Anda di halaman 1dari 30

BAB III

TEORI DASAR

3.1 Batuan Sedimen

Pettijohn (1975) membagi batuan sedimen berdasar teksturnya menjadi dua

kelompok besar, yaitu batuan sedimen klastika dan batuan sedimen non-klastika.

Batuan sedimen klastika (detritus, mekanik, eksogenik) adalah batuan sedimen

yang terbentuk sebagai hasil pengerjaan kembali (reworking) terhadap batuan yang

sudah ada. Proses pengerjaan kembali itu meliputi pelapukan, erosi, transportasi dan

kemudian redeposisi (pengendapan kembali). Sebagai media proses tersebut adalah

air, angin, es atau efek gravitasi (beratnya sendiri). Media yang terakhir itu sebagai

akibat longsoran batuan yang telah ada. Kelompok batuan ini bersifat fragmental,

atau terdiri dari butiran/pecahan batuan (klastika) sehingga bertekstur klastika.

Batuan sedimen non-klastika adalah batuan sedimen yang terbentuk sebagai

hasil penguapan suatu larutan, atau pengendapan material di tempat itu juga (insitu).

Proses pembentukan batuan sedimen kelompok ini dapat secara kimiawi, biologi

/organik, dan kombinasi di antara keduanya (biokimia). Secara kimia, endapan

terbentuk sebagai hasil reaksi kimia, misalnya CaO + CO2 CaCO3. Secara organik

adalah pembentukan sedimen oleh aktivitas binatang atau tumbuh-tumbuhan, sebagai

contoh pembentukan terumbu, terkumpulnya cangkang binatang (fosil), atau

terkuburnya kayu-kayuan sebagai akibat penurunan daratan menjadi laut.

23
Yang akan dibahas dalam penelitian kali ini adalah batuan sedimen siliklastik

dimana batugamping dan batuan karbonat ini digunakan sebagai reservoar untuk

hidrokarbon.

3.2 Batuan Karbonat

Batuan karbonat merupakan salah satu batuan sedimen siliklastik. Menurut

Pettijohn (1975), batuan karbonat adalah batuan yang fraksi karbonatnya lebih besar

dari fraksi non karbonat atau dengan kata lain fraksi karbonatnya >50%. Apabila

fraksi karbonatnya <50%, maka tidak bisa lagi disebut sebagai batuan karbonat.

Batuan karbonat umumnya tersusun oleh mineral argonit, kalsit, dan juga

dolomit, komponen penyusun batuan karbonat dibagi menjadi tiga macam, yaitu :

1. Butiran Karbonat (carbonate grain)

Butiran karbonat berukuran sama atau lebih besar daripada lanau,

dibagi menjadi dua macam, yaitu skeletal grain dan non skeletal grain.

Skeletal grain merupakan salah satu penyusun batuan karbonat yang berasal

dari sisa cangkang atau tubuh suatu organisme yang dapat berupa fosil,

mikrofosil, dan pecahan pecahan fosil. Non skeletal grain merupakan salah

satu penyususn batuan karbonat yang umumnya terbentuk akibat proses

presipitasi kimiawi seperti dolomitisasi, maupun proses rekristalisasi ,

replacement, dan pengisisan rongga batuan oleh material karbonat. Berikut

adalah contoh dari non skeletal grain ooid, pisoid, peloid, pellet, intraklast,

dan ekstraklast.

24
2. Microcristaline calsite (micrite)

Micrite tersusun oleh kristal-kristal kalsit atau aragonite yang sangat

halus, dapat berperan sebagai matriks diantara butiran karbonat atau sebagai

penyusun utama batuan karbonat berbutir halus, butirnya berukuran <1/256

mm atau ukuran lempung (Tucker, 1982).

3. Sparry calcite (sparite) : semen karbonat

Sparite adalah kristal-kristal kalsit yang berbentuk equant, berukuran

0,02-0,1 mm dan berkenampakan transpor dan jernih di bawah mikroskop

polarisasi (Buggs, 1987). Sparite dibedakan dengan micrite, karena

mempunyai ukuran kristal yang lebih besar dan kenampakannya lebih jernih,

sedang perbedaannya dengan butiran atau allochem adalah pada bentuk

kristalnya dan tidak adanya tekstur eksternal.

Gambar 3.1 Ilustrasi butiran karbonat (Carbonate Grain) (Flugel, 2010)

25
3.2.1 Klasifikasi Batuan Karbonat

Batuan karbonat adalah batuan dengan komposisi material karbonat lebih dari

50% yang tersusun atas partikel karbonat klastik yang tersemenkan atau karbonat

kristalin hasil presitipasi. Batuan karbonat adalah batuan yang komponen utamanya

berupa mineral karbonat lebih dari 50% sedangkan batugamping merupakan batuan

dengan komposisi mineral karbonat hingga 95%. Klasifikasi batuan karbonat cukup

banyak yang telah dipublikasikan, diantaranya adalah klasifikasi Dunham (1962;

dalam Flugel, 2010), Klasifikasi Folk (1962 ; dalam Flugel, 2010), dan klasifikasi

Embry dan Klovan (1971 ; dalam Flugel, 2010). Ketiga klasifikasi ini membagi

batugamping berdasarkan paduan antara parameter deskriptif dan genetik. Parameter

deskriptif artinya mengelompokan batuan karbonat berdasarkan sifat-sifat fisik,

seperti tekstur, struktur dan lain sebagainya, sedangkan parameter genetik, yaitu

mengkelompokan batugamping berdasarkan asal-usul batuan tersebut. Klasifikasi

Embry dan Klovan (1971 ; dalam Flugel, 2010) merupakan hasil modifikasi dari

klasifikasi Dunham (1962 ; dalam Flugel, 2010). Hasil dari modifikasi yang

dilakukan oleh Embry dan Klovan menambahkan tekstur deposisi. Penambahan

dalam klasifikasi ini, yaitu menambahkan fabrik batuan menjadi empat, yaitu mud

supported, grain supported, matrix supported, dan other component supported.

Dengan pembagian hasil deposisi menjadi dua bagian, yaitu allochthonous limestone

dan autothoctonous limestones. Allochthonous limestone merupakan batugamping

yang komponen asalnya bukan berasal dari aktivitas organisme dan merupakan hasil

transportasi selama proses deposisi, sedangkan autothoctonous limestones

26
merupakan batugamping yang komponen asalnya berasal dari aktivitas organisme

selama proses deposisi.

3.2.2 Faktor yang mempengaruhi Sedimen Karbonat

Faktor-faktor yang mempengaruhi sedimen karbonat adalah :

1. Garis lintang dan iklim

Karbonat yang terbentuk pada air hangat neritik (0 200 m) terakumulasi

pada garis lintang 300 utara dan selatan equator. Biasanya terbentuk dari pecahan

organisme seperti koral, dengan pertumbuhan terbaik pada kedalaman kurang dari 30

m. Sedimen planktonik terbentuk pada kedalaman yang lebih dalam dengan garis

lintang 400 utara dan selatan. Endapan pada air dingin neritik terletak pada garis

lintang 200 400 , terbentuk dari bryozoa, moluska dan foraminifera. Iklim dapat

mengontrol rata-rata evaporasi atau hujan, mempengaruhi komposisi air laut dekat

batas kontinental dan restricted basin.

2. Penetrasi cahaya

Penetrasi cahaya berkurang seiring dengan bertambahnya kedalaman air,

tingginya garis lintang dan berkurangnya kejernihan air. Karbonat tumbuh pada zona

shallow neritik , diatas 10 20 m dari permukaan laut. Batas terendah penetrasi

cahaya berkisar antara 100 150 m yang merupakan batas zona euphotic, zona

dimana fotosintetik organisme terjadi.

3. Salinitas

Keanekaragaman dan kelimpahan organisme laut terdapat pada salinitas

normal marine yaitu 30 40 ppt (normal air laut sekitar 32 36 ppt).

27
4. Tektonik

Proses tektonik juga menjadi faktor pengontrol pembentukan batuan

karbonat. Proses tektonik yang dimaksud dapat berupa penurunan dasar cekungan

maupun pengangkatan. Proses tektonik yang aktif menyebabkan deformasi juga

intensif sehingga tingkat ketenangan dari air laut menjadi terganggu. Gangguan

seperti ini dapat mengakibatkan pembentukan batuan karbonat tidak bisa berjalan

dengan sempurna. Selain itu, tektonik juga dapat merubah posisi platform tempat

karbonat tumbuh sehingga akan mempengaruhi pola sedimentasi yang dihasilkan.

5. Pasokan Sedimen

Suplai sedimen juga ikut berpengaruh terhadap sedimentasi batuan karbonat.

Suplai sedimen yang dimaksudkan adalah suplai sedimen asal darat (terrestrial). Hal

ini dapat mempengaruhi kondisi lingkungan pembentukan batuan karbonat.

Suplai sedimen yang sangat melimpah dapat mengganggu organisme untuk tumbuh

dengan baik. Selain itu, suplai sedimen dengan kecepatan yang cepat akan

mengganggu ketenangan dan kejernihan air laut dan dapat menghambat pertumbuhan

batuan karbonat karena suplai oksigen dan intensitas cahaya matahari menjadi

berkurang.

6. Aktivitas Organisme

Aktivitas organisme merupakan faktor utama dalam pembentukan batuan

karbonat. Batuan karbonat dapat terbentuk ketika terjadi akumulasi dariorganisme

sehingga organisme diibaratkan seperti produsen batuan karbonat. Ketika tidak ada

aktivitas organisme yang berkembang di suatu lokasi maka batuan karbonat tidak

akan pernah terbentuk.

28
7. Salinitas

Batuan karbonat memiliki kisaran salinitas antara 22% - 40% namun

terbentuk pada kisaran 25% - 35%. Oleh sebab itu, lingkungan laut merupakan

kondisi dengan salinitas yang relatif tinggi sehingga batuan karbonat dapat terbentuk

dengan baik.

8. Kedalaman

Pada umumnya dan kebanyakan, batuan karbonat diendapkan di perairan

dangkal dimana masih terdapat sinar matahari yang bisa menembus kedalaman air.

Terdapat suatu garis yang merupakan batas kedalaman air,dimana sedimen karbonat

dapat ditemukan pengendapannya yang disebutdengan CCD (Carbonate

Compensation Depth).

9. Kekeruhan

Batuan karbonat dihasilkan dari sekresi organisme laut dan presipitasi dari air laut

secara kimiawi. Hal ini mengandung arti bahwa pembentukan batuan karbonat juga

tergantung pada organisme. Sementara organisme laut membutuhkan kondisi laut

yang jernih agar sinar matahari dapat masuk tanpa terganggu.

3.2.3 Lingkungan Pengendapan

Lingkungan pengendapan karbonat terdiri dari :

1. Sering merupakan laut yang beragitasi shoal, bagian - bagian dangkal dekat

pantai (litoral) terutama jika bertekstur grainstone-packstone dengan partikel -

partikel terabrasi.

29
2. Bagian teduh dekat suatu reef, dilagoon, difore reef; merupakan lembaran -

lembaran dari reef yang dipecah - pecah gelombang kebagian air tenang, terutama

jika bertekstur packstone ataupun wackstone, dengan butiran yang terabrasi. Di fore

reef biasanya merupakan breksi - talus runtuhan dari reef, terdiri dari pecahan-

pecahan cangkang koral.

3. Neritik; misalnya jika terdiri dari organisme benthos, tanpa adanya abrasi,

misalnya gamping foraminifera besar yang membentuk bank atau biostrome.

Menurut Tucker tahun 1985 dijelaskan bahwa endapan karbonat pada laut

dangkal terbentuk pada 3 macam lokasi yaitu Platform, shelf, dan ramps.

1. Fasies karbonat ramp

Fasies karbonat ramp merupakan suatu tubuh karbonat yang sangat besar yang

dibangun pada daerah yang positif hingga ke daerah paleoslope, mempunyai

kemiringan yang tidak signifikan, serta penyebaran yang luas dan sama. Pada fasies

ini energi transportasi yang besar dan dibatasi dengan pantai atau inter tidal.

Gambar 3.2 Fasies Karbonat Ramp (Tucker 1985)

30
2. Fasies karbonat platform

Fasies karbonat platform merupakan suatu tubuh fasies karbonat yang sangat

besar dmana pada bagian atas lebih kurang horisontal dan berbatasan langsung

dengan shelf margin. Sedimen sedimen terbentuk dengan energi yang tinggi.

Gambar 3.3 Fasies Karbonat platform (Tucker, 1985)

3. Batas platform

Transisi dari shelf ke slope berpengaruh pada perubahan yang cepat dari pola

fasies karbonat. Pola pertama yang dicari oleh kebanyakan interpreter adalah

bentuk mound yang merepresentasikan reef. Beberapa contoh dengan seismik yang

bagus adalah karbonat Cretaceous di timur laut Amerika Serikat dan Teluk Meksiko,

karbonat Jurassic di Maroko, karbonat Miosen di Papua Nugini dan karbonat

Permian di Texas Barat. Beberapa buildup dapat mencapai ketinggian melebihi 1000

meter. Salah satu signature kunci adalah adanya refleksi shingled kecil yang miring

ke arah lingkungan paparan (shelf). Ini adalah hasil dari transpor endapan karbonat

31
oleh badai dan arus dari puncak reef menuju bagian dalam platform.

Signature internal dari buildup biasanya adalah hilangnya amplitudo dan

kemenerusan walaupun ini tidak selalu benar. Karena kemiringan utama

dari slope karbonat dapat melebihi 300 maka transisi dari buildup ke slope bagian

atas dapat terjadi secara mendadak.

4. Fasies Shelves

Fasies Shelves (shelf) lokasi pengendapan karbonat relatif sempit ratusan

meter sampai beberapa km saja). Endapan karbonat pada daerah ini dicirikan dengan

adanya break slope pada daerah tepi paparan, terdapatnya terumbu dan sand

body karbonat. Kompleks terumbu pada fasies ini terbagi menjadi : Fasies terumbu

muka (Force reef), inti terumbu (reef core) dan terumbu belakang (back reef).

Gambar 3.4 Fasies Shelves (Tucker, 1985)

3.2.4 Terumbu Karbonat sebagai Batuan Karbonat

Terumbu (reef) dapat menjadi batuan reservoar yang sangat penting. Pada

umumnya terumbu terdiri dari suatu kerangka, coral, ganggang, dan sebagainya yang

tumbuh dalam laut yang bersih, berenergi gelombang tinggi, dan mengalami banyak

32
pembersihan sehingga rongga - rongga antaranya khususnya menjadi sangat bersih.

Dalam hal ini porositas yang didapatkan terutama dalam kerangka yang berbentuk

rongga - rongga bekas binatang hidup yang tersemenkan dengan sparry calcite

sehingga porositasnya diperkecil.

1. Bentuk reservoar terumbu

Pada umumnya dapat dibedakan menjadi 2 macam reservoar terumbu, yaitu

terumbu yang bersifat fringing atau merupakan suatu bentuk yang memanjang di

lepas pantai, terumbu yang bersifat terisoler di sana - sini, yang sering disebut

sebagai suatu pinnacle atau patch reef atau secara tepat dikatakan sebagai bioherm,

yang muncul di sana - sini sebagai bentuk kecil secara tidak teratur, dan terumbu

yang berbentuk linier atau sebagai penghalang (barrier) biasanya berbentuk

mamanjang sering kali cukup besar serta memperlihatkan suatu asimetri dan

biasanya terdapat pada pinggiran suatu cekungan.

2. Terumbu tiang

Lapangan yang bersifat terumbu tiang (pinnacle) ditemukan di Libya yaitu

lapangan Idris dalam cekungan Sirte yang didapatkan dari suatu terumbu berumur

paleosen. Contoh yang baik untuk terumbu tiang sebagai reservoar ialah yang

didapatkan baru-baru ini di Irian Jaya, yaitu lapangan minyak Kasim dan Jaya.

Lapangan Kasim-Jaya merupakan suatu akumulasi dalam kulminasi terumbu yang

tumbuh di atas suatu kompleks terumbu yang merupakan suatu landasan. Bentuk

terumbu Kasim-Jaya itu terdiri daripada batuan karbonat berenergi tinggi yang

panjangnya 7 km dan lebarnya 2.5-3.5 km dan mempunyai ketinggian atau relief

vertikal 760 m di atas landasan tempat terumbu itu tumbuh.

33
3. Gamping Klastik

Gamping klastik sering juga merupakan reservoar yang sangat baik, terutama

dalam asosiasinya dengan oolit, dan sering disebut sebagai kalkarenit. Jadi jelas,

bahwa batuan reservoar yang terdapat di dalam oolit itu merupakan pengendapan

berenergi tinggi dan didapatkan dalam jalur sepanjang pantai dengan arus gelombang

kuat. Porositas yang didapatkan biasanya ialah jenis porositas intergranular, yang

kadang-kadang diperbesar oleh adanya pelarutan. Batuan reservoar oolit terdapat

misalnya di cekungan Illinnois (Amerika Serikat), dimana terdapat oolit dalam

gamping yang berumur karbonat. Lapisan oolit ini disebut McClosky sand. Batuan

ini terdiri daripada oolit yang kadangkadang bersifat dolomit. Contoh yang paling

penting adalah di Saudi Arabia yaitu dari Formasi Arab berumur jura muda, terutama

dari anggota D.

4. Dolomit

Dolomit merupakan batuan reservoar yang jauh lebih penting dari jenis

batuan karbonat lainnya dan bahwa kebanyakan dari batuan karbonat seperti oolit

ataupun terumbu sedikit banyak pula telah ikut didolomitasikan. Cara terjadinya

dolomit ini tidak begitu jelas, tetapi pada umumnya dolomit ini bersifat sekunder

atau sedikit banyak terbentuk setelah proses sedimentasi. Salah satu teori yang

menyebutkan pembentukan porositas pada dolomit yaitu porositas timbul karena

dolomitisasi batuan gamping sehingga molekul kalsit diganti dengan molekul

dolomit, dan karena molekul dolomit lebih kecil daripada molekul kalsit maka

hasilnya akan merupakan pengecilan volume sehingga tidak timbulah rongga-rongga.

Dolomit biasanya mempunyai porositas yang baik berbentuk sukrosit yaitu berbentuk

34
menyerupai gula pasir. Rupa-rupanya dolomit ini terbentuk karena pembentukan

kristal dolomit yang bersifat euhedron dan tumbuh secara tidak teratur diantara

kalsit.

3.2.5 Diagenesis Batuan Karbonat

Secara umum batuan sedimen terendapkan pada laut dangkal namun juga ada

beberapa yang terendapkan pada laut dalam sampai pada batas CCD. Faktor yang

menentukan karakteristik akhir produk diagenesa antara lain komposisi sedimen

mula-mula, sifat alami fluida interstitial dan pergerakannya, dan proses fisika, kimia,

maupun biologi yang bekerja selama diagenesa. Namun secara umum batuan

sedimen karbonat lebih banyak terbentuk akibat proses kimia dan proses biologi atau

biasa disebut dengan proses geokimia dan biogenetik. Proses-proses diagenesis yang

dialami oleh batuan karbonat meliputi Pelarutan (Dissolution), Sementasi

(Cementation), Dolomitisasi (Dolomitization), Aktivitas Mikroba (Microbial

Activity), Kompaksi Mekanik (Mechanical Compaction), dan Kompaksi Kimia

(Chemical Compaction).

3.3 Fasies

Fasies merupakan suatu tubuh batuan yang memiliki kombinasi karakteristik

yang khas dilihat dari litologi, struktur sedimen dan struktur biologi memperlihatkan

aspek fasies yang berbeda dari tubuh batuan yang yang ada di bawah, atas dan di

sekelilingnya. Fasies umumnya dikelompokkan ke dalam facies association dimana

fasies-fasies tersebut berhubungan secara genetis sehingga asosiasi fasies ini

35
memiliki arti lingkungan. Dalam skala lebih luas asosiasi fasies bisa disebut atau

dipandang sebagai basic architectural element dari suatu lingkungan pengendapan

yang khas sehingga akan memberikan makna bentuk tiga dimensi tubuhnya (Walker

dan James, 1992).

Menurut Slley (1985), fasies sedimen adalah suatu satuan batuan yang dapat

dikenali dan dibedakan dengan satuan batuan yang lain atas dasar geometri, litologi,

struktur sedimen, fosil, dan pola arus purbanya. Fasies sedimen merupakan produk

dari proses pengendapan batuan sedimen di dalam suatu jenis lingkungan

pengendapannya.

Model Fasies (Facies Model).

3.3.1 Model fasies

Model fasies adalah miniatur umum dari sedimen yang spesifik. Model fasies adalah

suatu model umum dari suatu sistem pengendapan yang khusus ( Walker , 1992).

Model fasies dapat diiterpretasikan sebagai urutan ideal dari fasies dengan diagram

blok atau grafik dan kesamaan. Ringkasan model ini menunjukkan sebagaio ukuran

yang bertujuan untuk membandingkan framework dan sebagai penunjuk observasi

masa depan. model fasies memberikan prediksi dari situasi geologi yang baru dan

bentuk dasar dari interpretasi lingkungan. pada kondisi akhir hidrodinamik. Model

fasies merupakan suatu cara untuk menyederhanakan, menyajikan,

mengelompokkan, dan menginterpretasikan data yang diperoleh secara acak.

Ada bermacam-macam tipe fasies model, diantaranya adalah :

36
a) Model Geometrik berupa peta topografi, cross section, diagram blok tiga dimensi,

dan bentuk lain ilustrasi grafik dasar pengendapan framework

b) Model Geometrik empat dimensi adalah perubahan portray dalam erosi dan

deposisi oleh waktu.

c) Model statistik digunakan oleh pekerja teknik, seperti regresi linear multiple,

analisis trend permukaaan dan analisis faktor. Statistika model berfungsi untuk

mengetahui beberapa parameter lingkungan pengendapan atau memprediksi respon

dari suatu elemen dengan elemen lain dalam sebuah proses-respon model.

3.3.2 Fasies Sequence

Suatu unit yang secara relatif conform dan sekuen tersusun oleh fasies yang

secara geneik berhubungan. Fasies ini disebut parasequence. Suatu sekuen ditentikan

oleh sifat fisik lapisan itu sendiri bukan oleh waktu dan bukan oleh eustacy serta

bukan ketebalan atau lamanya pengendapan dan tidak dari interpretasi global atau

asalnya regional (sea level change). Sekuen analog dengan lithostratigrafy, hanya

ada perbedaan sudut pandang. Sekuen berdasarkan genetically unit.

Ciri-ciri sequence boundary :

1. Membatasi lapisan dari atas dan bawahnya.

2. Terbentuk secara relatif sangat cepat (<10.000 tahun).

3. Mempunyai suatu nilai dalam chronostratigrafi.

4. Selaras yang berurutan dalam chronostratigrafi.

5. Batas sekuen dapat ditentukan dengan ciri coarsening up ward.

37
3.3.3 Asosiasi Fasies

Mutti dan Ricci Luchi (1972), mengatakan bahwa fasies adalah suatu lapisan

atau kumpulan lapisan yang memperlihatkan karakteristik litologi, geometri dan

sedimentologi tertentu yang berbeda dengan batuan di sekitarnya. Suatu mekanisme

yang bekerja serentak pada saat yang sama. Asosiasi fasies didefinisikan sebagai

suatu kombinasi dua atau lebih fasies yang membentuk suatu tubuh batuan dalam

berbagai skala dan kombinasi. Asosiasi fasies ini mencerminkan lingkungan

pengendapan atau proses dimana fasies-fasies itu terbentuk. Sekelompok asosiasi

fasies endapan fasies digunakan untuk mendefinisikan lingkungan sedimen tertentu.

Sebagai contoh, semua fasies ditemukan di sebuah fluviatile lingkungan dapat

dikelompokkan bersama-sama untuk menentukan fasies fluvial asosiasi.

Pembentukan dibagi menjadi empat fasies asosiasi (FAS), yaitu dari bawah ke atas.

Litologi sedimen ini menggambarkan lingkungan yang didominasi oleh braided

stream berenergi tinggi.

a. Asosiasi fasies 1

Asosiasi fasies terendah di unit didominasi oleh palung lintas-

stratifikasi, tinggi energi braided stream yang membentuk dataran outwash

sebuah sistem aluvial. Trace fosil yang hampir tidak ada, karena energi yang

tinggi berarti depositional menggali organisme tidak dapat bertahan.

b. Asosiasi fasies 2

Fasies ini mencerminkan lingkungan yang lebih tenang, unit ini

kadang-kadang terganggu oleh lensa dari FA1 sedimen. Bed berada di

seluruh tipis, planar dan disortir dengan baik. Bed sekitar 5 cm (2 in) bentuk

38
tebal 2 meter (7 ft) unit "bedded sandsheets"- lapisan batu pasit yang

membentuk lithology dominan fasies ini. Sudut rendah (<20 ), lintas-bentuk

batu pasir berlapis unit hingga 50 cm (19,7 inci) tebal, kadang-kadang

mencapai ketebalan sebanyak 2 meter (7 kaki). Arah arus di sini adalah ke

arah selatan timur - hingga lereng - dan memperkuat interpretasi mereka

sebagai Aeolian bukit pasir. Sebuah suite lebih lanjut lapisan padat berisi fosil

jejak perkumpulan; lapisan lain beruang riak saat ini tanda, yang mungkin

terbentuk di sungai yang dangkal, dengan membanjiri cekungan hosting

mungkin pencipta jejak fosil. Cyclicity tidak hadir, menunjukkan bahwa, alih-

alih acara musiman, kadang-kadang innundation didasarkan pada peristiwa-

peristiwa tak terduga seperti badai, air yang berbeda-beda tabel, dan

mengubah aliran kursus.

c. Asosiasi fasies 3

Fasies ini sangat mirip FA1, dengan peningkatan pasokan bahan

clastic terwakili dalam rekor sedimen tdk halus, diurutkan buruk, atas-fining

(yaitu padi-padian terbesar di bagian bawah unit, menjadi semakin halus ke

arah atas), berkerikil palung lintas-unit tempat tidur hingga empat meter tebal.

Jejak fosil langka. Sheet-seperti sungai dikepang disimpulkan sebagai kontrol

dominan pada sedimentasi di fasies ini.

d. Asosiasi fasies 4

Asosiasi fasies paling atas muncul untuk mencerminkan sebuah

lingkungan di pinggiran laut. Fining-up yang diamati pada 0,5 meter (2 kaki)

hingga 2 meter (7 kaki) skala, dengan salib melalui seperai pada unit dasar

39
arus overlain oleh riak. Baik shales batu pasir dan hijau juga ada. Unit atas

sangat bioturbated, dengan kelimpahan Skolithos - sebuah fosil biasanya

ditemukan di lingkungan laut.

3.4 Seismik

Gelombang diartikan sebagai usikan atau gangguan yang merambat.

Gangguan ini merupakan salah satu bentuk energy. Maka dari itu gelombang

merupakan fenomena perambatan energy. Gelombang seismic adalah suatu rambatan

energy yang disebabkan karena adanya gangguan di dalam kerak bumi, misalnya

adanya patahan atau ledakan. Energi ini akan merambat ke seluruh bagian bumi dan

dapat terekam oleh seismometer.

Metode seismik merupakan salah satu bagian dari seismologi eksplorasi yang

dikelompokkan dalam metode geofisika aktif, dimana pengukuran dilakukan dengan

menggunakan sumber seismik (palu, ledakan, dll). Setelah getaran diberikan, terjadi

gerakan gelombang di dalam medium (tanah/batuan) yang memiliki hukum hukum

elastisitas ke segala arah dan mengalami pemantulan ataupun pembiasan akibat

munculnya perbedaan kecepatan. Kemudian pada jarak tertentu gerakan partikel

tersebut direkam sebagai fungsi waktu. Berdasarkan data rekaman ilmiah dapat

diperkirakan bentuk lapisan/struktur di dalam tanah.

Penyelidikan seismik dilakukan dengan memberikan getaran dari suatu

sumber getaran. Getaran tersebut merambat ke segala arah di bawah permukaan

sebagai gelombang getar. Gelombang yang datang mengenai lapisan-lapisan batuan

akan mengalami pemantulan, pembiasan dan penyerapan. Respon batuan terhadap

gelombang yang datang akan berbeda-beda tergantung sifat fisik batuan yang

40
meliputi densitas, porositas, umur batuan, kepadatan dan kedalaman batuan.

Gelombang yang akan dipantulkan akan ditangkap oleh geophone di permukan dan

diteruskan ke instrument untuk direkam. Hasil rekaman tersebut akan menghasilkan

penampang seismic (Gambar 3.8)

Gambar 3.5 Ilustrasi penjalaran gelombang seismik dalam eksplorasi

minyak dan gas bumi (Sukmono, 2007).

Di dalam suatu eksplorasi seismic dikenal mempunyai 2 (dua) macam metode

antara lain :

Metode Seismik Bias (Refraksi)

Seismik refraksi atau seismik bias dihitung berdasarkan waktu jalar

gelombang pada tanah / batuan dari posisi sumber ke penerima pada berbagai

41
jarak tertentu. Pada metode ini gelombang yang terjadi setelah gangguan

pertama diabaikan sehingga sebenarnya hanya data gangguan pertama saja

yang dibutuhkan. Parameter jarak (offset) dan waktu jalar dihubungkan oleh

cepat rambt gelombang dalam medium. Kecepatan tersebut dikontrol oleh

sekelompok konstanta fisis yang ada di dalam material dan dikenal sebagai

parameter elastisitas batuan.

Metode Seismik Pantul (Refleksi)

Seismik refleksi adalah metode geofisika dengan menggunakan

gelombang elastis yang dipancarkan oleh suatu sumber getar yang biasanya

berupa ledakan dinamit (pada umumnya digunakan di darat sedangkan di laut

menggunakan sumber getar (pada media air menggunakan sumber getar

berupa air gun, boomer atau sparker). Gelombang bunyi yang dihasilkan dari

ledakan tersebut menembus sekelompok batuan di bawah permukaan yang

nantinya akan dipantulkan kembali ke atas permukaan melalui bidang

reflector yang berupa batas lapisan batuan. Gelombang yang dipantulkan ke

permukaan ini diterima dan direkam oleh alat perekam yang disebut

geophone (di darat) atau Hydrophone (di laut), (Bradley, 1985). Refleksi dari

suatu horizon geologi mirip dengan gema pada suatu muka tebing atau

jurang. Metode seismik refleksi banyak dimanfaatkan untuk keperluan

eksporasi perminyakan, penentuan sumber gempa ataupun mendeteksi

struktur lapisan tanah. Seismik pantul atau refleksi ini hanya mengamati

gelombang pantul yang dating dari batas batas formasi geologi. Gelombang

42
pantul ini dapat dibagi atas beberapa jenis gelombang yaitu : Gelombang P ,

Gelombang S, Gelombang Stoneley, dan Gelombang Love.

Seismik refleksi ini, dikosentrasikan pada energy yang diterima

setelah getaran awal diterapkan. Secara umum, sinyal yang dicari adalah

gelombang gelombang yang terpantulkan dari semua interface antar lapisan

di bawah permukaan. Analisis yang digunakan dapat disamakan dengan echo

sounding pada teknologi bawah air, kapal dan sistem radar. Informasi tentang

medium juga dapat diekstrak dari bentuk dan amplitudo gelombang refleksi

yang direkam. Struktur bawah permukaan dapat cukup kompleks, tetapi

analisis yang dilakukan masih sama dengan seismik refraksi atau bias, yaitu

analisis berdasarkan kontras parameter elastisitas medium.

Seismik refleksi umumnya dipakai untuk penyelidikan suatu industri

hidrokarbon. Biasanya metode seismik refleksi ini dipadukan dengan metode

geofisika lainnya, misalnya metode gravitasi, magnetic dan lain lain.

Namun metode seismik refleksi adalah yang paling mudah memberikan

informasi paling akurat terhadap gambaran atau model geologi bawah

permukaan dikarenakan data yang diperoleh lebih baik atau akurat.

43
Gambar 3.6 Unsur dasar metode seismik (Sukmono, 1999).

Pada umumnya metode seismik refleksi terbagi atas tiga tahapan utama,

yaitu:

1. Pengumpulan data seismik (akusisi data seismik) yaitu semua kegiatan yang

berkaitan dengan pengumpulan data sejak survei pendahuluan dengan survei

detail.

2. Pengolahan data seismik (processing data seismik) yaitu kegiatan untuk

mengolah data rekaman di lapangan (raw data) dan diubah ke bentuk

penampang seismik migrasi.

3. Interpretasi data seismik merupakan kegiatan yang dimulai dengan

penelusuran horizon, pembacaan waktu, dan plotting pada penampang

seismik yang hasilnya disajikan atau dipetakan pada peta dasar yang berguna

untuk mengetahui struktur atau model geologi bawah permukaan.

Jenis-jenis seismik, adalah :

Seismik 2D

Ini dikenal sejak lama sebagai seismic section. Berupa semua

penampang bawah permukaan yang diperoleh dengan cara menembakkan

getaran seismik ke dalam bumi, kemudian ditangkap dengan geophone di

permukaan. Hasil yang diperoleh berupa penampang bawah permukaan, baik

penampang struktur geologi maupun penampang stratigrafi bawah permukaan

serta termasuk parameter batuan lainnya (densitas dan turunannya seperti

porositas, saturasi, dll).

44
Seismik 3D

Seismik 3D ini adalah seismik 2D dengan kerapatan spasinya sangat

tinggi (12,5 meter sampai 25 meter) yang diperoleh dari tubuh bawah

permukaan. Missal bentuk dari jebakan atau perangkap, bentuk konfigurasi

patahan, bentuk tubuh sedimen, dll. Seismik 2D menggunakan lebih dari 2

streamer (dalam laut) dan lebih bertujuan sebagai data untuk melakukan

drilling decision. Shooting interval bias 12,5 m , 18,75 m dan 25 m dimana

semakin rapat maka data akan semakin baik yang didapat. Panjang kabel

harus bergantung pada target kedalaman yang diinginkan. Banyaknya

streamer bergantung dari efisiensi yang diinginkan dana tau juga kedekatan

engan near group centre dari titik pusat kapal sangat mempengaruhi

banyaknya streamer yang akan digunakan. Shooting line sangat bergantung

terhadap patahan yang ada di bawah permukaan. Bentuk data dalam domain

kedalaman dan waktu.

Inti dari metode seismik 3D berada pada pengumpulan data rill diikuti

oleh pemrosesan dan interpretasi volume data yang sangat rapat. Resolusi

vertikal maupun horizontalnya semakin baik. Kumpulan data seismik yang

rapat memungkinkan pengolahan dari data 3D.

Data volume seismik 3D mengandung susunan orthogonal berspasi

teratur dari titik data yang didefinisikan dari geometri pengambilan data. Tiga

arah utama susunan tersebut menentukan tiga set potongan orthogonal yang

dapat dibuat melalui volume terkait. Potongan vertikal pada arah pergerakan

lintasan disebut inline, titik spasi antar inline disebut line. Sedangkan

45
potongan vertikal tegak lurus terhadap lintasan disebut crossline atau xline

titik spasi antar crossline disebut trace.

Data seismic 3D sangat umum digunakan dalam interpretasi area

prospek petroleum. Perkembangan pesat pada riset dan data seismik 3D dan

sistem pengolahannya telah mempengaruhi tingkat kesuksesan eksplorasi

hidrokarbon, naiknya tingkat produksi, control dan pengembangan lapangan

migas, hingga peningkatan recovery factor.

3.5 Log Sumur

Data log sumur dapat digunakan untuk menganalisis secara kuantitatif

kandungan fluida dan komposisi mineral dalam reservoir yang potensial serta

mengidentifikasi batas batas litostratigrafinya. Log seperti gamma ray, SP,

resistivity, dan neutron-density adalah jenis wireline logs yang sering digunakan

karena mempunyai karakteristik yang khas untuk mencirikan lingkungan

pengendapan tertentu.

3.5.1 Log Gamma Ray

Log gamma ray merupakan log radiaktif dengan tingkat perekaman radiasi

alami sinar gamma dari suatu lapisan yang diakibatkan oleh unsur unsur radioaktif

yang ada dalam bumi dengan unsur uranium, thorium, potasium dan radium

(Harsono, 1997). Tingkat radioaktivitas pada lempung dan serpih lebih tinggi

dibandingkan dengan batuan lain, seperti pasir, batubara maupun batugamping. Hal

ini dikarenakan unsur radioaktif cenderung mengendap di lapisan lempung dan

serpih yg tidak permeable, sehingga respon gamma ray (GR) akan tinggi pada batuan

46
lempung dan serpih yang umumnya bertekstur halus dan impermeablesebaliknya

akan lebih rendah pada batuan yang bertekstur kasar dan permeable.

Adapun fungsi dari log GR adalah:

1. Evaluasi lapisan dengan potensi radioaktif besar berupa shale.

2. Korelasi log antar sumur.

3. Penentuan lapisan permeable dan tidak permeable dengan penebalan

karakteristik log.

4. Evaluasi kandungan serpih

3.5.2 Log Resistivitas

Secara garis besar log resistivitas dapat digunakan untuk interpretasi pintas

deteksi hidrokarbon. Resistivitas formasi sebenarnya tergantung dari jenis kandungan

fluidanya, arus listrik dapat mengalir akibat adanya air sedangkan minyak dan gas

tidak mengalirkan arus sehingga parameter terbatas pada air yang dikandungnya.

Resistivitas tergantung dari resistivitas air formasi yang dikandungnya, jumlah air

formasi yang ada dan struktur geometri pori-pori.

Tujuan log resistivitas adalah :

Menentukan kandungan fluida dalam reservoir.

Mengidentifikasi zona permeable.

Menentukan porositas dan menunjukkan litologi batuan

47
3.5.3 Log Neutron (NPHI)

Log neutron pada dasarnya membaca hydrogen index di dalam batuan yang

dihubungkan dengan jumlah fluida pada tempat tersebut. Pada batuan yang

berukuran halus log neutron akan menunjukkan pembacaan yang besar ke kiri karena

pada umumnya batuan yang berukuran halus ini mempunyai kandungan atom

hidrogen yang besar, baik hidrogen bebas maupun hidrogen yang terikat pada

mineral-mineral lempung di dalam batuan tersebut. Semakin berpori batuan semakin

banyak kandungan hidrogen dan semakin tinggi hydrogen index.

3.5.4 Log Densitas (RHOB)

Log densitas adalah kurva yang menunjukkan besarnya densitas bulk density

(RHOB) dari batuan yang ditembus oleh lubang bor. Pada prinsipnya log densitas

mengukur densitas elektron pada formasi yang dinyatakan dalam satuan gram/cc.

Log densitas digunakan untuk mengukur densitas semua formasi dengan sinar

gamma yang tinggi dan mengukur jumlah sinar gamma rendah yang kembali ke

detektor. Proses ini merupakan fungsi dari jumlah elektron yang dikandung pada

suatu formasi. Secara kuantitatif log densitas digunakan untuk menghitung porositas

dan secara tidak langsung untuk menentukan densitas hidrokarbon. Dan log ini juga

dapat membantu perhitungan impedansi akustik dalam kalibrasi pada seismik. Secara

kualitatif log ini berguna sebagai indikator penentuan litologi yang dapat digunakan

untuk mengidentifikasi densitas mineral mineral dan lebih jauh lagi dapat

memperkirakan kandungan organik dari source rock dan dapat mengidentifikasi

overpressure dan fracture porosity.

48
Penggabungan log neutron dan log densitas sangat berguna untuk

mendeteksi zona gas dalam reservoir. Zona gas ditunjukkan dengan cross-over

antara neutron dan densitas.

3.5.5 Log Checkshot

Data checkshot memiliki proses fungsi penting dalam proses interpretasi

seismik. Data ini memberikan korelasi antara data two-way time yang dimiliki oleh

gelombang seismik dengan data kedalaman, baik true vertical depth maupun

measured depth. Umumnya data checkshot ini ditampilkan dalam bentuk kurva

logaritmik atau time to depth curve. Dalam proses interpretasi seismik, data

checkshot diperlukan untuk mengkonversikan dari dimensi waktu menjadi

kedalaman ataupun sebaliknya. Konversi ini memiliki dua tujuan. Pertama adalah

menkonversi dari data kedalaman menjadi waktu, yaitu untuk mengetahui marker

seismik dalam two-way time. Kedua adalah sebagai tools untuk proses depth

conversion, yaitu mengkonversikan peta struktur waktu menjadi peta struktur

kedalaman sehingga menyempurnakan hasil interpretasi seismik. Beberapa fungsi

lain dari data checkshot diantaranya untuk mengkalibrasikan log sonic dan untuk

analisis kecepatan pada pengolahan data seismik permukaan.

3.5.6 Log Sonic

Log sonic disebut juga dengan log kecepatan, merupakan log yang bekerja

yang berdasarkan kecepatan rambat gelombang suara. Gelombang suara yang

dipancarkan ke dalam suatu sumur pemboran akan direspon berbeda beda pada tiap-

49
tiap formasi tergantung pada litologi penyusunnya. Log sonic dimanfaatkan untuk

menentukan porositas batuan, menentukan koefisien refleksi (KR) dan bersama log

lain untuk menentukan litologi. Pada batuan yang memilik kerapatan besar maka

kurva log kecepatan akan bernilai besar, apabila batuan memiliki kecepatan kecil,

maka kurva log kecepatan akan bernilai kecil.

3.6 Well Seismic Tie

Well-seismic tie atau pengikatan data seismik dan sumur dilakukan untuk

meletakkan horizon seismik dalam skala waktu pada posisi kedalaman sebenarnya

agar data seismik dapat dikorelasikan dengan data geologi lainnya yang diplot pada

skala kedalaman. Ada banyak teknik pengikatan, tetapi yang umum digunakan

adalah dengan memanfaatkan seismogram sintetik.

3.7 Seismogram Sintetik

Seismogram sintetik adalah data seismik buatan yang dibuat dari data sumur

yaitu log kecepatan, densitas dan wavelet dari data seismik. Dengan mengalikan

kecepatan dengan densitas maka akan diperoleh deret koefisien refleksi. Koefisien

refleksi ini kemudian dikonvolusikan dengan wavelet sehingga akan didapatkan

seismogram sintetik pada daerah sumur tersebut. Konvolusi adalah cara untuk

mengkombinasikan dua buah deret angka yang menghasilkan deret angka yang

ketiga. Pada seismik, deret-deret angka tersebut adalah wavelet sumber gelombang,

reflektivitas bumi dan rekaman seismik.

50
Seismogram sintetik dibuat untuk mengkorelasikan antara informasi sumur

(litologi, sumur, kedalaman, dan sifat-sifat fisis lainnya) terhadap tras seismik untuk

memperoleh informasi yang lebih lengkap (Gambar 3.10)

Gambar 3.7 Seismogram sintetik hasil dari konvolusi RC

(Sukmono, 1999).

3.8 Peta Bawah Permukaan

Peta bawah permukaan merupakan peta yang menggambarkan bentuk

maupun kondisi geologi di bawah permukaan dan menjadi dasar dalam suatu

kegiatan eksplorasi hidrokarbon. Peta bawah permukaan dibuat untuk mengetahui

kondisi bawah permukaan mendekati kondisi sebenarnya, baik berupa ketebalan,

kedalaman maupun presentase ketebalan.

3.9 Peta Struktur Waktu

51
Peta struktur waktu diperoleh dari hasil picking horizon dan picking fault.

Pembuatan peta ini mempunyai tujuan antara lain untuk melihat kondisi bawah

permukaan dengan domain berupa waktu.

3.10 Peta Struktur Kedalaman

Peta struktur kedalaman ini dibuat untuk mengetahui kondisi geologi bawah

permukaan. Peta struktur kedalaman ini dibuat dengan melakukan operasi aritmatika

peta yaitu perkalian antara peta struktur waktu dengan kecepatan interval. Pembuatan

kecepatan interval dilakukan dengan menganalisis kecepatan gelombang seismic

yang bergerak dari permukaan sampai batas atas dan bawah formasi berdasarkan data

checkshot

3.11 Peta Isopach

Peta isopach ini merupakan peta yang menggambarkan ketebalan lapisan dari

suatu daerah. Peta ini menggambarkan ketebalan sesungguhnya dan mampu

memperlihatkan ketebalan lapisan suatu reservoir.

52