Anda di halaman 1dari 5

70

Lampiran 3. Prosedur Penelitian

1) Pengambilan Sampel Darah


a. Arteri-Vena Fistula pada Vena Femoralis
1. Mencuci tangan
2. Memberitahu pasien bahwa akan dilakukan penyuntikan pada daerah
femoralis
3. Mempersiapkan plester
4. Mengatur posisi pasien terlentang dengan posisi kaki dilebarkan ke
arah luar, bebaskan pakaian di daerah inguinal yang akan dilakukan
pungsi
5. Dekatkan alat yang akan dipakai
6. Menentukan dan melakukan palpasi pulse femoral
7. Menggunakan sarung tangan
8. Melakukan desinfeksi dengan kassa betadin kemudian kassa alkohol
9. Melakukan anestesi lokal dengan menyuntikkan lidocain 2%
menggunakan spuit 2 cc pada jarak 1 cm arah medial dan 2 cm ke arah
inferior pulse femoral
10. Sambil menunggu reaksi dari obat tersebut, dapat dilakukan a-v fistula
untuk daerah vena
11. Melakukan fungsi inlet pada daerah inguinal dengan menggunakan a-v
fistula yang dihubungkan dengan spuit 10 cc berisi NaCl, dengan cara
jari tengah tangan kiri meraba pulse femoralis kemudian tangan kanan
melakukan penusukan dengan jarak 1 cm ke arah medial dan jarum
ditusukkan dengan arah 45 derajat ke arah dalam di bawah pulse
12. Spuit yang berisi NaCl diaspirasi untuk melihat apakah jarum sudah
tepat mengenai sasaran. Apabila penusukan tepat maka akan tampak
darah berwarna merah agak gelap dan tekanan darah ke dalam spuit
tidak terlalu cepat, hal ini menunjukkan darah vena. Namun apabila
darah berwarna merah muda dan ada tekanan kuat pada fistula maka
ini menunjukkan jarum mengenai arteri, maka jarum dilepas kembali
untuk menghindari adanya perdarahan/ hematom
13. Fiksasi dengan menggunakan plester
71

14. Fistula siap untuk dihubungkan dengan mesin untuk memulai


hemodialisis

15. Sampel darah diambil melalui karet yang bewarna merah yaitu darah
yang keluar dari tubuh pasien tanpa melalui mesin hemodialisis
sebanyak 3 cc dalam tabung EDTA dan 3 cc dalam tabung plain
16. Membereskan alat yang sudah dipakai, melepas sarung tangan dan
mencuci tangan
b. Fistula pada A-V shunt
1. Mencuci tangan
2. Memberitahu pasien bahwa akan dilakukan pemasangan fistula
3. Menggunakan sarung tangan
4. Menentukan daerah penusukan
5. Desinfeksi daerah pemasangan dengan menggunakan kassa betadin
dengan cara memutar keluar kemudian diulang dengan menggunakan
kassa alkohol 70%
6. Melakukan anestesi lokal dengan menyuntikkan lidocain 2% secara
subkutan 0,2-0,5 cc pada jaringan atas tempat penusukan
7. Melakukan kanulasi dengan memasang sayap jarum A-V fistula (AVF)
dengan posisi jarum menghadap ke atas. Tusukkan jarum pada dinding
pembuluh darah fistula dengan sudut 20-35 derajat kira-kira 3 mm,
akan terlihat darah keluar
8. Putar jarum 180 derajat sehingga posisi jarum menghadap ke bawah
untuk mencegah perembesan pada dinding belakang pembuluh darah
karena tusukan jarum
9. Memasukkan jarum AVF perlahan-lahan sehingga masuk seluruhnya
dengan cara datar menembus permukaan kulit
10. Pemasangan jarum lebih dahulu untuk vena pasien
11. Kemudian dilakukan pada arteri dengan arah jarum berlawanan dengan
jarak penusukan kira-kira 7 cm untuk kedua ujung jarum
17. Kedua sayap fistula difiksasi, dihubungkan dengan arteri vena blood
line (AVBL) dan dihubungkan dengan mesin untuk memulai
hemodialisis
72

18. Sampel darah diambil melalui karet yang bewarna merah yaitu darah
yang keluar dari tubuh pasien tanpa melalui mesin hemodialisis
sebanyak 3 cc dalam tabung EDTA dan 3 cc dalam tabung plain
19. Membereskan alat-alat, melepas sarung tangan dan mencuci tangan

2) Indeks Produksi Retikulosit


a. Cara Ukur :
1. Cek reagen, kertas cetakan, alat-alat, sampel dan cairan limbah
2. Hidupkan tombol power, dengan urutan: Printers IPU Main Unit
3. Masuk (Log in) ke Information Processing Unit (IPU)
1) Hidupkan IPU dengan menekan tombol power ON. Secara
otomatis Windows 2000 akan dimulai dan masuk.
2) Masukkan nama pemakai dan password, kemudian klik OK
4. Alat akan melakukan pengecekan secara otomatis selama 10 menit
5. Analisis sampel
Cara Sampler (Sampler Mode)
1. Persiapan sampel
a. Pengumpulan sampel
Banyaknya sampel yang digunakan adalah 3 mL.
Sampel darah dikumpulkan ke dalam antikoagulan tabung
EDTA (K2-EDTA atau K3-EDTA) dan diproses dalam waktu 4
jam pengumpulan. Bila sampel tidak bisa diproses dalam waktu
4 jam, harus dibekukan pada suhu 28 C
b. Menambahkan label barcode
2. Memasukkan nomor ID sampel, nomor rak dan posisi tabung
sampel (bila label tidak digunakan)
3. Analisis Sampel
1) Cek status indikator LED pada alat dan sampler dalam
kondisi READY
2) Klik Sampler Analysis Button pada control menu
3) Pilih discrete test
73

4) Klik OK
5) Letakkan rak pada sampler loader
RPI = Ret [%] HCT (pasien)

Waktu pematangan retikulosit 0,45 (standar Hct)


b. Alat Ukur : Penghitung retikulosit yang digunakan di laboratorium
patologi klinik RSUD Prof. Margono Soekarjo yaitu flow cytometry
Sysmex XN-100

3) Besi Serum
a. Cara Ukur :
Bahan yang disediakan : Iron flex reagen cartridge, No DF85
1. Persiapan sampel
Serum, plasma heparin sodium, plasma heparin litium dikumpulkan
dengan prosedur normal. Serum dan plasma harus dipisahkan dari sel
dalam waktu 2 jam setelah pengambilan darah vena.
Sampel serum yang digunakan adalah 3 mL darah dengan tabung
plain
2. Persiapkan reagen 1 200 L, reagen 2 70 L
3. Campur sampel dan reagen, setelah itu dilakukan pemisahan
4. Pengukuran dilakukan dengan suhu 37C 0,1C, panjang
gelombang 600 dan 700 nm
5. Selanjutnya hasil diolah dan dicetak dengan alat Siemens Dimension
system
b. Alat Ukur : Siemens Dimension EXL 200

4) Total Iron Binding Capacity (TIBC)


a. Cara Ukur :
1. Sampel yang dipakai adalah 3 mL darah dengan tabung Plain
2. Darah disentrifasi pada kecepatan 3000 rpm selama 10 menit
3. Darah disentrifugasi untuk mendapatkan serum. Serum yang telah
dipisahkan diambil untuk dilakukan pemeriksaan
74

4. Selanjutnya persiapkan reagen 1 sebanyak 36 L, reagen 2 25 L,


reagen 3 25 L, dan reagen 4 (ferene cair 0,56 mM) sebanyak 75
L. Reagen 1, 2 dan 3 mengandung asam ascorbis 19 mM.
Reagen didapatkan dari proses hidrasi, dilusi dan pencampuran
dengan alat otomatis Siemens
5. Campur sampel dan reagen
6. Pengukuran dilakukan dengan suhu 37 C 0,1 C, panjang
gelombang 600 dan 700 nm
7. Selanjutnya hasil diolah dan dicetak dengan alat Siemens
Dimension system
(Siemens Dimension clinical chemistry system, 2010)
b. Alat Ukur : Siemens Dimension EXL 200