Anda di halaman 1dari 15

RANGKUMAN BUKU PENGANTAR BIMBINGAN DAN KONSELING PENDIDIKAN

BAB I

KONSEP BIMBINGAN DAN ONSELING

A. PENGERTIAN BIMBINGAN DAN KONSELING

1. Pengertian Bimbingan

Dipandang dari segi etimologi, istilah bimbingan merupakan terjemahan dari bahasa
inggris yaitu, guidance, artinya : bantuan atau tuntunan. Namun, kita harus ingat bahwa tidak
semua antuan atau tuntunan itu berarti bimbingan (guidance).

Adapun menurut Jear Book of Education: definisi bimbingan adalah suatu proses
membantu individu melalui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan
kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan social.

Jadi, bimbingan tersebut pada hakikatnya adalah pemberian bantuan untuk memecahkan
masalah yang dihadapi konseli. Pemberian bantuan itu harus dilakukan secara berkesinambungan
dan disusun secara sistematis agar konseli dapat memahami dan menerima dirinya dan memiliki
kemampuan untuk merealisasikan dirinya, sesuai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik
lingkungan keluarga maupun masyarakat (M. Solihin, 2004: 14-15).

2. Pengertian Konseling

Seperti halnya dengan pengertian bimbingan (guidance), konseling juga merupakan


terjemahan dari bahasa inggris, yaitu counselling yang artinya penyuluhan.

Pada prinsipnya, konseling dilaksanakan secara individual, yaitu antar konseli dan
konselor. Pemecahan masalah dalam proses konseling dilakukan dengan wawancara atau diskusi
secara face to face.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa konseling adalah bantuan yang diberikan
kepada individu dalam memecahkan masalah dalam kehidupannya dengan cara wawancara atau
dengan cara-cara yang sesuai dengan keadaan individu tersebut untuk mencapai kesejahteraan
hidupnya (M. solihin, 2004: 15-16).
B. Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling

Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah,


bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum atau ketentuan dan atas,
namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang
selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-
tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, social, dan moral-spiritual.

Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor dengan


para personal Sekolah/Madrasah lainnya, orang tua konseli, dan pihak-pihak terkait lainnya.
Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan
dalam upaya membantu para konseli agar dapat mengembangkan atau mewujudkan potensi
dirinya secara enuh, baik menyangkut aspek pribadi, social, belajar, maupun karir.

Atas dasar itu , maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah


diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi konseli, yang meliputi aspek
pribadi, social, belajar, dan karir atau terkait dengan pengembangan pribadi konseli sebagai
makhluk yang berdimensi biopsikososiapiritual (biologis, psikis, social, dan spiritual).

C. Hubungan antara Bimbingan , Konseling, dan Pendidikan

Konseling lebih identik dengan psikoterapi, yaitu usaha untuk menggarap menolong
individu yang mengalami kesulitan dan gangguan psikis yang serius. Sedangkan bimbingan
dalam pandangan ini dianggap sebagai identic dengan pendidikan.

Pandangan lain berpendapat bahwa keduanya merupakan kegiatan integral, tak dapat
dipisahkan dan selalu dirangkaikan. Konseling merupakan salah stau metode dari bimbingan.
Dengan demikian, pengertian bimbingan lebih luas dari pada konseling. Oleh karena itu,
konseling merupakan bimbingan, tetapi tidak semua bentuk bimbingan merupakan konseling.

Dengan memperhatikan pendapat diatas, jelaslah bahwa konseling merupakan salah satu
teknik pelayanan dalam bimbingan secara keseluruhan, yait dengan memberikan bantuan
individual (face to face relationship). Bimbingan dan konseling mempunyai hubungan yang erat.
Perbedaannya terletak di dalam tingkatannya (Pupuh Fathurrahman,2004:18-19).
D. Tujuan Bimbingan dan Konseling

Secara umum bimbingan dan konseling dalam keseluruhan bimbingan di lembaga


pendidikan adalah membantu seluruh peserta didik melalui pelayanan (yang tertujukepada
masing-masing) pribadi, agar mencapai tahap perkembangan optimal baik secara akademis,
psikologis, maupun social. Secara akademis pelayanan ini bertujuan agar setiap peserta didik
mencapai penyesuaian akademis secara memadai dan mencapai prestasi belajar secara optimal.

Secara khusus layanan bimbingan dan konseling bertujuan :

Memiliki pemahaman diri

Mengembangkan sifat positif

Membuat pilihan kegiatan secara sehat

Mampu menghargai orang lain

Memiliki rasa tanggung jawab

Mengembangkan keterampilan hubungan antara pribadi

Dapat menyelesaikan masalah

Dapat membuat keputusan secara baik.

E. Fungsi Bimbingan dan Konseling

1. Fungsi Pencegahan

Fungsi ini bertujuan agar peserta didik terhindar dari berbagai masalah yang dapat
menghambat perkembangannya.

2. Fungsi Penyaluran

Yang dimaksud dari fungsi ini adalah untuk setiap peserta didik hendaknya mendapatkan
kesempatan untuk mengembnagkan dirinya, sesuai dengan keadaannya masing-masing.
3. Fungsi Penyesuaian

Yang dimaksud dari fungsi ini adalah pelayanan bimbingan dan konseling berfungsi
membantu terciptanya penyesuaian antara peserta didik dengan lingkungannya.

4. Fungsi Perbaikan

Meskipun programpencegahan, penyaluran dan penyesuaian telah dilaksanakan, namun


peserta didik yang bersangkutan masih mungkin mengalami masalah-masalah tertentu. Disinilah
fungsi perbaikan dalam pelayanan berfungsi. Bantuan yang diberikan akan bergantung pada
masalah yang dihadapi, baik dalam jenisnya, sifatnya maupun bentuknya.

5. Fungsi Pengembangan

Yang dimaksud fungsi ini adalah bimbingan dan konseling harus berfungsi membantu
peserta didik agar dapat mencapai perkembangan kepribadian secara optimal.

F. Ruang Lingkup Pelayanan Bimbingan dan Konseling

Pelayanan bimbingan dan konseling memiliki peranan penting baik bagi individu yang
berada dalam lingkungan sekolah, rumah tangga (keluarga), maupun masyarakat pada umumnya.
Uraian

G. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling

Bimbingan diperuntukkan bagi semua individu

Bimbingan bersifat individualisasi

Bimbingan menekankan hal yang positif

Bimbingan merupakan usaha bersama

Pengambilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan


Bimbingan berlangsung dalam berbagai setting (adegan) kehidupan.

H. Asas-asas Bimbingan dan Konseling

1. Asas Kerahasiaan

Segala sesuatu yang dibicarakan konseli kepada konselor tidak boleh disampaikan kepada
orang lain.

2. Asas Kesukarelaan

Proses bimbingan dan konseling harus berlangsung atas dasar kesukarelaan, baik dari
pihak terbimbing atau konseli, maupun dari pihak konselor.

3. Asas Keterbukaan

Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling sangat diperlukan suasana keterbukaan,


baik dari konseli dan konselor untuk kepentingan pemecahan masalah.

4. Asas Kekinian

Masalah individu yang ditanggulangi ialah masalah-masalah yang sedang dirasakan


bukan masalah yang mungkin akan dialami dimasa yang akan datang.

5. Asas Kemandirian

Pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan menjadikan terbimbing dapat berdiri


sendiri, tidak tergantung pada orang lain atau tergantung pada konselor.

6. Asas Kegiatan

Usaha bimbingan konseling tidak akan memberikan buah yang berarti bila konseli tidak
melakukan sendiri kegiatan dalam mencapai tujuan bimbingan dan konseling.

7. Asas Kedinamisan
Usaha pelayanan bimbingan dan konseling menghendaki terjadinya perubahan pada diri
konseli yaitu perubahan tingkah laku kea rah yang lebih baik.

8. Asas Keterpaduan

Pelayanan bibingan dan konseling berusaha memadukan sebagai aspek kepribadian


konseli.

9. Asas Kenormatifan

Usaha bimbingan dan konseling tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang
berlaku.

10. Asas Keahlian

Usaha bimbingan dan konselingperlu dilakukan asas keahlian secara teratur dan
sistematik dengan menggunakan prosedur, teknik, dan alat yang memadai.

11. Asas Alih Tangan

Dalam pemberian layanan bimbingan dan konseling, asas alih tangan jika konselor sudah
mengarahkan segenap kemampuannya untuk membantu individu, namun individu yang
bersangkutan belum dapat terbantu sebagaimana yang diharapkan, maka konselor dapat
mengirim individu tersebut kepada tugas atau badan yang lebih ahli.

12. Asas Tutwuri Handayani

Asas ini menunjuk pada suasana umum yang hendaknya tercipta dalam rangka hubungan
keseluruhan antara konselor dan konseli.

I. Kedudukan Bimbingan dan Konseling Dalam Pendidikan

Proses pendidikan dapat bersifat formal dan informal. Pendidikan formal lazimnya
diberikan di sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan lainnya yang bersifat formal, dan
pendidikan informal yaitu yang diberikan dalam lingkungan dan lingkungan lain yang sifatnya
informal.
BAB II

LANDASAN-LANDASAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Landasan Historis

Secara umum, konsep bimbingan dan konseling telah lama dikenal manusia
melalui sejarah. Sejarah tentang developing ones potential (pengembangan potensi
individu) dapat ditelusuri dari masyarakat Yunani kuno. Mereka menekankan tentang
upaya-upaya untuk mengembangkan dan memperkuat individu melalui pendidikan,
sehingga mereka dapat mengisi peranan nya di masyarakat. Mereka meyakini bahwa
dalam diri individu terdapat kekuatan yang dapat distimulasi dan dibimbing kea rah
tujuan-tujuan yang berguna, bermanfaat, atau menguntungkan baik bagi dirinya sendiri
maupun masyarakat.

Landasan Filosofis

Filsafat sebagai suatu usaha manusia untuk memperoleh pandangan atau


konsepsi tentang segala yang ada, dan apa makna hidup manusia di alam semesta ini.

Pembahsan tentang makna filsafat diatas kaitannya dengan layanan bimbingan


dan konseling yaitu bahwa Pelayanan bimbingan dan konseling meliputi kegiatan atau
tindakan yang semuanya diharapkan merupakan tindakan yang bijaksana. Untuk itu
diperlukan pemikiran filsafat tentang berbagai hal yang tersangkut paut dalam pelayanan
bimbingan dan konseling.

Pemikiran dan pemahaman filosofis menjadi alat yang bermanfaat bagi pelayanan
bimbingan dan konseling pada umumnya, dan bagi konselor pada khususnya, yaitu
membantu konselor dalam memahami situasi konseling dan dalam mengambil keputusan
yang tepat.

Landasan Religius

Bagi layanan bimbingan dan konseling perlu ditekankan tiga hal pokok, yaitu :

Keyakinan bahwa manusia dan seluruh alam semesta adalah makhluk Tuhan.
Sikap yang mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia berjalan kea rah
dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama, dan

Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal


suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta
kemasyarakatan yang sesuai dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu
perkembangan dan pemecahan masalah individu/

Landasan Psikologis

Di lingkungan pendidikan yang menjadi sasaran layanan bimbingan dan


konseling adalah peserta didik. Peserta didik merupakan pribadi-pribadi yang sedang
berada dalam proses berkembang kearah pematangan.

Agar perkembangan pribadi peserta didik itu dapat berlangsung dengan baik, dan
terhindar dari munculnya masalah-masalah psikologis, maka mereka perlu diberikan
bantuan yang sifatnya pribadi. Bantuan yang dapat memfasilitasi perkembangan peserta
didik melalui pendekatan psikologis adalah layanan bimbingan dan konseling.

Landasan Sosial Budaya

Kebutuhan akan bimbingan timbul karena adanya masalah-masalah yang dihadapi


oleh individu yang terlibat dalam kehidupan masyarakat. Semakin rumit struktur
masyarakat dan keaadaannya, semakin banyak dan rumit pulalah masalah yang dihadapi
oleh individu yang terdapat dalam masyarakat itu.

Jadi kebutuhan akan bimbingan itu timbul karena terdapat faktor yang menambah
rumitnya keadaan masyarakat di mana individu itu hidup.

Landasan Ilmiah dan Teknologis

Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang


memiliki dasar-dasar keilmuan, baik yang menyangkut teori-teorinya, pelanksanaan
kegiatannya, maupun pengembangan-pengembangan itu secara berkelanjutan.

Landasan Pedagogis
Pendidikan merupakan salah satu lembaga sosial yang universal dan berfungsi
sebagai sarana reproduksi sosial. Dengan reproduksi sosial ini nilai-nilai budaya dan norma-
norma sosial yang melandasi kehidupan masyarakat itu diwujudkan dan dibina
ketangguhannya. Karena itulah pendidikan dilakukan masyarakat untuk mendidik
anggotanya. Kegiatan pendidikan ini meluas dilakukan disekolah dengan menggunakan alat
bantu yang didukung dengan teknologi modern.

BAB IV

KONSELI DAN KONSELOR DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING

A. Konseli dalam Bimbingan dan Konseling

Para konselor perlu memahami konsep psikologi sebagai landasan dalam konseling, dan
mengkaji berbagai teori. Daya psikologis pada dasarnya merupakan satu daya atau kekuatan
yang menggerakan individu untuk berbuat dalam menjalani tuntunan keseluruhan hidupnya.
Dimensi pemenuhan kebutuhan merujuk pada kekuatan psikis yang diperlukan untuk memenuhi
seluruh kebutuhan hidup agar dapat mencapai kualitas kehidupan secara bermakna dan
memberikan kebahagiaan. Makin banyak kekuatan psikis dalam dimensi ini, makin besar
kemungkinan individu mampu memenuhi kebutuhan hidup agar lebih bermakna.

Tugas konselor adalah memperkuat ketiga dimensi daya psikis sehingga saling terkait
untuk kemudian memperkuat derajat fungsi daya psikis secara keseluruhan.

1. Pemenuhan Kebutuhan

Makin banyak dicapai kebutuhan psikologis, orang akan makin kuat secara psikologis
seperti halnya orang yang cukup gizi akan makin kuat fisiknya. Orang yang mendapatkan
pemenuhan kebutuhan akan menikmati fungsi-fungsi psikologis secara normal, terbebas dari
stres dan gangguan-gangguan lainnya. sebaliknya orang yang pemenuhan kebutuhannya dalam
derajat tidak memadai, cenderung akan banyak mengalami gangguan psikologis dan berada
dalam rentangan fungsi psikologis yang tergolong distres atau abnormal.

Beberapa macam kebutuhan yang terkait dengan konseling yaitu sebagai berikut:
a. Memberi dan menerima kasih sayang

b. Kebebasan

c. Memiliki kesenangan

d. Menerima stimulasi

e. Perasaan mencapai prestasi

f. Memiliki harapan

g. Memiliki ketenangan

h. Memiliki tujuan hidup secara nyata

2. Kompetensi intra pribadi

Kekuatan psikologis sangat dittentukan oleh seberapa jauh orang mengenal dan
berhubungan dengan diri pribadi. Kompetensi intra pribadi adalah kecakapan yang dipelajari
yang dapat membantu orang berhubungan secara baik dengan dirinya. Tujuan kompetensi
intrapribadi adalah untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pemenuhan kebutuhan pribadi.

Hubungan dengan orang lain mempunyai kesamaan dan keterkaitan, apabila orang
mampu berhubungan dengan dirinya sendiri secara efektif, maka efektif pula dalam berhubungan
dengan orang lain. sebaliknya kegagalan dalam berhubungan dengan diri sendiri, dapat
menimbulkan kegagalan berhubungan dengan orang lain.

3. Kompetensi antar pribadi

Kompetensi antar pribadi merupakan kecakapan yang dipelajari, yang memungkinkan


orang berhubungan dengan orang lain dalam cara-cara saling memenuhi. Kompetensi antar
pribadi melengkapi kompetensi intrapribadi karena keduanya dibutuhkan untuk pertumbuhan
psikologis. Apabila orang dapat berhubungan dengan dirinya dan orang lain secara baik, maka ia
akan mengalami pemenuhan kebutuhan secara fisik.

Kompetensi intrapersonal bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan dirinya


dengan dunia luar. Makin banyak jembatan maka makin kuat dirinya dan banyak kebutuhan yang
harus dipenuhi juga semakin banyak sumber-sumber psikologis yang akan dimiliki untuk berbagi
dengan oranglain.

Berikut ini dikemukakan beberapa kompetensi yang berkaitan dengan kurangnya


kompetensi antar pribadi.

a. Kepekaan terhadap diri sendiri dan orang lain

b. Ketegasan diri

c. Menjadi nyaman dengan diri sendiri dan orang lain

d. Menjadi diri yang bebas

e. Harapan yang realistik terhadap diri sendiri dan orang lain

B. Konselor dalam Bimbingan dan Konseling

Konselor dan penulis sependapat bahwa kepribadian seseorang konselor merupakan


faktor yang paling penting dalam konseling. Kepribadian konselor merupakan titik tunpu yang
berfungsi sebagai penyeimbang antara pengetahuan mengenai dinamika perilaku dan
keterampilan. ketika titik tumpu ini kuat, pengetahuan dan keterampilan bekerja secara seimbang
dengan kepribadian yang berpengaruh pada perubahan perilaku positif dalam konseling.

Kepribadian konselor merupakan kunci yang berpengaruh dalam hubungan konseling,


akan tetapi kepribadian konselor tidak dapat mengganti kekurangan pengetahuan tentang
perilaku dan keterampilan. pembentukan kualitas kepribadian tidak sama dengan proses
perolehan pengetahuan tentang perilaku dan keterampilan. Kualitas kepribadian berkembang dan
perpaduan yang terjadi terus menerus antar genetika, konstitusi, pengaruh lingkungan, dan cara-
cara unik orang dalam memadukan semua itu sehingga menjadi pribadi yang khas

1. Kualitas konselor

Konselor mengetahui secara baik mengenai dirinya sendiri, apa yang dilakukan, mengapa
melakukan itu, masalah yang dihadapi, pentingnya pengetahuan konselor tentang dirinya sendiri
dengan alasan karena seorang konselor yang mengetahui dirinya sendiri dengan baik cenderung
mengetahui persepsi diri konsell yang sedang dibantu. Dengan demikian semakin besar
kemampuan yang dimiliki semakin besar pula kemampuan untuk memahami konseli.

Kompetensi sangat penting bagi seorang konselor karena konseli datang ke konseling
untuk belajar dan mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan untuk mencapai hidup yang
lebih efektif dan bahagia. Semakin banyak kompetensi yang dimiliki konselor maka semakin
besar kemungkinan konselor dapat membantu konseli dengan baik secraa langsung maupun tidak
langsung dalam memperoleh kompetensi hidup.

Seorang konselor harus memiliki kesehatan psikologis karena kesehatan psikologis akan
mendasari pemahaman perilaku dan keterampilan, dan akan memberikan dampak yang positif
bagi konseli. konselor yang memiliki kekurangan kesehatan psikologisnya dapat menimbulkan
kecemasan dalam diri konseli akibatnya konselor akan menjadi sumber masalah bagi konseli

2. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh konselor pemula.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh konselor pemula agar dapat berkembang
menjadi konselor yang memiliki kompetensi antara lain :

a. Kesehatan psikologis

b. Tanggung Jawab konselor

c. Kepedulian dan penerimaan

BAB V

BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM PENDIDIKAN

A. Teknik-Teknik Bimbingan dan Konseling

Pada dasarnya, bimbingan dan konseling terdri atas dua bentuk, yaitu:

1. Bimbingan konseling individual

Bimbingan ini dilakukan secara perorangan. Teknik bimbingan individual lebih


menjamin komunikasi dua arah antara pembimbing dan orang yang dibimbing.
2. Bimbingan konseling kelompok

Bimbingan dan konseling ini dilakukan secara bersama-sama dalam suatu kelompok.
Bimbingan dan konseling kelompok ini lebih menekankan pada komitmen kebersamaan dari
masing-masing individu. Bimbingan dan konseling dapat dilakukan dengan berbagai cara
sehingga data yang benar tentang orang yang dibimbing berikut persoalan-persoalan yang
dihadapinya dapat ditemukan oleh pembimbing dan konseling (konselor). Teknik bimbingan dan
konselingnya antara lain :

a. Wawancara

b. Observasi

c. Angket atau daftar isian

3. Kesiapan untuk konseling

Kesiapan merupakan suatu kondisi yang harus dipenuhi sebelum konseli membuat
hubungan konseling. Kesiapan konseli untuk konseling ini ditentukan oleh berbagai faktor
diantaranya :

a. Motivasi untuk memperoleh bantuan

b. Pengetahuan konseli tentang konseling

c. Kecakapan intelektual

Beberapa hambatan yang sering dijumpai dalam mencapai kesiapan konseling adalah :

a. Penolakan secara kultural

b. Situasi fisik dalam konseling

c. Pengalaman pertama dan konseling yang tidak menyenangkan

4. Metode penyiapan konseli

Untuk mencapai kesiapan konseli dalam konseling, dapat ditempuh metoda-metoda


sebagai berikut :
a.Melalui pembicaraan dengan berbagai pihak atau lembaga mengenai topik-topik masalah
dan pelayanan konseling yang diberikan

b. Menghubungi sumber-sumber referal misalnya organisasi sekolah, guru dan sebagainya

c. Melalui proses pendidikan itu sendiri

5. Teknik-teknik hubungan

Hubungan antara konselor dengan konseli merupakan inti proses konseling dan
psikoterapi. Oleh karena itu para konselor hendaknya menguasai berbagai teknik dalam
menciptakan hubungan diantaranya :

a. Teknik Rapport

Teknik Rapport mempunyai makna sebagai suatu kondisi saling memahami dan
mengenal tujuan bersama. Tujuan utama teknik rapport adalah untuk menjembatani hubungan
antara konselor dengan konseli, sikap penerimaan dan minat yang mendalam terhadap konseli
dan masalahnya. Dalam teknik rapport ini akan tercipta suatu hubungan yang ditandai dengan
saling mempercayai.

b. Refleksi perasaan

Refleksi perasaan merupakan suatu usaha konselor untuk menyatakan dalam bentuk kata-
kata yang enak didengar dan sikap yang baik. Refleksi ini merupakan teknik penengah yang
bermanfaat untuk digunakan setelah hubungan permulaan dibuat dan sebelum pemberian
informasi dan tahap interpretasi dimulai.

c. Teknik-teknik penerimaan.

Teknik penerimaan merupakan cara bagaimana konselor melakukan tindakan agar


konseli merasa diterima dalam proses konseling. Dalam teknik penerimaan ada tiga unsur, yaitu :
(1) Ekspresi muka (2) Tekanan suara (3) Jarak dan perawakan.

d. Teknik Menstrukturkan
Teknik Menstrukturkan merupakan proses penetapan batasan oleh konselor tentang
hakekat, batas-batas dan tujuan proses konseling pada umumnya, dan hubungan tertentu pada
khususnya. Menata struktur akan memberikan kerangka kerja atau orientasi terapi pada konseli.

B. Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar

C. Bimbingan dan Konseling di Sekolah Lanjutan

D. Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi