Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh kemampuan dan


keberhasilannya dalam melaksanakan pembangunan. Pembangunan
sebagaisuatu proses perubahan yang direncanakan mencakup semua aspek
kehidupan masyarakat. Efektifitas dan keberhasilan pembangunan terutama
ditentukan oleh dua faktor, yaitu sumber daya manusia, yakni (orang-orang
yang terlibat sejak dari perencanaan sampai pada pelaksanaan) dan
pembiayaan. Diantara dua faktor tersebut yang paling dominan adalah faktor
manusianya. Negara yang korupsi bukanlah merupakan sebuah negara yang
kaya malahan termasuk negara yang miskin. Mengapa demikian? Salah satu
penyebabnya adalah rendahnya kualitas sumber daya manusianya. Kualitas
tersebut bukan hanya dari segi pengetahuan atau intelektualnya tetapi juga
menyangkut kualitas moral dan kepribadiannya. Rapuhnya moral dan
rendahnya tingkat kejujuran dari aparat penyelenggara negara menyebabkan
terjadinya korupsi.Korupsi di negara-negara di dunia, dewasa ini sudah
merupakan patologi social (penyakit sosial) yang sangat berbahaya yang
mengancam semua aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Korupsi telah mengakibatkan kerugian materil keuangan negara yang sangat
besar. Namun yang lebih memprihatinkan lagi adalah terjadinya perampasan
dan pengurasan keuangan negara yang dilakukan secara kolektif oleh
kalangan anggota legislatif. Maka dari itu, dalam makalah ini akan dijelaskan
secara lebih rinci mengenai Korupsi, yangdijabarkan dalam rumusan masalah
dibawah.
2. Rumusan Masalah

Berdasarkan Latar Belakang Masalah yang telah dijelaskan diatas, maka


dapat kita simpulkan Rumusan Masalah sebagai berikut:

1. Apakah Pengertian dari Korupsi?


2. Apa saja Teori-teori dasar Korupsi?
3. Apakah Motif Yang Mendasari Terjadinya Korupsi?
4. Seperti apa Ruang Lingkup dan Bentuk Korupsi?
5. Bagaimana Pola Penindakan Korupsi serta Contoh Kasusnya?
6. Apakah Dampak dari terjadinya Korupsi?

3. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui Pengertian dari Korupsi.
2. Untuk mengetahui Teori-teori Dasar Korupsi.
3. Untuk mengetahui Motif yang mendasari terjadinya Korupsi.
4. Untuk mengetahui Ruang Lingkup dan Bentuk dari Korupsi.
5. Untuk mengetahui Pola Penindakan Korupsi beserta contoh kasusnya.
6. Untuk mengetahui Dampak Korupsi.
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Korupsi

Pengertian atau asal kata korupsi menurut Fockema Andrea dalam Andi
Hamzah, kata korupsi berasal dari bahasa latin corruptio atau corruptus yang
selanjutnya disebutkan bahwa corruptio itu berasal dari kata asal corrumpere,
suatu kata dalam bahasa latin yang lebih tua. Dari bahasa Latin itulah turun ke
banyak bahasa Eropa seperti Inggris, yaitu corruption, corrupt; Perancis,
yaitu corruption; dan Belanda, yaitu corruptie (korruptie), dapat atau patut
diduga istilah korupsi berasal dari bahasa Belanda dan menjadi bahasa
Indonesia, yaitu korupsi.

Menurut Dr. Kartini Kartono, korupsi adalah tingkah laku individu yang
menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan, dan
merugikan kepentingan umum.Dalam Kamus Umum Belanda Indonesia yang
disusun oleh Wijowasito, corruptie yang juga disalin menjadi corruptien
dalam bahasa Belanda mengandung arti perbuatan korup, penyuapan.

Pengertian dari korupsi secara harfiah menurut John M. Echols dan Hasan
Shadaly, berarti jahat atau busuk, sedangkan menurut A.I.N. Kramer SR
mengartikan korupsi sebagai ; busuk, rusak atau dapat disuap.

Pengertian korupsi menurut Gurnar Myrdal dalam bukunya Asian Drama,


Volume II adalah :

To include not only all forms of improper or selfish exercise of power and
influence attached to a public office or the special position one occupies in
the public life but also the acivity of the bribes.
Korupsi tersebut meliputi kegiatan-kegiatan yang tidak patut yang berkaitan
dengan kekuasaan, aktivitas-aktivitas pemerintahan, atau usaha-usaha tertentu
untuk memperoleh kedudukan secara tidak patut, serta kegiatan lainnya
seperti penyogokan.Kemudian arti korupsi yang telah diterima dalam
perbendaharaan kata bahasa Indonesia, disimpulkan oleh Poerwadarminta :
Korupsi ialah perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan
uang sogok dan sebagainya.

Tindak pidana korupsi di Indonesia sudah sangat meluas dan telah masuk
sampai ke seluruh lapisan kehidupan masyarakat. Perkembangannya terus
meningkat dari tahun ke tahun, dalam jumlah kasus yang terjadi dan jumlah
kerugian keuangan negara serta dari segi kualitas tindak pidana korupsi yang
dilakukan semakin sistematis yang telah memasuki seluruh aspek kehidupan
masyarakat. Harus kita sadari meningkatnya tindak pidana korupsi yang tidak
terkendali akan membawa dampak yang tidak hanya sebatas kehidupan
perekonomian nasional tetapi juga pada kehidupan berbangsa dan bernegara
pada umumnya.

Perbuatan tindak pidana korupsi merupakan pelanggaran terhadap hak-hak


sosial dan hak-hak ekonomi masyarakat, sehingga tindak pidana korupsi tidak
lagi digolongkan sebagai kejahatan biasa melainkan telah menjadi kejahatan
luar biasa. Sehingga dalam upaya pemberantasannya tidak lagi dapat
dilakukan secara biasa, tetapi dituntut cara-cara yang luar biasa.

Penegakan hukum dalam rangka pemberantasan tindak pidana korupsi yang


selama ini dilakukan secara konvensial terbukti telah mengalami berbagai
hambatan. Dengan demikian, diperlukan metode penegakan hukum secara
luar biasa melalui pembentukan suatu badan khusus yang mempunyai
kewengangan luas, independen serta bebas dari kekuasaan manapun dalam
upaya pemberantasan tindak pidana korupsi, yang pelaksanaannya dilakukan
secara optimal, intensif, efektif, profesional, serta berkesinambungan.

Badan khusus yang dimaksud adalah KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi)


yang memiliki kewenangan melakukan koordinasi dan supervise, termasuk
melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan, sedangakan mengenai
pembentukan, susunan organisasi, tata kerja dan pertanggungjawaban diatur
dengan undang-undang. KPK merupakan lembaga negara yang bersifat
independen, melaksanakan tugas dan wewenangnya bebas dari kekuasaan
manapun.

Tindak pidana korupsi merupakan masalah yang sangat serius, karena tindak
pidana korupsi dapat membahayakan stabilitas dan keamanan negara dan
masyarakatnya, membahayakan pembangunan sosial dan ekonomi
masyarakat, politik, bahkan dapat pula merusak nilai-nilai demokrasi derta
moralitas bangsa karena dapat berdampak membudayanya tindak pidana
korupsi tersebut.
1. Teori-teori Dasar Korupsi

Ada beberapa teori dasar yang menjelaskan tentang korupsi. Teori itu
antara lain:

1. Teori Vroom

P = Performance

P = f (A x M) A = Ability

M = Motivation

Berdasarkan Teori Vroom, kinerja (performance) seseorang tergantung pada tingkat


kemampuannya (ability) dikalikan dengan motivasi (motivation). Kemampuan
seseorang berbanding lurus dengan tingkat pendidikan yang dimilikinya. Jadi, dengan
tingkat motivasi yang sama seseorang dengan tingkat pendidikan lebih tinggi akan
menghasilkan kinerja yang lebih baik. Namun, permasalahannya tidak sesederhana
itu masih ada rumusan Vroom mengenai motivasi (motivation) seseorang yaitu:

M = Motivation

M = f (E x V) E = Expectation

V = Valance/Value

Motivasi tergantung pada harapan (expectation) orang yang bersangkutan dikalikan


dengan nilai (value) yang terkandung dalam setiap pribadi seseorang. Jika harapan
seseorang adalah ingin kaya, maka ada dua kemungkinan yang akan dia lakukan. Jika
nilai yang dimiliki positif maka, dia akan melakukan hal-hal yang tidak melanggar
hukum agar bisa menjadi kaya. Namun jika dia seorang yang memiliki nilai negatif,
maka dia akan berusaha mencari segala cara untuk menjadi kaya sehingga muncullah
korupsi sebagai jalan pintas.

2. Teori Kebutuhan Maslow

Teori Kebutuhan Maslow tersebut menggambarkan hirarki kebutuhan dari paling


mendasar (bawah) hingga naik paling tinggi adalah aktualisasi diri. Kebutuhan paling
mendasar dari seorang manusia adalah sandang dan pangan (physical needs).
Selanjutnya kebutuhan keamanan adalah perumahan atau tempat tinggal, kebutuhan
sosial adalah berkelompok, bermasyarakat, berbangsa. Ketiga kebutuhan paling
bawah adalah kebutuhan utama (prime needs) setiap orang. Setelah kebutuhan utama
terpenuhi, kebutuhan seseorang akan meningkat kepada kebutuhan penghargaan diri
yaitu keinginan agar kita dihargai, berperilaku terpuji, demokratis dan lainya.
Kebutuhan paling tinggi adalah kebutuhan pengakuan atas kemampuan kita, misalnya
kebutuhan untuk diakui sebagai kepala, direktur maupun walikota yang dipatuhi
bawahannya.

3. Teori Klitgaard dan Ramirez Torres

Teori Klitgaard:

C = Korupsi

M= Monopoly of Power
C=M+DA
D= Discretion of official

A= Accountability

Menurut Robert Klitgaard, monopoli kekuatan oleh pimpinan (monopoly of power)


ditambah dengan tingginya kekuasaan yang dimiliki seseorang (discretion of official)
tanpa ada pengawasan yang memadai dari aparat pengawas (minus accountability),
maka akan terjadi korupsi.Perubahan pola pemerintahan yang tersentralisasi menjadi
terdesentralisasi dengan adanya otonomi daerah telah menggeser praktik korupsi yang
dahulu hanya didominasi oleh pemerintah pusat kini menjadi marak terjadi di daerah.
Hal ini selaras dengan teori Klitgaard bahwa korupsi mengikuti kekuasan.

Teori Ramirez Torres:


Rc = Reward

Rc > Pty x Prob Pty=Penalty

Prob=Probability (kemungkinan tertangkap)

Korupsi adalah kejahatan kalkulasi atau perhitungan (crime of calculation) bukan


hanya sekedar keinginan (passion). Seseorang akan melakukan korupsi jika hasil
yang didapat dari korupsi tinggi dan lebih besar dari hukuman yang didapat serta
kemungkinan tertangkap kecil.

4. Teori Jack Bologne (GONE)

Menurut Jack Bologne akar penyebab korupsi ada empat, yaitu

G= Greedy

O= Opportunity

N= Needs

E= Expose
Greed, terkait keserakahan dan kerakusan para pelaku korupsi. Koruptor adalah orang
yang tidak puas akan keadaan dirinya. Opportuniy, sistem yang memberi peluang
untuk melakukan korupsi. Need, sikap mental yang tidak pernah merasa cukup, selalu
sarat dengan kebutuhan yang tidak pernah usai. Exposes, hukuman yang dijatuhkan
kepada para pelaku korupsi yang tidak memberi efek jera pelaku maupun orang lain.

1. Motif Terjadinya Korupsi

Untuk memahami masalah korupsi yang begitu meluas di berbagai negara khususnya
pada negara berkembang, harus dikaitkan bahwa korupsi seolah-olah sebagai satu
keharusan dan tidak terpisahkan dengan negara-negara berkembang. Korupsi
sesungguhnya merupakan suatu proses yang berhubungan dengan latar belakang
sejarah bangsa atau negara yang bersangkutan. Tanpa memahami latar belakang
budaya dan sejarahnya, diagnosis dan terapi yang dilakukan untuk pemberantasan
atau penanggulangan korupsi bisa saja keliru, yang akan berakibat besar dan
merupakan masalah tersendiri karena tindakan-tindakan penanggulangan yang
diterapkan tidak akan efektif.

Motif, penyebab, atau pendorong seseorang untuk melakukan tindakan korupsi


sebenarnya bervariasi dan beranekaragam. Akan tetapi, secara umum dapat
dirumuskan, bahwa tindakan korupsi dilakukan dengan tujuan mendapat keuntungan
pribadi, keluarga, kelompok, golongannya sendiri. Dengan mendasarkan pada motif
keuntungan pribadi atau golongan ini, dapatlah dipahami jika korupsi terdapat
dimana-mana dan terjadi kapan saja karena masalah korupsi selalu terkait dengan
motif yang ada pada tiap insan manusia untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau
golongannya.

Cara yang ditempuh menurut norma-norma yang berlaku merupakan usaha yang
bersifat halal dan ridha. Cara korupsi yang dilakukan untuk mendapatkan keuntungan
tidak mengikuti dan didasari norma-norma yang berlaku, jelas bahwa hal ini tidak
halal dan tidak diridhai. Apabila tindakan atau usaha ini dilakukan dengan
penggunaan dan atau penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang atau kesempatan
kerja dengan persyaratan seperti dirumuskan dalam pengertian kerja, usaha ini
dikategorikan tindakan korupsi.

Banyak faktor yang mempengaruhi motif untuk melakukan tindakan korupsi yang
menginginkan keuntungan pribadi atau golongan. Menurut komisi IV, terdapat tiga
indikasi yang menyebabkan meluasnya korupsi di Indonesia, yakni.

1. Pendapatan atau gaji yang tidak mencukupi


2. Penyalahgunaan kesempatan untuk memperkaya diri, dan
3. Penyalahgunaan kekuasaan untuk memperkaya diri.

Komisi IV juga menyatakan, kemungkinan meluasnya perbuatan korupsi


berhubungan dengan meningkatnya kegiatan dalam bidang ekonomi pembangunan,
seperti perluasan perkreditan, bantuan luar negeri dan penanaman modal asing.

Menurut Dr. Sarlito W, tidak ada jawaban yang persis untuk menjawab alasan apa
yang mendorong terjadinya korupsi, tetapi ada dua hal yang jelas, yaitu faktor
rangsangan dari dalam diri sendiri (keinginan, hasrat, kehendak dan sebagainya) dan
faktor rangsangan dari luar (misal dorongan dari teman-teman, adanya kesempatan,
dan kurang kontrol dan sebagainya.

A.S. Harris Sumidiria menjawab bahwa korupsi lahir karena ambruknya nilai-nilai
sosial, korupsi kambuh karena adanya penyalahgunaan tujuan wewenang dan
kekuasaan, dan korupsi hidup karena sikap dan mental pejabat yang bobrok, baik
pejabat tinggi maupun pejabat rendahan. Dr. Andi Hamzah dalam disertasinya
menginventariskan beberapa penyebab korupsi, yakni kesan yang berlebih-lebihan,
seolah-olah telah tersebar luas, terutama di kalangan pejabat tinggi. Rasa khawatir
akan membesarnya kesan inilah yang menyebabkan Nehru secara terus-menerus
menolak tuntutan-tuntutan agar dia membersihkan pemerintahannya dan birokrasi
negara dari korupsi. Berteriak keras-keras bahwa setiap orang berbuat korupsi hanya
akan menciptakan iklim korupsi, katanya. Rakyat akan berpendapat bahwa mereka
hidup dalam iklim korupsi dan karena itu akan melakukan korupsi pula.

Dengan mempertimbangkan pandangan Nehru mengenai dongeng rakyat tentang


korupsi tersebut, mungkin perlu pula dipertimbangkan tentang strategi atau taktik
untuk penanggulangan dan pemberantasan korupsi, apakah perlu dilaksanakan secara
sensional ataukah secara tenang-tenang atau diam-diam tetapi dengan langkah-
langkah yang pasti, terencana, operasional, dan efektif. Di samping itu, mungkin
terdapat pula aspek lain yang perlu dipertimbangkan dalam masalah ini, yakni tentang
kemungkinan adanya golongan tertentu (politik misalnya) memang dengan sengaja
mengobarkan api desas-desus dongeng rakyat tentang korupsi ini.

Apabila diinventarisasikan, banyak sekali faktor-faktor yang dapat disebut sebagai


penyebab timbul, lahir, tumbuh, serta perkembangan korupsi, khususnya di negara-
negara yang sedang berkembang. Diantara sekian banyak faktor ini, James C. Scot
mengemukakan beberapa hal yang secara khusus memiliki hubungan dengan aspek
politik dan pemerintahan, yakni:

1. Sistem politik resmi belum sepenuhnya diterima dan masih lemah landasan
hukumnya dibandingkan dengan ikatan keluarga dan suku yang masih kukuh;
2. Pemerintah penting sebagai sumber pekerjaan dan mobilits sosial;
3. Ada golongan-golongan elite yang kaya raya yang tidak diberi kesempatan
mempengaruhi kebijaksanaan pemerintah secara langsung dan terbuka;
4. Tidak ada kemauan yang sungguh-sungguh untuk hidup berlandaskan hukum
yang berlaku di pihak golongan-golongan elite maupun dipihak rakyat
banyak.
5. Ruang Lingkup dan Bentuk Korupsi
Asal mula berkembangnya korupsi barangkali dapat ditemukan sumbernya pada
fenomena sistem pemerintahan monarki absolut tradisional yang berlandaskan pada
budaya feodal. Pada masa lalu, tanah-tanah di wilayah suatu negara atau kerajaan
adalah milik mutlak raja, yang kemudian diserahkan kepada para pangeran dan
bangsawan yang ditugasi untuk memungut pajak, sewa dan upeti dari rakyat yang
menduduki tanah tersebut. Disamping membayar dalam bentuk uang atau in natura,
sering pula rakyat diharuskan membayar dengan hasil bumi serta dengan tenaga
kasar, yakni bekerja untuk memenuhi berbagai keperluan sang raja atau penguasa.
Elite penguasa yang merasa diri sebagai golongan penakluk, secara otomatis juga
merasa memiliki hak atas harta benda dan nyawa rakyat yang ditaklukkan. Hak
tersebut biasanya diterjemahkan dalam tuntutan yang berupa upeti dan tenaga dari
rakyat (Onghokham, 1995).

Seluruh upeti yang masuk ke kantong para pembesar ini selain dipergunakan untuk
memenuhi kebutuhan pembesar itu sendiri, pada dasarnya juga berfungsi sebagai
pajak yang dipergunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan negara. Hanya saja,
belum ada lembaga yang secara resmi ditunjuk sebagai pengumpul pajak, sehingga
para pembesar atau pejabat tadi juga merangkap sebagai pengumpul dana (revenue
gathering). Parahnya, kedudukan dalam pemerintahan sebagai pembesar atau pejabat
ini dapat diperjualbelikan (venality of office), yang menyebabkan pembeli jabatan tadi
berusaha untuk mencari kompensasi atas uang yang telah dikeluarkannya dengan
memungut upeti sebesar-besarnya dari rakyat.

Pada masa-masa sesudahnya, kondisi ini ternyata memperkuat sistem patron client,
bapak anak, atau kawula gusti, dimana seorang pembesar sebagai patron harus
dapat memenuhi harapan rakyatnya, tentu saja dengan adanya timbal balik dari rakyat
sebagai client-nya. Hubungan patron clientini merupakan salah satu sumber
korupsi, sebab seorang pejabat untuk membuktikan efektivitasnya harus selalu
berbuat sesuatu tanpa menghiraukan apakah ini untuk kepentingan umum atau
kepentingan kelompok bahkan perorangan, yakni para anak buah yang seringkali
adalah saudaranya sendiri. Selain itu, sistem patron client juga menjadi faktor
perusak koordinasi dan kerjasama antar para penguasa, dimana timbul kecenderungan
persaingan antara para penguasa, dimana timbul kecenderungan persaingan antara
para pejabat untuk menganakemaskan orangnya. Disinilah faksionalisme dikalangan
elite menjadi berkepanjangan.

Korupsi yang sekarang merajalela di Indonesia, berakar pada masa tersebut ketika
kekuasaan bertumpu pada birokrasi patrimonial yang berkembang pada kerangka
kekuasaan feodal dan memungkinkan suburnya nepotisme. Dalam struktur kekuasaan
yang demikian, maka penyimpangan, penyuapan, korupsi dan pencurian akan dengan
mudah berkembang (Mochtar Lubis, 1995).

Dalam perkembangan selanjutnya, dapat dilihat bahwa ruang lingkup korupsi tidak
terbatas pada hal-hal yang sifatnya penarikan pungutan dan nepotisme yang parah,
melainkan juga kepada hal-hal lain sepanjang perbuatan tersebut merugikan keuangan
negara atau perekonomian negara. Selain itu juga dapat dikategorikan ke dalam
perbuatan korupsi adalah setiap pemberian yang dikaitkan dengan kedudukan atau
jabatan tertentu. UU Nomor 3 tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi menentukan bahwa seseorang dianggap melakukan tindak pidana korupsi
apabila :

1. Secara melawan hukum melakukan perbuatan atau memperkaya diri sendiri


atau orang lain, atau sesuatu badan yang secara langsung atau tidak langsung
merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
2. Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau sesuatu badan,
menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya
karena jabatan atau kedudukan, yang secara langsung atau tidak langsung
merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
3. Memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri dengan mengingat sesuatu
kekuasaan dan kewenangan yang melekat pada jabatan atau kedudukannya.
Termasuk dalam hal ini adalah siapa saja yang tanpa alas n yang wajar, tidak
melaporkan pemberian atau janji tersebut kepada yang berwajib dalam waktu
yang sesingkat-singkatnya setelah menerima suatu pemberian atau janji.

Bahkan untuk mencegah terjadinya korupsi, usaha-usaha percobaan atau


permufakatan untuk melakukan tindak pidana sebagaimana tersebut diatas, sudah
dianggap sebagai perbuatan korupsi. Adapun dari segi tipologi, Alatas (1987)
membagi korupsi kedalamtujuh jenis yang berlainan. Ketujuh jenis korupsi itu adalah
sebagai berikut :

1. Korupsi transaktif (transactive corruption), menunjuk kepada adanya


kesepakatantimbal balik antara pemberi dan pihak penerima, demi keuntungan
kedua belah pihak.
2. Korupsi yang memeras (extortive corruption), menunjuk adanya pemaksaan
kepada pihak pemberi untuk menyuap guna mencegah kerugian yang sedang
mengancan dirinya, kepentingannya atau hal-hal yang dihargainya.
3. Korupsi investif (investive corruption), adalah pemberian barang atau jasa
tanpa ada pertalian langsung dengan keuntungan tertentu, selain keuntungan
yang dibayangkan akan diperoleh dimasa yang akan datang.
4. Korupsi perkerabatan (nepotistic corruption) adalah penunjukan yang tidak
sah terhadap teman atau sanak saudara untuk memegang jabatan dalam
pemerintahan, atau tindakan yang memberikan perlakuan istimewa secara
bertentangan dengan norma dan peraturan yang berlaku.
5. Korupsi defensif (defensive corruption) adalah perilaku korban korupsi
dengan pemerasan. Korupsinya dalam rangka mempertahankan diri.
6. Korupsi otogenik (autogenic corruption) yaitu korupsi yang dilakukan oleh
seseorang seorang diri.
7. Korupsi dukungan (supportive corruption) adalah korupsi yang dilakukan
untuk memperkuat korupsi yang sudah ada.

Dalam Undang-Undang No. 31 tahun 1999 dan Undang-Undang No. 20 tahun 2001
terdapat 30 rumusan bentuk/jenis tindak pidana korupsi. Pasal-pasal tersebut
menerangkan secara terpisah dan terperinci mengenai perbuatan-perbuatan yang
dikenakan pidana korupsi. Namun pada dasarnya 30 bentuk/jenis korupsi itu dapat
dikelompokan menjadi:

1. Kerugian keuangan negara


2. Suap menyuap
3. Pengelapan dalam jabatan
4. Pemerasan
5. Perbuatan curang
6. Benturan kepentingan dalam pengadaan, dan
7. Gratifikasi

Dalam buku Toward A General Theory Of Official Corruption karangan Gerald E


Caiden bentuk umum korupsi yang dikenal antara lain:

1. Berkhianat, subversi, transaksi luar negeri ilegal, penyeludupan;


2. Mengelapkan barang milik lembaga, swastanisasi anggaran pemerintah,
menipu dan mencuri;
3. Menggunakan uang yang tidak tepat, memalsukan dokumen dan
menggelapkan uang, mengalirkan uang lembaga ke rekening pribadi,
menggelapkan pajak, menyalahgunakan dana;
4. Menyalahgunakan wewenang, intimidasi, menyiksa, penganiayaan, memberi
ampun dan grasi tidak pada tempatnya;
5. Menipu dan mengecoh, memberi kesan yang salah, mencurangi dan
memperdaya, memeras;
6. Mengabaikan keadilan, melanggar hukum, memberikan kesaksian palsu,
menahan secara tidak sah, menjebak;
7. Tidak menjalankan tugas, desersi, hidup menempel pada orang lain seperti
benalu;
8. Penyuapan dan penyogokan, memeras, mengutip pungutan, menerima komisi;
9. Menjegal pemilihan umum, memalsukan surat suara, membagi-bagi wilayah
pemilihan umum agar bisa unggul;
10. Menggunakan informasi internal dan informasi rahasia untuk kepentingan
pribadi, membuat laporan palsu;
11. Menjual tanpa izin jabatan pemerintah, barang miliki pemerintah dan surat
izin pemerintah;
12. Manipulasi peraturan, pembelian barang persediaan, kontrak dan pinjaman
uang;
13. Menghidari pajak, meraih laba berlebih-lebihan;
14. Menjual pengaruh, menawarkan jasa perantara, konflik kepentingan;
15. Menerima hadiah, uang jasa, uang pelicin dan hiburan, perjalanan yang tidak
pada tempatnya;
16. Berhubungan dengan organisasi kejahatan, operasi pasar gelap;
17. Perkoncoan, menutupi kejahatan;
18. Memata-matai secara tidak sah, menyalahgunakan telekomunikasi;
19. Menyalahgunakan stempel dan kertas surat kantor, rumah jabatan dan hak
istimewa jabatan.
20. Pola Penindakan Korupsi

Meskipun sudah banyak yang tertangkap dan terjerat hukum, para koruptor sepertinya
belum juga jera. Serangkaian kasus korupsi ini seakan mengingatkan kita akan
merosotnya moral dan hilangnya sikap kepemimpinan dari pemimpin bangsa
Indonesia. Besarnya pengeluaran saat kampanye Pilkada menuntut mereka
mengembalikan biaya politik yang sudah di keluarkan. Dan korupsilah jalan yang
menjadi pilihannya.

Merasuknya laten korupsi sangat merugikan dan dapat merusak setiap sendi
kebersamaan bangsa. Kerugian besar sedang melanda Indonesia sebagai akibat dari
korupsi. Apalagi kalau biaya antisipasi dan penanganan kasus korupsi ini juga
dimasukkan. Realita yang harus di wujudkan adalah reformasi hukum berkaitan
dengan sanksi terhadap pelaku korupsi. Sanksi ini harus diperberat agar memberi efek
jera kepada pelakunya. Putusan hakim pun harus benar-benar menunjukkan
kesadaran dalam diri hakim bahwa korupsi merupakan tindak kejahatan yang luar
biasa merugikan negara dan rakyat. Selain itu, pembinaan sistem anti-korupsi serta
transparansi APBN harus di perketat pembinaannya. Apalagi yang berkaitan dengan
jumlah, alokasi anggaran sampai penggunaan anggaran APBN. Kalau hal ini bisa
dilakukan, penyalahgunaan anggaran pasti bisa di tekan. Masyarakatpun bisa
mengontrol penggunaan anggaran tersebut.

Terlebih lagi kalau koruptor ini mau bercermin dari kasus yang menjerat Angelina
Sondakh yang membuatnya harus mendekam di penjara selama 12 tahun penjara dan
mengembalikan uang suap yang diterimanya sebesar Rp12,58 miliar plus 2,350 juta
dolar AS. Hal ini harusnya bisa membuat koruptor yang masih berkeliaran diluar sana
enggan dan jera untuk melakukan tindakan korupsinya.

Hukum yang jauh lebih ekstrim ternyata memang harus pemerintah terapkan.
Hukuman yang selama ini dijatuhkan kepada koruptor yang sudah terbukti korupsi
belum benar-benar memberikan efek jera. Hukuman yang dijatuhkan kepada
Angelina Sondakh sudah seharusnya diberlakukan pula kepada koruptor lain. Hal ini
pula harus menjadi tolok ukur bagi hakim lain dalam memberikan putusan atas kasus
korupsi yang di tanganninya.
Contoh Kasus: Kasus Korupsi Angelina Sondakh

1. Kronologi Terseretnya Angelina Sondakh

Terseretnya Angelina Patricia Pingkan Sondakh atau Angelina Sondakh atau Angie
dalam kasus korupsi Kasus Wisma Atlet SEA Games Palembang dan Kemendikbud
berawal dari nyanyian para tersangka pendahulunya yang ditangkap terlebih dulu
oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tersangka awal itu adalah M.
Nazarrudin, Muhammad El Idrus, Mindo Rosalinda Manulang, Wafid Muharam. Dan
Angelina Sondakh diseret masuk oleh M. Nazarrudin dan Mindo Rosalinda
Manulang.

Kecuali Angelina Sondakh semua tersangka telah divonis, masing-masing Rosa


divonis 2,5 tahun dan denda Rp. 200 juta, Mohammad El Idris divonis dua tahun dan
denda Rp. 200 juta, Wafid Muharam dihukum tiga tahun dan denda Rp. 150 juta,
serta Muhammad Nazarudin, dijatuhi hukuman empat tahun 10 bulan penjara dan
denda Rp. 200 juta.

Nazar dalam pengakuannya di persidangan mengungkapkan, bahwa Angie pernah


mengaku menerima sejumlah uang di depan Tim Pencari Fakta yang dibentuk Partai
Demokrat. Dalam rapat Tim Pencari Fakta yang dihadiri Benny K. Harman, Jafar
Hafsah, Edi Sitanggang, Max Sopacua, Ruhut Sitompul, M. Nasir, janda mendiang
Adjie Massaid itu menerima uang Rp. 9 miliar dari Kemenpora (dalam hal ini Wafid
Muharam), sebanyak Rp. 8 miliar diserahkan ke Wakil Ketua Banggar DPR, Mirwan
Amir. Namun hal itu dibantah oleh Angie.
Selain Nazarudin, Rosa juga menyebut Angelina telah menerima uang darinya terkait
proyek pembangunan wisma Atlet SEA Games di Palembang. PT Anak Negeri
mengeluarkan Rp. 10 miliar melalui Angie. Sebanyak Rp. 5 miliar untuk Angie, Rp.
5 miliar sisanya tidak diketahui, namun diduga digunakan sebagai pelicin ke Badan
Anggaran DPR agar anggaran segera turun.

Sementara mantan anak buah Nazaruddin yang merupakan Wakil Direktur Keuangan
PT Permai Grup, Yulianis, juga membenarkan ucapan Rosa itu. Bahwa Angelina
Sondakh dan Wayan Koster mendapat Rp. 5 miliar.

Pada Rabu, 15 September 2011, Angelina Sondakh mendatangi Kantor KPK untuk
diperiksa selama delapan jam sebagai saksi dalam kasus pembangunan wisma atlet
SEA Games di Palembang yang melibatkan tersangka Muhammad Nazaruddin.

Pada Jumat, 3 Februari 2012, Angelina Sondakh dicegah untuk tidak bepergian ke
luar negeri hingga 3 Februari 2013. Pencekalan ini terkait penyebutan nama keduanya
oleh para tersangka dan terdakwa kasus suap Kementrian Pemuda dan Olahraga.
Bahkan rencana umroh Angie juga batal.

KPK juga menetapkan Angie sebagai tersangka, menjerat dengan Pasal 5, Pasal 10
dan Pasal 11 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. Pasal tersebut berisi ancaman
pidana 1 tahun, 2 tahun dan 5 tahun serta denda maksimal Rp.250.000.000.

Setelah resmi menjadi tersangka, dia diberhentikan dari jabatan sebagai Wakil Sekjen
Partai Demokrat (PD).
1. Tindakan KPK terhadap Angelina Sondakh

Eksekusi putusan

Terkait dengan eksekusi terhadap putusan itu, Deputi Penindakan KPK Warih
Sadono mengatakan akan segera melaksanakannya. Eksekusi segera dilakukan
setelah jaksa menerima petikan putusan atau ekstrak vonis. Tahap pertama eksekusi
pidana pokok tentang penjara. Untuk eksekusi amar putusan lain tentu harus
dipelajari secara lengkap setelah mendapatkan salinan putusan, ucap Warih.

Soal uang pengganti yang harus dibayarkan Angie, Warih mengatakan, akan
diupayakan agar mantan Puteri Indonesia tersebut membayar uang pengganti dari
hartanya yang sudah diblokir atau disita. Namun, dia belum tahu secara detail berapa
jumlah harta Angie yang telah diblokir dan disita KPK. Jika tidak mampu atau tidak
mencukupi, dilaksanakan pidana penjara subsidernya, lanjutnya.

Progresif dan menjerakan

Secara terpisah, peneliti Indonesian Legal Roundtable, Erwin Natosmal Oemar,


menyatakan, putusan majelis kasasi itu adalah putusan yang progresif dan mampu
menjerakan koruptor. Putusan tersebut harus menjadi tolok ukur dan standar bagi
hakim-hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap terdakwa korupsi.

Kalau bicara efek jera dalam pemberantasan korupsi, cara pandang hakim
seharusnya seperti cara pandang hakim MA dalam putusan Angie ini. Efektifkan
pidana tambahan. Sita uang hasil korupsi. Kalau tidak dilakukan, orang tidak takut
korupsi karena hanya akan dikenai hukuman badan (penjara) saja, sementara uang
hasil korupsinya aman. Setelah bebas, ia masih bisa menikmati hasil korupsi. Ini yang
ada di benak koruptor saat ini, ungkap Erwin.
Dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jaksa KPK Kresno Anto
Wibowo mengatakan Angelina dianggap bersalah telah menggiring anggaran proyek
di Kemenpora dan Kemendiknas. Mahkamah Agung (MA) telah memperberat
hukuman terpidana kasus korupsi Kementerian Pendidikan Nasional dan
Kementerian Pemuda dan Olahraga, Angelina Sondakh, dari empat tahun enam bulan
penjara menjadi 12 tahun penjara. Angelina juga diminta membayar uang pengganti
sebesar Rp 12,58 miliar dan USD 2,35 juta. Apabila tidak sanggup membayar maka
diganti dengan pidana penjara selama dua tahun.Menurut Juru Bicara KPK, Johan
Budi, KPK berencana tetap akan mengajukan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU)
mengenai uang pengganti kerugian negara terhadap Puteri Indonesia 2001 itu dengan
Pasal 18 UU Pemberantasan Korupsi.

Kami sudah memutuskan untuk banding. Jadi ada dua hal, yang pertama soal
tuntutan hukuman terutama Pasal 12 huruf a itu akan kita konstruksikan kembali
dalam memori banding. Kedua, Pasal 18 juga akan kami konstruksikan kembali di
tingkat banding, kata Johan.

Johan menjelaskan, hal itu merupakan bagian dari upaya terobosan yang dilakukan
KPK.Di mana tindak pidana korupsi berupa suap itu harus terdapat penyitaan dan
perampasan aset yang dilakukan kepada terpidana.

Ini upaya untuk mengembalikan uang ke negara sekaligus juga efek jera.Jadi orang
tidak sembarangan korupsi karena bakal disita hartanya, katanya.

Johan mengakui upaya Jaksa KPK menkontruksikan kembali mengenai uang


pengganti kerugian negara dalam memori banding itu merupakan tantangan
tersendiri.
Mengingat di pengadilan tingkat pertama, tuntutan itu tidak terbukti.Jadi kami
challenge dan uji di tingkat banding nanti. Apakah hakim nanti melihatnya berbeda
ataukah sama nantinya, ujarnya.

Johan menambahkan, KPK juga tak menutup kemungkinan menjerat Angelina


Sondakh dengan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).Dia menilai, hal
tersebut terbuka lebar tergantung dari vonis hakim nanti.

Kemungkinan itu bisa saja tergantung dari vonis hakim nanti. Ini kan belum
berkekuatan hukum tetap. Nanti akan sejauh mana putusan, pertimbangan-
pertimbangan kemudian yang jadi acuan hakim itu apa ini nanti bisa digunakan oleh
KPK apa bisa menggunakan TPPU atau tidak, terangnya.

Karena tegas Johan, vonis terhadap Angelina nantinya menjadi pintu masuk KPK
dalam mengembangkan kasus Wisma Atlet terkait pembahasan anggarannya

Angelina didakwa menerima uang itu dari grup Permai pada 2010 terkait pengurusan
proyek di sejumlah universitas di Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan
termasuk program pengadaan sarana dan prasarana di Kemenpora. Jaksa mengatakan
hal-hal yang memberatkan Angelina adalah ia tidak mengakui perbuatannya dan tidak
menyesal. Ia juga dinilai tidak mendukung program pemberantasan korupsi atau
memberi teladan pada masyarakat.

Hal yang meringankan adalah ia dinilai berperilaku santun dalam persidangan, belum
pernah dihukum dan memiliki anak balita. Tim kuasa hukum Angelina mengatakan
klien mereka akan mengajukan nota pembelaan.

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad menilai putusan hakim MA


tersebut telah memberikan rasa keadilan dalam masyarakat.Putusan seperti itu
diharapkan lanjut Abraham dapat memberikan efek jera terhadap koruptor yang kerap
mendapatkan hukuman yang tidak setimpal.

Dia menyatakan putusan MA terhadap Angelina Sondakh sudah sangat tepat di


tengah pusaran pemikiran hukum para penegak hukum yang masih jauh dari keadilan
dan tidak mampu menangkap kekhawatiran masyarakat terkait upaya pemberantasan
korupsi.

Abraham mengungkapkan putusan hakim MA terhadap Angelina Sondakh harus


menjadi tolok ukur bagi hakim-hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap koruptor.

Kita ingin setiap terdakwa kasus korupsi putusannya bisa memberikan efek jera
sehingga orang berfikir seribu kali untuk melakukan korupsi .Kita mengapresiasi
putusan dari Mahkamah Agung.Kita mengapresiasi telah memberikan keadilan di
dalam masyarakat, kata Abrahan Sahad.

Komisioner Komisi Yudisial Taufiqurrahman Sahuri mengungkapkan bahwa putusan


kasasi MA terhadap Angelina Sondakh (Angie), sebagai obat kekecewaan publik
terhadap putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta yang
sebelumnya hanya menjatuhkan pidana empat setengah tahun penjara.

Putusan itu telah mengobati kekecewaan masyarakat pada saat putusan di


pengadilan negeri yang menghukum empat tahun.Dan ini saya rasa putusan yang
terberat yang dikeluarkan Mahkamah Agung terhadap koruptor pasca putusan
terhadap Abdullah Puteh 10 tahun. Setelah itu putusan terhadap koruptor turun-turun
empat tahun, dua tahun, tiga tahun seperti itu, nah ini barulah 12 tahun, kata
Taufiqurrahman Sahuri
Dalam putusan kasasi MA, Angelina dinilai aktif meminta dan menerima uang terkait
proyek-proyek di Kementerian Pendidikan Nasional serta Kementerian Pemuda dan
Olahraga

1. Dampak Korupsi
2. Bagi perekonomian Indonesia
3. Korupsi mengurangi pendapatan dari sektor publik dan meningkatkan
pembelanjaan pemerintah untuk sektor publik. Korupsi juga memberikan
kontribusi pada nilai defisit fiskal yang besar, meningkatkan income
inequality, dikarenakan korupsi membedakan kesempatan individu dalam
posisi tertentu untuk mendapatkan keuntungan dari aktivitas pemerintah pada
biaya yang sesungguhnya ditanggung oleh masyarakat Ada indikasi yang
kuat, bahwa meningkatnya perubahan pada distribusi pendapatan terutamadi
negara-negara yang sebelumnya memakai sistem ekonomi terpusat
disebabkan oleh korupsi, terutama pada proses privatisasi perusahaan negara.
4. Korupsi mengurangi kemampuan pemerintah untuk melakukan perbaikan
dalam bentuk peraturan dan kontrol akibat kegagalan pasar (market failure).
Ketika kebijakan dilakukan dalam pengaruh korupsi yang kuat maka
pengenaan peraturan dan kebijakan, misalnya, pada perbankan, pendidikan,
distribusi makanan dan sebagainya, malah akan mendorong terjadinya
inefisiensi.
5. Korupsi menjadi bagian dari welfare cost, memperbesar biaya produksi, dan
selanjutnya memperbesar biaya yang harus dibayar oleh konsumen dan
masyarakat (dalam kasus pajak), sehingga secara keseluruhan berakibat pada
kesejahteraan masyarakat yang turun.
6. Korupsi mereduksi peran fundamental pemerintah (misalnya pada penerapan
dan pembuatan kontrak, proteksi, pemberian property rights dan sebagainya).
Pada akhirnya hal ini akan memberikan pengaruh negatif pada pertumbuhan
ekonomi yang dicapai.
7. Korupsi mengurangi legitimasi dari peran pasar pada perekonomian, dan juga
proses demokrasi. Kasus seperti ini sangat terlihat pada negara yang sedang
mengalami masa transisi, baik dari tipe perekonomian yang sentralistik ke
perekonomian yang lebih terbuka atau pemerintahan otoriter ke pemerintahan
yang lebih demokratis, sebagaimana terjadi dalam kasus Indonesia.
8. Korupsi memperbesar angka kemiskinan. Selain dikarenakan program-
program pemerintah sebagaimana disebut di atas tidak mencapai sasaran,
korupsi juga mengurangi potensi pendapatan yang mungkin diterima oleh si
miskin. Menurut Tanzi (2002), perusahaan perusahaan kecil adalah pihak
yang paling sering menjadi sasaran korupsi dalam bentuk pungutan tak resmi
(pungutan liar). Bahkan, pungutan tak resmi ini bisa mencapai hampir dua
puluh persen dari total biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan ini amat
mengkhawatirkan, dikarenakan pada negara negara berkembang seperti
Indonesia, perusahaan kecil (UKM adalah mesin pertumbuhan karena
perannya yang banyak menyerap tenaga kerja).
9. Dampak Korupsi Bagi Masyarakat

Korupsi sangat berdampak negatif pada kehidupan masyarakat sekitar. Adapun


dampak korupsi yang terlihat secara langsung dan tidak langsung adalah sebagai
berikut :

1. Kenaikan harga-harga barang akibat anggaran APBN yang dikorupsi


2. Bertambahnya rakyat miskin dikarenakan uang tunjangan bagi rakyat miskin
yang seharusnya disalurkan dikorupsi.
3. Mahalnya biaya yang harus rakyat keluarkan untuk mendapatkan layanan
dasar seperti pendidikan dan kesehatan yang seharusnya bersubsidi.
4. Kesenjangan pendapatan semakin tinggi.
5. Banyaknya rkyat yang di PHK akibat perusahaan kecil tempat mereka kerja
gulung tikar akibat dana investasinya dikorupsi.
6. Dan masih banyak lagi dampak negatif korupsi.
7. Dampak Korupsi Dalam Bidang Pendidikan

Menurunnya kualitas pendidikan di Indonesia disebabkan oleh adanya faktor- faktor


yang menyebabkan. Kurangnya fasilitas yang tersedia menjadi faktor utama terhadap
baik atau buruknya kualitas pendidikan di Indonesia. Bisa kita lihat banyak fasilitas
yang sudah tidak layak dipakai masih digunakan sebagai sarana pendidikan,
contohnya pada lingkungan pedesaan banyak fasilitas yang sudah tidak layak dipakai
masih digunakan untuk sarana belajar mengajar sesuai fungsinya. Fasilitas yang rusak
ini mengakibatkan banyak anak- anak pedesaan tidak bisa menggunakan fasilitas
dengan baik. Fasilitas yang kurang dan rusak disebabkan karena kurangnya dana
yang diberikan oleh pemerintah. Menurut pasal 31 ayat 4 dengan bunyi Negara
memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang- kurangnya 20% dari anggaran
pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah
untuk memenuhi kebutuhan penyelengaraan pendidikan nasional.

Sesuai dengan apa yang termuat di dalam UUD 1945 sebanyak 20% keuangan negara
itu digunakan sebagai dana pendidikan. Namun saat ini sesuai dengan apa yang telah
kita ketahui kualitas pendidikan di indonesia begiu rendah, lalu dimana uang yang
seharusnya dipakai sebagai dana pendidikan?. Korupsi itulah jawaban yang tepat.
Meski Indonesia menganut sistem pemerintahan presidensil, dan pembagian tugas
pemeritahan sudah terlihat sangat jelas. Korupsi tetap saja menjadi masalah yang
sangat besar bagi keuangan negara. Hal inilah yang berdampak negatif terhadap
kualitas pendidikan di Indonesia. Banyak pendidikan yang terkorbankan karena tidak
adanya fasilitas dan dana yang cukup .

Dampak negatif dari korupsi ini tentu sangatlah banyak salah satunya adalah uang
negara yang seharusnya di pakai untuk memenuhi fasilitas pendidikan tapi menjadi
bubur hangat bagi para koruptor di Indonesia dan hal ini juga yang telah
menyebabkan negara indonesia tidak maju- maju dan tetap pada posisi sebagai negara
berkembang dengan kualitas pendidikan yang rendah. Dari kasus korupsi yang terjadi
perhatian pemerintah menjadi sangat berkurang terhadap kualitas pendidikan di
Indonesia. Tidak heran jika kualitas penddidikan di indonesia menjadi rendah dan
tidak dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman saat ini. Perlu adanya
tindak lanjut yang lebih agar pendidikan di Indonesia bisa seperti negara yang maju
saat ini, tidak cukup hanya dengan pemberian hukuman kepada koruptor tapi perlu
adanya inovasi baru yang dapat memberikan hukuman yang sebanding dengan apa
yang telah dilaksanakan oleh para koruptor. Berantas korupsi dan segala tindakan
menyimpang lainnya yang akan berdampak negative pada kualitas pendidikan di
indonesia.

Seperti yang kita lihat, Indonesia menyandang sebagai negara yang memiliki begitu
banyak sumber daya yang tentunya dapat di manfaatkan untuk meningkatkan kualitas
pendidikan Indonesia. Jika pemanfaatan dan penggunaannya dilakukan secara efesien
serta terhindar dari tangan- tanagn yang tak bertanggung jawab maka akan tercipta
indonesia yang maju. Kita sebagai genrasi penerus bangsa dan negara, perlu
pemahaman yang luas akan dunia pendidikan agar kualitas pendidikan di indonesia
bisa berkembang dan maju seperti halnya sama dengan tujuan dan cita- cita bangsa
kita. Indonesia yang aman, maju dan sejahtera adalah harapan utama kita semua
sebagai rakyat republik Indonesia. Tingkatkan terus kualitas penndidikan di Indonesia
agar indonesia dapat kembali lagi menjadi indonesia yang memiliki kualitas
pendidikan yang tinggi.
BAB II

PENUTUP

1. Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa korupsi merupakan penyelewengan atau penggelapan


(uang negara atau perusahaaan) dan sebagainya untuk keuntungan pribadi atau orang
lain serta selalu mengandung unsur penyelewengan atau dishonest (ketidakjujuran).
Dan korupsi akan berdampak pada masarakat luas serta akan merugikan masyarakat
umum dan negara.di indonesiakorupsi identik dengan tindakan buruk yang dilakukan
oleh aparatur birokrasi serta orang-orang yang berkompeten dengan birokrasi.
Korupsi dapat bersumber dari kelemahan-kelemahan yang terdapat pada sistem
politik dan sistem administrasi negara dengan birokrasi sebagai prangkat pokoknya.

Keburukan hukum merupakan penyebab lain meluasnya korupsi. Seperti halnya


delik-delik hukum yang lain, delik hukum yang menyangkut korupsi di Indonesia
masih begitu rentan terhadap upaya pejabat-pejabat tertentu untuk membelokkan
hukum menurut kepentingannya. Dalam realita di lapangan, banyak kasus untuk
menangani tindak pidana korupsi yang sudah diperkarakan bahkan terdakwapun
sudah divonis oleh hakim, tetapi selalu bebas dari hukuman ataupun mendapat
hukuman yang tidak sesuai dengan pelanggaranya contoh saja Angelina Sondakh
seperti yang sudah dijelaskan diatas . Itulah sebabnya kalau hukuman yang diterapkan
tidak drastis, upaya pemberantasan korupsi dapat dipastikan gagal.
DAFTAR PUSTAKA

Alatas, Syed Hussein. 1986. Sosiologi Korupsi. Jakarta: LP3ES

Ermansjah Djaja. 2008.Memberantas Korupsi Bersama KPK Kajian Yuridis Normatif


UU Nomor 31 tahun 1999 juncto UU Nomor 20 Tahun 2001 Versi UU Nomor 30
Tahun 2002. Jakarta : Sinar Grafika.

Soewartojo, Junaidi. 1997. Korupsi Pola KEgiatan dan Penindakannya serta peran
pengawasan dalam penanggulangannya. Balai Pustaka. Jakarta.

Darwis Muhammad. 2009. Teori Korupsi dalam http://pakar-


hukum.blogspot.com/2009/09/teori-korupsi.html. Diakses pada 20 April 2014

Penebar Swadaya. 2013. Teori Korupsi Dan Macam Macam Korupsi, dalam
http://politkum.blogspot.com/2013/04/teori-korupsi-dan-macam-macam-
korupsi.Diakses pada 2 Mei 2014
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang maha Esa, karena
atas berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah , Korupsi , dalam Mata Kuliah
Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar. Makalah ini di buat sesuai dengan tujuan yang akan di capai
pada setiap perkuliahan yang di laksanakan. Kamai merasakan sangat bermanfaat dengan
menyelesaikan makalah ini, tidak hanya wawasan mengenai dunia keolahragaan yang sesuai
fakultas kami Fakultas Ilmu Keolahragaan namun menambah banyak wawasan mengenai
kehidupan sosoial dan lingkungan yang ada.

Dengan menyelesaikan Makalah ini, tidak jarang kami menemui kesulitan.


Namun kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikannya. Dengan selesainya
makalah ini, Semoga dapat bermanfaat bagi setiap pembaca.

Kami menyadari makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran, dari semua pihak yang membaca. Kritik dan saran yang akan
anda berikan akan berguna bagi kami untuk membuat makalah menjadi lebih baik . terima
Kasih
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. i

DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................... 1

1.1. LATAR BELAKANG ........................................................................................ 1

1.2. TUJUAN ............................................................................................................. 2

BAB II LANDASAN TEORI .................................................................................. 3

2.1. PENGERTIAN KORUPSI SECARA TEORITIS ......................................... 3

2.2. 2011 : NAZARUDDIN DAN DEMOKRAT.........................................5

2.3 ANALISIS DARI SUDUT KONSEP KESALAHAN DAN


PERBUATAN PIDANA TERHADAP KASUR KORUPSI
MUHAMMAD NAZARUDDIN..7

2.4 DAMPAK KORUPSI TERHADAP EKSISTENSI NEGARA.8

BAB III ANALISIS .................................................................................................. 10

BAB IV PENUTUP ................................................................................................... 14


3.1.KESIMPULAN ................................................................................................... 14

3.2.SARAN ................................................................................................................. 14

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 15


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh kemampuan dan keberhasilannya


dalam melaksanakan pembangunan. Pembangunan sebagaisuatu proses perubahan yang
direncanakan mencakup semua aspek kehidupan masyarakat. Efektifitas dan keberhasilan
pembangunan terutama ditentukan oleh dua faktor, yaitu sumber daya manusia, yakni (orang-
orang yang terlibatsejak dari perencanaan samapai pada pelaksanaan) dan pembiayaan.
Diantaradua faktor tersebut yang paling dominan adalah faktor manusianya.Indonesia
merupakan salah satu negara terkaya di Asia dilihat dari keanekaragaman kekayaan sumber
daya alamnya. Tetapi ironisnya, negaratercinta ini dibandingkan dengan negara lain di
kawasan Asia bukanlah merupakan sebuah negara yang kaya malahan termasuk negara yang
miskin.Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kualitas sumber daya
manusianya. Kualitas tersebut bukan hanya dari segi pengetahuan atau intelektualnya tetapi
juga menyangkut kualitas moral dan kepribadiannya. Rapuhnya moral dan rendahnya tingkat
kejujuran dari aparat penyelenggara negara menyebabkan terjadinya korupsi.Korupsi di
Indonesia dewasa ini sudah merupakan patologi social (penyakit social) yang sangat
berbahaya yang mengancam semua aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Korupsi telah mengakibatkan kerugian materiil keuangan negara yang sangat
besar. Namun yang lebih memprihatinkan lagi adalah terjadinya perampasan dan
pengurasankeuangan negara yang dilakukan secara kolektif oleh kalangan anggotalegislatif
dengan dalih studi banding, THR, uang pesangon dan lainsebagainya di luar batas kewajaran.
Bentuk perampasan dan pengurasan keuangan negara demikian terjadi hampir di seluruh
wilayah tanah air. Hal itumerupakan cerminan rendahnya moralitas dan rasa malu, sehingga
yang menonjol adalah sikap kerakusan dan aji mumpung. Persoalannya adalah dapatkah
korupsi diberantas? Tidak ada jawaban lain kalau kita ingin maju, adalah korupsi harus
diberantas. Jika kita tidak berhasil memberantas korupsi,atau paling tidak mengurangi sampai
pada titik nadir yang paling rendahmaka jangan harap Negara ini akan mampu mengejar
ketertinggalannya dibandingkan negara lain untuk menjadi sebuah negara yang maju.
Karenakorupsi membawa dampak negatif yang cukup luas dan dapat membawa negara ke
jurang kehancuran.

1.2. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian korupsi.


2. Untuk mengetahui penyebab atau latar belakang terjadinya korupsi.
3. Untuk mengetahui korupsi di indonesia
4. Untuk mengetahui dampak adanya korupsi.
5. Untuk menganalisa sudut pandang korupsi
6. NAZARUDDIN DAN DEMOKRAT
BAB II

a. Pengertian Korupsi

Dalam ensiklopedia Indonesia disebut korupsi (dari bahasa Latin: corruption sama seperti
penyuapan; corruptore = merusak) gejala dimana para pejabat, badan-badan Negara
menyalahgunakan wewenang dengan terjadinya penyuapan, pemalsuan serta ketidakberesan
lainnya. Adapun arti harfia dari korupsi dapat berupa : Kejahatan kebusukan, dapat disuap,
tidak bermoral, kebejatan, dan ketidakjujuran. Perbuatan yang buruk seperti penggelapan
uang, penerimaan sogok dan sebagainya.

Baharuddin Lopa mengutip pendapat dari David M. Chalmers, menguraikan arti istilah
korupsi dalam berbagai bidang, yakni yang menyangkut masalah penyuapan, yang
berhubungan dengan manipulasi di bidang ekonomi, dan yang menyangkut bidang
kepentingan umum. (Evi Hartanti, S.H., 2005:9)

Selain itu terdapat pengertian korupsi dalam undang-undang antara lain : Dalam Undang
undang nomor 3 Tahun 1971 pengertian korupsi tertuang dalam pasal 1 ayat 1 a dan b yang
berbunyi

1. a. barangsiapa dengan melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri


sendiri atau orang lain, atau suatu Badan, yang secara langsung atau tidak langsung
merugikan keuangan negara dan atau perekonomian negara, atau diketahui atau patut
disangka olehnya bahwa perbuatan tersebut merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara;

b. barangsiapa dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu
Badan, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya
karena jabatan atau kedudukan, yang secara langsung atau tidak langsung dapat
merugikan keuangan negara atau perekonomian negara;

Sementara itu dalam undang-undang nomor 31tahun 1999 definisi korupsi tertuang dalam
pasal 2 ayat 1 dan 3 yang berbunyi :
Pasal 2 (1) Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri
sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara, dipidana penjara dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara
paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit
Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu
milyar rupiah).

Pasal 3 Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau
suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya
karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian
negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1
(satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp.
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar
rupiah).

Dari pengertian-pengertian diatas dapat kita ambil beberapa kesimpulan terutama yang
berkenaan dengan unsur-unsur korupsi antara lain :

1) Perbuatan Melawan Hukum


2) Memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi
3) Menyalahgunakan wewenang
4) Menyebabkan kerugian keuangan negara atau perekonomian negara

b. Pengertian Perbuatan Pidana dan Kesalahan

Perbuatan pidana adalah adalah kelakukan orang yang dirumuskan dalam wet, yang bersifat
melawan hukum, yang patut dipidana (strafwaardig) dan dilakukan dengan kesalahan (van
Hamel). Jadi perbuatan pidana adalah kelakuan dan akibat dari suatu hal ikhwal kejahatan
dan pelanggaran. Selain itu terdapat pula unsur pidana dalam perbuatan pidana yaitu :

1. Perbuatan itu berujud suatu kelakuan (baik aktif maupun pasif) yang berakibat
timbulnya suatu hal atau keadaan yang dilarang oleh hukum.
2. Kelakuan dan akibat yang timbul tersebut harus bersifat melawan hukum (baik
hukum itu dalam pengertiannya yang formal/tertulis maupun dalam pengertian
material/tidak tertulis.
3. Adanya hal-hal/ keadaan tertentu yang menyertai terjadinya kelakuan dan akibat
yang dilarang oleh hukum, baik yang berkaitan dengan diri pelaku perbuatan pidana
dan tempat terjadinya perbuatan pidana.

NAZARUDDIN DAN DEMOKRAT

21 April 2011, KPK menangkap tangan Mindo Rosalina Manullang bersama Sekjen
Kemenpora, Wafid Muharam, di kantor Kemenpora atas dugaan suap. Uang dalam bentuk
dolar Amerika sempat dibuang ke tempat sampah saat penyidik KPK datang. Menpora Andi
Mallarangeng buru-buru cuci tangan dengan mengatakan tak tahu menahu kejadian yang
menimpa Wafid. Kasus ini menjadi besar ketika pengacara Mindo Rosa menyebut nama
Muhammad Nazaruddin, Bendahara Umum Partai Demokrat, sebagai atasan Rosa. Nazar
meradang. Bersumpah ia tak kenal ibu itu bahkan semua itu disebutnya hanya berdasarkan
katanyakatanyaakatanya. Didampingi Ketua Komisi III DPR RI kala itu, Benny K.
Harman, serta sahabatnya Ruhut Sitompul, Nazaruddin menggelar jumpa pers di ruang Fraksi
Demokrat DPR RI.

Kopers Nazaruddin dkk

Keadaan berubah drastis ketika kemudian Mahfud MD mengajak Sekjen MK,


Janedjri M. Ghaffar, menghadap SBY di istana. Usai pertemuan, SBY memberi kesempatan
Mahfud MD berbicara kepada pers. Disitulah terkuak bahwa Nazar terbiasa memberikan
amplop berisi uang dalam jumlah besar kepada penyelenggara negara, ada atau tidak ada
kasus. Dengan terkuaknya citra buruk Nazar, SBY tak punya pilihan lain kecuali memecat
Nazaruddin. Tanggal 23 Mei malam, Majelis Kehormatan Partai Demokrat mengumumkan
penonaktifan Nazaruddin dari jabatan Bendum Demokrat. Esok harinya, KPK mengajukan
permohonan pencekalan Nazar kepada Kemenkumham. Sayangnya, Nazaruddin sudah lebih
dulu pergi ke Singapura beberapa jam sebelum pengumuman pemecatan dirinya. Sejak itu
dimulailah pelarian Nazar.
Demokrat sempat menutupi jika Nazar bermaksud melarikan diri. Dengan dalih
berobat ke Singapura, didampingi Anas dan Ibas, Sutan Bathoegana menyampaikan perihal
sakitnya Nazar. Tapi keadaan berubah ketika Iwan Piliang menyampaikan rekaman
pembicaraannya via skype dengan Nazaruddin di pelarian, kepada Metro TV. Nazar banyak
menyebut keterlibatan Anas Urbaningrum dalam bisnis bersamanya. Selang beberapa hari,
Nazar menelpon Metro TV dan dalam wawancara singkat itulah untuk pertama kali Nazar
menyebut proyek Hambalang. Suatu mega proyek sarat kejanggalan yang sebelumnya sama
sekali tak terendus publik.

Kicauan Nazar baru berhenti ketika pada pekan pertama Agustus 2011 polisi
Kolumbia menangkap dan mendeportasinya karena menggunakan paspor milik saudaranya.
Proses pemulangan Nazar ke tanah air menelan biaya Rp. 4 milyar. Sidangnya dimulai pada
September 2011 dan menenggelamkan issu korupsi lainnya. Yang muncul justru issu bagi-
bagi uang dan BlackBerry pada Kongres Partai Demokrat di Bandung pada Mei 2010. Tahun
2011 benar-benar jadi tahun milik Nazaruddin dan partai Demokrat dalam pusaran issu
korupsi. Meski di penghujung 2011 KPK berhasil memulangkan Nunun Nurbaetie setelah
buron 2 tahun, sekaligus pretasi terakhir KPK di bawah kepemimpinan Busyro Muqoddas,
tapi issu Nunun masih kalah besar dari issu Nazaruddin.

ANALISIS DARI SUDUT KONSEP KESALAHAN DAN PERBUATAN PIDANA


TERHADAP KASUR KORUPSI MUHAMMAD NAZARUDDIN

Abstrak
Nama Muhammad mulai banyak diperbicangankan ketika dirinya dituduh terlibat dalam
kasus suap Sesmenpora Wafid Muharram. Nazaruddin dituduh menjadi aktor dibalik kasus
ini sebagaimana disampaikan Kamarudin Simanjuntak yang merupakan kuasa hukum dari
salah seorang tersangka Mindo Rosalina Manulang. Menurut Kamarudin Simanjuntak
kliennya hanya disuruh oleh salah seorang anggota Parpol yang kemudian diketahui adalah
Muhammad Nazaruddin. Walaupun sempat berkelit dan beberapa kali melontarkan
pembantahan namun akhirnya Nazaruddin bisa ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi dalam kasus ini. Namun naas sehari sebelum ditetepkan sebagai
tersangka Nazaruddin berhasil melarikan diri keluar negeri dengan alasan pemeriksaan
kesehatan
Pada saat kasus ini mencuat Nazaruddin merupakan bendahara umum dari Partai yang
berkuasa saat ini yaitu partai Demokrat. Kasus ini secara tidak langsung membuat pamor dan
citra partai Demokrat turun di masyarakat. Menilik latar belakang seorang Muhammad
Nazaruddin ternyata sebelum terjerat kasus ini Nazaruddin pernah menjadi tersangka kasus
pemalsuan dokumen.Hal itu diduga dilakukannya agar perusahaan miliknya, PT Anugerah
Nusantara memenuhi persyaratan mengikuti proyek tender pengadaan di Departemen
Perindustrian yang nilainya sekitar Rp100 miliar.Kasus Ini terjadi pada tahun 2005 dan
Nazaruddin sempat diperiksa di Polda Metro Jaya. Namun entah kenapa tiba-tiba keluar SP-3
terhadap kasus ini . Selain itu salah kasus yang sempat hangat diperbincangkan yang terkait
dengan Nazaruddin adalah kasus percobaan penyuapan yang dilakukan Nazaruddin terhad
Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi, Janedjri M Gaffar. Kasus ini langsung
diungkapkan oleh ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud M.D. Nazaruddin dalam kasus ini
memberikan amplop yang berisi sejumlah uang kepada Sekjen MK tanpa ada alasan yang
jelas. Itulah beberapa kasus yang melibatkan Muhammad Nazaruddin

Setelah ditetapkan menjadi tersangka Muhammad Nazaruddin justru menghilang dan sulit
untuk kembali ke Indonesia. Kemudian Nazaruddin menjadi salah seorang buronan Interpool.
Pada akhirnya pria kelahiran 26 Agustus 1978 tertangkap di Kolumbia. Sempat melanglang
buana ke beberapa negara seperti Singapura dan Malaysia Nazaruddi akhirnya tertangkap di
Kolumbia. Nazaruddin tertanggkap pada tanggal 7 agustus 2011 di Bogota Kolumbia .
Sebelum tertangkap Nazaruddin sempat membeberkan bebarapa kasus terutama yang
berkenaan dengan Kongres Partai Demokrat dan juga tuduhannya terhadap rekayasa kasus
yang dilakukan oleh KPK.

DAMPAK KORUPSI TERHADAP EKSISTENSI NEGARA

1. Lesunya Perekonomian
Lesunya Perekonomian Korupsi memperlemah investasi dan
pertumbuhan ekonomi Korupsi merintangi akses masyarakat
terhadap pendidikan dan kesehatan yang
2. Meningkatnya Kemiskinan
Meningkatnya Kemiskinan Efek penghancuran yang hebat terhadap
orang yang kurang mampu
3. Tingginya angka kriminalitas
Tingginya angka kriminalitas Korupsi menyuburkan berbagai jenis
kejahatan yang lain dalam masyarakat. Semakin tinggi tingkat
korupsi, semakin besar pula kejahatan.
4. Demoralisasi
Demoralisasi Korupsi yang merajalela di lingkungan pemerintah
dalam penglihatan masyarakat umum akan menurunkan kredibilitas
pemerintah yang berkuasa.
5. Kehancuran birokrasi
Kehancuranbirokrasi Birokrasi pemerintah merupakan garda depan
yang behubungan dengan pelayanan umum kepada masyarakat.
6. Terganggunya Sistem Politik dan Fungsi Pemerintahan
Terganggunya Sistem Politik dan Fungsi Pemerintahan Dampak
negatif terhadap suatu sistem politik
7. Buyarnya Masa Depan Demokrasi
Buyarnya Masa Depan Demokrasi Faktor Penopang Korupsi
ditengah Negara Demokrasi

Korupsi sangat berdampak negatif pada kehidupan masyarakat sekitar. Adapun


dampak korupsi yang terlihat secara langsung dan tidak langsung adalah sebagai
berikut :

1. Kenaikan harga-harga barang akibat anggaran APBN yang dikorupsi


Bertambahnya rakyat miskin dikarenakan uang tunjangan bagi rakyat miskin
yang seharusnya disalurkan dikorupsi.
2. Mahalnya biaya yang harus rakyat keluarkan untuk mendapatkan layanan
dasar seperti pendidikan dan kesehatan yang seharusnya bersubsidi.
3. Kesenjangan pendapatan semakin tinggi.
4. Banyaknya rakyat yang di PHK akibat perusahaan kecil tempat mereka kerja
gulung tikar akibat dana investasinya dikorupsi. Dan masih banyak lagi
dampak negatif korupsi.
Konsep Carrot and Stick atau Kecukupan dan Hukuman. Konsep dasar
pemberantasan korupsi sederhana, yaitu menerapkan carrotand stick. Keberhasilannya sudah
dibuktikan oleh banyak negara, antara lain Singapura dan yang sekarang sedang berlangsung
di RRC. Carrot adalah pendapatan bersih (net take home pay) untuk pegawai negeri, baik
sipil maupun TNI dan POLRI yang jelas mencukupi untuk hidup dengan standar yang sesuai
dengan pendidikan, pengetahuan, tanggung jawab, kepemimpinan, pangkat dan martabatnya.
Kalau perlu pendapatan ini dibuat demikian tingginya, sehingga tidak saja cukup untuk hidup
layak, tetapi cukup untuk hidup dengan gaya yang gagah. Tidak berlebihan, tetapi tidak
kalah dibandingkan dengan tingkat pendapatan orang yang sama dengan kwalifikasi
pendidikan dan kemampuan serta kepemimpinan yang sama di sektor swasta.
Stick atau arti harafiahnya pentung adalah hukuman yang dikenakan kalau kesemuanya ini
sudah dipenuhi dan masih berani korupsi. Mengingat akan tingkat atau magnitude korupsi
sudah sedemikan dalam dan menyebar sedemikan luasnya, hukumannya tidak bisa tanggung-
tanggung, harus seberat-beratnya.
BAB III

ANALISIS

Peraturan-peraturan tentang pemberantasan korupsi silih berganti, selalu orang yang


belakangan yang memperbaiki dan menambahkan, namun korupsi dalam segala bentknya
dirasakan masih tetap mengganas. Istilah korupsi sebagai istilah hokum dan member batsan
pengertian korupsi adalah perbuatan-perbuatan yang merugikan keuangan dan perekonomian
Negara atau daerah atau badan hokum lain yang mempergunakan modal dan/atau
kelonggaran yang lain dari masyarakat, sebagai bentuk khusus daripada perbuatan korupsi.
Oleh karena itu, Negara memandang bahwa perbuatan atau tindak pidana korupsi telah
masuk dan menjadi suatu perbuatan pidana korupsi yang selama ini terjadi secara meluas,
tidak hanya merugikan keuangan Negara dan daerah, tetapi juga telah merupakan
pelanggaran terhadap hak-hak social dan ekonomi masyarakat secara luas, sehingga tindak
pidana korupsi perlu digolongkan sebagai kejahatan yang pemberantasannya harus dilakukan
secara luar biasa.

Dalam melakukan analisis atas perbuatan korupsi dapat didasarkan pada 3 (tiga)
pendekatan berdasarkan alur proses korupsi yaitu :

Pendekatan pada posisi sebelum perbuatan korupsi terjadi,


Pendekatan pada posisi perbuatan korupsi terjadi,
Pendekatan pada posisi setelah perbuatan korupsi terjadi.

Dari tiga pendekatan ini dapat diklasifikasikan tiga strategi untuk mencegah dan
memberantas korupsi yang tepat yaitu:

1. Strategi Preventif.

Strategi ini harus dibuat dan dilaksanakan dengan diarahkan pada hal-hal yang menjadi
penyebab timbulnya korupsi. Setiap penyebab yang terindikasi harus dibuat upaya
preventifnya, sehingga dapat meminimalkan penyebab korupsi. Disamping itu perlu dibuat
upaya yang dapat meminimalkan peluang untuk melakukan korupsi dan upaya ini melibatkan
banyak pihak dalam pelaksanaanya agar dapat berhasil dan mampu mencegah adanya
korupsi.

2. Strategi Deduktif.

Strategi ini harus dibuat dan dilaksanakan terutama dengan diarahkan agar apabila suatu
perbuatan korupsi terlanjur terjadi, maka perbuatan tersebut akan dapat diketahui dalam
waktu yang sesingkat-singkatnya dan seakurat-akuratnya, sehingga dapat ditindaklanjuti
dengan tepat. Dengan dasar pemikiran ini banyak sistem yang harus dibenahi, sehingga
sistem-sistem tersebut akan dapat berfungsi sebagai aturan yang cukup tepat memberikan
sinyal apabila terjadi suatu perbuatan korupsi. Hal ini sangat membutuhkan adanya berbagai
disiplin ilmu baik itu ilmu hukum, ekonomi maupun ilmu politik dan sosial.

3. Strategi Represif.

Strategi ini harus dibuat dan dilaksanakan terutama dengan diarahkan untuk memberikan
sanksi hukum yang setimpal secara cepat dan tepat kepada pihak-pihak yang terlibat dalam
korupsi. Dengan dasar pemikiran ini proses penanganan korupsi sejak dari tahap
penyelidikan, penyidikan dan penuntutan sampai dengan peradilan perlu dikaji untuk dapat
disempurnakan di segala aspeknya, sehingga proses penanganan tersebut dapat dilakukan
secara cepat dan tepat. Namun implementasinyaharus dilakukan secara terintregasi. Bagi
pemerintah banyak pilihan yang dapat dilakukan sesuai dengan strategi yang hendak
dilaksanakan.

Adapula strategi pemberantasan korupsi secara preventif maupun secara represif antara lain

Gerakan Masyarakat Anti Korupsi yaitu pemberantasan korupsi di Indonesia saat


ini perlu adanya tekanan kuat dari masyarakat luas dengan mengefektifkan gerakan rakyat
anti korupsi, LSM, ICW, Ulama NU dan Muhammadiyah ataupun ormas yang lain perlu
bekerjasama dalam upaya memberantas korupsi, serta kemungkinan dibentuknya koalisi dari
partai politik untuk melawan korupsi. Selama ini pemberantasan korupsi hanya dijadikan
sebagai bahan kampanye untuk mencari dukungan saja tanpa ada realisasinya dari partai
politik yang bersangkutan. Gerakan rakyat ini diperlukan untuk menekan pemerintah dan
sekaligus memberikan dukungan moral agar pemerintah bangkit memberantas korupsi.

Gerakan Pembersihan yaitu menciptakan semua aparat hukum (Kepolisian,


Kejaksaan, Pengadilan) yang bersih, jujur, disiplin, dan bertanggungjawab serta memiliki
komitmen yang tinggi dan berani melakukan pemberantasan korupsi tanpa memandang status
sosial untuk menegakkan hukum dan keadilan. Hal ini dapat dilakukan dengan membenahi
sistem organisasi yang ada dengan menekankan prosedur structure follows strategy yaitu
dengan menggambar struktur organisasi yang sudah ada terlebih dahulu kemudian
menempatkan orang-orang sesuai posisinya masing-masing dalam struktur organisasi
tersebut.

Gerakan Moral yang secara terus menerus mensosialisasikan bahwa korupsi adalah
kejahatan besar bagi kemanusiaan yang melanggar harkat dan martabat manusia. Melalui
gerakan moral diharapkan tercipta kondisi lingkungan sosial masyarakat yang sangat
menolak, menentang, dan menghukum perbuatan korupsi dan akan menerima, mendukung,
dan menghargai perilaku anti korupsi. Langkah ini antara lain dapat dilakukan melalui
lembaga pendidikan, sehingga dapat terjangkau seluruh lapisan masyarakat terutama generasi
muda sebagai langlah yang efektif membangun peradaban bangsa yang bersih dari moral
korup.

Gerakan Pengefektifan Birokrasi yaitu dengan menyusutkan jumlah pegawai dalam


pemerintahan agar didapat hasil kerja yang optimal dengan jalan menempatkan orang yang
sesuai dengan kemampuan dan keahliannya. Dan apabila masih ada pegawai yang melakukan
korupsi, dilakukan tindakan tegas dan keras kepada mereka yang telah terbukti bersalah dan
bilamana perlu dihukum mati karena korupsi adalah kejahatan terbesar bagi kemanusiaan dan
siapa saja yang melakukan korupsi berarti melanggar harkat dan martabat kehidupan
Negara mengeluarkan 3 produk hukum tentang pemberantasan tindak pidana korupsi
yaitu: UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, UU No 20
Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi dan UU No 28 Tahun 1999 tentang enyelenggaraan Negara yang Bersih dan
Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

Kesimpulan dari ketiga UU yang menyangkut pemberantasan tindak pidana korupsi


ini merupakan lex specialis generalis. Materi substansi yang terkandung didalamnya antara
lain :

1. Memperkaya diri/orang lain secara melawan hokum (Pasal 2 ayat (1) UU No.31
Tahun 1999). Jadi, pelaku tindak pidana korupsi tersebut adalah setiap orang baik
yang berstatus PNS atau No-PNS serta korporasi yang dapat berbentuk badan hokum
atau perkumpulan.
2. Melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi.
3. Dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara.
4. Adanya oenyakahgunaan kewenangan, kesempatan atau sarana (Pasal 3 UU N0.31
Tahun 1999).
5. Menyuap PNS atau Penyelenggara Negara (Pasal 5 UU No.20 Tahun 2001).
6. Perbuatan curang (Pasal 7 UU No. 20 Tahun 2001).
7. Penggelapan dalam jabatan (Pasal 6 UU No. 20 Tahun 2001).

Oleh karena itu, keberadaan produk regulasi yang diberikan Negara untuk
menyelamatkan keuangan Negara dari perilaku korupsi, sangatlah dituntu kepada para aparat
penegak hokum lainnya untuk semkasimal mungkin dapat memahami rumusan delik yang
terkait dan menyebar di setiap pasal yang ada agar tepat dalam menerapkan kepadapara
pelaku.selain itu juga diperlukan strategi pemberantasan korupsi yang sangat jitu dan tepat.

Penerapan sangsi normatif mengenai korupsi kepada para pelakunya tidakakan


bermanfaat dan bernilai penyesalan bilamana tidak diikutkan juga beberapa strategi. Ada 3
hal yang harus dilakukan guna mengurangi sifat dan perilaku masyarakat untuk korupsi,
anatara lain;
(1) Menaikkan gaji pegawai rendah dan menengah,

(2) Menaikkan moral pegawai tinggi, serta

(3) Legislasi pungutan liar menjadi pendapat resmi atau legal.


BAB IV

PENUTUP

4.1.Kesimpulan

Korupsi adalah suatu tindak perdana yang memperkaya diri yang secara langsung
merugikan negara atau perekonomian negara. Jadi, unsur dalam perbuatan korupsi meliputi
dua aspek. Aspek yang memperkaya diri dengan menggunakan kedudukannya dan aspek
penggunaan uang Negara untuk kepentingannya.Adapun penyebabnya antara lain, ketiadaan
dan kelemahan pemimpin,kelemahan pengajaran dan etika, kolonialisme, penjajahan
rendahnya pendidikan, kemiskinan, tidak adanya hukuman yang keras, kelangkaan
lingkungan yang subur untuk perilaku korupsi, rendahnya sumber daya manusia, serta
struktur ekonomi.Korupsi dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu bentuk, sifat,dan
tujuan.Dampak korupsi dapat terjadi di berbagai bidang diantaranya, bidang demokrasi,
ekonomi, dan kesejahteraan negara.

4.2 Saran

Sikap untuk menghindari korupsi seharusnya ditanamkan sejak dini.Dan pencegahan korupsi
dapat dimulai dari hal yang kecil
DAFTAR PUSTAKA

http://hukum.kompasiana.com/2013/12/09/kaleidoskop-korupsi-2009-2013-kado-untuk-hari-
anti-korupsi-617702.html

http://chynkkamu.blogspot.com/2011/12/analisis-dari-sudut-konsep-kesalahan.html

http://ayumimade.blogspot.com/2014/02/contoh-kasus-korupsi-muhammad-nazaruddin.html

http://olagragasport.blogspot.com/2013/06/makalah-masalah-korupsi.html

http://makalainet.blogspot.com/2013/10/korupsi.html

Muzadi, H. 2004. MENUJU INDONESIA BARU, Strategi Pemberantasan Tindak Pidana


Korupsi. Malang : Bayumedia Publishing.

Lamintang, PAF dan Samosir, Djisman. 1985. Hukum Pidana Indonesia .Bandung : Penerbit
Sinar Baru.

Saleh, Wantjik. 1978. Tindak Pidana Korupsi Di Indonesia . Jakarta : GhaliaIndonesia

SUMBER: http://kumpulanmakalah-cncnets.blogspot.com/2012/02/makalah-korupsi.html