Anda di halaman 1dari 9

1

Laporan Kasus

DIAGNOSIS

HERPES ZOSTER OFTALMIKUS

Oleh:

Ester N. L. Lingkubi

050 111 164

Pembimbing

Dr. Harry J. G. Sumual, SpM

BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2010
2

BAB I
PENDAHULUAN

Herpes zoster merupakan infeksi umum yang disebabkan oleh Human Herpes Virus
(Varisela Zoster Virus), virus yang sama menyebabkan varisela (chicken pox). Virus ini
termasuk dalam famili Herpes viridae, seperti Herpes Simplex, Epstein Barr Virus, dan
Cytomegalovirus.1
Herpes zoster oftalmikus merupakan hasil reaktivasi dari varisela zoster virus pada
nervus trigeminal (N.V). Semua cabang dari nervus tersebut bisa terpengaruh, dan cabang frontal
divisi pertama N.V (divisi oftalmik) merupakan yang paling umum terlibat. Cabang ini
menginervasi hampir semua struktur okular dan periokular.2
Blefarokonjungtivitis pada herpes zoster oftalmikus ditandai dengan hiperemis dan
konjungtivitis infiltratif disertai dengan erupsi vesikuler yang khas sepanjang penyebaran
dermatom N.V cabang oftalmikus. Konjungtivitis biasanya papiler, tetapi pernah ditemukan
folikel, pseudomembran, dan vesikel temporer, yang kemudian berulserasi. Lesi palpebra mirip
lesi kulit di tempat lain, bisa timbul di tepi palpebra ataupun palpebra secara keseluruhan, dan
sering menimbulkan parut.3 Lesi kornea pada herpes zoster oftalmikus sering disertai
keratouveitis yang bervariasi beratnya, sesuai dengan status kekebalan pasien. Keratouveitis pada
anak umumnya tergolong jinak. Pada orang dewasa tergolong penyakit berat, dan kadang-kadang
berakibat kebutaan.3
Herpes zoster oftalmikus biasanya berpengaruh pada usia tua dengan meningkatnya
pertambahan usia. Kebanyakan kasus herpes zoster oftalmikus disebabkan reaktivasi dari virus
laten.4 Faktor resiko dari perkembangan oleh herpes zoster adalah menyusutnya sel mediated
dari sistem imun yang berhubungan dengan perkembangan usia.5 Faktor risiko lain untuk herpes
zoster diperoleh dari hambatan respon sel mediated imun, seperti pada pasien dengan obat
imunosupresif dan HIV, dan yang lebih spesifik dengan AIDS. Pada kenyataannya, risiko relatif
dari herper zoster sedikitnya 15x lebih besar dengan HIV dibandingkan tanpa HIV.5 Herpes
zoster oftalmikus terdapat pada 10-25 % dari semua kasus herpes zoster.
Resiko komplikasi oftalmik pada pasien herpes zoster tidak terlihat berhubungan dengan
umur, jenis kelamin, atau keganasan dari ruam kulit.6 Faktor predisposisi timbulnya herpes zoster
3

oftalmikus ini adalah:7 (a) Kondisi imunocompromise / penurunan imunitas sel T (usia tua, HIV,
kanker, kemoterapi), (b) Faktor reaktivasi (trauma lokal, demam, sinar UV, udara dingin,
penyakit sistemik, menstruasi, stres dan emosi).
Patogenesis herpes zoster oftalmikus diawali dengan infeksi varisela zoster virus. Seperti
herpes virus lainnya, varisela zoster virus menyebabkan infeksi primer (varisela/ cacar air) dan
sebagian lagi bersifat laten, dan ada kalanya diikuti dengan penyakit yang rekuren di kemudian
hari (zoster/ shingles). Infeksi primer varisela zoster virus menular ketika kontak langsung
dengan lesi kulit varisela zoster virus atau sekresi pernapasan melalui droplet udara. Infeksi
varisela zoster virus biasanya merupakan infeksi yang self-limited pada anak-anak, dan jarang
terjadi dalam waktu yang lama, sedangkan pada orang dewasa atau imunosupresif bisa berakibat
fatal. Pada anak-anak, infeksi varisela zoster virus ini ditandai dengan adanya demam, malaise,
dermatitis vesikuler selama 7-10 hari, kecuali pada infeksi primer yang mengenai mata (berupa
vesikel kelopak mata dan konjungtivitis vesikuler). Varisela zoster virus laten mengenai ganglion
saraf dan rata-rata 20 % terinfeksi dan bereaktivasi di kemudian hari.8 Herpes zoster oftalmikus
timbul akibat infeksi N.V1. Kondisi ini akibat reaktivasi varisela zoster virus yang diperoleh
selama masa anak-anak. Varisela zoster adalah virus DNA yang termasuk dalam famili Herpes
viridae. Selama infeksi, virus varisela berreplikasi secara efisien dalam sel ganglion.
Bagaimanapun, jumlah varisela zoster virus yang laten per sel terlalu sedikit untuk menentukan
tipe sel apa yang terkena. Imunitas spesifik sel mediated varisela zoster virus bertindak untuk
membatasi penyebaran virus dalam ganglion dan ke kulit.6 Kerusakan jaringan yang terlihat
pada wajah disebabkan oleh infeksi yang menghasilkan inflamasi kronik dan iskemik pembuluh
darah pada cabang N.V. Hal ini terjadi sebagai respon langsung terhadap invasi virus pada
berbagai jaringan. Walaupun sulit dimengerti, penyebaran dermatom pada N.V dan daerah torak
paling banyak terkena.6
Sebagian besar kasus herpes zoster dapat didiagnosis dari anamnesis dan pemeriksaan
fisik. Cara terbaru dalam mendiagnosis herpes zoster adalah dengan tes DFA (Direct
Immunofluorence with Fluorescein-tagged Antibody) dan PCR (jika ada), terbukti lebih efektif
dan spesifik dalam membedakan infeksi akibat varisela zoster virus dengan HSV.2
4

BAB II

LAPORAN KASUS

Seorang penderita laki-laki, 58 tahun, masuk RSU Prof. dr. R.D. Kandou pada tanggal 6
Oktober 2010 dengan keluhan utama gelembung berkelompok disertai nyeri di dahi kanan dan
kelopak atas mata kanan sejak 3 hari yang lalu. Awalnya berupa bengkak kemerahan pada dahi
kanan disertai nyeri yang dirasakan pasien pagi hari. Kemudian menjadi gelembung
berkelompok berisi cairan yang baru disadari pasien pada sore harinya, disertai rasa nyeri.
Diikuti muncul gelembung berkelompok di kelopak atas mata kanan, berisi cairan, disertai nyeri.
Riwayat demam sebelum timbul bengkak kemerahan juga dialami pasien. Demam sumer-sumer
pada perabaan, dirasakan terus menerus. Penderita juga merasa mudah lelah disertai pegal-pegal
sebelum timbul bengkak kemerahan. Penderita pernah menderita cacar air waktu masih kecil.
Riwayat kontak dengan penderita sakit yang sama atau cacar air dalam waktu dekat ini
disangkal. Riwayat berobat sebelumnya disangkal. Pasien belum pernah menderita penyakit
seperti ini sebelumnya. Penderita kemudian dikonsulkan ke bagian Ilmu Penyakit Mata pada
tanggal 7 Oktober 2010 dari bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin dengan diagnosa Infeksi
Herpes Zoster.

Pada pemeriksaan subjektif mata didapati visus okuli dekstra 6/30 dan visus okuli sinistra
6/6, Hutchinsons sign (+). Pemeriksaan objektif segmen anterior okuli dekstra didapatkan
vesikel (+), bulae periorbital (+), edema palpebra (+), hiperemi konjungtiva (+), injeksi
konjungtiva (+), yang lainnya dalam batas normal. Pemeriksaan objektif segmen posterior okuli
dekstra tidak ditemukan kelainan. Pemeriksaan objektif okuli sinistra segmen anterior dan
posterior tidak ditemukan kelainan.

Penderita didiagnosa dengan herpes zoster oftalmikus okuli dekstra dan diberikan terapi
Acyclovir Eye Oinment 3xI app, Acyclovir tab 5x800mg, Hervis 5x1 app OD, Floxa Eyedrops
4x1 gtt OD, Antalgin tab 3x500mg, dengan terapi lainnya mengikuti terapi di bidang Kulit
Kelamin. Prognosis pada pasien ini adalah dubia ad bonam.
5

BAB III

DISKUSI

Diagnosis infeksi virus herpes zoster ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
fisik. Dari anamnesis didapatkan keluhan/gejala prodormal sistemik (demam, pusing, malaise)
maupun lokal (nyeri otot-tulang, gatal, pegal) diikuti timbulnya eritema yang dalam waktu
singkat menjadi vesikel berkelompok. Pada pemeriksaan fisik, ditemukan vesikel berkelompok
dengan dasar kulit yang eritematosa dan edema, berisi cairan jernih, kemudian menjadi keruh
(berwarna abu-abu), yang dapat menjadi pustul dan krusta. Kadang vesikel dapat mengandung
darah. Di samping manifestasi pada kulit, dapat dijumpai pembesaran kelenjar getah bening
regional. Lokalisasi lesi adalah unilateral dan bersifat dermatomal sesuai dengan tempat
persarafan. Hiperestesi pada daerah yang terkena memberi gejala yang khas.4

Herpes zoster oftalmika merupakan salah satu komplikasi yang dapat dialami penderita
infeksi herpes zoster, dimana infeksinya mengenai ganglion Gasseri (nervus trigeminal/N.V).
Untuk mendiagnosa apakah terdapat komplikasi berupa herpes zoster oftalmika pada penderita
ini dilakukan pemeriksaan fisik khusus mata.

Tanda-tanda dan gejala herpes zoster oftalmikus terjadi ketika N.V1 (cabang oftalmikus)
diserang virus, dan akhirnya akan mengakibatkan ruam, vesikel pada ujung hidung (dikenal
sebagai tanda Hutchinson), yang merupakan indikasi untuk resiko lebih tinggi terkena gangguan
penglihatan.6 Gejala-gejala mata yang dapat dilihat yaitu:
1. Kelopak mata
Herpes zoster oftalmikus sering mengenai kelopak mata. Hal ini ditandai dengan adanya
pembengkakan kelopak mata, dan akhirnya timbul radang kelopak, yang disebut blefaritis,
dan bisa timbul ptosis. Kebanyakan pasien akan memiliki lesi vesikuler pada kelopak mata,
ptosis, disertai edema dan inflamasi. Lesi pada palpebra mirip lesi kulit di tempat lain.9
2. Konjungtiva
Konjungtivitis adalah salah satu komplikasi terbanyak pada herpes zoster oftalmikus. Pada
konjungtiva sering terdapat injeksi konjungtiva dan edema, dan kadang disertai timbulnya
6

petechie. Ini biasanya terjadi 1 minggu. Infeksi sekunder akibat S. aureus bisa berkembang di
kemudian hari.9
3. Kornea
Komplikasi kornea kira-kira 65 % dari kasus herpes zoster oftalmikus. Lesi pada kornea
sering disertai dengan keratouveitis yang bervariasi beratnya sesuai dengan kekebalan tubuh
pasien. Komplikasi pada kornea bisa berakibat kehilangan penglihatan secara signifikan.
Gejalanya adalah nyeri, fotosensitif, dan gangguan visus. Hal ini terjadi jika terdapat erupsi
kulit di daerah yang disarafi cabang-cabang N. Nasosiliaris.3 Berbeda dengan keratitis pada
Herpes Simpleks Virus (HSV) yang bersifat rekuren dan biasanya hanya mengenai epitel,
keratitis herpes zoster oftalmikus mengenai stroma dan uvea anterior pada awalnya, lesi
epitelnya keruh dan amorf, kecuali kadang-kadang ada pseudodendrit linear yang mirip
dendrit pada HSV. Kehilangan sensasi pada kornea selalu merupakan ciri mencolok dan
sering berlangsung berbulan-bulan setelah lesi kornea tampak sudah sembuh.3
4. Traktus uvea
Sering menyebabkan peningkatan tekanan intraokuler (TIO). Tanpa perawatan yang baik
penyakit ini bisa menyebabkan glaukoma dan katarak.9
5. Retina
Retinitis pada herpes zoster oftalmikus digambarkan sebagai retinitis nekrotik dengan
perdarahan dan eksudat, oklusi pembuluh darah posterior, dan neuritis optik. Lesi ini dimulai
dari bagian retina perifer.9
Pada penderita ini, diagnosanya yang telah ditegakkan sebagai infeksi herpes zoster oleh
bagian ilmu penyakit kulit dan kelamin sebelum dikonsulkan ke bagian ilmu penyakit mata.
Diagnosa ini ditegakkan dari vesikel dan lokasi lesi yang khas untuk infeksi virus ini. Tidak
adanya riwayat kontak dengan penderita hepes zoster, serta dari identitas penderita didapatkan
usia penderita yang menjadi faktor resiko bagi reaktivasi virus herpes zoster, mendukung
pemikiran bahwa infeksi herpes zoster yang diderita penderita ini berasal dari reaktivas virus
zoster akibat menyusutnya sel mediated dari sistem imun yang berhubungan dengan
perkembangan usia.4

Sementara, untuk diagnosa herpes zoster oftalmika pada penderita ini ditegakkan dari
daerah lesi yang mengenai jalur persarafan nervus trigeminus cabang oftalmikus, yang hanya
mengenai satu sisi yaitu sisi kanan. Terlihat dari pemeriksaan segmen anterior okuli dekstra,
7

didapatkan adanya vesikel dan bulae periorbital, terdapat pula edema palpebra, kemerahan,
nyeri, yang menunjukkan peradangan pada daerah palpebra. Edema palpebra dan rasa perih pada
mata membuat penderita sulit membuka mata. Pada konjungtiva didapatkan injeksi konjungtiva
dan hiperemis, menunjukan konjungtivitis yang diperkirakan akibat infeksi virus herpes zoster.9

Komplikasi pada kornea bisa berakibat kehilangan penglihatan secara signifikan. Gejalanya
adalah nyeri, fotosensitif, dan gangguan visus.9 Pada penderita ini, hasil pemeriksaan kornea
masih tampak jernih, fotosensitif tidak ditemukan, gangguan visus ditemukan. Tapi apakah
gangguan visus ini disebabkan oleh komplikasi pada kornea atau karena radang palpebra kurang
bisa diselidiki. Tapi kecurigaan infeksi sampai ke kornea diperkuat dengan ditemukan
Hutchinson sign pada penderita ini, yaitu terdapatnya vesikel pada ujung hidung, yang menandai
infeksi virus pada nervus trigeminus cabang oftalmikus. Nervus ini mempersarafi kornea dan
ujung hidung, sehingga bila pada ujung hidung ditemukan lesi, maka diperkirakan infeksi virus
herpes zoster telah ikut mengenai kornea. Namun, bilapun telah terjadi keratitis, diperkirakan
masih dalam tahap awal sehingga belum menimbulkan gejala dan tanda yang lebih nyata.
Sementara, untuk infeksi ke bagian mata yang lebih dalam seperti uvea, retina maupun nervus
optik, belum ditemukan pada penderita ini. Hal ini didukung oleh pemeriksaan refleks cahaya
yang normal, besar pupil yang normal, juga dengan pemeriksaan segmen posterior dengan
oftalmoskop pada okuli dekstra didapatkan hasil pemeriksaan refleks fundus, papil nervus optik,
retina, dan makula dalam batas normal.
8

BAB IV

PENUTUP

Demikian telah dilaporkan sebuah kasus berjudul Diagnosis Herpes Zoster Oftalmikus
dari seorang penderita laki-laki berusia 58 tahun yang dikonsulkan ke bagian I.P.Mata RSU Prof.
dr. R.D. Kandou pada tanggal 7 Oktober 2010.
9

DAFTAR PUSTAKA

1. Shaikh S. Evaluation and Management of Herpes Zoster. Diakses dari: www.AAFP.org.


Diakses tanggal 16 Oktober 2010.
2. Moon EJ. Herpes Zoster. Diakses dari www.emedicine.com. Diakses tanggal 16 Oktober
2010.
3. Voughan D, Tailor A. Penyakit Virus: Oftalmologi Umum. Edisi 14. Widya Medika.
1995: 112, 336.
4. Djuanda A. Penyakit Virus: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi III. FKUI.1999: 107-
109
5. Moon CH. Herpes Zoster Oftalmikus. Diakses dari: www.emedicine.com. Diakses
tanggal 16 Oktober 2010.
6. Gurwood AS. Herpes Zoster Ophtalmicus. Diakses dari: www.optometry.co.uk. Diakses
tanggal 20 Oktober 2010.
7. Moses S. Herpes Zoster Ophtalmicus. Diakses dari: www.fpnotebook.com. Diakses
tanggal 20 Oktober 2010..
8. American Academy of Ophtalmology. External Cornea and Disease. Section 8. 2005-
2006.
9. Wiafe B. Herpes Zoster Ophtalmicus In HIV/ AIDS. J. Comm Eye Health. 2003; 16(47):
35-36.