Anda di halaman 1dari 12

Analisis Geoteknik Kelautan Pada Sisi Ketapang (Selat Bali) Untuk Pengembangan Penghubung Jawa-Bali

(E. Usman, et.al)

ANALISIS GEOTEKNIK KELAUTAN PADA SISI KETAPANG


(SELAT BALI) UNTUK PENGEMBANGAN PENGHUBUNG
JAWA BALI

E. Usman, F.Novico, K. Budiono,


P. Raharjo, D. Setiady, A. Yuningsih dan N. Yayu
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jl. Dr. Junjunan 236 Bandung 40174

Sari

Daerah penelitian terletak di Perairan Ketapang, Selat Bali, ke arah timur dari pantai Banyuwangi. Di
daerah ini akan dikembangkan jembatan penghubung Jawa dan Bali. Hasil penelitian geologi dan geofisika
kelautan menunjukkan kondisi geologi dan geofisika yang komplek.
Berdasarkan hasil pemboran inti dan nilai SPT memperlihatkan adanya sedimen tidak terkonsolidasi
mencapai tebal 20 meter dari permukaan dasar laut yang tersusun dari fragmen terumbu koral dan cangkang
foram. Analisis ini tanpa menggunakan metoda propertis keteknikan karena sedimen tak terkonsolidasi di
dominasi oleh fragmen dan cangkang foram hampir 80%.
Analisis nilai SPT menunjukkan kapasitas tiang pancang untuk diameter 50 cm mempunyai rata-rata
93.752 ton beban tekan dan 21.532 ton beban tarik. Untuk meningkatkan beban tersebut harus
meningkatkan diameter tiang pancang lebih dari 50 cm dan kedalaman tiang pancang lebih dari 20 meter
dari permukaan dasar laut.

Abstract

The area investigated is the Ketapang Waters of Bali Strait, easthward of the Banyuwangi Coast. This area
will be developed a bredge between Java and Bali. Result of geological dan marine geophysical method shows
the geologic and oseanograhic condition very complex.
Based on coring data and Standard Penetration Test (SPT) value shows the unconsolidated sediments to
reach 20 meters from seabed consist of coral fragments and foram shells. This analysis without engineering
properties method because unconsolidated sediment is dominated by fragment and shell almost 80%.
Analisys of Standard Penetration Test (SPT) value shows the bearingpile capacity of 50 cm of bearingpile
diameters has avarage 93.752 ton of download and 21.532 ton of upload. For more then that value has to
increasing the diameters more then 50 cm and ent bearingpile more then 20 meters thicknees in depth from
seabed.

PENDAHULUAN menggunakan fasilitas pelabuhan Ketapang di


Banyuwangi dan Gilimanuk di Bali.
Lokasi penelitian merupakan jalur
penyeberangan Ketapang (Banyuwangi) di Meningkatnya volume kegiatan penyeberang-
wilayah P. Jawa dan Gilimanuk di wilayah P. an dari P. Jawa ke P. Bali dan sebaliknya,
Bali. Selat Bali merupakan perairan yang sejalan dengan peningkatan industri pariwi-
menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau sata di Bali dan Banyuwangi menimbulkan
Bali. Transportasi tersebut dilaksanakan arus penyeberangan dan anteraan kendaraan
dengan menggunakan sarana kapal yang cukup panjang sehingga mengakibatkan
penyeberangan berupa kapal Ferry. Kegiatan waktu yang diperlukan untuk menyeberang
penyeberangan, pengangkutan penumpang menjadi lebih lama. Arus Selat Bali yang
dan bongkar muat barang dilakukan terkenal cukup kuat serta adanya cuaca buruk

37
Jurnal Geologi Kelautan, vol. 2, no. 2,Agustus 2004 : 37 - 48

lainnya sering menimbulkan gangguan dalam METODA PENELITIAN DAN


perjalanan kapal Ferry. ANALISIS
Untuk mengantisipasi meningkatnya volume
kegiatan penyeberangan dan mengingat
Pemeruman
kondisi alam yang sering menggangu Pengukuran kedalaman laut (pemeruman)
kelancaran penyeberangan tersebut, serta pada penelitian ini dimaksudkan untuk
untuk menambah kenyamanan mendapatkan kedalaman laut dan morfologi
penyeberangan, pemerintah telah dasar laut. Data ini perlu dilakukan terutama
mengupayakan pengembangan perhubungan untuk memperoleh gambaran kedalaman
antar pulau tersebut secara langsung. Oleh dasar laut dan hubungannya dengan
sebab itu perlu dipersiapkan dan dikaji konstruksi di sekitar lokasi rencana
kondisi geologi bawah permukaan laut di jalur penghubung Jawa - Bali. Pengukuran
rencana penghubung Jawa - Bali. dilakukan secara analog, data yang diperoleh
direkam secara grafis pada kertas rekaman
KONDISI GEOLOGI Odom Hydrotrac.

Batuan tertua yang tersingkap di daerah sisi


Ketapang - Banyuwangi ini adalah Formasi
Seismik Pantul Dangkal
Batuampar, yang terdiri dari tuf, breksi Metoda Shallow Reflection Seismic
gunungapi, batugamping dan lava, berumur dilakukan untuk mendapatkan penampang
Oligosen Miosen Tengah. Formasi Punung seismik mulai permukaan hingga bawah dasar
menjemari dengan bagian atas Formasi laut. Metoda seismik bekerja dengan prinsip
Batuampar. Formasi Punung tersusun oleh pengiriman gelombang akustik yang
batugamping terumbu, batugamping tufan ditimbulkan oleh sparker ke bawah per-
atau napalan, berumur akhir Miosen Awal mukaan laut, lalu diterima oleh hydrophone
Miosen Tengah (Gambar 1). melalui signal yang dipantulkan setelah
Pada Kala Plistosen terjadi kegiatan melalui media lapisan bawah dasar laut.
Gunungapi Ijen Tua yang terdiri dari breksi Signal yang diterima direkam sebagai
gunungapi, breksi batuapung dan tuf, penampang horison-horison seismik pada
sedangkan endapan laharnya membentuk kertas rekaman.
Formasi Kalibaru yang tersusun oleh breksi Berdasarkan hasil rekaman seismik dapat
lahar, konglomerat, batupasir dan tuf, yang dilakukan interpretasi kondisi geologi bawah
berumur Plistosen Tengah. Kemudian diikuti dasar laut (batas sekuen dan struktur batuan)
kegiatan Gunungapi Komplek Raung, Suket dengan menggunakan prinsip-prinsip Seismik
dan Pendil, yang tersusun oleh tuf, breksi Stratigrafi, yaitu pengenalan terhadap ciri-ciri
gunungapi dan lava. Selanjutnya terjadi reflektor batas atas, batas bawah dan bagian
kegiatan Gunungapi Rante dan Gunungapi dalam (internal reflector) setiap unit seismik
Merapi, yang menghasilkan perselingan breksi (Sangree & Wiedmier, 1979 dan Sherif, 1980).
gunungapi dan tuf dengan sisipan lahar dan
lava, dan diakhiri dengan kegiatan Gunungapi
Ijen Muda yang menghasilkan tuf, breksi, lava
Geologi Teknik Kelautan
dan belerang. Aspek Umum
Batugamping terumbu yang terdiri dari Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendapat-
batugamping terumbu, tuf dan aglomerat, kan data dan informasi keteknikan dan daya
menjemari dengan batuan hasil Gunungapi dukung tanah di lapangan melalui kegiatan
Merapi. Satuan termuda adalah Endapan pemboran inti untuk mengetahui struktur
Aluvium yang berupa kerakal, kerikil, pasir, tanah secara vertikal. Peralatan yang
lanau dan lempung. Batuan intrusi yang dipergunakan adalah mesin bor merek RK-210
terdapat di daerah ini adalah Granodiorit dan S dilengkapi dengan mesin penggerak hidrolik
Andesit. dan alat penunjang lainnya (pontoon).

38
Analisis Geoteknik Kelautan Pada Sisi Ketapang (Selat Bali) Untuk Pengembangan Penghubung Jawa-Bali
(E. Usman, et.al)

Gambar 1 . Peta geologi daerah sekitar Selat Bali.

Dalam pandangan teknik sipil, tanah adalah nya. Klasifikasi tiang fondasi berdasarkan
himpunan mineral, bahan organik dan tiang meneruskan beban dapat dibedakan
endapan-endapan yang relatif lepas (loose) menjadi dua yaitu :
yang terletak diatas batuan dasar (bedrock). 1. Tiang tahanan ujung (End Bearing Pile).
Proses pembentukan tanah dari batuan Bila ujung tiang mencapai tanah keras
induknya dapat terjadi dari hasil pelapukan dengan kuat dukung tinggi, maka beban
batuan secara fisik maupun kimia atau proses yang d i t e r i m a a k a n d i t e r u s k a n k e
geologi lainnya, kemudian mengalami tanah dasar fondasi melalui ujung
transportasi (transported soil). Istilah pasir, tiang (Gambar 2).
lempung, lanau atau lumpur digunakan untuk
menggambarkan ukuran partikel pada batas 2. Tiang tahanan lekatan antara tiang dengan
yang telah ditentukan, sebagai contoh: tanah (Friction piles).
lempung adalah jenis tanah yang bersifat Bila tiang dipancangkan pada tanah
kohesif dan plastis, sedang pasir digambarkan dengan nilai kuat gesek tinggi (jenis tanah
sebagai tanah yang tidak kohesif dan tidak pasir), maka beban yang diterima oleh
plastis. tiang akan ditahan berdasarkan gesekan
antara tiang dan tanah sekeliling tiang
(Gambar 3).
Tiang Fondasi
Pada umumnya di lapangan dijumpai tipe
Fungsi dari tiang fondasi adalah untuk tiang yang merupakan kombinasi dari kedua
mendukung seluruh bangunan diatasnya dan hal tersebut. Keadaan ini disebabkan
mentransfer beban dari bangunan ke tanah campuran/kombinasi tanah berbutir kasar,
atau batuan. Berbagai tipe tiang yang tanah berbutir halus dan kadang-kadang
digunakan dalam konstruksi pondasi sangat merupakan tanah yang kompak, sehingga cara
tergantung pada beban yang bekerja pada tiang meneruskan beban ke tanah dasar
fondasi tersebut selain tersedianya bahan yang pondasi, merupakan kombinasinya.
ada, juga cara-cara pelaksanaan pemancangan-

39
Jurnal Geologi Kelautan, vol. 2, no. 2,Agustus 2004 : 37 - 48

>5 cm. Setelah mencapai kedalaman yang


diinginkan tabung standar dibenamkan
15 cm, dengan maksud agar ujung tabung
standar mengenai tanah asli.
Selanjutnya tabung standar dipancang
sedalam 30 cm dengan palu yang
mempunyai massa 64 kg, tinggi jatuh 76,2
cm atau setara dengan energi sebesar 0,5 kj
(0,5KNm), dihitung jumlah pukulan untuk
memancang tabung standar sedalam 30 cm
(N pukulan) dan dari hasil tersebut dibuat
grafik hubungan kedalaman tanah dan
jumlah pukulan (N) serta profil bor, seperti
Gambar 2. Model Tiang Tahanan Ujung (End terdapat dalam lampiran.
Bearing Pile).
Selanjutnya dari hasil N-SPT dapat
dilakukan perhitungan kapasitas dukung
tiang dengan metoda Mayerhof sebagai
berikut :
Qu(-) = 40 Nb.Ap + 0.2 N As
Qu(+) = 0.2 N As
Dimana:
Qu(-) adalah daya dukung tiang terhadap
tekan (ton), Qu(+) adalah daya dukung
tiang terhadap tarik (ton), Nb adalah harga
rata-rata N-SPT pada 4d di bawah tiang
dan 8d di atas tiang, Ap adalah luas dasar
penampang tiang (m2), As adalah luas
selimut tiang (m2), N adalah Harga rata-
Gambar 3. Model Tiang Tahanan Letakan
rata N-SPT sepanjang kedalaman tiang dan
Antara Tiang dengan Tanah
SF adalah faktor keamanan (digunakan
(Friction piles).
2,5).
Daya dukung ijin tiang adalah:
Daya Dukung Fondasi
Qall = Qu/SF
Fondasi mempunyai kekuatan dalam
2. Daya dukung fondasi berdasarkan hasil
menahan beban yang disebut daya dukung
fondasi. Daya dukung fondasi mempunyai test Laboratorium
fungsi untuk menahan gaya vertikal, gaya Perhitungan Tahanan Ujung:
lateral dan uplift load. Daya dukung fondasi ini Qb = Ab x pb x Nq
tergantung dari material fondasi yang
dipergunakan, jenis fondasi yang dipakai dan Dimana :
daya dukung dari tanah itu sendiri. Metode Qb adalah tahanan Ujung Ultimit (ton), Ab
yang digunakan untuk menghitung daya adalah luas penampang ujung tiang (m2),
dukung fondasi: Nq adalah faktor kapasitas dukung
1. Daya dukung fondasi berdasarkan hasil tergantung pada sudut geser dalam
test lapangan (Data SPT) tanah( ) yang didapatkan dari hasil uji
triaxial dan pb Tekanan vertikal efektif
Metode ini menggunakan jenis alat yang dasar tiang. Bila panjang tiang lebih besar
sederhana, berupa tabung standar dengan dari kedalaman kritis zc, maka pb diambil
diameter 5 cm dan panjang 56 cm. sama dengan tekanan vertikal efektif pada
Pelaksanaan dilakukan di dasar lubang kedalaman zc.
bor, bila tanah mudah runtuh digunakan
silinder penahan (casing) dengan diameter

40
Analisis Geoteknik Kelautan Pada Sisi Ketapang (Selat Bali) Untuk Pengembangan Penghubung Jawa-Bali
(E. Usman, et.al)

Perhitungan Tahanan Gesek Ultimit: HASIL PENELITIAN DAN


Qs = Fw x As x Kd x po x tgG PEMBAHASAN
Tahanan gesek dinding tiang persatuan Data Kedalaman
luas (fs), dinyatakan oleh persamaan:
Hasil kegiatan pemeruman sepanjang lintasan,
Fs = Kd x po x tg G didapat data kedalaman laut bervariasi
Dimana: berkisar antara 10-160 meter. Setelah dikoreksi
dengan fluktuasi pasang surut terhadap muka
Kd adalah Koefisien tekanan tanah yang
laut rata-rata (mean sea level), kemudian diplot
tergantung dari kondisi tanah, Po adalah
pada peta skala dasar dengan interval kontur
tekanan vertikal efektif rata-rata di
10 meter (Gambar 4).
sepanjang tiang, yang besarnya sama
dengan tekanan overburden efektif untuk z Berdasarkan peta batimetri yang dihasilkan
d zc, dan sama dengan besarnya tekanan maka perubahan kedalaman peta batimetri
vertical kritis untuk z> zc (ton/m2), G=Md dapat dibedakan menjadi 3 unit satuan
adalah sudut gesek dinding efektif antara morfologi yaitu:
dinding tiang dan tanah, As adalah luas 1. Bagian Utara daerah penelitian mencakup
selimut tiang (m2), Z adalah kedalaman area 30% dari seluruh luas daerah penelitian.
titik yang ditinjau dari permukaan tanah Daerah ini mempunyai perubahan kedalaman
(m), zc adalah kedalaman kritis, yaitu yang bergradasi mulai dari 11 meter pada sisi
kedalaman di mana tekanan overburden barat dan timur berupa alur yang memanjang
efektif dihitung dari titik ini dianggap berangsur bertambah dalam ke arah tengah
konstan. sampai ke utara mencapai kedalaman 140
Berat tiang: Wp = L x Jbtn x As meter. Di bagian tengah membentuk kontur
tertutup berupa cekungan-cekungan dengan
Dengan: L = panjang tiang (m); Jbtn = berat isi
kedalaman 50 sampai 90 meter dengan
beton 2.4 (ton/m3)
morfologi bergelombang curam sampai
Kapasitas Ultimit Tiang : curam.
Qall(-) = (1/FK) x (Ab x pb x Nq)+( Fw x 2. Bagian tengah daerah penelitian mencakup
As x Kd x po x tgG)- Wp area 35% dari seluruh luas daerah penelitian.
Qall(+) = (1/FK) x (Fw x As x Kd x po x tgG) Daerah ini mempunyai perubahan kedalaman
20 - 160 meter berupa alur memanjang di sisi
barat, tengah dan timur, berangsur bertambah
Hubungan N-SPT, sifat tanah dan
dalam ke arah tengah. Di bagian baratdaya
Kuat Geser Tekan Bebas membentuk kontur tertutup berupa cekungan
Sifat fisik sedimen akan memberikan nilai- dengan kedalaman sampai 110 meter, bagian
nilai tertentu terhadap N-SPT dan kuat geser tengah membentuk cekungan dengan
tekan bebas (Qu) (Tabel 1). Hubungan kedalaman 160 meter, sedangkan di bagian
tersebut akan dapat pula memberikan tenggara membentuk cekungan sampai
gambaran tentang daya dukung dan jenis kedalaman 130 meter. Di daerah ini juga
tiang fondasi yang akan dipergunakan dalam terlihat adanya pembelokan kontur yang
suatu konstruksi. tajam yang menunjukkan adanya indikasi
struktur geologi berupa patahan/sesar
SIFAT Qu
NO N-SPT berarah baratlaut tenggara.
TANAH (Kg/Cm2)
1 <2 Sangat lunak < 0,25 3. Bagian selatan daerah penelitian mencakup
2 24 Lunak 0,25 0,50 area 35% dari seluruh luas daerah
3 48 Sedang 0,50 1 penelitian mempunyai perubahan
4 8 15 Kaku 12 kedalaman 10 - 110 meter. Di daerah ini
5 15 30 Sangat kaku 24 morfologi relatif datar ke sebelah barat
6 > 30 Keras >4 dengan morfologi bergelombang,
sedangkan di bagian timur morfologi
Tabel 1. Hubungan sifat fisik tanah, N-SPT
curam ditunjukkan dengan kontur yang
dan kuat geser tekan bebas (Qu)
(Hardiyatmo, 2002). rapat.

41
Jurnal Geologi Kelautan, vol. 2, no. 2,Agustus 2004 : 37 - 48

Gambar 4 . Peta batimetri perairan Selat Bali.

Berdasarkan data kedalaman tersebut, data terdapat hampir di seluruh daerah perairan
penting yang menarik adalah adanya dua Selat Bali. Sebagian batuan sedimen ini juga
lembah sebagai alur bawah laut yang membetuk lipatan yang diakibatkan oleh
dipisahkan oleh bentuk punggungan berarah suatu proses tektonik, umumnya pada
utara selatan. Punggungan ini dapat berfungsi kedalaman antara 100 150 meter. Di sisi
sebagai tempat peletakan tiang fondasi di laut. Ketapang-sekitar Banyuwangi bantuan
Namun untuk mengetahui kekuatan, perlu sedimen membentuk lereng pada bagian atas
korelasi dengan data seismik dan pemboran muncul terumbu karang. Bentuk lainnya
SPT. adalah proses progradasi sedimen di sekitar
lereng yang ditandai oleh bentuk reflektor
Rekaman Seismik huruf s (sigmoid) dan bentuk miring (oblique).
Berdasarkan ciri-ciri reflektor seismik, batuan Bidang sesar dengan kemiringan yang cukup
yang terdapat di daerah penelitian dicirikan besar dijumpai pada perairan bagian timur
oleh bentuk selaras, laminasi kadang-kadang yang memotong batuan sedimen. Adanya
membentuk miring dan bentuk longsoran bentuk lipatan tersebut, perlu untuk pertim-
(slump). Secara garis besar batuan di daerah bangan kekuatan konstruksi tiang pondasi.
penelitian berdasarkan rekaman seismik Batuan akustik (Acoustic Basement)
terdiri dari batuan sedimen dan batuan
Batuan akustik di daerah penelitian tidak
akustik (acoustic basement) - (Gambar 5).
dapat diamati dengan jelas karena umumnya
Batuan Sedimen ditandai oleh karakter reflektor yang lemah.
Hal ini disebabkan oleh energi gelombang
Batuan sedimen pada umumnya tidak
seismik tidak menerus dengan baik karena
menerus, dipisahkan oleh tonjolan terumbu
beberapa faktor, antara lain: kedalaman laut
karang dan punggungan batuan dasar.
diatas 75 meter dan batuan bagian permukaan
Terumbu karang dicirikan oleh bentuk
yang bersifat porous (campuran lumpur,
reflektor berupa bukit-bukit kecil (mounded)
fragmen cangkang dan terumbu).

42
Analisis Geoteknik Kelautan Pada Sisi Ketapang (Selat Bali) Untuk Pengembangan Penghubung Jawa-Bali
(E. Usman, et.al)

Timur
Barat
0
Permukaan laut

Terumbu karang
Dasar laut

75 m

150 m
Bidang sesar
Bidang sesar
minor

225 m

Gambar 5 . Profil seismik barat - timur memotong Selat Bali.


Namun secara umum, hasil rekaman seismik karang. Demikian pula data kelurusan
memperlihatkan bahwa batuan dasar cukup menunjukkan adanya blok sedimen yang
jauh dari permukaan dasar laut. Untuk itu turun di bagian tengah selat, membentuk
diperlukan tiang pancang yang cukup dalam semacam lembah dengan tebing di kedua sisi
pula, sehingga tapak konstruksi akan kuat barat dan timur.
menerima beban dari bagian atas.
Deformasi Batuan Pemboran N-SPT dan Kapasitas
Batuan sedimen di perairan Selat Bali telah Tiang Pancang
mengalami folding yang ditandai oleh
Sedimen hasil pemboran langsung dideskripsi
berubahnya kedudukan lapisan yang mulai
di lapangan secara megaskopis dan dilakukan
menampakkan gejala undulasi diakibatkan
uji N-SPT untuk mengetahui relatif kepadatan
oleh pengaruh sistem tektonik di P. Jawa dan
material/sedimen berdasarkan data N-SPT
P. Bali. Di bagian tengah terdapat celah
setiap 3 meter kedalaman lapisan batuan.
dengan kedalaman mencapai 94 meter, bentuk
Selanjutnya hubungan harga N dengan
memanjang memisahkan dua bidang sesar
relative density berdasarkan Terzaghi &
turun. Dari kenampakan seismik memper-
Peck (1948) masing-masing titik uji di daerah
lihatkan, celah tersebut telah terisi oleh
penelitian dapat diketahui.
sedimen kuarter yang kemudian tergerus oleh
arus bawah dasar laut, sehingga membentuk Pada daerah penelitian (kedalaman hingga 20
celah-celah yang lebih kecil. Pada dinding meter dari dasar laut) bersifat pasir yang
bagian timur terdapat sedimen hasil bersifat non kohesif, sehingga contoh tanah
slumping yang kemudian di bagian atas tak terganggu (undisturbed) tidak didapatkan,
terdapat pula tonjolan-tonjolan terumbu maka tidak dapat dilakukan penelitian

43
Jurnal Geologi Kelautan, vol. 2, no. 2,Agustus 2004 : 37 - 48

laboratorium (engineering properties). Maka lanauan, mengandung fragmen koral,


perhitungan kekuatan daya dukung tiang berdasarkan nilai SPT 6/30 13/30 dapat
fondasi pancang untuk kedalaman 20 meter dikatakan kepadatan relatifnya pasir lepas
dari dasar laut berdasarkan data lapangan (N- (loose) hingga agak kompak (medium dense)
SPT). (Lampiran 1).
Dengan mengetahui ciri litologi dan N-SPT ini Secara umum di bagian permukaan relatif
maka dapat mencerminkan daya dukung keras makin melunak hingga kedalaman 9
tanah di lokasi pengujian, semakin besar nilai meter lalu cenderung makin keras mulai
tumbukannya akan mempunyai daya dukung kedalaman 12 meter hingga kedamanan di
tanah yang lebih baik. Terzaghi dan Peck bawah 20 meter (Gambar 6).
(1967) memberikan hubungan antara N-SPT Selanjutnya dari N-SPT, kapasitas dukung
dengan daya dukung yang diijinkan (qa tiang dihitung dengan metoda Mayerhof sbb:
ton/m2) yang didasarkan pada penurunan
2.54 cm (1 inci). Selanjutnya hasil penelitian Qu(-) = 40 Nb.Ap + 0.2 N As
lapangan dari pengujian N-SPT ini dapat Qu(+) = 0.2 N As
dipergunakan untuk memperkirakan Daya dukung ijin tiang adalah Qall = Qu/SF,
penurunan yang akan terjadi apabila tanah perhitungan Tahanan Ujung Qb = Ab x pb x
diberi beban fondasi sesuai dengan lebar Nq, perhitungan Tahanan Gesek Ultimit
fondasinya berdasarkan persamaan Meyerhof,
adalah Qs = Fw x As x Kd x po x tgG , tahanan
1965 (dalam Terzaghi and Peck, 1967) dan
gesek dinding tiang persatuan luas (fs),
Bowles (1977).
dinyatakan oleh persamaan adalah Fs = Kd x
Hasil pemboran N-SPT dan sifat tanah di sisi po x tg G dan Berat tiang adalah Wp = L x Jbtn x
Ketapang memperlihatkan N-SPT per 3 meter As
kedalaman yang bervariasi (Tabel 1).
Dari hasil perhitungan kapasitas dukung tiang
tersebut selanjutnya dapat dihitung Kapasitas
NO KEDA- N-SPT SIFAT Ultimit Tiang dengan mengikuti persamaan
LAMAN TANAH berikut:
1 3 Mtr 17 Sangat kaku
Qall(-) = (1/FK) x (Ab x pb x Nq)+( Fw x As x
2 6 Mtr 8 Kaku
3 9 Mtr 6 Sedang Kd x po x tgG)- Wp
4 12 Mtr 13 Kaku Qall(+)= (1/FK) x (Fw x As x Kd x po x tgG)
5 15 Mtr 14 Kaku
diperoleh hasil sbb:
6 18 Mtr 19 Sangat kaku
7 20 Mtr 23 Sangat kaku D (m) L (m) Nb Ap (m2) N
0.5 20 23 0.1963 14.286
Tabel 2. Hasil N-SPT dan sifat tanah
bersadasarkan Hardiyatmo (2002) di
sisi Ketapang. Qf Qb Qult Qall(-) Qall(+)
(ton) (ton) (ton) (ton) (ton)
Terumbu karang padat terdapat di daerah
53.829 180.55 234.380 93.752 21.532
permukaan hingga kedalaman 1,5 meter.
Diatas kedalaman 1,5 meter hingga 3 meter N-
SPT 17 dan terus menurun karena munculnya Pemboran yang dilakukan sedalam 20.0 meter
lapisan yang porous. Endapan darat (satuan dari dasar laut dengan nilai N pada
alluvial) terdapat pada kedalaman 1,5 - 3 kedalaman 20 sebesar 23 maka, didapatkan
meter berupa pasir halus. Endapan dekat nilai daya dukung tiang pancang untuk
pantai (satuan pasir kasar terdapat pada diameter 50 cm sebesar 93.752 ton terhadap
kedalaman 3.00 - 5.00 meter dan kedalaman beban tekan, dan 21.532 ton untuk beban tarik,
15.00 - 20.00 meter berupa pasir kasar (kerikil- dengan variable faktor keamanan (SF) 2,5.
kerakal), mengandung fragmen koral, Hasil perhitungan ini merupakan gambaran
berdasarkan nilai SPT 17/30 23/30 dapat sekilas tentang keadaan lapisan tanah di sisi
dikatakan kepadatan relatifnya agak kompak Ketapang (Banyuwangi).
(medium dense). Sedangkan endapan marine
(satuan pasir lanauan) terdapat pada
kedalaman 5.00 - 15.00 meter berupa pasir

44
Analisis Geoteknik Kelautan Pada Sisi Ketapang (Selat Bali) Untuk Pengembangan Penghubung Jawa-Bali
(E. Usman, et.al)

25

20

15

10

0
1 2 3 4 5 6 7
(Kedalaman)

Gambar 6. Grafik N-SPT memperlihatkan kecenderungan makin meningkat mulai kedalaman


12 hingga lebih dari 20 meter.

DISKUSI: daya dukung fondasi disesuaikan dengan


kedalaman N-SPT dan kapasitas tiang pancang.
Alternatif dan Rekomendasi Demikian juga tekanan arus juga dapat
Pengembangan Penghubung Jawa - Bali diminimalkan oleh tiang pancang. Disamping itu
Aplikasi pemanfaatan informasi kondisi tanah kerusakan pada konstruksi jembatan akan mudah
(geologi) sangat diperlukan untuk peren- dipantau dan pertolong-an terhadap bahaya juga
canaan suatu konstruksi, dengan informasi lebih mudah dilakukan.
yang ada, dapat ditentukan jenis dan dimensi Hasil pemboran dapat diketahui bahwa lapisan tanah
konstruksi bangunan yang akan dibangun. keras berada pada kedalaman lebih dari 20
Untuk pengembangan penguhubung Jawa meter dari permukaan dasar laut, maka dapat
Bali terdapat beberapa alternatif, yaitu: direkomendasikan jenis fondasi yang tepat
jembatan, terowongan di dasar laut dan adalah tiang pancang dalam.
terowongan di bawah dasar laut. Ketiga
alternatif tersebut mempunyai kelebihan dan KESIMPULAN
kekurangan. Namun berdasarkan kondisi
geologi serta aspek keselamatan pada sarana Kondisi morfologi yang bergelombang dan
penyeberangan dan manusia, alterlatif struktur batuan permukaan yang lunak di
pembangunan jembatan merupakan alternatif daerah sisi Ketapang memberikan indikasi
yang paling mungkin. Pengembangan bahwa konstruksi yang sesuai untuk
menggunakan konstruksi terowongan kurang penghubung Jawa Bali adalah jembatan
mendukung, karena permukaan dasar laut dengan pondasi dalam hingga kedalaman di
kurang stabil (sedimen lepas), adanya tonjolan bawah 20 meter dari dasar laut. Tiang fondasi
terumbu karang dan celah yang sempit akibat di bagian tengah selat dapat ditancapkan di
gerusan arus dan patahan minor akan bagian punggungan hingga mencapai batuan
mengakibatkan terowongan kurang stabil. akustik.
Disamping itu kerusakan pada terowongan Hingga kedalaman 20 meter tersebut, untuk
(retakan dan bocoran) sulit dipantau dan diameter 50 cm dapat menahan beban tekan
pertolongan terhadap bahaya sulit dilakukan. 93.752 ton dan beban tarik 21.532 ton. Bila
Sedangkan untuk jembatan konstruksinya lebih tiang fondasi makin dalam hingga N-SPT > 30
sederhana dibandingkan dengan konstruksi (pada batuan akustik ?) maka kemampuan
terowongan, tiang pancang dapat ditancapkan beban tekan dan tarik akan lebih besar dan
pada morfologi punggungan dengan perhitungan konstruksi akan lebih stabil.

45
Jurnal Geologi Kelautan, vol. 2, no. 2,Agustus 2004 : 37 - 48

UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR PUSTAKA


Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bowles, JE., 1977, Foundation Analysis and
Bpk. Kapuslitbang Geologi Kelautan (Ir. Design, McGraw_Hill Kogakusha,
Subaktian Lubis, M.Sc) atas izinnya untuk Ltd., Tokyo, Japan.
melakukan penelitian di Selat Bali dan Bpk. Ir. Hardiyatmo, CH., 2002, Mekanika Tanah I,
Dida Kusnida, M.Sc atas saran dan Gadjah Mada University Press,
masukannya pada penulisan ini. Yogyakarta.
Mayerhof, 1965, dalam Terzaghi and Peck,
1967, Soil Mechanics in Engineering
Practice, USA Publication.
Sangree, JB. And JM. Wiedmier, 1979,
Interpretation Facies from Seismic
data, Geophysic 44, N.2, p.131.
Terzaghi and Peck, 1967, Soil Mechanics in
Engineering Practice, USA
Publication. 



46
Analisis Geoteknik Kelautan Pada Sisi Ketapang (Selat Bali) Untuk Pengembangan Penghubung Jawa-Bali
(E. Usman, et.al)

47
Jurnal Geologi Kelautan, vol. 2, no. 2,Agustus 2004 : 37 - 48

48