Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dari latar belakang praktis, dapat dilihat dari pengalaman Amerika Serikat yang harus
melakukan restrukturisasi corporate governance sebagai akibat market crash pada tahun
1929. Corporate governance yang buruk disinyalir sebagai salah satu sebab terjadinya
krisis ekonomi politik Indonesia yang dimulai tahun 1997 yang efeknya masih terasa
hingga saat ini. Krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat pada saat ini juga
ditengarai karena tidak diterapkannya prinsip-prinsip GCG, beberapa kasus skandal
keuangan seperti Enron Corp., Worldcom, Xerox dan lainnya melibatkan top eksekutif
perusahaan tersebut menggambarkan tidak diterapkannya pronsip-prinsip GCG.
Dari latar belakang akademis, kebutuhan good corporate governance timbul
berkaitan dengan principal agency theory, yaitu untuk menghindari konflik antara
principal dan agentnya. Konflik muncul karena perbedaan kepentingan tersebut haruslah
dikelola sehingga tidak menimbulkan kerugian pada para pihak. Korporasi
yang dibentuk dan merupakan suatu Entitas tersendiri yang terpisah merupakan Subyek
Hukum, sehingga keberadaan korporasi dan para pihak yang berkepentingan
(stakeholders) tersebut haruslah dilindungi melalui penerapan GCG. Selain pendekatan
model Agency Theory dan Stakeholders Theory tersebut di atas, kajian permasalahan
G C G o l e h p a r a a k a d e m i s i d a n p r a k t i s i j u g a b e r d a s a r k a n Stewardship
Theory, Management Theory dan lainnya.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1. Bagimana pendahuluan Corporate Governance ?


1.2.2. Bagaimana Latar belakang dari Corporate Governance ?
1.2.3. Apa yang di maksud Corporate Governance ?
1.2.4. Bagaimana peran pentingnya Corporate Governance ?

1
1.2.5. Bagimana Struktur dari Corporate Governance ?
1.2.6. Apa saja prinsip-prinsip yang mendasari Corporate Governance ?
1.2.7. Apa fungsi dari Corporate Governance ?
1.2.8. Bagimana mekanisme Corporate Governance ?

1.3 Tujuan

1.3.1. Mengatahui pendahuluan dari Corporate Governance.


1.3.2. Mengetahui latar belakang dari Corporate Governance.
1.3.3. Mengetahui dan memahami Corporate Governance.
1.3.4. Memahami peran penting Corporate Governance.
1.3.5. Mengetahui struktur dari Corporate Governance.
1.3.6. Mengetahui dan memahami prinsip Corporate Governance.
1.3.7. Mengetahui fungsi dari Coporate Governance.
1.3.8. Memahami mekanisme dari Corporate Governance.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENDAHULUAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)


Corporate governance merupakan topik utama yang banyak diperbincangkan
khalayak ramai dalam beberapa tahun ini. Umumnya kemampuan suatu negara untuk
menarik investor tergantung pada seberapa jauh penerapan corporate governance yang
diterapkan oleh perusahaan dan sejauh mana manajemen menghormati dan mematuhi
hak-hak dari stakeholders lainnya. Para investor biasanya akan enggan menanamkan
modal pada perusahaan yang tidak menerapkan corporate governance secara efektif.
Suatu sistem corporate governance yang efektif akan mampu membuat komisaris dan
direksi menciptakan situasi dalam rangka mencapai tujuan perusahaan dengan
memperhatikan kepentingan pemegang saham dan juga corporate governance harus
mampu memfasilitasi adanya pengawasan yang efektif.

2
Penerapan prinsip GCG dalam dunia usaha saat ini merupakan suatu tuntutan agar
perusahaan-perusahaan tetap dapat bersaing di dunia global. Di Indonesia, masalah aspek
hukum merupakan hal yang penting dalam penerapan GCG. Perusahaan yang dikelola
dengan baik adalah perusahaan yang memiliki strategic plan jangka panjang dan untuk
itu perlu memperhatikan kepentingan berbagai pihak yang terkait, baik secara langsung-
tidak langsung maupun internal-eksternal. Dengan adanya corporate governance maka
pengelolaan perusahaan harus memenuhi standar usaha dan memenuhi prinsip-prinsip
manajemen sebagaimana seharusnya.
Penerapan corporate governance di Indonesia dibagi menjadi tiga aktivitas.
Pertama, menetapkan kebijakan nasional. Kedua, menyempurnakan kerangka regulasi.
Ketiga, membangun inisiatif sektor swasta. Perumusan kebijakan nasional ditandai
dengan pembentukan Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance. Komite
tersebut kemudian berubah menjadi Komite Nasional Kebijakan Governance. Komite ini
beranggotakan kalangan professional baik di sektor publik, swasta, maupun kalangan
akademisi dan lembaga swadaya masyarakat. KNKG telah menerbitkan beberapa
pedoman yaitu pedoman GCG tahun 2001, Pedoman Sektoral, Pedoman untuk Komite
Audit, dan Pedoman untuk Komisaris Independen pada 2004.
GCG bukan hanya diterapkan dalam sektor swasta, namun BUMN dengan aset
lebih dari satu triliun rupiah juga harus mengimplementasikan GCG dalam
perusahaannya. Selain itu, pasar modal juga menerapkan GCG untuk perusahaan publik.
Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan perlindungan investor, terutama pemegang
saham perusahaan terbuka. Mekanisme GCG akan mendorong tumbuhnya mekanisme
check and balance di lingkungan manajemen khususnya dalam memberi perhatian
kepada kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. Selain itu,
diharapkan juga GCG dapat membentuk suatu transparansi dan akuntabilitas dalam
transaksi bisnis antar perusahaan satu grup yang berpotensi menimbulkan benturan
kepentingan.
Penerapan prinsip GCG di Indonesia sangat dipengaruhi baik oleh faktor budaya
maupun historis. Kedua aspek tersebut tidak dapat dipisahkan karena memiliki elemen
kemasyarakatan yang saling terkait. Faktor-faktor tersebut memberikan kendala yang
signifikan bagi pemerintah dalam memberlakukan dan menerapkan berbagai kebijakan.

3
Kemajemukan dan kompleksitas masyarakat Indonesia juga merupakan faktor kesulitan
lain dalam upaya menciptakan atau menghadapi konsep-konsep manajemen atau
pengelolaan yang baik. Selain itu, sistem hukum juga memiliki kekuatan yang besar
dalam optimalisasi penegakan good governance. Jika sistem hukum lemah maka good
governance akan sulit diterapkan. Sehingga mutlak diperlukannya penguatan sistem
hukum atau reformasi hukum.

2.2 LATAR BELAKANG GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)


A Davies dalam bukunya yang berjudul "Strategic Approach to Corporate
Governance" yang diterbitkan tahun 1999 menyatakan istilah governance dipergunakan
pertama kali bukanlah oleh kalangan bisnis namun terdapat dalam berbagai peraturan
gereja. Perkembangan "governance" awal mulanya hanya dikenal melalui berbagai
peraturan yang dibuat atau dikeluarkan oleh gereja. Lama kelamaan istilah ini digunakan
juga dalam konsep revolusi industri sampai dengan kapitalisme. Sejak abad pertengahan,
perdagangan mulai dikenal dan berkembang. Namun saat itu pengaruh ajaran gereja
masih kuat sehingga berpengaruh pada perdagangan. Pedagang yang banyak mengambil
keuntungan dianggap melanggar ajaran agama dan hal ini yang menghambat aktivitas
bisnis.
Menurut Gunardi Endro dalam Shalahuddin (2006) setelah revolusi industri ada
pergeseran kekuatan ekonomi menuju pelaku bisnis di kota yang pada sebelumnya
berpusat pada tuan tanah. Revolusi berhasil menciptakan teknologi-teknologi praktis
sehingga mendorong penduduk untuk melakukan urbanisasi ke kota. Mulai saat itu
kapitalisme meningkat dan berkembang hingga saat ini, serta dianggap sebagai pelopor
terbentuknya pasar bebas. Menurut Andre Gorz dalam Shalahuddin (2006)
berkembangnya kapitalisme tidak diikuti dengan kesejahteraan buruh atau pekerja. Pola
kapitalisme seperti ini hanya memberikan penekanan berlebihan kepada pekerja demi
meraih keuntungan bagi perusahaan dan tanpa memperhatikan nasib kelas pekerja.
Seiring berjalannya waktu, para pekerja di abad ke-19 juga mulai memiliki
kekuatan untuk mengimbangi dominasi perusahaan. Hal ini dapat dilihat dengan
munculnya berbagai organisasi ataupun serikat pekerja yang mampu membela eksistensi
pekerja. Dan sebagai akibat dari bertambahnya kekuatan serikat pekerja muncullah

4
hubungan antara pemegang saham dan Board of Directors. Keseluruhan hal ini
menambah kompleksitas fenomena governance pada masa itu.
Meningkatnya kekuatan serikat pekerja berakibat pada hubungan antara pekerja
dengan pemilik perusahaan mengalami perubahan, sehingga pada akhirnya pekerja
dianggap sebagai mitra kerja pemilik. Pada saat itu pekerja mulai memiliki kekuatan
untuk negosiasi, dengan demikian pemilik atau pemegang saham menyerahkan
pengelolaan perusahaan secara sepenuhnya kepada pekerja sebagai agen (agency). Dalam
hal ini, maka terdapat kepentingan yaitu kepentingan pemilik dan kepentingan agen.
Selain kepentingan pemegang saham serta kepentingan pekerja, pada waktu yang
bersamaan juga timbul adanya kepentingan konsumen. Tahapan ini memiliki akibat yang
baik pada perkembangan corporate governance. Konsep Good Corporate Governance
hingga abad ke-21 memiliki dua tahap perkembangan. Generasi pertama oleh Berle dan
Means (1932) menyatakan bahwa jika perusahaan berkembang semakin besar maka
pengelolaan perushaan harus diserahkan pada profesional dan terdapat pemisahan tegas
antara kepemilikan dan pengelola usaha. Dalam tahapan perkembangan pertama ini
muncul Teori Agen yang dikemukakan oleh Jansen Meckling, dan teori inilah yang
hingga saat ini menjadi landasan penerapan GCG di dunia. Untuk perkembangan generasi
kedua ditandai dengan hasil karya La-Porta dan kolega tahun 1998. Menurut LLSV,
penerapan GCG di suatu negara dipengaruhi oleh perangkat hukum yang ada pada negara
tersebut. Perangkat hukum disini berkaitan dengan upaya perlindungan kepentingan hak-
hak pemegang saham baik mayoritas maupun minoritas.
Good Corporate Governance mencapai puncak perkembangannya saat
ambruknya beberapa perusahaan dunia seperti Enron, Worldcom di AS, HIH Insurance
dan One-tel di Australia pada awal dekade 2000-an mulailah perbincangan dan
perdebatan mengenai prinsip-prinsip GCG. Kejadian ambruknya beberapa perusahaan
raksasa dunia menyadarkan kalangan bisnis dan pemerintahan terutama negara-negara
maju yang terkena dampaknya mengenai betapa pentingnya penerapan prinsip GCG
dalam kegiatan bisnis.
Tak hanya populer, istilah GCG tersebut juga ditempatkan di posisi terhormat.
Pertama, GCG merupakan salah satu kunci sukses perusahaan untuk tumbuh dan
menguntungkan dalam jangka panjang, sekaligus memenangkan persaingan bisnis global.

5
Kedua, krisis ekonomi di kawasan Asia dan Amerika Latin yang diyakini muncul karena
kegagalan penerapan GCG (Daniri dalam Kihatu, 2006). Beberapa hal yang
menyebabkan kegagalan GCG pada saat itu yaitu diantaranya sistem hukum yang buruk,
tidak konsistensinya standar akuntansi dan audit, praktek-praktek perbankan yang lemah
serta kurangnya perhatian Board of Directors terhadap hak-hak pemegang saham
minoritas.
Survei dari Booz-Allen di Asia Timur pada tahun 1998 menunjukkan bahwa
Indonesia memiliki indeks corporate governance paling rendah dengan skor 2,88 jauh di
bawah Singapura (8,93), Malaysia (7,72) dan Thailand (4,89). Rendahnya kualitas GCG
korporasi-korporasi di Indonesia ditengarai menjadi kejatuhan perusahaan perusahaan
tersebut. Survei yang dilakukan oleh PricewaterhouseCoopers terhadap investor-investor
internasional di Asia juga menunjukkan bahwa Indonesia dinilai sebagai salah satu
negara yang terburuk dalam bidang standar-standar akuntansi dan penataan,
pertanggungjawaban terhadap pemegang saham, standar-standar pengungkapan dan
transparansi serta proses-proses kepengurusan perusahaan. Kajian lain menunjukkan
bahwa tingkat perlindungan investor di Indonesia merupakan yang terendah di Asia
Tenggara.
Konsultan manajemen McKinsey & Co, melalui penelitian pada tahun yang sama,
menemukan bahwa sebagian besar nilai pasar perusahaan-perusahaan Indonesia yang
tercatat di asar modal (sebelum krisis) ternyata overvalued. Dikemukakan bahwa sekitar
90% nilai pasar perusahaan publik ditentukan oleh growth expectation dan sisanya 10%
baru ditentukan oleh current earning stream. Sebagai pembanding, nilai dari perusahaan
publik yang sehat di negara maju ditentukan dengan komposisi 30% dari growth
expectation dan 70% dari current earning stream, yang merupakan kinerja sebenarnya
dari korporasi. Jadi, sebenarnya terdapat ketidakjujuran dalam permainan di pasar
modal yang kemungkinan dilakukan atau diatur oleh pihak yang sangat diuntungkan oleh
kondisi tersebut.
Hal tersebut dikarenakan praktik GCG di Indonesia belum sepenuhnya belum
dilaksanakan oleh perusahaan publik. Sebagai akibatnya Indonesia mendapatkan
peringkat bawah dalam hal penerapan GCG. Faktor penyebab rendahnya kinerja

6
Indonesia adalah penegakan budaya hukum dan budaya corporate governance yang
masih berada di titik paling rendah di antara negara-negara lain di Asia.
Konsep GCG belakangan ini makin mendapat perhatian masyarakat dikarenakan
GCG memperjelas dan mempertegas mekanisme hubungan antar para pemangku
kepentingan di dalam suatu organisasi yang mencakup:
a. Hak-hak para pemegang saham (shareholders) dan perlindungannya,
b. Peran para karyawan dan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders)
lainnya,
c. Pengungkapan (disclosure) yang akurat dan tepat waktu,
d. Transparansi terkait dengan struktur dan operasi perusahaan,
e. Tanggungjawab dewan komisaris dan direksi terhadap perusahaan itu sendiri,
kepada para pemegang saham dan pihak lain yang berkepentingan.
Sehingga, perusahaan di Indonesia tidak dapat menolak lagi untuk menerapkan GCG.
Apalagi perekonomian saat ini sangat tergantung pada sumber dana eksternal dan hal ini
menyebabkan GCG merupakan hal yang wajib diterapkan agar kreditor yakin bahwa
dana mereka aman dan dapat memperoleh return yang sesuai.

Pinsip GCG saat ini telah menjadi kebutuhan di dunia bisnis terutama sebagai
bahan pertimbangan investasi bagi investor. Lemahnya implementasi prinsip GCG dapat
mengakibatkan mandeknya ekspansi perusahaan. Oleh sebab itu, sangat penting bagi
Indonesia untuk menerapkan GCG meskipun kenyataannya GCG hingga saat ini belum
diterapkan sepenuhnya. Aturan GCG tidak serta merta dapat diterapkan secara sendiri
oleh perusahaan, diperlukan dukungan daripihak regulator dalam membuat payung
hukum untuk menaungi GCG. Dan pada akhirnya diharapkan GCG dapat menghindarkan
Indonesia dari terjadinya tindakan-tindakan kecurangan dan skandal dalam perusahaan,
serta dapat membantu perusahaan keluar dari krisis ekonomi dan bermanfaat bagi
perusahaan-perusahaan Indonesia yang harus menghadapi arus globalisasi, mengikuti
perkembangan ekonomi global dan pasar dunia yang kompetitif.

2.3. PENGERTIAN CORPORATE GOVERNANCE

7
Corporate Governance bebrapa tahun lalu mungkin hanya sebatas jargon, namun saat ini
hamper setiap orang mengenal istilah ini. Definisi yang terkait dengan Corporate
Governance antara lain

Corporate Governance menurut Organization for Economic Corporation AND


Development (EOCD, 1999) yang merupakan salah satu lembaga yang memegang
peranan penting dalam pengembangan Good Governance baik untuk pemerintahan
maupun dunia usaha mendefinisikan :

Corporate Governance involves a set of relationship between a companys


management, its board, its shareholders and other stakeholders. Corporate Governance
also provides the structure through which the objectives of the company are set, and
the means of attaining those objectives and monitoring performance are determined.

Definisi diatas dapat diartikan bahwa utk mencapai tujuan perusahaan diperlukan
adanya struktur pengelolaan perusahaan yang baik yang mengacu pada adanya
hubungan antara pihak manajemen, direksi, pemegang saham dan juga pihak lainnya
yang berkepentingan. Corporate Governance juga menyiapkansuatu struktur bagaimana
tujuan itu ditetapkan dan bagaimana pencapaian tujuan tersebut serta pengendalian apa
yang diperlukan dalam rangka mencapai tujuan tersebut.

Definisi Cadbury Committee of United Kingdom Corporate Governance sebagai :

a set of rules that define the relationship between shareholders, manager, creditors,
the government, employee and other internal and external stakeholders in respect to
their rights and responsibilities.

Definisi diatas menunjukan bahwa Corporate Governance merupakan suatu system yang
mengarahkan dan mengendalikan perusahaan dengan tujuan agar tercapai keseimbangan
anatara kekuatan kewenangan yang diperlukan oleh perusahaan, untuk menjamin
kelangsungan eksistensinya dan pertanggungjawaban kepada stakeholders. Hal ini
berkaitan dengan peraturan kewenangan pemilik, direktur, manajer, pemegang saham,
dan sebagainya.

8
Definisi menurut Forum of Corporate Governance Indonesia (FCGI) tentang Corporate
Governance yaitu :

seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus


(pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang
kepentingan kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak-hak
dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu system yang mengatur dan
mengendalikan perusahaan.

Definisi Corporate Governance menurut The Indonesian Institute of Corporate


Governance (IICG), mendefinisikan :
Corporate Governance sebagai struktur, system, dan proses yang digunakan oleh
organ-organ perusahaan sebagai upaya unutk memberi nilai tambah perusahaan secara
berkesinambungan dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan
stakeholders lainnya berdasarkan peraturan perundangan dan norma yang berlaku.

Definisi Corporate Governance menurut Kementerian BUMN berdasarkan pasal 1 ayat 1


Peraturan Menteri Negara BUMN No. PER-01/MBU/2011 tanggal 1 Agustus 2011
tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik pada BUMN, disebutkan bahwa
tata kelola perusahaan yang baik yang selanjutnya disebut Good Corporate Governance
(GCG) adalah prinssip-prinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme pengelolaan
perusahaan berlandaskan peraturam perundang-undangan dan etika berusaha.

Definisi Corporate Governance menurut Komite Nasional Kebijakan Governance


(KNKG), adalah :
salah satu pilar dari system ekonomi pasar, Corporate Governance berkaitan erat degan
kepercayaam baik terhadap perusahaan yang melaksanakannya maupun terhadap ikloim
usaha disuatu Negara. Penerapan Good Corporate Governance mendorong terciptanya
persaingan yang sehat dan iklim usaha yang kondusif .

Dari berbagai definisi diatas dapat ditarik kesimpulan yaitu Corporate Governance adalah
system yang menjadi dasar suatu proses, mekanisme dalam mengelola perusahaan yang baik

9
berdasarkan peraturan perundang-undangan dan etika berusaha agar timbul kepercayaan terhada
perusahaan dengan menciptakan iklim perusahaan yang sehat yang dapat meningkatkan nilai
tambah perusahaan dalam jangka panjang serta pertanggungjawaban kepada para pemangku
kepentingan (stakeholder).

2.4 PENTINGNYA CORPORATE GOVERNANCE


Secara historis Corporate Governance telah ada sejak berabad-abad yang lalu dan
digunakan untuk mengurangi kegagalan suatu perusahaan ketika terjadi krisis berkepanjangan.
Namun, menurut para ekonom kesadaran akan pentingan Good Corporate Governance
diterapkan di Negara berkembang baru dimulai sejak terjadinya krisis ekonomi tahun 1997 yang
disebabkan oleh lemahnya pelaksanaan tata kelola perusahaan-perusahaan terbuka, termasuk
perusahaan milik Negara. Pada masa-masa itu pasar modal ikut mengalami keruntuhan,
demikian juga di Indonesia Peringkat kredit sebagian besar perusahaan anjlok, dan investor pun
kehilangan kepercayaan terhadap perusahaan.
Pada tahun 1999, negara-negara di Asia Timur yang sama-sama terkena krisis mulai
mengalami pemulian, Indonesia pun pelan-pelan mulai bangkit. Kopetisi Global dalam
pandangan Moeljono (2005) bukan kompetisi antarnegara, melainkan antar korporasi di Negara-
negara tersebut. Jadi menang atau kalah, menang atau terpuruk, pulih atau tetap terpuruknya
perekonomian suatu Negara bergantung pada korporasi masing-masing. Karena itu Corporate
Governance sangat penting diterapkan pada perusahaan.
Krisis ekonomi Negara maju kembali terjadi di awal tahun 2000 yaitu adanya gelombang
skandal di bidang keuangan yang mengakibatkat kerugian milyaran dollar dan menurunkan rasa
percaya diri investor dan keyakinan public akan yang di publikasikan oleh perusahaan public.
Skandal keuangan justru terjadi pada perusahaan-perusahaan yang mendapat kepercayaan tinggi
dari investor seperti Enron, WorldCom, Global Crossing, dan Qwest (atau dikenal dengan nama
Big Four Scandal) akibatknya investor dan para pensiunan dirugikan senilai lebih d 460 milyar
dollar (Razze Z , 2007). Kejadian tersebut menimbulkan pertanyaan kemana para direktur,
manajer, auditor, penasehat hokum, analisis keuangan, bank investasi, desan standar serta
regulator.
Kemungkinan penyebab terjadi tersebut karena perusahaan-perusahaan mengalami
degradasi etika, kurangnya keewaspadaan akan resiko, dan terutama lemahnya Corporate

10
Governance. Dengan demikian, untuk memperkuat Corporate Governance diperlukan pedekatan
yang terintegrasi antar tiga komponen, yaitu prinsip, fungus dan mekanisme Corporate
Governance, sehingga perusahaan dapat menciptakan nilai yang berkelanjutan bai pemegang
saham maupun pemangku kepeningan lainnya, termasuk meningkatkan kepercayaan investor,
dan mendorong terciptanya pasar modal yang kuat dan efisien. Good Corporate Governance
adalah salah satu kunci untuk pasar keuangan yang sehat dalam perekonomian global saat ini.
Tata kelola perusahaan yang baik merupakan kunci untuk intergritas perusahaan, lembaga
keuangan dan pasar,pusat kesehatan dan stabilitas ekonomi.

2.5. STRUKTUR CORPORATE GOVERNANCE

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, konsep CGC memperjelas dan mempertegas


mekanisme hubungan antar para pemangku kepentingan di dalam organisasi. Keterkaitan
berbagai pemangku kepentingan pada perkembangan Corporate Governance dapat ditunjukkan
pada struktur berikut ini.

Corporate
Governance

Prinsip Fungsi Mekanisme

2.6. PRINSIP CORPORATE GOVERNANCE


Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, konsep GC memperjelas dan mempertegas
mekanisme hubungan antar para pemangku kepentingan di dalam organisasi. The Organization
for Economic Cooperation and Development (OECD) juga telah menciptakan prinsip-prinsip
good corporate governance dengan harapan dapat dipergunakan sebagai bahan acuan
internasional (internasional benchmark). Pada tahun 2004 Donald J.Johson, OECD Secretary
General mengutarakan, sejak beberapa tahun terakhir para pengusaha, pemerintahan dan

11
madyarakat bisnis di banyak Negara mulai menyadari bahwa good corporate governance dapat
memberikan kontribusi yang signifikan terhadap stabilitas perkembangan pasar modal, iklim
investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Prinsip-prinsip governance yang diterbitkan OECD itu mencakup hal-hal berikut :
1. Menjamin kerangka dasar CG berjalan efektif; corporate governance harus mendorong
terciptanya pasar yang transparan dan efisien, sesuai dengan perundang-undangan dan
peraturan yang berlaku, dan dapat dengan jelas memisahkan fungsi dan tanggung jawab
otoritas-otoritas yang memiliki pengaturan, pengawasan, dan penegakan hukum.
2. Hak-hak dan perlakuan yang adil bagi pemegang saham dan pemilik; para pemegang saham
mempunyai hak-hak tertentu. OECD menyarankan hak-hak tersebut dilindungi, baik secara
hukum maupun oleh masing-masing perusahaan. Perlakuan yang adil terhadap para pemegang
saham (the equiptable treatment of shareholders); perusahaan wajib menjamin perlakuan
yang adil terhadap semua pemegang saham perusahaan, termasuk pemegang saham minoritas
dan pemegang saham asing. Pemegang jenis saham yang sama (misalnya saham biasa) wajib
mendapat jaminan memperoleh pelakuan yang sama.
3. Investor institusional, pasar saham, dan perantara lainnya.
Investor institusional, pasar saham dan perantara lainnya; Ini adalah prinsip baru yang
membahas kebutuhan untuk insentif ekonomi yang sehat di seluruh rantai investasi, dengan
fokus khusus pada investor institusi bertindak dalam kapasitas fidusia. Hal ini juga menyoroti
kebutuhan untuk mengungkapkan dan meminimalkan konflik kepentingan yang dapat
mengganggu integritas analis, broker, lembaga pemeringkat dan lain-lain yang menyediakan
analisis dan saran yang relevan dengan investor. Hal ini juga berisi prinsip-prinsip baru
sehubungan dengan listing lintas perbatasan dan pentingnya penemuan harga yang adil dan
efektif di pasar saham. Prinsip ini mencoba mengelaborasi adakah perbedaan sikap antara
pemilik perseorangan dan kepemilikan oleh badan. Lalu bagaimana peran proksi dari institusi
keuangan terhadap pengendalian di perusahaan.
4. Peran the stakeholders dalam corporate govarnance; OECD juga menyarankan adanya
perlindungan hak dan kepentingan para anggota the stakeholders non pemegang saham. Hal
itu disebabkan karena keberhasilan operasi bisnis perusahaan ditentukan oleh hasil kerjasama
para anggota stakeholders, termasuk para pemegang saham, karyawan, kreditur pelanggan,
dan para pemasok layanan jasa, baha baku, dan bahan pembantu.

12
5. Pengungkapan informasi dan transparan; Prinsip good corporate governance lain yang
disosialisasikan OECD adalah pengungkapan informasi perusahaan secara transparan.
Perusahaan wajib melaporkan kepada pemegang saham secara akurat, transparan dan tepat
waktu, hal-hal yang bersangkutan dengan kondisi keuangan, perubahan kepemilikan, kinerja
bisnis dan hal-hal penting lainnya yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan.
6. Tanggung jawab Dewan (Komisaris dan Direksi; Tanggung jwab dewan pengurus, organisasi
dewan pengurus atau Board of Directors di banyak negara terdiri dari dua lapis. Di Indonesia
lapis pertama disebut dewan komisaris, sedangkan lapis kedua disebut direksi, lapis pertama
Board of Directors berfungsi sebagai pengarah dan pengawas jalannya operasi bisnis
perusahaan dan kinerja direksi. Sedangkan fungsi utama lapis kedua Board of Directors
adalah mengelola harta, utang dan kegiatan bisnis perusahaan sehari-hari. Board of Directors
bertanggung jawab atas kepatuhan perusahaan yang mereka kelola terhadapa undang-undang
atau ketentuan hukum yang berlaku.

2.7. FUNGSI CORPORATE GOVERNANCE

Terdapat 7 fungsi penting dari Corporate Governance Yaitu:

Oversight
(Board of Monitoring
Managerial Commisioners
(Pemegang Saham)
(Manajemen)

Corporate External Audit


governance (Auditor
effectiveness Eksternal)
Compliance
(Governing Bodies)
Advisoy

Internal Audit (Analisis


Keuangan)
(Auditor
Internal)

13
Penjelasan:

a. Oversight(pengaturan)
Fungsi pengawasan dilakukan oleh Dewan komisaris. Dewan komisaris memiliki tugas
untuk mengawasi dan meyakinkan bahwa manajemen telah melaksanakan strategi perusahaan,
serta mewajibkan terlaksananya akuntabilitas dan pemangku kepentingan. Efektivitas dewan
komisaris tergantung pada ukuran komisaris independen, etika, tingkat kualifikasi,
komposisinya, struktur, kerajinan dan ketekunan, kemampuan, dan sumber dayanya, serta
kemampuan menjalin relasi dengan pihak pemangku seperti manajemen, auditor, dll.
b. Managerial (manajemen)
Manajemen bertanggungjawab melaksanakn seluruh fungsi manajerial yaitu
mengoperasikan perusahaan dan mengelola sumberdaya perusahaan termasuk mengembangkan
dan melaksanakan strategi perusahaan, melindungi sumber, daya perusahaan, menilai kinerja
keuangan, menyajikan laporan keuangan yang wajar, dan meningkatkan nilai pemegang saham
dalam jangka panjang. Efektivitas manajemen dinilai dari kemampuannya menyelaraskan
kepentingan dari perusahaan dan pemegang saham (pemilik).
c. Compliance (kepatuhan)
Fungsi kepatuhan berlandaskan kepada sekumpulan hukum, regulasi, peraturan-peraturan,
standard dan praktik terbaik yang dikembangkan oleh negara, legislator, regulator, dewan
standar, dan organisasi profesional untuk menciptakan standar minimum kepatuhan.
d. Internal audit (audit internal)
Internal audit memberikan jasa konsultasi dan menjamin perusahaan terkait dengan
efisiensi operasional, manajemen risiko, kontrol internal, pelaporan keuangan, serta proses
governance. Efektivitas dari fungsi internal audit tergantung pada independensi, objektivitas,
kompetensi, pengalaman, dan integritas audit internal perusahaan.
e. Advisory (pengarah)
Fungsi hukum dan penasihat memberikan saran berupa saran tentang hukum dan saran
mengenai penerapan standar akuntansi. Efektivitas dari bagian hukum dan penasihat perusahaan,
tergantung pada tingkat objektivitas profesional, kompetensi, integritas, tingkat independensinya,
pelatihan dan pengalaman.
f. External audit (audit eksternal)

14
Auditor eksternal bertindak secara independen dan memiliki tugas untuk memeriksa dan
memberikan opini terkait dengan laporan keuangan perusahaan tersebut, apakah sudah disajikan
dengan benar dan wajar atau belum.
g. Monitoring (pengawasan)
Fungsi pengendalian artinya corporate governance dapat mengendalikan kegiatan
operasional perusahaan dan secara bersamaan akan ikut juga mendisiplinkan pihak yang
memiliki kepentingan dengan organisasi perusahaan.

2.8. MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE


Dalam suatu perusahaan terjadi pemisahan antara pemilik dengan pengelola, sehingga
menimbulkan persoalan keagenan atau agency problem. Agency problem ini disebabkan karena :
- Manajer cenderung melakukan tindakan yang menguntungkan diri sendiri, dan
berdampak buruk bagi perusahaan
- Manajemen tidak menampilkan kinerja perusahaan yang sesungguhnya kepada para
pemegang saham
- Manajer memanipulasi laporan keuangan agar tetap menerima kompensasi
- Manajemen memberikan informasi yang tidak akurat dan tidak lengkap kepada dewan
komisaris.

Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diperlukanlah suatu mekanisme Corporate


Governance. Mekanisme CG terdiri dari dua yaitu:

a. Mekanisme Internal
Terdiri dari dewan komisaris seperti komisaris independen; komite audit; pengendalian
internal; dan internal audit.
b. Mekanisme Eksternal
Terdiri dari pasar modal, pasar sebagai kendali perusahaan, pasar tenaga kerja, negara,
pengadlian, usulan pemegang saham pada saat RUPS.
Keefektifan Corporate Governance bergantung pada interasi antara mekanisme internal dan
eksternal tersebut. Harus ada alur komunikasi dan pelaksanaan tugas sesuai dengan
profesionalitas masing-masing. Dengan mengombinasikan antara keduanya diharapkan dapat
mengurangi konflik keagenan dan melindungi kepentingan investor dan stakeholder dari perilaku
pengelolaan perusahaan yang sembarangan oleh manajemen.

15
BAB III
KESIMPULAN

Corporate governance merupakan topik utama yang banyak diperbincangkan khalayak


ramai dalam beberapa tahun ini. Umumnya kemampuan suatu negara untuk menarik investor
tergantung pada seberapa jauh penerapan corporate governance yang diterapkan oleh perusahaan
dan sejauh mana manajemen menghormati dan mematuhi hak-hak dari stakeholders lainnya.
Para investor biasanya akan enggan menanamkan modal pada perusahaan yang tidak
menerapkan corporate governance secara efektif.
Good Corporate Governance mencapai puncak perkembangannya saat ambruknya
beberapa perusahaan dunia seperti Enron, Worldcom di AS, HIH Insurance dan One-tel di
Australia pada awal dekade 2000-an mulailah perbincangan dan perdebatan mengenai prinsip-
prinsip GCG. Kejadian ambruknya beberapa perusahaan raksasa dunia menyadarkan kalangan
bisnis dan pemerintahan terutama negara-negara maju yang terkena dampaknya mengenai betapa
pentingnya penerapan prinsip GCG dalam kegiatan bisnis.

16
Secara singkat GCG dapat diartikan sebagai seperangkat sistem yang mengatur dan
mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah (value added) bagi para pemangku
kepentingan. Hal ini disebabkan karena GCG dapat mendorong terbentuknya pola kerja
manajemen yang Bersih, Transparan, dan Profesional (BTP). Implementasi prinsip-prinsip GCG
secara konsisten di perusahaan akan menarik minat para investor, baik domestik maupun asing.
Hal ini sangat penting bagi perusahaan yang akan mengembangkan usahanya, seperti melakukan
investasi baru maupun proyek ekspansi.
Corporate Governance adalah system yang menjadi dasar suatu proses, mekanisme dalam
mengelola perusahaan yang baik berdasarkan peraturan perundang-undangan dan etika berusaha
agar timbul kepercayaan terhada perusahaan dengan menciptakan iklim perusahaan yang sehat
yang dapat meningkatkan nilai tambah perusahaan dalam jangka panjang serta
pertanggungjawaban kepada para pemangku kepentingan (stakeholder). Good Corporate
Governance adalah salah satu kunci untuk pasar keuangan yang sehat dalam perekonomian
global saat ini. Tata kelola perusahaan yang baik merupakan kunci untuk intergritas perusahaan,
lembaga keuangan dan pasar, pusat kesehatan dan stabilitas ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA

Putri, I Gusti Ayu Made Asri Dwija, dan Ulupui, I Gusti Ketut Agung. 2017. Pengantar
Corporate Governance. Denpasar: CV. Sastra Utama.

Bayurindra, Yudha Tama. 2014. Prinsip Corporate Governance Menurut OECD.


(https://www.scribd.com/doc/239683898/Prinsip-Corporate-Governance-Menurut-OECD)

Effendi, Muh. Arief. 2008. The Power of Good Corporate Governance: Teori dan
Implementasi. Jakarta: Salemba Empat.

17
18