R - Infant Warmer dinyalakan dan handuk hangat
O tersedia.
S - Memeriksa alat suction, oksigen, sungkup wajah
E dengan ukuran yang sesuai serta ambu bag.
D - Perawat menyediakan ETT dengan ukuran yang
U sesuai, potong hingga 13 15 cm.
R - Perawat menyiapkan obat-obatan, kateter umbilikal.
3. Perawat segera menempatkan bayi baru lahir di bawah
infant warmer dengan posisi bayi terlentang pada posisi
setengah tengadah untuk membuka jalan nafas.
4. Dokter/perawat meletakkan sebuah gulungan handuk di
bawah bahu untuk mencegah fleksi leher dan
penyumbatan jalan nafas.
5. Dokter/perawat membersihkan jalan nafas dengan
RESUSITASI BAYI BARU LAHIR
No. Dokumen Revisi Halaman
../PRO/DIR/III.6.AU/PKUS
KH/2017
0 2/3

RS PKU
MUHAMMADIYAH
SUKOHARJO
mengisap mulut terlebih dahulu kemudian hidung,
dengan menggunakan alat Suction.
6. Perawat melakukan pengisapan dan pengeringan
tubuh secara bersamaan, bila airketuban bersih dari
mekonium.
7. Dokter /perawat mengeringkan, melakukan stimulasi
dan mereposisi kepala.
8. Seluruh langkah di atas dilakukan tidak lebih dari 30
detik.
9. Dokter/perawat menilai pernafasan bayi
10. Jika bayi mulai bernafas secara teratur dan memadai,
periksa denyut jantung. Jika denyut jantung > 100
kali/menit dan bayi tidak mengalami sianosis,
hentikan resusitasi. Tetapi jika sianosis ditemui,
segera berikan oksigen aliran bebas.
11. Jika tidak terdapat pernafasan atau bayi megap-
megap, vetilasi tekanan positif diawali dengan
menggunakan ambu bag dan sungkup, dengan
frekuensi 40 60 kali/menit.
12. Jika denyut jantung < 100 kali/menit, bahkan dengan
pernafasan memadai, Ventilasi Tekanan Positif harus
dimulai kembali pada kecepatan 40 60 kali/menit
13. Dokter melakukan intubasi endotrakea bila bayi tidak
berespon terhadap ventilasi tekanan positif dengan
menggunakan ambu bag dan sungkup.
14. Perawat melakukan persiapan untuk memindahkan
bayi ke NICU.
15. Jika denyut jantung masih < 60 kali/menit setelah 30
detik ventilasi tekanan positif memadai, maka dokter
segera memulai kompresi dada.
16. Penolong melakukan kompresi dada pada sternum di
proksimal dari xifoid. Jangan menekan di atas xifoid.
17. Kedua ibu jari penolong menekan sternum sementara
jari-jari lain mengelilingi dada; atau jari tengah dan
telkunjuk dari jari tangan dapat digunakan untuk
kompresi sementara tangan lain menahan punggung
bayi. Sternum dikompresi sedalam 1/3 tebal antero-
posterior dada.
18. Kompresi dada diselingi ventilasi secara sinkron
terkoordinasi dengan rasio 3 : 1. Kecepatan
kombinasi
RSU BUNDA THAMRIN RESUSITASI BAYI BARU LAHIR
MEDAN NO DOKUMEN REVISI HALAMAN

0 3/3
kegiatan tersebut harus 120 kali/menit (yaitu 90
kompresi dan 30 ventilasi).
19. Penolong mengevaluasi respon bayi setelah 30 detik.
20. Jika denyut jantung > 60 kali/menit, kompresi dada
dihentikan danventilasi tekanan positif dilanjutkan
hingga denyut jantung mencapai 100 kali/menit dan
bayi bernafas efektif.
21. Penolong memberikan epinefrin jika denyut jantung
tetap < 60 kali/menit setelah 30 detik ventilasi
tekanan positif dan 30 detik lagi ventilasi tekanan
positif dan kompresi dada.
UNIT TERKAIT 1. IGD
2. Kamar Bersalin
3. Kamar Operasi
4. Perinatologi
5. NICU

Anda mungkin juga menyukai