Anda di halaman 1dari 17

I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Meat and bone meal (MBM) atau tepung daging dan tulang adalah produk
sampingan atau buangan yang berasal dari ternak yang diolah di rumah potong hewan
yang berupa tulang dan gelatin.

Meat and bone meal mengandung 45-55% protein, 35% abu, 8-12% lemak, dan
4-7% kelembaban. Meat and bone meal ini merupakan sumber Ca (Calsium)9,5%,
Phospor 4,4% dan lisin. Kekurangan MBM ini adalah rendahnya kadungan methionin
dan triptophan dalam kandungan nilai gizinya. Meat and bone meal merupakan
pakan ternak yang didalam formulasinya terdapat proses perubahan asam amino.

Pemberian Meat and bone meal pada sapi dapat menyebabkan penyakit BSE
(penyakit sapi gila), hal ini dikarenakan oleh perubahan konfigurasi alpha helix
menjadi beta sheet yang biasa disebut prion. Biasanya prion tersebut terdapat pada
baigian sapi yang berupa rumen atau yang lebih dikenal dengan babat (jeroan sapi).
Menurut sebagian besar negara di dunia, menyatakan bahwa Meat and bone meal
tidak dapat diberikan atau dicampurkan pada ransum ternak ruminansiasecara
kontinyu atau berkelanjutan. Akan tetapi, di beberapa wilayah, termasuk Amerika
Serikat, meat and bone meal masih biasa diberikan pada ternak monogastrik.

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat mengetahui dan memahami
proses pembuatan dari meat and bone meal, yang bertujuan agar mahasiswa dapat
mengaplikaskannya pada kegiatan sehari-hari di dunia peteranakan.
1.3 Kegunaan

Agar dapat membuat pakan yang memiliki kandungan protein yang cukup tinggi
bagi ternak. Sehingga apabila ternak kekurangan nilai protein, maka pakan utama
dapat ditambah dengan MBM tersebut.

1.4 Waktu dan Tempat

Waktu : Tanggal November 2009


Tempat : Laboratorium Teknologi Pakan Ternak
II
TINJAUAN PUSTAKA

Meat and bone meal merupakan sisa protein yang didapat setelah penyerapan
lemak dalam proses pembentukan yang normal. Warnanya coklat muda keemasan,
dengan bau seperti daging segar, dan tersedia sepanjang tahun. Tepung daging dan
tulang (meat bone meal) penggunaannya berkisar antara 2 - 6%, mempunyai
kandungan protein kasar yang tinggi berkisar antara 45%-50% serta mengandung
kalsium dan fosfor yang tinggi pula.
Tepung daging dan tulang berasal dari bagian tubuh ternak yang tidak
dikonsumsi manusia, tetapi tidak termasuk tanduk, bulu, kulit, darah maupun isi
rumen. Sebelum dijadikan tepung, jaringan tubuh ternak terlebih dahulu dimasak
untuk menghindari penularan penyakit terhadap ternak yang mengkonsumsi produk
tersebut.
Beberapa metode pembuatan tepung daging dan tulang (MBM) adalah:
1. Metode basah (wet rendering).
Metode ini dengan menggunakan suhu panas yang tinggi. Jaringan tubuh ternak
ditempatkan dalam tangki kemudian ditambahkan air, lalu di bawah tangki dialiri uap
panas. Dengan adanya panas, maka sel-sel lemak akan pecah dan mengapung di
permukaan. Selanjutnya jaringan tubuh ternak tersebut dipisahkan dan dipress untuk
mengeluarkan lemak dan kemudian dikeringkan. Air rebusan yang banyak
mengandung protein terlarut dapat diuapkan, kemudian ditambahkan ke bahan yang
dimasak tadi atau diberikan tersendiri ke ternak.
2. Metode kering (dry rendering)
Sisa daging atau meat scrap dipanaskan dalam tangki terbuka dimana uap air
dialirkan langsung ke dalam tangki. Uap panas tersebut akan menghancurkan sel-sel
lemak dan menguapkan air. Bila semua molekul air telah menguap, maka aliran uap
panas dihentikan dan semua isi tangki dipindahkan ke tangki perkolasi untuk
dikeluarkan lemak bebasnya, dan produk ini disebut meat cracklings.
Kemudian meat cracklings dipress atau dilarutkan dalam pelarut organik
untuk menghilangkan sisa lemak yang masih ada. Bila selanjutnya ke dalam proses
ini ditambahkan tulang sebelum digiling, maka akan dihasilkan tepung daging dan
tulang (meat and bone meal), tetapi jika tidak ditambahkan akan didapat tepung
daging (meat meal). Konten kalsium tidak boleh lebih dari 2,2 kali konten fosfor.
Sebuah konten kalsium lebih tinggi daripada ini menunjukkan kalsium tambahan dari
sumber selain dari tulang. Protein dalam daging dan makanan tulang adalah relatif
rusak perlahan-lahan di waduk. MBM dapat diberikan sebagai sumber protein.
Mungkin termasuk dalam campuran biji-bijian dengan laju hingga 5 persen atau
makan di sampai dengan 1 pon (0,68 kg) per ekor per hari. Hal ini tidak terlalu
enak dan harus dimasukkan ke dalam ransum secara bertahap.

Kandungan zat makanan meat bone meal, yaitu:


BK 95,6%
PK 53,3 %
SK -
Abu 29,7%
LK 12,3 %
BETN -

Agar diperoleh hasil ternak maupun produk olahannya yang bermutu baik dan
aman maka perlu
diterapkan sistem penjaminan mutu sejak budidaya ternak, saat panen, penanganan,
pengolahan, hingga
produk siap dikonsumsi. Penggunaan MBM (Meat and Bone Meal) untuk pakan
ternak yang baru saja diribut- ributkan di Indonesia, sebenarnya telah lama dilarang
penggunaannya di banyak negara Eropa (Snijders, 2001).
MBM dikhawatirkan menjadi media penularan penyakit ternak seperti BSE.
Diterapkannya sistem penjaminan mutu terpadu oleh produsen akan memberikan
jaminan kepada masyarakat konsumen untuk memperoleh produk yang bermutu baik
dan aman. Bentuk konkrit implementasi sistem mutu tersebut, maka produsen perlu
melakukan sertifikasi seperti sertifikat HACCP, ISO, SNI dan seritifikat halal.
Sistem HACCP (Hazard Analysis of Critical Control Point) atau Analisis
Bahaya pada Titik Pengendalian Kritis adalah sebuah konsep pendekatan sistematis
terhadap identifikasi dan penilaian bahaya serta resiko yang berkaitan dengan
pengolahan, distribusi, dan penggunaan produk makanan, termasuk cara pencegahan
dan pengendaliannya. Sistem ISO (khususnya ISO 9000) merupakan sistem
manajemen mutu yang menjamin dilaksanakannya seluruh aspek dalam perusahaan
untuk menghasilkan produk yang bermutu tinggi demi kepuasan konsumen. SNI
(Stndar Nasional Indonesia) merupakan stndar mutu yang dianjurkan bagi
pengadaan produk untuk diperdagangkan.
SNI baru diwajibkan untuk beberapa jenis produk pangan. Sedangkan
sertifikasi halal seharusnya diwajibkan bagi semua produk pangan. Pengembangan
teknologi pangan untuk menunjang implementasi sistem mutu dapat dilakukan
melalui pengembangan metode uji serta sarana uji/ kontrol mutu dan keamanan
produk. Salah satu contoh metoda uji yang kini dikembangkan adalah uji imunologi.
Sejak Kohler dan Milstein (tahun 1975) memperkenalkan pembuatan antibodi
monoklonal yang spesifik, maka aplikasi uji imunologi berkembang pesat diberbagai
bidang ilmu seperti pertanian lingkungan, dan teknologi pangan.
Kini telah dikembangkan penggunaan antibodi monoklonal dalam tes ELISA
(Enzyme Link Immunosorbent Assays) untuk pengujian mutu dan keamanan pangan
(Legowo et al., 1996; Legowo, 1997), deteksi pemalsuan produk (Hurley et al., 2004;
Lee et al., 2004) sampai deteksi residu antibiotik pada ternak hidup (Jin et al., 2005).
Pada dasarnya peningkatan mutu dan keamanan hasil ternak harus dilakukan
pada seluruh mata rantai produksi ternak. Penyediaan bahan baku bermutu baik akan
menentukan produk olahan bermutu baik pula. Kondisi populasi ternak Indonesia
hingga tahun 2006 adalah sekitar 10.726 juta ekor sapi potong, 0,381 juta ekor sapi
perah, 2.572 juta ekor kerbau, 6.568 ekor babi, 13.441 juta ekor kambing dan 8.245
ekor domba (Kompas, 3/8 2006). Jumlah ternak tersebut sebagian besar
membutuhkan konsentrat untuk pertumbuhannya sesuai dengan tujuan
pemeliharaannya. Masalah yang harus dihadapi adalah belum cukupnya ketersediaan
semua bahan dasar pembuatan konsentrat tersebut di Indonesia sehingga masih harus
diimpor.
Untuk mempercepat pertumbuhan ternak sapi perlu pemberian pakan, baik berupa
rumput maupun konsentrat. Jenis konsentrat yang murah dan mudah diperoleh serta
dapat diramu sendiri oleh peternak antara lain jagung, dedak padi, bungkil kelapa,
tetas tebu/molasses, ampas tahu, ketela, ubi jalar, dll. Adapula konsentrat hasil
ramuan dari pabrik makanan ternak yang lebih diperkaya dengan berbagai bahan
yang tentunya akan lebih mempertinggi nilai gizi pakan seperti penambahan tepung
ikan, tepung tulang, tepung daging, tepung darah, vitamin, mineral, garam, dll.
Penggunaan campuran bahan-bahan tersebut sangat tergantung pada ciri perusahaan
pakan ternak masing-masing yang umumnya masih harus di impor. Salah satu bahan
baku konsentrat yang masih harus diimpor adalah tepung tulang dan tepung daging
atau meat and bone meal (MBM) yang berasal dari daging sapi, daging ayam atau
daging babi. MBM merupakan komponen utama yang memiliki kandungan protein
tinggi bagi pakan ternak sebagai pengganti tepung ikan (fish meal) dan tepung
kedelai (soybean meal) yang berharga tinggi.
Data Direktorat Jenderal Peternakan menyebutkan impor MBM tiap bulan
berkisar 15.000 20.000 ton dan 200.000 ton per tahun. Dari jumlah itu, 50 persen
MBM diimpor dari Australia, 35 persen dari Selandia Baru dan 15 persen dari USA.
Pemerintah sedang menjajaki kerjasama guna memperluas jaringan importir
dari USA dan Kanada. Dan diperkirakan akan menjadi pemasok bahan baku untuk
industri pakan ternak di Indonesia. Hingga bulan Agustus 2006 kebutuhan MBM
untuk industri pakan ternak di Indonesia lebih didominasi oleh produk MBM dari
Australia dan Selandia Baru sehingga rencana pemerintah tersebut akan mengurangi
dominasi dua negara tersebut.
Dengan adanya negara alternatif pemasok MBM diharapkan industri pakan
ternak dapat mencari MBM dengan harga yang lebih kompetitif sehingga mengurangi
beban peternak.
Pilihan membuka pasar impor MBM dari Kanada sebenarnya berisiko tinggi
karena pada tahun 2005 Kanada masih berstatus risiko tinggi terkait penyebaran prion
(sumber penyebaran penyakit) sapi gila / mad cow atau bovine spongioform
encephalopathy / BSE. USA bahkan terkena dampak meluasnya penyebaran prion
sapi gila asal Kanada karena letaknya yang saling berbatasan. Saat ini Kanada
dikategorikan Neglected Risk atau negara dengan kemungkinan penyebaran prion
yang bisa diabaikan. Terkait dengan pencegahan meluasnya prion BSE dari Kanada,
pemerintah Indonesia tidak lagi menerapkan larangan impor berdasarkan negara asal
tapi lebih pada sistem zonasi (zone base).
Namun sebaiknya rencana impor MBM dari Kanada harus dilakukan secara
hati-hati serta tetap memperhatikan hasil analisis risikonya mengingat riwayat
penularan BSE asal Kanada beberapa waktu yang lalu.
III
ALAT, BAHAN DAN PROSEDUR KERJA

3.1 Alat
a. Penangas air
b. Timbangan
c. Oven
d. Mesin Penepungan
e. Termometer
f. Kain kassa
g. Panci
h. Nampan plastik

3.2 Bahan
Limbah Ayam Goreng KFC (500 gr)

3.3 Cara Kerja


a. Limbah ayam goreng dimasukan kedalam freezer.
b. Setelah itu bahan dikeluarkan dengan menggunakan mesin multiguna.
c. Menimbang bahan seberat 500 gr.
d. Bahan direbus dalam air pada suhu 90oC selama 20 menit.
e. Bahan ditiriskan.
f. Keringkan bahan dalam oven pada suhu 50oC, dan periksa setiap 4 jam
sekali.
g. Setelah kering lalu hitung kadar airnya. Hitung beratnya.
h. Lalu bahan dibuat tepung menggunakan mesin. Hitung berat akhirnya.
IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Berat awal tulang sebelum digiling 500 gr


Berat setelah direbus 600 gr
Berat setelah 2 hari di oven 230 gr
Berat setelah satu minggu di oven 226 gr
Berat setelah digiling kembali 214 gr

Jadi BK dari tepung tulang


BK = Berat awal berat akhir X 100%
Berat awal
= 600 gr 226 gr X 100%
600
= 62.3 %
BK tulang = 100% - 62.3 %
= 37.7 %

% Randemen = 214 gr
226 gr
= 94.6 %

4.2 Pembahasan
Makanan daging dan tulang (MBM) adalah produk dari limbah industri.
Pembuatan tepung daging dan tulang juga merupakan upaya untuk mendayagunakan
limbah daging dan tulang yang biasanya tidak terpakai dan terbuang.
Limbah ayam goreng secara fisik memiliki aroma yang tidak sedap dan
memilki tekstur yang kasar serta kotor. Meat and bone meal dapat digunakan
sebagai sumber protein dalam pembuatan pangan untuk semua jenis ternak ayam dan
ternak lainnya, dan beberapa jenis ikan serta makanan untuk hewan piaraan serta
dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak alternatif. Perbedaan kadar air terjadi
pada saat proses perebusan dimana limbah direbus selama 30 menit sehingga air yang
terserap cukup banyak sebesar 59% dan berat limbah ayam goreng ini setelah
dimasukkan ke dalam oven berubah menjadi 200 gram. Berat awal dan berat setelah
direbus memiliki berat yang sama yaitu 500 gram. Dengan penyimpanan yang
berkepanjangan, lemak ini dapat menjadi tengik. MBM kelompok kami mengandung
kadar air 59%, BK 41 % dan rendement 93.17 %.
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM TEKNOLOGI PAKAN
MEAT BONE MEAL
(disusun untuk memenuhi tugas praktikum Teknologi Pakan)

Disusun Oleh :
Kelompok 7
Kelas D

Irna Rahmawati 200110070159


M. Heri J.W 200110070174
Anne Rufaidah 200110070174
Veny Cindyarini 200110070194
Arisa Wiratama J10040161

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2009
V
KESIMPULAN

Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa :


Meat bone meal merupakan bahan pakan sumber protein yang berasal dari
sisa pangan berupa tulang yang masih terdapat sedikit daging.
Air yang hilang dari bahan sebesar 62.3 % atau BK air 62.3 %.
BK tulang sebesar 37.7 % dan randemennya sebesar 94.6 %.
DAFTAR PUSTAKA

Mc. Ellhiney, Robert. 1994. Feed Manufacturing Teknologi IV. Technical Editor
American Associaton. Inc.
Pomeranz and Meloan. 1971. Food Analysis : Theory and practice. The Avi
Publishing Company Inc. Connecticut.
Robert W.Schoeff,. History of The Formula Feed Industry; Kansas State University