Anda di halaman 1dari 135

BAB II

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI :


HALUSINASI
A. Definisi Halusinasi
1. Pengertian
Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan (stimulus)
misalnya penderita mendengar suara-suara, bisikan di telinganya padahal tidak
ada sumber dari suara bisikan itu (Hawari, 2001).
Halusinasi adalah persepsi sensorik yang keliru dan melibatkan panca indera
(Isaacs, 2002).
Persepsi merupakan tanggapan indera terhadap rangsangan yang datang dari luar,
dimana rangsangan tersebut dapat berupa rangsangan penglihatan, penciuman,
pendengaran, pengecapan dan perabaan. Interpretasi (tafsir) terhadap rangsangan
yang datang dari luar itu dapat mengalami gangguan sehingga terjadilah salah
tafsir (missinterpretation). Salah tafsir tersebut terjadi antara lain karena adanya
keadaan afek yang luar biasa, seperti marah, takut, excited (tercengang), sedih dan
nafsu yang memuncak sehingga terjadi gangguan atau perubahan persepsi
(Triwahono, 2004).
Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya
rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan dimana
terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik (Stuart & Sundenn, 1998).
Halusinasi adalah persepsi tanpa adanya rangsangan apapun pada panca indera
seorang pasien yang terjadi dalam keadaan sadar/terbangun. (Maramis, hal 119)
2. Tanda dan Gejala Halusinasi
Menurut Hamid (2000), perilaku klien yang terkait dengan halusinasi adalah
sebagai berikut:
Bicara sendiri.
Senyum sendiri.
Ketawa sendiri.
Menggerakkan bibir tanpa suara.
Pergerakan mata yang cepat
Respon verbal yang lambat
Menarik diri dari orang lain.
Berusaha untuk menghindari orang lain.
Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata.
Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah.
Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik.
Berkonsentrasi dengan pengalaman sensori.
Sulit berhubungan dengan orang lain.
Ekspresi muka tegang.
Mudah tersinggung, jengkel dan marah.
Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat.
Tampak tremor dan berkeringat.
Perilaku panik.
Agitasi dan kataton.
Curiga dan bermusuhan.
Bertindak merusak diri, orang lain dan lingkungan.
Ketakutan.
Tidak dapat mengurus diri.
Biasa terdapat disorientasi waktu, tempat dan orang.

3. Tahapan/Tingkatan Halusinasi
Menurut Stuart dan Laraia (2001), terdiri dari 4 fase :
Fase I :
Klien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas, kesepian, rasa bersalah dan
takut serta mencoba untuk berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk
meredakan ansietas. Di sini klien tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai,
menggerakkan lidah tanpa suara, pergerakan mata yang cepat, diam dan asyik
sendiri.
Fase II :
Pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan. Klien mulai lepas kendali dan
mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang
dipersepsikan. Disini terjadi peningkatan tanda-tanda sistem saraf otonom akibat
ansietas seperti peningkatan tanda-tanda vital (denyut jantung, pernapasan dan
tekanan darah), asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan
untuk membedakan halusinasi dengan realita.
Fase III :
Klien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah pada
halusinasi tersebut. Di sini klien sukar berhubungan dengan orang lain,
berkeringat, tremor, tidak mampu mematuhi perintah dari orang lain dan berada
dalam kondisi yang sangat menegangkan terutama jika akan berhubungan dengan
orang lain.
Fase IV :
Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti perintah halusinasi.
Di sini terjadi perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri, tidak mampu berespon
terhadap perintah yang kompleks dan tidak mampu berespon lebih dari 1 orang.
Kondisi klien sangat membahayakan.

4. Klasifikasi Halusinasi
a. Halusinasi pendengaran :
karakteristik ditandai dengan mendengar suara, teruatama suara suara orang,
biasanya klien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa yang
sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu.
b.Halusinasi penglihatan :
karakteristik dengan adanya stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya,
gambaran geometrik, gambar kartun dan / atau panorama yang luas dan kompleks.
Penglihatan bisa menyenangkan atau menakutkan.
c. Halusinasi penciuman:
karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk, amis dan bau yang menjijikkan
seperti : darah, urine atau feses. Kadang kadang terhidu bau harum. Biasanya
berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan dementia.
d. Halusinasi peraba :
karakteristik ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus
yang terlihat. Contoh : merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda mati
atau orang lain.
e. Halusinasi pengecap :
Karakteristik ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk, amis dan
menjijikkan.
f. Halusinasi sinestetik :
karakteristik ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir
melalui vena atau arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine. (Menurut
Stuart, 2007)
B. Rentang Respon
Menurut Stuart dan Laraia (2001), halusinasi merupakan salah satu respon
maladaptif individu yang berada dalam rentang respon neurobiologi.
- Pikiran logis: yaitu ide yang berjalan secara logis dan koheren.
- Persepsi akurat: yaitu proses diterimanya rangsang melalui panca indra
yang didahului oleh perhatian (attention) sehingga individu sadar tentang sesuatu
yang ada di dalam maupun di luar dirinya.
- Emosi konsisten: yaitu manifestasi perasaan yang konsisten atau afek
keluar disertai banyak komponen fisiologik dan biasanya berlangsung tidak lama.
- Perilaku sesuai: perilaku individu berupa tindakan nyata dalam
penyelesaian masalah masih dapat diterima oleh norma-norma social dan budaya
umum yang berlaku.
- Hubungan social harmonis: yaitu hubungan yang dinamis menyangkut
hubungan antar individu dan individu, individu dan kelompok dalam bentuk
kerjasama.
- Proses pikir kadang terganggu (ilusi): yaitu menifestasi dari persepsi impuls
eksternal melalui alat panca indra yang memproduksi gambaran sensorik pada
area tertentu di otak kemudian diinterpretasi sesuai dengan kejadian yang telah
dialami sebelumnya.
- Emosi berlebihan atau kurang: yaitu menifestasi perasaan atau afek keluar
berlebihan atau kurang.
- Perilaku tidak sesuai atau biasa: yaitu perilaku individu berupa tindakan
nyata dalam penyelesaian masalahnya tidak diterima oleh norma norma social
atau budaya umum yang berlaku.
- Perilaku aneh atau tidak biasa: perilaku individu berupa tindakan nyata
dalam menyelesaikan masalahnya tidak diterima oleh norma-norma sosial atau
budaya umum yang berlaku.
- Menarik diri: yaitu percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang
lain, menghindari hubungan dengan orang lain.
- Isolasi sosial: menghindari dan dihindari oleh lingkungan sosial dalam
berinteraksi.

C. Faktor Predisposisi
Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah:
1. Biologis
Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon
neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini ditunjukkan oleh
penelitian-penelitian yang berikut:
a. Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang lebih
luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal, temporal dan
limbik berhubungan dengan perilaku psikotik.
b. Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang berlebihan
dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin dikaitkan dengan terjadinya
skizofrenia.
c. Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan terjadinya
atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi otak klien dengan
skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks bagian
depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Temuan kelainan anatomi otak tersebut
didukung oleh otopsi (post-mortem).

2. Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon dan
kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi
gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam
rentang hidup klien.

3. Sosial Budaya
Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti:
kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan
kehidupan yang terisolasi disertai stress.

D. Faktor Presipitasi
Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya
hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa
dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan masalah koping dapat
mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat, 2006).
Menurut Stuart (2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi
adalah:
1. Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses
informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang
mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang
diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.
2. Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor lingkungan
untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
3. Sumber koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor.

E. Mekanisme koping
1. Regresi: menjadi malas beraktifitas sehari-hari.
2. Proyeksi: menjelaskan prubahan suatu persepsi dengan berusaha untuk
mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.
3. Menarik diri: sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus internal.
(Stuart, 2007).

II. Masalah Keperawatan dan Data Fokus Pengkajian


Konsep Dasar Keperawatan
Menurut Carpenito (1998) dikutip oleh Keliat (2006), pemberian asuhan
keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerjasama
antara perawat dengan klien, keluarga atau masyarakat untuk mencapai tingkat
kesehatan yang optimal. Asuhan keperawatan juga menggunakan pendekatan
proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian menentukan masalah atau
diagnosa, menyusun rencana tindakan keperawatan, implementasi dan evaluasi.
1. Pengkajian
Menurut Stuart dan Laraia (2001), pengkajian merupakan tahapan awal dan dasar
utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data
meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Data pada pengkajian
kesehatan jiwa dapat dikelompokkam menjadi faktor predisposisi, faktor
presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping
yang dimiliki klien.
Berbagai aspek pengkajian sesuai dengan pedoman pengkajian umum, pada
formulir pengkajian proses keperawatan. Pengkajian menurut Keliat (2006)
meliputi beberapa faktor antara lain:
a. Identitas klien dan penanggung
Yang perlu dikaji yaitu: nama, umur, jenis kelamin, agama, suku, status,
pendidikan, pekerjaan, dan alamat.
b. Alasan masuk rumah sakit
Umumnya klien halusinasi di bawa ke rumah sakit karena keluarga merasa tidak
mampu merawat, terganggu karena perilaku klien dan hal lain, gejala yang
dinampakkan di rumah sehingga klien dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan
perawatan.
c. Faktor predisposisi
1). Faktor perkembangan terlambat
a. Usia bayi tidak terpenuhi kebutuhan makanan, minum dan rasa aman.
b. Usia balita, tidak terpenuhi kebutuhan otonomi.
c. Usia sekolah mengalami peristiwa yang tidak terselesaikan.
2). Faktor komunikasi dalam keluarga
a. Komunikasi peran ganda.
b. Tidak ada komunikasi.
c. Tidak ada kehangatan.
d. Komunikasi dengan emosi berlebihan.
e. Komunikasi tertutup.
f. Orang tua yang membandingkan anak anaknya, orang tua yang otoritas dan
komplik orang tua.
3). Faktor sosial budaya
Isolasi sosial pada yang usia lanjut, cacat, sakit kronis, tuntutan lingkungan yang
terlalu tinggi.
4). Faktor psikologis
Mudah kecewa, mudah putus asa, kecemasan tinggi, menutup diri, ideal diri
tinggi, harga diri rendah, identitas diri tidak jelas, krisis peran, gambaran diri
negatif dan koping destruktif.
5). Faktor biologis
Adanya kejadian terhadap fisik, berupa : atrofi otak, pembesaran vertikel,
perubahan besar dan bentuk sel korteks dan limbik.
6). Faktor genetik
Telah diketahui bahwa genetik schizofrenia diturunkan melalui kromoson tertentu.
Namun demikian kromoson yang keberapa yang menjadi faktor penentu gangguan
ini sampai sekarang masih dalam tahap penelitian. Diduga letak gen skizofrenia
adalah kromoson nomor enam, dengan kontribusi genetik tambahan nomor 4,8,5
dan 22. Anak kembar identik memiliki kemungkinan mengalami skizofrenia
sebesar 50% jika salah satunya mengalami skizofrenia, sementara jika di zygote
peluangnya sebesar 15 %, seorang anak yang salah satu orang tuanya mengalami
skizofrenia berpeluang 15% mengalami skizofrenia, sementara bila kedua orang
tuanya skizofrenia maka peluangnya menjadi 35 %.

d. Faktor presipitasi
Faktor faktor pencetus respon neurobiologis meliputi:
1. Berlebihannya proses informasi pada system syaraf yang menerima dan
memproses informasi di thalamus dan frontal otak.
2. Mekanisme penghataran listrik di syaraf terganggu (mekanisme penerimaan
abnormal).
3. Adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna,
putus asa dan tidak berdaya.

e. Faktor Pemicu
1. Kesehatan : Nutrisi dan tidur kurang, ketidaksiembangan irama sirkardian,
kelelahan dan infeksi, obat-obatan system syaraf pusat, kurangnya latihan dan
hambatan untuk menjangkau pelayanan kesehatan.
2. Lingkungan sekitar yang memusuhi, masalah dalam rumah tangga, kehilangan
kebebasan hidup dalam melaksanakan pola aktivitas sehari-hari, sukar dalam
berhubungan dengan orang lain, isoalsi social, kurangnya dukungan social,
tekanan kerja (kurang terampil dalam bekerja), stigmasasi, kemiskinan, kurangnya
alat transportasi dan ketidakmamapuan mendapat pekerjaan.
3. Sikap : Merasa tidak mampu (harga diri rendah), putus asa (tidak percaya diri),
merasa gagal (kehilangan motivasi menggunakan keterampilan diri), kehilangan
kendali diri (demoralisasi), merasa punya kekuatan berlebihan, merasa malang
(tidak mampu memenuhi kebutuhan spiritual), bertindak tidak seperti orang lain
dari segi usia maupun kebudayaan, rendahnya kemampuan sosialisasi, perilaku
agresif, perilaku kekerasan, ketidakadekuatan pengobatan dan ketidak adekuatan
penanganan gejala.
4. Perilaku : Respon perilaku klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga,
ketakutan, rasa tidak aman, gelisah, bingung, perilaku merusak diri, kurang
perhatian, tidak mampu mengambil keputusan, bicara inkoheren, bicara sendiri,
tidak membedakan yang nyata dengan yang tidak nyata.
Perilaku klien yang mengalami halusinasi sangat tergantung pada jenis
halusinasinya. Apabila perawat mengidentifikasi adanya tanda tanda dan
perilaku halusinasi maka pengkajian selanjutnya harus dilakukan tidak hanya
sekedar mengetahui jenis halusinasi saja.
Validasi informasi tentang halusinasi yang diperlukan meliputi:
a). Isi halusinasi
Ini dapat dikaji dengan menanyakan suara siapa yang didengar, apa yang
dikatakan suara itu, jika halusinasi audiotorik. Apa bentuk bayangan yang dilihat
oleh klien, jika halusinasi visual, bau apa yang tercium jika halusinasi penghidu,
rasa apa yang dikecap jika halusinasi pengecapan,dan apa yang dirasakan
dipermukaan tubuh jika halusinasi perabaan.
b). Waktu dan frekuensi.
Ini dapat dikaji dengan menanyakan kepada klien kapan pengalaman halusinasi
muncul, berapa kali sehari, seminggu, atau sebulan pengalaman halusinasi itu
muncul. Informasi ini sangat penting untuk mengidentifikasi pencetus halusinasi
dan menentukan bilamana klien perlu perhatian saat mengalami halusinasi.
c). Situasi pencetus halusinasi.
Perawat perlu mengidentifikasi situasi yang dialami sebelum halusinasi muncul.
Selain itu perawat juga bias mengobservasi apa yang dialami klien menjelang
munculnya halusinasi untuk memvalidasi pernyataan klien.
d). Respon Klien
Untuk menentukan sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi klien bisa dikaji
dengan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami pengalaman halusinasi.
Apakah klien masih bisa mengontrol stimulus halusinasinya atau sudah tidak
berdaya terhadap halusinasinya.

d. Pemeriksaan fisik
Yang dikaji adalah tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernafasan dan tekanan darah),
berat badan, tinggi badan serta keluhan fisik yang dirasakan klien.
Status Mental
Pengkajian pada status mental meliputi:
1). Penampilan: tidak rapi, tidak serasi dan cara berpakaian.
2). Pembicaraan: terorganisir atau berbelit-belit.
3).Aktivitas motorik: meningkat atau menurun.
4). Alam perasaan: suasana hati dan emosi.
5). Afek: sesuai atau maladaptif seperti tumpul, datar, labil dan ambivalen
6). Interaksi selama wawancara: respon verbal dan nonverbal.
7). Persepsi : ketidakmampuan menginterpretasikan stimulus yang ada sesuai
dengan informasi.
8). Proses pikir: proses informasi yang diterima tidak berfungsi dengan baik dan
dapat mempengaruhi proses pikir.
9). Isi pikir: berisikan keyakinan berdasarkan penilaian realistis.
10). Tingkat kesadaran: orientasi waktu, tempat dan orang.

11). Memori
a. Memori jangka panjang: mengingat peristiwa setelah lebih setahun berlalu.
b. Memori jangka pendek: mengingat peristiwa seminggu yang lalu dan pada
saat dikaji.
12). Kemampuan konsentrasi dan berhitung: kemampuan menyelesaikan tugas
dan berhitung sederhana.
13). Kemampuan penilaian: apakah terdapay masalah ringan sampai berat.
14). Daya tilik diri: kemampuan dalam mengambil keputusan tentang diri.
Kebutuhan persiapan pulang
yaitu pola aktifitas sehari-hari termasuk makan dan minum, BAB dan BAK,
istirahat tidur, perawatan diri, pengobatan dan pemeliharaan kesehatan sera
aktifitas dalam dan luar ruangan.
Mekanisme koping
1). Regresi: menjadi malas beraktifitas sehari-hari.
2). Proyeksi: menjelaskan prubahan suatu persepsi dengan berusaha untuk
mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.
3). Menarik diri: sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus internal.
Masalah psikososial dan lingkungan: masalah berkenaan dengan ekonomi,
pekerjaan, pendidikan dan perumahan atau pemukiman.
Aspek medik: diagnosa medik dan terapi medik.
Masalah Keperawatan
Menurut Keliat (2006) masalah keperawatan yang sering terjadi pada klien
halusinasi adalah:
- Perubahan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.
- Resiko mencederai diri sendiri orang lain dan lingkungan.
- Isolasi sosial : menarik diri.
- Gangguan konsep diri : harga diri rendah.
- Intoleransi aktifitas.
- Defisit perawatan diri.
III. Diagnosa Keperawatan
- Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi
- Isolasi Sosial : Menarik Diri
- Resti Perilaku Kekerasan
- Resti Mencederai diri (BD)

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN


DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI HALUSINASI

Hari : Selasa, 10 Februari 2015.


Pertemuan :1
Sp/Dx : 1/ Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi pendengaran.
Ruangan : Kutilang
Nama Klien : Tn. S
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien.
DS:
- Klien mengatakan sering mendangar suara bisikan seorang lelaki yang
menyuruhnya untuk membentur-benturkan kepalanya
DO:
- Suka menyendiri
- Mengarahkan telinganya pada suatu titik
- Sering memandang satu arah.
2. Diagnosa Keperawatan.
Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran
3. Tujuan Tindakan Keperawatan.
Pasien mampu :
a. Membina hubungan saling percaya.
b. Mengenal halusinasi dan mampu mengontrol halusinasi dengan menghardik.
c. Mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap.
d. Mengontrol halusinasi dengan melakukan aktivitas sehari-hari.
e. Mengontrol halusinasi dengan pendidikan kesehatan mengenai penggunaan
obat secara teratur.
4. Tindakan Keperawatan.
a. Membina hubungan saling percaya.
b. Membantu pasien menyadari gangguan sensori persepsi halusinasi.
c. Melatih pasien cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik.

B. STATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINDAKAN


KEPERAWATAN.
1. Fase Orientasi.
a. Salam terapeutik : Assalamualaikum..!!! selamat pagi Tn. S perkenalkan
nama saya Arik. Saya mahasiswa praktek dari Fakultas keperawatan STIKKES
Kesehatan Majapahit Mojokerto yang akan dinas di ruangan Kutilang ini selama 2
minggu. Hari ini saya dinas pagi dari jam 07:00 pagi sampai jam 14:00 siang.
Saya akan merawat Tn. S selama di rumah sakit ini. Nama Tn. S siapa?
Senangnya mas di panggil siapa?
b. Evaluasi/validasi : Bagaimana keadaan Tn. S hari ini ?
c. Kontrak :
i. Topik : Baiklah Tn. S, bagaimana kalau kita berbincang-bincang
tentang suara yang mengganggu Tn. S dan cara mengontrol suara-suara
tersebut, Apakah bersedia?
ii. Waktu : Berapa lama Tn. S mau berbincang-bincang? Bagaimana
kalau 20 menit?
iii. Tempat : Tn. S mau berbincang-bincang dimana? Bagaimana kalau di
ruang tamu? Baiklah Tn. S.
2. Fase Kerja .
Apakah Tn. S mendengar suara tanpa ada wujudnya? Saya percaya Tn.
S mendengar suara tersebut, tetapi saya sendiri tidak mendengar suara itu.
Apakah Tn. S mendengarnya terus-menerus atau sewaktu-waktu? Kapan yang
paling sering Tn. S mendengar suara itu? Berapa kali dalam sehari Tn. S
mendengarnya? Pada keadaan apa suara itu terdengar? Apakah pada waktu
sendiri? Apa yang Tn. S rasakan ketika mendengar suara itu? Bagaimana
perasaan Tn. S ketika mendengar suara tersebut? Kemudian apa yang Tn. S
lakukan? Apakah dengan cara tersebut suara-suara itu hilang? Apa yang Tn. S
alami itu namanya Halusinasi. Ada empat cara untuk mengontrol halusinasi yaitu
menghardik, bercakap-cakap, melakukan aktifitas dan minum obat.
Bagaimana kalau kita latih cara yang pertama dahulu, yaitu dengan menghardik,
apakah Tn. S bersedia? Bagaimana kalau kita mulai ya.. baiklah saya akan
mempraktekan dahulu baru Tn. S mempraktekkan kembali apa yang telah saya
lakukan. Begini Tn. S jika suara itu muncul katakan dengan keras pergi..pergi
saya tidak mau dengar.. kamu suara palsu sambil menutup kedua telinga Tn. S
seperti ini ya Tn. S. coba sekarang Tn. S ulangi lagi seperti yang saya
lakukan tadi. Bagus sekali Tn. S, coba sekali lagi Tn. S. wah bagus sekali Tn.
S.

3. Terminasi.
a. Evaluasi subjektif dan objektif : Bagaimana perasaan Tn. S setelah kita kita
bercakap-cakap? Jadi suara-suara itu menyuruh Tn. S untuk mengejek, terus
menerus terjadi dan terutama kalau sendiri dan Tn. S merasa kesal. Seperti yang
telah kita perlajari bila suara-suara itu muncul Tn. S bisa mengatakan pergi-
pergi saya tidak mau dengar kamu suara palsu
b. RTL : Tn. S lakukan itu sampai suara itu tidak terdengar lagi, lakukan itu
selama 3 kali sehari yaitu jam 90:00, 14:00 dan jam 20:00 cara mengisi buku
kegiatan harian adalah sesuai dengan jadwal keegiatan harian yang telah kita buat
tadi ya Tn. S? . Jika Tn. S melakukanya secara mandiri makan Tn. S
menuliskan M, jika Tn. melakukannya dibantu atau diingatkan oleh keluarga
atau teman maka Tn. S buat Tn. S, Jika Tn. S tidak melakukanya maka Tn.
S tulis T. apakah Tn. S mengerti? Coba Tn. S ulangi? Naah bagus Tn. S
c. Kontrak yang akan datang :
Topik : Baik lah Tn. S bagaimana kalau besok kita berbincang-bincang tentang
cara yang kedua yaitu denganminum obat untuk mencegah suara-suara itu
muncul, apakah Tn. S bersedia?
Waktu : Tn. S mau jam berapa? Bagaimana kalau jam 11:00 ?
Tempat : Tn. S maunya dimana kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau di
ruang tamu? Baiklah Tn. S besok saya akan kesini jam 11:00 sampai jumpa
besok Tn. S saya permisi Assalamualaikum WR,WB.
STATEGI PELAKSANAAN SP 1 : CARA MENGHARDIK HALUSINASI

Hari : Rabu, 11 Februari 2015.


Pertemuan : 2
Sp/Dx : 1/ Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi pendengaran.
Ruangan : Kutilang
Nama Klien : Tn. S
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien.
DS:
- Klien mengatakan sering mendangar suara bisikan seorang lelaki yang
menyuruhnya untuk membentur-benturkan kepalanya
DO:
- Suka menyendiri
- Mengarahkan telinganya pada suatu titik
- Sering memandang satu arah.
2. Diagnosa Keperawatan.
Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran
3. Tujuan Tindakan Keperawatan.
Pasien mampu :
a. Mengenal halusinasi dan mampu mengontrol halusinasi dengan menghardik.
4. Tindakan Keperawatan.
a. Membina hubungan saling percaya.
b. Melatih pasien cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik.

B. STATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINDAKAN


KEPERAWATAN.
1. Fase Orientasi.
a. Salam terapeutik : Assalamualaikum..!!! selamat pagi Tn. S Tn. S masih
ingat sama saya?
b. Evaluasi/validasi : Bagaimana keadaan Tn. S hari ini ?

c. Kontrak :
i. Topik : Baiklah Tn. S, bagaimana kalau hari ini melanjutkan SP 1
(menghardik halusinasi)?
ii. Waktu : Berapa lama Tn. S mau berapa berlatih cara menghardik
halusinasi? Bagaimana kalau 10 menit?
iii. Tempat : Tn. S mau berlatih dimana? Bagaimana kalau di ruang tamu?
Baiklah Tn. S.
2. Fase Kerja .
mengingat yang kemarin saya tawarkan, gimana Tn. S mau saya ajarkan cara
menghardik halusinasi? syukurlah kalau Tn. S mau, nanti jika bisikan itu
datang lagi Tn. S harus bisa mengusirnya dengan cara mengatakan [pergi...
pergi... saya tidak mau dengar... kamu suara palsu] coba Tn. S ulangi iya
benar seperti itu, di coba sekali lagi bapak jadi nanti jika suara itu datang lagi
Tn. S harus bilang seperti itu
3. Terminasi.
a. Evaluasi subjektif dan objektif :
Bagaimana perasaan Tn. S setelah belajar cara menghardik halusinasi? Seperti
yang telah kita perlajari bila suara-suara itu muncul Tn. S bisa mengatakan
pergi-pergi saya tidak mau dengar kamu suara palsu
b. RTL :
Tn. S lakukan itu sampai suara itu tidak terdengar lagi, jadi jangan lakukan itu
jika suara- suara itu muncul kembali.
c. Kontrak yang akan datang :
i. Topik : Baik lah Tn. S bagaimana kalau besok kita berlatih cara kedua
untuk mengontrol suara-suara atau halusinasi Tn. S yaitu dengan cara
berbincang-bincang, apakah Tn. S bersedia?
ii. Waktu : Tn. S mau jam berapa? Bagaimana kalau jam 11:00 ? Berapa
lama Tn. S mau berlatih cara mengontrol halusinasi dengan berbincang-
bincang?
iii. Tempat : Tn. S maunya dimana kita berbincang-bincang? Bagaimana
kalau di ruang tamu? Baiklah Tn. S besok saya akan kesini jam 11:00 sampai
jumpa besok Tn. S. saya permisi Assalamualaikum WR,WB.

STATEGI PELAKSANAAN SP 2 : BERCAKAP-CAKAP

Hari : Kamis, 12 Februari 2015.


Pertemuan : 3
Sp/Dx : 2/ Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran.
Ruangan : Kutilang
Nama Klien : Tn. S
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien.
DS:
- Klien mengatakan sering mendangar suara bisikan seorang lelaki yang
menyuruhnya untuk membentur-benturkan kepalanya
DO:
- Suka menyendiri
- Mengarahkan telinganya pada suatu titik
- Sering memandang satu arah.
2. Diagnosa Keperawatan.
Gangguan Persepsi Sensori :Halusinasi pendengaran
3. Tujuan Tindakan Keperawatan.
a. Klien mampu mengontrol halusinasinya dengan cara bercakap-cakap dengan
orang lain.
4. Tindakan Keperawatan.
a. Evaluasi ke jadwal harian
b. Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan
orang lain.
c. Menganjurkan kepada klien agar memasukan kegiatan ke jadwal kegiatan
harian klien.

B. STATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINDAKAN


KEPERAWATAN.
1. Fase Orientasi.
a. Salam Terapeutik.
Asalamualaikum Tn. S selamat pagi..
b. Evaluasi/validasi.
Bagaimana perasaan Tn. S hari ini? Apakah Halusinasinya masih muncul?
Apakah Tn. S telah melakukan cara yang telah kita pelajari untuk
menghilangkan suara-suara yang menganggu? Coba saya lihat jadwal kegiatan
harian Tn. S? bagus sekali Tn. S, latihan menghardik suara-suara sudah
dilakukan dengan teratur. Sekarang coba ceritakan pada saya apakah dengan cara
tadi suara-suara yang Tn. S dengarkan berkurang? Coba sekarang praktekkan
cara menghardik suara-suara yang telah kita pelajari. Bagus sekali Tn. S.
c. Kontrak.
i. Topik : Baiklah Tn. S sesuai janji kita kemaren hari ini kita akan
belajar cara kedua dari empat cara mengendalikan suara-suara yang muncul yaitu
bercakap-cakap dengan orang lain, Apakah bersedia?
ii. Waktu : Berapa lama Tn. S mau berbincang-bincang? Bagaimana kalau
20 menit?
iii. Tempat : Tn. S mau berbincang-bincang dimana? Bagai mana kalau di
ruang tamu? Baiklah Tn. S.
2. Fase Kerja.
Caranya adalah jika Tn. S mulai mendengar suara-suara, langsung saja Tn. S
cari teman untuk diajak berbicara. Minta teman Tn. S untuk berbicara dengan
Tn. S. contohnya begini Tn. S: tolong berbicara dengan saya.. saya mulai
mendengar suara-suara. Ayo kita ngobrol dengan saya! Atau Tn. S minta pada
ibu/bpk perawat untuk berbicara dengannya seperti buk/pak tolong berbicara
dengan saya karena saya mulai mendengar suara-suara:. Coba Tn. S praktekkan,
bagus sekali Tn. S.
3. Fase Terminasi.
a. Evaluasi Subjektif dan Objektif :
Bagaimana perasaan Tn. S setelah kita berlatih tentang cara mengontrol suara-
suara dengan bercakap-cakap. Jadi sudah berapa cara yang telah kita pelajari
untuk mengontrol suara-suara? Coba sebutkan! Bagus sekali Tn. S.mari kita
masukan kedalam jadwal kegiatan harian ya Tn. S.
b. RTL :
Tn. harus bercakap-cakap ketika suara itu muncul. Jangan lupa Tn.
S Lakukan juga cara yang pertama agar suara-suara yang Tn. S dengarkan
tidak mengganggu Tn. S lagi.
c. Kontrak yang akan datang :
i. Topik : Baiklah Tn. S bagaimana kalau besok kita berbincang-bincang
tentang manfaat bercakap-cakap dan berlatih cara untuk mengontrol halusinasi
yang ketiga Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan cara melakukan
kegiatan. apakah Tn. Sbersedia?
ii. Waktu : Tn. S mau jam berapa? Bagaimana kalau jam 11:00 ?
iii. Tempat : Tn. S maunya dimana kita berbincang-bincang? Bagaimana
kalau di ruang tamu? Baiklah Tn. S besok saya akan kesini jam 11:00 sampai
jumpa besok Tn. S. saya permisi Assalamualaikum WR,WB.
STATEGI PELAKSANAAN SP 3 : MELAKUKAN KEGIATAN

Hari : Jumat, 12 Februari 2015.


Pertemuan : 4
Sp/Dx : 3/ gangguan persepsi sensori : Halusinasi Pendengaran.
Ruangan : Kutilang
Nama Klien : Tn. S
A. Proses Keperawatan.
1. Kondisi Klien.
DS:
- Klien mengatakan sering mendangar suara bisikan seorang lelaki yang
menyuruhnya untuk membentur-benturkan kepalanya
DO:
- Suka menyendiri
- Mengarahkan telinganya pada suatu titik
- Sering memandang satu arah.
2. Diagnosa Keperawatan.
Gangguan Persepsi Sensori :Halusinasi pendengaran
3. Tujuan Tindakan Keperawatan.
a. Klien mampu mengontrol halusinasi dengan cara melakukan kegiatan.
4. Tindakan Keperawatan.
a. Evaluasi jadwal kegiatan harian.
b. Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara melakukan kegiatan yang
mampu klien lakukan.
c. Menganjurkan klien memasukan kegiatan ke jadwal kegiatan sehari-hari klien.
B. STATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINDAKAN
KEPERAWATAN.
1. Fase Orientasi.
a. Salam Terapeutik.
Asalamualaikum Tn. S.. selamat pagi.. masih ingat dengan saya?
b. Evaluasi validasi.
Bagaimana perasaan Tn. S hari ini? Apakah masih ada halusinasinya? Apakah
Tn. S telah melakukan dua cara yang telah dipelajari untuk menghilangkan
suara-suara yang menganggu? Coba saya lihat jadwal kegiatan hariannya? Bagus
sekali Tn. S, Tn. S apakah latihan cara menghardik dan bercakap-cakap
dengan teman atau perawat sudah dilakukan dengan teratur. Sekarang coba
ceritakan pada saya apakah dengan kedua cara tadi membuat suara-suara yang Tn.
S dengarkan berkurang? Bagus sekali , dengan suara-suara itu sudah berkurang.
Coba sekarang Tn. S praktekkan lagi bagaimana cara menghardik suara-suara
yang telah kita pelajari dan dengan siapa W bisa bercakap-cakap. Bagus sekali Tn.
S, Tn. S sudah bisa mempraktekkannya.
c. Kontrak.
i. Topik : Baiklah Tn. S sesuai janji kita kemaren hari ini kita akan
latihan cara yang muncul yaitu melakukan aktivitas fisik yaitu membersih kamar
tujuannya kalau Tn. S sibuk maka kesempatan muncul suara-suara akan
berkurang. Apakah bersedia?
ii. Waktu : Bagaimana kalau 20 menit? Tn. S mau berbincang-bincang
dimana? Bagai mana kalau di ruang tamu? Baiklah Tn. S.
iii. Tempat : Berapa lama Tn. S mau berbincang-bincang?
2. Fase Kerja.
Baiklah mari kita merapikan tempat tidur. Tujuan nya agar Tn. S dapat
mengalihkan suara yang didengar. Diaman kamar tidur Tn. S? nah kalau kita
akan merapika tempati tidur, kita pindahkan dulu bantal, guling dan selimutnya.
Bagus sekali sekarang kita pasang sepraynya lagi, kita mulai dari arah atas.. ya
sekarang bagian kaki, tarik dan masukkan, lalu bagian pinggir dimasukkan.
Sekarang ambil bantal dan letakkan dibagian atas kepala selanjutnya kita lipat dan
rapikan selimutnya dan letakan dibawah kaki. Bagus sekali Tn. S. Tn. S
dapat melakukannya dengan baik dan rapi.
3. Fase Terminasi.
a. Evaluasi subjektif dan objektif : Bagaimana perasaan Tn. S setelah kita
membereskan tempat tidur apakah selama kegiatan berlangsung suara-suara itu
datang? O bagus sekali Tn. S jadi selama latihan suara-suara itu tidak ada ya
Tn. S jadi Tn. S dapat melakukan kegiatan untuk menghilangkan suara-suara
nah sekarang coba ulangi langkah-langkah yang tadi telah kita lakukan!
b. RTL : Bagus sekali Tn. S sekarang masukan kedalam jadwal kegiatan harian.
Bagus sekali Tn. S. Jam berapa akan melakuan kegiatan ini? Baiklah Tn. S
jam 06:00 dan jam 15:00 setelah bangun tidur ya? Bagus.
c. Kontrak yang akan datang :
i. Topik : Baiklah Tn. S bagaimana kalau besok kita berbincang-bincang
tentang kebersihan diri. apakah W bersedia?
ii. Waktu : Tn. S mau jam berapa? Bagaimana kalau jam 11:00 ? Berapa
lama W mau berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit?
iii. Tempat : Tn. S maunya dimana kita berbincang-bincang? Bagaimana
kalau di ruang tamu? Baiklah Tn. S besok saya akan kesini jam 11:00 sampai
jumpa besok Tn. S. saya permisi Assalamualaikum WR,WB.
STATEGI PELAKSANAAN SP 4 : ENAM BENAR MINUM OBAT

Hari : Sabtu, 14 Februari 2015.


Pertemuan : 5
Sp/Dx : 4/ Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi pendengaran.
Ruangan : Kutilang
Nama Klien : Tn. S
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien.
DS:
- Klien mengatakan sering mendangar suara bisikan seorang lelaki yang
menyuruhnya untuk membentur-benturkan kepalanya
DO:
- Suka menyendiri
- Mengarahkan telinganya pada suatu titik
- Sering memandang satu arah.
2. Diagnosa Keperawatan.
a. Gangguan Persepsi Sensori :Halusinasi pendengaran
3. Tujuan Tindakan Keperawatan.
a. Pasien mampu mengontrol halusinasi pendengaran dengan enam benar minum
obat.
4. Tindakan Keperawatan.
a. Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien
b. Jelaskan pentingnya penggunaan obat pada gangguan jiwa.
c. Jelaskan akibat bila obat tidak digunakan sesuai program.
d. Jelaskan akibat bila putus obat.
e. Jelaskan cara mendapatkan obat.
f. Jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 6 benar (benar obat, benar
pasien, benar cara, benar waktu, benar dosis dan kontinuitas.

B. STATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINDAKAN


KEPERAWATAN.
1. Fase Orientasi.
a. Salam Terapeutik.
Assalamualaikum Tn. S, bagaimana perasaan Tn. S hari ini?
b. Evaluasi/validasi.
Apakah masih ada halusinasinya? Apakah Tn. S telah melakukan tiga cara yang
telah dipelajari untuk menghilangkan suara-suara yang menganggu? Coba saya
lihat jadwal kegiatan hariannya? Bagus sekali Tn. S.
c. Kontrak.
i. Topik : Baiklah Tn. S sesuai janji kita kemaren hari ini kita akan
latihan cara yang keempat dari empat cara mengendalikan suara-suara yang
muncul yaitu cara minum obat yang benar, Apakah bersedia?
ii. Waktu : Berapa lama Tn. S mau berbincang-bincang? Bagaimana kalau
20 menit?
iii. Temapat : Tn. S mau berbincang-bincang dimana? Bagai mana kalau di
ruang tamu? Baiklah Tn. S.
2. Fase Kerja.
Tn. S sudah dapat obat dari bapak Perawat? Tn. S perlu meminum obat ini
secara teratur agar pikiran jadi tenang, dan tidurnya juga menjadi nyenyak.
Obatnya ada 1 macam yaitu namanya Risperidon minum 2 kali sehari gunanya
supaya tenang, berkurang rasa marah dan mondar mandirnya, itu harus Tn. S
minum 2 kali sehari yaitu jam 7 pagi dan jam 7 malam. Bila nanti mulut Tn. S
terasa kering, untuk membantu mengatasinya Tn. S bisa menghisap es batu
yang bisa diminta pada perawat. Bila Tn. Smerasa mata berkunang-kunang, Tn.
Ssebaiknya istirahat dan jangan beraktivitas dulu. Jangan pernah menghentikan
minum obat sebelum berkonsultasi dengan dokter ya Tn. S. Sebelum Tn. S
meminum obat lihat dulu label yang menempel di bungkus obat, apakah benar
nama Tn. S yang tertulis disitu. Selain itu Tn. S perlu memperhatikan jenis
obatnya, berapa dosis, satu atau dua butir obat yang harus diminum, jam berapa
saja obatnya harus diminum, dan cara meminum obanya. Tn. S harus meminum
obat secara teratur dan tidak menghentikannya tanpa konsultasi dengan dokter.
Sekarang kita memasukan waktu meminum obat kedalam jadwal ya Tn. S.
3. Fase Terminasi.
a. Evaluasi subjektif dan objektif : Bagaimana perasaan Tn. S setelah kita
berbincang-bincang tentang obat? Sudah berapa cara yang kita latih untuk
mengontrol suara-suara? Coba Tn. S sebutkan.
b. RTL : Jadwal minum obatnya sudah kita buat yaitu 07:00 dan 19:00 pada jadwal
kegiatan Tn. S. Nah sekarang kita masukan kedalam jadwal minum obat yang
telah kita buat ya Tn. S. jangan lupa laksanakan semua dengan teratur ya Tn.
S.
c. Kontrak yang akan datang :
i. Topik : Baiklah Tn. S bagaimana kalau besok kita bertemu lagi untuk
melihat manfaat minum obat.
ii. Waktu : Tn. Smau jam berapa? Bagaimana kalau jam 11:00 ?
iii. Tempat : Tn. S maunya dimana kita berbincang-bincang? Bagaimana
kalau di ruang tamu? Baiklah Tn. S besok saya akan kesini jam 11:00 sampai
jumpa besok Tn. S. saya permisi Assalamualaikum WR,WB.
PENGKAJIAN KEPERAWATAN
KESEHATAN JIWA

Tanggal Dirawat : 1 Februari 2015


Tanggal Pengkajian : 10 Februari 2015
Ruang Rawat : Kutilng

1. IDENTITAS KLIEN
Nama : Tn. S
Umur : 38 tahun
Alamat : Mojokerto
Pendidikan : SD
Agama : Islam
Status : Menikah
Pekerjaan : Wiraswasta
JenisKel. : Laki-laki
No RM : 105388

2.ALASAN MASUK
- Data Primer
Klien mengatakan di bawah kesini karena mendengar suara-suara yang
menyuruhnya untuk membenturkan kepalanya ke tembok.
- Data Sekunder
Klien diantarkan oleh keluarga ke RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang
karena beberapa kali mencoba menabrakkan diri ke mobil.
3. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG dan FAKTOR PRESIPITASI
Klien berasal dari Mojokerto, sakit + 2 minggu dengan gejala bicara sendiri,
sering mencoba menabrakkan diri ke mobil dan membenturkan kepalanya ke
tembok, lari-lari ke jalan raya, klien mengaku tidak ada niat untuk bunuh diri
namun disuruh suara-suara bisikan.

4. FAKTOR PREDISPOSISI
1. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu.
Klien mengatakan sebelumnya tidak pernah mengalami gangguan jiwa, tapi klien
mengatakan dulu pernah mendengar suara-suara namun tidak separah yang
dialami saat ini. Menurut status klien baru pertama masuk rumah sakit jiwa.
2. Pengobatan sebelumnya
Klien mengatankan pernah berobat ke Kiai, namun Kiai bilang tidak ada apa-apa
dan klien mengatakan tidak pernah berobat kerumah sakit sebelumnya.
Diagnosa keperawatan : Koping keluarga inefektif : kurang pengetahuan
3. Riwayat Trauma
a. Pernah mengalami penyakit fisik
Klien mengatakan tidak pernah mengalami penyakit fisik hanya pusing-pusing
saja
b. Riwayat NAPZA
Klien mengatakan tidak pernah menggunakan obat-obatan terlarang atau minum-
minuman keras
c. Riwayat Trauma
Klien mengatakan tidak pernah mengalami aniaya seksual, kekerasan dalam
keluarga, tindakan kriminal, dan aniaya fisik baik sebagai pelaku, korban maupun
saksi. Klien mengatakan pernah membenturkan kepalanya ke tembok dan
mencoba menabrakkan diri ke mobil.
DiagnosaKeperawatan : Resiko tinggi kekerasan
4. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan
Klien mengatakan tidak pernah memiliki pengalaman tidak menyenangkan.
DiagnosaKeperawatan : -

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


1. Anggota keluarga yang gangguan jiwa.
Klien mengatakan tidak ada keluarga yang mengalami gangguan seperti klien.
Diagnosa Keperawatan : -

5. PEMERIKSAAAN FISIK
Tanggal : 10 Februari 2015
1. Keadaan umum :
- Rambut rapi dan tidak berketombe
- Mulut bersih
- Badan tidak bau
- Kuku pendek dan bersih
2. Tanda vital:
TD : 110/80 mm/Hg
N : 72 x/m
S : 36,7 C
P : 20 x/m
3. Ukur:
BB : 45 kg
TB : 158 cm
4. Keluhan fisik:
Klien mengatakan pusing namun dari pemeriksaan fisik dan cara berjalan klien
tidak menunjukkan adanya pusing.
Diagnosa Keperawatan :-

6. PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL

1. Genogram: Keterangan Gambar

= Laki-laki

=
Perempuan

= Meninggal
= Tinggal serumah

= Pasien
= Garis
pernikahan
= Garis keturunan
= Orang
terdekat
Penjelasan :
Klien adalah anak kedua dari empat bersaudara, klien telah menikah dan memiliki
dua orang anak. Klien tinggal serumah dengan ibu, istri dan kedua anaknya, pola
komunikasi dalam keluarga cukup baik jika ada masalah selalu dibicarakan
dengan istri. Pola asuh yang diberikan orang tua klien cukup baik karena kedua
orang tua cukup sabar. Pengambilan keputusan dalam keluarga biasanya
dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan istrinya
Diagnosa Keperawatan : -
2. Konsep Diri
a. Citra tubuh :
Klien mengatakan mensyukuri akan tubuhnya karena sudah tidak ada kekurangan
pada anggota tubuhnya dan Klien menyukai semua anggota tubuhnya.
b. Identitas :
Klien mengatakan adalah kepala rumah tangga, bekerja senbagai kukli bangunan,
klien mengatakan puas walaupun bekerja sebagai kuli bangunan karena
sekolahnya hanya sebata SD dan klien mengatakan sudah merasa puas sebagai
lelaki karena bisa mengatur dan memnuhi kebutuhan rumah tangga.

c. Peran :
Klien mengatakan sebagai kepala rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari dengan bekerja sebagi kuli bangunan. Klien mengatakan saat di rumah
juga mengikuti kegiatan kelompok misal, tahlilan rutin tiap hari kamis, klien juga
mengatakan dulu pernah akatif didalam lingkungan masyarakat, misal pernah
menjadi bendahara RT
d. Ideal diri :
Klien mengatakan ingin cepat sembuh dan pulang agar bisa berkumpul bersama
keluarga dan agar bisa bekerja lagi untuk membantu memenuhi kebutuhan
ekonomi.
e. Harga diri :
Klien mengatakan bahwa klien merasa malu berada di RSJ Lawang karena klien
mengetahui bahwa tempat ini adalah tempat bagi orang yang memiliki sakit jiwa.
Diagnosa Keperawatan : Gangguan konsep diri : Harga diri rendah
3. Hubungan sosial
a. Orang yang berarti/terdekat:
Klien mengatakan orang yang paling dekat adalah Istrinya karena menurut klien
jika ada masalah selalu dibicarakan dengan istri, istrinya adalah orang yang paling
mengerti
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat:
Klien mengatakan saat di rumah juga mengikuti kegiatan kelompok misal, tahlilan
rutin tiap hari kamis, klien juga mengatakan dulu pernah aktif didalam lingkungan
masyarakat, misal pernah menjadi bendahara RT, di RSJ Lawang klien hanya
duduk-duduk, tiduran mau mengikuti giatan misal, menyapu jika diajak perawat.
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain:
Klien mengatakan jarang bercakap-cakap dengan orang lain dan lebih suka
menyendiri karena susah untuk memulai pembicaraan.
Diagnosa Keperawatan : Kerusakan interaksi sosial

4. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan
Klien mengatakan bahwa beragama Islam dan percaya kepada Allah SWT dengan
menjalankan sholat, pada saat ditanya penyebab sakit jiwa dipandang dari segi
agamanya tidak dapat menjelaskan, pada saat ditanya gangguan jiwa menurut
pandangan klien tinggal karena stres.
b. Kegiatan ibadah
Klien Mengatakan bahwa klien mengikuti Tahlilan rutin setiap hari Kamis malam
Jumat, di rumah kadang sholatnya tidak teratur. Pada saat ditanya tentang
pentingnya kegiatan ibadah klien menjawab sebagai hamba untuk mendektkan diri
pada Tuhan, hidup supaya tenang
Diagnosa Keperawatan : -

7. STATUS MENTAL
1. Penampilan
Penampilan cukup rapi menggunakan baju yang sesuai, tidak terbalik, rambut
potong pendek ada ketomber, gigi hitam-hitam bekas rokok, kuku pendek dan
bersih.
Diagnosa Keperawatan : -
2. Pembicaraan
Nada bicara pelan, seperlunya, jawaban singkat sesuai dengan pertanyaan
perawat.
Diagnosa Keperawatan : -
3. Aktifitas motorik/Psikomotor
Klien terlihat lesu, kurang bersemangat, dan sering duduk menyendiri, klien
mengatakan malas untuk melakukan kegiatan di ruangan
Diagnosa Keperawatan : Intoleransi aktivitas
4. Afek dan Emosi
Afek emosi klien sesuai, terbukti saat klien mengatakan sedih dan ingin cepat
pulang bertemu dengan Istri, Anak dan Keluarga tetapi keinginannya belum bisa
terwujud klien menceritakan masalahnya dengan wajah yang sedih.
Diagnosa Keperawatan : -
5. Interaksi selama wawancara
Klien kooperatif, kontak mata kurang karena klien lebih banyak menunduk dan
klien mau menjawab pertanyaan dari perawat.
Diagnosa Keperawatan : -
6. Persepsi Sensorik
Klien mengatakan sering mendangar suara bisikan seorang lelaki yang
menyuruhnya untuk membentur-benturkan kepalanya, suara itu muncul terutama
pada saat sendiri jika suara itu muncul klien tidak menghiraukannya.
Diagnosa Keperawatan : Gangguan persepsi sensori :Halusinasi Pendengaran
7. Proses Pikir
a. Arus Pikir dan bentuk pikir:
Pembicaraan klien lancar, dapat di pahami, dan jawaban sesuai dengan pertanyaan
perawat.
b. Isi Pikir
Klien selalu mengatakan ingin cepat pulang untuk bertemu dengan anak dan
istrinya
c. Bentuk pikir:
Realistik, Karena klien jauh dari anak istrinya
Diagnosa Keperawatan : -
8. Kesadaran
Kesadaran klien komposmentis GCS : 4-5-6, terbukti klien mampu melakukan
kegiatan sehari-hari dengan mandiri namun kesadaran klien berubah terbukti suka
menyendiri dan berdiam diri.
Diagnosa Keperawatan : Gangguan proses pikir
9. Orientasi
Klien tidak mengalami gangguan orientasi baik waktu, tempat dan orang terbukti
pada saat diatanya sekarang jam berapa? Klien menjawab Jam 11.00, termasuk
pagi, siang, sore apa malam? Klien menjawab Siang Mas. Pada saat ditanya
sekarang bapak berada dimana klien menjawab di RSJ Lawang, bapak ngerti RSJ
Lawang tempatnya orang apa? Ya Mas, tempatnya orang dengan sakit jiwa dan
pada saat ditanya siapa yang pakai kaos hijau klien menjawab pasien dan pada
saat ditanya siapa yang memakai seragam putih-putih, klien menjawab mahasiswa
perawat.
Diagnosa Keperawatan : -
10. Memori
Klien tidak mengalami gangguan memori baik jangka panjang, jangka pendek dan
saat ini, terbukti klien mampu bercerita pernah kerja di Irian Jaya pada tahun
2007, klien juga bercerita bahwa diantar ke RSJ Lawang oleh keluarga, pak
Sugeng dan pak Mulyono dan pada saat ditanya apa kegiatan yang barusan
dilakukan klien menjawab baru selesai mengikuti senam.
Diagnosa Keperawatan : -
11. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Konsentrasi klien baik terbukti pada saat disuruh menghitung mundur dari angka
27 15 klien mampu melakukannya, klien juga mampu berhitung secara
sederhanan baik penjumlahan, pengurangan pembagian dan perkalian, misal 13 +
8 = 21, 13 8 = 5, 12 : 4 = 3,
4 x 4 = 16
Diagnosa Keperawatan : -
12. Kemampuan penilaian
Klien tidak mengalami gangguan penilaian, terbukti pada waktu klien ditanya
ngepel dulu apa nyapu dulu? klien menjawab disapu dulu agar lantai bersih dan
klau dipel tidak kotor lagi.
Diagnosa Keperawatan : -
13. Daya tilik diri
Klien mengatakan tau kalau sekarang berada di rumah sakit jiwa tapi klien
mengatakaan bahwa dirinya merasa tidak sakit jiwa.
Diagnosa Keperawatan : Gangguan proses pikir

8. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG


1. Makan
Klien mampu makan sendiri tanpa bantuan dan makan 3x sehari dengan menu diet
yang disediakan dari rumah sakit, makan di ruang makan bersama-sama dengan
temannya, makan pakai sendok
2. BAB/BAK
Klien mampu BAB/BAK secara sendiri tanpa bantuan, menggunakan kamar
mandi dan WC ketika BAB/BAK.
3. Mandi
Klien mampu mandi sendiri tanpa bantuan, mandi kadang dengan memakai sabun
lalu di bilas dengan air dan menyikat gigi dengan sikat gigi dan pasta gigi,
mencuci rambut bila ada yang menjenguk
4. Berpakaian/berhias
Klien mampu memakai pakaian dan memilih pakaiannya sendiri tanpa bantuan
5. Istirahat dan tidur deskripsikan
Klien mengatakan saat di rumah jarang tidur siang saat di rumah sakit klien selalu
tidur siang, klien mengatakan kalau tidur malam biasanya sehabis sholat isyak dan
bangun jam 04.00, pada saat akan tidur malam tidak ada kegiatan yang dilakukan
6. Penggunaan obat
Klien mampu minum obat secara mandiri sesuai dengan jadwal namun cara
menggunakan obat di bantu oleh perawat sesuai 5B (benar, obat, pasien, dosis dan
waktu)
7. Pemeliharaan kesehatan
Klien mengatakan jika sakit klien memeriksakan diri pada Bidan. Dan bila
kerumah sakit memakai fasilitas BPJS.
8. Aktifitas dalam rumah
Klien mengatakan saat dirumah kadang-kadang membantu membersihkan
ruangan tapi setelah selesai klien langsung tidur dan menyendiri.

9. Aktifitas di luar rumah


Klien mengatakan kegiatan diluar rumah bekerja sebagai kuli bangunan juga
mengikuti kegiatan tahlilan rutin.

MEKANISME KOPING
Klien mengatakan jika ada masalah klien langsung membicarakan dengan
isrtinya.
Diagnosa Keperawatan : -

MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN


q Masalah dengan dukungan kelompok.
Klien mengatakan tidak mempunyai gangguan dalam dukungan kelompok.
q Masalah berhubungan dengan lingkungan.
Klien mengatakan tidak ada masalah dalam berhubungan dengan lingkungan.
q Masalah dengan pendidikan.
Klien mengatakan pendidikannya hanya sampai SD karena terbentur dengan
kebutuhan Ekonomi.
q Masalah dengan pekerjaan.
Klien mengatakan pekerjaannya hanya sebagai kuli bangunan.
q Masalah dengan perumahan.
Klien mengatakan tidak mempunyai rumah sendiri dan saat ini masih ikut
bersama orang tua.
q Masalah dengan ekonomi.
Klien mengatakan termasuk dalam kategori ekonomi pra sejahtera.
q Masalah dengan pelayanan kesehatan.
Klien mengatakan berobat kerumah sakit dengan menggunakan kartu BPJS.

PENGETAHUAN KURANGTENTANG
Klien mengatakan tidak tau penyebab sakit jiwa tetapi mengerti bagaimana tanda
orang sakit jiwa, tidak seperti orang biasanya, jalan terus, berbicara sendiri, suka
menyendiri dan orang sakit jiwa itu harus diobati supaya sembuh.
Diagnosa Keperawatan : Kurang pengetauan : tentang gangguan jiwa.

ASPEK MEDIS
1. Diagnosis medik :
Psikotik akut
2. Diagnosa multi axis
Axis 1 : Psikotik akut
Axis 2 : C.K Pendiam dan tertutup
Axis 3 : Riwayat Hemorhoid dan obeservasi hiperglikemia
Axis 4 : tidak jelas
Axis 5 : GAF MRS : 20-11
3. Terapi medik :
Risperidon 2mg 1 - 0- 1

ANALISA DATA

DIAGNOSA
NO DATA
KEPERAWATAN
1. DS: Koping keluarga inefektif
- Klien mengatakan hanya berobat ke : kurang pengetahuan
pak kyai.
- Klien mengatakan tidak pernah
berobat kerumah sakit sebelumnya.
DO:
- Baru pertama kali di bawak ke rumah
sakit
2. DS: Resiko tinggi kekerasan
- Klien mengatakan saat di rumah
pernah membenturkan kepalanya ke
tembok dan mencoba menabrakkan diri ke
mobil.
DO:
-
3. DS: Gangguan konsep diri :
- Klien mengatakan merasa malu berada Harga diri rendah
diRSJ Lawang karena klien mengetahui
bahwa tempat ini adalah tempat bagi
orang yang memiliki sakit jiwa.
DO:
- Klien sering menyendiri
- Kontak mata kurang
- Bicara pelan
4. DS: Kerusakan interaksi sosial
- Klien mengatakan jarang bercakap-
cakap dengan orang lain dan lebih suka
menyendiri karena susah untuk memulai
pembicaraan
- Klien mengatakan sulit untuk memulai
pembicaraan
DO:
- Sering menyendiri
- Kontak mata kurang
- Bicara pelan

5. DS: Intoleransi aktivitas


- Klien mengatakan malas untuk
melakukan kegiatan di ruangan
DO:
- Klien lesu
- Kurang bersemangat
- Sering duduk menyendiri
6. DS: Gangguan persepsi sensori
- Klien mengatakan sering mendangar :Halusinasi Pendengaran
suara bisikan seorang lelaki yang
menyuruhnya untuk membentur-
benturkan kepalanya
DO:
- Suka menyendiri
- Mengarahkan telinganya pada suatu
titik
- Sering memandang satu arah
7. DS: Gangguan proses pikir
- Klien mengatakan tau kalau sekarang
berada di rumah sakit jiwa tapi klien
mengatakaan bahwa dirinya merasa tidak
sakit jiwa.
DO:
- Suka menyendiri
- Jarang berinteraksi dengan pasien lain
8. DS: Kurang pengetauan :
- Klien mengatakan tidak tau penyebab tentang gangguan jiwa.
sakit jiwa
DO:
-
DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Koping keluarga inefektif : kurang pengetahuan
2) Resiko tinggi kekerasan
3) Gangguan konsep diri : Harga diri rendah
4) Kerusakan interaksi sosial
5) Intoleransi aktivitas
6) Gangguan persepsi sensori :Halusinasi Pendengaran
7) Gangguan proses pikir
8) Kurang pengetauan : tentang gangguan jiwa.
Resiko perilaku kekerasan
(efek)

POHON MASALAH
PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi Pendengaran
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Nama : Tn.
S
No. CM : 105388
Jenis kelamin : Laki-
laki
Dx. Medis : Psikotik akut
Ruang : Kutilang
Perencanaan
Diagnosa Keperawatan Rencana Tindakan Keperawat
Tujuan Kriteria Evaluasi
an sensori persepsi: TUM: Klien
si (lihat/dengar/penghidu/raba/kecap) dapat
mengontrol Setelah 1 x pertemuan klien 1.1 Bina hubungan saling percaya
halusinasi mampu membina hubungan denganmenggunakan prinsip
yang saling percaya dengan perawat komunikasi terapeutik
dialaminya dengan kriteria evaluasi : a. Sapa klien dengan ramah baik
Tuk 1 : ekspresi wajah bersahabat, verbal maupun non verbal.
Klien dapat menunjuk-kan rasa senang,
membina ada montak mata, mau berjabatb. Perkenalkan nama, nama panggila
hubungan tangan, mau menyebutkan dan tujuan perawat berkenalan
saling percaya nama, mau membalas
c. Tanyakan nama lengkap dan nam
salam, mau duduk berdampi-
panggilan yang disukai klien
ngan dengan perawat mau
mengutarakan masalahnya. d. Buat kontrak yang jelas
e. Tunjukkan sikap jujur dan menepa
janji setiap kali interaksi
f. Tunjukan sikap empati dan
menerima apa adanya
g. Beri perhatian kepada klien dan
perhatikan kebutuhan dasar klien
h. Beri kesempatan klien untuk
mengungkapkan perasaannya.
i. Dengarkan ungkapan klien deng
penuh perhatian ekspresi perasaan
klien
Perencanaan
Diagnosa Keperawatan Rencana Tindakan Keperawat
Tujuan Kriteria Evaluasi
TUK 2 :
Klien dapat Setelah 1x interaksi klien 2.1 Adakan kontak sering dan singk
mengenal dapat menyebutkan : secara bertahap.
halusinasinya a. Isi
Observasi tingkah laku klien
b. Waktu terkait halusinasinya(dengar /lihat
/penghidu /raba /kecap), jika
c. Frekunsi menemukan klien yang sedang
halusinasi: bicara dan tertawa tanp
d. Situasi dan kondisi yang
stimulus, memandang ke kanan /
menimbulkan halusinasi
kekiri / kedepan seolah-olah ada
teman bicara.
Bantu klien mengenal halusinasiny
a. Jika menemukan klien sedang
halusinasi, tanyakan apakah ada
bisikan yang didengar/melihat
bayangan yang tanpa wujud atau
merasakan sesuatu yang tidak ada
wujudnya

b. Jika klien menjawab ada,


lanjutkan apa yang dialaminya
c. Katakan bahwa perawat
percaya klien mengalami hal
tersebut, namun perawat sendiri
tidak mengalaminya ( dengan nada
bersahabat tanpa menuduh atau
menghakimi)
d. Katakan bahwa klien lain juga ad
yang seperti klien

Setelah 1x interaksi klien e. Katakan bahwa perawat akan


menyatakan perasaan dan membantu klien
responnya saat mengalami
halusinasi : Jika klien tidak sedang berhalusina
Marah klarifikasi tentang adanya
pengalaman halusinasi, diskusikan
Takut dengan klien :
Perencanaan
Diagnosa Keperawatan Rencana Tindakan Keperawat
Tujuan Kriteria Evaluasi
Sedih a. Isi, waktu dan frekuensi terjadiny
halusinasi ( pagi, siang, sore, mala
Senang atau sering dan kadang kadang )
b. Situasi dan kondisi yang
menimbulkan atau tidak
menimbulkan halusinasi
2.2 Diskusikan dengan klien apa ya
dirasakan jika terjadi halusinasi
(marah/takut, sedih,
senang,bingung)beri kesempatan
mengungkapkan perasaan.
Diskusikan dengan klien apa yang
dilakukan untuk mengatasi perasaa
tersebut.
Diskusikan tentang dampak yang
akan dialaminya bila klien
menikmati halusinasinya.

TUK 3 : 1. Setelah 1x interaksi klien


Klien dapat menyebutkan tindakan yang3.1 Identifikasi bersama klien cara
mengontrol biasanya dilakukan untuk tindakan yang dilakukan jika terjad
halusinasinya mengendalikan halusinasinya halusinasi (tidur,marah, menyibuk
diri, dll).
2. Setelah 1x interaksi klien
menyebutkan cara baru 3.2 Diskusikan cara yang digunakan
mengontrol halusinasi klien
a. Jika cara yang digunakan adaptif
beri pujian.
b. Jika cara yang digunakan
3. Setelah 1x interaksi klien maladaptif diskusikan kerugian ca
dapat memilih dan tersebut
memperagakan cara 3.3 Diskusikan cara baru untuk
mengatasi halusinasi memutus/ mengontrol timbulnya
(dengar/lihat/penghidu/raba/ke halusinasi :
cap )
1. Menghardik halusinasi :Katakan
pada diri sendiri bahwa ini tidak
nyata (saya tidak mau dengar/ lih
penghidu/ raba /kecap pada saat
Perencanaan
Diagnosa Keperawatan Rencana Tindakan Keperawat
Tujuan Kriteria Evaluasi
halusinasi terjadi)
2. Menemui orang lain
(perawat/teman/anggota keluarga)
untuk menceritakan
tentang halusinasinya./bercakaakap
3. Membuat dan
4. Setelah 1x interaksi klien
melaksanakan jadwal kegiatan seh
melaksanakan cara yang telah
hari yang telah di susun.
dipilih untuk mengendalikan
halusinasinya 4. Memberikan pendidikan kesehat
tentang penggunaan obat untuk
mengendalikan halusinasi.
5. Setelah 1x pertemuan klien
mengikuti terapi aktivitas
kelompok
3.4 Bantu klien memilih cara yang
sudah dianjurkan dan latih untuk
mencobanya.

3.5 Beri kesempatan untuk melakuk


cara yang di pilih dan dilatih.
Pantau pelaksanaan yang telah dipilih
dan dilatih, jika berhasil beri pujia

Anjurkan klien mengikuti terapi


aktivitas kelompok, orientasi realit
stimulus persepsi
TUK 4 :
Klien dapat 1. Setelah 1x pertemuan 4.1 Buat kontrak dengan keluarga
dukungan dari keluarga, keluarga untuk pertemuan ( waktu, tempat
keluarga menyatakan setuju untuk dan topik )
dalam mengikuti pertemuan dengan
mengontrol perawat
halusinasinya 4.2 Diskusikan dengan keluarga (
pada saat pertemuan keluarga/
2. Setelah 1x interaksi kunjungan rumah)
keluarga menyebutkan 1. Pengertian halusinasi
pengertian, tanda dan gejala, 2. Tanda dan gejala halusinasi
proses terjadinya halusinasi 3. Proses terjadinya halusinasi
dan tindakan untuk 4. Cara yang dapat dilakukan klien
dan keluarga untuk memutus
Perencanaan
Diagnosa Keperawatan Rencana Tindakan Keperawat
Tujuan Kriteria Evaluasi
mengendali kan halusinasi halusinasi
5. Obat- obatan halusinasi
6. Cara merawat anggota keluarga
yang halusinasi di rumah ( beri
kegiatan, jangan biarkan sendiri,
makan bersama, bepergian bersam
memantau obat obatan dan cara
pemberiannya untuk mengatasi
halusinasi )
7. Beri informasi waktu kontrol ke
rumah sakit dan bagaimana cara
mencari bantuan jika halusinasi tid
tidak dapat diatasi di rumah

TUK 5 :
Klien dapat 1. Setelah 1x interaksi klien 5.1 Diskusikan dengan klien tentang
memanfaatkan menyebutkan; manfaat dan kerugian tidak minum
obat dengan obat, nama , warna, dosis, cara , ef
baik a. Manfaat minum obat terapi dan efek samping pengguna
obat
b. Kerugian tidak minum obat
c. Nama,warna,dosis, efek
terapi dan efek samping obat
5.2 Pantau klien saat penggunaan ob
2. Setelah 1x interaksi klien Beri pujian jika klien menggunaka
mendemontrasikan obat dengan benar
penggunaan obat dengan benar5.3 Diskusikan akibat berhenti minu
obat tanpa konsultasi dengan dokte
3. Setelah 1x interaksi klien Anjurkan klien untuk konsultasi
menyebutkan akibat berhenti kepada dokter/perawat jika terjadi
minum obat tanpa konsultasi hal hal yang tidak di inginkan
dokter

TINDAKAN dan EVALUASI KEPERAWATAN


Nama : Tn.
S
Ruangan : Kutilang
No.
CM : 105388
Dx. Medis : Psikotik akut
Tanggal/ Diagnosa Tindakan
No Evaluasi Ttd
Jam Keperawatan Keperawatan
1 10/2/2015 Gangguan SP 1 S:
11.00 persepsi 1. Membina hubungan
sensori : saling percaya Siang
Halusinasi Selamat siang pak?
Pendengaran Kenalkan nama saya
Arik Mega Sandi,
saya mahasiswa yang S
sedang praktik disini Mojokerto
Nama bapak siapa?
Asalnya dari mana Saya
pak? mendengar
bisikan suara
2. Mengidentifikasi
jenis halusinasinya Suara laki-laki
Apa yang bapak yang menyuruh
rasakan? untuk
3. Mengidentifikasi isi menabrakkan
halusinasinya diri ke mobil
Bisikan apa yang
bapak dengar? Suara-suara itu
sewaktu-waktu
4. Mengidentifikasi saya dengar
waktu halusinasinya
Biasa pada saat apa tidak sering
bisikan itu terjadi? terkadang

5. Mengidentifikasi
Frekuensi
halusinasinya
Bisikannya sering ya
bapak? biasanya pada
saat saya lagi
sendiri

6. Mengidentifikasi
situasi yang Saat di rumah
menimbulkan ketika suara itu
halusinasi muncul saya
Tanggal/ Diagnosa Tindakan
No Evaluasi Ttd
Jam Keperawatan Keperawatan
pada saat bapak langsung
sedang apa bisikan itu mencoba
datang? menabrakkan
diri ke mobil
7. Mengidentifikasi dan
respon pasien membenturkan
terhadap halusinasi kepala ke
ketika di rumah apa tembok
yang bapak lakukan Saya biarkan
saat bisika itu saja
datang?
suaranya tetap
ada Cuma
sudah tidak
Klau disini jika suara saya hiraukan
itu muncul apa yang
bapak lakukan Saya tidak
Jika suara itu mau di ajarkan
dibiarkan, apakah menghardik
suara bisikan itu bisa suara-suara
hilang?
O:
8. Mengajarkan Mau
pasien menghardik menjawab
halusinasi salam
saya akan Mau
mengajarkan bapak berjabat tangan
cara menghardik Mau
halusinasi menyebutkan
nama
Mau
mengungkap
perasaannya
Kontak mata
kurang
Pasien
menolak di
ajari
menghardik
halusinasi

A:
Pasien
mampu
Tanggal/ Diagnosa Tindakan
No Evaluasi Ttd
Jam Keperawatan Keperawatan
mengidentifika
si jenis, waktu,
isi, frekwensi,
situasi dan
respon terhadap
halusinasinya
Pasien
belum mau
memperagakan
cara
menghardik
halusinasi

P:
Pasien :
Anjurkan
pasien latihan
mengontrol
halusinasi
dengan cara
menghardik
bila halusinasi
muncul
Perawat :
Ulangi SP 1
cara
mengontrol
halusinasi
dengan
menghardik

11/2/2015 Gangguan SP 1 : S:
persepsi 1. Bina hubungan
sensori : saling percaya pagi mas
Halusinasi salamat pagi bapak
Pendengaran lupa mas
Masih ingat nama
saya siapa? iya mas Arik

nama saya Arik pak, saya baik


di ingat ya bapak mas

Gimana kabar hari


Tanggal/ Diagnosa Tindakan
No Evaluasi Ttd
Jam Keperawatan Keperawatan
ini bapak?? iya saya mau
diajari cara
2. Mengajarkan menghardik
pasien menghardik
halusinasi
mengingat yang
kemarin saya pergi... pergi...
tawarkan, gimana saya tidak mau
bapak mau saya dengar... kamu
ajarkan cara suara palsu
menghardik
halusinasi?

syukurlah kalau
bapak mau, nanti jika pergi... pergi...
bisikan itu datang lagi saya tidak mau
bapak harus bisa dengar... kamu
mengusirnya dengan suara palsu
cara mengatakan
[pergi... pergi... saya iya mas
tidak mau dengar...
kamu suara palsu]
coba bapak ulangi O:
Pasien mau
iya benar seperti itu, memperagakan
di coba sekali lagi cara
bapak mengontrol
halusinasi
jadi nanti jika suara dengar
itu datang lagi bapak menghardik.
harus bilang seperti Kontak mata
itu bersahabat

A:
Pasien mampu
memperagakan
cara
menghardik
halusinasi

P:
Tanggal/ Diagnosa Tindakan
No Evaluasi Ttd
Jam Keperawatan Keperawatan
Pasien :
Anjurkan
pasien
menghardik
halusinasi bila
halusinasi
muncul
Perawat :
Lanjutkan
SP 2
12/2/2015 Gangguan SP 2 S:
persepsi Mengevaluasi
sensori : kegiatan yang lalu (SP pagi mas,
Halusinasi 1) alhamdulillah
Pendengaran 1. Bina hubungan
saling percaya iya mas, saya
pagi bapak, gimana masih
sudah membaik pak? mendengar
setalah saya suara-suara itu
mengajari cara meski jarang
menghardik
halusinasi, apa bisikan
itu masih terdengar?
2. Melatih
mengendalikan gimana cara
halusinasi dengan mas?
bercakap-cakap
dengan orang lain.
kalau begitu iya mas akan
sekarang saya akan saya coba tapi
mengajari bapak cara saya susah
mengendalikan kalau harus
halusinasi memulai
bapak harus sering pembicaraan
bercakap-cakap dengan orang
dengan pasien lain lain
agar suara-suara itu
tidak terdengar lagi
iya mas

kalau begitu bapak


harus sering menyapa
pasien-pasien lain O:
disini, agar bisa lebih Pasien
Tanggal/ Diagnosa Tindakan
No Evaluasi Ttd
Jam Keperawatan Keperawatan
akrab dan bapak akan bercakap-cakap
mudah untuk memulai dengan pasien
pembicaraan lain

A:
Pasien
mampu
mengontrol
halusinasi
dengan
bercakap-cakap
dengan pasien
lain

P:
Pasien :
Anjurkan
pasien
menggunakan
cara
menghardik
dan bercakap-
cakap saat
suara itu
muncul

Perawat :
Lanjutkan
SP3
13/2/2015 Gangguan SP3 : S:
persepsi Mengevaluasi
sensori : kegiatan yang lalu (SP sudah mas,
Halusinasi 1, SP 2) sepertinya
Pendengaran 1. Mengevaluasi bisikan itu
kegiatan pasien sudah mulai
gimana bapak? Apa berkurang
bapak sudah mencoba
cara yang saya
ajarkan?

2. Melatih pasien iya mas, saya


mengendalikan akan lakukan
halusinasi dengan yang penting
Tanggal/ Diagnosa Tindakan
No Evaluasi Ttd
Jam Keperawatan Keperawatan
cara melakukan semua itu
kegiatan untuk
syukurlah kalau mempercepat
begitu, jadi bapak kesembuhan
harus lebih saya
menyibukkan diri
supaya halusinasi itu
benar-benar hilang O:
dengan cara Pasien mau
melakukan kegiatan- membantu
kegiatan yang ada membersihkan
ruangan seperti
mengepel dan
menyapu

A:
Pasien
mampu
mengontrol
halusinasi
dengan cara
melakukan
aktivitas

P:
Pasien :
Anjurkan
sering aktivitas
di ruangan
Perawat :
Lanjutkan
SP4

16/2/2015 Gangguan SP 4 : S:
persepsi 1. Mengevaluasi
sensori : semua yang telah di
Halusinasi ajarkan ke pasien alhamdulillah
Pendengaran gimana? Apa bapak semua itu
sudah terbiasa dengan sangat
semua yang sudah membantu
Tanggal/ Diagnosa Tindakan
No Evaluasi Ttd
Jam Keperawatan Keperawatan
saya ajarkan? saya

bapak harus terus iya mas


melakukannya
2. Memberikan
pendidikan kesehatan
mengenai penggunaan saya tidak tau
obat secara teratur mas
apa bapak mengerti
akibat dari tidak begitu ya
teratur minum obat? mas? Tapi
jika bapak tidak selama ini saya
meminum obat tidak pernah
dengan teratur maka tidak meminum
sakit yang bapak obat
alami akan kambuh
bagus kalau begitu, iya mas
bapak harus
mempertahankannya O:
Pasien
meminum obat
yang telah di
berikan pada
pasien

A:
Pasien dapat
memanfaatkan
obat dengan
baik

P:
Pasien :
Anjurkan
pasien untuk
meminum obat
sesuai jadwal
minum obat
secara teratur
dan rutin
Perawat :
Pertahankan
SP4,
Evaluasi
Tanggal/ Diagnosa Tindakan
No Evaluasi Ttd
Jam Keperawatan Keperawatan
kegiatan yang
lalu (SP 1- SP
3)
Libatkan
untuk
mengikuti TAK
BAB IV
PENUTUP

1. Kesimpulan
Saat memberikan Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Halusinasi
ditemukan adanya perilaku menarik diri sehingga perlu melakukan pendekatan
secara terus menerus, membina hubungan saling percaya yang menciptakan
suasana yang terapiutik dalam melaksanakan Asuhan Keperawatan
Dalam melaksanakan Asuhan Keperawatan pada pasien khususnya dengan
halusinasi, pasien dapat membutuhkan kehadiran keluarga sebagai sistem
pendukung yang mengerti keadaaan dan permasalahan dirinya. Disamping itu
perawat atau petugas kesehatan juga membutuhkan kehadiran keluarga dalam
memberikan data yang diperlukan dan membina kerjasama memberi Asuhan
Keperawatan pada pasien.
2. Saran
Dalam memberikan Asuhan Keperawatan hendaknya perawat mengikuti
langkah- langkah proses keperawatan dan melaksanakannya secara sistematis dan
tertulis agar tindakan berhasil dan optimal.
Dalam menangani kasus halusinasi hendaknya perawat melakukan
pendekatan secara bertahap dan terus-menerus untuk membina hubungan saling
percaya antara perawat dan klien sehingga tercipta suasana terapiutik dalam
pelaksanaan Asuhan Keperawatan yang diberikan.
Bagi keluarga klien hendaknya sering mengunjungi klien di rumah sakit,
sehingga keluarga dapat mengetahui perkembangan kondisi klien dan dapat
membantu perawat bekerjasama dalam pemberian Asuhan Keperawatan kepada
klien.

DAFTAR PUSTAKA
Keliat Budi, Anna, Peran serta keluarga dalam perawatan klien gangguan jiwa,
EGC, 1995
Maramis, W.F, ilmu kedokteran jiwa, erlangga universitas press, 1999
Residen bagian psikiatri UCLA, buku saku psikiatri, EGC, 1997
Stuart, GW.2002. buku saku keperawatan jiwa. Edisi 5. Jakarta : EGC.
Tarwoto dan Wartonah.2000. kebutuhan dasar manusia. Jakarta.
Townsend, Marry C. 1998. Buku saku diagnosa keperawatan pada perawatan
psikiatri. Edisi 3. Jakarta.EGC.
BAB 3
TINJAUAN KASUS

RUANGAN RAWAT : Wijaya Kusuma TANGGAL DIRAWAT


: 31-12-2013
A. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian dilakukan pada tanggal 01 Januari 2014 di ruangan Wijaya
KusumaRS Jiwa Menur Surabaya. Adapun data yang didapat bahwa klien masuk
rumah sakit diruangan pada tanggal dengan nomor register dengan diagnosa
medis F20.3(Skizophrenia ).

I. IDENTITAS KLIEN
Inisial : Tn.M Tanggal Pengkajian : 01 Januari 2014
Umur : 25 Tahun RM No. : 03-xx-xx
Informan : Pasien, Keluarga Dan Rekam Medic
II. ALASAN MASUK
Px berbicara melantur dan marah marah
k/u : px mengatakan mendengar ada yang berbisik bisik dan menyuruhnya untuk
berbuat hal yang tidak baik ( contoh : disuruh memukul,disuruh mensholati
ibunya )
III. FAKTOR PREDISPOSISI
1. Pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu ? Ya
2. Pengobatan sebelumnya ? Kurang berhasil
3. Pengalaman
Aniaya fisik : klien pernah mengalami anaiaya fisik
Aniaya Seksual : klien tidak pernah mengalami aniaya seksual
an : klien tidak pernah mengalami penolakan
an dalam keluarga : klien pernah mengalami kekerasan
Tindakan kriminal : klien tidak pernah melakukan tindakan kriminal
Jelaskan No 1,2,3 : pasien marah-marah kepada ibunya.
kakak pasien mengatakan bahwa px pernah dirawat di rumah sakit jiwa
menur pada tahun 2011 dengan keluhan yang sama, sebelumnya px berobat ke
kyai untuk sembuh akan tetapi pengobatan kurang berhasil. Selama selang 3 tahun
setelah sembuh px tidak pernah kontrol dengan tidak teratur minum obatnya
karena merasa sudah sembuh. Selama dirumah pasien marah-marah dan memukul
ibunya.
lah Keperawatan :
- Regimen terapi inefektif
- Resiko Perilaku kekerasan
4. Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa ? Tidak
ah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
5. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan
px mengatakan putus cinta dan di tinggal pacarnya menikah
Masalah Keperawatan : Respon Pasca Trauma

IV. FISIK
1. Tanda Vital : TD : 120/80 mmHg Nadi : 84x/menit Suhu : C P : 19x/menit
2. Ukur : TB : 174cm BB : 59kg
3. Keluhan fisik : Tidak
Jelaskan : selama di rumah sakit jiwa px tidak pernah mengalami sakit
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan

V. PSIKOSOSIAL
1. Genogram
Jelaskan : px anak k 5 dari 6 bersaudara.
Masalah Keperawatan : Koping Individu Tidak Efektif
2. Konsep diri
a. Gambaran diri : px menyukai seluruh bagian tubuhnya, penampilanya kurang
rapi, tampak lesu ketika berjalan, px mondar mandir di ruangan
b. Identitas diri : px seorang laki laki berusia 25 tahun, belum menikah,
berpendidikan terakhir hanya SD.
c. Peran : px bekerja sebagai kuli bangunan, setiap harinya px bekerja
dengan tepat waktu.
d. Ideal diri : px ingin berkumpul dengan keluarganya terutama dengan
ibunya, dan pasien ingin menikah.
e. Harga diri : px merasa malu karena px seorang tamatan SD dan px
ditinggal pacarnya untuk menikah.
Masalah Keperawatan : Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah
3. Hubungan Sosial
a. Orang yang berarti : px mengatakan paling dekat dengan ibunya karena
merupakan seseorang yang paling berharga.
b. Peran serta dalam kegiatan/ masyarakat : px mengatakan hubungannya dengan
tetangganya tidak baik karena hanya berprofesi sebagai tukang kuli bangunan.
Saat di RS, px suka menyendiri tidak meu bergaul dengan px lainya.
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain : px kurang bisa bergabung
atau berinteraksi dengan orang lain baikl di rumah maupun di lingkungan rumah
sakit.
Masalah Keperawatan : Gangguan Interaksi Sosial : Menarik Diri
4. Spiritual
a. Nilai dari keyakinan : px mengatakan bahwa agamanya islam.
b. Kegiatan ibadah : sudah tidak sholat sejak 3 bulan yang lalu selama
dirumah, px mengatakan tidak pernah sholat selama di RS
Masalah Keperawatan : Distrees Spiritual
GENOGRAM
Keterangan : : laki - laki
: perempuan
: pasien
VI. STATUS MENTAL
1. Penampilan
Tidak rapi
Jelaskan : px berpenampilan rambut tidak pernah disisir, memakai sarung
berantakan untuk lipatannya
Masalah Keperawatan : Defisit Perawatan Diri
2. Pembicaraan
Lambat dan tidak mampu memulai pembicaraan
Jelaskan : px menjawab seperlunya saja dengan nada berbicara lambat
Masalah Keperawatan : Gangguan Komunikasi Verbal

3. Aktivitas Motorik:
lesu
Jelaskan : px sering menyendiri diruangan, ADL diarahkan oleh petugas
Masalah Keperawatan : Penurunan Aktifitas Motorik
4. Alam Perasaan
khawatir
Jelaskan : px mengatakan khawatir jika mendengar bisikan bisikan itu
datang.
Masalah Keperawatan : Ansietas
5. Afek
Jelaskan : px bisa tersenyum dan sedih ketika diberi stimulus
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
6. Interaksi selama wawancara
Kontak mata kurang
Jelaskan : px lebih banyak diam diri, pandangan mata melihat ke arah lain
ketika di ajak bicara.
Masalah Keperawatan : Gangguan Interaksi Sosial : Menarik Diri
7. Persepsi
Pendengaran
Jelaskan : px mengatakan sering mendengar bisikan bisikan yang
menyuruhnya untuk berbuat sesuatu ( misalnya disuruh memukul, disuruh untuk
mensholati ibunya), saat di kaji px mondar mandir, saat ditanya bahwa ada yang
membisiki untuk pulang dan mensholati ibunya. Respon px saat mendengar suara
itu. Respon px saat mendengar suara suara itu px mengikuti perintah sura tersebut.
Juga mondar mandir, selalu bicara sendiri.

Masalah Keperawatan :
- gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran
- resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan
8. Proses Pikir
Jelaskan : px bicara seperlunya saja
Masalah Keperawatan : Tidak Ada Masalah Keperawatan
9. Isi Pikir
Jelaskan : pasien mengatakan semua apa yang dialaminya.
Masalah Keperawatan : Tidak ada Masalah Keperawatan
10. Tingkat Kesadaran
Jelaskan : px mengatakan bisa menyebutkan waktu, tempat, orang secara
benar
Masalah Keperawatan : Tidak Ada Masalah Keperawatan
11. Memori
Jelaskan : px ingat pernah dibawa ke kyai dan menceritakan hal hal yang
pernah di alaminya
Masalah Keperawatan : Tidak Ada Masalah Keperawatan
12. Tingkat Konsentrasi dan berhitung
Jelaskan : px mampu berhitung dalam bentuk sederhana ( menghitung angka
)
Masalah Keperawatan : Tidak Ada Masalah Keperawatan
13. Kemampuan Penilaian
Gangguan bermakna
Jelaskan : px mengatakan suara yang di dengar itu benar benar ada sehingga
px melakukan isi suara tersebut
Masalah Keperawatan : Gangguan Proses Pikir

14. Daya Tilik Diri


Mengingkari penyakit yang diderita
Jelaskan : px mengatakan bahwa dirinya tidak sakit
Masalah Keperawatan :
- Gangguan Proses Pikir
- Resiko Regimen Terapi Inefekktif
VII.KEBUTUHAN PULANG
1. Kemampuan klien memenuhi/ menyediakan kebutuhan
Makanan : ya Pakaian : ya Uang :tid
ak
Keamanan : tidak Transportasi : tidak
Perawatan Kes : tidak Tempat tinggal : tidak
Jelaskan : segala kebutuhan dipenuhi oleh keluarga dan rumah sakit
Masalah Keperawatan : gangguan pemenuhan kebutuhan kesehatan
2. Kegiatan hidup sehari-hari
a. Perawatan diri :
Mandi : minimal BAB/BAK : minimal
Kebersihan : minimal Ganti pakaian : minimal
Makan : minimal
Jelaskan : px melakukan perawatan diri dengan di arahkan dan di bantu oleh
petugas
Masalah Keperawatan : Defisit Perawatan Diri

b. Nutrisi
- Apakah anda puas dengan pola makan anda ? Ya
- Apakah anda makan memisahkan diri ? Tidak
- Frekuensi makan sehari : 3x sehari
- Frekuensi kudapan sehari : 1x sehari
- Nafsu makan : Meningkat
- Diet khusus :-
Jelaskan : px makan 3 kali sehari kudapan 1 kali dihabiskan.
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
c. Tidur
- apakah ada masalah : Tidak
- apakah anda merasa segar setelah bangun tidur : Ya
- apakah anda kebiasaan tidur siang : Ya lamanya : 5 jam
- apa yang menolong anda tidur :-
- waktu tidur malam : 19.30 Waktu bangun jam : 05.00
- sulit untuk tidur : tidak Terbangun saat tidur : tidak
- bangun terlalu pagi : tidak Gelisah saat tidur : tidak
- Semnabolisme : tidak Berbicara dalam tidur : tidak
Jelaskan : px mengatakan bahwa lamanya pasien tidur selama 5 jam. Pasien
tidak mengalami masalah dalam tidur. Saat malam hari biasanya pasien tidur
sekitar pukul 19.30 sampai dengan pukul 05.00.
Masalah Keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

3. Kemampuan klien dalam


- Mengantisipasi kebutuhan sendiri : ya
- Membuat keputusan berdasarkan keputusan sendiri : ya
- Mengatur penggunaan obat : tidak
- Melakukan pemeriksaan kesehatan (follow up) : ya
Jelaskan : px tidak mampu mengatur penggunaan obat secara mandiri
Masalah Keperawatan : inefektifitas penetalaksanaan regimen medik
4. Klien memiliki system pendukung
Keluarga : ya Teman sejawat : ya
Profesional/terapis : tidak Kelompok social : tidak
Jelaskan : px dapat dukungan dari keluarganya
Masalah Keperawatan : kerusakan komunikasi
5. Apakah klien menikmati saat bekerja yang menghasilkan atau hobi :
ya
Jelaskan : px menikmati pekerjaan sebagai kuli bangunan
Masalah Keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

VIII. MEKANISME KOPING


Adaptif : Tidak ada
Maladaptif :
Reaksi lambat
Menghindar
Mencederai diri
menyendiri
Masalah Keperawatan : Koping Individu Inefektif
IX. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN
Masalah dengan dukungan kelompok, spesifik : px lebih banyak menyendiri
Masalah berhubungan dengan lingkungan, spesifik : px tidak mau berinteraksi dan
berkomunikasi dengan px lain. Px berinteraksi dengan di arahkan oleh petugas.
Masalah dengan pendidikan, spesifik : px tamat SD
Masalah dengan pekerjaan, spesifik : px bekerja sebagai kuli bangunan
Masalah dengan perumahan, spesifik : px tinggal bersama keluarganya. Di keluarga
px bisa berinteraksi dengan semua anggota keluarga.
Masalah ekonomi, spesifik : px belum bisa mencukupi ekonominya yang hanya
sebagai kuli bangunan untuk dirinya dan keluarganya, selama di RS px
menggunakan jamkesmas
Masalah dengan pelayanan kesehatan, spesifik : px pernah MRS di RSJ Menur
pada tahun 2011 dengan keluhan yang sama.
Masalah lainya, spesifik : px merasa bosan di RSJ dan ingin pulang
Masalah keperawatan :
- Gangguan Konsep Diri : HDR
- Gangguan Interaksi Sosial : Menarik Diri
- Resiko Mencederai Diri Sendiri

X. PENGETAHUAN KURANG TENTANG


Penyakit jiwa
Faktor presipitasi
koping
Masalah keperawatan : kurang pengetahuan tentang penyakit jiwa dan
ketidak patuhan minum obat

XI. DATA LAIN-LAIN


WBC (LEOKOSIT) 10.7 103/ul
RBC (ERITROSIT) 4,48 106/ul
HGB (HEMOGLOBIN) 13,3 g/dl
HCT (HEMATOKRIT) 38,8 %
MCV 86,6 fL
MCH 29,7 pg
MCHC 34,3 g/dl
PLT (TROMBOSIT) 205 103/ul
RDW 12,6 %
PDW 10,7 fL
MPV 9,0 fL
P-LCR 17,3 %
Hasil lab diambil pada tanggal 1 januari 2014

XII. ASPEK MEDIK


Diagnosa Medik : F20.3 ( skizofrenia undifferent)
Terapi Medik : Clhorpomazin (CPZ) 2x100mg
Trihezipenidyl (THD) 2x2mg
risperidol 2x2mg
XIII. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN

Regiment terapi inefektif


Gangguan konsep diri
Koping individu inefektif
Respon pasca trauma
Resiko mencederai diri dan orang lain
Gangguan interaksi sosial : menarik diri
Distrees spiritual
Defisit perawatan diri
Gangguan komunikasi verbal
Penurunan aktifitas motorik
Ansietas
Ganggaun persepsi sensori : halusinasi pendengaran
Gangguan proses pikir
Gangguan pemenuhan kebutuhan kesehatan
Inefektifitas penatalaksanaan regimen medik
Koping mekanisme inefektifitas
Kurang pengetahuan tentang kesehatan mental
XIV. PRIORITAS DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran

ANALISA DATA SINTESA

NAMA : Tn. M NIRM : 039915 RUANGAN : WIJAYA


KUSUMA
TGL DATA ETIOLOGI MASALAH T.T.
DS : Halusinasi
- Pasien sering pendengaran
mendengarkan bisikan-
bisikan yng
menuruhnya untuk
berbuat sesuatu
(disuruh memukul, dll)
- Respon pasien
mengikuti perintah
bisikan tersebut
- Pasien saat dikaji
mendengar bisikan
untuk pulang dan
mensholati ibunya
- Pasien mengatakan
bahwa suara itu benar-
benar ada

DO :
- Pasien mondar-mandir
- Pasien selalu
menyendiri kurang bisa
berinteraksi dengan
pasien lainnya
- Pasien selalu
berbicara disuruh
pulang
- Pasien berbicara
melantur

POHON MASALAH

Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan


Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran

Gangguan interaksi sosial : Menarik diri

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

NAMA : Tn. M NIRM : 03xxxx RUANGAN : WIJAYA


KUSUMA
TGL DX KEP IMPLEMENTASI EVALUASI T.T.
1-1-14 Perubahan SP I S : Pasien menjawab
persepsi Membina hubungan namanya mas
sensori : saling percaya Mahmudi Affandi
Halusinasi - Orientasi O:
pendengaran Selamat sore mas, - pasien menjawab
perkenalkan nama saya sesuai pertanyaan
Amirullo Ashadi, bisa - kontak mata
dipanggil Amir. Saya kurang
mahasiswa dari akper - pasien tampak
sutopo. Boleh saya tau bingung
mas namanya siapa ? A : SP I belum
- Kerja tercapai
Bagaimana perasaan P: Ulang SP I
mas hari ini ?
Boleh saya tahu
pekerjaan mas?
Apakah mas mau
menceritakan kepada
saya, kenapa mas ada
disini?
- Terminasi
Baiklah mas, besok
kita berbincang-bincang
lagi, sekarang mas bisa
beristirahat
2-1-14 Perubahan SP 1 S : Pasien
persepsi Cara mengontrol mengatakan mau
sensori : halusinasi : menghardik belajar mengontrol
Halusinasi - Orientasi halusinasinya
pendengaran Selamat siang mas O:
fandi, bagaimana - Pasien mampu
keadaan mas hari ini? mengungkapkan
Kita bicarakan tentang halusinasinya
bisikan yang mas - Ada kontak mata
dengar ya? - Pasien mampu
-Kerja mengungkapkan
Apakah bisikan itu menghardik
mas dengar terus halusinasi
menerus/ sewaktu- A : SP 1 tercapai
waktu? Bagaimana P : lanjutkan SP 2
kalau kita belajar
berlatih untuk
menghardik bisikan
itu?
Saat bisikan itu
terdengar mas bilang,
saya tidak mau
mendengar begitu mas
secara berulang. Coba
mas peragakan.
- Terminasi
Dilatih terus ya mas,
besok kita ketemu lagi
untuk mengatasi bisikan
dengan cara kedua,
bagaimana mas ? ya
sudah mas, mas bisa
beristirahat lagi.

3-1-14 Perubahan SP 2 S : Pasien


persepsi Pasien dapat mengatakan mau
sensori : mengontrol belajar cara
Halusinasi halusinasinya mengontrol
pendengaran - Orientasi halusinasi yang ke 2
Selamat pagi mas O:
fandi, bagaimana kabar - Pasien mampu
hari ini mas? Apa yang mengungkapkan
saya ajarkan kemarin halusinasinya
sudah mas lakukan? - Ada kontak mata
Apa sudah mas lakukan - Pasien tenang
secara teratur latihan - Pasien mampu
menghardik saat menghardik
halusinasi muncul? halusinasi
- Kerja A : SP 2 belum
Bagaimana kalau kita tercapai
ulangi yang saya P : Ulangi SP 2
ajarkan kemarin mas?
Iya bagus mas,
pertahankan seperti itu.
Sekarang saya akan
memberi tahu mas cara
yang kedua yaitu ketika
mas mendengar bisikan,
langsung bisa
mengobrol dengan
pasien lain atau dengan
saya.
- Terminasi
Dilatih terus ya mas,
apa yang saya ajarkan.
Mas juga jangan suka
menyendiri. Kalau mas
butuh teman mengobrol
mas bisa panggil saya.
Sekarang mas bisa
istirahat lagi.
4-1-14 Sp 2 S : px mengatakan
Px dapat mengontrol mau mengobrol
halusinasinya dengan dengan px lain dan
melakukan kegiatan ingin cepat pulang
- Orientasi serta bisikan bisikan
selamat pagi mas sudah berkurang
fandi, sudah makan pagi O:
mas? - ada kontak mata
apa mas fandi masih - px berinteraksi
mendengar bisikan dengan px lainnya
bisikan ? - px tampak tenang
apa yang saya ajarkan - px mampu
kemrin sudah mas fandi mengungkapkan
lakukan ? perasaannya
bagaimana rasanya A : SP 2 tercapai
mengobrol dengan px P : lanjut SP 3
lainnya mas?
- Kerja
bagaimana kalau kita
ulangi yang saya
ajarkan kemarin mas ?
Pertahankan seperti itu
ya mas, baik mas
bagaimana kalau kita
membuat daftar
aktivitas buat mas besok

- Terminasi
aktivitas yang sudah
di buat tadi
dilaksanakan ya mas
mas kalau bisa jangan
menyendiri mas,
berinteraksi dengan px
lainnya
besok kita bertemu
lagi ya mas di tempat
ini

5-1-14 Sp 2 S : Px mengatakan
Px mampu melakukan sudah berkurang
aktivitas yang sudah mendengar bisikan
dijadwalkan dan px sedikit cara
- Orientasi mengontrol
selamat pagi mas halusinansinya
fandi, bagaimana O:
keadaannya sekarang? - Ada kontak mata
apa sudah makan ? - Wajah bersahabat
bagaimana mas apa - Px mampu
aktivitas yang sudah mengungkapkan
kita buat kemarin sudah perasaannya
mas lakukan dengan - Px tampak tenang
benar ? A : SP 3 tercapai
Apa masih ada P : lanjut SP 4
terdengar bisikan
bisikan mas ?
- Kerja
bagaiman kalau kita
ulangi yang saya
ajarkan dulu mas?
Iya mas bagus, coba
mas peragakan , nanti
kalau lupa saya
ingatkan lagi mas?
Pertahankan cara cara
tersebut ya mas ?
- Terminasi
dilatih terus mas,
yakin mas bisa untuk
mengontrol
halusinasinya yang mas
dengar
baik mas, besok kita
ketemu lagi untuk
mengobrol tentang obat
yang mas biasa minum,
sekarang mas iastirahat
lagi

LAPORAN PENDAHULUAN
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
HALUSINASI PENDENGARAN
Interaksi ke : I
Tanggal : 1 januari 2014
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi pasien
DS : Px mengatakan mendengar bisikan-bisikan
DO : - Px tampak bingung
- Kontak mata kurang
- Px mengucapakan disuruh pulang
2. Diagnose keperawatan
Gannguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran
3. Tujuan khusus
Klien dapat membina hubungan saling percaya
4. Tindakan keperawatan
Sapa klien dengan ramah, baik verbal maupun non verbal
Perkenalkan diri dengan sopan
Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan
Jujur dan menepati janji
Berikan perhatian dan sikap ramah

B. STRATEGI KOMUNIKASI
1. Fase Orientasi
a. Salam terapeutik
Selamat sore mas, perkenalkan nama saya amirullo ashadi, biasanya dipanggil
amir, kalu boleh tau, nam mas siapa ? mas biasanya dipanggil siapa ? mas asalnya
dari mana ? kalau saya dari Surabaya, saya mahasiswa akper sutopo yang akan
merawat mas selama di ruangan ini.
b. Evaluasi / Validasi
DS : px mampu menyebutkan nama perawat yang mengkaji
DO : px menjawab pertanyaan dengan sesuai

c. Kontrak
Topic
Bagaimana sekarang kita mengobrol tentang mas, dan mas bisa menceritakan
masalah mas kepada saya !
Waktu
Bagaimana kalau kita mengobrol 20 menit
Tempat
Mas mau ngobrol dimana ? bagaimana kalau disini saja !
2. Fase kerja
Selamat sore mas fandi, bagaimana perasaan mas hari ini ? boleh saya tau
pekerjaan mas apa ? apa mas mau menceritakan kepada saya kenapa mas ada
disini?
3. Fase terminasi
a. Evaluasi subjektif
Apa mas senang berbicara dengan saya? Coba mas ulangi siapa nama saya tadi?
b. Evaluasi objektif
Klien tampak lesu
c. Tindak lanjut
Baiklah mas besok kita ngobrol lagi, sekarang mas bisa istirahat lagi.
d. Kontrak yang akan datang
Topic
Bagaimana kalau besok kita mengobrol lagi mas? Besok kita bahas lebih lanjut
lagi masalah yang ibu alami.
Waktu
Bagaimana kalu kita mengobrol selama 20 menit mas
Tempat
Besok kita mengobrol disini lagi ya pak?

LAPORAN PENDAHULUAN
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
HALUSINASI PENDENGARAN
Interaksi ke : II
Tanggal : 2 januari 2014
C. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi pasien
DS : Px mengatakan masih mendengar bisikan-bisikan
DO : - Px mampu mengungkapkan halusinasinya
- ada kontak mata kurang
- ekspresi wajah bersahabat
2. Diagnose keperawatan
Gannguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran
3. Tujuan khusus
Klien mampu mengenal halusinasinya
4. Tindakan keperawatan
BHSP
Bantu klien mengenal halusinasinya ( jenis, isi, waktu terjadi, frekuensi dan
respon saat terjadinya halusinasi )
Latihan mengontrol halusinasi dengan cara menghardik ( jelaskan cara
menghardik, peragakan cara menghardik, dan minta klien untuk memperagakan
ulang )
Pantau penerapan dan beri penguatan

D. STRATEGI KOMUNIKASI
1. Fase Orientasi
a. Salam terapeutik
Selamat siang mas fandi, bagaimana perasaanya hari ini? Saya datang lagi untuk
menepati janji yang kemarin, apa mas ingat nama saya? Ya betul mas,
Alhamdulillah mas masih ingat nama saya.
b. Evaluasi / Validasi
Px terlihat tenang hari ini, apa sudah tidak mendengar bisikan-bisikan

c. Kontrak
Topic
Hari ini saya akan mengajarkan mas fandi untuk latihan mengontrol
halusinasinya. Bagaimana mas?
Waktu
Bagaimana kalau kita latihan selama 20 menit mas?
Tempat
Bagaimana kalau kita latihan disini saja mas?
2. Fase kerja
Apakah bisikan itu terdengar terus menerus/sewaktu-waktu? Bagaimana mas
untuk mengatasi bisikan itu? Bagaimana kalau kita berlatih menghardik bisikan
itu? Saat bisikan itu terdengar langsung mas bilang saya tidak mau dengar
begitu berulang-ulang. Coba mas peragakan.
3. Fase terminasi
a. Evaluasi subjektif
Klien mau belajar mengontrol halusinasinya dan mau memperagakan ulang
menghardik halusinasinya
b. Evaluasi objektif
Klien mampu mengungkapkan halusinasinya, ada kontak mata.
c. Tindak lanjut
Dilatih terus ya mas, besok kita bertemu lagi untuk menghilangkan bisikan-
bisikan dengan cara yang kedua, bagaimana mas? Ya sudah mas istirahat lagi.
d. Kontrak yang akan datang
Topic
Besok kita belajar cara menghilangkan bisikan-bisikan dengan cara kedua.
Bagaimana mas?
Waktu
Besok kita ngobrol 15 menit lagi ya mas
Tempat
Besok kita mengobrol dimana mas? Baiklah disini saja

LAPORAN PENDAHULUAN
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
HALUSINASI PENDENGARAN
Interaksi ke : III
Tanggal : 3 januari 2014
E. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi pasien
DS : - Px mengatakan mendengar bisikan-bisikan
DO : - ada kontak mata
- px tampak tenang
- px mampu mengungkapkan halusinasinya
2. Diagnose keperawatan
Gannguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran
3. Tujuan khusus
Px dapat mengontrol halusinasinya
4. Tindakan keperawatan
Evaluasi kegiatan lalu ( SP I )
Latih klien untuk berbicara dengan orang lain saat halusinasi muncul
Masukkan dalam jadwal kegiatan klien

F. STRATEGI KOMUNIKASI
1. Fase Orientasi
a. Salam terapeutik
Selamat pagi mas fandi, bagaimana kabar hari ini mas? Apa yang saya
ajarkankemarin sudah mas lakukan?
b. Evaluasi / Validasi
Bagaimana mas tidur semalem? Apakah mas sudah melakukan latihan
menghardik sura yang saya ajarkan. Apa yang mas rasakan setelah melakukan
latihan menghardik secara teratur?
c. Kontrak
Topic
Baik mas, sesuai dengan janji kita kemarin. Hari ini kita akan latihan
mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain.
Waktu
Bagaimana kalau kita mengobrol 15 menit mas?
Tempat
Bagaimana kalau kita mengobrol disini saja mas?
2. Fase kerja
Bagaimana kalau kita ulangi yang saya ajarkan kemarin mas? Iya bagus mas,
pertahankan seperti itu. Sekarang saya akan memberi tau mas cara kedua yaitu
ketika mas mendengar bisikan mas bisa mengobroldengan pasien lain atau bisa
dengan saya. Bagaiman mas?
3. Fase terminasi
a. Evaluasi subjektif
Px mengatakan mau mengobrol dengan temannya
b. Evaluasi objektif
Ada kontak mata, px mau mengobrol dengan orang lain
c. Tindak lanjut
Dilatih terus-menerus ya mas, apa yang saya ajarkan. Mas juga jangan suka
menyendiri. Kalau mas butuh teman mengobrol mas bisa memanggil saya
d. Kontrak yang akan datang
Topic
Besok kita ngobrol-ngobrol lagi ya mas
Waktu
Bagaimana kalau kita ngobrol 15 menit mas
Tempat
Bagaimana kalau kita ngobrol di ruang depan? Baiklah kalau begitru dini saja.

LAPORAN PENDAHULUAN
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
HALUSINASI PENDENGARAN
Interaksi ke : IV
Tanggal : 4 januari 2014
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi pasien
DS : Px mengatakan sudah berkurang mendengar bisikan-bisikannya
DO : - ada kontak mata
- px mampu mengungkapkan halusinasinya
- Px tampak tenang
- px bisa mengobrol dengan px lain
2. Diagnose keperawatan
Gannguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran
3. Tujuan khusus
Px dapat mengontrol halusinasinya dengan melakukan kegiatan
4. Tindakan keperawatan
Evaluasi kegiatan lalu ( SP II )
Latih px untuk berinteraksi agar halusinasinya tidak muncul dengan tahapannya
(a) Jelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi halusinasi
(b) Diskusikan aktivitas yang biasanya dilakukan px
(c) Latih px melakukan aktivitas
(d) Susunjadwal aktivitas yang telah dilatih ( dari bangun pagi s/d tidur malam )
(e) Pantau pelaksanaan jadwal kegiatan, berikan penguatan positif kepada pasien.

B. STRATEGI KOMUNIKASI
4. Fase Orientasi
a. Salam terapeutik
Selamat pagi mas fandi, sudah makan tadi pagi? Makannya habis mas
b. Evaluasi / Validasi
Bagaimana mas, apa mas fandi masih mendengar suara-suara yang membisiki?
Bagus mas, apa yang saya ajarkan kemarin sudah mas lakukan? Bagaimana
rasanya setelah mengobrol dengan px lain?

c. Kontrak
Topic
Baik mas, sesuai dengan janji saya kemarin, hari ini kita akan mengevaluasi cara
yang saya ajarkan kemarin dan mengevaluasi kegiatan sehari-hari mas fandi
selama di rumah sakit.
Waktu
Bagaimana kalau kita mengobrol 15 menit mas?
Tempat
Bagaimana kalau kita mengobrol di ruang depan mas
5. Fase kerja
Bagaimana kalau kita ulangi yang saya ajarkan kemarin mas? Pertahankan seperti
itu ya mas, latih secara teratur. Bagaimana mas?
Baik mas, bagaimana kalau membuat jadwal aktifitas yang mas lakukan? Kita
mulai dari rapikan tempat tidur, kemudian mandi, minum obat, makan, beriteraksi
dengan px lain
a. Evaluasi subjektif
Px mengatakan mau mengobrol dengan px lain dan ingin cepat pulang
b. Evaluasi objektif
Ada kontak mata, px bisa berinteraksi dengan px yang dikenalnya, px mampu
duduk berdampingan dengan perawat
c. Tindak lanjut
Aktifitas yang sudah dibuat tadi dilaksanakan ya mas, mas kalau bisa jangan
menyendiri ya mas, berinteraksi dengan px lain.
d. Kontrak yang akan datang
Topic
Bagaimana kalau besok kita mengobrol lagi mas? Bahas aktifitas lain
Waktu
Bagaimana kalau besok kita mengobrol selama 15 menit mas?
Tempat
Besok kita mengobrol disini lagi ya pak?

LAPORAN PENDAHULUAN
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
HALUSINASI PENDENGARAN
Interaksi ke : V
Tanggal : 5 januari 2014
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi pasien
DS : Px mengatakan sudah berkurang mendengar bisikan-bisikannya
DO : - ada kontak mata
- px mampu mengungkapkan aktifitas tadi pagi
- Px mampu mengungkapkan perasaannya
- px tampak tenang
2. Diagnose keperawatan
Gannguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran
3. Tujuan khusus
Px mampu melakukan aktivitas yang sudah dijadwalkan
4. Tindakan keperawatan
Evaluasi kegiatan lalu ( SP I, II, III )
Jelaskan pentingnya obat dan melatih px minum obat
Masukkan dalam jadwal harian px

B. STRATEGI KOMUNIKASI
1. Fase Orientasi
a. Salam terapeutik
Selamat pagi mas fandi, sudah makan tadi pagi? Makannya habis mas?
b. Evaluasi / Validasi
Px terlihat tenang hari ini. Bagaiman mas. Apa aktifitas yang sudah kita buat
kemarin, sudah mas lakukan dengan benar? Apa masih ada terdengar bisikan-
bisikan mas? Kalau mas mas mendengar bisikan. Apa yang mas lakukan seperti
yang saya ajarkan dulu?
c. Kontrak
Topic
Baik mas, mari kita bahas tentang aktifitas yang sudah mas lakukan kemarin?
Waktu
Bagaimana kalau kita mengobrol 15 menit mas?
Tempat
Bagaimana kalau kita mengobrol di ruangan kemarin mas?
2. Fase kerja
Bagaimana kalau kita ulangi yang saya ajarkan dulu? Iya mas, bagus, coba
peragakan mas, nanti kalau lupa saya ingatkan lagi, pertahankan cara-cara tersebut
ya mas.
a. Evaluasi subjektif
Px mengatakan sedikit lupa dengan cara mengontrol halusinasinya.
b. Evaluasi objektif
Px ada kontak mata, wajah bersahabat, px mampu mengungkapkan perasaannya.
c. Tindak lanjut
Dilatih terus mas, yakin mas pasti bisa untuk mengontrol halusinasi yang mas
dengar.
d. Kontrak yang akan datang
Topic
Besok kita mengobrol tentang obat yang mas minum setiap harinya
Waktu
Bagaimana besok kalau kita mengobrol selama 10 menit mas?
Tempat
Besok kita mengobrol disini lagi ya pak?
KARYA TULIS ILMIAH
Disusun Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Keperawatan
Pada Program Studi DIII Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bhakti
Mandala Husada Slawi

Disusun Oleh :
Nama : Putri Rizqia
NIM : A0011062

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BHAKTI MANDALA HUSADA
SLAWI 2014

Persetujuan Karya Tulis Ilmiah

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa


Laporan Kasus yang berjudul :

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.A


DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI
: HALUSINASI PENDENGARAN DI RUANG
PAVILLIUN FLAMBOYAN RS MITRA SIAGA TEGAL 2014

Dipersiapkan dan disusun oleh :


Nama : Putri Rizqia
NIM : A0011062

Telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing KTI untuk


diseminarkan dalam Ujian Sidang KTI pada tanggal 22 Juli 2014

Pembimbing:
Agus Budianto, S.Kep. Ns.M.Kep
NIPY. 1971.07.09.98.012

Pengesahan Karya Tulis Ilmiah

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa


Laporan Kasus yang berjudul :

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.A


DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI
: HALUSINASI PENDENGARAN DI RUANG
PAVILLIUN FLAMBOYAN RS MITRA SIAGA TEGAL 2014

Dipersiapkan dan disusun oleh :


Nama : Putri Rizqia
NIM : A0011062

Telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 22 Juli dan dinyatakan
telah memenuhi syarat untuk diterima

Penguji I

Firman Hidayat, M.Kep., Ns., Sp.Kep.J.


NIPY : 1974.03.10.97.009

Penguji II

Agus Budianto, S.Kep.Ns.M.Kep


NIPY. 1971.07.09.98.012

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT berkat
Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga Karya Tulis Ilmiah yang berjudul ASUHAN
KEPERAWATAN PADA Ny. A DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI
: HALUSINASI PENDENGARAN DI RUANG PAVILLIUN FLAMBOYAN RS
MITRA SIAGA TEGAL 2014 dapat terselesaikan dengan baik. Tentunya
selesainya karya tulis ilmiah ini karena adanya bantuan, bimbingan, pengarahan,
petunjuk, dorongan dan bantuan moril maupun materil dari berbagai pihak.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Risnanto, S.ST. M.Kes, selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Bhakti
Mandala Husada Slawi.
2. Arifin Dwi Atmaja, S.Kep.,Ns, selaku Ketua Program Studi D III Keperawatan.
3. Agus Budianto, S.Kep. Ns.M.Kep, selaku Pembimbing yang telah memberikan
bimbingan dan arahan dari awal sampai akhir dalam penyusunan Karya Tulis
Ilmiah ini.
4. Firman Hidayat, S.Kep.Ns.M.Kep, selaku Penguji yang telah memberikan ide dan
inspirasi kepada penulis dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
5. Seluruh rekan-rekan mahasiswa D III Keperawatan STIKes Bhakti Mandala
Husada Slawi.
6. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah
membantu hingga Karya Tulis Ilmiah ini terselesaikan.
Penulis menyadari akan keterbatasan dan kekurangan pada Karya Tulis
Ilmiah ini, oleh karena itu penulis berbesar hati menerima saran dan masukan dari
semua pihak yang sifatnya membangun demi hasil yang lebih baik. Semoga Karya
Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan ke depan,
demi kemajuan STIKes BHAMADA pada umumnya dan Prodi D III
Keperawatan pada khususnya.

Slawi, 22 Juli 2014


Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL......................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN.......................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN.......................................................... iii
KATA PENGANTAR....................................................................... iv
DAFTAR ISI..................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang....................................................................... 1
B. Tujuan Penulisan..................................................................... 5
C. Metode Penulisan................................................................... 6
D. Manfaat Penulisan ................................................................. 7
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Definisi................................................................................... 8
B. Rentang Respon..................................................................... 9
C. Fase-Fase Halusinasi............................................................... 12
D. Etiologi................................................................................... 14
E. Tanda Dan Gejala................................................................... 16
F. Jenis-Jenis Halusinasi.............................................................. 17
G. Pohon Masalah....................................................................... 19
H. Penatalaksanaan...................................................................... 19
I. Kosep Dasar asuhan Keperawatan......................................... 22
BAB III TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian.............................................................................. 35
B. Alasan Masuk......................................................................... 36
C. Faktor Predisposisi................................................................. 36
D. Pemeriksaan Fisik................................................................... 37
E. Psikososial.............................................................................. 38
F. Status Mental ......................................................................... 40
G. Kebutuhan Persiapan Pulang.................................................. 43
H. Mekanisme Koping................................................................. 45
I. Masalah psikologis Dan Lingkungan...................................... 45
J. Analisa Data........................................................................... 45
K. Aspek Medis........................................................................... 47
L. Pohon Masalah....................................................................... 48
M. Diagnosa keperawatan............................................................ 49
N. Rencana Keperawatan............................................................ 50
O. Implementasi Dan Evaluasi.................................................... 58
BAB IV PEMBAHASAN
A. Pengkajian Keperawatan........................................................ 68
B. Diagnosa Keperawatan........................................................... 71
C. Intervensi Keperawatan.......................................................... 73
D. Implementasi.......................................................................... 76
E. Evaluasi.................................................................................. 79
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan............................................................................. 82
B. Saran....................................................................................... 85
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Tuntutan dan masalah hidup yang semakin meningkat serta perkembangan
teknologi yang pesat menjadi stressor pada kehidupan manusia. Jika individu
tidak mampu melakukan koping dengan adaptif, maka individu beresiko
mengalami gangguan jiwa. Gangguan jiwa merupakan gangguan pikiran,
perasaan atau tingkah laku seseorang sehingga menimbulkan penderitaan dan
terganggunya fungsi sehari-hari. Gangguan jiwa disebabkan karena gangguan
fungsi sel-sel syaraf di otak, dapat berupa kekurangan maupun kelebihan
neutrotransmiter atau substansi tertentu (Febrida, 2007).
WHO, (2009) memperkirakan terdapat 450 juta jiwa diseluruh dunia yang
mengalami gangguan mental, sebagian besar dialami oleh orang dewasa muda
antara usia 18-21 tahun, hal ini dikarenakan pada usia tersebut tingkat emosional
masih belum terkontrol. Di indonesia sendiri prevalensi penduduk yang
mengalami gangguan jiwa cukup tinggi, data WHO, (2006) mengungkapkan
bahwa 26 juta penduduk Indonesia atau kira-kira 12-16 % mengalami gangguan
jiwa. Berdasarkan data Departemen Kesehatan, jumlah penderita gangguan jiwa di
Indonesia mencapai 2,5 juta jiwa.
Prevalensi gangguan jiwa tertinggi di indonesia terdapat di daerah khusus
ibu kota jakarta yaitu sebanyak 24,3% (Depkes RI, 2008). Berdasarkan data Riset
Kesehatan Dasar, (2007) menunjukan bahwa prevalensi gangguan jiwa secara
nasional mencapai 5,6% dari jumlah penduduk, dengan kata lain menunjukan
bahwa pada setiap 1000 orang penduduk terdapat 4 sampai 5 orang yang
mengalami gangguan jiwa. Prevalensi gangguan jiwa di indonesia diperkirakan
akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya beban hidup yang dihadapi
oleh masyarakat indonesia.
Menurut Dinas Kesehatan Provisi Jawa Tengah, (2012) menyebutkan bahwa
terdapat 932 jiwa mengalami gangguan jiwa, 818 jiwa masih dirawaat di Rumah
Sakit Jiwa dan 475 jiwa dalam pengobatan rawat jalan antara lain RSJ Semarang
terdapat 431 jiwa, RSJ Magelang 172 jiwa, RSJ Banyumas 5 jiwa, Puskesmas
Kabupaten Purbalingga 6 jiwa, RSJ Surakarta 172 jiwa dan RSJ Klaten 32 jiwa.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah masalah dengan
gangguan jiwa paling banyak dirawat di RSJ Semarang yaitu 431 jiwa.
Secara umum gangguan jiwa bisa di bedakan menjadi dua kategori yaitu
psikotik dan non-psikotik yang meliputi gangguan cemas, psikoseksual,
kepribadian, alkoholisme, dan menarik diri. Gangguan jiwa psikotik meliputi
gangguan jiwa organik dan non- organik. Gangguan jiwa organik meliputi
delirium, epilepsi dan dimensia, sedangkan gangguan jiwa non-organik meliputi
skizofrenia, waham, gangguan mood, psikosa (mania, depresi), gaduh, gelisah,
dan halusinasi (Kusumawati, 2010).
Halusinasi adalah salah satu bentuk gangguan jiwa yang menjadi penyebab
seseorang dibawa ke Rumah Sakit Jiwa. Berdasarkan data yang diperoleh di ruang
inap pasien jiwa Rumah Sakit Mitra Siaga Tegal periode bulan Mei 2014, pasien
yang dirawat di ruang Pavilliun Flamboyan di dapatkan dari 13 pasien yang
mengalami gangguan jiwa terdapat 7 pasien mengalami gangguan persepsi sensori
halusinasi pendengaran yang rata-rata berumur antara antara 23 tahun sampai 65
tahun.
Pasien dengan halusinasi jika tidak segera ditangani akan memberikan
dampak yang buruk bagi penderita, orang lain, ataupun lingkungan disekitarnya,
karena pasien dengan halusinasi akan kehilangan kontrol dirinya. Pasien akan
mengalami panik dan perilakunya dikendalikan oleh halusinasinya, pada situasi
ini pasien dapat melakukan bunuh diri(suicide), membunuh orang lain (homicide),
bahkan merusak lingkungan. Untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan
dibutuhkan peran perawat yang optimal dan cermat untuk melakukan pendekatan
dan membantu klien memecahkan masalah yang dihadapinya dengan memberikan
penatalaksanaan untuk mengatasi halusinasi. Penatalaksanaan yang diberikan
antara lain meliputi farmakologis dan non-farmakologis. Penatalaksanaan
farmakologis antara lain dengan memberikan obat-obatan antipsikotik. Adapun
penatalaksanaan non-farmakologis dari halusinasi dapat meliputi pemberian
terapi-terapi modalitas (Direja, 2011).
Peran perawat dalam menangani halusinasi di rumah sakit salah
satunya melakukan penerapan standar asuhan keperawatan yang mencakup
penerapan strategi pelaksanaan halusinasi. Strategi pelaksanaan adalah penerapan
standar asuhan keperawatan terjadwal yang diterapkan pada pasien yang bertujuan
untuk mengurangi masalah keperawatan jiwa yang ditangani. Strategi pelaksanaan
pada pasien halusinasi mencakup kegiatan mengenal halusinasi, mengajarkan
pasien menghardik halusinasi, bercakap-cakap dengan orang lain saat halusinasi
muncul, melakukan aktivitas terjadwal untuk mencegah halusinasi, serta minum
obat dengan teratur (Akemat dan Keliat, 2010).
Hasil dari beberapa penelitian menunjukan pemberian asuhan keperawatan
sesuai standar dengan penerapan strategi pelaksanaan halusinasi di rumah sakit
memberikan dampak perbaikan pada kondisi pasien, serta membantu menurunkan
tanda dan gejala halusinasi. Pasien gangguan jiwa yang menjalani rawat inap di
rumah sakit banyak yang menunjukan perbaikan pada kondisinya dan di
perbolehkan untuk pulang, akan tetapi banyak juga pasien yang kembali lagi ke
rumah sakit, hal ini sebagian besar di sebabkan kurangnya pengarahan terhadap
keluarga pasien terkait dengan penanganan dirumah menjelang pasien pulang.
Berdasarkan data dan fenomena diatas khususnya pada Provinsi Jawa
Tengah masalah gangguan jiwa yang paling banyak di alami oleh masyarakat
adalah halusinasi dan lebih didominasi halusinasi pendengaran. Pasien dengan
halusinasi yang menjalani rawat inap di rumah sakit kemudian dilakukan
penatalaksanaan halusinasi baik farmakologis maupun non-farmakologis banyak
yang menunjukan perbaikan pada kondisinya dan dinyatakan sembuh, akan tetapi
banyak juga pasien yang kembali lagi ke rumah sakit. Sehingga timbul pertanyaan
penulis, Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Persepsi
Sensori : Halusinasi Pendengaran di Ruang Pavilliun Flamboyan RS Mitra Siaga
Tegal ?
B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Menerapkan Asuhan Keperawatan pada pasien dengan dengan gangguan
persepsi sensori : halusinasi Pendengaran.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan gangguan persepsi sensori :
halusinasi pendengaran.
b. Mampu menentukan masalah keperawatan pada klien dengan gangguan persepsi
sensori : halusinasi pendengaran.
c. Mampu membuat diagnosa keperawatan pada klien dengan gangguan persepsi
sensori : halusinasi Pendengaran.
d. Mampu membuat intervensi atau rencana keperawatan pada klien dengan
gangguan persepsi sensori : halusinasi Pendengaran.
e. Mampu membuat implementasi atau tindakan keperawatan pada klien dengan
gangguan persepsi sensori : halusinasi Pendengaran.
f. Mampu mengevaluasi asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan persepsi
sensori : halusinasiPendengaran.
C. METODE PENULISAN
Dalam penulisan laporan proposal
karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan metode deskriptif dan dalammengump
ulkan data, penulis menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan proses
keperawatan yang meliputipengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Cara yang digunakan oleh penulis dalam mengumpulkan data
guna penyusunan Karya Tulis Ilmiah, misalnya :
1. Wawancara
Mengadakan tanya jawab dengan pihak yang terkait : pasien maupun tim
kesehatan mengenai data pasien dengan Halusinasi . Wawancara dilakukan
selama proses keperawatan berlangsung.
2. Observasi partisipasi
Dengan mengadakan pendekatan dan melaksanakan asuhan keperawatan
secara langsung pada pasien selama di rumah sakit.
3. Studi dokumentasi
Dokumentasi ini diambil dan dipelajari dari catatan medis, catatan
perawatan untuk mendapatkan data-data mengenai perawatan maupun
pengobatan.

D. MANFAAT PENULISAN
Penulis mengharapkan karya tulis ini dapat memberikan manfaat untuk :
1. Profesi perawat
Sebagai bahan masukan dan informasi bagi perawat yang ada di rumah sakit
dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan keperawatan jiwa khususnya dengan
kasus gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.
2. Klien
Memberikan pengetahuan serta masukan kepada klien tentang cara
menangani, merawat, dan mencegah kekambuhan gangguan persepsi sensori
: halusinasi pendengaran.
3. Keluarga
Memberikan pengetahuan serta masukan kepada kelurga tentang cara
menangani, merawat, mencegah kekambuhan dan berkomunikasi kepada anggota
keluarga yang mengalami gangguan persepsi sensori : halusinasipendengaran.
4. Penulis
Untuk menambah referensi dan kemampuan mengaplikasikan asuhan
keperawatan jiwa khususnya pada kliendengan gangguan persepsi sensori
: halusinasi pendengaran serta mengaplikasikan dalam menerapkan komunikasi
terapeutik dengan menggunakan pendekatan SP.
BAB II
TINJAUAN TEORI
GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI PENDENGARAN

A. DEFINISI
Halusinasi dapat didefinisikan sebagai suatu persepsi yang salah tanpa
dijumpai adanya rangsangan dari luar (Yosep, 2011). Menurut Direja, (2011)
halusinasi merupakan hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan
rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Sedangkan
halusinasi menurut Keliat dan Akemat, (2010) adalah suatu gejala gangguan jiwa
pada individu yang ditandai dengan perubahan sensori persepsi; merasakan
sensasi palsu berupa penglihatan, pengecapan, perabaan penghiduan, atau
pendengaran.
Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara atau bunyi yang berkisar
dari suara sederhana sampai suara yang berbicara mengenai klien sehingga klien
berespon terhadap suara atau bunyi tersebut (Stuart, 2007). Halusinasi
pendengaran meliputi mendengar suara-suara, paling sering adalah suara orang,
berbicara kepada klien atau membicarakan klien. Mungkin ada satu atau banyak
suara, dapat berupa suara orang yang dikenal atau tidak dikenal. Berbentuk
halusinasi perintah yaitu suara yang menyuruh klien untuk mengambil tindakan,
sering kali membahayakan diri sendiri atau orang lain dan di anggap berbahaya
(Videbeck, 2008).
Berdasarkan beberapa pengertian dari halusinasi di atas, penulis dapat
menyimpulkan bahwa halusinasi adalah suatu persepsi klien terhadap stimulus
dari luar tanpa adanya obyek yang nyata. Sedangkan halusinasi pendengaran
adalah dimana klien mendengarkan suara, terutama suara-suara orang yang
membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk
melakukan sesuatu hal yang kemudian direalisasikan oleh klien dengan tindakan.

B. RENTANG RESPON HALUSINASI


Respon perilaku klien dapat diidentifikasi sepanjang rentang respon yang
berhubungan dengan fungsi neurobiologik, perilaku yang dapat diamati dan
mungkin menunjukan adanya halusinasi. Respon yang terjadi dapat berada dalam
rentang adaptif sampai maladaptif yang dapat digambarkan seperti di bawah ini :

Respon adaptif Respon maladaptif


Pikiran logis
Persepsi akurat
Emosi konsisten dengan pengalaman
Perilaku sesuai
Hubungan social
Pikiran terkadang menyimpang
Ilusi
Emosional berlebihan/dengan pengalaman kurang
Perilaku ganjil
Menarik diri
Kelainan fikiran
Halusinasi
Tidak mampu mengontrol emosi
Ketidakteraturan perilaku
Isolasi soial

Gambar 2.1. Rentan Respon Halusinasi menurut Stuart, (2007).


1) Respon adaptif
Respon adaptif berdasarkan rentang respon halusinasi menurut Stuart, (2007)
meliputi :
a) Pikiran logis berupa pendapat atau pertimbangan yang dapat diterima akal.
b) Persepsi akurat berupa pandangan dari seseorang tentang suatu peristiwa secara
cermat dan tepat sesuai perhitungan.
c) Emosi konsisten dengan pengalaman berupa kemantapan perasaan jiwa yang
timbul sesuai dengan peristiwa yang pernah dialami.
d) Perilaku sesuai dengan kegiatan individu atau sesuatu yang berkaitan dengan
individu tersebut diwujudkan dalam bentuk gerak atau ucapan yang tidak
bertentangan dengan moral.
e) Hubungan sosial dapat diketahui melalui hubungan seseorang dengan orang lain
dalam pergaulan di tengah masyarakat.
2) Respon transisi
Respon transisi berdasarkan rentang respon halusinasi menurut Stuart, (2007)
meliputi:
a) Pikiran terkadang menyimpang berupa kegagalan dalam mengabstrakan dan
mengambil kesimpulan.
b) Ilusi merupakan persepsi atau respon yang salah terhadap stimulus sensori.
c) Emosi berlebihan/dengan kurang pengalaman berupa reaksi emosi yang
diekspresikan dengan sikap yang tidak sesuai.
d) Perilaku ganjil/tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku yang melebihi
batas kewajaran.
e) Menarik diri yaitu perilaku menghindar dari orang lain baik dalam berkomunikasi
ataupun berhubungan sosial dengan orang-orang di sekitarnya.
3) Respon maladaptif
Respon maladaptif berdasarkan rentang respon halusinasi menurut Stuart, (2007)
meliputi:
a) Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh dipertahankan walaupun
tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan kenyataan sosial.
b) Halusinasi merupakan gangguan yang timbul berupa persepsi yang salah terhadap
rangsangan.
c) Tidak mampu mengontrol emosi berupa ketidakmampuan atau menurunya
kemampuan untuk mengalami kesenangan, kebahagiaan, keakraban, dan
kedekatan.
d) Ketidakteraturan Perilaku berupa ketidakselarasan antara perilaku dan gerakan
yang ditimbulkan.
e) Isolasi sosial adalah kondisi kesendirian yang dialami oleh individu karena orang
lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam.

C. FASE-FASE HALUSINASI
Terjadinya halusinasi dimulai dari beberapa fase, hal ini dipengaruhi oleh
intensitas keparahan dan respon individu dalam menanggapi adanya rangsangan
dari luar. Menurut Direja, (2011) Halusinasi berkembang melalui empat fase
yaitufase comforting, fase condemming, fase controlling, dan fase conquering.
Adapun penjelasan yang lebih detail dari keempat fase tersebut adalah sebagai
berikut :
1. Fase Pertama
Disebut juga dengan fase comforting yaitu fase menyenangkan. Pada tahap ini
masuk dalam golongan nonpsikotik.
Karakteristik atau Sifat :
Klien mengalami stres, cemas, perasaan perpisahan, rasa bersalah, kesepian yang
memuncak dan tidak dapat diselesaikan. klien mulai melamun dan memikirkan
hal-hal yang menyenangkan, cara ini hanya menolong sementara.
Perilaku Klien :
Tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, mengerakkan bibir tanpa suara,
pergerakan mata cepat, respon verbal yang lambat jika sedang asyik dengan
halusinasinya dan suka menyendiri.
2. Fase Kedua
Disebut dengan fase condemming atau ansietas berat yaitu halusinasi menjadi
menjijikan. Termasuk dalam psikotik ringan.
Karakterisktik atau Sifat :
Pengalaman sensori menjijikan dan menakutkan, kecemasan meningkat,
melamun, dan berpikir sendiri jadi dominan. Mulai dirasakan ada bisikan yang
tidak jelas. Klien tidak ingin orang lain tahu dan dia tetap dapat mengontrolnya.
Perilaku Klien :
Meningkatnya tanda-tanda sistem saraf otonom seperti peningkatan denyut
jantung dan tekanan darah. Klien asyik dengan halusinasinya dan tidak bisa
membedakan realitas.
3. Fase Ketiga
Adalah fase controlling atau ansietas berat yaitu pengalaman sensori menjadi
berkuasa. Termasuk dalam gangguan psikotik.
Karakterisktik atau Sifat :
Bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai dan mengontrol klien.
Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya.
Perilaku Klien :
Kemauan dikendalikan halusinasi, rentang perhatian hanya beberapa menit atau
detik, Tanda-tanda fisik berupa klien berkeringat, tremor dan tidak mampu
mematuhi perintah.
4. Fase Keempat
Adalah fase conquering atau panik yaitu klien lebur dengan
halusinasinya.Termasuk dalam psikotik berat.
Karakterisktik atau Sifat :
Halusinasinya berubah menjadi mengancam, memerintah, dan memarahi klien.
Klien menjadi takut, tidak berdaya, hilang kontrol dan tidak dapat berhubungan
secara nyata dengan orang lain di lingkungan.
Perilaku Klien :
Perilaku teror akibat panik, potensi bunuh diri, perilaku kekerasan, agitasi,
menarik diri atau katatonik, tidak mampu merespon terhadap perintah kompleks
dan tidak mampu berespon lebih dari satu orang.

D. ETIOLOGI
1. Faktor Predisposisi
Menurut Yosep, (2011) ada beberapa faktor penyebab terjadinya gangguan
halusinasi, yaitu faktor perkembangan, sosiokultural, biokimia, psikologis, genetic
dan poala asuh. Adapun penjelasan yang lebih detail dari masing-masing faktor
adalah sebagai berikut :
a. Faktor Perkembangan
Tugas perkembangan klien yang terganggu misalnya rendahnya kontrol dan
kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu mandiri sejak kecil, mudah
frustasi, hilang percaya diri dan lebih rentan terhadap stress.
b. Faktor Sosikultural
Seseorang yang merasa tidak diterima lingkuanganya sejak bayi (Unwanted
child) akan merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada
lingkunagannya.
c. Faktor Biokimia
Mempunyai pengaruh terjadinya gangguan jiwa. Adanya stress yang berlebihan
dialami seseorang maka didalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat
bersifat halusinogik neurokimia seperti Buffofenon danDimetytranferase (DMP).
Akibat stress berkepanjangan menyebabkan teraktivasinya neurotransmitter otak.
Misalnya terjadi ketidakseimbangan Acetylcholin dan Dopamin.
d. Faktor psikologis
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah terjerumus pada
penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh pada ketidakmampuan klien
dalam mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya. Klien lebih memilih
kesenangan sesaat dan lari dari alam nyata menuju alam khayal.
e. Faktor genetik dan pola asuh
Penelitian menunjukan bahwa anak sehat yang diasuh oleh orang
tua Skizofrenia cenderung mengalamiSkizofrenia. Hasil studi menunjukan bahwa
faktor keluarga menunjukan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit
ini.
2. Faktor Presipitasi
Menurut Stuart, (2007) ada beberapa faktor presipitasi terjadinya gangguan
halusinasi, yaitu faktor biologis, faktor stress lingkungan, dan faktor sumber
koping. Adapun penjelasan yang lebih detail dari masing-masing faktor tersebut
adalah sebagai berikut ini :
a. Faktor Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses
informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang
mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang
diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.
b. Faktor Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap stress yang ditentukan secara biologis berinteraksi
dengan stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
c. Faktor Sumber koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor.

E. TANDA DAN GEJALA


Menurut Videbeck, (2008) ada beberapa tanda dan gejala pada klien dengan
gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran dilihat dari data subyektif dan
data obyektif klien, yaitu :
1. Data Subyektif :
a. Mendengar suara atau bunyi.
b. Mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya.
c. Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap.
d. Mendengar seseorang yang sudah meninggal.
e. Mendengar suara yang mengancam diri klien atau orang lain bahkan suara lain
yang membahayakan.

2. Data Obyektif.
a. Mengarahkan telinga pada sumber suara.
b. Bicara sendiri.
c. Tertawa sendiri.
d. Marah-marah tanpa sebab.
e. Menutup telinga.
f. Mulut komat-kamit.
g. Ada gerakan tangan.

F. JENIS-JENIS HALUSINASI
Menurut Stuart, (2007) jenis-jenis halusinasi dibedakan menjadi 7 yaitu
Halusinasi pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan, perabaan,
senestetik, dan kinestetik. Adapun penjelasan yang lebih detail adalah sebagai
berikut :
1. Halusinasi pendengaran
Karakteristik : Mendengar suara atau bunyi, biasanya orang. Suara dapat berkisar
dari suara yang sederhana sampai suara orang bicara mengenai klien. Jenis lain
termasuk pikiran yang dapat didengar yaitu pasien mendengar suara orang yang
sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkan oleh klien dan memerintahkan
untuk melakukan sesuatu yang kadang-kadang berbahaya.

2. Halusinasi penglihatan
Karakteristik : Stimulus penglihatan dalam kilatan cahaya, gambar geometris,
gambar karton, atau panorama yang luas dan kompleks. Penglihatan dapat berupa
sesuatu yang menyenangkan atau yang menakutkan seperti monster.
3. Halusinasi penciuman
Karakteristik : Mencium bau-bau seperti darah, urine, feses, umumnya bau-bau
yang tidak menyenangkan. Halusinasi penciuman biasanya berhubungan dengan
stroke, tumor, kejang, dan dimensia.
4. Halusinasi pengecapan
Karakteristik : Merasakan sesuatu yang busuk, amis, dan menjijikan seperti darah,
urine, atau feses.
5. Halusinasi Perabaan
Karakteristik : Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas,
rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
6. Halusinasi Senestetik
Karakteristik : Merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir melalui vena dan
arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine.
7. Halusinasi Kinestetik
Karakteristik : Merasa pergerakan sementara bergerak tanpa berdiri.

G. POHON MASALAH
Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

(Akibat )
Perubahan persepsi sensori : Halusinasi

(Core Problem)
Isolasi sosial : Menarik diri

(Penyebab)

Gb 2.2 Pohon masalah halusinasi


(Sumber : Keliat, 2006)

H. PENATALAKSANAAN
Menurut Townsend, (2003) ada dua jenis penatalaksanaan yaitu sebagai berikut :
1. Terapi Farmakologi
a. Haloperidol (HLP)
1) Klasifikasi antipsikotik, neuroleptik, butirofenon.
2) Indikasi
Penatalaksanaan psikosis kronik dan akut, pengendalian hiperaktivitas dan
masalah prilaku berat pada anak-anak.

3) Mekanisme kerja
Mekanisme kerja anti psikotik yang tepat belum dipahami sepenuhnya, tampak
menekan SSP pada tingkat subkortikal formasi reticular otak, mesenfalon dan
batang otak.
4) Kontra indikasi
Hipersensitifitas terhadap obat ini pasien depresi SSP dan sumsum tulang,
kerusakan otak subkortikal, penyakit Parkinson dan anak dibawah usia 3 tahun.
5) Efek samping
Sedasi, sakit kepala, kejang, insomnia, pusing, mulut kering dan anoreksia.
b. Chlorpromazin
1) Klasifikasi sebagai antipsikotik, antiemetik.
2) Indikasi
Penanganan gangguan psikotik seperti skizofrenia, fase mania pada gangguan
bipolar, gangguan skizoaktif, ansietas dan agitasi, anak hiperaktif yang
menunjukkan aktivitas motorik berlebihan.
3) Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja antipsiotik yang tepat belum dipahami sepenuhnya, namun
mungkin berhubungan dengan efek antidopaminergik. Antipsikotik dapat
menyekat reseptor dopamine postsinaps pada ganglia basal, hipotalamus, system
limbik, batang otak dan medula.

4) Kontra Indikasi
Hipersensitivitas terhadap obat ini, pasien koma atau depresi sum-sum tulang,
penyakit Parkinson, insufiensi hati, ginjal dan jantung, anak usia dibawah 6 bulan
dan wanita selama kehamilan dan laktasi.
5) Efek Samping
Sedasi, sakit kepala, kejang, insomnia, pusing, hipotensi, ortostatik, hipertensi,
mulut kering, mual dan muntah.
c. Trihexypenidil (THP)
1) Klasifikasi antiparkinson
2) Indikasi
Segala penyakit Parkinson, gejala ekstra pyramidal berkaitan dengan obat
antiparkinson
3) Mekanisme kerja
Mengoreksi ketidakseimbangan defisiensi dopamine dan kelebihan asetilkolin
dalam korpus striatum, asetilkolin disekat oleh sinaps untuk mengurangi efek
kolinergik berlebihan.
4) Kontra indikasi
Hipersensitifitas terhadap obat ini, glaucoma sudut tertutup, hipertropi prostat
pada anak dibawah usia 3 tahun.
5) Efek samping
Mengantuk, pusing, disorientasi, hipotensi, mulut kering, mual dan muntah.

2. Terapi non Farmakologi


a. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK).
Terapi aktivitas kelompok yang sesuai dengan Gangguan Sensori Persepsi:
Halusinasi adalah TAK Stimulasi Persepsi.
b. Elektro Convulsif Therapy (ECT)
Merupakan pengobatan secara fisik menggunakan arus listrik dengan kekuatan
75-100 volt, cara kerja belum diketahui secara jelas namun dapat dikatakan bahwa
terapi ini dapat memperpendek lamanya serangan Skizofrenia dan dapat
mempermudah kontak dengan orang lain.
c. Pengekangan atau pengikatan
Pengembangan fisik menggunakan pengekangannya mekanik seperti manset
untuk pergelangan tangan dan pergelangan kaki sprei pengekangan dimana klien
dapat dimobilisasi dengan membalutnya,cara ini dilakukan pada klien halusinasi
yang mulai menunjukan perilaku kekerasan diantaranya : marah-
marah/mengamuk.

I. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan.
Menurut Keliat, (2006) tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan
perumusan kebutuhan, atau masalah klien. Data yang dikumpulkan meliputi data
biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Cara pengkajian lain berfokus pada 5 (lima)
aspek, yaitu fisik, emosional, intelektual, sosial dan spiritual. Untuk dapat menjaring
data yang diperlukan, umumnya dikembangkan formulir pengkajian dan petunjuk
teknis pengkajian agar memudahkan dalam pengkajian. isi pengkajian meliputi:
a. Identitas klien.
b. Keluhan utama/ alasan masuk.
c. Faktor predisposisi.
d. Faktor presipitasi.
e. Aspek fisik/ biologis.
f. Aspek psikososial.
g. Status mental.
h. Kebutuhan persiapan pulang.
i. Mekanisme koping.
j. Masalah psikososial dan lingkungan.
k. Pengetahuan.
l. Aspek medik.
Menurut Stuart, (2007) data pengkajian keperawatan jiwa dapat
dikelompokkan menjadi pengkajian perilaku, faktor predisposisi, faktor presipitasi
, penilaian terhadap stressor, sumber koping, dan kemampuan koping yang dimiliki
klien.

Pengkajian tersebut dapat diuraikan menjadi :


1. Pengkajian perilaku
Perilaku yang berhubungan dengan persepsi mengacu pada identifikasi
dan interpretasi awal dari suatu stimulus berdasarkan informasi yang
diterima melalui panca indra perilaku tersebut digambarkan dalam
rentang respon neurobiologis dari respon adaptif, respon transisi dan respon
maladaptif.
2. Faktor predisposisi
Faktor predisposisi yang berpengaruh pada pasien halusinasi dapat mencakup:
a) Dimensi biologis
Meliputi abnormalitas perkembangan sistem syaraf yang
berhubungan dengan respon neurobiologis maladaptif yang ditunjukkan
melalui hasil penelitian pencitraan otak, zat kimia otak
dan penelitian pada keluarga yang melibatkan anak kembar dan
anak yang diadopsi yang menunjukkan peran genetik pada skizofrenia.
b) Psikologis
Teori psikodinamika untuk terjadinya respons neurobiologis yang maladaptif
belum didukung oleh penelitian.

c) Sosial budaya
Stres yang menumpuk dapat menunjang awitan skizofrenia dan
gangguan psikotik lain, tetapi tidak diyakini sebagai penyebab utama
gangguan.
3. Faktor presipitasi
Stressor pencetus terjadinya gangguan persepsi sensori : halusinasi diantaranya:
a. Stressor biologis
Stressor biologis yang berhubungan dengan respon neurobiologis
maladaptif meliputi gangguan dalam komunikasi dan putaran balik
otak yang mengatur proses informasi dan abnormalitas pada
mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan
untuk secara selektif menanggapi stimulus.
b. Stressor lingkungan
Ambang toleransi terhadap stres yang ditentukan secara biologis
berinteraksi dengan stresor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan
perilaku.
c. Pemicu gejala
Pemicu merupakan perkusor dan stimuli yang menimbulkan
episode baru suatu penyakit. Pemicu biasanya terdapat pada
respons neurobiologis maladaptif yang berhubungan dengan kesehatan,
lingkungan, sikap, dan perilaku individu.

4. Penilaian stressor
Tidak terdapat riset ilmiah yang menunjukkan bahwa stres
menyebabkan skizofrenia. Namun, studi mengenai relaps dan
eksaserbasi gejala membuktikan bahwa stres, penilaian individu
terhadap stressor, dan masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan
kekambuhan gejala.
5. Sumber koping
Sumber koping individual harus dikaji dengan pemahaman tentang
pengaruh gangguan otak pada perilaku. Kekuatan dapat meliputi modal,
seperti intelegensi atau kreativitas yang tinggi.
6. Mekanisme koping
Perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi pasien dari
pengalaman yang menakutkan berhubungan dengan respon neurobiologis
maladaptif meliputi:
a. Regresi, berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya
untuk mengatasi ansietas, yang menyisakan sedikit energi untuk aktivitas
hidup sehari-hari.
b. Proyeksi, sebagai upaya untuk menjelaskan kerancuan persepsi.
c. Menarik diri

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut Keliat, (2006) diagnosa keperawatan Halusinasi adalah sebagai berikut :
1. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi
2. Isolasi sosial : menarik diri.
3. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

3. INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa 1 : Gangguan persepsi sensori : halusinasi
Tujuan umum : Klien tidak mencederai orang lain
TUK 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya
Intervensi :
1. Beri salam dan panggil nama klien
2. Sebutkan nama perawat, sambil berjabat tangan
3. Jelaskan maksud hubungan interaksi
4. Jelaskan tentang kontrak yang akan dibuat.
5. Beri rasa aman dan sikap empati.
6. Lakukan kontak singkat tapi sering.
TUK 2 : Membantu klien mengenal halusinasi ( jenis, isi, waktu, frekuensi,
situasi, respon ).
Intervensi : Bantu klien mengenal halusinasinya yang meliputi isi, waktu terjadi
halusinasi, frekuensi, situasi pencetus, dan perasaan saat terjadi halusinasi.
TUK 3 : Menjelaskan cara-cara mengontrol halusinasi.
Intevensi : Menjelaskan cara-cara mengontrol halusinasi saat klien mengalami
halusinasi.
TUK 4 : Mengajarkan klien mengontrol halusinasi dengan cara yaitu :
1. Menghardik.
2. Becakap-cakap dengan orang lain
3. Melakukan kegiatan yang biasa dilakukan
Intervensi : Mendemonstrasikan atau mengajarkan cara mengontrol halusinasi
yaitu dengan :
1. Cara menghardik
2. Bercakap-cakap dengan orang lain dan
3. Melakukan kegiatan yang biasa dilakukan.
TUK 5 : Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai dengan program
pengobatan)
Intervensi:
1. Jelaskan jenis-jenis obat yang diminum klien pada klien dan keluarga.
2. Diskusikan manfaat minum obat dan kerugian berhenti minum obat tanpa seizin
dokter.
3. Jelaskan prinsip 5 benar minum obat (nama klien, obat, dosis, cara dan waktu).
4. Anjurkan klien minta obat dan minum obat tepat waktu
5. Anjurkan klien melaporkan pada perawat atau dokter jika merasakan efek yang
tidak menyenangkan.
6. Beri pujian jika klien minum obat dengan benar.

Diagnosa 2 : Isolasi sosial : menarik diri


Tujuan Umum : Klien dapat berhungan dengan orang lain.
TUK 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya
Intevensi :
1. Bina hubungan saling percaya: salam terapeutik, memperkenalkan diri,
jelaskantujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kesepakatan
dengan jelas tentang topik, tempat dan waktu.
2. Beri perhatian dan penghargaan : temani klien walau tidak menjawab.
3. Dengarkan dengan empati : beri kesempatan bicara, jangan terburu-buru,
tunjukkan bahwa perawat mengikuti pembicaraan klien.
TUK 2 : Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
Intervensi :
1. Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya.
2. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik
diri atau mau bergaul.
3. Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta
penyebab yang muncul.
4. Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.
TUK 3 : Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain
dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.

Intervensi :
1. Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan
orang lain.
2. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang
keuntungan berhubungan dengan orang lain.
3. Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain.
4. Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan
tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain.
5. Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang
lain.
6. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan dengan orang lain.
7. Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
8. Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan
tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
TUK 4 : Mengajarkan klien cara berkenalan dengan satu orang, dengan perawat
dan klien lain.
Intervensi :
1. Mengajarkan cara berkenalan dengan orang dengan cara mempraktekan dan
melakukan.
2. Berikan reinforcement positif terhadap kemampuan klien.
TUK 5 : Mengajarkan klien cara berkenalan dengan dua orang.
Intervensi :
1. Mengajarkan cara berkenalan dengan dua orang dengan cara mempraktekan dan
melakukan.
2. Berikan reinforcement positif terhadap kemampuan klien.
Diagnosa 3 : Resiko mencederai diri sendiri,lingkungan dan orang lain.
Tujuan Umum : Tidak terjadi perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain.
TUK 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Intervensi :
1. Beri salam dan panggil nama klien.
2. Sebutkan nama perawat, sambil berjabat tangan.
3. Jelaskan maksud hubungan interaksi.
4. Jelaskantentangkontrak yang akandibuat.
5. Beri rasa aman dan sikap empati.
6. Lakukan kontak singkat tapi sering.
TUK 2 : Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
Intervensi :
1. Berikesempatanuntuk mengungkapkan perasaan.
2. Bantu klien untuk mengungkapkan penyebab perasaan jengkel atau kesal.
TUK 3 : Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
Intervensi:
1. Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel atau
kesal.
2. Observasi tanda perilaku kekerasan.
3. Simpulkan bersama klien tanda tanda jengkel atau kesal yang dialami klien.
TUK 4 : Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
Intervensi:
1. Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
2. Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
3. Bicarakan dengan klien "apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya bisa
selesai ?"
TUK 5 : Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
Intervensi:
1. Bicarakan akibat atau kerugian dari cara yang dilakukan.
2. Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.
3. Tanyakan apakah ingin mempelajari carabaru yang sehat.
TUK 6 : Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap
kemarahan.

Intervensi:
1. Tanyakan kepada klien apakah dia ingin mempelajari cara baru yang sehat
2. Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.
3. Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat.
a. Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal, berolah raga, memukul bantal /
kasur atau pekerjaan yang memerlukan tenaga.
b. Secara verbal : katakana bahwa anda sedang marah atau kesal atau tersinggung.
c. Secara sosial : lakukan dalam kelompok cara-cara marah yang sehat
d. Secara spiritual : berdo'a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi
kesabaran.
TUK 7 : Klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan
Intervensi:
1. Bantu memilih cara yang paling tepat.
2. Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.
3. Bantu menstimulasikancara yang telahdipilih.
4. Beri reinforcement positif atas keberhasilan klien menstimulasi cara tersebut
5. Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel atau marah.
TUK 8 : Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai dengan program
pengobatan)
Intervensi:
1. Jelaskan jenis-jenis obat yang diminum klien pada klien dan keluarga.
2. Diskusikan manfaat minum obat dan kerugian berhenti minum obat tanpa seizing
dokter.
3. Jelaskan prinsip 5 benar minum obat (nama klien, obat, dosis, cara dan waktu).
4. Anjurkan klien minta obat dan minum obat tepat waktu.
5. Anjurkan klien melaporkan pada perawatatau dokter jika merasakan efek yang
tidak menyenangkan.
6. Beri pujian jika klien minum obat dengan benar.
TUK 9 : Klien mendapat dukungan keluarga dalm mengontrol perilaku kekerasan
Intervensi:
1. Identifikasi kemampuan keluarga merawat klien dari sikap apa yang telah
dilakukan keluarga selama ini.
2. Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien.
3. Jelaskan cara-cara merawat klien :
a. Cara mengontrol perilaku marah secara konstruktif.
b. Sikap tenang, bicara tenang dan jelas.
c. Membantu klien mengenal penyebab marah.
4. Bantu keluarga mendemonstrasikan cara merawat klien.
5. Bantu keluarga mengungkapkan perasaannya setelah melakukan demonstrasi.
BAB III
TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN
Pengkajian dilakukan pada hari jumat tanggal 04 juni 2014 jam 09.00 WIB
penulis melakukan studi kasus dengan gangguan persepsi : sensori halusinasi
pendengaran pada Ny.A di ruang pavilliun flamboyan Rumah Sakit Mitra Siaga
Tegal, di dapatkan data sebagai berikut.
1. Identitas
a. Identitas klien
Nama : Ny.A
Umur : 38 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : -
Alamat : Pemalang
Tanggal masuk : 01 Juni 2014 Jam : 13.50 WIB
No RM : 134304
Diagnosa medik : Skizofrenia paranoid

b. Identitas penanggung jawab


Nama : Tn.S
Pekerjaan : Wiraswasta
Hubungan dengan klien : Ayah

B. ALASAN MASUK
Klien bicara sendiri, menyendiri, dan sering melamun.
C. FAKTOR PREDISPOSISI
Keluarga klien mengatakan klien pernah mengalami gangguan jiwa saat usia
25 tahun dan klien sudah 3 kali kali dirawat di Rumah Sakit Jiwa dengan keluhan
yang sama yakni klien sering bicara kacau, marah-marah tanpa sebab, melempar
barang-barang dan sering keluyuran. Klien terakhir kali dirawat di RSJD Amino
gondhohutomo Semarang pada bulan September 2012. Klien dibawa pulang oleh
keluarga karena sudah dinyatakan sembuh oleh dokter, tetapi pengobatan yang
dilakukan kurang berhasil karena jaraknya jauh akibatnya klien tidak rutin
kontrol. Klien dibawa ke Rumah Sakit Mitra Siaga karena klien bicara kacau,
marah-marah tanpa sebab, melempar gelas dan piring. Keluarga klien mengatakan
klien merupakan orang yang mudah tersinggung, klien mempunyai beberapa
masalah yang kurang menyenangkan yaitu ditinggal suaminya menikah lagi.
Selama kurang lebih 13 tahun klien ditinggal oleh suaminya tanpa dinafkahi, klien
membesarkan kedua anaknya sendiri.
D. PEMERIKSAAN FISIK
1. Tanda-tanda Vital
Tekanan Darah : 120/80 mmHg. Suhu : 36,4
C. Nadi : 100 x / menit. RR : 24 x /
menit.
2. Pengukuran antopometri
TB : 150 cm.
BB : 68 kg.
3. Keadaan Fisik
a. Kepala : Rambut agak kriting, rapi.
b. Mata : Tidak fokus, pandangan tajam, kontak mata kurang.
c. Hidung : Bersih, kadang terlihat tarikan nafas yang keras.
d. Mulut : Klien bicara kacau, suka ngomong sendiri.
e. Muka : Ekspresi wajah tegang dan mudah tersinggung.
f. Ekstremitas : Tangan klien kadang-kadang mengepal, tidak ada cacat pada
ekstremitas atas maupun bawah, otot terlihat menegang.
E. PSIKOSOSIAL
1. Genogram

Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Klien
: Garis keturunan
: Garis perkawinan
: Tinggal dalam satu rumah
: Laki laki meninggal
: Perempuan meninggal
Klien adalah anak pertama dari 6 bersaudara, klien tinggal bersama ke dua
anaknya dan tinggal dengan bapaknya. Semua saudara klien sudah menikah
mempunyai anak. Klien sudah menikah dan mempunyai dua orang anak
perempuan. Klien ditinggal suaminya kurang lebih 13 tahun karena suaminya
menikah lagi tapi belum bercerai.Klien tinggal serumah dengan anak dan
bapaknya. Hubungan klien dengan keluarga baik.
2. Konsep Diri
a. Gambaran diri
Klien menyukai semua bagian tubuhnya dan bersyukur atas semua yang
diciptakan Tuhan. Klien mengatakan kurang puas dengan bentuk tubuhnya yang
gemuk dan rambutnya yang agak kriting yang sudah mulai beruban.
b. Identitas Diri
Klien mengetahui bahwa dirinya adalah seorang perempuan dan klien menerima
dengan ikhlas dia sebagai perempuan. Klien adalah anak pertama dari 6
bersaudara.
c. Peran
Klien seorang ibu rumah tangga, di rumah klien sudah terbiasa menyelesaikan
semua pekerjaan rumah seperti mencuci, masak, menyapu, mengepel dan lain-
lain. Klien adalah single parent bagi anak-anaknya. Klien tidak bekerja sehingga
tidak bisa menafkahi anaknya. Anaknya dinafkahi oleh ayah klien.

d. Ideal Diri
Klien mengatakan ingin menafkahi anaknya sendiri, tetapi klien tidak bekerja,
klien tidak ingin membebani ayahnya.
e. Harga Diri
Klien mengatakan bahwa dirinya kurang percaya diri dan merasa malu karena
klien dianggap orang sakit jiwa oleh tetangga-tetanganya dan penyakit yang
diderita saat ini tidak bisa sembuh, klien lebih suka menyendiri di rumah dari pada
berkumpul dengan tetangganya.
3. Hubungan Sosial
Selama klien dirawat di RS Mitra Siaga Tegal klien mengatakan tidak suka
berkumpul dengan teman-temannya maupun perawat yang ada ruangan. Klien
tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Klien terlihat lebih suka sendiri
dikamarnya dan melamun.
4. Spiritual (nilai dan keyakinan)
Klien berkeyakinan pada agama Islam, kegiatan ibadah seperti sholat dilakukan
ketika belum masuk rumah sakit. Selama klien di rawat di rumah sakit klien
menyatakan jarang menjalankan sholat 5 waktu.

F. STATUS MENTAL
1. Penampilan
Kebersihan dan kerapihan klien cukup baik, rapi dan pakaian yang dikenakan
klien juga sesuai.

2. Pembicaraan
Saat diajak berkomunikasi klien bicara cepat, keras, mudah dimengerti.
3. Aktvitas Motorik
Klien sehari-hari banyak menghabiskan waktu di kamarnya dan melamun, tampak
gelisah dan mondar-mandir. Klien kadang-kadang juga marah-marah tanpa sebab
dan ingin memukul orang.
4. Alam Perasaan
Klien merasa sedih karena kangen dengan kedua anaknya.
5. Afek
Afek klien labil, emosinya cepat berubah-ubah, kadang senang, sedih dan gelisah.
6. Interaksi Selama Wawancara
Klien kooperatif ketika diajak ngobrol, tapi kontak mata klien kurang, klien
mengatakan mudah tersinggung jika mengobrol dengan orang lain.
7. Persepsi
Klien mengalami halusinasi dengar. Klien mendengar suara-suara yang muncul
saat klien sendirian melamun. Isi suara itu adalah suara ibunya yang sudah
meninggal kurang lebih 4 tahun yang lalu, yang selalu memberi nasehat pada
klien agar tidak hamil dan menikah lagi. Klien juga sering mendengar suara orang
yang menyuruhnya agar dia mati, suara-suara itu muncul kadang-kadang 2 sampai
3 kali sehari, klien mendengar suara itu saat dia melamun, sendirian dan malam
hari. Lama suara-suara itu kurang lebih 7 menit. Saat klien mendengar suara-suara
itu klien merasa takut, cemas dan sangat mengganggu. Klien biasanya hanya
berdoa dan minta perlindungan dari Allah SWT agar suara itu bisa hilang.
8. Proses Fikir
Saat berinteraksi klien mampu menjawab apa yang ditanyakan lawan bicara
secara berurutan sesuai dengan topik tanpa menunggu lama, Klien menjawab
pertanyaan yang diberikan dengan pembicaraan yang cepat dan lancar.
9. Isi Pikir
Klien sering curiga dan berprasangka buruk pada orang lain yang belum ia kenal.
Klien juga merasa bahwa dirinya bisa menyembuhkan orang sakit.
10. Tingkat Kesadaran
Tingkat kesadaran klien masih cukup baik. Klien dapat mengetahui apakah ini
pagi, siang, sore atau malam. Klien juga mengetahui kalau saat ini sedang di
Rumah sakit. Klien masih ingat siapa saja yang semalam tidur seruang dengan
dia. Klien bisa mengenali perawat.
11. Memori
a. Jangka Panjang : Baik, klien dapat menyebutkan tanggal kelahiran anak
pertamanya yaitu 10 September 1989.
b. Jangka Pendek : Baik, klien dapat menyebutkan nama teman-temannya yang ada
diruangan.
c. Saat Ini : Baik, klien dapat mengingat nama perawat dan klien juga ingat menu
makanan apa saja yang sudah dimakan tadi.

12. Tingkat Konsentrasi Dan Berhitung


Klien mampu berkonsentrasi dengan baik, ketika diberikan pertanyaan tidak
meminta mengulang pertanyaan yang diberikan, klien mampu melakukan
penghitungan sederhana misalnya 20+25+25 berapa ? klien menjawab 70.
13. Kemampuan Penilaian
Klien mampu mengambil keputusan sederhana misalnya Apabila ibu diminta
milih maka ibu milih makan dulu atau mandi dulu ? klien menjawab Saya
memilih makan dulu baru mandi, karena setelah makan harus cuci piring nanti
bisa kotor kalau pilih mandi dulu.
14. Daya Tilik Diri
Klien menyadari bahwa klien saat ini mengalami gangguan jiwa dan pernah
dirawat di RSJ 3 kali.

G. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG


1. Makan
Klien makan 3 kali sehari (pagi, siang, sore) habis seporsi dengan menu yang
berbeda yang disediakan di rumah sakit, klien makan sendiri tanpa bantuan.
2. Minum
Klien minum 8 gelas perhari, selama klien dirawat di rumah sakit. Klien minum
sesuai yang disediakan.
3. BAB / BAK
Klien BAB 2 kali sehari dan BAK 4-6 kali sehari. Klien melakukan sendiri tanpa
bantuan.
4. Mandi
Klien mandi 2 kali sehari tiap pagi dan sore dengan memakai sabun, menggosok
gigi setiap mandi dan dua hari sekali keramas.
5. Berpakaian
Klien mampu memakai pakaian sendiri tanpa bantuan, klien berpakaian cukup
rapi.
6. Istirahat / Tidur
Klien dapat istirahat cukup dan tidur selama kurang lebih 8 jam tiap harinya, pada
siang hari Ny.A tidur kurang lebih 1 jam dan tidur malam dari jam 21.00 wib
sampai 04.00 wib, saat tidur malam terkadang Ny.A terbangun karena mendengar
suara-suara.
7. Penggunaan Obat
Klien minum obat 2 kali sehari (pagi dan sore). Klien minum obat sesuai dosis
dan anjuran yang telah ditentukan oleh dokter secara rutin dan teratur.

H. MEKANISME KOPING
Jika klien mendapatkan masalah klien lebih memilih untuk memendamnya sendiri
(menyendiri) dengan alasan malu menceritakan masalahnya kepada orang lain.

I. MASALAH PSIKOLOGIS DAN LINGKUNGAN


Klien mengatakan Saya lebih suka menyendiri dikamar dari pada berkumpul
dengan teman-teman saya yang ada diruangan

J. ANALISA DATA
NO. DATA MASALAH
1 DS : Perubahan Persepsi Sensori
- Klien mengatakan Saya suka Halusinasi Pendengaran
mendengar suara ibu saya yang
sudah meninggal 4 tahun yang
lalu, ibu menasehati saya agar
tidak hamil dan menikah lagi,
kadang-kadang suara orang yang
menyuruh saya untuk mati. Suara-
suara itu muncul kadang-kadang 2
3 kali dalam 1 minggu biasanya
muncul kalo saya lagi menyendiri
dan melamun, lama suara itu 7
menit.
DO:
- Klien tampak bingung.
- Mulut komat-kamit.

- Klien kadang bicara sendiri.

- Klien mondar-mandir.

- Koping maladaptif.

2 DS : Isolasi sosial : Menarik diri


- Klien mengatakan tidak suka
berkumpul dengan teman-
temannya maupun perawat yang
ada ruangan.

- DO :

- Klien terlihat acuh dengan


lingkungan sekitar

- Klien terlihat lebih suka


menyendiri di kamarnya dan
melamun.

- Kontak mata kurang.

DS :
3 Resiko mencederai diri, orang lain
dan lingkungan
- Klien mengatakan Saya merasa
terganggu jika mendengar suara-
suara itu, saya juga jengkel dan
rasanya ingin melempar barang-
barang kalau suara-suara itu
muncul .

- Klien mengatakan sebelum dibawa


kesini klien marah-marah dan
melempar gelas dan piring.

DO:
- Klien bicara kacau

- Klien marah-marah tanpa sebab.

- Pandangan mata tajam, tidak


fokus, kontak mata kurang.

- Nada suara cepat dan tinggi

K. ASPEK MEDIS
1. Diagnosa Medik : Skizofrenia paranoid

2. Terapi Medis :
a. Terapi farmakologi
Nama Obat Dosis Warna Indikasi Efek Samping
Triheksilfenidil 2x2 mg/hari Putih Parkinson rileks. Mengantuk
Lemas
Chlorpromazine 2x100 mg/hari orange Penenang dosis Mengantuk
tinggi. Mata kabur
Haloperidol 2x1,5 mg/hari pink Obat halusinasi. Tremor

b. Terapi Non-farmakologi :Klien pernah mendapatkan terapi ECT (Elektro


convulsion therapy).

L.
Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
POHON MASALAH
(Akibat)
Perubahan persepsi sensori : Halusinasi

(Core
Problem)
Isolasi sosial : Menari diri

(Penyebab)

Gb 2.2 Pohon masalah halusinasi


(Sumber : Keliat, 2006)
M. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan Persepsi : Sensori Halusinasi
2. Isolasi Sosial : Menarik diri
3. Resiko Mencederai Diri Sendiri, Orang Lain Dan Lingkungan.
N. RENCANA KEPERAWATAN
PERENCANAAN
N TUJUAN KRITERIA EVALUASI I
si TUM : 1. Ekpresi wajah klien bersahabat. 1. Beri salam/panggil nama klien
i Klien dapat 2. Klien menunjukkan rasa senang. 2. Sebutkan nama perawat sambi
mengontrol 3. Ada kontak mata. 3. Jelaskan maksud hubungan int
halusinasinya. 4. Klien mau berjabat tangan. 4. Jelaskan tentang kontrak yang
TUK 1 : 5. Klien mau menyebutkan nama. 5. Beri rasa aman dan sikap empa
Klien dapat 6. Klien mau menjawab salam. 6. Lakukan kontak singkat tapi se
membina 7. Klien mau duduk berdampingan dengan perawat.
hubungan 8. Klien bersedia mengungkapkan masalah yang dihadapi.
saling
percaya.

TUK 2 : 1. Klien dapat menyebutkan jenis, waktu, isi, situasi, frekuensi, dan1. Lakukan kontak sering dan si
Klien dapat respon timbulnya halusinasi 2. Observasi tingkah laku klien
mengenal tertawa tanpa stimulus, meng
halusinasinya seolah olah klien mendengar s
(jenis, waktu, 3. Bantu klien mengenal halusin
isi, situasi, a. Tanyakan apakah ada suara y
frekuensi, dan b. Tanyakan apa yang dikatakan
respon saat c. Katakan perawat percaya kl
timbulnya sendiri tidak mendengarnya.
halusinasi). d. Katakan bahwa klien lain juga
e. Katakan bahwa perawat akan
4. Diskusikan dengan klien :
a. Situasi yang menimbulkan/ ti
b. Waktu dan frekuensi terjadin
5. Diskusikan dengan klien ap
(marah, takut, sedih dan senan
6. Beri kesempatan klien untuk
TUK 3 : 1. Klien dapat menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan untuk1. Identifikasi bersama klien c
Klien dapat mengendalikan halusinasinya. halusinasi.
mengontrol 2. Klien dapat menyebutkan cara baru untuk mengontrol halusinasi. 2. Diskusikan manfaat cara ya
halusinasinya.3. Klien dapat memilih cara mengatasi halusinasi seperti yang telah Pujian.
didiskusikan dengan perawat. 3. Diskusikan cara baru untuk m
4. Klien dapat melaksanakan cara yang telah dipilih untuk mengendalikan dengan cara :
halusinasi. a. Menghardik.
5. Klien dapat mencoba cara menghilangkan halusinasi. b. Menemui orang lain untuk be
c. Melakukan kegiatan yang bia
4. Bantu klien memilih dan me
bertahap.
5. Beri kesempatan kepada klie
evaluasi hasilnya, dan beri pu

TUK 4 : 1. Keluarga menyatakan setuju untuk mengikuti1. Buat kontrak waktu, tem
Klien dapat pertemuan dengan perawat. keluarga berkunjung.
dukungan dari2. Keluarga mampu menyebutkan pengertian, tanda dan2. Diskusikan pada kelua
keluarga gejala, proses terjadinya halusinasi dan tindakan untuk mengendali tanda dan gejala halusina
dalam kan halusinasi. cara
mengontrol dilakukan klien dan keluarg
halusinasinya. 3. Jelaskan tentang obat-obatan
4. Jelaskan cara merawat ang
misalnya beri kegiatan, jang
5. Anjurakan keluarga
obatan dan cara pemberiann
6. Beri
waktu kontrol kerumah sak
jika halusinasi tidak bisa dia
TUK 5 : 1. Klien dapat menyebutkan manfaat, dosis dan efek samping obat. 1. Diskusikan dengan klien da
Klien dapat 2. Klien dapat mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar. manfaat minum obat.
memanfaatkan3. Klien dapat informasi tentang efek dan efek samping obat. 2. Anjurkan klien meminta se
obat dengan 4. Klien dapat memahami akibat berhentinya mengonsumsi obat-obat manfaatnya.
baik. tanpa konsultasi. 3. Anjurkan klien bicara dengan
5. Klien dapat menyebutkan prinsip 6 benar penggunaan obat minum obat yang dirasakan
4. Diskusikan akibat berhenti m
5. Bantu klien menggunakan ob
O. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
Hari Pertama
No
Tanggal/Ja IMPLEMENTA EVALUASI
.
Dx m SI
1. 05/06/201 SP1P Halusinasi S:
4 1. Melakukan - Klien mengatakan senang berkenalan
10.30 WIB BHSP dengan penulis.
dengan klien. - Klien mengatakan Saya suka mendengar
2. Menanyakan suara ibu saya yang sudah meninggal 4
tentang perasaan tahun yang lalu, ibu menasehati saya agar
klien. tidak hamil dan menikah lagi, kadang-
3. Mengidentifikasi kadang suara orang yang menyuruh saya
halusinasi yang untuk mati. Suara-suara itu muncul
dialami klien kadang-kadang 2 kali dalam 1 hari
(jenis, isi, biasanya muncul kalau saya lagi
frekuensi, waktu, menyendiri dan melamun, lama suara itu
situasi, dan 7 menit, saya merasa cemas dan takut
respon). kalau suara-suara itu muncul rasanya
4. Menjelaskan kep ingin melempar barang-barang.
ada klien cara- - Klien mengatakan bersedia memasukan
cara untuk cara yang telah dilatih kedalam jadwal
mengontrol harian.
halusinasi. O:
5. Melatih klien cara - klien kooperatif saat diajak interaksi.
mengontrol halusi - Klien mau membina hubungan saling
nasi dengan cara percaya dengan penulis.
yang pertama - Kontak mata klien ada saat interaksi.
yaitu menghardik - Klien mau menjawab pertanyaan yang
halusinasi. diberikan oleh penulis.
6. Memberikan - Klien mau menceritakan masalahnya .
kesempatan - Klien mau
kepada klien memperhatikan cara menghardik yang
untuk melakukan diajarkan dan mau mempraktekkannya
cara yang sudah dengan benar.
diajarkan. A:
4. Memberikan - SP1P Halusinasi tercapai.
reirforcement P:
positif kepada Klien :
klien. - Motivasi klien utuk melakukan
5. Melakukan menghardik halusinasi secara mandiri
Evaluasi terhadap sesuai jadwal yaitu setiap pagi jam 09.00 ,
perasaan klien siang jam 13.00 dan sore jam 16.00.
setelah latihan Perawat :
mengontrol - Evaluasi SP1P Halusinasi
halusinasi dengan - Monitor klien latihan menghardik sesuai
cara menghardik. dengan jadwal yang telah disusun.
6. Memasukan - Lanjutkan SP2P Halusinasi
latihan
menghardik
halusinasi dalam
jadwal kegiatan
harian klien.

Hari Kedua
N Tanggal IMPLEMENT EVALUASI
o. /Jam ASI
D
x
1. S:
06/06/2 SP2P
014 Halusinasi
- Klien mengatakan perasaanya hari ini senang
10.00 1.Melakukan
bertemu lagi dengan penulis.
WIB BHSP dengan
- Klien mengatakan Saya masih suka mendengar
klien dan
suara ibu saya yang sudah meninggal 4 tahun
mengingatkan
yang lalu, ibu menasehati saya agar tidak hamil
kembali nama
dan menikah lagi, kadang-kadang suara orang
penulis.
yang menyuruh saya untuk mati. Suara-suara itu
2.Menanyakan
muncul kadang-kadang 2 kali dalam 1 hari
tentang
biasanya muncul kalau saya lagi menyendiri dan
perasaan klien.
melamun, lama suara itu 7 menit.
3. Menanyakan
- Klien mengatakan kalau kemarin sudah
pada klien
diajarkan bagaimana cara untuk menghardik
apakah
halusinasi.
halusinasinya
- Klien mengatakan setelah menghardik suara-
masih muncul.
suara yang didengarnya itu hilang.
4. Validasi
- Klien mengatakan mau
jenis, isi,
diajari cara mengontrol halusinasi dengan me
waktu,
nemui orang lain untuk bercakap-cakap dan
frekuensi,
mau mempraktekanya.
situasi dan O :
respon klien
- Klien kooperatif
terkait
- Klien mau melakukan kontak mata dengan
halusinasinya.
perawat.
5. Mengevaluas
- Klien mampu mengajak bercakap-cakap dengan
i cara
perawat meskipun hanya sebentar.
mengontrol
- Klien mau memasukan kedalam jadwal harian.
halusinasi
A:
dengan cara
- SP2P halusinasi tercapai.
pertama yang P :
sudah Klien :
diajarkan dan - Motivasi klien utuk segera menemui perawat
mengevaluasi atau klien lain dan bercakap-cakap jika
jadwal halusinasinya muncul.
kegiatan Perawat :
harian klien. - Evaluasi SP2P Halusinasi
6. Melatih klien - Perawat selalu siap ketika klien mengajak
mengontrol h bercakap-cakap saat halusinasinya muncul.
alusinasi - Lanjut SP3P Halusinasi
dengan cara
yang kedua
yaitu
bercakap-
cakap bersama
orang lain.
7. Memberi
kesempatan
kepada klien
untuk
mempraktekan
cara bercakap-
cakap dengan
orang lain.
8. Memberikan
reirforcement
positif kepada
klien.
9. Melakukan
evaluasi
terhadap
perasaan klien
setelah latihan
mengontrol
halusinasi
dengan cara
yang kedua
yang telah
diajarkan.
10. Memasukan
latihan cara
mengontrol
halusinasi
dengan cara
menemui
orang lain
untuk diajak
bercakap-
cakap kedalam
jadwal
kegiatan
harian klien.

Hari Ketiga
N Tang IMPLEMENTASI EVALUASI
o gal/J
. am
D
x
1 S:
06/0 SP3P Halusinasi
.
6/20 1.Melakukan BHSP dengan klien dan
- Klien mengatakan Saya
14 mengingatkan kembali nama penulis.
masih suka mendengar suara
11.0 2.Menanyakan tentang perasaan klien.
ibu saya yang sudah
0 3.Menanyakan apakah halusinasinya
meninggal 4 tahun yang
WIB masih muncul.
lalu, ibu menasehati saya agar
4. Mengevaluasi cara mengontrol
tidak hamil dan menikah lagi,
halusinasi dengan cara pertama dan
kadang-kadang suara orang
kedua yang sudah diajarkan serta
yang menyuruh saya untuk
mengevaluasi jadwal kegiatan harian
mati. Suara-suara itu muncul
klien.
kadang-kadang 2 3 kali
5. Melatih klien
dalam 1 hari biasanya muncul
mengontrol halusinasi dengan cara
kalau saya lagi menyendiri
yang ketiga yaitu dengan melakukan
dan melamun, lama suara itu
aktifitas terjadwal yang biasa
7 menit.
dilakukan.
- Klien mengatakan sudah
6. Mengidentifikasi bersama klien
melakukan cara yang diajarkan
cara atau tindakan yang dilakukan
yaitu menghardik dan
jika terjadi halusinasi.
menemui orang lain untuk
7. Mendiskusikan
bercakap-cakap sesuai jadwal
cara yang digunakan klien
dan saat suara-suaranya
yaitu melakukan aktivitas dan me
muncul.
mberi pujian
- Klien mengatakan selalu
pada Klien jika bisa melakukannya
berusaha untuk berkumpul dan
.
melakukan aktivitas.
8. Memotivasi Ny. A O:
dalam melakukan
- Klien masih mengingat nama
aktivitas untuk menghilangkan
perawat, dan masih ingat cara
halusinasinya
9. Membantu membuat dan mengontrol halusinasi dengan
melaksanakan jadwal kegiatan hari cara pertama dan kedua
an yang telah disusun klien. (menghardik halusinasi dan
10. Meminta teman, keluarga, atau menemui orang lain untuk
perawat untuk menyapa klien jika bercakap-cakap) yang
sedang halusinasi. sebelumnya telah diajarkan.
11. Membantu klien memilih cara y - Klien kooperatif saat diajak
ang sudah dianjurkan dan dilatih u bicara.
ntuk mencobanya. - Klien mau melakukan kontak
12. Memberi kesempatan pada mata dengan perawat.
klien untuk melakukan cara yang - Klien mampu menyebutkan
dipilih dan dilatih kegiatan apa saja yang biasa
dilakukan yaitu menyapu,
mencuci piring, melipat
pakaian, dan lain-lain.
- Klien mampu melakukan
kegiatan yang sudah dipilih
dan dilatih dengan benar.
- Klien mau memasukan
kegiatan yang sudah dipilih
dan dilatih kedalam jadwal
kegiatan harian.
A:
- SP3P Halusinasi tercapai.
P:
Klien :
- Motivasi klien utuk
belajar mengontrol
halusinasi dengan cara meng
ahardik, menemui orang lain
untuk bercakap cakap dan
melakukan aktivitas sesuai
dengan jadwal yang telah
disusun.
Perawat :
- Monitor klien latihan
menghardik, menemui orang
lain untuk bercakap-
cakap, dan melakukan
aktivitas sesuai jadwal.
BAB IV
PEMBAHASAN

Berdasarkan asuhan keperawatan pada Ny.A dengan Gangguan Persepsi :


Sensori Halusinasi Pendengaran yang dilaksanakan di Ruang Pavilliun Flamboyan
Rumah Sakit Mitra Siaga Tegal selama 3 hari dari tanggal 05 - 07 Juni 2014,
pada bab ini penulis akan membahas seluruh tahapan proses keperawatan yang
terdiri dari pengkajian, diagnosa, keperawatan, intervensi, implementasi dan
evaluasi keperawatan.
A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses
keperawatan yang terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan, atau
masalah klien. Pengumpulan data pengkajian meliputi aspek identitas klien, alasan
masuk, faktor predisposisi, fisik, psikososial, status mental, kebutuhan persiapan
pulang, mekanisme koping, masalah psikososial lingkungan, pengetahuan, dan
aspek medik (Keliat, 2006). Dalam pengumpulan data penulis menggunakan
metode wawancara dengan Ny.A, observasi langsung terhadap kemampuan dan
perilaku Ny.A serta dari status Ny.A. Selain itu keluarga juga berperan sebagai
sumber data yang mendukung dalam memberikan asuhan keperawatan pada
Ny.A, namun pada saat pengkajian tidak ada anggota keluarga Ny.A yang
menjenguknya, sehingga penulis tidak memperoleh informasi dari pihak keluarga.

Dari hasil pengkajian pada Ny. A didapatkan data Ny. A suka bicara sendiri,
menyendiri, dan sering melamun. Dalam pengkajian pola fungsional
difokuskan pada pola persepsi Ny. A, didapatkan data bahwa Ny.
A mengalami halusinasi pendengaran. Ny. A mendengar suara ibunya yang
sudah meninggal 4 tahun yang lalu yang menasehatinya untuk tidak hamil dan
menikah menikah lagi. Ny. A juga mendengar suara orang yang menyuruhnya
agar dia mati, suara-suara itu muncul kadang-kadang 2 sampai 3 kali sehari, klien
mendengar suara itu saat dia melamun, sendirian dan malam hari. Lama suara-
suara itu kurang lebih 7 menit. Saat klien mendengar suara-suara itu klien merasa
takut, cemas dan sangat mengganggu. Keluarga klien mengatakan klien sudah 3
kali dirawat di Rumah Sakit Jiwa, klien merupakan orang yang mudah
tersinggung, klien mempunyai beberapa masalah yang kurang menyenangkan
yaitu ditinggal suaminya menikah lagi. Selama kurang lebih 13 tahun klien
ditinggal oleh suaminya tanpa dinafkahi, klien membesarkan kedua anaknya
sendiri.
Menurut Videbeck, (2008) tanda gejala halusinasi pendengaran yaitu
mendengar suara-suara, bicara sendiri, tertawa sendiri, marah-marah tanpa sebab,
mulut komat-kamit, menutup telinga, dan menyendiri. Adanya rangsangan dari
lingkungan, seperti partisipasi pasien dalam kelompok, terlalu lama tidak diajak
berkomunikasi, objek yang ada di lingkungan, dan juga suasana sepi atau
terisolasi sering menjadi pencetus terjadinya halusinasi (Direja, 2011). Faktor
predisposisi gangguan halusinasi Menurut Stuart, (2007) dapat muncul sebagai
proses panjang yang berhubungan dengan kepribadian seseorang, karena itu
halusinasi dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman psikologis seseorang.
Sedangkan menurut Yosep, (2011) faktor predisposisi adalah faktor resiko yang
mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu
untuk mengatasi stress. Faktor predisposisi dapat meliputi faktor perkembangan,
sosiokultural, biokimia, psikologis, genetik dan pola asuh.
Dari hasil pengkajian yang dilakukan oleh Aji, (2012) dalam studi kasusnya
yang berjudul Asuhan Keperawatan Gangguan Keamanan Pada Tn. E Dengan
Halusinasi Pendengaran Di Bangsal Abimanyu Rumah Sakit Jiwa Daerah
Surakarta didapatkan data klien suka bicara sendiri, menyendiri, melamun, dan
kadang mondar-mandir. Dalam pengkajian pola fungsional difokuskan pada pola
persepsi klien, didapatkan data bahwa klien mengalami halusinasi pendengaran.
Klien mendengar suara orang batuk yang membuat klien susah tidur, suara itu
muncul sehari 1 kali selama 3 menit. suara itu muncul pada malam hari saat klien
tidur dan klien merasa jengkel jika mendengar suara tersebut. Klien sebelumnya
sudah 3 kali dirawat di rumah sakit jiwa, klien tidak pernah mengalami
penganiayaan fisik, tindakan kriminal maupun adanya penolakan dari
lingkunganya. Namun, klien pernah mempunyai pengalaman yang kurang
menyenangkan yaitu tidak mendapat gaji selama 2 bulan dalam pekerjaan.
Dari perbandingan data menurut teori dan data yang ditemukan pada klien
tidak muncul adanya kesenjangan dimana seperti yang dijelaskan dalam teori
bahwa gangguan halusinasi dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman psikologis
seseorang. Hal ini juga dialami baik Ny. A ataupun Tn. E yang sama-sama
memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan yaitu Ny. A di tinggal suaminya
menikah lagi, sehingga menyebababkan Ny. A sering menyendiri. Sedangkan Tn.
E tidak mendapatkan gaji selama 2 bulan dalam pekerjaan.
Faktor pendukung yang didapatkan penulis selama melakukan pengkajian
adalah klien cukup kooperatif dan hubungan saling percaya antara perawat dengan
klien terbina dengan baik. Faktor penghambat yang didapatkan penulis tidak
dapat melakukan pengkajian dengan maksimal karena keluarga klien pada saat
pengkajian belum ada yang menjenguk.
Upaya yang dilakukan penulis untuk mengatasi kendala diatas adalah
penulis melakukan validasi kepada perawat ruangan dan melihat buku status klien.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan pengkajian pada Ny. A secara garis besar ditemukan data
subyektif dan data obyektif yang menunjukan karakteristik Ny. A dengan
diagnosa gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran yang ditandai
dengan data subyektif Ny.A mengatakan mendengar suara ibunya yang sudah
meninggal kurang lebih 4 tahun yang lalu yang menasehatinya untuk tidak
menikah dan hamil lagi, Ny.A juga mendengar suara orang yang menyuruhnya
untuk mati, suara-suara itu muncul kadang-kadang 2 sampai 3 kali sehari, Ny.A
mendengar suara itu saat dia melamun, sendirian dan malam hari. Sedangkan data
obyektif yang didapatkan, Ny.A tampak bingung, mondar-mandir, sering bicara
sendiri dan koping maladaptif, dimana klien suka menyendiri jika ada masalah.
Hal ini yang menjadi dasar bagi penulis untuk mengangkat diagnosa tersebut.
Menurut Videbeck, (2008) menyatakan bahwa diagnosa keperawatan
berbeda dari diagnosa psikiatrik medis dimana diagnosa keperawatan adalah
respon klien terhadap masalah medis atau bagaimana masalah mempengaruhi
fungsi klien sehari-hari yang merupakan perhatian utama dari diagnosa
keperawatan. Menurut Keliat, (2006) pada pohon masalah dijelaskan
bahwa Halusinasi terjadi karena isolasi sosial : menarik diri. Menarik diri bisa
menyebabkan masalah utama/core problem gangguan persepsi sensori :
halusinasi, dari halusinasi bisa menyebabkan resikomencederai diri sendiri, orang
lain dan lingkungan.
Pada studi kasus yang dilakukan oleh Aji, (2012) pada Tn. E didapatkan
diagnosa keperawatan yang muncul sebagai prioritas utama adalah gangguan
persepsi sensori : halusinasi pendengaran. Data yang memperkuat
diagnosa gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran diperoleh data
subyektif yaitu klien mengatakan mendengar suara orang batuk yang membuat
klien susah tidur, suara itu muncul sehari 1 kali selama 3 menit. suara itu muncul
pada malam hari saat klien tidur dan klien merasa jengkel jika mendengar suara
tersebut. Sedangkan data obyektif yang didapatkan yaitu klien tampak bingung,
mondar-mandir, sering berbicara sendiri, konsentrasi kurang, dan koping
maladaptif, dimana klien suka menyendiri atau menghindar jika ada masalah.
Pada pembahasan tentang pohon masalah, klien dengan koping yang
maladaptif dimana klien cenderung menyendiri jika ada masalah menjadi pencetus
klien mengalami halusinasi, dari halusinasi yang dialami klien dengan respon
merasa jengkel yang potensial akan dimanifestasikan dengan perbuatan untuk
mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Hal ini ditemukan baik pada
Ny. A ataupun Tn. E, dimana keduanya sama-sama memiliki koping yang
maladaptif yaitu cenderung menyendiri jika ada masalah yang menyebabkan
timbulnya halusinasi, dengan respon merasa jengkel dan membanting barang-
barang saat halusinasinya muncul. Sehingga tidak ditemukan kesenjangan antara
teori yang ada dengan fakta yang ditemukan pada klien.
.
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Rencana keperawatan yang penulis lakukan pada Ny. A dengan gangguan
persepsi sensori : halusinasi pendengaran yaitu dengan tujuan umum (TUM) agar
klien dapat mengontrol halusinasi yang dialaminya. Dan dengan lima tujuan
khusus (TUK) gangguan persepsi sensori halusinasi pendengaran, antara lain :
tujuan khusus pertama (TUK 1), klien dapat membina hubungan saling percaya.
Rasional dari tindakan yang dilakukan yaitu hubungan saling percaya sebagai
dasar interaksi terapeutik antara perawat dan klien. Tujuan khusus kedua (TUK 2),
klien dapat mengenal halusinasinya dari situasi yang menimbulkan halusinasi, isi,
waktu, frekuensi halusinasi, dan respon klien terhadap halusinasinya. Rasional
dari tujuan kedua adalah peran serta aktif klien sangat menentukan efektifitas
tindakan keperawatan yang dilakukan. Tujuan khusus ketiga (TUK 3), klien dapat
melatih mengontrol halusinasinya, dengan berlatih cara menghardik halusinasi,
bercakap-cakap dengan orang lain, dan mengalihkan halusinasinya dengan
beraktivitas secara terjadwal. Rasionalnya adalah tindakan yang biasa dilakukan
klien merupakan upaya mengatasi halusinasi. Tujuan khusus keempat (TUK 4),
klien dapat dukungan keluarga dalam mengontrol halusinasi dengan rasionalnya
keluarga mampu merawat klien dengan halusinasi saat berada di rumah. Tujuan
khusus kelima (TUK 5), klien dapat memanfaatkan obat untuk mengontrol
halusinasi dengan rasionalnya yaitu dapat meningkatkan pengetahuan dan
motivasi klien untuk minum obat secara teratur. Setiap akhir tindakan strategi
pelaksanaan diberikan reinforcement positif yang rasionalnya untuk memberikan
penghargaan atas keberhasilan Ny. A.
Menurut Nurjannah, (2005) rencana tindakan keperawatan merupakan
serangkaian tindakan yang dapat mencapai setiap tujuan khusus. Perencanaan
keperawatan meliputi perumusan tujuan, tindakan, dan penilaian rangkaian asuhan
keperawatan pada klien berdasarkan analisis pengkajian agar masalah kesehatan
dan keperawatan klien dapat teratasi. Menurut Akemat dan Keliat, (2010) tujuan
umum yaitu berfokus pada penyelesaian permasalahan dari diagnosis keperawatan
dan dapat dicapai jika serangkaian tujuan khusus tercapai. Tujuan khusus berfokus
pada penyelesaian penyebab dari diagnosis keperawatan. Tujuan khusus
merupakan rumusan kemampuan klien yang perlu dicapai atau dimiliki.
Kemampuan ini dapat bervariasi sesuai dengan masalah dan kebutuhan klien.
Kemampuan pada tujuan khusus terdiri atas tiga aspek yaitu kemampuan kognitif,
kemampuan psikomor, dan kemampuan afektif yang perlu dimiliki klien untuk
menyelesaikan masalahnya.
Menurut Ngadiran, (2010) Setiap akhir tindakan
strategi pelaksanaan dapat diberikan reinforcement positif yang rasionalnya
untuk memberikan penghargaan atas keberhasilan klien. Reinforcement
positif adalah penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat
karena diikuti dengan stimulus yang mendukung atau rewarding. Bentuk-bentuk
penguatan positif adalah berupa hadiah seperti permen, kado, atau makanan,
perilaku sepeti senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk
tangan, mengacungkan jempol, atau penghargaan. Reinforcement positif memiliki
power atau kemampuan yang memungkinkan tindakan yang diberi reinforcement
positif akan dilakukan secara berulang oleh pelaku tindakan tanpa adanya
paksaan yaitu dengan kesadaran pelaku tindakan itu sendiri.
Pada study kasus yang dilakukan oleh Aji, (2012) pada Tn. E intervensi
yang dilakukan yaitu dengan tujuan umum (TUM) agar klien dapat mengontrol
halusinasi yang dialaminya. Dan dengan lima tujuan khusus (TUK) gangguan
persepsi sensori halusinasi pendengaran, antara lain : tujuan khusus pertama (TUK
1), klien dapat membina hubungan saling percaya. Tujuan khusus kedua (TUK 2),
klien dapat mengenal halusinasinya dari situasi yang menimbulkan halusinasi, isi,
waktu, frekuensi halusinasi, dan respon klien terhadap halusinasinya. Tujuan
khusus ketiga (TUK 3), klien dapat melatih mengontrol halusinasinya, dengan
berlatih cara menghardik halusinasi, bercakap-cakap dengan orang lain, dan
mengalihkan halusinasinya dengan beraktivitas secara terjadwal. Tujuan khusus
keempat (TUK 4), klien dapat dukungan keluarga dalam mengontrol halusinasi.
Tujuan khusus kelima (TUK 5), klien dapat memanfaatkan obat untuk mengontrol
halusinasi.
Berdasarkan intervensi yang penulis lakukan pada Ny. A, tidak terdapat
adanya kesenjangan antara konsep dasar teori dengan pembahasan pada kasus,
karena penulis mengacu pada teori yang ada, dimana tahapan tahapan
perencanaan yang dilakukan pada Ny. A sesuai dengan keadaan dan kondisi klien,
serta dalam rencana keperawatan penulis sudah memasukkan tiga aspek dalam
perencanaan, yang meliputi : tujuan umum, tujuan khusus, dan rencana tindakan
keperawatan.

D. IMPLEMENTASI
Implementasi yang penulis lakukan pada Ny. A dengan gangguan persepai
sensori : halusinasi pendengaran antara lain : pada tanggal 05 juni 2014 pukul
10.30 WIB, penulis melakukan strategi pelaksanaan 1 yaitu mengenal halusinasi
pada Ny.A, menjelaskan cara mengontrol halusinasi, dan mengajarkan cara
pertama mengontrol halusinasi dengan menghardik halusinasi. Ny.A dilatih untuk
mengatakan tidak terhadap halusinasi yang muncul atau tidak memperdulikan
halusinasi. Kemudian memberikan reirforcement kepada Ny.A apabila Ny.A
berhasil mempraktekan cara menghardik halusinasi. Respon Ny.A mampu
mengenal halusinasinya dan mau menggunakan cara menghardik saat
halusinasinya muncul.
Implementasi kedua dilaksanakan pada tanggal 06 juni 2014, pukul 10.00
WIB. Penulis melakukan strategi pelaksanaan 2 yaitu mengajarkan cara kedua
mengontrol halusinasi dengan menemui orang lain dan bercakap-cakap. Penulis
melakukan validasi dan evaluasi cara pertama yaitu menghardik halusinasi.
Penulis melatih cara mengontrol halusinasi dengan menemui orang lain dan
bercakap-cakap. Kemudian memberikan reirforcement positif pada Ny.A apabila
Ny.A berhasil mempraktekanya. Respon dari Ny.A, Ny.A mampu menggunakan
cara pertama dengan menghardik dengan benar dan Ny.A mau untuk mengalihkan
perhatian dengan menemui orang lain dan bercakap-cakap.
Implementasi ketiga dilaksanakan pada tanggal 07 juni 2014, pukul 10.30
WIB. Penulis melakukan strategi pelaksanaan 3 yaitu mengajarkan cara
mengontrol halusinasi dengan melakukan aktivitas terjadwal. Penulis melakukan
validasi dan evaluasi strategi pelaksanaan 1 dan 2, kemudian mengajarkan cara
mengontrol halusinasi dengan melakukan aktivitas terjadwal. Penulis memberikan
reirforcement positif kepada Ny.A apabila Ny.A berhasil mempraktekanya dengan
baik dan benar. Respon Ny.A, Ny.A mampu menggunakan cara mengontrol
halusinasi dengan cara menghardik dan bercakap-cakap dengan orang lain. Ny.A
juga mau semua aktivitas sesuai jadwal.
Menurut Townsend, (2003) implementasi adalah pengelolaan dan
perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan.
Jenis tindakan pada implementasi ini terdiri dari tindakan mandiri (independent),
saling ketergantungan (dependent). Menurut Rasmun, (2009) implementasi yang
dilakukan pada klien dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi yaitu dengan
melakukan pendekatan SP, yaitu : SP 1 (mengajarkan cara pertama mengontrol
halusinasi dengan menghardik halusinasi). Klien dilatih untuk mengatakan tidak
terhadap halusinasi yang muncul atau tidak mempedulikan halusinasinya. Jika ini
dapat dilakukan, klien akan mengendalikan diri dan tidak mengikuti
halusinasi yang muncul. Mungkin halusinasi tetap ada, tetapi dengan
kemampuan ini, klien tidak akan larut untuk menuruti halusinasinya. SP 2
(mengajarkan cara mengontrol halusinasi dengan menemui orang lain untuk
bercakap-cakap). Ketika klien bercakap-cakap dengan orang lain, terjadi adanya
distraksi dan fokus perhatian klien akan beralih dari halusinasi ke percakapan
yang dilakukan dengan orang lain. SP 3 (mengajarkan
cara mengontrol halusinasi dengan melakukan aktivitas terjadwal). Dengan
aktivitas secara terjadwal, klien tidak akan mengalami banyak waktu luang sendiri
yang sering kali mencetuskan halusinasi. SP 4 (mengajarkan cara minum obat
dengan benar). Hal ini dapat
meningkatkan pengetahuan dan motivasi klien untuk minum obat secara teratur.
Pada studi kasus yang dilakukan oleh Aji, (2012) pada Tn. E implementasi
yang dilakukan pada pertemuan pertama melakukan SP 1 yaitu mengenal
halusinasi, menjelaskan cara mengontrol halusinasi, dan mengajarkan cara
pertama mengontrol halusinasi dengan menghardik halusinasi. Pertemuan kedua
melakukan SP 2 yaitu mengajarkan cara kedua mengontrol halusinasi dengan
menemui orang lain untuk bercakap-cakap. Pertemuan ketiga melakukan SP 3
yaitu mengajarkan cara mengontrol halusinasi dengan melakukan aktivitas
terjadwal. Pertemuan keempat melakukan SP 4 yaitu mengajarkan cara minum
obat dengan benar.
Dari implementasi yang dilakukan penulis pada Ny. A dengan gangguan
persepsi sensori : halusinasi pendengaran penulis hanya dapat melakukan SP 1
sampai SP 3, untuk SP 4 penulis mendelegasikan kepada perawat ruangan.
Sedangkan pada studi kasus yang dilakukan oleh Aji, (2012) pada Tn. E
implementasi yang dilakukan yaitu SP 1 sampai SP 4. Hal ini dikarenakan
keterbatasan waktu yang diberikan kepada penulis oleh instansi pendidikan dalam
mengelola kasus tersebut.

E. EVALUASI
Pada kasus Ny. A evaluasi yang penulis dapatkan yaitu pada pelaksanaan
strategi pelaksanaan 1 tanggal 05 juni 2014 pukul 11.00 WIB, Ny.A berhasil
melakukan dengan baik dalam mengenal halusinasi dan klien mampu mengontrol
halusinasi dengan cara menghardik, sehingga dapat dianalisis bahwa masalah
teratasi. Pada pelaksanaan strategi pelaksanaan 2 tanggal 06 juni 2014 pukul 10.30
WIB Ny.A mampu mampu melakukan cara mengontrol halusinasi dengan
menemui orang lain, untuk bercakap-cakap sehingga dapat dianalisis bahwa
masalah teratasi. Pada pelaksanaan strategi pelaksanaan 3 tanggal 07 juni 2014
pukul 11.30 WIB, Ny.A juga mampu melakukan aktivitas secara terjadwal,
sehingga dapat dianalisis bahwa masalah teratasi.
Evaluasi sudah dilakukan penulis sesuai keadaan klien dan kekurangan
penulis tidak bisa mencapai batas maksimal pada rencana yang diharapkan.
Dalam melaksanakan strategi pelaksanaan 4, penulis mendelegasikan kepada
perawat yang sedang bertugas di ruang Pavilliun Flamboyan.
Menurut Townsend, (2006) evaluasi keperawatan adalah proses
berkesinambungan yang perlu dilakukan untuk menentukan seberapa baik rencana
keperawatan dilakukan. Menurut Nurjannah, (2005) evaluasi adalah tahap
berkelanjutan untuk menilai efek dan tindakan pada klien. Evaluasi dibagi dua
yaitu, evaluasi proses atau formatif yang dilakukan setiap selesai melaksanakan
tindakan, evaluasi hasil atau sumatif yang dilakukan dengan membandingkan
antara respon klien dengan tujuan khusus dan umum yang telah ditentukan.
Pada studi kasus yang dilakukan oleh Aji, (2012) pada Tn. E evaluasi yang
dapatkan yaitu pada pelaksanaan strategi pelaksanaan 1 sampai strategi
pelaksanaan 4. Klien berhasil melakukan dengan baik dalam mengontrol
halusinasi dengan cara menghardik, bercakap-cakap, melakukan aktivitas
terjadwal, serta minum obat dengan benar.
Berdasarkan evaluasi yang penulis lakukan, terdapat kesamaan antara
konsep dasar teori dengan kasus Ny. A, karena penulis mengacu pada teori yang
ada, dimana penulis menggunakan evaluasi hasil atau sumatif yang dilakukan
dengan membandingkan antara respon klien dengan tujuan khusus dan umum
yang telah ditentukan.
BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Setelah melakukan asuhan keperawatan selama 3 hari pada Ny.A dengan
Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran di ruang Pavilliun
Flamboyan Rumah Sakit Mitra Siaga Tegal, maka pada bab ini penulis dapat
menarik kesimpulan dan saran sebagai berikut :
g. Penulis mampu melakukan pengkajian pada Ny. A dengan gangguan persepsi
sensori : halusinasi pendengaran.
Pada saat pengkajian pada tanggal 04 juni 2014 pukul 08.00 WIB diruang
pavilliun flamboyant klien mengatakan mendengar suara-suara yang muncul saat
klien sendirian dan melamun. Isi suara itu adalah suara ibunya yang sudah
meninggal kurang lebih 4 tahun yang lalu, yang selalu memberikan nasehat pada
klien agar tidak hamil dan menikah lagi. Klien juga sering mendengar suara orang
yang menyuruhnya agar dia mati, suara-suara itu muncul kadang-kadang 2 sampai
3 kali sehari, lama suara-suara itu kurang lebih 7 menit. Saat klien mendengar
suara-suara itu klien merasa takut, cemas dan sangat menggsnggu. Mekanisme
koping dan sumber koping yang digunakan oleh klien adalah memecahkan
masalah dengan memendamnya sendiri (menyendiri).
h. Penulis mampu menentukan masalah keperawatan pada Ny. A dengan gangguan
persepsi sensori : halusinasi pendengaran.
Masalah keperawatan yang muncul pada Ny. A sesuai dengan pembahasan
pada pohon masalah bahwa Halusinasi terjadi karena isolasi sosial : menarik diri.
Menarik diri bisa menyebabkan masalah utama/core problemgangguan persepsi
sensori : halusinasi, dari halusinasi bisa menyebabkan resiko mencederai diri
sendiri, orang lain dan lingkungan.
i. Penulis mampu membuat diagnosa keperawatan pada Ny. A dengan gangguan
persepsi sensori : halusinasi Pendengaran.
Berdasarkan pengkajian pada Ny. A secara garis besar ditemukan data
subyektif dan data obyektif yang menunjukan karakteristik Ny. A dengan
diagnosa gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran yang ditandai
dengan data subyektif Ny.A mengatakan mendengar suara ibunya yang sudah
meninggal kurang lebih 4 tahun yang lalu yang menasehatinya untuk tidak
menikah dan hamil lagi, Ny.A juga mendengar suara orang yang menyuruhnya
untuk mati, suara-suara itu muncul kadang-kadang 2 sampai 3 kali sehari, Ny.A
mendengar suara itu saat dia melamun, sendirian dan malam hari. Sedangkan data
obyektif yang didapatkan, Ny.A tampak bingung, mondar-mandir, sering bicara
sendiri dan koping maladaptif, dimana klien suka menyendiri jika ada
masalah.
j. Penulis mampu membuat intervensi atau rencana keperawatan pada Ny. A
dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi Pendengaran.
Perencanaan yang dilakukan penulis pada Ny. A dengan gangguan persepsi
sensori : halusinasi pendengaran ditujukan untuk membina hubungan saling
percaya, mengenal dan mengontrol halusinasinya, dan dapat memanfaatkan obat
dengan benar.
k. Penulis mampu membuat implementasi atau tindakan keperawatan pada Ny. A
dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi Pendengaran.
Tindakan keperawatan yang dilakukan penulis selama 3 hari kepada Ny. A,
Ny.A mampu melakukan strategi pelaksanaan 1 sampai 3 yaitu Ny. A telah
mampu mengenal halusinasinya, Ny. A mampu mengontrol halusinasinya dengan
cara menghardik, bercakap-cakap dengan orang lain, dan melakukan aktivitas
secara terjadwal. Dalam melaksanakan strategi pelaksanaan 4, penulis
mendelegasikan kepada perawat yang sedang bertugas di ruang Pavilliun
Flamboyan.
l. Penulis mampu mengevaluasi asuhan keperawatan pada Ny. A
dengan gangguan persepsi sensori : halusinasiPendengaran.
Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pada Ny. A dengan diagnosa
utama yaitu : gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran yang dilakukan
selama tiga hari, evaluasi tindakan yang dilakukan penulis sampai pada strategi
pelaksanaan 3. Ny.A berhasil dalam mengenal halisinasinya dan berhasil
mengontrol halusinasinya dengan menghardik, bercakap-cakap bersama orang
lain, dan melakukan aktivitas terjadwal. Evaluasi sudah dilakukan penulis sesuai
keadaan klien dan kekurangan penulis tidak bisa mencapai batas maksimal pada
rencana yang diharapkan. Dalam melakukan strategi pelaksanaan 4, penulis
mendelegasikan kepada perawat yang sedang bertugas diruang Paviliun
Flamboyan.

B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka saran yang bisa penulis berikan untuk
perbaikan dan peningkatan mutu asuhan keperawatan adalah :
1. Bagi perawat di ruang rawat inap jiwa RS Mitra Siaga Tegal
a. Meningkatkan kemampuan dan kualitas dalam memberikan asuhan keperawatan
pada klien khususnya dengan masalah gangguan persepsi sensori : halusinasi
pendengaran.
b. Melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan SOP (Standar Operasional
Prosedur) yang ditetapkan dilanjutkan dengan SOAP pada klien khususnya
dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.
2. Bagi instansi pendidikan
Diharapkan pihak instansi pendidikan memberikan waktu yang cukup kepada
mahasiswa dalam mengelola studi kasus.
3. Bagi klien
Klien diharapkan mengikuti program terapi yang telah direncanakan oleh dokter
dan perawat untuk mempercepat proses kesembuhan klien.
4. Bagi keluarga
Keluarga diharapkan mampu memberi dukungan pada klien dalam mengontrol
halusinasi baik dirumah sakit maupun dirumah.
5. Bagi Penulis
Sebagai sarana memperoleh informasi dan pengetahuan serta pengalaman dalam
melakukan asuhan keperawatan jiwa pada pasien dengan gangguan persepsi
sensori : halusinasi pendengaran.
DAFTAR PUSTAKA

Aji, Wahyu Punto. 2012. Asuhan Keperawatan Gangguan Keamanan Pada Tn. E
Dengan Halusinasi Pendengaran Di Bangsal Abimanyu Rumah Sakit Jiwa
Daerah Surakartahttp://digilib.stikeskusumahusada.ac.id/download.php?id=234.
(Diakses tanggal 07 Agustus 2014 jam 09.00 WIB)
Akemat dan Keliat, Budi Anna. 2010. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa.
Jakarta : EGC.
Depkes RI. 2008. Karya Tulis Ilmiah Keperawatan Jiwa :
Halusinasi. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk/147/jtp-supriyadin-7339-1-bab1-pdf.
(Diakses tanggal 23 Februari 2014 jam 12.00 WIB).
Dinas Kesehatan Jawa Tengah. 2012. Buku Saku Kesehatan Tahun
2012. www.dinkesjateng.go.id. (Diakses tanggal 20 Februari 2014 jam 10.45
WIB).
Direja, Ade Herman S. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Nuha
Medika.
Febrida. 2007. Pengaruh Terapi Aktifitas
Stimulasi. http://http.yasir.com/2009/10/pengaruh-terapi-aktifitas-stimulasi.html.
(Diakses tanggal 20 Februari 2014 jam 10.30 WIB).
Keliat, Budi Anna. 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta : EGC.
Kusumawati, Farida. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : Salemba
Medika.
Ngadiran. 2010. Studi Fenomena Pengalaman Keluarga Tentang
Beban Dan Sumber Dukungan Keluarga Dalam Merawat Klien Dengan
Halusinasi. Tesis, FIK UI. www.proquest.com. (Diakses tanggal 15 Juni 2014
jam 13.15)
Nurjannah, Intansari. 2005. Aplikasi Proses Keperawatan Pada Diagnosa Resiko
Kekerasan Diarahkan Pada Orang Lain Dan Gangguan Sensori Persepsi.
Yogyakarta : Moco Medika.
Rasmun. 2009. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dengan
Keluarga. Jakarta : EGC.
Riset Kesehatan Dasar Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
2007. Analisis Gejala Gangguan Mental Emosional Penduduk
Indonesia. http://www.google.data riskesda 2007 gangguan jiwa
indonesia.digitaljournals.org. (Diakses tanggal 22 Februari 2014 jam 11.15 WIB).
Stuart, G.W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta : EGC.
Townsend, Mary C. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan
Psikiatri: Pedoman Untuk Pembuatan Rencana Perawatan. Edisi 5. Jakarta :
EGC.
Townsend, Mary C. 2003. Pedoman Dalam Keperawatan Psikiatri. Edisi 2. Jakarta :
EGC.
Videbeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC. Volume 45,
2010-2011. Jakarta : ISFI.
WHO. 2006. Laporan 26 juta warga Negara Indonesia gangguan
jiwahttp://dir.groups.yahoo.com/group/karismatik/message/615 (Diakses tanggal
20 Februari 2014 jam 10.15 WIB).
WHO. 2009. Karya Tulis Ilmiah Keperawatan Jiwa :
Halusinasi. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk/147/jtp-supriyadin-7339-1-bab1-pdf.
(Diakses tanggal 23 Februari 2014 jam