Anda di halaman 1dari 13

IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PANCASILA

SEBAGAI FALSAFAH PANDANGAN HIDUP DAPAT


MENINGKATKAN KESADARAN MASYARAKAT
DALAM KETAHANAN PANGAN
Wednesday, 11 July 2012 11:11 Zaedun, S.Sos Hukum Tata Negara / Hukum Administrasi
Negara

IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PANCASILA SEBAGAI FALSAFAH PANDANGAN


HIDUP DAPAT MENINGKATKAN KESADARAN MASYARAKAT DALAM
KETAHANAN PANGAN

oleh : Zaedun, S.Sos

1. Pendahuluan.

Pasca reformasi yang berlangsung pada bulan Mei Tahun 1998, bangsa Indonesia tengah
mengalami perubahan tatanan kehidupan yang mendasar, sehingga memerlukan suatu tekad
dan tujuan bersama untuk mempertahankan eksistensi kehidupan berbangsa dan bernegara
serta untuk mengembangkan diri dalam mencapai cita-cita luhur para pendiri bangsa
(founding fathers) yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur secara material dan
spiritual.

Gagasan luhur tersebut jika dicermati dengan seksama tetap relevan dan menjadi isu penting
karena bangsa Indonesia harus menemukan nilai-nilai yang dapat memotivasi, memberi
inspirasi dan mempersatukan seluruh elemen masyarakat dalam mewujudkan cita-cita
bersama. Disadari sepenuhnya bahwa upaya mewujudkan cita-cita tersebut tidak mudah,
karena bangsa Indonesia sangat plural dan heterogen, dengan jumlah penduduk terbesar urut
ke empat dan tersebar luas, sehingga sangat rawan konflik akibat alasan yang sulit diprediksi
dan mendadak.

Sebagai Nation (Bhinneka Tunggal Ika), Indonesia yang memiliki penduduk besar 237 juta
jiwa penduduk (sensus Tahun 2010) dan kondisi geografis yang memiliki kandungan sumber
kekayaan alam yang besar merupakan modal perjuangan yang utama. Dalam
perkembangannya, persenyawaan antara kondisi geografis dan demografis dimaknai dan
dirumuskan sebagai sumber jati diri bangsa, dasar negara dan pandangan hidup bersama
(Yudi Latif, 2011: 2-3).

Berdasarkan modal tersebut, melalui perjuangan yang panjang dan semangat juang serta jiwa
yang luhur, para pendiri bangsa berhasil merumuskan pemikiran besar, yang sarat dengan
nilai-nilai kehidupan. Rumusan semangat, pemikiran, perjuangan, dan pengorbanan untuk
membangun negara dan bangsa yang utuh, akhirnya diterima dan disahkan sebagai dasar
negara, ideologi, falsafah bangsa Pancasila pada tanggal 18 Agustus 1945.
Pancasila yang digali dari akar budaya dan nilai-nilai luhur bangsa mencakup kebutuhan
dasar dan hak-hak azasi manusia secara universal, sehingga dapat dijadikan landasan dan
falsafah hidup serta menjadi tuntunan perilaku seluruh warga negara dalam mewujudkan
tujuan nasional. Kesepakatan seluruh bangsa tersebut menjadi penting dan bermakna karena
masyarakat, suku, kelompok maupun individu yang memiliki perbedaan ideologi, budaya,
agama, bahasa, karakter serta sentimen primordial sepakat mengutamakan kepentingan
umum di atas kepentingan individu. Bertumpu pada nilai-nilai luhur dan ikatan sendi
kehidupan tersebut, bangsa Indonesia selayaknya mampu menghayati, mengamalkan dan
mengembangkan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara guna
mewujudkan tujuan nasional (Kirdi Dipoyudo, 1990 : 21,27).

Pada konteks ide atau gagasan, keberadaan Pancasila sebagai ideologi yang mempersatukan
seluruh elemen bangsa secara de facto dan de yure sudah final. Namun dalam perjalanan
sejarah perjuangan bangsa, sejak proklamasi kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945
sampai saat ini, pemahaman, penghayatan dan pengamalan Pancasila mengalami ancaman,
tantangan, hambatan dan gangguan yang berat dan sulit diprediksi, yang bermuara pada
ancaman disintegrasi bangsa serta penurunan kualitas kehidupan dan martabat bangsa.

Penurunan kualitas hidup dan nasionalisme tersebut terutama dalam kaitan dengan dinamika
politik yang menyalahgunakan Pancasila untuk tujuan kekuasaan dan kepentingan pihak-
pihak tertentu (Kristiadi, 2011 : 528). Pancasila yang sarat dengan nilai-nilai luhur bangsa
secara sistematis dijadikan sarana untuk memburu kekuasaan dan kepentingan tertentu,
bahkan dipolitisir dengan mengingkari nilai-nilai Pancasila itu sendiri, baik nilai ketaqwaan,
religiositas, kemanusiaan, kebhinekaan, kerakyatan, keadaban, kebersamaan, kesetiakawanan
sosial, kebijaksanaan, kemufakatan, keadilan sosial dan keharmonisan.

Pada konteks reformasi, perkembangan yang sedang berjalan selama ini telah membawa
berkah, sekaligus juga musibah. Masyarakat pada satu sisi mendapat berkah dibidang
kebebasan berpendapat dan aktivitas politik, namun sebaliknya sebagian dari masyarakat
menggunakan euforia kebebasan dengan tidak mengindahkan kepentingan orang lain,
menggelar aksi anarkhi dan merusak aset umum. Dinamika situasi ini berdampak besar
bagi kehidupan masyarakat yang tingkat kesejahteraannya terbelenggu oleh krisis moneter
yang belum pulih, terkena jebakan hambatan investasi sarana dan pasarana pendukung
pembangunan ekonomi, dan mengalami keterbatasan kemampuan pengelolaan dan
pemanfaatan sumber daya alam.

Situasi tersebut pada tataran makro berpengaruh bagi kelangsungan pembangunan nasional,
karena : (a) stabilitas politik nasional terkait erat dengan ketahanan ekonomi dan ketahanan
pangan; sedangkan (b) pencapaian ketahanan pangan merupakan basis bagi pembangunan
sumber daya manusia yang berkualitas; dan (c) pemantapan ketahanan pangan berarti
terpenuhinya kebutuhan pangan bagi setiap warga, sebagai perwujudan hak azasi manusia
atas pangan.

Pada tataran praktis, ketahanan pangan yang mengalami situasi krisis karena tidak
tersedianya produk domestik dengan harga yang terjangkau oleh sebagian besar penduduk
serta menipisnya cadangan pangan mengakibatkan degradasi nilai-nilai yang tersirat dalam
mukadimah UUD 1945 dan ideologi Pancasila.

Berdasarkan pengamatan empiris yang dilakukan para ahli, era reformasi yang telah
berlangsung selama 15 tahun ini ternyata masih menyimpan agenda permasalahan bangsa
yang memerlukan pemikiran, solusi dan kebijakan untuk menjaga kelangsungan
pembangunan nasional. Paradigma kepentingan nasional yang mencakup kepentingan
keamanan dan kepentingan kesejahteraan, terutama kebijakan nasional penyediaan pangan
harus disertai dengan pembangunan karakter yang dilandasi oleh nilai-nilai luhur bangsa
dalam rangka memperbaiki tatanan kehidupan dan menyelamatkan masa depan bangsa dan
negara.

Atas dasar itu, maka isu strategis yang perlu dikedepankan dalam menanggapi perkembangan
situasi nasional yaitu melakukan redefinisi, reposisi dan reaktualisasi Pancasila sebagai dasar
negara, ideologi dan falsafah bangsa. Dalam implementasinya pendidikan ideologi
Pancasila harus dilakukan dengan serius dan konsisten oleh seluruh komponen bangsa, baik
pihak eksekutif, yudikatif dan legislatif serta elemen masyarakat. Dengan menanamkan nilai-
nilai Pancasila diharapkan dapat dibangun karakter bangsa yang dilandasi oleh nilai-nilai
luhur bangsa sehingga agenda reformasi dapat dilakukan dengan kaidah-kaidah yang benar.

2. Inti Tulisan.

Hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia dan masyarakat Indonesia


seutuhnya dengan Pancasila sebagai dasar, pedoman dan tujuan pembangunan nasional.
Adapun tujuan pembangunan nasional adalah mewujudkan masyarakat yang adil dan
makmur secara material dan spiritual berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Berdasarkan
pengamatan empiris yang dilakukan para ahli, penyelenggaraan pembangunan nasional
khususnya dibidang ekonomi diakui belum berjalan optimal sesuai dengan tujuan
pembangunan nasional.

Berbagai indikasi seperti kesenjangan ekonomi, kesenjangan sosial, tingginya jumlah


pengangguran, besarnya angka kemiskinan serta lemahnya keunggulan komparatif
masyarakat dalam mengelola pertanian sebagai basis ketahanan pangan nasional akibat
pengaruh liberalisasi merupakan bukti terjadinya krisis ekonomi global yang berdampak
terhadap ekonomi nasional. Perkembangan tersebut akibatnya menimbulkan iklim usaha
yang tidak menentu, situasi ketidakpastian dan dapat berpotensi menjebak sektor pertanian
sebagai basis ketahanan pangan nasional di masa depan (Budiman Hutabarat, 2009 : 18).

a. Nilai-nilai Pancasila.

Bagi bangsa Indonesia, Pancasila telah diterima sebagai kesepakatan bangsa


bersama tiga pilar yang lain yaitu UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila secara de yure telah disahkan oleh PPKI
pada tanggal 18 Agustus 1945 sebagai dasar negara, ideologi dan falsafah bangsa.
Rumusan Pancasila sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV
terdiri dari lima sila, azas atau prinsip yaitu : 1) Ketuhanan Yang Maha Esa; 2)
Kemanusiaan yang adil dan beradab; 3) Persatuan Indonesia; 4) Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan; 5) Keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan berlandaskan agama, budaya, mata pencaharian dan lingkungan yang


heterogen, seluruh elemen masyarakat dapat menemukan kesamaan sebagai manusia
Indonesia. Persenyawaan tersebut pada perkembangannya berhasil menemukan nilai-
nilai dasar manusiawi yang secara konkrit digunakan untuk mengatur kehidupan
bersama dalam wadah negara, yang berwujud Pancasila.
Rumusan Pancasila secara material memuat nilai-nilai dasar manusiawi, sedangkan
sebagai dasar negara, Pancasila memiliki ciri khas yang hanya diperuntukkan bagi
bangsa Indonesia. Atas dasar itu, keberadaan Pancasila yang pada hakekatnya adalah
nilai (value) yang berharga, yang memuat nilai-nilai dasar manusiawi dan nilai-nilai
kodrati yang melekat pada setiap individu manusia diterima oleh bangsa Indonesia
(Paulus Wahana, 2001: 73).

Mencermati nilai-nilai dasar yang melekat dalam kehidupan manusia, Notonagoro


yang membahas Pancasila secara ilmiah populer, menjelaskan bahwa sesuai sifatnya
manusia memiliki sifat individual dan sekaligus sebagai makhluk sosial. Dengan
memaknai nilai-nilai dasar manusiawi tersebut, wajar bahwa nilai-nilai Pancasila
dapat diterima oleh seluruh bangsa Indonesia sebagai bangsa yang memiliki landasan
hubungan antara manusia dengan Tuhan Penciptanya, dengan sesamanya dan dengan
lingkungan alamnya (Notonagoro, 1987: 12-23).

Sebagai nilai-nilai dasar manusiawi, Pancasila dalam implementasinya dapat


dijabarkan kedalam nilai-nilai yang lebih khusus, lebih terperinci dan lebih
operasional, sehingga dapat ditemukan dan dikembangkan dalam berbagai aspek
kehidupan. Sehubungan dengan hal itu, perlu dipahami bahwa nilai-nilai Pancasila
sebenarnya memiliki sifat sebagai realitas yang abstrak, umum, universal, tetap tidak
berubah, normatif dan berguna sebagai pendorong tindakan manusia (Paulus Wahana,
Loc. Cit : 29-33).

Kelima sila, azas atau prinsip Pancasila dapat dikristalisasikan kedalam lima dasar
yaitu nilai keTuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan.
Pancasila merupakan jalinan nilai-nilai dasar dan merupakan kristalisasi dari nilai-
nilai budaya, nilai-nilai asli yang hidup, yang berasal dan berakar dari bangsa
Indonesia.

Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara setelah ditetapkan
oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945, dalam perkembangannya dikuatkan
kembali melalui Ketetapan MPR RI No. XVIII/MPR/1998. Kedudukan Pancasila
sebagai dasar negara dan ideologi bangsa dapat dipandang dari tiga aspek yaitu
filosofis, yuridis dan politik.

Berdasarkan aspek filosofis, Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional
berisi nilai dan gagasan atau ide dasar. Sebagai dasar negara, nilai-nilai Pancasila
menjadi pijakan normatif dan orientasi dalam memecahkan masalah kebangsaan dan
kenegaraan, sehingga isi gagasan mengenai Pancasila dapat dijadikan jawaban tentang
persoalan kebangsaan, kemanusiaan, demokrasi, kesejahteraan dan Ketuhanan.
Lima prinsip dasar ini dipahami tetap relevan sebagai acuan normatif dan orientasi
ketika bangsa dan negara Indonesia menghadapi persoalan serupa, meskipun dalam
konteks zaman yang berbeda.

Sebagai ideologi nasional, nilai-nilai dasar Pancasila menjadi cita-cita masyarakat


Indonesia, sekaligus menunjukkan karakter dan jati diri bangsa. Selama ini jati diri
bangsa Indonesia diterima sebagai bangsa yang religius, bersatu, demokratis, adil,
beradab dan manusiawi. Adapun wujud dari jati diri bangsa ditunjukkan dengan
kesepakatan untuk menggunakan prinsip kemanusiaan, keadilan, kerakyatan dan
prinsip Ketuhanan dalam menyelesaikan masalah kebangsaan (Tilaar, 2007: 32).
Ditinjau dari aspek yuridis, Pancasila sebagai dasar negara menjadi cita hukum
(rechtside), yang berarti harus dijadikan dasar dan tujuan hukum di Indonesia
(Abdulkadir Besar, 2005 : 102). Cita hukum ini merupakan suatu apriori yang
bersifat normatif sekaligus konstitutif, yang merupakan syarat transendental yang
mendasari tiap hukum positif yang bermartabat. Artinya tanpa cita hukum, tidak
akan ada hukum yang memiliki watak normatif. Adapun jalinan nilai-nilai dasar
Pancasila dijabarkan dalam hukum dasar yaitu UUD 1945, dan dalam bentuk pasal-
pasal yang mencakup berbagai segi kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.
Aturan-aturan dasar dalam UUD 1945 selanjutnya dijabarkan lagi dalam Undang-
Undang dan Peraturan di bawahnya.

Ditinjau dari aspek sosial politik, Pancasila sebagai ideologi mengandung nlai-nilai
yang baik, adil, benar, luhur dan bermanfaat sehingga diterima oleh masyarakat.
Berdasarkan pengalaman empiris, masyarakat selama ini menjadikan nilai-nilai
Pancasila sebagai nilai bersama, sehingga Pancasila menjadi ideologi nasional bangsa
Indonesia. Pada posisisinya sebagai ideologi nasional, nilai-nilai Pancasila
difungsikan sebagai nilai bersama dan nilai pemersatu.

Nilai bersama dan nilai pemersatu ini sejalan dengan fungsi ideologi di masyarakat,
yaitu (1) sebagai tujuan atau cita-cita bersama yang hendak dicapai oleh masyarakat,
dan (2) sebagai pemersatu masyarakat dalam menyelesaikan masalah yang terjadi
dengan cara musyawarah untuk mufakat. Fungsi ideologi tersebut dalam
keberadaannya selaras dengan tujuan hidup bermasyarakat yaitu untuk mencapai
terwujudnya nilai-nilai dalam ideologi bangsa.

1) Implementasi Pancasila.

Berdasarkan pengalaman sejarah dapat diketahui bahwa upaya implementasi


Pancasila telah dilakukan sejak masa Pemerintahan Presiden Soekarno, yang
dibagi menjadi tiga yaitu (a) tahap perjuangan 1945-1949, (b) pemerintahan
RIS, dan (c) tahap setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Secara de yure upaya
untuk mengimplementasikan Pancasila tersurat dalam UU No. 4 Tahun 1959
tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah, pasal 3 dan pasal
4 yang dengan tegas menyatakan bidang pendidikan dan pengajaran adalah
untuk mewujudkan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.[1] Namun secara de facto indoktrinasi Pancasila secara
terencana dan sistematis belum dapat direalisasikan karena hambatan politik,
ekonomi dan keamanan (http://inprogres.
wordpress.com/2009/10/26/implementasi-pancasila).

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, implementasi Pancasila gencar


dilaksanakan dengan Penataran P4 dengan tujuan agar setiap warga negara
dapat memahami hak dan kewajibannya sehingga mampu bersikap dan
berperilaku dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Secara
institusional kebijakan tersebut juga ditempuh melalui jalur pendidikan, baik
tingkat dasar, menengah hingga Perguruan Tinggi, dengan kurikulum yang
berisi materi untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam hidup
bernegara berdasarkan Pancasila. Selanjutnya paradigma yang diangkat
adalah menciptakan stabilitas politik yang dinamis, namun paradigma dan
kebijakan yang digulirkan ternyata tidak sesuai dengan jiwa Pancasila. Bahkan
Pancasila ditafsirkan dalam hubungan dengan kepentingan kekuasaan
pemerintah yang sentralistik dan otoritarian. Akhirnya periode ini tidak
mencapai hasil yang optimal karena metode dan materi tidak tepat, dan
pendidik serta penatar kurang profesional.

Pada pasca reformasi, pemahaman dan pengamalan Pancasila mengalami


berbagai hambatan yang berat dan sulit diprediksi, yang bermuara pada
ancaman disintegrasi bangsa serta penurunan kualitas kehidupan dan
martabat bangsa. Perkembangan yang sangat memprihatinkan itu terutama
disebabkan oleh dinamika politik yang menyalahgunakan Pancasila sebagai
dasar negara dan ideologi bangsa dengan mengingkari nilai-nilai luhur untuk
tujuan kekuasaan.

Perilaku politik para pemegang kekuasaan yang mengingkari Pancasila


tersebut akhirnya berpengaruh pada rentannya elemen bangsa dibawahnya
untuk melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekuen (Kristiadi, 2011:
529). Akibatnya Pancasila mulai ditinggalkan, tidak lagi difungsikan
sebagai wacana, baik dalam forum diskusi, sarasehan, seminar maupun dalam
program-program pemerintah.

Bahkan di lingkungan perguruan tinggi tidak lagi diajarkan materi Pancasila.


Selanjutnya tantangan lain yang dihadapi adalah munculnya ego kedaerahan
dan primordialisme sempit. Fenomena ini mengindikasikan bahwa Pancasila
seolah-olah tidak lagi memiliki kekuatan untuk dijadikan paradigma dan batas
pembenaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam
perkembangannya, gerakan reformasi yang sebenarnya amat diperlukan,
tampak tergulung oleh derasnya arus eforia kebebasan.

Sehingga sebagian masyarakat seperti lepas kendali dan tergelincir ke dalam


perilaku yang anarkis, timbul berbagai konflik sosial yang tidak kunjung
teratasi, dan bahkan di berbagai daerah timbul gerakan yang mengancam
persatuan dan kesatuan bangsa serta keutuhan NKRI. Bangsa Indonesia
sampai saat ini terus dilanda krisis multidimensional di segenap aspek
kehidupan, sehingga terjadi krisis moral yang mengarah pada demoralisasi.

Mencermati pengalaman sejarah perjuangan bangsa tersebut dan dalam kaitan


dengan perspektif ilmu, khususnya teori fungsionalisme struktural, maka
Indonesia sebagai suatu negara yang majemuk sangat membutuhkan nilai
bersama yang dapat dijadikan sebagai nilai pengikat integrasi (integrative
value), titik temu (common denominator), jati diri bangsa (national identity)
dan sekaligus nilai yang baik dan mampu diwujudkan (ideal value).

Nilai bersama ini diharapkan dapat diterima, dimengerti, dan dihayati. Dalam
konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, nilai-nilai tersebut dapat
diimplementasikan oleh setiap individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
sehingga dapat berperan untuk membangun stabilitas dan komunitas politik,
sehingga perlu diinternalisasikan agar dapat dihayati melalui pendidikan
kewarganegaraan (civic education). Implementasi Pancasila melalui
pendidikan kewarganegaraan diperlukan bagi pembangunan manusia
seutuhnya kedepan karena Pancasila mengandung nilai-nilai penting tentang
dasar negara, ideologi dan falsafah hidup bangsa.

2) Sosialisasi Nilai-nilai Pancasila.

Ditinjau dari segi filsafat, sila-sila dari Pancasila harus dipahami dalam satu
kesatuan yang utuh, sebagai satu kesatuan sistematis, yang tidak dapat diubah-
ubah urutan dan tempatnya yang tersusun secara hirarkhis, karena memahami
dan memberi arti setiap sila secara terpisah akan menimbulkan pengertian
yang salah tentang Pancasila sebagai satu kesatuan.

Pada tataran normatif di dalam Pancasila terkandung prinsip yang sangat


penting bagi usaha menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu
persatuan dalam keanekaragaman yang dijiwai oleh azas Ketuhanan.
Mempedomani prinsip tersebut dalam membangun relasi sosial dalam
kehidupan masyarakat perlu didasari atas sikap loyalitas terhadap
keberagaman daerah, suku, agama, budaya, ideologi yang diterima sebagai
kenyataan sosial untuk dikembangkan menjadi jaringan kerjasama dengan
dilandasi hubungan spiritual antara manusia sebagai mahluk Tuhan, dan
dalam hubungan dengan sesama serta alam sekitarnya secara harmonis.
Prinsip tersebut selayaknya diwujudkan menjadi sikap dan tindakan yang
mengedapankan iman dan taqwa, segi kemanusiaan dalam bentuk gotong-
royong, pemerataan dan keadilan sosial untuk mengatasi kesenjangan ekonomi
dan kemiskinan akibat krisis yang berkepanjangan.

Mengenai konsep Pancasila, perlu dipahami bersama bahwa secara normatif


tidak berubah, namun dalam kaitan dengan kepentingan politik dan kekuasaan
cenderung mengalami dinamika yang multi kompleks. Adapun tantangan
sosialisasi Pancasila dalam menyiasati perkembangan situasi kedepan adalah
pengaruh globalisasi yang melanda seluruh aspek kehidupan dan praktek pasar
bebas, eksploitasi SKA yang membabi buta dan ancaman fundamentalisme
agama.

Atas dasar itu dibutuhkan upaya konstruktif dengan berlandaskan pada


interpretasi dan sosialisasi Pancasila dengan memberdayakan SDM yang
cerdas dan memiliki komitmen yang kuat terhadap Pancasila, dengan
memperhatikan perspektif sejarah, hidup tertib dan teratur sesuai peraturan,
menanamkan sikap tenggang rasa, toleransi dan bertanggungjawab,
mendahulukan kepentingan kesejahteraan dan keamanan, mengembangkan
jaringan kerjasama dengan melibatkan institusi dan berbagai kalangan dan
menghargai nilai serta norma sosial dalam kehidupan masyarakat.

3) Aktualisasi Nilai-nilai Pancasila.

Perwujudan Pancasila yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari


adalah bentuk rumusan Pancasila. Secara otentik rumusan Pancasila terdapat
di dalam Pembukaan UUD 1945, yang telah disahkan oleh PPKI pada tanggal
18 Agustus 1945. Selain diwujudkan dalam bentuk rumusan, Pancasila juga
diwujudkan dalam bentuk sikap dan perilaku sehari-hari baik dalam kaitan
dengan kegiatan sosial, budaya, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan
tersedianya peranti lunak berupa pedoman untuk mengatur, mengarahkan,
proses dan cara pelaksanaan organisasi (Moedjanto, 1989: 82-86).

Sebagai sistem nilai, Pancasila merupakan cita-cita luhur yang digali,


ditemukan dan dirumuskan oleh para pendiri bangsa, yang menjadi motivasi
bagi sikap, pemikiran, perkataan dan perilaku bangsa dalam mencapai tujuan
hidupnya dan mendukung terwujudnya nilai-nilai Pancasila. Secara formal
nilai-nilai Pancasila harus diterima, didukung dan dihargai oleh bangsa
Indonesia, karena merupakan cita-cita hukum dan cita-cita moral seluruh
bangsa Indonesia (Paulus Wahana, Op.cit., 75-76).

Disadari bahwa rumusan Pancasila terlihat abstrak dan umum, sehingga perlu
penjabaran lebih lanjut, yang dilengkapi dengan pedoman bagi terwujudnya
nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Adapun tata
urutan peraturan perundangan di Indonesia diawali dengan nilai-nilai yang
terkandung dalam Pembukaan UUD 1945, yang merupakan cita-cita hukum,
dijabarkan kedalam pasal-pasal UUD 1945 sebagai norma hukum tertinggi,
yang menjadi sumber hukum bagi peratutan perundangan yang lebih rendah.
Proses selanjutnya diharapkan norma-norma hukum dapat mewujudkan nilai-
nilai Pancasila secara operasional dan nyata dalam rangka mewujudkan
kesejahteraan bangsa dan keamanan negara.

4) Implementasi Nilai-nilai Pancasila sebagai Ideologi Nasional.

Pada konteks hubungan antara manusia, bangsa dan negara, ideologi berarti
sebagai suatu sistem cita-cita dan keyakinan yang mencakup nilai-nilai dasar,
yang dijadikan landasan bagi masyarakat dalam berbagai aspek
kehidupannya. Pancasila yang memuat nilai-nilai dasar serta cita-cita luhur
bangsa memotivasi bangsa Indonesia untuk mewujudkan tujuan nasional.

Sejak awal pembentukan, ideologi Pancasila merupakan ideologi dari, oleh


dan untuk bangsa Indonesia. Pancasila yang merupakan falsafah dan
pandangan hidup bangsa secara operasional dijadikan ideologi bangsa
Indonesia. Pancasila merupakan konsensus politik yang menjanjikan suatu
komitmen untuk bersatu dalam sikap dan pandangan guna mewujudkan tujuan
nasional (Paulus Wahana, Op.cit. 91-92).

Nilai-nilai yang telah disepakati bersama tersebut mewajibkan bangsa


Indonesia dengan segala daya dan upaya untuk mewujudkan sesuai dengan
situasi dan kondisi nyata serta menghindari pemikiran dan perilaku yang
bertentangan dengan nilai-nilai dasar. Selanjutnya sebagai ideologi terbuka,
Pancasila memiliki keterbukaan, keluwesan yang harus diterima dan
dilaksanakan oleh seluruh golongan yang ada di Indonesia.

Pancasila sebagai ideologi nasional harus mampu memberikan wawasan, azas


dan pedoman normatif bagi seluruh aspek kehidupan, baik ekonomi, politik,
sosial dan pertahanan keamanan serta dijabarkan menjadi norma moral dan
norma hukum. Sebagai konsekuensi dari fungsi ideologi, diharapkan dapat
mewujudkan sistem ekonomi Pancasila, khususnya bidang ketahanan pangan
sebagai salah satu pilar utama bagi kelanjutan pembangunan nasional.
5) Implementasi Nilai-nilai Pancasila sebagai Dasar Negara.

Berdasarkan rumusan yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, Pancasila


memiliki kedudukan sebagai dasar negara karena memuat azas-azas yang
dijadikan dasar bagi berdirinya negara Indonesia. Sebagai dasar filsafat
negara, rumusan Pancasila merupakan satu kesatuan rumusan yang sistematis,
yang sila-silanya tidak boleh bertentangan, melainkan harus saling mendukung
satu dengan yang lain. Pancasila harus dipahami secara menyeluruh sebagai
satu kesatuan, dan dalam pelaksanaannya tidak tidak boleh hanya menekankan
satu sila atau beberapa sila dengan mengabaikan sila lainnya.

Pancasila yang memiliki rumusan abstrak, umum, universal justru bertumpu


pada realitas yang dapat dipahami bersama oleh seluruh bangsa Indonesia,
yang tidak menimbulkan pengertian pro dan kontra. Dengan demikian
Pancasila dapat dijadikan sebagai azas persatuan, kesatuan dan kerjasama bagi
seluruh bangsa Indonesia.

6) Implementasi Nilai-nilai Pancasila sebagai Falsafah Pandangan


Hidup Bangsa.

Apabila dihayati dengn seksama, rumusan Pancasila yang digali oleh para
pendiri bangsa merupakan hasil proses pemikiran yang panjang untuk
menentukan jatidiri dan falsafah pandangan hidup bangsa Indonesia.
Menyikapi dinamika dan tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara yang
multi kompleks ini maka agar falsafah pandangan hidup bangsa dapat
terwujud, maka nilai-nilai Pancasila harus menjadi dasar dalam menentukan
perjalanan hidup dalam mencapai tujuan nasional. Nilai-nilai Pancasila perlu
dimaknai dan diimplementasikan secara nyata dalam upaya menyejahterakan
kehidupan masyarakat dan mewujudkan keadilan sosial.

Berdasarkan nilai-nilai Pancasila tersebut bangsa Indonesia akan memandang


persoalan-persoalan yang dihadapi dan menentukan arah serta mencari
solusinya. Dalam perspektif pembangunan saat ini dan kedepan, pemikiran
yang disarankan adalah mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah
pandangan hidup bangsa dengan kebijakan strategis bidang pangan untuk
membangun ketahanan pangan sebagai langkah yang tepat.

7) Akselerasi Sosialisasi Nilai-nilai Pancasila sebagai Ideologi


Nasional.

Ideologi Pancasila bukan ideologi yang bersifat totaliter dan bersifat memaksa,
seperti Marxisme. Ideologi Pancasila ini selayaknya disosialisasikan secara
sederhana, jelas, praktis dan terus menerus, baik dalam pemikiran, perkataan,
perilaku dan keteladanan, sehingga mampu menarik dan mengetuk hati setiap
rakyat Indonesia. Ideologi Pancasila tetap menghormati hak individu dan
martabat manusia. Pada perkembangannya kedepan, ideologi Pancasila tidak
melancarkan indoktrinasi, melainkan menggunakan cara persuasif dan dialog,
sehingga mampu berperan, membimbing semua warga negara secara bersama
dalam menyelenggarakan kehidupan berbangsa dan bernegara secara sadar,
iklas dan menaati serta mengamalkan kelima sila dari Pancasila. Ideologi
Pancasila memaklumi adanya perubahan nilai sebagai indikator adanya
dinamika masyarakat dalam mencapai tujuan nasional (Paulus Wahana, Loc.
Cit., 99).

b. Ketahanan Pangan.

1) Menumbuhkembangkan Sadar Ketahanan Pangan Masyarakat.

Di Indonesia, ketahanan pangan merupakan salah satu variabel strategis dalam


pembangunan ekonomi nasional karena pada tataran makro ketahanan pangan
terkait dengan ketahanan ekonomi dan stabilitas nasional. Paradigma
pemikiran ini sangat penting karena bangsa Indonesia menghadapi
permasalahan dalam mewujudkan ketahanan pangan yang tidak pernah dapat
diselesaikan sampai saat ini, yaitu permintaan pangan yang lebih besar
daripada pertumbuhan produksi pangan domestik. Permasalahan selanjutnya
adalah besarnya proporsi kelompok masyarakat yang hidup di bawah garis
kemiskinan.

Menyikapi kondisi riil dan rentannya tingkat ketahanan pangan masyarakat,


maka perlu peran aktif seluruh elemen masyarakat untuk
menumbuhkembangkan kesadaran dalam mewujudkan kemandirian pangan
guna ketersediaan pangan di tingkat nasional, daerah hingga rumah tangga
yang cukup, aman, bermutu dan bergizi seimbang. Upaya mewujudkan
ketahanan pangan merupakan tanggungjawab bersama antara pemerintah,
masyarakat dan swasta.

2) Mencegah Pemanfaatan Kekuasaan untuk Kepentingan Kelompok


dalam Masalah Pangan.

Ketersediaan pangan sangat penting bagi upaya mewujudkan ketahanan


pangan masyarakat. Atas dasar itu, petani sebagai ujung tombak
pengembangan pertanian perlu diberdayakan, ditingkatkan pengetahuan,
ketrampilan dan dukungan dana secara nyata dalam mendukung percepatan
produksi pertanian dan mengeliminir timbulnya kerawanan pangan. Dengan
pemberdayaan petani sehingga mampu swasembada pangan maka aksi-aksi
sepihak dengan memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan kelompok dapat
dicegah karena terwujudnya kemandirian petani dalam menyelenggarakan
ketahanan pangan.

3) Mengidentifikasi Dini Permasalahan dalam Ketahanan Pangan.

Dalam mewujudkan ketahanan pangan perlu dilakukan upaya untuk


memperhatikan SDM, kelembagaan dan budaya lokal, sehingga permasalahan
dapat diidentifikasi dan penyelenggaraan ketahanan pangan dapat dilakukan
dengan efektif dan efisien, yaitu : (a) memberikan informasi dan pelatihan
penyelenggaraan ketahanan pangan; (b) membantu kelancaran
penyelenggaraan ketahanan pangan; (c) meningkatkan motivasi masyarakat
dalam penyelenggaraan ketahanan pangan; dan (d) Meningkatkan kemandirian
rumah tangga dalam mewujudkan ketahanan pangan.

4) Membina Generasi Muda Semakin Sadar Ketahanan Pangan.

Ketahanan pangan memerlukan persiapan SDM yang akan terlibat, yang


mencakup petani langsung, unsur pemerintah, para pemilik tanah, tokoh
masyarakat dan generasi muda yang diharapkan menjadi andalan pelaku.
Khusus pembinaan generasi muda ini perlu mendapat perhatian karena latar
belakang studi, potensi fisik dan kecepatan menyerap informasi pada dasarnya
bisa cepat dilakukan. Untuk itu persiapan yang dilakukan meliputi tahap
persiapan di tingkat kelompok, proses pembelajaran, proses pendampingan,
dan lokakarya untuk mengawali upaya pemberdayaan kedepan (Mubiar
Purwasasmita, 2011 : 126).

5) Meningkatkan Kesadaran Masyarakat dalam Ketahanan Pangan.

Membangun kesadaran masyarakat dalam ketahanan pangan memerlukan


pemahaman ekologi yang baik, yang secara operasional perlu didukung oleh
infrastruktur alam dan buatan, sehingga penyediaannya dapat efektif dan
efisien. Mencermati pengalaman empiris selama ini, maka pemberdayaan
kearifan lokal merupakan alternatif yang menguntungkan dan aman guna
menjaga keanekaragaan hayati dan kelestarian lingkungan serta hasil produksi
yang kompetitif dengan biaya produksi yang rendah. Konsep pemberdayaan
ketahanan pangan yang cerdas merupakan alternatif yang tepat dan bisa
diterima oleh masyarakat petani.

3. Penutup.

Nilai-nilai Pancasila merupakan nilai-nilai dasar manusiawi yang digali, ditemukan dan
dirumuskan oleh para pendiri bangsa sebagai satu kesatuan yang sistematis dan ditetapkan
sebagai dasar negara Indonesia. Nilai-nilai dasar tersebut merupakan nilai-nilai moral yang
secara aktual menjadi pedoman hidup bagi bangsa Indonesia. Rumuan Pancasila yang
terdapat didalam Pembukaan UUD 1945 tampak abstrak dan bersifat umum, sehingga perlu
dijabarkan lebih lanjut agar dapat diwujudkan.

Sebagai nila-nilai dasar dan nilai-nilai moral yang diterima sebagai pedoman dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara, implementasi Pancasila sangat relevan dalam upaya
mewujudkan kesejahteraan dan keamanan melalui kepekaan dan kepedulian kesadaran
masyarakat dalam meningkatkan kemampuan komparatif pemberdayaan ketahanan pangan
nasional. Peningkatan kesadaran masyarakat dalam ketahanan pangan merupakan salah satu
variabel strategis dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas guna
mewujudkan stabilitas nasional.
[1] UU No. 4 Tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran, pasal 3
(Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah untuk membentuk manusia susila yang cakap dan
warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan
tanah air) dan pasal 4 (Pendidikan dan pengajaran berdasar atas asas-asas yang termaktub
dalam Pancasila Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan atas kebudayaan
kebangsaan Indonesia).

DAFTAR PUSTAKA

Attamimi, Hamid S, Pancasila sebagai Cita Hukum dalam Oetojo Usman dan
Alfian (Ed.), 1991, Pancasila sebagai Ideologi dalam Kehidupan Bermasyara-kat,
Berbangsa dan Bernegara, Jakarta : BP 7.

Besar, Abdulkadir, 2005, Pancasila Refleksi Filsafati, Transformasi Ideologik,


Niscayaan Metoda Berfikir, Jakarta : Pustaka Azhary.

Dipoyudo, Kirdi, 1990, Membangun Atas Dasar Pancasila, Jakarta : CSIS.

Djebarus, Vitalis , 1994, Pancasila Asal, Isi dan Makna, Denpasar : Penerbit
Keuskupan Denpasar.

Hutabarat, Budiman, 2009, Kebangkitan Pertanian Nasional: Meretas Jebakan


Globalisasi dan Liberalisasi Perdagangan, dalam Kumpulan Jurnal Ilmiah
Pengembangan Inovasi Pertanian 3 (1), Bogor, Pusat Analisa Sosial Ekonomi dan
Kebijakan Pertanian, 18-37.

Kristiadi, J., 2011, Politik Bermartabat, Meluruskan Reformasi Indonesia dalam


Jurnal Analisis CSIS Vol. 40, No. 4, Desember 2011, hlm.526-544.

Latif, Yudi, 2011, Negara Paripurna Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas


Pancasila, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Moedjanto, G., dkk., 1987, Pancasila, Buku Panduan Mahasiswa, Jakarta : Gramedia.

Purwasasmita, Mubiar dkk., 2012, Padi Sri Organik Indonesia, Jakarta : Peneba
Swadaya, Tilaar, H.A.R., 2007, Mengindonesia Etnisitas dan Identitas Bangsa
Indonesia, Jakarta : Rineka Cipta.

Wahana, Paulus, 2001, Filsafat Pancasila, Yogyakarta : Kanisius.

Sumber Hukum :

Undang-Undang RI No & Tahun 1996 tentang Pangan


Sumber Internet :

Id.wikipedia.org/wiki(31Maret2012);

winarno.staff.fkip.uns.ac.id/files/2009/10/implementasi (21 April 2012)

lppkb.wordpress.com/2011/03/16/pedoman-umum-implementasi-pancasila (21
April 2012)