Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada ALLAH SWT karena berkat rahmat taufiq dan hidayah
serta inayahnya kami dapat menyusun MAKALAH ini dengan baik. Shalawat beserta Salam
kami haturkan kepada junjungan kami nabi Agung MUHAMMAD SAW beserta keluarga,
sahabat, serta para pengikutnya sampai akhir zaman. Makalah ini saya susun karena adanya
sebuah tugas mata kuliah Manajemen Farmasi. Penulis mengakui makalah ini jauh dari
sempurna dan berharap agar makalah ini dapat bermanfaat nantinya, dan semoga ALLAH SWT
senantiasa melimpahkan rahmatnya pada kami semua Amin.

Palu, 22 September 2016

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
I.2 Tujuan
I.3 Rumusan Masalah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Sejarah singkat PT Sinde Budi Sentosa dan produk larutan penyegar cap badak
II.2 Pengaruh rebranding terhadap brand equity produk Larutan Penyegar Cap Badak
produksi PT Sinde Budi Sentosa
II.3 Pengaruh integrated marketing communication terhadap brand equity produk
Larutan Penyegar Cap Badak produksi PT Sinde Budi Sentosa
II.4 Pengaruh rebranding dan integrated marketing communication secara serentak
terhadap brand equity produk Larutan Penyegar Cap Badak produksi PT Sinde Budi
Sentosa.
BAB III PENUTUP
III.1 Kesimpulan
III.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 di dunia. Banyak
investor melirik Indonesia sebagai pasar yang cukup besar untuk menjual berbagai jenis
produk. Tidak terkecuali bagi industri obat tradisional. Produk obat tradisional atau yang lebih
dikenal dengan jamu secara turun temurun telah digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk
memelihara dan menjaga kesehatan tubuh.
Keberadaan obat tradisional atau yang dikenal dengan obat bahan alam sudah tidak aneh
bagi masyarakat Indonesia. Sejak jaman dahulu, nenek moyang kita sudah banyak
mengkonsumsi obat tradisional untuk memelihara dan menjaga kesehatan tubuh. Dengan
kesadaran back to nature, penggunaan obat tradisional semakin pesat. Ketersediaan bahan
baku untuk pembuatan obat tradisional di Indonesia cukup melimpah. Hasil riset Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 30.000 spesies
tanaman obat dari total 40.000 spesies yang ada di seluruh dunia. Hal ini mengindikasikan
bahwa dari segi ketersediaan bahan baku, industri obat tradisional tidak memiliki
ketergantungan impor.
Seiring dengan perkembangan teknologi, obat tradisional kini telah diproduksi dalam
berbagai bentuk sedian. Bentuk sediaan yang saat ini menjadi tren di masyarakat adalah
kategori cairan obat dalam seperti Larutan Penyegar.
Setiap industri obat tradisional berlomba-lomba untuk memproduksi obat tradisional dalam
bentuk minuman siap saji. Banyaknya jumlah populasi masyarakat Indonesia, menjadikan peluang
usaha yang besar bagi industry Farmasi dan Obat Tradisional.
Keanekaragaman merek produk obat tradisional yang tersedia di pasar menyebabkan
besarnya pengaruh yang diberikan merek terhadap keyakinan yang tumbuh di benak konsumen.
Merek adalah modal utama dalam berbisnis. Merek merupakan sebuah persepsi yang dihasilkan
dari pengalaman dan informasi mengenai suatu perusahaan atau lini produk. Sementara itu,
persepsi merupakan sebuah hasil kumpulan dari segala sesuatu yang konsumen lihat, dengar, baca,
atau alami atas suatu merek, yang menentukan penangkapan konsumen atas suatu citra merek
(brand image) (Duncan, 2005).
Saat ini, pasar telah dibanjiri dengan berbagai jenis minuman kesehatan yang diproduksi
secara masal, beberapa merek yang dikenal antara lain adalah Larutan Penyegar Cap Badak,
Lasegar, Adem Sari, Coolant, Produk herbadrink, Anget Sari, Segar Sari, Alang-Alang Sari, dan
lain sebagainya. Beragamnya merek produk yang beredar dipasaran memberi keleluasaan bagi
konsumen dalam memilih, namun demikian informasi tentang kualitas-kualitas produk yang ada
di pasaran sangat minim. Situasi pasar saat ini semakin kompetitif dengan persaingan yang
semakin meningkat pula antara para produsen. Dalam kondisi seperti ini, produsen harus
mempunyai keahlian untuk memelihara, melindungi, dan meningkatkan kekuatan mereknya.
Sebab pada saat ekuitas merek sudah terbentuk, maka merek akan menjadi aset yang sangat
berharga bagi perusahaan. Merek merupakan nilai utama pemasaran. Jika situasi persaingan pasar
meningkat, peran pemasaran akan semakin meningkat pula dan pada saat itu, peran merek akan
semakin penting. Dengan demikian, merek saat ini tidak hanya sekedar identitas suatu produk saja
dan pembeda dari produk pesaing, melainkan lebih dari itu, merek memiliki ikatan emosional
istimewa yang tercipta antara konsumen dengan produsen. Para pesaing bisa saja menawarkan
produk yang serupa, tapi mereka tidak mungkin menawarkan janji emosional yang sama.
Keller (2003) berpendapat bahwa sekalipun proses produksi dan desain produk dapat
dengan mudah ditiru oleh pesaing, namun kesan yang sudah melekat pada benak konsumen
melalui pengalaman dengan produk merek tertentu tidak mudah direproduksi. Hal ini dapat
terjadi karena merek menciptakan asosiasi dan makna yang unik bagi suatu produk. Butuh
usaha yang keras untuk membangun kembali kesadaran konsumen terhadap Larutan Penyegar
Cap Badak. PT Sinde Budi Sentosa harus mampu memanfaatkan berbagai saluran
pemasarannya dalam rangka mensosialisasikan perubahan merek yang dilakukan.
Beberapa perusahaan sampai saat ini masih ada yang beranggapan bahwa promosi
yang paling efektif hanya dapat dilakukan dengan beriklan di media massa saja, anggapan
tersebut menyebabkan fungsi promosi perusahaan umumnya hanya didominasi dengan
beriklan di media massa. Padahal iklan bukanlah satusatunya alat yang dapat digunakan untuk
melaksanakan kegiatan pemasaran. Bentuk-bentuk komunikasi pemasaran lain, seperti
promosi penjualan dan pemasaran langsung masih dianggap sebagai tambahan dan hanya
digunakan pada kasus-kasus tertentu saja. Sedangkan bagian public relations hanya digunakan
untuk mengelola kegiatan publisitas, mengelola corporate image dan juga mengatasi urusan
yang berkaitan dengan publiknya. Public relations belum dianggap sebagai bagian integral
dari kegiatan pemasaran perusahaan. Hal itu mengindikasikan kegagalan pemahaman
perusahaan terhadap pentingnya mengkoordinasikan segala kegiatan pemasaran dan promosi
agar dapat menjalankan fungsi komunikasinya dengan efektif dan dapat memberikan citra
yang konsisten kepada khalayak.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka permasalahan
yang dibahas pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah ada pengaruh rebranding terhadap brand equity produk Larutan Penyegar Cap
Badak produksi PT Sinde Budi Sentosa?
2. Apakah ada pengaruh integrated marketing communication terhadap brand equity produk
Larutan Penyegar Cap Badak produksi PT Sinde Budi Sentosa?
3. Apakah rebranding dan integrated marketing communication berpengaruh secara serentak
terhadap brand equity produk Larutan Penyegar Cap Badak produksi PT Sinde Budi
Sentosa?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh rebranding terhadap brand equity produk Larutan Penyegar
Cap Badak produksi PT Sinde Budi Sentosa.
2. Untuk mengetahui pengaruh integrated marketing communication terhadap brand equity
produk Larutan Penyegar Cap Badak produksi PT Sinde Budi Sentosa.
3. Untuk mengetahui pengaruh rebranding dan integrated marketing communication secara
serentak terhadap brand equity produk Larutan Penyegar Cap Badak produksi PT Sinde
Budi Sentosa.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Sejarah singkat PT Sinde Budi Sentosa dan produk larutan penyegar cap badak

PT. Sinde Budi Sentosa merupakan perusahaan farmasi yang bergerak dalam produksi obat
tradisional dan obat modern. Produk utama yang dihasilkan adalah Larutan Penyegar yang
termasuk dalam kategori cairan obat dalam. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1978 di daerah
Bekasi dan mendapatkan hak untuk pemakaian merek dan logo Cap Kaki Tiga dari Wen Ken
Drugs Singapore Private Limited.
Pada tahun 1981, PT Sinde Budi Sentosa melakukan inovasi sendiri untuk memproduksi
Larutan Penyegar dengan menggunakan merek Cap Kaki Tiga. Dapat dikatakan Larutan Penyegar
Cap Kaki Tiga merupakan pioner minuman panas dalam di Indonesia. Produk ini pertama kali
diproduksi dalam kemasan botol beling. Pada tahun 1989, perusahaan melakukan inovasi pada
produk dengan merubah kemasan botol beling menjadi botol PET sehingga lebih mudah di bawa
kemana saja.
Larutan Penyegar mulai booming dengan iklan TV pertamanya. Dalam iklan sederhana yang
ditampilkan dalam durasi 28 detik itu digambarkan bahwa Larutan Penyegar Cap Kaki Tig
berkhasiat dalam menyembuhkan sariawan, bibir pecah-pecah, panas dalam, dan susah buang air
besar. Iklan tersebut berhasil menarik perhatian masyarakat Indonesia setelah 11 tahun PT Sinde
Budi Sentosa memproduksi Larutan penyegar Cap Kaki Tiga. Meskipun telah sukses dengan
produk Larutan Penyegar, PT Sinde Budi Sentosa tetap terus melakukan inovasi dalam produk
maupun pemasaran. Pada tahun 1994, PT Sinde Budi Sentosa melakukan inovasi produk Larutan
Penyegar dalam kemasan kaleng, yang selanjutnya diluncurkan dengan berbagai rasa buah.
Pada tahun 1996 PT Sinde Budi Sentosa mulai bekerja sama dengan Desy Ratnasari yang
saat itu masih berusia 23 tahun sebagai brand embassador. Iklan Larutan Penyegar yang muncul
di televisi memberi dampak yang positif bagi penjualan. Oleh karena itu, PT Sinde Budi terus
gencar melakukan iklan televise dan bekerja sama dengan artis cilik Joshua Suherman pada tahun
1997 yang saat itu masih berusia 5 tahun. Sejak saat itu produk Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga
menjadi semakin terkenal dan menjadi produk unggulan PT Sinde Budi Sentosa.
Berbagai inovasi telah dilakukan oleh PT. Sinde Budi Sentosa untuk mendapatkan
konsumen baru dan menciptakan loyalitas pelanggan. Namun permasalahan hukum yang
berkepanjangan dengan pemilik merek Kaki Tiga menyebabkan PT Sinde Budi Sentosa harus
melepaskan merek Kaki Tiga yang selama ini telah dibesarkan olehnya.
Sejak tahun 2011, Wen Ken Drug memberikan hak penggunaan merek Kaki Tiga pada
PT Kinocare Era Kosmetindo. Peralihan pemegang merek menjadi peluang besar bagi PT
Kinocare untuk membuat produk sejenis namun dengan formula yang berbeda dengan formula
Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga saat hak merek masih dipegang oleh PT Sinde Budi Sentosa.
Sejak penarikan merek oleh Wen Ken Drug, PT Sinde Budi Sentosa tetap memproduksi Larutan
Penyegar dan melakukan perubahan merek dari Cap Kaki Tigamenjadi merek Cap Badak
dengan formula dan kualitas produk yang sama seperti sebelumnya. Keputusan untuk melakukan
perubahan merek merupakan keputusan yang cukup berat bagi PT Sinde Budi Sentosa. Kegiatan
rebranding yang dilakukan dapat mengancam brand positioning produknya karena dapat
mempengaruhi persepsi kualitas produk yang telah terbentuk dalam benak konsumen.

Gambar 1.2 Perubahan yang terjadi pada kemasan Larutan Penyegar produksi PT Sinde
Budi Sentosa (PT Sinde Budi Sentosa, 2011)

Gambar 1.3 Perbedaan Kemasan Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga saat pertama kali
diproduksi Dibandingkan dengan Produk Larutan Penyegar Cap Badak (Kompasiana, 2013)
II.2 Pengaruh rebranding terhadap brand equity produk Larutan Penyegar Cap Badak
produksi PT Sinde Budi Sentosa

Berkembang pendekatan dalam komunikasi pemasaran yang mulai


diimplementasikan oleh banyak perusahaan di Indonesia. Pendekatan tersebut ialah
Integrated Marketing Communication (IMC) atau komunikasi pemasaran terpadu, yang
mengkoordinasikan berbagai elemen promosi dan kegiatan pemasaran lainnya, seperti
periklanan (advertising), pemasaran langsung (direct marketing), promosi penjualan (sales
promotion), penjualan personal (personal selling), dan hubungan masyarakat (public
relations). Penggabungan seluruh kegiatan pemasaran tersebut merupakan langkah yang
dapat ditempuh perusahaan untuk mewujudkan komunikasi pemasaran efektif untuk
berbagai Pelaksanaan rebranding yang dilakukan oleh PT Sinde Budi Sentosa akan
menyebabkan terjadinya pergeseran brand equity Larutan Penyegar yang diproduksi.
Rebranding dikatakan berhasil apabila terjadi peningkatan pada brand equity produk
Larutan Penyegar Cap Badak.

II.3 Pengaruh integrated marketing communication terhadap brand equity produk Larutan
Penyegar Cap Badak produksi PT Sinde Budi Sentosa

Secara parsial variabel-variabel dari Integrated Marketing Communication (IMC)


yang terdiri dari advertising, sales promotion, personal selling, publicity and public relation
dan direct marketing berpengaruh signifikan terhadap Ekuitas Merek Produk Larutan
Penyegar Cap Badak. Brand equity merupakan hal yang sangat penting bagi perusahaan
untuk memperoleh keunggulan bersaing. Brand equity adalah seperangkat asset merek dan
hutang yang dikaitkan dengan sebuah merek, nama dan simbolnya, ditambahkan pada atau
dikurangi dari nilai-nilai yang diberikan dalam sebuah produk atau jasa bagi sebuah
perusahaan dan/atau bagi para konsumen perusahaan tersebut
Butuh usaha yang cukup keras bagi PT Sinde Budi Sentosa untuk menngkatkan
brand equity Larutan Penyegar Cap Badak. Perusahaan menggunakan seluruh saluran
pemasaran yang ada untuk membentuk kesadaran merek pada merek yang baru. PT Sinde
Budi Sentosa menggunakan pendekatan Integrated Marketing Communication (IMC) yang
mengkoordinasikan berbagai kegiatan pemasaran, yaitu melalui kegiatan periklanan
(advertising), promosi penjualan (sales promotion), penjualan personal (personal selling),
publisitas dan hubungan masyarakat (publicity and public relations), dan kegiatan
pemasaran langsung (direct marketing).

II.4 Pengaruh rebranding dan integrated marketing communication secara serentak


terhadap brand equity produk Larutan Penyegar Cap Badak produksi PT Sinde Budi
Sentosa.
Ada pengaruh integrated marketing communication (IMC) yang terdiri dari
advertising, sales promotion, personal selling, publicity and public relation dan direct
marketing terhadap brand equity produk Larutan Penyegar Cap Badak produksi PT Sinde
Budi Sentosa.
BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai
berikut :
1. Pada penelitian ini diketahui bahwa terdapat pengaruh parsial yang signifikan dari
variable rebranding terhadap brand equity produk Larutan Penyegar Cap Badak
produksi PT Sinde Budi Sentosa.
2. Secara parsial variabel-variabel dari Integrated Marketing Communication (IMC) yang
terdiri dari advertising, sales promotion, personal selling, publicity and public relation
dan direct marketing berpengaruh signifikan terhadap Ekuitas Merek Produk Larutan
Penyegar Cap Badak.
3. Ada pengaruh integrated marketing communication (IMC) yang terdiri dari advertising,
sales promotion, personal selling, publicity and public relation dan direct marketing
terhadap brand equity produk Larutan Penyegar Cap Badak produksi PT Sinde Budi
Sentosa.

III.2 Saran
Bagi pembuatan berikutnya dapat dilakukan ekstensifikasi variabel penelitian,
dengan teori yang lebih mendalam terutama untuk variabel-variabel yang secara teoritis
diduga berpengaruh terhadap brand equity.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&ved=0ahU
KEwjI96DCmaPPAhVFG5QKHWl3Bi0QFggrMAI&url=http%3A%2F%2Fetd.re
pository.ugm.ac.id%2Fdownloadfile%2F77461%2Fpotongan%2Fs2-2014-277024-
chapter1.pdf&usg=AFQjCNGCq5HUe46IUqDc3mnvfOjJ4WQMbA