Anda di halaman 1dari 15

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN

KURIKULUM

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Pengembangan Kurikulum Matematika Sekolah
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Hardi Suyitno, M. Pd.

Disusun oleh:
Febriana Wahyuningtyas (0401516056)

Vita Nur Millaty (0401516057)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
TAHUN 2017
BAB 1 PENDAHULUAN

Pada dasarnya pengembangan kurikulum adalah mengarahkan kurikulum


sekarang ke tujuan pendidikan yang diharapkan karena adanya berbagai pengaruh
yang sifatnya positif yang datang dari luar atau dari dalam sendiri, dengan harapan
agar peserta didik dapat menghadapi masa depannya dengan baik. Pengembangan
kurikulum tidak dapat lepas dari berbagai aspek yang mempengaruhinya,
seperti cara berpikir, sistem nilai (nilai moral, keagamaan, politik, budaya, dan
sosial), proses pengembangan, kebutuhan peserta didik, kebutuhan
masyarakat maupun arah program pendidikan. Aspek-aspek tersebut
akan menjadi bahan yang perlu dipertimbangkan dalam suatu pengembangan
kurikulum. Model pengembangan kurikulum merupakan suatu alternatif
prosedur dalam rangka mendesain (designing), menerapkan (implementation),
dan mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum. Oleh karena itu, model
pengembangan kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses sistem
perencanaan pembelajaran yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan
standar keberhasilan pendidikan.
Berbagai macam model kurikulum telah dikembangkan oleh para ahli
kurikulum, pendidikan dan psikologi. Sudut pandang ahli yang satu terkadang
berbeda dengan sudut pandang ahli yang lain. Ada yang memandang dari sudut
isinya dan ada juga yang memandang dari sisi pengelolaanya
(sentralisitik/desentralistik). Tidak sedikit pula ahli yang mengembangkan model
kurikulum dari sisi proses penggunaan kurikulum tersebut. Namun demikian, jika
diteliti lebih lanjut, para ahli tersebut mempunyai satu tujuan/arah yaitu
mengoptimalkan kurikulum. Untuk mencapai pengembangan kurikulum yang
efektif, dalam hal ini lebih terstruktur maka dibutuhkan langkah-langkah
pengembangan kurikulum. Oleh sebab itu, makalah ini akan membahas tentang
langkah-langkah pengembangan kurikulum.
BAB 2 PEMBAHASAN

A. Langkah-langkah Pengembangan Kurikulum


Secara umum langkah-langkah pengembangan kurikulum terdiri atas analisis
dan diagnosis kebutuhan, perumusan tujuan, pemilihan dan pengorganisasian
materi, pemilihan dan pengorganisasian pengalaman belajar, serta pengembangan
alat evaluasi.
1. Analisis dan Diagnosis Kebutuhan
Langkah pertama dalam pengembangan kurikulum adalah menganalisis dan
mendiagnosis kebutuhan. Analisis kebutuhan dapat dilakukan dengan
mempelajari tiga hal, yaitu kebutuhan siswa, tuntutan masyarakat/dunia kerja,
dan harapan-harapan dari pemerintah (kebijakan pendidikan). Kebutuhan siswa
dapat dianalisis dari aspek-aspek perkembangan psikologis siswa, tuntutan
masyarakat, dan dunia kerja dapat dianalisis dari berbagai kemajuan yang ada di
masyarakat dan prediksi-prediksi kemajuan masyarakat pada masa yang akan
datang, sedangkan harapan pemerintah dapat dianalisis dari kebijakan-kebijakan,
khususnya kebijakan-kebijakan bidang pendidikan yang dikeluarkan, baik oleh
pemerintah pusat maupun daerah. Hasil analisis dari ketiga aspek tersebut,
kemudian didiagnosis untuk disusun menjadi serangkaian kebutuhan sebagai
bahan masukan bagi kegiatan pengembangan tujuan.
Pendekatan yang dapat dilakukan untuk menganalisis kebutuhan ada tiga,
yaitu survei kebutuhan, studi kompetensi, dan analisis tugas. Survei kebutuhan
merupakan cara yang relatif sederhana dalam menganalisis kebutuhan. Seorang
pengembang kurikulum dapat melakukan wawancara dengan sejumlah orang,
tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, dan para ahli terkait tentang apa yang
dibutuhkan oleh siswa, masyarakat, dan pemerintah berkaitan dengan kurikulum
sebagai suatu program pendidikan. Studi kompetensi dilakukan dengan analisis
terhadap kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan oleh lulusan suatu jenis dan
jenjang program pendidikan. Pendekatan analisis tuga dilakukan dengan cara
menganalisis setiap jenis tugas yang harus diselesaikan. Tugas tersebut bisa
berkaitan dengan aspek kognitif, afektif, dan atau psikomotorik.
Hasil akhir kegiatan analisis dan diagnosis kebutuhan ini adalah deskripsi
kebutuhan sebagai bahan yang akan dijadikan masukan bagi langkah selanjutnya
dalam pengembangan kurikulum yaitu perumusan tujuan.
2. Perumusan Tujuan
Setelah kebutuhan ditetapkan, langkah selanjutnya adalah merumuskan
tujuan. Tujuan-tujuan dalam kurikulum berhierarki, mulai dari tujuan yang paling
umum (kompleks) sampai pada tujuan yang lebih khusus. Hirearki tujuan tersebut
meliputi: tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler, serta
tujuan instruksional umum dan khusus.
Tujuan Dokumen Lembaga Penanggung
Jawab
Tujuan UUD 1945 MPR, DPR, Presiden Presiden
Nasional
Tujuan GBHN dan Depdiknas (Formal, Mendiknas
pendidikan UUSPN Nonformal, Informal)
nasional
Tujuan Kurikulum/ TK,SD,SMP,SMA/SMK Kepala Sekolah,
Institusional GBPP dan PT Direktur, Rektor
Tujuan Kurikulum/ Bidang studi Guru
Kurikuler GBPP
Tujuan Rencana Pembelajaran Guru
Instruksional Persiapan
Mengajar

Benyamin S. Bloom dalam Taxonomy of Educational Objectives membagi


tujuan menjadi tiga ranah/domain, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Domain
kognistif berkenaan dengan penguasaan kemampuan-kemampuan intelektual atau
berpikir, domain afektif berkenaan dengan penguasaan dan pengembangan
perasaan, sikap, minat, dan nilai-nilai, sedangkan domain psikomotor berkenaan
dengan penguasaan dan pengembangan keterampilan-keterampilan motorik.
Dalam Davies (1976), ketiga domain tujuan tersebut dirinci seperti pada tabel
berikut.
Domain Kognitif Domain Afektif Domain Psikomotor
(Bloom, 1956) (Krathwohl, 1964) (Harrow, 1972)
Pengetahuan Penerimaan Gerak reflex
Pemahaman Penanggapan Gerak dasar fundamental
Aplikasi Penilaian Keterampilan perseptual
Sintesis Pengorganisasiaan Keterampilan fisik
Analisis Karakteristik nilai Gerak keterampilan
Evaluasi Komunikasi non deskriptif

3. Pemilihan dan Pengorganisasian Materi


Dalam Handbook for Evaluating and Selecting Curriculum Materials, M.D.
Gall (1981) mengemukakan Sembilan tahap dalam pengembangan bahan
kurikulum, yaitu identifikasi kebutuhan, merumuskan misi kurikulum,
menentukan anggaran biaya, membentuk tim, mendapatkan susunan bahan,
menganalisis bahan, menilai bahan, membuat keputusan adopsi, menyebarkan,
mempergunakan, dan memonitor penggunaan bahan.
Secara spesifik, yang dimaksud dengan materi kurikulum adalah segala
sesuatu yang diberikan kepada siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Isi dari
kegiatan pembelajaran tersebut adalah isi dari kurikulum. Tugas guru adalah
mengembangkan bahan pelajaran tersebut berdasarkan tujuan instruksional yang
telah disusun dan dirumuskan sebelumnya.
Penyusunan bahan pelajaran disebut scope. Kriteria yang dapat
dipertimbangkan dalam pemilihan materi kurikulum antara lain:
a. Materi kurikulum harus dipilih berdasarkan tujuan yang hendak dicapai,
materi kurikulum dipilih karena dianggap berharga sebagai warisan
budaya positf dari generasi masa lalu.
b. Materi kurikulum dipilih karena berguna bagi penguasaan suatu disiplin
ilmu.
c. Materi kurikulum dipilih karena dianggap bermanfaat bagi kehidupan
umat manusia, untuk bekal hidup di masa kini, dan masa yang akan
datang.
d. Materi kurikulum dipilih karena sesuai dengan kebutuhan dan minat anak
didik (siswa) dan kebutuhan masyarakat.
Sequence menyangkut urutan susunan bahan kurikulum. Untuk penyusunan
sequence, perlu dipertimbangkan hal berikut:
a. Taraf kesulitan materi pelajaran/isi kurikulum
b. Apersepsi atau pengalaman masa lalu
c. Kematangan dan perkembangan siswa
d. Minat dan kebutuhan siswa
4. Pemilihan dan Pengorganisasian Pengalaman Belajar
Setelah materi kurikulum dipilih dan diorganisasikan, langkah selanjutnya
adalah memilih dan mengorganisasikan pengalaman belajar. Cara pemilihan dan
pengorganisasian pengalaman belajar dapat dilakukan dengan menggunakan
berbagai pendekatan, strategi, metode, serta teknik yang disesuaikan dengan
tujuan dan sifat materi yang akan diberikan.
Pengalaman belajar siswa dapat bersumber dari pengalaman visual,
pengalaman suara, perabaan, dan penciuman. Pengalaman belajar dipilih harus
mencakup berbagai kegiatan mental dan fisik yang menarik minat siswa, sesuai
dengan tingkat perkembangannya, dan merangsang siswa belajar aktif dan kreatif.
5. Pengembangan Alat Evaluasi
Pengembangan alat evaluasi yang dimaksud adalah untuk menelaah kembali
apakah kegiatan yang telah dilakukan itu sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan. Mc. Neil (1977) mengungkapkan ada dua hal yang perlu mendapat
jawaban dari penilaian kurikulum yaitu, apakah kegiatan-kegiatan yang
dikembangkan dan dioragnisasikan itu memungkinkan tercapainya tujuan
pendidikan yang dicita-citakan dan apakah kurikulum yang telah dikembangkan
dapat diperbaiki dan bagaimana cara memperbaikinya.
Ada dua orang beranggapan bahwa penilaian sama artinya dengan
pengukuran, tes, atau pemberian nilai. Ketiganya memang merupakan bagian dari
proses penilaian. Penilai pada dasarnya merupakan suatu proses pertimbangan
terhadap suatu hal. Scriven (dalam Nurgiyantoro, 1988) mengemukakan bahwa
penilaian itu terdiri atas tiga komponen, yaitu pengumpulan informasi,
pembuatan pertimbangan, dan pembuatan keputusan. Evaluasi kurikulum dapat
dilakukan terhadap komponen-komponen kurikulum itu sendiri, evaluasi
terhadap implementasi kurikulum, dan evaluasi terhadap hasil yang dicapai.
B. Model-Model pengembangan kurikulum
Model pengembangan kurikulum adalah model yang digunakan untuk
mengembangkan suatu kurikulum, dimana pengembangan kurikulum dibutuhkan
untuk memperbaiki atau menyempurnakan kurikulum yang dibuat untuk
dikembangkan sendiri baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah atau
sekolah. Menurut Roberts S. Zain dalam bukunya: Curriculum Principles and
Foundation (Dakir, 2004: 95-99), berbagai model dalam pengembangan
kurikulum secara garis besar diutarakan sebagai berikut:
1. The Administrative (Line-Staff) Model/ Model Administrasi
Model pengembangan kurikulum ini paling awal dan sangat umum dikenal
model Top Down (dari atas Ke bawah) atau Line Staff (garis komando).
Maksudnya yaitu inisiatif pengembangan kurikulum berasal dari pejabat tinggi
(Kemdiknas). Pengembangannya dilaksanakan sebagai berikut:
(1) Atasan membentuk tim yang terdiri atas para pejabat teras yang
berwenang(pengawas pendidikan, Kepsek, dan pengajar inti).
(2) Panitia pengarah ini bertugas merumuskan rencana umum, prinsip-prinsip,
landasan filosofis, dan tujuan umum pendidikan.
(3) Tim bertugas untuk merumuskan tujuan kurikulum yang spesifik, menyusun
materi, kegiatan pembelajaran, sistem penilaian, dan sebagainya.
(4) Dibentuk beberapa kelompok kerja yang anggotanya terdiri atas para spesialis
kurikulum dan staf pengajar.
(5) Hasil kerja direvisi oleh tim (panitia pengarah) atas dasar pengalaman atau
hasil try out.
(6) Setelah try out yang dilakukan oleh beberapa Kepsek, dan telah direvisi
sebelumnya, baru kurikulum tersebut diimplementasikan.
2. The Grass-Roots Model/ Model Grass-Roots
Inisiatif pengembangan kurikulum model ini berada di tangan guru-guru
sebagai pelaksana kurikulum disekolah, baik yang bersumber dari satu sekolah
maupun dari beberapa sekolah sekaligus. Model ini didasarkan pada dua
pandangan pokok, yaitu: (1) implementasi kurikulum akan lebih berhasil apabila
guru-guru sebagai pelaksana sudah sejak semula terlibat secara langsung dalam
pengembangan kurikulum, (2) pengembangan kurikulum bukan hanya melibatkan
personel yang frofesional (guru) saja, tetapi juga siswa, orang tua dan anggota
masyarakat.
Langkah-langkah pelaksanaannya sebagai berikut:
a. Inisiatif pengembangan datang dari bawah (para pengajar)
b. Tim pengajar dari beberapa sekolah ditambah narasumber lain dari orang
tua siswa atau masyarakat luas yang relevan.
c. Pihak atasan memberikan bimbingan dan dorongan
d. Untuk pemantapan konsep pengembangan yang telah dirintis diadakan loka
karya agar diperoleh input yang diperlukan.
3. The Demonstration Model/ Model Demonstrasi
Model ini dikembangkan untuk memperkenalkan suatu inovasi kurikulum
dalam skala kecil. Dalam pelaksanaannya, model ini menuntut sejumlah guru
dalam satu sekolah untuk mengorganissasikan dirinya dalam memperbarui
kurikulum. Langkah-langkah pelaksanannya sebagai berikut:
(1) Staf pengajar pada suatu sekolah menemukan suatu ide pengembangan dan
ternyata hasilnya dinilai baik.
(2) Kemudian hasilnya disebarluaskan di sekolah sekitar.
4. Beauchamps System Model/ Model Beauchamp
Menurut model Beauchamp dalam H. Dakir (2004) ada lima langkah dalam
pengembangan kurikulum, yaitu:
(1) Menetapkan arena atau lingkup wilayah yang akan dicakup oleh kurikulum
tersebut, apakah suatu sekolah, kecamatan, kabupaten, propinsi, ataupun
seluruh daerah.
Pentahapan arena ini ditentukan oleh wewenang yang dimiliki oleh
pengambil kebijaksanaan dalam pengembangan kurikulum, serta oleh tujuan
pengembangan kurikulum. Walaupun daerah yang menjadi wewenang kepala
kanwil pendidikan dan kebudayaan mencakup suatu wilayah propinsi tetapi
arena pengembangan kurikulum hanya mencakup satu daerah kabupaten saja
sebagai pilot proyek.
(2) Menetapkan personalia yaitu menetapkan siapa siapa saja yang turut serta
terlibat dalam pengembangan kurikulum.
Ada empat kategori orang yang turut berpartisipasi dalam pengembangan
kurikulum, yaitu:
a. Para ahli pendidikan/kurikulum yang ada pada pusat pengembangan
kurikulum dan para ahli bidang ilmu dari luar.
b. Para ahli pendidikan dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru terpilih.
c. Para profesional dalam sistem pendidikan.
d. Profesional lain dan tokoh-tokoh masyarakat.
(3) Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum
Langkah ini berkenaan dengan prosedur yang harus ditempuh dalam
merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman
belajar serta kegiatan evaluasi dan dalam menentukan keseluruhan desain
kurikulum. Beucamp membagi keseluruhan kegiatan ini dalam lima langkah,
yaitu:
a. Membentuk tim pengembang kurikulum.
b. Mengadakan penilaian atau penelitian terhadap kurikulum yang ada yang
sedang digunakan.
c. Studi penjajakan tentang kemungkinan penyusunan kurikulum baru.
d. Merumuskan kriteria-kriteria bagi penentuan kurikulum baru.
e. Penulisan dan penyusunan kurikulum baru.
(4) Implementasi kurikulum.
Langkah ini merupakan langkah menerapkan atau melaksanakan
kurikulum yang bukan sessuatu yang sederhana sebab membutuhkan
kesiapan yang meyeluruh baik kesiapan guru-guru, siswa, fasilitas, bahan
maupun biaya di samping kesiapan managerial dari pimpinan sekolah atau
administrator setempat.
(5) Mengevaluasi kurikulum.
Dalam langkah ini mencakup empat hal, yaitu:
a. Evaluasi tentang pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru.
b. Evaluasi desain kurikulum.
c. Evaluasi belajar siswa.
d. Evaluasi dari keseluruhan sistem kurikulum data yang diperoleh dari hasil
evaluasi ini digunakan bagi penyempurnaan sistem dan desain kurikulum
serta prinsip-prinsip pelaksanaannya.
5. Tabas Inverted Model/ Model Terbalik
Dikatakan terbalik karena model ini merupakan cara yang lazim ditempuh
secara deduktif sehingga model ini sifatnya lebih deduktif. Langkah
pengembangan kurikulum model Taba adalah sebagai berikut.
(1) Mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru-guru.
Di dalam unit eksperimen ini diadakan studi yang saksama tentang hubungan
antara teori dengan praktik. Perencanaan didasarkan atas teori yang kuat, dan
pelaksanaan eksperimen di dalam kelas menghasilkan data-data yang untuk
menguji landasan teori yang digunakan. Ada delapan langkah dalam kegiatan unit
eksperimen ini:
a. Mendiagnosis kebutuhan,
b. Merumuskan tujuan-tujuan khusus,
c. Memilih isi,
d. Mengorganisasi isi,
e. Memilih pengalaman belajar,
f. Mengorganisasi pengalaman belajar,
g. Mengevaluasi,
h. Melihat skuens dan keseimbangan.
(2) Menguji unit eksperimen.
Meskipun unit eksperimen ini telah diuji dalam pelaksanaan di kelas
eksperimen, tetapi masih harus diuji di kelas-kelas atau tempat lain untuk
mengetahui validitas dan kepraktisannya, serta menghimpun data bagi
penyempurnaan. Inti dari langkah kedua ini adalah menguji cobakan kurikulum
yang sudah dikembangkan untuk mengetahui kesahihan dan kelayakan dalam
proses belajar mengajar, sehingga menuntut para pengembang untuk menganalisis
dan merivisi hasil uji coba serta kemudian mensosialisasikannya.
(3) Mengadakan revisi dan konsolidasi.
Dari langkah pengujian diperoleh beberapa data, data tersebut digunakan
untuk mengadakan perbaikan dan penyempurnaan. Selain perbaikan dan
penyempurnaan diadakan juga kegiatan konsulidasi, yaitu penarikan kesimpulan
tentang hal-hal yang lebih bersifat umum yang berlaku dalam lingkungan yang
lebih luas. Hal itu dilakukan, sebab meskipun suatu unit eksperimen telah cukup
valid dan praktis pada
suatu sekolah belum tetntu demikian juga pada sekolah yang lainnya. Untuk
menguji keberlakuannya pada daerah yang lebih luas perlu adanya kegiatan
konsolidasi.
(4) Pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum.
Apabila dalam kegiatan penyempurnaan dan konsolidasi telah diperoleh
sifatnya yang lebih menyeluruh atau berlaku lebih luas, hal itu masih harus dikaji
oleh para ahli kurikulum dan para professional kurikulum lainnya. Kegiatan ini
dilakukan untuk
mengetahui konsep-konsep dasar atau landasan-landasan teori yang
dipakai sudah masuk dan dipakai.
(5) Implementasi dan diseminasi
Implementasi dan diseminasi yaitu menerapkan kurikulum baru ini pada
daerah atau sekolah-sekolah yang lebih luas. Di dalam langkah ini masalah dan
kesulitan-kesulitan pelaksanaan tetapi dihadapi, baik berkenaan dengan kesiapan
guruguru,
fasilitas, alat dan bahan juga biaya.
6. Rogers Interpersonal Relatons Model/ Model Rogers
Model ini berasal dari seorang psikolog Carl Rogers. Dia berasumsi bahwa
Kurikulum diperlukan dalam rangka mengembangkan individu yang terbuka,
luwes, dan adaptif terhadap situasi perubahan. Kurikulum demikian hanya dapat
disusun dan diterapkan oleh pendidik yang terbuka, luwes, dan berorientasi pada
proses. Ada empat langkah pengembangan kurikulum model Rogers, yaitu:
(1) Pemilihan target dari sistem pendidikan.
Di dalam penentuan target ini satu-satunya kriteria yang menjadi pegangan
adalah adanya kesediaan dari pejabat pendidikan untuk turut serta dalam kegiatan
kelompok yang intensif. Selama satu minggu para pejabat pendidikan/
administrator melakukan kegiatan kelompok dalam suasana yang rileks, tidak
formal.
(2) Partisipasi guru dalam pengalaman guru dan pengalaman kelompok intensif
Sama seperti yang dilakukan para pejabat pendidikan, guru juga turut serta
dalam kegiatan kelompok. Keikutsertaan guru dalam kelompok tersebut
sebaiknya bersifat sukarela, lama kegiatan kalau bisa satu minggu lebih baik,
tetapi dapat juga kurang dari satu minggu.
(3) Pengembangan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu kelas atau unit
pelajaran
Langkah ketiga ini dalam rangka pengembangan pengalaman kelompok yang
intensif untuk satu kelas atau satu unit pelajaran. Selama lima hari penuh siswa
ikut serta dalam kegiatan kelompok, dengan fasilitator para guru atau
administrator atau fasilitator dari luar.
(4) Partisipasi orang tua dalam kegiatan kelompok
Dalam langkah keempat ini partisipasi orang tua dalam kegiatan kelompok.
Kegiatan ini dapat dikoordinasi oleh komite madrasah di masing-masing sekolah.
Kegiatan ini bertujuan untuk memperkaya orang-orang dalam dengan
hubungannya dengan sesama orang tua, dengan anak, dan dengan guru. Rogers
juga menyarankan, kalau mungkin ada pengalaman kegiatan kelompok yang
bersifat campuran. Kegiatan merupakan kulminasi dari semua kegiatan kelompok
di atas.
7. The Systematic Action-Research Model/ Model Pemecahan Masalah
Ada 3 (tiga) faktor utama yang dijadikan bahan pertimbangan dalam model
ini adalah adanya hubungan antarmanusia, organisasi sekolah dan masyarakat,
serta otoritas ilmu.
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
(1) Dirasakan adanya problem proses belajar mengajar di sekolah yang perlu
diteliti.
(2) Mencari sebab-sebab terjadinya problem dan sekaligus dicari pemecahannya.
(3) Kemudian menentukan keputusan apa yang perlu diambil sehubungan dengan
masalah yang timbul tersebut.
(4) Melaksankan keputusan yang telah diambil.
8. Model Ralph Tyler
Tyler lebih bersifat bagaimana merancang kurikulum sesuai dengan tujuan
dan misi suatu institusi pendidikan.
Langkah - Langkah Pengembangan Kurikulum menurut Tyler dalam Herry
W. (2014) yaitu:
(1) Menentukan tujuan
Tahap awal dalam penyusunan kurikulum adalah merumuskan tujuan, karena
tujuan merupakan arah atau sasaran pendidikan;
(2) Menentukan Pengalaman Belajar
Pengalaman belajar adalah aktivitas siswa dalam berinteraksi dengan
lingkungan dan aktivitas dalam proses pembelajaran. Ada beberapa prinsip
dalam menentukan pengalaman belajar siswa: a) Pengalam siswa harus sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai, b) Setiap pengalaman belajar harus
memuaskan siswa, c) setiap rancangan pengalaman siswa belajar sebaiknya
melibatkan siswa, dan d) Pengalaman belajar dapat mencapi tujuan yang
berbeda;
(3) Pengorganisasian Pengalaman Belajar
Ada dua jenis pengorganisasian pengalaman belajar yaitu:
a) pengorganisasian secara vertikal, adalah menghubungkan pengalaman
belajar dalam satu kajian yang sama dalam tingkat yang berbeda.
b) pengorganisasian secara horizontal; adalah menghubungkan pengalaman
belajar dalam bidang geografi dan sejarah dalam tingkat yang sama;
(4) Penilaian Tujuan Belajar sebagai Komponen Utama.
BAB 3 PENUTUP

A. Simpulan
1. Langkah-langkah pengembangan kurikulum secara umum:
a. Analisis dan Diagnosis Kebutuhan
b. Perumusan Tujuan
c. Pemilihan dan Pengorganisasian Materi
d. Pemilihan dan Pengorganisasian Pengalaman Belajar
e. Pengembangan Alat Evaluasi
2. Pada saat ini banyak para ahli yang mengemukakan tentang model-model
pengembangan kurikulum, tetapi setiap model pengembangan tersebut memiliki
karakteristik yang berbeda-beda, juga memiliki kelebihan dan kelemahan masing-
masing, dan masing-masing model arahan pengembangannya berbeda-beda ada
yang menitikberatkan pada pengambil kebijaksanaan, pada perumusan tujuan,
perumusan isi pelajaran, pelaksanaan kurikulum itu sendiri dan evaluasi
kurikulum. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum sebaiknya perlu
disesuaikan dengan sistem pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang
dianut dan mempertimbangkan model pengembangan kurikulum yang sesuai
dengan yang diharapkan.
B. Saran
1. Sebagai tenaga profesional guru dituntut untuk memiliki sejumlah pengetahuan
yang berhubungan dengan kurikulum karena kurikulum merupakan nadi
penggerak dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar. Hal ini
dapat dilakukan melalui pelatihan, penelitian atau memperkaya diri dengan
melalui bahan bacaan, internet dan sebagainya.
2. Makalah ini sangat terbatas dalam menyajikan model-model pengembangan
kurikulum dan masih banyak lagi model-model pengembangan kurikulum yang
belum dijelaskan dalam makalah ini, oleh karena itu perlu dicari tahu lagi model-
model pengembangan kurikulum lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

Dakir, H. 2004. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Rineka


Cipta.
Hernawan, Asep Herry, dkk. 2006. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran.
Jakarta: Universitas Terbuka.
Nasution, S. 2005. Asas-Asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2004. Pengembangan Kurikulum: Teori dan
Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.