Anda di halaman 1dari 2

Pembahasan

Osteoarthitis (OA) merupakan penyakit sendi kronik degeneratif, gangguan yang tidak
diketahui penyebabnya yang ditandai dengan menurunnya kekompakan tulang kartilago secara
bertahap (Haq et al., 2003). Osteoarthritis biasanya mengenai sendi penopang berat badan
(weight bearing) misalnya pada panggul, lutut, vertebra, tetapi dapat juga mengenai bahu, sendi-
sendi jari tangan, dan pergelangan kaki (Carlos, 2013). Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) tahun 2007 prevalensi penyakit sendi secara nasional sebesar 30,3% dan prevalensi
berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 14% (Dinkes, RI, 2007).

Berdasarkan hasil penelitian dari (Niken, 2014), menyatakan bahwa penyakit


osteoarthritis memiliki beberapa faktor resiko. Berikut faktor resiko terjadinya osteoarthritis
yaitu berdasarkan umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok, dan aktivitas fisik. Berdasarkan
umur didapatkan hasil bahwa seseorang yang memiliki umur >55 tahun memiliki resiko lebih
tinggi daripada seseorang yang berumur <55 tahun. Dan menurut penelitian berdasarkan jenis
kelamin, didapatkan hasil bahwa perempuan lebih tinggi terkena resiko penyakit osteoarthritis.
Hal ini disebabkan bahwa responden wanita yang menderita OA lutut berusia antara 45-65 tahun
dimana usia lebih dari 50 tahun prevalensi perempuan lebih tinggi menderita OA dibandingkan
laki-laki karena pada masa usia 50 80 tahun wanita mengalami pengurangan hormon estrogen
yang signifikan saat menopause. (Niken, 2014)

Pada kasus yang didapatkan diatas, Bu Gx memiliki riwayat hipertensi 1 tahun terakhir.
Dan 1 tahun ini dia mengkonsumsi Lisinopril 1x1 dosis lazim. Hari ini beliau control ke dokter
karena mengeluh nyeri pada kaki tiap hari, mendapatkan Na diklofenak 50 mg 2x1 pagi dan
malam dan meloxicam 75 mg 1x1 siang hari, obat tersebut untuk mengobati osteoarthritis.
Osteoarthritis ini merupakan diagnosa barunya. Diketahui gejala nyeri hilang timbul tapi terjadi
tiap hari. Bu Gx memiliki kebiasaan makan jeroan karena hobi. Selanjutnya berdasarkan kasus
diatas kita menemukan adanya interaksi obat yang dikonsumsi oleh Bu Gx yaitu interaksi antara
obat meloxicam dan Lisinopril serta interaksi obat Na diclofenac dan Lisinopril. (Medscape)
Interaksi obat meloxicam dan Lisinopril merupakan interaksi yang serius dan merupakan
pharmacodynamics antagonism dan harus diganti menggunakan obat alternative lain.
(Medscape). Begitu juga interaksi Na diclofenac dan Lisinopril yang memiliki interaksi yang
serius dan merupakan pharmacodynamics antagonis yang harus diganti dengan obat alternative
yang lain. (Medscape)

Berdasarkan interaksi tersebut management terapi yang kami pilih yaitu dengan
menghilangkan Na diclofenac dengan meloxicam yang bukan first line dari terapi osteoarthritis.
Berdasarkan buku Pharmacoterapy Handbook, terapi untuk diagnose baru yaitu dengan
menggunakan acetaminophen. ( Dipiro, 2009). Dan penggantian Na diclofenac tersebut tidak
mengalami interaksi karena Lisinopril. Dan dosis acetamiphen untuk diagnose osteoarthritis
yang kategori mild to moderat menggunakan dosis 2,6- 4 gram/ hari. (Dipiro, 2009).